(Freelance) Married Without Love (Chapter 5)

poster - Copy (2)

Married Without Love

By                   : DeerBurning

Main cast         : SNSD Im Yoona , Wu Yi Fan a.k.a Kris.

Other Cast       : EXO OH Sehun, EXO Park Chanyeol, EXO Lay, and Other.

Genre             : Romance, Marriage life, and Friendship

Author’s Note :

Ini merupakan series terpanjang dari series sebelumnya. Aku juga engga tahu gimana ceritanya bisa buat sepanjang ini, ada sekitar 7700+ kata di series ini, jadi aku benar-benar minta maaf jika alur cerita begitu membosankan dan membuat kalian malas atau bahkan mengantuk, dan lebih parahnya mual ketika baca ini.

Oya, aku mau ngingetin, kalimat yang menggunakan huruf miring adalah flashback…

Sorry for typo(s), and Hope you’ll enjoy it…

***

Chapter 5

“Yoona P.O.V”

Hari ini begitu melelahkan. Setelah acara makan semalam, aku langsung mengerjakan sketsaku yang sedikit tertunda, karena harus menyiapkan acara keluarga semalam. Aku menguap dan sesekali meregangkan otot-otot ditubuhku yang mulai terasa kaku.

“Jam berapa ini?” aku melirik arloji di tangan kananku. “omo! Sudah jam 2?” lagi, aku melewatkan jam makan siangku. Sungguh dalam keadaan seperti ini, perutku tidak pernah berontak lapar, sehingga hal ini akan selalu terjadi. Melewatkan jam makan siang bahkan makan malam.

Aku mendorong kursiku kebelakang, berdiri dan meregangkan otot-otot tubuhku yang kaku. Dengan sesekali menguap, menarik kedua tanganku keatas lalu menariknya kekanan dan kekiri. “Omo!” aku terlonjak kaget ketika menyadari ada seorang pria yang tengah berdiri menatapku, dengan senyum manis yang terukir diwajahnya.

“Oppa?!”

.

“Kenapa oppa tidak mengabariku?” Aku mengerucutkan bibirku, merasa sedikit kesal dengan pria dihadapanku, yang saat ini hanya tersenyum manis sambil memperlihatkan dimple nya yang menawan.

Pria itu-Zhang Yi Xing, atau yang biasa dipanggil Lay hanya tersenyum, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun di wajahnya. “Kejutan.” ia kembali menyesap latte dihadapannya. Santai.

Aku melebarkan kedua mataku tak percaya. “Kejutan? Kau berhasil membuatku terkejut,” Lihatlah pria ini, apakah tidak ada rasa bersalah sama sekali? “lalu.. Apakah Sehun tahu kepulanganmu?”

“Tentu.. Sehun yang menjemputku dibandara.”

Mulutku terbuka, rahangku terasa jatuh. Apa dia bilang? Sehun juga tahu? Dan lebih parahnya bocah pucat itulah yang menjemputnya dibandara. Lalu kenapa Sehun tak memberi tahuku?

Aku hanya terdiam. “Jadi Sehun juga tahu,” aku menarik nafasku dalam-dalam, mencoba mengendalikan luapan emosi yang mungkin saja akan meledak. “Jadi hanya aku yang tidak tahu?”aku tertawa getir. “sekarang aku nampak seperti orang bodoh. Oppa adalah cinta pertamaku, dan aku tidak tahu jika hari ini oppa kembali ke Korea. Bukankah itu sangat lucu?”

Aku dapat menangkap reaksi terkejutnya. “ya, kenapa kau berkata seperti itu? Aku sungguh-sungguh hanya ingin memberikanmu kejutan,” kali ini ia menatapku penuh, menatap mataku dalam, mencoba meyakinkanku untuk percaya kepadanya. “apa kau tidak suka?”

Aku hanya menundukkan kepalaku. Mengamati ankle booth ku tanpa minat.

mianhae..” ucapnya lirih, tapi masih bisa aku dengar dengan begitu jelas.

Aku masih terdiam. Tak berminat menanggapinya.

“hei..“ aku mendengar Lay oppa memanggilku. Tapi tidak, aku tidak ingin memperdulikannya. “Yoong..” ia masih berusaha memanggilku, tapi tidak, aku harus mengacuhkannya. “Im Yoona…” Aku sedang marah, dan aku tidak boleh goyah. “apa kau tidak ingin bertemu denganku? Haruskah aku pulang?”

Aku mendongakkan kepalaku cepat. Menatapnya tak percaya. Kami baru saja bertemu. Dan apa dia bilang? Dia mau pulang? Oh ayolah… Jangan bercanda.

“Aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu.” Aku melihat Lay oppa mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Ia meletakkan papper bag ukurang sedang berwarna pink dihadapanku. “Bukalah.”

Sedikit ragu aku mulai mengambil papper bag dihadapanku dan membukanya. Keningku membentuk beberapa lipatan. “Ini apa?” tanyaku tak mengerti saat melihat sebuah kotak persegi empat berukuran sedang. Apakah ini cincin? Ah tidak mungkin, ini terlalu besar untuk cincin. Atau mungkin kalung? Yaa… Zang Yi Xing, kau benar-benar pria yang romantis. Aku hanya terkekeh dalam hati, membayangkan isi dalam kotak yang kini sudah berada di tanganku.

“Bukalah…”

Aku membuka kotak itu, dan isinya adalah… Coklat?! Ya! Apakah pria ini sedang mempermainkanku?

Mataku berhasil membulat sempurna, menatap coklat di hadapanku dengan tatapan tak percaya. Dia hanya memberiku coklat? Tidak ada yang lan? Tadi, aku sempat berfikir, dia akan memberikanku kejutan yang manis, walau aku tahu jika coklat memang terasa manis, tapi bukan ini! Aku menginginkan hadiah kecil, yang terkesan ‘manis’ dan penuh makna. Lagi pula, dia baru pulang dari Swiss, apakah di sana hanya menjual coklat. Ya tuhan….

“Itu adalah resep terbaruku. Aku akan mengikuti kompetisi di Paris, bulan depan. Kau yang pertama mencoba.”

jinjja?!” Aku mendongak, hampir berteriak karena terlalu senang mendengar penuturannya. semangat yang sedari tadi hilang seketika kembali. Apakah Lay oppa tidak berbohong? Benarkah aku adalah orang yang pertama?

Lay oppa mengambil sepotong coklat dan menyuapkannya kepadaku. “Buka mulutmu..”

Dengan senang hati aku membuka mulutku lebar-lebar. Dapat aku rasakan sesuatu yang lumer dan memenuhi rongga mulutku. Aku tidak bisa mendiskripsikan rasa dari coklat ini, sungguh, rasanya hampir sama seperti saat kita melihat aliran sungai dimusim semi.

eotte? Mashitta?”

Aku mengangguk bersemangat. Mengambil sebuah coklat dan menyuapkannya pada Lay oppa, lalu mengambil sepotong lagi dan menyuapkannya kedalam mulutku.

“Bagaimana pernikahanmu? Apakah menyenangkan?”

Aku berhenti mengunyah. Dalam sekejab, pertanyaan itu berhasil merubah rasa coklat ini menjadi pahit. “Tak bisakah kita hanya membicarakan kita berdua?”

Wae? Aku hanya ingin tahu kehidupanmu sekarang? Apakah tidak menyenangkan?” Lay oppa memicingkan kedua matanya curiga.

“Sangat!”

Lay oppa hanya tertawa geli melihat reaksi spontanku. Tapi sungguh, aku berkata jujur. Ini bukanlah seperti kehidupan pernikahan yang selama ini aku bayangkan. Kehidupan pernikahan yang syarat dengan kehangatan dan kasih sayang. Aku sangat menginginkan hal itu.

 

“Yoona P.O.V End”

.

.

.

“Author P.O.V”

Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Yoona menghabiskan waktunya di ruang tamu dengan ditemani sketsa-sketsa cantik, akibat goresan tangannya. Sesekali ia terlihat menguap. Tapi ia tak mau menyerah, ia harus menyelesaikan sketsanya malam ini, sebelum masuk ke ruang penjahitan untuk sampel keesokan harinya.

Yoona mengambil latte disebelahnya, dan sesekali menyesapnya. Mencoba menghilangkan kantuk yang mulai melanda.

“Kau belum tidur?” suara berat Kris berhasil memecah konsentrasinya.

‘Ah… Orang ini selalu saja.’ desis Yoona. Baru saja ia berhasil mengumpulkan konsentrasinya yang sempat menghilang, karena rasa kantuk, dan see? Dengan mudah Kris menghancurkannya kembali. “Aku belum mengantuk,” Yoona mendongak, menatap Kris sebal. “Oppa sendiri belum tidur?”

