Immortal Memory [2]

immortal_memory

Immortal Memory

by cloverqua | main casts Oh Sehun – Im Yoona

support cast Im Siwan – Im Juhwan – Ji Chang Wook and others

genre AU – Family – Romance | rating PG 17 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

Introduce Cast | 1

.

Kenangan akan selalu abadi, sekalipun kenangan terburuk yang membuatmu melupakanku

.

Suara berisik yang berasal dari luar kamar, membuat kegiatan tidur Sehun terganggu. Perlahan Sehun membuka matanya, ketika mendengar suara keras yang ia yakini adalah suara ibunya. Tidak ada reaksi yang diperlihatkan Sehun, kecuali desahan kasar yang keluar dari sela-sela bibirnya.

“OH SEHUN!” teriakan Hyejin begitu keras hingga mampu memekakkan telinga Sehun.

Sehun mengabaikan teriakan Hyejin dan memilih untuk kembali tidur. Hal itu membuat emosi Hyejin memuncak. Ia berinisiatif untuk masuk ke kamar Sehun, tapi ia harus mendapatkan kenyataan bahwa kamar Sehun dikunci dari dalam.

“Sehun, buka pintunya!” titah Hyejin sambil menggedor pintu kamar Sehun. Namun tak ada jawaban yang terdengar dari dalam kamar, membuat Hyejin kian meradang.

“Panggil Kepala Pelayan Lee! Suruh dia datang sambil membawa kunci cadangan!” Hyejin menyuruh salah satu pelayan yang ikut datang bersamanya. Pelayan wanita itu mengangguk, kemudian bergegas turun dari lantai 2 untuk menemui Kepala Pelayan Lee yang sedang mendampingi Taekyung menikmati sarapan.

Hyejin menyilakan kedua tangan di depan dada, sambil berjalan mondar-mandir di depan kamar Sehun. Kesabarannya sudah mencapai batas dan penyebabnya adalah sikap Sehun semalam yang mengacaukan acara makan malam bersama keluarga Yoona. Tidak hanya itu, kepulangan Sehun yang larut malam dalam kondisi mabuk, membuat amarahnya dan Taekyung kian memuncak.

Selang 10 menit, Kepala Pelayan Lee datang sambil membawa kunci cadangan kamar Sehun. Pria itu membuka pintu dengan kunci yang sudah dibawanya. Begitu berhasil dibuka, Hyejin langsung menyeruak masuk ke dalam kamar Sehun. Matanya membulat sempurna ketika mendapati sang putra masih tertidur di atas ranjang, bahkan tanpa sempat berganti pakaian. Hyejin melirik pada jas formal yang dikenakan Sehun semalam hanya diletakkan asal di lantai oleh pria itu.

“Anak ini benar-benar—” Hyejin berjalan cepat mendekati ranjang Sehun, kemudian mengambil satu bantal yang tidak digunakan.

BUG!

Tanpa pikir panjang, Hyejin memukulkan bantal itu berulang kali pada tubuh Sehun, sampai pria itu terbangun dari tidurnya. Sehun sontak meringkuk untuk menghindari pukulan Hyejin, namun gagal. Ia terus terkena pukulan Hyejin yang begitu emosi. Bahkan sampai terjatuh dari ranjang pun, Hyejin masih memberikan pukulan bantal kepadanya.

Eomma, hentikan!” Sehun berteriak sambil mengangkat kedua tangannya, menahan bantal yang digunakan sang ibu untuk membangunkannya secara brutal.

“Dasar anak tidak tahu diri! Sudah mengacaukan acara makan malam dengan keluarga Yoona, pulang larut malam dalam kondisi mabuk, sekarang sudah lewat jam 8 masih tidur di kamar. Kau bahkan tidak mengganti pakaianmu, benar-benar keterlaluan,” Hyejin bersiap melayangkan kembali pukulannya, tapi Sehun lebih sigap merebut bantal dari tangannya. Sehun melempar bantal itu ke atas ranjang, kemudian menatap sang ibu dengan sorot mata kesal. Namun ia tidak bisa melawan ketika mendapati raut wajah Hyejin yang jauh terlihat menakutkan dibandingkan apapun. Sehun hanya bisa menghela nafas kasar untuk meredam emosinya.

“Pergi mandi dan ganti pakaianmu, lalu ikut sarapan bersama kami,” Hyejin berbicara begitu lancar tanpa jeda, tidak memberi Sehun kesempatan untuk menyelanya.

Sehun mendesah pelan sambil memijat pelipisnya. Efek minuman ber-alkohol yang diteguknya semalam membuat kepalanya berdenyut. Ia pergi menghampiri meja kecil di dekat ranjang, untuk meminum air putih yang biasa disediakan oleh pelayan di rumahnya. Barulah Sehun pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang sudah bercampur bau minuman alkohol.

Di sisi lain, Hyejin sudah kembali ke ruang makan setelah berhasil membangunkan Sehun. Taekyung dan adik iparnya—Oh Chaeri, menatapnya dengan kerutan di dahi masing-masing. Pasalnya setelah tiba di ruang makan, Hyejin langsung meneguk segelas air putih sampai habis dalam hitungan detik.

“Dia sudah bangun?” tanya Taekyung begitu sang istri duduk di sebelahnya.

Hyejin mengangguk, kemudian menikmati sarapan untuk menghilangkan rasa kesalnya. Chaeri yang melihat sikap kakak iparnya itu hanya tersenyum simpul.

“Jadi, acara semalam kembali berakhir kacau seperti sebelumnya?” tanya Chaeri mencoba memulai obrolan. Ia penasaran dengan sikap sang keponakan yang kembali mengacaukan acara jamuan makan malam dengan keluarga calon istrinya.

“Lebih dari itu, dia secara terang-terangan menolak perjodohan itu depan semua orang. Anak itu sudah membuat kami kehilangan muka di hadapan keluarga Yoona,” ujar Hyejin panjang lebar.

“Bagi keluarga Yoona, ini jelas sebuah penghinaan. Selama ini belum ada pihak calon suami yang begitu berterus-terang seperti Sehun. Mereka masih menghargai Yoona dan menolak perjodohan secara halus melalui Tuan Hyunsung. Tapi Sehun—” kalimat Taekyung berhenti dan hanya terdengar desahan kasar darinya.

“Aku yakin Sehun tidak bermaksud bersikap seperti itu. Kurasa dia hanya shock, karena kalian tidak memberitahunya lebih awal,” sahut Chaeri berusaha menenangkan Taekyung dan Hyejin. Keduanya hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan sarapan mereka.

Chaeri tersenyum, kemudian melihat ke arah lain tepatnya pada Sehun yang baru saja tiba di ruang makan.

