(Freelance) Betrayal of Love

nawafil-appinee

Betrayal Of Love

Written by Nawafil

PG-13

Romance, sad, comedy

Oneshoot

Starring by EXO’s Sehun | GG’s Yoona

Poster by apinee at cafeposterart.wordpress.com

All cast belong to god, but the plot of the story is mine. DO NOT PLAGIARISM!

A/N : Enjoy Reading^^

 

 


 

[And after all this time, I’m still into you]

Cinta. Bukankah itu kata yang sangat unik? Aku pernah membaca sebuah kutipan tentang cinta, kutipan itu mengatakan bahwa, ‘Cinta itu adalah ketika kau kehilangan salah satu dari gigimu, dan kau tidak takut untuk tersenyum’. Saat itu, aku tak menyelesaikan apa yang ku baca. Tentu saja karena bacaan itu sama sekali tidak menarik. Namun sekarang, ku kira aku mulai mengerti.

‘Karena saat kau tersenyum, seseorang akan selalu mengatakan bahwa kau akan tetap cantik meski tanpa gigi itu’.

Mungkinkah itu kelanjutan dari kalimat tadi? Entahlah, tapi sekarang, aku mengerti apa itu cinta. Aku tak pernah berharap untuk bisa merasakan getaran – getaran aneh di dalam hatiku ini sebelumnya, tapi aku bersyukur aku bisa merasakannya.

Dan cinta ini, aku juga mencintainya.

Oh Sehun.

Tapi ini tidak seperti yang aku ceritakan. Maksudku, cinta ini tidak seindah yang ku harapkan. Dan penyesalan terbesarku adalah, aku penyebab semua itu.

Inilah kisah kehidupanku. Bukan kisah tentang sang puteri atau pun bidadari dari kayangan. Ini hanyalah kisah tentang seorang gadis biasa. Tentang gadis yang mencintai seorang pria.

Dua orang wanita paruh baya sedang asik berbincang – bincang di ruang tengah. Mereka sibuk bercengkrama dan tertawa bersama, khas dengan candaan di era mereka dulu. Mereka tak menyadari, ada anak zaman sekarang yang tak mengerti alur pembicaraan mereka.

“Ah, rasanya sudah lama sekali kita tak bercanda seperti ini” Kedua wanita itu tertawa berdua, saling melontarkan candaan dan tak jarang memukul bahu satu sama lain. Di samping mereka, seorang pria berusia 20 tahun hanya diam dan tak bergeming sama sekali.

Ya tuhan, apa yang sedang mereka bicarakan?

Aku bahkan tak mengerti apa yang dibicarakannya itu.

Mungkin itulah kalimat yang menghiasi pemikirannya sejauh ini. Ia mendelik sebal, hampir 7 kali ia melihat jam yang menempel di dinding bercat broken white ini, dan selama itu pula ia menahan rasa bosannya di sini.

Ibunya berkata bahwa perjodohan ini berbeda dari perjodohan – perjodohan sebelumnya. Ya tuhan, bahkan kalimat itu sudah hampir puluhan kali ia dengar. Ia hapal betul bagaimana nada dan gestur ibunya saat mengucapkan kata – kata itu. Kalau bukan karena ibunya, ia tak akan pernah mau datang ke rumah ini.

“Sehun-ah”

Pria yang sedari tadi diceritakan itu celingukan ke samping kiri dan kanan. Ia merasa seperti ada yang memanggilnya. Tapi, siapa itu?

“Oh Sehun!” Ia tersentak kaget. Jantungnya terasa mau lepas, sungguh.

eomma, kenapa—“ Matanya membulat, mulutnya menganga memperhatikan seorang perempuan yang entah sejak kapan sudah berdiri tak jauh darinya. Daebak! Sehun menegak salivanya.

“Kenapa ada perempuan cantik di sini?” Ia melanjutkan kalimat yang tadi terpotong, dan ayolah, kalian tahu itu bukan kalimat sebenarnya.

“Apa aku masih melamun?” lanjutnya.

Ani, Sehun-ah. Kau tidak sedang melamun. Ini puteri semata wayangku, Im Yoona” Perempuan itu membungkukan tubuhnya. “Im Yoona imnida” Dan, ia tersenyum.

Siapa yang menyangka wajah tampan seorang Oh Sehun bisa terlihat aneh juga? Sehun benar – benar membuktikan spekulasi itu rupanya.

“Beri hormat” Ny. Oh mencubit dan berbisik kepada anaknya itu.

Ne, Annyeong hasimnika” Yoona tertawa anggun dengan telapak tangannya yang menutupi deretan giginya. “Tidak usah seperti itu. Kita pakai bahasa banmal saja. Lagipula kita seumuran”

Layaknya orang bodoh, Sehun hanya mengangguk.

