Hidden Scene [10]

Hidden Scene

HiddenScene

fanfiction by aressa.

starring

GG’s Yoona and EXO’s Sehun along with ex-GG’s Jessica

with

former member of EXO’s, Kris

.

.

.

.

Sehun membuka pintu itu perlahan. Kamarnya kosong dan gelap. Tapi wanita itu membuka gorden lebar lebar. Sehingga ruangan itu sepenuhnya tenggelam dalam cahaya musim panas.

“Sehunie?”

Itu suaranya. Suara malaikatnya yang rupawan, “Noona” desahnya ketika melihat Yoona yang hanya menggunakan bathrobe. Rambutnya diikat tinggi tinggi, mengekspos leher putihnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” dia melirik jendela besar itu, dia memperhatikan rekan seagensinya itu sepertinya benar benar tenggelam dalam dunia liburan mereka, “Mereka terlihat bahagia”

“Do you?”

Senyum itu bergetar diwajahnya. Yoona tidak punya keberanian untuk menatap Sehun yang masih bersembunyi dalam gelap. Tapi bahkan Yoona masih bisa merasakan tatapannya mengikuti dirinya.

Mengetahui bahwa wanita lain berusaha mengklaim dirimu. Apa aku patut bahagia?

“Ya, aku bahagia” senyumnya kembali melebar, “setidaknya, aku bisa melihat orang yang kusayangi tertawa” emosi mewarnai suaranya. Setidaknya

“Tidak buruk, hmm?” Sehun menarik lengan wanita itu. Membuat Yoona berada di dekapannya, wangi sabun yang lembut menguar dari kulit perempuan yang menempati hatinya itu.

Yoona tidak menjawab. Lebih memilih mendengarkan jantung Sehun yang menenangkannya. Irama yang selalu disukainya.

“Maaf tentang Suho”

Yoona tersenyum. Tidak mengganggu sama sekali temperamen pria dengan angelic face itu sebenarnya. Dia mengenal Suho dan tahu bahwa Suho pun banyak melakukan dosa. Dia berkata tajam untuk Kris. Bukan Suho

Tapi kemudian senyumnya memudar.

“Apa mereka memang seperti itu?” dia menegakan kepalanya dan menatap mata Sehun yang dalam, “ada apa antara mereka?”

Sehun menggeleng, “Suho menyukai Jessica”

Entah itu halusinasi nya saja atau memang kenyataan berkata seperti itu,Yoona merasa bahwa nada suara Sehun berubah saat menyebut Jessica. Nadanya seperti bosan, jengah.

“Aku tahu” gumam Yoona. Dia hanya tidak menyangka Suho bisa begitu kekanak kanakan. Jessica dan Kris memang dekat. Semua tahu itu. Mereka sahabat. Banyak yang bilang begitu.

Sahabat? Huh. Jessica menyukai Oh Sehun. Apa kurang jelas? Apa mereka terlalu buta untuk tahu bahwa wanita itu berusaha mendapatkan hati pria yang sedang mendekapnya ini?

“Sebenarnya aku lelah dengan semua ini” Sehun mendudukan dirinya dipinggir ranjang, tanpa melepas pelukannya sama sekali “Kris itu kaku dan tidak bisa beradaptasi dengan baik. Dia narsis dan itu kombinasi yang buruk sekali”

Nah, kalau ini Yoona yakin sekali. Sehun sangat mengaggumi Kris. Dia menyukai pria berdarah China itu. Rasa hormatnya pada gege-nya itu sangat kental disuaranya. Yoona sudah terlalu mengenal Sehun. Sehun bukan pria yang mudah hormat dengan seseorang. Sehun dibesarkan di keluarga terhormat, semua orang menghormatinya sebagai Tuan muda. Dia hanya punya sedikit orang untuk di hormati di masa kecilnya, tapi dia diajarkan untuk tidak menunjukan rasa tidak hormatnya. Sehun itu dingin, kalau dia boleh akui. Tapi dia menghormati seseorang dengan cara yang tak terduga.

Dia tersenyum. Tidak hanya dirinya, sepertinya Sehun pun menyukai Kris, “dia baik, Sehun-ah”

Sehun tersenyum dan dengan tiba tiba memeluk kekasihnya erat, “Sehun?” bibir pria itu setia di kepala Yoona, menikmati aromanya yang menenangkan, “Kris memang baik. Aku menyayanginya. Dia berbeda dengan caranya yang unik”

Yoona terkekeh dan membiarkan Sehun memeluknya. Dia tidak peduli yang lain akan memergokinya atau apapun. Untuk saat ini, Yoona benar benar membutuhkan Sehun. Dia begitu kalap dengan perasaannya sendiri dan dia tahu dia butuh pria ini.

“Sehun-ah?”

“hmm?”

Yoona membiarkan Sehun mengecup lehernya, telinganya, rahangnya, “Seberapa besar kau mencintaiku?”

Sehun tersenyum dalam ciumannya. Dia mengecup kening Yoona dalam dalam sebelum menjawab, “Aku tidak tahu. Terlalu besar untuk ku ketahui” kemudian bibir itu menjadi perhatiannya, “Kurasa, sudah dalam darahku tertulis untuk mencintaimu”

Dan Yoona melupakan segalanya. Like she always did, just because a kiss.

//

Sehun bersenandung pelan. Rambutnya basah dan sedang dijilati Jangah. Sementara tangannya sedang sibuk dengan keyboard MacBook nya. Hyung hyung nya sudah tepar di dalam kamar setelah perjalanan pulang.

“Apa yang sedang kau lakukan hun?” itu Kris yang datang dengan Jongin. Kris mengangkat Jangah dari kepala Sehun dan memangkunya.

“Mengerjakan beberapa tugas” jawabnya singkat.

Jongin yang berada di satu universitas dengan Sehun, bingung. “Setahuku, kau sudah menyelesaikan tugas musim panasmu” kemudian dia melongok melihat statistic yang sedang dibuat Sehun, “Hell, aku tidak tahu kau mempelajari economy statue di Teknik metafisika” dia kemudia meneguk cola Sehun, “ Berhenti belajar. Nanti aku tak bisa membalapmu”

“Kau saja yang terlalu bodoh” gumam Kris. Pria itu tidak mengerti grafik aneh macam apa yang sedang Sehun kerjakan.

Adik kecilnya itu sendiri sedang asik membaca setumpuk kertas dan hanya menjawab sambil lalu, “Bukan tugas kuliah. Hanya membantu hyung mengurus beberapa dokumen”

“Hyung? Memangnya ak—“

Jongin menendang kaki Kris, “Itu artinya kakaknya bodoh. Sejun pasti kesulitan mengurus perusahaan sebesar itu sendirian” dia kemudian mencoba memahami ekspresi Sehun, “Tumben sekali kau mengerjakannya di dorm. Biasanya kau akan pergi ke apartemen mu atau sauna dan kawan kawan”

“Terlalu lelah. Song Naheul memberikan ini padaku beberapa jam lalu” lalu dia melihat pandangan Jongin yang keheranan, “Well, dia sekretaris baru keluargaku. Masih muda dan cukup cantik. Sejun sepertinya mulai tak waras”

“Biar bagaimanapun dia juga laki laki, bodoh” ucap Kris malas, kemudian dia mengingat sesuatu, “Hubungannya dengan Nara-ssi baik baik saja?”

“Oh ya, mereka akan bertunangan bulan depan kurasa. Itu sebabnya Sejun memintaku mengurus beberapa dokumen”

“O—“

“Lalu bagaimana denganmu?”

Sehun menoleh, melihat Jongin yang tersenyum menggoda, “Apa maksudnya?”

“Kakakmu akan bertunangan. Kau kapan?”

“Aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapapun saat ini” Sehun baru membuka suaranya setelah terdiam beberapa saat, “Lagipula, bahaya jika perusahaan tahu” katanya dingin.

Kris terdiam. Begitupula Jongin yang tidak mengalihkan pandangannya dari Sehun. Pria itu terlihat dingin dan kaku. Tegang, seolah olah urat uratnya dipaksa bertahan dari sesuatu. Jongin menyeringai. Sebegitu dewasanya kah Oh Sehun? Cerdas dan sungguh bertanggung jawab. Tapi pada satu sisi, sangat bodoh dan kekanak kanakan.

Sementara Kris sedang mencerna perkataan Sehun. Dia kemudian mengingat Yoona. Bodoh sekali, tidak pernah terpikir olehnya bahwa perusahaan mungkin akan menyebabkan masalah. Aturan itu jelas sekali bagi mereka.

Tidak diperbolehkan adanya hubungan lawan jenis dalam satu atau luar agensi tanpa persetujuan CEO.

Dia mencintai Yoona. Dan jika benar wanita itu mencintai dirinya, mereka tidak mungkin bersatu. Agensi tidak akan memperbolehkannya. Yoona terlalu menjadi kesayangan mereka untuk bersamanya.

