Hidden Scene [11]

Hidden Scene 1

HiddenScene

fanfiction by aressa.

starring

GG’s Yoona and EXO’s Sehun along with ex-GG’s Jessica

and

former member of EXO, Kris

.

.

.

.

.

Sehun hanya diam.

“Sehunnie? Kau dengar ibu?”

Wanita itu cantik dengan uratnya yang sudah tua. Pakaiannya mewah dan pembawaannya penuh charisma. Siapapun yang berhadapan dengan wanita itu tahu bahwa dia berasal dari keluarga terpandang.

“Iya, bu”

Dia adalah ibu Sehun. Yang baru saja melewatkan penerbangan ke Jerman untuk membantu suaminya mengurus beberapa masalah disana. Hanya untuk putranya yang tampan. Tangan wanita itu menulusuri wajah anak bungsunya. Bahagia melihat bahwa pangeran kecilnya tumbuh dengan baik menjadi seorang pria berparas rupawan, well thanks to her and her husband.

“Ibu sudah tua Sehun-ah. Setidaknya ibu ingin berada di sisimu saat kau menikah nanti”

Sehun mendesah keras, “Aku terlalu muda untuk menikah, bu”

“Setidaknya buat Ibu-mu tenang, nak. Jangan sampai karirmu membuatmu melupakan siapa dirimu sebenarnya” Sehun terdiam, kemudian dia membuang pandangan ke televise yang tidak dinyalakan, “Perusahaan tidak memperbolehkan adanya hubungan diantara kami semua”

“Dan sejak kapan putra ibu takut dengan perusahaan yang bahkan bisa digulingkan dengan satu jentikan jari-mu? Ayahmu sudah bilang, hunnie, bahwa SM tidak punya hak untuk mengatur hidupmu”

Rahangnya mengeras, “Sejak aku tahu ini adalah resiko yang harus kutanggung dari pilihanku. Ini sesuatu yang bahkan tidak bisa ayah kendalikan. Loyalitas tidak bisa dibeli, bu” dia kemudian tersenyum, “Lagipula, aku mencintai mereka yang mendukungku. Ibu mengajariku tentang cinta. Bukankan kekecewaan adalah bentuk pengkhianatan cinta yang paling hina?”

Nyonya Oh terdiam mendengar jawaban putranya. Sejujurnya dia begitu ingin melihat Sehun memperkenalkan teman wanitanya ke dirinya. Anak bungsunya itu begitu tenggelam dalam dunia entertainment. Tidak mempedulikan umurnya yang semakin bertambah. Dia begitu merindukan Sehun yang ada bersama sosok wanita yang dia cintai.

“Jika mereka benar mencintaimu, mereka pasti merelakanmu bersama seseorang yang kau cintai”suara Sejun, kakaknya, memasuki pembicaraan ibu dan anak itu.

Sehun terdiam. Kakaknya melepas jas kerjanya, dan menggulung lengan kemejanya. Mencium pipi ibunya dan mengacak rambut Sehun. Biasanya Sehun akan ngedumel jika Sejun mulai memperlakukannya seperti anak bayi. Tapi dia membiarkan kakaknya itu untuk sekarang.

“Hyung, pernah mendengar bahwa love drove you crazy? Anggaplah bahwa Nara menyukaiku dan menjalin hubungan dengan-ku. Apa yang kau rasakan? Marah? Sudah pasti kau kecewa denganku”

Sejun tertawa, “Little brother, pernah mendengar bahwa love is when you let someone to be happy? Bagaimana jika Nara benar mencintaimu? Apa yang bisa ku-lakukan? Tuhan memberikan Nara rasa sukanya padamu, padamu, bukan padaku”

“Tapi kita membicarakan dirimu, Sehun. Ayah dan ibu khawatir karena kau tak kunjung mengenalkan seorang perempuan kepada kami. Mereka takut kau mulai keluar jalur, meskipun aku meyakinkan mereka bahwa itu tidak benar” Sejun kemudian menghela nafas, “Ibu bahkan mulai berpikir tentang perjodohan”

Putra bungsu keluarga Oh itu melirik ibunya kaget. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran orangtuanya. Mereka terlihat begitu ingin melihat Sehun menggandeng seorang wanita. Tidak seperti biasanya. Orangtua Sehun sedari dulu terlalu sibuk dengan urusan bisnis. Membebaskan kedua putranya menentukan jalannya sendiri.

Sehun merubah ekspresinya, “Jika kau memanggilku kesini untuk membicarakan perjodohan. Jadwalku terlihat lebih menarik” kemudian dia bangkit, berniat kembali ke kesibukannya. Sejun ataupun ibunya tidak mencegahnya dan itu bagus.

Pikiran Sehun sedang tidak berada di tempatnya. Dan dia sedang samasekali tidak mood dengan pembicaraan mengenai ini.

Tapi Sejun membuka pintu mobilnya dan menahan Sehun meninggalkan rumah mewah itu.

Sehun mendengus, “Jangan menceramahiku. Perjodohan biasanya tidak berlangsung lama jika salah satu diantara mereka tidak menyetujuinya” dilihat dari ekspresi Sejun yang tidak percaya, “Kau pelaku bisnis hyung. Kita sama sama tahu hidup tidaklah seperti diceritakan dalam drama. Jatuh cinta dan berbahagia selamanya? Bullshit”

Kakaknya terlihat sedih, membuat Sehun keheranan. Sejun berpikiran sepertinya. Dulu, ayah pernah mencoba menjodohkannya dengan seorang calon CEO muda yang cantik, dan Sejun menolaknya mentah mentah. Jadi Sehun mematikan mesin mobilnya dan membiarkan kakaknya menjelaskan.

“Aku tahu kau akan menolaknya” kemudian pria itu menghela nafas, “ Tapi kau harus menolongku, Sehun-ah. Hubunganku dengan Nara bergantung padamu. Ayah pribadi yang keras, kau tahu itu. Sekali dia memutuskan tak ada yang mampu merubahnya, kau juga tahu itu”

“Ayah menyukai Nara. Dia merestui hubungan kalian. Jangan bercanda hyung”

“Nara mandul, Sehun-ah”

Dan Sehun melihat kakaknya seperti seseorang yang dicekik. Dia tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Dia tahu apa artinya itu. Sangat tahu. Sejun adalah anak pertama. Ayahnya akan pensiun dan menikmati masa tuanya jika Sejun menikah. Meninggalkan seluruh asset keluarga di tangannya. Hal yang sama berlaku kepada Sehun. Anak anak Sejun nanti-lah yang akan meneruskan perusahaan, seperti yang seharusnya. Namun jika Nara…..

Sehun mendesah. Things getting more complicated.

“Hyung, aku tidak bisa merubah keputusan ayah” dia memejamkan matanya, “dengan menjajaki dunia entertainment, aku membuat ayah marah. Kontrak itu masih berlaku, tapi aku bukan lagi putra kesayangannya”

“Aku tidak memintamu merubah keputusan ayah” kakaknya itu tersenyum hambar” Ayah biar bagaimanapun menyayangi kita, Sehun-ah. Dia akan membiarkanku menikahi Nara jika aku bisa membujukmu menjadi pewaris keluarga Sehun-ah”

Dan dengan itu Sehun berteriak. “JANGAN BERCANDA OH SEJUN. KAU PUTRA PERTAMA. KAULAH PEWARIS AYAH!”

“I DO!”

Sejun terengah engah dan tampak lelah, “Jika kau menikah Oh Sehun. Kau akan memiliki setengah asset keluarga. Kau tahu itu. Kontrakmu dengan ayah, kau masih ingat? Saat kau menikah, kau akan melepas semua popularitasmu dan membantuku mengurus perusahaan. Kau selamanya akan menjadi pemegang saham terbesar setelahku. Tapi dengan keadaan Nara, kau akan menjadi pemegang saham terbesar Sehun. Putra putramu lah yang akan meneruskan perusahaan. Kau lah yang akan menjadi garis pewaris, Sehun-ah”

“Dan dengan itu kau memaksaku melakukan perjodohan?” Sehun meludah, “Kuberitahu ya, aku baik baik saja dengan posisi pewaris setelah menikah. Itu konsekuensiku dengan memilih menjadi artis. Tapi perjodohan, Sejun, adalah hal yang tidak akan kulakukan sampai kapanpun”

“Kalau begitu carilah wanita! Ayah tidak tertarik dengan perjodohan Sehun! Aku sendiri begitu. Aku ingin kau mencari sendiri wanita yang kau cintai Sehun. Pilihlah wanita yang kau sukai. Menikahlah dengan baik baik. Aku tahu kau terlalu muda untuk pernikahan, tapi dalam dunia bisnis, kau tahu itu hal yang biasa”

“Intinya adalah, aku ingin kau membuat ayah tenang Sehun-ah. Perkenalkan seorang wanita kepada kami. Buat ayah percaya bahwa dia bisa mengandalkanmu dalam hal itu. Dan kau akan menolongku dan juga Nara, okay?”

Sehun kemudian tersenyum hambar. Dia memandang bintang dari balik mobilnya yang terbuka.

“If you ask me to date some girls, hyung. You don’t have to worry. I did” ekspresinya berubah sendu, “but unfortunately, I have some problem”

//

Yoona membuka pintu mobil putih itu. Menemukan seorang pria dengan kaus turtle neck nya tersenyum di balik kemudi.

“Pagi yang indah, Yoona?”

Wanita itu tersenyum manis, berusaha tidak mengingat suara dingin kekasihnya semalam. Dia memasang seat bealt sebelum menghadap ke pria itu.

“Selamat pagi Wu Yi Fan”

“Kau tampak senang hari ini” komentar Kris mulai melajukan mobilnya

“Aku tidak suka memulai hari yang melelahkan ini dengan bermuram durja” Oh, Yoona memang benar benar aktris yang baik. Dengan mata nya yang cerah dan senyum lebarnya, Kris benar benar terperangkap dalam perkataan wanita itu—dan pesonanya.

