(Freelance) Oneshot : Memories

yona

“Memories”

Author                  : Chobi
Tittle                     : Memories
Cast                       : Kim Jongin,
Im Yoon Ah

Support cast       : Im Seul Hee
Genre                   : Romance
, Marriage Life
Rating                   : PG 15
Length                  : Oneshoot

Disclaimer          : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini cuma karangan aku aja, GAK NYATA. Typo bertebaran bak daun-daun yang berguguran di musim gugur. Jadilah pembaca yang baik.

 

Summary             :

 

“Aku ingin kembali ke waktu dimana kau bisa memberiku sebuah pelukan hangat”

 

-Im Yoon Ah –


31 Desember 1994, Seoul.

 

Malam menyambut tahun baru yang sudah dua kali kujalani bersama dengan pendamping hidupku, Kim Jongin. Aku dan Jongin menikah diumur yang terbilang sangat muda, disaat aku berumur 18 tahun dan dia berumur 20 tahun, tentunya sifatku masih sangat kekanak-kanakan tapi ia selalu berusaha mengerti dan memahami diriku.

 

Aku termasuk anak yang sangat tertutup, tapi itu dulu sebelum aku mengenal siapa itu Jongin dan ia mulai mengubah jalan kehidupanku menjadi lebih berwarna, sekarang aku tak ragu lagi untuk bercerita apapun padanya.

 

“Aku perempuan yang sangat beruntung karena bisa hidup berdampingan denganmu”

 

-Kim Yoon Ah –

 

 

 

6 Januari 1995, Seoul.

 

Kebahagianku tak berlangsung lama, setelah aku mengabari kehamilanku pada Jongin, tiba-tiba saja keluarga kecil kami diterpa kabar yang sangat tidak ingin aku percayai, tapi bukti-bukti itu ada.

 

Apa suamiku tidak yakin bahwa aku bisa mengandung benih anaknya di dalam rahimku sehingga ia menanam benih di dalam rahim Adikku?

 

 

Bagaimana bisa ada sebuah kirimin foto-foto yang memperlihatkan sangat jelas bahwa Jongin sedang berada di ranjang yang sama dengan Adikku, tanpa menggunakan pakaian di bagian atas tubuhnya.

 

 

BRAKKK!!!

Aku menoleh ke arah pintu yang baru saja dibuka kasar, Jongin berlari kearahku,, aku sedang terduduk lemas di pinggir tempat tidur dan menatap dalam kearahnya, berharap ini hanya sebuah mimpi buruk dan Jongin segera membangunkanku.

Jongin mengambil foto-foto yang berserakan di atas pahaku dan yang ada di tanganku, ia merobek semua foto itu dan membuangnya ketempat sampah yang memang tersedia dikamar kami.

 

Kau mempercayaiku?” Tanyanya sembari memegang pundakku. Aku sangat ingin mempercayaimu Kim Jongin, tapi hatiku berkata lain. Air mataku mulai turun membasahi pipiku, aku tertunduk.. Apa yang harus aku lakukan?

Jongin memeluk tubuhku,,, hangat,,, pelukannya sangat erat “Jangan menangis… Apa yang kau tangisi Yoona-yah?

Aku menarik nafasku yang terasa sangat berat, aku mendongakkan kepalaku untuk menatap Jongin, kupegang kedua sisi kepalanya. “Apa kau tidak bisa bersabar menunggu kehamilanku?” Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku, kalimat yang secara tidak langsung menyatakan aku tidak tidak mempercayainya.

Keningnya mengkerut, seakan tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja aku lontarkan.

Yoona-ya.. -b-bagaimana kau bisa bertanya seperti itu?” Tanyanya terbata.

