(Freelance) Oneshot : Because I Love You (Sequel of Betrayal Of Love)

nawafil1

Because I Love You (Sequel Of Betrayal Of Love)

Written by Nawafil

 PG

 Romance, Sad, Friendship

 Oneshoot

Main Cast : EXO’s Sehun | GG’s Yoona

Support Cast : Kim Eun Hee (OC), EXO’s Kim Jongin, EXO’s Suho and EXO’s Tao.

 Poster by Leesinhyo at cafeposterart.wordpress.com

Disclaimer : All cast belong to god, but the plot of the story is mine. This story is not true, just a fiction. DO NOT PLAGIARISM!

 

A/N : Hai Readers aku datang dengan sequel yang aku janjikan! Enjoy Reading aja ya guys^^

[Losing you is the biggest mistake I’ve ever do in this short lifetime]

Fajar telah terbit dari ufuk timur, menandakan pagi telah siap bagi mereka yang akan melakukan berbagai aktivitas. Tak terkecuali untuk Sehun, pria dewasa yang kini telah sukses menjadi presiden direktur di salah satu cabang perusahaan besar keluarganya di EnglandCMC Group.

Ia telah siap dengan setelan jas yang membuatnya terlihat luar biasa gagahnya dan dasi yang serasi dengan kemejanya. Ia berkaca dengan percaya dirinya di depan cermin, dan tersenyum beberapa kali.

Oppa, ini sarapanmu” Kepalanya berputar 90 derajat.

“Kau selalu datang tepat waktu, Eun Hee-ya. Aku sudah sangat lapar” Perempuan itu tersenyum dan duduk dipinggir ranjang Sehun. Sehun segera mengambil sepiring nasi goreng dan memakannya. Di sela sela tangan kanannya yang sibuk menyuapi dirinya sendiri, tangan kirinya sibuk menyiapkan berbagai perlengkapan kantor yang akan dibawanya.

“Apa kau selalu seperti ini setiap pagi?” Eun Hee menghampiri Sehun dan memasukkan laptop dan berkas – berkas Sehun ke dalam tas kerjanya.

“Kau tahu aku selalu tak punya waktu”

“Tapi setidaknya urus dirimu. Jika sesuatu terjadi pada seorang presdir yang begitu mempesona ini, bagaimana CMC Group bisa berjalan dengan baik?” Eun Hee berjongkok dan mengambil beberapa kertas yang berserakan dibawah meja kerja Sehun.

“Kau harus menjaga kesehatanmu, Oppa” Eun Hee berdiri dan meletakan kertas – kertas itu di atas meja. Senyum Sehun merekah, Eun Hee memang mengurusnya dengan sangat baik.

“Aku akan mengikuti nasehatmu. Berhentilah berbicara” Sehun mencubit pipi Eun Hee.

“Lalu, kapan kau akan membeli rumah dan meninggalkan apartment ini?” Sehun memutar bola matanya. Sampai saat ini, tidak ada secuil pun pemikiran untuk pindah dari sini. Di sinilah ia bisa melihat kantornya dari kejauhan, tidak dengan rumah yang hanya bisa berdiri sampai tiga atau empat lantai.

“Aku bisa melihat semuanya di lantai ke 15 dari bangunan ini, Eun Hee-ya

Eun Hee memegang pundak Sehun, menghentikan semua pergerakannya. “Oppa, kau pria dewasa berusia 26 tahun yang mapan. Bukankah sudah cukup matang untukmu membangun sebuah keluarga? Dan hal pertama yang harus kau lakukan adalah mempunyai rumahmu sendiri”

Sehun menurunkan tangan Eun Hee. “Aku belum siap untuk itu”

“Lalu, kapan kau akan siap?”

Sehun tersenyum dan memandang iris mata amber itu. “Aku akan melamarmu saat aku siap. Tunggu aku, ya?”

Eun Hee adalah wanita yang lembut dan penurut. Tak butuh waktu lama untuknya menuruti perkataan Sehun dan menganggukkan kepalanya. Sehun bukanlah tipe orang yang bisa menarik kembali kata – katanya. Dan Eun Hee sangat percaya akan hal itu.

“Aku akan menunggumu, Oppa” Sehun mencium kening Eun Hee untuk beberapa detik.

“Aku pergi dulu. Jaga apartment kesayanganku ini, Okay?”

Sehun menginjakkan kakinya dan turun dari mobil. Semua karyawannya segera menyambutnya dan menyapanya. Sehun hanya menunduk dan tersenyum pada karyawan – karyawan yang kebanyakan orang England.

“Apa kabarmu, sobat?” Hei, pukulan manis yang cukup keras dari seorang sahabat di pagi hari.

“Aku baik. Bagaimana kabarmu?” Jongin tertawa dan malah memukul Sehun—lagi. “Apa kau pikir orang yang memukulmu dengan begitu kerasnya tidak dalam keadaan yang sangat baik?”

“Aku tahu kau selalu dalam keadaan yang benar – benar baik. Kalau begitu, ayo ikut ke ruang kerjaku” Sehun dan Jongin berjalan bersama dan menaiki lift menuju lantai 20—Ruang kerja seorang direktur.

“Bagaimana dengan adikku?”

Sehun menoleh. “Kim Eun Hee?” Namun detik berikutnya, kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan indah. “Dia baik. Aku baik. Dan kami baik – baik saja”

Jongin bertepuk tangan. “Luar biasa. Kau menjawabnya dengan sangat amat lengkap, Presdir Oh Sehun”

“Tentu saja” Pintu lift terbuka. Namun bukannya melangkahkan kaki keluar, Jongin dan Sehun malah melongo di dalam lift dan terlihat kaget.

“Apa kabarmu, Oh Sehun?”

“Dan apa kabarmu baik, Kim Jongin?”

Tao dan Suho sudah siap menyambut mereka di depan pintu lift. Bisakah kau bayangkan bagaimana kompaknya empat sahabat ini? Berdiri saling berhadapan satu sama lain dan menanyakan kabar masing – masing.

Sehun dan Jongin melangkah enggan keluar dari lift.

