(Freelance) Twoshot : IF (Take 2)

tumblr_m9hutxQFBk1rt21j5o1_r1_500

IF

by GreenAngel

 

Cast

Im Yoona | One of Exo’s member

Genre

Romance

Rating | Length | Warning

PG16 | Twoshoot | Typo bertebaran

Disclaimer

Based on my mind. Don’t claim as yours! Happy reading J

…….

Note : Kalian punya lagu Ra.D – I’m in Love ? Jika ya, you can play that song 🙂

 

Kau mungkin dapat mengelak.

Saat bibir mu berucap tidak, ketahuilah hati mu berkata sebaliknya.

Logika mu seringkali menyangkal, namun hati mu tahu yang sebenarnya.

Kau terlalu nyaman dengan keadaan. Hingga kau tak sadar, di sudut hati kau merasakannya.

Perasaan yang diam-diam menyergap tanpa bisa di cegah.

Dan kau sudah terbiasa.

 

–––

 

Suasana ruang tamu kediaman Im terasa canggung. Pandangan Tiffany menyelidik pada dua orang yang duduk di seberangnya. Beberapa saat lalu, Tiffany mendengar suara berisik dari arah teras rumahnya. Saat membuka pintu, Yoona berada di atas tubuh seorang pria yang tak ia kenal. Sementara tangan pria itu melingkar di pinggang adiknya.

 

Apa yang mereka lakukan disana dengan posisi seperti itu saat malam hari?

 

Ia tak habis pikir dengan kelakuan dua orang dewasa yang kini sibuk dengan urusan masing-masing. Yoona yang menatap khidmat pajangan buah di atas meja, sedangkan pria itu sesekali mengusap tengkuknya.

 

“Jadi katakan pada ku apa yang aku lihat tak seperti apa yang aku pikirkan, kan?” Tiffany mengeluarkan suaranya setelah menit-menit berlalu dalam hening.

 

Kedua orang itu serta merta tergagap, tak menyangka akan pertanyaan yang tiba-tiba.

 

“Tentu saja bukan eonni. Aku tak sengaja terjatuh dan kebetulan ia menangkap ku.” Jawab Yoona sambil menunjuk pria di sampingnya.

“Baiklah. Aku akan menganggapnya demikian,” Tiffany mengedikkan bahunya kemudian pandangannya menatap penasaran pada pria yang menurutnya memiliki senyum aneh. “Lalu siapa dia?”

 

“Maafkan aku karena lupa mengucapkan salam. Annyeonghaseyo, nama ku–”

 

“Dia Smiley. Aku yakin eonni sudah dengar dari eomma dan appa.” Sambar Yoona cepat.

 

“Oh! Apakah dia putra Jaehyun ahjussi dan Minri ahjumma? Dia pria yang dijodohkan dengan mu bukan?” tanya Tiffany sambil terkikik pelan. Seketika suasana berubah menjadi lebih santai, tak secanggung sebelumnya.

 

“Sebenarnya perjodohan sudah dibatalkan, noona.” Smiley berucap dengan senyum khasnya.

 

“Benarkah? Bagaimana bisa?”

 

“Ceritanya panjang eonni. Aku dan Smiley memang dekat dan kami merasa cocok satu sama lain. Tapi bukan sebagai pasangan, hanya sebagai sahabat.”

 

Yoona menerawang jauh. Pikirannya terbang ke beberapa waktu lalu, saat ia dan Smiley memutuskan untuk menolak perjodohan. Beruntung kedua orang tua mereka dapat mengerti dan mendukung apapun pilihan mereka. Meskipun hal itu membuat kedua orang tua mereka kecewa.

 

Tiffany mengangguk paham. Mungkin Yoona dan Smiley tidak ditakdirkan untuk bersama, lebih tepatnya belum. Entah mengapa ia merasa bahwa antara Yoona dan Smiley terjalin hubungan tak kasat mata yang bahkan mereka sendiri tak menyadarinya. Tiffany mengangkat alisnya saat ia melihat sorot mata yang ditujukan keduanya satu sama lain.

 

“Oh maaf aku lupa. Aku Tiffany, kakak Yoona. Sayang sekali kau gagal menjadi adik ipar ku, padahal aku menyukai mu.”

 

Perkataan Tiffany membuat Smiley tertawa pelan. “Aku tidak tahu bahwa Yoona memiliki seorang kakak.”

 

“Tentu saja, pasti Yoona merasa takut jika teman laki-lakinya menyukai ku karena aku lebih cantik darinya.”

 

“Yak! Eonni, sudah jelas bahwa aku lebih cantik dari mu!” dengus Yoona.

 

Tiffany tertawa keras. Ia tahu adiknya tak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Tapi ia ingin sekali menggoda adik satu-satunya itu. Yoona akan memasang muka masam dan berkacak pinggang saat kesal. Hal sederhana yang membuatnya rindu akan tingkah Yoona.

 

Tiffany hendak membujuk Yoona yang merajuk, namun niatnya terhenti saat tangan Smiley mengusap kepala Yoona dengan lembut. “Noona hanya becanda. Kau wanita paling cantik yang pernah aku temui.”

 

Ucapan Smiley membuat Yoona terkejut dan tak lama kemudian mukanya memerah. Smiley merasakan perubahan sikap Yoona segera menarik tangannya. Menyadari bahwa apa yang ia ucapkan di luar apa yang ia pikirkan. Keduanya melirik canggung satu sama lain. Dan hal itu tertangkap oleh mata Tiffany. Senyumannya mengembang saat menyadari bahwa apa yang ia pikirkan sejak tadi memang benar.

 

–––

 

Yoona membuka pintu perlahan dan melangkahkan kakinya di ruangan Smiley. Tak ada orang di ruangannya. Jangan katakan bahwa ia tak sopan. Sebelumnya sekretaris yang berada di depan ruangan sudah mempersilahkan masuk dan ia sudah mengetuk beberapa kali pintu ruangan namun tak ada jawaban.

 

Yoona melihat-lihat meja kerja Smiley yang diatasnya terdapat beberapa berkas, desain game dan laptop menyala yang setengah terbuka. Ia duduk dan menegakkan layar laptop. Tatapannya jatuh pada foto wallpaper yang terpasang.

 

Smiley yang merangkul mesra seorang wanita disampingnya. Mereka terlihat bahagia di foto tersebut. Wallpaper tersebut berubah menampilkan foto berikutnya. Wanita yang sedang tertawa dan Smiley yang menatapnya sambil tersenyum. Sepertinya foto itu diambil secara candid, batinnya. Layar laptop kembali berubah, kali ini menampilkan wanita yang bersandar di pundak sang pria. Yoona mempertajam penglihatannya. Ia yakin wanita yang ia lihat adalah wanita yang sama seperti foto-foto sebelumnya, tapi pria itu bukan Smiley. Lalu siapa pria itu?

 

“Kau sudah lama menunggu?”

 

Sebuah suara membuat Yoona kaget dan ia segera menutup layar laptop. Sesekali tatapannya bergantian ke arah Smiley dan laptop. Takut tertangkap basah karena melihat-lihat hal yang sebenarnya tak perlu ia ketahui.

 

Smiley yang menangkap gelagat Yoona hanya tersenyum mengerti. “Kau sudah melihatnya?”

 

“A-apa?” Yoona tergagap.

 

“Kau pasti sudah melihatnya.”

 

Yoona menunduk saat menyadari maksud pertanyaan Smiley. “Maaf. Aku tak sengaja melihatnya.”

 

Smiley melangkah menuju meja kerjanya dan menegakkan layar laptopnya. Wallpaper laptop kembali ke foto awal. Seorang wanita dan Smiley yang merangkul wanita itu. Smiley tersenyum menatap wallpaper foto dihadapannya.

