7th Unperfect

unperfect7
.

UNPERFECT

by chiharu

Main cast:

Im Yoona, Kim Jongin, and Xi Luhan

feat Oh Sehun and Annalise Dync

Genre

School-life | Romance | Friendship | Drama

Rating

PG15

Disclaimer

Pure mine, don’t claim this as yours.

Poster by CarolineLovely at Art Fantasy Thankyou!!

copyright 2015 chiharu

“Hutang?!”

Kai dengan santai mengangguk dengan wajah coolnya. Ia yakin pasti gadis itu akan kaget setengah mati. Kalau Kai boleh bilang, pasti gadis itu sudah melupakan ‘hutang’ itu. “Kau benar-benar tidak ingat? Ayolah, kau punya hutang padaku.”

“Kurasa tidak.” Yoona menggindikkan bahunya dengan kening yang berkerut, sementara Kai telah berjalan lebih dulu meninggalkannya yang masih membatu dengan fikiran yang sangat sangat bingung. “Hei, apa maksudmu, Kai?”

Kai menoleh mendapati wajah Yoona yang memperlihatkan kerutan di keningnya. Rupanya Yoona terlihat antusias, sampai-sampai ia memiringkan kepalanya untuk menantikan sebuah jawaban dari Kai.

“Kau tidak ingat jika kau pernah memintaku membayar ongkos taksimu?”

Yoona menghentikan langkahnya. Apa yang barusan ia dengar? Beberapa detik kemudian, dia berhasil mencerna perkataan Kai barusan. Ia mendengus bersamaan setelah Kai menghentikan langkah dan menoleh padanya.

“Ongkos? Oh…” ucap Yoona dibarengi dengan sedikit tawa yang terdengar seperti sebuah dengusan. “Kau masih ingat hal-hal kecil seperti itu.”

“Aku mengingatnya karena aku pengingat yang baik, tidak sepertimu yang dengan mudah melupakan kebaikan seseorang.” Kai tersenyum merasa ia menang.

“Ya, lalu kau ingin aku membayar hutangku?” Yoona berucap bersamaan dengan ia melangkahkan kakinya.

Kai mendelik licik. “Tentu saja.”

“Baik, katakan berapa ongkosku?”

“Aku akan memberikan sebuah hukuman karena kau telat mengembalikan uangku bahkan kau tidak mengingatnya.”

“Apa yang kau bicarakan? Bahkan aku tidak pernah menyangka akan bertemu lagi denganmu. Dan sialnya, aku benar-benar bertemu denganmu.” ujar Yoona tanpa mengehentikan langkahnya. Mendengar itu, Kai memutar bola matanya kesal. Sungguh, baru kali ini ia menemukan gadis seperti Yoona yang dingin layaknya es kutub yang sekaligus menyebalkan.

Lelaki itu menghela nafasnya. “Kau hanya diwajibkan membawa makan siang untukku ke sekolah, setiap hari.”

///

Bersamaan dengan pintu yang baru saja ditutup, Xi Luhan menolehkan kepalanya. Rupanya Jongin sudah pulang. “Kenapa kau baru pulang?”

Tidak ada jawaban dari bibir Jongin. Lelaki itu juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka suara. Kakinya terus melenggang pergi mendekati kulkas dengan wajah tanpa ekspresi—wajah yang hanya ia tunjukkan pada keluarga.

“Kau tidak mendengarku?”

“Tolong jangan katakan itu lagi. Terdengar tidak berguna.”

Luhan tahu usahanya hanya akan sia-sia. Berbasa-basi dengan sepupu yang tidak akur memang sangat melehakan. Selalu itu kesimpulan yang Luhan dapat, Kim Jongin benar-benar membencinya.

///

Pekarangan sekolah sudah mulai ramai oleh para siswa yang baru datang. Yoona dengan santai berjalan melenggang seperti biasanya.

“Hai, selamat pagi.”

Yoona terkesiap saat pundaknya dirangkul dengan tiba-tiba. Lelaki itu menunjukkan raut wajah bodoh seperti biasanya. Kim Jongin. Wajah Yoona terlihat canggung dengan sorot matanya begitu kaget. “Apa-apaan kau ini.” ia menepis punggung lelaki itu dengan kesal.