“Tunjukkan sisi kerenmu, kenapa kau terlihat seperti ini, anakku?” Ny. Oh kembali berbisik, anaknya itu sungguh tidak bisa mengontrol sikapnya. Sedangkan Sehun memanyunkan bibirnya, ibunya ini menyebalkan sekali.

“Mau melihat – lihat isi rumahku, Sehun?” Dan Sehun hanya mengangguk, dan bisa dipastikan ia hanya akan terus mengangguk menjawab pertanyaan gadis cantik ini.

Benar – benar pertemuan yang mengesankan—mungkin.

Sehun membuka pintu basecampnya dengan sangat keras. Ia berlari ke dalam dan memeluk satu – satunya orang yang sedang ada di sana. “AAAAAAAAA” Ia berteriak, ya ampun, seperti anak kecil.

“YAK! Ada apa denganmu?” Tao membersihkan bajunya, penuh dengan coklat dari tangan Sehun. Sehun masih asik tertawa, giginya saja berwarna coklat.

“Kau tahu? Aku bertemu gadis cantik!” Sehun membuka kedua lengannya lebar, namun Tao dengan sigap menyilangkan kedua tangannya. Ia tidak sebodoh itu untuk menerima pelukan sahabatnya untuk yang kedua kali.

“Aish, kau ini” Sehun menekuk wajahnya, ia berjalan dan duduk dikursi sedangkan tangannya masih memegang coklat yang sudah meleleh.

Ia memiringkan kepalanya. “Kemana yang lain?”

“Mereka sedang membeli makanan”

Mata Sehun membulat. “MWO?!” Ia berdiri dan hendak berlari. Dan lagi, tangan Tao menahan pergerakannya.

“Jangan seperti anak kecil. Mereka akan segera kembali” Jangan berpikir Tao sedewasa ini, oh tidak. Ia hanya sedang unmood.

“Aku kembali!” Seseorang berteriak dan membuka pintu dengan semangat, diikuti Jongin dibelakangnya. Mereka meletakkan berbagai macam camilan dan tentu saja Jjajangmyeon kesukaannya.

“Suho Hyeong, apa kau tahu? Aku dijodohkan lagi” Sehun mengambil snack dan memasukannya ke dalam mulutnya, namun ucapannya masih tetap jelas.

“Apa aku harus terkejut?” Orang yang Sehun panggil hyeong tertawa meremehkan. Tentu saja, Bukan hal yang luar biasa jika Sehun dijodohkan. “Dia cantik, aku menyukainya”

“APA?!” Ketiga sahabatnya langsung membelalak, bahkan ekspesi mereka jauh lebih terkejut ketika Sehun berkata seperti itu.

“Siapa namanya?”

“Berapa usianya?”

“Aku ingin lihat fotonya!”

Semuanya bahkan lebih kekanak – kanakan dari yang Sehun kira. Sungguh menakjubkan.

Yoona keluar dari balik tirai yang menghalangi tubuhnya. Ia berputar beberapa kali saat mengenakan gaun selutut berwarna merah dengan hiasan yang sederhana, ia tertawa dan terlihat sangat senang.

“Apa aku terlihat cantik dengan gaun ini?”

“Selalu” Jawab seseorang yang juga tersenyum melihat penampilannya.

“Kau suka?”

“Aku selalu menyukai apa yang kau sukai” Sungguh, jawabannya selalu berhasil membuat hati dan bibir Yoona tersenyum puas.

“Kau akan menemui pria bernama Oh Sehun itu?” Yoona mengangguk dengan pertanyaan orang itu. “Tapi tidak akan lama, kau akan menunggu ‘kan?”

Dan sosok itu mengangguk. “Aku akan selalu menunggumu, gadisku

Sehun memegang tangannya, ia mengusapnya beberapa kali dan tersenyum padanya. Kemarin, Yoona memegang tangannya. Ia tidak pernah merasa seperti ini, seperti tersengat listrik ratusan volt.

Ddrrt..

Ponselnya bergetar, membuat pandangan Sehun teralih dan memeriksanya.

From : Kim Jongin

Apa yang sedang kau lakukan?

Sehun tertegun. Pertanyaan macam apa ini? Namun, belum sempat ia mengetikkan balasan untuk Jongin, ponselnya terlebih dahulu bergetar lagi.

Ada hal penting yang ingin ku bicarakan. Sekarang, di tempat biasa.

Begitu membaca pesan itu, Sehun mengambil jaket dan segera keluar dari kamarnya. Jongin serius, ia paham itu.

1 years later, Dongguk University.

