Destiny 10

destiny4

Destiny

by cloverqua | main casts Im Yoona – Kris Wu

support cast Huang Zhi Tao – Choi Sooyoung – Kim Joonmyun and others

genre AU – Family – Friendship – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

[Poster by ladyoong’s art]

.

Chap 1 | Chap 2 | Chap 3 | Chap 4 | Chap 5

Chap 6 | Chap 7 | Chap 8 | Chap 9

.

Yoona menatap takjub pada isi kamar yang baru saja ia masuki. Barang-barang mewah sudah tersusun rapi di dalamnya. Yoona melangkahkan kakinya ke bagian tengah ruang kamar, kemudian mendaratkan bokongnya dengan mulus di atas ranjang. Matanya masih menerawang ke sekeliling. Decak kagum terus keluar dari bibir mungilnya.

Sebelumnya Yoona memang sempat menempati kamar tersebut, ketika ia diselamatkan oleh mereka (saat itu Yoona tidak tahu jika Presdir dan Nyonya Im adalah orang tua kandungnya). Sekarang kamar itu terlihat berubah dengan desain interior yang minimalis, tapi tidak mengurangi kesan berkelas dari kamar tersebut.

“Ini kamarku?” Yoona bertanya pada Presdir dan Nyonya Im. Setelah mengetahui fakta jika dirinya adalah putri kandung pemilik Hotel Royal tersebut, Yoona segera pindah ke rumah orang tua kandungnya.

Nyonya Im memang sudah mempersiapkan kamar tersebut untuk Yoona. Wanita paruh baya itu tak pernah mengira jika kamar tersebut akan secepat ini ditempati oleh Yoona. Sampai sekarang rasanya seperti mimpi, ia dan sang suami sudah berkumpul kembali dengan putri mereka yang selama ini mereka cari.

“Tentu saja ini kamarmu. Kenapa? Masih ada yang kurang?” tanya Nyonya Im sambil berjalan mendekati Yoona, “Kalau ada yang kurang, katakan saja pada kami.”

Yoona menggeleng, “Tidak, eomma. Ini sudah lebih dari cukup.”

“Ibumu sendiri yang mendesain kamar ini. Kami ingin memberikan yang terbaik, setelah kami berhasil menemukan keberadaanmu. Kami ingin membayar waktu 15 tahun selama kau tidak berada bersama kami. Kau tahu, appa dan eomma benar-benar bahagia karena kita bisa berkumpul kembali seperti ini,” Presdir Im menghadiahi sorot mata haru kepada Yoona.

Yoona bisa menangkap raut kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah orang tuanya. Ia bangkit berdiri dan kembali memeluk orang tuanya dengan erat.

“Terima kasih. Aku sangat merindukan kalian, appa, eomma,” ucap Yoona sambil meneteskan air matanya.

“Kami juga sangat merindukanmu. Terima kasih karena kau telah hidup dengan sehat dan tumbuh menjadi wanita cantik seperti ini,” balas Nyonya Im. Tangannya menyeka air mata yang mengalir di wajah Yoona, membuat sang putri itu kembali tersenyum haru.

“Beristirahatlah. Kau pasti lelah setelah mengurus kepindahanmu ke sini,” ucap Presdir Im sambil mengusap punggung Yoona. Ia mengajak sang istri untuk membiarkan putri mereka beristirahat di kamar.

Mata Yoona masih tertuju pada orang tuanya yang berjalan keluar dari kamarnya. Sepeninggalan mereka, Yoona langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size tersebut.

“Ah, nyaman sekali,” ucapnya senang sambil berguling-guling di atas ranjang. Setelah puas menikmati ranjang tersebut, Yoona duduk bersila di atas ranjang. Ia memandangi lagi suasana kamar baru yang ditempatinya sekarang. Untuk sesaat, Yoona teringat kembali dengan suasana kamar yang ia tempati di rumah keluarga Huang. Walaupun kamar tersebut berukuran lebih kecil dibandingkan kamarnya sekarang, Yoona tetap merasa nyaman menempatinya.

Air mata Yoona kembali menetes setiap kali ia mengingat bagaimana perpisahannya dengan keluarga Huang yang selama ini mengasuhnya. Nyonya Huang tidak berhenti menangis, di samping merasa sedih ia juga merasa bahagia karena Yoona bisa berkumpul kembali dengan orang tuanya. Tuan Huang terlihat lebih tegar dibandingkan siapapun. Berbeda dengan Tao yang terlihat murung saat melepas kepergiannya beberapa waktu yang lalu. Yoona masih merasakan pelukan hangat dari Tao yang begitu erat.

“Terima kasih,” kalimat singkat yang selalu ia ucapkan sebelum Yoona meninggalkan rumah keluarga Huang. Rumah yang sudah ia tempati selama 15 tahun dan Yoona akan merindukan suasana di rumah itu.

DRRT!

Dering ponsel yang cukup keras membuyarkan lamunan Yoona. Ia merangkak menghampiri meja kecil yang terletak di samping ranjang. Tangannya dengan cepat meraih ponsel yang sengaja ia letakkan di atas meja itu. Nama yang tertera di layar ponsel membuat bibir Yoona melengkung sempurna. Tak ingin berlama-lama membuat kekasihnya menunggu, Yoona segera menekan tombol hijau di layar ponselnya.

“Ada apa, Kris? Kau merindukanku, hm?” tanya Yoona dengan seringaian kecil yang tidak bisa dilihat oleh Kris.

Tawa keras justru terdengar di telinga Yoona, membuat wanita itu menutupi wajahnya yang memerah. Setiap kali mendengar suara Kris melalui telepon, jantung Yoona selalu berdebar. Entahlah, bagi Yoona suara Kris terdengar—sexy.

Aku baru tahu jika kau begitu pintar. Kau bisa menebak alasanku meneleponmu, chagi,” jawab Kris dengan nada menggoda. Ia tidak tahu jika saat ini wajah Yoona merah padam. Sekali lagi Kris mengeluarkan rayuan mautnya, bisa-bisa Yoona jatuh pingsan sebelum obrolan mereka selesai.

Bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa nyaman tinggal di sana?” tanya Kris penasaran.

Ne, di sini sangat nyaman. Hanya saja, aku merindukan kamarku yang dulu, saat aku masih tinggal di rumah keluarga Huang,” jawab Yoona jujur. Ia tidak mau menutupi kerinduan yang tengah dirasakannya sekarang.

Kau sudah tinggal bersama mereka selama 15 tahun, wajar jika kau merasa demikian,” sahut Kris yang disambut tawa kecil dari Yoona.

“Oh iya, besok adalah hari peresmian hotel ayahku. Kau datang, ‘kan?” tanya Yoona mengingatkan.

Tentu saja. Bukankah ayahmu sendiri yang menyuruhku datang, karena ingin memperkenalkanku sebagai calon menantunya?,” Kris terkekeh dan menikmati sejenak permintaan yang disampaikan ayah Yoona kepadanya. Yoona tahu jika Kris begitu tersanjung setelah disebut sebagai calon menantu ayahnya.

Selain itu, ayahmu juga akan mengumumkan pada publik jika kau adalah putri kandung mereka yang hilang,” lanjut Kris dan sontak membuat Yoona terdiam cukup lama. Ia masih meresapi rentetan kalimat yang baru saja diucapkan kekasihnya itu.

“Sejujurnya aku sangat gugup menghadapi acara besok. Rasanya malam ini aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak,” ujar Yoona.

Haruskah aku datang ke rumahmu sekarang? Aku akan menemanimu semalaman sampai kau tidur,” balas Kris dengan tawanya.

“Kau memang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, Tuan Kris Wu,” cibir Yoona sedikit malu dengan rencana gila Kris.

Tidak masalah, yang penting aku bisa menikmati waktuku semalaman bersamamu,” lanjut Kris cuek, “Dulu aku pernah melihat wajahmu yang begitu polos saat tertidur. Ssekarang … aku ingin melihatnya lagi.”

Ucapan Kris membawa ingatan Yoona pada kenangan di saat ia menginap di rumah Kris, untuk menghindari wartawan yang memburu berita sejak beredarnya foto-foto keduanya dalam pose mesra (di mana Kris tengah menggendong Yoona di punggungnya).

