(Freelance) Oneshot : True Love

true-love

True Love

 Written by Nawafil

 PG

 Romance, Sad, Angst

 Oneshoot

 Starring by EXO’s Chanyeol | GG’s Yoona

 Poster by Venus at cafeposterart.wordpress.com

 Disclaimer : All cast belong to god, but the plot of the story is mine. This story not true, just a fiction. DO NOT PLAGIARISM!

A/N : Just enjoy reading 🙂

 

Pria jangkung dengan kemeja dan blazer warna abu itu berjalan sambil memegang tas ditangannya. Ia sama seperti penduduk kota yang memulai aktivitasnya pada pagi hari.

“Chanyeol Hyeong!” Pandangannya teralihkan pada sosok yang sedang melambaikan tangannya di seberang jalan sana. Ia memicingkan matanya, senyumnya merekah kala menyadari siapa sosok itu.

Kim Jongin.

“Kau sombong sekali, hyeong” Jongin memukul lengan Chanyeol. Bukan pukulan biasa, tentu saja. Akan sangat mengherankan apabila Jongin tidak memukul Chanyeol sekeras biasanya.

“Kau ini, sekarang aku gurumu, bodoh” Jongin bersiap untuk menahan jitakan Chanyeol, namun sayang, Chanyeol tidak sebodoh itu. Ia sudah tahu Jongin akan menahannya, dan alhasil jitakannya mendarat sempurna dikepala Jongin.

“Kalau Yoona noona pasti tidak akan menjitak kepalaku seperti itu”

Chanyeol tidak berhenti. Hatinya tertohok ketika nama itu disebut, tapi, ia tidak bisa berhenti. “Hm, dia memang sangat lembut” Chanyeol mengiyakan.

Jongin menelan salivanya. Ia mengerti bahwa perkataannya salah. “Mianhae

Chanyeol mengeratkan genggamannya. “Tak apa, aku tidak apa – apa”

“Lalu, kapan kau akan menikah hyeong? Kau sudah tua” Kim Jongin. Dia selalu mengeluarkan apa yang ada dipikirannya tanpa terkecuali. Terlebih pertanyaannya ini untuk mencairkan suasana yang sempat kaku tadi.

“Aku sudah menikah”

Chanyeol selalu menjawab seperti itu, pada siapa pun dan dimana pun, bahkan ia mengatakan hal ini pada ibunya.

“Terserahlah. Hyeong selalu menjawab seperti itu, aneh”

Chanyeol melihat jam tangan yang melingkar sempurna dipergelangan tangannya. Ia juga seolah menghiraukan tanggapan Jongin. “Pulang sekolah nanti temani hyeong ke makam Yoona, okay?”

Jongin mengangguk pasti.”Baiklah”

Jongin menopang dagunya, dari ekspresinya sangat jelas bahwa ia sangat bosan. Berulang kali ia berusaha terjaga, dan berulang kali pula ia gagal menolak rasa kantuknya itu.

“Kim Jongin, apa kau sedang tertidur?” Matanya langsung terbuka, ia membenarkan posisi duduknya. “Tidak, Hyeong!” ia tersenyum konyol.

“Apa? Hyeong?!” Chanyeol memasang wajah sangarnya, sudah siap dengan penghapus yang kapan saja akan mendarat dikening bocah tan itu.

“Ah, maksudku Sonsaengnim. Maafkan saya” Jongin sedikit membungkuk. “Jangan tertidur dan perhatikan ke depan. Nilai ulanganmu selalu merah” Jongin mendecak sebal. Chanyeol memang sangat berbeda ketika sedang menjalani profesinya sebagai guru. Selalu menyebalkan.

KRIIIING!

Bel pulang sekolah menggema ke seluruh penjuru sekolah. Kantin, lapangan, kelas, perpustakaan, ruang guru, bahkan hingga ke gudang.

Yes!

“Baiklah, terima kasih untuk hari ini. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang saya berikan, sampai bertemu di pertemuan selanjutnya”

Semua murid berhamburan keluar kelas, namun tetap tertib dan tidak menerobos barisan yang ada. Hal ini sudah menjadi kebiasaan.