GLEK.

Sehun dan Jongin menegak salivanya, kenapa aura kedua orang yang mengikuti mereka dibelakang ini terlihat sangat menyeramkan, ya? Sehun bersumpah, lebih menakutkan wajah mereka berdua daripada hantu apapun di dunia ini.

Saat Sehun hendak membuka ruang kerjanya, ia menarik napasnya. Sungguh, perasaannya mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi. Dan perlu kalian tahu, insting seorang Oh Sehun tidak pernah salah.

BYUUUURR.

Dan benar saja.

Jas, kemeja, dasi, rambut dan semua yang telah disiapkannya dari mulai mentari baru memperlihatkan rambutnya hingga matahari memperlihatkan seluruh tubuhnya hancur berantakan. Dalam sekejap, penampilannya berubah 180 derajat.

Sehun menoleh ke belakang. “HAPPY BIRTHDAY!” Suho dan Tao menyemprotkan snow spray tepat dimuka Sehun. Sehun menyeka busa diwajahnya dengan pelan dan berhati hati, matanya seperti memancarkan api yang menyala – nyala.

Pita suaranya sudah siap mengeluarkan suara yang sangat ia tahan.

“YAK! APA YANG KALIAN LAKUKAAAAN?!”

Dan di sinilah Sehun berakhir. Di dalam bath up yang penuh dengan air dan busa sabun. Wajahnya masih terlihat kesal dengan perlakukan kedua sahabatnya itu. Memangnya siapa yang ulang tahun? Mereka benar – benar keterlaluan, bagaimana bisa melupakan ulang tahun Sehun? Bahkan Sehun pun tidak pernah lupa pada hari apa semua sahabatnya dilahirkan ke dunia ini. Menyebalkan.

Setelah selesai, Sehun memakai handuk dan keluar dari kamar mandi. Di sofa, Tao, Suho dan Jongin sudah menunggunya.

Sehun memanyunkan bibirnya dan menatap tajam Suho dan Tao. Suho merasa merinding dengan tatapan itu, ia langsung melempar setelan baju formal ditangannya kepada Sehun.

“Pakailah bajumu, kau akan masuk angin” Suho, semuanya tahu bahwa kau hanya berbasa – basi. Sehun berjalan, ia menutup tirai dan memakai bajunya.

Hyeong, Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?!”

Suho menggaruk kepalanya. “Mianhae, Sehun-ah. Karena isteriku memarahiku tadi pagi, aku jadi ingin menumpahkannya pada seseorang” Tapi sejelek apapun Suho, ia selalu mengatakan kebenaran dan jujur terhadap semua orang.

Sehun mendengus kesal. “Dan kau Tao? Apa kau punya alasan khusus?”

Sebenarnya Tao sangat takut, tapi.. “Aku hanya ingin mengerjaimu, maafkan aku”

Baiklah. Emosi Sehun sudah benar – benar memuncak! Sehun membuka tirainya dengan sangat cepat. Ia menunjuk Jongin.”Dan kau! Kenapa hanya aku yang terkena jebakan ini, hah?!”

“A-aku, aku hanya..”

Ddrrt.. Ddrrt..

Bersyukurlah kau Kim Jongin. Getaran ponsel itu menyelamatkanmu dari amukan seorang Oh Sehun.

Yoboseyo?”

“…”

“Ya, aku ingat. Tentukan saja dimana kami bisa bertemu”

“…”

“Baiklah, aku akan sampai di sana tepat waktu”

Sehun menutup teleponnya. Ia menyisir rambutnya dan memakai jasnya, tak lupa sepatu dan mengambil tasnya. “Huang Zi Tao, kau ini sekretaris pribadiku, tapi kau bahkan tak ingat bahwa aku ada meeting dengan pimpinan salah satu perusahaan yang sangat berpengaruh”

Tao mengangguk sebagai tanda permintaan maaf. “Jweseonghamnida” Kalau masalah pekerjaan, mereka semua sangat profesional. Tidak ada kata hubungan sahabat lagi diantara semuanya.

“Ayo kita pergi ke sana. Suho hyeong dan Jongin kembalilah ke kantor dan mengurus pekerjaan kalian. Aku akan kembali setelah meeting selesai” Sehun berbalik dan berjalan menuju pintu. Akan tetapi, ia berhenti. Membuat ketiga orang dibelakangnya ikut berhenti.

“Tao, terima kasih untuk tumpangan kamar mandimu”

Dan Sehun kembali melanjutkan langkahnya.

Royal Cafe, 11.00 AM England Standard Time.

“Kenapa perusahaan Imsan Group ingin meeting ditempat seperti ini?”

“Sepertinya pihak mereka ingin suasana yang santai, Presdir”

Yah, masalah tempat sama sekali tidak masalah untuk Sehun. Yang penting pekerjaannya selesai. Sehun dan Tao berjalan menuju satu – satunya meja yang berpenghuni di cafe ini. Karena seisi cafe telah disewa hanya untuk ini.

Annyeong Hasaeyo” Tao menyapa pihak Imsan Group terlebih dulu. Sedangkan Sehun hanya membungkukkan tubuhnya dan duduk didepan orang – orang dari Imsan Group.

“Kalian sudah datang?” Sehun yang semula fokus pada berkas ditangannya kini mengangkat wajahnya. Suaranya seperti tidak asing lagi ditelinganya. Tapi, siapa?

“Perkenalkan. Aku pimpinan baru dari cabang perusahaan Imsan Group yang ada di England” Dia menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sehun. Sehun yang memandangnya juga membalas uluran tangan pimpinan perusahaan ini.

“Im Yoona imnida

Dengan percaya dirinya Sehun tersenyum dan mempererat genggamannya. Tidak ada sedikit pun ekspresi kaget diwajahnya. “Senang bertemu denganmu, Presdir Im”

“Apa kabarmu, presdir Oh? Lama tidak bertemu” Yoona membenarkan posisi duduknya, ia setengah berdiri hanya untuk mencapai Sehun dan berbisik pelan kepadanya. “Aku merindukanmu”

Sehun tersenyum hambar. Ucapan sampah. Apa yang dikatakannya? Merindukan Sehun? Tolonglah, jangan ada yang percaya dengan ucapan manisnya. “Baiklah. Kita akan membahas tentang kerja sama pertama kita dalam sejarah, bukan?” Sehun langsung to the point.