 

 

 

“Aku pikir jatuh cinta itu akan menjadi hal yg istimewa. Aku tidak membayangkan, bahwa aku juga akan terluka karna jatuh cinta”

Kim Yoon Ah

 

 

 

 

Aku tidak tahu bagaimana caranya agar istriku tetap mempercayaiku… Aku pun ikut menghela nafasku. Aku bahkan bersumpah tidak pernah melakukan hal sekeji itu, dan sampai saat ini juga aku masih tak percaya bagaimana bisa aku tidur satu ranjang dengan Im Seul Hee.

 

Aku teringat akan keadaan Yoona yang sedang mengandung.. Ia tak boleh memikirkan hal buruk seperti ini. “Yoona-ya… Percaya padaku!! Kumohon!!” Ucapku penuh harap.

 

Yoona hanya bisa menangis dan terus menangis.

Aku berlutut dihadapannya, perlahan tanganku ku arahkan untuk memegang perut istriku yang belum terlihat membesarDisini… Ada nyawa yang harus slalu kita jaga.. Aku akan membawa bukti bahwa bukan aku yang melakukannya..

 

KIM JONGIN!!” Tiba-tiba aku mendengar suara orang berteriak memanggil namaku, aku menolehkan kepalaku ke arah pintu dan mendapatkan Ayah mertuaku berdiri disana.

 

Aku kembali menoleh kearah istriku, ia tampak terkejut dengan kehadiran Ayahnya.. aku mengenggam tangannya sangat erat… “Semuanya akan baik-baik saja.. Tidurlah.. Aku harus keluar sebentar” aku berdiri dan mengecup singkat kening istriku, lalu aku berbalik pergi ka arah Ayah mertuaku dan membawanya menjauh dari kamar.

 

Terlihat jelas di wajah Ayah ia menahan amarahnya Kau tahu aku bukanlah orang yang suka berbasa-basi!! Bertanggung jawablah!!” Ucapan Ayah membuat kepalaku seakan-akan mau pecah. Bagaimana caranya aku bertanggung jawab sedangkan aku bukanlah pelakunya.

Ayah…” Suaraku terdengar sangat pelan.

Bukan aku yang menghamili Seul Hee.. Aku bersumpah” berapa kali aku harus mengatakan hal itu?? Bagaimana bisa tidak ada yang mempercayai kata-kataku.

                “LALU MAKSUDMU SEUL HEE BERBOHONG PADAKU? KAU PIKIR DIA ADIK MACAM APA YANG TEGA MENYAKITI KAKAKNYA??” Ayah membentakku, benar… Adik macam apa yang tega menyakiti Kakak kandungnya sendiri?? Tapi begitulah nyatanya, Im Seul Hee.

 

PLAKKK!!!

Pipi kananku terasa sangat panas, Ayah menamparku untuk yang pertama kalinya.. Jika Ayah sudah seperti ini, maka ia sudah benar-benar marah dan pasti kecewa. Ayah bukanlah orang yang mempunyai sifat ringan tangan, bukan sama sekali. Ayah bisa menerima semua kekuranganku ketika aku melamar Yoona, tapi kali ini… Ayah benar-benar akan membenciku.

 

AKU BISA TAK SEMARAH INI JIKA KAU LANGSUNG MENGAKUINYA DAN MENIKAHINYA!!!” Bentak Ayah lagi padaku.

 

BAGAIMANA BISA AKU MENIKAHI ADIK IPARKU SENDIRI AYAH???” Tanyaku pada Ayah dengan tak kalah membentak, aku takut Ayah akan membenciku. Aku tidak punya Ayah lagi selain Ayah mertuaku, kedua orangtuaku sudah meninggal di saat aku berumur 13 tahun.

 

LALU KENAPA KAU MENGHAMILINYA?? APA YONNA BELUM HAMIL JUGA SAMPAI SEKARANG? EOH?? TIDAKKAH KAU BISA BERSABAR MENUNGGU HAL ITU??” Bentak Ayah lagi padaku. Kenapa alasannya selalu berkaitan dengan kehamilan Yoona?? Andai dia tidak bisa hamil pun aku tak akan pernah menghamili wanita lain.