 

“Ia cantik. Kau mencintainya?” tanya Yoona pelan saat Smiley hanya memfokuskan perhatiannya pada foto itu.

 

“You know it.”

 

Yoona menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan Smiley. Pria itu memang tersenyum seperti biasa, tapi ia yakin dengan sangat bahwa senyumannya kali ini terasa berbeda.

 

“Lalu siapa pria itu? Aku rasa itu bukan kau.” Yoona bertanya penasaran saat wallpaper berganti menjadi wanita yang bersandar di pundak sang pria.

 

Ada jeda yang lama sebelum Smiley menjawab. “Pria itu tunangannya. Sungguh pria itu sangat beruntung.”

 

Yoona tak tahu harus merespon apa. Ia kira Smiley dan wanita itu menjalin hubungan yang spesial. Ia pernah beberapa kali melihat Smiley dengan wanita itu di tempat berbeda. Bahkan Smiley pernah mengenalkan wanita itu kepadanya saat mengunjungi butiknya.

 

Mengetahui bahwa orang yang kau suka akan menikah dengan orang lain tentu sangat menyakitkan bukan? Yoona menepuk pundak Smiley perlahan. Mengerti akan perasaan pria itu. Smiley memejamkan matanya dan berucap lirih. “Wanita itu tak menyadari bahwa aku mencintainya. Wanita bermarga Choi itu membuat ku hampir gila.”

 

–––

 

“Apa kau baik-baik saja?”

 

Smiley mengalihkan perhatiannya. “Kau bilang apa barusan?”

 

“Barusan?” Yoona menutup buku gambarnya. Menatap fokus pada pria yang duduk di sofa ruang kerjanya. “Aku bahkan sudah memanggil mu berulang kali.”

 

“Maaf aku tak mendengarnya.” sesalnya.

 

“Tentu saja kau tak mendengarnya. Raga mu memang berada disini tetapi jiwa dan pikiran mu ada di tempat lain.”

 

Yoona bangkit dari kursinya menuju sofa. Beberapa jam yang lalu tiba-tiba Smiley mendatangi butiknya. Ia pikir Smiley ingin membicarakan sesuatu. Tetapi satu-satunya hal yang pria itu lakukan sejak tadi adalah duduk diam tanpa berbicara sedikit pun.

 

Terhitung sejak satu setengah tahun yang lalu mereka bersahabat. Dan hal itu membuat Yoona paham akan seluk-beluk diri Smiley. Ia paham dengan kondisi patah hati yang dialami sahabatnya itu. Tapi demi Tuhan ia tak menyukai Smiley yang lebih banyak diam beberapa hari terakhir.

 

“Dengar Smiley. Patah hati merupakan hal yang biasa. Setiap orang pasti pernah mengalaminya dan saat ini kau salah satu dari sekian banyak orang tersebut. Aku tahu hal itu membuat hidup mu agak berubah. Tapi bisakah kau melupakannya?”

 

Yoona menatap Smiley, karena tak mendapat respon ia pun melanjutkan. “Oke aku tahu tak semudah membalikkan telapak tangan saat aku meminta mu melupakannya. Tapi, maukah kau bersedia melakukannya? Setidaknya kau sudah memiliki niat. Relakanlah Smiley, kau tak bisa bersamanya. Kau tahu itu. Relakan, jalani hidup mu seperti biasanya dan aku yakin kau akan terbiasa.”

 

Smiley menyunggingkan senyum kecil di wajahnya. Memikirkan apa yang Yoona katakan.

 

“Awalnya memang terasa menyesakkan. Orang itu akan selalu ada dipikiran mu. Kau akan berpikir ribuan kali atas apa yang terjadi. Kau akan berulang kali menanyakan pada dirimu sendiri apa yang pria itu miliki sementara kau tidak. Kau akan terus seperti itu selama beberapa waktu. Tapi waktu pula lah yang membuat mu sedikit demi sedikit bangkit dan mulai melangkah melupakannya. Percaya padaku, kau akan terbiasa dan kau bisa merelakannya. Masih banyak wanita di dunia ini dan Tuhan pasti menyiapkan yang terbaik untuk mu diantara mereka.”

 

Jeda beberapa saat hingga akhirnya Smiley tersenyum dan berucap. “Terima kasih Yoong. Kau sahabat yang bisa ku andalkan.”

 

“Astaga. Kalimat apa yang aku ucapkan tadi? Aku seperti ahli percintaan saja. Padahal kekasih pun aku tak punya.” ucap Yoona sambil terkekeh pelan. Hal itu membuat Smiley tertawa dan mengusap lembut rambut wanita disampingnya.

 

–––

 

Yoona memutuskan untuk mengajak Smiley berbelanja untuk mengurangi kesedihannya. Tapi sepertinya rencananya sangat tidak berhasil. Terbukti dengan Smiley yang secara asal mengambil barang dan meletakkan kedalam trolli. Sudah berkali-kali Yoona mengembalikan barang yang diambil Smiley ke rak. Ia mengerti dengan apa yang dialami Smiley, tapi setidaknya pria itu tidak perlu bertingkah seperti itu.

“Yak! Kau tak perlu membeli itu!” dengan kesal Yoona meletakkan kembali barang yang diambil Smiley ke rak semula.

 

Yoona merebut kekuasaan atas trolli dari Smiley. Kesal akan tingkah pria itu sedari tadi. Ia melanjutkan acara belanjanya. Tak peduli dengan Smiley yang tertinggal di belakang. Ia pun membuka kertas daftar belanjanya dan mendorong troli ke rak makanan kaleng.

 

Sayangnya makanan kaleng yang ingin ia ambil terletak di rak paling atas. Ia hendak meminta bantuan pramuniaga yang bertugas namun ia tak menemukan satu pun. Dengan terpaksa ia berjinjit berusaha meraihnya. Bahkan ia sampai melompat-lompat karena tangannya yang tak sampai.

 

Tiba-tiba ada tangan yang terulur mengambil makanan kaleng tersebut dan meletakannya kedalam trolli Yoona. Yoona menatap bingung pada pria yang membantunya.

 

“Seharusnya kau meminta bantuan orang lain kalau tidak bisa. Dasar pendek!” ucap pria itu sambil tersenyum.

 

“Huh? Kau sudah sadar?”

 

“Tentu saja aku sadar. Jika tidak, aku tidak akan menemani mu berbelanja. Aku hanya ingin mengerjaimu saja tadi.” Smiley tertawa melihat ekspresi bingung yang Yoona tunjukan.

 

Yoona yang menyadari hal itu hanya mendengus. “Pabo! Kau seperti tak bernyawa tadi karena mengambil barang secara asal. Dan aku tidak pendek!”

 

Smiley tersenyum melihat reaksi Yoona. Ia sangat beruntung memiliki sahabat seperti Yoona. Mereka memang sudah mengenal lama sejak masa sekolah, tapi mereka tak terlalu dekat. Hingga mereka dipertemukan kembali.

 

Smiley mengikutinya berjalan menuju kasir. Entah kenapa setiap kali ia berada di dekatnya, ia merasa nyaman. Bersamanya semua terasa menyenangkan. Walaupun hanya melakukan hal kecil, tapi ia sangat menikmatinya. Bersamanya semua terasa lebih mudah. Ia tak perlu menyesuaikan diri. Cukup menjadi diri sendiri dan Yoona selalu bisa menerimanya.

 

–––

 

“Apa orang tua mu ada di rumah?” tanya Smiley sambil mengeluarkan belanjaan dari bagasi mobilnya.

 

“Aku rasa mereka sedang pergi. Bibi Han sedang libur bekerja dan hanya ada Tiffany eonni di rumah.”