“Kim Jongin, mau kemana kau?” Jongin menoleh.

Melihat raut wajah Jongin yang mengatakan ‘ada apa?’, Chanyeol berkata, “Makam noonamu”

“Ah, benar! Ayo pergi, hyeong

Cuaca sangat cerah, masih terhitung sangat terang di sore hari. Chanyeol dan Jongin keluar dari mobil, melangkahkan kaki mereka dengan bunga yang mereka bawa masing – masing.

Angin bertiup sangat pelan, menerbangkan beberapa helai rambut indah keduanya. Dan tempat ini sangat sepi, mungkin hanya ada beberapa orang saja atau mungkin hanya ada mereka berdua.

Jongin tidak berani mengajak Chanyeol berbicara. Meskipun ia tipe orang yang frontal, namun ia tahu situasi sekarang ini tidak mungkin.

Langkah keduanya berhenti. Chanyeol yang pertama berjongkok, ia meletakkan bunga daisy yang ia bawa.

Annyeong, Yoong” Chanyeol menyapanya. Ia memejamkan matanya untuk beberapa detik. “Apa kau bahagia di sana?” Pertanyaan klasik yang selalu ia tanyakan.

“Kau tahu? Sekarang aku sudah menjadi guru”

Ne, Chanyeol hyeong sudah menjadi guru yang hebat, noona” Jongin ikut berjongkok dan meletakkan bunga yang ia bawa.

Chanyeol menghela nafas. Menikmati suasana sekitarnya. Angin yang berhembus perlahan, sepi, dan menenangkan.

Aku merindukanmu, Yoong.

FLASHBACK ON

“Chanyeol! PARK CHANYEOL!” Gadis tinggi nan semampai itu berteriak sangat kencang. Siapa lagi kalau bukan Im Yoona, gadis dengan predikat suara yang bisa mencapai 6 oktaf. Barang disekitarnya bergetar ketika ia mengeluarkan suaranya itu. Terlebih ketika ia sedang berlari.

“Ada apa?” Sangat santai. Chanyeol menyikapinya terlampau amat santai.

“Apa kau tahu? Anak dengan kacamata yang membawa buku tebal?” Chanyeol tertegun. Siapa yang dimaksud Yoona?

“Anak yang suka berada diperpustakaan. Kau tahu kan?” Untuk beberapa detik Chanyeol mengingat ‘anak’ yang disebutkan Yoona itu.

“Kim Joonmyeon? Tentu saja aku tahu!” Ia menjentikkan jarinya.

“Kau bisa membantuku kan? Jebal” Yoona menggosokkan telapak tangannya, mengeluarkan jurus terampuhnya—memelas, aegyo.

“Kau ingin menjadikannya pacarmu? Setahuku kau tidak suka pria dengan gaya seperti dia” Yoona tersenyum. Tentu saja bukan untuk dijadikan pacar. Ayolah, Chanyeol memang sudah gila.

“Aku membutuhkannya untuk tugas sejarahku. Kau tahu aku sangat buruk dalam mata pelajaran yang satu itu”

“Yah, kau buruk dalam semua mata pelajaran. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk itu. Itu sudah menjadi takdirmu, nak” Chanyeol menyentil kening Yoona, kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika menggoda atau memarahi sahabat manisnya.

Yoona mendecak sebal. Tatapannya menusuk seperti elang yang siap memakan mangsanya kapan saja. “Kau-tahu-aku-tidak-bodoh” Yoona menajamkan kata – katanya. “Kau harus ingat itu”

Sedangkan Chanyeol, ia mengedikkan bahunya tak peduli. “Baiklah, aku akan membantumu” Chanyeol mengambil alih buku ditangan Yoona. Yoona terlihat kaget, wajar saja, Chanyeol biasanya tak pernah mau membantunya. Yoona pun duduk di samping Chanyeol.

Yoona menatap Chanyeol dalam. Ia tersenyum manis. Senyum manis yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun di dunia ini. Senyum yang hanya ia tunjukkan kepada Park Chanyeol. Hanya Park Chanyeol.

Manhattan.

Manhattan.

Manhattan.