“Apa kau sudah minum air putih?” tanya Chaeri memberikan perhatiannya pada Sehun yang kedapatan pulang dalam kondisi mabuk semalam. Sehun hanya mengangguk dan mengambil posisi duduk di sebelah Chaeri. Sesekali Sehun memandangi orang tuanya yang hanya terdiam. Sehun bisa melihat sorot mata kecewa yang ditunjukkan Taekyung dan Hyejin kepadanya.

//

“Kau baik-baik saja?”

Yoona menghentikan kegiatan sarapannya ketika mendengar suara Hyunsung. Ia sedikit terkejut karena tatapan semua orang tertuju padanya. Bohong jika Yoona mengaku baik-baik saja. Hampir semalaman ia terus menangis karena kecewa dengan perlakuan Sehun. Selama ini ia tidak pernah mendengar penolakan langsung dari calon suaminya, melainkan melalui Hyunsung yang memberitahunya. Yoona tidak pernah membayangkan rasa sakit yang ia rasakan saat mendengar penolakan karena kondisinya yang bisu.

Siwan berhasil menangkap tubuh Yoona yang gemetar. Dengan lembut ia mengusap bahu Yoona untuk menenangkannya. Cara yang dilakukan Siwan memang ampuh dan terbukti membuat Yoona tersenyum.

Yoona menganggukan kepala, kemudian menuliskan sesuatu pada Siwan. Kakak sepupunya itu terlihat menatapnya dengan raut serius. Seolah tidak percaya dengan apa yang disampaikan Yoona.

“Kau yakin?”

Anggukan pelan Yoona membuat Hyunsung dan Nayoung saling memandang. Mereka penasaran dengan apa yang ditulis Yoona untuk Siwan.

“Ada apa?” tanya Nayoung penasaran.

“Yoona ingin appa menghubungi orang tua Sehun. Sampaikan pada mereka jika Yoona setuju perjodohannya dengan Sehun dibatalkan,” jawab Siwan dengan sorot mata serius.

“Kau yakin?” Hyunsung mencoba memastikan keputusan Yoona. Ia melihat keponakannya itu mengangguk dengan penuh keyakinan, seolah tidak ada hal lain yang membuatnya tetap mempertahankan perjodohan tersebut.

Siwan kembali menunggu Yoona menyelesaikan tulisannya, sebelum ia menyampaikan pesan tersebut kepada ayahnya.

“Yoona juga ingin appa tidak lagi menjodohkannya dengan siapapun. Dia lelah mendengar penolakan berkali-kali dari pihak calon suami. Ia bersedia menunggu sampai ada pria yang benar-benar tulus mencintainya, tanpa harus melalui perjodohan ini appa,” lanjut Siwan.

Hyunsung mengerutkan dahi ketika melihat sudut bibir Siwan sedikit tertarik.

“Benar Yoona yang mengatakan itu padamu? Atau semua itu berasal darimu sendiri?” tanya Hyunsung curiga. Siwan terkekeh pelan sambil melirik Yoona yang ikut tersenyum.

“Sebagian besar dari Yoona sendiri, appa. Aku hanya menambahkan apa yang ingin kukatakan sejak lama,” jawab Siwan, “Aku tahu, appa berniat baik dengan mencarikan pasangan untuk Yoona. Tapi, yang kulihat selama ini Yoona justru semakin menderita dengan penolakan yang diberikan pihak calon suaminya.”

“Kurasa Siwan benar. Lebih baik kita hentikan rencana perjodohan untuk Yoona,” sahut Nayoung sependapat dengan Siwan, “Sekarang, kau hubungi Tuan Taekyung dan katakan padanya jika perjodohan Yoona dan Sehun dibatalkan.”

Hyunsung terdiam, berusaha mencerna apa yang sudah disampaikan istri dan putranya. Saat melihat sorot mata memohon dari Yoona, Hyunsung tak punya pilihan selain menuruti kemauan keponakannya itu.

“Baiklah, aku akan menghubungi mereka dan mengatakan jika perjodohan ini dibatalkan,” Hyunsung menyuruh Kepala Pelayan Baek untuk menghubungi keluarga Sehun, sebelum ia sendiri yang menyampaikan berita tersebut.

Yoona menghela nafas lega mendengar sikap pamannya yang segera menyanggupi permintaannya. Siwan mengusap bahu Yoona dengan lembut sambil tersenyum hangat.

“Bersemangatlah,” bisik Siwan yang dibalas senyuman oleh Yoona.

//

Sehun meletakkan peralatan makannya sejenak, ketika melihat sang ayah tengah menerima telepon yang ia yakini dari keluarga Yoona. Sesekali pria itu memajukan wajahnya, berusaha mencuri dengar pembicaraan yang dilakukan sang ayah. Namun aksinya berhasil digagalkan Chaeri yang menyuruhnya untuk menunggu dengan sopan. Sehun hanya mendengus pelan sambil kembali pada posisinya semula.

KLIK!

Taekyung menyuruh Kepala Pelayan Lee untuk mengembalikan telepon ke tempat semula. Dahi Sehun berkerut ketika melihat wajah ayahnya yang terlihat menahan rasa bersalah.

“Siapa yang baru saja meneleponmu? Tuan Hyunsung?” tanya Hyejin sudah bisa menebak.

Taekyung mengangguk pelan, lalu beralih menatap Sehun, “Mereka setuju membatalkan perjodohanmu dengan Yoona. Mereka juga mengatakan tidak akan menjodohkan Yoona dengan siapapun, karena kecewa dengan sikap penolakan dari pihak calon suami yang selama ini mereka jodohkan dengan Yoona. Khususnya kau, Oh Sehun.”

“Kenapa hanya aku?” Sehun sedikit menaikkan volume suaranya, tanda bahwa ia tak terima jika hanya dirinya yang disalahkan.

“Karena hanya kau satu-satunya yang menolak secara langsung di depan Yoona. Apa kau tahu, selama ini pihak calon suami yang menolak Yoona mengatakannya secara halus melalui Tuan Hyunsung. Tidak secara terang-terangan seperti yang kau lakukan semalam. Mereka masih menghargai perasaan Yoona. Tapi kau—” Taekyung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, “Aish, aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Lakukan saja sesukamu! Kami sudah lelah mencarikan pasangan untukmu yang selalu saja berakhir kegagalan.”

“Baguslah, memang itu yang kuharapkan sejak awal,” sahut Sehun lalu bangkit berdiri dan bersiap meninggalkan ruang makan.

“Tapi … kau tetap berhutang permintaan maaf pada Yoona. Kami ingin kau pergi menemuinya dan meminta maaf atas sikap kasarmu semalam. Kau mengerti?” tanya Hyejin sukses membuat Sehun menghentikan langkahnya.

“Oh Sehun?” Taekyung menekankan nada suaranya agar terdengar lebih tegas.

Ne, arraseo,” jawab Sehun singkat lalu berjalan keluar dari ruang makan.

