Younger – 1

req-younger-pt-new-2

by Pimthact

with the cast Im Yoona as Calista Im – Oh Sehun as Richard Oh

Chaptered – 13+

poster by flickerbeat @artfantasy ( thanks for the poster ^^ )

Trailer

Enjoy!

Gadis itu menyipitkan matanya sembari menatap fokus sebuah kayu yang berbentuk persegi panjang-yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri. Sebuah panah melesat dengan tepat mengenai sasaran. Dan seketika itu juga, seruan bangga terdengar sangat keras.

Calm down Cale, what’s wrong?” Seruan tadi berhenti saat seorang lelaki paruh baya menghampiri gadis itu dan memegang pundak nya.

Grandpa! I got a jackpot!” Gadis itu tersenyum dan kemudian membangga-banggakan dirinya didepan lelaki paruh baya yang dipanggil-grandpa itu.

“Kau yang terbaik Cale, kau sudah mempersiapkan perlengkapan mu?” Tanya lelaki paruh baya itu sambil menatap panah yang tertancap dengan rapi pada kayu tadi.

Grandpa, sungguh, aku tidak sabar bertemu dengan keluarga ku. Tentu saja aku sudah menyiapkan barang-barangku.” Ucap gadis yang bernama Calista sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapih.

Lelaki paruh baya itu menatap cucunya yang sedang memasuki remaja. Jujur saja sakit rasanya saat mengetahui Calista akan kembali pada keluarganya yang sesungguhnya. Dari kecil-bahkan dari umur satu bulan, Calista dititipkan ditempat grandpa&grandmanya, karena ada suatu masalah. Dulu, ayah ibu Calista pernah mendatangi rumah pasangan tua ini, namun itu hanya beberapa tahun sekali. Oh, jangan lupakan! Calista bahkan lupa dengan wajah Ibu, Ayah, dan para saudaranya.

“Sekarang, ayo makan! Aku tidak ingin cucuku mati kelaparan saat penerbangan nanti malam.” Canda grandpa yang sudah berumur enam puluh tujuh tahun itu.

Walau umur sudah tidak bisa dibilang muda, namun badan grandpa tetap tegap. Mukanya tegas dan tulus. Dulu, sebenarnya dia ingin tinggal bersama anak-anak nya as know as Ayah Calista. Keluarga mereka adalah keturunan bangsawan yang sejarah dan tradisi nya masih diingat dan dilakukan sampai saat ini.

Grandpa ingat saat masih muda dulu, memang sangat rumit menjadi raja. Harus pintar membagi waktu, bahkan untuk keluarga. Maka dari itu, dia kemudian berpindah tempat dari kota metropolitan-New York, ke negara damai ini-Swiss. Alasan nya adalah dia ingin  cepat-cepat terbebas oleh aturan konyol turun menurun dalam keluarga bangsawan. Toh, anak nya juga sudah menggantikan posisinya. Juga sekarang dia memilih menjadi chef (( salah satu keahlian nya )) di restoran ternama, dia juga mempunyai ternak karena bertenak sangat terkenal di negara ini.

Dan Calista, anak terakhir dari Ratu Chance Elizabeth dengan Raja Nathan Im. Dia belum pernah sama sekali mendatangi ‘istana’nya yang berada di New York itu. Seumur-umur hidupnya hanya berada di rumah grandpa&grandma nya. Calista juga menghabiskan liburan nya dengan bermain panah bersama grandpanya dan membantu grandmanya mengurus para ternak. Walau begitu, dia tak pernah merasa kesepian. Dia memiliki banyak teman dari sekolah nya.

Alasan dari semua ini? jangan tanyakan, bahkan para peramal istana sekalipun tidak akan yakin tentang peristiwa ini.

….

Saat mobil mewah memasuki pekarangan istana yang luas, semua orang yang tadinya duduk didekat istana langsung berlari mengelilingi mobil mewah itu. Suara jepretan kamera terdengar dimana-mana. Cahaya blitz pun memenuhi malam yang gelap itu.

Para bodyguard sudah stay didepan mobil itu, menjaga jarak pada wartawan yang ingin merekam dan mem-foto tamu spesial ini.

Seorang gadis remaja keluar menggunakan t-shirt berwarna putih yang digradasikan-dengan warna biru, dengan rok diatas lutut berwarna biru bercorak putih dan dia memakai jas yang panjang nya hampir mengalahkan rok nya.