Kris berjalan kearah Yoona, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa. “Aku lapar.”

“Oppa lapar? Mau aku buatkan ramen?”

“Aku hanya makan nasi.”

“Nasi?” Yoona kembali fokus pada sketsanya. “Masaklah sendiri!”

“Bukankan kau sudah berjanji akan melakukan peranmu sebagai istri?!”

Yoona memejamkan kedua matanya geram. Bukannya ia lupa akan janjinya. Tapi lihatlah! Lagi-lagi Kris meminta nasi untuk menu makannya. Dan hey! Ini bahkan sudah tengah malam. Orang iseng mana yang akan makan nasi, jam segini?

“Aku akan memasak, jika itu ramen.”

“Aku akan makan, jika itu nasi.”

“lalu…” Yoona memberikan jeda. Lalu menatap kearah Kris. “ Buatlah sendiri!”

Kris melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menggeser duduknya lebih dekat dengan Yoona. “Bukankah kau istriku? Jadi cepat masaklah untukku!”

Yoona kembali memejamkan kedua matanya. Demi neptunus, ia berani bersumpah jika saat ini ia benar-benar kesal dengan Kris. Apa pria ini tidak melihat? Yoona sedang sibuk, dan dengan mudahnya ia memberikan perintah kepada Yoona, bukankah Yoona sudah berbaik hati untuk membuatkannya ramen? Tapi lihat! lagi-lagi pria ini rewel meminta nasi untuk menu makannya. “lalu.. Oppa apa? Suami? Kenapa oppa selalu menuntutku, dan lihatlah! Pernahkan oppa berperan sebagai suami?”

Skak mat!

Kris tidak bisa berkata apa-apa. Tapi dia berani bersumpah, dia benci kekalahan. “ lalu..” Kris menggantungkan kalimatnya. “Peran seperti apa yang kau harapkan dariku?”

Kris memiringkan kepalanya. “Bekerja? Memberimu uang? Atau… Menidurimu?” Kris tersenyum miring. Melihat reaksi Yoona yang gelagapan membuat hatinya berteriak menang. “Peran yang mana Im Yoona?” ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat melihat wajah Yoona yang semakin memerah, ya tuhan… Apakah sekarang Kris akan menang dan mendapatkan nasinya? Pria itu terus bersorak dalam hati. “Atau.. Kau menginginkan semuanya? Lalu.. Bagaimana dengan peran istri? Kau harusnya melayaniku.”

Kris mendekatkan bibirnya ketelinga Yoona. “lahir dan batin..”

Yoona bergidik ngeri saat merasakan hangat nafas Kris menerpa belakang lehernya. Dengan sigap ia mengambil bantal sofa dan melemparnya tepat di wajah Kris.

“Dasar pria mesum!” teriaknya kesal dan berjalan cepat kearah dapur.

.

.

“Apa kau seorang samurai?!” Seru Kris saat melihat Yoona memegang pisau dengan kedua tangannya. “Gunakan satu tanganmu untuk memegang daun bawang, dan tanganmu yang lain untuk memegang pisau.”

Yoona berdecak kesal, kenapa pria ini begitu cerewet? Dan… Hey! Apakah dia lupa? Bukankah Yoona sudah sering mengatakan, jika ibunya-lah yang tak pernah membiarkannya mendekati dapur, apa lagi memegang pisau. Dan jika Yoona melakukan kesalahan ‘kecil’ sehingga membuatnya ‘salah’ saat memegang pisau, itu bukanlah keinginannya. Tapi keadaan lah yang membuatnya seperti itu.

Yoona memperhatikan interuksi dari Kris, sebelum kembali fokus pada pisau ditangannya. “Seperti ini?” Tanya Yoona sama seperti perintah Kris, ia memegang daun bawang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memegang pisau.

Kris mengangguk membenarkan. Tapi hal itu tak berlagsung lama, Kris kembali berteriak, saat melihat Yoona memotong daun bawang secara sembarangan. “Ya! Kau tidak boleh memotongnya seperti itu! Kau harus memotongnya secara diagonal!”

“Diagonal? Apakah seperti ini?” Yoona memperhatikan semua interuksi yang diberikan oleh Kris, ia mulai memotong daun bawang itu secara diagonal.

“Heem.. Jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil, kau harus memotongnya sekitar 1 sentimeter.”

“Seperti ini?”

“Hem.. Sepertinya, otakmu tak sebodoh yang aku fikirkan.”

Yoona tak menanggapi ejekan yang dilontarkan oleh Kris, ia kembali melanjutkan acara memotong daun bawang, sama persis seperti apa yang Kris perintahkan padanya. “Potong daun bawang secara diagonal sepanjang 1 sentimeter. Jangan terlalu besar, dan jangan terlalu kecil,” Yoona bergumam lirih, sedangkan mata dan tangannya fokus pada daun bawang dan pisau yang ia pegang. “kau memang cerdas Im Yoona.” Teriak Yoona, saat berhasil menyelesaikan potongan terakhir.

“Anak pintar,” Kris mengacak rambut Yoona lembut. “Kau terlihat seperti seorang murid yang penurut.”

“Ish.. Oppa sudah mengatakannya lebih dari sepuluh kali. Mana mungkin aku tidak tahu.”

Kris hanya terkekeh mendengar jawaban dari Yoona. Apakah itu tidak berlebihan? Mana mungkin ia bisa secerewet itu, hingga bisa memberitahu Yoona lebih dari sepuluh kali.

Kris menatap panci ramen yang terus mengeluarkan uap, sepertinya airnya sudah mendidih. Ia terlonjak mengingat sesuatu. “Ya! Im Yoona cepat masukkan telornya!”

“Telor?!” Dengan sigap Yoona mengambil sebutir telor dan memasukkannya ke dalam panci ramen. Melihat Yoona yang begitu cekatan mengambil semua yang Kris perintahkan, mau tak mau membuatnya menarik kedua sudut bibirnya, hingga membentuk sebuah senyuman. “Kau sangat baik dalam membuat ramen Im Yoona.” Kris mengacungkan kedua ibu jarinya.

Yoona menatap Kris heran, apakah sebahagia itu bisa menyuruhnya membuat ramen? Menyadari itu, Kris kembali berteriak untuk memberikan perintah kepada Yoona. “Ya! Lihat itu! Mie nya sudah mengembang. Cepat tambahkan air dingin! Aku tidak mau mienya terlalu lembek, dan telornya masih setengah matang,” Yoona kelimpungan, mengambil air dari dalam teko, dan segera menuangkannya pada ramen. “Ya! Kau melupakan daun bawangnya!” Yoona segera berbalik, mengambil potongan daun bawang dan memasukkannya kedalam panci, sebelum menutupnya kembali. Ia mengelap dahinya yang berkeringat. Selelah inikah membuat ramen?

Yoona memandang curiga kearah Kris yang tersenyum puas. ‘Apakah Kris sedang mengerjaiku?’ batin Yoona.

.

Walau awalnya Kris menolak, tapi pada akhirnya, ia mau memakan ramen untuk mengganjal perutnya yang kelaparan. Dan saat ini, ia nampak begitu puas. Senyum cerah tak pernah luput dari bibirnya. Bagaimana tidak? Gadis yang biasanya selalu menentang semua perintah Kris, malam ini, ia berubah menjadi gadis penurut. Sungguh manis bukan?

Kris memilih menyantap ramen panasnya di ruang tamu, sedangkan Yoona kembali mengerjakan sketsanya yang sempat tertunda. “Kau tidak makan?”

Yoona tak menoleh, kedua mata dan tangannya masih fokus pada sketsa dihadapannya. “Aku tidak lapar oppa.”

“Kenapa kau tidak menggunakan ruang kerjamu? Apakah terlalu sempit?”

“Aku lebih suka mengerjakan semua ini disini. Aku butuh inspirasi, mengerjakan semua ini diruang kerja, membuat otakku buntu.”

Sambil menghisap ramen, Kris mengamati Yoona yang masih sibuk dengan kertas serta pensil-pensil yang berserakan dimeja. Yoona kelihatan sangat serius, berkali-kali ia menyelipkan beberapa helai rambut, yang menghalangi wajahnya kebelakang telinga. Kris terdiam, terpana hanya karena melihat gerakan sesederhana itu.

Cara Yoona mengerutkan kening, saat Yoona menggigit ujung pensilnya, saat Yoona menggumamkan beberapa kalimat yang tak begitu jelas, saat Yoona sesekali menggambar dan menghapus kembali sketsanya, dan saat Yoona menggigit bibir bawahnya, ketika berfikir… Semuanya membuat Kris terpesona.

