(Freelance) Twoshot : IF (Take 1)

IF picture

IF

by GreenAngel

 

Cast

Im Yoona | One of Exo’s member

Genre

Romance

Rating | Length

PG15 | Twoshoot

Warning

Typo bertebaran | Italic means flashback

Disclaimer

This story is mine! Happy reading🙂

…….

 

‘Im Yoona memang tak sepintar Seo Joo Hyun selama masa sekolah. Atau tak secerdik Kwon Yuri yang mampu memecahkan berbagai macam masalah. Tapi ia yakin dengan sangat bahwa kedua orang tuanya menyembunyikan sesuatu dibalik acara makan malam mereka kali ini. Setidaknya nalurinya berkata demikian.’

Setelah menuruni tangga menuju dapur. Ia sedikit terperangah. Ibunya yang tidak pernah memasak – seingatnya – kini tengah sibuk memotong-motong sayuran. Aneh bukan? Selama lima menit Yoona benar-benar terpaku menyaksikan kemampuan ibunya. Wow, aku seperti melihat demo masak yang sering muncul di televisi, pikirnya.

“Yoona, apa yang kau lakukan disana sayang?” Ibunya bertanya sembari mengaduk-aduk panci yang entah apa isinya.

“Uhm… tadinya aku ingin minum. Tapi tidak jadi. Aku seperti melihat alien jatuh di hadapan ku.”

“Apa maksud mu sayang? Mana mungkin ada alien di dunia ini.” Ibunya tertawa kecil setelah mendengar jawaban Yoona.

Oke. Ia tahu ibunya sangat realistis. Seperti yang ibunya katakan tadi, tidak ada alien di dunia ini. Tentu saja tidak ada karena alien hanya hidup di luar bumi. Jika ada alien di dunia ini pasti makhluk itu tidak akan hidup terlalu lama. Setidaknya itulah yang Yoona ketahui dari buku yang tak sengaja pernah ia baca. Tapi bukan itu masalah utamanya.

“Bukan itu maksud ku eomma. Kalimat ku tentang alien tadi hanya perumpamaan saja.”

Yoona duduk di meja makan tak jauh dari dapur. Pandangannya masih tertuju pada ibunya. Sorot matanya masih diliputi tanda tanya. Tak biasanya ibunya memasak. Selama ini hanya Bibi Han yang bertugas memasak dan mengurusi urusan rumah tangga lainnya.

“Jadi eomma, kenapa eomma yang memasak?” tanya Yoona karena tak kunjung menemukan jawaban atas pertanyaan dalam benaknya.

“Karena kita akan kedatangan tamu.” Ibunya memasukkan sayuran ke dalam panci sambil tersenyum senang.

“Tamu? Teman kerja eomma?”

“Bukan. Mereka adalah sahabat eomma.”

“Mereka? Siapa mereka?” tanya Yoona tak paham.

“Sahabat eomma sayang.”

“Aku tahu eomma. Yang aku maksud adalah nama mereka atau apapun yang berkaitan dengan mereka.” Yoona mendesah sebal. Terkadang ia dan Ibunya seringkali mengalami miskomunikasi.

“Ooohhhh.. mereka adalah Jaehyun dan Minri. Mereka sahabat eomma saat kuliah dulu.”

“Benarkah? Kenapa aku tidak tahu Jaehyun ahjussi dan Minri ahjumma?”

Meskipun ibunya disibukkan dengan bisnis toko bunga yang kini telah berkembang pesat. Hal itu tak membuat hubungan keduanya menjauh. Bisa dibilang Yoona sangat dekat dengan ibunya. Bahkan Yoona tahu teman-teman dekat ibunya, begitu pun sebaliknya.

“Tentu saja. Jaehyun dan Minri tidak menetap di Korea. Mereka berdua menetap di Jepang. Meneruskan bisnis yang dirintis orang tuanya. Mereka hanya sesekali Korea untuk mengunjungi anak mereka satu-satunya.”

Yoona mengangguk paham. Pantas saja ibunya terlihat heboh dengan memasak banyak makanan. Setidaknya setiap orang akan merasa excited bukan karena akan bertemu dengan teman lamanya? Dan dalam hal ini, tingkat excited yang ditunjukkan ibunya adalah dengan memasak.

Jam tujuh malam. Yoona telah selesai merias diri. Ia memakai dress warna peach dan heels yang senada dengan warna pakaiannya. Rambutnya dibiarkan terurai dan mengikal di bagian ujungnya. Ia hanya memakai make-up tipis. Namun hal itu semakin membuat penampilannya terlihat menawan.

Sungguh. Jika bukan karena paksaan ibunya, ia tidak akan mau berdandan seperti itu hanya untuk sebuah makan malam. Yang bahkan diadakan di rumahnya sendiri. Ayolah, ia bukan hendak pergi ke pesta. Dan lagi-lagi ia hanya bisa mengikuti kemauan ibunya karena ia tahu ibunya sangat menantikan kehadiran sahabatnya.

Yoona segera bergegas keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, ia menatap takjub. Ia sangat yakin bahwa ruang makan yang ia lihat saat ini adalah ruang makan yang sama selama 25 tahun terakhir dalam hidupnya. Tapi kenyataannya tak seperti itu. Ruang makan tersebut terlihat lebih luas dari biasanya. Mungkin karena perabotan yang ada telah dipindahkan dan diganti dengan sebuah meja besar bulat di tengah ruangan beserta kursi yang mengelilinginya. Di atas meja tersebut telah tersedia berbagai macam makanan khas Korea dan Jepang. Tak lupa dengan hiasan yang ada di ruangan tersebut. Membuatnya terlihat elegan seperti restaurant kelas atas.

