(Freelance) Sunday Morning

sunday morning by nikkireed

written by Nikkireed

Im Yoona with Kim Minseok and Kim Jongdae

oneshoot / romance and family

Sunday, morning around 7:03 AM – Hari ke 1099

Yoona masih menutup matanya rapat. Tangannya meraba bagian kasur sebelah kirinya. Kosong.

Sontak ia langsung bangkit dan terduduk di ranjang berwarna cokelat king size itu. Ia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, dan terpaku saat melihat kotak keranjang bayi di ujung kamar sebelah lemarinya juga kosong.

Yoona mengucek matanya pelan, memastikan ia tidak salah lihat. Tapi memang ia tidak salah lihat.

Yoona akhirnya bangkit dengan cepat dari ranjang tersebut dan langsung memakai kimono tidurnya yang ia raih dari belakang pintu.

“What are you doing here, Jongdae-ah?” Tanya Yoona saat ia menemukan bayi berumur 3 tahunan itu sedang duduk di high chair dengan mulut penuh dengan bekas biskuit bayi.

Yang bernama Jongdae menengok ke arah ibunya dan tersenyum lebar tanpa dosa. Yoona berjalan mendekatinya sambil mengikat rambutnya dengan asal. Ia speechless dengan keadaan meja makan dan dapurnya terbilang hampir seperti baru mengalami ledakan.

“Where’s your Appa?” Yoona mengangkat bayi itu dan membersihkan mulutnya. Yoona hampir gila menemukan bayi tersebut sedang sendirian menikmati sarapannya, yang entah darimana ia dapatkan.

“Aku disini, Yoong.” Barulah suami Yoona – Kim Min Seok, muncul dari arah kamar mandi, sosok Min Seok keluar dari kamar mandi tersebut hanya dengan handuk melilit di pinggangnya dan menggosok-gosok rambut kepalanya yang basah dengan handuk kecil.

“Kau apakan anak ini?” Tanya Yoona sedikit terkejut, “Dan kau apakan dapurku?” Yoona menoleh ke arah dapur kecilnya yang berantakan sana-sini.

Jongdae dalam gendongan Yoona meliuk-liuk ingin turun dari gendongan ibunya. Akhirnya Yoona melepaskan bocah itu.

“Apa yang salah, Yoong. Aku hanya membuatkan Jongdae sarapan. Aku terbangun dan menemukannya terduduk di luar baby box itu.” Jawab Min Seok tanpa merasa ada yang salah. Tentu saja ada yang salah. Bagaimana bocah berumur 3 tahun itu bisa keluar dari keranjang bayinya tanpa bantuan siapapun?

Yoona berjalan menuju dapurnya sambil memegang keningnya, “Ughhh, kurasa aku hampir gila.”

Jongdae kecil yang berjingjit di lantai mencoba meraih biskuit dari meja makan.

Sedangkan Min Seok mengikuti Yoona ke dapur, “Wae? Kau sakit?” Min Seok ikut-ikutan memegang kening Yoona.

Yoona langsung menatapnya dengan death glare. “Kau yang sakit, Min Seok-ah.”

“Aku?” Min Seok malah dengan polos bertanya dan memegang keningnya sendiri, “Aku tidak sakit.”

Yoona berbalik dengan acuh dan menggendong Jongdae, “Sudahlah, kau bersihkan ini. Aku mau memandikan Jongdae.” Ia meraih biskuit bayi yang berhasil Jongdae ambil. Lalu ia masuk ke kamar.

Sunday, morning around 8:34 AM – Hari ke 1427

Yoona merapikan rambutnya dibelakang telinga. Lalu setelah memastikan rambutnya sudah rapi, ia mengambil sebotol parfum dan menyemprotkan ke leher dan pergelangan tangannya.

“Maaaaa!” Terdengar suara Jongdae berteriak dari luar kamarnya.

“Tunggu sebentar, sayang.” Yoona merapikan bajunya, memastikan tidak ada yang salah.

“Maaaa!”

“Anak itu rewel sekali.” Komentar Yoona setelah mendecakan mulutnya. Ia buru-buru keluar dari kamar.

Jongdae kecil ternyata sudah lebih siap dari Yoona. Maklum, karena hari ini mereka akan melakukan perjalanan untuk mengunjungi kakek dan nenek Jongdae.

Bocah 3 tahun yang menjelang ulang tahun itu memang senang mengunjungi kakek dan neneknya, tapi tidak dengan ibunya. Karena menurut Yoona, mertuanya itu terlalu banyak menuntut. Bahkan Nyonya Kim memaksa Yoona untuk menitipkan Jongdae di rumah mertuanya itu. Yang dengan jelas, Yoona menolak.

