(Freelance) Oneshot : 48 Hours

48 hours

Title     : 48 Hours

Authour   : dodofan

Genre  : Fantasy, Mistery, Sad

Main Cast :

  • Im Yoona SNSD
  • Oh Sehun EXO

Support Cast   :

  • Huang Zi Tao EXO
  • Park Chanyeol EXO
  • All member SNSD
  • OTHERS

FF ini ff pertamaku yang dipost di sini, komentar/kritik sangat dibutuhkan, mian kalo banyak typo bertebaran, Nb*tulisan bercetak tebal narasi atau pov Sehun.

 

Ini benar-benar hari sialku, padahal saat pulang tadi masih sangat cerah, akibatnya aku harus menepikan sepedaku di depan toko tua yang masih buka ketika toko lain tutup, anehnya jalanan di depannya sangat sepi dan mencekam, tak mau terjadi sesuatu padaku, aku berniat pergi meski aku harus basah kuyup, tapi tangan seseorang menahanku, aku terpaku Ya tuhan lindungilah aku, ku melirik ke arah tangan yang menahanku, seorang pria paruh baya sedang tersenyum padaku. Seketika petir bersama suara guntur menggelegar. Kaget bercampur rasa lega yang kurasakan, aku sudah mengira perampok atau sesuatu yang tak kasak mata menahanku.

            “Apa aku membuatmu takut?” tanya pria itu.

            “Sedikit, ada yang bisa aku bantu, paman?”

            “Tidak, aku pemilik toko ini, mau minum teh bersama, sembari menunggu hujan reda. Di luar sangat dingin jika kau kehujanan kau bisa flu dan kedinginan”

            “Ah~Bolehkah, baiklah kalau begitu.” Ucapku lalu melangkah ke dalam tokonya, kulihat sekitar ruangan yang dipenuhi manekin sepertinya dia seorang desainer.

            “Apa kau seorang desainer?”

            “Itu terlalu berlebihan, aku hanya penjahit biasa.” Ucap sang paman, yang kubalas dengan anggukan, paman itu membawaku ke dalam ruangan yang cukup luas dengan mesin jahit klasik, satu lemari dan dua kursi sofa serta dengan dapur kecil, sepertinya itu adalah ruangan tempatnya bekerja dan tidur.

            “Apa kau tinggal di sini?” Tanyaku penasaran.

            “Ya, begitulah..” Jawabnya pelan, dari nada bicaranya aku menebak dia tinggal sendirian.

            “Silahkan menikmati…” Aku mengangkat cangkir yang siap kuminum, tapi pertanyaannya menunda acara minum tehku.

            “Namamu Oh Sehun, kan?”

            “Bagaimana bisa paman mengetahuinya?”

            “Kebetulan saja, silahkan minum tehnya.” Jawaban macam apa itu, tapi aku abaikan saja dan meminum tehnya, tapi ada rasa aneh dalam tehnya, bukan rasa yang dirasakan indera perasa, tapi rasa… ah~susah menjelaskannya. Aku melihat sesuatu yang menarik perhatiaanku sebuah manekin yang hanya tertutupi kain putih yang menutupi kepalanya sehingga bagian badannya yang mengenakan gaun putih panjang dengan bagian transparandari paha sampai kaki yang sudah mengenakan high-heels masih terlihat.

            “Boleh aku…?” Ku melirik kearah paman itu, dan paman itu mengangguk karena sudah menangkap maksudku. Ku sibakan kain yang menutupi manekin tersebut, betapa terkejutnya aku melihat manekin dengan wajah sangat nyata.

            “Apa ini patung lilin? Apa kau membuatnya sendiri?”

            “Ya. Kau benar.”

            “Whaa.. aku tak tahu jika ada orang Korea yang bisa membuatnya, siapa dia?”

            “Yoona.”

            “Nama yang cantik.” Ucapku, karena rasa penasaranku yang tinggi aku mencoba menyentuh pipi patung lilin tersebut, tapi saat aku menyentuhnya suara guntur dibarengi matinya lampu membuatku kaget setengah mati, kuedarkan pandanganku mencari paman itu, tapi paman itu sudah tak ada dan ruangan yang tadi kulihat beberapa menit yang lalu berubah menjadi ruangan penuh debu dengan sarang laba-laba dimana-mana kecuali patung lilin yangan ada didepanku, aku merinding seketika, aku berusaha befikir jernih lalu berlari keluar toko tapi keanehan kembali terjadi di luar tak ada tanda telah hujan bahkah sekitarnya kering dan langit begitu terang, meski terasa lembab ini karena temperatur yang dingin, ini wajar karena ini menjelang musim dingin, toko-toko yang tadi ku lihat tutup sekarang buka bahkan jalan di sekitarku sangat ramai benar-benar berbalik 360 derajat, aku memutuskan segera meninggalkan toko tua itu sebelum keanehan lain terjadi padaku, kukayuh sepedaku tapi entah mengapa sepeda ini mendadak berat di kayuh, tapi orang-orang yang kulewati menatapku aneh bahkan menatapku tersenyum-senyum sampai akhirnya aku sampai di rumah. Aku turun dari sepeda.