Hyejin menatap arah pintu ruang makan yang baru saja dilewati Sehun. Ia mendesah kasar, meluapkan emosinya dengan kembali menghabiskan segelas air minum.

“Kapan Sehun akan bersikap dewasa? Benar-benar kekanakkan,” umpat Hyejin yang disambut tawa oleh Chaeri.

“Jangan khawatir, eonni. Sehun akan segera belajar memperbaiki sikapnya,” ucap Chaeri sambil tersenyum.

“Apa maksudmu?” kerutan di dahi Hyejin sedikit terlihat.

“Apa kalian tidak lihat, bagaimana wajah Sehun saat mendengar mereka setuju membatalkan perjodohan ini? Sekalipun memang Sehun yang menginginkannya, tapi aku tidak melihat wajah senang darinya. Aku justru melihat wajah penyesalan yang bercampur rasa bersalah,” jelas Chaeri.

“Benarkah?” Hyejin tersenyum kecut, “Biarkan saja. Dia yang mengacaukan perjodohan ini, dia sendiri yang harus menanggung resikonya.”

Taekyung mengangguk setuju dengan pendapat Hyejin. Sebagai orang tua, campur tangan mereka hanya sebatas di sini. Apapun yang dilakukan Sehun dan bagaimana akibatnya, Sehun sendirilah yang harus bertanggung jawab.

//

Hari Minggu, seperti biasa dihabiskan Yoona untuk berpergian ke luar rumah. Ia akan mendatangi sebuah restoran favoritnya. Sayangnya kali ini Yoona hanya pergi diantar oleh supir pribadinya. Biasanya Siwan yang selalu menemaninya, namun pria itu harus menyelesaikan laporan terkait meeting yang dilakukannya bersama sang ayah sebelumnya.

Mobil BMW berwarna hitam yang dinaiki Yoona, berhenti di depan sebuah restoran yang berada di pusat distrik Gangnam. Restoran dengan gaya bangunan klasik khas Eropa, yang diberi nama Bon Appétit. Pemilik restoran tersebut adalah Kwon Yuri, wanita yang sudah berteman baik dengan Yoona dan Siwan sejak usia mereka masih kecil. Tak heran jika Yuri sangat mengenal baik keluarga Yoona dan Siwan, termasuk apa yang dialami Yoona hingga membuatnya kehilangan kemampuan berbicara.

“Oh, kau sudah datang,” seorang pelayan wanita yang tengah bersiap mengantarkan pesanan menghampiri Yoona begitu ia masuk ke dalam restoran.

“Bos ada di ruangannya. Dia sudah menunggumu,” ucap pelayan tersebut sebelum berlalu dari hadapan Yoona.

Yoona tersenyum hangat pada pelayan tersebut, lalu berjalan menuju ruang kerja Yuri. Sesekali ia melempar senyuman pada karyawan restoran, baik itu manager, pelayan ataupun chef yang bertugas di sana.

Tangan Yoona mengetuk pelan pintu ruang kerja Yuri sambil menunggu respon dari wanita itu.

“Masuk!” suara Yuri terdengar cukup keras dan membuat Yoona menyunggingkan bibir. Tangannya beralih menarik kenop pintu lalu mendorongnya secara perlahan. Ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

“Kau tidak mau masuk?” tanya Yuri begitu mengetahui orang yang datang adalah Yoona. Ia bisa melihat senyum hangat di wajah Yoona, seiring penampilannya yang sederhana—dengan simple dress selutut berwarna cream.

Yuri beranjak dari kursinya, kemudian berjalan menghampiri Yoona. Tiba-tiba saja Yuri langsung mendaratkan sebuah pelukan hangat untuk Yoona. Kontan saja sikapnya itu membuat Yoona menatapnya bingung.

“Aku sudah mendengar semua dari Siwan. Kau baik-baik saja?” tanya Yuri sambil mengusap wajah Yoona.

Yoona mengangguk pelan, kemudian mengeluarkan notes dari tasnya. Ia kembali menuliskan sesuatu pada notes yang berfungsi sebagai media komunikasinya dengan orang lain.

Eonni, aku ingin makan pasta. Bisakah kau memesankannya untukku?

Aigo, baru datang ke sini langsung meminta pasta?” cibir Yuri yang hanya dibalas senyuman lebar Yoona, “Tunggulah di taman. Akan kusuruh chef untuk membuatkan pasta special untukmu.”

Yoona mengangguk sebelum berjalan menuju pintu lain yang berada di ruang kerja Yuri. Pintu itu langsung terhubung dengan taman kecil yang berada di sudut restoran. Tempat itu khusus digunakan Yuri untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman atau rekan bisnis. Yoona sangat menyukai taman kecil tersebut karena suasananya yang sejuk. Taman itu juga dilengkapi meja dan kursi taman, serta kolam kecil yang minimalis dengan suara gemericik air yang membuat susana taman kian damai.

Yuri membiarkan Yoona menikmati pasta yang baru saja datang diantar oleh pelayan terlebih dahulu, sebelum mereka melakukan obrolan. Yuri menopang dagunya dengan punggung tangan, sambil mengamati ekspresi wajah Yoona yang tengah menikmati pasta tersebut.

“Bagaimana?” tanya Yuri penasaran. Sekalipun ia tahu pasta tersebut adalah makanan favorit Yoona, Yuri tetap ingin tahu pendapat Yoona tentang makanan yang ia sajikan di restorannya.

Yoona tersenyum sambil mengangkat ibu jari tangan kanannya. Yuri tertawa kecil melihat bagaimana Yoona mengekspresikan rasa pasta yang baru saja selesai disantapnya. Wanita itu kini beralih menikmati segelas ice lemon tea favoritnya. Bibir Yuri terus mengembang setiap kali mengingat kebiasaan Yoona yang selalu memesan makanan dan minuman saat mengunjunginya di restoran.

“Oh iya, kudengar pria itu adalah Oh Sehun. Pewaris tunggal dari Kingdom Group,” ujar Yuri tiba-tiba, membuat Yoona sedikit tersedak saat mendengar nama yang keluar dari mulut Yuri.

“Bagaimana bisa dia bersikap kurang ajar seperti itu? Benar-benar keterlaluan,” Yuri menggeram karena mengingat kembali cerita yang disampaikan Siwan tadi pagi.

Yoona segera menulis sesuatu pada notes-nya, lalu menyodorkannya pada Yuri.

Bukan salah Sehun sepenuhnya. Orang tuanya juga tidak memberitahukan kondisiku sejak awal pada Sehun.

Yuri menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Yoona dengan sorot mata serius.

“Tetap saja dia tidak berhak mengatakan penolakan itu secara langsung di depan semua orang, khususnya di depanmu, Yoong,” ucap Yuri tidak setuju dengan sikap Yoona yang terkesan membela Sehun, “Kau jangan membelanya.”