Kris bahkan tanpa sadar telah meletakkan mangkuk ramennya diatas meja. Ia lupa dengan ramennya, ia juga lupa untuk menutup mulutnya yang sedikit tebuka.

Tiba-tiba saja Yoona mengangkat kepalanya dan menghadap Kris, “Kenapa oppa terus menatapku?”

Kris mengerjabkan matanya dan segera mengalihkan pandangannya kearah sketsa dihadapan Yoona. Ia berdehem sebelum beralasan, “Gambarmu aneh. Kenapa begitu besar?” bohong Kris, melihat gambar Yoona yang memang terlihat besar.

“Ini?” Yoona menunjukkan gambarnya pada Kris.

Kris hanya mengangguk sebagai jawaban. “Apakah wanita bertubuh besar tidak boleh memakai pakaian yang cantik?” Tanya Yoona.

Kris mengerutkan keningnya.

“Aku hanya berfikir, semua wanita itu sama, entah dia kurus, gemuk, bertubuh mungil atau memiliki kaki jenjang, berkulit putih atau sebaliknya. Mereka tetaplah wanita, mereka pasti ingin terlihat cantik dengan pakaian yang menawan. Bukankah begitu?” Yoona memandang Kris sekilas, lalu melanjutkan acara menggambarnya.

Kris bergumam lirih, membenarkan semua penjelasan yang diberikan Yoona. “jadi, konsep fashion show mu adalah pakaian untuk semua wanita.”

Yoona mengangguk membenarkan. “hem. Kurang lebih seperti itu. Aku hanya melakukan apa yang belum pernah desainer lain lakukan.” Ia hanya tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Bukan ide yang buruk.”

.

Kris menggeliat, mencoba meregangkan otot ditubuhnya, acara ditelevisi makin membosankan, berkali-kali ia menguap. Ia sudah mulai mengantuk. Kris melirik jam di dinding dan baru sadar jika sudah lewat tengah malam. Ia bangun dari sofa dan pergi membawa mangkuk kotornya ke dapur.

Setelah mencuci mangkuk ramennya sendiri, Kris mematikan lampu dapur. Ia berjalan keruang tamu untuk mematikan televisi dan lampu. Ia melihat Yoona yang tengah tertidur dengan posisi yang sepertinya kurang nyaman, duduk di lantai, dengan kepala yang menyandar pada meja. Oh! Jangan lewatkan mulutnya yang sedikit terbuka itu.

Kris berdecak tak percaya, gadis mana yang bisa tidur dalam posisi sepeti itu. Ia tak perduli, ia mematikan televisi dan juga mematikan lampu ruang tamu. Setelah itu ia naik tangga kekamarnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang.

Ada perasaan tak enak saat mengingat Yoona, pria macam apa yang membiarkan istrinya sendiri tidur dalam posisi seperti itu, tanpa selimut atau apapun yang mungkin bisa mengurangi rasa dingin ditubuhnya. Egonya mengatakan untuk tak memperdulikannya, tapi hati kecilnya terus berteriak untuk membawa gadis itu ke kamar.

Haruskah ia menuruti egonya? Atau lebih memilih hati kecilnya yang mulai tidak waras, lalu membawa gadis itu kekamar? Lama Kris berdebat dengan batinnya. Akhirnya ia memutuskan untuk memilih hatinya yang –mungkin- memang sudah tidak waras, bangkit dari ranjang dan membawa gadis itu kembali kedalam kamar.

Perlahan Kris mengangkat tubuh kurus Yoona dan membaringkannya diatas ranjang. Yoona sedikit menggeliat. Tapi matanya masih terpejam sempurna.

Kris menghentikan langkahnya, ada perasaan tak rela ketika kakinya mulai menjauh dari tubuh wanita kurus itu. Argh! Apakah otak Kris benar-benar sudah tidak waras? Kris memaki dirinya sendiri dalam hati.

Ia berbalik, kembali menghampiri Yoona yang tengah tertidur lelap, lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Lama ia mengamati sosok malaikat dihadapannya. Ia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah ayu nya, sungguh, ia tak pernah melihat wajah secantik dan semurni gadis dihadapannya ini. Samar, mulai muncul perasaan menyesal dalam hati Kris, kenapa ia bisa menolak di jodohkan dengan Yoona? Dan lebih bodohnya lagi, mengajukan kontrak bodoh dengan gadis ini? ‘Ya! Apa yang aku fikirkan!’ Teriak Kris dalam hati. Apakah fikiran Kris benar-benar sudah tidak waras?

Dahi Kris ikut berkerut saat menatap dahi Yoona yang juga berkerut, Kris mengulurkan jari telunjuknya hingga menyentuh dahi Yoona, menekannya lembut hingga kerutan itu menghilang. ‘apakah gadis ini tengah bermimpi buruk?’ batin Kris. Perlahan jari itu mulai turun menyusuri alis coklat milik Yoona, hingga turun ke hidungnya yang runcing, dan semakin turun hingga berhenti pada bibirnya yang ranum.

Ia merasakan ada sesuatu yang aneh tengah memenuhi dadanya. Ia merasakan ada suatu dorongan untuk menyentuh bibir itu.

Perlahan ia memberanikan diri, mencondongkan tubuhnya kearah Yoona. Dekat dan semakin dekat, menghapus jarak diantara mereka berdua. Kris berani bersumpah, dari jarak sedekat ini, kecantikan Yoona bertambah dua bahkan tiga atau empat kali lipat dari biasanya. Reflek kedua matanya terpejam, ia mulai merasakan nafas teratur Yoona membelai wajahnya dengan lembut. Kris merasakan jantungnya yang bertalu keras hingga terasa mau meledak.

DEG!

Kedua matanya terbuka, tepat saat bibirnya menyentuh bibir Yoona. Ia tersadar dan segera mendorong tubuhnya untuk menjauh.

Ia menyentuh dadanya yang masih bergetar. Memandang Yoona lama, gadis itu nampak tenang malam ini. Seakan berbanding terbalik dengan dirinya, yang harus mati-matian mengontrol detak jantungnya yang bergemuruh tak karuan.

Kris mendudukkan tubuhnya kembali saat merasakan suatu dorongan dari dalam tubuhnya yang memintanya untuk menyentuh gadis itu. Lagi. Perlahan ia kembali mendekatkan wajahnya kearah Yoona, ia menyentuh wajah gadis itu, lalu mengecup dahinya singkat.

Kris menjauhkan tubuhnya dari Yoona. Ia segera bangkit dan berjalan kesisi lain ranjang, lalu mematikan lampu tidur.

Dalam keremangan, pria itu segera merangkak ke atas ranjang. Ia berbaring terlentang dan menatap langit-langit kamar. Ia menghela nafas sambil memegangi dadanya yang masih berpacu, merasakan ada perasaan hangat yang aneh saat menyadari Yoona berada disisinya. Ini perasaan baru yang belum pernah Kris rasakan sebelumnya. Perlahan kehangatan Yoona berhasil mencairkan hati Kris yang membeku.

“Im Yoona..”

Mengambil jeda sebentar saat menunggu jawaban dari Yoona. Ia merubah posisinya, yang semula berbaring menghadap kelangit-langit kamar menjadi miring. Menghadap kearah Yoona. Dilihatnya punggung gadis itu yang sedikit bergetar akibat dengkuran halusnya. “Terima kasih..” gumam Kris seraya memejamkan kedua matanya.

Walau Kris yakin Yoona tak mendengarnya, tapi ia tetap bahagia, setidaknya ia telah mengatakan sesuatu yang beberapa hari ini telah berhasil mengganggu hatinya.

“Author P.O.V end”

.

.

.

“Yoona P.O.V”

Hari ini aku kembali di antar pulang oleh Lay oppa, sebenarnya aku merasa sedikit tidak enak padanya, mengantar sekaligus menjemputku ke butik, tak lupa setelah menjemputku, oppa selalu mentraktirku makan malam, bukankah itu sangat merepotkan? Tapi tetap saja, Lay oppa mengatkan ‘tidak apa-apa’ lalu menambahkan dengan ‘lagi pula aku tidak ada kegiatan’. Selalu saja.

Suasana di dalam mobil begitu hening. Setelah keluar dari restaurant hingga sekarang, tak ada satupun diantara kami berdua yang mau membuka suara. Hal ini benar-benar membuatku merasa tidak nyaman.

Eghem…

Aku berdehem. Mencoba memecah keheningan. “Oppa.. Apakah belakangan ini, bocah pucat itu sangat sibuk?”

Lay oppa menoleh kearahku, dapat ku lihat dahinya berkerut membentuk beberapa lipatan. “Bocah pucat? Maksudmu Sehun?”.