“Astaga…” teriak sehun lalu terjatuh lemas.

Rupanya hal yangmembuatnya terjatuh lemas adalah sosok gadis yang dilihatnya di patung lilin duduk di jok belakang sepedanya lalu berdiri di depannya dengan tatapan polos.

“Kau hidup?”—“Aku pasti bermimpi..” Sehun menampar wajahnya lalu merintih kesakitan yang itu berarti dia tak bermimpi setelah menyadari itu Sehun kehilangan kesadaran.

15 menit kemudian, Sehun membuka matanya, gadis patung lilin itu masih berdiri menatapnya polos dan ekspresi yang datar.

“Astaga… Apa yang kau lakurkan…?”—-“Oh Sehun… Harimu benar-benar sial.”

“Kau Oh Sehun?” gadis itu mengeluarkan suara.

“Ya kenapa?”

“Bawalah aku bersamamu.”

“Apa, yang benar saja.” Sehun bangkit lalu berjalan menuju pintu rumahnya.

“Tapi tuanku menyuruhku mengikutimu, karena hanya kau yang dapat membantuku.”

“Tuanmu, apa paman yang tadi… Aku tak percaya…”—–“Aku baru saja pindah ke Korea kemarin, tapi banyak kesialan dan ketidak masuk akalan terjadi padaku, gadis lilin yang hidup argh..”Umpat Sehun lalu membuka pintu rumahnya kasar dan bergegas ke kamarnya di lantai 2, sementara gadis lilin itu tak beranjak dari tempatnya berdiri. Satu jam Sehun memperhatikan gadis patung lilin yang selama dua jam tak bergerak sama sekali, hati Sehun melunak lalu pergi keluar.

“Ya! Kau cepat masuk ke dalam suhu semakin dingin.”Ucap Sehun setengah berteriak tapi gadis lilin itu tak merespon. Sehun melambaikan tangan di depan wajahnya, matanya sama sekali tak berkedip.

“Ya! Gadis lilin.” Sehun menatapnya khawatir ‘apa dia membeku kedinginan’ batinnya. Sehun menyentuh tangannya ‘astaga dingin sekali tapi kenapa tangannya keras sekali’ Sehun berniat memangku gadis lilin itu, tapi dia sama sekali tak berat tapi semua tubuhnya kaku bagai patung.

“Dia kembali menjadi patung, astaga… kapan mimpi ini berakhir.” Gerutu Sehun yang tengah membawa gadis patung lilin itu ke dalam kamarnya.

“Terimakasih telah membawaku..” Ucap gadis lilin tiba-tiba dan membuat Sehun terperajat dari ranjangnya.

“Kau hidup lagi? Siapa kau sebenarnya?”

“Kau sudah mengetahuinya, tuanku memberitahumu.”

“Yoona? Sepertinya aku sering mendengar nama itu.”—“Ah~tapi itu tak penting, sekarang coba jelaskan padaku tentang ini semua.”

“Kau adalah sumber energiku, agar aku bisa hidup untuk sementara ini.”

“APA? Kau sedang bermain drama sekarang.”

“Tuanku pernah berkata padaku, seseorang akan memberikanku kehidupan suatu hari nanti dengan hanya bersentuhan, dan orang itu adalah kau..tapi jika aku tak disentuh olehmu lebih dari dua jam maka aku akan menghilang tanpa tahu siapa diriku di masa lalu.”

“Masa lalu, jadi kau dulu adalah manusia? Kau dikutuk atau semacamnya.”

“Aku tak ingat..”

“Aisshh.. Kau-“ Ucapan Sehun terputus karena mendengar deru mobil yang berhenti di depan rumahnya.

“Itu orang tuaku, aku harus bagaimana?” Ucap Sehun sembari mondar-mandir, Sehun melirik gadis lilin yang bernama Yoona lalu menutup kepalanya dengan dengan kain putih.

“Menjadi manekin seperti yang biasa kau lakukan, sebentar.” Ucapnya pelan, pintu kamarnya mulai terbuka.

“Sehun, kau sudah pulang, bagaimana hari pertama kuliahmu.” Tanya Nyonya Oh alias Ibunya Sehun.

“Biasa saja.”

“Oh apa itu, itu seperti manekin, ah gaunnya cantik sekali.” Nyonya Oh mendekati. Sehun menghalangi Ibunya.

“Ibu, aku ingin istirahat sebentar, aku lelah.”

“Tapi Ibu ingin tahu, kenapa kau membawa manekin wanita ke kamarmu, apa ibu bagian dari tugas mahasiswa seni.”

“Ah benar, itu tugas pertamaku, Ibu.” Ucap Sehun sembari mendorong ibunya keluar. Sehun menghela nafas panjang, Yoona menyibakan kain yang menutupinya secara dramatis dan membuat Sehun sesaat terpesona menyadari gadis lilin itu benar-benar cantik, sampai suara gadis lilin itu menyadarkannya.

“Sehun aku butuh energimu.” Yoona mendekati Sehun, sementara Sehun mundur tapi ia sudah terpojokan, Jarak antara wajahnya dengan Yoona hanya tinggal beberapa cm, sampai akhirnya Yoona memeluk Sehun, Sehun berusaha menahan rasa gugupnya, dan tak membalas pelukan itu.

