Immortal Memory [3]

immortal_memory2a

Immortal Memory

by cloverqua | main casts Oh Sehun – Im Yoona

support cast Im Siwan – Im Juhwan – Ji Chang Wook and others

genre AU – Family – Romance | rating PG 17 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

Introduce Cast | 1 | 2

.

Kenangan akan selalu abadi, sekalipun kenangan terburuk yang membuatmu melupakanku

.

TOK! TOK!

Siwan menegakkan kepala, lalu mengalihkan pandangannya dari layar netbook yang sudah menemaninya selama hampir 3 jam di ruang kerja. Pandangan Siwan kini sepenuhnya tertuju pada pintu ruangan yang baru saja diketuk oleh seseorang.

“Masuk!”

Suara berdecit terdengar ketika pintu ruangan didorong hingga sedikit terbuka. Dari balik pintu, muncul Kepala Pelayan Baek yang langsung membungkuk hormat pada Siwan.

“Tuan Muda, ada tamu untuk Anda,” ucap Kepala Pelayan Baek.

Dahi Siwan berkerut usai mendengar pesan yang disampaikan kepala pelayan di rumahnya tersebut. Mata Siwan terlihat lebih sipit, tampaknya ia tengah berpikir keras, menebak kira-kira siapa tamu yang dimaksud oleh Kepala Pelayan Baek.

“Siapa?”

“Maafkan saya, Tuan Muda. Beliau sama sekali tidak menyebutkan nama, hanya mengaku jika berteman baik dengan Anda sejak kuliah,” lanjut Kepala Pelayan Baek sambil menunduk.

Mata Siwan seketika berbinar mendengar penjelasan Kepala Pelayan Baek. Ia sudah bisa menebak tamu yang datang menemuinya. Siwan bangkit berdiri dari kursi, meninggalkan sejenak laporan meeting yang menjadi fokus pekerjaannya hari ini.

Siwan berjalan setengah berlari menuju ruang tengah. Senyumnya kian melebar ketika ia menangkap sosok pria yang tengah berdiri di dekat piano. Walau hanya melihat dari punggung, Siwan tetap bisa mengenali sosok pria tersebut.

“Changwook-ah?”

Suara Siwan berhasil mengalihkan perhatian pria yang berada di ruang tengah tersebut. reaksi pria itu tak jauh berbeda dengannya, tersenyum lebar dengan raut wajah senang.

“Aku kembali, Im Siwan,” jawab pria itu dengan nada lembut.

Siwan berlari mendekati pria itu, memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya yang baru saja kembali dari New York—Ji Chang-wook. Changwook adalah sahabat baik Siwan sejak keduanya duduk di bangku kuliah. Keduanya mengambil jurusan kuliah yang berbeda. Namun karena sama-sama bergabung di klub basket semasa kuliah, Siwan dan Changwook menjadi dekat hingga akhirnya bersahabat sampai sekarang, kurang lebih sudah 10 tahun.

“Kapan kau kembali?” tanya Siwan antusias, “Kenapa tidak memberitahuku jika kau akan pulang hari ini?”

“Ibuku saja tidak kuberitahu, apalagi kau,” jawab Changwook terkekeh, “Dari bandara internasional Incheon, secara khusus aku langsung mengunjungimu ke sini. Kau adalah orang pertama yang aku temui begitu aku tiba di Korea Selatan.”

“Benarkah?” untuk beberapa detik, Siwan menatap takjub pada Changwook. Namun kemudian sorot matanya terlihat menginterogasi dengan seringaian yang muncul di wajahnya.

“Kau sengaja datang ke sini untuk menemuiku, atau karena orang lain?” Siwan memicingkan matanya pada Changwook yang spontan tertunduk di depannya.

“Apa maksud … ucapanmu?” Changwook sedikit tergagap dengan mengalihkan topik pembicaraan, tapi seringaian Siwan yang semakin terlihat membuatnya kisut di depan pria itu.

“Yoona. Kau ingin bertemu dengannya, ‘kan?” tanya Siwan to the point dan sukses membuat wajah Changwook memerah. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Changwook, namun wajahnya sudah cukup menjawab pertanyaan Siwan.

Selain mengenal Siwan, Changwook juga mengenal Yoona meskipun awal perkenalan mereka tidaklah baik. Yoona terus menghindar lantaran tidak ingin menjalin pertemanan dengan siapapun. Wanita itu lebih suka berkomunikasi dengan kerabatnya, seperti Siwan, Juhwan, dan paman-bibinya, serta Yuri yang notabene sudah dikenalnya sejak lama.

Berkat kegigihan Changwook yang selalu rajin berkunjung ke rumah Siwan, bahkan sering memulai obrolan dengan Yoona lebih dulu, akhirnya ia bisa berteman baik dengan adik sepupu sahabatnya itu. Changwook sama sekali tidak mempermasalahkan kondisi Yoona yang bisu. Sebaliknya, pria itu justru ingin sekali membantu Yoona untuk mendapatkan kembali kemampuan berbicaranya.

“Aku datang ke sini memang untuk menemui Yoona. Ada hal yang ingin kusampaikan padanya,” jawab Changwook akhirnya bersuara.

Dahi Siwan sedikit berkerut, seiring dengan bola matanya yang membulat karena penasaran dengan maksud ucapan Changwook.

“Selama bertugas di New York, aku menjadi volunteer yang membantu anak-anak berkebutuhan khusus, seperti penyandang difable. Di antara mereka ada yang memiliki kondisi serupa dengan Yoona,” jelas Changwook. Kini wajahnya terlihat serius sambil menatap Siwan yang ikut mendengarkan ucapannya.

“Tapi—kondisi Yoona bukan bawaan dari lahir, melainkan trauma yang dialaminya semasa kecil,” potong Siwan.

“Aku tahu. Maksud ucapanku adalah karena kondisi Yoona bukan bawaan dari lahir, kurasa masih ada kesempatan baginya untuk berbicara lagi. Aku ingin membantunya mendapatkan kemampuan berbicaranya itu,” lanjut Changwook.

“Kami sudah berulang kali mencobanya, tapi tetap tidak berhasil. Setiap kali Yoona ingin mencoba berbicara, tubuhnya selalu gemetar hingga akhirnya ia meraung sambil memegangi kepalanya,” Siwan menghembuskan nafas seraya mengusap keningnya.

Changwook terdiam cukup lama, menyadari bahwa tidak mudah mengembalikan kondisi Yoona seperti semula. Setelah mengetahui penyebab Yoona kehilangan kemampuan berbicaranya, Changwook menilai jika trauma yang dialami wanita itu bukanlah hal sepele.

“Siwan, izinkan aku membantu Yoona. Apapun akan kulakukan untuk membantunya mendapatkan kembali kemampuan berbicaranya,” tawaran Changwook membuat Siwan terkejut. Pria bermarga Im itu hanya diam dan belum memberikan jawaban.

“Pertama kali mengenal Yoona, aku merasa prihatin dengan apa yang dia alami. Aku ingin sekali membantunya, tapi waktu itu aku masih mengenyam bangku kuliah dan belum mendapatkan gelar sarjana. Sekarang aku sudah menjadi seorang psikolog dan mempunyai pengalaman dalam menangani beberapa kasus trauma yang dialami oleh pasien,” lanjut Changwook.