Manhattan.

Manhattan.

Semua orang di Dongguk university tahu kalau primadona kampus mereka ini sangat suka travelling. Hampir setiap liburan ia selalu pergi ke tempat – tempat yang ia inginkan. Tak jarang ia menghabiskan liburannya untuk mendaki gunung dan sekedar berkemah.

Tiba – tiba tangan Yoona yang sedari tadi mencoret kertas itu berhenti. Tiba –tiba saja ia memegang kepala bagian belakang, kemudian meringis.

“Yoong” Seseorang menepuk pundaknya dari belakang, sontak membuat Yoona menurunkan lengannya. Ia kaget.

“Ada apa, Chanyeol?”

“Lee sonsaengnim memanggilmu” Tanpa basa basi Yoona langsung beranjak berdiri dan keluar dari kelas. Chanyeol hendak mengikuti Yoona, namun pandangannya menangkap kertas yang penuh dengan coretan.

“Manhattan?” Chanyeol bergumam.

Yoona keluar dengan balutan jeans panjang dan kaos putih. Ia mengenakan mantel hanya untuk menghangatkan tubuhnya.

“Kau siap?” Chanyeol telah menunggunya. Yoona mengangguk dan menghampiri Chanyeol.

Tidak. Bukan mobil.

Chanyeol hanya membawa sepeda. Dan di sampingnya juga ada sepeda Yoona. Memangnya mau apa pergi ke sungai Han mengenakan mobil? Lagipula, mereka hanya menjalani kegiatan rutin mereka setiap malam minggu. Sekedar berjalan – jalan dan menghirup udara segar.

“Kita akan melihat pameran air mancur lagi?” Yoona mulai menggoes sepedanya. Chanyeol menganggukkan kepalanya sebagai tanda iya.

“Ditambah pertunjukan kembang api” ujar Chanyeol. “Untung saja lokasi rumah kita tidak jauh dari sungai Han” Dan Chanyeol kembali menanggapi Yoona dengan anggukan.

Beberapa saat kemudian keduanya sampai, dan kelihatannya pertunjukan kembang api beserta air mancur berwarna – warni itu belum dilaksanakan. Yoona duduk dan merasakan angin malam Seoul.

Ice cream?”Chanyeol menghampirinya. Memang sedikit aneh, untuk apa membeli es krim disaat udara sedingin ini. Chanyeol orang yang tidak bisa ditebak.

“Dari sini air mancurnya akan terlihat sangat jelas” Chanyeol memulai pembicaraan. Namun, Yoona sibuk menikmati sensasi dingin yang diberikan es krimnya.

“Apa kau senang, Yoong?” Untuk kalimat Chanyeol yang kedua, Yoona melihatnya.

“Kau pernah bertanya padaku, gadis macam apa yang ku suka, benarkan?” Chanyeol memberi jeda untuk kalimat selanjutnya, ia tersenyum. “Ku rasa aku menyukai gadis sepertimu” Chanyeol mengutarakannya dengan sangat jelas.

“Semua orang tahu, tidak akan ada persahabatan murni antara pria dan wanita. Prianya akan jatuh cinta, ataupun sebaliknya” Chanyeol menunduk dan menghela nafasnya perlahan.

“Chanyeol” Suara Yoona sangat pelan, hingga pendengaran Chanyeol tak mampu menangkap getar suaranya.

“Park Chanyeol” Chanyeol tetap tidak menyadari panggilan Yoona.

“Maka dari itu, aku ingin…” Chanyeol memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, ingin mengeluarkan sesuatu untuk Im Yoona.

Namun suara es krim yang jatuh mampu mengalihkan perhatiannya. Ia pun segera melihat Yoona dan melupakan apa yang akan ia ucapkan tadi.

Yoona menatap matanya.

Ia meneteskan air matanya.

“Yoong, kenapa kau menangis?” Chanyeol panik, ia segera menghapus air mata Yoona. “Tidak, kau tidak boleh menangis” Dan detik berikutnya Yoona tersenyum. “Kau baik sekali”

“Aish, maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengatakan hal – hal bodoh tadi” Chanyeol merutuki dirinya sendiri. Ia terlalu panik hingga tak menyadari bahwa Yoona sedang kesakitan. Chanyeol hanya ribut dan sibuk sendiri menyesali dirinya yang hampir mengungkapkan sesuatu tadi.