Yoona menggoreskan penanya dengan kasar pada notes-nya.

Aku tidak membelanya!

Yuri tertawa kecil usai membaca pesan Yoona, “Bolehkah aku bertanya sesuatu? Apa sebenarnya kau begitu menginginkan perjodohanmu dengan Sehun bisa berjalan lancar? Siwan mengatakan padaku jika semalaman kau terus menangis karena penolakan Sehun.”

Yoona meremat penanya sambil menghela nafas, sebelum kembali menuliskan pesan.

Aku hanya kecewa pada diriku sendiri, kenapa harus berakhir dalam kondisi menyedihkan seperti ini. Bisu, tidak bisa bicara, dan merepotkan semua orang. Aku merasa bersalah pada ahjussi, ahjumma, dan Siwan-oppa. Mereka harus berulang kali menghiburku yang selalu gagal dalam acara perjodohan.

Raut kesedihan seketika menyelimuti wajah Yuri. Ia tidak tahu lagi harus berkata menanggapi isi hati yang diutarkan Yoona melalui tulisan itu.

Sejujurnya aku juga kecewa pada Sehun. Tadinya, kukira dia berbeda dengan calon suami yang dipilihkan ahjussi untukku sebelumnya. Ternyata sama saja.

“Bahkan jauh lebih parah dari mereka, ‘kan?” timpal Yuri menyumbangkan pendapatnya. Yoona menyunggingkan bibirnya sambil mengangguk pelan. Ia kembali menuliskan pesan pada notes-nya.

Aku meminta ahjussi agar tidak mengatur perjodohanku lagi. Aku lebih memilih menunggu seseorang yang akan menerimaku apa adanya.

Raut wajah Yuri yang semula sedih, kini berganti menjadi raut wajah tegar. Ya, ia harus memperlihatkan raut wajah seperti itu karena Yoona sendiri berusaha tegar di hadapan semua orang. Yuri sangat kagum pada sosok Yoona yang begitu tegar menghadapi semua cobaan yang ia terima, semenjak kehilangan kedua orang tuanya dalam tragedi mengenaskan, hingga harus rela kehilangan kemampuan berbicara karena trauma yang dialaminya.

Kondisi itu sempat membuat Yoona dijauhi teman-teman sekolahnya dan sampai sekarang tidak ada yang mau berteman dengan Yoona secara tulus. Mereka hanya melihat latar belakang keluarga Yoona saja. Belum lagi beberapa pria yang sempat dijodohkan oleh Yoona. Awalnya mereka tergiur karena ingin menjadi bagian dari Empire Group, namun setelah mengetahui kondisi Yoona, mereka memilih mundur dan menolak perjodohan itu.

Yuri menggenggam erat tangan Yoona, lalu mengusapnya secara perlahan. Matanya sedikit berkaca-kaca tiap kali mengingat penderitaan yang dialami Yoona.

“Jangan pernah mengganggap dirimu merepotkan bagi orang lain. Sama sekali tidak, Yoong,” ucap Yuri sambil terisak, “Kau masih bisa mendapatkan kemampuan berbicaramu lagi. Selama kau mau mencoba dan melakukannya. Jadi, jangan pernah menyerah. Suatu saat nanti, pasti akan datang kebahagiaan terbesar yang sudah direncanakan Tuhan untukmu. Percayalah.”

Yoona mengangguk pelan dengan air mata haru yang sudah mengaliri pipinya. Yuri pun bangkit dari posisinya kemudian memberikan pelukan hangat untuk Yoona.

//

Jongin berlari keluar rumah dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat kaget bercampur panik. Ia masih tidak percaya saat beberapa menit yang lalu, Sehun menelepon dan mengatakan jika dirinya sudah berada di depan rumah Jongin.

Pandangan Jongin beralih pada sebuah mobil sport berwarna dark-silver yang sudah berhenti di depan rumahnya. Jongin mengatur nafasnya sejenak, sebelum berjalan menghampiri Sehun yang tengah bersender pada kap mobil. Sehun terlihat tampil casual dengan kemeja panjang bermotif garis warna biru, dengan bawahan jins warna hitam.

“Kenapa mendadak datang ke rumahku?” tanya Jongin dengan nafas terengah-engah. Di saat ia masih asyik tidur karena kelelahan pasca bekerja seharian kemarin, Sehun justru datang dan sukses mengganggu hari liburnya.

“Cepat pergi mandi dan ganti pakaianmu. Kita harus pergi ke suatu tempat,” ajak Sehun dengan tegas. Jari telunjuk tangannya terarah pada penampilan Jongin yang masih mengenakan kaos serta celana pendek selutut, dengan rambut yang acak-acakan.

“Ke mana?” wajah Jongin mengernyit usai mendengar ucapan Sehun.

“Sudahlah, jangan banyak tanya! Cepat pergi mandi! Aku tunggu di dalam mobil,” ucap Sehun cepat sambil masuk ke dalam mobilnya. Jongin hanya mendengus dengan kepalan tangan yang ia arahkan untuk Sehun, sebelum ia kembali masuk ke rumahnya. Dalam hati Jongin, ia mengumpat habis-habisan sikap Sehun yang sudah merusak hari liburnya.

Sehun menyalakan music player yang berada dalam mobilnya. Ia senderkan tengkuknya pada kursi mobil.

Hampir 30 menit Sehun menunggu di dalam mobil. Ia mendengus kesal lantaran Jongin tak kunjung keluar dari rumah.

“Aish, kenapa dia lama sekali?” umpat Sehun sambil memukur setir mobil.

Belum lama rasa kesal yang menghinggapinya, Jongin muncul dengan penampilan yang jauh terlihat rapi dibandingkan sebelumnya. Jongin mengenakan kemeja panjang warna abu-abu dengan bawahan jins warna biru. Jongin sengaja tidak mengancingkan kemeja tersebut sehingga memperlihatkan dalaman kaus hitam yang dikenakannya.

“Apa kau baru saja melakukan spa? Lama sekali,” sindir Sehun sambil mengerucutkan bibir.

“Masih untung aku mau pergi denganmu,” balas Jongin tak kalah sinis, “Memangnya kita mau ke mana? Apa Baekhyun dan Chanyeol juga ikut?”

“Tidak, kita hanya pergi berdua saja. Lagipula, Baekhyun masih menjenguk neneknya. Tadi aku sudah meneleponnya. Chanyeol juga belum kembali dari Busan,” jawab Sehun, “Apa kau tahu di mana tempat tinggal Yoona?”

Jongin mengerutkan dahi sambil memutar bola matanya, “Tempat tinggal Yoona? Untuk apa kau—oh iya, soal perjodohan kalian bagaimana?”

Raut wajah Sehun langsung berubah malas, “Bukankah kau sudah tahu? Tentu saja batal.”