Tentu saja, dua perusahaan yang selalu bersaing di pasar Asia maupun Internasional ini tak pernah melakukan kerja sama apapun, meskipun keluarga pemilik saham terbesar dari kedua perusahaan ini bersahabat. Bisnis adalah bisnis, bukan? Hukum alam memang seperti itu.

Yoona tersenyum, ia menutup berkas Sehun.

“Maafkan saya, Presdir Oh. Tapi kerja sama ini telah kami urus” Dahi Sehun mengernyit. Ia bahkan tak menyetujui apapun dan sama sekali tidak menandatangani berkas yang berhubungan dengan kerja sama ini.

Yoona kembali tersenyum. “Ah, maksudku, biarkan sekretaris kita yang menyelesaikannya. Sebagai presdir, bisakah kita pergi?”

“Kemana kita akan pergi?” Dengan wajah dinginnya, Sehun menatap Yoona.

“Tenanglah, aku profesional. Kita akan pergi ke suatu tempat dimana Imsan Group akan memperlihatkan produk kerja sama kita. Kalau begitu, bisakah kita pergi?”

“Baiklah”

SEHUN POV.

Aku menyetir mobil Im Yoona. Dan dia sekarang berada tepat di sampingku. Rasanya tanganku sangat gatal bila mengingat kejadian yang luar biasa ini. Sungguh berada diluar dugaanku. Jauh dari semua yang aku bayangkan.

“Aku tak tahu keluargamu pemilik saham terbesar di Imsan Group

“Kau hanya tidak tertarik pada bisnis. Kau bahkan tidak tahu apa perusahaan kekasihmu” Yoona menyesap kopi yang berada digenggamannya.

“Ya, tapi itu dulu. Saat itu aku bahkan tidak tahu perusahaan keluarga mantan kekasihku” Aku mengklarifikasi apa yang dia ucapkan. Sekarang, keadaannya telah jauh berbeda, bukan?

“Kau bukan kekasihku lagi”

“Uhuk!” Yoona tersedak.

“Minumlah” Aku menyodorkan sebotol air minum kepadanya dan ia mengambilnya. Setelah ia terlihat lebih baik, aku kembali melontarkan pertanyaan yang dari tadi membuatku penasaran. “Kenapa kau membanting stir dan malah menjalankan bisnis? Bukankah kau ingin menjadi seniman?”

“Kau tahu banyak tentangku, Oh Sehun” Tentu saja, aku tak akan pernah lupa. Bahkan semua rasa sakit yang kau berikan, aku masih mengingatnya dengan jelas.

“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku, Im Yoona”

“Baiklah. Ini semua karena dirimu. Puas?”

Aku tidak membalas perkataannya lagi. Tadi, apa katanya? Karena aku? Aku menyunggingkan senyumku. Apa kau akan terus menerus membohongiku, Im Yoona? Kenapa kau melakukannya? Belum puaskah dirimu?

“Apa Luhan baik – baik saja?” Yoona mengedikan bahunya. “Entahlah. Sudah lama aku tak mendengar kabarnya”

Bohong.

Aku melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku. “Kau ingin makan siang?” Yoona menatapku, aku bisa melihatnya dari sudut mataku.

“Ya, tentu saja. Aku sangat ingin makan siang bersamamu”

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang. Seperti hal yang dulu sering aku lakukan empat tahun lalu. Ah, rasanya sudah lama tidak berbaring seperti ini. Biasanya, aku hanya akan berbaring dan memandang langit – langit kamar karena Im Yoona.

Dan kali ini, aku melakukannya lagi.

Dan lagi – lagi karena Im Yoona.

“Kenapa kau tiba – tiba muncul setelah empat tahun?”

Tanganku meraba meja didekatku, berusaha mencapai sebotol soju yang selalu menjadi penenangku. “Aku tidak suka melihatmu. Apa kau tahu?” Satu tegukan pertama.

Aku menatap fotoku dan Eun Hee. Dalam foto itu, aku seperti terlihat sangat bahagia begitu juga dengan Eun Hee. Aku menutup mataku dan menghembuskan nafas panjang. Apa aku aktor yang sehebat ini? Sandiwaraku selalu terlihat sempurna.

“Hidupku cukup baik tanpamu. Dan aku tak ingin kau menghancurkannya lagi” Tegukan kedua.

“Aku benci kau, Im Yoona!” Tegukan ketiga.

PRANG!

Botol itu ku lempar. Kepalaku pusing, aku bukan peminum yang baik. Hanya tiga tegukan saja sudah cukup membuatku sedikit mabuk. Payah.

Kini posisiku tidak lagi berbaring, aku sudah duduk dan melepaskan satu persatu kancing kemejaku. Rasanya gerah sekali, aku ingin mandi dan mendinginkan kepala dan pikiranku. Seperti biasanya.

SEHUN POV END.

Pukul tiga dini hari. Jika semua orang masih sibuk dengan selimut dan bantalnya, tidak dengan gadis yang satu ini. Ia bahkan belum tidur semalaman, terlalu sibuk dengan laptop dan semua pekerjaannya.

“Bagaimana aku bisa mengendalikan perusahaan Sehun?” Yoona memijat keningnya dan berusaha mengerahkan seluruh otaknya untuk berpikir. Selama ini, CMC Group dan Imsan Group selalu berada di posisi yang sama. Kedua perusahaan ini sama – sama unggul. Dan mengungguli perusahaan Sehun hampir sangat mustahil.

“Aku harus bisa mengendalikannya” Ya, tentu saja. Yoona harus bisa mengendalikan perusahaan Sehun jika ingin menjangkau Sehun untuk selalu berada di dekatnya.

Kelopak matanya tertutup.