Saat gadis itu keluar, suara jepretan dan blitz menjadi lebih banyak dan mencolok. Siapapun yang tidak terbiasa dengan itu, mungkin bisa mengalami gangguan pada mata, termasuk gadis itu. Untungnya, dia memakai kacamata berwarna coklat yang bisa menghindarinya dari cahaya blitz.

Saat pintu istana terbuka, Suara lonceng terompet dan drum terdengar begitu kencang. Menandakan bahwa tamu spesial sudah berada diambang pintu. Kemudian, salah seorang pegawai istana berteriak, “Sambutlah tamu terhormat kita, Anak terakhir dari Tuan Nathan dan Nona Elizabeth!”

~~

Calista menatap gerbang yang menjulang dan berukuran besar-berwarna emas- yang berada tepat di depan mobil yang ia tumpangi. Sesaat setelah gerbang itu terbuka, halaman luas yang dengan banyak pepohonan dan air mancur menyabutnya.

Walau suasana sudah gelap, namun lampu yang menghiasi halaman itu tampak sangat memperlihatkan betapa indahnya halaman itu. Didekat situ, Calista bisa melihat banyak orang yang membawa kamera yang sepertinya akan membidiknya.

“Jangan tegang putri, dan jangan lupa pakai kacamatamu. Para bodyuguard akan melindungimu.” Ujar seorang asisten istana yang duduk didekat Calista. Asisten yang duduk dekat Calista seperti sangat sudah mengenal Calista dari lama. Bahkan, Asisten itu menceritakan sedikit tentang silsilah keluarga bangsawan ini.

Calista Im mengangguk pelan. Oh, jika boleh jujur, dia sangat risih kali ini. Dia sangat jarang memakai dress seperti ini, bahkan grandma nya jarang membelikan nya sebuah dress-malah hampir tidak pernah.

Dan, dia memang tau keluarganya adalah raja di negara ini. Tapi hanya kedatangan nya semua kamera di negara ini merosot padanya? Hell, se-istimewa itukah kedatangan nya dinegara ini?

Dan semuanya akan mengatakan ‘ya’. Bagaimana tidak? Putri terakhir yang dari dulu sama sekali belum terlihat sekarang, tiba-tiba muncul. Bagaimana negara ini tidak tergoyah?

Lupakan masalah dimana banyak nya wartawan, sekarang ia harus menghadapi wartawan itu. Oh jangan lupakan! Calista sangat anti terhadap sinar blitz seperti itu.

Calista keluar dengan perasaan terkejut campur risih. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa wartawan sebanyak ini, belum lagi suara mereka yang begitu berisik menanykan sesuatu yang bahkan tidak bisa ditangkap jelas oleh pendengaran Calista. Calista hanya terus berjalan dan sedikit menutup matanya-walau sudah memakai kacamata- tetapi sungguh, dia benar-benar tidak tahan terhadap sinar blitz itu.

Dia kemudian menghela nafas lega saat bisa masuk kedalam ‘istananya’.

Namun, kejutan datang lagi kepadanya dengan suara keras terompet dan lonceng milik istana megah itu. Seperdetik kemudian, bola matanya dapat menangkap beberapa kursi besar yang mewah-yang berada tepat beberapa meter di depan nya.

Dan juga, pada saat itu sebuah pegawai memakai baju khas istana berdiri di samping karpet merah yang ia pijaki-yang tak jauh darinya- berteriak keras sambil membungkuk, “Sambutlah tamu terhormat kita, Anak terakhir dari Tuan Nathan dan Nona Elizabeth!”

Calista tersenyum kaku kemudian membungkuk-kan badan nya. Dia kemudian maju beberapa langkah atas petunjuk dari pegawainya. Dan matanya bisa menangkap keluarga asli nya sudah berdiri dengan tatapan penuh rindu.

Calista harus berjalan sedikit jauh, matanya menulurusi bangunan megah ini. Semua pegawai membungkuk padanya, seakan mereka sudah latihan untuk mempersiapkan kedatangan nya. Dia juga melihat foto-foto besar yang dipasang di kanan dan kiri dinding istana. Disebelah kanan, ada foto para ratu dari awal terbentuk nya istana ini, di dinding kiri pun juga begitu, namun bedanya disebelah kiri untuk para raja. Calista tersenyum kecil saat melihat foto neneknya di sebelah kanan dan kakek nya di sebelah kiri, entah mengapa Calista merasa rindu pada pasangan lansia itu.