“Kau sudah tahu ‘rahasia’ tentang Yoona yang kukatakan kemarin?” tanya Jongin penasaran dan dibalas anggukan oleh Sehun.

“Kau dan orang tuaku—bagaimana bisa kalian tidak memberitahu kondisi Yoona sejak awal? Keterlaluan,” umpat Sehun sambil menggigit bagian bawah bibirnya.

“Jadi kau langsung menolaknya?”

Sehun mengangguk, “Aku langsung menolaknya di depan Yoona dan juga keluarganya Kukatakan saja pada mereka jika aku menolak karena tidak bisa menerima kondisi Yoona.”

Jongin menoleh kaget dengan bola mata nyaris keluar, “Kau mengatakan hal itu?”

Ne, aku mengatakannya. Kenapa?” Sehun bersikap cuek seolah tidak ada raut bersalah di wajahnya.

“Aish, kau benar-benar kejam. Bagaimana bisa kau mengatakannya langsung pada Yoona?” sesal Jongin sambil mengusap wajahnya dengan kasar, “Apa kau tahu, kondisi Yoona itu bukan bawaan sejak lahir, melainkan karena trauma yang pernah dialaminya.”

Tangan Sehun yang bersiap mengganti musik seketika terhenti. Ia memilih mematikan music player yang masih menyala, demi mendengarkan penjelasan Jongin.

“Apa maksudmu?”

“Yoona menjadi bisu karena trauma yang pernah dialaminya. Kau masih ingat, aku pernah bercerita jika orang tua Yoona meninggal karena peristiwa perampokan di kediamannya. Dia melihat sendiri bagaimana orang tuanya tewas di tangan perampok itu. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan Yoona yang waktu itu berusia 10 tahun? Ia begitu shock dan tidak mengatakan apapun, hingga akhirnya ia kehilangan kemampuan berbicaranya,” jawab Jongin panjang lebar.

Penjelasan yang diberikan Jongin berhasil membuat Sehun bungkam. Tidak ada lagi raut cuek yang terlihat di wajah Sehun, melainkan raut penyesalan.

“Jadi, maksudmu dia masih bisa berbicara lagi?”

Jongin mengangguk, “Jika dia mau mencoba dan menghilangkan rasa traumanya itu, kurasa dia bisa mendapatkan kembali kemampuan berbicaranya. Mungkin, itu menjadi salah satu alasan kenapa pamannya berulang kali mengatur perjodohan untuknya. Menurutku, pamannya ingin agar Yoona bisa menemukan pria yang bisa memberikan kebahagiaan untuk Yoona. Kau tahu apa yang disebut kekuatan cinta, ‘kan? Cinta bisa mengubah apa yang tadinya mustahil menjadi kenyataan.”

Dahi Jongin sedikit berkerut ketika ia hanya mendengar desahan nafas dari Sehun. Jelas reaksi yang tidak pernah diduga olehnya, karena Sehun tampak lesu dan tidak bersemangat. Sangat berbeda ketika ia pertama kali tiba di rumahnya beberapa waktu yang lalu.

“Kenapa? Kau menyesal sudah menolak perjodohan itu?” goda Jongin.

“Tidak. Aku hanya berhutang permintaan maaf padanya,” jawab Sehun cepat hingga membuat Jongin kesulitan mencernanya, “Itu yang dikatakan orang tuaku.”

Jongin hanya tersenyum remeh sambil memasang seat belt di tubuhnya.

“Ya sudah, jika kau ingin menemui Yoona untuk menyampaikan permintaan maafmu, aku tahu di mana dia sekarang. Hari Minggu seperti ini, dia tidak ada di rumahnya,” lanjut Jongin.

Sehun memicingkan matanya ke arah Jongin, “Apakah ada hal yang tidak kau ketahui tentang Yoona?”

Jongin menahan tawanya saat mendengar nada protes dari Sehun. Ia tidak membalasnya dan hanya menyuruh Sehun segera mengemudikan mobil, ke tempat di mana Yoona berada.

//

Mobil yang dikemudikan Sehun berhenti di tempat belanja kawasan Cheongdam, yang dikenal dengan sebutan Cheongdam-dong Street of Luxury Good. Semua mata langsung tertuju pada keduanya ketika keluar dari mobil. Wanita mana yang tidak tertarik pada mereka, saat melihat sebuah mobil sport mewah yang dinaiki oleh dua pria berparas tampan.

“Kau yakin dia ada di sini?” tanya Sehun lebih fokus pada tujuan awalnya datang ke lokasi keramaian itu. Ia abaikan pandangan beberapa wanita yang langsung tebar pesona kepadanya dan juga Jongin.

“Aku yakin, kajja,” Jongin mengajak Sehun menuju arah supermarket yang lokasinya tidak jauh dari posisi mereka. Baru beberapa melangkah menjauhi mobil Sehun yang terparkir di tepi jalan, keduanya sudah berhasil melihat seseorang yang tengah mereka cari.

Sehun dan Jongin melihat Yoona tengah berjalan seorang diri dengan kantung belanja di tangan kanan. Sepertinya kantung belanja tersebut sangat berat, terlihat dari raut wajah Yoona yang begitu kesulitan saat membawanya. Sehun berjalan setengah berlari menghampiri Yoona, membuat Jongin sedikit tertinggal di belakangnya.

Yoona yang tidak menyadari kehadiran dua pria itu, terus berjalan dengan arah pandangan yang tertuju pada jalan. Langkahnya terhenti ketika bola matanya menangkap sepasang kaki tepat di depannya. Yoona mengangkat kepalanya cepat. Ia mendapati Sehun sudah berdiri di depannya dengan raut wajah datar. Pertemuan tiba-tiba dengan pria itu, membuat Yoona kebingungan. Ia tidak tahu harus berbuat apa, selain hanya berdiri mematung di hadapan pria itu. Namun sosok pria lain yang datang bersama Sehun, berhasil menarik perhatian Yoona.

“Kau masih mengingatku?” kalimat pertama yang keluar dari Jongin membuat Sehun menoleh tajam padanya.

Yoona menatap ke arah langit yang begitu cerah. Pikirannya menerawang, mencoba mengenali Jongin yang baru saja menyapanya. Sedetik kemudian, mulutnya sedikit menganga ketika ia berhasil mengingat sesuatu. Tangannya dengan cepat menuliskan pesan pada notes, yang tentunya membuat Sehun sedikit mengernyit dengan tindakannya.

Kau Kim Jongin? Putra dari pengacara Kim Jaeha?

“Kau memiliki ingatan yang bagus,” Jongin tersenyum lebar sambil memamerkan giginya yang rapi, “Lama tidak bertemu.”