 

Ayah.. Saat ini, Yoona sedang mengandung anakku..” Beritahuku pada Ayah, agar kesalahpahaman tentang aku tidak bersabar mengenai kehamilan bisa cepat berlalu.

 

AAARRGGGHHH!!!” Teriak Ayah.

 

Aku tahu bagaimana perasaan Ayah,,, di waktu yang bersamaan kedua putrinya sama-sama mengandung, namun salah satu anaknya mengandung dengan cara yang salah, dan satu anaknya lagi harus menanggung kesedihan karena yang ia tahu suaminya sudah sangat menyakitinya.

 

Ayah.. Akan kubuktikan pada semuanya bukan aku yang melakukannya.. Dan aku akan membawakan siapa Ayah kandung dari bayi Seul Hee” Ucapku dengan penuh keyakinan.

 

Ayah tampak berpikir lama.

Sebulan… Cari bukti itu!! Jika sampai waktunya belum juga kau dapatkan… Jalani hidupmu dengan dua wanita disisimu” Ayah berbalik pergi meninggalkanku begitu saja.

 

 

 

“Saat kau disisiku, aku merasa tidak akan ada yg bisa menggantikanmu. Aku harap kita akan selalu bersama, tanpa saling menyakiti”

-Kim Jongin-

 

 

 

 

 

20 Januari 1995, Seoul.

 

Jongin termenung dibawah sinar lampu tidur, ia menyandarkan tubuhnya di meja sebelah tempat tidurnya, dengan terus merunduk meratapi bayangannya yang juga ikut merasakan kesedihannya, tidak ada bukti yang ia temukan, apa itu pertanda bahwa rumah tangganya akan hancur?

 

 

Dua minggu telah berlalu, Aku belum bisa menemukan bukti bahwa bukan aku yang menghamili Seul Hee..

 

KREEEK~

Suara pintu kamar yang dibuka perlahan, tentu aku mendengarnya tapi keseluruhan tubuhku tidak mau melihat kearah pintu untuk melihat siapa yang datang. Aku tidak berpikir itu Yoona.. Saat ini ia sedang tinggal bersama kedua Orangtuanya,,, lalu siapa dia?? Entahlah.. Aku tidak berniat menyambutnya.

 

TUK!!! TUK!!! TUK!!!

Suara sepatu yang dipakainya semakin terdengar di telingaku.. Kenapa aku?? Kenapa aku sangat membenci suara itu? Kenapa aku ingin sekali meledak-ledak memarahi sang empunya sepatu? Suara yang terdengar sangat bising di telingaku.

 

Oppa~

 

DEG!!

Jantungku seakan-akan berhenti berdetak mendengar suara itu, suara yang sangat ku kenal. Aku menahan diriku untuk tidak menemui Seul Hee padahal dia satu-satunya kunci jawaban atas persoalan ini, aku tahu dia sangat menyukaiku dari dulu,, bahkan sebelum aku menikah dengan Yoona pun ia pernah menyatakan perasaannya padaku, kupikir setelah ada ikatan pernikahan dengan Yoona, Seul Hee akan mundur dengan sendirinya, tapi nyatanya.….

 

Sungguh aku tidak ingin melihat wajahnya, tak tahu apa yang akan kulakukan nanti jika kesabaranku sudah benar-benar habis, apa aku masih bisa memandang dia itu gadis atau iblis.

 

Pergi!!” Pintaku padanya.

 

Dengar… Kau tidak akan bisa menemukan bukti apapun.. Menyerahlah Oppa!! Menikahlah denganku!!” Ucapnya sangat halus,,, sangat sangat halus.. Tapi amat sangat menusuk ditelingaku dan melukai hatiku.

 

Setega itukah kau menyakiti Kakakmu yang begitu menyayangimu?” Ucapku penuh penekanan sembari mengepal kedua tanganku menahan amarah.

