(Freelance) Can You Turn Back (Luhan Version)

10872638_1603773529851230_1940642520_n

Can’t You Turn Back? [Luhan’s Version]

By FLYers

***

Casts

Xi Luhan | Im YoonA

Genre

Romance-Fluff-Sad

Rating

15+

Haii, aku bawa Can’t you turn back Luhan ver.nih. hehehe, ini boleh di bilang lanjutan dari Yoona ver. Jadi di saranin buat baca yang Yoon dulu biar entar gk bingung pas baca yang ini. ^^ karena mungkin ada bebrapa hal yang Cuma di jelasin di Yoon ver. okey

Happy Reading !!! ^^

***

 

            Sebelumnya aku tak pernah merasakan apa itu sakit hati, tak pernah berfikir bagaimana rasa dari dua kata yang sering diungkapkan para remaja itu. Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya. Aku tak pernah memikirkan itu semua. Tak pernah hingga kisah ini mengahancurkan segalanya –hingga sisi terbodoh dari diriku menampakkan wujudnya.

Aku tak pernah sekalipun membayangkan sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu aku hanyalah lelaki bejat yang tak punya perasaan, egois dan tak berpikir panjang. Tapi apakah penyesalan ini datangnya terlambat? Begitukah?

.

.

.

“Kau bahagia bersamanya?” aku berucap pelan padamu yang kini tengah menatap cahaya kota –berdiri tegak dengan tangan yang menyapu dinding pembatas atap gedung. Tempat yang menjadi saksi perpisahan kita setahun yang lalu, perpisahan yang terjadi akibat kebodohanku.

Kau mengangkat wajahmu, mengeratkan mantel putih tebal yang kau kenakan. Sejenak kau menatapku yang berdiri tak jauh darimu sebelum mengalihkannya pada bulir-bulir salju yang bertaburan dari langit malam ini.

Aku membalikkan tubuhku dari posisi awal dan menyandarkan punggungku pada dinding. Kau tak lekas bersuara hingga helaan nafas berat darimu terdengar.

“Pentingkah untuk kau ketahui? Setelah semua yang terjadi?” seterlambat itukah diriku? dapat kurasakan kini hatiku mengeram sakit, memberi refleksi pada tubuhku dengan kepalan tangan yang menahan perih di sana.

Kau menatapku dengan mata memerah menahan cairan hangat yang ku duga akan tumpah sebentar lagi. Kau kembali menunduk, membiarkan surai kecoklatanmu menari bersama angin malam yang kian menusuk kulit.

“Maafkan aku” cukup lama hingga akhirnya aku membuka mulut. Dan dengan segenap keberanian, aku melangkah mendekatimu yang tak kunjung memberi balasan. Pelan aku membalikkan tubuhmu, menggenggam kedua pundakmu dan menatap sorot matamu yang menampakkan keterkejutan.

“Im Yoona, kau mendengarku?” lagi-lagi kau tak menjawab, lebih memilih mengalihkan pandangan. Aku menunduk dan mendapati ujung sepatu yang kukenakan bersentuhan dengan heels milikmu –heels yang menampakkan punggung kakimu dan cukup ekstrim untuk kulit di cuaca sedingin ini.

“Kau akan kedinginan jika menggunakan heels seperti ini” aku melirik ke arah sekitar. Sunyi, keadaan yang sama seperti saat itu –bahkan dentuman music dari bar di lantai bawah tak terdengar.

“Jika aku kedinginan apa pedulimu? Bahkan ketika aku serasa ingin mati karenamu, kau tak peduli” aku menutup mata pelan –berusaha menyamarkan perih di hatiku. Aku lelaki dan aku tak boleh menangis –mungkin seperti itu diriku.

“Maafkan aku” lagi. Hanya kalimat itu yang mampu terucap. Aku merutuki diriku sendiri saat ini. Sebelumnya aku tak pernah lemah di hadapan wanita, tapi kali ini?

Im YoonA, kau benar-benar hebat!