“Hei, apa kau sudah kerjakan tugas kemarin? Kau sudah mencatat semuanya, kan?”

“Aku sudah mencatat semuanya, tenang saja, aku tidak lagi pelupa.”

“Kurasa kau memang buka pelupa. Kemarin kau hanya berpura-pura, kan?” Jongin mempercepat langkahnya demi sejajar dengan langkah Yoona yang sengaja gadis itu buat menjadi lebih cepat. Rupanya gadis ini benar-benar jual mahal, Jongin yakin jika Yoona sama saja seperti gadis lainnya—lambat laun Yoona akan tergila-gila padanya.

“Apa maksudmu? Hentikan percakapan konyol ini!” tukas Yoona dengan cepat dan melangkah lebih cepat lagi.

“Hei, kurasa kita sudah berteman!” teriak Jongin pada Yoona yang sudah menginjak koridor.

Gadis itu benar-benar tidak menoleh padanya. Bahkan malah, gadis lain yang kini memperhatikannya. Lihatlah, semua orang tersihir dengan pesona seorang Kim Jongin, dancer remaja yang cukup populer. Kenapa Im Yoona tidak? Apa gadis itu sama sekali tidak punya gadget?

Sepertinya Jongin akan benar-benar botak karena terus memikirkan Im Yoona yang tidak melihatnya.

///

Bel istirahat kedua sudah berbunyi. Ini saatnya jam makan siang. Jongin sudah ingat perintah apa yang ia tujukan pada Yoona.

“Apa kau mau ke kafetaria?”

“Oh, oh.. Tentu saja. Kenapa tumben sekali?” Oh Sehun langsung bangkit dari duduknya saat Yoona secara tiba-tiba mengajaknya ke kafetaria. Benar-benar langka.

“Hei, kau mau kemana?”

“Kau tidak dengar?” Yoona memutar bola matanya dengan kesal. Setelah itu, Jongin buru-buru meringis.

“Kau terlihat sangat tempramental.”

“Huh, dasar tidak berguna. Sehun, ayo kita pergi saja.”

“Yak! Apa gadis itu lupa?!”

///

“Kau mau pesan apa?”

Mereka tengah berdiri di depan papan menu kafetaria. Menu makan siang memang benar-benar membuat mereka dilema. Semuanya terasa sangat enak. Sebenarnya Yoona hanya menyusun sebuah ‘pelarian’ agar ia tidak ditagih makan siang oleh Jongin. Cih, aturan apa itu? Kenapa ia harus membawa makan siang untuk lelaki itu? Terdengar sangat menggelikan.

“Hei, kau akan terus berdiri di stand menu?”

“Ah, uh tidak!” jawab Yoona secara spontan. Mengapa Sehun terlihat sangat galak?

“Baiklah, kita pesan jajangmyeon saja.”

Setelah menentukan pilihan, mereka berdua langsung memilih tempat duduk. Seperti biasanya, Yoona akan duduk di dekat jendela.

“Yak! Apa kau telah melupakan ucapanku?”

Mata Yoona tiba-tiba terbelalak kaget saat Jongin dengan tiba-tiba muncul diantara mereka sambil menepuk meja sangat keras—tepatnya menggebrak. Sama halnya dengan Sehun, laki-laki itu memperlihatkan kebingungannya dan beberapa pasang mata yang lain tengah menatap kearah meja mereka.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yoona setengah berbisik sambil menginjak sebelah kaki Jongin.

“Auw..”

“Apa apa dengan kalian?” tanya Sehun dengan bingung. Mereka berdua tidak menjawab dan itu menyebabkan desisan malas dari mulut Sehun. “Baiklah, aku lanjutkan saja makan siangku.”

“Kau sudah lupa?”

“A..apa yang kau bicarakan?” tanya Yoona pura-pura tidak tahu.

“Ikut aku.” tiba-tiba saja Jongin menarik Yoona dari kafetaria dan menyebabkan Sehun kembali kebingungan.

“Lepaskan aku, apa yang kau lakukan?” pekik Yoona sambil berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Jongin yang sangat kuat. Oh no! Hanya perihal makan siang semuanya jadi begini.

