(Freelance) Oneshot : A Reason (Sequel A Window)

PicsArt_1425294746441

Author: Catur Anggraheni

Length: Oneshot?

Rating: G

Genre: Romance

Main Cast: Im Yoon Ah, Lu Han, Wu Yi Fan, Park Chorong

Disclaimer : Ini sequel dari ff “A Window”. Masih ada yang ingat? Pernah di publish sebelumnya disini kok. Ini panjang, semoga ga membosankan. Dan percayalah, cerita ini aneh.

~~~

Beberapa tahun kemudian.

Yoona mengerjap pelan. Sinar matahari yang menyilaukan mata itulah yang membuatnya bangun. Oh tidak, lebih tepatnya terbangun.

Jam berapa ini?

06.06 am

Lebih baik ia kembali tidur. Sangat disayangkan jika di waktu libur seperti ini ia memilih untuk bangun pagi. Kecuali jika ada One Direction lewat di depan rumahnya. Tapi, ia tahu itu tak mungkin. Gadis itu lalu tersenyum kecil dengan posisi mata terpejam. Menertawai dalam hati impian konyolnya tadi.

Tapi baru saja ia mau menutup matanya, ponsel terkutuk itu berdering.

KRINGGGG!!!!!!!

Bunyinya sama persis seperti bunyi alaram-nya, menandakan ada panggilan masuk. Oh, Yoona akan mengganti nada dering itu secepatnya. Laki laki aneh itulah yang menyetel nada deringnya menjadi seperti itu.

Dengan malas ia melihat ke layar ponselnya.

My Lovely Boyfriend

Yoona membuang nafas kesal. Sebenarnya ia ingin sekali muntah ketika melihat nama itu tertera di ponselnya. Tapi, sekali lagi, bukan Yoona yang melakukannya. Tapi lelaki itu. Awalnya Yoona ragu apakah ia harus menjawab panggilan itu atau tidak. Karena jika laki laki itu menelfon-nya sepagi ini, itu artinya ia akan berulah lagi dan membuat Yoona ingin menghilang saja dari planet ini.

Angkat saja, siapa tahu sesuatu yang penting, suara kecil dari hatinya itu membuatnya mengambil keputusan untuk mengangkat telfon-nya.

Morning sunshine, how are you this morning? I miss you

Suara berat yang khas itu membuat Yoona bangun sepenuhnya. Bahasa Inggrisnya memang tidak buruk . Hanya saja itu terdengar sangat menggelikan di telinga Yoona.

“Korea saja Kris” ucap Yoona malas.

“Oh baiklah”

“Jadi, kenapa kau menghubungiku pagi pagi seperti ini?” Tanya gadis itu sambil mengikat rambutnya asal, lalu berjalan ke arah jendela di kamar-nya. Jendela itu adalah bagian favorit Yoona dirumahnya. Dan ia selalu menyempatkan diri untuk menerima sinar mentari pagi yang membuat kulitnya jadi tak begitu pucat. Tidak seperti laki laki itu. Kulitnya pucat, seperti zombie di film-film horror koleksi Yoona.

 

Sebenarnya ada alasan lain mengapa Yoona begitu menyukai jendela ini. Jendela yang terbuat dari kayu ini selalu mengingatkannya pada seseorang beberapa tahun silam. Bukan, bukan Kris. Sosok yang tak pernah ada. Sia sia saja usahanya yang selalu membuka jendela ketika tidur.

Tapi Yoona yakin itu nyata.

Sosok itu nyata.

Ah sudahlah, memikirkan hal tersebut membuat pikiran Yoona jadi kacau dan tak menentu.

“Eh, anu.. Yoona-ya, ehmm” Yoona mengeryit bingung. Laki laki itu gugup? Setahu Yoona laki laki itu adalah laki laki paling percaya diri yang pernah ditemuinya.

“Katakan saja Kris, kau tahu aku tidak akan menggigitmu atau semacamnya” ia tahu candaannya tadi garing. Tapi ia tak peduli, ia tak ingin bercanda juga sebenarnya.

“Eh, baiklah.. Tapi kau berjanji akan mengatakan ‘iya’ ketika aku selesai bicara.Oke sunshine?” Tanya Kris aneh. Sudah Yoona bilang kan? Laki laki itu adalah laki laki paling aneh, paling percaya diri, dan yah, Yoona benci harus mengakuinya, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Kris adalah laki laki paling tampan dan paling kaya –diantara laki laki Asia di Zurich.

Yoona mengangguk pasrah. Tapi kemudian ia tersadar akan tindakan tololnya.

“Baiklah”

Yoona sudah sangat penasaran sehingga ia tak memikirkan resiko jika ia menyetujui perjanjian konyol lelaki ini.

“Begini.. Keluargaku, maksudku semua keluargaku –mereka yang dari China juga akan datang, akan berkumpul siang ini di rumahku. Kami akan memperingati hari kematian kakek yang ke empat tahun. Dan–”

Yoona mengerti arah pembicaraan ini.

Wait wait, aku tahu maksudmu. Kau memintaku untuk datang kesana dan..Oh, Kris! Aku tak bisa. Maafkan aku.Kau belum selesai bicara dan berarti aku tidak harus mengatakan ‘baiklah’ bukan? Aku akan melanjutkan tidurku dan semoga harimu menyenangkan” ucap Yoona memotong ucapan Kris lalu segera memutus sambungan telefon tersebut.

Oh God. Ia belum siap untuk ini.

.

.

.

Yoona baru saja mau melanjutkan tidurnya ketika ponsel sialan itu kembali berdering. Tanpa Yoona lihat-pun ia sudah tahu pasti Kris.

Dan lebih baik tak usah menjawab panggilan itu sekarang. Tenang Yoona-ya, ponsel itu sebentar lagi pasti akan berhenti berdering dan kau pasti akan bisa tidur dengan nyaman. Ia berusaha untuk mengsugestikan dirinya sendiri. Walau tak yakin itu akan berhasil.

Yoona merasa sudah sedikit lebih tenang ketika ibunya dengan tiba tiba masuk ke kamarnya.

“Kris menunggumu di bawah. Temuilah dia. Kau sudah 22 tahun, mulailah untuk berhubungan serius dengan laki laki. Kalau kau tak mencintainya, janganlah bermain main dengannya. ” ucap ibunya itu memberi tahu. Perkataan ibunya tadi cukup membuat hatinya merasa tertohok.

Brushhh

Yoona tiba tiba merasa nyeri. Ia merinding. Laki laki itu pasti sudah ada di depan rumahnya ketika ia menelfon tadi. Dasar Kris!