Sehun!” Gadis manja dengan rambut terurai panjang berlari dan melambaikan tangannya pada seorang pria—Sehun—yang sedang duduk di bangku taman universitas mereka, gadis itu segera duduk dan menggandeng tangan Sehun. Semua orang di sekitar mereka sudah terbiasa, mereka memang pasangan yang serasi. Bangku di taman kampus ini memang sering Sehun kunjungi, ia berkata bahwa udaranya sangat sejuk, dan ia suka itu.

“Ada apa?” Tak mengalihkan pandangannya sedikit pun, nadanya sangat datar.

“Aku ingin coklat” Di antara semua hal yang keduanya sukai, hanya dalam hal ini mereka punya kesamaan. Sama – sama menyukai coklat.

“Kau bisa membelinya sendiri, nona Choco” Gadis itu—Yoona—mendelik, ia melipat kedua tangannya. Ayolah, dia selalu melakukan hal ini pada kekasihnya.

“Kau jahat”

“Aku memang jahat”

Yoona melirik, raut wajahnya semakin kesal. Ia berdiri dan beranjak pergi.

“Tenanglah” Sehun menahan kepergian Yoona, tentu saja. Yoona adalah wanita yang ia paling ia sayangi setelah ibunya. “Kau mau coklat putih?” Yoona mengangguk. Sehun merogoh sesuatu dari sakunya.

“Ini” Ia menyodorkan coklat itu. “Mungkin sudah meleleh, tapi rasanya tetap sama” Dan dengan lahap Yoona memakannya, ia menyenderkan kepalanya dibahu Sehun—kebiasaannya.

“Apa pendapatmu tentang coklat?”

Kali ini, Sehun menurunkan bukunya, ia memandang langit cerah dan tersenyum. “Lezat” Mungkin hanya kata itu yang ada dipikirannya. Klasik sekali.

“Pemikiranmu sangat kuno” Yoona menyanggahnya, jalan pikiran mereka jarang sekali sama. Sehun lebih suka sesuatu yang simple dan singkat, sebaliknya, Yoona menyukai sesuatu yang rumit dan panjang.

“Semua orang tahu kalau coklat itu lezat” lanjutnya. Sehun tidak terima Yoona berkata padanya begitu, Yoona bertanya dan ia sudah memberikan pendapatnya. Lalu apa yang salah dengan yang ia utarakan?

“Lalu apa pendapatmu tentang coklat?” Sehun bertanya kembali pada Yoona. Seperti ingin membalas apa yang telah Yoona lakukan padanya tadi.

“Coklat itu cinta, dan cinta itu coklat” Sehun memutar bola matanya, ia meremehkan Yoona. Apa katanya? Cinta dan coklat? Tidak ada hubungannya. Sama sekali tidak ada. Yoona selalu mengada – ada.

Yoona tidak menyadari body language Sehun yang tidak setuju dengannya, ia tetap melanjutkan perkataannya. “Seperti yang aku katakan. Cinta itu ibarat coklat. Coklat tak selamanya manis, terkadang rasanya pahit. Meskipun begitu, coklat tetap disukai semua orang”

“Semua wanita sangat melankolis. Semua hal dihubungkan dengan cinta”

Yoona mengangkat kepalanya. “Kenapa? Memangnya salah?”

“Tentu saja salah”

“Bagian mana yang salah?”

“Pokoknya sekali salah tetap salah”

“Tapi harus jelas, apanya yang salah?”

Sehun tersenyum manis beberapa kali saat melihat Yoona memukulinya, ia juga menahan pukulannya dengan pelan. “Oh tuhan, kau lucu sekali, sayang”

Sehun menginjak rem mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Ia memandang restoran mewah di seberang jalan sana, menerawang ke dalam dan berusaha menemukan seseorang.

“Itu dia” gumamnya.

Sehun tersenyum melihat apa yang dilakukan perempuan itu. “Ia tersenyum”

“Dan tertawa” lanjutnya.

“Cantik sekali”

Andai saja jika ia tertawa bersamaku.

Drrt..

Ponselnya bergetar.

From : Choco

Aku akan tiba di sana dalam 30 menit. Tunggu aku.

Dan Sehun hanya kembali tersenyum. “Aku akan menunggu” Ia menginjak pedal gas mobilnya dan melaju sangat kencang. Hari ini ia ada janji dengan gadisnya, kegiatan rutin setiap minggu untuk menghabiskan waktu bersama menonton sebuah film di bioskop. Hal biasa yang selalu dilakukan sepasang kekasih.

Beberapa saat kemudian ia tiba dibioskop. Yoona memintanya untuk membeli tiket dan menunggu di sana. Seperti yang selalu Sehun lakukan, ia selalu menunggu.

Akan tetapi..

30 menit yang Yoona janjikan itu, semuanya bohong. Sudah 3 jam ia berdiri menunggu Yoona, dan Yoona tak kunjung terlihat batang hidungnya. Kakinya sudah mulai pegal, ia ingin sekali duduk.