 

Mereka berjalan menuju dapur dengan membawa belanjaan di tangan masing-masing. “Aku baru ingat, kenapa Tiffany noona tak hadir saat makan malam beberapa bulan yang lalu?”

 

“Ah saat itu eonni tak berada di Korea. Ia tinggal dengan Nichkhun oppa – suaminya – yang bekerja di California.”

 

“Ah begitu.”

 

Sesampainya di dapur, mereka meletakkan barang belanjaan di atas meja. Yoona segera menata belanjaannya.

 

“Apa kau lapar?”

 

Smiley berdecak kagum. “Woah bagaimana kau tahu kalau aku lapar?”

 

Yoona tertawa sambil melihat-lihat isi kulkasnya. “Suara perut mu sangat berisik. Jadi kau ingin makan apa?”

 

“Apa saja. Kau bisa memasak, kan?”

 

Yoona berbalik menghadap Smiley yang duduk di meja makan. Alisnya mengerut. “Tentu saja aku bisa. Kau akan ketagihan setelah mencicipi masakan buatan ku.”

 

“Baiklah baiklah. Cepat masak nona Im. Aku sangat kelaparan.”

 

“Huh dasar!”

 

Yoona kembali mengobrak-abrik isi kulkasnya mencari bahan makanan yang sekiranya bisa di masak. Ia mengeluarkan beberapa buah kentang, wortel, sayuran dan irisan daging. Sepertinya sup makanan yang tepat untuk malam ini, pikirnya.

 

Yoona segera mencuci bahan-bahan yang diperlukan. Sesekali Yoona melirik Smiley yang menyandarkan kepalanya di meja makan. Sebenarnya ia merasa sedikit aneh karena tiba-tiba saja Smiley tak berisik seperti biasanya.

 

“Apa kau sakit Smiley?”

 

Tak terdengar jawaban. Yoona mengedikkan bahunya. Berasumsi mungkin Smiley sedang tak ingin diganggu atau mengganggu. Ia pun melanjutkan mengiris kentang.

 

“Apa aku boleh meminta bantuan mu?”

 

Yoona mencari sumber suara. Sedikit kaget saat melihat Smiley yang berdiri di sampingnya.

 

“Huh? Bantuan apa?”

 

“Berjanjilah kau tak akan menolaknya.”

 

“Baiklah. Apa yang bisa aku bantu?”

 

“Aku butuh sandaran.”

 

Yoona mengerutkan keningnya, tak paham akan ucapan Smiley. “Sandaran?”

 

Nafas Yoona tercekat. Tangannya yang memotong sayuran berhenti secara tiba-tiba. Matanya terpaku pada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya dan ia merasakan beban di pundaknya.

 

“Ya Tuhan Smiley! Apa yang kau lakukan?”

 

Smiley mengangkat kepalanya dari pundak Yoona dan tersenyum polos. “Biarkan seperti ini. Jebal. Kau sudah berjanji tadi.”

 

Yoona menghembuskan nafasnya kesal. Akhirnya ia menyerah. Membiarkan Smiley memeluk tubuhnya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak Yoona. Bahkan saat Yoona bergerak kesana kemari, Smiley dengan setia mengikutinya. Masih dengan posisi seperti tadi.

 

“Mau sampai kapan kau memeluk ku, huh?” tanya Yoona sambil mengaduk-aduk supnya.

 

Smiley tak menjawab. Ia memperat pelukannya. Katakan bahwa dia aneh, memeluk seseorang yang sedang memasak dan mengikutinya kemanapun. Tapi percayalah, ia sangat menyukai hal itu. Terasa sangat nyaman.

 

“Coba kau cicipi rasanya.” Yoona mengulurkan tangannya yang memegang sendok kecil. Smiley mengangkat kepalanya dan merasakan sample sup buatan Yoona.

 

“Bagaimana?” tanya Yoona penasaran.

 

“Enak! Aku suka. Aku tak menyangka kau benar-benar bisa memasak.” Smiley tersenyum menatap Yoona, begitu pun sebaliknya. Tiba-tiba senyuman lenyap dari wajah Smiley, ia menyadari bahwa wajahnya sangat dekat dengan wajah Yoona.

 

Smiley menatap iris madu milik wanita dipelukannya. Seakan tersihir Yoona terpaku pada sepasang bola mata nan teduh milik Smiley.

 

Tanpa mereka sadari, wajah keduanya semakin mendekat. Bahkan mereka dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. Semakin dekat. Hingga mereka saling memejamkan mata.

 

“Astaga! Apa yang kalian lakukan?!”

 

Keduanya sontak membuka mata dan menjauh. Yoona memegang bibirnya. Tak percaya dengan apa yang ia lakukan. Ia hampir mencium Smiley.

 

Kondisi Smiley tak jauh berbeda dari Yoona. Ia benar-benar tak mempercayai apa yang ia lakukan. Ia memeluk Yoona dan hampir menciumnya.

 

“Katakan pada ku bahwa apa yang aku pikirkan salah.” Keduanya menoleh ke Tiffany yang berdiri tak jauh dari mereka sambil bersedekap.

 

–––

 

“Kau suka gaunnya?”

 

Jinri mengangguk senang. Ia sibuk mengagumi hasil rancangan gaun pengantin yang ia pesan beberapa bulan yang lalu. Memang benar, kemampuan Yoona dalam menghasilkan pakaian yang simple tapi elegan tak diragukan lagi.

 

Yoona mengajak Jinri ke bilik ganti. Sesaat setelah Jinri mengenakan gaunnya, Yoona berdecak puas. Gaun itu terlihat sangat pas di tubuh jenjang Jinri.

 

“Calon suami mu pasti akan terpesona saat melihat mu berjalan di altar.” Goda Yoona.

 

Jinri tersenyum malu. “Kau bisa saja eonni. Aku benar-benar suka dengan rancangan mu. Aku yakin Smiley oppa akan senang melihatnya.”

 

“Hei, kau kenapa?” tanya Yoona saat raut wajah Jinri berubah sendu secara tiba-tiba.

 

“Bukan apa-apa eonni. Aku hanya merasa Smiley oppa sepertinya menjauhi ku.”

 

Yoona terdiam. Tak tahu harus membalas apa. Tak mungkin bukan ia membeberkan mengenai patah hati Smiley pada gadis di hadapannya?

 

“Mungkin ia sedang sibuk. Kau tahu sendiri jika ia punya banyak pekerjaan.” ucap Yoona setelah ia mencari alasan yang masuk akal.

 

“Lalu kapan acara pernikahan mu dilaksanakan?” Yoona berusaha mengalihkan pembicaraan.

 

Jinri menepuk dahinya pelan dan merogoh isi tasnya. “Maafkan aku eonni. Aku lupa memberikan undangan pernikahan. Untung saja aku membawanya hari ini.”

 

Yoona mengambil undangan yang diberikan Jinri. “Dua minggu lagi kau akan menikah? Wah congratulations!”

 

“Terima kasih eonni. Kau harus datang ke acara pernikahan ku.”

 

Yoona mengamati sampul depan undangan, lebih tepatnya pada nama dua orang yang akan disatukan melalui janji suci.

 

–––

 

“Woahhhh kebun mu luas sekali.”

 

Yoona menghentikan kegiatannya. Ia mengusap peluh di dahinya, menatap heran pada orang yang entah bagaimana bisa berada disini. “Apa yang kau lakukan disini?”

 

“Aku tak tahu keluarga mu memiliki kebun dibelakang rumah. Tak banyak orang Seoul yang suka berkebun, apalagi memiliki kebun seluas ini.”