Siwan tertegun ketika melihat keseriusan di wajah Changwook, “Kau tidak keberatan? Kurasa tidak mudah bagimu untuk membuat Yoona kembali mendapatkannya. Setiap kali ia mengingat trauma itu, dia akan—”

“Tapi satu-satunya cara agar dia bisa mendapatkan kembali kemampuan bicaranya itu dengan melawan rasa trauma yang selama ini mengikatnya. Kita tidak punya pilihan. Sekalipun akan terasa menyakitkan bagi Yoona, tapi ini adalah satu-satunya cara yang terbaik untuknya,” potong Changwook.

Siwan bisa merasakan ketulusan dari Changwook saat melihat sorot mata pria itu. Ia tidak bisa menolak kemauan sahabatnya yang begitu tulus ingin menolong Yoona.

“Baiklah, kau bisa membantunya. Tapi, jangan terlalu memaksakan diri,” Siwan mengusap bahu Changwook dengan lembut.

Changwook mengangguk, “Terima kasih sudah memberiku kesempatan ini.”

“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu,” balas Siwan tersenyum lebar, “Kau memang sahabat terbaikku.”

Kedua sudut bibir Changwook tertarik, hingga membentuk lengkungan senyum dengan raut kelegaan di wajahnya.

“Oh iya, lalu di mana Yoona? Dari tadi aku tidak melihatnya,” tanya Changwook dengan pandangan ke sekeliling.

Siwan tersenyum miring melihat gelagat Changwook, “Sudah kuduga, Yoona menjadi alasan utamamu datang ke sini begitu kembali dari New York. Apa kau memang lebih merindukannya dibandingkan sahabatmu sendiri?”

Sedetik kemudian hanya terdengar tawa pelan dari Changwook. Tangannya bergerak menggaruk tengkuknya, sambil menundukkan kepala agar wajah memerahnya tidak ketahuan oleh Siwan. Tapi mata Siwan jauh lebih jeli sehingga ia dengan mudahnya bisa menangkap raut wajah tersipu dari sahabatnya itu.

//

Sehun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalanan kota Seoul yang masih terlihat ramai, meskipun hari mulai menjelang sore. Usai mengantar Jongin pulang, Sehun tidak langsung kembali ke rumahnya, melainkan pergi menuju Sungai Han yang menjadi icon dari kota Seoul.

CKIT!

Suara decitan ban terdengar ketika Sehun menginjak rem untuk memberhentikan mobilnya. Tindakan yang baru saja dilakukannya terbilang cukup berbahaya, mengingat ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tapi semua itu tidak berarti apa-apa dibandingkan suasana hatinya yang sangat kesal.

Tidak pernah terpikirkan oleh Sehun sebelumnya, jika ia akan mendapatkan perlakuan dingin dari seorang wanita. Selama ini Sehun selalu mendapatkan perlakuan bak idola yang begitu diagungkan oleh para wanita yang menjadi penggemarnya atau bahkan jatuh cinta padanya.

Nyatanya hal itu tidak berlaku bagi Im Yoona. Ia satu-satunya wanita yang berani bersikap acuh kepada Sehun. Jika ditelisik ke belakang, reaksi Yoona yang menjadi dingin pada Sehun bukan tanpa alasan. Sejak awal Sehun sendiri yang sudah bersikap kasar kepada wanita itu, secara terang-terangan menolak perjodohan mereka, dengan alasan tidak bisa menerima kondisi Yoona yang bisu.

Siapa sangka jika Sehun termakan sendiri oleh ucapannya. Sehun yang awalnya begitu gencar menolak perjodohannya dengan Yoona, kini justru terpikat pada sosok Yoona setelah mendengar semua kisah tentang wanita itu dari Jongin. Ada rasa penasaran yang begitu besar dalam diri Sehun, hingga membuatnya ingin mengenal Yoona lebih dekat lagi. Tapi, langkahnya tidak akan berjalan mulus untuk mencapai semua keinginannya tersebut. Ia harus menghadapi sikap dua kakak sepupu Yoona yang secara tegas sudah melarangnya untuk menemui wanita itu.

“Sial!” Sehun menendang kerikil yang berada di dekatnya. Sesekali pria itu menggaruk kepalanya asal, hingga rambutnya tampak berantakan. Matanya menerawang ke arah langit yang mulai berganti warna menjadi jingga.

DRRT!

Sehun merogoh ponselnya dari saku celana. Dahinya sedikit berkerut ketika melihat nama Jongin tertera di layar ponsel.

Yeoboseyo,” jawab Sehun dengan malas.

Chanyeol baru saja meneleponku, katanya malam nanti dia akan kembali dari Busan. Dia mengajak bertemu di tempat favorit kita. Kebetulan Baekhyun juga sudah pulang ke rumah setelah kondisi neneknya membaik. Kau mau ikut?” tanya Jongin panjang lebar tanpa jeda, membuat Sehun terbengong mendengarnya.

“Tidak, terima kasih. Aku lelah, ingin beristirahat di rumah saja,” jawab Sehun asal.

Hening, tidak ada jawaban dari Jongin sebelum akhirnya terdengar tawa pelan dari pria itu.

Hei, kau tidak mungkin patah hati karena Yoona, ‘kan?” tanya Jongin tanpa dosa. Tawanya yang seketika terdengar keras membuat Sehun kembali meradang. Pria itu mendengus kesal sambil menggigit bagian bawah bibirnya.

“Tidak!” Sehun berteriak kesal kepada Jongin, kemudian memutus obrolan mereka secara sepihak. Ia tidak peduli dengan reaksi Jongin karena sahabatnya itu terus tertawa tanpa henti.

“Dasar, sahabat macam apa dia? Seenaknya saja menertawakanku seperti itu, huh,” Sehun mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang dipegangnya. Ia putuskan untuk segera pulang ke rumahnya, karena suasana hatinya semakin kacau. Sehun juga menyadari jika ia sudah terlalu lama berpergian. Ia tidak mau pulang terlambat atau akibatnya akan mendapat omelan dari orang tuanya.

Saat Sehun bersiap menyalakan mesin mobilnya, pikirannya kembali dipenuhi sosok Yoona yang entah sejak kapan selalu bermunculan dalam kepalanya.

“Baiklah, aku tidak peduli lagi. Sekalipun aku yang sudah menolaknya, aku tidak akan menyerah untuk memperbaiki hubunganku denganmu, Im Yoona,” ucap Sehun penuh keyakinan. Setelah mesin mobil menyala, Sehun segera melajukan mobilnya meninggalkan Sungai Han.

//

Kepulangan Yoona bersama Juhwan disambut Kepala Pelayan Baek. Pria itu langsung mengajak keduanya menuju ruang tengah, di mana sudah ada Siwan yang masih asyik mengobrol dengan Changwook.

“Oh, kau sudah pulang,” sapa Siwan sambil memeluk Yoona, kemudian berjalan mendekati Juhwan, “Terima kasih sudah mengantarnya pulang, hyung.”

Juhwan tersenyum lalu melirik sekilas pada Changwook yang sudah berdiri di depan mereka. Sadar jika diperhatikan, Changwook spontan membungkuk ke arah Jihwan.

“Lama tidak bertemu, hyung,” sapa Changwook ramah.

Juhwan terdiam cukup lama, berusaha mengingat kembali sosok Changwook yang tidak asing baginya.

“Dia sahabatku sejak kuliah, hyung. Namanya Ji Chang-wook, apa kau lupa?” tanya Siwan mengingatkan.

“Ah, aku ingat sekarang,” Juhwan tersenyum hingga memamerkan deretan giginya yang rapi, “Kau baru kembali dari New York? Siwan pernah bercerita padaku jika kau sedang berada di sana untuk menjalankan tugas barumu sebagai psikolog.”

Changwook mengangguk dengan pandangan lurus pada Juhwan. Tapi melalui ekor matanya, ia mencuri pandang ke arah Yoona.