“Persetan dengan agensi, Sehun” ucap Jongin tiba tiba, Sehun melebarkan matanya kaget, “Kita mengorbankan segalanya. Apa hati dapat dibohongi?”

“Kau tahu apa keputusanku Kai”

“Dan kepusan yang sangat kusesali. Sampai hari ini” Jongin menunduk. Luka itu kembali terbuka setelah beberapa lama. Kenangan manis itu begitu menggiurkan. Merayunya untuk sekali lagi mengecup cinta itu, “Hal itu akan selalu menjadi alasan terkuat kenapa aku harus bersinar di panggung”

Mereka bertiga duduk. Dengan masalah masing masing. Terikat dengan kontrak yang mengorbankan segalanya. Terikat dengan popularitas yang harus dibayar mahal. Jalan menuju impian yang hanya sepenggal jari.

Sehun menyadari itu. Kris hanya memutar mutar ponselnya, Jongin menunduk mengingat kesalahannya. Mereka tampak muda. Seperti tidak ada berjam jam latihan untuk dihadapi. Tidak ada berton ton kelelahan yang merasuki. Mereka duduk seperti pemuda Korea lainnya, memikirkan wanita dan betapa hidup begitu menyedihkan.

Kemudian Sehun tertawa tanpa rasa. Dia tidak tahu apa yang merasukinya. Melihat wajah frustasi Jongin dan tatapan ragu Kris menggetarkannya. Mereka tidaklah lebih dari seorang pemuda dalam golden age yang istimewa. Lepas dari segala kepopuleran. Dari teriakan dan hadiah.

Sehun tertawa keras keras. Tidak memahami hatinya yang konyol.

Dia menertawakan keadaan. Dia menertawakan kesalahannya. Dia menertawakan hidupnya yang menyedihkan. Dia menertawakan kelemahannya, kekuatannya, kebodohannya, keputusannya. Dia menertawan banyak hal.

Jongin tidak tahu apa yang mendorongnya. Mungkin suara tawa Sehun yang hampa? Seolah setiap tawa mengandung ejekan. Seolah Sehun sedang mengejek dunia setelah mempermainkannya sebegitu rupa.

Dan begitulah Jongin tertawa. Lepas dari belenggu masa lalunya. Tertawa hingga hatinya sakit

“Dasar anak kecil” meskipun Kris menahannya, dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia kemudian merobohkan benteng pertahanannya. Dan ikut membuka mulutnya

Malam itu dihabiskan dengan tawa yang menyedihkan dari tiga pemuda yang muak dengan dunia yang kejam.

//

Yoona menghela nafasnya di kemudi. Pikirannya sedang tidak tenang. Seluruhnya mengarah pada Jessica yang sialnya akhirnya mengakui bahwa dia menyukai Sehun.

Sehun.

Oh Sehun

Nama yang selalu membuatnya bergetar. Nama yang selalu mengirimkan angin sejuk pada dirinya. Pria yang dicintainya. Pria yang mempermainkan hatinya, mencabiknya setiap saat.

Apa yang harus dia lakukan?

Dia sudah lelah menangisi keadaan. Tidak ada gunanya. Hanya menyakitinya dalam dan lebih dalam lagi. Seperti pisau yang tertancap sempurna di hatinya. Setiap pergerakan mengirimkan jutaan rasa sakit yang menyebar keseluruh tubuhnya.

Yoona benci sekali dengan dirinya. Dia begitu mudah berubah. Dia terlalu takut. Dia bodoh.

Dia menangis. Entah untuk keberapa kalinya. Kali ini dia tidak mengharapkan apapun. Dia hampa dan kosong. Mengetahui bahwa seseorang yang berarti bagimu begitu mencintai seorang yang kau cintai.

Ada apa dengan Oh Sehun dan semua hal gila ini?

Ini bukan seperti Yoona tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Yoona pernah mengalami patah hati. Dia pernah megalami bagaimana seseorang yang menjadi udara bagimu direnggut begitu saja darinya. Dia pernah mengalami bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Dia menyaksikan orang lalu lalang dalam hidupnya dalam berbagai cerita.

Tapi cerita ini terlalu menyakitkan.

Yoona pernah mencintai Donghae. Yoona pernah merasa bagaimana rasanya nama itu mengirmkan ribuan kehangatan dihatinya. Yoona pernah merasa bahwa Donghae adalah hidupnya. Merasa bahwa tanpa pria itu, dirinya akan mati.

Dan dia selamat. Dia hidup dengan baik sampai beberapa waktu lalu. Menutup lukanya.

Tapi ini berbeda.

Ini begitu mencekiknya. Dia begitu marah pada keadaan. Cinta yang dia miliki begitu menuntut. Apa kebahagiaan memang semahal itu?

Apa susahnya bersatu dengan orang yang kau cintai?

Kenapa Yoona merasa begitu terikat dengan Sehun. Seolah pria itu sudah menyentuh bagian hatinya yang paling dalam. Seolah pria itu membangun penjara di hatinya. Seperti perawan tua, Yoona menyesali keaadaan.

Sehun hanyalah anak kecil, Yoona. Lepaskanlah dan bersikap dewasa. Waktu akan menyembuhkan lukamu.

Tapi Yoona begitu egois, pikiran untuk melepaskan Sehun menenggelamkannya kedasar lautan asam. Hancur bahkan sebelum dia sempat memikirkannya.

“Ibu” lirih Yoona pelan. Ibu kandungnya yang cantik membelai kepala anak perempuannya yang tertidur di pangkuan

“Tidurlah sayang”

“Apa salahku hingga dunia begitu kejam mempermainkanku? Apa aku pernah membuatmu terluka bu?”

Wanita bermata indah itu menghela nafasnya dalam dalam. Putrinya yang sangat dia sayangi sudah dewasa, namun begitu polos bagai bayi nya yang dulu masih menangis. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Yoona, sekali lagi membuat sang ibunda menghela nafasnya.

“Sayangku, dengar ibu” dia kemudian membuat Yoona duduk menatapnya, “Semua yang kau lalui di dunia ini, adalah cobaan. Ibu percaya dengan happy ending. Tapi semua orang dicoba dengan caranya sendiri nak”

Dia menyisipkan rambut coklat Yoona yang indah, “Lihat dirimu. Kau begitu cantik, berhati malaikat. Semua orang menyukaimu. Semua pria mengingkanmu. Setiap wanita begitu ingin menjadi sepertimu. Kau sukses diumurmu yang muda. Kau hidup mewah. Kau berasal dari keluarga berlatar belakang sukses. Kau memiliki masa depan yang cerah. Masa kecilmu bahagia. Kau tidak kekurangan suatu apapun dalam hidup, nak”

Dia menangkup wajah anaknya, “ Lihat aku? Hidupku sempurna seperti dirimu. Masa mudaku dihabiskan dengan belajar dan mengejar pengalaman. Aku tidak kesulitan dalam hal apapun. Aku menikahi seorang pengusaha muda yang naik daun.Terkadang aku menatap langit dan berterimakasih betapa Tuhan memberikanku kebahagiaan yang sempurna”

Lalu dia tersenyum sedih, senyum yang sangat mirip seperti yang biasa Yoona tampilkan, “Tapi kemudian, masalah itu datang. Begitu hebat. Begitu mengujiku. Menghancurkanku. Aku terlena dalam kebahagiaanku. Aku lupa diri. Aku harus melepaskan ayahmu untuk perempuan lain, perempuan yang menjadi cintanya. Hidupku tidaklah lagi sempurna sejak aku angkat kaki dari istana dimana aku adalah ratu yang dipuja. Meniggalkan pria yang memberikanku kebahagiaan, meninggalkan putri putri ku untuk kehidupan yang lebih baik”

Jemari mereka bertautan. Ibu dan anak yang begitu mirip keduanya! Benarlah orang bilang bahwa anak perempuan memang seharusnya mirip dengan ayahnya, bukan ibunya yang jelita. Hidup memisahkan mereka, “Tidak ada sesuatu yang sempurna sayang. Bahkan kebahagiaan pun tidak ada yang sempurna”

“Jadi menurutmu, aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan ku bu? Aku ingin hidup dan menghirup udara dimana aku bisa tenang dan damai”

“Kau dicoba sayang. Untuk kehidupan mu yang lebih baik lagi. Aku memang tidak sempurna lagi, tapi aku bahagia. Aku dewasa di umurku yang tua. Aku kembali hidup!” kemudia dia mendekap putrinya penuh kasih, “Badai pasti berlalu nak. Kau hanya perlu kuat dan menjalani semua yang telah disiapkan Tuhan untukmu”

Dia membenturkan kepalanya ke kemudi. Dia marah dengan dirinya. Ibunya seratus persen benar, tapi dia tetap tidak bisa menghentikan dirinya marah kepada dunia.

