(Freelance) Ficlet : Breath

breath-nwfl

Breath

 Written by Nawafil

 PG

 Romance, Sad, Songfic

 Ficlet

 Starring by EXO’s Sehun | GG’s Yoona

 Poster by JungG at cafeposterart.wordpress.com

 Disclaimer : All cast belong to god, but the plot of the story is mine. This story not true, just a fiction. DO NOT PLAGIARISM!


A/N : Kata dalam cerita yang dicetak miring (italic) dan tebal (bold) secara bersamaan berarti flashback. Semua isi dari cerita ini adalah Point of view dari Sehun.

Aku mengambil secangkir kopi yang sedari tadi tak ku sentuh sama sekali. Menyesapnya dengan sangat pelan, merasakan setiap tetesnya membasahi mulutku. Kemudian meletakannya di meja itu. Aku kembali merenung, menatap sesuatu yang entah apa di luar sana. Sesuatu itu jernih, cair dan turun dari atas sangat banyak. Banyak sekali.

 

Aku menyunggingkan senyumku, ternyata hujan. Untuk kedua kalinya, senyum hambar itu kembali tergurat diwajahku. Bahkan aku lupa kalau itu hujan. Ah tidak, bukan lupa. Aku hanya terlalu bodoh karena tidak menyadarinya. Ya, hanya terlalu bodoh untuk menyadari hal sekecil itu.

 

Aku beranjak dari kursiku, berjalan gontai menuju.. Tunggu, aku harus kemana? Aku tak punya tujuan, dan untuk apa tadi aku berdiri? Ya tuhan, aku sungguh sangat bodoh.

 

Dalam kebingunganku itu, mataku tertarik melihat bunga yang sudah mati diujung sana. Aku menghampirinya, memegang bunga itu.

 

“Bukankah ini bunga Im Yoona?”

 

Aku tertawa pelan. “Bunga Im Yoona” Kemudian menghirup wangi bunga itu, bunga yang telah mati itu. “Kenapa kau mati, huh?” Aku mulai mengoceh tak karuan. “Kau adalah Im Yoona, tidak seharusnya kau serapuh ini”

 

“Apa kau tidak mendengar?! Kau adalah Im Yoona, bodoh!” Nada suaraku meninggi, lalu melempar bunga itu ke lantai. Aku hampir saja tertawa terbahak – bahak. Oh tuhan, tidak, tidak! Itu adalah Im Yoona, kekasihku! Kenapa aku melemparnya?!

 

“Oh tidak, apa kau terluka sayang?” Kini bunga itu telah berada digenggamanku kembali. Aku mengelusnya dengan pelan dan lembut. Namun seringaian yang menyeramkan itu kembali muncul.

 

“TAPI TIDAK SEHARUSNYA KAU MATI SEPERTI INI!”

 

Aku melepas bunganya, meracau tidak jelas dengan keadaanku yang seburuk ini. Mataku melirik ke sana ke sini, celingukan melihat sesuatu yang entah apa itu.

 

“Ah, telepon” Aku mendatangi teleponnya.

 

“Berapa ya nomor, Im Yoona?” Mendongakan kepalaku ke atas, layaknya orang bodoh yang kehilangan akalnya. Beberapa detik kemudian, aku menjentikkan jariku.

 

“Tenang saja sayang, aku tidak akan melupakan nomor kembar kita itu” Jariku bergerak lincah menekan tombol – tombol itu, nomor ponselku dan Im Yoona selalu kembar. Hanya berbeda angka terakhir saja, dan pasti aku tak akan lupa dengan hal sekecil itu. Semua hal tentang Im Yoona, dari hal yang kecil sampai yang besar, aku mengetahuinya.

 

Tut.. Tut..

 

“Ah! Tersambung!”

 

Suara itu berhenti! Maksudku, ada yang mengangkatnya!

 

Aku tak bisa menghentikan senyumku, ini gerak refleks. Senyum ini benar – benar tak bisa berhenti.

 

Ini aku, Im Yoona. Sudah begitu lama, bukan?

 

Suaraku itu tak bisa keluar, kenapa tidak bisa keluar? Rasanya sangat sulit hanya untuk mengucapkan satu patah kata saja.

 

Bisakah kau kembali padaku?

 

Apa aku pantas mengutarakan permintaan semacam itu? Ini terlalu sulit bagiku, aku bahkan tidak pantas untuk memintamu kembali.

 

Aku menghembuskan nafas.

 

Tapi aku ingin kau kembali, aku sangat menyesal karena membiarkanmu pergi.

 

Hatiku yang bergetar sangat hebat, menginginkan hadirnya kembali sosok yang ku cintai. Apa kau baik – baik saja di sana? Kau tidak mengalami banyak kesulitan, kan? Dan..

 

Apa kau merindukanku juga?

 

Aku menutup mataku dan merasakannya. Merasakan rasa sakit yang selama ini ku tahan, dan akhirnya meneteskan air mata yang sedari dulu mendesak untuk keluar.

 

“…” Ada hembusan nafas dari seberang sana. Kelopak mataku terbuka, kenanganku dengannya merasuki pikiranku. Aku menyadari sesuatu.

 

FLASHBACK ON.

 

“Kau berjanji ‘kan akan mencintaiku selamanya?”

 

Dia tersenyum. “Tentu saja”

 

“Sudahlah, kau fokus menyetir saja” Dan saat itu, aku tahu dia tersipu malu.

“Kalau begitu, kau mau mati bersamaku?” Aku menoleh dan melihat parasnya. Rasa penasaran akan bagaimana wajah cantiknya itu saat memerah membuatku mengalihkan fokusku padanya.

