Immortal Memory [4]

immortal_memory_2

Immortal Memory

by cloverqua | main casts Oh Sehun – Im Yoona

support casts Im Siwan – Im Juhwan – Ji Chang Wook and others

genre AU – Family – Romance | rating PG 17 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

Introduce Cast | 1 | 2 | 3

.

Kenangan akan selalu abadi, sekalipun kenangan terburuk yang membuatmu melupakanku

.

“K—kau sudah sadar?”

Sehun tergagap, tidak tahu lagi harus berkata apa kala wanita yang baru saja ditolongnya sudah membuka mata. Untuk sekian detik, keduanya masih beradu tatapan dengan posisi yang tidak berubah. Sehun sontak memundurkan tubuhnya ketika Yoona tiba-tiba beranjak bangun hingga dalam posisi duduk. Wanita itu menghadiahinya sorot mata bingung sekaligus curiga.

“Kau jangan salah paham,” Sehun seolah mengerti arti tatapan Yoona yang tidak beralih sedikit pun darinya. “Tadi aku hanya ingin menolongmu. Kau tenggelam di kolam renang.”

Yoona mengernyit, sambil memutar bola matanya dengan malas. Jari telunjuknya mengarah pada bagian bibir yang lantas membuat wajah Sehun memerah.

“I—itu hanya nafas buatan yang terpaksa kulakukan, karena kau tidak kunjung sadar saat aku melakukan CPR,” pria itu berdeham pelan dengan wajah yang beralih ke arah lain, seolah enggan memperlihatkan perasaan malu dalam dirinya.

Yoona masih memandangi Sehun dengan pandangan menyelidik, membuat pria itu kesal karena dianggap melakukan hal macam-macam.

“Sungguh, aku tidak bermaksud menciummu. Aku hanya—” untuk kesekian kali wajah Sehun memerah dengan desahan pelan yang keluar dari sela-sela bibirnya, “—ingin menolongmu. Itu saja.”

Sehun merutuki kebodohannya yang kali ini tampak kikuk di depan Yoona. Hilang sudah image cool dan cuek yang selama ini melekat dalam dirinya. Bukan tanpa alasan jika Sehun berpikir demikian, mengingat sebelumnya ia memang tak pernah memperlihatkan ketertarikannya pada seorang wanita, sebelum bertemu dengan Yoona.

Kedua sudut bibir Yoona tertarik, hingga membentuk lengkungan senyum yang sempurna.

“Hei, apa barusan kau menertawaiku?” mata Sehun terlihat lebih sipit dari biasanya, ia sedang berusaha membaca mimik wajah Yoona.

Yoona menggeleng cepat, tak ingin aksi diam-diamnya yang tersenyum geli dengan sikap Sehun, berhasil diketahui oleh pria itu. Ia beralih memeluk kedua lengan saat hawa dingin menerpa tubuhnya yang basah kuyup.

Sehun mengambil jas miliknya yang sempat terlempar tak jauh dari posisi mereka, kemudian memakaikannya untuk menutupi tubuh Yoona yang kini terlihat sedikit menggigil. Yoona sempat menunjukkan gesture penolakan ketika Sehun hendak memakaikan jasnya.

“Tubuhmu basah kuyup. Kau bisa sakit karena kedinginan,” ucap Sehun meyakinkan Yoona.

Dua kalimat yang baru saja keluar dari Sehun, tak pelak membuat Yoona merasa kagum. Wanita itu tersenyum sembari memandangi Sehun yang rela mengorbankan jasnya hanya untuk menghangatkannya, padahal pria itu juga merasa kedinginan.

Jika dibandingkan pertemuan pertama mereka saat acara perjodohan, sekarang Sehun menunjukkan perubahan drastis dalam sikapnya. Tak ada lagi kesan dingin dan cuek dari pria itu, melainkan sikap peduli dan perhatian yang diberikan kepada Yoona. Itulah yang dirasakan Yoona setelah pria itu menyelamatkan nyawanya.

“YOONA!”

Sehun dan Yoona menoleh kompak ke pemilik suara yang berteriak sangat keras. Sehun refleks membantu Yoona berdiri karena kondisi wanita itu yang terlihat lemas. Sementara pandangan matanya langsung tertuju pada dua pria yang berjalan mendekatinya dengan raut wajah marah bercampur panik. Sehun sepertinya harus bisa mengendalikan emosi dua kakak sepupu Yoona yang bersiap menghujatnya.

“Apa yang kau lakukan padanya?” tanpa basa-basi, Siwan menarik kerah kemeja Sehun hingga pria itu sedikit terbatuk karena sesak. Reaksi Siwan dirasa wajar, mengingat ia bersama Juhwan mendapati Yoona dalam kondisi basah kuyup dan sedang bersama Sehun. Sejak sikap pria bermarga Oh itu yang menolak Yoona secara terang-terangan di hari perjodohan, Siwan dan Juhwan sama-sama membencinya.

Yoona terkejut melihat kemarahan dalam diri Siwan. Wanita itu mencengkeram pergelangan tangan Siwan, kemudian menggelengkan kepala seolah memberi isyarat jika mereka salah paham terhadap Sehun.

Juhwan mengernyit ketika melihat gesture tangan Yoona, seperti sedang meminta sesuatu dari mereka. Setelah berpikir cukup lama, Juhwan terbelalak sambil mengeluarkan ponsel miliknya. Benar saja seperti yang ia pikirkan, Yoona langsung menyambar ponsel dari tangan Juhwan dan mengetikkan sesuatu untuk mereka.

Kalian jangan salah paham. Sehun sama sekali tidak melakukan hal buruk padaku. Justru dia baru saja menolongku karena tenggelam di kolam renang.

Juhwan yang juga membaca pesan Yoona hanya terdiam, lalu melirik sekilas pada Siwan yang mulai mengendurkan cengkeraman tangannya pada kerah kemeja Sehun.

“Kau yakin?”

Anggukan Yoona membuat Siwan menghela nafas lega, sebelum beralih memandangi Sehun yang masih terbatuk karena tindakannya.

“Maaf,” Siwan berucap singkat tanpa memandang Sehun sedikit pun. Ia sepertinya masih kesal dengan sikap Sehun terakhir kali yang dianggap menghina kondisi Yoona.

“Aku sangat mengerti sikapmu, hyung,” Sehun hanya tersenyum tipis kepada Siwan, “Kau masih marah dengan ucapanku hari itu, saat aku menolak perjodohan karena kondisi Yoona.”

“Kau benar. Ucapanmu sudah membuat Yoona menangis dan itu tidak bisa kuterima,” ucap Siwan sarkastik, “Jadi, jangan salahkan aku jika aku sangat membencimu.”

Sehun terdiam dengan sorot mata sendu. Ia melirik Yoona yang kini tertunduk dalam rangkulan Juhwan.

“Maafkan aku. Waktu itu—aku berbicara tanpa pikir panjang bagaimana akibatnya. Aku benar-benar menyesal,” sahut Sehun dengan tulus meminta maaf di hadapan Siwan.

Jongin, Chanyeol dan Baekhyun yang sedari tadi berdiri tak jauh dari posisi mereka, terkejut ketika melihat Sehun membungkuk di hadapan orang lain. Ini kali pertama mereka melihat Sehun rela membuang harga dirinya untuk meminta maaf kepada orang lain dan itu semua hanya karena seorang wanita yang sudah membuat Sehun tertarik.

“Sudahlah. Lebih baik kita tidak membahasnya lagi,” ucap Siwan sambil menghembuskan nafas panjang. Sorot matanya yang semula tajam kini tampak teduh. Meski kemarahan masih bersarang dalam hati Siwan, namun pria itu tak bisa mengabaikan tindakan Sehun yang sudah menyelamatkan nyawa Yoona.

“Jadi—kau memaafkanku?” tanya Sehun dengan mata yang berbinar, ia berharap jika hubungannya dengan dua kakak sepupu Yoona yang sempat bersitegang, perlahan bisa mencair.

Siwan tersenyum tipis, “Aku belum bisa memaafkanmu sepenuhnya. Tapi, aku tetap berterima kasih padamu karena sudah menolong Yoona.”

Sesaat ada rasa kecewa yang keluar dari wajah Sehun, namun ia mencoba bersikap tenang.

“Sekali lagi terima kasih,” kini giliran Juhwan yang bersuara setelah terdiam cukup lama.

Sehun bisa bernafas lega ketika melihat senyum Juhwan dan Siwan, meskipun masih terlihat canggung dan mereka belum sepenuhnya memaafkan kesalahan yang dilakukan pada Yoona sebelumnya.

“Apa?” Sehun sedikit kaget ketika Yoona tiba-tiba melambaikan tangan di depan wajahnya. Ia pandangi jemari wanita itu yang terlihat sibuk menuliskan pesan.