Ne, aku baru saja kembali, hyung,” jawab Changwook sambil menyunggingkan bibir.

“Begitu rupanya,” balas Juhwan kembali tersenyum. Ia melirik jam tangan yang dikenakannya, kemudian beralih memandangi Siwan dan Yoona.

“Maaf, aku tidak bisa ikut mengobrol bersama kalian. Ada hal yang harus kuselesaikan,” ujar Juhwan bersiap meninggalkan ruang tengah. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika Yoona memegang pergelangan tangannya.

Juhwan menoleh pada adik sepupunya itu yang tengah menuliskan sesuatu untuknya.

Terima kasih karena oppa sudah mengantarku pulang.

Bibir Juhwan melengkung sempurna usai membaca isi pesan Yoona. Tangannya secara spontan membelai kepala Yoona dengan lembut.

“Sampai bertemu lagi,” pamit Juhwan sambil tersenyum dan dibalas lambaian tangan oleh Yoona.

Juhwan melirik Siwan dan Changwook, memberi isyarat pada keduanya jika ia akan pulang. Kepala Pelayan Baek pun mendampinginya sampai Juhwan keluar meninggalkan ruang tengah.

“Yoona, kau temani Changwook di sini. Aku akan mengantar Juhwan-hyung sampai depan,” ucap Siwan setengah berbisik, kemudian berlari menyusul Juhwan.

Hyung!” Siwan memanggil Juhwan yang hendak masuk ke dalam mobil. Kakak sepupunya itu memandanginya heran dengan kerutan di dahi. Ia tutup kembali pintu mobil dan membiarkan Siwan berjalan mendekatinya.

“Ada yang ingin kukatakan padamu,” Siwan sedikit menunduk sambil menggaruk tengkuk kepalanya.

“Apa?” Juhwan penasaran saat melihat sorot mata Siwan.

“Ini soal Yoona,” Siwan berdeham pelan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, “Aku senang, kau sudah kembali seperti dulu, selalu memperhatikan Yoona. Terima kasih, hyung.”

Juhwan menaikkan salah satu alisnya, “Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Karena … aku khawatir jika kau masih menyalahkan Yoona atas kematian ibumu,” jawab Siwan, “Maaf, hyung. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, aku hanya—”

“Tidak apa-apa,” potong Juhwan sambil menghembuskan nafas panjang, “Dulu, aku memang pernah membenci Yoona. Tapi, sekarang tidak lagi. Aku sudah sepenuhnya memaafkan Yoona, karena dia sama sekali tidak bersalah. Ibuku tewas karena menyelamatkan Yoona yang saat itu berusia 5 tahun. Waktu itu, Yoona masih sangat kecil, sehingga dia tidak tahu apa bahayanya jika berhenti di tengah jalan ketika ada truk yang melaju kencang ke arahnya.”

Hyung …,” Siwan kembali bersedih tiap kali mengingat kejadian masa kecil mereka yang merenggut nyawa ibu Juhwan—Han Ji Min. Saat itu usia Juhwan 12 tahun, Siwan 8 tahun, dan Yoona 5 tahun. Ketiganya pergi berbelanja bersama dengan Han Ji Min. Siapa sangka jika mereka akan mengalami kejadian tragis, di mana Ji Min tewas karena tidak berhasil menghindari truk yang sebelumnya akan menabrak Yoona.

Kecelakaan itu hanya Juhwan dan Siwan yang mengingatnya. Yoona masih sangat kecil sehingga ia dengan mudah melupakannya, meski sebelumnya ia terus menangis melihat Ji Min terbujur kaku di depannya dengan tubuh bersimbah darah.

“Kau tahu, sulit bagiku untuk menerima kematian ibuku. Tapi, setelah peristiwa perampokan di rumah Yoona yang membuat orang tuanya tewas terbunuh dan dia kehilangan kemampuan berbicaranya, aku merasa jika penderitaanku tidaklah sebanding dengan apa yang dialami Yoona,” lanjut Juhwan. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca saat membicarakan kembali peristiwa kelam di masa lalu mereka.

Siwan hanya terdiam melihat Juhwan yang berusaha mati-matian menahan air mata yang bersiap turun membasahi wajahnya.

“Ada satu fakta yang kuketahui dari mendiang ibu Yoona. Ahjumma mengatakan sesuatu padaku, di hari peringatan 1 tahun kematian ibuku,” jawab Juhwan sambil tersenyum tipis.

Siwan mengerutkan dahinya, “Apa itu, hyung?

Juhwan terdiam sejenak sambil mengingat kembali pesan yang disampaikan mendiang ibu Yoona saat menghadiri peringatan 1 tahun kematian ibu Juhwan.

Juhwan, ahjumma tahu jika kau sangat membenci putriku. Kau pasti menyalahkan Yoona atas kematian ibumu. Tapi, kau harus sadar satu hal jika ini semua adalah suratan takdir yang sudah diatur oleh Tuhan. Selain itu, alasan kenapa Yoona tiba-tiba berhenti di tengah jalan, karena dia ingin mengambil gelang pemberianmu yang terjatuh di jalan. Yoona masih sangat kecil dan begitu polos. Dia akan selalu menjaga barang pemberian orang, apalagi dari saudara sepupu yang sangat disayanginya seperti dirimu, Juhwan.

Siwan tertegun usai mendengarkan Juhwan mengulang kembali pesan yang disampaikan mendiang ibu Yoona. Pria itu tersenyum tipis sambil menyeka air mata yang nyaris turun dari ekor matanya.

//

“Bagaimana kabarmu?”

Tangan Yoona bergerak cepat menuliskan pesan pada notes-nya usai mendengar pertanyaan Changwook.

Aku baik-baik saja. Bagaimana kabar oppa?

Changwook tertawa kecil melihat ekspresi wajah Yoona, “Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat.”

Yoona tersenyum lebar setelah mendengar tawa Changwook. Ia kembali menunduk sambil memainkan jarinya. Sudah lama tidak bertemu dengan pria itu, sejujurnya Yoona merasa sedikit canggung. Apalagi ia bisa melihat perubahan Changwook yang semakin terlihat dewasa dan juga semakin tampan.

“Kau … masih menggunakan notes itu untuk berkomunikasi? Kenapa tidak menggunakan ponsel saja supaya lebih mudah? Kau bisa menyampaikan apa yang ingin kau katakan melalui layanan pesan,” tanya Changwook sedikit heran.

Yoona mengangguk dan kembali tersenyum. Tangannya bergerak cepat menuliskan pesan pada notes-nya.

Jika menghadiri sebuah acara, aku akan membawa ponselku untuk berkomunikasi. Tapi, aku lebih senang menggunakan notes ini karena tanganku bisa terus menulis. Kadang jika hanya mengandalkan tombol yang ada di ponsel, aku merasa bosan.

Changwook tertawa renyah usai membaca pesan Yoona. Tangannya pun secara spontan mengacak-acak rambut Yoona hingga membuat wanita itu sedikit menggembungkan pipi karena kesal dengan sikapnya.

“Bagaimana … jika aku membantumu untuk mendapatkan kembali kemampuan berbicaramu?”

Mata Yoona membulat sempurna ketika mendengar penawaran tiba-tiba yang disampaikan Changwook.

Oppa mau membantuku?

Changwook mengangguk yakin, “Ne, aku ingin membantumu. Selama 3 tahun berada di New York, banyak pengalaman yang aku peroleh ketika menjalankan tugas sebagai psikolog. Aku berinteraksi dengan anak-anak penyandang difable, yang di antaranya ada yang memiliki kondisi serupa denganmu.”