Aku mengangguk, membenarkan. “Ne..” Aku merasa sedikit gemas menatap wajah polos Lay oppa. Siapa lagi bocah pucat yang kau kenal, selain adikmu itu, oppa?

“Hem.. Begitulah. Kau lupa? Sekarang dia sudah menjadi seorang jaksa..” dapat ku lihat Lay oppa terkekeh, lalu kembali fokus pada jalan raya.

Benar saja, bagaimana bisa aku lupa? Setelah berhasil menyelesaikan study nya dan bekerja di kantor kejaksaan Seoul, bocah itu semakin sibuk dan selalu saja, dapat aku pastikan jika intensitas pertemuan kami berdua menjadi semakin jarang, apa lagi setelah pernikahanku dan kembalinya Lay oppa ke Korea, jarak di antara kami berdua terasa semakin jauh. Ia bahkan tak pernah datang ke butikku, untuk membawakan makan siang atau hanya sekedar mampir untuk minum jus. “Kau benar oppa. Dia sangat sibuk.” Aku hanya bisa mendengus, ya.. begitulah. Seorang Oh Sehun yang begitu mencintai pekerjaannya. Hingga lupa untuk sekedar memberikan kabar kepada sahabatnya ini. Ugh! Sungguh menyebalkan!

“Kenapa? Kau merindukannya?”

Sontak pernyataan yang dilontarkan oleh Lay oppa membuatku terkejut sekaligus gugup. “A..Ani.. Hanya saja… “

“Hanya apa? Hanya sangat merindukannya?” Lagi, pria ini menggodaku.

“Tidak!” aku mengelaknya dengan cepat, mencoba menyembunyikan kegugupanku.

“Kau begitu lambat..” dapat ku lihat Lay oppa tersenyum miring, meremehkan.

Mwo?”

Oh ya tuhan… Kenapa pria ini begitu menyebalkan. Aku tidak merindukan Sehun. Sungguh. Hanya saja.. Aku hanya penasaran dengan keadaannya, kenapa pria itu tak menghubungiku? Apakah ia benar-benar sesibuk itu?

“Sudah lima tahun. Apakah waktu selama itu masih kurang?”

Aku menoleh kearah Lay oppa, yang memasang wajah polosnya. Ugh, kenapa dia terlihat begitu tampan. Ya! Im Yoona! Sadarlah!

“hem? Maksud oppa?” Tanyaku tak mengerti.

“Kau benar-benar bodoh. Pantas saja Kris memanggilmu seperti itu.”

Apa bodoh? Ya! Zhang Yi Xing! Apa katamu? Bodoh? Ya tuhan, seandainya sekarang tidak sedang berada di dalam mobil, aku pasti sudah memukul kepalanya itu. Aku memalingkan wajahku kesal. Memandang kearah luar sepertinya lebih baik, di bandingkan memandang wajah menyebalkan miliknya.

“Sudah lima tahun, dan kau belum berani mengungkapkannya? Lalu kapan?” Aku masih mendengarkannya tanpa menoleh sedikitpun kearahnya. Sepertinya aku mulai menyadari kemana arah pembicaraan ini. Oh Sehun.

Memang benar jika selama ini aku menyukai, ah tidak, lebih tepatnya mencintai seorang Oh Sehun- yang notabene- adalah sahabatku. Sejak dulu hingga sekarang. Begitu menikmati debaran jantung yang menggila saat berada di sampingnya, merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuh saat ia membelai rambutku dengan sayang, atau bahkan merasakan jutaan kupu-kupu yang menggelitik perutku saat ia menelepon atau mengirim pesan. Hal itu sudah aku rasakan sejak dulu, bahkan sejak masih dalam masa remaja. Dan mengatakan kepada semua orang tentang ‘Lay oppa’ sebagai cinta pertamaku adalah satu-satunya cara untuk menutupi itu semua.

“Kau melupakan satu hal, oppa. Aku sudah menikah, oppa harus ingat itu.” Satu hal yang tak mungkin bisa di pungkiri. Meskipun hanya pernikahan kontrak, tapi hal itu sama saja. Aku tetap menyandang gelar ‘seorang istri’.

“Aku tahu, tapi… apakah kau benar-benar mencintainya?” pertanyaan itu berhasil mengalihkan pandanganku, yang tadinya begitu tertarik menikmati keindahan kota Seoul, kini memandang tepat di manik matanya. Pertanyaan itu benar-benar berhasil mencekik kerongkonganku, aku tak bisa mengelak. ‘apakah aku mencintanya? Mencintai Kris, suamiku?’ aku tidak tahu. Aku tidak yakin dengan hatiku.

“Bukan itu oppa…” aku tak bisa melanjutkan kata-kataku, rasanya semua berhenti tepat di tenggorokan.

“Apakah karna dia? Hyesung? Bahkan sekarang sudah lebih dari sepuluh tahun, dia sudah lama meninggal. Kau juga harus hidup, dan bahagia Yoong..” Kata-kata terakhirnya berhasil meremas dan memilin jantungku, sehingga rasanya sungguh sulit untukku bernafas.

Melupakannya? Seandainya aku bisa, aku akan melakukannya dari dulu oppa. Tapi kenyataan selama ini berkata lain, rasa bersalah itu masih terpatri dengan sempurna dalam hati serta ingatanku.

.

“Oppa tidak ingin mampir?” tanyaku pada Lay oppa dengan senyum yang ‘tentu’sangat aku paksakan.

Lay oppa menggeleng. “Tidak, sekarang sudah malam. Tidurlah.” Kata Lay oppa sebelum aku berhasil menutup pintu mobil.

Mobil sedan berwarna hitam milik Lay oppa mulai berjalan, lalu hilang di tikungan, aku segera berbalik dan memasuki pagar pekarangan. “Omo!” teriakku, terkejut ketika mendapati Kris oppa sudah berdiri di balkon atas sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Aku hanya tercenung menatapnya. Rasa kesal atau apalah itu, terpancar jelas dari kedua matanya.

Tak mau ambil pusing, aku segera melangkahkan kakiku menyeberangi pekarangan. “Siapa itu?” aku menghentikan langkahku saat mendengar suara bariton yang begitu aku kenali.

Segera ku dongakkan kepalaku menghadap ke atas. Ya tuhan, ada apa dengan pria ini? kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu? Saat ini, aku merasa seperti ditatap oleh seekor singa yang sedang marah karena mendapati istrinya tengah berselingkuh. Oh ayolah… Cerita konyol apa ini.

“Bukan siapa-siapa. Hanya teman.” Jawabku mencoba tak menghiraukan tatapan mematikan miliknya.

“Ya Im Yoona!” teriaknya.

“Apa?!” Balasku setengah berteriak.

“Katakan, siapa pria itu? Kenapa kau bisa pulang bersamanya? Apakah dia pacarmu?”

Aku segera memalingkan muka dan mendengus kesal. Pacar? Pacar apanya! Apakah pria itu amnesia? Bukankah dia sendiri yang menulis dalam kontrak, jika tidak di perbolehkan menjalin hubungan seperti itu selama kontrak berjalan? Lagi pula, kenapa pria itu begitu perduli? Terlepas dari Lay oppa adalah pacarku atau bukan, ini semua bukanlah urusannya.

“Ya Im Yoona! Jawab aku!” Tanpa memperdulikan teriakannya, aku segera mempercepat langkahku menyeberangi pekarangan, menaiki anak tangga teras dan membuka pintu depan, lalu menutupnya kasar.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada pria itu? Aku tak pernah mengurusi semua kehidupan pribadinya. Bahkan saat dia pulang tengah malam pun aku tak pernah perduli. Lalu kenapa dia? Bukankah aku hanya istri kontraknya?

Walaupun ada sedikit rasa bersalah ketika mengabaikannya, tapi hei?! Kenapa aku harus merasa bersalah? Memangnya apa yang aku perbuat? Aku tidak sedang berbohong maupun berselingkuh. Lagi pula, ini hanya pernikahan kontrak bukan?

.

Aku segera masuk ke dalam dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air mineral dingin dan membukanya. “Omo! Oppa, apa yang kau lakuakn disini!” Aku terlonjak kaget ketika membalikkan tubuhku, dan mendapati Kris oppa sudah berdiri tepat di belakangku.

“Siapa pria itu?”

Aku meneguk minumanku cepat dan mengusap mulutku dengan lengan. Lalu segera berlalu meninggalkan dapur. Aku lelah, suasana hatiku juga sedang tidak baik. Aku tidak ingin meledak, dan melampiaskan semua kekesalanku pada orang yang salah.

“Teman.”Jawabku singkat.