“Jadi—waktu itu kau memandangi wajahku tanpa seizin dariku?” tanya Yoona sedikit menaikkan volume suaranya. Selanjutnya Yoona hanya mendengar tawa kecil dari Kris. Yoona sampai bisa membayangkan seperti apa wajah Kris sekarang, pasti terlihat polos dan menggemaskan.

“Kris?” tiba-tiba Yoona terdiam sejenak ketika sebuah pemikiran melintas di kepalanya, “Aku takut.”

Kenapa? Apa yang kau takuti?” nada bicara Kris sontak berubah dan terdengar panik.

“Bagaimana—jika orang yang menculikku itu kembali muncul dan melakukan hal buruk padaku? Aku benar-benar takut, Kris,” suara Yoona sedikit bergetar. Ia yang semula tengah duduk bersila di atas ranjang, akhirnya merubah posisinya menjadi berbaring. Ia masih menunggu Kris memberikan jawaban untuknya.

Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Percayalah padaku, Yoong. Aku akan melindungimu, aku janji,” usaha Kris untuk menenangkan suasana hati Yoona tampaknya membuahkan hasil. Yoona bisa tersenyum lega usai mendengar ucapannya tersebut.

“Terima kasih,” balas Yoona singkat dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

Sebaiknya kau segera tidur. Itu akan membuatmu merasa lebih tenang,” ucap Kris sebelum bersiap memutus obrolan mereka, “Selamat malam, chagi. Saranghae.

Yoona tersipu mendengarnya, “Selamat malam, nado saranghae.”

KLIK!

Tangan Yoona meletakkan ponselnya pada tempat semula. Ia senang karena Kris meneleponnya malam ini. Yoona pun bersiap untuk pergi tidur, seperti yang sudah disarankan oleh kekasihnya itu.

//

Jung Soo duduk di ruang tengah, tepatnya berhadapan dengan Presdir dan Nyonya Im. Sesuai permintaan Presdir Im, Jung Soo memang disarankan untuk tinggal bersama keluarga Yoona. Selain untuk melindungi keamanan Jung Soo sendiri (sebagai saksi kunci kasus penculikan Yoona 15 tahun silam), Jung Soo dapat membantu Presdir dan Nyonya Im mengungkap aksi kejahatan yang dilakukan oleh Presdir Choi sebagai dalang penculikan Yoona 15 tahun silam.

“Saat acara peresmian Hotel Royal besok, aku berencana mengumumkan Yoona sebagai putri kandungku yang selama ini hilang. Bagaimana menurutmu?” tanya Presdir Im pada Jung Soo.

Jung Soo mengangguk yakin, “Saya setuju dengan rencana tersebut. Semakin cepat status Nona Yoona diumumkan pada publik, saya rasa semakin baik, meskipun rencana ini akan memancing Presdir Choi melakukan sesuatu pada Yoona.”

“Justru itulah yang kuharapkan. Aku tahu, mungkin akan berbahaya bagi keselamatan Yoona. Tapi, aku tidak bisa menunda lagi dan membiarkan Kangta bebas begitu saja, dengan menutupi aksi kejahatan yang dia lakukan pada putriku,” lanjut Presdir Im, “Itulah sebabnya, aku membutuhkanmu, Jung Soo. Aku ingin, kau menjadi kepala pengawal bagi keluargaku. Apa kau bersedia?”

Jung Soo terkejut mendengar tawaran yang disampaikan Presdir Im.

“Saya—menjadi kepala pengawal keluarga Presdir?” tanya Jung Soo tidak percaya.

Presdir dan Nyonya Im mengangguk kompak. Keduanya sama-sama mengulum senyum kepada Jung Soo.

“Aku sudah mendengar dari Tuan Huang. Kau menguasai beberapa teknik beladiri. Hanya pekerjaan ini yang bisa kuberikan untukmu, sebagai imbalan karena kau telah menyelamatkan Yoona. Kami sangat berhutang budi padamu, Jung Soo,” ujar Presdir Im.

Jung Soo terharu mendengar pujian yang dilontarkan Presdir Im. Pandangannya beralih pada Nyonya Im yang juga mengulum senyum kepadanya. Jung Soo kemudian membungkuk hormat di hadapan Presdir dan Nyonya Im.

“Terima kasih atas kebaikan Presdir dan Nyonya. Saya akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan pernah mengecewakan kalian,” balas Jung Soo sambil meneteskan air mata. Ia kembali teringat dengan mendiang sang istri dan juga putrinya yang meninggal, akibat kecelakaan yang sengaja dibuat oleh Presdir Choi. Jung Soo bersumpah, ia akan mengungkap semua kejahatan yang telah dilakukan oleh mantan atasannya tersebut.

.

.

.

.

.

.

Hotel Royal, hari ini akan diresmikan pada jam 10 pagi. Semua wartawan sudah memenuhi area depan hotel megah yang berdiri di pusat kota Seoul tersebut. Kehadiran Hotel Royal di Korea Selatan ini, menambah daftar hotel termegah setelah Hotel Grand dan Hotel Lofty.

Presdir Im Yunho beserta sang istri tengah melakukan konferensi pers sebelum acara peresmian Hotel Royal dimulai. Dengan didampingi beberapa orang penting yang bersiap mengelola hotel tersebut, Presdir Im terlihat lancar menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan wartawan.

“Di mana Yoona?” sesekali Presdir Im berbisik pada Nyonya Im untuk menanyakan keberadaan putri mereka. Selain acara peresmian hotel, Presdir Im dan istrinya berencana mengumumkan kepada publik tentang jati diri Yoona yang sebenarnya, yaitu sebagai putri tunggal mereka yang selama ini mereka cari.

“Masih bersiap di ruang rias. Ada Kris yang menemaninya, kau jangan khawatir,” sahut Nyonya Im sambil menyunggingkan bibirnya. Sejenak Presdir Im bisa bernafas lega mendengar penuturan sang istri. Ia sempat khawatir jika Yoona akan kesulitan dalam acara nanti.

Sementara itu, ruang rias yang tersedia di dekat ballroom Hotel Royal, tampak Yoona yang masih bersiap dengan ditemani penata rias, serta Kris yang sedang duduk di salah satu kursi sambil membaca sebuah majalah. Kris melirik jam tangan yang dikenakannya. Sebentar lagi acara peresmian hotel dimulai. Namun ia tidak perlu terburu-buru karena Presdir Im sudah memberitahu jika ia dan Yoona akan muncul di saat pengumuman Yoona sebagai putri mereka.

“Tuan, Nona Yoona sudah selesai,” suara penata rias itu membuyarkan lamunan Kris.

Kris terkesiap dan segera bangkit berdiri ketika melihat Yoona sudah berjalan mendekatinya. Mata Kris tak berkedip sedetik pun dari sosok Yoona yang kini terlihat sangat cantik. Dress panjang yang berwarna krim, tatanan rambut yang simple namun tetap memperlihatkan kesan glamour, juga make up natural yang selalu menjadi ciri khas dandanan Yoona.

“Kenapa kau memandangiku terus? Apa aku terlihat aneh?” tanya Yoona malu sambil menutupi wajahnya.

Kris menggeleng pelan, “Tidak, kau cantik sekali.”

Wajah Yoona kian memerah setelah Kris melontarkan pujiannya. Pria itu tampak memposisikan tangan Yoona agar memeluk lengan kirinya. Kris sedikit terkejut ketika menyadari tubuh Yoona sedikit gemetar. Ia juga menangkap gelagat Yoona yang berulang kali menghela nafas karena rasa gugup yang menderanya.

Dengan lembut, Kris mengusap tangan Yoona sambil memamerkan senyumnya untuk wanita itu.

“Tenanglah, semua pasti akan berjalan lancar,” ucap Kris sambil mengerlingkan mata. Reaksinya itu memancing tawa Yoona yang membuat wanita itu merasa jauh lebih rileks. Keduanya pun bersiap memasuki ballroom yang sudah dipenuhi banyak tamu undangan. Sebentar lagi acara peresmian Hotel Royal dimulai. Presdir Im tengah memberikan sambutan di depan podium. Mata pria itu sesekali melirik ke arah Kris dan Yoona yang masih berdiri di dekat pintu utama ballroom.