 

Sebenarnya ucapan Smiley tak menjawab pertanyaannya. Namun ia tak ambil pusing. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu secara tiba-tiba tanpa mengenal waktu dan tempat. Ia pun lebih memilih melanjutkan kegiatannya.

 

“Apa yang kau lakukan Yoong?”

 

“Aku akan mengatakannya jika kau mau membantu ku.”

 

“Baiklah. Apa?”

 

“Tunggu. Kau harus memakai sarung tangan dan jangan lupa bawa sekop.” Yoona menunjuk ke tempat benda tersebut berada. Smiley beranjak menuruti keinginan Yoona.

 

“Lalu? Aku harus apa?” tanya Smiley saat ia siap dengan sarung tangun dan sekop di tangannya.

 

Yoona menyerahkan beberapa pot penyemaian. “Bawa ini ke rumah kaca. Aku akan menjelaskan nanti. Ada sesuatu yang harus aku ambil.”

 

Smiley melangkahkan kakinya menuju rumah kaca. Ia mengagumi setiap tanaman yang ada. Ia ingat Yoona pernah mengatakan bahwa ia suka berkebun dan memiliki lahan satu hektar dibelakang rumahnya. Saat itu Smiley hanya tertawa tak percaya. Jika Yoona tinggal di daerah pedesaan mungkin Smiley akan percaya. Tapi Yoona tinggal di Seoul. Mana mungkin ada kebun yang bahkan lebih luas dari pada rumah yang ia tinggali?

 

“Sepertinya aku harus menarik ucapan ku dulu.” Gumam Smiley. “Bahkan setelah melihat langsung aku masih tak percaya ada kebun seluas ini di Seoul.”

 

Smiley meletakkan pot persemaian yang ia bawa. Yoona datang dengan membawa beberapa pupuk dan menaruhnya.

 

“Aku ingin menanam anggrek. Kau harus membantu ku.”

 

Yoona memberikan contoh bagaimana menanam anggrek. Ia memindahkan batang anggrek yang berusia beberapa bulan ke dalam pot yang telah ia siapkan. “Kau harus memperlakukannya seperti anakmu sendiri. Bibitnya rentan rusak jika kau tak hati-hati.”

 

Smiley mengikuti dengan patuh semua yang Yoona lakukan. Mereka bekerja dalam hening hingga Yoona membuka suara. “Jadi, apa alasan mu yang sebenarnya mengunjungi ku?”

 

“Ternyata kau sudah sangat mengenal ku Yoong,” Smiley tmengeluarkan tawa kecilnya. “Ini mengenai undangan pernikahan Jinri.”

 

“Kau mau aku menemani mu, begitu?”

 

Smiley menggangguk atas pertanyaan Yoona.

 

“Baiklah. Jinri juga mengundang ku. Kalau begitu besok kita berangkat bersama. Dan kau harus menjemput ku.”

 

Smiley hanya mengangguk. Ia sibuk mencampurkan tanah dengan pupuk yang akan ditambahkan ke dalam pot.

 

“Oiya, dimana Tiffany noona? Aku tak melihatnya tadi. Biasanya noona akan berkeliaran di rumah mu.”

 

“Mungkin eonni sedang jalan-jalan dengan Nichkhun oppa yang sedang libur. Kapan lagi mereka bisa menghabiskan waktu bersama kecuali weekend atau hari libur.”

 

“Sebenarnya aku agak takut dengan noona,” Chanyeol menggaruk tengkuknya canggung. “Kau tahu karena malam itu aku tak sengaja hampir menciummu.”

 

Yoona memukul pelan kepala Smiley dengan sekop. “Yak! Itu salah mu sendiri! Mana ada kakak yang membiarkan adiknya dicium orang yang bahkan bukan kekasihnya?!”

 

“Aku tak bermaksud sungguh. Kau mungkin tak percaya, aku bahkan masih tak mengerti kenapa aku melakukan hal itu.”

 

“Sudahlah. Lupakan saja. Aku tahu kau melakukannya karena kau sedang berduka saat mengetahui wanita yang kau suka akan menikah dengan orang lain.”

 

Yoona segera tersadar bahwa ia melempar bom waktu. Dengan gelisah ia meletakkan sekopnya dan melirik Smiley. Ia merasa bersalah saat melihat wajah Smiley yang murung. Sungguh ia tak sengaja mengatakan hal itu. Ia hanya asal bicara dan ia menyesalinya.

 

“Maaf. Aku–”

 

“Tidak apa-apa.” Smiley memotong ucapan Yoona.

 

Suasana canggung menyelimuti mereka. Yoona merasa waktu berjalan lama. Ia ingin memecah keheningan, tapi terlalu takut untuk memulai. Ia sadar bahwa ia yang membuat suasana menajdi seperti ini.

 

“Berhentilah menatap ku seperti itu.” Smiley tersenyum.

 

Yoona tergagap. “Umm… Kau yakin mau datang besok?”

 

“Aku tak punya pilihan lain. Jinri pasti sangat sedih jika aku tak datang. Terlebih lagi aku sangat menyanyanginya jadi aku tak mau mengecewakannya.”

 

–––

 

Suara alunan piano mengiringi langkah kaki Jinri menuju altar yang didampingi ayahnya. Ia sangat cantik dan anggun. Senyuman tak pernah terlepas dari wajahnya. Senyumnya semakin lebar saat ia berjalan melewati Smiley yang berdiri di baris ketiga dengan Yoona disampingnya.

 

Langkahnya berhenti saat ayahnya menyerahkan putri semata wayangnya kepada mempelai pria, Kim Jongin. Mereka berdiri tepat di hadapan pendeta. Mengucapkan ikrar suci atas nama Tuhan.

 

Dan saat Jongin menciumnya lembut sesaat setelah ikrar, ia merasakan kebahagiaan tak terkira disertai dengan tepuk tangan meriah tamu undangan yang datang.

 

Tak jauh dari pasangan berbahagia tersebut, Smiley menatap sedih. Yoona yang menyadari hal itu mengikuti arah pandangan Smiley. Ia menggenggam tangan Smiley, berusaha menguatkannya.

 

–––

 

Seperti yang Yoona katakan. Semua akan baik-baik saja. Ia masih bisa mengingat dengan jelas masa dimana pikirannya dipenuhi oleh wanita yang sudah menjadi milik orang lain. Melihat mereka bersama semakin terasa menyakitkan. Seiring dengan berjalannya waktu, ia terbiasa. Ia sudah bisa menerima keadaan. Ia sudah bisa bangkit dan melangkah. Meninggalkan semua kenangan menyakitkan itu. Ia bahkan tersenyum saat mengingat masa-masa itu. Masa penyembuhan luka di hatinya.

 

Seperti yang Yoona katakan. Ia benar-benar terbiasa. Tak ada lagi sorot mata terluka saat ia tak sengaja melihat mereka bersama. Tak ada lagi sorot mata penuh kecewa saat melihat mereka bermesraan. Dengan hati ringan, akhirnya ia bisa mendoakan agar kebahagiaan selalu meliputi mereka.

 

Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Smiley meraih benda yang tergeletak di meja kerjanya. Melihat ada satu pesan masuk.

 

From: Yoongie-ya

Kau akan mentraktir ku makan siang, kan? Aku menunggu mu di tempat biasa. Cepat! Aku sudah lapar hahahaha

 

Smiley mengetikkan balasan dengan cepat dan segera bangkit meraih kunci mobilnya. Senyum mengiringi langkahnya. Ia tak sabar ingin bertemu Yoona. Sudah dua minggu mereka tak bertemu karena Smiley yang harus keluar kota menyelesaikan proyek game terbarunya. Sedangkan Yoona, ia sibuk dengan pergelaran fashion yang akan diadakan sebulan lagi di New York.

 

“Kau sudah lama menunggu?”