 

Ia ikut berjongkok dan menghadap kearahku “Lalu aku harus bagaimana? Ini Anakmu Oppa~ kau harus bertanggung jawab

 

Aku meredam emosiku, percuma saja aku meladeninya dengan kemarahan, aku mengangkat wajahku dan menghadap kewajahnya, aku tersenyum sinis “Aku bisa saja membunuh bayi yang ada di dalam perutmu!!

 

Ia terlihat terkejut mendengar ucapanku, namun tak lama ia tersenyum kearahku, senyum yang menurut sebagian orang adalah senyum malaikat dan menurutku itu adalah senyuman iblis terjahat “Setega itukah kau membunuh anakmu sendiri?

 

Aku tersenyum lagi padanya… Aku benar-benar kasihan pada Seul Hee “Sayangnya aku bukan iblis sepertimu yang hobi membunuh orang secara perlahan… Aku kasihan padamu… Hidupmu sangat menyedihkan karena dikelilingi dengan kebohongan” Balasku, lalu aku berdiri meninggalkan Seul Hee sendiri, aku hanya akan membuang waktuku jika terus berdebat dengannya.

 

 

 

“Kalau kau terus memaksa orang lain untuk mencintaimu, itu bukan cinta namanya, tapi OBSESI”

-Kim Jongin-

 

 

“Kau mengetahui perasaanku, tapi kau pura-pura tidak mengetahuinya, kau membuatku terlihat seperti orang yang BODOH”

Im Seul Hee-

 

 

 

 

Aku pergi ke makam Ibuku yang bersebelahan dengan makam Ayahku… Aku tidak bisa lagi menutupi kesedihanku dan rasa takutku akan kehilangan Yoona. Aku menangis sejadi-jadinya, kuceritakan semua masalahku di depan makam kedua Orangtuaku, walaupun mereka tak ada disini, tapi kutahu mereka mendengar semua yang kucurahkan dari tempat yang sudah sangat nyaman bagi mereka, apa aku bisa menyusulmu Bu…? Dan Ayah,, Tidak bisakah aku melihatmu walau hanya sebentar? Bukankah disaat seperti ini kau harus menyemangatiku…

 

Ibu.. Ayah.. Ku tahu kau tak akan suka melihatku menangis seperti ini… Hanya hari ini,, cukup kali ini.. Biarkan aku menangis Bu… Aku berjanji ini untuk yang terakhir kalinya.

 

 

“Ya.. Untuk yang terakhir kalinya”

-Kim Jongin-

 

 

 

6 Febuari 1995, Seoul.

 

 

Hari ini,, Jongin harus sudah menemukan bukti-bukti yang menyatakan ia tak bersalah, tapi sepertinya Jongin tidak mempunyai bukti itu sedikitpun.

 

Aku berjalan memasuki rumah yang sudah sebulan tak aku tinggali, bagaimanapun aku harus membujuk Jongin untuk segara menikahi Seul Hee yang keadaanya semakin memburuk.

 

Aku memasuki kamar yang biasa aku tempati bersama Jongin, mataku langsung tertuju pada Jongin yang berdiri menghadap ke arah luar jendela di bawah kegelapan malam, melihatnya seperti itu ingin sekali aku terus berada disisinya, memberinya kekuatan akan permasalahan yang terjadi walau aku juga merasakan sakit yang sama, aku menguatkan langkahku untuk mendekatinya.

 

Kim Jongin…” Panggilku pelan.

 

Ia langsung menoleh dan berlari kearahku lalu memelukku erat, Jongin terus memelukku di dalam keheningan. Ya Tuhan… Apa aku bisa berbagi kasih dengan Adikku,,, aku sendiri tidak yakin akan hal itu.

 

Seul Hee sakit.. Kau harus menjenguknya” aku memulai pembicaraan, dalam keadaan masih berpelukan. Aku tahu rasanya,,, sangat menyiksa memang tidak bisa bertemu satu bulan lamanya.

 

Kau baik-baik saja? Apa kau tidak mengidam sesuatu yang berkaitan denganku?” Tepat dugaanku, Jongin pasti akan menghindari pertanyaan yang bersangkutan dengan Seul Hee.