“Ya! Lepaskan aku.” Ucap Sehun lalu mendorong Yoona lepas dari pelukannya. Sementara Yoona menatapnya polos tak mengerti prilaku Sehun setelah ia memeluknya tadi.

“Apa kau kedinginan ta-tadi. Sehingga me-”Sehun tak melajutkan kalimatnya “Bajumu sangat tipis, sekarang kan sudah menjelang mu-sim dingin. Kau bahkan tak mele-pas high-heelsmu” Ucap Sehun terbata-bata.

“Aku sama sekali tak kedinginan.”

“Ah~kalau begitu aku akan turun dulu, ibu memanggilku untuk makan malam, kau harus tetap di sini, mengerti!” Ucap Sehun sebelum meninggalkan kamarnya.

30 menit kemudian…

            “Kau sudah selesai…” Ucap Yoona begitu Sehun masuk ke dalam kamar.

            “Tentu sudah, Kau tidak lapar?”

            “Tidak, jika aku merasa lapar aku akan menyentuhmu untuk mengisi ulang energiku.”

            “Kau kira aku ini Charger? Sudah tidurlah, aku lelah.” Sehun merebahkan dirinya, melihat Yoona diam saja, Sehun berkata “Tidurlah di lantai, pakai selimut ini sebagai alasnya.”

            “Jika aku tertidur tanpa bersentuhan denganmu, aku akan lenyap.” Ucap Yoona sedih.

            “Alasan tak masuk akal, yah baiklah… mana tanganmu?” Sehun menarik lengan Yoona, lalu menautkan jari mereka. “Nah, sekarang kita bisa tidurkan?” Ucap Sehun. Yoona tersenyum.

            “Kau tetap tidur di bawah.” Ucap Sehun memperingati, dan dibalas anggukan Yoona.

*****

            “Sehunie… Sarapanmu sudah siap, kami pergi lebih dulu.“ Teriak Ny. Oh, membuat mata sehun terbuka seketika, dilihatnya Yoona sudah terbagun dengan masih memegang tangannya, Sehun melepaskan tautan jarinya dengan Yoona dan bergegas mandi, Sehun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya.

            “Astaga aku lupa, ada seorang gadis di sini. Ya! berbalik! jangan melihatku seperti itu” Sehun menutupi dadanya, Yoona menuruti perintah Sehun dan berbalik badan. Sehun sudah berpakaian rapih dan menyelempangkan tasnya.

            “Aku harus pergi kuliah, kau harus tetap di sini.”

            “Aku tak boleh jauh darimu.”

            “Kenapa?”

            “Kau menjauh, maka aku tersiksa.”

            “Huh..baiklah, tapi kau harus berjalan 1 meter di belakangku. Mengerti ! dan pakailah ini” Sehun melemparkan kemeja dengan pola kotak-kotak merah dengan garis hitam.

Yoona mengangguk, keduanya meninggalkan rumah dan tentunya mereka berjalan bersama dengan jarak 1 meter, sepanjang perjalanan Yoona menjadi pusat perhatian, orang disekitarnya menatap terpesona padanya tanpa kecuali.

            “Aku harus mengetahui nomernya.” Ucap salah seorang pemuda. Medengar itu Sehun berjalan mundur lalu merangkul Yoona, membuat pemuda tersebut mengurungkan niatnya. Para pejalan kaki ber-Uh~ria, melihat keduanya bahkan mereka mengabadikan momen keduanya. Merasa malu menjadi tontonan orang-orang, Sehun dan Yoona mempercepat langkahnya lalu berlari kencang karena orang-orang mulai mengerubungi keduanya.

Apa yang kulakukan dengan gadis yang bahkan diragukan kemanusiaannya, harusnya aku membiarkan dia lenyap saja seperti katanya, kenapa aku harus menolongnya? Aku menatap jari-jari kami yang bertautan, perasaan apa ini?

            Setelah terbebas dari keramaian, Sehun dan Yoona melepaskan tangan masing-masing suasana menjadi canggung.

            “Tak bisakah kau ganti gaunmu itu, itu terlalu mencolok, sekarangkan sedang winter season.” Ucap Sehun mencairkan suasana.

            “Apa salahnya? Lagipula aku tak punya baju lagi, kau tahukan aku adalah—“

            “Tapi, kita akan dikira pasangan yang kawin lari.” Potong Sehun, dia yang berucap tapi wajahnya yang malah memerah. “Ah~ sudah aku sudah terlambat masuk kelasku.” Sehun berjalan meninggalkan Yoona, tapi Yoona terus megikutinya.

            “Aku akan ke kelas, jadi kau di sini saja. Ok.” Ucap Sehun memperingati, Yoona tak bisa membantah, dia menuruti perintah Sehun. Yoona duduk di bangku taman halaman depan kampus yang berplang Dongguk University, titik-titik putih turun dari langit, Yoona mendongak.

            “Salju pertama…” Ucapnya lembut, sebuah peristiwa kilas balik terputar di kepalanya.