Soal perjodohan kemarin, aku sudah memaafkanmu. Terima kasih karena sudah menolongku.

Seperti ada air es yang mengguyur tubuh Sehun, ia tersenyum lebar usai membaca deretan tulisan dalam ponsel yang disodorkan Yoona. Terlalu senang, ia tidak menyadari ada orang lain yang juga berada di dekatnya. Dehaman pelan dari Juhwan seketika membuyarkan lamunan Sehun yang sedari tadi asyik memandangi Yoona. Sehun terkesiap dan langsung menunduk saat ketiga orang itu berlalu dari hadapannya.

Jongin, Chanyeol, dan Baekhyun, lagi-lagi hanya mengernyit karena Sehun masih berdiri mematung dengan tatapan yang terus tertuju pada Yoona, meskipun wanita itu sudah pergi didampingi kakak sepupunya. Ketiga pria itu sontak berlari menghampiri Sehun yang sedang tersenyum seorang diri tanpa henti.

“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol bingung sekaligus cemas. Pasalnya tubuh Sehun basah kuyup dan suhu malam ini cukup dingin, namun pewaris Kingdom Group itu justru tampak senang dengan senyum lebarnya.

“Aish, kurasa tidak. Lihatlah, dia seperti orang gila sekarang,” celetuk Baekhyun setengah berbisik. Jongin tergelak mendengar ucapan Baekhyun yang menggelitik. Sementara pria yang menjadi pusat perhatian mereka itu masih asyik dengan pikirannya sendiri.

“Kekuatan cinta memang hebat, bisa mengubah sikap seseorang dalam waktu sekejap,” sambung Chanyeol sok puitis, yang langsung ditanggapi tawa oleh Jongin dan Baekhyun.

//

Ny. Nayoung duduk bersantai di dekat balkon kamar, sembari membaca majalah ditemani angin malam yang sedikit dingin. Untuk beberapa detik, keasyikan membaca majalahnya sedikit terusik ketika ia tidak sengaja mendengar suara sang suami dari arah belakang.

“Jika kau memang masih menyimpan barang-barang milik mendiang ayahmu, coba kau periksa apakah ada dokumen atau surat yang berisi pesan dari mendiang ayahku. Sebelum ayahmu meninggal, dia sempat mengungkit surat ayahku yang dititipkan padanya,” suara Tn. Hyunsung terdengar pelan, namun tetap tegas seiring raut wajahnya yang tampak serius.

Ny. Nayoung mengernyit, ia penasaran dengan siapa sang suami tengah berbicara melalui ponsel.

“Baik, aku mengerti. Segera beritahu aku jika kau sudah berhasil menemukannya,” lanjut Tn. Hyunsung sambil menghela nafas lega. Ia lalu menjauhkan ponsel dari telinga, kemudian melirik sang istri yang tanpa ia sadari sudah memandanginya.

“Kau berbicara dengan siapa?” tanya Ny. Nayoung curiga sambil menghadiahi sorot mata menyelidik kepada sang suami.

“Jaeha. Aku meminta bantuannya untuk menyelidiki kasus pembunuhan Hyunjae dan Yunhi,” jawab Tn. Hyunsung. Jemarinya kembali berkutat dengan ponsel untuk mengirimkan pesan kepada orang yang baru saja ia telepon.

“Jadi, sekarang kau meminta bantuan Jaeha untuk menyelidiki kasus ini?” anggukan pelan dari Tn. Hyunsung membuat Ny. Nayoung terdiam. Dahinya berkerut, menandakan ia tengah berpikir keras terhadap rencana sang suami yang melibatkan pengacara keluarga mereka.

Sebelumnya, kasus ini ditangani oleh pengacara luar karena mereka tak ingin keselamatan Kim Jaeha dan putranya terancam. Bisa dilihat dari beberapa pengacara yang sudah mereka sewa, akhirnya memilih mundur karena berulang kali mendapat teror yang diduga dari pihak pelaku pembunuhan tersebut.

“Kita tidak punya pilihan, selain meminta bantuan mereka. Aku yakin Jaeha dan putranya yang sangat cerdas itu bisa memecahkan kasus ini sampai tuntas,” lanjut Tn. Hyunsung dengan nada penuh keyakinan.

“Kuharap juga begitu,” sahut Ny. Nayoung, “Aku mau tanya, apakah ada orang yang kau curigai sebagai pelaku yang membunuh Hyunjae dan Yunhi?”

Tn. Hyunsung terdiam cukup lama, sebelum akhirnya ia menunduk sambil memangku dagunya dengan kedua tangan.

“Aku belum bisa menebak siapa pelaku pembunuhan ini. Tapi, ada seseorang yang aku curigai sebagai otak atau dalang dari kasus ini,” sorot mata Tn. Hyunsung terlihat tajam, membuat Ny. Nayoung semakin didera rasa penasaran.

“Siapa?”

“Maaf, aku belum bisa mengatakannya sekarang. Sebenarnya aku berharap jika kecurigaanku terhadap orang itu salah. Tapi—” Tn. Hyunsung menahan nafas sejenak, “—entahlah, aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Semoga saja kasus ini segera selesai dengan hasil yang memuaskan. Para pelaku kejahatan terungkap dan bisa diadili sesuai perbuatan mereka.”

Ny. Nayoung terdiam dengan pandangan yang tertuju pada sang suami. Ia hanya bisa mengangguki harapan yang disampaikan suaminya, agar kasus pembunuhan orang tua Yoona bisa cepat selesai dan membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan.

//

“Astaga, apa yang terjadi denganmu?”

Sehun hanya meringis ketika mendengar suara pekikan dari bibinya—Oh Chaeri. Pria itu baru saja sampai di rumah setelah menghadiri pesta ulang tahun Woobin. Sesekali Sehun tersenyum, melihat reaksi sang bibi yang terkejut dengan penampilannya. Wajar jika Chaeri bereaksi demikian, karena Sehun pulang dalam kondisi tubuh yang masih basah usai menyelamatkan Yoona.

“Mana appa dan eomma?” tanya Sehun penasaran ketika menyadari suasana rumah yang sepi.

“Mereka pergi ke rumah kerabat yang berada di Chuncheon, mungkin baru pulang besok pagi,” jawab Chaeri kemudian memberi perintah kepada Kepala Pelayan Lee agar menyiapkan minuman hangat untuk Sehun.

“Cepat ganti pakaianmu, kau bisa jatuh sakit,” ucap Chaeri sambil mengedikkan dagunya ke arah kamar Sehun. Keponakannya itu mengangguk dengan senyum lebar. Sontak saja sikap Sehun membuatnya terheran, hingga memperlihatkan kerutan di dahinya. Chaeri langsung menyusul untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan keponakannya tersebut.

Sebelum berjalan ke kamar Sehun, Chaeri terlebih dahulu mengambil minuman hangat yang sudah disiapkan untuk Sehun. Dibantu Kepala Pelayan Lee yang membukakan pintu kamar, wanita yang usianya hanya berjarak 10 tahun dengan keponakannya itu langsung masuk ke kamar Sehun. Ia mendapati Sehun sudah berganti pakaian dan terlihat tengah mengusap-usap rambutnya dengan handuk.

“Minumlah selagi hangat,” suruh Chaeri sambil menyodorkan teh herbal kepada Sehun yang sudah duduk di tepi ranjang.

“Terima kasih, ahjumma,” ucap Sehun sambil tersenyum lebar dan meneguk minuman yang sudah dibawa oleh bibinya.

Chaeri mendesis melihat reaksi Sehun yang seperti anak kecil, “Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa bisa pulang dalam kondisi basah kuyup seperti ini?”

Sehun melirik dari balik cangkir teh yang sedang diteguknya, “Aku baru saja menolong seseorang yang tenggelam di kolam renang.”

“Siapa?” kerutan di dahi Chaeri semakin kentara. Namun ia hanya mendapat senyuman lebar dari Sehun yang membuatnya semakin penasaran.

“Yoona,” jawab Sehun akhirnya bersuara setelah lama bungkam dan hanya memberikan senyuman lebar untuk Chaeri.

Chaeri terbelalak, “Calon istrimu yang kau tolak itu?”

“Aish, jangan menambahkan julukan seperti itu. Aku tidak suka mendengarnya,” kesal Sehun dengan bibir yang mengerucut.

“Kenapa? Kau memang sudah menolaknya, ‘kan?” Chaeri menyipitkan matanya ke arah Sehun yang kini memalingkan wajah, “Atau jangan-jangan, kau mulai tertarik dengannya?”

Ucapan Chaeri sontak membuat wajah Sehun memerah. Tak pelak reaksi keponakannya tersebut membuat Chaeri tergelak sambil menutup mulutnya.