“Kau harus beristirahat, Choco-ya

Sontak saja mata itu langsung terbuka dan mencari sosok seseorang. Yoona langsung beranjak berdiri dan memandang sekitarnya. Tadi itu, bukankah itu suara Sehun? Tapi darimana ia bisa mendengarnya? Namun kemudian, ia kembali terduduk.

“Apa halusinasiku seburuk ini?” Yoona mengambil obat penenang dan menelannya. Semenjak kepergian Sehun, bayang – bayang akan dirinya sangat melekat dipikiran Yoona.

Yoona mengambil kalender di dekatnya dan menandai angka 1 April. Besok adalah tanggal 1 April, itu berarti pertemuan keduanya dengan Sehun akan segera terlaksana. “Bukankah aku sudah bersungguh – sungguh untuk mendapatkanmu kembali, Sehun?”

Yoona tersenyum simpul, sorot matanya berubah sendu. “Tapi sepertinya kau sudah melupakanku”

“Kau tidak sama seperti dulu. Sangat jauh berbeda dengan Sehun yang dulu mencintaiku”

Yoona menarik nafas dalam – dalam. “Aku tidak tahu kalau rasanya akan sesakit ini” Tangannya mengepal, Yoona memukul dadanya. “Sungguh sangat sakit”

“Tolong aku, Sehun-ah

Yoona sudah duduk manis di ruang meeting perusahaan Sehun bersama dengan sekretarisnya. Ia datang ke sini pagi sekali. Sudah satu jam dan Sehun tak kunjung datang.

“Yoong, lebih baik kita pergi saja” Naeun—sekretaris sekaligus sahabatnya—memegang tangan Yoona yang kelihatannya sangat kelelahan. “Keterlambatan Presdir CMC tidak bisa ditolerir”

Yoona tak menjawab apapun. Ia malah memijat kepalanya yang sungguh sangat pening, ditambah lagi Naeun yang terus mengoceh membuat emosinya meningkat.

“Yoong—”

“Diamlah” Potong Yoona. “Kau tahu aku bersusah payah untuk ini. Tugasmu hanyalah membantuku menyelesaikan semuanya dengan baik. Hanya duduk dan temani aku di sini”

Cklek.

Tiba – tiba pintu ruangan ini terbuka, muncul seorang Oh Sehun. Yoona lega, rasanya bebannya langsung sirna ketika melihat iris mata itu. Yoona memandang satu persatu bagian tubuh Sehun, hingga pandangannya jatuh pada tanganya yang..

Menggandeng seseorang.

Oppa, kenapa aku harus ikut meeting denganmu? Aku tidak mengerti sama sekali” Sehun tersenyum tenang. “Tenang saja, kau hanya perlu menemaniku”

“Apa kabar, Presdir?” Sehun menyapa Yoona terlebih dahulu, diikuti dengan Eun Hee yang duduk di sampingnya. Sedangkan Yoona, jangankan untuk membalas salam Sehun, untuk mengedipkan mata saja ia kesulitan.

“Aku lihat sekretaris kita menjalankan tugas mereka dengan baik” Mimik wajah Sehun sepertinya tenang sekali, selalu sama setiap saat.

“Ya” Hanya dua huruf itu yang bisa Yoona ucapkan sejauh ini. Tidak lebih. Otaknya terlalu sibuk untuk mengira – ngira siapa gadis yang dibawa Sehun ini.

“Ah ya, aku lupa memperkenalkan orang di sampingku. Dia adalah sekretaris baruku mulai sekarang, Tao ku tugaskan dibagian yang lain” Mulanya, Eun Hee terlihat kaget, namun ia mulai bisa mengendalikan diri setelah Sehun memegang tangannya.

“Perkenalkan dirimu”

Eun Hee mengangguk. “Annyeong Hasimnika, Kim Eun Hee imnida

“Dia juga tunanganku”

DAMN!

Tubuh Yoona langsung melemas seketika. “S-siapa?”

Ketika pertanyaan itu keluar dari mulutnya, Sehun seperti tidak meghiraukannya dan malah membahas berbagai hal tentang kerja sama mereka. Naeun mengerti dengan tugasnya, ia tahu situasi ini membuat Yoona down. Maka dari itu, ia menggantikan posisi Yoona dan menjelaskan semuanya.

“Yah, aku rasa produk ini akan laku keras dipasaran. Bukan begitu, Presdir Im?”

Yoona masih sibuk menatap gadis itu. Gadis itu adalah sekretaris Sehun, tapi dia tidak melakukan apapun dari tadi. Ia hanya duduk diam dan membiarkan Sehun mengerjakan semuanya. Dan satu hal yang Yoona tanyakan.

Kenapa?

“Presdir Im?”

Ne?” Tentu saja Yoona bisa mendengar Sehun. “Presdir Oh, bukankah nona Kim Eun Hee ini adalah sekretarismu?” Yoona balik bertanya dan mengalihkan topik pembicaraan.

“Ya” Jawaban singkat seorang Oh Sehun.

“Kelihatannya dia tidak melakukan pekerjaan apapun”

Gadis itu hanya perempuan biasa yang dibawa Sehun untuk membuatku menjauh. Itulah yang ada dipikiran Yoona. Akan tetapi, Yoona langsung tersenyum dan membenarkan posisi duduknya.

“Lupakan saja. Aku tidak mempedulikannya” Yoona berdiri dari tempat duduknya. “Kalau begitu, pertemuan ini kita sudahi. Saya rasa semuanya telah dibahas, Presdir Oh”

Yoona menunduk. “Sampai Jumpa”

“AAAAAAA!” Yoona mengepalkan tangannya keras, napasnya sangat tidak teratur. Ia melempar semua barangnya dan menghancurkan tatanan rambutnya.

“Kenapa, Sehun-ah?!” Air matanya mulai berjatuhan.

“Siapa wanita itu? Tunanganmu, hah?!”

Semua peralatan make up dan perhiasannya tergeletak dilantai. Berantakan, dan sangat hancur. Yoona menjambak rambutnya sendiri. “AH!”