 

“Ayolah, aku ingin tahu jawabanmu” Menggodanya sangat menyenangkan.

 

Aku memandangnya untuk waktu yang cukup lama, dan beberapa saat kemudian ia pun menatapku, tersenyum manis. Terlampau sangat manis.

 

“Jawabanku adalah..”

 

1.

 

“Aku..”

 

2.

 

“Aku..”

 

3.

 

BRAK!

 

Tabrakan itu terjadi. Aku kehilangan kendali dan menabrak truk di depanku. Setelah itu, aku mendengar ledakkan yang cukup keras. Aku melihat wajahnya yang kini telah bersimbah berdarah.

 

Kau tidak boleh terluka, sayang.

 

Tanganku mencoba meraih wajahnya saat ledakan – ledakan keras itu terus menerus terdengar di telingaku, Namun sayangnya, aku bahkan tidak punya kekuatan itu.

 

Tiba – tiba rasa sakit yang sangat hebat ku rasakan. Aku terlalu lemah untuk menyadari dimana titik rasa sakit itu, tapi ini sangat menyakitkan! Nafasku terputus – putus, namun saat aku melihat wajahnya aku mulai merasa tenang.

 

Ia tersenyum.

 

Aku tahu ia mengerahkan semua tenaganya untuk senyuman kecil itu. Tangannya bergerak perlahan, ia menyentuh dadaku.

 

“Jantung ini milikmu”

 

Ketika itu, suara serak nan lirihnya sangat terdengar jelas dan tegas. Namun aku tidak terlalu memperhatikannya, pandanganku melihat kelopak matanya yang perlahan mulai layu dan menutup.

 

Saat itu, duniaku berakhir.

 

FLASHBACK OFF.

 

Aku melempar telepon yang ku genggam. Memukul dadaku berulang kali, menghantamkan benda apapun di dekatku menuju dada ini. Air mataku tak bisa berhenti, air mata selama 1 tahun yang ku bendung ini terus mengalir.

 

Tubuku terjatuh.

 

Apa yang harus ku lakukan? APA?!

 

“Jantung ini miliknya! Apa yang ada dipikiranku? Kenapa aku membiarkan jantung ini hidup ditubuhku dan mengorbankan dirinya! Kenapa aku harus hidup sedangkan dia tidak? AAAAAA!”

 

Aku yang telah membunuhnya. AKULAH PEMBUNUHNYA!

 

Aku memukul dada yang menjadi tameng jantung itu. “Keluar kau!”

 

“Tidak seharusnya kau ada di dalam tubuhku! Seharusnya aku mati bersamanya!” Isakanku semakin keras, aku terus memberontak dan tak terkendali.

 

Karena melewati ini semua tanpamu, rasanya lebih sulit dibandingkan merasakan kematian.

 

Akhirnya aku berhenti. “AAAAAA!” Si bodoh itu berteriak. Si bodoh Oh Sehun itu berteriak! Mengacak – ngacak rambutnya dan mengepalkan tangannya berulang kali.

 

Berhenti.

 

Aku menghentikan semua pergerakanku secara mendadak dan menatap kosong ke depan.

 

“Aku baik – baik saja, Im Yoona” Kata demi kata itu terucap dengan tenang dari bibirku.

 

Namun detik berikutnya, aku tertawa terbahak – bahak dengan air mata yang masih membasahi pipi. Aku tidak bisa mengatakan ‘aku baik – baik saja’ hanya untuk menghibur hatiku yang sebenarnya terluka. Karena aku tahu, aku jauh lebih tersiksa jika bersikap seakan semuanya baik – baik saja. Bersikap seolah semua yang telah terjadi tidak menyakitiku.

 

Aku menghela nafasku. Dulu, di masa lampau kita sangat bahagia. Kau yang selalu membawakan sarapanku, memulai hari dengan secangkir teh panas, menghabiskan waktu bersama, melihat berbagai pertunjukan sirkus, mengunjungi pameran lukisan. Kita tersenyum dan tertawa bersama, tapi kenapa? Kenapa?

 

Kenapa kita harus berpisah?

 

Saat setetes air mata ini jatuh lagi, aku sadar betapa aku merindukanmu. Betapa aku hancur tanpa adanya dirimu. Betapa aku sangat mencintaimu, Im Yoona.

 

Dan..

 

Betapa menyakitkannya kehilanganmu.

 

Ku mohon, setidaknya izinkanlah aku mendengar hembusan nafasmu.

 

Aku ingin mendengarnya, hanya sekali ini saja.

 

END

 

Haloooo halooo^^ Udah setahun kali ya lagu ini dirilis. Udah lama banget ya, wkwk. Karena moodku lagi lancar dan lagi hobi banget denger lagu ini, aku buat songficnya deh—aku buat tanpa memasukkan lirik. Walaupun agak sedikit melenceng keluar mungkin tapi yah tetep sama intinya. Thanks for reading, see you in the next fanfic!^^

26 thoughts on “(Freelance) Ficlet : Breath

  1. adduh….
    apa ini sad day for me
    dari tadi pagi baca ff sad semua.. tadi sore juga pake ada kejadian yg bikin sedih
    pokoknya nyesek
    bagus thoor

  2. Ah kampret lu, thor. Feel nya dapet banget, aku nggak tau mau ngomong apa. Yang jelas, makasih udah bikin aku nangis. Apalagi disini orang ke-1 pelaku utama. Gila, feel nya dapet banget sumpah. Makasih ya thor T.T lanjutkan!! Sehun yang tabah ya, nak (?)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s