Wow, jika ada penghargaan menyambut tamu, pasti eomma lah pemenangnya. Batin Yoona. Ia benar-benar tak menyangka ibunya seantusias ini menyambut sahabatnya.

Tak lama kemudian terdengar suara bell pintu. Ia bergegas menuju pintu rumah. Dan dapat ia lihat kini orang tuanya menyambut sepasang suami istri yang ia yakini adalah Jaehyun ahjussi dan Minri ahjumma. Bahkan orang tuanya mengenakan pakaian formal, dengan ibunya yang memakai dress terusan warna biru muda dan ayahnya yang memakai jas hitam dengan kemeja putih didalamnya.

Ia terus melangkahkan kakinya menuju Jaehyun ahjussi dan Minri ahjumma, tak lupa dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya. Ketika Minri ahjumma menoleh kearahnya, ia dapat mendengar pekikan senang wanita itu disertai pelukan hangatnya.

“Kau pasti Yoona. Kau sangat cantik seperti ibumu.” ucap Minri ahjumma usai melepaskan pelukannya.

“Terima kasih atas pujiannya ahjumma.”

“Bahkan kau sudah sebesar ini Yoona-ya. Ahjussi bahkan masih ingat saat kau merengek minta digendong waktu berumur tiga tahun.” kekeh Jaehyun ahjussi sambil mengusap kepala Yoona.

“Ah benarkah? Apa aku pernah bertemu dengan ahjussi dan ahjumma?” tanyanya terkejut.

“Tentu saja. Sebelum aku dan istri ku pindah ke Jepang, kami sering mengunjungi ayah dan ibu mu.”

Yoona hanya menggangguk paham karena sebenernya ia tidak terlalu ingat dengan memori masa kecilnya. Apalagi saat berumur tiga tahun.

“Bagaimana jika kita melanjutkan percakapan di dalam? Istri ku sudah menyiapkan makan malam spesial. Tak biasanya ia memasak.” ajak Ayah Yoona sambil tertawa pelan mengingat istrinya yang jarang memasak.

“Baiklah kalau begitu. Tapi an –”

“Annyeonghaseyo. Maaf aku sedikit terlambat. Aku ada sedikit urusan tadi.” Seorang lelaki dengan perawakan tegap tiba-tiba muncul dan berdiri disamping Jaehyun dan Minri. Laki-laki itu tersenyum sopan kepada orang tua Yoona. Tetapi saat pandangannya beralih pada Yoona, laki-laki tersebut sedikit terpaku.

Acara makan malam sepenuhnya di dominasi percakapan antara para sahabat lama itu. Pria itu hanya sesekali ikut menimpali. Sedangkan Yoona, sedari tadi ia mencuri-curi pandang pada lelaki yang duduk di seberangnya. Ia merasa familier dengan wajah lelaki itu. Berulang kali ia menggali memori masa lalunya. Namun ia tidak dapat menemukan petunjuk dimana ia pernah melihatnya.

Sudahlah, mungkin hanya perasaan ku saja. Batinnya dalam hati. Kemudian ia fokus menyantap makanan yang tersaji di piringnya.

“Apakah anakku sangat tampan Yoona-ya hingga kau melihatnya seperti itu?” tanya Minri secara tiba-tiba sambil terkekeh pelan.

Yoona mengangkat kepalanya dengan wajah sedikit terkejut. Apakah Minri sedari tadi memperhatikan gelagatnya? Dan semua mata kini tengah menatapnya dengan penasaran, termasuk lelaki itu.

“Ah bukan seperti itu ahjumma.”

“Sepertinya anakku menyukai anakmu Minri-ah. Mungkin kita bisa melanjutkan perjodohan kita.” ucap ibu Yoona – Saera – bersemangat.

“Oh! Benar! Aku bahkan hampir melupakan rencana kita dulu.”

Yoona menatap orang-orang disekitarnya dengan pandangan bingung. Apa maksudnya tadi? Perjodohan? Ia pasti salah dengar bukan?

Pandangannya beralih menatap ayahnya – Kangjoon – yang sedari tadi tersenyum menanggapi celotahan wanita-wanita disekitarnya.

“Appa, siapa yang akan dijodohkan? Bukankah Tiffany eonni sudah menikah?”

Ayahnya menoleh kearahnya. Perasaan bersalah melingkupi wajahnya. Dan rangkaian kalimat yang keluar dari mulut ayahnya seakan membuat Yoona membisu.

“Kau, Yoona-ya. Kau yang akan dijodohkan dengan putra Jaehyun dan Minri.”

Sontak saja Yoona menatap lelaki di seberangnya. Bertanya dalam hati mungkinkah lelaki ini tahu bahwa ia akan dijodohkan dengan Yoona. Dan dari raut wajah yang ditunjukkan lelaki itu, Yoona tahu bahwa lelaki itu telah mengetahuinya dan mungkin telah menerima perjodohan ini.

“APA?! Bagaimana mungkin? Aku tidak mengenal putra Jaehyun ahjussi dan Minri ahjumma eomma.” Pandangannya beralih ke arah ibunya. Dari semua orang yang hadir disini, Yoona sangat yakin bahwa ibunya lah yang memprakarsai perjodohan ini. Bagaimana bisa ibunya berbuat seperti ini tanpa menanyakan pendapatnya terlebih dahulu?

“Bukankah kalian saling mengenal?” tanya Saera khawatir.

“Aku tidak mengenalnya eomma!”

Seketika suasana makan malam menjadi hening. Jaehyun berdeham pelan berusaha mencairkan suasana. Tangannya menepuk pelan pundak anaknya yang duduk di sebelahnya.