Dehaman pelan Sehun agaknya berhasil mengalihkan perhatian Yoona dan Jongin. Keduanya menoleh kompak pada Sehun yang terlihat kesal karena diabaikan. Jongin menyikut lengan Sehun agar pria itu menoleh pada Yoona. Sehun langsung terdiam begitu menyadari Yoona sudah menatapnya. Sehun sedikit tertegun ketika melihat sorot mata Yoona yang berbeda setelah pertemuan keduanya dengan wanita itu. Jika sebelumnya Yoona terlihat ramah dengan menghadiahi sorot mata penuh kehangatan, sekarang Yoona terlihat lebih cuek.

“Cepat katakan sesuatu! Kau mau membuatnya menunggu berapa lama?” bisik Jongin dengan perasaan tidak enak terhadap Yoona.

Sehun berubah kikuk ketika Yoona kembali menatapnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Seperti seseorang yang kebingungan untuk memulai obrolan.

“Ada yang ingin kukatakan padamu,” lanjut Sehun akhirnya bersuara.

Dahi Yoona berkerut, ia kembali menuliskan pesan yang segera ia tunjukkan pada Sehun.

Soal perjodohan? Bukankah sudah dibatalkan seperti permintaanmu?

“Aku tahu itu!” Sehun sedikit berteriak karena kesal dengan tulisan Yoona. Ia tidak tahu kenapa setiap kali membahas pembatalan perjodohannya dengan wanita itu membuat emosinya terpancing.

“Orang tuaku menyuruhku untuk meminta maaf padamu,” jawab Sehun kemudian, “Kata mereka aku berhutang permintaan maaf padamu.”

Jongin melongo mendengar ucapan Sehun yang terkesan tidak tulus dengan permintaan maafnya. Ia beralih menatap Yoona yang terlihat kecewa dengan sikap Sehun. Wanita itu menuliskan pesan dengan kasar pada notes-nya.

Baiklah, kuanggap hutang permintaan maafmu sudah lunas. Kau boleh pergi.

Sehun tercengang dengan isi pesan yang ditulis Yoona. Bibirnya terasa kelu hingga membuatnya sulit berbicara. Sementara Jongin terkikik geli di sebelahnya. Ia tidak heran dengan reaksi Yoona, karena sejak awal Sehun memang terkesan tidak tulus meminta maaf.

Yoona mengangkat kantung belanja miliknya, bersiap pergi meninggalkan Sehun dan Jongin. Saat ia baru beberapa langkah melewati Sehun, tiba-tiba saja tangan Sehun mencengkeram lengan Yoona hingga membuat tubuhnya sedikit terhuyung.

SRAK!

Kantung belanja Yoona tanpa sengaja terlepas dari tangannya, berkat ulah Sehun yang tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan cukup kuat. Gurat kekesalan tergambar jelas di wajah cantik Yoona. Ia segera memunguti beberapa barang yang tercecer keluar dari kantung belanja itu, dengan posisi tubuh yang sedikit berjongkok.

Sehun menutupi wajahnya yang terlihat kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri yang kembali bersikap buruk pada Yoona, sekalipun itu tidak disengaja. Perlahan Sehun memposisikan dirinya seperti Yoona. Ia berniat memunguti beberapa barang belanjaan Yoona yang tercecer. Namun tanpa diduga, Yoona langsung menepis tangan Sehun hingga membuat pria itu menatapnya kaget.

“Kau—” Sehun menghentikan kalimatnya ketika melihat gurat kemarahan di wajah Yoona. Tidak hanya itu, ia bisa melihat kekecewaan dari bola mata Yoona. Sorot mata Yoona yang menatapnya seperti itu, membuat dada Sehun terasa sesak. Bukannya berkurang, rasa bersalah itu justru kian membebaninya.

Jongin yang sedari tadi mengamati interaksi antara Sehun dan Yoona, tidak bisa berkomentar banyak. Ia tidak mau ikut campur dengan urusan kedua insan itu. Tapi ia sangat menyayangkan sikap Sehun yang terkesan kasar pada Yoona. Seharusnya Sehun meminta maaf dengan tulus, bukan karena disuruh oleh orang tuanya. Sekarang ia justru menambah kebencian Yoona karena membuat lengannya sakit dan kantung belanjanya yang terjatuh.

//

Juhwan sedang dalam perjalanan menuju kediaman Hyunsung. Sejak beberapa hari yang lalu, Juhwan memang sudah berencana untuk mengunjungi kediaman pamannya. Selain untuk menanyakan kabar mereka, Juhwan ingin tahu bagaimana hasil perjodohan yang diatur pamannya untuk Yoona dan Sehun. Apakah berjalan lancar? Atau justru berakhir sama seperti perjodohan sebelumnya?

Juhwan memasang earphone, kemudian menghubungi Siwan melalui ponselnya.

Yeoboseyo,” Juhwan bisa mendengar suara Siwan yang terdengar berat. Sepertinya Siwan sedikit kelelahan dan Juhwan tidak tahu apa penyebabnya.

“Kau di rumah, ‘kan? Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu,” ucap Juhwan.

Ne, hyung. Aku sedang menyelesaikan laporan meeting yang kuikuti kemarin. Tapi, di sini hanya ada aku dan beberapa pelayan di rumah. Orang tuaku sedang pergi ke Daegu,” jawab Siwan yang membuat kerutan di dahi Juhwan.

“Yoona?”

Yoona sedang pergi mengunjungi restoran Yuri. Mungkin sekarang dia berada di tempat belanja kawasan Cheongdam. Kau tahu maksudku, ‘kan? Tempat favoritnya,” lanjut Siwan sambil tertawa.

“Baiklah, biar aku menjemput Yoona dulu sebelum datang ke rumahmu,” sahut Juhwan, “Oh iya, bagaimana acara perjodohannya dengan pewaris tunggal Kingdom Group? Apakah berjalan lancar?”

Juhwan sedikit tertegun ketika mendengar desahan nafas dari Siwan. Firasatnya tidak enak. Sepertinya terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dengan perjodohan tersebut.

Sama seperti sebelumnya, batal. Tapi sikap calon suaminya kali ini adalah yang terburuk. Dia mengatakannya secara langsung di depan Yoona, tanpa melalui ayahku terlebih dahulu. Dia bahkan juga meninggalkan acara makan malam itu sebelum benar-benar berakhir,” nada suara Siwan menyiratkan kemarahan hingga Juhwan bisa merasakannya.

“Aku mengerti. Sampai bertemu nanti,” Juhwan memutus obrolannya lalu melepas earphone yang terpasang di telinga kanannya. Desahan nafas keluar dari sela-sela bibirnya. Ia mengusap pelipisnya yang sedikit berkeringat. Sungguh, Juhwan ikut prihatin dengan apa yang dialami Yoona. Sama seperti Siwan yang sudah menganggap Yoona seperti adik kandungnya sendiri, Juhwan pun demikian. Ia teringat pesan mendiang kakeknya yang menyuruhnya untuk selalu menjaga saudara sepupunya, khususnya Yoona. Kadang ada beberapa pesan mendiang kakeknya yang membuat Juhwan masih bingung hingga sekarang.