Yoona mengusap air matanya dan membenahi penampilannya. Dia rasa makan akan membantu moodnya. Dan dia sedang ingin sendirian saat ini. Kedai kopi itu terlihat menarik meskipun hari sudah hampir menuju tengah malam.

Yoona membuka pintunya mobilnya dan cepat cepat memakai kacamata hitamnya. Dan merapatkan cardigan tipisnya. Ketika dia mulai melangkah, seseorang menghentikannya.

“Im Yoona!?”

Wanita itu cantik dengan wajahnya yang berbentuk hati. Rambut berakhir diatas leher dan dandanan layaknya model. Dia tidak seperti siapapun dalam kategori fansnya. Tidak dengan fansite yang kaya raya. Nada suara wanita itu tidak terlihat kaget melihat dirinya. Tapi seperti kaget menemui seorang teman lama.

Kemudian, matanya menemukan manik wanita itu. Sesuatu tampak familiar padanya. Ketika wanita itu berjalan mendekatinya, dia mengulurkan tangannya.

“Kau…pasti mengenalku, ‘kan?”

Dan kemudian Yoona tersedak nafas nya sendiri.

Wanita itu……

//

Kris menahan nafasnya sendiri.

Yoona tampak luar biasa cantik pagi itu. Tampak begitu cerah dan segar. Gaun musim panas peach yang melambai lambai tertiup angin, sepasang heels manis dan tas tangan kecil benar benar membuat wanita itu tampak luar biasa.

Seperti biasa, Kris dan member EXO lainnya akan datang ke SM Building untuk latihan persiapan repacked album mereka. Kemudian dilanjutkan dengan serangkaian music stage, radio, interview, pemotretan dan sejenisnya. Sejak Kris membuka matanya, dia sudah malas sekali memikirkan berjuta kelelahan yang menunggunya di akhir hari. Dia berjalan terseok seok dan berpakaian asal asalan.

Tapi Im Yoona berhasil membuatnya segar kembali.

Wanita itu datang bersama Tiffany yang serba pink. Dengan beberapa bodyguard dibelakang (well, fans didepan gedung pasti berulah lagi) dan manager yang sibuk membacakan jadwal mereka hari itu. Saat melihat Kris, Yoona menyapanya ramah.

“Selamat pagi Kris. Jangan lesu seperti itu, ini pagi yang cerah sekali” dia melambai dari jauh dengan senyum musim panas, “kemana membermu yang lain?”

Saat Kris melihatnya dari dekat, baru dia sadari ternyata Yoona terlihat tidak sesegar kelihatannya. Seberapa lebar senyum yang wanita itu berikan, senyum itu tampak bergetar di wajahnya yang jelita. Matanya tampak lelah dan wajahnya menunjukan kelelahan yang dalam

“Yoona” dia maju selangkah, “ Apa kau baik baik saja?”

Yoona tampak terkejut. Senyumnya sedikit memudar, namun sudut itu sudah kembali terbentuk, “Apa maksudmu? Tentu saja aku baik baik saja”

“Kau tahu? Kalau dipikir pikir kau bukan pembohong yang handal”

Yoona kemudian terkekeh. Namun tawanya terasa kosong. Seperti ejekan kepada Kris. Dia teringat saat dia tertawa seperti orang gila bersama Sehun dan Kai tadi malam. Yoona tampak persis seperti mereka. Suaranya terasa hampa dan menyedihkan.

“Member-mu didalam kah?” dia menepuk nepuk bahu Kris, “Ini pagi yang cerah, jangan merusaknya dengan masam” kemudian dia masuk ke ruang latihan EXO, diikuti Tiffany yang menyapa Kris singkat.

Perkataan Yoona tampak seperti, ‘Pagi ini cerah, lupakanlah semua masalah dan sambutlah mentari. Meskipun itu artinya kau harus berpura pura’

Sekali lagi Kris jatuh cinta dengan Yoona.

Wanita itu begitu menawan. Dia kagum dengannya. Orang orang seperti Yoona memang patut diacungi jempol. Mereka yang tahu dengan benar bagaimana dunia entertainment bekerja, yang membuang tenaga untuk berpura pura. Untuk menyenangkan fans, mereka adalah luar biasa. Yoona adalah contohnya. Tanpa kenal lelah. Bersikap bahwa dia adalah wanita paling bahagia di dunia. Seolah dia punya sekantong penuh keceriaan di wajahnya setiap hari.

Kamuflase wanita paling bahagia di dunia menjadi wanita paling menyedihkan yang sempurna.

Kris terkekeh sinis dan membiarkan langkahnya masuk kedalam ruang latihan. Penasaran dengan apa yang dilakukan Yoona dan Tiffany dengan membernya.

Yoona tampak berbicara serius dengan dancing line grupnya. Sementara Tiffany berbicara dengan D.O. Kris yang penasaran akhirnya bergabung dengan Yoona. Mengundang pandangan empat manusia itu.

“Hyung, kau beralih profesi?” gumam Kai.

“Ge, kami sedang membicarakan sesuatu yang rahasia” ucap Lay

Yoona tersenyum manis, “Tidak apa Yixing-ah, bukan rahasia kalau nanti kalian harus berlatih kan?”

“Memang ada apa?”

Sehun yang menjawab dengan datar. Pria itu memang tampak menyebalkan pagi ini. Hanya diam dan tidak banyak mengeluarkan suara, “Project ulantahun perusahaan. Kami mau menampilkan sesuatu yang berbeda nanti di konser”

“Konser? Wooh, aku tidak tahu akan ada konser”

“Makanya aku bilang itu rahasia” bela Yixing. Yoona lagi lagi tersenyum pada pria itu dan mengatakan taka pa. Kemudian wanita itu melirik Tiffany yang sudah selesai dengan D.O

“Sudah, Yoong?”

Yoona menggeleng dan kemudian beralih kepada membernya selain Kris, “Malam ini. Okay? Aku tidak tahu teknisnya bagaimana, Yunho oppa akan membertahu kalian”

“Aku tak bisa”

Kali ini Tiffany yang berbicara, “Yang lain saja bisa, masa kau tidak hun?”

“Aniyo, hari ini masih ada project KBS sampai malam”

“Take scene nya hanya untuk Thunder dan Jiyeon. Kalau aku tak salah ingat, hari ini tak banyak yang bisa dilakukan di lokasi” gumam Yoona. Dan Kris benci harus mengingat Yoona dan Sehun berada dalam project yang sama. Tidak hanya KBS, project ulang tahun SM pun mereka dalam satu grup.

Kenapa aku tidak bisa seperti itu?

“Memang, tapi hari ini aku harus pulang ke rumah. Ada yang harus diselesaikan”

Kris kemudian ingat dokumen yang Sehun kerjakan malam kemarin, “Bukannya wanita pirang itu sudah mengambil kertas kertasnya”

“Ya dan memintaku pulang. Sesuatu yang penting, mengingat nada suara Hyung tadi” kemudian Sehun menatap Yoona, “Memangnya kau bisa?”

Yoona menggeleng, “Terserah. Jika kau benar benar tak bisa datang tidak apa apa. Aku sendiri pun tidak bisa. Masih ada beberapa jadwal sampai tengah malam”

“Yoona, jika kau sudah selesai, ayo pergi. Aku benar benar tidak mengerti lagi” wajah Tiffany memerah dan Yoona tertawa. Sepertinya dua wanita itu berkomunikasi dengan telepati karena sesudahnya senyum Yoona tampak menggoda.

“Iya, yang mau kencan beda memang” katanya, “Aku pergi dulu, annyeong. Have a good day”

Kemudian Kris mengejar Yoona sebelum pintu itu tertup. Beruntung Tifanny sedak sibuk dengan seseorang di ponselnya.

Kris menahan tangannya “Tunggu dulu” tatapannya penuh tanda tanya, jadi dia langsung mengutarakan maksudnya “Mau makan malam bersama? Kudengar ada restoran baru didaerah Samsung-dong”

Wanita itu sekilas terlihat murung, namun kembali cerah setelah beberapa detik, “Baiklah. Tapi aku tidak janji ya”

Kris mengangguk dan tidak membiarkan Yoona melepaskan pergelangan tangannya dari genggama Kris. Pria itu ingin menikmati momen itu sejenak saja. Menikmati aliran listrik yang mengalir dari genggamannya.

“Eung…Kris?”

Kris kemudian melepaskannya. Dan tersenyum tanpa dosa, “Okay. Hubungi aku kepastianya”

Yoona tersenyum dan Kris merasa tidak ada pagi yang lebih baik dari itu

//

Yoona harus kembali menahan kesalnya saat jemari Jessica berjalan di rambut Sehun. Dan sialnya pria itu tampak tak peduli dengan dirinya dan lebih memilih membaca majalah sementara Jessica mengeringkan rambutnya.