“Sebelum aku meresmikan Hotel Royal, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan pada kalian semua,” ucap Presdir Im dengan nada serius. Tak pelak ucapannya tersebut memancing rasa penasaran bagi tamu undangan yang hadir. Suasana di ballroom yang semula kondusif mulai terganggu karena beberapa tamu undangan tampak saling berbisik satu sama lain.

“Sebelumnya, aku dan istriku sempat kehilangan putri kami yang menjadi korban penculikan 15 tahun silam. Waktu itu, putri kecil kami masih berusia 8 tahun. Kami terus mencari keberadaannya hingga sekarang. Kami yakin jika putri kami masih hidup dalam kondisi sehat dan selamat,” ujar Presdir Im. Keheningan seketika memenuhi suasana ballroom. Semua orang terdiam dan mendengarkan cerita yang disampaikan Presdir Im dengan seksama.

“Akhirnya, penantian dan usaha kami berbuah manis. Kemarin, kami berhasil menemukan putri kandung kami yang selama ini kami cari. Hari ini, di hadapan kalian semua, aku akan memperkenalkan putri kandungku yang telah kutetapkan sebagai pewaris tunggal dari Hotel Royal,” tangan Presdir Im terulur ke arah Kris dan Yoona yang masih berdiri di dekat pintu ballroom. Isyarat yang diberikannya membuat kedua orang itu langsung berjalan memasuki ballroom dan mendekati podium tempat Presdir Im berada.

Semua mata tertuju pada Kris dan Yoona. Tak sedikit dari mereka yang terkejut dengan kemunculan Yoona. Pasalnya, mereka sudah mengenal Yoona lebih dulu sebagai Huang Yoona. Siapa yang menduga jika wanita itu adalah putri kandung Presdir Im yang selama ini hilang.

“Mungkin di antara kalian sudah ada yang mengenalnya sebagai Huang Yoona. Di sini aku akan meluruskan, bahwa wanita ini adalah putri kandungku yang selama ini diasuh oleh keluarga Huang. Itulah sebabnya, nama marganya mengikuti nama marga keluarga Huang. Tapi, namanya yang sebenarnya adalah Im Yoona. Dialah putri kandungku yang selama ini kami cari,” ucap Presdir Im.

Yoona sedikit menunduk ketika merasakan flash dari kamera yang langsung tersorot ke arahnya. Ia berusaha tersenyum ke arah para wartawan yang tengah mengambil fotonya.

“Dan pria yang bersamanya adalah calon menantuku, Kris Wu. Dia adalah putra sulung dari sahabat baikku, Wu Yi Lan, sekaligus merupakan pewaris dari Hotel Grand,” lanjut Presdir Im. Tepuk tangan riuh seketika menyambut kedatangan Yoona dan Kris di hadapan semua orang.

“Aku ucapkan terima kasih kepada keluarga Huang Zhi Lei, yang telah mengasuh putriku hingga tumbuh menjadi wanita cantik seperti sekarang,” Presdir Im sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk hormat yang ia tujukan kepada keluarga Huang. Ia sengaja tak mengundang keluarga Huang demi keselamatan mereka. Presdir Im menyadari jika keluarga Huang kemungkinan besar akan mendapat teror dari orang yang telah menculik Yoona. Itulah sebabnya, ia meninggalkan dua orang pengawal di kediaman keluarga Huang untuk berjaga-jaga.

Setelah memperkenalkan Yoona dan Kris, acara memasuki pengguntingan pita yang menjadi simbolis dari peresmian Hotel Royal tersebut. Presdir Im mengajak Yoona untuk ikut menggunting pita tersebut. Suasana ramai kembali memenuhi ballroom yang diwarnai dengan tepuk tangan tamu undangan yang hadir. Semua orang turut berbahagia atas peresmian Hotel Royal tersebut, sekaligus kembalinya Yoona yang merupakan putri kandung Presdir dan Nyonya Im.

Namun salah satu di antara tamu undangan yang hadir, terlihat sosok pria yang memperlihatkan reaksi berbeda. Ia menatap tajam pada Presdir Im. Bola matanya berkilat, menyiratkan kebencian terhadap apa yang tengah dirasakan keluarga Presdir Im saat ini.

Presdir Im menyadari sorot mata pria itu—yang tidak lain adalah Presdir Choi Kangta. Tidak ada lagi sorot mata hangat yang pernah diberikan Presdir Im kepadanya, sebagai seorang sahabat. Kini yang terlihat hanyalah sorot mata kecewa Presdir Im untuk Presdir Choi.

Pandangan Presdir Choi beralih pada Presdir dan Nyonya Wu. Sepasang suami-istri itu ikut berbahagia dengan apa yang dirasakan keluarga Im. Keduanya bahkan tak ragu untuk segera berbaur dengan mereka. Hal itu semakin menambah kebencian di hati Presdir Choi. Ia melirik sekilas pada Sooyoung yang sedari tadi terdiam dengan wajah shock-nya.

“Sudah kubilang padamu, kau akan menyesal setelah mengetahui jati diri Yoona yang sebenarnya. Sekarang semua sudah terlambat. Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan pria yang kau cintai itu,” ucap Presdir Choi setengah berbisik.

Presdir Choi bersiap pergi meninggalkan ballroom yang masih ramai karena semua orang akan mengikuti pesta perayaan tersebut.

“Kalau saja kau mengakui perasaanmu pada Kris lebih awal, maka kau akan berdiri di posisi Yoona sekarang,” lanjut Presdir Choi menyulut rasa penyesalan dalam diri putrinya. Mata Sooyoung terlihat berkaca-kaca, dengan sorot mata iri yang ia tujukan pada keluarga Kris dan Yoona.

//

Untuk pertama kalinya (sejak 15 tahun silam), keluarga Yoona dan Kris kembali bertemu. Tentu situasi seperti ini tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sejak mengetahui status Yoona yang merupakan putri kandung Presdir dan Nyonya Im, kekaguman orang tua Kris semakin bertambah pada Yoona. Keduanya tidak mengira jika wanita yang sebelumnya mereka kenal sebagai kekasih Kris, ternyata adalah orang yang pernah mereka jodohkan dengan putranya semasa kecil. Siapa sangka, dua insan yang sebelumnya menolak untuk dijodohkan satu sama lain, kini justru bersatu menjadi sepasang kekasih, tanpa campur tangan orang tua mereka masing-masing.

“Aku sungguh tidak menyangka jika kau adalah putri Yunho yang menghilang,” entah sudah berapa kali Presdir Wu mengucapkan hal serupa.

“Bukankah aku sudah pernah bilang, wajah Yoona sangat mirip dengan Yuri? Ternyata apa yang kupikirkan tidak meleset,” Nyonya Wu tersenyum lebar sambil menggenggam tangan Yoona.

“Kadang sampai sekarang aku masih tidak percaya, Kris dan Yoona yang sebelumnya menolak untuk dijodohkan, sekarang justru menjadi sepasang kekasih. Tanpa campur tangan kita sebagai orang tuanya,” sambung Nyonya Im yang segera disetujui oleh semua orang. Kris dan Yoona hanya tersipu mendengarnya.

“Kurasa ini memang takdir yang sudah direncanakan Tuhan,” ucap Presdir Im bersikap bijak, “Aku senang karena semua sudah kembali pada posisi semula.”

Nyonya Im mengangguk setuju dan kembali memeluk erat suaminya, sebelum beralih memeluk Yoona untuk meluapkan kebahagiaan yang tengah ia rasakan.

“Bagaimana—jika kita mengadakan acara makan malam bersama? Selain pertemuan keluarga, kurasa kita perlu untuk segera membicarakan rencana pernikahan Kris dan Yoona,” usul Presdir Wu tiba-tiba.

Kris dan Yoona saling memandang dengan wajah bahagia mereka. Keduanya hanya tersenyum dan enggan berkomentar dengan rencana yang akan dilakukan orang tua mereka.

“Yi Lan, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu,” ucap Presdir Im sambil merangkul Presdir Wu. Matanya menyiratkan keseriusan hingga membuat Presdir Wu penasaran dengan pembicaraan mereka. Reaksi yang sama juga terlihat dari Nyonya Wu, namun ia hanya diam dan tidak bertanya apapun setelah Nyonya Im menggandengnya untuk mengikuti suami mereka.