“Well, another tips from you” kekeh pria itu

“Hari ini kau ada jadwal apa Kris?” tanya Yoona setelah beberapa saat. Pria Kanada-China itu tampak bingung dengan perubahan topic yang sangat mendadak itu. Wanita itu masih tampak seperti beberapa menit yang lalu, tapi entah kenapa Kris bisa merasakan rasa hampa dalam suaranya yang indah.

“Penuh seperti biasa. Ada radio dan kemudian persiapan comeback di Show Champion dan pemotretan dan latihan dan blab la bla”

Yoona tertawa dengan cara Kris berbicara. Tawa yang lepas tanpa diduganya. Pria disampingnya hanya terkekeh sementara dirinya terheran heran dengan perubahan moodnya yang tiba tiba. Baru semenit yang lalu dia mengecek ponselnya, berharap Sehun akan bersikap seperti hari hari biasanya. Dan kemudian merasa kosong saat hanya menemukan pesan dari beberapa temannya.

Tidak bisakah Oh Sehun tidak mengusik pikirannya sebentar saja?

Yoona benci fakta kalau dia duduk di kursi penumpang Chevrolet hitam itu, tertawa mendengar lelucon Kris atau dengan tebak tebakan unik yang Kris cari di Google semalam (well, pria itu jujur). Yoona benci ketika dia bernyanyi bersama Kris mengikuti lantunan Demons di radio saat lampu merah.

Yoona benci mengingat kalau Sehun bahkan tidak mencoba meminta maaf atau menghubunginya. Yoona benci bukan Audi R8 yang menjemputnya pagi itu. Yoona benci bukan Oh Sehun yang saat ini menyodorkan segenggam sandwich untuk sarapannya.

“Darimana kau tahu aku melewatkan sarapanku?”

“Bukankah kau selalu seperti itu?”

Yoona ingin menangis. Dia menggigit bibirnya dan berterimakasih dengan pelan. Sadwich daging asap, kesukaannya. Pria itu tahu Yoona melewatkan sarapannya, tahu makanan kesukaannya, tahu bagaimana membuat Yoona merasa special.

“Yoona?” Kris khawatir saat Yoona hanya memandangi sandwich pemberiannya, dengan kepala tertunduk, bahkan ketika tangannya menyenggol pelan bahu kecil wanita itu, “Yoona, kau dengar aku?”

“Ahh, ya?”

Masih sama. Pandangan wanita itu ceria tapi ada satu bagian yang hilang dalam suaranya, dan Kris tidak bisa menemukan apa itu, “Kau tidak apa? Kau tidak suka sandwichnya ya?”

Kris bisa mencium wangi parfum Yoona saat wanita itu mendekat, “Aku suka” kemudian menyentuh tangan Kris yang memegang kemudi, membuat pria itu mematung saat Yoona menelusurinya lembut, “Suka sekali”

Kris merasa terbang ke langit ke tujuh. Senyum manis itu, tangan lembut itu, Kris ingin meledak sekarang. Kris tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Pikirannya bekerja dalam kecepatan tak terduga saat dia mengecup bibir merah muda itu.

Pada detik itu dunia serasa berhenti berputar.

Dia merasakannya! Bibir yang selalu diimpikannya. Yang menjadi bunga tidurnya. Sesuatu yang sangat didambakannya. Dia telah merasakan bagaimana rasa air surga itu. Merasakan manisnya kurva yang selalu tersenyum itu. Dalam bayangannya, Yoona akan tersipu dan pandangannya yang semayu akan bertemu dengannya.

Tapi memang, kenyataan jauh lebih menyakitkan.

Hanya sepersekian detik ketika Kris melumat bibir kecil itu. Hanya sepersekian detik ketika tangan Yoona reflex bergerak mendorong tubuhnya. Hanya butuh sepersekian detik untuk menangkap kerasnya mata itu.

“Yoona!”

Iris caramel itu terpejam. Telinganya memerah. Dan tangannya masih berada di pundak Kris. Masih terasa dalam benaknya tenaga yang dikeluarkan wanita itu. Kris panic. Dia ingin bereaksi tapi dia takut reaksinya justru semakin membuat wanita itu marah.

Marah? Sudah pasti. Siapa yang tidak marah jika pria yang baru saja beberapa hari dekat denganmu dengan mendadak kehilangan kewarasannya dan mencium dirimu tanpa dosa? Kris merasa ingin dikutuk sekarang.

Dia ingin menjelaskan. Dia ingin membuka mulut. Tapi Yoona masih bergeming. Masih diam dan tidak bergerak. Raut wajahnya keras dan tenang. Ekspresi yang sudah terlalu sering dia perlihatkan.

“Yoona?” pada akhirnya, Kris harus mengucapkan sesuatu, “Ma—“

“Terimakasih atas sandwichnya, Kris. Daging asap. Kesukaanku” Matanya terbuka, dia melepas seat bealtnya dengan gesit dan masih terus terlihat tidak terguncang, “atas tumpangannya, terimakasih”

Sebelum dia sempat membuka pintu, sepasang tangan itu menariknya ke dalam dekapan hangat. Tubuhnya bergetar oleh perasaan yang tidak Yoona ketahui. Kris menahan napasnya, dia merasakannya, “Maafkan aku. Sungguh, aku minta maaf”

Yoona butuh udara sekarang. Pikirannya tidak focus dan dia ingin segera berada di dalam kesibukannya yang biasa, melupakan. “Tidak apa Kris, aku mengerti”

“Aku tidak bermaksud begitu. Sungguh, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Ak—“

Perkataannya terputus saat Yoona menarik diri, menghadiahkan satu kecupan di pipinya, “Terimakasih atas ciumannya” dan kemudian membuka pintu. Satu satunya cara agar dia dapat bernapas dengan lega.

Udara yang dingin itu menyegarkan pikirannya. Yoona tahu Kris masih terpaku. Jadi dia melambai dan tersenyum semanis mungkin tanpa mempedulikan ekspresi pria itu. Kemudian berjalan masuk kedalam lokasi syutingnya.

Beberapa lantai diatasnya, laki laki itu mengepalkan tangannya dan berlalu dengan ekspresi dingin.

//

Tarik napas. Buang. Tarik napas. Buang. Tarik napas. Buang

Yoona mengulangnya berkali kali. Dia mengerjap ngerjapkan matanya, berusaha menyingkirkan bayangan itu dalam pikirannya. Dia harus focus hari ini. Fokus dalam artian banyak hal.

Oh persetan dengan Wu Yi Fan.

Beberapa meter didepannya, Oh Sehun menekan punggung Jessica Jung ke dinding pucat. Mencium wanita itu dalam dalam.

Hatinya serasa dipatahkan. Dia kehilangan arah. Yoona linglung. Dunia seperti melayang dalam pandangannya.

“Yoona-ssi?”

Salah satu staff menepuk punggungnya pelan, mempertanyakan tatapan kosong artis papan atas itu. Tapi tanpa diduga duga, wanita itu tersenyum kaku dan berlalu begitu saja.

Atur jantungmu, Yoona. Tetaplah berjalan lurus. Kuatkan kakimu. Jangan sampai jatuh.

Yoona merapal pelan. Tubuhnya bergetar karena luapan emosi yang mengikatnya. Yoona ingin berlari menjauh dari gedung itu dan melupakan segalanya. Tapi dia tidak bisa. Kakinya gemetar dan dia takut jika dia melangkah lebih cepat, tulang tulangnya tak sanggup menahan dirinya.

Pagi pagi sekali, Yoona menemukan Jessica tengah bersenandung di kamarnya. Ponselnya menempel di sisi kepalanya. Suara ceria wanita itu menyapa Sehun. Bertanya apa pria itu bisa menjemputnya dan pergi bersama menuju lokasi syuting. Dan Yoona tahu, lebih baik dia segera menyingkir dari pintu sebelum dia mendengar jawabannya.

Kemudian, ketika Kris menjemputnya. Pria itu menciumnya. Yoona mungkin terkejut, tapi dia merasakan bahwa itu bukanlah ciuman tiba tiba. Yoona merasa kalau Kris sudah menunggu hal itu. Dia merasakan perasaan Kris meskipun hanya sepersekian detik.

Dan baru saja, beberapa lantai dibawah, dia melihat Sehun mencium saudarinya sendiri. Yoona tidak perlu diberitahu jika Jessica sangat menikmati itu.

Seharusnya Yoona tidak seperti ini. Seharusnya dia tidak kacau hanya karena ini. Seharusnya dia tidak ada disini. Berteriak kepada angin yang mendesau kencang di atap. Seharusnya dia tidak menangis seperti ini. Menyedihkan

Tapi Yoona tidak mencoba menghapus air matanya. Dia membiarkan hatinya kembali terluka untuk kesekian kalinya. Yoona tidak mencoba untuk mengatakan kalau itu hanyalah bagian dari pekerjaan. Scene itu. Ciuman Sehun selamanya akan menjadi miliknya dan siapapun yang pernah menempati hati pria itu. Jessica hanya gadis beruntung yang dapat merasakan ciuman yang selalu memabukan Yoona. Ya, itu hanyalah bagian pekerjaan. Dia tahu itu.

Tapi, kembali, Yoona tidak mencoba menghibur dirinya dengan pemikiran seperti itu.

Suaranya tersedu sedu dan dia berharap tidak ada yang mencarinya. Tapi Yoona memang bukan pembohong, berharap bahwa Sehun melihatnya memergoki pria itu mencium Jessica dan akan mengejarnya, mencoba menjelaskannya seperti yang ada pada drama drama picisan. Bodoh, karena hal itu tidaklah terjadi di kehidupannya.

Sehun tidak peduli. Dia sudah tidak peduli dengan Yoona. Kenapa Sehun tidak melihat kedatangannya? Apa Sehun terlalu menikmati ciumannya dengan Jessica? Mungkin ya, mungkin tidak. Yoona tidak tahu.