Yoona melirik Jiyeon dan Myungsoo yang asik bercengkrama di sampingnya. Sesekali, jemari Myungsoo mengusap rambut wanita itu, membuat pipi Jiyeon memerah. Dia tersenyum hambar dan kembali melirik Sehun yang tak acuh.

Sehun-ah, lihat aku. Tidak kah kau tahu aku ingin seperti mereka?

Mata rusanya menangkap Jessica yang tampak bahagia. Wanita itu terlihat tulus dan hati hati mengusap usap rambut Sehun. Sesekali bibirnya bersenandung kecil atau terkekeh. Ekspresi wanita itu begitu bahagia hingga membuat Yoona geram dan ingin menarik Sehun sekarang juga. Man, dia tepat di samping pria itu dan dia mengacuhkannya? Demi tuhan.

“Sehun-ah” panggil Jiyeon

“Hmm?”

“Kau jahat” Yoona menoleh pada Jiyeon yang cemberut. Yoona tahu Jiyeon itu sahabat kecil Sehun tapi dia tidak tahu kalau Jiyeon mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui. Oh ayolah, Yoona itu pintar.

“Jahat?” gumam Jessica yang membuat Yoona dongkol. Apa Jessica tidak bisa diam saja? Oh iya, Yoona lupa kalau Jessica mencintai Sehun. Andai saja Yoona bisa melupakannya agar dia tak perlu merasakan sakit seperti ini.

Tidak tahukah kau kalau aku disini juga mencintainya?

“Kau menyukai Jessica dan kau tidak memberitahuku?” Jiyeon merengut, “Kau menyebalkannnn”

Dan Sehun tersedak keripik yang sedang dia makan. Sedangkan dalam sepersekian detik, Jessica berubah menjadi merah. Yoona menggerakan matanya menatap Sehun yang meminum milkshake nya dengan cepat, kemudian mengalihkan pada Jessica yang tampak luar biasa merah. Seolah olah sekaleng cat warna pink baru saja ditumpahkan ke wajahnya. Yoona sendiri tidak menggerakan tubuhnya. Terkejut? Ya, tapi dia tahu luka hatinya lebih dalam dibandingkan rasa terkejutnya.

“Jangan bercanda, Jiyeon” ucap Sehun sinis

“Siapa yang bercanda sih tuan? Lihat saja, setahuku kalian tidak dekat” Jiyeon kemudian memicingkan matanya, jari telunjuknya mengarah pada rambut Sehun yang kini setengah kering, “Tapi lihatlah, tiba tiba kau dekat dengannya. Kau menyukainya kan?”

Sehun tertawa dan Yoona tahu itu adalah tawa sinis. Mata pria itu memandang bayangan Jessica dari cermin rias dihadapannya, pandangannya mengejek dan tiba tiba Yoona merasa marah pada lelaki itu, “Apa aku menyukai Jessica Jung?”

Jessica menahan napasnya, dia mengepalkan tangannya dan Yoona tahu itu dengan jelas. Tapi matanya masih menatap kilatan di mata Sehun. Dia marah dengan pandangan mengejek Sehun pada eonnie nya, tapi ada sebuah perasaan lega yang menjalarinya.

Oh Sehun mencintainya. Tak peduli seberapa besar Jessica mencintainya, hati pria itu sudah menjadi miliknya.

“Kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu? Satu tahun? Dua tahun? Duh, aku mengenalmu hamper seumur hidupku Sehun” gerutu Jiyeon dan mendadak Sehun dan juga Myungsoo tertawa keras keras.

“Dan kau berkata kau begitu mengenalnya? Sayang, lihatlah ekspresi Sehun. Dia tidak berubah menjadi cabai atau sejenisnya kan?”

Jiyeon tergagap dan bangkit, menatap Sehun yang masih tertawa dengan seksama. Matanya memicing dan kini Yoona mengerti kenapa dua lelaki itu tertawa. Mereka sama sama tahu Jiyeon itu keras kepala dan Sehun membuat Jiyeon bodoh dengan ekspresi mengejeknya.

“Aku tidak bohong kok! Sehun-ah, kau itu menyukai Jessica eonnie. Kan aku sudah bilang padamu berkali kali. Kenapa keras kepala banget sih?” tegas wanita dengan rambut ekor kuda itu. Tangannya dilipat di dadanya dan matanya memandang Jessica dan Yoona. Seketika dia sadar

Bukan. Bukan Oh Sehun yang menyukainya. Tapi dia. Wanita itu, menyukai Sehun!

“Kau yang keras kepala bodoh. Tahu apa kau tentangku hmm?” gumam Sehun dan kini dia diam diam melirik Yoona yang berwajah datar. Sehun mengutuk Jiyeon yang mengatakan itu di depan wanita itu. Dia merasa benar benar ingin melempar Jiyeon ke ujung dunia sekarang. Wanita yang menjadi teman kecilnya itu sepertinya tidak puas hanya dengan mengganggunya lewat social media, dan kini dia mengutarakannya di depan umum? Terlebih lagi di depan Yoona? Oh, dia benar benar ingin menginjak injak Jiyeon sekarang saat melihat ekspresi Yoona. Tidak tahukah dia, Sehun masih harus menjaga hati wanita itu?

“Aku bertemu dengannya dua hari lalu dan tampaknya dia bahagia bersama pria lain. Kemudian dia mengatakan kalau kau juga mencintai seseorang yang lain. Dia tidak yakin dengan perasaannya, but still. ” suara Jiyeon merendah dan terlihat lebih hati hati. Sehun mematung dan Yoona tahu alasannya. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut tentang siapa seseorang yang dibicarakan Jiyeon.

“Dia?” kali ini Jessica bersuara. Hatinya sebenarnya sedang terluka, percayalah. Sehun tidak punya perasaan apapun padanya. Itu terlihat jelas di matanya saat menatap Jessica dari cermin. Dan setelah itu, Jessica harus mendengar berita kalau Sehun mencintai wanita lain?

Who the hell that girl? That bitch who dare to take her Sehun?

“Park Nami” Jiyeon mendesah. Matanya menatap wanita itu dan menggigit bibirnya, “Tapi sepertinya aku salah, hun. Aku baru mengerti sekarang”

“Sudah kubilang apa” gumam Myungsoo.

“Apa lagi dikatakan Nami?” Yoona benci saat melihat rasa sakit itu dimata Sehun. Dia benci harus melihat Sehun mengingat luka lamanya. Dia benci itu karna dia tahu betul bagaimana perasaan itu. Dia tahu betul rasa luka itu.

“Aku bertanya padanya siapa wanita itu. Tapi Nami berkata dia tidak yakin dengan perasaannya. Tapi dia memberitahuku ini : ‘Dulu kami saling mencintai, Jiyeonie. Aku tahu betul bagaimana dirinya dan segala tingkah lakunya. Dan kuakui, aku terkejut menemukan fakta bahwa matanya tak sekosong seperti di awal hancurnya hubungan kami’”

“Dan dengan begitu kau menyimpulkan kalau Sehun menyukai Jessica?”

“Bukan begitu, Myungsoo. Nami terlihat tidak yakin saat mengatakannya, tapi aku juga berpikir seperti itu. Sehun berbeda dengan Sehun yang dulu mencintai Park Nami. Dan tiba tiba saja aku memikirkan Jessica eonnie” Jiyeon kemudian menuju Jessica dan menepuk nepuk pundak wanita itu, “Maaf ya eonnie, aku bodoh menduga seperti itu”

Jessica tersenyum hambar dan mengangguk. Dia ingin sekali berteriak pada Jiyeon dan mengatakan kalau dia sama sekali tidak keberatan dan bahkan betapa inginnya dia mendukung gagasan Jiyeon itu. Jessica ingin mengatakan pada tatapan kosong Sehun kalau dia ingin mengisi hati yang pernah ditinggalkan wanita yang dicintainya. Tapi kemudian dia tahu kalau dia tak punya keberanian untuk itu. Kalau dia terlalu pengecut untuk mengatakan kalau dia mencintai pria yang lebih muda darinya.

Sehun-ah, apa aku harus melanjutkan rasa ini? Atau aku harus membunuhnya?

“Kenapa kau minta maaf padanya? Harusnya denganku bodoh” gerutu Sehun dan Jessica hanya mendesah miris melihat Sehun yang sama sekali tidak terlihat malu atau apapun itu. Tangannya melemas dan Jessica ingin sekali menangis.

Jessica tidak tahu kalau Yoona memperhatikannya dengan sedih.

“Untuk apa aku minta maaf padamu? Aku tahu kok kau tidak akan marah padaku” gadis itu memeletkan lidahnya dan membuat Sehun tertawa kecil.

Benar, aku tak akan marah padamu. Tapi aku ingin sekali menginjakmu Park Jiyeon!