Yoona mengerutkan dahinya ketika melihat wajah serius dari orang tuanya. Ia penasaran kenapa orang tuanya mengajak pergi orang tua Kris meninggalkan ballroom yang masih ramai dipenuhi tamu undangan.

“Apa yang ingin mereka bicarakan? Kenapa harus pergi keluar dari ballroom?” tanya Yoona setengah berbisik pada Kris.

Kris hanya mengedikkan bahu dengan senyum hangat yang terus terpatri di wajah, “Apa kau bosan dengan pesta ini? Bagaimana jika kita pergi keluar untuk bersenang-senang?”

Yoona terdiam sejenak, sebelum akhirnya semburat rona merah terlihat di kedua sisi pipinya, “Berkencan?”

Ne, berkencan. Kau mau?” tanya Kris dengan tatapan menggoda. Yoona menganggukan kepalanya dan membiarkan Kris menggandengnya keluar meninggalkan ballroom dan Hotel Royal.

//

“Yoona-eonni adalah putri kandung dari Presdir Im Yunho?”

Kai tertawa geli saat melihat ekspresi wajah Krystal. Keduanya tengah menikmati jam istirahat di cafetaria sekolah. Berita seputar acara peresmian Hotel Royal menjadi pusat perhatian seluruh siswa yang tengah menikmati makan siang. Sama seperti Krystal dan Kai, pandangan mereka terus tertuju pada layar televisi yang terpampang di salah satu sudut cafetaria.

“Kenapa kau begitu terkejut?” tanya Kai heran.

Krystal sampai lupa mengunyah makanan yang baru saja masuk ke mulutnya. Sementara Kai terlihat santai dan tidak terlalu terpengaruh dengan berita tersebut. Sebelum mengetahui jati diri Yoona yang sebenarnya, Kai sudah bisa menebak jika Yoona bukan berasal dari keluarga sembarangan. Apa yang menjadi pemikirannya pun terbukti hari ini, dengan munculnya berita tentang pengakuan Presdir Im Yunho jika Yoona merupakan putri kandung pemilik Hotel Royal tersebut.

“Jika Yoona-eonni adalah putri kandung Yunho-ahjussi, itu artinya … dia adalah orang yang dijodohkan oppa saat mereka masih kecil,” Krystal berteriak senang sambil menepukkan kedua tangannya, “Astaga, mereka benar-benar berjodoh!”

Kai sedikit terkejut dengan teriakan keras Krystal, “Siapa?”

“Kris-oppa dan Yoona-eonni. Sejak awal, mereka sudah ditakdirkan untuk bersatu,” jawab Krystal sambil tersenyum lebar.

“Apa maksudmu?” tanya Kai penasaran.

Krystal memberi isyarat pada Kai untuk mendekatkan wajahnya. Saat telinga pemuda itu sudah dekat dengan bibir Krystal, gadis itu bersiap membisikkan sesuatu padanya.

“Rahasia. Aku tidak akan memberitahumu,” Krystal terkikik geli usai mengucapkan kalimat tersebut.

“YA!” Kai berteriak kesal karena merasa dibohongi oleh Krystal.

“Siapa suruh kau tidak pernah membantuku untuk dekat dengan Suho-oppa. Setiap kali ada kesempatan bertemu dengan Suho-oppa, justru kau yang asyik mengobrol dengannya,” balas Krystal sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Siapa bilang aku tidak membantumu? Justru mengobrol dengannya aku jadi tahu gadis yang sedang disukainya,” jawab Kai membuat Krystal menoleh kaget.

“Dia sedang menyukai seseorang?” tanya Krystal dengan matanya yang membulat sempurna, “Katakan padaku, siapa gadis yang beruntung itu? Cepat katakan padaku, Kai!”

“Tidak mau. Kau sendiri tidak mau berbagi cerita soal Kris-hyung dan Yoona-noona. Aku pun juga tidak mau memberitahumu, siapa gadis yang disukai Suho-hyung saat ini,” Kai bangkit berdiri dari kursinya dan bersiap meninggalkan cafetaria. Hal itu membuat Krystal terperanjat dan buru-buru mengejar Kai sebelum menghilang dari hadapannya. Krystal merengek sambil memegangi tangan Kai agar sepupunya tersebut mau memberitahu sosok gadis yang tengah disukai Suho. Kai hanya menjulurkan lidah ke arah Krystal dan menggeleng keras, tetap pada pendiriannya yang ingin menjaga rahasia tersebut, khususnya dari Krystal sendiri.

Selanjutnya hanya terlihat aksi kejar-kejaran yang dilakukan Krystal ketika Kai sudah berlari jauh di depannya.

//

Tao memandangi layar besar yang terpampang di sudut bangunan pusat perbelanjaan kota Seoul. Ia tersenyum ketika menyaksikan siaran berita mengenai peresmian Hotel Royal, yang juga menampilkan sosok Yoona setelah diumumkan sebagai putri kandung pemilik Hotel Royal tersebut. Tao ikut berbahagia dengan apa yang dirasakan oleh keluarga Yoona saat ini. Ia bersyukur karena Yoona sudah kembali lagi berkumpul dengan orang tua kandungnya.

Tao teringat dengan cerita yang disampaikan ibunya semalam, bahwa Yoona dan Kris pernah dijodohkan saat keduanya berusia 8 tahun, tepatnya hari di mana Yoona menghilang karena menjadi korban penculikan. Fakta yang diketahuinya itu membuat Tao sadar jika Yoona dan Kris memang sudah berjodoh sejak awal. Takdirlah yang mempertemukan mereka kembali hingga keduanya bersatu seperti sekarang.

Setelah puas memandangi siaran berita dari layar besar tersebut, Tao berjalan kembali menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan. Ia baru saja mendatangi sebuah toko yang khusus menawarkan peralatan-peralatan wushu. Tao sekarang memang lebih disibukkan dengan kegiatan mengajar di sanggar wushu yang didirikan ayahnya.

Dari arah yang berlawanan, Sooyoung terlihat berjalan dengan langkah gontai. Ia terus menundukkan kepala, seolah tak ingin memperlihatkan wajahnya yang murung. Namun karena Sooyoung tidak memperhatikan jalan dengan baik, berulang kali ia menabrak pejalan kaki lainnya hingga membuat mereka sedikit mengumpat.

Kemunculannya yang menjadi perhatian pejalan kaki lainnya, juga menarik perhatian Tao. Ia yang semula berniat masuk ke dalam mobil, mengurungkan niatnya dan memilih memandangi Sooyoung yang semakin berjalan mendekati arahnya.

BRUK!

Mata Tao tak berkedip ketika melihat Sooyoung tiba-tiba ambruk tepat di depannya. Ia berlari menghampiri Sooyoung untuk menyelamatkan wanita itu.

“Nona? Nona, kau bisa mendengarku?” tanya Tao sambil menepuk pipi Sooyoung. Namun tak ada jawaban dari wanita itu. Tao menyentuh kening Sooyoung yang sedikit berkeringat. Tak mau membuang waktu lama, ia pun membawa Sooyoung ke rumah sakit Seoul.

Tao membopong tubuh Sooyoung ke dalam mobil. Sooyoung dibaringkan di deretan kursi tengah mobil Tao. Secepat kilat, Tao segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit Seoul.

Setibanya di rumah sakit Seoul, dibantu dengan tim medis yang ada, Sooyoung dibaringkan di ranjang dorong lalu dibawa ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Atas permintaan tim medis, Tao menunggu di luar ruang UGD. Tangannya kini sudah memegang tas yang dibawa Sooyoung.

“Maaf,” Tao sedikit membungkuk ke arah pintu ruang UGD. Ia berniat membuka tas Sooyoung untuk mencari identitas wanita itu. Tao mengais isi tas Sooyoung kemudian mengambil dompet wanita itu. Dengan hati-hati, Tao membuka isi dompet Sooyoung untuk mencari kartu identitasnya.

“Choi Sooyoung,” Tao mengeja nama yang tertera di kartu identitas tersebut. Matanya menerawang, seperti tengah berusaha mengingat sesuatu yang berkaitan dengan wanita itu.