Yoona meletakkan sejenak notes-nya, memilih untuk mendengarkan penjelasan Changwook secara menyeluruh.

“Hanya saja, mereka dalam kondisi seperti itu karena bawaan sejak lahir, sehingga sangat kecil kemungkinannya untuk mereka bisa berbicara lagi,” lanjut Changwook. Wajahnya sekilas tampak sedih ketika mengingat kembali pengalamannya selama berada di New York.

Yoona bisa merasakan bagaimana perasaan orang-orang yang mengalami kondisi serupa dengannya, bahkan jauh lebih sulit darinya karena Yoona masih mempunyai kesempatan untuk bisa berbicara lagi.

“Kau … masih bisa berbicara lagi, asalkan ada kemauan keras dalam dirimu untuk melakukannya,” ucap Changwook. Ia menghadiahi sorot mata hangat saat Yoona memandang ke arahnya.

“Aku tahu, trauma yang kau alami itu memang sangat menyakitkan. Kudengar dari Siwan, beberapa kali usaha terapi yang kau lakukan selalu berakhir dengan kegagalan,” lanjut Changwook yang segera dibalas anggukan pelan dari Yoona.

Ne, oppa. Aku benar-benar takut setiap kali bayangan saat orang tuaku tewas terbunuh kembali muncul dalam kepalaku.

Changwook tertegun ketika melihat tangan Yoona yang memegang notes itu gemetar. Ia menyadari jika topik pembicaraan mereka kembali membuat Yoona menggali memori lamanya yang kelam. Dengan lembut, Changwook menggenggam tangan Yoona, berusaha menenangkan emosi wanita itu yang kembali tidak stabil. Ia perlihatkan senyum tulusnya pada Yoona, meyakinkan wanita itu untuk menghadapi trauma tersebut dengan keberanian.

“Biarkan bayangan masa lalumu itu muncul, karena satu-satunya cara agar kau bisa mendapatkan kembali kemampuan berbicaramu itu dengan melawan rasa trauma yang selama ini mengikatmu,” ucap Changwook dengan nada lembut, “Kau tidak perlu takut, aku akan membantumu.”

Yoona terdiam cukup lama, masih merasa ragu untuk mencoba kembali terapi itu. Tapi setelah melihat sorot mata meyakinkan dari Changwook, keberanian Yoona muncul beserta dorongan yang begitu kuat dalam dirinya untuk mendapatkan kembali kemampuan berbicaranya. Meskipun akan sangat sulit, Yoona sadar jika ia harus tetap melakukannya.

.

.

.

.

.

Sehun berjalan gontai menuruni tangga menuju ruang makan untuk mengikuti sarapan. Ia hanya mendapati orang tuanya sudah menikmati sarapan yang disiapkan oleh pelayan di rumah mereka.

“Mana ahjumma?” tanya Sehun heran karena tidak melihat keberadaan bibinya—Oh Chaeri.

“Sudah pergi pagi-pagi sekali,” jawab Hyejin singkat sambil menyodorkan sarapan untuk Sehun. Wanita itu kembali mengamati wajah putranya yang terlihat masih berantakan dengan rambut sedikit acak-acakan.

“Berapa kali eomma katakan padamu, bersihkan dan rapikan dirimu setelah kau bangun tidur. Baru ikut sarapan bersama di ruang makan,” keluh Hyejin sambil memijat pelipisnya.

“Aish, nanti saja setelah aku sarapan, eomma. Sekarang suasana hatiku sedang kacau dan aku sangat lapar. Jadi, eomma jangan menceramahiku. Itu akan membuatku semakin kesal,” balas Sehun cuek dan tetap menikmati sarapannya.

Taekyung mencibir usai mendengar celotehan Sehun, “Memangnya apa yang membuat suasana hatimu kesal? Wanita?”

Uhuk!” Sehun tersedak karena ucapan tiba-tiba dari sang ayah. Wajah Sehun berubah datar ketika ia mengusap mulutnya dengan tissue. Beberapa kali Sehun masih terbatuk hingga Hyejin segera menyodorkan segelas air putih untuknya.

“Kenapa kau begitu kaget? Ayahmu hanya asal menebak,” Hyejin menggelengkan kepalan melihat reaksi Sehun yang dianggapnya berlebihan. Namun ia tidak menyadari jika ucapan sang suami tepat sasaran.

“Eh, jangan-jangan tebakanku benar?” pupil mata Taekyung sedikit membesar ketika melihat putranya hanya menunduk sambil berdeham.

“Apa ini soal Yoona?” akhirnya Hyejin ikut menyumbangkan pendapat dengan seringaiannya, “Kau sudah meminta maaf padanya, ‘kan?”

Sehun mengangguk pelan berkata apapun. Ia memilih fokus menyantap sarapannya.

“Dia memaafkanmu?” tanya Hyejin antusias dengan raut penasaran.

Sehun hanya mengedikkan bahu, “Entahlah, aku tidak tahu.”

Hyejin dan Taekyung saling memandang saat melihat raut kekesalan di wajah putra mereka.

“Kenapa kau tidak tahu? Seharusnya kau memastikan dia memaafkanmu atau tidak,” desak Taekyung.

“Memang itu yang akan kulakukan,” jawab Sehun cepat hingga membuat kedua orang tuanya terkejut. Ia bahkan terus melahap sandwich hingga setengah bagian.

“Tidak seperti biasanya kau mau meminta maaf pada wanita yang kau tolak. Sebelumnya kau selalu putus kontak dan enggan bertemu dengan mereka,” Hyejin menatap takjub ketika menyadari perubahan sikap Sehun.

“Bukankah eomma dan appa yang menyuruhku meminta maaf pada Yoona?” tanya Sehun dengan sorot mata kesal. Sesaat ia merasa dibodohi oleh orang tuanya sendiri usai mendengarkan reaksi Hyejin.

“Itu benar. Tapi … kami bisa melihat jika pada dasarnya kau melakukan itu karena kemauanmu sendiri,” sahut Taekyung sembari menyesap secangkir kopi kesukaannya, “Apa sekarang … kau mulai tertarik dengan Yoona?”

Sehun kaget dengan pertanyaan ayahnya, hingga sandwich yang baru saja dikunyahnya sedikit tertahan di kerongkongan. Sekuat tenaga pria itu berusaha menelan sandwich yang tertahan dengan menepuk-nepuk dadanya.

“Astaga, hari ini kau benar-benar bersikap aneh. Eomma belum pernah melihatmu seperti ini,” Hyejin terkekeh pelan sambil melirik Taekyung.

Sehun memilih bungkam sambil menghabiskan segelas air putih, kemudian berdiri dari kursinya dan bersiap meninggalkan ruang makan.

“Hari ini kita ada pertemuan dengan jajaran direksi Kingdom Group. Kau tidak lupa, ‘kan?” tanya Taekyung sebelum Sehun naik ke kamarnya.

Ne, aku tidak lupa,” jawab Sehun singkat dan kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.

Taekyung menghela nafas lega setelah memastikan Sehun tidak melupakan acara penting tersebut.

“Suamiku, bagaimana menurutmu? Apa mungkin … Sehun akhirnya tertarik dengan Yoona?” tanya Hyejin penasaran, “Kau tidak lihat sorot matanya yang berbinar ketika kita membicarakan wanita itu? Meskipun di sisi lain, aku juga melihat sorot mata kecewa darinya.”