“Dimana mobilmu? Kenapa dia yang mengantarmu pulang?”

Aku menatapnya lelah, sungguh, saat ini aku tidak dalam kondisi ingin berdebat atau semacamnya. Aku lelah, aku ingin istirahat. Bisakah pria ini tak menggangguku, sekali saja? “Bukankah aku hanya istri di atas kertas? Lalu… untuk apa oppa begitu tertarik dengan apa dan dengan siapa aku melakukan semua hal?” aku bisa menangkap reaksi terkejut di wajahnya.

“Jangan bersikap seolah-olah hubungan ini nyata, aku sangat muak. Bagiku, hubungan ini tidak ada dan tidak akan pernah ada,” aku mengambil tas ku di atas meja makan, lalu menatapnya sekilas. “Aku lelah, aku ingin istirahat.” Tanpa menunggu jawaban darinya, aku segera melangkahkan kakiku cepat menaiki anak tangga, dan menutup pintu kamar sebelum berbaring di atas tempat tidur, yang terasa begitu nyaman.

 

“Yoona P.O.V End”

.

.

.

“Kris P.O.V”

Aku meletakkan garpu di piring, menyeka bibirku dengan serbet, lalu menghela nafas berat. Pertengkaranku dengan Yoona semalam berhasil menguras seluruh emosiku, dan hasilnya, lihatlah kantung mataku sedikit berwarna hitam karena tak bisa tidur. Begitu melelahkan. Tanpa semangat, aku kembali melirik jam ditanganku. “Sebenarnya, ada masalah apa kau menemuiku?”

Aku melirik pria dihadapanku dengan malas. Siang ini aku harus menghabiskan waktu makan siang bersama Chanyeol. Entah ada angin apa yang membawanya kesini, hingga rela tak menghabiskan waktu makan siangnya, bersama kekasihnya yang galak itu.

Aku menyandarkan punggungku, menatap kosong ke luar jendela. Siang ini Seoul ditemani oleh hujan deras. Sepertinya musim panas akan segera berakhir. Aku mengamati orang-orang diluar yang mencoba menyelamatkan diri dari guyuran hujan, dan sepasang remaja-tampaknya mahasiswa- yang melewati jendela di sisi menjaku, sambil berlindung di bawah payung kuning dan sesekali tertawa bersama, sepertinya mereka sepasang kekasih. Aku hanya mendecih melihat itu, sebahagia itukah kalian?

“Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Yoona?” suara Chanyeol membuyarkan lamunanku.

Ia menyeruput teh dihadapannya.

Mendengar nama itu di sebut, membuat tubuhku menegang. Aku membenarkan posisi dudukku. “Bagaimana apanya?”

Chanyeol meletakkan kembali cangkir teh diatas meja. Ia menghela nafas panjang sebelum memulai pembicaraannya, yang mungkin akan terdengar serius. “Apakah hubunganmu dengan Yoona benar-benar baik?” Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. “Kudengar Lay sudah kembali dari Swiss.”

Lay? Lay siapa? Lalu.. Apa hubungannya denganku? Jujur, aku semakin tak mengerti kemana arah pembicaraan ini.

“Lay?”

Chanyeol mengangguk. “Lay, kau tidak ingat?”

Bagaimana bisa aku mengingatnya? Sungguh, aku merasa asing dengan nama itu. Lalu apa hubungannya denganku? Aku hanya menggelengkan kepalaku tak mengerti.

“Dia adalah cinta pertama dari istrimu, Yoona.”

Apa? Cinta pertama Yoona? Tanpa ku sadari tubuhku semakin menegang saat Chanyeol mengatakan jika pria itu adalah cinta pertama Yoona. Tunggu! Apakah pria semalam yang bernama Lay? Sejujurnya ada perasaan tak suka ketika mengingat pria yang mengantarkannya malam tadi.

“Lalu apa hubungannya denganku? Apakah kau ingin membuatku cemburu? Jangan bermimpi Chanyeoli…” aku hanya tertawa meremehkan, sungguh kekanak-kanakan. Apakah menurutnya, dengan cara seperti ini bisa berhasil membuatku cemburu?

“Ani.. Aku tidak sedang membuatmu cemburu.. Aku hanya ingin mengingatkanmu pada suatu hal. Apakah kau benar-benar tidak ingat padanya?” Chanyeol membantahnya dengan cepat. Ada nada serius yang terpancar dari dalam matanya.

Dan nama itu? Harus kukatakan berapa kali, jika aku tidak ingat bahkan aku merasa baru pertama kali ini mendengar nama itu.

“Apakah ada sesuatu yang spesial, hingga membuatku harus mengingat orang itu?” Aku meraih gagang cangkir teh dihadapanku, berniat membasahi tenggorokanku yang mulai mengering.

“Zhang Yi Xing. Kau ingat?”

Zhang Yi Xing?

Tunggu! Nama itu.. Apakah Zang Yi Xing…..

DEG!

Tanganku bergetar, cangkir yang sempat terangkat, tiba-tiba jatuh kembali. Hanya dengan mendengar nama itu, mampu membuat otot ditubuhku luruh dan lumpuh.

Aku menggenggam tangan kananku yang masih bergetar. Tiba-tiba telingaku terasa tuli dan mataku mengabur.

Zang Yi Xing? Benarkah apa yang dikatakan Chanyeol barusan?

Lebih baik kita akhiri hubungan ini.

Tap.. tapi.. Kenapa?

Aku akan ke London dengan Yi Xing, pria yang sangat aku cintai. Dan aku akan mengejar mimpiku, menjadi pelukis terhebat. Jadi.. Ku mohon lepaskan aku Kris. Maaf.. Tapi aku tidak benar-benar mencintaimu.

Sekelebat kenangan masa lalu muncul kembali diotakku. Mendadak kepalaku bertambah pusing dari sebelumnya. Aku ingin berdiri, dan meninggalkan Chanyeol. Tapi tubuhku terasa lemas, jangankan untuk berjalan, hanya sekedar berdiripun terasa begitu sulit bagiku.

“Kris! Gwenchana?” teriak Chanyeol, seraya meraih pundakku.

Aku tak memperdulikakan Chanyeol maupun tatapan orang-orang dikafe ini. Aku melangkah gontai, ingin rasanya segera pergi dari tempat ini.

Aku ingin mengakhirinya… Kau tahu? Mencintaimu membuatku terluka.

Aku mengerjabkan kedua mataku. Sesaat aku merasa kafe ini begitu hening, berbanding terbalik dengan indera penglihatan ku yang menangkap ada begitu banyak pelanggan di dalamnya.

Sial, kini bukan hanya telingaku saja yang terasa tuli, bahkan saat ini aku juga merasakan tubuh dan kakiku melemas, sesekali aku menabrak pengunjung lain atau bahkan sempat terjatuh beberapa kali hingga membuatku bersusah payah untuk bangkit kembali. “Soo Yeon…” Lirihku.

.

Begitu sampai dirumah, aku langsung melepaskan jas dan melonggaran dasiku.

Aku mengambil lima kaleng soju dari dalam kulkas, lalu segera menghempaskan tubuhku diatas sofa, dan menaikkan kedua kakiku keatas meja. Kejadian semalam ditambah kata-kata Chanyeol beberapa saat lalu, berhasil membuat fikiranku tak karuan.

Aku membuka kaleng soju pertama dan segera meneguknya habis. Kata-kata Chayeol siang tadi masih terus setia berputar diotakku.

Zang Yi Xing. Kau ingat?”

Aku kembali membuka kaleng kedua, meneguknya setengah dan memejamkan mataku rapat-rapat.

Masa-masa SMA memanglah masa yang paling mengasyikkan bagi semua orang. Tak terkecuali aku. Menikmati masa muda bersama sahabat dan kekasih secantik dia- Jung Soo Yeon- gadis yang terlahir dari keluarga sederhana, tapi memiliki semangat yang luar biasa untuk meraih mimpinya menjadi seorang pelukis dunia.

“apa aku sudah boleh bergerak?” tanyaku pada gadis dihadapanku yang masih sibuk dengan kanvas dan kuas ditangannya. Ia menyembulkan kepalanya dari balik kanvas. Sungguh manis.

Ia merengut. “Bersabarlah. Aku ingin membuatmu terlihat tampan.” Ia tersenyum, lalu kembali melanjutkan lukisannya.

Lagi. Ia menjadikanku sebagai objek lukisannya. Setampan itukah aku, hingga membuat gadis ini selalu ingin menjadikanku objekknya. \

Lama aku menunggu. Duduk dengan posisi yang sama membuat sekujur tubuhku terasa pegal. Akhirnya aku memutuskan untuk berdiri dan melihat lukisannya.