‘Yoona, lihat salju pertama telah turun.’ Ucap sesosok wanita berambut hitam legam.

‘Besok kita akan membuat hal yang membuat halayak terkejut.’ Ucap wanita lainnya yang berambut blonde.

            ‘Kilas apa itu’, kumenutup mataku dan merasakan bulir-bulir air yang membeku di permukaan kulitku. Aku sama sekali tak merasakan dingin tapi kenapa tubuhku terasa membeku, kapan penderitaanku akan berakhir. Sehun…

            Bagaikan tersambung, Sehun mendengar namanya disebut, raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran, tapi Sehun berusaha mengabaikan kekhawatirannya dan memilih fokus pada dosen wanita yang sedang menerangkan.

Jam kelas yang ditempuh Sehun telah berakhir, kini ia tengah berjalan dengan dosennya sembari berbincang tentang mata kuliahnya, tapi perbincangan mereka terhenti karena melihat seorang gadis bergaun yang tengah duduk di kursi taman di tengah hujan salju, sang dosen menajamkan matanya dan raut wajahnya terlihat terkejut “Yoona..” gumamnya pelan. Sehun menyadari perubahan raut wajah sang dosen dan mendengar nama Yoona terucap dari bibirnya, lalu ia bermaksud bertanya tapi belum sempat menyampaikan pertanyaannya, sang dosen sudah meninggalkannya, Sehun terlihat bingung lalu memutuskan berjalan mendekati Yoona yang matanya terpejam.

            “Ya! Ayo kita pulang sebelum semakin ramai.” Ucap Sehun tanpa ada respon.

            “Jangan-jangan dia—, ah` bukannya bagus kalau dia tak mengikutiku terus.” Sehun melangkahkan kakinya bermaksud meninggalkan Yoona, tapi langkahnya terhenti lalu melirik wajah Yoona.

            “Air.” Ucap Sehun, ‘kenapa tak menetes, apa itu air matanya?’ batinnya, Sehun berdiri di depan Yoona.

            “Aku ingin meninggalkanmu, tapi aku tak bisa, apa yang harus aku lakukan.” Jemari Sehun perlahan menyentuh pipi, lalu mendekatkan wajahnya lalu.. mata Yoona terbuka, Sehun terlonjak kaget.

            “Sehun!” Pekik Yoona lalu bangkit memeluknya. Wajah Sehun memerah menyadari apa yang akan dia lakukan pada Yoona, Sehun yang salah tingkah berusaha melepaskan pelukannya.

            “Orang lain akan melihatnya.”

            “Maaf, tapi apa yang akan kau lakukan tadi?” Tanya Yoona polos.

            “Huh?” Sehun salah tingkah kembali, “Kurasa ada yang mengenal dirimu.” Ucap Sehun mengalihkan.

            “Benarkah? Siapa dia? Mari bertanya padanya, sekarang.”

            “Aku tak yakin, dia masih di sini.”

            “Kumohon, aku hanya punya waktu 28 jam dari 48 jam yang kupunya.”

            “Apa maksudmu?” Tanya Sehun, Yoona menunduk tak membalas. “Jawab aku!” Ucap Sehun meninggi.

            “Sebenarnya aku sudah mati 5 tahun yang lalu, aku mati tanpa diketahui siapapun, jadi aku harus mengungkap sebab kematianku lewat dirimu. Dan aku diberi waktu selama 48 jam.”

Sehun sedikit termenung mendengar penjelasan Yoona. Matanya bertemu dengan Yoona yang menatapnya sendu.

            “Mari kita pergi…” Ucap Sehun sembari menarik lengan Yoona.

*****

            “Eonni.. Aku melihat..”

            “Tenangkan dirimu… apa yang akan kau bicarakan.”

            “Yo-yoo-na..”

            “Siapa yang kau maksud?”

            “Eonni aku melihat Im Yoona.”

            “Ya Kwon Yuri! Jangan bergurau dia pergi meninggalkan grup kita tanpa dan dia juga menulis surat bahwa dia akan pergi ke tempat impianya dan takkan kembali selamanya, kau tahukan”

Tut-tut-tut telepon ditutup. Di ambang pintu Sehun mendengarkan percakapan tersebut dengan Yoona yang setia di belakang punggungnya.

            “Kenapa kita tak segera masuk?”

            “Sepertinya kau harus tetap di sini.”

            “Memang kenapa?”

            “Sudah, turuti perintahku saja.”

            “Benarkah? Baiklah, aku akan menunggu di sini, tapi jangan terlalu lama.” Sehun mengangguk lalu berjalan mendekati Yuri.

            “Permisi..” Ucap Sehun pelan.

            “Ah~ kau Sehun, maaf tadi aku pergi begitu saja. Kau ingin menanyakan apa tadi?”

            “Itu~ ah~ aku sudah lupa, tapi aku ingin menanyakan hal lain.”

            “Hal lain?”

            “Aku tadi mendengar nama Yoona disebut, siapa dia? Sepertinya nama itu tak asing di telingaku. Maaf jika aku lancang menanyakan hal ini.”