Taekyung tersenyum simpul mendengar pertanyaan Hyejin, “Entahlah. Tapi jika itu benar, artinya rencana kita untuk menjodohkan Sehun dan Yoona membuahkan hasil, meskipun semula Sehun sendiri yang menolak Yoona. Pada akhirnya, kurasa Sehun sendiri yang akan mendekati Yoona.”

Hyejin mengangguk setuju dengan pendapat sang suami, “Kau benar. Kurasa ini karma untuk Sehun karena sudah melukai perasaan Yoona.”

“Tidak, ini bukan karma. Lebih tepatnya, ini takdir. Kau masih ingat alasan kita menjodohkan mereka berdua?” Taekyung memandangi Hyejin dengan sorot mata serius, membuat sang istri kembali menggali memori mereka saat keduanya berbicara dengan Hyunsung dan Nayong (paman dan bibi Yoona).

“Mereka bertemu pertama kali saat pemakaman kakak iparku. Waktu itu, sepertinya Sehun menghibur Yoona yang terus menangis karena kepergian kakak iparku—Han Ji Min. Sejak saat itu mereka berteman baik, sampai peristiwa tragis itu menimpa keduanya. Ingatan mereka hilang, sehingga keduanya tidak saling mengenal satu sama lain,” jelas Hyunsung.

“Jadi, apa alasanmu merencanakan perjodohan Sehun dan Yoona? Aku masih belum mengerti,” tanya Taekyung penasaran.

“Jika kita kembali pertemukan mereka, kurasa itu akan membantu mereka menemukan kembali ingatan yang hilang itu. Aku merasa, jika pelaku yang menabrak mereka adalah orang yang sama dengan kasus perampokan yang terjadi di rumah Yoona, yang menewaskan orang tuanya,” jawab Hyunsung panjang lebar, “Sehun dan Yoona pasti melihat siapa pengemudi mobil itu. Dengan begitu, kita bisa mengungkap pelaku kejahatan yang sebenarnya.”

//

Jongin duduk di sebelah ayahnya—Kim Jaeha, dengan raut bosan yang mulai tampak di wajah. Entah sudah berapa kali pria itu melirik jam yang ada di ruangan tempatnya berada sekarang. Rasa penasaran masih menyelimutinya sejak pria itu menginjakkan kakinya di gedung Empire Group. Ia tidak tahu kenapa sang ayah tiba-tiba mengajaknya untuk menemui Hyunsung (ayah Siwan) yang notabene menjabat sebagai wakil presdir.

“Kenapa wakil presdir mendadak ingin bertemu dengan kita, appa?” tanya Jongin penasaran dan mulai tidak sabar lagi menunggu kedatangan Hyunsung yang masih mengikuti rapat dengan para pemegang saham Empire Group.

Appa juga tidak tahu,” jawab Jaeha sambil mengedikkan bahu.

“Maaf, aku datang terlambat,” tiba-tiba terdengar suara seseorang bersamaan suara pintu yang baru saja dibuka, membuat pasangan ayah dan anak itu kompak berdiri lalu memberi salam padanya.

“Apa aku mengganggu waktu kalian?” tanya Hyunsung dengan raut wajah bersalah.

“Tidak sama sekali. Kau memanggil kami ke sini, tentu ada hal penting yang ingin kau sampaikan,” jawab Jaeha sambil tersenyum. Ia memang bersahabat baik dengan Hyunsung, terlepas dari hubungan kerjasama dan pertemanan ayah mereka.

“Itu benar. Aku memanggil kalian ke sini karena ada hal yang ingin aku sampaikan,” sahut Hyunsung, “Aku ingin membicarakan kasus perampokan yang menewaskan adikku dan istrinya.”

“Kasus itu … bukankah masih dalam penyelidikan?” tanya Jaeha.

“Tapi sebentar lagi kasus ini akan ditutup karena tidak ada barang bukti yang lengkap untuk mengungkap siapa pelakunya,” jawab Hyunsung dengan wajah kecewa, “Aku tidak mau kasus ini ditutup begitu saja tanpa berhasil menangkap pelakunya. Aku ingin mengungkap kejahatan yang mereka lakukan, yang sudah membunuh adik dan adik iparku. Bahkan mereka juga membuat keponakanku menderita. Itulah sebabnya, aku membutuhkan bantuan kalian.”

“Bantuan kami?” Jaeha mengerutkan dahinya sembari melirik sekilas pada Jongin. Reaksi putranya itu tak jauh berbeda dengannya.

Hyunsung mengangguk, “Kalian bersedia membantuku, ‘kan?”

Jaeha terdiam sejenak dan mengalihkan pandangannya pada Jongin. Anggukan pelan dari sang putra membuatnya yakin untuk menerima permintaan Hyunsung.

Usai mendatangi gedung Empire Group, Jaeha dan Jongin bergegas kembali ke kantor mereka. Sesekali keduanya membicarakan langkah pertama yang akan mereka lakukan untuk menyelidiki kasus perampokan yang berujung kematian orang tua Yoona (kasus ini bahkan dianggap kasus pembunuhan berencana).

“Kau mengenal Yoona cukup baik. Kurasa tidak ada salahnya jika kau mengorek informasi tentang peristiwa perampokan itu darinya,” ujar Jaeha dengan pandangan yang terus tertuju pada pintu lift.

“Apa tidak masalah jika aku menanyakannya pada Yoona? Kukira ini akan mempengaruhi kondisi mentalnya. Trauma yang dialaminya itu benar-benar menyakitkan, appa,” Jongin sedikit ragu dengan usulan yang baru saja disampaikan ayahnya.

“Aku tahu. Tapi kita tidak punya pilihan lain,” balas Jaeha dengan helaan nafas pelan.

Jongin terdiam dan tidak bertanya lagi, sebelum akhirnya menyanggupi usulan ayahnya tersebut.

TING!

Pintu lift perlahan terbuka, hingga memperlihatkan sosok pria yang berdiri dengan tegapnya, dengan didampingi pria lain yang tidak lain adalah tangan kanan pria itu. Jaeha dan Jongin secara kompak membungkuk pada pria yang merupakan pimpinan dari Empire Group—Im Hyunsik.

“Lama tidak bertemu denganmu, Pengacara Kim,” sapa Hyunsik dengan ramah, namun menyiratkan kesinisan dalam nada bicaranya.

Jaeha menunduk hormat pada Hyunsik, tanpa mengatakan apapun karena pria bermarga Im itu langsung melewatinya begitu saja. Jongin melirik Hyunsik dengan ekor matanya. Sekilas, ada raut tidak suka dari Jongin saat melihat pimpinan Empire Group tersebut. Jongin sendiri tidak tahu, apa yang membuatnya merasa tidak nyaman setiap kali bertemu dengan Hyunsik.

Kajja,” suara Jaeha berhasil membuyarkan lamunan Jongin yang masih berdiri mematung di depan lift.

//

Yoona menggiring langkahnya keluar kamar, usai berdandan di depan kaca rias selama kurang dari 1 jam. Kini wanita itu tampil cantik dan anggun, dengan dress panjang berbahan satin warna peach. Surai cokelatnya ia biarkan terurai tanpa aksesoris apapun. Polesan make up sederhana yang menjadi ciri khas Yoona, membuat wanita itu semakin terlihat cantik.

“Astaga, keponakanku cantik sekali,” puji Nayoung ketika melihat Yoona yang baru saja menuruni tangga dari kamar menuju ruang tengah.

Yoona tersenyum malu mendengar pujian yang dilontarkan bibinya, kemudian mengalihkan pandangan saat tak sengaja melihat Siwan datang menghampirinya.

“Kau sudah siap?” tanya Siwan yang segera dibalas anggukan Yoona.