Dan apa kata ibunya tadi? Mulailah untuk berhubungan serius? Yoona baru juga 22 tahun. Ini usia yang sangat pas untuk bersenang senang.

Tanpa memperbaiki dandanan-nya sedikit pun, ia berjalan ke bawah menemui Kris. Masih mengenakan piyama, rambut tak karuan, dan belum menyikat gigi. Yoona memang sengaja ingin membuat Kris ilfeel.

.

.

.

“Ayolah Yoona-ya, kau tahu itu tidak buruk?” Tanya Kris lagi. Tepat seperti dugaan Yoona Kris berusaha keras untuk mengajaknya pergi.

Yoona menghela nafas pelan. Ia masih sibuk dengan krikil di depan pagar rumahnya. Kakinya yang terlihat jenjang meski sedang memakai piyama sedang asyik menendang-nendang krikil di depannya. Tangannya sibuk menelintir bunga krisan ditangannya. Tak peduli akan omelan ibunya nanti yang memprotes bunga kesayangan dicabut.

“Kita sudah hampir berjalan 4 tahun, ayolah” Kris masih berusaha meyakinkan gadis di depannya. Kali ini tangannya menarik tangan mungil gadis itu. Bunga Krisan yang dipegangnya jatuh, membuat gadis itu tersentak.Ia masih tak menjawab kata kata Kris barusan.

Yoona menatap dalam iris yang dalam milik Kris. Mencoba mencari sesuatu. Tapi tak ia temukan.

Oh apa yang telah dilakukannya selama ini? Tentu saja sosok yang dicarinya tak ada dalam diri Kris.

Pagi ini Yoona tersadar.

“Akan kujemput tuga puluh menit lagi. I love you sunshine” Ucap Kris sembari mengecup singkat bibir pink itu. Yoona masih diam ketika mobil hitam milik Kris menjauh.

Apa yang telah ia lakukan? Pertanyaan itu terus terusan menggantung di kepala Yoona.

Tentu saja sosok Luhan tak ada dalam diri Kris.

Im Yoona bodoh. Ia kembali merutuki dirinya sendiri.

Dulu, ia menerima Kris sebagai kekasihnya hanya karena Kris berasal dari China. Sama seperti laki laki itu.

.

.

.

Yoona seharusnya bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kris akan sibuk dengan keluarganya dan Yoona akan berdiam sendiri disini seperti orang bodoh.Oh Ya Tuhan, ia benci saat harus merasa bodoh.

Sebenarnya Yoona ingin sekali menjadi orang yang mudah bersosialisasi. Mengajak beberapa orang disini berbicara sepertinya oke saja. Tapi, itu tak mungkin juga, mengingat semua orang yang ada dalam ruangan ini menggunakan bahasa China. Yoona beruntung Kris masih bisa bahasa Korea. Kris dulu memang pernah tinggal di Korea untuk beberapa waktu.

“Yoona-ya, ikut aku” Tiba tiba saja Kris datang dan langsung menarik lengan Yoona. Yoona yang belum sadar sepenuhnya-pun nurut saja dibawa Kris.

Sampai di ruang keluarga mereka berhenti. Yoona terdiam di tempatnya. Tuubuhnya menegang. Semua keluarga Kris menatapnya. Ia menjadi pusat perhatian dan Yoona benci itu. Yoona tersenyum kikuk ketika anak laki laki bermata sipit berusia 3 tahunan menarik dress berwarna peach-nya.

“Perhatian.”

Kris bodoh. Tak usah kau bilang juga semua keluargamu sudah memperhatikan kita, batin Yoona pelan. Keringat Yoona bercucuran, ia masih mencoba untuk tersenyum.

“Im Yoona, menikahlah denganku” ucap Kris, ditangannya tergeletak kotak berwarna pink –warna kesukaan Yoona, yang mulutnya terbuka menampakkan sebuah cincin berbahan emas berwarna putih, simple. Tapi, mampu membuat Yoona tersihir ketika melihatnya.

Yoona bersumpah jantung-nya sempat berhenti berdetak tadi. Suasana yang sudah tegang tambah tegang. Semua keluarga Kris memandangnya dengan harap harap cemas.

1 detik…

2 detik..

3 detik..

4 detik…

Sampai akhirnya bibir gadis itu tersenyum. Ia lalu mengangguk singkat.

Semua orang bersorak, tapi hati gadis itu teriris. Dadanya terasa sesak.

.

.

.

Yoona berdiri di jendela besar rumah Kris yang menghadap langsung ke arah luar, mengamati bunga baby breath yang tumbuh lebat. Ia membayangkan bagaimana jika ia tumbuh sebagai bunga dan bukannya sebagai Im Yoona. Ia pasti tidak perlu pusing dengan tindakannya tadi.

Ia ragu.

Tidak, ia tahu ia sudah mulai terbiasa dengan segalanya tentang Kris. Tentang Kris yang selalu meng-sms dirinya sebelum dan sesudah tidur, tentang Kris yang selalu memjemputnya pada minggu sore untuk berkeliling kota Zurich, tetang Kris yang selalu menyempatkan menemui dirinya ketika ia sedang sibuk mengurus perternakan milik ayahnya, tentang Kris yang selalu menguncir rambut Yoona ketika gadis itu kepanasan, tentang Kris yang selalu memanggilnya sunshine walaupun Yoona sudah katakan berkali kali kalau hal itu norak.

Tapi itu belum cukup kuat untuk meyakinkan Yoona. Dan sekarang ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Di tangannya segelas wine yang dari tadi belum dijamah oleh bibirnya masih ia genggam. Kris masih sibuk dengan keluarganya.

Tadi beberapa dari keluarga Kris mengatakan beberapa kata yang Yoona tak mengerti maksudnya. Tapi ia menangkap kata “congrats” dan “lucky girl”. Mereka menggunakan bahasa campuran, sehingga Yoona hanya bisa mengerti sebagian saja. Yoona hanya membalas semuanya dengan senyuman kikuknya.

Yoona masih melamun ketika tangan itu memegang pundaknya. “Yoona-ya, ada seseorang yang ingin ku perkenalkan kepadamu” Kris berucap sambil menggandeng tangan gadis itu. Membawanya ke taman belakang di rumahnya yang lebih sepi.

Yoona hanya bisa diam. Ia hanya terlalu kaget.

Sampai akhirnya mereka berhenti, lima meter di depannya ada seorang pria dengan kemeja santai berwarna biru. Mengingatkan Yoona pada sosok itu. Tapi sekali lagi Yoona menggeleng, sosok itu tidak ada.