“Kau bilang kau mengenalnya. Jadi aku beranggapan bahwa kau menyetujui perjodohan ini. Dan kau pasti dapat mendengar dengan jelas bukan bahwa Yoona tak mengenalmu. Bisa kau jelaskan semua ini?”

Kini gantian lelaki itu yang mendapat tatapan dari semua penghuni meja makan. Menyadari hal itu, lelaki itu menaruh sendok dan garpunya. Menatap satu per satu mata yang mengelilinginya. Hingga tatapannya berhenti di mata Yoona, yang menunggu jawaban dari lelaki itu.

“Aku memang mengenalnya. Yoona adalah teman sekolah ku dulu.”

Yoona menatap tak percaya pada pria yang duduk di seberangnya.

Terdengar gelak tawa dari ruangan salah satu designer ternama di Seoul. Dan suara itu berasal dari sahabatnya, Kwon Yuri.

“Jadi kau dijodohkan dengan anak dari teman ayah dan ibu mu?” tanya Yuri disela-sela tawanya.

“Harus berapa kali kau mengulang pertanyaan itu, Yul?” desah Yoona frustasi melihat kelakuan temannya.

Bukan tanpa alasan Yuri tertawa dan mengulang pertanyaan yang sama. Beberapa saat yang lalu, sahabat sekaligus rekan kerjanya memasuki ruangannya menanyakan konsep desain yang klien minta. Sambil menunjukkan sketsa rancangan desain, Yoona bercerita tentang makan malam dengan niat terselubung – perjodohan – beberapa hari yang lalu. Dan tak lama kemudian, mulut Yuri menganga dan tertawa keras sambil menanyakan hal yang serupa sampai saat ini.

“Maaf,” Yuri menarik napas guna menghentikan aksi tawanya itu, “Aku hanya tidak menyangka orang tua mu bertindak sejauh itu.”

“Aku juga tidak mengira orang tua ku akan berbuat seperti itu? Katakan padaku, aku hidup di abad 21 dan bukan hidup di zaman Joseon, kan?” Yoona melemparkan pensil ke lantai sebagai bentuk frustasinya.

Yuri hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya. Jika ia ada di posisi Yoona, mungkin ia akan berbuat seperti itu. Sekarang era kebebasan, setiap orang berhak menentukan pasangan hidupnya masing-masing.

“Kau masih memerlukan ini untuk menghasilkan mahakarya. Jika tidak, kau akan ku pecat.” Yuri mengambil pensil yang dilempar Yoona dan meletakkan kembali di meja.

Yoona memutar bola matanya kesal. Ia tahu Yuri tidak akan melakukan hal semacam itu. Karena ia adalah pemilik saham 50% atas butik ini. Setelah menamatkan perguruan tinggi, Yoona dan Yuri membangun butik yang diberi nama “D-Design”. Hanya dalam beberapa tahun, butik ini memiliki banyak pengunjung. Terlebih lagi, kini banyak artis Korea Selatan yang memakai rancangan milik Yoona dan Yuri. Hal itulah yang membuat D-Design semakin terkenal dan memiliki banyak cabang di penjuru Korea Selatan.

“Apa kau tak bisa menolaknya?” tanya Yuri.

“Aku tidak tahu. Ibu ku hanya ingin aku lebih mengenal pria itu. Jika aku tidak menyukainya, aku bisa membatalkan perjodohan ini.”

“Bukankah itu bagus? Kalau begitu, kau coba saja. Jika kau tidak menyukainya maka masalah akan selesai bukan?”

Yoona memijat keningnya pelan. Memikirkan perkataan ibunya saat ia dengan tegas menolak perjodohan itu. “Tidak semudah itu Yul. Ibuku sangat yakin bahwa aku akan menyukai pria itu. Dan selama ini perkataan ibuku adalah hal yang paling benar. Aku takut jika suatu hari nanti aku akan menyukainya.”

“Kau terlalu rumit Yoong. Masalahmu sederhana oke? Ibu mu hanya ingin kau mengenal pria itu. Jika kau tidak menyukainya, kau bisa membatalkannya bukan? Dan jika kau menyukainya, kau akan hidup bahagia. Kau bilang pria itu tidak keberatan menerima perjodohan itu.”

Yoona terdiam memikirkan kalimat Yuri. Karena tak mendapat jawaban, Yuri melanjutkan. “Lalu, siapa yang dijodohkan dengan mu? Kau selalu menyebut ‘Pria itu’. Siapa gerangan ‘Pria itu’, Yoong?”

Yoona beranjak dari kursi dan menuju jendela ruangannya. Mengamati pemandangan Seoul yang terhampar di depannya. Tidak benar-benar mengamati, pikirannya tertuju pada pria itu.

“Kau masih ingat teman senior high school kita?”

Yuri mengangguk ragu. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Tidak mungkin ia bisa mengingat semuanya dengan jelas. “Siapa?”

Yoona membalik tubuhnya sehingga ia dapat secara langsung menatap Yuri. Tatapannya tak terbaca. “Laki-laki yang selalu tersenyum dimanapun dan kapanpun. Teman sekelas saat kita menginjak tahun terakhir senior high school. Yang sering dipanggil smiley.”

Yuri merecall memorinya secepat yang ia bisa. Setelah menemukan sesuatu diantara memorinya, matanya membelalak.

Yoona meminum chocolate ice nya secara perlahan sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Seharusnya pria itu yang terlebih dahulu sampai disini. Bukan ia yang duduk manis menunggu kehadiran pria itu.

Setelah percakapan dengan Yuri tadi pagi, tiba-tiba pria itu meneleponnya dan mengajak makan siang. Bahkan ia masih tidak tahu darimana pria itu mendapatkan nomor teleponnya. Pandangannya ia alihkan keluar jendela di sampingnya. Pikirannya melayang ke suatu masa.