“Kita harus bergegas, acara sebentar lagi akan dimulai,” ajak Siwan secara spontan memposisikan tangan Yoona untuk memeluk lengannya. Siwan dan Yoona kemudian berpamitan dengan Nayoung yang tetap tinggal di rumah. Bersama Juhwan, keduanya akan menghadiri acara pesta ulang tahun Kim Woo-bin (putra pemilik jaringan perusahaan Royal Group), yang digelar sore ini.

Acara pesta ulang tahun Kim Woo-bin diperuntukkan bagi orang-orang muda yang berasal dari kalangan chaebol. Tidak hanya dari kalangan chaebol, tapi juga dari kalangan politisi, pengacara, seniman, atau orang-orang penting yang sudah dikenal masyarakat.

Selama perjalanan menuju Hotel Royal (tempat berlangsungnya pesta ulang tahun Kim Woo-bin), Yoona terlihat gugup sambil memainkan jarinya. Ia hanya membawa ponselnya untuk alat komunikasi, tidak dengan notes yang biasa dibawanya.

“Kau kenapa?” tanya Siwan sedikit cemas saat mendapati raut wajah Yoona yang gelisah.

Yoona menoleh sekilas pada Siwan, sebelum berganti pada Juhwan yang juga memandanginya. Jari-jemari Yoona dengan cepat mengetikkan sesuatu pada layanan pesan dalam ponselnya.

Apakah Sehun nanti juga datang di acara ini?

“Kurasa begitu. Sehun juga berasal dari kalangan chaebol, sudah pasti dia datang,” jawab Siwan sambil tersenyum miring. Sesaat ada gurat kekesalan yang tampak di wajahnya usai menyebut nama Sehun.

“Jangan khawatir, Yoong. Aku sudah memperingatkannya, untuk tidak lagi menemuimu,” sambung Juhwan dan sontak membuat Siwan membelalakkan matanya.

“Apa maksudmu, hyung?” tanya Siwan dengan nada meninggi.

“Ah, aku lupa mengatakannya. Saat aku menjemput Yoona kemarin, aku melihatnya bersama Sehun dan Jongin,” jawab Juhwan.

“Maksudmu—Jongin putra pengacara Kim Jaeha?” Juhwan mengangguk karena Siwan menanyakan Jongin. Yoona hanya menunduk ketika merasakan tatapan tajam dari Siwan.

“Untuk apa kau bersama mereka?” tanya Siwan lagi. Kedua alisnya bertaut, menandakan ia sangat terkejut mendengar fakta itu.

Kami tidak sengaja bertemu. Sehun meminta maaf padaku soal sikap kasarnya di acara perjodohan kemarin.

“Sehun meminta maaf padamu?” Siwan tersenyum sinis usai membaca pesan Yoona, “Tidak kusangka orang seperti dia bisa mengucapkan kata maaf.”

Dia tidak seburuk yang oppa nilai.

“Jangan membelanya!” Siwan kembali meradang setiap kali mengingat perlakuan kasar Sehun kepada Yoona di hari perjodohan itu, “Bagaimanapun sikapnya padamu waktu itu tidak bisa kuterima.”

Yoona menarik ponselnya menjauh dari hadapan Siwan. Ia kembali menunduk, sebelum mengalihkan pandangannya ke luar mobil untuk menikmati suasana jalan yang ramai dilalui banyak kendaraan.

//

Suasana hallroom yang ada di Hotel Royal sudah dipenuhi tamu undangan yang hadir dalam acara pesta ulang tahun Kim Woo-bin. Salah satu tamu undangan tersebut adalah Sehun, yang juga hadir setelah ia mengikuti rapat bersama sang ayah sebelumnya.

Kalau boleh memilih, sebenarnya Sehun enggan menghadiri acara tersebut. Sudah menjadi rahasia umum jika hubungan Sehun dan Woobin tidaklah akur. Keduanya adalah rival sejak mereka sama-sama duduk di bangku kuliah, di mana saat itu Woobin adalah senior Sehun di kampusnya. Perang dingin antara keduanya terus berlanjut hingga Sehun dan Woobin sama-sama terjun dalam bisnis yang dijalankan keluarga mereka.

“Kukira kau tidak akan datang,” sebuah suara mengalihkan perhatian Sehun. Pria bermarga Oh itu tersenyum kecut ketika melihat tiga sahabatnya baru saja datang. Ia memilih meneguk segelas minuman yang dipegangnya hingga habis.

“Jangan mengejekku,” balas Sehun ketus pada Jongin.

Jongin melirik Chanyeol dan Baekhyun yang ikut datang bersamanya. Mereka tertawa saat melihat wajah kesal Sehun. Sama seperti Sehun, ketiganya juga mendapatkan undangan untuk menghadiri acara pesta ulang tahun tersebut, mengingat status keluarga mereka yang berasal dari kalangan penting.

Ayah Jongin adalah pengacara yang sangat terkenal dan sudah banyak menyelesaikan beberapa kasus. Jongin sendiri mewarisi kepintaran sang ayah sehingga ia juga menjadi pengacara. Meskipun belum lama menggeluti pekerjaan sebagai pengacara, Jongin terbukti mempunyai kualitas yang memumpuni sehingga ia diakui sebagai pengacara muda yang berbakat.

Selanjutnya kakek Chanyeol adalah pemilik dari Park’s Foundation, sebuah yayasan yang berfokus pada bidang seni dan musik. Yayasan tersebut mempunyai beberapa gedung yang kerap dijadikan tempat pameran juga pertunjukan musik atau seni lainnya. Chanyeol sendiri memilih menekuni dunia fotografi. Bakatnya sebagai fotografer sudah terlihat sejak ia kecil. Tak heran jika sekarang Chanyeol sudah memiliki galeri sendiri yang menampilkan hasil bidikan kameranya.

Sementara ayah Baekhyun adalah politisi ternama yang kerap memberikan usulan kebijakan yang pro rakyat. Tak hanya itu, kakek Baekhyun adalah mantan perdana menteri yang pernah menjabat di era pemerintahan tahun 1990-an. Berbeda dengan sang ayah yang memilih menjadi politisi, Baekhyun lebih memilih untuk aktif di berbagai kegiatan sosial. Ia lebih senang terjun langsung ke dalam lingkungan masyarakat. Ia memang dikenal sebagai orang yang dermawan dan peduli terhadap sesama.

“Jongin bilang, semalam kau tidak ikut karena sedang ada masalah dengan wanita. Benarkah itu?” tanya Chanyeol penasaran. Ucapannya yang begitu spontan membuat Jongin langsung menyikut lengannya. Chanyeol mengerucutkan bibirnya kesal saat melihat wajah Jongin yang cemberut.

“Apa saja yang sudah kau katakan pada mereka?” tanya Sehun pada Jongin dengan nada dingin.

Jongin meringis, lalu menggeleng pelan sambil mengangkat tangannya, “Aku tidak mengatakan apa-apa. Sungguh.”

“Dia bilang jika kau sedang ada masalah dengan wanita bernama Im Yoona,” sambar Baekhyun cepat yang langsung dibalas tatapan tajam dari Jongin. Baekhyun hanya menjulurkan lidah sembari tertawa ke arah Chanyeol. Dua orang itu langsung ber-high five ria karena berhasil membongkar kejahilan Jongin yang membeberkan semua masalah Sehun pada mereka.

“Aish, kalian ini benar-benar bermulut ember,” desis Jongin sambil mengepalkan tangannya.

“Bukannya kau yang bermulut ember?” balas Sehun sarkastik dan lagi-lagi hanya ditanggapi tawa kecil dari Jongin.