Sehun sudah tidak mencintainya lagi. Terbukti dia lebih memilih berangkat kerja bersama Jessica dibandingkan dirinya. Sehun lebih memilih tidak memberitahu Yoona tentang adegan ciuman nya dengan Jessica. Semua ciuman pria itu kepadanya, terasa palsu. Semua kata kata manisnya, memuakan.

Yoona kacau. Emosi mengacaukannya. Dia benci mengakui kalau dia seorang pengecut ulung. Pengecut yang hanya bisa menangis tanpa melakukan apapun. Dia benci mengakui bahkan setelah semua luka itu, dia tetap bertahan. Dia benci harus selalu terluka. Dia benci tahu bahwa beberapa jam lagi, dia mungkin akan berubah pikiran.

Dia tidak mau hidup. Dia ingin bebas dan tidak merasakan apa apa lagi. Tapi hidupnya masih terlalu dipenuhi dengan canda dan tawa disamping luka itu. Sama seperti Sehun yang menganggap kerja kerasnya berharga, hingga dia takut melepaskan semua ketenaran itu, dan lebih memilih menyakitinya. Berkali kali.

Yoona ingin menjadi jahat. Sekali saja

//

Beberapa jam terakhir ini. Jessica tidak berada di tubuhnya. Jiwanya seperti melayang layang dan wajahnya mudah sekali memerah. Dia bahkan tidak peka dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Semuanya tampak kabur untuknya.

Tadi pagi, Oh Sehun menolak menjemputnya. Dia sangat kecewa. Awalnya dia senang sekali saat Sehun tiba tiba menelponnya. Pria itu bertanya apa kunci dorm nya ada di Jessica. Dan Jessica mengiyakan, kemarin Sehun pergi dengan buru buru dan meninggalkan kunci diatas meja. Lalu kemudian Jessica bertanya apa Sehun sudah sarapan yang dibalas gumaman dan akhirnya Jessica memberanikan diri mengajak Sehun pergi bersama.

“Maaf, tapi hari ini aku diantar manager hyung”

Moodnya menjadi buruk. Tapi kemudian, PD-nim mengatakan kalau Jessica akan memiliki kissing Scene dengan Sehun. Yang membuat Jessica kaget bukan main. Pasalnya, hal itu tidak dituliskan dalam script.

Lalu Sehun datang dengan biasa biasa saja. Pria itu terlihat kaget tapi kemudian hanya mengangguk pelan. Dan ketika shooting dimulai. Jessica gemetaran. Dialognya keluar tidak bagus dari mulutnya. Dan kemudian baam.

Ah, dirinya masih mengingatnya dengan jelas.

Oh Sehun mendorong tubuhnya ke dinding. Tangan pria itu dingin di tengkuknya dan kemudian bibirnya menyentuh Jessica. Sehun tidak melakukan apa apa. Tidak ada lumatan ataupun gigitan meskipun Jessica—yang akhirnya sadar dengan keadaan—jelas jelas menginginkan itu. Sehun hanya membiarkan bibirnya bertemu dengan Jessica. Tanpa ada niatan ciuman sekali. Tapi Jessica sudah senang bukan main.

Demi tuhan ini adalah hari terbaiknya!

Sudah lama sekali Jessica selalu memimpikan Sehun menciumnya. Dan kemudian hal itu terjadi dengan mudahnya.

Jessica tersenyum memandangi wajahnya yang sedang dirias oleh make-up artist nya. Tangannya menyentuh bibirnya senang. Matanya terpejam erat erat. Membiarkan perasaan gembira mengalirinya.

Ya, tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan Oh Sehun.

Mereka sudah berciuman. Lip to lip. Tidak peduli kalau Sehun hanya melakukan tugasnya. Mengabaikan bahwa Sehun hanya menekan bibirnya. Tidak berciuman seperti yang selama ini Jessica harapkan.

Meskipun Jessica terkadang bingung dengan perasaannya. Kadang takut dan segalanya, Jessica tidak ingin menyerah. Tidak sekarang.

“Eonnie” panggil Yoona

Jessica masih tersenyum sendirian. Dia menggigit bibirnya dan tidak sadar kalau dia sudah selesai dan saat ini Yoona duduk disampingnya.

“Jessica eonnie”

“Jessica Jung”

“Eonnieeeeee”

“Jessica-ssi!” bentak Yoona akhirnya. Jessica terlonjak kaget dan mendapati Yoona menatapnya kesal.

“Ada apa?”

“Ada apa?” Yoona mendengus, “Aku memanggilmu sekitar sepuluh kali dan kau bertanya ada apa?”

Jessica buru buru merangkul Yoona manja, “Maafkan aku ya, Yoongie?” dia menunjukan puppy eyesnya, “Aku sedang tidak bersama tubuhku saat ini”

Yoona tampias. Ekspresinya terluka, “Apa ada masalah?”

Jessica menatap Yoona. Mengabaikan kalau ekspresi adiknya itu berubah. Dia berpikir apakah sebaiknya dia memberitahu Yoona? Yoona dekat dengan Sehun. Mungkin saja Yoona bisa membantu, pikirnya. Keinginannya untuk memiliki Sehun begitu kuat, hingga dia nekat memberitahu Yoona. Toh, Yoona sudah tahu kalau aku menyukainya.

“Yoona? Bisa aku minta bantuan?” tanya Jessica hati hati

“Sebisaku, eonnie, sebisaku”

“Hmmm…..kau…..dan Sehun…..dekat kan?” perasaan Yoona mulai tidak enak, “Ya. Kalian dekat kan?”

“Kenapa?”

Jessica menggenggam tangan Yonna. Raut wajah berbinar binar. Matanya tersenyum puas, “Aku menyukai Oh Sehun, Yoona. Kau dengar? Aku mencintai Oh Sehun. Menginginkannya”

Dan Yoona hancur saat itu juga.

Mendengarnya dari mulut seorang Jessica Jung jauh lebih menyakitan dibanding memikirkannya. Yoona merasa hatinya dirobek menjadi dua. Dia menggigit bibirnya.

Tidak. Dia tidak boleh menangis sekarang.

“Dan kau memintaku untuk membantumu mendapatkannya” gumam Yoona sakit. Wajahnya pasti aneh. Karena Yoona ingin sekali menerjunkan diri dari atas gedung saat ini. Dia harus tetap terlihat tenang. Tidak menunjukan reaksi apapun.

“Ya” Jessica tersenyum malu malu. Wajahnya memerah. Ini pertama kalinya Jessica mengatakannya secara langsung. Mengungkapkannya

Yoona menggigit bibirnya. Dia tidak sanggup untuk berbicara. Tapi Jessica mulai memperhatikannya. Jadi Yoona menguatkan mentalnya. Berusaha memungut pecahan hatinya.

“Dan kau tau? Yoona, Sehun menciumku! Ya he kiss me. On the lips. Can you imagine that?” Jessica jadi terlihat seperti fangirl diluar sana, “Oh shit. I just cant get over it! Gosh, aku selalu mengingat rasanya Yoong”

Dia selalu menciumku, eonnie.

Jessica sangat bahagia. Bahkan Yoona bisa merasakannya. Setiap kalimat Jessica mengandung pemujaan. Seperti setiap katanya terkandung cinta. Menyakiti Yoona lebih dalam.

Mengetahui bahwa orang yang kau sayangi mencoba merebut lelaki yang kau cintai, apa reaksi terbaiknya?

“Aku dan Sehun memang cukup dekat” pada akhirnya Yoona harus bersuara, “Tapi eonnie, aku tidak janji. Sehun tidak pernah membicarakan wanita saat bersamaku” because all things that matter is her.

“Kumohon” pinta Jessica berusaha melakukan aegyo. Yoona adalah satu satunya jalan untuk dekat dengan Sehun. Karena perempuan yang cukup dekat dengan Sehun dan Jessica mengenalnya dengan baik hanyalah Yoona. Dia harus memintanya pada Yoona. Hanya itu satu satunya jalan.

“Eonnie, aku tidak bisa melakukan ini”

Karena itu hanya akan membunuhku perlahan.

“Yoong—“ Jessica menangkap tangan Yoona saat wanita itu berdiri, “Hanya kau satu satunya kesempatanku untuk mendapatkanmu. Kumohon tolonglah aku”

“Jess—“

“Kau menyangiku, kan? Tolonglah. Aku akan bahagia bersamanya. Memangnya kau tidak ingin membuatku bahagia?”

Bagaimana dengan kebahagiaanku?

“Aku ingin membantumu, eonnie. Tapi hal ini, adalah seseuatu yang tidak bisa kulakukan” Yoona menyentak tangannya, “Jika kau mengiginkannya, maka kau akan berusaha sendiri. Dengan atau tanpa bantuanku”

“Yoona kumohon” Jessica sudah hampir menangis. Sehun bukalah pria dengan senyum. Sehuun itu berhati dingin dan tidak ambil pusing dengan orang asing. Lelaki itu tidak peduli dengan sekitarnya. DIa hanya peduli dengan apa yang dia sayangi

Dan Jessica bukanlah orang yang Sehun sayangi. Hanya dengan Yoona dia bisa menjadi seseorang yang cukup dekat dengan Sehun.

Cukup dekat untuk mengambil hatinya.

“Apa yang harus kulakukan? Meminta Sehun untuk mendekatimu!? Memintanya menciummu!? Meminta dia untuk menjemput, bersikap baik dan memperlakukanmu berbeda dengan cara dia memperlakukan wanita lain!?” Yoona meledak juga. Dia ingin sekali menangis. Dan akhirnya hanya dengan berteriak dia bisa selamat.

Jessica kaget sekali dengan bentakan Yoona. Wanita itu menyentuh dadanya yang berdebam, “Kau kena—“

“Satu hal yang kau perlu ketahui eonnie. Aku bukanlah siapa siapa. Aku tidak bisa memaksa Sehun melakukan seperti itu. Lagipula jika aku berbicara apa dia mendengar?”

“Hanya ini kesemp—“

“Ada apa ini?”