“Kau jatuh cinta padanya?” Chaeri semakin tertawa keras melihat raut wajah Sehun yang seperti kepiting rebus.

“Ti—tidak. Kata siapa aku jatuh cinta padanya?” elak Sehun sambil mendesah pelan.

“Wajahmu itu tidak bisa berbohong, Oh Sehun,” goda Chaeri semakin menjadi, lalu mendekatkan bibirnya di telinga Sehun, “Kau jatuh cinta padanya.”

Ahjumma!” Sehun berteriak kesal sekaligus malu mendengar bisikan Chaeri. Belum sempat ia meluapkan emosinya, wanita itu sudah melesat pergi, meninggalkan Sehun yang masih terduduk dengan wajah memerahnya.

Benar atau tidak yang dikatakan Chaeri, satu hal yang tidak bisa ditolak Sehun, ada perasaan menggelitik yang membuatnya selalu tersenyum tiap kali bertemu dengan Yoona. Terlebih saat ia sudah menolong wanita itu, yang membuat hubungan mereka membaik dan tidak lagi bersitegang seperti sebelumnya.

Sehun menghempaskan tubuhnya berbaring di ranjang. Matanya kini memandangi langit-langit kamar. Bayang-bayang wajah Yoona kembali terlintas dalam benak Sehun, membuat pria itu tersenyum kegirangan. Tampaknya malam ini ia tidak bisa tidur karena terlalu senang dengan kejadian yang melibatkannya bersama Yoona di kolam renang Hotel Royal.

.

.

.

.

.

Aigo, demammu cukup tinggi. Sebaiknya hari ini kau beristirahat dan tidak melakukan kegiatan apapun.”

Suara Ny. Nayoung disambut dengusan kesal dari Yoona. Wanita itu memegang keningnya yang memang terasa panas, lalu beralih mengambil notes miliknya yang diletakkan di atas meja samping ranjang.

Aku bosan jika hanya berbaring di kamar.

Ny. Nayoung mendesis, “Kau sedang demam dan harus beristirahat. Setelah ini aku akan menyuruh Kepala Pelayan Baek membawakan bubur untukmu. Kau harus makan lalu meminum obat penurun demam. Mengerti?”

Yoona mengangguk dengan raut wajah datar, ia menyesali kejadian semalam yang membuatnya harus terbaring demam seperti sekarang. Tiba-tiba saja wajahnya memerah ketika ia tak sengaja mengingat sikap Sehun yang menolongnya semalam.

“Bahkan wajahmu merah padam. Demammu pasti sangat tinggi,” Ny. Nayoung mengira perubahan raut wajah Yoona karena demam, padahal yang sebenarnya karena wanita itu mengingat sikap Sehun yang memberinya nafas buatan. Meski tidak melihatnya, Yoona bisa merasakan sesuatu di bibirnya. Apa mungkin jika sebelum ia sadar, pria itu sudah melakukannya lebih dulu? Jadi, semalam mereka sudah berciuman?

KLEK!

“Yoona?” terdengar suara Siwan setelah pria itu membuka pintu kamar. Ny. Nayoung menengok ke belakang dan mendapati sang putra sudah berpenampilan rapi sebelum berangkat bekerja.

“Apa yang sebenarnya kau dan Juhwan lakukan? Sampai tidak tahu jika Yoona tenggelam di kolam renang,” sesal Ny. Nayoung, “Lihatlah sekarang dia jatuh sakit seperti ini.”

“Aku tahu, eomma. Maafkan aku,” ucap Siwan merasa bersalah.

Ny. Nayoung sedikit terkejut ketika lengannya dicengkeram kuat oleh Yoona. Ia menoleh dan kembali melihat Yoona menyodorkan notes kepadanya.

Aku yang ceroboh karena tidak hati-hati. Oppa sama sekali tidak bersalah. Lagipula, untung saja ada Sehun yang menolongku sehingga nyawaku bisa tertolong.

“Sehun yang menolongmu?” Ny. Nayoung terbelalak dengan nafas yang sedikit tertahan.

Yoona mengangguk seraya tersenyum, sementara Ny. Nayoung melirik sekilas pada Siwan yang masih berdiri di sebelahnya.

“Benarkah itu?” tanya Ny. Nayoung memastikan.

Ne, eomma. Dia yang sudah menolong Yoona,” jawab Siwan seadanya, sesuai fakta yang dilihatnya semalam.

Kedua sudut bibir Ny. Nayoung tertarik hingga membentuk lengkungan senyum. Ia senang mendengar kabar tersebut, karena setidaknya Sehun menunjukkan perhatian pada Yoona. Sampai sekarang, ia berharap jika pria itu bersedia menerima perjodohan dengan keponakannya, meski sebelumnya sempat menunjukkan penolakan.

Siwan menyentuh kening Yoona yang terasa panas, kemudian membelai kepala wanita itu dengan lembut.

“Istirahatlah, semoga lekas sembuh,” pesan Siwan sebelum ia berjalan keluar dari kamar Yoona.

Eomma antar sampai depan. Ayahmu pasti juga akan berangkat sebentar lagi,” sahut Ny. Nayoung kemudian melakukan hal serupa dengan Siwan terhadap Yoona. Pasangan ibu dan anak itu pun berjalan bersama keluar dari kamar Yoona, meninggalkan sang pemilik kamar untuk beristirahat.

Yoona menghembuskan nafas panjang dan memilih bangun untuk sementara waktu. Sesekali ia memijat kening ketika merasakan kepalanya yang berdenyut. Pandangannya tiba-tiba beralih pada jas yang tersampir di atas sofa yang berada di kamarnya. Dengan langkah sedikit sempoyongan, Yoona mencoba mengambil jas tersebut.

Untuk kesekian kali, bayang wajah Sehun terlintas dalam kepala Yoona. Tangannya menyentuh perlahan jas milik Sehun, pria yang sudah menolongnya semalam. Tanpa sadar, Yoona memeluk jas tersebut hingga ia bisa mencium aroma khas dari Sehun. Ia tersenyum geli setiap kali mengingat raut wajah kikuk dari Sehun semalam.

//

“Katakan apa yang kau ketahui tentang Im Yoona.”

Sekertaris Ahn mengangguk ketika ia menemui Woobin untuk menyerahkan jadwal kegiatan yang harus dilakukan putra pemilik Royal Group yang kini telah menjabat sebagai wakil presdir di perusahaan mereka.

“Sejak orang tua Nona Yoona meninggal, dia tinggal bersama paman dan bibinya, Im Hyunsung dan Lee Nayoung yang merupakan orang tua Im Siwan. Nona Yoona sangat senang bermain piano dan memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap musik. Sempat mengenyam bangku kuliah di jurusan Post Modern Music di Universitas Kyunghee, namun berhenti saat memasuki tahun ke-2 kuliah,” jelas Sekertaris Ahn.

“Kenapa berhenti?” Woobin mengernyit dengan tatapan heran.

Sekertaris Ahn menunduk, ia merasa sulit untuk menjelaskan fakta yang berkaitan dengan alasan Yoona berhenti kuliah.

“Itu—karena kondisinya yang bisu dan menjadi bahan cemooh dari orang-orang di sekitar kampus,” lanjut Sekertaris Ahn dengan suara pelan.

Woobin terbelalak, “Dia bisu?”

Ne, informasi yang saya dapatkan, Nona Yoona kehilangan kemampuan bicara akibat trauma masa kecil yang menimpanya,” jawab Sekertaris Ahn.

“Trauma masa kecil? Jadi maksudmu dia bisu bukan bawaan dari lahir, melainkan trauma yang dialaminya?” tanya Woobin memastikan lagi.

“Benar, Tuan Muda. Itulah sebabnya paman dan bibinya memutuskan agar Nona Yoona berhenti dari kuliah. Selain tidak tega melihatnya tertekan karena perlakuan teman-teman di kampus, mereka ingin agar Nona Yoona fokus menjalani terapi untuk mengatasi trauma masa kecilnya, supaya bisa berbicara lagi,” Sekertaris Ahn menyerahkan sebuah map yang didalamnya sudah ada biodata serta penjelasan tentang latar belakang keluarga Yoona.

Woobin membaca dengan teliti laporan yang sudah ditulis Sekertaris Ahn tentang cucu ke-3 dari pemilik Empire Group tersebut.

“Berulang kali gagal dalam acara perjodohan? Apa maksudnya ini?”

“Banyak dari pihak pria yang dijodohkan dengan Nona Yoona, menolak perjodohan tersebut karena kondisinya yang bisu,” sahut Sekertaris Ahn. “Saya mendengar jika orang terakhir yang dijodohkan dengan Nona Yoona adalah pewaris dari Kingdom Group, Oh Sehun.”

“APA?” Woobin sedikit berteriak ketika nama Sehun terlontar dari mulut Sekertaris Ahn. “Mereka berdua dijodohkan?”