Ia berlari menuju laci dan membukanya. “Apa kau pikir aku tidak bisa membuatmu berada dalam kendaliku?” Yoona tersenyum ringan dan mengeluarkan beberapa kertas dari laci meja itu.

“Akulah yang memiliki permainan ini. Maka aku tidak akan terhanyut di dalamnya, Oh Sehun” Dia duduk dipinggir ranjangnya.

“Ya, aku harus segera mengendalikanmu”

Tiga bulan berlalu. Kerja sama dua perusahaan itu berjalan sangat baik. Bahkan, karena keseriusan dan kesungguhan kedua belah pihak, peluncuran produk itu akan dilakukan beberapa hari ke depan. Sungguh menakjubkan, bukan? Waktu yang sangat singkat.

Yoona, sang presiden direktur itu berjalan dengan elegannya di kantor Sehun. Bak puteri raja, kehadirannya menyita perhatian semua orang. Yoona menaiki lift, dan tak lama berselang ia sampai di depan pintu ruangan Sehun.

“Halo, Presdir Oh” Dengan mudahnya ia membuka pintu itu.

Sehun mengangkat kepalanya. “Apa keperluanmu, Presdir Im?” Tanpa sapaan sedikit pun, dan dengan wajah datar kepunyaan Oh Sehun.

“Aku membutuhkan tanda tanganmu untuk peluncuran produk kita ini” Yoona mendekat dan mengeluarkan map dari dalam tasnya. Sedangkan Sehun, ia sudah bersiap untuk membaca dan menandatangani kertas itu.

“Tunanganmu tidak sedang di sini?”

Sehun menggeser map itu pada Yoona. “Dia di sini” Sehun menunjuk dadanya—kalian tahu maksud perkataannya.

Yoona tersenyum hambar. “Lelucon yang menyenangkan”

“Ku lihat kau bersemangat sekali untuk kerja sama ini, kau sering turun tangan sendiri daripada menyuruh bawahanmu”

“Bukankah itu lebih baik?”

“Ya, mungkin”

Yoona mendudukkan tubuhnya di kursi. Ia menatap Sehun yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Lalu, ia tersenyum dengan manis. “Kenapa kau menatapku?” Ya tuhan, sikap dinginnya ini terkadang membuatnya terlihat jauh lebih berwibawa.

“Karena kau tampan” Jawaban itu meluncur dengan sangat lancar dari bibir Yoona. “Bukankah dulu kau suka jika aku menatapmu?”

Sehun berbalik menatap Yoona. “Seperti yang kau katakan, itu dulu

Jujur saja, jawaban itu membuat hati Yoona mencelos. Bukan jawaban yang ia harapkan. “Dan aku akan membuatnya sama seperti dulu lagi” Desis Yoona.

Sehun menopang dagunya, tangan kanannya memutar pena yang tadi digunakannya. “Apa kau mencoba merebut milik seseorang, Im Yoona-ssi?”

“Kau milikku, Oh Sehun”

“Tidak lagi” Sehun menegaskan hal itu dengan sejelas – jelasnya.

Yoona menghela nafasnya. Gadis itu sudah berusaha bersikap setenang mungkin. “Mungkin memang benar. Tapi aku akan memilikimu kembali”

“Tidak akan pernah” Sehun heran dengan Yoona. Apa yang sebenarnya ia inginkan? Dulu, ia bahkan menyia – nyiakan dirinya. Dan sekarang, menginginkan Sehun untuk kembali? Keinginan yang sangat konyol.

Kenapa?

Karena Sehun tak akan pernah kembali lagi.

“Kita lihat apa kau masih akan berkata seperti itu ketika kau melihat ini” Satu tumpukan kertas dan satu map Yoona sodorkan pada Sehun. Sehun melihat Yoona, gadis itu tersenyum dengan percaya diri sekali.

Tak ingin berlama – lama, Sehun mengambil map itu dan membacanya.

1.

2.

3.

“Surat tuntutan?!” Sehun menggebrak mejanya. “Atas dasar apa kau menuntut perusahaanku?!”

Yoona menumpangkan kakinya. “Apa kau tidak membacanya? Penggelapan dana dan penipuan” Yoona tersenyum puas. “Mungkin memang bukan seorang Presdir Oh Sehun yang melakukannya, tapi ayahnya”

Yoona berdiri dan melangkah mendekati Sehun, tangannya berada dipundak pria itu. “Saat perusahaanmu memenangkan tender melawan perusahaanku 10 tahun lalu. Tidakkah kau mengingatnya?”

Napas Sehun tertahan. Apa benar ayahnya melakukan ini? Tapi, darimana Yoona mengetahuinya? Dan semua bukti – bukti itu, bagaimana bisa Yoona mendapatkannya?!

“Aku akan melaporkannya setelah ini” Yoona mengacungkan map dan kertas – kertas itu.

“Jangan” Suara tegas itu menyeruak ditelinga Yoona.

“Aku akan melakukan apapun untukmu. Tapi jangan menghancurkan perusahaan yang telah keluargaku bangun selama puluhan tahun”

“Apa yang kau bisa lakukan untukku? Aku tidak membutuhkan apapun lagi, Presdir Oh. Dan apa perlu ku beritahu? Dengan ini, saingan Imsan Group akan lenyap” Sial, Yoona terus memancing amarah Sehun.

“Keluargamu dan keluargaku bersahabat”

“Itu bukan alasan”

Sehun menghela nafasnya. Ia menyerah, tak ada pilihan lain selain ini. “Baiklah. Aku akan kembali padamu”

Yoona tersenyum puas. Sama seperti yang ia harapkan, dan ia bahagia akan hal itu. “Baiklah. Deal?”

Keduanya berjabat tangan. “Deal

Semuanya berjalan seperti rencana. Yoona tidak jadi melaporkan kasus penggelapan dana dan penipuan CMC Group dan tetap merahasiakannya. Tapi sesuai kesepakatan, ada harga yang harus dibayar. Sehun memutuskan pertunangan dengan Kim Eun Hee tanpa alasan yang jelas.