Saat Calista berdiri antara 1 meter dari kedua orang tuanya, salah seorang pegawai membawakan mahkota kecil yang dialaskan oleh bantal berwarna merah. Ibunya, Ratu Elizabeth mendekati Calista sambil memakaikan mahkota itu kemudian memeluk Calista, hal itu juga dilakukan oleh Raja Nathan-ralat! Raja Nathan hanya ikut memeluknya.

Saat Kedua pemimpin negara itu sudah selesai berpelukan dengan Calista, giliran kakak-kakak Calista memeluk nya dengan erat. Calista pun membalas mereka dengan tak kalah erat, yah walau sejujurnya Calista sama sekali tak mengingat satupun nama dari ketiga saudaranya.

“Kau bisa mengganti bajumu dengan gaun disini, dan beristirahat sebentar, sebentar lagi kita akan mengadakan makan malam Cale,” ucap Ibunya sambil tersenyum. Cantik, sangat cantik, bahkan Calista saja terpukau dibuatnya.

Kemudian Calista berjalan menuju kamarnya atas petunjuk dari pelayan nya. Kemudia sang pelayan membuka pintu kamarnya dan menyalakan lampu kamarnya. Sekali lagi, Calista berdecak kagum menatap kamarnya sendiri.

“Ini kamar anda, putri. Semua baju anda sudah berada di lemari, barang-barang yang tadi anda bawa-pun juga sudah ditata dan dirapikan oleh pelayan kami. Saya adalah pelayan pribadi anda, panggil saja saya carol, jika anda membutuhkan saya, anda bisa membunyikan bel yang terletak disebelah pintu ini. Baju yang putri akan sudah saya taruh di kasur, jika putri ingin saya menata rambut atau mengoleskan make-up itu bukan masalah besar,  saya akan selalu membantu putri. Saya permisi dulu,” Ucap Carol sambil membungkuk dan langsung berjalan cepat keluar.

Kamar Calista sangat luas, bahkan dia sangat yakin bahwa kamar ini memiliki luas tiga kali lipat dari kamar nya yang di Swiss. Gaya modern kerajaan sangat kental di kamarnya. Tidak ada tirai yang menghiasi kasur, namun ada sebuah kasur besar yang terkesan elegan dengan sprei yang berwarna coklat emas. Di samping itu dia menemukan meja kecil dengan lampu tidur yang imut juga jam weker yang keren. Dia juga menemukan kamar mandi yang hampir sama dengan kamar mandi yang berada dirumah lamanya-Swiss. Lemari pakaian dan meja rias terletak bersebalahan, bahkan make-up dan dress di keduanya sudah lengkap dan tertata rapi. Juga jangan lupakan disebelah itu, ada lemari gantung berwarna putih tulang yang berisi beberapa bando dan mahkota kecil yang elegan. Oh! Calista kaget saat melihat sebuah televisi berada beberapa meter didepan kasur Calista. Calista juga sangat menyukai dinding kamarnya yang berwarna vintage dengan gambaran burung kecil berwarna hitam.

Tanpa menunggu lagi, Calista segera mandi dan memilih gaun yang cocok untuknya. Namun, karena dia baru menempati istana ini dan merasa baru dengan semuanya. Dia tidak ahli dalam memilih gaun yang cocok pada saat acara makan malam. Maka dari itu, dia memanggil Carol untuk membantunya. Carol membantunya dengan memilihkan gaun simple berwarna biru dongker dengan warna putih. Gaun selutut yang dipadukan pita di bagian pinggang dan dipadukan hiasan bergambar kupu-kupu diseluruh bagian bawah gaun. Juga Calista semakin cocok memakai itu pada saat Carol menambahkan pita berwarna biru tua sebagai pelengkap.

“Aku awalnya kaget pada saat melihat gaun-nya seperti ini semua, kupikir gaun nya akan rumit seperti di film-film.” Celeteuk Calista yang membuat Carol tersenyum dan sedikit tertawa. “Jaman sudah berubah Nona, semua bagian dari istana juga berubah. Hanya beberapa saja yang tidak berubah.”

“Bisa kau ceritakan sedikit?” Tanya Calista yang sepertinya tertarik dengan asal-usul cerita dari istana ini. Carol kemudian melihat jam yang berada di dinding dan menggeleng, “Ini sudha waktunya Nona untuk menikmati makan malam, jika terlalu lama Ratu akan mengomeli anda.”