“Sehun-ah!”

Senyum Sehun merekah kala melihat Yoona yang sedang menghampirinya. Rasa pegal dan kantuknya langsung menghilang kala melihat paras Im Yoona. Ah, akhirnya. “Kau menunggu lama, ya? Maafkan aku, tadi ada sedikit gangguan”

“Tak apa, kita akan kemana sekarang?”

Sehun selalu memaafkan Yoona, dalam situasi dan kondisi apapun.

“Maksudmu kemana? Tentu saja—“

“Filmnya sudah lewat. Kita ke Namsan tower saja, ya? Aku ingin sekali ke sana” Yoona mengernyitkan dahinya. “Namsan tower? Aku baru saja dari sana”

“Kau? Dengan siapa?” Hati Sehun tidak enak mendengar ucapan Yoona, atau lebih tepatnya ia tidak ingin diingatkan tentang sesuatu.

Yoona menggeleng. “Tidak, lupakan saja. Ayo ke sana”

Sehun merebahkan tubuhnya yang lelah, ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. Menatap langit – langit kamarnya, ia merenung. Ia menutup matanya dan merasakan sesuatu.

Di Namsan tower tadi, Yoona dan dirinya berjanji untuk selalu bersama selamanya. SELAMANYA.

It’s something we’ll do together to the end. Begitu katanya. Itu janji seorang Im Yoona bahwa Sehun dan dirinya akan menyelesaikan semuanya sampai akhir. Sehun bertanya – tanya dalam hatinya, Benarkah itu?

Ia tersenyum simpul. Apa Yoona tidak menyadarinya? Selama satu tahun yang mereka jalani bersama, apa Yoona tidak pernah sekali pun menyadarinya? Dibalik senyum manisnya, ada sesuatu yang Sehun sembunyikan.

“Aku lelah” ucapnya. “Aku lelah dengan sandiwara yang ku mainkan selama ini” Air matanya keluar dalam diam. “Harusnya kau mengerti sakitnya dikhianati, Choco-ya

Isakan kecil mulai terdengar dari bibirnya. “Untukmu, mungkin aku hanyalah sebuah mainan yang pantas kau mainkan. Aku sakit saat kau tertawa dan menggandeng tangannya, saat kau tersenyum dan mencium pipinya, aku.. aku sakit”

Lagi, Sehun menarik nafasnya. “Apa kau tahu? Kenapa aku tak pernah sekali pun berusaha menghilang dari hidupmu, melupakanmu dan menjauh darimu?” Sehun berhenti sejenak.

It’s simply, because the idea of me being gone is too.. scary.

“Ya, aku hanya terlalu takut. Dasar pengecut”

Sehun melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Ia ingin membersihkan diri dan mendinginkan kepalanya. Setiap malam, ia hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apapun. Tanpa bisa mencegah Yoona untuk bertemu pria itu lagi.

Ia tak bisa.

YOONA POV

Hari ini aku ada latihan drama untuk pentas yang akan ditampilkan saat pesta ulang tahun Sehun satu bulan mendatang. Aku sebagai pemeran utama dan Luhan sunbae sebagai lawan mainku. Ini semacam tampilan biasa, tidak ada yang spesial. Hanya saja lawan mainku saja yang sangat spesial.

“Apa kabar?” Tiba – tiba seseorang berjalan di sampingku. Sedikit mengagetkanku sebenarnya.

“Kabar baik. Bagaimana denganmu?” Dia sahabat Sehun, Kim Jongin. Ia mengedikkan bahunya dan menampakkan deretan gigi putihnya. “Aku juga baik, bagaimana dengan Sehun?”

“Ia juga baik. Kau terlihat gemukan setelah pulang dari England” Dan ia pun tertawa mendengar candaanku. “Aku pikir kau yang terlihat gemukan, Yoona. Lagipula pria bernama Luhan bersamamu, kau pasti bahagia” Terdapat penekanan pada 3 kata terakhir yang ia lontarkan.

Aku tersentak. “S-siapa? Luhan sunbae? Kami hanya sebatas teman” Jongin menganggukan kepalanya mengiyakan, seperti tidak begitu peduli dengan jawabanku. Ya tuhan, apa ia tahu sesuatu?

“Bukankah lawan mainmu untuk pentas kali ini juga Luhan?” Awalnya aku terlihat sangat terkejut, tapi tidak, aku harus tetap tenang. “Ya, dia berada dijurusan yang sama denganku”

“Dia tampan ‘kan?” Ya tuhan, kenapa Jongin bertanya seperti itu? Kenapa ia sengaja memojokkanku seperti itu? Apa yang harus aku jawab?

“Kenapa kau tidak menjawabnya?” Jongin menatapku tajam.

“Ah, itu..”