“Sudah?” Tangan Min Seok tahu-tahu sudah berada di punggung Yoona, mengelusnya pelan.

Yoona menggendong Jongdae, “Kau sudah memasukkan botol susu Jongdae? Baju hangatnya? Kaus kakinya? Aku tidak mau seperti waktu itu ya Min Seok-ah. Kau lupa membawa pampers, kau lupa membawa baju hangatnya, kau lupa ini kau lupa itu.”

Min Seok mengangkat sebuah travel bag MCM berwarna ungu yang sudah menggendut, “Sudah lengkap semua, Nyonya Kim.”

Yoona memutar matanya dan tersenyum. Ia beralih mencium pipi Jongdae kecil di gendongannya. “And now, here we go!”

Jongdae yang tangannya membawa sebuah mainan boneka salju berteriak girang saat ibu-ayah nya pergi melangkah keluar membawanya dari apartment tersebut.

Sunday, morning around 6:45 AM – Hari ke 1500

“Maaaaa!” Jongdae berteriak, tepatnya menangis. Membangunkan kedua orangtuanya yang sedang tidur. Jongdae sudah hampir keluar dari keranjang bayi itu, tinggal sedikit kemiringan lagi, ia akan berhasil keluar dari kotak menyebalkan itu dan berakhir jatuh.

“HUAHHHHH.”

Yoona dengan mata belum terbuka normal melirik sekilas pada Jongdae, yang sudah berada di lantai dengan posisi terlungkup dan wajah memerah.

Yoona awalnya tidak terlalu mengacuhkan sampai akhirnya ia menyadari bahwa putranya terjatuh dari kotak bayinya, ia dengan segala kekuatannya langsung berlari menghampiri Jongdae.

“Aigoo Jongdae-ah, did you just fall down?” Yoona mengangkat Jongdae dari lantai. Ia mengusap dahi Jongdae yang asumsinya terbentur lantai sehingga menimbulkan merah.

Jongdae tidak berhenti menangis. Akhirnya Yoona menenangkan Jongdae dengan membawanya keluar dari kamar.

Setelah meletakkan Jongdae di high chair, dan memastikan Jongdae tidak akan terjatuh, ia pergi membuat bubur bayi untuk Jongdae.

“Aigoo, dahimu terluka, sayang.” Kata Yoona begitu menyerahkan semangkuk bubur bayi pada Jongdae dan langsung menjadi bahan makanan sekaligus bahan mainan Jongdae kecil. Ia tertawa riang seolah tidak terjadi apa-apa barusan.

Yoona kembali mengusap dahi Jongdae dengan pelan. Jika boleh jujur, ini masih terlalu pagi untuk memberi makan Jongdae, tapi mau bagaimana. Jongdae akan rewel jika tidak diberikan dan akan mengeluh sakit di dahinya.

“Jongdae kenapa, Yoong?”

Yoona hampir mati terkejut karena suara suaminya yang mendadak itu.

“Kau mengagetkanku!”

“Maaf. Aku mendengarnya menangis, tapi aku masih terlalu mengantuk.” Min Seok menguap bebas dan duduk di kursi meja makan di samping high chair-nya Jongdae.

“Ia terjatuh dari baby box. Dahinya terluka.” Jawab Yoona sambil berjalan menuju dapur untuk membuat kopi.

“Aigoo, anak kesayanganku jatuh. Jagoanku bisa menangis juga.” Min Seok mengelus kepala Jongdae lembut dan menciumnya. Jongdae yang masih asik memainkan bubur encer tersebut malah hanya berteriak, “Daddy!”

“Jagoan hebatku tidak boleh menangis, okay?” Min Seok membersihkan sisa bubur bayi di sekitar mulut Jongdae kecil.

Yoona datang dengan secangkir kopi hitam dan meletakkannya di meja.

Min Seok menyeruput sedikit kopi tersebut, “Kurasa kita harus membetulkan baby box itu, Yoong. Aku tidak mau ia terjatuh lagi.”

Yoona menatap Min Seok sebal, “Atau harus membeli yang baru. Jongdae sudah semakin besar. Kau sendiri yang tidak mau mendengarkanku.”

Suaminya itu entah karena polos atau apa, jauh hari Yoona sudah mengatakan bahwa keranjang bayi Jongdae sudah terlalu bahaya. Tapi perkataan Yoona itu tidak diindahkan oleh suaminya. Dan sekarang ia mengoceh pada Yoona seakan kejatuhan Jongdae adalah kesalahannya.

“Baik, setelah ini kita berbelanja dan mencarikan baby box baru untuk Jongdae.” Min Seok menghabiskan kopi buatan Yoona lalu ia bangkit berdiri.