Calista menghela napas kemudian mengedikkan bahu, “Kau bisa ceritakan pada saat kita berjalan ke-arah ruang makan, bagaimana?” tawar Calista yang dibalas anggukan ragu oleh Carol.

Carol membantu memilihkan sepatu untuk Calista. Yaitu sepatu yang berwarna putih dengan pita biru disamping nya. Calista sedikit ragu memakai itu, karena dia merasa asing memakai sepatu itu, bagaimana tidak, selama kehidupan nya di swiss dia selalu memakai sepatu seperti sneakers.

Pada akhirnya, Calista mulai nyaman memakai sepatu itu dan membiarkan Carol bercerita tentang asal-usul istana ini. Carol kemudian mengangguk ragu. Sebenarnya Carol sedikit ragu karena takutnya Calista tidak memperhatikan jalan atau mungkin dia sendiri yang nantinya malah menganggu kenyamanan beberapa pelayan di istana ini.

“Dari jaman ke jaman, istana ini mulai berubah pada saat kepimpinan raja ke-empat yaitu Raja Offordes Rosesvelt dengan Ratu Omawa Jessie pada tahun 1624 yang mengubah beberapa bagian istana ini karena seiring-nya waktu dan jaman yang berganti. Pada saat itu sebelum mereka mengganti bagian-bagian itu, mereka menanyakan kepada ratu ketiga kerajaan ini yang masih hidup pada zaman dahulu yang bernama Ratu Diamond Angel, Ratu Diamond adalah ratu yang paling adil dan bijaksana juga sangat cerdas, maka dari itu dia mengetahui tentang silsilah bagian-bagian istana ini.” Carol memeberikan jeda-juga sedikit membungkuk saat melihat pelayan istana yang lebih tua darinya melewatinya ( tak lupa pelayan yang lebih tua itu membungkuk hormat kepada Calista )

“Dalam pemberitahuan Ratu Diamond, ternyata dalam aturan istana nomor-2689 ‘jika mengubah bagian-bagian istana dikarenakan perbandingan jaman, maka hanya ruang loteng saja yang tidak boleh diubah’ Karena banyak sekali barang penting milik Raja pertama disitu, dan pihak istana belum bisa mempercayai para pekerja bangunan istana, maka dari itu ruangan itu tidak boleh dirubah. Hanya beberapa bagian yang sudah dicat ulang dan dibersihkan.”

Carol menghela napas lega ketika dia menyelesaikan ceritanya, mereka tepat sampai di ruang makan. Carol segera membungkuk ketika melihat keluarga bangsawan yang tampak menunggu Calista. Calista tersenyum kaku kemudian duduk dikursi yang kosong. Raja kemudian memulai acara makan nya dengan melahap satu suap daging.

Suasana sangatlah kaku-menurut Calista. Ratu Elizabeth yang menyadari Calista yang tegang kemudian tersenyum kepada Calista, “Sayang, coba kau ceritakan bagaimana kehidupan mu di Swiss.”

Calista sedikit kaget dan ragu saat melihat saudara-saudara dan Ayah nya melihatnya. Namun ketika matanya bertemu dengan tatapan hangan ibunya. Calista tersenyum dan mengangguk.

“Terlalu panjang, mom. Aku tidak tau darimana aku harus memulai.” Ucap Calista sambil terkekeh pelan, dia berusaha keras untuk mencairkan suasana.

“Kau bisa memulai dari hal yang menurut mu seru,” Ucap Jessica-kakak pertama Calista-yang Calista yakini, dia belum mengetahui namanya. Oh Tuhan, betapa bodohnya dia belum menanyakan semua nama kakak nya pada Carol.

 “Apakah kau sudah mengetahui nama kakak-kakakmu, Calista?” Tanya Raja Nathan dengan senyuman nya yang berwibawa-yeah, walau sudah tua pun, Raja Nathan memiliki wajah yang masih tampan dan sangat tegas.

Calista menunduk dalam dan menggeleng. Ratu dan Raja terkekeh kecil melihat sikap Calista, kemudian mereka menyuruh ketiga kakak Calista memperkenalkan diri.

Jessica Im, you can call me Jessica. Aku adalah anak pertama, walau wajah ku terlihat dingin, kau bisa menemukan sifat hangan dalam diriku, my sistah.” Ucap Jessica lembut. Gaya elegan dan simple melekat pada gadis cantik itu, Calista bahkan juga yakin kalau Jessica adalah yang paling cantik dari semuanya.