 

Yoona membolak-balik buku menu. “Tidak juga. Kau ingin pesan apa?”

 

“Apa saja. Samakan saja dengan mu.”

 

Yoona memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya. Setelah pelayan pergi, mereka mengobrol seperti biasa. Saling bertukar cerita setelah dua minggu tanpa bertemu.

 

Smiley memandangi Yoona yang tertawa di sela-sela ceritanya. Sebenarnya ia tak terlalu memperhatikan apa yang Yoona ucapkan. Ia hanya mengangguk sesekali seakan ia benar-benar mendengarkan.

 

Sudah berapa lama ia tak melihat Yoona? Mengapa terasa lama seperti bertahun-tahun padahal hanya dua minggu. Ia tak tahu apa yang terjadi dengannya akhir-akhir ini. Ia lebih sering memikirkan Yoona. Bertanya-tanya pada diri sendiri apa yang wanita itu lakukan selama ia di luar kota. Apakah wanita itu juga merindukannya? Tunggu dulu. Rindu? Apa ia merindukan Yoona? Ia menggeleng berusaha menolak apa yang ia pikirkan. Tidak mungkin ia merindukan Yoona.

 

“Kau kenapa Smiley?”

 

Smiley tersadar. Yoona melihatnya dengan tatapan bingung. “Oh a-aku umm leher ku pegal.”

 

Yoona menatap tak percaya sementara ia tersenyum gugup dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Melakukan peregangan leher senatural mungkin agar Yoona tak curiga. Beruntung Yoona tak mempermasalahkannya, wanita itu kembali melahap makanannya.

 

Smiley menghembuskan napas lega. Sambil memakan makanannya dengan tenang, ia kembali memikirkan perasaannya akhir-akhir ini. Harus ia akui bahwa ia agak moody saat berjauhan dengan Yoona. Ia bukan pria bodoh, ia tahu dengan pasti perasaan macam apa yang menghinggapi hatinya. Namun ia terlambat menyadarinya.

 

Ia terbiasa dengan Yoona disekitarnya. Ia terbiasa dengan kunjungan Yoona tiba-tiba di rumahnya. Ia terbiasa menyaksikan orang tuanya berbicara hangat saat wanita itu makan malam di rumahnya. Ia terbiasa melihat Yoona yang membuka pintu ruang kerjanya dan menariknya untuk makan siang. Ia terbiasa mengganggu Yoona saat mengerjakan desain gambar. Ia terbiasa diledek Tiffany noona saat ia dan Yoona melakukan skinship. Ia terbiasa dengan celotehan wanita itu saat sedang senang. Ia terbiasa dengan sikap acuh wanita itu saat sedang badmood. Ia terbiasa saat wanita itu merajuk agar ia mengabulkan keinginannya. Ia sudah sangat terbiasa hingga kenyataan menghantamnya. Ia terbiasa dan sudah terlalu nyaman hingga tak menyadari ada sebentuk perasaan hangat yang menyentuh hatinya.

 

Ia menatap Yoona yang duduk di hadapannya. Ia tersenyum. Tangannya terulur menuju sudut bibir Yoona, mengusap pelan untuk membersihkan makanan yang menempel.

 

“Kau makan seperti anak kecil saja. Berantakan sekali.”

 

Yoona tersenyum. Senyum yang biasa wanita itu tunjukkan. Namun kali ini semua terasa berbeda, ia terpaku. Entah mengapa ia tak ingin jika wanita itu menunjukkan senyumnya untuk pria lain. Hanya ia yang boleh melihat senyum itu.

 

Ada yang berbeda dan ia menyadarinya, lebih tepatnya terlambat untuk menyadari. Entah bagaimana, wanita itu selalu bisa membuatnya tersenyum. Entah bagaimana, wanita itu selalu mengisi pikirannya. Dan entah bagaimana, wanita itu secara perlahan telah mengisi hatinya.

 

Ia menyadarinya. Perasaan yang hinggap dengan nyaman di sudut hatinya kini membuncah keluar. Mengirimkan berjuta-juta kehangatan ke setiap sel di tubuhnya. Bahkan hanya melihat senyum wanita itu sudah membuatnya seperti ini. Ia benar-benar menyadarinya. Bahwa ia mencintai wanita itu, Im Yoona.

 

–––

 

“Ku rasa desainnya terlalu berlebihan. Ada beberapa bagian yang harus dikurangi.” Yoona menunjuk ke bagian yang ia maksud.

 

“Baiklah. Oh iya aku hampir lupa, aku sudah memesan tiket pesawat ke New York. Tiga hari lagi kita berangkat.” Yuri berjalan menuju sofa dan merenggangkan tangannya.

 

Sudah beberapa minggu ini, ia dan Yoona merancang desain pakaian yang akan dipamerkan di perhelatan akbar fashion terkemuka. New York Fashion Week. Hanya mereka desaigner dari Korea Selatan yang diundang. Tentunya hal itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.

 

“Oke. Aku lelah sekaliiiii. Berulang kali mengganti konsep rancangan.” Yoona memijit keningnya perlahan.

 

Ponselnya bergetar dan ia mendapati ada pesan masuk.

 

From : Always Sunshine Smiley J

Kau masih bekerja? Jika sudah selesai aku akan menjemput mu😀

 

Yoona mengetikkan balasan sambil tersenyum. Hal itu membuat Yuri penasaran. “Dari siapa?”

 

“Smiley.”

 

Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di benak Yuri. Sebenarnya ia sudah mencurigai kedekatan mereka. Ia masih menyayangkan perjodohan mereka yang batal, padahal keduanya serasi satu sama lain. “Kau menyukainya?”

 

“Apa? Siapa menyukai siapa?”

 

Yuri merotasikan bola matanya kesal. “Tentu saja kau. Kau dan Smiley. Kalian saling menyukai kan?”

 

“Apa yang kau bicarakan? Sangat tidak masuk akal.”

 

Yuri menyerah. Sudah berkali-kali ia menanyakan hal itu dan sudah berkali-kali pula Yoona mengelaknya. Gadis itu bodoh atau apa sih, pikir Yuri.

 

–––

 

“Bagaimana pekerjaan mu?” tanya Smiley saat Yoona masuk ke dalam mobilnya.

 

“Sangat sibuk. Tiga hari lagi aku akan ke New York.”

 

“Apa? New York?”

 

“Iya New York. Aku sudah menceritakannya pada mu dulu. Kau pasti lupa.”

 

Smiley terkekeh pelan. “Ingin jalan-jalan sebentar?”

 

“Emm..baiklah.”

 

Smiley melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suara radio mengiringi obrolan mereka. Sesekali mereka menyanyikan lagu yang diputar. Smiley menghentikkan mobilnya dan beranjak keluar.

 

“Jadi kau mengajakku ke taman?” tanya Yoona usai menutup pintu mobil.

 

“Udaranya sangat segar. Bisa menjernihkan pikiran.” Smiley menarik lembut tangan Yoona. Mengajaknya duduk di bangku taman yang tersedia.

 

Smiley merasa gugup. Entah kenapa ia sering gugup saat berada di dekat Yoona. Ia tahu dengan pasti alasannya, tapi ia tak pernah segugup ini. Tadi Yoona memberitahunya bahwa ia akan pergi. Itu berarti Smiley harus menjalankan rencana yang ia persiapkan.

 

“Kau tunggu disini sebentar.” Setelah mengatakan itu, Smiley berlari kecil menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh.

 

Yoona hanya mengedikkan bahunya acuh. Ia menatap langit malam yang berwarna hitam pekat. Tanpa ada satupun bintang dan bulan yang bersinar. Ia terperanjat saat tiba-tiba Smiley sudah berdiri di hadapannya. Kapan ia tiba? Pikirnya bingung.