Sehun datang dengan raut lelah. Terlihat bingung melihat ketegangan diantara dua member Girls Generation itu. Dia mendengar namanya disebut. Dan ekspresi Yoona terlihat tidak baik.

“Ah, tidak apa apa Sehunnie” sikap Jessica berubah manis. Wajahnya memerah. Mengingat ciuman mereka.

Yoona mendengus. Dia menyadari perubahan ekspresi Jessica dan dia merasa muak. Jadi Yoona menyentak tangannya lepas dari genggaman Jessica. Dia ingin menangis dan melihat Sehun hanya memperburuk suasana hatinya. Oh yeah, dari semenjak dia datang, dia berusaha untuk tidak berada dalam satu ruangan dengan lelaki itu.

“Yoo—“

“Aku tidak akan melakukannya. Maaf” Yoona melenggang keluar. Tidak peduli dengan Jessica yang memanggil namanya.

“Sebenarnya ada apa dengan kalian? Dan kenapa kalian membicarakanku?”

Jessica terdiam. Dia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Sehun. Jadi dia menyentuh lengan Sehun. Dan tersenyum manis.

“Tidak ada yang salah, hun” jawabnya lembut, “Kami hanya bertengkar tentang sesuatu”

Sehun tahu kalau ada yang salah. Jessica pasti berbohong. Yoona terlihat tidak baik tadi. Dan tatapannya sangat tajam dan menusuk. Sehun menghela nafasnya. Seharian ini Yoona tidak benar benar berbicara padanya. Malah, wanita itu tidak berbicara dengan siapapun. Yoona memilih menyibukan diri dengan scene nya. Melakukan kesalahan yang Sehun tahu dia lakukan dengan sengaja. Hanya untuk membuatnya sibuk.

Sehun sekali lagi menghela nafas. Masalah diantara mereka semakin buruk saja. Sehun menatap Jessica yang sepertinya mencoba mengajaknya bicara. Sehun mendengarkan. Tapi dia tidak benar benar mendengarkan. Sehun menggeleng pelan, dia rasa sudah saatnya memperbaiki masalah.

“Kris bilang katanya kau ingin bermain drama lagi, benarkah Sehunnie?” tanya Jessica terdengar manja. Wanita itu duduk disampingnya. Dengan tangan mengerat di lengannya.

Mau tak mau Sehun kesal juga. Moodnya jadi buruk. Mendengar nama Kris membuatnya kesal. Jadi Sehun melepas paksa lengannya dari Jessica. Membuat wanita itu kaget.

“Aku harus pergi”

//

Kim Jong In tidak melepas penyamarannya. Wanita dihadapnnya menggunakan rok mini dan kaus tanpa lengan. Lengkap dengan kacamata. Penampilannya terlalu biasa untuk ukuran artis. Riasan tipis dan rambut ekor kuda. Jongin jadi tersenyum juga.

“Aku rasa disini terlalu berbahaya, bukan begitu?”

Jongin mengangguk. Alasan kenapa dia tidak melepas masker dan topinya hanyalah karena café itu terlalu ramai dengan anak muda. Dia akan mudah dikenali ditempat seperti ini. Jelas, Jongin tidak akan mengambil resiko itu.

“Pemilik café ini kenalanku. Aku sudah memesan tempat khusus dimana kita bisa bicara dengan tenang” ucap lelaki itu. Tanpa banyak bicara Jongin berjalan menuju salah satu waitress. Waitress itu mengecek papannya dan menunjuk sebuah ruangan.

Mereka melewati lorong panjang dan Jongin berbicara sebentar dengan managernya. Sebelum akhirnya masuk dan melepas penyamarannya.

“Dulu aku sering kesini bersama Sehun” Jongin tersenyum ramah, “Kau bisa lepas kacamata itu Yuri noona”

Kwon Yuri melepas kacamatanya. Senang dengan privasi, “Ugh, menjadi artis sangat tidak menyenangkan tahu?”

“Benar” Jongin melirik menu dan memesan sesuatu. Yuri mengikuti juga,

“Aku akui, agak terkejut saat kau menghubungiku Jongin. Untung saja aku bisa menemukan alasan kabur dari manager” kata Yuri seraya dia memesan menunya

“Well, aku rasa kau terlalu bersemangat tentang ini” waitress itu kenalan Jongin. Jadi Jongin dengan santai memberikan menunya, “Aku berniat ke gedung KBS sehabis ini”

“Menemui Sehun?”

“Dan menilai gelagatnya saat bersama dengan membermu itu”

Yuri tersenyum getir. Dia mengingat percakapannya dengan Jongin beberapa saat lalu. Di Villa keluarga Sehun.

Tapi Yoona, Kim Jongin. Yoona yang bilang”

Pria dihadapannya terlihat biasa saja. Tubuhnya menegang dan Yuri merasakan tatapan terkejutnya. Meskipun Jongin tidak menunjukannya. Tapi Yuri yakin kalau Jongin kaget. Bukan. Bukan kaget dengan perkataannya. Jongin terlihat seperti kaget karena Yuri mengetahuinya.

“Apa hubungannya dengan ini?” tanya Jongin akhirnya.

“Aku rasa kita sudah sama sama tahu”

“Darimana kau tahu aku tahu?”

Yuri tersenyum lembut, “Karena kau mengenal Sehun bahkan sebelum dia di debutkan. Kau ada dalam masa lalu Sehun. Dan kau selalu memperhatikan Sehun selama kita berada disini”

Jongin menelan ludah, “Apa sejelas itu?”

“Tidak juga. Aku hanya punya firasat kau mengetahui apa yang kubicarakan” Yuri nyengir sendiri. Jongin mendengus.

“Jadi?” katanya bosan. Dia tidak tahu Yuri bisa semengerikan ini. Dia dan Yuri saling kenal. Mereka sama sama berada dalam line up dancer. Sebenarnya Yuri dan Jongin bisa saja menjadi teman baik. Mengingat sifat keduanya yang tidak terlalu berbeda. Namun Yuri sering menjaga jarak dengan Jongin mengingat Jongin bagian dari EXO. Jongin sih terima terima saja. Toh, dia tidak ingin menyusahkan orang lain. Jadi hubungan mereka hanya sebatas teman saja.

“Oh Sehun”

Jongin mengerjap, “Dengan Im Yoona”

“Ada sesuatu yang mereka sembunyikan”

“Sehun menyukainya. Aku percaya itu” Jongin duduk di rumput. Dia pegal juga berdiri. Yuri dengan ogah ogahan akhirnya mengikuti. Wanita itu diam dan Jongin mengisi kebosanan dengan mencabuti rumput.

“Aku tidak tahu tentang Yoona. Tapi kurasa, sikap anehnya belakangan ini ada hubungannya dengan Sehun”

“Aneh?”

“Yoona lebih sering diam. Kau tahu bagaimana dia kan? Akhir akhir ini dia terlihat murung dan moodnya pun tidak bisa ditebak”

“Apa hubungannya dengan Sehun?”

Yuri menyeringai, “Hubungannya? Oh aku tidak tahu” Wanta itu menyunggingkan senyum liciknya, “Yoona menjadi lebih sensitive jika ada yang menyinggung Sehun, tahu?”

Jongin meletakan tangannya di dagu, berpikir tentang apa yang selama ini dia perhatikan, “Menurut noona hubungan mereka seperti apa? Ex-lovers? Atau laki laki dan perempuan yang saling menyukai namun tak bisa bersatu?”

“Hampir tepat”

“Jangan bodoh”

“Ayo katakan bersama. Aku punya ide yang lebih baik dari itu” Yuri tersenyum manis. Menyenangkan mengetahui bahwa dia tidak sendirian. Bahwa orang lain juga menyadari keanehan itu.

Masih ada orang yang cukup pintar untuk dibodohi, pikirnya senang

“Kalau begitu” Jongin menyeringai, membuat Yuri sedikit takut juga, “Bagaimana dengan kekasih?”

Sedetik kemudian Yuri ikut menyeringai, “Lovers that hiding their love. Tottaly pathetic”

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan Jongin?”

Kim Jongin lagi lagi menyeringai. Entahlah, di hadapan Yuri dia menjadi pribadi yang menyenangkan. Karena Jongin rasa, Yuri tidak akan keberatan dengan ekspresi atau sikap Jongin. Tapi akhir akhir ini Jongin lebih sering menyeringai dibanding tersenyum.

“Aku tahu alasan kenapa mereka menyembunyikannya?”

Mata Yuri melebar dengan ketertarikan, “Jelaskan padaku. Every single information that you got”

“But we have a deal right?”

“Come on, this is your bestfriend”

“I’m just kidding lady” Jongin tertawa, “Diluar dugaan, Oh Sehun ternyata sangat naif”

Yuri mengerutkan kening. Dia bingung sekali. Kadangkala seorang bisa jadi semenyebalkan Jongin tentang sesuatu yang rahasia, “Dugaanku. Mereka melakukannya karena perusahaan mendesaknya”

“Kau pikir perusahaan tahu tentang hubungan ini? Gila. Jangan berbicara yang tidak tidak Jongin”

“Aku bilang jika aturan perusahaan memaksa mereka melakukannya. Kita sama sama tahu tidak ada hubungan asmara yang diperbolehkan tanpa persetujuan” Jongin kemudian menggeleng sedih, “Dugaanku, Noona. Mereka melakukannya karena mereka tahu hubungan mereka akan hancur sekali perusahaan mengetahuinya”

Yuri berpikir juga. Dia mengangguk. Semuanya masuk akal. Jika Yuri berada dalam posisi seperti itu, dia rasa dia akan melakukan hal yang sama. Tapi dirinya tidak yakin, masih ada hal yang dia pertanyakan. “Aku masih bingung dengan ini Noona. Jika mereka takut dengan perusahaan. Apa untungnya dengan menyembunyikan ini dari kita? Maksudku, kita tidak terlihat akan membocorkannya pada perusahaan kan?”