Yoona mengambil nafas dalam dalam. Menahannya di paru parunya selama mungkin dan menghembuskannya perlahan. Matanya terbuka dan dia melirik Young Be yang baru saja masuk dan bangkit.

“Aku harus pergi” gumam Yoona memoleskan sedikit bedak di wajahnya.

Jessica dengan cepat tersenyum saat mendengarnya. Well, mungkin dengan meledek Yoona bisa sedikit menyembuhkan ke galauannya “Makan malam dengan Kris, iya kan?”

Sehun sertamerta menghentikan semua gerakannya. Matanya menatap Yoona yang tampak salah tingkah dan mendadak hatinya terasa panas. Dia mengepalkan tangannya dan sebisa mungkin tidak berteriak pada Yoona.

“Ha? Kris? Wu Yi Fan? Si tiang EXO itu?” seru Jiyeon beruntun. Sama seperti Sehun, dia juga memperhatikan Yoona. Ada yang tidak beres dan dia tahu itu.

“Kau mau makan malam dengan Kris? Oh aku tidak tahu kau dekat dengannya, Yoong” gumam Myungsoo.

“Tidak”

Jiyeon dan Myungsoo mengerutkan keningnya mendengar jawaban datar Yoona. Wanita itu menegakan tubuhnya dan menghakimi Jessica galak, “Siapa bilang aku akan makan malam dengannya?”

Jessica tertawa dan menunjukan ponselnya dengan wajah penuh kemenangan, “Mau bohong hmm? Kris sendiri yang memberitahuku lho?”

Final. Sehun ingin meledak sekarang dan dia sedang berusaha mati matian menahan emosinya. Dia membuang pandangan, tidak ingin menatap pembicaraan itu. Dia perlu menenangkan dirinya sekarang. Harus sebelum dia tak tahan dan membongkar semuanya!

Yoona tergagap sejenak tapi kemudian memicingkan matanya, menatap Jessica tidak percaya, “Kris memberitahu eonnie?”

“Tentu saja. Aku kan sahabatnya” kemudia Jessica menyeringai senang, “Kenapa? Kau cemburu Kris dekat denganku hmm?”

“Yang benar saja” dan Yoona tahu dia ada dalam masalah saat Sehun bangkit dan berjalan tenang ke sudut ruangan. Membuat alibi sempurna dengan membuka tas hitamnya.

Persetan dengan Sehun! Bukankah dia juga seperti itu? Dia juga tak menjaga perasaanku!

“Duh, eonnie, masa suka nya sama yang sok cool sih?” ejek Jiyeon mengundang anggukan semangat Jessica.

“Tapi cocoklah. Maksudku, Kris kan tampan jadi setara sama Yoona yang memang cantik” sahut Myungsoo.

Yoona kemudian mendengus dan mengambil tasnya, “Sungguhan deh, hanya makan malam biasa kok”

“Ahh, aku ti—“

“Makan malam biasa, Jiyeon. Ada aku, ingat?” potong Young Be. Manager SNSD itu mengambil barang barang Yoona dengan cepat, “Jangan lelet. Nanti kau terlambat, Yoong”

Yoona meniup poninya dan berlalu dengan santai. Tidak mempedulikan ekspresi Sehun yang terlihat kesal. Dalam hatinya dia tersenyum sinis melihat itu.

Sementara itu Jessica memperhatikan Sehun yang mendadak diam di sudut ruangan. Membaca bukunya dengan santai seraya mendengarkan music. Tapi Jessica menangkan raut kesal di wajahnya. Wanita itu kemudian berjalan kearah Sehun.

“Kau masih kesal karna ledekan Jiyeon?” tanyanya

Sehun menoleh dan tersenyum pahit, “Aku terbiasa dengan ejekan anak itu”

Jessica tersenyum manis dan baru ingin melanjutkan pembicaraan saat Sehun bangkit dan meletakan bukunya, “Aku ke kamar mandi dulu, Noona”

Dan Sehun pergi. Meninggalkan Jessica dengan debaran dan luka dihatinya.

//

From : Sehun-ie

Aku tidak tahu kau dekat dengan Kris.

Yoona mendengus membaca pesan dari Sehun. Moodnya sedang hancur sekarang dan sepertinya Sehun akan memperburuknya.

Oh, bukankah dia memang sudah menghancurkan moodnya?

To : Sehun-ie

Aku tidak tahu kau dekat dengan Jessica.

Tidak lama kemudian ponselnya kembali menyala. Kali ini, layarnya menunjukan caller ID kekasihnya. Yoona menimbang nimbang sebentar dan akhirnya mengalah. Setidaknya dia tidak perlu memperburuk keadaan, ‘kan? Dia menoleh kebelakang. Young Be sedang sibuk dengan tab nya dan sepertinya tidak menaruh perhatian pada Yoona. Jadi dia memutuskan mengangkatnya.

“Ada apa?”

Kau akan makan malam dengan Kris?”

Sudah kuduga, pikir Yoona. Dia kemudian mendesah panjang dan berjongkok untuk mengikat tali sepatu converse nya, “Kenapa memangnya?”

“Aku tidak suka”

“Apa aku peduli?”

Disana Yoona tahu kalau Sehun menggeram marah, “Jangan macam macam Yoona”

“Oh ayolah, ini hanya makan malam biasa. Ada Young Be, ‘kay?” katanya melanjutkan langkah

“Kalau begitu batalkan”

“Diamlah, kau membuatku semakin malas bertemu dengan hyungmu”

“Itu berita bagus”

“Oh Sehun!”

“Aku tidak mau tahu. Jangan dinner dengan Kris hyung. Kau dengar itu? Aku melarangmu, Im Yoona”

Yoona menghentakan kakinya kesal “Kau benar benar mau membuatku mati kelaparan?”

“Aku memintamu makan dengan teratur! Tapi itu artinya kau harus makan dengan Kris hyung? Aku. Tidak. Suka.”

Wanita itu gemetar karna amarah ataupun emosi yang tidak dia kenal, dia menaikan suaranya mendengar kalimat Sehun, “Kalau begitu jemput aku dan jangan biarkan aku makan dengannya!”

“Kau gila? Tentu saja aku tidak bisa!”

“AKU MEMANG GILA KARNAMU!” jerit Yoona kemudian mematikan panggilannya. Tubuhnya gemetar karna amarah dan dia merasa ingin menangis.

“Kenapa kau berteriak, Yoona?” Young Be yang rupanya mendengar jeritan anak asuhnya itu memutuskan mengalihkan fokusnya dan menatap tubuh sempurna Yoona yang diam dan gemetaran.

“Aniyo” kemudian dia melanjutkan langkahnya, “Kakak ku benar benar menyebalkan”

Young Be membukakan pintu untuknya dan membiarkan Yoona memejamkan matanya sejenak. Namun sepertinya dewa keberuntungan benar benar membencinya karna tak lama ponselnya kembali berkelap kelip.

Sehun-ie calling.

Yoona dengan emosi yang masih belum sepenuhnya hilang mematikan panggilannya. Dia sedang butuh ketenangan dan dia tidak ingin terlihat seperti ini di depan Kris.

Itu memang benar kalau akhir akhir ini Kris memang dekat dengannya. Pria itu sering mengajaknya makan malam ataupun makan siang. Dan Yoona menyukainya karna Kris membuatnya tenang dan sejenak dapat melupakan masalahnya. Dia bahkan bisa sedikit melupakan pengabaian Sehun dengan memfokuskan diri dengan masalah Kris. Dan terkadang dia sedikit merasa lega saat menceritakan satu dari sekian banyak penyebab stress nya.

One message from Sehun-ie

Yoona yang kesal mencabut batrai ponselnya. Dia tak akan membiarkan Sehun lebih menghancurkan harinya. Dan dia malas meladeni Sehun. Dia butuh ketenangan meskipun dia tahu kalau Sehun cemburu dengan itu. Dia memutuskan tidur sepertinya dapat menyelesaikan masalah emosinya. Namun, baru beberapa detik dia memejamkan matanya, dia tersentak bangun dan kembali menyalakan ponselnya.

“Aku ingin bicara dengan Kris” ucap Young Be tiba tiba

“Aku akan menghubunginya” gumam Yoona dan memanggil nomer telepon pria itu. Tidak butuh berapa lama untuk mendengar suara pria itu di ponselnya.

“Yeoboseo”

“Kris, kau dimana?”

“Aku dijalan Yoona. Kau sendiri, sudah sampai?”

“Baguslah. Aku belum sampai” Yoona melirik Young Be, “Di meja nomer berapa, kalau boleh tahu?”

“Tidak perlu. Aku akan menunggu di pintu masuk”

“Baiklah. Dan….emm… sepertinya Young Be ingin bicara denganmuucap Yoona dan menyerahkan ponselnya pada Young Be

“Kris-ssi, aku akan membawa mobil Yoona. Ada yang harus kubicarakan dengan Youngmin Sajangnim dan sepertinya aku tidak bisa mengantarnya ke jadwal selanjutnya”

“EH?”