Sampai akhirnya ketika laki laki itu berbaik, mata mereka bertemu.

Yoona masih shock di tempatnya. Ia masih bisa mengingatnya dengan jelas. Rambutnya, hidungnya, matanya, bibirnya yang indah, suaranya yang halus.

Dan hei lihatlah! Sosok yang dicarinya itu berdiri hanya beberapa meter di depannya, membuat Yoona tak berkedip memandangnya, tanpa sadar mulutnya membentuk huruf vokal yang terakhir.

Apakah ia berhalusinasi?

Laki laki itu berjalan menuju ke arahnya. Tangannya ia masukkan ke saku celananya. Dan Yoona bersumpah ia akan menutup jendela-nya nanti malam jika halusinasinya sampai separah ini. Tapi ia tidak berhalusinasi.

Sosok itu nyata Yoona.

“Luhan..” tanpa sadar bibir itu berbicara, membunyikan sebuah kata yang membuat kedua laki laki di depannya terkejut.

Wait, Im Yoona. Kau mengenalnya?” Pertanyaan Kris tak digubrisnya, masih berpikir bahwa semua itu tak nyata. Gadis itu melakukan tindakan yang lebih ekstrem. Memegang pipi mulus pria di depannya. Tapi ia tidak merasakan suatu kejanggalan. Ia merasakan kulit putih pria itu. Ia nyata.

Pria yang dipegang pipinya memasang ekspresi bingung, ia lalu menoleh kea rah Kris. Seakan meminta penjelasan.

“Yoona, kau kenapa?” Suara Kris menyadarkan Yoona,dengan cepat ia menurunkan tangannya.

Bodoh kau Im Yoona! Apa yang baru saja kau lakukan? Tolol. Yoona kembali meracau tak jelas dalam hati.

Kris dan laki laki itu masih memandangnya. Meminta penjelasan.

Yoona tertawa garing.

“Ehm..well, ia sangat mirip dengan temanku, dan temanku itu mempunyai anjing yang bernama Luhan dan –Maafkan aku tadi itu sangat konyol. Aku mohon lupakan kejadian tadi”

Dan bukannya memberi alasan yang logis Yoona malah bicara yang tak jelas. Menyama-nyamakan Luhan dengan seekor anjing. Yoona lalu membungkuk sebagai tanda permintaan maaf. Tapi bodohnya, ketika ia mau berdiri tegak kembali, ia mengayunkan badannya terlalu keras sehingga mengenai dagu laki laki yang Yoona yakini sebagai Luhan –dalam mimpinya. Alhasil, laki laki itu mengelus-elus dagunya sekarang.

Yoona kembali meringis sambil mengucapkan maaf sekali lagi.

Pertemuan pertama, –oh tidak ini yang kedua,yang sangat konyol.

.

.

.

Dalam perjalanan menuju rumahnya Yoona tak bisa fokus. Entah sudah yang keberapa kalinya ia diteriaki orang karena mobil yang lewat.

Kris tak mengantarkannya pulang. Yoona yang memintanya.

Laki laki itu bersikeras untuk mengantarkannya pulang. Tapi, Yoona menolak dengan alasan ingin ke rumah Michelle. Padahal ia tahu Michelle sedang tak ada di Zurich saat ini. Dan ia memilih untuk pulang dengan berjalan kaki. Tak begitu jauh, hanya 5 kilometer. Sejak tinggah di Zurich, Yoona sudah biasa jalan kaki seperti ini.

High heels-nya ia gendong ditangan. Kunciran rambutnya ia lepas. Sangat tidak elit. Dirinya seperti gembel di samping Toko Donat tuan Walles.

Tapi, sekali lagi Yoona tak peduli. Kris mengenalkan Luhan pada dirinya hari ini. Perkenalan pertama di dunia nyata. Ia tak mampu berkata ketika tangan laki laki itu bersentuhan dengan tangannya. Tubuhnya menegang dan hatinya seakan berpesta di dalam sana.

Ia terkejut.

Ia sangat gembira.

Tapi ia juga gelisah.

Terlebih lagi ketika Kris mengenalkan perempuan Korea bernama Chorong. Sungguh Yoona seketika tertawa begitu lebar ketika mendengar nama itu. Terdengar sangat aneh. Tetapi tawanya langsung terhenti ketika gadis sempurna itu mucul dihadapannya. Wajahnya menggambarkan tipe menantu idaman yang diinginkan seluruh ibu ibu seluruh Korea, bukan lagi sikapnya yang begitu lembut dan sopan, ia calon istri yang baik. Seharusnya ia mengganti namanya menjadi Cheonsa. Malaikat. Sempurna sekali.

Gadis itu kekasih Luhan.

Dan saat itu kupu kupu yang bertebangan di perutnya seketika lenyap.

Luhan sudah memiliki kekasih.

Laki laki dalam mimpinya itu sudah tak lagi sendiri.

Luhan sudah ada yang memiliki.

Dan Yoona benci itu.

Rasanya ingin menangis. Tapi mau menangis pun rasanya juga tak pantas. Memang Yoona siapa? Luhan bahkan baru mengenalnya tadi pagi.

.

.

.

Seminggu kemudian Yoona menjalani aktivitasnya dengan malas. Ia tak berselera untuk melakukan kegiatan apapun. Kuliahnya terbengkalai. Dari awal Yoona memang tak begitu berniat sih untuk kuliah. Untuk apa kuliah di kota kecil seperti Zurich. Tak seru dan tak menantang. Sebenarnya ia ingin kuliah di Korea saja saat ia sudah lulus sekolah menengah atas. Tapi ibunya itu menolak mentah mentah idenya karena alasan keamanan.

Yoona membuang nafasnya kasar.

Ia bahkan masih kuliah.

Tapi ia sudah menerima lamaran laki laki itu.

Sebenarnya apa yang kau pikirkan waktu itu sih Im Yoona? Yoona terus terusan menyalahi dirinya sendiri. Berdiri di depan cerminnya dan mengomel seperti ibunya saat koleksi bunga-nya ia cabut.

“Yoona-yaaaaa”

Yoona baru saja ingin tidur ketika suara cempreng itu terdengar. Ketukan pintu kamarnya terdengar ke seluruh penjuru kamar Yoona. Dari suaranya saja Yoona sudah tahu kalau itu Michelle. Yoona bangkit ke arah pintu kamarnya untuk membukakan pintu yang sedari tadi di ketuk keras oleh Michelle.

Dan seperti dugaan Yoona, Michelle langsung menerobos ke kamarnya dengan heboh.