            “Yoo-na? Dia temanku, dia menghilang 5 tahun yang lalu. Lebihh tepatnya pergi.”Ucap Yuri lirih sembari menunduk.

            “Maafkan aku, sepertinya aku membuat soesangnim sedih. Lebih baik aku pulang saja.”

            “Tidak apa, lagi pula aku juga ingin bercerita. Yoona adalah teman segrupku dulu, dulu kami penyanyi dengan member 9 orang, kau taukan Girls Generation? ah aku lupa, kaukan lama tinggal di Inggris, dan Yoona termasuk member yang paling populer diantara kami, jadi itu sebabnya kau merasa tak asing mendengar nama Yoona.”

            “Jadi soesangnim, dulu adalah penyanyi, lalu kenapa Yoona bisa pergi.”      “Aishh… Kenapa aku menanyakan itu.” gerutu Sehun setelah melemparkan pertanyaan tak sopan itu.

            “Yoona pergi begitu saja di saat kami sedang berada di puncak popularitas, dia hanya meninggalkan secarik kertas, dan aku bahkan belum melihatnya lagi, hanya itu yang dapat kuceritakan.”

            “Soesangnim, Yoona meninggal 5 tahun yang lalu dan Yoona ada di sini, apa kau percaya?” Ucap Sehun tiba-tiba.

            “Jangan bicara omong kosong, Sehun.”

            “Aku serius! Aku bertanya padamu karena permintaannya.”

            “Maaf Sehun.” Yuri melangkah meninggalkan Sehun yang masih terduduk di depan mejanya.

Sehun menghela nafas kasar, dari arah pintu Yoona berlari.

            “Bagaimana?” Ucap Yoona begitu berhadapan dengan Sehun.

Sehun merogoh kantung mantelnya dan mengeluarkan smartphonenya lalu mulai mengetik. Setelah itu lalu memperlihatkannya pada Yoona.

            “Kau selebritis!” Mata Yoona membulat melihat gambar dirinya yang sangat banyak.

            “Aku?”

            “Ayo kita datangi teman-temanmu.”

            “Apa kita dapat melakukannya dalam semalam.”

            “Tentu saja, teman-temanmu selebritis, sangat mudah kan.”

5 hours later…

            “Apa kau yakin ini mudah, kita sudah menghabiskan waktu 5 jam dan kita tak menemui siapapun.”

            “Aku kira sangat mudah bertemu selebritis.” Sehun mengacak-acak rambutnya, sementara Yoona menatapnya geli.

Seseorang lekaki memasuki ruangan mereka, “apa kalian ingin bertemu dengan noona? Cepatlah temui dia aku beri kau 10 menit.”

            “Lihat!” Sehun menyeringai “Kau harus tetap di sini ya..” Sehun bejalan mengikuti lelaki tersebut.

            “Nak, siapa gadis itu? Meski pakaiannya sesidikit aneh, tapi dia cantik, sepertinya wajahnya familiar di mataku. Apa dia pacarmu?”

            “Tidak..”

            “Benarkah, kalau begitu boleh aku meminta nomernya..”

            “Maksudku tidak salah lagi…” balas Sehun ketus, lelaki tersebut hanya mendengus kesal. Sehun memasuki sebuah ruangan degan seorang wanita berambut blonde.

            “Hyoyeon noona, dia orang yang mencarimu.”

            “Anyeonghaseyo…” ucap Sehun lalu menunduk hormat.

            “Apa kau mengenaliku.”

            “Tidak.. Aku datang kemari ingin menanyakan sesuatu tentang Yoona.”

            “Yoona.. Maksudmu Im Yoona?”

            “Ya..”

            “Dia temanku, dia pergi begitu saja 5 tahun yang lalu. Lalu?”

            “Dia tidak kabur, dia sudah meninggal 5 tahun lalu.”

            “Apa yang kau bicarakan, Jessica eonnie setahun yang lalu berkata dia melihatnya di Paris.”

            “Tapi dia sudah meninggal, dia memintaku menemukan jasadnya.” Hyoyeon menggelengkan kepalanya mendengar ucapannya lalu berjalan pergi.

            “Apa kau ingin menemuinya?”

            “Manajer Kim apa gaunku sudah siap, aku tak mau terlambat ke acara resepsi Seohyun.” Teriak Hyoyeon mengabaikan ucapan Sehun. Sehun menghela nafas lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.

            “Ya! Sepertinya sia-sia saja. Kita pergi saja.”

            “Lalu bagaimana denganku?”

            “Terserah kau sajalah, aku lelah.”

***

Sehun memasuki rumahnya tanpa diikuti Yoona.

            “Anakku, kau sudah pulang… Mari kita makan malam.” Seru Ibu yang ada di dapur, lalu Sehun menuju dapur dan duduk di tempat biasanya.

            “Sehun ini undangan resepsi temanmu Jongin, ayah lupa memberikannya padamu, acaranya malam ini.”

Sehun membuka lembaran undangan tersebut, lalu menutupnya kembali. “Aigoo, Jongin sudah menikah, ck.. Aku tak percaya…” batin Sehun, seperti teringat sesuatu Sehun membuka kembali surat undangan itu, dan membaca nama pengantin wanitanya. “Seo Jun Hyun (Seohyun)” gumamnya pelan. “Mwo? SEOHYUN!” tiba-tiba Sehun berteriak kencang, membuat kedua orang tuanya terkejut dan terbengong.