Sekertaris Ahn mengangguk, “Tapi, perjodohan itu batal karena penolakan Tuan Muda Sehun. Alasannya tidak jauh berbeda dengan mereka yang sudah dijodohkan dengan Nona Yoona sebelumnya.”

“Lalu, kenapa semalam aku melihat mereka berdua sedang bersama di tepi kolam renang? Apa yang mereka lakukan?” gumam Woobin penasaran. Ya, tanpa sepengetahuan siapapun, Woobin memang sempat melihat Sehun dan Yoona bersama di tepi kolam renang saat acara pesta ulang tahunnya semalam. Diam-diam pria itu mengamati sorot mata Sehun ketika memandangi wajah Yoona.

“Tuan Muda, apakah ada yang ingin Anda tanyakan lagi?” tanya Sekertaris Ahn heran karena hanya melihat Woobin terdiam di depannya.

“Tidak, ini sudah cukup. Kau boleh kembali bekerja,” jawab Woobin dengan gesture tangan yang menyuruh Sekertaris Ahn keluar dari ruangannya.

Sepeninggalan Sekertaris Ahn, Woobin memangku dagunya dengan kedua tangan. Wajahnya terlihat serius dengan sorot matanya yang tajam.

“Apa kau tertarik dengannya Oh Sehun?” gumam Woobin sambil mengeluarkan senyum smirk-nya. “Jika benar demikian, maka ini akan semakin menarik.”

Woobin menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Seringaiannya kian terlihat kala pria itu mengingat lagi kejadian semalam yang dilihatnya.

“Aku mau tahu, bagaimana reaksimu jika aku memiliki Yoona lebih dulu darimu?” sedetik kemudian hanya terdengar tawa dari Woobin yang memecah keheningan dalam ruang kerjanya.

//

“Tuan Muda Jongin?”

Jongin tersenyum ketika kedatangannya untuk menemui Yoona disambut Kepala Pelayan Baek. Ini kali pertama Jongin bertandang ke rumah tersebut, setelah hampir 1 bulan terakhir disibukkan dengan pekerjaannya sebagai pengacara. Seperti yang sudah disepakati bersama paman Yoona, ia dan ayahnya ditunjuk untuk menangani kasus pembunuhan orang tua wanita itu.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Jongin ramah kepada pria yang mengenakan kacamata tersebut.

“Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Tuan Muda sendiri? Sudah lama Anda tidak datang berkunjung ke sini,” ujar Kepala Pelayan Baek dengan senyum sumringah.

Ne, kabarku juga baik. Belakangan ini aku sibuk dengan kasus yang sedang kutangani,” Jongin tertawa sejenak sambil memandangi seisi rumah yang terlihat sepi, hanya ada beberapa pelayan yang masih sibuk membersihkan rumah.

“Apa Yoona ada di rumah?”

Kepala Pelayan Baek mengangguk, “Nona sedang beristirahat di kamar. Beliau jatuh sakit.”

Jongin terbelalak, “Dia sakit?”

“Beliau demam dan saya rasa karena kejadian semalam saat Nona Yoona menghadiri acara pesta ulang tahun dari putra pemilik Royal Group,” jawab Kepala Pelayan Baek.

“Ah, begitu rupanya,” Jongin kembali teringat saat ia melihat Sehun dan Yoona bersama-sama di tepi kolam renang Hotel Royal.

“Sebenarnya aku datang ke sini karena ingin menanyakan sesuatu pada Yoona. Tapi, karena dia sedang sakit, mungkin aku hanya akan menjenguknya saja sebentar,” lanjut Jongin sembari tersenyum.

“Baik, mari saya antar,” sahut Kepala Pelayan Baek dan mempersilakan Jongin berjalan mengikutinya menuju kamar Yoona.

Persahabatan yang terjalin antara mendiang kakek Jongin dan kakek Yoona, membuat pria itu mengenal cukup baik keluarga Im. Ia bertemu pertama kali dengan Yoona saat usia mereka masih 17 tahun. Meski hanya beberapa kali bertemu, tapi keduanya sudah saling mengenal dengan baik kepribadian masing-masing.

KLEK!

Dengan hati-hati Kepala Pelayan Baek menarik knop, lalu mendorongnya perlahan hingga membuat pintu sedikit terbuka dan memperlihatkan sang pemilik kamar yang sedang membaca majalah di atas ranjang.

“Maaf, Nona Yoona. Ada tamu untuk Anda,” ucap Kepala Pelayan Baek yang langsung disambut kerutan di dahi Yoona. Wanita itu mengalihkan perhatiannya pada sosok pria yang muncul dari belakang Kepala Pelayan Baek.

“Kenapa kau tidak beristirahat?” tanya Jongin terkekeh, sementara wanita yang baru saja ditanyainya hanya tersenyum dengan tangan yang sibuk menuliskan sesuatu pada notes.

Jongin berjalan mendekati ranjang Yoona, menunggu wanita itu menyelesaikan tulisan sementara Kepala Pelayan Baek mengambil nampan dengan mangkuk kosong yang diletakkan di atas meja, lalu berjalan keluar dari kamar Yoona. Ia senang karena wanita itu sudah menghabiskan bubur yang disiapkannya, juga obat penurun demam seperti perintah Ny. Nayoung.

Aku bosan jika hanya berbaring di atas ranjang.

Jongin tertawa membaca isi pesan Yoona, terlebih saat wanita itu mengerucutkan bibirnya, menandakan betapa ia sangat bosan karena hanya beristirahat di kamar.

“Apa kedatanganku mengganggumu?” tanya Jongin lagi.

Yoona menggeleng sambil menuliskan pesan pada notes-nya.

Tidak, aku justru senang jika ada yang datang menemaniku. Semua orang sedang pergi karena urusan masing-masing. Aku hanya di rumah saja bersama para pelayan.

Lagi-lagi Jongin hanya tersenyum menanggapi pesan Yoona, lalu berdeham pelan saat keheningan melanda keduanya. Ia kembali teringat dengan tujuannya datang menemui wanita itu.

“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu. Tapi karena sekarang kau sedang sakit, mungkin lain kali. Hari ini aku datang menjengukmu saja,” kata Jongin dengan sorot mata serius, sesekali ia masih tersenyum kepada Yoona.

Soal apa?

“Ini ada kaitannya dengan kasus yang menimpa orang tuamu. Aku diminta pamanmu untuk membantu ayahku memecahkan kasus ini,” jawab Jongin yang membuat Yoona terbelalak.

Kau dan ayahmu yang menangani kasus orang tuaku?

“Sekarang iya, sebelumnya bukan kami yang menangani kasus ini. Tapi, karena mereka belum berhasil memecahkan kasus ini dan memilih mundur karena mendapat berbagai teror, akhirnya pamanmu mengutus kami untuk menanganinya. Kuharap, kau bisa membantuku untuk mengungkap siapa pelaku kejahatan itu,” lanjut Jongin.

Yoona menelan saliva-nya sembari menunduk. Sejujurnya ia takut untuk mengungkit kembali masa lalunya, apalagi jika berkaitan dengan peristiwa kelam yang membuat orang tuanya tewas terbunuh.

“Aku sangat paham dengan kondisimu. Jadi, aku tidak akan memaksa kau menceritakan semuanya jika kau belum siap. Setidaknya, kau mau berbagi sedikit demi sedikit tentang apa yang terjadi, yang kau dengar dan yang kau lihat pada hari di mana orang tuamu terbunuh,” lanjut Jongin. Sorot matanya yang teduh, membuat Yoona merasa nyaman dan tenang. Ia pun mengangguk dan bersedia membantu Jongin untuk mengungkap kasus tersebut. Bagaimanapun, ia adalah saksi kunci dari peristiwa yang menewaskan orang tuanya.

//

Restoran Bon Appétit, seperti biasa ramai didatangi pengunjung, khususnya mendekati jam makan siang. Pelayan terlihat sibuk melayani pesanan dari pengunjung yang sudah berdatangan untuk menikmati jam makan siang mereka.

Yuri berjalan menghampiri seorang wanita yang tengah memantau kondisi restoran, yakni manager di restoran tersebut. Ia berdiskusi dengan manager restoran tentang kinerja karyawan hari ini, termasuk dalam segi pelayanan dan hidangan yang disajikan. Yuri memang selalu menanyakan hal tersebut setiap hari kepada manager, supaya ia tetap bisa mengontrol meskipun tidak turun tangan sendiri.

“Selamat datang,” seorang pria tersenyum saat pelayan menyambut kedatangannya. Ia tak langsung berjalan menuju meja yang digunakan pengunjung, melainkan berjalan mendekati Yuri yang masih sibuk dengan manager restoran.

“Sepertinya bisnis restoranmu semakin sukses, Kwon Yuri,” ucapnya pelan dan membuat Yuri menoleh kaget ke arahnya.