Tahun ketiga senior high school adalah tahun yang terberat. Kau harus belajar hingga larut malam di sekolah guna lulus dalam ujian negara. Setelah itu kau akan mengikuti seleksi perguruan tinggi. Begitu pun yang dialami dengan Yoona.

 

Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang guru kesiswaan. Bukan karena mendapatkan masalah, tapi ia baru saja konsultasi tentang jurusan perguruan tinggi yang akan ia ambil saat lulus nanti. Setelah duduk di kursinya, ia mengeluarkan ‘buku khusus’nya yang berisi coretan-coretan desainnya. Yoona semakin mantap ingin kuliah di jurusan Fashion Design setelah berkonsultasi dengan gurunya, mengingat nilai sekolah dan gambar-gambarnya yang lumayan memuaskan.

 

Tanpa ia sadari, seorang lelaki menghampirinya dan merebut bukunya. Yoona melihat Smiley memegang bukunya sambil melihat-lihat bukunya.

 

“Apa ini? Jangan bilang kau ingin menjadi designer, Yoona.” Ucapannya berhasil membuat seluruh teman sekelasnya menatap ingin tahu ke arah mereka berdua.

 

“Kau sudah mengatakannya.”

 

“Jadi, bisakah suatu hari nanti kau membuatkan sebuah gaun pengantin yang akan dikenakan calon istri ku kelak?” tanya Smiley sambil tertawa. Sebelum Yoona sempat menjawab, Smiley melanjutkan ucapannya. “Tentu saja bukan dengan rancangan yang kau gambar di buku ini. Kau tahu gambar mu sangat jelek. Aku ragu jika kau akan lulus perguruan tinggi nantinya.”

 

Ucapan Smiley sontak membuat teman sekelasnya tertawa dan ingin melihat buku yang dipegang Smiley. Tetapi Smiley menyembunyikannya dibalik punggungnya.

 

Yoona menghembuskan napas kesal. Sejauh yang ia tahu, laki-laki dihadapannya ini orang yang menyenangkan. Pembawaannya ceria sehingga mudah diterima di lingkungan pergaulan. Senyumnya tak pernah lepas dari wajah menawannya. Sehingga kerap kali ia dipanggil Smiley karena tingkahnya itu. Namun Yoona menyadari bahwa hari ini Smiley sangat menjengkelkan. Apa maksudnya tadi? Memintanya membuat rancangan gaun sekaligus mengejek gambarnya? Bukankah itu menjengkelkan?

 

Yoona merebut bukunya dari genggaman Smiley dengan kasar. “Kau bisa meminta orang lain untuk melakukannya. Kau yang bilang sendiri jika gambarku sangat jelek.”

 

Setelah mengatakan hal itu. Yoona menatap Smiley tajam.

 

“Setiap orang memiliki impian. Dan harus berusaha keras untuk meraihnya. Tidak ada orang yang terlahir di dunia ini dengan kemampuan luar biasa. Pasti ada usaha dibaliknya. Dan kau Smiley, kau pasti memiliki impian. Aku yakin kau akan marah jika ada yang mengolok-olok impian mu. Akan ku buktikan padamu, aku bisa meraihnya! Kau menyebalkan!”

 

Yoona berlalu meninggalkannya dengan sumpah serapah yang tertahan di tenggorokannya. Tanpa menyadari pria yang menatapnya dengan perasaan bersalah.

 

“Apa kau sudah menunggu lama?” Yoona tersentak dan mengalihkan pandangannya dari jendela menuju asal suara. Pria itu telah duduk dihadapannya. Entah sejak kapan. Bahkan Yoona tidak menyadari kehadirannya.

“Menurutmu?” tanya Yoona sarkas.

“Maaf. Perjanjian dengan klien berlangsung lebih lama dari yang aku kira.” Jawabnya sambil tersenyum.

Setelah memesan makanan, pria itu menatap wanita dihadapannya. “Bagaimana kabarmu?”

“Aku? Baik-baik saja seperti yang kau lihat. Bagaimana denganmu?”

Pria itu tersenyum. “Aku juga. Kau bekerja dimana sekarang?”

Yoona menusuk-nusuk chocolate ice nya dengan sedotan. “Aku mendirikan sebuah butik dengan temanku.”

“Jadi kau seorang designer?” Smiley bertanya dengan nada terkejut.

“Begitulah. Setidaknya aku sudah membuktikan pada seseorang bahwa aku sudah meraih impianku.”

Tak terdengar lagi percakapan antara mereka hingga pelayan mengantarkan pesanan keduanya.

“Maaf.” Ucap Smiley setelah hening menyelimuti mereka.

“Untuk apa meminta maaf? Bukankah kau sudah meminta maaf tadi karena terlambat?” Yoona mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan tiba-tiba dari pria dihadapannya.

“Karena saat senior high school, aku mengejek gambar yang kau buat.”

Yoona menatap pria itu lama. Hingga akhirnya ia buka suara. “Kau tidak perlu minta maaf. Aku sudah melupakannya. Bahkan aku berterima kasih padamu karena mengatakan hal seperti itu. Jika bukan karena mu, mungkin aku tidak akan seperti sekarang.”

“Benarkah?” satu senyuman lolos dari wajah pria itu. Membuat Yoona ikut tersenyum.

“Tidak juga. Bagaimanapun juga aku masih merasa kesal padamu.” Jawab Yoona.

Jawaban Yoona membuat Smiley merasa bersalah lagi. Yoona tertawa melihat ekspresi wajah Smiley.

“Hey. Aku bercanda, oke? Jangan pasang tampang menyedihkan seperti itu.”