            “YA! Jangan berteriak di meja makan, tak sopan.”

            “Siapa Seohyun?”

            “Huh…aku kira anakku tak tahu girl grup, Seohyun yang tertulis di sana itu anggota Girls Generation, grup paling populer beberapa tahun silam.”

            “Aku harus pergi.” Sehun mengambil mantelnya dan bergegas pergi sembari membawa surat undangan tersebut.

            “Kau tak mungkin berpakaian seperti itu ke pestakan Sehun?” Ucap Ny. Oh yang berhasil menghentikan langkah Sehun, mendengar itu Sehun berlari ke kamarnya dan bergegas memakai pakaian formal lengkap dengan dasi kupu-kupu. Setelah itu Sehun menyalakan mesin mobilnya dan mulai memacu mobilnya, dalam perjalanan, Sehun melihat Yoona yang tengah mematung di sisi jalan yang sepi, Sehun menepikan mobilnya lalu menarik lengan Yoona ke dalam mobilnya.

            “Kau kembali?”

            “Itu tak penting, kali ini aku akan mempertemukanmu dengan temanmu secara langsung.”

            “Tapi..”

            “Tenang saja malam ini teman-temanmu akan berkumpul.”

***

            “Lepaskan kemeja itu, kita akan ke pesta malam ini.”

Sehun dan Yoona berjalan memasuki hotel mewah tempat acara berlangsung, Sehun menunjukkan surat undangan dan para petugas keamaan menunduk hormat lalu mempersilahkan mereka masuk. Sehun mengedarkan pandangan mencari ruangan pengantin wanita, sampai pandangannya tertuju pada sesosok lelaki bekulit kecoklatan yang tentunya temannya Jongin sedang mengobrol dengan lelaki berambut blonde, berperawakan jangkung dengan mata tajam. Yoona yang berada di belakang Sehun dengan setia mengikuti setiap langkah Sehun.

            “Anyeong… Jongin!”

            “Sehun!” seru Jongin lalu memeluk Sehun, Sehun mendorong bahu Jongin karena tak merasa nyaman. Lelaki di belakang Jongin tertegun, lalu bergegas pergi dari sana.

            “Sehun lama tak bertemu, oiya ini Tao teman sewaktu ki…” kalimatnya terhenti karena orang yang dia maksud sudah menghilang.

            “Di mana ruang pengantin wanitamu, ada yang ingin bertemu dengannya.”

            “Siapa  ? wanita di belakangmu. Apa di teman istriku.”

            “Ya..”

            “Di sana… Pintu yang tertutup tirai. Aku akan berkeliling dulu menyambut tamu yang lain.” Jongin meninggalkan keduanya, dari kejauhan Tao memerhatikan Sehun lalu memutuskan menyapanya meski raut wajahnya terlihat ketakutan.

            “Sehun!” panggil Tao.

            “Kau pasti Tao? Lama tak bertemu..”

            “Eum… Sehun ada roh yang mengikutimu.”

            “Roh? Maksudmu dia?”

            “Kau dapat melihatnya?”

            “Dia..”

            “Dia roh dengan banyak bekas suntikan di sekitar lengan dan lehernya, dan tu–, sepertinya dia mati 5 tahun yang lalu, dia sangat menyedihkan.”

Sehun dan Yoona terdiam, Yoona terlihat terluka.

“Apa kau tahu siapa yang membuatnya meninggal?”

“Aku tak tahu, jadi kau bisa melihatnya.”

“Orang lainpun dapat melihatnya.” Sehun melangkah pergi sembari menarik lengan Yoona.

“Apa kalian semua anggota girls generation?” Tanya Sehun begitu masuk ke ruangan yang berisi 8 wanita cantik.

“Kau siapa?” Tanya Seohyun. Dua orang dari mereka mengenali Sehun, ya mereka Yuri dan Hyoyeon.

“Sehun, kenapa kau ada di sini?”

“Kau boleh keluar.” Ucap Sehun diiringi wajah terkejut semua orang, dan mereka semakin terkejut ketika melihat Yoona muncul dengan gaun terakhir yang ia pakai 5 tahun yang lalu, ia muncul dari balik punggung Sehun.

“Yoona…!” Ucap ke-8 wanita hampir bersamaan.

“Kalian pasti mengenalku, jadi tolong temukan aku.”

“Kau ada di sini, kenapa kami harus mencarimu.” Ucap Taeyeon.

“Aku sudah mati.” Suara guntur menggelegar, lampu di ruangan tersebut redup lalu terang dengan cepat membuat suasana menjadi menakutkan, terlebih hanya Yoona yang tak kaget dan tetap diam dengan suara guntur tadi.