“Yoona, I just can’t believe this. You and Kris? Mengapa kau tidak memberi tahuku hah? Dasar! aku sangat terkejut ketika momku memberi tahu bahwa kau akan menikah.Kau jahat sekali” cerososan Michelle tak Yoona dengarkan. Gadis itu malah sibuk memainkan biola –yang sudah Yoona tak pernah sentuh semenjak ia masuk kuliah, menghasilkan nada nada yang asal dan tak beraturan.

Michelle hanya diam, tak mengerti dengan kelakuan sahabatnya itu.

“Yoona, kau kenapa?” Tanya Michelle kemudian, Yoona menghentikan permainan biola-nya. Michelle kira Yoona akan segera bercerita tapi Michelle salah. Gadis itu tak melakukan apa apa. Tak menjawab pertanyaan Michelle ataupun memainkan kembali biolanya.

Hening beberapa saat.

Sampai akhirnya Yoona mengeluarkan suara. “Semua orang menatapku.”

Michelle ingin membuka suaranya meminta penjelasan yang lebih rinci. Tapi Yoona seakan tahu, dan segera melanjutkan ucapannya. “Semuanya menatapku saat Kris melamar.Aku takut mengecewakan mereka, dan aku malah mengangguk. Hahaha. Aku tahu tindakanku itu sangat bodoh. Seharusnya aku tidak seceroboh itukan saat harus memilih pendamping hidupku? Tapi aku tak bisa apa apa sekarang Chelle, sudah terlanjur”

Suara itu bergetar. Dan tak lama kemudian, Yoona menangis. Pertahanan gadis itu runtuh.

Michelle tak berdaya, ia tahu Yoona tak pernah mencintai Kris.

.

.

.

Keesokkan harinya Kris meminta Yoona untuk bertemu di toko buku di perempatan jalan –tempat mereka biasa bertemu, dan Yoona mencoba untuk menurutinya.

Biar bagaimanapun ia harus belajar mencintai Kris bukan?

Kris terlambat.

Sudah 30 menit ketika gadis itu menginjakkan kaki di toko buku tersebut, tetapi laki laki berambut blonde itu belum juga datang. Untung saja ada Ron –penjaga toko yang sudah lama Yoona kenal, yang bersedia menemani mengobrol. Tetapi, beberapa detik yang lalu laki laki bertubuh tegap itu dimintai bantuan oleh seorang pelanggan. Untuk mencari buku pastinya, lebih penting ketimbang menemani Yoona ngobrol.

Dan akhirnya Kris datang, ia tampak menawan dengan rayban yang dipakainya. Yoona bisa saja jatuh cinta jika saat ini tidak ada Luhan yang memenuhi otaknya.

Hi Sunshine! Maaf aku terlambat, tadi ayah menyuruh-”

Yoona dengan cepat memotong ucapan Kris, “it’s okay. Ada apa?”

“Wow, kau sangat to the point” ucap Kris

“Kau tahu aku memang begitu” balas Yoona. Kris kemudian menyarankan kepada Yoona untuk pergi di Cafe seberang toko buku. Yoona yang sudah lelah berdiri hanya mengangguk, sebelumnya ia berterimakasih kepada Ron. Mereka biasanya bertemu di toko buku kemudian duduk di Cafe. Kenapa tidak bertemu di Café saja? Entahlah mereka memang aneh.

.

.

.

“Kita akan menikah di Korea” Suara laki laki itu begitu tenang. Seakan sudah bersiap untuk kemungkinan yang terburuk.Sepertinya ia sudah berlatih semalaman untuk mengatakan hal ini. Yoona baru saja ingin mengangkat tangannya –bermaksud memanggil pelayan,seketika menghentikan kegiatannya ketika laki laki Cina ini dengan enteng mengucapkan kalimat sederhana itu.

Gadis yang di depannya malah diam.

Pikiran gadis itu kacau.

Akhirnya setelah hening beberapa saat, Yoona melanjutkan percakapan.

“Kau to the point sekali”

“Kau yang mengajariku” laki laki itu terkekeh.

Gadis itu mengangguk-angguk singkat.

“Bagaimana dengan ibuk-”

Eomma dan appa sudah tahu, dan mereka setuju. Mereka bilang mereka juga merindukan Korea. Jadi tidak ada salahnya, bukan?”

Laki laki itu tersenyum lagi. Membuat hati Yoona kembali teriris. Yang dimaksudkan Eomma dan Appa oleh Kris adalah keluarganya sendiri. Kris memang sudah terbiasa –terlalu pede, memanggil orangtua Yoona seperti orang tuanya sendiri. Dan yang menjengkelkan adalah, orangtuanya tak keberatan.

“Ideku tidak terlalu buruk kan sunshine?”Tanya Kris pelan. Ia menangkap jelas ekspresi Yoona yang terlihat tak nyaman.

Tidak. Idemu buruk sekali. Batin Yoona.

“Kris sebaiknya kita jangan terlalu berbu-”ia baru saja mau menolak rencana Kris ketika laki laki itu memotong ucapannya. “Dan kau ingat Luhan kan? Ia yang akan menjadi wedding organizernya”

Yoona membeku.

Tak adakah yang lebih buruk daripada ini?

.

.

.

Tubuh Yoona merosot dengan cepat ketika pesan singkat itu masuk.Sudah ia duga. Ia pasti akan terlihat sangat kesepian sekarang. Melakukan penerbangan melelahkan ini sendirian.

Kris mengirim pesan, yang isinya :

Sunshine, maafkan aku. Ada bisnis yang harus kuurus dan tak bisa kutinggalkan. Kau terbang duluan oke? I love you.

Laki laki itu tidak berpikir apa? Uangnya terbuang begitu saja. Ia tak pernah menghargai uang. Awalnya Yoona akan terbang bersama Kris tetapi laki laki itu tiba tiba saja membatalkan penerbangannya. Orang tuanya baru akan datang ke Korea, saat akan menjelang pernikahan. Apa – apaan ini? Yoona tak bisa berhenti menggerutu.

Ini akan jadi perjalanan yang panjang.

.

.

.

Sudah bertahun tahun Yoona meninggalkan negara ini dan rasanya begitu aneh ketika gadis itu keluar dari pintu pesawat. Yoona bahkan bisa sangat merasakan perbedaan udara antara Seoul dengan Zurich dengan cepat dan jelas. Mendengar, melihat, dan berbicara dengan orang orang yang sama seperti dirinya menjadi aneh sekaligus menyenangkan.