Dan Jongin menjawabnya sudah. Yuri menangguk angguk. Dia mengingat sesuaatu. Ekspresinya terlihat keras. Ya, dia perlu mencari cari kedasar memorinya. Percakapan saat dia mencuri dengar dari seorang karyawan perusahaan di toilet.

“Kudengar katanya Heechul mabuk di depan staff humas”

“Ah, pria itu. Selalu membuat masalah, iya kan?”

“Jadi dia orangnya? Direktur terlihat marah sekali, lho”

“Bagaimana tidak? Banyak sekali rahasia rahasia”

Yuri menahan nafasnya. Kakinya sudah pegal jongkok di WC seperti ini. Tapi jika dia keluar sekarang, dia berada dalam masalah besar, “Aku tidak mengerti. Artis artis itu…..mereka terikat dengan kontrak kan?”

“Benar. Dan mereka melanggar banyak sekali peraturan. Wajar jika direktur marah besar”

“Aku rasa kita tidak akan pernah bisa mengendalikan mereka” staff itu terdengar menghela nafas, “Aku sendiri mungkin akan melakukan hal yang sama”

“Ya. Termasuk kasus Im Yoona” Yuri menegang saat nama sahabatnya disebut, “Menurutmu apa yang akan dilakukan direktur? Menghukumnya sesuai dengan prosedur?”

“Aku rasa tidak. Kudengar, ayah Yoona cukup memiliki pengaruh di Korea. Aku rasa direktur tidak akan macam macam dengan Yoona. Lagipula Yoona anak kesayangan direktur”

“Tahu tidak? Kau tahu EXO kan? B-project direktur? Katanya salah satu diantara mereka ada yang berlatar belakang sama dengan Im Yoona”

“Apa? Chaebol? Wah, itu baru berita. Direktur pasti tidak berani macam macam dengan anak itu” staff itu tertawa, “Aku rasa Yoona-ssi kurang beruntung. Dia cantik, baik, seorang chaebol, tapi harus mengikuti prosedur perusahaan”

“Menurutmu, apa yang akan dilakukan direktur padanya? Dia tidak akan melakukannya sesuai prosedur kan?”

“Hal yang seharusnya tidak pernah dia mulai” staff itu terkekeh, “Hubungannya dengan Donghae. Aku rasa itulah yang harus dia bayar untuk kesalahannya”

“Donghae”

Jongin menoleh saat Yuri menyebut satu nama. Dia bingung, “Ada apa dengan Donghae hyung?”

“Yoona pernah menjalin hubungan dengan Donghae. Kau tahu itu?”

“Ya, aku tahu” Jongin mengerutkan kening, “Tapi apa hubungannya dengan Yoona dan Sehun?”

“Hubungan Yoona dan Donghae hancur karena perusahaan mengetahuinya. Ada seseorang diantara kami yang membocorkan hubungan mereka ke perusahaan”

“HAH!?”

“Aku tidak akan bilang siapa. Bisa jadi itu alasan kenapa Yoona tidak memberitahuku”

“Aku tidak mengerti” jawab Jongin cepat, “Kalian kan membernya. Tidak mungkin kalian tega melakukan itu padanya”

“Well, bukan salah satu dari kami. Super Junior, Shinee, f(x), TVXQ, semuanya punya kesempatan yang sama. Yoona dan Donghae dulu sangat terkenal”

“Itu tidak masuk akal. Jika mereka percaya pada kita. Mereka akan memberitahu. Lagipula aku tidak mengerti kenapa Sehun mau menyembunyi—“ Jongin mengingat sesuatu. Otaknya bergerak cepat lalu dia mengumpat.

“Sial! Jadi itu alasannya” dia menatap Yuri yang menatapnya seolah Jongin kehilangan akalnya, “Park Nami. Sehun melakukannya karena wanita itu”

“Park Nami?”

“Mantan kekasih Sehun. Hal yang harus dikorbankan Sehun untuk debut” Jongin menghembuskan nafas lelah, “Sehun sangat terpukul tahu? Dia membenci perusahaan yang harus mengambil Nami darinya”

“Dan Oh Sehun tidak ingin perusahaan mengambil Im Yoona darinya” Yuri menjawab kaget. Wanita itu geleng geleng, “Semuanya menjadi jelas sekarang. Sehun benar benar naif tapi di satu sisi, sangat romantis”

“Romantis apanya? Itu namanya tindakan idiot. Setidaknya dia bisa memberitahuku. Aku tidak akan membocorkan rahasia sahabatku kan? Dia seperti tidak mengenalku saja” gerutu Jongin sebal.

“Karena Sehun berpikir panjang. Aku bahkan tidak pernah terpikir seperti itu. Dia melindungi hubungannya sekuat tenaga. Meskipun dia harus berkorban untuk itu” Yuri menyender pada sofa, lelah namun puas, “Itu artinya dia sangat mencintai Yoona. Itu sudah cukup untukku”

Mereka diam. Jongin sibuk dengan pikirannya sementara Yuri sedang memutuskan untuk memberitahu Jongin atau tidak. Tapi pada akhirnya, Yuri menyerah juga. Dia dan Jongin berada dalam satu pihak. Dia rasa tidak akan menjadi masalah

“Jongin, sebenarnya. Aku rasa ada masalah lain yang cukup merepotkan”

“Apa?”

Pandangan Yuri menggelap, “Jessica Jung”

//

Sehun berdiri didepan tulisan toilet perempuan. Dia ragu dengan langkahnya. Tapi dia harus menyelesaikan ini. Jadi Sehun mengganti tulisan open menjadi close. Perlahan dia membuka pintu dan menguncinya.

Wanita itu memandang kedatangannya dari balik cermin. Wajahnya basah dan rambutnya berantakan.

“Apa kau tidak melihat tanda di depan? Ini toilet perempuan. Keluar” nadanya tegas dan dingin tapi tidak menggetarkan Sehun.

“Apa aku peduli?”

Sehun menyender pada pintu. Menatap ekspresi Yoona. Wanita itu masih membelakanginya tapi Sehun melihat keputusasaan dari bayangannya. Sehun masih menatap wanita itu datar. Mulutnya terkatup rapat. Membiarkan emosi mewarnainya.

Akhirnya Yoona menyerah juga. Dia tidak sanggup berada dalam situasi seperti ini, “Baiklah Oh Sehun. Apa maumu?”

Sehun tersenyum sinis. Dia memutar kakinya, “Apa yang kau lakukan kemarin? Bersenang senang?”

“Kenapa kau cemburu?”

“Aku tidak cemburu”

“Kau cemburu, Sehun. Aku dan Kris hanyalah teman”

Sehun terdiam, “Benarkah?” dia menyunggingkan senyum miring.

Yoona memutar matanya dan berjalan mendekati Sehun. Pada akhirnya dia mencoba keluar dari toilet. Malas dengan percakapan ini. Namun tubuh tinggi Sehun memblokade pintu.

“Aku belum selesai” katanya mendorong Yoona ke dinding. Membuat Yoona meringis. Tenaga pria itu cukup besar untuk membuat punggungnya ngilu.

“Aku tidak ingin membicarakan ini” sahut Yoona masih mencoba melewati Sehun.

“Aku bilang aku belum selesai!” bentak Sehun membuat Yoona terdiam, “Sampai kapan kau akan seperti ini?”

Yoona mendengus, “Baiklah Tuan Oh yang terhormat. Cepat selesaikan apa maumu” nadanya ketus, membuat Sehun semakin emosi.

“Tidak bisakah kau bicara dengan nada lebih baik?”

“Tidak bisakah kau tidak membentakku?”

Sehun menggeram dan sekali lagi mendorong Yoona ke dinding. Kali ini dia memastikan Yoona tidak bergerak. Ya, Sehun menghimpitnya ke dinding. Membuat Yoona memberontak.

“Lepaskan aku!”

“Apa kau tidak mendengar!?”

Yoona menghentikan pemberontakannya. Sehun menahan amarah dihadapannya dan Yoona tidak berani membantah. Oh ayolah, seseorang yang pendiam sangat menyeramkan saat mereka marah.

Sehun menunduk, “Tolong, Yoona. Tolong, dengarkan aku. Jangan berhubungan dengan Kris dalam konteks apapun. Aku tidak peduli bagaimana caranya, tolong berhenti menghubunginya”

Yoona menjadi emosi. Sehun terlihat lemah dan dia benci itu. Dia benci melihat Sehun menjadi pengecut. Dia benci Sehun berani mengatakan itu padanya. Demi tuhan, dia tidak seperti seseorang yang akan lari dengan pria lain kan?

“Kenapa aku harus melakukannya?”

“Karena aku tidak menyukainya”

Yoona mendengus, “Tapi aku menyukainya”

Sehun tampak kaget. Pria itu menghela nafas lelah, “Jangan bercanda, Yoona-ssi”

“Aku tidak bercanda” Yoona pikir tidak ada gunanya dia bertahan dengan sikap menyebalkannya. Jadi Yoona melembut. Toh Sehun masih berbicara dengan kepala dinging, “Sehunnie, tolonglah. Aku lelah dengan ini”

“Aku cemburu dengan kau dan Kris” tapi Sehun tidak mendengarkan. Dia mengabaikan perkataan Yoona.

“Aku cemburu dengan kau dan Jessica”

“Konyol!” seru Sehun tinggi, “Aku dan Jessica bahkan tidak dekat”

“Jadi, kau berhak cemburu padaku tapi aku tidak berhak cemburu padamu?” balasnya sinis. Yoona sudah mati matian menahan air matanya. DIa takut dengan kenyataan yang mengejarnya semakin cepat. Membuatnya gemetar memikirkannya.

Sehun menyerah. Wajah Yoona sudah seperti ingin menangis. Sehun tidak sanggup melihat Yoona seperti itu. Tangannya menangkup wajah kekasihnya itu. Dan berbicara dengan sangat lembut, “Aku dan Jessica tidak memiliki hubungan apapun, sayang. Aku tidak tertarik dengan wanita sepertinya, tahu?”