“Maafkan aku. Saat itu aku masih terlalu bodoh untuk menentukan jalanku sendiri hingga obsesi mengantarku melangkah pada jalur yang salah. Aku tak mencintainya dan iapun sebaliknya. Kami hanya terlalu bodoh untuk menerka perasaan cinta yang sebenarnya tak pernah ada di antara kami” detik itu juga suara isak tangismu serasa memecah kesunyian di pekatnya malam. Membuat jemariku dengan sendirnya mengelus suraimu –hal yang kurindukan setahun terakhir ini.

“Maaf untuk segalanya. Untuk persahabatan kalian yang hancur. Untuk sakit yang kau rasa dan untuk kisah kita yang tak lagi sama” ku rengkuh kedua belah pipimu, memaksa iris madu itu fokus terhadap diriku yang mungkin tak pernah kau inginkan untuk berada di hadapanmu lagi.

Mungkin aku memang lelaki bejat yang tanpa rasa malu mengusap aliran bersuhu hangat itu dari kulit putihmu yang terlihat suram saat ini.

Tak ada respon, tak ada yang terjadi. Kau hanya mematung di tempat, menatapku sendu dengan bibir bawah yang bergetar. Kedua telapak tanganku masih di tempatnya –di pipimu yang dulunya tirus namun kini terlihat lebih chubby, menjawab pertanyaan awalku padamu malam ini. Ku rasa kau banyak tertawa dan itu berarti kau bahagia bersamanya.

Namun satu hal, mata rusamu tak pernah berubah. Masih memancarkan keindahan yang sama –bahkan mengalahkan indahnya salju putih yang menemani.

Aku tak tahu apa yang terjadi, dan aku tak sadar dengan apa yang kulakukan. Yang kutahu tubuhku bergetar hebat saat bibirku menyapu lembut bibir milikmu. Aku tak menyadari sejak kapan ini di mulai, namun kau menutup mata. Tak memberi penolakan atas tindakanku membuatku makin lepas kontrol. Aku menginginkanmu, itu yang ku rasakan. Naluri memaksaku, melumat bibir mungil itu lebih dalam –tangan kananku bahkan menarik tengkukmu lebih dekat, memaksa ciuman ini tak lekas berakhir. Sedang yang kiri memeluk punggungmu merasakan kedua lengan yang masih bergantung bebas di ke dua sisi tubuhmu.

Malam kian menghangat ketika permainan ini semakin panas. Aku tak peduli dengan fakta bahwa kini kau bukan milikku. Aku ingin melupakan fakta bahwa kini kau telah berada di genggaman lelaki lain. Kau hanya milikku sekalipun alam menolaknya!

Namun ketika lenganmu dengan kuat mendorong dadaku, aku kembali harus menelan pil pahit. Nyatanya aku harus menerima realita yang ada, aku bukanlah pangeran yang hidup di negeri dongeng dengan kesempurnaan ‘Happy Ending’.

“Maaf” aku menunduk. Membiarkan nafasmu yang terengah-engah terdengar nyata di telingaku.

“Sudah terlambat Xi Luhan” kau bergumam pelan di antara derai kabut kepedihan yang menyelimuti. Menggeser sedikit posisiku dan melangkah pergi meninggalkanku.

Sebut aku egois karena masih menginginkanmu yang telah ku sakiti.

Sebut aku gila karena masih terus mengharapkanmu yang telah menemukan kebahagiaan.

Dan sebut aku bodoh yang kini berbalik menahanmu, menarik pergelangan tangan kirimu hingga kau terjatuh dalam pelukanku yang terasa posesif bagi diriku sendiri.

“Kumohon, berbaliklah pada kenangan di mana aku masih mengisi seluruh sekat di hatimu. Berbaliklah pada kenangan di mana kau dan aku adalah satu. Berbaliklah padaku. Kembali, kumohon” mataku memanas seiring dengan setitik kristal bening mengalir di pipi kananku. Masa bodoh dengan aku yang seorang lelaki –aku tak peduli lagi. Aku tak peduli selama kau dapat berbalik dan kembali pada kebahagiaan kita yang dulu.

“Terlambat Xi Luhan” kau mendorongku hingga kedua lenganku hanya mampu bergelantungan di sisi tubuhku.

“Aku bahagia bersamanya, jadi jangan menggangguku lagi” kau melangkah lagi, dan dapat kulihat keyakinan dalam setiap langkah kakimu yang bergetar dalam dinginnya malam.