Ia persis seperti orang yang baru pertama kali ke Seoul. Ia tak henti hentinya kagum pada gedung gedung pencakar langit yang mendominasi kota ini, orang orang yang selalu terlihat sibuk, dan anak anak yang baru pulang atau akan pergi ke sekolah. Ia merindukan suasana ini. Seoul jauh berbeda dengan Zurich. Zurich hanyalah kota kecil yang tak ada apa-apanya sedangkan Seoul,

Wow!

Ia menyesal kenapa harus meninggalkan kota ini dulu. Ia pasti sudah ketinggalan banyak. Kira kira gaya berbusana apa yang sedang nge-trend saat ini? Boyband atau Girlband apa yang namanya sedang melejit? Ia sungguh tidak sabar untuk segera mencari tahu. Tapi keinginannya itu pudar ketika ia menyadari bahwa ia kesini bukan untuk bersenang senang. Ia akan mengurus pernikahannya. Dan itu sama sekali tak terdengar menyenangkan. Ia tegang. Ia takut. Ia gelisah.

Gadis itu sekali lagi mengecek alamat yang tertulis di kertas kecil yang sedari tadi ia genggam.

Benar. Ia tidak salah. Inilah apartemennya.

Sementara Kris masih sibuk di Zurich, ia menitipkan Yoona pada salah satu sepupunya. Sepupunya Kris tersebut tinggal di sebuah apartemen mewah di tengah tengah kota Seoul. Yoona masih sibuk mengamati sekelilingnya ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang.

Yoona secara refleks menoleh. Ia lalu memandang gadis yang ada di depannya dengan ucapan yang seolah oleh berkata –apa aku mengenalmu?

Seakan bisa membaca pikiran Yoona gadis itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Mei Li. Perempuan tersebut seperti orang Cina kebanyakan. Berambut hitam, bermata sipit, dan berkulit putih bersih. Ia menyapa Yoona dengan ramah,

“Kau.. Im Yoona bukan?”

dan Yoona hanya membalas dengan anggukan disertai senyuman. Bahasa Korea perempuan ini lebih buruk darinya. Tapi Yoona tak mempermasalahkan.

“Kris cerita banyak tentangmu. Ikuti aku ya.” Gadis itu berucap lagi. Kali ini dari intonasi nada bicaranya Yoona bisa menyimpulkan bahwa Mei Li adalah gadis yang baik. Awalnya Yoona khawatir setengah mati ketika harus berkenalan dengan sesuatu yang baru –lagi.

Yoona mengikuti gadis itu dengan kikuk.

.

.

.

Yoona terbangun dan begitu kaget melihat jam yang menunjukan sudah pukul 7 malam waktu Korea. Selama itukah ia tertidur? Yah tentu saja. Ia lalu beranjak dari tempat tidur barunya dan melangkah keluar. Kosong. Tidak ada siapa siapa di apartemen tersebut. Yoona sudah memeriksa dan si seluruh ruang yang ada di apartemen cukup terkenal ini. Tapi hasilnya nihil. Ia tak menemukan siapapun.

Yoona membuang nafas kesal. Ia putuskan untuk menyalakan televisi, berharap ia melihat sesuatu yang menarik. Tapi tak ada yang membuat hatinya nyangkut. Semua tayangan yang disiarkan terlihat membosankan. Karena bosan, gadis itu lalu memilih untuk mematikan televisi.

Ia kemudian memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan yang menanyakan apakah ia sudah sampai atau belum. Dari Kris, eomma-nya, dan Michelle. Awalnya ia berniat untuk membalas pesan mereka, tapi ia urungkan niatnya ketika melihat jendela besar di samping ruang kecil yang ia tempati saat ini. Jendela itu tak begitu terlihat ketika Yoona masuk tadi. Bentuknya sama persis dengan jendela yang ada di kamarnya. Warna gordennya yang sama seperti warna dinding membuat orang orang tertipu ketika melihatnya. Seakan jendela tersebut bagian dari dinding.

Yoona lalu mendekat ke jendela dan segera menyibak dengan pelan gorden tersebut.Dan.. Wow.

Pemandangan yang indah.

Yoona bisa melihat Seoul dengan jelas disini. Mobil mobil yang terlihat kecil. Orang yang berlalu lalang. Lampu kerlap kerlip gedung gedung pencakar langit.

Indah sekali.

Tapi baginya jendela kamarnya di Zurich tetaplah yang terbaik. Asik dengan lamunannya ia tak sadar bel pintu apartemen berbunyi. Yakin bahwa itu Mei Li, ia tak berniat untuk melihat ke arah intercom terlebih dahulu.

Cklek

Yoona membuka pintu itu sambil mengusap lehernya lembut. Dingin.

Tapi sosok di depannya bukanlah Mei Li. Melainkan seseorang lelaki berwajah Cina.

Bukan Kris.

Tapi Luhan. Laki laki itu datanng sambil menenteng sesuatu ditangannya.

Yoona tercengang. Ia tak tahu harus bagaimana. Inilah moment yang paling ia tunggu sejak malam itu. Berdua dengan Luhan. Tapi suasana nya malah canggung.

“Maaf, tapi bolehkah aku masuk Yoona-ssi?” Luhan berucap agak hati hati. Takut dianggap tak sopan oleh Yoona. Ia lalu merapatkan hoddie-nya. Kelihatan sekali ia kedinginan.

Dan Yoona yang baru tersadar segera mengangguk angguk cepat.

“Tentu saja tentu saja” perempuan itu tak henti hentinya mengatakan “tentu saja”. Luhan lalu tersenyum lebar. Membuat jantung perempuan yang akan segara menikah itu terhenti. Oke, ini hiperbola. Tapi, memang itulah yang Yoona rasakan.

“Kau tak perlu mengatakan hal itu terus menerus Yoona-ssi. Aku sudah masuk” ucap Luhan kemudian. Yoona hanya bisa mengangguk –lagi.

Dengan kikuk Yoona mempersilahkan Luhan duduk di sofa yang tadi ia sempat duduki. Ia harusnya membuatkan minuman sekarang. Tapi masa iya, ia mengambil minum di rumah orang lain dengan seenaknya? Ia masih punya sopan santun. Jadi ia memutuskan untuk ikut duduk di samping laki laki itu.

Sungguh. Ia tak sanggup menatap wajah itu secara langsung. Satu satunya hal yang ingin ia lakukan ketika melihat wajah itu adalah mengusapnya. Merasakan bentuk nyata dari wajah itu. Yoona ingin sekali memeluknya. Tapi ia tak bisa. Ia harus menahan diri.