“Tapi kau menciumnya!” tangis Yoona akhirnya pecah juga. Memikirkan semuanya menekan batinnya sangat kuat. Dia mengingat hatinya yang hancur saat Sehun mencium Jessica. Mengingat perkataan Jessica, mengingat betapa bodohnya cinta yang dimilikinya, “Aku disana, Sehunnie. Ak—ak…aku….aku melihatnya. Aku hancur tapi kau bahkan tidak mencoba menjelaskan apapun”

Tangisan wanita itu semakin kencang tatkala Sehun memeluknya erat. Sehun membiarkan Yoona membasahi kausnya. Dia tidak mengatakan apapun. Hanya tangannya yang sibuk mengelus rambut kekasihnya. Dan ketika sesenggukannya sudah berhenti, barulah Sehun melepas dekapannya.

“Aku tidak pernah mengharapkannya” Sehun menghapus jejak air mata di pipi Yoona, “Aku bahkan tidak pernah tahu kalau scene itu ada” air mata kembali meleleh, membuat Sehun menghela nafas, “Aku baru tahu pagi ini, Noona. Dan kupikir kau tahu aku tidak punya pilihan selain melakukannya”

Yoona menggigit bibirnya. Air matanya tidak berhenti meleleh. Dia kembali menangis di bahu Sehun. Ini terlalu menyakitkan. Bukan ciumannya. Tapi perasaan Jessica lewat ciuman itu.

Lelaki itu hanya diam. Dan itu bagus. Yoona hanya ingin menangis sekarang. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya hari ini. Tapi semuanya membuatnya pusing dan ingin meledak. Dimulai dari Kris yang menciumnya. Sehun yang mencium Jessica. Pengakuan Jessica. Tatapan memohonnya. Kepalanya sakit sekali.

Sehun menjauhkan kepala Yoona dari bahunya. Pria itu sedikit menekuk tubuhnya untuk menatap Yoona yang menunduk, “Noona, kenapa kau terus menangis?”

“Karena rasanya sakit sekali”

Sehun memejamkan matanya. Melihat orang yang kau sayangi menangis sesenggukan sudah cukup membuatnya terluka. Oh ayolah, hatinya berdenyut ngilu setiap kali Yoona menangis dihadapannya.

“Hey, dengar aku” kali ini Sehun menangkup wajah Yoona dengan kedua tangannya, “Aku berjanji padamu. Hanya kau yang akan memilikiku, Yoongie”

Yoona mengerjap. Seharusnya dia memerah. Seharusnya dia tidak percaya dengan Sehun. Tanpa bahkan sebelum Yoona sempat berpikir lebih jauh, bibir Sehun menyapanya.

Sehun menciumnya seperti biasa. Melumat bibir bawahnya lembut. Tapi hati Yoona tidak menginginkannya. Hatinya sakit sekali merasakannya. Dia tidak tahu mengapa. Ciuman Sehun terlalu menyakitkan. Hatinya berkhianat, Yoona jadi tidak bisa menikmatinya.

Tapi Sehun tidak membiarkannya pergi. Pria itu menempelkan keningnya pada Yoona, memejamkan matanya. Hembusan nafas Sehun yang tenang seharusnya meredakan emosinya, tapi sekali lagi, Yoona tidak sanggup merasakannya.

Dengan sekuat tenaga Yoona mendorong Sehun menjauh. Dan berjalan cepat ke pintu sebelum Sehun bereaksi.

Mi querida”

Yoona menghentikan gerakannya. Sudah lama sekali sejak Sehun memanggilnya seperti itu. Dia mengeratkan genggamannya di gagang pintu.

“Don’t go”

Itu adalah permohonan. Tapi Sehun tidak mencoba menghentikannya. Jadi Yoona hanya tersenyum hambar, “Sudah lama aku tidak main ke apartemenmu, Sehunnie”

Dan Yoona menutup pintunya. Tidak menoleh kepada Sehun sedikitpun. Di lain sisi Sehun memejamkan matanya. Dia menyentuh gagang pintu kamar mandi. Merasakan hangatnya jejak Yoona disana. Matanya terpejam dan kemudia Sehun menguncinya kembali. Dia melangkah gontai ke wastafel. Matanya menatap iris cognac nya dicermin. Kemudian matanya terpejam, membiarkan air mata lolos darinya.

Pria itu gemetar menahan tangisnya. Dia menggigit bibirnya keras keras hingga dia mengecap darahnya sendiri, hanya agar dia tidak sesenggukan.

Kuatlah Oh Sehun. Kuatkan dirimu.

“ARGHHHH!”

Sehun berteriak frustasi. Dia jatuh dengan menyedihkan di lantai. Dia memeluk lututnya. Menahan rasa sakitnya. Rambutnya acak acakan dan penampilannya pasti sudah berantakan. Tapi Sehun tidak peduli.

Air matanya menyentuh lantai yang dingin. Sehun meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Meyesali semua hal yang terjadi padanya.

“Maafkan aku. Maafkan aku Yoongie. Maaf. Maaf. Maaf. Maafkan aku dan keegoisanku.”

//

Yifan meremukkan kaleng colanya begitu mengingat ekspresi Yoona.

“Demi tuhan Wu Yi Fan apa yang kau lakukan!?” dia berteriak frustasi.

Yifan sedang menikmati siang harinya di Sungai Han. Dia baru saja menyelesaikan schedule nya hari itu. Dia juga sedang tidak mood latihan dan dia tahu, Dorm nya pasti kosong saat ini, mengingat semua member sibuk dengan jadwalnya masing masing. Yifan bisa saja pulang dan menikmati keheningan yang amat sangat jarang di dorm, tapi dia malas sekali. Jadi, dengan penyamaran lengkap, Yifan berhasil membaur di Sungai Han yang ramai.

Menenangkan dirinya sendiri. Jauh dari sesosok monster yang tertidur di dirinya.

Oh tuhan, Yifan tidak punya muka untuk berhadapan dengan Yoona.

Bahkan hanya melihat dari ekspresinya saja, Yifan sudah menebak kalau Yoona terganggu. Amat sangat terganggu. Well, logikanya, seorang pria yang hanya beberapa minggu dekat denganmu, kehilangan kendali dan menciummu tiba tiba. Apa yang kau rasakan? Marah, tentu saja.

Yoona adalah wanita baik baik dan Yifan baru saja menghina Yoona.

Ya, menghina.

Lelaki jangkung itu melempar batu sekuar tenaga. Kembali berteriak.

Saat itu Yifan kehilangan kendalinya. Yoona terlalu banyak memberikan Yifan harapan. Dia terlena dengan sikap lembut Yoona hingga dia salah mengartikannya. Lelaki itu tanpa pikir panjang mencium Yoona. Menuruti nafsunya.

Seharusnya dia tidak melakukannya.

Yoona pasti menjadi tidak nyaman berada di dekatnya. Yifan akan semakin sulit mendapatkan hati Yoona.

Kenapa? Karena Yifan merasakannya. Yifan merasa, wanita itu tidak memiliki perasaan padanya.

Dan itu membunuhnya.

Ciuman itu adalah buktinya. Jika Yoona memang menyukainya. Yoona tidak akan pergi dengan terburu buru. Jika Yoona menyukainya, setidaknya, Yoona tidak akan berontak dalam pelukan Yifan.

Yifan mendudukan dirinya di rumput. Meratapi nasibnya.

Dia seperti pengecut

Yifan tiba tiba teringat perkataan yang sukses membuatnya tidak tidur semalaman. Hatinya mendadak was was.

Jika Yoona tidak memiliki perasaan kepadanya. Jika ciuman itu hanya didasari oleh nafsu Yifan, lalu apa arti semua ini? Apa arti perasaan yang justru semakin besar ini? Jika Yoona tidak mencintainya layaknya seorang pria, then who’s the one that belong to her heart?

Mendadak Yifan merasa takut sekali. Selama ini Yifan tidak pernah memikirkan opsi itu. Padahal Yifan adalah orang yang perfeksionis. Dia akan mengecek semua kemungkinan hingga yang paling kecil sekalipun. Yifan dari dulu selalu benci kegagalan. Semasa sekolah, Yifan bukan golongan dengan otak seperti Sehun yang jago menghitung atau Suho yang cepat tanggap, tapi Yifan selalu menjadi lima besar kelasnya, mengingat kalau Yifan sudah serius, dia akan sangat tekun dan teliti.

Tapi ini, adalah sesuatu yang Yifan anggap kegagalan.

Yifan menyalahkan dirinya sendiri. Dia terlalu takut untuk melihat kemungkinan lain, atau dia sudah termakan perasaan? Yifan tidak pernah memikirkan kalau Yoona menyukai pria lain. Oh tidak, pikiran itu hanya akan menusuknya lebih dalam dan dalam. Yifan butuh mental yang kuat untuk hidup di dunia entertainment, opsi tersebut hanya akan membuat Yifan down.

Oh ayolah, kenapa baru sekarang dia menyadarinya? Semua ciri ciri yang disebutkan Yoona memang mirip dengan Yifan, tapi apa itu benar benar dia? Bisa saja ada orang lain yang berada dalam bayangan Yoona saat perempuan itu mengatakannya.

Lagipula, apa memang dirinya? Bisa dikatakan, Yoona dan Yifan hampir tidak pernah dekat sebelum beberapa minggu terakhir ini. Selain karena Yoona sangat sibuk, Yifan juga tidak pernah punya keberanian untuk mengajak Yoona berbicara. Dan hanya karena kecocokan yang Yifan tidak tahu berapa persennya, dia sudah menganggap Yoona menyukainya.

Bagaimana bisa seseorang yang tidak pernah berbicara padamu bisa jatuh cinta padamu?

Oh mungkin Yifan memiliki wajah diatas rata rata, tapi Yifan yakin Yoona sudah terbiasa dengan itu. Sudah berapa banyak lelaki yang mendekatinya? Yoona juga tidak mengenal Yifan, bagaimana bisa seseorang bisa mengenalmu jika dia tidak pernah berbicara. Seingat Yifan, Jessica tidak pernah bilang kalau Yoona menanyai Yifan pada Jessica. Seperti yang sering Jessica lakukan terhadap Sehun. Dan satu satunya teman perempuan Yifan yang cukup dekat dengannya hanyalah Jessica.