 

Perlahan aku melepaskan pelukanku,, Jongin lalu menatapku seolah berkata ‘jangan ucapkan apapun’.

CUP!!

Jongin mengecup bibirku singkat, lalu tersenyum.. Senyuman yang sangat membuatku nyaman berada disisinya.

 

Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya dan kutatap dalam matanya “Aku tak akan bisa melepasmu jika kau terus seperti ini Kim Jongin, bantu aku untuk merelakanmu, kumohon… Adikku membutuhkanmu” aku paksakan kalimat itu keluar dari mulutku.

 

Aku melihat ia tak terkejut mendengar perkataanku.. Apa ia sudah menduganya? Ia menutup matanya sebentar, entah untuk meredam amarahnya atau bukan… Tiba-tiba tangan Jongin melepaskan kedua tanganku yang melingkar di pinggangnya, ia menurunkan tanganku dengan sangat hati-hati, ia mundur beberapa langkah kebalakang menjauh dariku dan ia berlutut “Jadikan ini permintaan terakhirku… Hanya ini,, kumohon jangan paksa aku untuk menikahi wanita lain… Kumohon

 

Lagi.. Air mata ku kembali tumpah meruah, kenapa kau harus berkata seperti itu? Saat itu juga kedua kakiku melemah, tanganku berusaha mencari sebuah tiang untuk pegangan agar aku tak jatuh kelantai karena bisa membahayakan buah hatiku, namun tak ada sesuatu yang bisa kujadikan pegangan, akupun jatuh lemas ke lantai… Tidak heran,,, aku tidak merasakan sakit di lututku yang menjadi tumpuan tubuhku terjatuh, karena rasa sakit itu sudah semuanya kurasakan dihatiku.

 

Jongin kembali mendekat kearahku “Yoona-ya.. Kau baik-baik saja?” Tanyanya dengan penuh rasa khawatir, aku tidak bisa menjawabnya,,, tanganku terus memegangi dadaku yang terasa sangat sakit.

 

Adikku dan bayinya bisa saja meninggal.. Temui dia.. Kumohon” Ucapku terbata, tanganku yang satu lagi meremas pundak Jongin, permintaan yang sangat sangat sangat tidak aku inginkan.

 

Jongin terdiam, tak ada respon yang diberikan padaku, tapi tak lama ia memegang tanganku yang ada dipundaknya dan menggenggamnya “Aku tidak mau..

 

KIM JONGIN!!” Tiba-tiba saja aku membentaknya.

 

Ya Tuhan,,, apa yang baru saja aku lakukan?? Aku membentak suamiku yang jelas-jelas tidak bersalah.

 

Setelah bayi yang dikandung Seul Hee lahir, aku akan langsung segera tes DNA,, jika benar yang dikandung adalah Anakku, maka saat itu juga aku kan menikahinya mengertilah Kim Jongin, bukan itu alasan aku memintamu menikahi Seul Hee.

 

Tidak perlu menunggu sampai bayi itu lahir.. Detik inipun aku mempercayaimu bahwa anak yang dikandung Seul Hee bukanlah anakmu.. Tapi Seul Hee membutuhkanmu, dia menginginkan kau berada disisisnya Kim Jongin!!” Aku semakin menangis kencang, seakan kalimat itu keluar tanpa seijinku, aku membenci semua perkataanku.

 

Sekarang kau hanya perlu menemuinya.. Aku akan memohon pada Seul Hee dan Ayah agar memberimu waktu untuk bersiap menikahi Seul Hee” lanjutku dengan sangat memaksa kemampuanku, aku tak mau melihat raut wajah Jongin yang sudah pasti akan marah mendengar ucapanku.

 

Im Yoon Ah !!Benar…. Bentak aku, marahi aku… Karena aku pantas mendapatkannya..