“Jadi—” Chanyeol berdeham pelan saat merasakan kerongkongannya yang gatal, “Kau menolak perjodohanmu dengan Yoona. Setelah itu kau meminta maaf padanya, tapi dia justru bersikap dingin padamu?”

“Kalian sudah mendengar semuanya dari Jongin, ‘kan? Untuk apa menanyakannya lagi padaku?” Sehun mendengus kesal dan enggan berkomentar lagi saat ketiga sahabatnya kembali tertawa.

Obrolan mereka terhenti sejenak, ketika mereka tidak sengaja menangkap kedatangan tiga orang yang baru saja memasuki hallroom. Pandangan semua orang langsung tertuju pada ketiga cucu pemilik Empire Group tersebut.

“Wanita itu yang baru saja ditolak Sehun? Aigo, dia cantik sekali,” puji Chanyeol yang juga disetujui oleh Baekhyun. Sementara Jongin hanya melirik pada Sehun yang sedari tadi terus memandangi sosok Yoona yang melangkah masuk ke dalam hallroom bersama Juhwan dan Siwan.

Sehun terkesiap karena tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Yoona. Ia kembali merasakan sesak di dada ketika Yoona dengan sengaja mengalihkan pandangan darinya. Sehun menganggap jika wanita itu belum sepenuhnya memaafkan kesalahannya di hari perjodohan mereka.

“Meskipun kau sudah menolaknya, tapi kurasa kau justru mulai tertarik dengan Yoona,” ujar Baekhyun setelah mengetahui arah pandangan Sehun.

Jongin dan Chanyeol mengangguk setuju dengan pemikiran Baekhyun. Ketiganya kembali tertawa saat melihat ekspresi wajah Sehun yang memerah. Sungguh pemandangan yang langka bagi ketiganya, mengingat Sehun tidak pernah terlihat kikuk seperti sekarang.

//

Acara pesta ulang tahun Kim Woo-bin dimulai. Pandangan semua orang tertuju pada sosok pria berperawakan jangkung dengan postur tubuh bak model, dan sorot matanya yang tajam serta alis yang attractive yang menjadi ciri khas dari putra pemilik Royal Group tersebut. Ia memang dikenal memiliki paras wajah tampan dan senyuman yang sangat manis. Tak heran jika banyak wanita yang langsung histeris ketika melihatnya berjalan memasuki hallroom.

Usai menyanyikan lagu selamat ulang tahun hingga bagian peniupan lilin, Woobin memberikan potongan kue pertama untuk ibunya. Pria itu langsung mendapatkan kecupan hangat dari sang ibu di pipi kiri. Selanjutnya ia memberikan potongan kue kedua untuk ayahnya. Siapapun yang melihat moment tersebut, mereka bisa menilai jika Woobin adalah sosok yang sangat menyayangi orang tuanya.

Acara selanjutnya adalah acara santai, di mana tamu undangan menikmati pertunjukan musik yang digelar pada panggung yang sudah disediakan.

Woobin berjalan menyisiri area hallroom untuk bertegur sapa dengan tamu undangan yang hadir dalam acara pesta ulang tahunnya. Ia terus berjalan hingga akhirnya berhenti tepat di samping 4 pria yang masih asyik mengobrol. Salah satu dari mereka langsung menoleh begitu mengetahui kedatangannya.

“Kukira kau tidak akan datang, Oh Sehun,” ucap Woobin sambil tersenyum miring.

Sehun terdiam dan mengalihkan pandangannya sejenak, sebelum kembali menatap Woobin yang sengaja berdiri di sebelahnya.

“Tidak ada alasan bagiku untuk tidak datang jika aku mendapat undangan,” jawab Sehun asal, “Selamat ulang tahun, hyung.”

Ucapan selamat yang keluar dari Sehun langsung diikuti oleh ketiga temannya. Woobin lagi-lagi hanya tersenyum menanggapi ucapan selamat yang diberikan padanya.

“Terima kasih. Aku tidak menyangka jika kau akan begitu mudah mengucapkan kalimat itu,” Woobin tersenyum sinis sambil melirik ke arah lain, “Tapi—sikapmu yang selalu menjunjung harga diri masih bisa kulihat dari caramu menatapku. Kau memang tidak berubah.”

Sehun tertawa sinis usai mendengar sindiran Woobin, “Kau juga tidak berubah, hyung. Kau masih berjalan dengan langkah yang begitu angkuh di hadapan semua orang. Itu adalah ciri khasmu.”

Kontan saja ucapan Sehun membuat ketiga temannya sempat khawatir jika Sehun dan Woobin akan kembali bersitegang seperti pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.

“Kau benar, ini memang ciri khasku,” jawab Woobin santai seolah tak terpengaruh dengan balasan Sehun.

Tangan Sehun mengepal saat melihat raut wajah Woobin yang terkesan meremehkannya. Namun ia memilih diam dan membiarkan tokoh utama dalam pesta itu pergi meninggalkannya.

“Benar-benar menegangkan. Kukira tadi akan terjadi perang dunia ke-3,” celetuk Baekhyun mendramatisir yang membuatnya langsung mendapat sikutan lengan dari Chanyeol. Sementara Jongin hanya menepuk bahu Sehun yang sedikit menegang usai Woobin mendatangi mereka.

“Aku senang, kau bisa menahan emosimu,” puji Jongin sambil tersenyum. Sehun tidak berkata lagi dan memilih menikmati hidangan yang tengah disantapnya.

Sementara itu, Woobin yang merasa puas setelah menemui Sehun, berjalan menuju orang tuanya yang masih sibuk mengobrol dengan beberapa rekan bisnis mereka yang juga hadir dalam pesta ulang tahunnya. Ia berjalan dengan langkah sedikit terburu-buru, hingga akhirnya tidak sengaja menabrak seorang wanita yang berpapasan dengannya.

“Awas!” Woobin terkejut ketika wanita yang ditabraknya itu hilang keseimbangan dan nyaris terjatuh. Untung saja tangan Woobin bergerak cepat menangkap pergelangan tangan wanita yang mengenakan dress panjang berwarna peach itu, sehingga bisa berdiri kembali seperti semula.

“Kau baik-baik saja?” tanya Woobin penasaran karena wanita itu hanya diam di depannya.

Untuk sekian detik, Woobin terpesona dengan kecantikan yang dimiliki wanita yang baru saja ditolongnya itu. Ia bisa merasakan debaran jantungnya yang cukup kuat ketika memandangi wajah wanita itu. Namun lamunannya seketika buyar ketika Woobin hanya mendapat anggukan pelan dari wanita itu, sebelum pergi begitu saja dari hadapannya.

Woobin menoleh cepat ke arah belakang dan terus memperhatikan wanita itu hingga terlihat bergabung dengan dua orang pria. Hatinya begitu kesal karena ia sama sekali tidak mendapatkan ucapan apapun dari wanita itu.

“Hei, paling tidak ucapkan terima kasih padaku,” gerutu Woobin.

“Tuan Muda …,” seseorang tiba-tiba memanggil Woobin.

“Kau tahu siapa wanita itu?” tanya Woobin tiba-tiba begitu sekertaris pribadinya—Sekertaris Ahn, datang menghampirinya.

Sekertaris Ahn sedikit kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba dari pria itu. Ia mengikuti arah pandangan yang ditunjuk Woobin, di mana ia melihat seorang wanita tengah diapit oleh dua orang pria.

“Dia adalah Im Yoona, cucu ketiga dari pemilik Empire Group,” jawab Sekertaris Ahn.