Tiffany Im, Everybody call me Tiffany or fanny whatever you want. Aku adalah anak kedua. Yeah, you can sing or design some dress or make over together with me.” Jelas Tiffany dengan ceria. Gaun serba pink dengan kulit yang putih mulus. Juga gadis ceria itu memiliki eyesmile yang mau tak mau membuat Calista membalas senyuman nya dengan sangat manis.

Yuri Im, whatever you want call my name, follow ur heart kkkk. Aku anak ketiga. You can do it everythings with me because tiffany always together with jessica and i dont know what they’re do everyday.” Ujar Yuri sambil tersenyum manis kepada Calista. Calista mengangguk dan sepertinya yakin bahwa dia bisa paling dekat dengan saudaranya yang satu ini. Dari gayanya, casual sangat melekat pada kulit nya yang berwarna kuning sedikit kehitaman itu.

Ok, you can start the story.” Ujar Raja Nathan sambil tersenyum. Calista mengangguk dan tersenyum manis kepada Ayahnya.

Grandpa dan Grandma adalah pasangan yang paling baik dan pengertian yang pernah kutemui seumur hidupku. they really know me, i know the reason because i have been with them since i was a child. Grandma yang selalu membangun-kan ku dipagi hari dan menyinapkan sarapan sebelum aku berangkat sekolah. Juga Grandpa yang selalu ikut sarapan dan juga mengantarku sampai ke sekolah.” Cerita Calista dengan penuh semangat.

“Oiya! Dan aku juga diajarkan memanah oleh grandpa dari—“

Wait, memanah?” tanya Tiffany kaget. Bahkan bukan hanya tiffany, semua saudaranya dan kedua orang tuanya memandang nya tak percaya.

Calista tak menyadari tatapan itu, dia mengangguk semangat kemudian menceritakan ceritanya lagi, “Setiap sekolah ku mengadakan liburan. Pasti aku berlatih memanah dengan grandpa. Grandpa berkata bahwa Daddy sangat suka memanah, jadi dari kecil dulu aku belajar memanah.”

“Jadi kau belajar memanah karena Daddy?” tanya Raja Nathan sambil menatap Calista dengan penuh senyuman. Nathan benar-benar senang ternyata ada yang menuruni salah satu hobinya itu.

Actually, not Dad. But once upon a time, i see arrow and maybe i like it. Then, grandpa taugth me how to shoot properly. And now, archery is my hobby.” Jelas Calista sambil tersenyum.

Raja Nathan mengangguk senang dan mengelus kepala putrinya, “Kapan-kapan kita akan bermain bersama, oke?”

Calista membulatkan matanya dan sontak tersenyum bahagia, “Tentu saja, Dad! Aku sangat menanti itu!”

Ratu Elizabeth ikut tersenyum sambil mengelus kepala putrinya, “But dont forget my little princess, you should learn how to be as a princess, tomorrow.”

Calista mengangguk menatap ibunya, dia kemudian memberi hormat kepadanya ibunya dan berseru, “Ayay, Captain!”

Dan suasana makan keluarga bangsawan itu dilanjutkan oleh beberapa cerita dari Calista yang menceritakan aksi konyol dari Grandpa dan Grandma-nya juga ditimpali oleh cerita-cerita kebiasaan buruk dari Jessica, Tiffany dan Yuri yang diceritakan oleh Ratu Elizabeth.

…..

The little princess as know as child of Nathan King and Elizabeth is comeback. We dont have a reason why she’s comeback and the reason is the confirmed tomorrow. Welcome in New York, Princess Calista Im!’

Klik

Seorang lelaki berbadan tegap tersenyum sinis sambil mematikan televisi sesaat sesudah mendengar berita yang disampaikan oleh pembawa acara di salah satu acara dalam stasiun televisi. Kemudian dia duduk di kursi rodanya yang berhadapan langsung dengan jendela yang memperlihatkan pemandangan Kota New York pada malam hari.

“Aku tidak mengira, ternyata kau menunjukan keberanian mu, Nathan.” Ucap lelaki tegap itu sambil memegang sebuah bingkai foto yang tadi dia ambil di meja yang tepat berada di sebelah kursi-yang sekarang ia duduki. Dia mengelus bingkai foto itu perlahan kemudian menjatuhkan nya.