 

Aku mendengar Jongin menghela nafas.. Aku sangat tahu ini sangat berat baginya, tapi ini juga sangat berat bagiku, walaupun nantinya aku harus berbagi tubuhmu, kasih sayangmu, semua yang ada dirimu, tapi setidaknya aku tidak akan kehilangan dirimu maupun Adikku.

 

Berapa waktu yang akan mereka berikan? 1 hari? 3 bulan? 10 tahun? 1000 tahun? Sampai kapanpun aku tak akan pernah siap!!” Jongin tiba-tiba berdiri, aku mendongak melihatnya.

 

Kau.. Hanya memikirkan kebahagian Adikmu!! Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Mengorbankan dua perasaan untuk melindungi satu perasaan..” Aku membuka mataku lebar, Jongin berucap dengan penuh penekanan, kalimat yang keluar dari mulutnya begitu menusuk perasaanku.

 

Aku kembali menunduk, merenungi perkatann suamiku yang sangat benar adanya, aku menutup kedua mataku, ketika kubuka mataku kembali, saat itu aku melihat bayangan tubuh suamiku berjalan menjauh dariku, aku langsung mendongakan kepalaku dan suamiku hilang di balik pintu. Aku tidak bisa mengejarnya, mungkin dengan begitu Jongin akan bersedia menikahi Seul Hee.

 

 

 

“Aku mempercayaimu, walau seluruh dunia tidak mempercayaimu..”

-Kim Yoon Ah

 

 

“Jika tujuanmu ingin mempertahankan Aku maupun Seul Hee disisimu.. Kau tidak akan bisa, karena mau tidak mau kau harus merelakan salah satunya.. Atau malah mungkin kau akan kehilangan keduanya”

 

-Kim Jongin-

 

 

 

Aku berlari keluar rumah, saat itu aku melihat Ayah mertuaku berdiri di samping mobilnya, saat ini aku sedang sangat marah, bahkan untuk menyapanya pun aku tidak bisa, aku berjalan melewati Ayah menuju ketempat mobilku terparkir, namun tiba-tiba tangan Ayah menahanku.

 

Maafkan aku tidak mempercayaimu… Seul Hee, bahkan ia tidak sedang mengandung,,” Aku terdiam mematung mendengar penjelasan Ayah, Seul Hee tidak mengandung? Apa aku harus senang? Atau aku harus marah? Sayangnya, masalah ini bukan lagi persoalan tentang kehamilan.

 

Tapi Jongin-ah…

 

Ayah…” Aku menghentikan Ayah untuk tidak melanjutkan ucapannya, aku tahu apa yang akan Ayah katakan, aku sangat tahu dan aku tak kan bisa melakukannya.

 

Jongin-ah…

 

Ayah… Jaga Yoona dan anakku… Jaga kesehatanmu juga” aku melepaskan tangan Ayah yang menahan pergelangan tanganku, lalu aku meninggalkannya dan masuk kedalam mobilku lalu melesat pergi.

 

Maafkan aku Ayah,, maaf aku telah berbuat kasar.. Ku yakin kau pasti mengerti… Aku butuh waktu untuk menyendiri, aku butuh berpikir,, walaupun jawaban akhir tidak akan berubah, aku tidak akan menikahi Seul Hee atau siapapun itu dengan alasan apapun.

 

 

Aku menyetir dengan kecepatan penuh, pikiranku bercampur aduk, bahkan aku menerobos lampu merah, aku bahkan membahayakan diriku sendiri.

 

CITTT!!!

Aku membanting setir dan menekan rem mobil di kakiku dengan sangat untuk menepi di pinngir jalan yang terbilang ramai, aku tersadar tidak seharusnya aku bersikap seperti ini, aku ingin melihat Anakku lahir, aku ingin hidup bersamanya lebih lama, aku ingin melihat pertumbuhannya sampai Anakku akan menikah nanti, mempunyai cucu, dan menghabiskan hari tuaku bersama dengan keluarga kecilku.