Soo Yeon terkejut saat tak mendapatiku dikursi. “Kris? Kau dimana?” teriakknya. Suara cempreng khas-gadis itu, yang membuat orang-orang risih, tapi justru terdengar begitu merdu ditelingaku, memenuhi ruangan ini.

Ia berdiri, kepalanya celingukan. Mengeksplorasi seluruh sudut studio seni di SMA ini.

Cup!

Aku memeluknya dari belakang, seraya mendaratkan kecupan lembut di pipi kanannya. Ia nampak terkejut dengan aksiku, tapi sedetik kemudian ia tersenyum. Aku semakin mengeratkan pelukanku pada pinggangnya yang ramping. Tak ingin membiarkannya pergi barang sesentipun.

Aku mengerang frustasi. Kembali, aku meneguk minuman itu hingga habis dan segera membuka kaleng ketiga.

Sore ini aku kembali menunggunya. Ia mengatakan ada sedikit urusan dengan temannya di studio.

Aku kembali melirik arlojiku, senyum bahagia tak lepas dari sudut bibirku. Membayangkan akan kembali mengantarkannya pulang, membuat ku tak bisa menahan kebahagiaan ini. Dia-Jung Soo Yeon- satu-satunya wanita di dunia ini yang aku cintai.

Aku mengerutkan keningku, sudah lebih dari satu jam aku menunggunya disini. Tapi, ia belum juga menampakkan batang hidungnya. Setelah sekian lama bergelut dengan fikiranku, akhirnya aku memutuskan untuk menyusulnya di studio.

Samar-samar aku mendengar suara seorang wanita dan pria di dalam. Sungguh, aku mengenal suara itu. Dengan ragu aku membuka sedikit pintu studio, tapi bukan ini yang aku harapkan. Apa aku tidak salah lihat? Benarkah gadis dipelukan pria itu adalah sosok gadis yang begitu aku kenal? Apakah benar gadis itu Jung Soo Yeon, gadis yang sampai kapanpun akan selalu aku cintai?

Tubuhku menegang. Panas telah menjalari seluruh inci ditubuhku, saat melihat pria itu-Zhang Yi Xing? Oh God! Apakah aku benar-benar tak salah lihat? Dia teman Soo Yeon-Yi Xing- sedang mencium bibir gadisku!

“AArrgghh!!!”

Ku lempar kaleng soju ditanganku. Nafasku terengah-engah menahan amarah. Kenapa luka lama itu harus kembali? Disaat aku mulai bisa melupakannya, dan mungkin-aku tidak begitu yakin- hatiku mulai bisa menerima gadis itu-Im Yoona. Kenapa sosok pria brengsek itu kembali muncul? Dan lebih malangnya, pria itu adalah cinta pertama Yoona.

Apakah aku akan merasakan luka itu kembali?

Aku mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetku. Nampak sosok wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang, dan senyum cerah yang masih menghiasi wajahnya yang cantik.

“Soo…” bisikku bergetar. Dan benar, air mata yang mati-matian aku coba tahan, akhirnya terjatuh juga. Luka lama yang mulai tersembuhkan berkat kehadiran Yoona, kini kembali menganga. Mengingatkanku pada sosok yang berhasil menghancurkan seluruh kehidupanku.

“Soo Yeon..” Aku memeluk erat selembar foto itu dalam-dalam. Mecoba memberitahukan betapa sakitnya perasaanku padanya.

 

“Kris P.O.V End”

.

.

.

“Author P.O.V”

Hueek…

Ini sudah ketiga ah mungkin lebih, Yoona memuntahkan seluruh isi di perutnya. Entah apa yang terjadi sejak bangun dari tempat tidur badannya lemas, suhu tubuhnya sedikit naik, dan perutnya sungguh, terasa sangat nyeri dan mual.

Yoona mengelap bibirnya yang basah dengan handuk, lalu kembali membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia memegangi kepalanya yang mulai terasa pening. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, hingga terasa seperti ini.

Yoona kembali bangkit dan segera berlari kearah kamar mandi saat dirasa perutnya mulai terasa mual. Ia kembali memuntahkan semua isi dalam perutnya, yang ternyata hanya berisi air.

Gwenchana?” Tanya Kris data melihat Yoona keluar dari kamar mandi dengan memegangi kepalanya, sedangkan tangan kirinya memegangi perutnya yang datar.

Yoona tak menjawab. Ia kembali menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Bukan maksudnya untuk tidak menghiraukan suaminya, hanya saja tubuhnya terasa lemas. Bahkan sekedar memberikan jawaban pun sangat sulit baginya.

Kris berjalan mendekat. “Kau baik-baik saja?” Kris baru menyadari jika Yoona tengah -tak baik-baik saja- saat menatap wajahnya yang sangat pucat. Ia lalu menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi Yoona, sedangkan tangan kirinya ia tempelkan tepat dikeningnya. “Ya tuhan Yoong, tubuhmu panas. Kita kerumah sakit.”

Yoona menggenggam lengan Kris, mencoba mencegah sesuatu hal yang akan dilakukan pria itu. Ia meggeleng lemah. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat.” Kembali, kedua matanya terpejam. Sepertinya Yoona benar-benar lemas sekarang.

“Tap… Tapi, kau demam.”

Yoona masih terpejam, ia nampak begitu lemas hingga membuat Kris tak tega, akhirnya ia memutuskan untuk mengalah, dan membiarkan Yoona beristirahat, “Baiklah.”

.

Kris kembali kedalam kamar dengan sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur, segelas air putih dan obat anti mual. Walaupun Yoona sudah tidak memuntahkan isi dalam perutnya tetapi Yoona masih mengeluh perutnya masih terasa mual dan sakit.

Kris meletakkan nampan itu diatas nakas. Lalu melepas plaster demam dari dahi Yoona, sesaat setelah memastikan demamnya sudah mulai turun. Kris sedikit mengguncangkan tubuh Yoona, bermaksud untuk membangunkannya. “Yoon..Yoonaa..”

“hem..” Yoona membuka kedua matanya yang terasa berat.

“Kau harus makan. Eoh.”

Mendengar kata makan. Kedua mata Yoona kembali terpejam.

Kris kembali mengguncang tubuh Yoona pelan. “Kau harus makan dan meminum obatmu.”

“Aku tidak ingin makan oppa. Aku hanya butuh sedikit istirahat.” Jawab Yoona tanpa mau membuka kedua matanya.

Kris tak ingin menyerah, bagaimanapun juga gadis ini harus membayarnya, karena hanya demi gadis ini, ia rela membatalkan meeting dengan klien, dan memilih menjaganya dirumah. Ia menggeser duduknya, lalu mengangkat tubuh Yoona dan mengganjal belakang tubuhnya dengan bantal, hingga posisinya setengah duduk. “Makanlah, sedikit saja. Tubuhmu lemas Yoon.”

Yoona menggeleng. “Aku tidak mau makan oppa.”

“Setidaknya kau makan tiga suap. Agar perutmu tidak kosong.” Bujuk Kris sambil mencoba menyuapkan bubur kemulut Yoona. Tapi Yoona terus menggeleng layaknya anak kecil. Ia terus mencoba membujukknya, tapi tetap saja, Yoona tetap tak mau membuka mulutnya. Melihat hal itu, Kris sangat geram. Dengan jengkel ia menaruh sendok kedalam mangkuk dengan kasar.

“Baiklah..” Kris berdiri dan berkacak pinggang. “Sekarang apa yang kau inginkan?” Tanya Kris jengah.

Yoona tersenyum lebar mendengar negosiasi yang diajukan oleh Kris. “Apakah oppa akan memberikan apapun yang aku inginkan?”

Kris hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Apapun itu, oppa akan tetap menurutinya?” Tanya Yona kembali memastikan.

“hem.. Apapun.”

Yoona menyeringai, merasa menang mendengar jawaban yang terdengar -begitu yakin- dari Kris. “Aku ingin jeruk. Jeruk yang dibawa Yuri eonni saat bulan madu. Aku hanya ingin itu.” Pinta Yoona dengan wajah memelas. Tubuhnya yang sedari tadi lemas karena muntah, kini terlihat segar saat membicarakan Jeruk yang begitu diinginkannya.

“Jeruk?” Tanya Kris tak percaya. Bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini Yoona malah meminta jeruk. Sedangkan ia tahu sendiri, jika sedari tadi belum ada sedikitpun makanan yang berhasil masuk kedalam perutnya, dan membiarkan gadis ini memakan makanan asam seperti itu adalah hal terbodoh yang mungkin hanya akan dilakakukan oleh seseorang yang sangat bodoh. Dan Kris? Kris tidak sebodoh itu untuk melakukannya.