1 langkah…

2 langkah…

3 langkah…

Kau semakin jauh dariku, tak memberiku sedikitpun peluang untuk menggapaimu yang kini hanya sebagai fatamorgana dalam kisahku.

4 langkah…

5 langkah…

Dadaku sesak seakan pasokan oksigen menghilang bersama langkahmu yang kian menjauh. Berbaliklah kumohon…

“Im Yoona , aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini!” aku berteriak menyuarakan refleksi dari otakku. Dalam penglihatan yang buram akibat genangan air mata, aku masih dapat menyaksikan kau yang menghentikan langkah.

Helaan nafas panjang dan begitu berat darimu memberiku firasat yang semakin tak karuan.

“Andai kau mengatakannya setahun yang lalu” aku tertohok. Diam di tempat tak mampu berucap. Ya, seandainya aku mengatakannya setahun yang lalu, dalam hati aku membenarkan.

“Maaf untuk ini, tapi… harus kuakui rasa cinta itu masih ada untukmu, dan mungkin akan terus ada. Hanya saja aku tak bisa untuk terus berbalik menatap masa lalu dan memberi punggungku pada masa depan yang telah membuka gerbang cahayanya. Aku harus melangkah ke depan, tidak untuk ke belakang di mana kenangan menyakitkan yang kau ukir masih tetap menyisakan luka. Aku tahu aku jahat jika mengatakan ini. Tapi jika kau mampu, megapa aku tidak?” masih dalam posisimu yang membelakangiku kau menggantungkan kalimat panjang yang serasa mengoyak dasar hatiku.

“Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintainya. Maaf!” lanjutmu yang seketika menggoyangkan saraf di otakku, hingga denyutan sakit terasa begitu jelas di sana.

Kalimat itu persis seperti apa yang ku katakan padamu saat itu. seperti inikah sakit yang kau dera di saat kalimat yang sama kutujukan padamu dulu? Sakit, bahkan tambahan kata ‘sangat’ takkan cukup mendeskripsikan luka yang kini telah tersobek lebih dalam lagi.

Dalam sekejap punggungmu tak lagi nampak ketika pintu atap gedung telah tertutup. Udara kian mendingin seakan menertawai penyesalan akan kebodohanku.

“Can’t you turn back, please?” Bodoh! Aku masih saja mengharapkannya.

 

==FIN==

18 thoughts on “(Freelance) Can You Turn Back (Luhan Version)

  1. Walau ini trblg sad ending, but its okey. Aku snang akhrx Luhan raskn ap yg d’rasakn yoona. Luhan oppa telat nyadarnya😀
    keren, aku suka!

  2. Kasian akhirnya Luhan rasain apa yg d rasain yoona ,, setuju deh buat yoona eonnie pertamanya sih agak lupa sama jalan ceritanya tp pas d baca jd inget ff nya sumpah bagus banget lho.. Lanjutin dong ff kayak gini ^^
    Keep writing thor~

  3. kitati bacanya hiks :”
    bikin sequelnya dong thor tapi yg happy ending kkkk
    ditunggu ff mu yg lain ya thor
    fighting ^^

  4. Reaksi selalu lebih dari aksi ..
    Rasain tuhh,, sakit kan digituin sma orang yang kita cintai.. and skarang cinta Luhan bertepuk sblah tangan … Poor my Baby Luu !!! :* … Dtunggu karya slnjutnya thor !!

  5. Yeaaah ini nih yang ditnggu keren! . .rasain tuh luhan. .akhirnyaaa kamu tau juga gmana rasa sakitnya ditnggal,dan dicampak’an. . .
    Gak ada sequel gak papa. . .lbh suka bgni:D

  6. itu jauh lebih baik. kemabali kemasa laly hanya akan mengulang kesalahan yg sama. apa yg sudah ada didepan, relakah kita utk melepasnya demi masa lalu yg trus menyakitinya??

    ahh, sukaa ff nyaa

  7. Setelah mengingat masa lalu dan dengan mudahnya Luhan bilang ‘menyesal’ ? Hell, kemana aja lu bang kemarin saat lu bilang ‘aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintainya.’ ck!
    Aku setujuu dengan keputusan Yoongie :))
    Ditunggu next storynya thor..
    Fighting!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s