“Okey, Jadi..?” Yoona tak melanjutkan ucapannya. Ia yakin Luhan mengerti maksudnya.

“Aku datang kemari untuk memberikan gambar beberapa gaun. Tapi sepertinya tidak ada orang ya? Kemana Kris dan Mei Li?” Tanya Luhan. Pintar. Ia memberikan Positive Feedback.

“Kau tidak tahu? Kris tidak datang bersamaku. Mungkin ia datang beberapa hari lagi” Ucapku pelan, sedikit tak yakin degan ucapanku barusan. Karena ia memang tidak tahu kapan Kris datang.

“Kau tidak tahu? Kris datang malam ini. Ah, aku rasa Mei Li menjemputnya di bandara”

Rona merah timbul di pipi yang sedikit tirus itu. Kenapa laki laki itu tak memberi tahu dirinya. Kalau sudah begini kan Yoona yang merasa seperti orang yang tidak tahu kalau Tuhan itu ada.

Setelah itu Yoona tidak tahu harus berbuat apa.

Sepertinya Luhan juga.

Tapi keduanya tak berusaha untuk pura pura sibuk. Biasanya orang orang akan mengambil ponsel dari saku mereka dan mulai mengusap usap layar handphone mereka seakan akan ada sesuatu yang penting. Nyatanya mereka hanya melihat lihat gambar.

Tapi Yoona bukan tipe orang yang seperti itu.

Dan Luhan sepertinya juga.

Oh No. Mereka punya banyak kesamaan. Apakah ini berarti mereka berjodoh? Apakah aku dan Luhan berjodoh? Hentikan pikiran konyolmu Nona Im.

Jadi, daripada memikirkan hal hal yang tidak masuk akal. Yoona memilih untuk menggerakkan kepalanya kearah kanan. Kearah jendela unik tadi. Melihat malam yang semakin gemerlap. Sebelumnya ia sempat melirik Luhan dan melihat laki laki itu sedang memperhatikan gambarnya.

Hening.

“Kau suka malam?” suara itu membuyarkan konsentrasi –melihat gedung yang dilakukan oleh Yoona. Yoona terhenyak. Pertanyaan jenis apa itu? Ia lalu segera memikirkan jawaban yang tepat. Yah, agar setidaknya di percakapan berdua mereka –untuk yang terakhir kalinya, menimbulkan sedikit kesan.

“Tidak juga.” Ucap Yoona. Ia sangat berharap laki laki itu menanyakan kenapa ia tak suka malam. Dan keinginannya itu terwujud.

“Warum nicht wie?”

“Karena–“ Yoona belum sempat melanjutkan ucapannya saat menyadari sesuatu.

“Kau menggunakan bahasa jerman.” Ucap Yoona kemudian.

“Kenapa? Di Swiss wajar saja bukan dengan bahasa Jerman? Apa di Zurich bahasa jerman jarang digunakan? ” Bagaimana Luhan bisa tahu tentang Swiss? Dan yang lebih anehnya adalah kenapa ia bisa tahu tentang Zurich? Maksud Yoona, tidak banyak orang yang tahu tentang kota kecil seperti Zurich? Apa jangan jangan…

Luhan mengingat dirinya?

Luhan mengingat malam itu?

“Luhan, kau mengingatku?” Tanya Yoona ragu. Tadi diam diam gadis itu menaruh secercah harapan.

“Tentu saja Nona Im, kita bertemu beberapa minggu yang lalu di rumah Kris. Kau tak ingat? Ck ck. Kau ternyata termasuk orang yang mudah lupa ya? Haha” Laki laki itu menjawab sambil tertawa. Menunjukan deretan giginya yang putih.

Harapan yang tadi Yoona sempat bangun, rubuh seketika. Tentu saja. Dasar, Im Yoona bodoh. Tapi bagian lain dari dirinya mengatakan untuk jangan kecewa. Enthlah, ia hanya merasa bahwa Luhan pasti mengingatnya.

“Luhan” panggil Yoona, Luhan yang sedang menatap serius gambar gambar gaunnya langsung menoleh refleks.

“ Ya?”

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Yoona bodoh. Luhan lagi lagi hanya tertawa, baru saja ia mau membuka mulutnya ketika Yoona dengan cepat berbicara.

“Sebelum itu. Sebelum kau dan aku bertemu di rumah Kris.” Yoona berkata sambil menggenggam tangannya kuat. Ia khawatir. Sangat.

“Uhm, kurasa tidak Nona Im. Saat di rumah Kris, itu pertama kalinya kau dan aku bertemu secara langsung.” Luhan menjawab dengan pelan pertanyaan Yoona. Yoona menghela nafas kasar.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tidak bisa memaksa Luhan mengingat sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi. Baiklah, Yoona memutuskan untuk bersikap realistis sekarang. Itu hanya mimpi bodoh, tidak mungkin jadi nyata, ucapnya dalam hati.

“Bagaimana Seoul?” Tanya Luhan membuyarkan pikiran Yoona. Yoona kemudian menjawab pertanyaan Luhan dengan sedikit gugup.

“Indah.. Aku terkejut, banyak yang berubah”

Yoona lalu memperhatikan Luhan yang sedang asyik mengamati jendela yang tadi sempat Yoona kagumi. Mata laki laki itu berbinar. Seperti baru saja melihat sesuatu yang ajaib.

“Kau tahu? Jendela ini.. tidak terasa asing bagiku”

Deg. Jantung Yoona tiba tiba saja berpacu dengan cepat. Semangatnya berkobar kembali. Tanpa ia sadari ia sampai berkeringat. Padahal ruangan dalam keadaan ber-AC.

“Be..benarkah?” kali ini ia berkata dengan sedikit gagap. Mata rusa itu memancarkan harapan. Yoona menggigit keras bibir bawahnya. Rasa sakit sepertinya tak ia rasakan sekarang.

“Iya..aku seperti pernah melihatnya. Tapi aku tak tahu dimana. Dan kapan hal itu terjadi” Luhan menjawab dengan sedikit ragu. Lalu memperhatikan Yoona yang terlihat gelisah. Sesaat suasana menjadi tegang. Luhan seperti menunggu Yoona mengeluarkan kata kata. Tapi perempuan berambut panjang itu tak kunjung mengeluarkan spatah kata pun.

“Mungkin saj-”

Perkataan Yoona terpotong oleh Kris yang datang entah darimana. “Hello guys! Apa yang kalian sedang bicarakan? Serius sekali. Kalian sampai tidak sadar aku dan Mei Li membuka pintu apartemen tadi.”