“Bukankah dia seorang pelukis?” Tao ingat saat Yoona pernah bercerita bahwa ia akan menghadiri pembukaan galeri teman Kris yang merupakan pelukis ternama.

“Jadi—dia teman Kris yang diceritakan Yoona waktu itu?” gumam Tao sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Saat ia ingin memasukkan dompet Sooyoung ke dalam tas, sebuah foto justru menarik perhatiannya. Mata Tao membulat sempurna ketika menemukan foto Kris terpampang di dompet Sooyoung. Orang awam pun pasti tahu, jika seorang wanita menyimpan foto seorang pria dalam dompetnya, wanita itu pasti menganggap si pria adalah orang yang special bagi mereka. Itulah pemikiran yang berkutat di kepala Tao setelah melihat foto Kris dalam dompet Sooyoung. Tapi ia enggan berspekulasi terlalu jauh dan menepis semua anggapan yang ada dalam kepalanya.

//

Lotte World, taman bermain yang terkenal di Korea Selatan yang terletak di tengah kota Seoul. Kris sengaja memilih tempat tersebut karena ia tahu Yoona akan senang dengan pilihannya. Di tempat inilah, Yoona bisa melepaskan semua beban di pundaknya yang selama ini membuat wanita itu dilanda stress.

Kris masih ingat, bagaimana repotnya mereka yang harus menghadapi wartawan sejak scandal mereka muncul ke publik. Belum lagi sikap Presdir Choi yang secara terang-terangan mengintimidasi Yoona hingga membuat kondisi wanita itu drop beberapa hari yang lalu. Inilah saatnya, mereka melepaskan semua beban yang selama ini mereka rasakan, sekaligus merayakan kebahagiaan yang baru saja menghampiri mereka.

Kris tengah berdiri di dekat toilet, menunggu Yoona yang sedang mengganti pakaiannya. Kris sendiri sudah berganti pakaian dengan kemaja panjang motif garis yang sengaja tidak dikancingkan, hingga memperlihatkan dalaman kaus berwarna putih yang ia kenakan.

“Kris?” suara Yoona mengalihkan perhatian Kris yang tengah memandangi sekeliling. Lotte World itu tetap ramai didatangi pengunjung, meskipun bukan akhir pekan.

Kris tersenyum ke arah Yoona yang baru saja keluar dari toilet. Wanita itu sudah mengenakan t-shirt berwarna hijau tosca, dengan bawahan skinny jeans dan juga flat shoes yang melekat di kakinya.

“Kau sudah merencanakan semuanya?” tanya Yoona sambil memicingkan matanya. Ia ingat ketika beberapa waktu yang lalu, Kris mengajaknya pergi ke Lotte World. Yoona sempat menolak karena mereka masih mengenakan pakaian formal. Namun semua keraguan itu terselesaikan setelah Kris memberikannya pakaian ganti.

“Tentu saja. Sudah lama aku tidak pergi ke sini,” jawab Kris bersemangat, “Terakhir kali aku ke sini bersama Krystal saat aku masih duduk di bangku SMP.”

Yoona mengusap wajah Kris sambil mengulum senyum, “Kau memang kakak yang baik.”

Kris mengecup pipi Yoona secara spontan dan membuat Yoona sedikit terkejut, sekaligus malu karena pandangan semua orang yang sedari tadi tertuju pada keduanya.

Aigo, ini di tempat umum, Kris. Jangan seenaknya mencium pipiku seperti tadi. Itu membuatku malu,” bisik Yoona dengan wajah memerahnya.

“Abaikan saja. Selama bersamaku, hanya aku yang boleh menjadi pusat perhatianmu, bukan orang lain. Mengerti?” Kris menyentil hidung Yoona sambil terkekeh.

Yoona mendesah kesal karena terkejut dengan perlakuan Kris. Ia bersiap melayangkan pukulan di bahu pria itu, namun Kris sudah lebih dulu berlari menghindarinya. Yoona akhirnya tak punya pilihan, selain mengejar Kris hingga keduanya mulai menikmati suasana keramaian di Lotte World.

Lotte World menyajikan berbagai wahana, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Kris dan Yoona sepakat untuk menjajal wahana yang ada di luar ruangan, yang dinamakan area Magic Island. Wahana yang mereka pilih adalah Gyro Drop, di mana pengunjung akan diuji adrenalinnya dengan menaiki bangku yang mengelilingi menara setinggi 70 meter. Setelah sampai di puncak menara, mereka akan diturunkan dengan kecepatan 100 km/jam.

Kris sempat ragu untuk menaiki wahana Gyro Drop. Selain melihat antrian yang begitu panjang, ia sedikit trauma dengan wahana tersebut ketika menaikinya bersama Krystal. Topi kesukaannya yang dulu selalu ia pakai saat masih SMP, terlepas ketika ia menaiki wahana tersebut. Kris sudah berusaha mencari topi itu tapi tidak berhasil menemukannya. Akhirnya Kris benar-benar kehilangan topi kesukaannya yang merupakan pemberian dari mendiang sang nenek.

Namun setelah melihat sorot mata berbinar dari Yoona, Kris berusaha menekan egonya dan menuruti semua kemauan Yoona selama mereka berkencan di Lotte World. Ia senang, wajah Yoona yang semula terlihat kelelahan sudah berubah menjadi ceria.

Kajja!” Yoona menarik Kris dengan semangat ketika giliran mereka untuk menaiki wahana tersebut tiba. Saat menaiki wahana tersebut, Kris berulang kali mengatur nafasnya karena rasa panik yang tiba-tiba menghinggapinya. Sementara Yoona terlihat santai ketika bangku yang mereka naiki sudah menuju puncak menara. Saat bangku tersebut mulai meluncur ke bawah, terdengar suara teriakan dari semua pengujung yang ikut menaiki wahana Gyro Drop.

Puas menaiki beberapa wahana yang berada di Magic Island, Kris dan Yoona menikmati wahana yang berada di dalam ruangan, yang dinamakan area Adventure. Gedung ini memiliki 4 lantai yang menyajikan wahana bermacam-macam. Karena sebelumnya Kris dan Yoona sudah menikmati wahana yang memacu adrenalin mereka, sekarang keduanya sepakat untuk memilih wahana yang lebih santai, seperti Bumper Car, Aeronauts Ballon Ride (menaiki balon udara untuk melihat betapa luasnya taman indoor di Korea Selatan ini melalui udara), dan beberapa wahana menyenangkan lainnya. Pilihan terakhir mereka jatuh pada Ice Ring, area ice skating yang menjadi tempat favorit bagi pengunjung.

Kris dan Yoona terlihat senang melakukan ice skating sambil bergandengan bersama. Senyum merekah terus terpancar di wajah mereka. Keduanya bahkan tak jarang saling melakukan kejahilan masing-masing hingga membuat suasana kebersamaan mereka kian romantis.

//

“Keluarga Nona Choi Sooyoung?”

Tao terkesiap ketika melihat dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. Seorang wanita mengulum senyum kepada Tao sambil berjalan mendekatinya.

“Dokter, bagaimana kondisinya?”

“Kondisinya baik-baik saja, hanya kelelahan dan sedikit demam. Nona Sooyoung juga mengalami dehidrasi, itulah kenapa tubuhnya sangat lemas. Saya sarankan agar Nona Sooyoung menginap selama dua hari di sini. Supaya kondisinya bisa segera pulih. Tuan bisa menyelesaikan administrasi terlebih dahulu, sebelum kami memindahkannya ke ruang inap pasien,” ucap dokter yang diketahui Tao bernama Lee Boyoung (dari tanda pengenal yang melekat di jas dokter wanita itu).

Ne, terima kasih atas bantuanmu, Dokter Lee,” Tao membungkuk hormat pada Dokter Lee dengan raut wajah lega.

“Nona Sooyoung ingin bertemu dengan Anda,” ucap Dokter Lee sebelum berlalu dari hadapan Tao.

Tao sedikit menunduk ketika Dokter Lee berjalan melewatinya. Matanya menatap pintu ruang UGD sejenak, sebelum ia masuk untuk melihat keadaan Sooyoung.

Sooyoung terbaring dengan selang infus yang terpasang di tangan kiri. Wajahnya masih kelihatan pucat. Untung saja wanita itu sudah sadar dan bisa melihat Tao yang sudah berada di dalam ruangan.