Smiley tertawa kecil menyadari Yoona tidak bersungguh-sungguh saat mengatakannya. “Baiklah. Aku kira kau masih marah padaku. Sejak hari itu, aku sangat menyesal. Aku ingin meminta maaf tapi kau selalu menghindari ku.”

“Lupakan saja. Aku sudah tak memikirkannya lagi. Jadi, apa yang kau lakukan sekarang?”

“Aku bekerja paruh waktu di perusahaan appa. Membuat game.”

“Paruh waktu?”

“Ya. Karena aku juga seorang komposer lagu.” Kekehnya pelan.

“Kau bercanda?” tanya Yoona tak percaya. Seingatnya Smiley payah dalam pelajaran musik.

“Tentu saja tidak Im Yoona.” Smiley memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya.

Yoona tertawa pelan. “Wow. Aku tidak percaya. Seorang Smiley yang selalu bolos pelajaran musik kini menjadi seorang komposer lagu.”

“Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini jika kau berusaha. Seperti yang kau bilang hahaha.” Smiley mengedikkan bahunya.

Selama beberapa saat mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Keduanya sangat ingin membicarakan tentang perjodohan mereka. Tapi keduanya sama-sama tahu, lebih baik habiskan makanan terlebih dahulu. Baru membicarakan masalah utama.

“Aku tahu kau menelpon ku bukan tanpa alasan. Jadi, katakan padaku hal penting apa yang ingin kau bicarakan hingga mengajakku makan siang?” tanya Yoona to the point setelah mereka menghabiskan makanan.

“Tentang perjodohan.”

Yoona mengangguk paham. “Sebelumnya aku ingin bertanya, apa kau sudah tahu tentang rencana perjodohan ini?”

Smiley menimbang-nimbang jawaban yang akan ia utarakan. Ia pun menjelaskan semua yang ia ketahui.

“Beberapa bulan sebelumnya, eomma mengatakan bahwa ia ingin menjodohkan ku. Saat itu aku menolak dengan tegas karena aku ingin mencari pasangan ku sendiri. Eomma setuju saat itu dan berkata jika aku tak mengenalkan kekasih ku dalam kurun waktu yang ditentukan, maka eomma akan menjodohkan ku tanpa menanyakan pendapat ku lagi. Sayangnya, aku sibuk dan melupakan apa yang dikatakan eomma.”

Ucapan Smiley berhenti. Menelisik ekspresi wajah Yoona. Yoona menatapnya dengan raut wajah ‘tolong lanjutkan ucapan mu.’

“Beberapa minggu lalu, kedua orang tua ku menanyakan apakah aku mengenal wanita yang bernama Im Yoona. Dan aku menjawab bahwa aku memang mengenalnya. Karena dari sekian banyak orang yang pernah ku temui, aku mengingat mu dengan jelas. Karena ya kau pasti tahu alasannya, aku mengejek gambar mu. Dan aku benar-benar tak tau apa-apa saat itu. Aku baru menyadarinya saat aku melihat mu di rumah teman kedua orang tua ku.”

Yoona mendesah. “Jadi kau tidak tahu kau akan dijodohkan dengan ku? Kau hanya tau akan dijodohkan tapi kau tidak mengetahui bahwa partner perjodohan mu itu aku?”

“Emm ya begitulah. Tapi saat mengunjungi orang tua mu aku tidak tahu bahwa itu adalah bagian dari perjodohan. Orang tua ku hanya mengatakan bahwa aku harus menemani mereka untuk makan malam dengan sahabat lama mereka. Lalu bagaimana dengan mu?”

“Aku bahkan tidak tahu bahwa aku akan dijodohkan.” Ucap Yoona kesal. “Yang aku tahu hanya sahabat orang tua ku akan datang untuk makan malam. Aku merasa seperti sedang bermain drama. Drama dimana aku dijodohkan dengan seseorang, aku menolak dan membencinya. Tapi lama-lama aku mencintainya.”

Smiley tertawa keras mendengar ucapan Yoona.

“Hey kenapa kau tertawa? Apakah ada yang lucu?”

Smiley menghentikan tawanya. “Drama. Kau benar, aku juga merasa bahwa ini seperti drama perjodohan.”

“Aku benar-benar tak menyangka eomma melakukan hal ini pada ku. Jika eomma mengatakan terlebih dahulu, mungkin aku tidak akan bereaksi seperti itu saat makan malam. Biasanya eomma orang yang realistis. Mungkin karena drama yang sering ditontonnya, eomma berubah menjadi drama queen.” Yoona menggelengkan kepalanya.

“Jadi?”

“Jadi apa?” tanya Yoona tak mengerti.

“Perjodohan ini. Apa yang harus kita lakukan?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Kau yang sudah menyetujui perjodohan ini secara tidak langsung.”

“Aku tidak bermaksud. Aku hanya melupakan perjodohan ini. Aku sibuk dan aku tidak mengenalkan pasangan ku pada eomma.”

“Kau punya kekasih?” tanya Yoona cepat.

Smiley menjawab ragu. “Sebenarnya, tidak. Aku selalu disibukkan dengan pekerjaan ku.”

Yoona menghembuskan napas. Satu-satunya hal yang ia kira bisa membatalkan perjodohan ini pupus.

“Bagaimana denganmu?” Smiley bertanya. Karena Yoona menatapnya bingung, Smiley melanjutkan “Apa kau memiliki kekasih?”

“Tentu saja tidak. Jika aku punya, perjodohan ini tidak akan pernah ada.”

Entah bagaimana. Jawaban Yoona membuat Smiley menghembuskan napas lega.

“Setelah pulang dari rumah mu saat makan malam itu, aku menolak apa yang orang tua ku rencakan. Tapi eomma meminta ku untuk memikirkan matang-matang. Eomma ingin aku lebih mengenal mu. Jika aku tidak merasakan apapun terhadap mu, aku bisa menolak rencana ini.”