“Im Yoona?” Woobin mengerutkan dahinya, “Lalu—siapa dua pria yang bersamanya?”

“Mereka adalah kakak sepupu Nona Yoona. Cucu pertama dan kedua dari pemilik Empire Group. Im Juhwan dan Im Siwan,” lanjut Sekertaris Ahn.

Woobin terdiam sejenak usai mendengar penjelasan yang disampaikan Sekertaris Ahn. Ia kembali memandangi sosok Yoona yang tengah tersenyum kepada kakak sepupunya. Wajah Yoona yang semakin terlihat cantik saat tersenyum, tanpa sadar memunculkan seringaian di wajah Woobin.

“Aku ingin … besok pagi kau memberikan semua informasi tentang Im Yoona padaku,” titah Woobin pada Sekertaris Ahn.

//

Setelah meminta izin dari Juhwan dan Siwan, Yoona berjalan keluar dari hallroom, tepatnya menuju kolam renang yang tak jauh dari lokasi pesta tersebut. Ia merasa tidak nyaman karena banyak orang yang mengenalinya, terlebih saat Yoona melihat bagaimana tatapan mereka yang seolah membicarakan kondisinya yang bisu dan juga rekam jejaknya yang selalu gagal dari acara perjodohan. Ingin rasanya Yoona pergi secepat mungkin dari area pesta. Untungnya Juhwan dan Siwan begitu perhatian dengan menjadi pelindungnya selama ia mendapatkan tatapan yang beragam dari beberapa orang, sehingga Yoona bisa tetap bertahan dalam acara pesta itu.

Yoona mengusap-usapkan kedua telapak tangannya ketika merasakan hawa malam yang sedikit dingin. Namun rasa dingin itu terbaikan setelah Yoona tiba di area kolam renang. Decak kagum terus terpancar dari sorot matanya saat Yoona berjalan mendekati kolam renang.

Hiasan lampu yang dipasang sepanjang tepi kolam renang, membuat pemandangan di sekitar tempat itu tampak cantik dan kental akan suasana romantis.

Yoona mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Udara yang cukup segar berhasil dihirup oleh indra penciumannya, membuat bibirnya melengkung sempurna. Ia merasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya, saat ia masih berada di dalam hallroom. Namun, raut wajah Yoona seketika berubah kaget ketika ia tidak sengaja menangkap sosok pria yang datang dan berjalan ke arahnya.

Menghindar adalah satu-satunya ide yang terlintas dalam benak Yoona, ketika Sehun tengah sibuk memperhatikan sekitar tanpa tahu jika Yoona berada di tepi kolam renang. Yoona bergegas pergi meninggalkan area kolam renang, dengan berjalan menyisiri sisi lain yang berlawanan dengan Sehun. Namun langkahnya yang terburu-buru tanpa sengaja membuatnya tergelincir, hingga akhirnya wanita itu justru tercebur ke dalam kolam renang.

BYUR!

Sehun terkejut karena mendengar suara dari arah kolam renang. Rasa penasaran membuat langkahnya sedikit lebih cepat saat ia mulai dekat dengan sumber suara. Setelah melihat sosok wanita yang nyaris tenggelam karena tidak bisa berenang, mata Sehun membulat sempurna ketika ia mengenali wanita itu adalah Yoona.

“YOONA!” spontan saja Sehun berteriak dan secepat kilat melepas jas yang ia kenakan, lalu menceburkan dirinya ke kolam renang untuk menyelamatkan wanita itu. Yoona terus melambaikan tangannya dan bergerak panik hingga tanpa sadar sudah berada di tengah kolam renang.

Untung saja Sehun memiliki keahlian berenang yang sangat baik sehingga ia dengan mudah bisa menyelamatkan Yoona. Pria itu segera mengangkat tubuh Yoona, lalu membaringkannya di tepi kolam renang. Kepanikan langsung terlihat di wajah Sehun ketika menyadari Yoona masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.

“Yoona, buka matamu!” teriak Sehun panik sambil menepuk-nepuk pipi Yoona, namun tidak ada reaksi. Sehun pun melakukan CPR untuk memberikan pertolongan pertama pada Yoona.

“Sial!” umpat Sehun karena Yoona tak kunjung sadarkan diri. Ia akhirnya memberikan nafas buatan untuk wanita itu.

Usaha pertama, Yoona belum bereaksi.

Usaha kedua, Yoona tetap belum beraksi.

Sehun tidak menyadari jika perlahan mata Yoona mulai terbuka. Pandangan pria itu terus tertuju pada bibir mungil Yoona. Ia bersiap melakukan usaha ketiga untuk memberikan nafas buatan kepada Yoona. Saat Sehun mengalihkan pandangannya sejenak pada mata Yoona, tubuhnya seketika menegang. Sehun membeku pada posisinya dan tidak bergerak sama sekali. Yoona pun memperlihatkan reaksi yang sama. Ia terlihat shock, karena begitu tersadar sudah mendapati Sehun dalam posisi yang tidak mengenakkan. Tentunya bagi Yoona, Sehun dianggap berniat menciumnya.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Sebelumnya saya minta maaf karena lupa kasih tahu kalau Changwook di sini bukan hanya sekedar sahabat baik Siwan, tapi memang sudah kenal dekat sejak sama-sama kuliah. Makanya dia juga sudah kenal Yoona sebelumnya (banyak yang bingung ya sama bagian akhir part 2 kemarin hehe)

Karena banyak yang penasaran bahkan minta clue sebenarnya kenapa sih ayah Juhwan kok jahat banget sama Yoona, akhirnya saya selipin rahasia itu di bagian percakapan Juhwan dan Siwan di atas. Lalu, ada juga rahasia yang sedikit saya ungkap soal hubungan Sehun dan Yoona di masa lalu (hayoo … pada semakin penasaran nggak? kekeke😀 *senyum evil*)

Dan, yeey! Chanyeol, Baekhyun dan Woo Bin oppa muncul di sini! *tepuk tangan*plak*😄

Sengaja untuk 3 chapter awal saya tulis dalam waktu yang tidak terlalu jauh (lumayan cepetlah hehe), karena saya terharu sekali dengan respon kalian yang wow bikin saya nggak tahu mau ngomong apa *authornya mulai stress😄 *

Tapi, untuk part selanjutnya semoga kalian mau bersabar menunggu (nggak bisa janji bakal secepat 3 chapter awal, maaf)^^’

Maaf untuk moment YoonHun belum banyak, karena di sini saya masih fokus dengan hubungan mereka yang bisa dibilang masih tahap awal sekali😀 Selanjutnya nanti bakal banyak kok, tenang aja😉

Saya juga minta maaf kalau ceritanya makin ruwet, karena ide saya macet dan sudah berapa kali gonta-ganti scene cerita^^’

Sekali lagi terima kasih sudah membaca❤😉

132 thoughts on “Immortal Memory [3]

  1. satu lagi ff dengan main cast Sehun yg aku suka, klu boleh jujur siih aku lebih suka Luhan #Abaikan..
    kalu baca ff yg main castnya sehun itu suka aneh sediri baca apa lagi kalu ada kisseunya, jadi bertentangan sama artikel yg pernh aku baca.. dari keseluruhan ini bagus aku suka

  2. Ada apa dengan im hyunsik? Ko kayanya ada sesuatu sama dia. Misterius misterius gmna gtu
    Ah woo bin udah muncul tmbah seru aja nih😀

  3. Wow yoona dikelilingi dg cwo2 ganteng apalagi bertambah dg woobin skarang….
    Penasaran siapa yg membunuh ortu yoona, apa bner paman yoona??

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s