Jaga Yoona seperti adikmu sendiri. Di masa depan nanti, dia akan mengalami berbagai kesulitan dalam hidupnya. Jaga dan lindungi Yoona. Haraeboji percaya padamu, Juhwan.

Pesan itu disampaikan mendiang kakeknya sebelum meninggal, beberapa bulan setelah kematian orang tua Yoona.

“Apakah ini yang dimaksud ucapan harabeoji waktu itu?” gumam Juhwan sambil mengerutkan dahinya. Pesan yang misterius, namun sarat akan makna. Ia merasa jika mendiang kakeknya sudah bisa menebak bagaimana kehidupan Yoona selanjutnya setelah kematian orang tuanya.

Di sisi lain, Juhwan teringat ucapan sang ayah yang selalu menekannya. Setiap kali Juhwan ingin memberikan perhatiannya pada Yoona, saat itu pula sang ayah kembali mengucapkan kata-kata yang membuat hatinya goyah.

Kau tidak boleh melupakannya, Juhwan. Apa yang sudah Yoona lakukan di masa lalu, kau tidak boleh melupakannya.

Setiap kali mengingatnya, tubuh Juhwan selalu gemetar hebat. Sekelebat memori di masa lalunya akan muncul, di mana ia melihat Yoona kecil yang menangis keras di depan jasad wanita yang terbujur kaku dengan tubuh bersimbah darah.

“Aku merindukanmu, eomma ….,”

//

“Kuantar kau pulang ….,”

Kalimat yang keluar dari Sehun itu membuat Yoona tercengang. Ia dibuat bingung oleh sikap Sehun yang berubah-ubah. Sikap kasar Sehun semalam masih membekas dalam ingatan Yoona. Belum lagi ucapan permintaan maaf Sehun yang terkesan tidak tulus beberapa waktu lalu, ditambah cengkeraman tangan Sehun yang begitu kuat hingga membuat lengan Yoona kesakitan dan kantung belanjanya terjatuh di jalan. Sekarang Sehun tiba-tiba menawarinya untuk mengantar pulang. Satu hal yang berbeda, tawaran Sehun kali ini terdengar lembut dan tulus. Yoona bisa merasakannya dari sorot mata Sehun yang begitu teduh dan hangat.

Tidak, terima kasih. Aku akan pulang bersama supir pribadiku.

Sehun harus menelan kekecewaaan karena mendapat penolakan dari Yoona. Wajahnya sedikit murung, bahkan ia sampai menundukkan kepalanya dan memilih menatap sepasang sepatu yang ia kenakan.

Jongin heran dengan sikap Sehun yang ia lihat hari ini. Bukankah pria itu sudah menolak perjodohannya dengan Yoona? Tapi, kenapa Sehun justru bersikap peduli pada wanita yang ditolaknya semalam?

“Maafkan aku,” Sehun kembali bersuara saat Yoona sudah beberapa langkah di depannya. Langkah Yoona pun terhenti untuk beberapa detik, sebelum ia kembali berjalan meninggalkan Sehun dan Jongin.

“Aku bilang aku minta maaf,” Sehun mengulang kembali ucapannya dengan nada lebih lembut, namun tetap terdengar keras.

Yoona menoleh pada Sehun dengan raut wajah bingung. Ia heran dengan sikap Sehun. Pria itu memang pria pertama yang menolaknya secara langsung dalam acara perjodohan. Biasanya, Yoona mendapat penolakan secara halus melalui pamannya. Di sisi lain, Sehun juga menjadi pria pertama yang meminta maaf padanya secara langsung. Para pria yang sempat dijodohkan dengan Yoona sebelum Sehun, mereka tidak pernah menemui Yoona seperti ini. Begitu perjodohan itu batal, mereka seperti hilang kontak dan tidak bertemu lagi dengannya.

Tapi, Sehun berbeda. Setelah mendengar fakta yang sebenarnya dari Jongin, Sehun tidak menduga jika ada dorongan yang begitu kuat dalam dirinya, yang membuatnya ingin bertemu kembali dengan Yoona. Bahkan ingin mengenal lebih sosok wanita itu.

Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak mau membahasnya lagi.

Pesan yang ditulis Yoona membuat Sehun kecewa. Itu bukan kata-kata yang Sehun harapkan dari Yoona. ‘Ya, aku memaafkanmu’. Paling tidak Sehun bisa melihatnya dari pesan yang ditulis Yoona untuknya.

Yoona memutar tubuhnya kembali membelakangi Sehun. Sepertinya ia sudah bersiap untuk pergi dari hadapan Sehun dan Jongin.

SET!

Tiba-tiba Sehun menarik tangan Yoona sebelum wanita itu pergi. Tangan kekarnya melingkar di pinggang Yoona. Ia menarik tubuh Yoona ke dalam dekapannya. Untuk sekian detik, Sehun terdiam karena berusaha merasakan debaran jantung Yoona. Ia ingin tahu, bagaimana reaksi wanita itu saat berada dalam pelukannya seperti sekarang.

Sialnya, Sehun justru mendapati kenyataan bahwa jantungnya yang berdebar tidak karuan. Ia tidak sadar jika dirinya sendiri yang larut dalam pelukan yang sengaja dibuatnya.

Secepat kilat Yoona mendorong tubuh Sehun agar pelukan itu terlepas. Sorot matanya terlihat tidak suka dengan apa yang baru saja dilakukan Sehun. Lebih dari itu, ia bahkan enggan melihat wajah Sehun dalam kurun waktu lama. Padahal Sehun sendiri tidak pernah melepaskan pandangannya dari Yoona, walau hanya sedetik.

“Yoona?”

Sebuah suara menginterupsi keadaan canggung antara Sehun dan Yoona. Jongin yang berdiri di belakang Sehun, lebih dulu menangkap sosok pria yang berjalan mendekati mereka. Yoona menoleh ke arah pandangan Jongin. Wanita itu membulatkan matanya ketika mengenali sosok pria yang berjalan menghampirinya.

“Dia siapa?” tanya Sehun setengah berbisik pada Jongin.

“Im Juhwan, kakak sepupu Yoona yang tertua. Cucu pertama dari Im Haryong yang sudah ditetapkan sebagai pewaris Empire Group selanjutnya,” jawab Jongin. Pandangan matanya kembali pada Juhwan yang sudah berdiri di sebelah Yoona.

Juhwan mengerutkan dahi ketika mendapati Yoona tengah bersama dua pria. Matanya melirik Jongin yang sedang melempar senyum untuknya. Setelah berhasil mengenali pria tersebut, Juhwan pun membalas dengan hal serupa.