“Changwook?” Yuri tersenyum senang lalu berbicara sebentar dengan sang manager, sebelum menghampiri pria yang baru saja memanggilnya. Keduanya tanpa ragu berpelukan satu sama lain, untuk melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu.

“Kapan kau kembali?”

“Dua hari yang lalu,” jawab Changwook singkat. Senyum hangat terus terpatri di wajah tampannya.

“Kita mengobrol di ruang kerjaku saja,” usul Yuri kemudian menyuruh pelayan membawakan minuman untuk mereka. Changwook menyetujui usulan Yuri dan mengikuti wanita itu menuju ruang kerjanya. Yuri memang mengenal Changwook dengan baik, tentunya melalui Siwan yang sering mengajaknya ke restoran tersebut, sekalipun restoran itu baru saja dibuka 5 tahun yang lalu.

Changwook melirik pelayan yang baru saja mengantarkan minuman untuknya di ruang kerja Yuri. Ia tersenyum seraya berucap, “Terima kasih.”

Pelayan tersebut mengangguk dan tersenyum, sebelum keluar dari ruang kerja Yuri. Changwook meneguk minuman tersebut, sementara Yuri terlihat mengamatinya dengan wajah senang.

“Apa?” Changwook mengernyit ketika melihat senyum Yuri yang melebar.

“Aish, kenapa sepulang dari Amerika, kau terlihat semakin tampan?” goda Yuri diimbangi seringaian yang muncul di wajahnya.

Changwook hampir saja mati tersedak melihat ekspresi Yuri. Kontan saja reaksinya itu mengundang tawa pemilik restoran Bon Appétit tersebut.

“Kau ini tidak berubah, selalu saja menggodaku seperti ini,” desis Changwook sambil mengerucutkan bibir. Yuri terus saja tertawa melihat ekspresi wajah malu dari pria di depannya tersebut.

“Bagaimana kegiatanmu selama berada di sana? Semua berjalan lancar?” tanya Yuri penasaran.

Changwook mengangguk, “Ne, banyak pengalaman yang kuperoleh selama menjadi volunteer di sana.”

“Lalu apa rencanamu sekarang?”

Changwook terdiam sejenak, menyesap lagi minumannya sebelum menjawab pertanyaan Yuri yang terlihat begitu antusias.

“Tentu saja aku akan menjalankan bisnis jasa konsultan yang didirikan oleh mendiang ayahku. Selama aku tinggal di New York, aku hanya bisa memantaunya dari sana dan melimpahkan kepengurusan sementara waktu pada asistenku,” jawab Changwook penuh keyakinan saat membicarakan bisnis yang diwariskan oleh mendiang ayahnya. Ayah Changwook meninggal saat usianya 23 tahun. Sekarang pria itu hanya tinggal bersama ibunya di daerah Cheongdam.

“Itu rencana yang bagus. Kau harus menjadi psikolog yang hebat seperti mendiang ayahmu,” ucap Yuri memberikan semangat.

“Terima kasih,” Changwook tersenyum senang mendengar dukungan yang disampaikan Yuri. Sedetik kemudian, ia teringat tujuan awalnya datang menemui Yuri. Raut wajahnya mendadak berubah serius.

“Oh iya, aku datang ke sini untuk membicarakan sesuatu denganmu,” kata Changwook yang membuat Yuri menatapnya dengan heran.

“Ini soal Yoona,” lanjut Changwook sebelum wanita itu bertanya lebih dulu.

Yuri yang semula ingin menyela pembicaraan mereka, akhirnya hanya mengangguk saat melihat keseriusan dari sorot mata Changwook. Ia mempersilakan pria itu menjelaskan arah pembicaraan mereka yang berhubungan dengan Yoona.

“Aku sudah memutuskan untuk membantu Yoona menghadapi trauma yang dialaminya, supaya dia bisa berbicara lagi,” ucap Changwook to the point, “dan aku membutuhkan bantuanmu.”

“Bantuanku?”

Ne, aku butuh bantuanmu. Selain keluarganya, kau juga mengetahui banyak soal apa yang menimpa Yoona di masa lalu, khususnya dengan kematian orang tuanya hingga dia trauma dan tidak bisa berbicara seperti sekarang,” jelas Changwook.

Yuri memikirkan sejenak keputusan Changwook yang ingin membantu Yoona. Ia setuju jika pria itu yang kini menangani proses terapi yang akan dilakukan Yoona, mengingat beberapa psikolog maupun psikiater sebelumnya tidak berhasil membuat kondisi Yoona menjadi lebih baik. Mungkin saja dengan Changwook yang sudah dikenalnya lebih dulu, Yoona bisa leluasa mengeluarkan apa yang selama ini ia sembunyikan dari orang lain.

“Baiklah, aku akan membantumu,” balas Yuri yang membuat Changwook tersenyum lega. “Tapi, kau yakin bisa melakukannya?”

Ne, kali ini aku sangat yakin. Kemarin aku sudah mencari beberapa referensi kasus yang serupa dengan Yoona. Sebenarnya tidak benar-benar sama, hanya gejala awal yang sama. Mereka menjadi pendiam dan enggan berbicara dengan siapapun ketika mengalami trauma yang begitu menyakitkan,” jawab Changwook. Sorot matanya berubah terang ketika ia berhasil mengingat sesuatu.

“Ini hanya dugaanku sementara. Menurutku, Yoona kehilangan kemampuan bicaranya karena awalnya menolak untuk bicara, setelah apa yang terjadi pada orang tuanya,” lanjut Changwook. “Kudengar dari Siwan, orang tuanya memang terlambat membawa Yoona pada psikiater, sehingga trauma itu terus mengikatnya dan sulit bagi Yoona untuk mengatasinya.”

Yuri seperti mendapat pencerahan setelah Changwook mengutarakan analisanya.

“Kurasa kau benar. Selama 1 tahun setelah peristiwa hari itu, Yoona sama sekali tidak mau berbicara. Karena sikap diamnya itu, dia mendapat ejekan dari teman-temannya semasa sekolah dengan julukan gadis bisu,” sahut Yuri ikut mengungkapkan fakta yang diketahuinya tentang Yoona di masa lalu.

“Jika benar demikian, artinya ejekan dari orang-orang sekitarnya sudah menjadi doktrin dan terekam dalam ingatan Yoona. Itulah sebabnya, dia menganggap dirinya bisu padahal sebenarnya dia bisa bicara,” Changwook memijat keningnya sambil menghembuskan nafas panjang, “Ternyata akar permasalahannya tidaklah sesederhana yang aku kira.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Yuri tiba-tiba berubah pesimis.

Changwook tersenyum, “Kau tidak perlu khawatir. Selama masih ada kesempatan, Yoona bisa bicara lagi, asalkan dia sendiri juga mau melawan trauma sekaligus doktrin yang membuatnya seperti sekarang.”

Rentetan kalimat yang diucapkan Changwook, agaknya berhasil membuat Yuri merasa lebih tenang. Tentu keduanya berharap, Yoona bisa bicara lagi seperti semula.

//

Siwan berjalan menuju ruang kerja presdir Empire Group, dengan tangan kanan yang tampak memegang sebuah map. Ia bermaksud menyerahkan laporan terkait pekerjaan yang baru saja ia selesaikan, yakni mengevaluasi penjualan real estate yang berada di daerah Pyeongchang.

“Di mana Sekertaris Choi?” Siwan terheran ketika tidak melihat sekertaris pribadi presdir—Choi Jungwon. Ia mengedarkan pandang, mencoba mencari sosok pria yang menjadi tangan kanan presdir Empire Group tersebut. Tidak berhasil menemukan keberadaannya, Siwan pun meletakkan map yang ia bawa ke atas meja Sekertaris Choi. Di saat yang bersamaan, Siwan justru tidak sengaja mendengar kegaduhan dari dalam ruang presdir.

Rasa penasaran yang begitu besar, mendorong cucu ke-2 dari pemilik Empire Group tersebut untuk mencuri dengar pembicaraan di dalam ruang presdir.

“Jadi, Hyunsung meminta bantuan dari Jaeha untuk menyelidiki kasus pembunuhan Hyunjae dan Yunhi?” suara Tn. Hyunsik terdengar cukup keras dan menyiratkan kemarahan.

Ne, saya mengetahui jika kedatangan Pengacara Kim dan putranya kemarin, karena ingin membicarakan kasus tersebut dengan wakil presdir,” jawab Sekertaris Choi.

“Sial! Kenapa dia harus mengganti pengacara untuk menangani kasus ini?”