“Mana makan siangku?”

“Aku tidak membawanya.”

“Semudah itu?”

Mereka terus berbincang sambil berjalan dan Yoona yang merasa diseret.

“Kau bisa makan siang di kafetaria dengan Sehun. Kau bersikap seolah menindasku.”

“Hah? Menindas?”

“Ya! Kim Jongin menindasku!”

“Ada apa ini?”

Perdebatan mereka tiba-tiba terhenti begitu pula langkah mereka. Tepat disebuah tikungan di koridor yang sepi, mereka bertiga bertemu secara bersamaan—Yoona—Jongin—dan Luhan. Ya, Luhan sang ketua osis.

“Annyeong sunbae.” sapa Yoona sambil tersenyum manis tapi agak tipis.

“Ne, annyeong Yoona-ssi.”

Jongin sama sekali tidak berniat untuk menyapa ketua osis. Untuk apa? Setiap hari saja bertemu. Menyapanya terdengar tidak penting, mungkin itu yang Jongin pikirkan.

“Kenapa kau tidak memberikan sapaan padanya? Dia sunbae kita dan dia adalah ketua osis.” bisik Yoona pada Jongin yang bahkan sekarang menatap Luhan dengan tatapan agak berani… Ckckck anak itu benar-benar tidak bisa menjaga sorot matanya. “Dia ketua osis.” bisik Yoona sekali lagi.

“Tidak apa-apa Yoona-ssi, dia adalah sepupuku.”

“Sepupu?” tanya Yoona refleks.

“Benar, iya kan, Jongin?” Luhan menatap sepupunya itu dengan tatapan ramah dan sorot mata bercahaya—walaupun ia tahu kalau Jongin tidak menerimanya.

“Benar.” ucap Jongin pelan. Huh, sikap Jongin tiba-tiba saja terbalik dengan tadi. Luhan benar-benar terdengar seperti ultimatum baginya—ya, ultimatum yang bisa membuatnya bungkam dan bad mood.

“Kalian sudah saling mengenal, dan….”

“Kami hanya berteman.” ucap Yoona cepat dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jongin. Huh, ia baru sadar jika sedari tadi mereka masih berpegangan tangan—Tapi, Jongin yang menggenggamnya. Tapi tunggu, Yoona merasa agak aneh, genggaman Jongin tidak sekuat tadi dan bahkan sangat lemah—ia dengan mudahnya melepaskan tangan itu.

“Kuharap kalian bisa berteman dengan baik.” imbuh Luhan sambil tersenyum dan menepuk pundak Jongin pelan. “Aku permisi dulu.”

“Ya, silahkan, sunbae.” Yoona membungkukkan badannya sambil tersenyum. “hei, dia itu sepupumu dan dia sunbae disini. Kenapa kau seolah-olah memberikan tatapan membunuh padanya?”

“Kau berubah menjadi hangat saat berhadapan dengannya. Kau segan padanya?” Jongin menolehkan kepalanya pada Yoona.

“Tentu, dia ketua osis dan sunbae disini.”

“Bohong. Kau suka ‘kan padanya?”

“Huh, kenapa kau berpikir seperti itu?” sangkal Yoona yang terdengar tidak terima. Kim Jongin adalah manusia yang ingin ikut campur tentang hidupnya.

“Kau bahkan berubah menjadi sangat cerewet.” ucap Jongin yang terdengar agak dingin lalu berlalu dari sana tanpa mempedulikan Yoona.

“Ada apa dengannya?”

///

Berada di dekat Jongin bagaikan sebuah kutukan bagi Yoona. Ia tidak habis pikir kenapa laki-laki itu terus membuntutinya, padahal dia tahu kalau dirinya adalah gadis yang tidak disukai di sekolah dan hanya membuat pertemanan dengan Oh Sehun yang juga tidak populer—padahal Yoona pernah dengar kalau Jongin adalah dancer terkenal dikalangan remaja.

Yoona ingin tertawa.

Lelaki itu tidak tahu kalau dirinya juga adalah seorang dancer berbakat di sekolah. Ia juga pernah tampil di Hongdae. Tapi lihatlah, Yoona tidak menceritakan semuanya—karena mungkin lelaki itu akan tertawa tidak percaya dan menganggap Yoona hanya berbicara tentang kebohongan. Ya, Kim Jongin memang pede dan besar kepala.