Yoona mengangguk dengan ditemani puppy eyes nya yang begitu menggemaskan.

andwae!”

Satu kalimat tegas yang keluar dari bibir Kris berhasil meluluh lantakan harapan Yoona. Wajah nya yang sedari tadi berbinar kembali ia tekuk. Dengan kesal ia menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya.

“Kau harus makan. Setelah sembuh, aku berjanji akan membiarkanmu memakan apapun yang kau inginkan. Eoh?” demi apapun yang ada didunia ini, Kris meruntuki kebodohannya, kenapa ia begitu perduli pada gadis yang awalnya ia benci. Seharusnya ia senang dan membiarkan gadis ini memakan makanan asam itu, lalu mati. Tapi tidak, Kris masih punya hati nurani, hati kecilnya terus memberontak untuk melakukan apapun demi menyelamatkan gadis ini.

Yoona hanya menggelengkan kepalnya yang tertutupi oleh selimut, sehingga membentuk sesuatu yang hampir mirip kepompong bergerak. Sungguh lucu. Batin Kris.

“Setidaknya makanlah sesuap.” Kris masih mencoba membujukknya.

Yoona membuka selimutnya separuh wajah, sehingga hanya memperlihatkan kedua matanya yang sedikit kecil. “lalu.. Apakah oppa akan membelikanku jeruk itu?”

“Tidak!” Kris menolaknya dengan tegas.

Kembali, Yoona menutup seluruh wajahnya dengan selimut. “Kalau begitu, biarkan saja aku sendiri dan mati!” teriaknya.

Kris begitu geram, kenapa ada gadis yang begitu keras kepala?

“Baiklah! Aku akan membelikannya untukmu. Kau puas?” teriak Kris mengalah. Ia benar-benar frustasi dengan sikap gadis keras kepala seperti Yoona.

jinjja?” Yoona menyibak selimutnya hingga sebatas dada, secepat kilat ia berdiri dan memeluk tubuh Kris, tapi karena sikap tiba-tibanya itu, membuat badannya sedikit limbung dan membuatnya hampir terjatuh. Jika saja Kris tidak menariknya cepat, maka dapat dipastikan ia sudah mendarat mulus diatas lantai. “Berhati-hatilah…”

Yoona hanya meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tapi kau harus berjanji, setelah aku membelikannya, kau akan makan.”

“Ne!” Yoona mengangguk dengan semangat lalu memeluk tubuh Kris dengan erat.

.

.

Kris meraih ponselnya, dan menekan salah satu nama di dalam kontaknya. Kris menggigit bibir bawahnya, sedikit gelisah saat orang yang coba ia hubungi tak segera menjawab panggilannya.

yeobosseyo.. Kris-ah, ada apa kau menghubungiku?”

“Ah yeobosseyo eommonim..” Kris nampak sedikit gugup. Pasalnya, ini kali pertama ia menghubungi ibu mertuanya. Ia sedikit ragu, tapi ia tak ingin mendengar rengekan gadis manja itu lagi.

“Kris-ah.. Ada apa kau menghubungiku? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Yoona?”

Kris tersadar dari lamunan sesaatnya. Ia lalu tersenyum. “ne, ah maksudku ada sedikit masalah eommonim. Yoona sedikit pusing, badannya sedikit demam, dan sedari tadi pagi, Yoona terus saja muntah,” Kris menghela nafasnya sesaat sebelum menjelaskan semuanya pada ibu mertuanya. “Yoona belum makan apapun sejak tadi pagi. Dia hanya ingin memakan buah jeruk yang dibawa Yuri saat bulan madu, sejujurnya saya tidak tahu bagaimana cara mendapatkan buah itu, karena Yoona bilang ia mau makan jika saya membawakannya buah jeruk itu,” Kris menelan salivanya. “Apakah.. Eommonim tahu dimana saya bisa membelinya?”

Kris sedikit takut sekarang, Karena tak ada tanggapan apa-apa dari ibu mertuanya. Ya tuhan.. Apakah ibu mertuanya ini marah pada Kris? Kenapa tak merespon sama sekali. “eommonim..” Kris memanggil ibu mertuanya lagi, suaranya sedikit bergetar.

“Kris-ah!! Benarkah Yoona menginginkan jeruk itu? Dan.. dan.. apakah benar Yoona terus saja mual bahkan muntah?” Kris mengerutkan dahinya. Apakah ia tak salah dengar? Bukankah tadi ia baru saja memberitahukan berita yang.. emm.. Cukup sedih untuk seorang ibu yang anaknya tengah sakit? Tapi , sungguh, ia mendengar suara antusias dan bahkan terdengar bahagia dari ibu mertuanya..

Kris mendengar teriakan bahagia dari ibu mertuanya. “Kris-ah, chukkae!” teriak ibu mertuanya.

“ne?” Tanya Kris tak mengerti. Oh ayolah, Yoona sedang sakit, dan kenapa pula ibu mertuanya malah memberinya selamat? Apakah beliau malah senang mendengar anaknya jatuh sakit.

“Tunggulah sebentar, biar aku saja yang membelikannya. Katakan pada Yoona, aku dan ibumu akan datang tiga puluh menit lagi. Annyeong.”

Kris mengerutkan keningnnya sambil memandangi ponselnya, ia bahkan belum sempat membalas salam dari ibu mertuanya, tapi beliau malah mematikannya terlebih dahulu. Aish ibu mertuanya itu memiliki kebiasaan yang sama dengan ibunya.

.

.

“Apakah kau masih mual?” Tanya nyonya Im kepada Yoona.

Yoona hanya menggeleng sembari tersenyum manis, gadis itu masih asik dengan jeruk dihadapannya. Ibu Kris datang mendekat dan menggenggam tangan Yoona erat, ia memandang Yoona lekat dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Yoona-ya… Gomawo.” Ucap ibu Kris tulus.

Yoona hanya bisa melongo. Sungguh ia tak tahu harus berkata apa. Kenapa tiba-tiba ibu mertuanya itu mengucapkan terimakasih kepadanya? Bukankah seharusnya Yoona yang berterimakasih, karena ibu serta ibu mertuanya itu bersedia untuk datang dan membawakannya jeruk?

“ne?”

Nyonya Wu masih tersenyum seraya menatap menantunya itu lembut. “Terimakasih karena kalian benar-benar berusaha mengabulkan keinginanku, ah maksudku keinginan kami semua.”

Dahi Yoona berkerut, membentuk beberapa lipatan. “ne?” tanyanya tak mengerti. Apa maksud dari ucapan ibu mertuanya ini? Dan lihatlah, kedua wanita dihadapannya ini? Kenapa mereka berdua terlihat begitu bahagia.

“Saya sudah menghubungi Chanyeol, mungkin lima belas menit lagi Chanyeol akan tiba.” Kris datang sambil membawa nampan berisi dua gelas orange juice diatasnya. Ia meletakkan nampan itu diatas nakas, lalu duduk di sofa sudut kamar. Belum sampai Kris mendudukkan tubuhnya d sofa, ia kembali berbalik saat mendengar panggilan nyonya Im.

“Kris-ah..”

“ne?”

“Kemarilah..”

Kris berjalan mendekat, nyonya Im menggenggam tangan Kris dan Yoona bersamaan. Kris menelan ludahnya gugup. Sebenarnya ada apa? Kenapa kedua wanita dihadapannya ini begitu aneh?

“Kalian berdua dengarkan aku..” Kedua mata nyonya Im nampak berkaca-kaca. “Terimakasih…”

Nyonya Wu tersenyum, ia meletakkan tangannya diatas tangan nyonya Im yang sedang menggenggam tangan Kris, ia lalu mengangguk, meyakinkan nyonya Im untuk melanjutkan kata-katanya. “Terimakasih karena kalian berdua telah memenuhi keinginan kami semua,” ia mengambil jeda sebentar. “Kris..” ia mengalihkan pandangannya kearah Kris. “Tolong jaga istri dan calon bayimu..”

“ne?” Tanya Kris terkejut.

.

Nyonya Im dan nyonya Wu segera berdiri dari duduknya, ketika mendapati Chanyeol turun dari tangga, selesai memeriksa kondisi Yoona. “Bagaimana keadaan Yoona, Chanyeol-ah?” Tanya nyonya Im’

“Yoona baik-baik saja bibi, anda tidak perlu khawatir.”

“lalu…” Kali ini giliran nyonya Wu yang bertanya. Sebenarnya ia sedikit khawatir dengan kondisi menantunya itu. “Bagaiman kondisi janinnya?”