“Kau yang menolongku?” tanya Sooyoung ketika pandangannya dengan Tao saling bertemu.

Tao mengangguk pelan, “Ne, namaku Huang Zhi Tao. Kau bisa memanggilku Tao.”

Dahi Sooyoung berkerut. Matanya menerawang ke arah langit kamar. Sedetik kemudian, mulutnya sedikit terbuka ketika ia berhasil mengingat sesuatu dalam kepalanya.

“Kau—saudara angkat Yoona? Putra Huang Zhi Lei?” tanya Sooyoung menebak status Tao, setelah sebelumnya ia mengetahui keluarga Huang yang telah mengasuh Yoona (saat acara peresmian Hotel Royal beberapa waktu yang lalu).

“Kau mengenalku?” Tao terkejut dengan bola matanya yang sedikit membesar.

“Aku hanya tahu jika keluargamu yang sudah mengasuh Yoona. Presdir Im Yunho sendiri yang mengatakannya saat acara peresmian Hotel Royal tadi,” jawab Sooyoung yang tanpa sadar membuat Tao semakin bingung.

“Apa kau datang menghadari acara peresmian Hotel Royal?”

Sooyoung mengangguk, “Ne, aku datang bersama ayahku.”

“Boleh aku tahu—siapa ayahmu?” tanya Tao lagi. Sorot matanya yang terlihat menginterogasi sempat membuat Sooyoung heran. Ia terdiam cukup lama sebelum memberikan jawaban kepada Tao.

“Ah, kau jangan salah paham. Setidaknya aku harus memberitahu ayahmu jika kau dirawat di sini,” lanjut Tao menyudahi anggapan buruk yang sempat berkutat dalam pikiran Sooyoung.

“Ayahku—Choi Kangta,” jawab Sooyoung singkat, namun mampu membuat Tao mematung di posisinya.

Tao menatap Sooyoung lekat, dengan sorot mata tidak percaya yang ia tujukan pada wanita itu. Ia kembali teringat pembicaraan dengan orang tuanya yang ia lakukan semalam.

*flashback*

“Jung Soo memberitahuku jika ia sudah menjadi kepala pengawal keluarga Yoona. Presdir Im yang memintanya untuk membalas jasa Jung Soo yang telah menyelamatkan Yoona. Jung Soo juga mengatakan jika ia ditugaskan untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan penculik Yoona 15 tahun silam. Dia membutuhkan bantuanmu untuk mengawasi dan melindungi Yoona,” jelas Tuan Huang tanpa jeda, hingga membuat Tao terpaku menatapnya.

“Apa maksudnya? Aku benar-benar tidak mengerti,” ucap Tao dengan kerutan di dahinya.

“Besok—Presdir Im Yunho akan mengumumkan pada publik jika Yoona adalah putri kandung mereka. Begitu jati diri Yoona yang sebenarnya terungkap, mereka yakin jika penculik Yoona waktu itu akan bertindak. Bisa saja dalam waktu dekat mereka akan bergerak untuk menculik Yoona kembali,” lanjut Tuan Huang.

“Jadi—meskipun Yoona sudah kembali pada orang tuanya, keselamatannya masih belum aman dari penculik itu?” tanya Tao memastikan.

Ne, sampai penculik itu tertangkap, keselamatan Yoona masih belum aman,” jawab Tuan Huang, “Sebisa mungkin kau tetap menjaga komunikasi dengan Yoona. Jika ada hal yang mencurigakan, segera beritahu aku ataupun Jung Soo.”

“Aku mengerti,” balas Tao sambil menganggukkan kepala.

Saat Tuan Huang bersiap kembali ke kamarnya, Tao kembali melontarkan pertanyaan untuknya.

“Tapi—sebenarnya siapa yang sudah menculik Yoona? Aku ingin tahu,” tanya Tao dengan wajah seriusnya.

Tuan Huang terdiam sejenak sambil menghela nafas, “Dia adalah mantan atasan Jung Soo dan teman Presdir Im Yunho sendiri, Presdir Choi Kangta.”

*end flashback*

“Ada apa?” suara Sooyoung membuyarkan lamunan Tao hingga pria itu sedikit terkejut. Tao segera fokus kembali dengan situasinya sekarang. Ia pandangi wajah Sooyoung yang tengah menatapnya. Tao tidak percaya jika dirinya baru saja menyelamatkan putri dari pelaku penculikan Yoona 15 tahun silam.

Jujur saja, meskipun Tao belum pernah bertemu dengan ayah Sooyoung, namun kebenciannya terhadap Presdir Choi sudah terlanjur tertanam dalam dirinya. Namun ada hal lain yang membuat Tao penasaran. Hanya dengan melihat Sooyoung, Tao bisa menilai jika wanita itu sama sekali berbeda dengan sang ayah, yang ia yakini sangat ambisi karena tega melakukan kejahatan terhadap keluarga Yoona.

Tao kembali terdiam ketika mengingat foto Kris yang ia temukan dalam dompet Sooyoung. Apa mungkin jika wanita itu sebenarnya mempunyai perasaan khusus pada Kris? Sehingga ayahnya ingin membantu Sooyoung dengan menculik Yoona?

Semua analisa yang berkutat di kepala Tao membuat pria itu mendesah pelan sambil menggelengkan kepala. Tentu sikapnya tersebut membuat Sooyoung sedikit bingung. Namun perhatiannya segera teralihkan pada tasnya yang masih dibawa Tao.

“Maaf, apakah itu tasku?” tanya Sooyoung dengan raut wajah kaget.

Tao terkesiap dan melirik benda yang berada di tangannya. Saat itu Tao sadar jika sedari tadi ia masih membawa tas Sooyoung. Ia pun segera mengembalikan tas tersebut kepada pemiliknya.

“Oh iya, haruskah aku menghubungi ayahmu?” tanya Tao kemudian.

Ekspresi wajah Sooyoung berubah murung. Wanita itu menggeleng pelan sambil mengusap matanya yang sedikit berair.

“Bisakah—kau menghubungi seseorang?”

Tao mengerutkan dahinya ketika melihat sorot mata memohon dari Sooyoung. Sebelum Sooyoung memberitahunya, Tao sudah bisa menebak orang yang dimaksud oleh Sooyoung.

//

“Buka mulutmu, aaaa ….,” Yoona bersiap menyuapi Kris saat keduanya tengah menikmati makanan di salah satu cafe yang berada di Lotte World. Keduanya kelelahan dan memutuskan untuk makan bersama, sekalipun jam makan siang sudah lewat beberapa jam. Sekarang waktu sudah menunjukkan jam 4 sore dan keduanya masih berada di Lotte World setelah hampir 3 jam menikmati berbagai wahana di sana.

Kris menahan nafasnya ketika wajah Yoona begitu dekat dengannya. Posisi mereka yang tidak saling berhadapan, melainkan duduk bersebelahan, membuat Kris berulang kali mengatur debaran jantungnya. Ia bisa merasakan desahan nafas Yoona dan mencium aroma khas dari wanita itu.

Uhuk!” Kris sedikit tersedak ketika ia mengunyah makanan dengan terburu-buru. Yoona segera mengambilkan minuman dan juga tissue untuk mengusap wajah Kris. Perhatian yang diberikan Yoona membuat Kris merasa beruntung memiliki kekasih seperti Yoona.

DRRT!

Suara dering ponsel Yoona membuat keduanya terkejut. Tangan Yoona bergerak cepat mengais isi tasnya.

Yeoboseyo,” sapa Yoona pada Tao yang baru saja meneleponnya.

Apa sekarang kau bersama Kris?” tanya Tao tiba-tiba.

Kerutan di dahi Yoona kembali terlihat. Ia melirik sekilas pada Kris yang masih asyik menikmati makanannya.

Ne, memangnya kenapa?” tanya Yoona penasaran.

Bisakah kau berikan ponselmu pada Kris? Aku ingin bicara dengannya,” jawaban yang diberikan Tao justru menambah rasa penasaran Yoona.

Tanpa bertanya lagi, Yoona menyodorkan ponselnya pada Kris yang disambut kerutan di dahi pria itu.