Eun Hee hanya bisa pasrah dan menerimanya, bahkan tanpa bisa tahu apa alasan dibalik ini. Kim Jongin, ia bahkan telah mengundurkan diri dari perusahaan Sehun. Setelah Sehun mencampakkan adiknya, bagaimana mungkin ia masih bisa bersahabat dan bekerja untuk perusahaan Sehun?

Kau brengsek, Oh Sehun.

Hanya itu yang diucapkannya. Jongin memang tidak menghajarnya, tapi rasanya dengan memutuskan tali persahabatan yang telah dijalin keduanya bertahun – bertahun membuat Sehun terpukul.

“Kau tak usah khawatir, ada aku bersamamu. Kau tidak membutuhkan Jongin lagi” Sehun masih sibuk memandang lampu – lampu di luar sana. Ia tidak berniat berbalik bahkan untuk melihat kedatangan Yoona.

Tiba – tiba, sepasang lengan telah memeluknya dari belakang. “Memelukmu dari belakang seperti ini, sudah lama ingin aku lakukan”

Sehun tidak meresponnya. Semua yang Yoona ucapkan, Sehun hanya menjawab seperlunya. “Sudah satu minggu lamanya sejak kau kembali ke pelukanku”

“Dan sudah satu minggu pula kau menghancurkan hidupku untuk yang kedua kalinya” Kalimat itu benar – benar menusuk Yoona. Ia melepas pelukannya dan membalikkan badan Sehun.

“Apa kau tidak mencintaiku lagi?” Jari lentik itu menggapai pipi tirus Oh Sehun.

“Kau tahu aku tidak—”

“Ssst” Jari telunjuknya menempel manis dibibir Sehun. Satu detik kemudian, ia memeluk dan mencium aroma tubuh Sehun yang baru satu minggu ini bisa ia miliki seutuhnya.

“Kau akan mencintaiku lagi. Percayalah”

“Selamat pagi, sayang” Yoona memasuki apartment Sehun dan membawa sarapan pagi untuk kekasihnya. Ia tersenyum ketika melihat direktur yang begitu berwibawanya masih tidur dengan ranjang yang bagaikan kapal pecah. Lelaki tetaplah seorang lelaki.

Yoona meletakkan makanan itu dan membereskan beberapa barang yang berserakan. Tiba – tiba saja terdengar Sehun menguap dan bergerak seperti tidak mau diam di atas ranjang. “Kau sudah datang, Eun Hee-ya

Yoona tersenyum. “Ya, aku sudah dat—” Ucapannya terhenti. Eun Hee-ya?

Sehun bangun dan memandang sekitarnya dengan wajah khas baru bangun tidur. “Apa kau kelelahan? Kelihatannya kau tidur nyenyak sekali semalam” Yoona mencoba memulai percakapan agar suasana tidak terlalu hening.

Sehun turun dari tempat tidur dan mengambil segelas air putih. “Ya, aku juga tidak tahu kapan kau pergi dari sini”

“Itu karena kau tidur saat aku membuatkan makan malam untukmu”

“Ya, ku rasa begitu”

Hanya jawaban seperti itu, tidak lebih. “Apa kau bahagia, Sehun?”

“Aku tersiksa” Jawabnya ringan. Lalu ia memasuki kamar mandi dan meninggalkan Yoona.

Yoona menghela napasnya. “Kau tersiksa?” Aish, rasanya matanya panas sekali. Ia duduk diranjang Sehun, menatap isi dari apartment ini. Dimulai dari meja kerja Sehun, pernak pernik dan semua lukisannya, dan foto – foto yang terpanjang sempurna di dinding ini.

“Semuanya foto Eun Hee” Yoona bergumam.

Cklek.

Pintu kamar mandi itu terbuka. “Tentu saja tidak ada foto dirimu. Kau telah ku hapus empat tahun lalu, jadi untuk apa aku memajang fotomu? Benar kan?”

Yoona menoleh. “Kau mandi cepat sekali” Tentu saja Yoona mengalihkan pembicaraannya, semua hal yang dikatakan Sehun sangat menyakitkan untuknya—meskipun itu benar adanya.

Sehun tersenyum. “Kau bisa pulang sekarang. Aku ingin memakai pakaianku”

“Tapi aku bisa menunggu saja”

“Aku ingin kau pulang, Im Yoona”

Yoona berdiri dan mengambil tasnya. Ia menyerah. “Jangan lupa untuk sarapan pagimu” Ia pun berjalan dan hendak keluar dari tempat ini.

“Ya, terima kasih”

Namun, ia tiba – tiba berhenti sejenak. “Aku tunggu kau di rumahku sore nanti” Dan ia melanjutkan langkahnya kembali. Setidaknya, Yoona harus menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Sehun, bukan?

Sehun menancap gasnya setelah menyelesaikan pekerjaan kantornya. Ia melihat jam tangan yang melingkar ditangannya. Sudah pukul 8 malam, memang sedikit terlambat, tapi ia pikir tidak apa – apa. Setelah sampai, Sehun memakirkan mobilnya dan keluar dari mobil itu.

Ia melirik sesuatu yang terlihat dari kaca mobilnya. “Haruskah aku membawa bunga itu juga?” Namun ia langsung menggeleng. “Tidak. Aku tidak boleh terlalu baik padanya”

“Kau sudah di sini?” Fokusnya teralihkan ketika suara itu terdengar ditelinganya. “Aku sudah menunggumu dari tadi. Aku kira kau tidak jadi datang”

“Sejak kapan kau di sini?” Pertanyaan itu adalah kalimat pertama yang Sehun ucapkan pada Yoona malam ini. “Sejak 3 menit yang lalu” Yoona menggandeng Sehun dan membawanya memasuki rumahnya.

“Aku ingin meminta satu hal darimu”

“Apa?”

“Untuk malam ini, bersikaplah seperti kau masih sangat mencintaiku. Seperti dulu”

Sehun memandang Yoona, wajah wanita itu sepertinya tenang sekali. Namun pandangannya kosong. “Kenapa aku harus berbohong padamu?” Oh Sehun, kau tidak mengerti bagaimana memenuhi permintaan seorang wanita.