Nyonya Im terlihat mengangguk antusias, sedangkan Kris yang berada di dekat Chanyeol hanya bisa melebarkan kedua matanya, terkejut.

Berbeda dengan Kris yang nampak terkejut, Chanyeol hanya tersenyum. Sebenarnya ia sudah tahu jika nyonya Im dan nyonya Wu ‘pasti’ berfikir jika Yoona tengah hamil. Ia berdehem pelan, menghilangkan serak di tenggorokannya. “em..mohon maafkan saya bibi.. Sebenarnya…” ia sedikit ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya, melihat keantusiasan serta kebahagian yang nampak di wajah kedua wanita paruh baya itu, membuat hatinya merasa bersalah. “Sebenarnya Yoona tidak sedang hamil, tetapi asam lambung Yoona meningkat.”

“Apa?” Tanya nyonya Im dan nyonya Wu bersamaan. Ada sedikit nada kecewa sekaligus tak percaya di dalamnya. Mereka sangat bahagia tadi, mendapatkan kabar dari Kris yang mengatakan Yoona mual muntah dan menginginkan makanan asam, mau tak mau membuat fikiran mereka berdua mengarah pada ‘kehamilan’dan ‘ngidam’ , tapi sungguh mengecewakan, ternyata mereka berdua hanya salah menduga.

“Benarkah?” Tanya nyonya Im lagi. Ia menunduk, begitu kecewa dengan jawaban yang di berikan oleh Chanyeol.

“Tapi.. Bukankah Yoona mual dan muntah.” nyonya Wu masih tak percaya dengan apa yang Chanyeol katakana. Sungguh, ia sangat bahagia tadi, ketika mendapatkan kabar kehamilan dari besannya- Nyonya Im.

“Ah.. maafkan saya bibi.” Chanyeol sedikit merasa menyesal mengatakannya. Ia begitu merasa bersalah saat mendapati raut kekcewaan dari kedua wanita paruh baya dihadapannya itu. “Beberapa hari ini Yoona sering melewatkan waktu makannya dan beberapa hari ini Yoona juga terlihat stres, menyiapkan pagelaran busana pertamanya, hal itulah yang menyebabkan asam lambung Yoona meningkat, jadi bisa dikatakan karena asam lambung yang meningkat, membuat Yoona merasa mual bahkan muntah.”

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan mengidam? Bukankah Yoona menginginkan makanan asam?” kali ini nyonya Im yang bersuara. Ia masih berharap jika Chanyeol salah memberikan diagnosa. Bukankah Chanyeol juga manusia biasa? Pasti ia juga bisa melakukan kesalahan.

Chanyeol tersenyum sebelum memberikan penjelasannya. “Ahh.. makanan asam. Sekali lagi mohon maafkan saya bibi, tapi hal itu mungkin saja terjadi, karena saat asam lambung meningkat produksi air liurpun juga meningkat, hal itu bisa sangat mungkin mengakibatkan pasien, yang di sini adalah Yoona menginginkan makanan asam.”

“Benarkah..?” Finish.. Penjelasan yang diberikan oleh Chanyeol barusan, telah menghancurkan semua harapan tentang ‘cucu’ yang begitu ia idam-idamkan.

“Apakah kau sudah memeriksa dengan tes kehamilan?” Sela nyonya Im, masih tak percaya.

Chanyeol tersenyum. “maafkan saya bibi, tapi Yoona mengatakan, saat ini Yoona tengah datang bulan.”

“oh ya tuhaan…” nyonya Wu memegangi belakang kepalanya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut-nyeri.

“Eomma..” Kris memegang kedua pundak ibunya. Ia merasa bersalah karena telah membuat ibu serta ibu mertuanya kecewa. Ia tak berfikir sejauh itu, ia benar-benar hanya berfikir jika Yoona tengah sakit, dan jauh dari bayangannya, ternyata ibu mertuanya berfikiran jika Yoona tengah hamil muda.

Gwenchana… Aku hanya merasa sedikit pusing,” nyonya Wu menyentuh tangan Kris yang berada di pundaknya, “Sepertinya kami berdua harus pulang sekarang.” Nyonya Wu meraih tangan nyonya Im, dan mulai beranjak pergi.

Kris meraih lengan ibunya, tetapi segera ditampik oleh nyonya Wu. “Gwenchana..” kata nyonya Wu meyakinkan. Tapi Kris tidak bodoh, ia tahu, ibu serta ibu mertuanya sedang tidak baik-baik saja, mereka berdua pasti merasa terpukul dan kecewa dengan kenyataan yang ada. Begitu besar keinginan mereka untuk mendapatkan cucu, dan ketika rasa bahagia itu muncul dan membuat mereka begitu bersemangat, tiba-tiba saja Chanyeol datang dan memberikan ‘pernyataan’ yang membuat angan mereka hancur seketika. ‘Yoona tidak hamil, ia hanya mengalami peningkatan asam lambung’. Sungguh, mereka sangat kecewa akan hal itu.

“Kami harus segera pulang, aku juga merasa kurang enak badan.“

“Eommonim tidak ingin bertemu dengan Yoona terlebih dahulu?” Tanya Kris ragu, nyonya Im dan eommanya tidak kembali kekamar untuk berpamitan kepada Yoona, bahkan hanya untuk menemuinya pun tidak. Kedua wanita paruh baya itu hanya menggeleng tanpa memberikn jawaban. Dan hal itu berhasil membuat rasa bersalah di hati Kris semakin membesar.

“eomma, eommonim, maafkan saya, saya sangat meyesal.” Kris menunduk.

Gwenchana… “ nyonya Im menepuk-nepuk pundak Kris, meyakinkan jika ia baik-baik saja. “lagi pula kami juga memahami jika kalian berdua sibuk.”

Kris begitu terpukul menatap raut kekecewaan di wajah ibunya. “Kami akan mengusahakannya!” Celetuk Kris tanpa berfikir. Ia tak tahan melihat raut kekecawaan dari dua orang yang begitu ia hormati.

“Benarkah?” Tanya nyonya Im sedikit berbinar.

“ne eommonim…” jawab Kris mantap.

“Ku harap kalian tidak akan mengecewakan kami untuk yang kedua kalinya.” Nyonya wu menepuk-nepuk pundak Kris. Ia tak ingin di kecewakan untuk yang kedua kalinya.

“Kami sangat menantikannya. Tolong jaga Yoona baik-baik, eoh.” Putus nyonya Im sebelum melangkahkan kedua kakinya pergi dari kediaman Kris dan Yoona.

Kris menelan ludahnya dengan susah payah. Lagi, ia menjanjikan suatu hal yang ‘mungkin’ tidak akan pernah bisa ia tepati, terutama sebagai lelaki.

Kris berbalik, betapa terkejutnya ia saat mendapati Chanyeol menatapnya dengan seringaian aneh, yang ia fikir ‘begitu mengerikan’.

wae?” tanyanya kesal.

“Benarkah itu?” Chanyeol berjalan mengikuti Kris menuju sofa, lalu mendudukkan tubuh diatasnya. “Apa kau yakin bisa memenuhinya?”

Kening Kris berkerut tak mengerti. “Maksudmu?”

Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada dinding sofa. “Haruskah aku mengatakan yang sejujurnya pada kedua orang tuamu?”

“Tentang?”

” Tentang… Kau belum menyentuh Yoona sama sekali.”

DEG!

Kris terdiam. Oh ya tuhan… ia fikir topik ini telah selesai beberapa detik lalu, saat ibu dan ibu mertuanya pergi meninggalkan rumahnya. Ternyata ia salah, Chanyeol masih saja membahasnya, bahkan setelah mereka berdua pergi. “Lalu… bagaimana caramu memenuhi tuntutan kedua orang tuamu dan orang tua Yoona?”

Kris menelan ludahnya lagi. Ia tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Lagi-lagi ia tak berfikir sejauh itu.

***

Kkeut!

 

47 thoughts on “(Freelance) Married Without Love (Chapter 5)

  1. nah…konfliknya udah mulai kerasa ni…jd lai adalah orang yg ada hubungannya dgn masa lalu mereka…tp bukankah lai digunakan yoona hanya uyk mengalihkannya dr sehun? menurutku bukan lai yg bakal jd masalah seharusnya…tp harusnya sehun. Gitukan?

  2. Perasaan sih udah komen di part ini tp takut aja dr pda ga ada lbihh baik komenn aja lagii lucu ajAa pas yoona yg dikira hamil kris jga sihhh ngasih infonya seolah” mngatakan kalau yoona tu sdang hamill

  3. Baguss, konfliknya dapett, penasaran gimana cara kris dan yoona saling jatuh cinta hihi, lanjut minn, jangan lama-lama yaa

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s