Bingkai foto itu pecah. Dia hanya menggertak giginya kemudian dia menekan tombol yang berada di mejanya. Beberapa menit kemudian datanglah seorang asisten pribadinya sambil memberi hormat kepadanya.

“Siapakah penjahat yang paling cerdik di kota ini?” Tanya lelaki itu sambil menatap asisten nya dengan penuh tanya. Asisten nya bingung dengan pertanyaan dari boss nya, dia kemudian sedikit berpikir dan tersenyum,

Richard Oh.”

 “Bisa kau beri sedikit informasi tentang dia?” Tanya lelaki itu dan dibalas anggukan dari asisten nya. Kemudian asisten nya mengambil sebuah tab yang berada di sakunya dan mencari tentang biodata dan asal-usul Richard Oh.

“Richard Oh memiliki nama asli Richard Fernando Oh. Lahir di New York pada tanggal 12 April 1994. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia dulu diasuh oleh bibi dan paman nya. Kemudian, dia menjadi anak nakal karena pergaulan nya. Juga—“

“Cukup, apa rekor kecerdikan nya?” Tanya lelaki itu sambil memotong pembicaraan asisten nya.

“Menghindar dari pusat polisi international New York, Membuat 6 bom di 6 negara, menghapus pelacakan dan dokumentasi dari South International Sherlock America, juga meng-hack akun penting milik Universal of Human Right.”

“Cukup pintar, apakah kau tau sekarang dia dimana?”

“Dia kemarin tertangkap di Los Angeles saat sedang berusaha untuk menghapus semua dokumentasi milik Kementrian polisi Los Angeles yang berhasil mengambil video dan foto dirinya pada saat dinegara itu. Dia sudah dikirim ke New York.”

“Bantu dia bebaskan diri, bawa dia kehadapan ku, juga jangan lupa tolong panggilkan salah satu cleaning service disini untuk membersihkan pecahan ini.”

Asisten itu sedikit terkejut kemudian hanya bisa mengangguk patuh dan segera mundur beberapa langkah dan melesat pergi.

Lelaki itu masih setia tersenyum sinis kemudian menghela napas lega, seolah setengah beban nya terangkat, “Your little princess in danger, Nathan.”

To Be Continued.

A/N: Hai!!! akhirnya ff ini kelar juga uh. pertama-tama, aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya kepada readers semua yang udah nungguin ff ini ( sebenernya ini ngarep, kaya berasa ada yang nunggu ff ini aja ) dan maaf ff ini bosenin, soalnya ini juga rada bosenin dikarenakan ini baru perkenalan para cast juga pelurus tentang latar belakang cerita ini.

Aku bener-bener ngebut buat ff ini, soalnya aku juga dikasih deadline ama beberapa blog juga buat lanjutin ff chapter ku yang lain, sekali lagi aku minta maaf. FF ini juga gapunya words yang panjang, soalnya udah otak udah gatau mau ngapain, tapi jari pengen ngetik aja. Emang keduanya gabisa diajak kompromi wkwkwk😀

Aku bener bener ngerasa bersalah sama kalian semua, bahkan sampe sekarang masih ada aja yang comment di trailer nya. pertama-tama aku gamau lanjut buat ff ini, tapi kayanya banyak yang nunggu, jadi aku gamau ngecewain kalian semua😀

Sebenernya ff ini udah bisa jadi lama banget tapi dikarenakan laptop ku eror dan semua data keformat. Jadi ilang deh, maka dari itu semua ff chapter yang udah aku siapin hilang, bahkan tugas penting pun juga ilang. duh sedih banget deh. Okay aku juga minta maaf buat bahasa inggris yang ngadat dan ancur, aku tau banyak yang salah because aku bener-bener eror jadi rada males buat ngerapihin😀

Aku gamaksa buat kalian kasih comment/like soalnya aku tau aku udah kecewain kalian. thanks for reading and i hope you love this fanfiction.

Regard, Pimthact.

71 thoughts on “Younger – 1

  1. Mana nih lanjutannyaa?? Ayo dong cepet dipost.. banyak yg nunggu nih..
    ceritanya keren, sayang klo ga dilanjut..

  2. I’ll can’t waiting this fanfic
    Oh god genre nya keren duh..
    Kerajaan,aku juga suka disini sehun jadi pembunuh?/ biar dapet feel nya gimana gitu*plakk*
    Update pliss thor^^

    Ditunggu yaa~

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s