 

Yoona semakin bingung saat Smiley mengeluarkan tangan yang sebelumnya ia sembunyikan di balik punggungnya. Ia melihat buket bunga di genggaman pria itu. Dengan ragu, Yoona menerimanya.

 

“Kenapa kau memberi ku bunga?”

 

Tak lama kemudian. Smiley memegang tangan Yoona yang bebas dan menciumnya. “Mawar terlalu biasa untuk wanita seperti mu. Daisy terlalu biasa untuk wanita seperti mu. Lili terlalu biasa untuk wanita seperti mu. Aku rasa matahari cocok untuk wanita seperti mu. Aku mencintai mu. Would you be my girl?”

 

Yoona ternganga tak percaya atas apa yang Smiley lakukan. Ia tertawa dan memukul bahu pria itu. Sementara Smiley menatap bingung akan reaksi wanita dihapadannya.

 

–––

 

Yoona benar-benar tak mengerti apa yang terjadi dengan Smiley. Semalam pria itu mengatakan bahwa ia mencintainya. Apa pria itu bercanda? Dan Yoona hanya tertawa keras menanggapi ucapan Smiley. Ia berpikir bahwa Smiley hanya menggodanya saja. Tak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ya, itulah yang ia pikirkan. Namun ia salah.

 

Terbukti dengan Smiley yang tetap diam. Ia menyetir dan terus menatap ke depan. Tak sedikit pun menoleh ke arahnya. Yoona menatap bingung pria di kursi pengemudi itu. Tadi pagi saat menjemputnya pria itu tak mengatakan apapun. Sementara Yoona tidak terlalu menyadari perubahan sikapnya.

 

“Apa kau marah pada ku karena semalam?” tanya Yoona hati-hati.

 

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Smiley. Hingga akhirnya mobil berhenti di depan butik. Smiley masih diam dan Yoona tak tahan dengan keadaan ini.

 

“Apa kau marah? Kenapa diam saja?”

 

“Menurutmu?” balas Smiley dingin.

 

Yoona tercekat. Baru kali ini Smiley bersikap seperti itu padanya. Jujur saja hal itu membuatnya sakit. Tiba-tiba ia menyadari apa yang telah ia lakukan.

 

“Jadi kau marah pada ku.” Yoona menghembuskan napasnya kesal. Sepertinya ia harus meluruskan suatu hal.

 

“Dengar Smiley, kau marah pada ku karena aku tertawa saat kau menyatakan cinta pada ku? Begitu? Sekarang aku tanya pada mu, apa kau sungguh-sungguh saat mengatakannya?”

 

“Apa menurut mu aku main-main?!”

 

“Ya. Aku pikir kau bercanda.”

 

“Demi Tuhan Yoona, aku serius mengatakannya!”

 

“Kita sudah bersahabat cukup lama. Kau sangat sering menjahili ku, dan jangan salahkan aku saat aku menganggapinya sebagai kekonyolan mu saja. Selama ini kau selalu bercerita pada ku tentang wanita yang kau suka. Kau bahkan pernah bilang tak akan mungkin jatuh cinta pada ku. Dan aku percaya hal itu. Tapi saat kau secara tiba-tiba mengatakan hal seperti itu, tentu saja aku menganggap mu hanya main-main. Wanita mana yang akan percaya jika mereka ada di posisi ku.”

 

Hening menyelimuti mereka dan Yoona melanjutkan. “Melihat reaksi mu sepanjang perjalanan tadi, membuat ku sadar bahwa kau memang serius saat itu. Tapi pernah kah kau berpikir jika kau menjadi aku? Bagaimana jika aku hanya pelarian mu saja? Bagaimana jika kau menganggap perasaan mu nyata padahal itu hanya fatamorgana? Bagaimana jika akhirnya kau menyadari bahwa yang kau rasakan itu bukan cinta? Apa kau pernah memikirkan hal itu?”

 

Smiley masih terdiam. Mencerna apa yang Yoona katakan. “Aku rasa kau harus berpikir lebih jernih. Jangan jadikan aku pelarian mu.”

 

Setelah mengatakan itu, Yoona membuka pintu dan membantingnya keras. Ia berjalan tergesa menuju butiknya, sementara Smiley memukul keras setir kemudi meluapkan perasaannya.

 

–––

 

Yoona menatap gumpalan awan melalui jendela disampingnya. Pikirannya menerawang ke beberapa hari terakhir. Setelah pertengkarannya dengan Smiley seminggu yang lalu, ia lebih sering mengacuhkan pria itu. Pria itu berkali-kali meminta maaf dan mengatakan bahwa ia serius mengenai perasaannya.

 

Yoona masih tak mengerti apa yang terjadi dengan Smiley. Sebenarnya ia sedikit ragu dengan perasaan Smiley. Ia takut jika itu hanya perasaan sesaat. Ia takut jika Smiley tak bersungguh-sungguh dengan perasaannya. Ia takut jika pada akhirnya Smiley meninggalkannya.

 

Yuri yang sedari tadi memperhatikan gelagat Yoona akhirnya buka suara. Ia sedikit tahu mengenai masalah Yoona dan Smiley. Hal yang sangat disayangkan adalah Yoona memilih “kabur” ke New York tanpa menyelesaikan masalahnya.

 

“Bagaimana dengan Smiley?”

 

Yoona menolehkan kepalanya. “Aku tak tahu.”

 

Yoona meminta jus melon pada pramugari yang lewat dan kembali mengalihkan pandangannya pada awan yang terhampar luas. Ia melihat jam tangannya, kurang dari empat jam lagi ia akan mendarat di bandara Incheon.

 

“Kau harus menanyakan pada hati mu sendiri, Yoong. Aku tahu kau juga mencintainya. Namun, kau belum menyadarinya. Pikirkan baik-baik tentang perasaan mu. Kau tahu bahwa hati tak pernah bisa berbohong.”

 

Yoona bermaksud menanyakan apa yang sebenarnya hendak Yuri katakan. Tapi Yuri sudah memejamkan matanya. Ia memikirkan ucapan Yuri. Berusaha mengerti apa yang hatinya rasakan.

 

–––

 

Yoona meletakkan draft desainnya kasar. Ia merasa terganggu dengan suara berisik dari lantai bawah. Mungkin ada pelanggan yang komplain mengingat lantai bawah butiknya adalah tempat penjualan desain pakaian yang telah dibuat.

 

Ia membuka pintu kerjanya dan melangkah menuruni tangga. Terhitung sejak anak tangga ke tujuh yang ia lewati, langkahnya terhenti. Beberapa wanita dan pria berdiri di masing-masing anak tangga sambil memegang sebuah kertas berisikan sebuah tulisan. Ia melanjutkan langkahnya, hendak bertanya apa yang mereka lakukan disana. Saat menghampiri pria yang paling dekat dengannya. Pria itu hanya tersenyum sambil memegang kertas. Yoona membaca kalimat yang tertulis disana.

 

Aku tahu kau meragukan ku.

 

Dahi Yoona berkerut tanda tak mengerti. Ia berjalan ke anak tangga berikutnya. Dan membaca tulisan pada masing-masing kertas.

 

Tapi percayalah, aku sungguh-sungguh saat mengatakannya.

 

Aku tak tahu sejak kapan memiliki perasaan ini.

 

Entah itu saat senior high school atau saat makan malam.

 

Aku sungguh tak tahu.

 

Aku sudah terbiasa bersama mu.

 

Katakan aku bodoh karena tak menyadarinya.

 

Aku terbiasa dengan kehadiran mu.

 

Tak pernah mengira bahwa akhirnya akan seperti ini.

 

Kau mungkin tak mengerti.