Pandangan Yoona kabur. Air matanya menghalangi pandangannya. Apa yang Chanyeol ucapkan, bahkan ia tak bisa mendengarnya dengan jelas. Rasa sakit yang sedari tadi menyerangnya perlahan menghilang. Ia merasakan kelopak matanya mulai tertutup.

Dan semuanya menjadi gelap.

Yoona membuka kelopak matanya perlahan, pandangannya yang semula buram sudah mulai jelas. Meski tubuhnya hampir mati rasa, namun ia masih bisa merasakan kesadarannya.

“Apa yang kau lakukan?” Di hadapannya, Chanyeol telah berdiri tegak dengan tatapan yang cukup tajam, namun Yoona cukup tahu tersirat kekecewaan di dalamnya.

“Chanyeol-ah” Yoona mengucapkan nama itu dengan suaranya yang masih serak. Sangat lirih.

“Kanker otak stadium akhir?” Nada bicaranya seakan akan tak percaya. “Kau tak seharusnya menutupi ini dariku, Yoong” Chanyeol menggeleng, matanya mulai berkaca – kaca. “Kenapa?”

Yoona terlonjak, kenapa Chanyeol bisa tahu? Namun ia berusaha mengumpulkan tenaganya untuk bersuara. “Aku—”

“Aku tak habis pikir, kenapa kau melakukan ini padaku?” Air mata itu tumpah.

“Karena aku—”

“Aku kecewa, Im Yoona”

Kalimat itu membuat Yoona terdiam. Apa yang Chanyeol ucapkan? Kecewa?

Yoona berusaha mati – matian menahan tangisnya. “Aku kecewa padamu” Dan ketika kalimat itu diulang, hatinya benar – benar terluka. Hal yang membuatnya terluka adalah ketika ia menyadari bahwa Chanyeol juga terluka.

Chanyeol pergi dari hadapannya, dengan wajah yang membuat Yoona khawatir. Yoona menggigit bibirnya, nafasnya tak teratur.

Apakah kau tahu, Chanyeol?

Aku melakukan ini karena..

Karena aku mencintaimu.

7 hari sudah Yoona menghabiskan waktunya dirumah sakit. Dan selama itu pula Chanyeol berada di sampingnya.

Tidak, hubungan mereka belum sepenuhnya membaik. Sejauh ini, Chanyeol hanya berada di sana untuk menjaga Yoona. Bahkan satu huruf pun belum keluar dari mulutnya untuk Yoona.

“Chanyeol, aku ingin berjalan – jalan sebentar” Chanyeol yang sedang mengupas apel, melirik sahabatnya itu. Ia menunduk, dan jujur saja sebenarnya ia ingin sekali mengatakan tidak. Kondisi tubuh Yoona belum cukup kuat untuk itu.

“Sekali saja, aku ingin” Sorot bola mata Yoona membuat Chanyeol tak tega. Ia meletakkan pisau dan apel yang sedang digenggamnya, membantu Yoona duduk di atas kursi rodanya. Ketika ia hampir saja mendorong kursi roda itu, ucapan Yoona menghentikannya.

“Kau belum mengucapkan baiklah” Yoona meniru bagaimana Chanyeol selalu menyerah untuk setiap permintaannya dan akhirnya berkata baiklah.

Menyadari bahwa Chanyeol tak kunjung memberikan respon apapun, Yoona menyerah. “Baiklah, ayo kita keluar”

1 YEARS LATER

Chanyeol POV

Aku melihat ke sekeliling taman, inilah pemandanganku setahun belakangan. Taman di rumah sakit ini mungkin satu – satunya tempat dimana aku bisa mengeluarkan semua keluh kesahku.

Yoona dan aku sering berkunjung ke sini setiap hari minggu. Aku melihat setiap perubahannya. Rambutnya, geraknya yang melambat, mata indahnya yang memudar, tawanya yang menghilang, dan tangannya yang selalu menjatuhkan sesuatu—aku menyaksikan segalanya.