“Ba-gai-ma–na kau mengetahui kau sudah mati.” Ucap Sunny, Yoona menutup matanya ‘kuharap kalian tak ketakutan.’ Batinnya, Yoona membuka matanya seketika kulitnya memucat kebiruaan, dan gaun putihnya berubah tersobek dengan luka mengaga di daerah perut sebelah kiri dan noda darah di sekitarnya. Semua terlihat terkejut bahkan Sehunpun terlihat shock, tak sedikit dari mereka yang menutup mulutnya berusaha tak berteriak dengan mata berkaca-kaca. Dari arah pintu Jongin dan Tao masuk, Jongin kehilangan kesadarannya, berbeda dengan Tao yang terlihat biasa saja.

“Lalu siapa yang menulis surat saat kau pergi, dan siapa yang mengirimkan email dengan akun emailmu satu tahun yang lalu.” Ucap Jessica.

“Tapi aku tak pernah menulis surat itu.”

“Kurasa orang yang mengirimkan dan menulisnya adalah orang yang sama. Dan dia adalah pengikut kalian.” Ucap Tao menyambung.

“Maksudmu seorang fans, atau lebih tepatnya saesang fans?”

“Mungkin, aku merasa dia ada di sini tadi tapi sekarang dia sudah pergi.”

“Kenapa kau tak memberitahukannya tadi.”

“Itu karena aku baru mendapatkannya tadi.”

“Yoong~” Ucap Tiffany lirih.

“Sehun, Tao.. temani aku mencarinya.”

“Kami ingin ikut mencarinya.”

“Hari ini adalah hari bahagiamu dan kalian, aku tak mau merusak hari temanku.”

“Teman? Kau masih menganggap kami, kami bahkan sudah berburuk sangka padamu.” Ucap Hyoyeon dan dibalas senyumannya.

“Yoong, kita baru saja bertemu tak bisakah kau di sini lebih lama.”

“Aku tak punya waktu banyak.” Terlihat wajah mereka menampakan sedih dan kecewa.

“Kalau begitu mari berfoto.” Ajak Sooyoung dan semuanya menyetejuinya.

“Yoong, kau di tengah, kaukan wajah kami.” Ucap Taeyeon.

“Sehun kau fotokan kami ya..” ucap Yuri memberi memberikan kamera SLR yang sedari tadi menggantung di lehernya.

***

“Dia adalah orangnya.” Ucap Tao sembari menunjuk lelaki tinggi dengan kemeja yang tergulung di bagian lengan.

“Kurasa aku mengenalnya, dia dr. Wu dokter psikiater kakekku dulu.”

“Bagus jika kau mengenalnya.” Yoona, Sehun dan Tao mendekati pria itu.

“Sehun, ada angin apa kau datang ke sini.”

“Apa kau kenal dia…” Sehun menunjuk Yoona.

“Gadis ini, siapa dia?”

“Aku yakin dia mengenalnya, aku tak pernah salah mengira.”

“Apa maksud temanmu itu?”

“Maaf jika temanku menyinggungmu, hyung, kurasa aku harus pergi, terimakasih, sampai jumpa.” Sehun berbalik melangkah pergi diikuti Yoona dan Tao dengan lesu.

“SEHUN!” dr. Wu memanggil Sehun lalu berlari mendekatinya. Sehun dkk, menghentikan langkahnya.

“Aku rasa pernah melihatnya dia Yoona kan, dia selebritis, seseorang sering menceritakannya padaku, dia pasienku 5 tahun lalu.”

“Pasienmu? Siapa dia? Di mana dia sekarang?”

“Dia sudah tak menjadi pasienku lagi, aku hanya berkomunikasi via telepon saja selama ini. Ku dengar dia bekerja di pembuatan properti. Namanya Park Chan—-, Ah~ Park Chanyeol.”

“Kau tahu alamatnya?”

“Aku hanya tahu alamat tempatnya berkerja.”

“Beritahu kami.” Ucap mereka bertiga bersamaan.

***

“Permisi, paman… apa kau mengenal Park Chanyeol.”

“Ah~ anak muda yang selalu bersemangat itu ya… Itu dia..” Paman itu menunjuk pemuda yang sedang membereskan barang-barangnya diselingi senda-gurau dengan pekerja lain, dia berperawakan tinggi dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya dan setiap dia berucap orang-orang yang berwajah lelah di sekitarnya seketika tertawa lepas.

“Apa kau Park Chanyeol?” Tanya Sehun.

“Ne.. aku Chanyeol, Annyeonghaseyo..” Balas Chanyeol sopan.

“Apa kau mengenal dia?”

“Kau menunjuk siapa, maksudmu lelaki di sebelahmu.”

“Hah?” Sehun dan Tao melirik Yoona yang jelas-jelas berdiri di sebelah Sehun.

“Ini sudah malam jika kalian ingin bicara denganku, mari kerumahku karena pabrik ini akan segera tutup.” Mendengar ajakan itu, tentu saja mereka menerima dengan senang hati.

Mereka berempat telah sampai di sebuah rumah atau lebih tepatnya apartemen, Chanyeol membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk.

“Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan teh.”

“Apa kau yakin orang seceria dia, bisa melakukan itu?” Tanya Yoona.