Yifan memaki dirinya sendiri. Lututnya sudah menyentuh tanah. Yifan meringis, menahan tangisnya.

“Ibu, apa yang harus kulakukan?” bisiknya pada udara.

Mengetahui bahwa Yoona tidak menyukainya. Bahwa Yoona hanya menganggapnya teman, sudah cukup membuatnya kesakitan. Apalagi membayangkan Yoona akan selamanya menjauh dari Yifan dan lebih buruknya menyukai lelaki lain. Pikiran pikiran seperti itu berkecamuk seperti lebah di otaknya, membuat Yifan tidak konsen seharian ini. Belum lagi hatinya yang terus terusan berdenyut sakit memikirkan ciuman yang hanya Yifan yang menginginkannya. Oh, sudahlah.

Dia tidak akan pernah bisa mendapatkan Yoona.

Dia sudah membuat Yoona menciptakan jarak diantara mereka. Awalnya Yifan pikir semua akan baik baik saja. Jika memang Yoona tidak memiliki perasaan untuknya. Dia pikir dia bisa memulainya dari awal. Dia sudah mengenal wanita itu sekarang, dia tahu apa yang disukai dan apa yang tidak disukainya. Rencananya bisa berhasil.

Tapi Yifan mencium Yoona. Ingat. Mencium.

Tanpa kehendak Yoona.

Oh, Yoona pasti membencinya.

Dan yang lebih menyakitkan, opsi kalau Yifan bukanlah pria yang menempati hati Yoona cukup membuatnya kalang kabut. Rencananya nyaris hancur dan Yifan tidak tahu bagaimana mempertahankannya.

Yifan ingin menyerah. Dia ingin melepaskan Yoona. Dia akan move on dan memulai hidupnya dengan lebih baik. Tapi kemudian hatinya seperti dilindas lindas. Seperti ada belati yang merobeknya dengan begitu dalam.

Ditengah angin yang mulai mendingin, Wu Yi Fan menangis. Menangisi ketidaksanggupannya untuk melepas apa yang sudah menjadi hidupnya.

//

“Ah, Kai!”

Jongin menghentikan langkahnya, mendapati Park Jiyeon berlari kecil dengan wajah berseri seri. Wanita itu langsung memeluknya erat sesampainya dihadapannya.

“Astaga, sudah lama sekali aku melihatmu” kata Jiyeon. Jongin tersenyum. Well, dia dan Jiyeon saling mengenal. Dulu, Jiyeon suka menginap dirumah Sehun saat Jongin datang (Rumah Jiyeon hanya berbeda 1 blok saja) dan mereka akan menghabiskan malam dengan duduk di dekat perapian seraya memakan marshmallow.

Jongin membiarkan Jiyeon melingkar di lengannya, “Kau tambah cantik, Noona”

“Hail Kim Jongin! Kepalamu terbentur apa tadi?”

Mereka berdua tertawa. Kalau dipikir pikir, Jongin rindu juga dengann Jiyeon. Diantara mereka bertiga, Jiyeon lah yang didebutkan terlebih dahulu, dan itu membuat hubungan mereka mulai renggang. Apalagi setelah Jongin dan Sehun debut dengan EXO, kesempatan mereka untuk bertemu satu sama lain sangat minim.

“Ada Sehun kan?” Jiyeon mengangguk, “Aku tahu kau datang untuknya. Jujur saja ya, aku cemburu” dia memajukan bibirnya.

“Mau kuadukan pada L?” Jongin tertawa. Dia tidak banyak memiliki teman wanita, karena dulu Jongin sangat pemalu. Berbeda dengan Sehun. Ketika Jongin lebih memilih membaca buku di perpustakaan, Sehun akan dikerubungi wanita seperti gula. Terbekatilah Oh Sehun dan segala kepopulerannya, “Tidak juga sih. Tadi aku ada disekitar sini, jadi ya, sekalian saja melihat Sehun di lokasi syuting”

Jiyeon tiba tiba berhenti. Membuat Jongin bingung. Wanita dengan wajah oriental itu termenung. Tangannya masih melingkar di lengan Jongin, tapi wajahnya menatap lantai, “Jiyeonnie, ada apa?”

Di depan Jiyeon, Jongin tidak perlu repot repot dengan formalitas. Perempuan dihadapannya menatapnya ragu dan kemudian berjalan menghentak hentak, menjauhi Jongin, “Hey, ada apa?” tanya Jongin setelah dia mengejar Jiyeon.

“Dari dulu, aku tidak pernah mengerti jalan pikiran Oh Sehun”

Jongin cukup terkejut juga. Jiyeon mengatakannya dengan wajah kesal. Jongin hanya tidak menyangka kalau Jiyeon mengetahuinya. Memangnya sejelas itu interaksi Yoona dan Sehun? Pertanyaan penting, kenapa Jongin peduli sekali dengan itu? Kenapa pula Jongin langsung mengerti apa yang dimaksudkan dengan Jiyeon?

“Memangnya dia kenapa?” Tanyanya basa basi. Biasanya pikiran seseorang yang sama sama mengetahui suatu rahasia terhubung. Seperti Jongin dan Yuri. Mengerti tanpa perlu memberitahu.

Jiyeon menghela nafas, “Ada sesuatu yang sedang terjadi, Kai. Aku tidak tahu apa itu”

Ternyata basa basi ada gunanya juga.

“Apa maksudmu?”

Jiyeon menatap Jongin ragu. Dia menggigit bibir bawahnya. Apa dia harus memberitahu Jongin? Tapi apa manfaatnya? Lalu kenapa Jiyeon pusing memikirkannya?

Akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu Jongin. Barangkali Jongin bisa membantunya mengetahui apa yang sedang terjadi. Karena selama ini Jiyeon selalu merasakan itu. Ada sesuatu yang terjadi dan Jiyeon gerah ingin mengetahuinya.

“Aku rasa Jessica menyukai Se—“

“Jiyeonnie!”

Perkataan Jiyeon terputus. Mereka berdua menoleh kesumber suara dan meninggalkan Jongin mematung ditempat.

//

Sehun berusaha tidak melirik Yoona yang memakan applenya tenang. Tidak menghiraukan Sehun atau Myungsoo atau siapapun yang ada di ruangan itu. Jessica duduk disampingnya, mendengarkan obrolannnya dengan Thunder dan sesekali menimpali. Well, ralat, bukan sesekali. Tapi hampir setiap kali.

Lama lama Jessica membuat Sehun gerah.

Dia kesal juga diikuti terus. Belum lagi kondisinya sedang buruk. Pertengkarannya dengan Yoona dan masalah beberapa hari terakhir ini sukses membuatnya tidak mood untuk sekedar tersenyum. Jessica bertingkah seperti wanita wanita penggoda. Sehun jengah juga melihatnya.

Tapi dia tidak bisa mengatakannya. Mengatakan kalau Sehun benci diikuti seperti itu hanya akan menyakiti Jessica. Bukan apa apa ya, tapi Sehun masih tahu yang namanya etika.

“Jessica noona, bisa kau berhenti mendengarkan? Maksudku, ini adalah pembicaraan lelaki” tidak ada yang tahu betapa senangnya Sehun saat akhirnya Thunder melakukan hal yang seharusnya dilakukan

“Oh? Eh?” Jessica jadi salah tingkah. Yang membuat Jessica bertahan dan tetap mendengarkan hanyalah karena Sehun terus terus meliriknya. Dia tidak tahu apa artinya itu—dia lebih suka menafsirkannya sebagai tanda kalau Sehun memperhatikannya.

Thunder berkata dengan sopan. Tapi Jessica masih bisa merasakan kegusaran dalam nadanya. Belum lagi ekspresi Sehun yang mendadak cerah. Seolah mendukung perkataan pria yang dikatakan mirip dengannya itu. Seolah mengatakan kalau Sehun juga tidak nyaman Jessica mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

“Maafkan aku” ucap Jessica lembut.

Perhatian Jessica teralih dengan dengusan Yoona yang cukup keras. Wanita itu sedang beristirahat di sofa depannya. Tidak menghiraukan kalau Sehun, Jessica dan Thunder berada didepannya sedari tadi.

Ada apa?

Dia menatap Yoona dengan bingung. Perempuan dengan wajah alami itu menatap Jessica tanpa ekspresi dan membuat pandangan. Memilih membaca majalahnya kembali. Jessica memutuskan untuk berbicara dengan Yoona. Dia sudah ditegur seperti itu oleh Thunder, tidak enak juga jika dia kedapatan masih mendengarkan pembicaraan mereka.

Ada yang berbeda dengan Yoona. Entahlah, Jessica hanya merasa Yoona menjadi lebih dingin. Dia bahkan tidak banyak bicara hari ini (Jessica baru menyadarinya). Belum lagi tatapannya yang tidak tertebak ke Jessica.

“Yoo—“ dia baru saja berpindah ke kursi yang lain. Lebih dekat dengan Yoona dan jauh dari pembicaraan Thunder dan Sehun, ketika seorang wanita menginterupsinya.

“Sehun!”

Jessica menatap wanita itu. Rambutnya sebahu dan berwarna hitam legam. Mata sipit dan tubuh pendek. Dia cukup cantik dan menarik perhatian. Dan semakin menarik perhatian ketika wanita muda itu menarik Sehun bangkit, memeluknya secara tiba tiba.

Hell, apalagi ini.

“Astaga, kau semakin tampan saja setiap harinya, Sehun” dia melepaskan pelukannya. Jessica memperhatikan Sehun yang hanya tersenyum simpul. Tadi Sehun memeluk balik wanita itu. Tapi Jessica tidak pernah melihatnya sebagai artis. Siapa dia?

“Oh, selamat siang” sapa wanita itu ketika Jessica tertangkap basah memandangnya mengintimidasi.