Kedua sudut bibirku tertarik. Ternyata, aku juga banyak berubah.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Aku menoleh. Ah, ternyata Yoona. Tak heran jika ia bisa keluar tanpa didampingi suster. Bahkan ketika tubuhnya lemah ia selalu bisa untuk mengeluarkan jurusnya—aegyo—pada siapapun.

Seperti membaca pikiranku, ia tersenyum. “Minggu kemarin kau tidak mengajakku ke sini, ternyata kau menikmati suasana ini sendirian. Curang”

Aku tersenyum. Bukan karena leluconnya, tapi karena ia juga tersenyum. Aku mengusap kepalanya.

Namun, tatapannya berubah menjadi sendu. “Rambutku sudah tak bisa kau acak – acak lagi. Semuanya rontok karena kemoterapi”

“Tapi Yoong, ada hal yang ingin aku tanyakan” Aku terdiam sejenak. “Meskipun botak, kenapa kau selalu terlihat cantik?”

BLUSH.

“Apa kau sedang menggodaku, huh?” Hampir saja aku meledakkan tawaku di sini. Aku menggigit bibirku, ya tuhan, sulit sekali rasanya menahan tawa ini.

“Kau pasti hanya menggodaku” Ia melanjutkan.

Yoona sangat menggemaskan. Aku mencubit pipinya, tentu saja selembut yang aku bisa. “Tidak, kau benar – benar cantik. Aku bersumpah” Dan ku lihat senyum itu kembali menghiasi wajahnya.

Entah apa yang membawaku berbuat seperti ini, tubuhku seperti tergerak otomatis memeluk tubuh rapuh Yoona. “Chanyeol-ah

“Diamlah, sebentar saja” Aku memejamkan mataku dan merasakannya. Menghirup aroma tubuhnya yang selalu menjadi canduku.

Aku ingin selalu seperti ini.

Selamanya.

Bersamamu.

“Tuan Park” Suara itu membuyarkan seluruh perhatian dan fokusku tadi. Setelah melepas pelukan dari Yoona, aku berdiri dan menuju suster yang memanggilku.

“Tuan Park, Dokter memanggil Anda”

Tuan Park, Nona Im harus segera dioperasi.

“AAAARRRGGHH!” Aku berteriak.

“Tidak. AKU TIDAK AKAN MENYURUHNYA UNTUK OPERASI!”

Cukup kemoterapi saja, kenapa harus operasi? Tidak, aku tak akan membiarkan tubuh lemahnya untuk melakukan hal seperti itu.

TOK TOK

Siapa itu? Malam – malam begini bertamu? Dengan terpaksa aku menuju pintu dan membukanya. Ocehan – ocehan kecil keluar dari mulutku.

Dan ketika pintunya terbuka..

Hyeong!” Jongin dengan wajah imutnya melompat dan memelukku. Ia terlihat sangat gembira. “Wah, si jagoan kecil sangat gembira ya” Tak sengaja, kesal yang ada dalam diriku sirna ketika melihat anak ini.

“Tentu saja! Kita kan akan menjenguk Yoona noona. Eomma tidak mengizinkanku menjenguk noona kecuali dengan hyeong

Aku menggaruk tengkukku, bukankah ini masih larut?

Ppalli, hyeong!” Jongin menarik lenganku, aku tahu pasti dipikirannya aku ini sangat lambat. Ia terus menarikku bahkan hingga tubuhku juga tertarik, dan apa yang bisa ku lakukan untuk menolak keinginan bocah lucu ini? Biarlah, ia akan menyadarinya ketika keluar dari bangunan ini.

“Ini masih mal—”

OMO! Apa yang terjadi padaku?! Ini benar – benar sudah pagi! Nafasku terengah – engah, lalu, aku memikirkan tentang hal itu semalaman? SEMALAMAN PENUH?!

Oh tidak. Yoona akan sangat kaget melihat keadaanku yang seperti ini.

Aku keluar dari ruangan Yoona. Gadis itu, bagaimana bisa ia mengataiku jorok dan bau? Bahkan aku memikirkannya sepanjang malam, tapi ia bersikap menyebalkan seperti itu. Dasar.