“Aku akan terlambat ke lokasi. Jadi, bisakah aku minta tolong padamu untuk mengantarnya ke tempat pemotretan? Hanya mengantarnya, aku berjanji”

Butuh dua detik sebelum Kris kembali terdengar di ponsel, “Baiklah, manager-nim”

“Terima kasih banyak, Kris-ssi”

Yoona mengambil alih ponselnya dan mendengus pada Young Be yang nyengir tiga jari padanya, “Maaf merepotkan”

“Ah, tidak apa Noona”

Yoona terkekeh, “It’s okay. We’re in same age Kris. Just Yoona, ‘kay?”

“Baiklah, Yoona. Sampai jumpa di restoran”

“Sampai jumpa”

Yoona memutus panggilan dan memejamkan mata sejenak. Berharap dapat mencuri waktu sejenak dari jadwalnya yang melelahkan. Dan tentu saja, untuk meringankan emosinya. Well, sebenarnya moodnya sedikit lebih baik dari sebelumnya.

“Jujur, aku juga baru tahu kalau kau dekat dengan Kris” gumam Young Be menarik Yoona dari curi-curi-tidurnya. Dan jujur saja, dia sedikit kesal.

“Tidak juga”

Young Be tersenyum melirik anak asuhnya itu, “Tapi tolong jaga hubungan kalian. Kau tahu kan bagaimana EXO-L itu?”

Yoona dalam hati mengiyakan. Kesuksesan EXO memang bukan bualan dan fans mereka pun bukan amatiran. Semua girlband tahu akan lebih baik tidak menunjukan interaksi mereka dengan member EXO atau kau akan habis oleh fans mereka yang super overprotective. Semuanya tahu tentang rekor mereka saat mereka bersatu dan melindungi idola mereka. F(x), SNSD dan bahkan si bungsu Red Velvet sudah diperingati untuk menjauh dari EXO saat di depan kamera untuk keselamatan mereka.

Aku mencintaimu, Noona.

Yoona mendesah panjang. Dia tahu hubungannya memang akan lebih baik jika tidak ada yang mengetahuinya. Yoona tidak yakin dia sanggup bertahan dari fans kekasihnya yang bisa dikatakan memiliki fans terbanyak diantara yang lain. Yoona tahu kalau keputusan Sehun ada benarnya. Tapi bukankah dia sudah bilang kalau ada bagian dalam dirinya yang begitu egois untuk menyalahkan Sehun? Lelaki itu hanya ingin melindunginya dan hubungan mereka tapi Yoona justru merasa sakit. Niat nya baik namun kenapa hasilnya harus semenyakitkan ini? She doesn’t understand how this freaking world goes on.

“Aku tidak bercanda Yoona. Tolong jangan melibatkan dirimu dengan salah satu dari mereka”

Yoona kembali mendesah panjang, “Aku mengerti, Oppa”

“Tapi setidaknya aku senang ada yang memastikan makan malam mu”

“Kris tidak bisa menemaniku terus terusan. Kau tahu itu kan?”

“Oh benarkah?” senyum tipis tersungging diwajah Young Be

Yoona menggigit bibirnya. Dia merasa terkhianati dengan kalimat Young Be. Bukannya tidak suka atau apalah. Sejujurnya Yoona merasa kehilangan setiap kali Kris mengajaknya makan. Dia merasa tidak enak dan sedih. Karna hatinya tahu, bukan Kris yang dia harapkan untuk mengajaknya lunch atau dinner. Dia hanya ingin pemiliknya lah yang memastikan makan malamnya. Dia ingin pria itulah yang menemaninya dinner dan mengantarnya ke jadwal padatnya. Dia ingin Oh Sehun. Bukan Wu Yi Fan

Sehun-ie Calling

Pucuk dicinta ulam pun tiba, bukankah begitu? Baru saja dia memikirkan pria itu dan kini namanya sudah tertera di ponselnya. Yoona memasukan ponselnya ke tas dan mencoba tertidur sejenak.

Oh bagus, kini Oh Sehun benar benar menghancurkan moodnya.

//

Yifan tersenyum kepada Young Be saat pria itu memintanya mengantar Yoona. Yang dengan senang hati dia iyakan. Kemudian setelah berbicara sebentar dengan Yoona, Young Be melangkah ke mobil dengan ponsel ditelinga.

“Sudah?” tanyanya

Yoona mengangguk dan berjalan terlebih dahulu kedalam restoran. Sementara Kris dari belakang mengagumi bentuk tubuh sempurna Yoona.

Siapapun pria yang sedang disukai Yoona. Dia pastilah sangat beruntung. Lihat saja bagaimana tubuh tinggi melangkah. Begitu anggun dan ringan seperti desauan angin. Rambut panjangnya yang berwarna coklat terang digulung tinggi—Kris menahan diri melihat tengkuk wanita itu. Kaki jenjang dan kulit seputih susu. Yoona benar benar sangat cantik. Wanita tercantik yang pernah Kris temui.

Yoona seperti malaikat. Berhati seputih susu, secantik bidadari

Pria berdarah China itu menarik kursi untuk Yoona saat mereka sampai di meja mereka. Memesan makanan dan membiarkan kecanggungan mengisi mereka.

“Katakan sesuatu, Kris”

Pada akhirnya, Yoona tidak tahan dengan kecanggunangan itu. Pikirannya sedang buruk sekali. Dia ingin melupakan untuk sejenak. Dan pria dihadapannya tidak membantu sama sekali. Kris malah asik menatap cahaya lilin. Candle light dinner.

“Apa?”

“Bukankah kau yang mengajakku ke sini?” Yoona tersenyum hambar

Kris mengangguk kaku. Kemudian teringat sesuatu, “Ah” dia menelan ludah gugup, “Aku mau minta maaf”

“Untuk?”

“Telah membiarkan kau melihat pertengkaranku dengan Suho”

“Ah, itu” Yoona tersenyum kecil mengingatnya. Dia baru ingin melanjutkan, tapi ekspresi Kris menghentikannya. Pria itu memandangi lilin dengan kosong. Seolah jiwanya terbakar disana. Mau tak mau Yoona memikirkannya juga.

Joonmyeon yang menyebalkan, dengusnya.

“Jangan pikirkan perkataan Joonmyeon” Yoona terbiasa memanggil Suho dengan Joonmyeonie, panggilannya selama masa trainee.

Kris menggeleng, “Aku tidak memikirkan Suho. Aku memikirkanmu” jawabnya malu malu.

Jika saja Yoona sedang focus. Jika saja suasana hatinya sedang bagus, Yoona pasti sudah menangkap maksud Kris. Tapi sayangnya, pikiran Yoona sedang terbelah dua. Dia salah mengartikan maksud kalimat Kris, “Abaikan saja ucapanku hari itu”

“Aku tidak bisa begitu” harapannya hanyalah agar Yoona tidak terlalu ambil pusing dengan perkataannya barusan. Selama ini Kris menghindari pandangan Yoona, tapi pada detik itu dia terpaku pada matanya.

Iris caramel itu begitu lembut, menggoda untuk disentuh. Sangat teduh seperti payung ditengah hujan

Untungnya, pelayan yang mengantar makanan mereka menyelamatkan Kris. Tapi setelah beberapa tegukan Wine-nya, Kris membuka kembali pembicaraan. Oh ayolah, dia tidak susah payah memesan private room hanya untuk berdiam diri menonton Yoona makan.

“Sejujurnya Yoona, aku merasa bersalah. Itu hal benar benar memalukan. Tidak sepantasnya kau melihatnya”

“Apa? Joonmyeon yang berhati malaikat ternyata sangat kejam padamu?” balasnya sinis.

Kris menghela nafasnya. Kejadian beberapa hari yang lalu benar benar mengganggu Kris. Dia merasa bersalah kepada Yoona. Dan menyesali kenapa Yoona harus melihat itu.

Melihat sisi lemah dirinya. Melihat bahwa dirinya tidak mampu berbuat apa apa. Hanya diam seperti patung bodoh tak berperasaan.

“Bukannya seperti itu. Pertengkaran itu seperti itu sudah biasa antara aku dengan Suho. Yang membuatku merasa tidak enak dengan kau noon—“

“Jadi, Suho sering memarahimu seperti waktu itu?”

“Tidak jug—“

“Dan kau tidak melawan? Demi jagad raya” Yoona mendengus. Kris memutar bola matanya. “Aku belu—“

“Jangan mau menjadi lemah didepan sese—“

“Demi tuhan Im Yoona, aku belum selesai bicara!”