Yoona berdiri dan membungkuk, seperti seharusnya. Ketika Jessica menatap Yoona, wanita itu tahu pandangan Yoona tidak ada di wajah wanita-yang-memeluk-Sehunnya. Pandangannya jatuh pada Jiyeon, Jongin dan seorang wanita lain.

Hebatnya, Sehun tidak berkedip melihatnya.

Wanita yang ditatap Sehun itu menyapa Thunder, Jessica dan Yoona ramah. Kali ini Jessica tidak membantah. Wanita itu sangat cantik. Gerak geriknya halus dan feminism. Tinggi dan berisi. Dandanannya simple namun elegan. Sepotong dress berwarna hitam dan bandana dirambut marun seleher.

“Lama tidak berjumpa, Sehunnie”

Cara bicara wanita itu mengganggu Jessica. Nadanya dalam dan Jessica bisa merasakan kerinduan di dalamnya. Seolah wanita itu menahan dirinya sendiri. Suasana juga menjadi canggung. Entah kenapa Jessica merasa Yoona mendadak dingin. Sehun dengan ekspresi tidak tertebaknya. Jongin yang memandang Sehun datar, Jiyeon yang menatap takut takut dan wanita tadi yang melirik Jongin diam diam.

“Ya, cukup lama kan, Nami-ssi?”

Wanita yang dipanggil Nami itu tertawa. Jessica mengerutkan kening, merasa familiar dengan namanya. Dia sekali lagi memperhatikan wanita itu, tangannya merogoh sesuatu di tasnya, “Oh ayolah Sehun, kenapa kau jadi kaku seperti itu? Kemana mimi dan tingkah kekanakanmu itu?”

“Park Nami” dan Jessica terkejut ketika Yoona membuka suaranya. Dengan cepat Jessica menoleh, menatap Yoona yang berwajah tampias, “Don’t” perkataannya penuh tekanan. Tatapannya tajam tapi memohon. Nami melihat Yoona tidak berkedip sebelum akhirnya kembali tertawa.

Jessica hanya melongo

Wanita dengan rambut marun itu adalah Park Nami. Mantan kekasih seorang Oh Sehun. Wanita yang membuat Sehun kalap. Wanita yang dikorbankan Sehun.

Jessica kesal setengah mati. Harinya menjadi buruk. Dia pikir Park Nami itu saingan yang mudah. Dia pikir dia bisa dengan mudah menghapus namanya dari hati Sehun (Jika dugaannya benar, Sehun masih menyukai Nami). Tapi nyatanya Park Nami tampak seperti model dan sialnya cukup cantik ukuran seorang yang bukan artis.

“Sepertinya ini adalah rahasia, eh?” tidak jelas Nami berbicara kepada siapa tapi yang jelas Jessica tidak mengerti. Tampaknya yang lainnya juga.

“Apa yang kau bicarakan?” wanita yang memeluk Sehun itu akhirnya berkata lagi.

“Tidak ada, Hana, kaget juga Im Yoona mengenaliku”

“Jangan bercanda” akhirnya Sehun membuka mulut juga, “Mimi” tambahnya sinis.

Hana dan Nami tertawa, “Well, kurasa masalah kalian belom selesai, ya?” kata Hana dan suasana mendadak menjadi lebih tegang lagi. Thunder di dekat Sehun bergerak gerak gelisah.

“Kenapa mereka disini?” suara Sehun dingin dan ditunjukan pada Jiyeon.

Jiyeon menggigit bibir takut takut. Wanita itu merasa lebih baik dia mengubur dirinya sendiri dalam dalam di tanah sekarang. Yoona jelas tahu siapa itu Nami. Sehun sedang menatap Jiyeon mematikan dan Jongin yang berkespresi seperti orang sekarat. Jessica yang memandang mereka dengan berjuta pertanyaan tergambar di matanya.

Ugh, sial sekali, ucapnya miris.

“Aku ada di gedung ini dan mendadak ingin saja bertemu lagi denganmu” Park Nami mendesah dan mengulurkan sebuat undangan berwarna beige, “Aku ingin memberikan ini padamu dan kebetulan sekali, Jongin”

“Apa itu?” tanya Jongin menerima undangan yang diulurkan Nami.

Jessica memperhatikan Sehun yang membaca undangannya dengan serius. Sementara Jiyeon beringsut mendekati Jongin, ikut membaca undangan itu.

“Oh” Sehun menutup kembali undangannya, melemparnya asal ke sofa, “Selamat, Nami-ya” ucapannya manis tapi nadanya menusuk. Tapi sepertinya Nami tidak menghiraukan. Wanita itu menatapnya dengan tatapan tajam. Seperti mengintimidasinya. Dan tentu saja, dengan berani Jessica menatapnya balik dengan tatapan terdingin yang dia punya.

Detik berikutnya Yoona berdehem. Membuat Nami menatap Yoona. Pandangannya tidak dapat ditebak, tapi ekspresinya sedih, “Oh Sehun, hidupmu, rumit sekali ya?”

Meskipun begitu, matanya tidak lepas dari Yoona yang mendengus.

“Aku tidak mengerti”

Nami kembali menatap Sehun, “Kau berubah banyak” dia tersenyum sedih, “Tapi ada satu hal yang tidak berubah” dia kemudian menatap Jongin yang masih kaku, “Yaitu tingkah bodohmu”

“Jangan berkata aneh. Aku tidak mengerti yang kau bicarakan”

“Jangan berpura pura. Kau tidak bisa berbohong di depanku, Sehun”

Yoona menatap sepasang mantan kekasih itu sedih. Sudah cukup dengan Jessica, pertengkarannya dengan Sehun, kini Park Nami pun ikut campur? Belum lagi aura mematikan Sehun. Seolah pria itu sedang mengantisipasi setiap gerakan Nami. Seolah pria itu takut kegelapan akan merenggutnya kembali.

Yoona harus menemukan caranya. Thunder dan sialnya Jessica sudah terlihat kebingungan. Dan lagi Jiyeon seperti habis dikuliti hidup hidup. Tidak bergerak dan terlihat menahan napasnya. Jadi Yoona menatap Kim Jongin yang sialnya menjadi batu dihadapan Jo Hana.

“Berhenti dengan lovey dovey kalian” interupsi Yoona sedikit sinis. Dia mendekati Jongin, mengabaikan tatapan tidak percaya Sehun, “Jongin, bisa tolong aku?”

“Apa?” suaranya seperti robot dan Yoona merasa kasihan.

“Kemarin kan aku tidak datang, bisa ajari gerakan yang kau pelajari untuk konser nanti?”

Dengan senang hati dan wajah luar biasa lega, Jongin mengangguk, “Tentu saja!” serunya tinggi. Yoona merasa sedikit terhibur. Setidaknya dia perlu menyelematkan satu hati di ruangan itu.

“Aku akan pergi”

Yoona dan Jongin berhenti. Jessica kembali menatap Nami yang menunduk, “Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan” wanita dengan wajah berbentuk hati itu menggenggam tangan Sehun secara tiba tiba.

“Jangan bertindak bodoh, hunnie. Jangan lagi”

///

Please banget adegan terakhir itu agak maksa. Kalo ga nyambung abaikan saja ya. Adegan Nami-Sehun itu cuman buat neken jalan ceritanya doang kok. Jadi kalo agak ga nyambung, tolong abaikan saja. Niatnya mau fokus ke Jessica eh malah begini jadinya😦

Ya beginilah efek moonwalk sok gantengnya Sehun di EXO next door atau pusing dengan pathcode pathcode yang teryataan gaada nyambung nyambunya acan sama MV nya dan suara Sehun yang sekseh bingo di Transformer. Hari ini otak saya berada tidak pada tempatnya. Thanks to EXO, round applause.

Dan aku sudah kebingungan. Bikin plot ini sudah sampe bagian klimaks tapi jalan menju klimaksnya itu maish bolong bolong😦 Aku juga greget pengen ff ini cepetan selese ya allah😦 tar ngeri lebih panjang dibanding heart attack😦

abaikan saja ocehan tidak jelas diriku. Aku sedang melayang dengan ‘never dont mind about a thing’ nya sehun ya, otaknya jalan jalan. Belom lagi tugas yang dikombinasika exodus yang lagunya bikin baper semua.

So, see you later and please leave your comment below🙂

114 thoughts on “Hidden Scene [11]

  1. nami itu nyindir sehun ya? tingkah bodoh itu maksudnya tingkah nya sehun nyembunyiin hubungan nya sama yoona?

    sehun please tunjukin rasa cintamu ke yoona eonni biar yoona eonni ga ragu sm cinta kamu. ksiankan yoona eonni jd kesiksa gitu..

  2. sakit thor hati kuuuu sakit pas yoonhun bertengkar di toilet, padahal cuma baca tapi aku bisa banyangin gimana emosi masing masing huhuuu

  3. knp nami datang lagi?
    jessica please, berhenti gangguin sehun,
    yoona jgn nyerah gitu,
    dan kris, duh duizhang knp kamu pake nyium yoona segala,
    sehun jgn ngamuk ya,

  4. OMG!!!! THOR KEREN LANJUTIN DONK
    FANFICNYA UDAH LAMA KEGANTUNG NIEHHH

    TERKADANG AKU BERHARAP YOONHUN PUTUS TAPI AKU MERASA KASIHAN SAMA YOONA NYA TAPI AKU PIKIR MEREKA PUTUS AJA BIAR SEHUN TAHU RASA TERUS DIA NYESEL TRUS JANGAN BIKIN YOONA DOANK DONK YANG CEMBURU TRUS SEKALI KALI GANTIAN KEKK SI SEHUN
    AKU HARAP FANFICNYA SEGERA DIUPDATE AKU TUNGGU YA

  5. Duh, ini kenapa nongol satu pengganggu lagi. Itu undangan apa yang dikasih Nami ke Sehun? Eh bentar, Nami kayaknya kok tau kalo Yoona sama Sehun? Iya gak sih? Eh, pokoknya daebak deh, thor

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s