Disampingnya, Mei Li terlihat tersenyum. Kris segera melepas rayban andalannya. Yoona membalas senyuman Mei Li dengan kikuk. Dan Luhan, segera mempersilahkan mereka untuk duduk.

Dan tak butuh waktu lama, kedua orang tersebut –Kris dan Mei Li, sudah terbawa oleh perbincangan yang seru. Tapi tidak dengan Yoona dan Luhan. Kedua orang itu memang ikut nimbrung beberapa waktu. Tapi jelas mereka tidak bisa focus. Mereka menyadari sesuatu.

.

.

.

Yoona kira ia akan segera menyelesaikan rasa penasarannya terhadap Luhan. Tapi , ia salah. Hari harinya begitu sibuk. Seperti calon pengantin yang lain. Ia sibuk fitting gaun. Ia sibuk memilih gedung. Mengatur tamu undangan, makanan, dan lain lain. Harusnya ia dapat menghabiskan waktu banyak bersama Luhan, tapi entah mengapa laki laki itu malah mengirimkan anak buahnya yang lain. Menyebalkan.

Belum lagi, secara tak sengaja ia kembali bertemu dengan teman teman lamanya. Kemarin, secara kebetulan ia bertemu dengan Sooyoung –teman kecilnya dulu, saat ia sedang berada di salon. Kemarin lusa ia bertemu dengan Seohyun -adik kelasnya dulu, saat ia sedang makan sendirian di sebuah café. Tapi ia tak mengharapkan dapat bertemu dengan mereka.

Yang ada difokusnya saat ini hanya Luhan.

Bagaimana keadaannya?

Apa yang sedang ia lakukan?

Dimana ia berada?

Bersama siapa kira kira ia berada sekarang?

Dan, kapan kira kira mereka akan bertemu. Di hari pernikahannya? Itu terlalu lama.

Orang tuanya telah datang dan rasanya semua berjalan semakin cepat. Itu membuatnya hanya bisa pasrah.

Dan disinilah ia sekarang. Berakhir di Cheonggyecheon, tempat yang terkenal sebagai tempat melamar paling romantis di Korea. Sendirian. Duduk di salah satu anak tangganya, sibuk memperhatikan air yang mengalir dengan tenang. Tadi baru saja ia menyaksikan seorang namja yang sedang melamar kekasihnya. Ia tersenyum. Begitu romantis, begitu manis, ia jadi ingat saat Kris melamarnya beberapa minggu lalu. Laki laki itu pasti sangat gugup waktu itu. Lagi lagi Yoona tersenyum.

Sampai akhirnya, ia menyadari bahwa ada sosok lain yang duduk disampingnya. Ia menoleh.,

Luhan.

Laki laki itu kemudian tersenyum,

“he..hei. Aku tadi ingin menyapamu. Tapi sepertinya, kau asyik sekali memperhatikan air”

Keinginan Yoona terkabul, ia bertemu dengan laki laki itu. Ia pasti telihat bodoh tadi. Tapi, ia tak peduli.

Selanjutnya, mereka berbicara satu sama lain. Lebih mengenal, dan saling melontarkan candaan. Begitu banyak tawa dan rasa senang. Entahlah, Yoona bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain, begitu pun dengan Luhan. Tapi, ketika mereka berdua bicara, mereka seperti tidak peduli pada orang lain, tak peduli yang mereka lontarkan hal yang pantas atau tidak, dan tak peduli pada waktu yang berjalan, tak peduli pada kenyataan bahwa masing masing dari mereka sudah memiliki pasangan. Mereka saling melengkapi.

“Jadi, itu yang kau sebut dengan mabuk? Hahaha, kau payah sekali.” Tanya Yoona. Cara bicaranya sama seperti cara bicaranya terhadap Michelle. Blak blak-an dan tak beraturan.

“Hei, alkohol juga tidak baik. Jadi kelemahan ku dalam minum, juga ku anggap keunggulan dalam hal kesehatan tubuhku.Terutama bagian ini” ketika Luhan mengucapkan kalimat terakhir, tangannya meraih tangan Yoona dan menempelkannya di bagian dadanya.

“Ada yang bilang, hati merupakan organ yang paling menderita ketika kita mengkonsumsi alkohol..”

Dunia serasa terhenti, saat Yoona bisa dengan jelas merasakan detakan jantung Luhan yang berpacu dengan cepat. Sama seperti yang gadis itu rasakan. Gadis itu lantas segera melepaskan tangannya.

“Mianhae, Yoona-ssi. Mianhae” Luhan tak henti hentinya mengucapkan maaf dan Yoona tak henti hentinya mengatakan bahwa itu tidak apa apa. Suasana yang sudah tercipta cukup baik, kembali canggung.

“Soal yang waktu itu, kau belum menyelesaikan ucapanmu” ucap Luhan akhirnya, Yoona terkejut. Ia kira Luhan sudah melupakan hal tersebut.

“Oh..itu, sebenarnya aku ingin bilang kalau mungkin saja kita pernah bertemu di alam mimpi. Tapi itu tidak mungkin bukan? Bodoh sekali.” Ucap Yoona kemudian. Kikuk, malu, dan canggung. Tapi Luhan malah menatap Yoona serius. Dan sama sekali tidak memandang bodoh kea rah Yoona

“Kau tahu.. ada yang ingin ku katakan, dari awal perjumpaan kita”

Jangan bilang kalau ia menyukaiku, ucap Yoona dalam hati. Maksudnya, jika hal itu benar benar terjadi. Ini akan jadi sangat biasa. Yah, walaupun berpacaran dengan Luhan bukan hal yang bisa. Hei! Im Yoona, apa yang sedang kau pikirkan? Sebentar lagi kau menikah!

Yoona memandang Luhan penasaran.

“Aku Oneironaut.”

Yoona tercengang. Gadis itu tanpa sadar mendekatkan dirinya kepada Luhan.

“Kau tahu itu bukan? Keadaan dimana orang bisa dengan bebas menjelajah di alam mimpi? Tapi aku spesial, aku bisa masuk ke dalam mimpi orang lain. Tak peduli aku mengenal orang itu atau tidak. Dan yang lebih aneh lagi. Aku bisa melupakan semuanya ketika aku bangun..”

Ucapan laki laki itu terhenti. Membuat Yoona semakin penasaran.

“Dan mengingatnya kembali saat ada yang mengingatkanku. Tapi..sungguh aku tak menyangka kejadian seperti itu bisa terjadi lagi. Maksudku, aku terakhir mengalaminya saat aku berumur 15 tahun. Dan aku sangat tak ingin hal itu terjadi lagi. Ada banyak hal hal aneh di dalamnya..”