Ya, dia memiliki kepala yang besar. Yoona bisa melihat itu karena lelaki itu sedang duduk tepat di sampingnya—mereka kembali bersama—di dalam bis.

Berniat mengacuhkan Jongin, Yoona memasang kedua bendulan earphone kedalam telinganya—bisa saja kan kalau lelaki itu terus mengoceh mengajaknya ngobrol ini itu? Yoona tidak tertarik.

Persetan dengan Yoona yang tengah melayang dengan musiknya itu, Jongin memperhatikan layar ponsel Yoona yang menuliskan bahwa lagu yang tengah gadis itu putar adalah lagu ‘Nothin on You’ yang dipopulerkan oleh Bruno Mars.

‘Ternyata gadis itu suka sekali dengan lagu yang berisi sanjungan.’

Jongin pikir Yoona sama saja dengan gadis lain. Semua gadis memang suka sanjungan ‘kan? Ah ya. Lupakan tentang itu.

“Hei, kau norak sekali. Lagumu itu terdengar sampai keluar. Huh, berisik sekali.”

Jongin mendengsu pelan dan berniat membuat Yoona terganggu. Lihatlah, dia berhasil dan sekarang Yoona membuka sebelah earphone-nya. “Benarkah?” gadis itu bertanya dengan wajah yang agak was-was.

“Benar, tanya saja pada bibi yang ada di belakang.” jawab Jongin dengan mantap. Kali ini, ia juga berhasil—Yoona menoleh ke belakang untuk bertanya pada penumpang lain.

“Bibi, apa suara musik dari earphone ku terdengar dan membuatmu terganggu?” Yoona bertanya dengan wajah yang agak cemas.

Huh, dia terlihat polos sekali. Gampang dibodohi.

“Tidak, aku tidak mendengarnya. Iya, kan?” bibi itu bertanya pada penumpang disebelahnya. “Benar, tidak kedengaran dari tadi.”

Huft. Yoona membuang nafasnya kesal. “Kalau begitu, aku minta maaf.” ucap Yoona sambil tersenyum canggung dan agak meringis. Ia berbalik dengan keadaan yang agak murka. “Kim Jongin! Kau membuatku malu. Pembohong.” ucapnya pelan sambil mencubit paha Jongin.

“Auw, kenapa kau lakukan itu?” Jongin meringis agak keras sehingga cukup membuat penumpang lain memusatkan perhatian pada mereka.

“Bagaimana kau tahu laguku kedengaran? Mereka saja tidak tahu.” ucap Yoona yang lagi-lagi dengan suara yang pelan.

“Aku tahu, kau dengarkan Nothin on You milik Bruno Mars.”

Yoona tidak menjawab dan malah mendengus.

“Kau lucu sekali, tidak usah dipikirkan. Ternyata kau sangat polos.” goda Jongin sambil agak terkekeh, tapi sama sekali tidak direspon baik oleh Yoona. Gadis itu kini sibuk dengan ponselnya.

“Hei, anak muda! Jangan goda terus pacarmu itu.”

Mereka berdua tiba-tiba dibuat kaget oleh seruan dari seorang kakek. “Maaf, aku membuat kalian terganggu.” ucap Jongin setengah berteriak dan lagi-lagi mendapat tatapan horror dari Yoona.

“Gaya pacaran anak muda memang seperti itu. Anakku seumuran dengannya.” celoteh salah-seorang bibi dan itu membuat Yoona pusing.

“Huh, lebih baik aku tutup mulut.” geram Yoona pelan sambil menenggelamkan wajah dibalik kedua tangannya.

Sementara Jongin, dia terkekeh dan merasa puas menjahili Yoona.

///

Ponselnya berbunyi. Yoona segera megangkatnya dan tidak tahu siapa yang meleponnya—nomor itu tidak ia kenali.

“Halo?”

“Ya, halo Yoona-ssi?”

Luhan? Yoona bertanya itu dalam hati saat si penelpon mulai bersuara. Ya, suara itu memang suara Luhan. Oh, dia berubah menjadi sangat ceria.