“Menurut dr. Wu tadi, dia mengalami masalah kejiwaan tapi itu dulu…”

“Tapi menurutku masalah kejiwaan tak bisa sembuh total, be…”

“Maaf menunggu lama, silahkan…” Ucap Chanyeol memotong sembari membawa nampan dengan tiga gelas cangkir. Keduanya meminumnya dengan canggung.

“Chanyeol-ssi, apa kau mengenal gadis ini.” Sehun menunjukan ponsel dengan foto Yoona di dalamnya.

“Yoona… ah~ tentu saja aku dulu fansnya.”

“Kau tahu kenapa dia meninggal?” Tanya Sehun hati-hati.

“Dari mana aku tahu bagaimana dia meninggal.” Ucap Chanyeol sedih.

“Bagaimana kau tahu dia sudah meninggal, padahal orang-orang di luar sana berkata dia kabur.” Chanyeol yang sedang mengangkat cangkirnya terhenti dan tersenyum.

“Binggo… Kita mendapatkannya…” Ucap Tao sinis, Yoona menatap Chanyeol dengan nanar.

“Apa yang kalian bicarakan…” Ucap Chanyeol tenang, perlahan Chanyeol mengeluarkan sebuah suntikan dari bawah meja dan mengisinya dengan cairan yang ada di botol kecil di balik mantelnya, lalu mengangkatnya bermaksud menancapkannya pada Sehun yang di seberangnya. Dengan sigap Tao yang di sebelahnya, menahan tangan Chanyeol dan memilintirnya, Sehun dan Yoona berdiri shock dan menjauh.

“Tak sia-sia aku berlatih wushu.” Ucap Tao bangga. Bukanya merasa bersalah Chanyeol malah tertawa lalu menangis, dengan sekuat tenaga Chanyeol melepaskan diri dan berlari menuju lemari di sudut ruangan.

“Tolong jangan ambil Yoongiku, kumohon..” Ucap Chanyeol histeris sembari melindungi lemari di belakangnya dan mengeluarkan pisau lipat di saku mantelnya. Yoona menutup mulutnya, air matanya mengalir di pipi pucatnya.

“Yoona milikku, kalian orang kaya, kalian punya semua yang aku tak punya, aku hanya punya dia, jadi jangan ambil dia. Pergi kalian…” Ucap Chanyeol semakin menjadi.

“Chanyeolie…” Ucap Yoona lirih. Chanyeol mendengar namanya dipanggil, samar-samar Chanyeol melihat Yoona yang ada di depannya, Chanyeol mulai tenang dan menurunkan pisaunya.

“Chanyeoli, dulu kau memintaku menyanyikan lagu tidur, maafkan aku tak menuruti permintaanmu, jadi kau mau mendengarnya?” Chanyeol mengangguk lalu berbaring saat itu juga, Yoona mulai bernyanyi dengan berusaha menahan tangis, Tao dan Sehun yang ada di sana membiarkannya hingga Chanyeol benar-benar tertidur.

“Apa ingatanmu kembali?” Ucap Sehun dan dibalas anggukan Yoona.

“Kumohon setelah aku pergi jangan laporkan dia pada polisi, bawa dia ke rumah sakit, aku tahu dia orang yang baik, hanya saja dia kesepian, dia tak bermaksud untuk melukaiku.”

“Tapi…”

“Kau harus membuka lemari itu sebelum dia bangun.”

Sehun mendekati lemari kayu tersebut dan membukanya dengan dingding lemari yang penuh dengan foto Yoona, dan setelah itu wajahnya terlihat shock begitupun Tao, Yoona menatap miris apa yang ada di dalamnya yaitu dirinya sendiri atau lebih tepatnya tubuhnya yang masih utuh terawat memakai gaun yang ia pakai sekarang dengan bekas darah yang mengering.

“Sehun, Tao terimakasih… dan tolong sampaikan terimakasihku ke-8 sahabatku dan betapa aku merindukan mereka.” Ucap Yoona yang tubuhnya perlahan samar-samar menghilang.

“Yoona-ya…” Ucap Sehun berkaca-kaca lalu meraih lengan Yoona tapi yang terjadi jari-jarinya menembus lengannya.

“Akhirnya kau menyebut namaku..” Ucap Yoona sembari tersenyum.

Bayangan Yoona semakin menipis lalu menghilang.

“Aku bahkan belum mengucapkan perpisahan.” Air mata Sehun menetes, Sehun berjalan mendekati tubuh dingin yang terduduk dalam lemari, lalu membelai pipinya.

Aku bahkan baru menyadari aku menyukaimu hanya dengan mengenalmu 48 jam, tapi kenapa kau tak memberiku kesempatan untuk mengungkapnya. Gomawo…

 

END

Huaaaa… mian kalo gaje, alur kecepetan, pengennya sih di buat per chapter tapi karena kesibukan mau ujian jadilah ini, karena itu mohon komentarnya…

 

32 thoughts on “(Freelance) Oneshot : 48 Hours

  1. Aaaaa
    Keren bangettttt seriusan
    Ceritanya menarik thor :)))))
    Ga nyangka, jadi chanyeol pelaku nya?
    /shocked/
    Ga tau mau komen apa lagi, pokoknya keren deh, bagus, heheheh

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s