“Tao, dia ingin bicara denganmu,” ucap Yoona sebelum Kris menanyainya.

Kris menelan makanan yang sedang dikunyahnya, sebelum menerima telepon dari Tao melalui ponsel Yoona.

Ne, ini aku. Ada apa?” tanya Kris singkat.

Choi Sooyoung—dia temanmu, ‘kan?

Kris kembali mengerutkan dahinya sambil melirik Yoona, “Ne, dia temanku. Kenapa kau menanyakan soal Sooyoung? Apa terjadi sesuatu dengannya?”

Dia jatuh pingsan, sekarang dirawat di rumah sakit Seoul,” jawab Tao.

“APA?” Kris berteriak kaget begitu mendengar kabar tentang Sooyoung yang dirawat di rumah sakit.

Dia ingin kau segera datang menemuinya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan padamu,” lanjut Tao.

“Benarkah? Baiklah, aku akan ke sana sekarang,” ucap Kris mengakhiri obrolannya dengan Tao. Ia mengembalikan ponsel itu pada Yoona.

“Apa terjadi sesuatu?” Yoona bingung saat melihat kekhawatiran di wajah Kris.

“Sooyoung dirawat di rumah sakit Seoul,” jawab Kris singkat, namun sukses membuat mata Yoona terbelalak kaget.

“Tadi aku melihatnya saat acara peresmian hotel ayahku. Kenapa sekarang tiba-tiba dirawat di rumah sakit?” tanya Yoona bingung.

Kris menggeleng, “Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sooyoung. Setahuku, dia sangat menjaga kesehatannya. Kenapa tiba-tiba bisa jatuh pingsan?”

“Apa—kau ingin ke sana menemui Sooyoung?”

“Tentu saja. Dia sahabatku, mana mungkin aku tidak datang jika sahabatku dirawat di rumah sakit,” sahut Kris dengan wajah meyakinkan. Namun Yoona justru tidak merasakan hal yang melegakan saat mendengar Kris menyebut Sooyoung sebagai sahabatnya. Ia masih ingat pertemuan pertamanya dengan Sooyoung di ruang kerja Kris. Saat itu Yoona menyadari jika Sooyoung menganggap Kris lebih dari seorang sahabat.

Setelah mendapat berita tentang Sooyoung dirawat di rumah sakit Seoul, Kris dan Yoona bergegas menuju rumah sakit tersebut. Keduanya berjalan menuju mobil Kris yang terparkir di area parkir Lotte World.

Tiba-tiba saja Yoona merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Seperti ada beberapa pasang mata yang tengah mengawasinya. Yoona menoleh ke belakang dan matanya berhasil menangkap dua pria berpakaian hitam yang terlihat mencurigakan.

“Kris, aku merasa ada yang mengikuti kita,” Yoona berbisik pada Kris yang tengah bersiap membukakan pintu mobil untuknya.

Kris melirik arah yang ditunjuk Yoona dengan ekor matanya. Ia pun menyadari keberadaan dua pria berpakaian hitam yang tengah menatap ke arah mereka. Ucapan Yoona semalam membuat Kris semakin yakin jika kondisi kekasihnya itu dalam bahaya.

Tangan Kris menggenggam erat tangan Yoona, sambil mendekatkan bibirnya di telinga wanita itu.

“Apapun yang terjadi nanti, kau harus tetap bersamaku. Jangan pergi seorang diri, mengerti?” ujar Kris berbisik sambil mengawasi dua pria mencurigakan tersebut.

Yoona bisa melihat kekhawatiran dari bola mata Kris. Ia pun mengangguk pelan, mengiyakan peringatan yang disampaikan kekasihnya itu.

//

Sooyoung sudah dipindahkan ke ruang inap pasien. Wanita itu tengah tertidur setelah mendapatkan perawatan dari tim medis. Tao memutuskan keluar sejenak untuk mencari makanan dan minuman.

Di saat yang bersamaan, Kris dan Yoona sudah tiba di rumah sakit Seoul. Keduanya terlihat berjalan setengah berlari ke arah Tao.

“Oh, kalian sudah datang,” ucap Tao begitu melihat kedatangan Kris dan Yoona.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Sooyoung?” tanya Kris cemas.

Tao sedikit terkejut melihat raut kecemasan di wajah Kris. Sebelum menjawab pertanyaan Kris, ia melirik sekilas pada Yoona yang juga menatapnya. Tao bisa menangkap raut cemburu yang dari wanita itu.

“Kata dokter hanya kelelahan dan mengalami dehidrasi. Dia juga sedikit demam, tapi suhu badannya sudah normal,” jawab Tao, “Aku menemukannya jatuh pingsan saat berada di pusat perbelanjaan yang lokasinya tak jauh dari hotel ayahmu.”

“Syukurlah jika kondisinya sudah membaik,” ucap Kris dengan volume suara kecil, namun tetap berhasil didengar oleh Yoona.

“Sooyoung berpesan padaku, jika kau sudah datang, dia menyuruhmu untuk langsung masuk ke dalam. Katanya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padamu,” lanjut Tao.

Yoona menghela nafas sejenak, kemudian menyentuh punggung Kris dan mendorong pria itu masuk ke dalam ruang tempat Sooyoung dirawat.

“Masuklah, aku akan menunggumu di luar,” ucap Yoona berusaha menekan rasa cemburu yang berkecamuk di hatinya.

Kris mengangguk dan mengikuti saran Yoona. Ia terlihat berjalan masuk ke dalam ruang inap Sooyoung, meninggalkan Yoona dan Tao di luar ruangan.

“Aku mau pergi membeli makanan dan minuman. Kau mau ikut?” tanya Tao tiba-tiba.

Yoona menggeleng pelan, “Tidak, aku di sini saja.”

Tao tidak bertanya lagi dan memilih meninggalkan Yoona seorang diri. Sejujurnya ia merasa khawatir dengan apa yang dirasakan Yoona sekarang. Apalagi saat ia mengetahui jika Sooyoung tampaknya memendam perasaan khusus pada Kris. Bagaimana jika wanita itu berbuat sesuatu yang nantinya akan membuat Yoona terluka?

Di sisi lain, Kris yang sudah berada di dalam ruang inap Sooyoung, menarik kursi yang tersedia ke samping ranjang Sooyoung. Kondisi Sooyoung yang terlihat pucat membuat Kris merasa iba kepada sahabatnya tersebut. Tangannya mengusap kepala Sooyoung dengan lembut, hingga tanpa sengaja membangunkan wanita itu.

“Maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu,” ujar Kris menyesali perbuatannya.

Sooyoung menggeleng pelan. Ia tersenyum lebar ke arah Kris. Semua rasa sakit yang ia alami seketika hilang begitu melihat kehadiran Kris.

“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Sooyoung sambil menggenggam tangan Kris.

Kris mengangguk, “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tiba-tiba jatuh sakit seperti ini? Aku tahu persis kebiasaanmu yang selalu menjaga kesehatan.”

Bibir Sooyoung melengkung sempurna. Kalimat yang diucapkan Kris terdengar menggelitik, sekalipun sarat akan teguran untuknya.

“Aku juga tidak tahu. Mungkin—karena ada hal yang mengusik pikiranku selama ini,” jawab Sooyoung asal.

“Benarkah? Memangnya hal apa yang kau pikirkan sampai jatuh sakit seperti ini?” tanya Kris penasaran.

Kau, Kris. Kau yang membuatku menjadi seperti ini, batin Sooyoung.

“Bukan apa-apa. Lupakan saja,” jawab Sooyoung sambil menggerakkan tangannya di wajah Kris.

“Aish, kau membuatku penasaran saja,” umpat Kris kecewa, “Oh iya, Tao bilang ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku?”

Bibir Sooyoung mendadak kelu ketika ia berniat mengakui perasaannya pada Kris. Ia pandangi wajah Kris yang sedari tadi tersenyum ke arahnya. Senyum yang diberikan Kris itulah yang membuat Sooyoung tidak bisa menahan lagi perasaannya pada Kris. Meskipun ia tahu, Kris sudah mencintai wanita lain.

“Aku … menyukaimu, Kris,” ucap Sooyoung tiba-tiba.