 

Tapi percayalah, aku sungguh-sungguh saat mengatakan ini.

 

Perasaan ini hadir karena aku terbiasa.

 

Terlalu familier hingga aku menganggapnya sebuah perasaan nyaman yang lain.

 

Namun kali ini berbeda.

 

Aku sudah terlalu terbiasa hingga terlambat memahaminya.

 

Yoona sampai di anak tangga terakhir.

 

Aku mencintai mu.

 

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia tak melihat pakaian-pakaian yang dipajang. Tak melihat rak-rak pakaian yang berjajar rapi di butiknya. Lantai satu terlihat lebih kosong dan hanya ada beberapa gaun yang terpajang. Yoona menajamkan matanya, apa ia tak salah lihat? Hanya gaun pengantin yang ada di ruangan ini. Sementara pakaian-pakaian yang lain menghilang entah kemana.

 

Ia hendak memanggil Yuri. Bermaksud menanyakan padanya apakah ada pencurian besar-besaran. Namun niatnya terhalang saat ia mendengar alunan piano di dekatnya. Ia mencari ke sumber suara. Sedikit terkejut karena ada piano yang berdiri megah di tengah ruangan namun ia tak menyadarinya.

 

Alunan piano masih terdengar. Ia melangkah mendekat. Ia bisa melihat Smiley duduk dengan jari-jarinya yang bergerak lincah diatas tuts piano. Ia menutup mulutnya tak percaya. Apa yang pria itu lakukan disini?

 

Smiley masih menggerakan jemarinya menghasilkan nada-nada yang indah. Hingga tangannya berhenti bergerak. Smiley menatap dalam pemilik iris madu yang menatapnya terkejut. Kemudian tangannya kembali menari di atas tuts piano. Menghasilkan nada yang lebih lambat dan tak lama kemudian ia bernyanyi.

 

Actually after our first meeting
Saying I like you
Isn’t something easy for me

 

If I don’t contact you first
I’m afraid of missing you
I type out the text, hesitate a bit, then delete it again
I keep repeating this process over and over

 

If my love for you gets any deeper
It will only result in getting hurting
My fears are filling my mind
This is the truth

 

Praying with all my heart, the persson I’m yearning for
I believe that person is you

 

I’m in love

I’ll fall in love
Never feel any more fear
As long as I’m with you
The world is so beautiful

 

I thought I’m never gonna fall in love
But I’m in love, cause I wanna love you baby

 

Actually from the first time I met you
Somewhere deep in my heart
You crashed in like a strong wave
You’re the only thing in my mind all day
I can be your good lover
Wanna be your four-leafed clover
I’ll make you the happiest woman in the world

 

Please you gotta believe me
Make you never gonna leave me
I won’t be suspicious, I’ll trust you

 

I’m in love
I’ll fall in love
Never feel any more fear
As long as I’m with you
The world is so beautiful

You are so beautiful

 

Terdengar suara tepuk tangan riuh saat Smiley mengakhiri lagu yang ia yang nyanyikan. Yoona bahkan tak sadar kini beberapa orang yang ditemuinya di tangga tadi sudah berdiri disekitarnya dan Smiley. Yoona melihat ke sekelilingnya, Yuri dan beberapa pegawai mereka juga ikut bertepuk tangan. Bahkan pejalan kaki berhenti dan ikut menyaksikan melalui kaca tembus pandang di luar butiknya.

 

Suara siulan semakin meriah saat Smiley bangkit dan berjalan menuju Yoona. Saat Smiley berdiri tepat dihadapannya, suasana menjadi sangat hening. Mereka penasaran dengan apa yang akan Smiley lakukan.

 

Smiley tersenyum lebar seperti biasanya. Ia mengulurkan tangannya mengusap kepala Yoona dengan lembut. Kemudian ia bertumpu pada salah satu lututnya yang menyentuh lantai.

 

“Aku tahu mungkin sampai saat ini kau tak percaya. Aku mencintai mu. Harus berapa kali aku mengatakannya agar kau mengerti?”

 

Yoona menatap kaget. Terlalu terkejut dengan situasi ini.

 

Smiley kembali melanjutkan. “Ketahuilah bahwa ada satu jenis cinta di dunia ini yang muncul karena kau sudah terlalu terbiasa. Dan cinta seperti itulah yang aku rasakan, Yoong. Maafkan aku karena tak memikirkan posisi mu saat itu. Aku memikirkan perkataan mu dan berapa kali pun aku memikirkannya, aku akan tetap menjawab bahwa aku mencintai mu. Tak ada keraguan dalam hal itu karena hati ku sendiri yang mengatakannya.”

 

Smiley mengeluarkan kotak dari saku celananya. Ia membuka kotak itu dan menyodorkannya pada Yoona. “Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi salahmu sendiri karena menolak ku saat itu,” Smiley tertawa pelan. “Kita sudah sangat mengenal sifat masing-masing. Aku tahu kebiasaan mu, aku tahu hal yang kau suka, aku tahu hal yang kau benci, aku tahu semua tentang mu. Dan begitu juga sebaliknya. Aku akan mengatakannya sekali, Yoong. Aku mencintai mu, mau kah kau menjadi pendamping hidup ku kelak? Menjadi ibu dari anak-anak ku dan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia?”

 

Yoona tak tahu apa yang ia rasakan. Semuanya bergabung menjadi satu. Terlalu sulit untuk diungkapnya. Air mata mengalir di sudut matanya. Smiley yang melihat hal itu, langsung bangkit berdiri dan menghapus air matanya dengan jari tangannya.

 

Smiley tersenyum dan meraih tangan Yoona, ia memakaikan sebuah cincin di jari manis wanita itu. Smiley menatap dalam mata Yoona. “Would you?”

 

Semua orang yang menyaksikan ikut tegang menunggu jawaban Yoona.

 

Yoona tersenyum dan memeluk Smiley. Smiley pun membalas pelukan Yoona. Dalam pelukannya, Yoona berbisik. “Kau sudah tahu jawabannya. Yes, I would. Park Chanyeol.”

 

Saat mendengar hal itu, Chanyeol tahu. Ia tak pernah sebahagia itu dalam hidupnya.

.

.

.

END

 

 

Re-Take Story :

 

Jinri menatap Yoona dengan pandangan berseri-seri. “Oppa menyukainya eonni. Jadi aku ingin gaun seperti ini.”

 

Yoona tersenyum senang mengetahui Jinri menyukai rancangannya.

 

Tiba-tiba Yoona menjadi penasaran akan hubungan Jinri dan Smiley. “Apakah Jinri itu adik mu Smiley?”

 

Smiley tertawa dan mengacak gemas rambut Jinri. “Tentu saja bukan, Yoona-ya.”

 

Jinri mengerucutkan bibirnya kesal. “Aish oppa! Jangan acak-acak rambut ku!”

 

“Rambut mu sudah berantakan sebelum aku menyentuhnya.”

 

Smiley dan Yoona tertawa melihat raut kesal Jinri. “OPPA!! Kau menyebalkan.”

 

Jinri menghentak-hentakkan kakinya kesal dan hal itu membuat Smiley merapihkan tatanan rambut Jinri. “Aigoo. Sepupu ku yang satu ini mudah sekali marah.”

 

***

 

Ada jeda yang lama sebelum Smiley menjawab. “Pria itu tunangannya. Sungguh pria itu sangat beruntung.”

 

Yoona tak tahu harus merespon apa. Ia kira Smiley dan wanita itu menjalin hubungan yang spesial. Ia pernah beberapa kali melihat Smiley dengan wanita itu di tempat berbeda. Bahkan Smiley pernah mengenalkan wanita itu kepadanya saat mengunjungi butiknya.