1.

2.

3.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” Sehun tiba – tiba datang dan merangkulku beserta Jongin. Aku menarik nafas lega. Syukurlah. Kau menyelamatkanku Oh Sehun.

“Kami hanya berbincang – bincang saja” Jongin yang lebih dulu menjawab pertanyaan Sehun. Sehun menggelengkan kepalanya, aku akui ekspresinya sangat menggemaskan.

“Aku tahu bincang – bincang itu bukan tentang hal yang sederhana. Katakan padaku, apa yang kalian bicarakan?”

“Kau tidak mempercayai kekasih dan sahabatmu ini, huh? Baiklah, aku akan memberitahumu apa yang kami bicarakan tadi” Kali ini giliranku menjawab rasa ingin tahu Oh Sehun. Ia melipat kedua tangannya, oh ayolah, dia menantangku? Lucu sekali.

“Apa kabarmu?” Aku bertanya pada Jongin, mengulangi hal yang terjadi tadi meski kini aku yang memulai pertama. “Ba—“

“Sudahlah. Kalian benar – benar menyebalkan” Haha, dia marah. Sangat lucu dan kekanak – kanakan seorang Oh Sehun itu. “Hei, tunggu aku!” Jongin agak berteriak. “Aku duluan, Im Yoona” Dan aku mengangguk untuk jawabanku.

Namun ia berbisik dan mendekat. “Jangan sakiti Oh Sehun”

Aku membuka pintu ruang latihan, dengan wajah lesu dan letih karena ujian mendadak yang diberikan dosen tadi. Dosen itu memang benar – benar galak.

“Ada apa denganmu?” Luhan melempar sebotol air putih, dan aku menangkapnya. Setelah membuka tutup botolnya aku langsung menenggaknya. “Kau lelah, sayang?”

“Ya, begitulah” Jawabanku apa adanya. Luhan menghampiriku dengan senyum mautnya. Oh tuhan, sungguh senyumnya benar – benar membuatku meleleh. “Kau butuh kecupan kecil?” smirknya keluar, dan kurang dari satu detik ia langsung mengecup bibirku. Yah, ciuman yang sangat singkat. Luhan langsung melepasnya.

“Tidak ingin berlama – lama, huh?” Aku menggodanya.

“Orang lain akan tahu kalau kita punya hubungan. Kau tidak ingin itu terjadi ‘kan?” Dia mengelus pipiku, mimik yang sangat aku sukai. “Lagipula kekasihmu akan menonton setiap latihan kita, kita tidak harus sekejam ini padanya”

Dan dia kembali mengecup bibirku untuk waktu yang cukup lama.

Cklek..

Bola mataku melirik ke pintu, dan Luhan seketika menjauh dengan cepat. Pintunya terbuka, ada seseorang yang akan masuk.

“Yang lain belum datang?”

Ah, ternyata Byun Baekhyun. Sial, kau hampir membuat jantungku lepas. Aku mengikat rambutku dan duduk dipenjuru ruangan. “Drama apa yang akan kita mainkan?”

“Puteri tidur” Aku melirik dengan kaget. Oh Sehun? Dan Kim Jongin? Beserta Kwon Yuri? Daebak. Bahkan aku tidak menyadari kedatangan mereka sama sekali. Tapi, tunggu dulu..

PUTERI TIDUR?!

Ya tuhan, berkatilah Oh Sehun karena memilih cerita itu untuk kami pentaskan. Aku berlari dan menghampiri Oh Sehun dengan wajah kesal—yang ku buat – buat. Aku tidak mungkin sebodoh itu untuk berlagak bahagia di depan Sehun.

“Kenapa cerita itu? Apa tidak lebih baik yang lain saja?” Kalimatku ku pertajam. “Aku tidak ingin drama itu!”

Pandangan Sehun sendu, tapi tetap tersirat ketenangan khas dirinya. Selalu. Terkadang, yang membuatku nyaman berada didekatnya karena sikap dewasa dan tenangnya ini.

“Itu keinginan sang pemilik acara, Im Yoona” Luhan membuka suaranya. Aku menatap Luhan dengan tatapan penuh ketidaksukaan, tatapan yang selalu aku perlihatkan ketika Sehun dan Luhan berada di dekatku secara bersamaan.

Pandanganku ku alihkan kembali pada Sehun. Aku mengalungkan lenganku dilehernya. “Kenapa tidak kau saja yang jadi lawan mainku? Aku tidak ingin pria selain dirimu” Ya tuhan, kata – kata yang sangat menjijikan.

Sehun tersenyum. “Aku ingin jika aku bisa. Dan aku juga ingin jika kau mau” Dia menunduk, lalu mendekatkan tubuhnya kepadaku, membisikkan sesuatu. “Tapi aku tak mampu” Ia melepaskan rangkulanku, kemudian duduk di ujung sana.