“Kau harus. Hanya itu permohonanku” Pintu itu terbuka. Keduanya masuk dan Yoona telah menyiapkan sesuatu yang luar biasa yang bahkan Sehun pun tak pernah membayangkan semuanya.

Semua lukisan di sini adalah lukisan dirinya dan Yoona. Foto – foto yang terpampang juga foto mereka ketika masih menjalin hubungan—4 tahun lalu.

Keduanya telah duduk berhadapan di atas kursi masing – masing. Yoona menepuk tangannya dan pelayan pun datang membawa menu makanan. “Aku ingin Roast Meats. Dan kau?”

“Aku juga sama” Sehun menjawabnya singkat. Ketika pelayan itu pergi, Sehun hanya diam dan tak melakukan apapun. “Kau menyiapkan candle light dinner? Hebat sekali” Dan akhirnya, ia bersuara.

“Ya, untuk kita. Apa kau menyukainya?”

“Tid—” Ucapan Sehun berhenti. Ia teringat akan permintaan Yoona, dan setidaknya ia harus memenuhinya. Dulu, Yoona juga selalu bersikap seperti ia mencintai Sehun. At least, He should act like Yoona is his world.

“Ya, aku menyukainya, Choco-ya” Iris mata Yoona menitikkan fokusnya pada wajah Sehun. Ia tersenyum dan menyisipkan poninya ditelinga. Getar – getar dihatinya semakin menajam ketika Sehun menyebut nama itu.

Terima kasih.

Hatinya ingin sekali mengucapkan hal itu. “Sudah lama kau tidak memanggilku seperti itu”

Sehun menggerakkan lengannya dan menyentuh tangan Yoona. “Maafkan aku karena telah menghilangkan panggilan itu” Yoona menggeleng. “Tak apa, Sehun-ah

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang membawakan pesanan Sehun dan Yoona. Sehun mengambil sendok dan garpu lalu mengambil sesuap daging untuk mengisi perutnya. Terhitung sudah 5 suap makanan itu masuk ke dalam mulut Sehun.

“Kelihatannya kau lapar sekali”

Sehun menggelengkan kepalanya ketika melihat makanan Yoona masih penuh dan belum tersentuh sama sekali. Ia mengambil sesendok makanan lagi, namun bukan untuk dirinya. “Aku tahu tidak baik jika kita berbicara ketika menyantap makanan. Tapi kekasihku ini tidak makan sama sekali” Sendok itu telah berada tepat di depan bibir Yoona yang terkunci rapat.

“Aku tidak akan makan jika kau tidak makan” Ya tuhan, romantis sekali.

Tidak dibutuhkan rayuan yang bertele – tele untuk membuat Yoona membuka mulutnya. Rasanya, Sehun bisa memintanya untuk mengisi perutnya saja sudah luar biasa. “Apa kau menungguku sejak tadi sore?”

“Tidak. Aku hanya menunggumu satu jam” Timpal Yoona.

“Bagus sekali. Sepertinya kau tahu kalau aku akan datang terlambat”

Yoona tersenyum sambil menunduk. “Kau ingin melihat – lihat rumahku?” Tanpa menolak, Sehun berdiri dan mengikuti Yoona. Dari mulai ruang tamu, berbagai kamar, dapur, ruang khusus lukisan, dan semua yang ada di rumah ini.

“Kau menyukainya, sayang?” Anggukan Sehun cukup untuk menjawab pertanyaan Yoona. “Tenang saja, rumah ini akan menjadi rumahmu”

Yoona memegang tangan Sehun dan merasakan betapa memegang tangan Sehun saja membuat dirinya merasa nyaman. Keduanya saling bertatapan dan menikmati setiap detik yang berlalu. “Biasanya setiap pasangan akan merayakan hari ke-100 mereka. Tapi, aku ingin merayakannya dihari ke-10 kita. Hari ini”

“Terima kasih untuk malam ini” Lanjut Yoona. Sehun tersenyum dan kemudian memegang pipi Yoona. “Aku bahagia jika kau bahagia” Ia memeluk Yoona. Yoona yang masih berada dalam pelukan Sehun menyadari malam semakin larut.

“Kau harus pulang” Ia melepas pelukannya.

Wajah Sehun memelas. “Bagaimana ini? Aku ingin lebih lama lagi bersamamu”

Sandiwara Sehun sangat sempurna hingga membuat Yoona terlarut dan lupa diri. “Ayolah, kau harus beristirahat dan bangun pagi sekali besok. Aku akan mengantarmu sampai depan”

Dan tibalah saatnya ketika Yoona harus melepas Sehun. Ketika malam yang indah ini harus berakhir dan mengharuskan Yoona untuk merelakan Sehun. Keduanya sampai di depan pintu. “Jangan tidur larut malam, okay?” Yoona mengangguk.

Sehun kembali meraih pipi Yoona dan mencium keningnya untuk waktu yang cukup lama. “Baiklah, aku pulang sekarang”

“Ya, berhati – hatilah di jalan”

06.00 AM, England standard time.

Sehun masih tak bergeming dengan riuh suara yang terdengar ditelinganya. Ia malah mengambil bantal dan menutupi telinganya. Apa semalam ia salah masuk apartment? Tempatnya ini sudah seperti mall saja. Riuh dan banyak sekali suara banyak orang.

YAK! Bangun Kau!” Sebuah pukulan terasa sangat jelas mengenai lengan Sehun.

“AW!” Sudah cukup! Sehun bangun dan terduduk dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. Akan tetapi, ekspresinya berganti hanya dalam kurun waktu sepersekian detik. Kini, kekagetan telah memenuhi mukanya.

“Ada apa ini?” Itulah pertanyaan Sehun.

“Kau ini bodoh sekali. Ini adalah hari pernikahanmu dengan Eun Hee, seharusnya kau tidak kelelahan kemarin hingga menyebabkan kau terlambat bangun seperti ini” Dan Jongin, pria itu kini telah duduk di sampingnya dan mengoceh tentang banyak hal.