Tiba – tiba pintu kamar Yoona terbuka, dan muncul Jongin dari dalam sana.

Hyeong, noona ingin Chanyeol hyeong ke dalam. Aku akan menghampiri eomma di sana”

“Baiklah, hati hati” Aku pun masuk ke dalam kamar Yoona dan menghampirinya. Belum sempat ia mengucapkan apapun padaku, aku memotongnya.

“Kau harus dioperasi”

Aku tahu ia kaget. Ia berusaha bersikap setenang mungkin, tapi aku tahu ia juga takut. Sorot matanya menggambarkan semua yang ada dalam dirinya.

“Baiklah, aku akan menjalani operasi”

“Apa kau baik – baik saja?”

Ia mengangguk. “Hm, aku baik – baik saja”

Ya, kau memang harus selalu baik – baik saja.

Chanyeol POV End

3 hari menjelang operasi.

11.06 AM, Korea Standard Time.

3 hari menjelang operasi, Chanyeol berpikir untuk membawa Yoona ke suatu tempat. Tempat yang mungkin ingin ia kunjungi selama hidupnya.

Manhattan.

Chanyeol akan membawa Yoona ke sana.

Ia telah meminta izin kepada kedua orang tua Yoona, dan dokter juga mengatakan tak apa selama Yoona tidak kelelahan.

Tanpa sepengetahuan Yoona, Chanyeol membawanya keluar dari rumah sakit. Yoona dalam keadaan tidak sadar karena obat bius yang disuntikkan kepada tubuhnya beberapa saat lalu.

Chanyeol tersenyum, mungkin Yoona akan bangun setelah mereka sampai di sana.

17.15 PM, USA Standard Time.

Yoona POV

Perlahan aku membuka mataku yang telah tertidur belasan jam. Ah, rasanya berat sekali hanya untuk membukanya. Mungkin tubuhku masih ingin istirahat.

“Kau sudah bangun, puteri?” Aku mengalihkan pandanganku.

Ternyata Chanyeol. “Ya, begitulah” jawabku ringan.

Aku memperjelas pandanganku sejenak, memperhatikan sekeliling ruangan ini.

“Apa ini ruangan VVIP untuk pasien operasi?” Celetukku. Suasananya terlihat berbeda. Namun aku mendengar gumaman Chanyeol, dan aku yakin itu sebagai tanda ‘ya’.

“Suasananya indah. Kalau seperti ini, aku ingin dioperasi setiap hari” Lelucon yang ringan, namun ku dengar Chanyeol tertawa cukup puas untuk leluconku. Seperti biasa.

“Makanlah” ia menyodorkan sepiring buah – buahan. Namun aku terdiam, bukankah seharusnya aku berpuasa? Dia aneh sekali.

“Kau hanya akan berpuasa sehari sebelum operasi. Kau boleh makan itu sekarang, tenanglah” Dan aku pun mengangguk. Lagipula buah hanya makanan ringan.

Ketika aku memakannya, Chanyeol terlihat membuka sebuah koper dan membereskan baju – bajuku di sana.

Tunggu! Bajuku?!

“Hei Park Chanyeol, kenapa kau membawa baju – bajuku?”

“Memangnya kau tidak akan mengganti baju itu? Dasar jorok”

Aku menggigit bibirku. Awas saja, kau.

“Ini baju gantimu. Aku akan kembali pukul 7 malam nanti” Setelah melemparkan sebuah baju—lebih tepatnya gaun—ia langsung menghilang dari hadapanku.

Brooklyn Bridge Park.

17.35 PM, USA Standard Time.

Setelah itu, setelah semua yang ia suruh. Aku melakukannya. Mandi dan mengganti bajuku. Ia meneleponku dan menyuruhku memberi sedikit riasan pada wajahku.

Aku tak tahu aku yang terlalu bodoh atau apa, tapi ternyata ini adalah sebuah kejutan. Sesuatu yang bahkan aku tak pernah bayangkan sebelumnya. Karena semuanya hanya terlalu indah bahkan hanya untuk dibayangkan. Tapi sekarang, aku berada di tempat ini—berada di tempat yang ingin aku kunjungi selama ini.