Yoona tersedak napasnya sendiri. Untuk pertama kalinya Kris membentaknya. Yoona tidak marah. Tapi dia hanya sangat terkejut dengan perubahan nada Kris. Selama ini lelaki China itu selalu berlaku lembut padanya. Membuainya, dan kini Wu Yi Fan membentaknya? Out of her expectation.

“Maaf” ucap Kris lebih lembut. Yoona terlihat terkejut sekali dan Kris benar benar merasa bodoh. Sial, kontrol emosimu Yifan!

“Lanjutkan” desah Yoona memutar mutar udon nya.

“Dengar, Yoona. Aku merasa bersalah karena kau melihat kami seperti itu. Melihat masalah internal kami. Itu benar benar memalukan” Kemudian Kris merendahkan suaranya, “Aku tidak bermaksud kasar atau bagaimana, tapi Sehun benar. Ini adalah masalah internal EXO”

Pitcher bening yang sedang di pegang Yoona tergelincir halus dari tangannya begitu mendengar nama itu dari mulut Kris. Yoona menggigit bibir, berharap Kris tidak mencurigai perubahan ekspresinya yang sangat kentara.

“Dan kau juga memintaku tidak ikut campur?” Yoona tersenyum miring, “Aku tidak ikut campur, Yifan. Aku bahkan tidak tertarik dengan masalah kalian”

“Oh?”

Yoona menyilangkan kedua tangannya di dada. Masalah ini untuk sementara akan menyibukan pikirannya. Dia senang. Setidaknya, dia tidak perlu memfokuskan diri dengan perasaan sakit hatinya pada Sehun, “Biar kuluruskan sesuatu, Kris”

The flaming Im Yoon Ah is shown up, Kris tersenyum bahagia

“Masalah seperti itu, bukanlah hal besar. Semua grup memiliki masalah internal dan kau tidak perlu berlagak suci untuk tidak memperbolehkanku mengetahuinya. Super Junior baru menemukan kekompakannya setelah kecelakaannya, GG baru menjadi kuat setelah Black Ocean Semuanya ditimpa masalah, cobaan untuk kedepannya”

“Tapi ini adalah hal kecil. Aku mengenal Joonmyeon lebih dulu darimu dan aku percaya dia tidak seperti yang dia perlihatkan sekarang. Just as there are two sides to every story, there are two sides to every person. One that we reveal to the world, and another we keep hidden inside”

“What do you mean by that?” Kris dengan sangat terpaksa menelan mentah mentah pertanyaan di otaknya. Merasa tidak percaya dengan dirinya untuk mengungkapkan pemikirannya. Dihadapannya Yoona tersenyum biasa saja. Seperti tidak memusingkan apapun

Bukankah itu terlihat seperti dirimu, Yoong?

“Dari dulu Joonmyeon memang seperti itu. Menyebalkan dan banyak komentar. Tidak ada yang tahu. Selama ini Joonmyeon lekat dengan image angel nya dan semua orang percaya itu. Jika aku mengatakan kepadamu seperti apa Joonmyeon dulu itu, kau tidak akan percaya”

“Saat pertengkaran itu, aku terlihat seperti menghakimi Joonmyeon. Ya, memang benar. Tapi sebenarnya aku hanya mengingatkannya bahwa dia dulu-pun seperti itu” Yoona menopang kepalanya dengan tangannya yang terkepal, “Malah, kalau boleh jujur, aku kecewa denganmu Kris”

Habis sudah. Jantungnya mati rasa saat Yoona mengatakannya. Kris menggeram pelan. Kesal dengan dirinya sendiri. Dia menghancurkan image-nya dihadapan Yoona. Waktu itu, Kris pasti terlihat seperti pengecut.

“Kecewa?” tapi Kris masih ingin positive thinking

“Hmm. Bukankah kau seharusnya tidak diam saja? Seharusnya kau melawan atau mengatakan sesuatu untuk melindungimu. Memangnya kau tidak kesal ya harga dirimu dijatuhkan seperti itu?”

“What should I do?” beonya sedih. Yoona benar. Sudah seharusnya dia melawan. Dia sering memikirkan itu. Tapi ketika hal itu terjadi, Kris malah tidak berani sama sekali, “Aku merasa buruk menjadi leader, aku akui itu. Aku mencoba memahami member seperti Suho, tapi aku selalu berakhir kebingungan”

“Kebingungan?” kekehnya.

“Setiap orang punya misteri. Aku tidak pernah mengerti kenapa Chanyeol selalu tersenyum. Aku tidak mengerti kenapa Baekhyun senang menjahili orang. Aku tidak mengerti kenapa Tao sangat manja. Aku tidak mengerti kenapa Kai suka tidur. Aku tidak mengerti kenapa Sehun diciptakan seperti anak anjing. Dan masih banyak aku tidak mengerti yang lain” dan aku tidak mengerti kenapa kau diciptakan begitu penuh pesona.

Yoona memanyunkan bibirnya dan percayalah Kris perlu menahan diri untuk tidak tergoda dengan bibir mungil itu, “Tahu tidak kenapa aku…hmmm…..apa ya bahasanya? Easy-going?”

“Tidak”

“Karena ketika kau berhadapan dengan seseorang, kau belajar memahaminya. Dan ketika kau mengenalnya, sulit tidak mencintai mereka seperti mereka mencintai dirinya sendiri”

Kris termenung. Perkataan Yoona menyihirnya. Sulit tidak mencintai mereka seperti mereka mencintai diri mereka sendiri. Kris paham apa maksud Yoona. Tapi yang membuatnya terdiam adalah bahwa Yoona mencintai semua orang.

Lalu apa istimewanya?

Tapi Kris tentu saja tidak akan mengatakan itu. Dia sudah cukup dipermalukan oleh Suho dan dia tidak ingin membuat Yoona memandangnya buruk—meskipun dia tidak yakin begitu.

“Dan kau memperlakukan mereka tepat seperti mereka memperlakukan diri mereka”

“Tepat sekali”

Kris mendesah keras, “Apa tujuanmu mengatakan ini Yoona? Aku dan kau berbeda. Aku tidak bisa sepertimu” lalu ekspresinya berubah sendu, “aku tidak ingin menyalahkan keadaan, tapi aku dibesarkan oleh kemewahan dan jujur, itu membuatku manja”

“Dan membuatmu less respect” Yoona mengigit bibirnya, “Perlu kuingatkan bahwa tidak semua orang yang besar di lingkungan mewah menjadi anti-social, Kris. Sehun dibesarkan di keluarga konglomerat, hal yang sama terjadi dengan Siwon. Lalu ada Minho, Kyuhyun, Sungmin dan bahkan aku sendiri dibesarkan dalam harta dan kemewahan, Kris— Apa aku perlu menyebutkan semua nama?”

“Kau tidak mengerti. Ayahku pergi saat aku masih kecil. Waktu-ku dihabiskan dengan ibu. Dan ibu sangat memanjakanku. Aku mendapatkan semua yang kuinginkan. Tapi aku kesepian, aku menginginkan seorang yang benar benar peduli, tapi tidak ada”

“Dan aku harus melihat perceraian saat umurku 7 tahun, Kris. Aku melihat ayahku menikahi wanita lain. I do feel lonely. My father used to work overseas, leave me alone in the big house” wanita itu menggeleng, mengingat betapa memuakan keluarganya, “Sulit menemukan seorang teman sejati, tapi time by time, aku mengerti aku harus melihat dunia dengan sudut pandang mereka”

Kris merasa bodoh sekali. Dia mengungkit tentang keluarga. Topik yang sangat Yoona hindari. Jessica bilang Yoona tidak ingin membicarakan keluarganya. Jessica bahkan hanya tahu bahwa Yoona masih berhubungan dengan baik dengan ibu kandungnya, dan memiliki seorang kakak. Hanya itu. Tapi Kris mengerti bahwa Yoona pasti punya kenangan buruk dengan keluarganya. Sama seperti Sehun atau Jongin yang selalu mengabaikan topic tentang kekasih.

“Kau tidak hidup dengan menyalahkan keadaan. Inilah hidup, Kris”

Kris menyilangkan lengannya. Berpikir. Dia sebenarnya dari tadi terpesona dengan Yoona. Wanita itu terlihat mengaggumkan sekali. Dan Kris menikmati pandangan Yoona yang tertuju untuknya. Like there’s no other guy on her eyes.

“Jadi apa saranmu?”