Siwan terbelalak mendengar presdir yang tidak lain adalah pamannya sendiri, tiba-tiba saja membicarakan rencana ayahnya yang mengganti pengacara untuk menangani kasus pembunuhan orang tua Yoona. Terlebih ketika Siwan juga merasakan kemarahan dalam diri pamannya tersebut, seolah tidak setuju dengan keputusan yang diambil ayahnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Siwan terkesiap ketika suara seseorang berhasil mengagetkannya. Ia menengok ke belakang dan sudah mendapati Juhwan berdiri dengan tatapan heran.

“Ah, hyung. Kau mengagetkanku,” Siwan mengusap dadanya karena nyaris terkena serangan jantung berkat Juhwan. Sementara kakak sepupu tertuanya itu hanya menggelengkan kepala sembari meletakkan sesuatu di atas meja Sekertaris Choi.

“Bagaimana kondisi Yoona? Kudengar dia jatuh sakit,” tanya Juhwan cemas.

“Mungkin sudah lebih baik. Eomma menyuruhnya untuk beristirahat di rumah dan tidak melakukan kegiatan apapun,” jawab Siwan seadanya. Sedetik kemudian, ia memandangi raut wajah lega dari Juhwan.

“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Juhwan ketika melihat Siwan masih berdiri di dekat pintu ruang presdir. Siwan mengangguk sembari menggaruk tengkuknya.

“Sudah lama kita tidak makan siang bersama. Hari ini aku yang traktir,” ajak Juhwan yang disambut senyum sumringah dari Siwan.

Sebelum pergi bersama Juhwan, sesekali Siwan masih melirik ke arah pintu ruang presdir yang tertutup rapat. Sebenarnya ia masih penasaran dengan pembicaraan yang dilakukan pamannya bersama Sekertaris Choi. Tapi ia tak punya pilihan, selain mengikuti ajakan Juhwan. Ia tidak mau gerak-geriknya yang mencoba menguping pembicaraan pamannya, nantinya disalahartikan oleh Juhwan.

//

Sehun berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya. Ia dilanda bosan setelah hampir setengah hari berkutat dengan beberapa laporan dari berbagai divisi perusahaan. Jabatan wakil presdir yang disandangnya memang mengharuskan Sehun untuk membantu pekerjaan sang ayah yang jumlahnya tidak sedikit.

Rasa bosan itu bercampur kesal setelah Sehun gagal mengajak Chanyeol dan Baekhyun untuk makan siang bersama. Kedua sahabatnya itu juga tengah disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.

“Oh iya, Jongin! Aku hampir saja lupa meneleponnya,” Sehun mengutuk kebiasaannya yang terkadang menjadi pelupa jika terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ia menyambar ponsel yang diletakkan di atas meja, kemudian menghubungi Jongin untuk mengajaknya makan siang bersama.

Yeobeseyo …,” suara Jongin terdengar setelah cukup lama Sehun menunggu pria itu menjawab teleponnya.

“Kau di mana sekarang? Chanyeol dan Baekhyun tidak bisa makan siang bersama karena pekerjaan mereka belum selesai,” Sehun sedikit mengerucutkan bibirnya sembari memegangi perut yang mulai keroncongan.

Maaf, aku baru saja kembali ke kantor. Sepertinya aku tidak bisa makan siang bersamamu hari ini. Lain kali saja,” jawab Jongin seadanya dan sontak membuat kekesalan Sehun semakin menjadi.

“Hei, kalian mana bisa membiarkanku makan siang seorang diri?” umpat Sehun dengan wajah yang begitu ekspresif, padahal lawan bicaranya sama sekali tidak melihatnya.

Makanya cepat cari kekasih supaya bisa menemanimu makan siang,” sindir Jongin sambil terkekeh.

“Kau ini …,” Sehun mendengus kesal sembari mengacak rambutnya, “Memangnya kau dari mana? Kenapa baru kembali ke kantor?”

Aku baru saja mengunjungi Yoona, untuk menanyakan sesuatu. Tapi ternyata dia jatuh sakit dan sedang beristirahat di rumahnya,” jawab Jongin dengan sengaja menceritakan kedatangannya ke rumah Yoona.

“Apa? Yoona jatuh sakit?” seperti dugaan Jongin, Sehun langsung panik begitu mendengar kabar tentang wanita itu.

“Di mana alamat rumahnya? Cepat beritahu aku!” suara Sehun meninggi seiring raut wajahnya yang terlihat panik.

Untuk apa aku memberitahumu? Kau ‘kan bisa mencarinya sendiri,” ucap Jongin lalu dengan sengaja memutus obrolan mereka secara sepihak.

“Hei, Kim Jongin!” Sehun memandangi layar ponselnya yang sudah kembali dalam kondisi semula. “Sial!”

Dengan langkah tergesa-gesa, Sehun berjalan keluar meninggalkan ruangannya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati sekertaris pribadinya—Han Jisung, sudah berdiri di depan pintu dengan beberapa map yang dibawanya.

“Tuan Muda?” Sekertaris Han bingung ketika melihat wajah panik Sehun.

“Kebetulan aku bertemu denganmu. Tolong cari tahu alamat rumah Im Hyunsung. Setelah mendapatkannya, segera beritahu aku,” Sehun berbicara cukup cepat hingga membuat Sekertaris Han tercengang.

“Tapi—” Sekertaris Han baru saja ingin bertanya namun Sehun sudah berlalu dari hadapannya.

Sehun mempercepat langkah larinya menuju pintu lift. Hanya Yoona yang ada dalam kepalanya sekarang, sehingga ia berulang kali mengabaikan sapaan dari beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Tentu sikap pewaris Kingdom Group tersebut mengundang tanya dari mereka yang sebelumnya tak pernah melihat Sehun sepanik sekarang.

Supir pribadi Sehun segera membukakan pintu mobil untuknya. Langkahnya terhenti sejenak ketika ia mendapat pesan dari Sekertaris Han yang berisi alamat rumah paman Yoona. Ia tersenyum senang lalu masuk ke dalam mobil.

“Antarkan aku ke Sangji Ritzville,” titah Sehun pada Kang Jihoo (supir pribadinya).

Supir Kang mengangguk dan lantas melajukan mobil ke tempat tujuan yang diminta oleh majikannya tersebut.

//

Terus-menerus berada di kamar, tampaknya membuat Yoona dilanda kebosanan. Kini ia terlihat menuruni tangga untuk menikmati makan siang. Kepala Pelayan Baek yang baru saja berniat mengantarkan makanan ke kamarnya, terkejut ketika melihat Yoona sudah berada di ruang tengah.

“Nona, saya baru saja ingin mengantarkan makan siang Anda,” ucap Kepala Pelayan Baek.

Yoona tersenyum, lalu menyodorkan ponsel yang dibawanya.

Aku ingin menikmati makan siangku di ruang makan. Aku bosan seharian di kamar.

“Baik, Nona. Kami akan segera menyiapkannya,” sahut Kepala Pelayan Baek lalu melirik pelayan yang berada di sebelahnya untuk kembali ke ruang makan.

Yoona berjalan menuju ruang makan dengan didampingi Kepala Pelayan Baek. Sesekali ia mendengus kesal karena merasa kesepian. Hanya menghabiskan waktu di rumah dengan ditemani para pelayan, nyatanya tetap tidak mengobati rasa kesepian yang selalu melandanya. Andai saja ada seseorang yang datang menemuinya, ia pasti merasa senang.

“Permisi, Nona Yoona,” tiba-tiba saja muncul seorang pria yang tidak lain adalah kepala pengawal di rumah mereka—Nam Joohyuk.

“Ada apa, Kepala Pengawal Nam?” Kepala Pelayan Baek bertanya, selagi Yoona masih fokus menikmati makan siangnya.

“Tuan Muda Oh Sehun datang untuk menemui Anda,” ujar Kepala Pengawal Nam.

Kepala Pelayan Baek terkejut ketika menyadari Yoona terbatuk setelah mendengar ucapan Kepala Pengawal Nam.

“Nona baik-baik saja?” tanya Kepala Pelayan Baek cemas karena Yoona langsung menghabiskan segelas air putih yang sudah tersaji di atas meja. Wanita itu hanya mengangguk lalu memandangi Kepala Pengawal Nam. Ia memberi isyarat agar mereka mengajak Sehun untuk menemuinya di ruang makan.

Kepala Pengawal Nam menyanggupi perintah Yoona, kemudian meninggalkan sejenak ruang makan untuk menemui Sehun yang menunggu di ruang tengah.

“Silakan,” selang beberapa menit, Kepala Pengawal Nam datang kembali bersama Sehun. Yoona segera mengalihkan pandang ke arah pria yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata cemas. Wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa kaget bercampur senang melihat kedatangan Sehun.

Kepala Pelayan Baek langsung membungkuk hormat dan memberi salam kepada Sehun, karena ini pertama kalinya mereka bertemu.