“Kau suka?” Aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang ku rasakan sekarang.

“Ya” Jawaban singkat yang menggambarkan seluruh perasaanku.

“Apa kau tahu kenapa aku menyukai tempat ini?” Pertanyaan itu membuat Chanyeol mengalihkan pandangannya padaku. Aku tak melihatnya, tapi aku merasakannya.

“Tidak. Kenapa?”

Aku tersenyum. “Apa kau tahu film you’ve got mail yang ada pada pertengahan tahun 90? Sebelumnya, Manhattan hanya dikenal sebagai tempat berkumpulnya orang dari berbagai bangsa, entah itu untuk bisnis, liburan, atau sekedar datang saja. Tapi difilm ini, aku menemukan sisi berbeda dari Manhattan. Tempat yang sangat indah untuk sepasang kekasih” Aku menunduk dan merasakan angin menerpa tubuhku.

“Dan aku bersyukur bisa datang ke sini bersamamu” Ku rasakan tangan besarnya menggenggam jari jemariku.

“Aku sangat ingin menaiki Jane’s Carousel sekali saja denganmu” Chanyeol sedikit kaget. “Komedi putar itu?” Pasti dia menertawakanku dalam hatinya, komedi putar itu biasanya untuk anak – anak.

Namun, kemudian aku mengangguk. “Ya, komedi putar dari tahun 1920 itu”

Aku sangat serius. Benar – benar ingin melakukannya kali ini saja.

“Baiklah” Chanyeol berdiri, tentu saja dengan tanganku yang masih digenggamannya. “Kita akan menaiki komedi putar itu”

Dan saat itu, saat kami menaiki komedi putar itu. Aku tahu apa itu arti cinta dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

2 hari menjelang operasi.

Hari selanjutnya aku bangun dan mandi. Jika kau bertanya bagaimana rasanya, di sini sangat menyenangkan. Aku bahkan merasa bukan seperti orang sakit. Tapi sayangnya, aku dan Chanyeol akan kembali ke Korea malam nanti.

Melihat Chanyeol yang masih terlelap di atas sofa membuatku ingin menjahilinya. Yang benar saja, dia tidur seperti orang yang tidak pernah merasakan bagaimana tidur itu. Kakinya menjulang ke atas, rambutnya sungguh berantakan, bahkan ia sangat mengganggu tidurku semalam dengan dengkurannya itu.

“Park Chanyeol, bangunlah. Sarapannya sudah datang daritadi”

“Sebentar lagi”

Dasar, dia selalu saja seperti itu. Dan dengan terpaksa, aku harus menyuapinya dengan keadaannya yang sangat aneh. Aku mengambil sepiring makanan di atas meja.

“Ah!” Hampir saja tanganku menjatuhkannya. Untung saja tidak sepenuhnya mati rasa. Aku pun duduk di sampingnya, mengambil sesendok nasi dan bersiap memasukkannya ke dalam mulut sahabatku itu. “Bukalah mulutmu”

Seperti sihir, mulutnya langsung terbuka. Ya tuhan, bahkan dia mengunyahnya dengan baik.

Berulang kali aku menyuapinya. Aku melihat wajahnya, dari mata, hidung, bibir dan semuanya. Kalau dilihat – lihat, dia itu sangat lucu. Membuatku tak bisa berhenti tersenyum melihatnya. Ingin sekali rasanya aku mencubit pipi itu.

“Jangan melihatku seperti itu, aku tahu aku tampan”

Aku memanyunkan bibirku. Menyebalkan, dia selalu saja tahu semuanya. Ada berapa mata yang ia punya?

Aku beranjak berdiri, namun lengannya menahanku. “Kau ingin mencoba naik kereta gantung?” Tanyanya.

Tanpa berpikir sedikit pun, aku langsung menganggukkan kepalaku dengan semangat. Tentu saja aku mau!

“Whoaaaaa! Ah, benar – benar indah! Lihat itu Chanyeol-ah, whoaaa benar – benar keren!” Aku tak henti – hentinya mengungkapkan rasa kagumku melihat Manhattan dari atas sini. Benar – benar indah!