“A..ada apa sunbae?”

“Aku ingin berbicara tentang Jongin.” ucap Luhan diujung sana dengan nada yang kurang… Luhan mengucapkannya agak lemas.

“Jongin?”

“Ya, kau berteman dengannya. Tapi aku tidak memiliki hubungan yang baik dengannya.”

“Apa itu benar?” tanya Yoona memastikan. Tunggu, ia agak heran dengan pernyataan Luhan barusan. Kalau diingat-ingat, Jongin juga tidak menunjukkan kesan yang baik saat bertemu dengan Luhan di sekolah tadi—ya, bertemu dengan sepupunya. “Kenapa bisa seperti itu?”

“Ini masalah keluarga. Yang jelas, kau jaga dia, kalau bisa aku ingin kau bantu aku untuk dekat dan akrab dengannya dan tidk membenciku lagi.”

“Benci? Dia benci padamu, sunbae?” huh. Lelaki itu songong sekali, berani-beraninya membenci Luhan sunbae, ketua osis yang diagungkan di sekolah.

“Begitulah. Kau mau bantu aku, kan?”

“I…iya, tentu saja.” Yoona menjawab dengan agak bimbang. Membantu? Membantu apa? Lagi-lagi berurusan dengan Jongin.

“Oh iya, aku lupa. Sebentar lagi akan ada pensi di sekolah. Kau mau kan bantu aku lagi?”

“Tentu saja.”

“Maaf membuatmu repot. Bagaimana kalau kita bicarakan besok sepulang sekolah saja? Ini sudah terlalu malam.”

…..

…..

“Yoona-ssi? Apa kau masih disana?”

“Ah ya! A…aku masih disini.” Yoona menjawab dengan cepat, hampir saja ia ketiduran. Mana boleh momen telponan bersama Luhan sunbae dilewatkan begitu saja.

“Bagaimana? Kita bicarakan besok saja, ya?”

“Oh tentu saja.”

“Kau sudah ngantuk?”

“Ti..tidak, aku belum mengantuk.” ucap Yoona lalu menjauhkan ponselnya sejenak, ia baru saja menguap. Pembohong.

“Ya sudah, jangan tidur teralu malam. Sampai jumpa.” tutup Luhan diujung sana.

“Iya, sampai jumpa. Selamat tidur, sunbae.”

///

“Iya, sampai jumpa. Selamat tidur, sunbae.”

Luhan memutuskan sambungannya. Ia membaringkan dirinya diatas kasur lalu melihat ke langit-langit kamarnya.

Kalau dipikir-pikir, Yoona selalu berdua dengannya di ruang musik, ia juga suka bernyanyi untuknya. Lalu, Yoona hanya tersenyum padanya di sekolah. Dan ia baru sadar jika Yoona-lah hoobae yang paling dekat dengannya.

Kenapa ia baru sadar, ya?

Dan kenapa seperti ada yang aneh dalam diri seorang Xi Luhan? Ia merasakannya.

Apa ini perasaan…..

///

Yoona membuka tasnya dan mengeluarkan dua kotak makan. Ia menyerahkan salah-satu kotaknya pada Jongin. Kali ini ia benar-benar tidak lupa, agar si Jongin itu tidak terus mengomel padanya.

“Ini, makan siangmu. Semoga kau kenyang.” ucap Yoona cepat dan langsung keluar dari kelas dengan membawa satu kotak makan yang lainnya.

“Mau kemana dia?”

Yoona berjalan keluar kelas dan berpapasan dengan beberapa murid yang akan ke kafetaria untuk makan siang—ya, ini waktunya istirahat. Dan ia juga tahu kalau ada seseorang yang membutuhkan makanan.

Sebenarnya makan siang itu dibuat bukan dengan alasan Jongin, tapi satu orang lagi. Ya, Yoona membuatnya untuk ketua osis—Luhan. Entah kenapa ia sangat menyukai lelaki berkulit putih susu itu. Entahlah.

Ia melihat kelas Luhan tidak ada siapa-siapa dan bahkan Luhan tidak ada disana. Yoona tahu bahwa Luhan tidak akan makan siang di kafetaria, karena biasanya Luhan akan mengurus tentang proposal osis dan bekerja di kelasnya.