“Saya Baek Seungjo, kepala pelayan di rumah ini,” sapa Kepala Pelayan Baek sambil tersenyum ramah.

Sehun tampak canggung ketika mendapat sambutan hangat dari orang-orang yang bekerja di rumah paman Yoona tersebut.

“Nona Yoona sedang menikmati makan siangnya. Jika perlu, saya akan menyiapkan makan siang juga untuk Anda,” tawar Kepala Pelayan Baek.

“Ah, tidak perlu. Aku sudah—”

KROEK!

Tiba-tiba terdengar suara aneh yang membuat suasana di ruang makan berubah hening. Semua mata tertuju pada Sehun yang kini menunduk sembari menggigit bagian bawah bibirnya. Sadar jika menjadi pusat perhatian, pria itu hanya terkekeh dengan wajah memerah. Yoona tidak bisa lagi menahan tawanya, sementara Kepala Pelayan Baek dan juga beberapa pelayan yang ada di sekitarnya tersenyum ke arah Sehun.

“Kami akan segera menyiapkan makan siang untuk Anda. Mohon tunggu sebentar,” ucap Kepala Pelayan Baek sebelum pergi dari ruang makan, guna menyiapkan makan siang untuk Sehun.

Pandangan Sehun beralih pada Yoona yang masih tertawa hingga menghentikan kegiatan makannya sejenak. Reaksi wanita itu membuat Sehun semakin kehilangan muka di hadapan Yoona. Belum hilang rasa malu akibat kejadian semalam, kini ia harus malu akibat cacing dalam perutnya yang tidak bisa diajak kompromi.

Setelah insiden bunyi perut Sehun yang keroncongan, pria itu akhirnya ikut makan siang bersama Yoona. Keduanya masih terlihat canggung, meskipun sesekali masih saling mencuri pandang satu sama lain. Kepala Pelayan Baek yang melihat tingkah keduanya hanya mengulum senyum. Walau baru pertama kali bertemu dengan pewaris Kingdom Group tersebut, Kepala Pelayan Baek sudah mengetahui lebih dulu jika pria itu adalah orang yang akan dijodohkan dengan Yoona. Satu hal yang membuatnya terheran, ia bisa melihat ada ketertarikan dari cara Sehun memandangi Yoona. Padahal yang mereka tahu, Sehun sudah menolak perjodohannya dengan Yoona, namun sekarang justru muncul dan memperlihatkan perhatian kepada wanita itu.

Usai menikmati makan siang bersama, Yoona mengajak Sehun ke ruang tengah. Ia berhenti di samping piano dengan jemari yang mulai menyentuh tuts piano.

“Kudengar dari Jongin, kau jatuh sakit. Apa sekarang kau sudah merasa lebih baik?” tanya Sehun sebelum Yoona bertanya. Sikapnya yang cepat tanggap membuat Yoona menoleh kagum padanya. Ia lalu mengangguk pelan sambil tersenyum dan mengetikkan pesan melalui ponselnya.

Terima kasih sudah datang mengunjungiku. Aku senang kau datang.

“Kau—senang jika aku datang menemuimu?” mata Sehun berbinar seiring bibirnya yang melengkung sempurna.

Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu di rumah dan hanya ditemani para pelayan dan pengawal. Situasi ini membuatku merasa kesepian. Itulah sebabnya, aku senang jika ada yang datang menemuiku.

Sehun tertegun melihat isi pesan yang ditulis Yoona. Bisa ia bayangkan bagaimana perasaan wanita itu yang selalu menghabiskan waktunya di rumah. Sudah pasti sangat kesepian.

“Kalau begitu, mulai sekarang aku akan sering datang menemuimu,” ucap Sehun tiba-tiba yang membuat dahi Yoona berkerut.

“Bukankah kita sudah berdamai?” Sehun agaknya mengerti arti pandangan Yoona yang bingung dengan ucapannya. Ia sendiri menyadari jika dirinya kelepasan bicara, namun ia tak punya pilihan karena dorongan dari suara hatinya yang begitu ingin membuat wanita di depannya tersebut bahagia.

Sedetik kemudian, keraguan yang sempat tergambar di wajah Yoona berganti menjadi senyum yang membuat wajahnya semakin terlihat cantik. Sehun bisa merasakan dadanya yang bergemuruh tiap kali melihat senyuman wanita itu.

“Kau suka bermain piano, ‘kan? Bagaimana jika kita bermain bersama?”

Kau bisa bermain piano?

Sehun yang sudah siap memainkan piano di ruang tengah tersebut, terkekeh pelan ketika membaca isi pesan Yoona.

“Hanya beberapa lagu saja, khususnya lagu yang aku sukai,” jawab Sehun, “Apa kau suka lagu Over The Rainbow?

Yoona mengangguk semangat begitu mendengar Sehun menyebutkan judul lagu kesukaannya. Ia pun ikut duduk di sebelah Sehun yang sudah siap memainkan piano. Pria itu tersenyum ketika melihat sorot mata berbinar dari Yoona saat mereka bersiap memainkan piano bersama.

“Kau siap?” tanya Sehun yang langsung disambut anggukan oleh Yoona. Keduanya pun memainkan piano bersama.

Kepala Pelayan Baek tersenyum melihat ekspresi bahagia dari wajah Yoona ketika bermain piano bersama Sehun. Ia bisa melihat jika Yoona begitu nyaman terhadap Sehun, meskipun sebelumnya pria itu pernah berbuat buruk. Ia bisa melihat jika gesture yang diperlihatkan Sehun selama berinteraksi dengan Yoona, mencerminkan ketulusan dalam dirinya terhadap sang majikan.

Perubahan sikap yang ditunjukkan Sehun beberapa hari terakhir, memang membuat Yoona kagum. Terlebih saat ia menyadari jika diperhatikan dari dekat, Sehun semakin terlihat tampan. Tanpa sadar pikiran tersebut memunculkan semburat rona merah di kedua pipi Yoona.

Hal serupa juga dirasakan oleh Sehun. Ia tidak pernah membayangkan bisa sedekat ini dengan Yoona, mengingat beberapa hari terakhir, Yoona seperti menunjukkan sikap dingin setelah apa yang ia lakukan pada wanita itu. Ia tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat ekspresi wajah Yoona ketika bermain piano bersamanya.

Saat permainan piano mulai memasuki bagian akhir, mendadak pandangan Yoona kabur. Agaknya kondisi wanita itu belum pulih sepenuhnya. Kontan saja tubuh Yoona terhuyung ke arah Sehun dan membuat pria itu terkejut sekaligus panik.

“Yoona!” Sehun memandangi wajah Yoona yang terlihat pucat dan sedikit berkeringat di bagian kening, lalu melirik Kepala Pelayan Baek yang langsung berlari menghampirinya. Sementara Yoona hanya mengerjapkan kedua matanya berulang kali dalam dekapan Sehun. Ia tidak tahu kenapa tubuhnya tiba-tiba saja seperti kehilangan tenaga hingga tidak mampu berdiri tegak.

“Tolong tunjukkan kamar Yoona,” pinta Sehun kepada Kepala Pelayan Baek, sambil membopong tubuh Yoona ala bridal style.

Kepala Pelayan Baek dan seorang pelayan membantu Sehun membawa Yoona kembali ke kamar. Wanita itu segera dibaringkan di atas ranjang untuk beristirahat.

Sehun menarik selimut hingga menutupi dada Yoona, sementara wanita itu sudah terlelap dalam tidurnya. Ia memilih duduk di tepi ranjang, dengan tatapan yang terus tertuju pada Yoona.

“Tuan Muda jangan khawatir. Nona pasti baik-baik saja setelah kembali beristirahat,” Kepala Pelayan Baek berusaha menenangkan Sehun yang terlihat begitu mengkhawatirkan Yoona.

Ne, aku tahu,” balas Sehun sembari tersenyum tipis.

Kepala Pelayan Baek dan pelayan wanita yang mendampinginya, keluar meninggalkan Sehun bersama Yoona di kamar. Sesekali Kepala Pelayan Baek melirik Sehun yang kini terlihat menggenggam tangan kanan Yoona. Bibirnya melengkung sempurna, merasa senang dengan perhatian yang diberikan Sehun kepada Yoona.

Cukup lama Sehun berada di kamar untuk menemani Yoona, sampai-sampai ia mengabaikan panggilan masuk dari ponsel yang sedari tadi berdering. Ia tahu, Sekertaris Han pasti mencarinya karena sudah lewat jam makan siang, dirinya tak kunjung kembali ke kantor. Persetan dengan urusan pekerjaannya, saat ini yang terpenting adalah Yoona, Sehun tak mau memikirkan hal lain.