Yoona makin serius menyimak perkataan Luhan.

“Tak ada yang mempercayaiku. Orangtuaku, teman, sahabat bahkan Chorong sekalipun. Mereka berkata bahwa aku kebanyakan nonton film atau berimajinasi. Kau bisa saja beranggapan seperti mereka ketika mendengarnya”

Yoona segera menggeleng gelengkan kepalanya. Itu nyata bagi Yoona, ia mengalaminya sendiri.

“Dan aku mengingat kembali semuanya sekarang. Tak salah lagi. Kau pasti gadis yang kuajak pergi itu bukan? Dan yang terpenting adalah… aku meyadari bahwa..

 

 

aku jatuh cinta padamu”

Dunia benar benar terhenti sekali lagi. Kali ini lebih lama. Perasaannya berbalas.

.

.

.

Ada yang bilang, bahwa cinta itu tak harus memiliki. Yoona dan Luhan memegang teguh pada prinsip tersebut. Mereka memutuskan untuk menghapus rasa egois mereka untuk saling memiliki dan memilih untuk tidak menyakiti perasaan orang orang yang mereka sayangi.

Dan Yoona memilih untuk berjalan ke altar bersama dengan ayahnya, menghampiri Kris yang tersenyum gugup.

.

.

.

Luhan itu sangat bodoh. Bagaimana bisa ia menempatkan hati di tempat seharusnya jantung berada?   –Im Yoona talking about Lu Han–

Aku akan mengunjungi Yoona setiap malam! Bahkan di malam pertamanya! –Lu Han promised himself–

.

.

Selesai.

31 thoughts on “(Freelance) Oneshot : A Reason (Sequel A Window)

  1. Hueee kirain gak ada lanjutannya ehh ternyata.adaaa ekwkwk. Aku suka ff nya.,tapi aku lebih suka Luhan sama Yoonanya bersatu. Tapi emang bener sih “Cinta tidak harus memiliki.” dan aku akan menganggap Luhan sama Yoona itu bersatu. Hei! Bukankah mereka benar-benar bersatu!? Mereka berasatu ketika di alam mimpi wkwkwk
    Okeh cukup sekian dan yang paling penting adalah ditunggu ff lainnya,terutama ff nya Luhan sama Yoona. Karena ff mereka udah sangattt jarang ;-(
    Ditunggu ff Luhan dan Yoona lainnya

  2. “Cinta tak harus memiliki”, kalo boleh jujur, aku agak sedih juga waktu tau Yoona nggak bersatu sama Luhan. Tapi kalau dipikir-pikir keputusan endingnya ini lebih realistis, dibanding kalo Yoona nya di endingin sama Luhan. Em, permisi, Luhan mau ngapain ya ngunjungin Yoona waktu malam pertama? Dasar gila. Nice ff thor, good job. Makasih udah dibuatin sequelnya. Soalnya yang A Window dulu itu endingnya lumayan gantung. Ditunggu karyanya yang lain. Fighting thor!!!

  3. aah sumpah! ini keren banget!

    dari baca ff a window udah seneng, dan ad kelanjutannya aja udah seneng. uughh keren banget, ga bisa ngmng ap² -_-”

    ditunggu FF LuYoon lainnya!

  4. ahh, dan ternyata itu kenyataan. eumm.
    lebih baik sprt itu, mempertahankan yg sudah ada dr pd memilih seseorg yg hanya bertemu di alam mimpi saja..

    yg terakhir itu lucu loh. bisa2 luhan berpikiran sprt itu.haha.

  5. cie yg mau ngitip cie ..
    orang malam pertama ko malah mau didateng’in ..
    tapii kasian Lu-ge ma Yoong eonnie mengkobarkan perasaan mereka demi keluarga ..
    kirain entar endingnya bakalan Luyoon ehh ternyata nga ..
    suka sma ceritanya ..

  6. So sweet deeeh crtanya…
    Walapun end’y luyoon gk bersatu tp kerenlaah mrka gk mementingkn ego mrka buat nyakitin kris atwpun chorong…
    Luhan usiiil bgy msa mw dtng ke mimpinya yoona pas mlm pryma ada2 jaaa…
    Daebak laaaah chingu buat FFnya ditunggu karya slnjutnya

  7. Hhh. . Bagian akhr yang paling suka. . .janjinya itu,
    bkal nemuin yo0na walaupun pas mlam pertama. .”apa yang kau pikirkan lu?”
    knpa endingnya gak luyo0n, padahal kan mrka saling cinta. Yah tapi liat penjabran nya tdi cukup beralasan “karna mereka memegang teguh CINTA TAK HARUS MEMILIKI” tapikan lbh menyenangkan kalo kita memiliki cinta itu seutuhnya#kyaa bhasa apa ini?:D

  8. wkwkwkkwk geblek nih luhan. mau ngunjungi yoona pas malam pertama -_- ada gitu orang yg kayak gitu? wkwkwk
    tapi ff ini melebihi ekspektasi ku. aku suka banget. ngeliat ada kelanjutannya aja udah seneng. abisnya yg window itu agak gantung gimana gtu….
    dan tentang oneironaut *aku gatau nulisnya bener apa engga-_-* itu beneran ada thor? atau cuma karangan author aja? kalo beneran ada, wow terima kasih sudah menambah pengetahuan ku wkwkwk
    aku agak bingung juga sebenernya, ngomongnya hati tapi naruhnya di dada. dada kan tempat jantung -_- luhan aneh
    tapi dari semua hal, aku suka endingnya. realistis. mereka tau gak bisa bersama dan gak bersikap egois🙂

    • weihh aku apresiasi bgt loh kmu udh mau komen panjang panjang hehe
      kalo Oneironaut itu sndiri memang ada, tapi blm tentu bisa masuk ke mimpi orang lain yaa.
      iya hidup kan harus realistis, ikutin aja yang udh ada, *curhat
      makasi yaaa❤

  9. Hhhaa.. bagian Lu Han promised himself .. Gillaaaaaaaa . .. Ngakak benerann …
    Kerenn thorrr ..!!!
    Dtunggu karya slnjutnya !!!!

  10. kalimat terakhir luhan bikin aq tertawa thor😀
    ada2 aja tu luhan…
    tpi sedih luyoon g brsatu..
    tpi juga sneng juga yoonkris nikah😀
    smoga bhgia luyoonkris..

  11. luhan kamu jangan nyamperin yoona di malam pertamanya atuh… dasar😀 ini kereeeen! ditunggu karya lainnya, fighting

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s