Aku memperhatikan nada suara dan raut wajahnya. Ada apa dengannya? Aku, aku tak pernah melihat dirinya yang seperti ini. Sama sekali tidak pernah. Rasanya sangat berbeda ketika melihat ekspresinya itu, aku seperti merasa bersalah. Entah karena apa, aku hanya merasa bersalah.

YOONA POV END.

“Bagaimana latihanmu hari ini?”

“Apa kau perlu sesuatu?”

“Aku membelikanmu coklat. Kau mau?”

“Aku di sini untukmu. Apa kau tahu?”

Sehun menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Kini, refleksi dirinya sangat terlihat jelas dari pantulan cermin di hadapannya. Ia terlihat frustasi. “Apa yang harus ku ucapkan?”

“Kau selalu di sana untuknya. Tapi, sadarlah. Dia tidak menginginkanmu” Kalimat menusuk itu ditujukan untuknya, tentu saja. “Kau lihat bagaimana ketika ia berpura – pura tidak menginginkan cerita yang kau berikan?” Jongin mengingatkan Sehun. “Hebat sekali. Aktingnya akan sempurna jika aku—“

“Ah tidak, bukan hanya aku, tapi kau juga mengetahui semuanya” Jongin menggigit apel yang dipegangnya. Ia masih sempat berbicara dengan mulutnya yang penuh dengan makanan. “Tao dan Suho hyeong akan mengatakan hal yang sama jika mereka ada di sini”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Diamlah, Kim Jongin. Aku tahu apa yang aku lakukan, aku hanya ingin menikmati waktu – waktu terakhirku bersamanya” Sehun memberikan jeda untuk setiap kalimatnya. “Aku akan meninggalkannya, tenang saja”

Jongin sontak berdiri, ia menunjukku. “Benarkah?” Dia terlihat sangat puas dengan pernyataanku barusan. “Oh, akhirnya tuhan memberikan hidayahnya pada sahabatku ini” Jongin menghampiriku dan memelukku—pelukan seorang sahabat. Ia menepuk – nepuk pundakku. “Kau akan menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari Im Yoona. Percayalah padaku”

Sehun mengangguk. “Aku selalu percaya padamu”

Ia melepas pelukannya dan melirik jam tangannya. “Apa – apaan ini? Sudah sesore ini dan kau masih di sini? ini waktunya Im Yoona pulang, kau harus menjemputnya” Sehun mengangguk.

“Aku pergi dulu”

The First Week.

SEHUN POV

Kelopak mataku perlahan terbuka, aku mulai terjaga dari tidurku yang cukup lama. Aku melihat jam dinding. Dan ternyata, sudah pukul 8 pagi. Seperti kebanyakan orang, aku langsung melihat ponselku.

Dahiku mengernyit. “Im Yoona?”

Facetime call? Aku tak ingat kalau aku dan dia pernah melakukan hal ini sebelumnya. Tapi kenapa baru kali ini dia ingin melakukan facetime call denganku?

“Pagi, sayang” Dari layar ponselku, sangat jelas dirinya yang tersenyum dengan wajah manisnya.

Aku tersenyum. “Tidak biasanya kau ingin melakukan facetime call”

“Kau harus melihat apa yang ku pakai” Ia sedikit berpikir dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya. “Maksudku, aku ingin kau melihat secara langsung apa yang aku pakai”

“Baiklah, aku ingin melihatnya”

Yoona mundur dan berdiri. “Haruskah aku memperagakannya seperti model?” Ia menggumam pada dirinya sendiri, tapi terlalu keras hingga aku bisa mendengarnya.

“Ah, tidak. Aku berputar saja” Aku tertawa lagi melihat gelengan kepalanya yang lucu itu. Namun, saat ia akan berputar, ia menghentikan gerakannya. “Lebih baik aku berpose saja, Sehun akan lebih terpesona”

“Woah, apa yang kau pakai ini? Apa ini import? Rok putih dipadu padankan dengan kemeja? Ide bagus, terlebih kau mengikatnya. Kau terlihat lebih dewasa, Choco” Wajahnya sedikit kecewa mendengar komentarku.

“Hanya itu saja?”

“Ah ya, kau sangat cantik”

Ia langsung meloncat ke kasur dan mengambil ponselnya. Dasar kau ini, loncatanmu itu membuat ponselmu jatuh, Im Yoona. Gambarnya sempat tidak jelas dan bergerak ke sana ke mari.

“Benarkah?” Senyum itu terukir diwajahnya.

Sebenarnya ia sangat bersikap aneh belakangan ini. Baju yang ia kenakan, ia tak pernah sangat ingin menunjukkannya padaku atau mendengar komentarku tentangnya.