Still Sunday, morning around 10:13 AM – Masih hari ke 1500

“Jongdae, kau ingin yang mana?” Tanya Yoona pada putranya yang ia gendong dengan sepenuh hati. Akhirnya mereka membelikan keranjang bayi yang baru untuk Jongdae.

Jongdae kecil tidak mengacuhkan pertanyaan ibunya. Ia sedang asik memainkan mainan mobilnya.

“Kau mau yang ini, Jongdae-ah?” Kali ini Min Seok yang bertanya. Jongdae meliuk-liuk minta diturunkan oleh ibunya. Yoona menurunkan Jongdae dengan pelan.

“Inihhhhhh. Aku mau inih. Ituh.” (anggap saja ini perkataan seorang bocah 3 tahun yang kurang jelas)

Kedua orangtuanya mengikuti arah tunjuk Jongdae. Arah tunjuknya mengarah pada sebuah kereta dorong bayi berwarna navy.

“Kereta dorong? Kau mau tidur di kereta dorong?”

“No. I will sleep.. wit.. Mom and Daddy..”

Jawaban Jongdae membuat Yoona dan Min Seok bertatapan sejenak. “Lalu buat apa kereta dorong itu, sayang?” Tanya Yoona pelan.

“Jalan.. jalan..” Jongdae kembali memfokuskan dirinya pada mobil ditangannya.

Karena itu pilihannya, Yoona dan Min Seok bisa apa. Dengan senang hati Jongdae menerima kereta dorong tersebut.

Sunday, morning around 4:09 AM – Hari ke 1609

Yoona bangun terduduk. Ia melirik jam weker di nakas, menunjukkan waktu masih terlalu pagi untuk bangun. Terlebih ini hari Minggu dimana ia tidak bekerja dan Min Seok juga tidak perlu ke kantor.

Ia melirik Jongdae kecilnya tertidur manis di pelukan Min Seok. Terdengar suara dengkuran halus dari mulut Min Seok, Yoona menahan tawanya.

Tiba-tiba Yoona merasa ada yang salah dengan perutnya. Sesuatu seperti ingin keluar dari mulutnya. Ia merasakan hawa panas dari seluruh tubuhnya.

Yoona segera saja berlari menuju kamar mandi. Ia berjongkok di depan kloset dan mengeluarkan muntahannya. Ia berpikir sejenak, semalam ia tidak makan seafood, atau sesuatu yang membuat asam lambungnya tidak bekerja normal seperti bawang atau rujak buah. Tapi rujak buah terdengar mengasyikan walaupun sepagi ini.

Dheg! Yoona memandang cermin di westafel sambil menyikat gigi. Apa benar? Terakhir ia melakukannya adalah jauh hari sebelum Jongdae rewel meminta tidur bersamanya dan Min Seok. Jadi mereka tidak mungkin melakukannya selama ada Jongdae. Tapi, apa benar?

Yoona memejamkan matanya kembali berpikir sejenak. Mengingat kembali kapan terakhir ia melakukannya.

Ah! Dinner. Setelah dinner, Min Seok mengajaknya untuk pergi bermalam diluar apartment karena Jongdae sedang dititipkan pada mertuanya. Min Seok mengajak Yoona pergi minum sedikit, Yoona mengiyakan dan……

“Kau sudah bangun, Yoong?”

Sikat gigi yang Yoona pegang terjatuh karena suara tersebut. Yoona tersadar dari lamunanya.

“Ah, eh.. ya.. aku – aku merasa perutku..”

Min Seok membelalakan matanya sebelum Yoona menyelesaikan kalimatnya. Ia berjalan menghampiri Yoona. Walaupun wajahnya masih sangat mengantuk.

Seolah berbicara lewat pandangannya, Yoona hanya mengangguk ngeri. Min Seok reflek memegang perut Yoona lembut, “Kapan terakhir bulananmu?”

Yoona memejamkan mata lagi, mengingat tanggal dan mengingat kapan terakhir ia datang bulan. Kemudian matanya terbelalak, “Aku sudah telat 5 hari, Min Seok-ah.”

Raut wajah Yoona mengerikan, seolah tidak percaya ia akan hamil lagi. Min Seok malah tersenyum merengkuh wajah Yoona agar ia menatapnya langsung ke mata.

“Tidak apa-apa. Jongdae harus siap memiliki seorang adik, kurasa.” Ia tersenyum pada Yoona sambil menghapus kerutan di wajah Yoona.

Yoona memegang lembut tangan Min Seok diwajahnya, “Maaf, aku hanya tidak menyadari bisa secepat itu.”