 

Mengetahui bahwa orang yang kau suka akan menikah dengan orang lain tentu sangat menyakitkan bukan? Yoona menepuk pundak Smiley perlahan. Mengerti akan perasaan pria itu. Smiley memejamkan matanya dan berucap lirih. “Wanita itu tak menyadari bahwa aku mencintainya. Wanita bermarga Choi itu membuat ku hampir gila.”

 

Jeda sesaat sebelum Chanyeol melanjutkan. “Choi Sooyoung. Gadis itu tak akan pernah menyadarinya.”

 

***

 

“Hyung! Kenapa kau sangat dekat dengan Jinri?” tanya seorang lelaki dengan raut wajah kesal.

 

“Memangnya kenapa? Jinri kan sepupu ku. Wajar saja jika aku dekat dengannya.”

 

“Aish hyungggg. Tapi aku sangat cemburu. Jinri tak pernah menunjukkan sikap manjanya pada ku. Ia hanya menunjukkannya pada mu.”

 

Smiley hanya menggelengkan kepalanya. Tak mengerti dengan kelakuan pria yang menjadi tunangan adik sepupunya itu.

 

“Jauhi Jinri, hyung. Jeballlll. Setidaknya jangan terlalu dekat dengannya.” ucap pria itu memohon.

 

Smiley yang melihat itu hanya mendengus mengejek. Tetapi ia merasa kasihan dengan pria itu. Akhirnya ia mengangguk. “Baiklah. Kau kenakak-kanakan sekali, Kim Jongin.”

 

***

 

“Hei, kau kenapa?” tanya Yoona saat raut wajah Jinri berubah sendu secara tiba-tiba.

 

“Bukan apa-apa eonni. Aku hanya merasa Smiley oppa sepertinya menjauhi ku.”

 

Yoona terdiam. Tak tahu harus membalas apa. Tak mungkin bukan ia membeberkan mengenai patah hati Smiley pada gadis di hadapannya?

 

“Mungkin ia sedang sibuk. Kau tahu sendiri jika ia punya banyak pekerjaan.” ucap Yoona setelah ia mencari alasan yang masuk akal.

 

“Lalu kapan acara pernikahan mu dilaksanakan?” Yoona berusaha mengalihkan pembicaraan.

 

Jinri menepuk dahinya pelan dan merogoh isi tasnya. “Maafkan aku eonni. Aku lupa memberikan undangan pernikahan. Untung saja aku membawanya hari ini.”

 

Yoona mengambil undangan yang diberikan Jinri. “Dua minggu lagi kau akan menikah? Wah congratulations!”

 

“Terima kasih eonni. Kau harus datang ke acara pernikahan ku.”

 

Yoona mengamati sampul depan undangan, lebih tepatnya pada nama dua orang yang akan disatukan melalui janji suci.

 

Choi Jinri & Kim Jongin

 

***

 

“Berhentilah menatap ku seperti itu.” Smiley tersenyum.

 

Yoona tergagap. “Umm… Kau yakin mau datang besok?”

 

“Aku tak punya pilihan lain. Jinri pasti sangat sedih jika aku tak datang. Terlebih lagi aku sangat menyayanginya jadi aku tak mau mengecewakannya.”

 

“Apa Choi Sooyoung akan datang juga di pernikahan Jinri?”

 

“Tentu saja. Sooyoung dan Jinri sangat dekat.”

 

***

 

Dan saat Jongin menciumnya lembut sesaat setelah ikrar, ia merasakan kebahagiaan tak terkira disertai dengan tepuk tangan meriah tamu undangan yang datang.

 

Tak jauh dari pasangan berbahagia tersebut, Smiley menatap sedih. Yoona yang menyadari hal itu mengikuti arah pandangan Smiley. Ia menggenggam tangan Smiley, berusaha menguatkannya.

 

Smiley menatap nanar pada wanita yang berdiri tak jauh dari Jinri dan Jongin. Ia melihat Sooyoung tersenyum senang. Tangannya menggenggam tangan pria disampingnya, Cho Kyuhyun.

 

.

.

.

 

 

 

Author’s note:

Hai. Ada yang nungguin kelanjutan cerita ini? Hahahaha Aku seneng ngeliat respon kalian di take 1. Ahhhhh seneng bangetttttt!!!

Dan tebakan kalian hampir semuanya bener wkwkwk yes! Smiley is Chanyeol.

Oiya, ada yang terkecoh gak ya kalo Jinri itu sebenernya adik sepupunya Chanyeol? Wkwkwk pasti kalian ngiranya Jinri itu wanita yang disukai Chanyeol, padahal bukan kan? Hahahahaha

Aku iseng aja sih buat kayak gitu. Membuat kalian berspekulasi tentang apa yang sebenarnya belum aku ungkap. Dan aku ngungkapinnya setelah ending. Di Re-take nya hohohoho

Semoga kalian gak bingung baca cerita ini😀

Oiya untuk posternya aku agak asal aja ngambilnya hehehe yang penting ada laki-laki yang main piano. Biar sesuai sama konsep yang aku usung. Dan aku masih gak tau siapa gerangan lelaki itu. ada yang tau?

Gimana menurut kalian cerita ini? Apakah memuaskan? Aku sangat menghargai kalian yang memberikan masukan, kritikan dan saran untuk aku🙂

Terima kasih!

43 thoughts on “(Freelance) Twoshot : IF (Take 2)

  1. kamu nyebeliiiin, kirain jinri yang disukain smiley wkwk taunya sooyoung. ada-ada aja nih authornya haha. aku suka banget pas back hug di dapur itu HAHAHAHA YAAMPUN senyum-senyum sendiri:( ffnya bagus sekali pokoknya, pas bahasan chanyeol jatuh cinta sama yoona pas makan itu juga bikin melting banget huhu ditunggu karyanya yang lain yaa (kalo bisa yoonyeol lagi ya thor HAHAH)

  2. Smiley itu chanyeol wah ceritanya kerennn
    Aku kira jinri pacar nya chanyeol ehh ternyata bukan , syukurlah !
    Sebenarnya gk rela kalau udah end tapi gk apa-apa deh ! Yang penting yoonyeol bersatu !

  3. msih kurang thor😀
    hrus ada sequelnya thor plissss…
    biar thu prnkhn yoonyeol nya
    ahjkk msih greget sma crtanya haha…

  4. adem banget ceritanya…
    Like like banget thor. Buat pas udah nikah dong thor. Seneng banget romantis banget, ēπg̲̅e̲̅e̲̅e̲̅e̲̅e̲̅π kisah cintaku kayak gini-_
    Siip banget thor ceritanya. Chanyeol yoonaaaaaa againnn

  5. Aku salah satunya yg terkecoh thor, kirain jinri yg disukai chanyeol eh ternyata bukan
    akhirnya yoona chanyeol bersatu
    Aku tunggu ff yoona selanjutnya yah thor
    Keep writing

  6. Bener kan klo smiley itu Chanyeol :v
    tpi eonni keceplosan pas di tengah2 ff ada kata ‘Chanyeol menggaruk tengkuknya…’ padahal kan itu harusnya Smiley :v
    aku terkecoh sekaliiii…
    Nice ff😉

  7. tuh kan bener si smiley itu chanyeol
    wkwk bener nih dugaan ku
    ffnya bagus unn kkk
    alurnya jugaaa
    bikin sequelnya dong thor pleaseee

  8. Aku terkecoh thor, aku awalx pkir Smiley suka ma Jinri, eh trnyata bkn tp ma Choi Sooyoung😀
    huaa Chanyeol oppa bnarkn, smiley itu Yeol oppa🙂
    what? END? Aigoo, gak nyangka ud Ending ja.. sequel dong thor!!
    Ff.x keren..

    Keep writting thor!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s