 

Bahkan dengan hanya memikirkannya pun sudah sangat menyenangkan untukku, tapi bagaimana dengan masalahku yang sekarang, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

 

ARRRGGHHHH!!!” Teriakku dengan memukul jendela mobil yang ada di sebelahku. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan..

 

Ku buka pintu mobilku, aku butuh udara segar untuk membantuku berpikir jernih, aku melangkah keluar dari mobilku.

 

TOOOOT!!!

TOOT!!! TOOT!!!

Kudengar suara klakson truk sangat dekat ditelingaku, aku menoleh ke arah belakang dan…

 

DEEEEEERRRRRRRR!!!!

CIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT!!!!

SSSSSSSSSSEEEEETTTTTT!!!

 

Aku merasa tubuhku melayang di udara,,, bebas rasanya…

 

Ninununinuninu~

 

 

 

 

6 Febuari 2015, Seoul.

 

Musim dingin masih menyelimuti Kota Seoul, Korea Selatan. Tumpukan salju memenuhi puncak pohon begitupun dengan jalan-jalan setapak, tak sedikit masyarakat yang tidak mempunyai kegiatan diluar lebih melilih tinggal di dalam rumah dan menikmati segelas minuman hangat.

 

Di dalam sebuah kamar terlihat sosok wanita berada di atas sebuah kursi roda yang berpakaian sangat tebal dan syal berwarna putih yang melingkar dilehernya, wanita itu sedang memeluk sebuah foto di dalam bingkai berukuran sedang, pandangannya kosong, walaupun terlihat seperti sedang menikmati pemandangan alam dari balik jendela.

 

Im Yoon Ah, wanita berusia 40 tahun yang menghabiskan waktunya di dalam kamar sejak 20 tahun yang lalu. Ia senantiasa mengunci dirinya dalam kekelaman masa lalu yang pernah dialaminya tanpa pernah berpikir untuk menguburya dan menjalani kehidupan dengan selayaknya. Ia selalu menyesali permintaannya yang terakhir pada Jongin yaitu untuk menikahi adiknya sendiri.. Bayang-bayang itu selalu menjadi penyesalan yang tiada berujung untuknya, karena permintaannya itulah yang akhirnya membuat Jongin stres dan pergi meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali sampai sekarang.

 

Perlahan ia melihat kembali bingkai yang tadi didekapnya, terpampanglah foto dirinya dan Jongin dan terdapat satu orang lagi yang wajahnya sangat mirip dengan Jongin, ia mengelusnya dan tanpa disadari air matanya turun membasahi kedua pipinya. Walau hanya sebuah foto editan, tapi foto itu sangat amat bermakna untuk Yoona, seakan-akan apa yang ada di dalam foto itu sudah mengabulkan keinginan Jongin yang berharap bisa melihat perkembangan putranya.

 

Aku melihat masa-masa itu dengan jelas,, serasa aku bisa menyentuhnya dan seakan itu baru terjadi kemarin

-Im Yoon Ah –

 

 

 

KREEEKK!!!

Pintu kamarku dibuka… Aku mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat ke arahku, buru-buru aku menghapus air mata yang ada di wajahku.

 

Eommmaaaa~” Sudah pasti dia putraku yang di bulan november tahun ini genap berusia 20 tahun, ia melingkarkan kedua tangannya dileherku dan mengecup pipi kananku. Kesabarannya, ketampanannya, hampir semua menyerupai Ayahnya, dan aku pun menamainya persis dengan Ayahnya, Kim Jongin.

 

Selama 20 tahun ini, aku bukanlah seorang Ibu yang baik, tidak pernah sekalipun aku datang di pertemuan orangtua yang diadakan di sekolah Jongin menuntut ilmunya, bahkan setiap Jongin bercerita apapun aku hanya akan membalasnya dengan senyum, tapi satu hal yang pasti,, aku selalu mendengarkan apa yang ia ceritakan dengan baik.