“Tentu saja. Kau selalu terlihat cantik dengan baju apapun” Yoona mengangguk. “Kalau begitu, kau mandi sekarang”

“Ya, aku harus mandi. Sampai jumpa”

Aku keluar dari kamar mandi dan mengusap rambutku dengan handuk kecil. Ah, rasanya segar sekali.

“Kau sudah selesai?”

Omo, sejak kapan Yoona ada di sini?

“Aku baru saja sampai” Jawabannya seperti menjawab pertanyaan hatiku.

Tunggu dulu, aku hanya memakai handuk!

Dia tersenyum melihatku. “Badanmu bagus”

Aku menggelengkan kepalaku, tidak, Im Yoona!

“Kau tidak perlu malu, cepatlah kenakan bajumu” Ia hendak keluar, namun ia menghentikan langkahnya. Yoona malah berbalik menghampiriku.

Kini, ia tepat berada dihadapanku. Wajahnya mendekat, apa yang sebenarnya ia pikirkan?!

Chu~

Aku membeku, jantungku berdetak sangat cepat, bahkan tubuhku gemetaran. “Aku tidak pernah memberimu morning kiss ‘kan?” Dan dengan polosnya ia langsung keluar dari kamarku. “SARAPAN SUDAH ADA DIMEJA!” Ia berteriak.

Teriakannya bahkan tidak membuatku kaget. Aku memegang bibirku. “Bukan hanya morning kiss, kita belum pernah berciuman, Choco-ya!”

The Second Week.

Yoona berlarian dengan senangnya, ia berulang kali tersenyum dan mengajakku berlari bersama. Aku memegang kamera dan sibuk memotret indahnya taman ini.

“Sehun-ah! Ayolah, jangan diam di situ saja!” Melihatnya, melihat dirinya yang sesempurna itu membuatku mengangkat kameraku kembali.

CKREK.

Aku memotretnya. Kemudian aku melihat hasil jepretanku.

Beautiful” Aku bergumam.

Rambutnya yang tersibak angin, senyumnya yang manis, dan parasnya yang menyejukkan mata. Aku benar – benar tersihir akan segala yang ia punya.

Segalanya.

The Third Week.

“Apa yang kau inginkan untuk ulang tahunmu?”

“Dirimu”

Yoona memukul bahuku dengan sangat keras. “Aku sudah menjadi milikmu, kau tidak perlu memintanya lagi”

Aku mengedikkan bahuku, karena aku tahu ucapannya barusan hanya kamuflase semata. “Apa kau benar – benar mencintaiku?” Yoona merangkul leherku, angin yang bertiup pelan juga menemani malam kami di sini.

“Akan sangat bagus jika kau bisa membaca pikiranku seperti Edward Cullen. Jadi kau tak perlu curiga padaku

“Kau tahu Cullen tak bisa membaca pikiran Bella Swan” Aku membalasnya.

Ia tertawa. “Kau tahu aku bukan Bella, aku adalah Im Yoona”

Yeah, I know. But, If I can read you mind, It’s not a good thing

Why?”

—Karena aku akan menemukan berjuta kata yang tak pernah ingin ku dengar, dan hal yang selama ini kau sembunyikan akan benar – benar menyakitiku—

The Last Week.

D-Day.

Pesta sedang dirayakan disebuah lapangan luas. Panggung megah dan berbagai sajian lezat serta semua perlengkapan pesta telah siap. Lapangan itu dipenuhi dengan puluhan bahkan ratusan manusia. Lampu berkelap – kelip menandakan hingar bingar keadaan pesta ini.

Akan tetapi, sang raja dari perayaan ini masih ada di dalam kamarnya. Ia masih memakai dasinya dan berkaca di cermin. Tidak terpengaruh dengan sibuknya semua orang di luar.

“Kau tidak boleh goyah, Oh Sehun. Aku sudah menyiapkan penerbangan khusus untuk kita tengah malam nanti”

“Tenanglah, aku tak akan goyah. Aku yang membuatmu harus terbang ke Korea dan meninggalkan Tao beserta Suho hyeong. Lagipula aku rindu ibuku, aku pasti akan ke England

Sehun merapikan rambutnya, ia berjalan menuju pintu keluar. “Aku sudah ditunggu, cepatlah”

Ketika Sehun menaiki panggung dengan setelan tuxedo putihnya membuat semua orang hanya memusatkan perhatian padanya. Ia melambaikan tangannya sebelum mengucapkan sesuatu sebagai pembukaan.

“Hai, semuanya!” Semua yang ada melambaikan tangannya pada Sehun.