Kris terbengong setelah mendengar penuturan dari Sooyoung. Ia hanya merespon, “Sebagai sahabat? Aku sudah tahu itu, Choi Sooyoung.”

Sooyoung menggeleng pelan, lalu menundukkan kepalanya, “Tidak, Kris. Bukan sebagai sehabat, tapi sebagai seorang pria. Aku mencintaimu, Kris.”

Seperti ada palu besar yang mengenai kepala Kris. Pria itu kaget luar biasa dengan pengakuan Sooyoung yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Semua sangat mendadak hingga membuat Kris tak berkutik dan hanya duduk diam di sebelah Sooyoung. Terlalu shock, ia bahkan tidak menyadari jika Sooyoung sudah memeluk tubuhnya dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya.

Sementara itu, Kris dan Sooyoung tidak menyadari jika Yoona sedari tadi mengawasi keduanya dari balik pintu. Dada Yoona terasa sesak setelah mendengar pengakuan Sooyoung. Tepat seperti apa yang ditakutkan Yoona sebelumnya, Sooyoung akhirnya mengakui peraasannya kepada Kris. Namun yang membuat Yoona tidak senang, Sooyoung justru mengakuinya di saat ia sudah resmi menjadi kekasih Kris.

Yoona berulang kali mengusap dadanya yang kian terasa sesak. Ia menggigit bagian bawah bibrinya ketika kekhawatiran itu semakin menderanya. Yoona memejamkan matanya sejenak sambil mengatur nafasnya, sebelum ia kembali melihat ke dalam ruangan.

“Sooyoung, aku ….,” kalimat Kris mendadak terhenti ketika bibir Sooyoung mendarat dengan mulus tepat di bibir Kris. Mata pria itu membulat sempurna, terkejut dengan tindakan nekat yang baru saja dilakukan Sooyoung.

Reaksi yang sama juga terlihat dari Yoona, bahkan jauh lebih parah. Hatinya begitu terluka melihat Sooyoung mencium Kris tepat di depan matanya. Yoona menutup mulutnya dengan tangan. Nafasnya sedikit tertahan hingga membuatnya nyaris tidak bisa mengeluarkan suara.

Yoona berjalan mundur dengan gerakan kaku seperti robot. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Satu hal yang terlintas dalam kepalanya adalah pergi secepat mungkin dari hadapan Kris dan Sooyoung. Ia putuskan untuk keluar meninggalkan rumah sakit Seoul.

Tao yang baru saja kembali usai membeli makanan dan minuman untuk Sooyoung, tanpa sengaja melihat Yoona yang berlari menuju arah yang berlawanan dengannya. Yoona berniat memasuki lift yang berada di ujung lorong yang dilaluinya sekarang. Langkah Yoona yang tergesa-gesa mengundang rasa penasaran Tao hingga ia berniat menyusul wanita itu.

Namun langkah Tao terhenti ketika ia melihat Kris keluar dari ruangan Sooyoung, beberapa menit setelah Yoona masuk ke dalam lift. Kerutan di dahi Tao semakin kentara saat ia menangkap gurat kemarahan di wajah Kris yang kini terlihat memerah. Kontan saja pemandangan itu membuatnya bingung. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang itu?

“Apa ada kaitannya dengan Sooyoung?” gumam Tao pelan sambil kembali memandangi Kris yang terlihat duduk sambil menundukkan kepala. Entah kenapa, Tao tiba-tiba mempunyai firasat buruk terhadap Yoona.

//

Yoona berjalan gontai setelah keluar dari rumah sakit Seoul beberapa menit yang lalu. Pemandangan yang baru saja dilihatnya terus terngiang dalam ingatannya. Ia tidak menyangka jika Sooyoung akan begitu nekat mencium Kris. Wanita mana yang tidak terluka, melihat kekasihnya sendiri dicium wanita lain.

Rasa sesak di dada Yoona kian menyiksa, hingga membuatnya sulit bernafas. Yoona sadar jika Sooyoung melakukannya karena dikuasai emosi. Rasa cintanya yang begitu besar pada Kris, membuat wanita itu lupa diri akan statusnya yang merupakan sahabat dari pria itu. Entah sudah berapa kali, Kris menegaskan pada Yoona jika ia hanya menganggap hubungannya dengan Sooyoung tak lebih dari pertemanan, nyatanya Sooyoung dengan mudahnya melakukan hal yang tidak pantas terhadap pria itu, apalagi di depan Yoona yang notabene adalah kekasih Kris.

DRRT!

Lamunan Yoona buyar ketika mendengar dering ponselnya. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Yoona sudah tahu jika telepon tersebut dari Kris. Namun wanita itu memilih mengabaikannya, karena masih shock dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Raut wajah Yoona yang semula murung dan frustasi, seketika berubah pucat ketika sekelompok orang tiba-tiba sudah mengelilinginya. Kaki Yoona mendadak terasa lemas hingga membuatnya sulit bergerak. Ia mengedarkan pandangannya kepada sekelompok pria berpakaian hitam yang berjumlah lebih dari 5 orang. Mata Yoona melebar, ketika ia mengenali dua pria di antara mereka adalah orang yang dilihatnya saat keluar meninggalkan Lotte World sebelumnya.

“Mau apa kalian?” tanya Yoona dengan hati-hati. Suaranya sedikit bergetar, menyiratkan rasa takut yang tengah ia rasakan. Yoona memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi mereka dengan kemampuan beladiri yang ia kuasai.

Sekelompok pria tersebut menyadari pose yang dilakukan Yoona saat ini. Mereka pun tanpa segan memberikan serangan pada wanita itu.

Yoona bergerak dengan lincah menangkis dan menghindari serangan pukulan yang ditujukan padanya. Tak sedikit pukulan dari Yoona yang mengenai tubuh lawan hingga mereka mengerang kesakitan. Saat Yoona menemukan celah untuk melarikan diri, ia pun segera berlari secepat kilat agar lolos dari mereka.

“Kejar dia!” teriak salah satu pria yang membuat mereka langsung berlari ke arah yang dituju Yoona.

Yoona berlari memasuki sebuah taman yang lokasinya tak jauh dari posisinya saat dikepung oleh sekelompok orang tersebut. Wajahnya terlihat ketakutan dengan keringat yang mengucur. Sesekali ia melirik ke belakang untuk mengawasi mereka, namun Yoona harus menelan kekecewaan karena mereka justru semakin dekat dengannya. Kepanikan yang melanda Yoona membuatnya tidak menyadari jika ponsel­nya kembali berdering. Hal yang terlintas dalam benak Yoona saat ini adalah lari sejauh mungkin dari kejaran mereka.

Sayangnya jumlah mereka yang lebih banyak, berhasil menggagalkan aksi Yoona untuk menyelamatkan diri. Salah satu dari mereka berlari sangat cepat dan menarik tangan Yoona agar berhenti. Dengan mudah, ia menangkis serangan yang diberikan Yoona. Sebaliknya, ia justru berhasil membekap mulut Yoona dengan kain yang sudah diberi cairan khusus. Dalam hitungan detik, mata Yoona terpejam, ia tidak sadarkan diri.

“Bagus. Sekarang kita harus bergegas menuju tempat yang sudah direncanakan. Presdir Choi telah menunggu kedatangan kita bersama wanita ini,” ucap pria tersebut kepada rekan-rekannya.

Dua mobil sedan berwarna hitam segera datang menghampiri mereka. Setelah memastikan keadaan sekitar yang terbilang sepi, Yoona dimasukkan ke dalam mobil tersebut. Mereka pun ikut naik dan bergegas meninggalkan lokasi di mana mereka baru saja menculik Yoona.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Sorry for late publish *bow* Kemungkinan 2 atau 3 chapter lagi FF ini akan tamat. Maaf jika hasilnya mengecewakan^^’

Terima kasih sudah membaca❤😉

67 thoughts on “Destiny 10

  1. Seneng bgt dg momentnya kluarga Im . .
    Yo0nkris nya juga makin hangat aja . .
    Gak suka ma so0 unN yg kmakan cinta butanya

  2. Y family…(yoona, yuri and yunho..)
    next eon, q pnsran nih smpe insomnia tiap mlem,,hehe lebay ah q nih…
    tp kl di proteksi, passwordx jgn yg slit y eon..gomawo eon!🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s