Aku hanya akan berbicara jika memang ada sesuatu hal yang menuntutku untuk berbicara, tapi itu sangat jarang sekali, sungguh aku Ibu yang sangat keterlaluan. Adikku yang senantiasa menggantikan peranku sebagai Ibu,, entah untuk menebus rasa bersalahnya atau apapaun itu.. Tapi aku tidak membenci Adikku, karena Jongin tidak mau aku hidup dengan membenci seseorang, setidaknya aku mengabulkan keinginannya.

 

Aku tahu pasti kau sangat tidak suka melihat keadaanku yang sekarang Jongin-na,, kepergianmu membuat luka hatiku sangat dalam, bahkan aku belum sempat mengucapkan kata maaf, aku menyesal, dan sampai saat ini rasa menyesalku masih melekat padaku.. Dan aku masih tetap mencintaimu.

 

Melihat Putraku yang sudah tumbuh semakin dewasa, sudah saatnya aku memikirkan kebahagiannya, dia sudah tidak punya Ayah tapi ia juga merasa tak punya seorang Ibu, kalimat itu berakhir detik ini, aku akan mulai menjadi Ibu yang baik untuk Putraku, dan menghabiskan sisa umurku dengan keluarga kecilku sebelum aku pergi menemuimu Kim Jongin.

 

Aku mengusap kedua tangan Jongin, dan aku membelai hangat kepalanya.

Eomma… Kau tahu?? Ayah menurunkan keselurahan ketampanannya padaku.. Aku benar-benar digemari mahasiwi satu kampus kekekekek” Lapornya padaku dengan kebanggaan yang diyakininya.

 

Kau sudah makan?

N-nee?” Jelas ia tidak percaya aku menanyakan hal itu, karena aku tidak pernah menanyakan hal seperti itu.

Kau sudah makan? Kalau belum, biar Ibu yang menyiapkan makan siangmu..

Eom..maa” sekaget itukah Putraku. Aku semakin merasa sabagai Ibu terburuk dan gagal.

Kakek…. Kek!!!! Nenek!!! Cepat kemari!!” Tiba-tiba Jongin berlari meninggalkanku untuk memanggil kedua orangtuaku.

 

Tak berselang lama, kedua Orangtua dan Adikku datang, aku kembali tersadar… Ayah dan Ibuku sudah sangat tua sekarang, tapi mereka masih punya semangat hidup, dan terlihat di wajah mereka yang sangat senang melihatku tersenyum kearahnya.

 

Ayah… Ibu…” Tanganku terbuka lebar untuk memeluk kedua orangtuaku, Jongin mendorong kursi rodaku untuk mendekat ke mereka dan aku memeluknya sangat erat, betapa berterimakasihnya aku kepada mereka yang telah merawatku sampai sekarang, bahkan mereka juga membantu merawat Jongin.

 

Kami semua larut dalam tangis bahagia, ku yakin saat ini kau sedang tersenyum bahagia memandangi keluarga kecil ini Kim Jongin, memang tak lengkap rasanya tanpa dirimu, tapi dengan kehadiran Jongin junior, sedikit bisa menutupi kekosongan tanpa dirimu.

 

 

“Ayah… Tak perlu mengkhwatirkan kami lagi… Karena sekarang sudah tugasku untuk menjaga Ibu, Kakek, Nenek dan Bibi.. Aku mencintaimu Ayah…”

-Kim Jongin Junior-

 

 

“Kelak dikehidupan selanjutnya, aku berharap kami bisa dipertemukan kembali”

-Kim Jongin & Im Yoon Ah –

 

 

-THE END-

 

Terimakasih untuk kutipan-kutipan KDrama yang udah menginspirasi aku buat nulis ff ini😉

Jangan lupa komentarnya yaaa…🙂

25 thoughts on “(Freelance) Oneshot : Memories

  1. Huaaa bener bener keren!!!!
    Nangis bacanya hiks!!! :””””(
    Sedih bgt pas nyritain kehidupan yoona setelah jongin meninggal :(((
    Good job lah thor!!! Bagus bgt!!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s