Yoona tertawa getir. “Apa yang diucapkan Minri ahjumma, sama persis dengan apa yang eomma ku ucapkan. Aku benar-benar seperti bermain drama. Apa ada kamera tersembunyi disini?” Yoona menolehkan kepalanya ke seluruh penjuru restaurant. Berharap menemukan kamera tersembunyi dan beberapa crew yang keluar sambil mengatakan ‘Selamat! Anda masuk dalam program acara kami.’

Tapi Yoona tahu, bahwa hal itu tidak akan terjadi. Satu-satunya cara terlepas dari masalah ini adalah menerima dengan lapang hati keinginan orang tuanya.

“Aku rasa kita tidak memiliki alasan lain untuk membatalkannya. Dan mau tidak mau kita harus mencobanya terlebih dahulu.” ucap Smiley.

“Baiklah. Kau benar. Jika kita tidak menyukai satu sama lain. Secara otomatis, perjodohan akan batal. Tapi bagaimana jika aku menyukai mu dan kau tidak menyukai ku atau kau menyukai ku sementara aku tidak menyukai mu?”

Smiley mengusap dagunya. Berpikir akan pertanyaan Yoona. Kemudian ia menatap langsung ke dalam mata Yoona. “Kau tidak mungkin menyukai ku. Dan aku tidak mungkin menyukai mu, karena aku menyukai orang lain.”

Sudah pukul sepuluh malam. Seorang pria berdiri di balkon kamarnya. Sudah setengah jam ia berdiri disana. Pikirannya sibuk dipenuhi akan ucapan orang tuanya.

“Bagaimana Yoona?” tanya ibunya tiba-tiba.

 

Smiley yang sedang mengunyah makanannya tersedak karena pertanyaan ibunya. Ayahnya langsung menyodorkan segelas minum ke arahnya. Dengan tergesa-gesa Smiley menandaskan air putih itu.

 

Jadi, tema perbincangan makan malam kali ini adalah Yoona. Dan tiba-tiba saja Smiley jadi enggan menghabiskan makanannya.

 

“Baik. Kami sudah bertemu tadi siang.” Jawab Smiley pendek.

 

“Apakah Yoona menyetujuinya?” Ayahnya ikut menimpali pembicaraan ini.

 

“Apakah aku bisa menolak perjodohan ini, eomma appa?” tanya Smiley frustasi.

 

Ayah dan ibunya saling melirik. Berbicara melalui tatapan yang hanya kedua orang itu mengerti. Kemudian keduanya menoleh ke arah Smiley dan menggeleng secara bersamaan. Melihat hal itu Smiley mendorong piring di mejanya. Ia benar-benar tak berselera makan sekarang.

 

“Kau sudah tahu jawabannya sayang. Eomma dan Appa sudah memikirkannya dengan matang. Dan kami tahu bahwa Yoona yang terbaik untuk mu.” Ibunya tersenyum ke arahnya. Sedangkan ayahnya hanya mengangguk. Benar-benar tidak ada jalan lain lagi selain melakukannya.

 

“Kau hanya perlu mengenalnya lebih jauh. Eomma yakin kau akan menyukainya. Yoona gadis yang baik dan ramah. Selain itu ia juga cantik. Lagipula kalian sudah saling mengenal bukan?”

 

“Tapi aku tidak terlalu mengenalnya eomma. Selama senior high school, aku hanya beberapa kali berbicara dengannya. Itu pun bisa ku hitung dengan jari.”

 

“Maka dari itu, kau harus sering berinteraksi dengannya. Kau tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya. Jika kau sudah mencoba tetapi kau tetap tidak menyukainya, kau bisa membatalkan perjodohan. Dengan syarat, kau benar-benar harus mencobanya.” Kali ini ayahnya yang berbicara. Smiley sangat menghormati ayahnya. Setiap perkataan yang keluar dari mulut ayahnya adalah hal yang harus ia ikuti. Jadi Smiley tidak bisa melakukan apa-apa selain mencobanya.

Smiley menjambak rambutnya kasar. Yoona memang gadis yang cantik. Yang ia tahu gadis itu juga ramah dan mudah bergaul. Bukannya ia tak menyukai Yoona, ia hanya tidak suka dengan cara orang tuanya yang berusaha mendekatkan ia dengan Yoona melalui tali perjodohan. Ia hanya ingin memiliki sebuah hubungan sama seperti orang lain pada umumnya. Bukan perjodohan yang ia anggap tidak normal.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Memandang gadis cantik yang menjadi wallpapernya.

“Aku mencintai mu.” Ucapnya pada gadis di layar ponselnya. Kemudian ia menekan sejumlah nomor dan menelepon seseorang.

Yoona merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia sudah bersiap-siap berkelana ke dunia mimpi. Namun, suara ponsel menghentikan niatnya. Dengan kasar, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Melihat layar ponsel siapa orang menyebalkan yang meneleponnya dan mengganggu rencana tidurnya.

“Halo.” Sapa Yoona setelah menjawab panggilan.

Apa aku mengganggu mu?” tanya seseorang di seberang sambungan.

“Menurut mu? Kau menganggu acara tidur ku.”

Hahahaha maaf maaf. Aku hanya penasaran tentang sesuatu. Bagaimana pertemuan mu dengan Smiley?

“Bagaimana apanya?” Keinginan Yoona untuk tidur sudah lenyap. Digantikan dengan kerutan bingung di keningnya akan pertanyaan Yuri.

Apa kau setuju menikah dengannya?

“Wait wait. Apa ini? Menikah? Aku hanya di jodohkan Yul. Bukan akan dinikahkan.”