Namun, Chanyeol malah menyindirku. “Seperti tidak pernah naik kereta gantung saja”

Aku meliriknya dengan tajam. “Aku memang tak pernah naik kereta gantung. Kenapa?!” Dan dia malah tertawa. “Sudahlah, nikmati saja”

“Apa aku bisa tinggal di sini, ya?” celotehku ketika melewati East River. Apartemen dan gedung – gedung pencakar langitnya sangat tinggi.

“Tentu saja tidak bisa. Kau harus tetap tinggal di Korea” Oh tuhan, anak ini mengganggu sekali. Tapi, tunggu dulu. Aku membalikkan posisi badanku lalu menghadapnya.

“Kita akan kemana?”

Roosevelt Island. Ada monumen Franklin D. Roosevelt Four Freedor Park di sana. Bukan hanya kau, tapi aku juga harus menikmati liburan ini, bukan?”

Ya, terserahlah. Pokoknya di sini sangat menyenangkan!

John F. kennedy International airport

15.00 PM, USA Standard Time.

Ah, rasanya sayang sekali meninggalkan kota ini. Tapi tak apa, setelah operasi nanti aku bisa datang ke sini lagi. Ya, aku bisa datang ke sini suatu saat nanti.

“Kau sudah siap? Sebentar lagi pesawatnya akan terbang”

Aku menghirup udara Manhattan. Saat – saat terakhirku di Manhattan, aku merasa senang sekaligus sedih. “Kau sudah siap? Sebentar lagi pesawatnya akan berangkat”

“Ya, aku siap. Tapi..”

Chanyeol melihatku. “Tapi kenapa?”

“Aku dan kau akan kembali ke sini kan?” Aku menunggu jawabannya. Dengan perasaan tak pasti aku menunggu bibir itu bergerak dan mengucapkan sesuatu—yang aku harapkan.

1.

2.

3.

“Pasti” Dengan jawaban itu, aku benar – benar puas.

Yoona POV End.

Chanyeol kira semuanya akan baik – baik saja. Semuanya akan berjalan lancar seperti yang ia harapkan. Tapi ternyata, tidak. Setelah sampai di Korea, Yoona memang masih baik – baik saja. Namun begitu sampai di rumah sakit keadaannya terus menurun. Tak ada penyebab yang pasti. Yoona terus mengalami muntah dan pusing serta pandangannya yang semakin lama semakin kabur.

Sehari setelah itu, Yoona menjalani operasi. Chanyeol menemani Yoona ke depan pintu operasi. Ia menggenggam tangan Yoona erat, sangat erat.

You should make a promise, Yoong”

“What kind of promise?”

“Please, stay alive”

“Hm, I promise”

Setelah itu, Yoona memasuki ruang operasi. Chanyeol menunggu di luar dengan ketakutan yang sangat besar. Berbagai pikiran buruk melayang dikepalanya.

1 jam.

2 jam.

3 jam.

Saat itu, saat dokter keluar dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak, Chanyeol merasa lega, tapi rasa cemas yang sangat besar juga tak bisa ia tutupi. Chanyeol menggenggam tangan sang dokter dengan penuh harap.

“Maaf, pasien tidak dapat diselamatkan”

FLASHBACK OFF.

Chanyeol mengusap air mata yang mengalir dipipinya. Ia memegang nisan Yoona. “Apa kau tahu perasaanku saat itu?”

“Hancur. Bahkan kata itu tak mampu menggambarkan perasaanku” Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, ia menggenggamnya dengan erat.

“Yoong, aku ingin mengucapkan kata – kata yang sempat tertunda waktu itu” Chanyeol membuka telapak tangannya, menunjukkan benda yang ia keluarkan.

Sebuah cincin permata.

Ia tertawa. “Maaf, aku lupa membawa tempat cincinnya. Tapi yang pasti, cincin ini akan selalu menjadi milikmu, Im Yoona”

“Maukah kau menikah denganku?”

END

21 thoughts on “(Freelance) Oneshot : True Love

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s