“Sstt, Yoona sayang. Tidak perlu minta maaf, aku malah yang harus berterima kasih padamu karena telah memberikan Jongdae untukku, dan sekarang adik baru untuk Jongdae. Terima kasih, Yoong.” Min Seok mengecup kening Yoona.

Mereka terlarut dalam suasana. Lalu tiba-tiba..

“Appa.. Eomma? What.. are you doing?” Jongdae berdiri depan pintu sambil mengucek matanya, wajahnya masih mengantuk sama seperti ayahnya tadi.

Min Seok reflek melepaskan Yoona dan Yoona terburu-buru menghampiri Jongdae, merasa salah tingkah.

“Jongdae-ah, why did you wake up, dear?” Yoona berjongkok untuk mendekati Jongdae. Jongdae hanya tersenyum, matanya tertutup, “Appa.. Eomma menghilang, jadi aku.. mencari huaaaahm.. mencari.. kalian. Ternyata Appa Eomma disinihh.”

Min Seok menghampiri Jongdae dan mengangkatnya dalam sekali gendongan, “Huahhhhmm, jagoan Appa masih mengantuk. Sini, Appa temani tidur lagi.”

Mereka berjalan menuju ranjang king size tersebut dan kembali melanjutkan tidur, ‘dan aku akan memastikan sekali lagi jika aku benar hamil’ batin Yoona sebelum memejamkan matanya.

Sunday, morning around 9:11 AM – Hari ke 1616

“Min Seok-ah.” Panggil Yoona pelan pada suaminya. Min Seok sedang berdiri didapur membuat kopi reflek langsung berbalik.

“Ya? Bagaimana hasilnya?” Min Seok menghampiri Yoona.

Yoona mengangkat testpack tersebut. Menunjukkan dua garis berwarna merah. Yoona tersenyum dan langsung memeluk Min Seok, “Positif.”

Min Seok menerima pelukan Yoona dengan senyum terlebarnya, “Aku senang, sayang. Kurasa kita harus memberitahukan Jongdae.”

Jongdae kecil yang merasa namanya disebut menoleh ke arah orangtua-nya dengan tatapan ‘apa’.

“My lovely Jongdae, kau akan segera punya adik baru.” Min Seok dengan girangnya mendekati Jongdae yang duduk di high chairnya, mengelus kepalanya lembut.

“Adik? Brotheeee?”

Yoona tersenyum pada keluarga kecilnya, “Belum tahu brother or sister, dear. Apa yang kau harapkan?”

“Sisteeeh?”

Min Seok menoleh pada Yoona lagi, “Kuharap kali ini perempuan dan ia sepertimu, karena Jongdae sudah terlalu mirip denganku. Hahahaha.”

Tawa bahagia keluarga kecil itu terlepas di Minggu pagi tersebut.

END

Author’s Note :

Mau punya anak semacam Jongdae? Carilah suami semacam Minseok.
Mau punya suami semacam Minseok? Bangunlah di Sunday Morning.
Maaf author lagi stress besok ujian. Doakan semua lancar. ^^

18 thoughts on “(Freelance) Sunday Morning

  1. Pas liat judulnya langsung ke inget lagunya Maroon 5 yang Sunday Morning. Jadi bacanya pake itu.
    What a sweet fanfict.:3
    Semangat ujian nya thor !🙂
    oke dah ntr gua cari kw-an nya umin wkwkwk

  2. Ceritanya sweet bgt ^_^
    Nice ff author (y)
    Iyaa, gw pengen punya anak segemesin Jongdae (bayangin Chen waktu msih bayi)
    Dan punya suami sprti Minseok??? Itu harapan terbesar dlm hidup gw. Bkn sprti Minseok lg, klw bsa Minseok yg jd iman gw #ngimpi :v
    Klw gt gw hrs bangun pagi klw hr Minggu😀

  3. ya ampun thor wkwkwkwk aku bayangin abs xiumin masa pas bagian xiumin keluar dari kamar mandi😄
    aku jadi inget song tripletnya return of superman tiap kali lait adegan jongdae wkwkwkw
    btw, tadi pas baca judulnya aku langsung keinget sunday morning di ugm -_- kebetulan hari ini hari minggu dan aku batal mau sunmor di lembah ugm *oka abaikan*

  4. Sunday morning .. Manis ..
    Like it, sderhana tpi bkin gila, snyum gaje sndirian, .. Good job !!
    Smga ujiannya lancar !!

  5. Aigoo, aku ngakak bca author’s note nya😀
    smoga ujianx brjaln dgn lancar😉
    ff.x keren.. Lucu lhat nhc kluarga.. Ud lma jg gak bca ff Minseok with Yoona🙂
    daebak thor..
    Fighting~

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s