Sama saja bodoh. Tujuan kalian dijodohkan adalah menikah.

Yoona bersandar di kepala tempat tidurnya. Baru menyadari sesuatu. Kenapa ia sangat bodoh beberapa hari terakhir? Tujuan ia dijodohkan karena akan dinikahkan bukan?

“Astaga…aku tidak memikirkan sampai sejauh itu.” desah Yoona sambil memukul kepalanya.

Kau tiba-tiba menjadi bodoh karena hal ini hahahaha jadi bagaimana?” desak Yuri.

“Aku terpaksa menerimanya. Aku rasa kau tahu alasannya.”

Karena eomma mu sedang berada dalam mode drama queen?” tebak Yuri sambil terkekeh.

“Tepat sekali. Aku tidak punya pilihan lain.”

Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia menjauhkannya dari telinga dan melihat layarnya. Kemudian ia menempelkannya kembali ke telinga.

“Yul. Lain kali saja kita bicara. Ada yang menelepon ku.”

Siapa?! Apakah Smiley?” Yoona dapat mendengar tawa Yuri.

“Seperti biasa. Tebakan mu tepat Yul. Bye!”

Tanpa balasan ucapan Yuri, Yoona mematikan sambungannya dan menerima sambungan dari Smiley.

“Ada apa?”

Kau sedang apa?

“Aku? Aku baru saja mau tidur. Kenapa menelepon ku?”

Aku rasa kita memang harus mencobanya.

Yoona teringat akan percakapan tadi siang. Sebelum berpisah, Smiley mengatakan bahwa ia akan mencoba membujuk orang tuanya. Setelah mendengar ucapan Smiley, Yoona tahu bahwa ia gagal membujuk orang tuanya.

“Baiklah. Lagipula aku tidak perlu khawatir akan jatuh cinta dengan mu, begitu juga dengan mu.”

Tapi aku merasa tidak nyaman melakukan hal ini. Kita sama-sama tahu bahwa kita tidak mungkin saling jatuh cinta.

“Kau benar. Aku rasa kita harus mengubah mindset bahwa kita dekat bukan karena perjodohan. Bagaimana jika kita bersahabat?”

Ide bagus. Jadi, maukah kau menjadi sahabat ku?” tanya Smiley sambil tertawa.

“Tentu saja. Jadi, sekarang kita bersahabat. Dan jangan katakan pada orang tua mu jika kita sekarang bersahabat. Biarkan mereka menganggap kita dekat. Setidaknya cara itulah yang paling aman untuk saat ini.”

Oke. Aku setuju, sahabat.” Kekeh Smiley.

“Baiklah sahabat, mau kah kau menceritakan pada ku tentang wanita yang kau sukai? Bukankah kita bersahabat sekarang?”

Suara ketukan pintu sedikit mengganggu konsentrasi Yoona. Tanpa melepas pandangannya dari sketsa di buku gambarnya. Ia mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintunya untuk masuk.

“Eonni. Ada yang mencari mu di bawah.” Yoona mengalihkan pandangannya dan melihat Krystal Jung berdiri dihadapannya. Krystal adalah pegawai di butiknya. D’Design terdiri dari dua lantai. Lantai bawah adalah tempat pakaian-pakaian yang dipamerkan dan dijual. Sedangkan lantai atas adalah ruang kerja Yuri dan Yoona, serta ruang bahan dari segala macam jenis dan motif.

“Siapa?” Yoona bangkit dari kursinya dan berjalan ke lantai bawah.

“Aku tidak tahu eonni. Saat aku tanya, laki-laki itu hanya mengatakan bahwa eonni pasti mengenalnya.”

“Laki-laki?”

“Iya. Laki-laki yang tampan dan seorang wanita disampingnya.”

Setelah sampai, Yoona melihat Smiley sedang duduk di sofa yang disediakan. Segera saja ia menghampiri Smiley.

“Apa kau yang mencari ku?”

Smiley meletakkan majalah yang ia baca dan berdiri di hadapan Yoona. “Benar. Aku membawa seseorang yang aku janjikan untuk bertemu dengan mu.”

“Lalu dimana wanita itu?” tanya Yoona sambil melihat ke sekeliling Smiley.

“Annyeong. Perkenalkan aku Choi Jinri.” Seorang wanita tiba-tiba menghampiri mereka dan mengucapkan salam.

“Annyeong. Apa kau wanita yang Smiley ceritakan?” tanya Yoona sambil mengulurkan tangan dan dibalas oleh wanita itu.

Dengan senyum malu, Jinri mengangguk “Benar. Pasti oppa sudah mengatakan padamu.”

“Baiklah. Jadi kau ingin gaun pengantin yang seperti apa, Jinri-ssi?”

“Jangan panggil aku seformal itu. Panggil dengan akrab saja. Layaknya seorang teman. Bukankah kau sahabat oppa ku?”

“Oke. Kau ingin rancangan seperti apa, Jinri-ya?”

“Apa eonni bisa menunjukkan beberapa contoh gaunnya?”

Smiley tersenyum melihat interaksi antara keduanya. Walaupun keduanya baru bertemu, tapi mereka seolah-olah sudah mengenal lama. Hal itu membuat Smiley lega, karena Jinri merupakan wanita yang agak tertutup.

Smiley kembali duduk di sofa. Ia bisa menduga bahwa percakapan antara Yoona dan Jinri akan berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, Jinri menghampirinya sambil menunjukkan sketsa gaun pengantin yang ada di tangannya.

“Oppa, bagaimana menurut mu? Apa kau suka?”

Smiley menatap desain gaun di kertas itu. Simple dan manis. Sesuatu yang akan membuat Jinri terlihat cute saat memakainya.