Ia menaruh kotak berwarna biru itu di laci mejanya dan langsung berlalu keluar kelas. Bisa gawat jika ada yang melihatnya, Yoona tidak mau berurusan dengan siswa-siswi sekolah ini yang hobi menghakiminya.

///

“Apa kabar, Yoona?”

Langkah Yoona terhenti saat ada seorang siswi dengan tinggi badan yang sedikit agak tinggi darinya tengah berdiri–tepat dihadapannya. Gadis itu bermata abu-abu dan berambut pirang, sekarang tengah tersenyum padanya. Gadis itu, Annalise.

“Kabar baik. Lama tidak bertemu.” jawab Yoona acuh tak acuh.

“Kurasa kau baru saja menyimpan bekal di meja Luhan sunbae.” Anna berbicara sambil menyilangkan kedua tangannya. Mendengar itu, Yoona agak terperanjat, bagaimana bisa gadis itu tahu?

“Kau kaget kan? Jelas aku tahu itu. Tapi satu yang perlu ku ingatkan padamu, tidak usah sok perhatian dengan Luhan sunbae.” ucap Anna yang terdengar agak memerintah.

“Kenapa? Dia bukan milikmu.”

“Tapi aku tidak suka dengan sikapmu. Lebih baik, kau jauh-jauh dari sisinya.”

Yoona mengepalkan tangannya saat melihat senyum meremehkan milik gadis asing itu. Dasar bermuka tebal.

“Hei, kau tidak usah khawatir.”

HUH

Tiba-tiba saja Yoona dikagetkan dengan seseorang yang memeluk lehernya. “Jo..jongin?”

“Aku, Kim Jongin. Dancer yang cukup terkenal. Aku adalah pacar Yoona. Kau tidak usah khawatir.”

.

.

continued

.

.

HAAAAAAAI!😀

Aku balik lagi sama ff series unperfect. Mana nih suaranya yg nungguin ini dari dulu? Hahahaha, gak ada kaliya, iya gapapa kok😦

maaf ya baru bisa lanjutin ini lagi karena alasan yg kalian udah taulah… Ini juga karena libur Ujian Sekolah kakak kelas hehehehe.

Gimana? Ceritanya makin aneh ya? Gak banget kannnnn?? Pls aku gatau ini pendek atau panjang yg jelas jari aku sama-sama pegel. Reviewnya yaaa ditunggu banget😀

Seeya!

.

40 thoughts on “7th Unperfect

  1. Bhahaha LOLLL!!, I love it , wah jujur aku sangat suka banget ff ini terutama moment yoona dan kai nya wuhh, seruuu, aku harap endingnya yoonkai, yapp semangat thorr lanjutin ff nya,👍👏

  2. kereen thor, buat luhan cemburu dong sama yoonkai nyaa :3
    Meski momen yoonkai yg seru, tapi masih berharap ending Luyoon thor, tapi terserah sih, keep writing thorr!

  3. Jujur sebernya berharap yoonkai buahahha abis moment2nya seru , tapi semuanya apa kata author aja deh , daebakk next

  4. makin seru thor….. lucu liat tingkah jongin….. aku agak sebel sama si anna… keep writing thor aku nunggu ff ini lama banget

  5. .huaaa akhrx d’post jg😀
    nunggu bnget sih, tp aku ngerti kok!!!
    Aish, gak taw knp aku lbh suka Yoona ma Kai ktimbng ma luhan. Coz klu ma Luhan, ad nenek lampir yg hrus d’hdapi yoona bedakn dgn jongin😀
    critanya makin seru n Luhan bru menyadari thu perasaanx ke yoona😉
    uda yoong, bekal yg d’taru d’laci luhan oppa d’ambl ja mending brikn ke Sehun atau makan bareng ja ma Kai🙂
    next chap d.tnggu yah!
    Fighting~
    keep writting thor!!

  6. Wah akhirnya cerita ini kembali!!Aku udah lama banget tunggu kelanjutannya.Omo moment yoonkai sweet banget yah.Aku rasa endingnya yoonkai aja yah lebih seru.

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s