Okay, aku tak akan mengucapkan sesuatu yang membuat kalian bosan. Aku bersyukur kepada tuhan karena mengizinkanku sampai diumurku yang ke 22 tahun. Aku berterima kasih kepada semua yang hadir di sini, dan juga keluargaku yang tidak bisa hadir pada malam hari ini”

Sehun terdiam cukup lama. “Dan untuk kekasihku, Im Yoona” Nama itu, akhirnya Sehun sebut. “Aku mencintaimu”

Tepuk tangan dan teriakan – teriakan menggema bahkan dilapangan seluas ini, Yoona yang berdiri di samping Luhan tersenyum. “Aku juga mencintaimu” bisiknya dalam hati.

Sehun turun dari panggung dengan pelan. Ia bergabung dengan kerumunan orang yang banyak, hingga keberadaannya tak terlihat.

SEHUN POV END.

Singkat cerita, semuanya berjalan seperti biasa. Yoona masih cantik dengan dress putihnya, ia menata rambutnya serapi mungkin. “Aku yakin Sehun melihatnya”

Luhan duduk di sampingku dan tersenyum puas. Ya, rencana kami memang berhasil. Luhan benar – benar menciumku saat kami tampil, dan Sehun pasti melihatnya. Seharusnya, ciuman itu tak pernah ada sesuai kesepakatan semuanya.

“Kapan kau akan memutuskannya?”

“Kenapa aku harus putus dengannya?”

Luhan mendekat dan mencium aroma tubuhku. “Kau harus. Ini yang kita rencanakan, hadiah terbesar untuk ulang tahunnya” Seringaian itu, entah sejak kapan aku tidak menyukainya. Akhir – akhir ini aku merasa aneh.

“Baiklah. Aku akan memutuskannya di depan semua orang, seperti rencana kita. Tapi, kemana Oh Sehun? Dia tidak terlihat semenjak ia turun dari panggung”

Yoona baru menyadarinya.

He’s upset. Kita berciuman tepat dihadapannya dan semua orang”

“Ya, kau benar” Ia langsung berlari meninggalkan Luhan, Sehun pasti ada dikamarnya. Yoona tak tahu apa yang ada dipikirannya, tapi, ia harus menemui Sehun sekarang juga.

Ahjumma, Apa Sehun di dalam?”

“Bukankah tuan muda sedang mengadakan pesta? Ia tidak di dalam, nona” Yoona terkejut. Sehun tidak di dalam? Lalu kemana anak itu? Dengan pikiran kosong Ia memaksa masuk ke dalam. Saat pintu itu terbuka..

Dan benar. Oh Sehun tidak di sana.

Hal yang lebih mengejutkan lagi, kamar ini sangat berbeda saat ia terakhir masuk ke sini. Dindingnya dipenuhi dengan foto Yoona dan Luhan. “Apa ini?”

Mereka makan bersamaBetrayal.

Ya tuhan, di setiap foto terdapat sebuah tulisan.

“Jadi, Sehun mengetahuinya? Aku dan Luhan?”

Choco-ya, kau menciumnyaAnd it hurts, in every part of my body.

“Tapi, sejak kapan?”

Latihan BersamaI want to be like him, to be your everything.

“Apa sebanyak itu aku menyakitimu?”

Bertukar CincinI know, you’re going to break your promise.

“Ini, tadi?”

Saat terakhirIt will be more beautiful if you walk with me.

Yoona kehilangan keseimbangannya, ia jatuh terduduk. Sangat jelas terpampang sebuah kalimat dengan bingkai paling istimewa diantara yang lainnya.

And after all this time, I’m still into you.

END

Panjang tapi gaje._. Okay, don’t remind me about it. Moodnya kadang ada kadang ilang sih._. Aku minta maaf yaaa hehe^^ Leave a comment juseyo~

69 thoughts on “(Freelance) Betrayal of Love

  1. Sebenerx dr awal sdh curiga sih.. Itu yoona ngomong sm siapa kok manggilx gadis. Ngebaca sehun yg karakterx polos, dewasa, cute bener” bikin aq gemes dan terharu karna yoona jahat bngt selingkuh di belakang sehun😥 masih ada sedikit typo, untuk kedepanx mungkin bisa lebih teliti lg wkt ngechecknya ^^

  2. tidakkk:”( yoona jahat banget sama sehun. padagal sehun tulus bgt sayang ama yoona tapi malah yoona selingkuh? kurang apasih si sehun? :” nice ff thorr butuh sequelnyaa nii biar makin gregett

  3. Balasan yg setimpal untk yoona,untungnya sehun sdh pergi sblm yoona lbh menyakitinya lg.need sequek tp sehun sdh pnya wanita lain.

  4. Yoona tega bgt mainin persaan sehun pdhl sehun tulus bgt cinta ma yoona..
    Luhan jg knpa jd jhat gto sh…
    Kyanya yoona nyesel bgt tuuu sehun pergi…
    Squelnya dong thor…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s