“Kau putra pengacara Kim Jaeha, ‘kan? Lama tidak bertemu,” sapa Juhwan.

Jongin mengangguk, “Ne, hyung. Senang bisa bertemu lagi denganmu.”

Sehun menatap datar ke arah Juhwan yang terlihat menyipitkan matanya. Ia menyadari reaksi Juhwan itu ditujukan padanya.

“Dia temanku, hyung. Oh Sehun,” lanjut Jongin sebelum Juhwan melempari pertanyaan.

“Jadi kau pewaris tunggal dari Kingdom Group itu?” Juhwan tersenyum sinis lalu melirik Yoona yang sedari tadi memandanginya, “Apa yang sedang kau lakukan bersama Yoona?”

Sehun bereaksi santai ketika melihat sorot mata tajam dari Juhwan, “Aku … hanya ingin mengatakan sesuatu padanya.”

“Benarkah? Apa urusan kalian sudah selesai?” tanya Juhwan kepada Yoona. Wanita itu mengangguk yakin dan mengisyaratkan padanya untuk segera pergi dari hadapan Sehun dan Jongin.

“Kau pulang bersamaku, biar aku yang mengatakannya pada supir pribadimu,” ucap Juhwan kemudian yang sempat membuat Yoona sedikit kaget. Namun ia hanya menuruti saja ucapan kakak sepupunya tersebut.

Juhwan meraih kantung belanja yang dibawa Yoona. Sebelum pergi, Juhwan menyampaikan sesuatu pada Sehun.

“Perjodohan kalian sudah batal, ‘kan? Kuharap kau tidak menemui Yoona lagi,” ucapnya dengan nada dingin.

Tangan Sehun mengepal ketika melihat senyum sinis yang lagi-lagi diperlihatkan Juhwan untuknya. Ia tidak percaya dengan perlakuan dua kakak sepupu Yoona. Sebelumnya ia mendapatkan hal serupa dari Siwan semalam, sekarang ia juga mendapatkan peringatan dari Juhwan.

Pandangan Sehun beralih pada Yoona yang berjalan di sebelah Juhwan. Ia berhasil menangkap gelagat Yoona yang sesekali meliriknya. Sehun bisa merasakan dadanya yang semakin sesak melihat Juhwan memberikan perhatian kepada Yoona.

“Mau sampai berapa lama kau berdiri seperti itu? Sebaiknya kita segera pulang,” ucap Jongin tapi tidak mendapat respon dari Sehun.

“Hei, Oh Sehun!” Jongin menepuk Sehun yang masih memandang lurus ke arah yang baru saja dilalui Yoona dan Juhwan. Tetap saja, Sehun tidak menunjukkan reaksi hingga membuatnya tampak seperti robot mainan yang kehabisan daya baterai. Jongin hanya menggelengkan kepalanya melihat kondisi yang dialami sahabatnya itu. Dengan melihat sorot mata Sehun ketika berinteraksi dengan Yoona, Jongin bisa menebak jika Sehun mulai tertarik pada Yoona. Sudah pasti sahabatnya itu menyesal karena telah menolak perjodohannya dengan wanita itu.

//

Incheon International Airport

Pesawat dengan penerbangan dari New York telah mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Incheon. Pintu kedatangan bandara langsung dipenuhi para penumpang yang baru saja keluar dari pesawat. Di antar mereka, terlihat sosok pria yang berjalan tegap dengan jaket tipis yang ia kenakan, serta bawahan jins berwarna hitam. Tak lupa kacamata hitam melekat di wajahnya.

Pria itu baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai seorang psikolog, yaitu menjadi volunteer selama 3 tahun dengan membantu anak-anak berkebutuhan khusus (penyandang difable). Sambil mendorong kereta barang miliknya, pria itu mengeluarkan ponsel dan bersiap menghubungi seseorang.

Yeoboseyo,” suara seorang wanita yang terdengar di telinganya, membuat kedua sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan senyum.

Eomma, aku sudah kembali. Sekarang aku berada di bandara Incheon,” jawabnya sambil tersenyum, terlebih ketika mendengar teriakan kaget dari lawan bicaranya.

Benarkah? Kenapa kau tidak memberitahu eomma sebelumnya?” tanya wanita yang dipanggilnya dengan sebutan eomma itu.

Ia kembali tersenyum, “Aku sengaja tidak memberitahu sebelumnya, untuk memberi kejutan pada eomma.”

Baiklah, eomma akan memasakkan makanan kesukaanmu.”

“Ah, sebelum itu, aku akan mampir ke suatu tempat,” jawabnya dengan raut wajah antusias, seperti tidak sabar untuk segera pergi ke tempat yang dimaksud itu, “Ne, aku ingin menemui seseorang. Seseorang yang sudah lama aku rindukan, eomma.”

Setelah puas berbicara dengan sang ibu, pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia berjalan keluar dari bandara hingga melihat beberapa taksi yang sudah berjejer rapi di area luar bandara. Ia memilih salah satu taksi yang ingin dinaikinya. Supir taksi itu tampak cekatan membantunya memasukkan beberapa barang ke dalam bagasi. Usai memberitahu alamat tempat yang ia kehendaki, pria itu masuk ke dalam taksi.

Selama perjalanan, pandangannya terus tertuju pada layar ponsel yang ia keluarkan lagi dari saku celananya. Sebuah foto yang memperlihatkan dirinya, bersama seorang pria dan wanita membuatnya tersenyum simpul. Ujung jarinya menyentuh sosok wanita yang tengah tersenyum dalam foto tersebut.

“Bagaimana kabarmu, Im Yoona?”

­­-TO BE CONTINUED-

A/N : Pada bisa nebak, kira-kira scene terakhir itu tokoh siapa yang muncul? Once again, big thanks for all readers❤

133 thoughts on “Immortal Memory [2]

  1. Haha Sehun nyesel tuh :3 sehun mudah emosi,,trus sifatny cpat berubah smpai yoona ajh bingung -_- itu yg terakhir diantara ji chang wook sm kim woo bin.. Gx mngkin baekyeol because dia tman sehun..
    Keep Writing thor ^^

  2. Duh,puas banget ma chap nie,biar tahu rasanya sakit hati tu hunPpa . .
    Brharap ji chang wook yg muncul biar tambah panas . .
    Haha
    smirk . .

  3. Seru.. Seru..

    Hahaha thehun, thehun, pasti kamu nyesel pan udah nolak perjdohan ini wkwkwk
    kasian :p :v

    tapi ngomong2 perasaan bnyak bgt kata2 dahi mengkerut?/ kerutan dahi?/ apalah pkok2-nya itu hahaha :v *Plaakk wkwk

  4. rasain lo hun, salah siapa cewek secantik yoona ditolak-_- masalah bisu kan masih bisa disembuhin, makanya jgn kasar wuuu *emosi* itu ji changwook kan ya? xD

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s