“Lawan. Jangan biarkan Suho menjatuhkanmu seperti itu. Tapi lakukan dengan tenang. Perlawanan yang sangat keras membuktikan kau memang bersalah. Jika kau marah, tunjukan. Buat Joonmyeon takut untuk mengomelimu lagi”

“Bagai—“

“Joonmyeon adalah tipe orang yang hanya melakukan sesuatu karena dia berani melakukannya. Dia tidak berani macam macam dengan Baekhyun atau yang lainnya kan? Kenapa? Karena Joonmyeon tahu dia akan kalah. Dia bukan seseorang yang pintar berdebat, tahu? Dia benci kekalahan, Suho selalu ingin menjadi yang terbaik dalam segala hal”

“Kau dekat dengan member member tertentu. Sehun, Chanyeol, Tao dan yang lain. Buat mereka membelamu. Dekati mereka, sayangi mereka. Saat member mengomel, Yuri selalu ada untuk membelaku dihadapan mereka, walaupun dia tahu aku salah—meskipun nanti dia akan mengomeliku sendirian dibelakang member”

“Hmm” Kris tidak tahu emosi apa yang merubah wajah Yoona. Tapi dia melihatnya dengan cukup jelas. Yoona tidak memfokuskan pandangannya pada Kris. Seolah dia menyembunyikan sesuatu darinya. Dan jujur, Kris tidak suka. Dia ingin Yoona terbuka padanya, “Sepertinya Yuri lebih mirip Sehun. Chanyeol terlalu blak blakan, dia tidak pernah setuju dengan Suho, tapi dia akan mengingatkanku pada saat itu juga. Tao terlalu manja untuk membelaku—anak itu terlalu tidak peduli dengan orang lain—hanya Sehun yang biasanya tidak pernah ikut campur”

“Biar kutebak. Sehun lebih memilih diam dan terlihat tidak peduli padahal saat dia berbicara, Joonmyeon akan diam” Yoona menghela nafasnya lelah. Sial, Oh Sehun benar benar tidak pernah meninggalkannya sendirian, “Anak itu terlalu mengintimidasi. Dan Joonmyeon takut padanya. Dia menyayangi seseorang dengan cara yang aneh” sangat aneh.

“Ya, Sehun sering membelaku. Dia lebih sering mengatakan, ‘Kau berisik sekali, hyung, seperti lebah jelek’ dibandingkan ‘Kris tidak salah, jangan memarahinya’. Lalu saat kami hanya berdua, dia tidak ingin membahas itu lagi” Dia sangat menyayangi Sehun, sama seperti Sehun menyayanginya, pikir Yoona, “Sehun jarang bicara, tapi perlakuannya membuatku tahu bahwa aku tidak sendirian”

Ya, dulu itulah yang membuatku tertarik dengannya. Dia dingin dan jarang bicara. Tapi auranya menenangkan—dan memabukkan.

Yoona memilih tidak menjawab Kris. Topik ini, dia sedang tidak mood berada di dalamnya. Dia sedang malas membicarakan Oh Sehun. Dia pikir, Kris bisa sedikit menghiburnya, tapi nyatanya tidak. Lagi lagi, dia harus berhadapan dengan Sehun.

Ugh, Oh Sehun dan segala hal tentangnya membuatku gila!

“Yoona?”

Yoona menusuk ikannya dengan kejam, kesal dengan pemikirannya sendiri, “Apa?” dia tidak sadar kalau nadanya terdengar ketus.

“Menurutmu aku seperti apa?”

Yoona mendongak, mengunyah nasinya pelan pelan. Dia jadi malas bicara, tapi dia tentu masih harus menjaga etikanya dihadapan Kris. “Dingin. Bodoh. Kaku. Narsis. Tidak bisa beradaptasi. Tapi unik dengan caramu sendiri. Kau peduli dengan cara yang tidak bisa aku gambarkan dengan kata kata”
“Aku rasa aku tidak pernah menunjukan semua itu dihadapanmu. Tahu dari siapa?”

Wajah Yoona berubah warna, “Dari Sehun”

Kris tersenyum. Padahal hatinya panas sekali. Apa Sehun membicarakan Kris dihadapan Yoona? Kris rasa tidak. Sehun bukan tipe yang suka membicarakan orang lain. Yang membuat Kris panas adalah fakta kalau Yoona terlihat salah tingkah (Ya, dia sadar itu sekarang) dan juga kenyataan kalau Yoona dan Sehun itu dekat. Mereka pasti tidak membicarakan kebodohan Sehun saat bersama, tidak seperti dirinya. Kris benci kalau Sehun lebih leluasa berdekatan dengan Yoona. Mereka mirip dalam banyak hal. Takdir bahkan seperti berbaik hati mempertemukan mereka dalam serangkaian keadaan yang tidak dimiliki Kris. Dalam hal ini, mereka sama sama dancer. Sama sama actor. Sama sama visual dari grup masing masing. Sama sama berisik.

“Kau dan Sehun, dekat ya?”

Yoona kesal dengan topic itu, “Tidak juga” dia kemudian melirik jam tangannya, “Bisa kita pergi sekarang Kris? Aku rasa aku akan telat ke lokasi”

Kris melirik piring Yoona yang sudah habis. Sedangkan miliknya masih tersisa banyak. Kris sebenarnya lapar, tapi Yoona terlihat jengah dan dia tidak ingin mengacaukannya. Jadi Kris memanggil pelayan dan menyelipkan uang di bill nya.

Mereka tidak berbicara banyak sampai Kris menyalakan mobilnya. Yoona terlihat tidak baik dan itu mengganggunya, “Kau tahu?” katanya seraya menjalankan kemudi, “Kau selalu bisa bercerita padaku. Aku bercerita banyak padamu, lho”

Yoona melirik Kris yang tidak mengalihkan pandangannya dari jalan. Wanita itu mendesah, sedikit tersenyum, “Well, aku bisa mengatasi masalah ini” bohong.

“Bagaimana kabar pria-mu?” tanya Kris hati hati akhirnya. Dia gemas ingin menanyakan hal itu daritadi. Tapi dia tidak memiliki keberanian. Kris memperhatikan ekspresi Yoona yang berubah dari sudut matanya.

Muram? Ada apa?

“Baik”

“Kau berbohong, iya kan?”

Yoona menatapnya penuh perasaan hingga Kris tidak bisa mengalihkan pandangannya dan itu tidak bagus, karena dia perlu focus ke jalan, “Dia seperti pengecut”

Dan Kris nyaris saja menabrak mobil dihadapannya. Membuat Yoona menjerit kaget. Lampu mendadak merah dan Kris berdebar sekali. Wanita disampingnya sibuk menenangkan nafasnya yang cepat.

“APA KAU SUDAH GILA KRIS?”

Kris menatap Yoona menyesal, “Maaf” tapi kemudian ekspresi wanita itu melembut, “Tidak apa. Fokuslah ke jalan Kris”

Pria itu masih berdebar. Bukan karena fakta dia nyaris membuat wanita ini celaka. Tapi lebih karena perkataan wanita itu.

Dia seperti pengecut

Kris ingin menangis saja. Mengapa terdengar seperti dirinya?

///

Hell-o guys. Aku tahu kalian kecewa karena sampe sekarang aku belom bikin Sehun cemburu cemburu juga. But guys, just wait what i’ve prepare for this story. I owned this and I know what i want. Aku senang kalian memberiku saran. Aku gak bermaksud kasar. Tapi aku udah nyiapin plot yang kalau dirubah malah bikin aku puyeng. So just wait okay🙂

Ceritanya udah mau klimaks kok wkwkwk.Dan untuk chapter sebelumnya banyak yang bingung ya? Lol aku nulis mood mood-an maknaya tiap chapter kerasa beda bahasanya kwkw. Cuman mau bilang, aku ga mungkin nulis adegan yang nantinya ga berguna wkwk. Actually tadinya ini cerita mau dipost sampe adegan……begitulah. Tapi kepanjangan. Nanti kalo aku post sampe adegan terakhir yang aku tulis malah jadi males lanjutin karena sama aja kaya bikin chapter baru wkkw. Because holidays is over, back to school and things with a lot of tired and not enough sleep.

So, leave your comment below and see you guys on the other chapter🙂  

91 thoughts on “Hidden Scene [10]

  1. rumit banget hidup mereka, si jiyeon jg nyablak banget dan jessica udh pasti lah seneng banget,
    lalu yg ketemuan sm yoona itu nami kah?
    nah, nami aja ngerasa kalo sehun lg jatuh cinta, tp msh blm tau siapa yeojanya,
    bener kata yoona, knp org lain nggak bs liat kalo yoona sehun itu kekasih,

  2. aku malah sangat tidak suka, chapterx panjang karna diisi moment2 menjelaskan perasaat jessica trhdp sehun dan kris trhdp yoona

  3. akhh….. eonnie kesayanganku, kamu jangan patah semangat. sehun oppa pasti cinta kamu selamanya ko #ngarep…
    sehun oppa tadi cemburu, sebenernya aku seneng dia cemburu biar tau rasa #haha… #ketawaevil.. tapi kayanya itu belum sebanding dengan apa yang dirasain yoong eonnie hiks..

  4. Akhhhh😍udh lma bngt ngk bca ff nii,,
    Tmbah daebak jln critnya,kpn yoona sma sehun bner2 bebas yah?ksian bngt..😢
    Nicee thor👍

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s