Sehun tersenyum tanpa sadar, ketika melihat ekspresi wajah Yoona yang kini berada di dekatnya. Ia bisa merasakan debaran jantungnya yang kembali tidak beraturan. Semakin lama, perasaan yang sempat membuatnya bingung itu semakin jelas untuk dimengerti. Cinta. Seperti yang dikatakan Chanyeol dan juga bibinya, Sehun memang sudah jatuh cinta pada Yoona.

Setelah meyakini kondisi Yoona baik-baik saja, Sehun bermaksud keluar untuk kembali ke kantor. Tanpa sengaja, tangannya tidak mau terlepas dari tangan Yoona. Sehun terkejut saat merasakan tangan Yoona yang seperti menahannya untuk tidak pergi. Kondisi itu disambut senyum oleh Sehun. Dengan hati-hati, ia melepaskan genggaman tangan mereka supaya tidak membangunkan wanita itu. Sehun membetulkan posisi tangan Yoona seperti semula, lalu kembali merapikan selimut yang menutupi tubuh wanita itu. Entah apa yang merasuki Sehun, secara refleks ia mendaratkan sebuah kecupan cukup lama di kening Yoona, sebelum akhirnya keluar dari kamar wanita itu.

//

Tn. Hyunsung yang pulang lebih awal bersama Ny. Nayoung, terkejut saat melihat Sehun turun dari arah kamar Yoona. Keduanya tidak tahu harus berkomentar apa, hingga terdiam dan tidak bergerak sedikitpun dari posisi masing-masing. Sehun yang menyadari orang lain tengah memandanginya, terbelalak ketika melihat keberadaan paman dan bibi Yoona. Ia langsung mempercepat langkah kakinya kemudian membungkuk hormat di hadapan Tn. Hyunsung dan Ny. Nayoung.

“Sehun-ssi, kapan kau datang ke sini?” tanya Tn. Hyunsung kaget, sampai tidak tahu harus bertanya apa kepada pewaris Kingdom Group tersebut.

Sehun menggigit bagian bawah bibirnya, ia tidak mengira jika harus bertemu dengan paman dan bibi Yoona.

“Tadi saat jam makan siang, ahjussi. Aku datang untuk menjenguk Yoona,” jawab Sehun seadanya, namun tetap berusaha menyembunyikan raut malu di wajahnya.

“Dari mana kau tahu jika Yoona sedang sakit?” kali ini giliran Ny. Nayoung yang bersuara. Wajahnya masih terlihat kaget bercampur bingung.

“Jongin yang memberitahuku,” jawaban Sehun kontan saja membuat pasangan suami istri di depannya itu terkejut.

“Kau berteman dengan Jongin?” tanya Tn. Hyunsung masih tidak percaya dengan pengakuan Sehun. “Dan—bagaimana Jongin tahu jika Yoona sedang sakit?

Ne, kami berteman baik sejak duduk di bangku kuliah,” jawab Sehun sembari tersenyum, “Sebelumnya Jongin datang ke sini untuk menanyakan sesuatu pada Yoona. Tapi, tanpa sengaja justru tahu jika Yoona jatuh sakit.”

Aigo, dunia terasa sempit. Aku tidak tahu jika kau berteman dengan Jongin,” sambung Ny. Nayoung senang. Reaksi serupa juga diperlihatkan Tn. Hyunsung yang langsung tersenyum mendengarnya, sementara Sehun terlihat kikuk di hadapan mereka.

“Bagaimana kondisi Yoona? Dia baik-baik saja?” tanya Tn. Hyunsung penasaran.

Sehun mengangguk, “Dia sekarang sedang tidur.”

“Benarkah? Syukurlah, jika kondisinya membaik. Tadinya aku khawatir karena meninggalkan Yoona sendirian dan hanya ditemani orang-orang di rumah kami,” sahut Ny. Nayoung lalu menggenggam erat tangan Sehun dengan sorot matanya yang berbinar, “Terima kasih kau sudah datang menjenguknya.

Sehun sedikit terkejut ketika melihat reaksi paman dan bibi Yoona yang justru senang dengan kedatangannya. Ia sempat mengira jika dirinya akan mendapat penolakan, mengingat apa yang sebelumnya ia lakukan pada Yoona.

“Karena sudah bertemu, aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian,” ucap Sehun yang membuat pasangan suami istri kembali saling memandang. Mereka tidak bertanya lagi dan mengajak Sehun duduk di ruang tengah, untuk membicarakan hal yang dikehendaki pria bermarga Oh itu.

“Apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?” tanya Ny. Nayoung memecah keheningan, karena Sehun tak kunjung bicara. Terlebih saat pria itu hanya menunduk di hadapan mereka.

Sehun mendongak, sembari menghembuskan nafas panjang. Ia sepertinya sudah berhasil mengatasi keraguan yang sempat melanda dirinya. Kini sorot matanya terlihat penuh keyakinan dan siap mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.

“Sebelumnya, aku minta maaf atas sikapku pada waktu itu. Aku … sama sekali tidak bermaksud menghina kondisi Yoona. Aku hanya terkejut sehingga tidak bisa berpikir jernih dan mengatakan hal yang tidak pantas. Aku benar-benar menyesal,” ujar Sehun lancar tanpa jeda.

Tn. Hyunsung dan Ny. Nayoung terkejut saat melihat Sehun membungkuk di hadapan mereka.

“Astaga, kau tidak perlu meminta maaf seperti itu, Sehun-ssi. Kami tidak menyalahkanmu,” ucap Ny. Nayoung merasa tidak enak dengan Sehun. Mereka tidak menduga jika pria itu berani mengutarakan permintaan maaf di depan mereka, karena selama ini pihak pria yang menolak perjodohannya dengan Yoona, hanya mengucapkan permintaan maaf melalui orang tuanya, tanpa mau bertemu langsung dengan mereka.

“Kami juga minta maaf karena melarang kedua orang tuamu memberitahukan kondisi Yoona yang sebenarnya. Jadi, kami sangat mengerti reaksimu itu. Hanya saja, kami terkejut ketika kau mengatakannya langsung di depan Yoona,” sambung Tn. Hyunsung, “Sudahlah, kita lupakan saja masalah ini.”

Sehun mengangkat wajahnya dan ia merasa lega ketika melihat paman dan bibi Yoona tersenyum senang ke arahnya.

“Terima kasih, ahjussi, ahjumma,” balas Sehun senang dengan senyum sumringah, lalu wajahnya kembali terlihat serius, “Masih ada satu hal, yang ingin kusampaikan pada kalian.”

Tn. Hyunsung melirik Ny. Nayoung yang juga penasaran dengan ucapan Sehun, “Baiklah, katakan saja.”

“Aku sudah mengambil keputusan,” jawab Sehun namun masih terdengar menggantung dan membuat dua orang di depannya semakin penasaran.

“Aku—” Sehun tersenyum dengan raut wajah penuh keyakinan, “—bersedia dijodohkan dengan Yoona.”

-TO BE CONTINUED-

A/N : Siapa yang nungguin FF ini? Acungkan jari!😄

Saya mau review sedikit untuk FF ini, khususnya bagian obrolan Changwook sama Yuri. Seperti yang sudah diceritakan di atas, memang kondisi Yoona lebih ke bagian psikis. Saya pernah membaca sebuah komik yang kasusnya hampir sama seperti Yoona (tapi komik history hehe). Kalau di komik itu, ada anak kecil yang korban perang, tapi semasa tinggal bersama orang tua angkatnya, dia mendapat perlakuan buruk sehingga dia menjadi tidak bisa bicara.

Nah, dari situ saya terapkan dalam kondisi Yoona di FF ini, yaitu trauma karena melihat orang tuanya tewas terbunuh, ada beberapa hal juga yang menjadi penyebab lainnya, cuma belum saya ungkap di FF ini hehe😄.

Kalau dalam kehidupan nyata sendiri, saya belum tahu apakah memang ada kasus yang seperti Yoona (masih harus mencari banyak referensi). Jadi, kondisi Yoona ini murni terinspirasi dari komik yang saya baca tersebut. Dan, sepertinya dalam waktu dekat, Yoona bisa kembali bicara lagi ketika ia dihadapkan dalam kondisi yang serupa (masih rahasia ya, kekeke😄 ).

Oke, sekian penjelasan singkat dari saya, semoga bisa menghilangkan rasa bingung yang sempat melanda kalian #apasih. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada calistha stephen dan ArtWriter_Lovers^^ , yang sudah memberikan masukan untuk penggambaran fashion Yoona dan juga masalah panggilan orang yang lebih tua. Thank you so much❤

Tentu saya juga mengucapkan terima kasih kepada readers tercinta yang sudah sabar menunggu kelanjutan FF ini, jangan lupa tinggalkan komentar ya #eaamodus kekeke😄

Maaf jika ada typo yang bertebaran^^’ Sampai berjumpa di part selanjutnya😉❤

144 thoughts on “Immortal Memory [4]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s