“Emm bagus. Ku rasa kau cocok memakainya.”

Jinri menatap Yoona dengan pandangan berseri-seri. “Oppa menyukainya eonni. Jadi aku ingin gaun seperti ini.”

Yoona tersenyum senang mengetahui Jinri menyukai rancangannya.

Tiba-tiba Yoona menjadi penasaran akan hubungan Jinri dan Smiley. “Apakah Jinri itu adik mu Smiley?”

Smiley tertawa dan mengacak gemas rambut Jinri. “Tentu saja bukan, Yoona-ya.”

“Kau ingin mampir ke rumah ku?” tanya Yoona. Saat ini ia sedang berada di kursi penumpang mobil Smiley. Beberapa saat lalu, Smiley menjemputnya seusai pulang kerja. Setiap ada kesempatan Smiley akan menjemputnya, sekedar untuk mengantarnya ke butik atau pulang ke rumah. Bukankah itu hal yang wajar untuk sepasang sahabat?

“Ku rasa itu bukan ide yang buruk,” Smiley melepaskan seat belt nya sambil tersenyum “Lagipula, aku rindu masakan eomma mu. Siapa tahu eomma mu akan menawari ku makan malam.”

Ucapan Smiley tak ayal membuat Yoona tertawa. Ia tahu masakan ibunya memang enak. Hal itulah yang menjadi alasan tersembunyi Smiley menjemput Yoona pulang kerja. Sambil berjalan menuju teras rumah Yoona, sesekali mereka melemparkan candaan.

“Aku rasa eomma akan memasak. Kau tahu? Eomma ku tidak pernah memasak, ia hanya akan melakukannya saat kau datang kesini.”

“Benarkah?” tanya Smiley terkejut “Mungkin eomma mu lebih sayang pada ku dari pada dengan mu.”

Smiley terlebih dahulu berjalan menapaki tangga menuju teras rumahnya.

“Yang benar saja.” Yoona merotasikan bola matanya.

Yoona yang berjalan dibelakangnya agak sedikit kesusahan menaiki tangga yang terdiri dari batu-batu tak rata dan permukaan licin. Terlebih lagi Yoona mengenakan heelsnya. Saat hampir sampai di puncak tangga, ia tersandung dan membuat tubuhnya terhuyung kedepan. Smiley yang menyadari hal itu dengan cepat menangkap tubuh Yoona bermaksud mencegah Yoona jatuh. Sayangnya, karena kurang keseimbangan tubuh Smiley terjatuh dilantai dengan Yoona yang berada diatasnya.

“Aww!!” pekik keduanya bersamaan. Smiley meringis saat punggungnya membentur lantai. Ditambah Yoona yang ikut terjatuh di atasnya. Tangannya melingkari pinggang Yoona.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Yoona khawatir.

Tiba-tiba mereka terpaku. Menyadari posisi mereka saat ini. Berbaring di lantai dengan Yoona di atas tubuhnya – dipelukannya – bukan ide yang bagus.

Pintu terbuka. Baik Yoona maupun Smiley dapat mendengar pekikan dari seorang wanita.

“Apa yang kalian lakukan?!”

.

.

TBC

Author’s note :

Hai. Aku kembali dengan membawa cerita baru hahahaha. Sebelumnya aku berterima kasih buat reader yang baca Eight Years. Aku senang baca komentar kalian! Maaf tidak bisa membalas satu persatu😀 Uhm ada yang minta sequel dari ff itu, tapi maaf aku tidak bisa membuatnya karena ada beberapa kisah cinta yang akhirnya gak bahagia.

Reader : bilang aja lu males nulis thor!

Wkwkwk iya sih. Abisnya aku suka cerita yg sad ending hohohho

Dan untuk IF ini tokoh prianya masih aku rahasiakan. Huahahaa hayo siapa ya prianya? Dan aku harap kalian mengerti dengan cerita ini

Semoga kalian gak kecewa jika aku menulis cast pria yg bukan kalian harapkan, karena dari awal punya ide ini. Cast prianya udah aku tentuin. Dan aku iseng aja sih sebenernya nyembunyiin si pria ini wkwkwk

Terima kasih sudah membaca. Dan aku sangat menghargai kalian yang meluangkan waktu untuk menulis komentar, kritik dan saran buat aku🙂

Terima kasih!

34 thoughts on “(Freelance) Twoshot : IF (Take 1)

  1. He must be chanyeol park! Hehe itu jinri jadi siapanya smiley? Aku harap bukan pacarnya hehe aku gasuka chanli:( penasaran nih, update soon ya author-nim ㅋㅋ

  2. Aigoo, itu si smiley chanyeol bkn? Coz, karakter it cocokx ma yeol oppa😀
    huaa keren🙂
    Tbc ganggu ja😦
    tp sumpah adegan trakhr thuc lucu, hehehe😀
    next chap d.tnggu!😉 fighting!

  3. smiley? duh kayanya chanyeol ya thor?
    penasaran nih huhu…
    berharapnya sih sehun/kai
    trus itu kenapa si sulli nyelip coba -_-
    jebal thor akhirnya happy ending kan ya? :”)
    penasaran banget dehh…ditunggu part selanjutnya ya thor…
    fighting…^^

  4. Hhhaa suka scane terakhir… Cielahh mereka kpergokk lagi tduran di lantai .. uhuhuuuuuu …
    Smiley ??? identik dngan Yeoli .. But, aku g brharap itu dia ,.. Kris + Sehun ?? ahh g ccok buat orang kaku kaya mereka mah .. Luhan,.. mungkin itu yang lumayan srekkk … Oktaecyeonnnn dtunggu aja kelanjutannua thor !!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s