Sehun tertegun. Pernikahan?

Jongin merangkul Sehun yang masih kebingungan. “Yoona telah menjelaskan semuanya kepadaku dan Eun Hee. Aku mengerti sekali, kau hanya tidak ingin perusahaan dan keluargamu hancur”

“Siapa yang menyiapkan pernikahan ini?” Bibir Sehun melontarkan sebuah pertanyaan untuk Jongin.

“Yoona” Nama itu yang Jongin sebut. “Ia merasa bersalah dan akhirnya menyiapkan semua ini. Benar – benar menakjubkan, bukan? Ia berkata bahwa ia hanya menyiapkan ini selama 3 hari”

Jongin menarik Sehun dari tempat tidurnya. “Aish, cepatlah bersiap – siap dan bersihkan dirimu! Kau akan melangsungkan pernikahan dan mengucap janji suci bersama adikku yang sangat kau cintai”

Dan Sehun, ia hanya bisa masuk ke kamar mandi dan melakukan apa yang Jongin katakan.

07.00 AM, England Standard Time—Katedral Santo Paulus.

Sehun telah menunggu dengan tuxedo putih lengkap dan tatanan rambut yang sungguh rapi. Dari ujung sana, telah terlihat Eun Hee berjalan dituntun ayahnya di atas altar. Wajahnya sungguh cantik dan tubuhnya benar – benar cocok dengan gaun pernikahan yang ia kenakan. Ia terus menerus memamerkan senyumnya setiap saat.

Ketika sampai tepat di hadapannya, Ayah Eun Hee menyerahkan puterinya kepada Sehun. Keduanya berhadapan dan saling berpegangan.

Pendeta yang telah siap menikahkan mereka mulai memandu janji suci pasangan ini. “Saudari Kim Eun Hee, bersediakah kau menjadi pendamping hidup saudara Oh Sehun dan menemaninya saat suka dan duka, sehat dan sakit, serta mencintai dan menyayanginya hingga ia mati?”

“Saya bersedia” Eun Hee menjawabnya dengan lantang dan lugas.

“Saudara Oh Sehun, bersediakah kau menjadi pendamping hidup saudari Kim Eun Hee dan menemaninya saat suka dan duka, sehat dan sakit, serta mencintai dan menyayanginya hingga ia mati?”

Sehun menghela nafasnya untuk sejenak. “Saya..”

Yoona memegang segelas wine di depan sungai Thames. Dari atas jembatan ini, sungai yang begitu luas ini bisa sangat terlihat dengan sangat jelas oleh mata Yoona. Yoona tersenyum dan meneguk wine itu.

“Kalian pasti sudah resmi menikah” Ucapnya.

Angin malam yang bertiup menerbangkan rambut Yoona juga ikut menyaksikan betapa hancurnya wanita ini. Ia meneguk wine itu lagi. “Ah.. Rasanya sakit sekali”

Yoona menghapus air mata yang baru saja jatuh dari pelupuk matanya. Namun air mata selanjutnya terus keluar tanpa memberi jeda sedikit pun. “Kenapa hidupku harus seperti ini?”

Yoona kembali meminum winenya lagi. “Aku pasti sudah seperti orang gila sekarang”

“Benar ‘kan? AKU SUDAH SEPERTI ORANG GILA ‘KAN?!” Yoona berteriak sekencang yang ia bisa. Semua orang yang berkendara memperhatikan tingkah aneh Yoona, namun Yoona tidak peduli akan hal itu.

“Ya, kau memang sudah gila” Yoona menoleh.

“Oh Sehun?” Yoona menyunggingkan senyumnya dan meminum wine itu lagi. “Bahkan aku bisa melihat bayanganmu. Pasti aku sudah mabuk berat”

Sehun mendekati Yoona masih dengan tuxedo putih yang ia kenakan dan keringat serta napasnya yang tidak beraturan. “Ya tuhan, bayanganmu mendekat, Sehun”

Sehun mengambil gelas wine itu dan meletakkannya. “Bagaimana bisa kau berada di luar tengah malam seperti ini? Kemana bodyguardmu? Bahkan mereka tidak menjagamu” Sehun merapatkan jaket kulit yang Yoona pakai.

Yoona menunjuk Sehun dengan telunjuknya. “Bayangan Sehun berbicara padaku?”

Sehun mengangguk. “Ya, aku berbicara padamu”

Yoona memukul dada Sehun pelan. “Kau jahat. Selalu membuatku menunggumu selama satu jam” Ocehnya. Sehun tersenyum. “Dulu, kau selalu membuatku menunggu selama tiga jam”

“Ah, ya. Benar” Yoona sudah kehilangan setengah kesadarannya. “Selagi bayanganmu ada di depanku. Aku ingin menanyakan sesuatu” Ia diam untuk beberapa detik. “Kau sudah menikah dengan tunanganmu itu ‘kan?”

Sehun mengelus rambut Yoona yang lembut. “Aku hanya akan menikahimu”

Tangan Yoona memukul angin. “Pasti kau hanya bergurau” Sehun tersenyum manis menanggapinya. “Kenapa kau berada di sini malam – malam begini? Aku mencarimu kemana – mana seharian”

“Kenapa aku ada di sini?” Yoona mengibaskan rambut yang menghalangi pandangannya. “Karena dirimu. Karena dirimu yang selalu membuatku gila dengan sikap dinginmu itu”

“Sehun-ah” Yoona memanggilnya.

“Hm?”

“Kenapa kau berkata bahwa kau tersiksa, huh? Kau selalu berkata bahwa aku menghancurkan hidupmu dan kau sangat membenciku” Tanpa terasa, liquid bening itu membasahi pipi Yoona. “Dasar bodoh. Kau membuatku harus melepaskanmu”

Sehun menghapus air mata satu – satunya wanita yang ada dihatinya. “Kenapa kau menyerah untuk mendapatkanku kembali? Kau tahu aku hanya berusaha membuatmu merasakan apa yang aku rasakan dulu”

Yoona berpikir dan kemudian tertawa. “Entahlah” Ia kemudian jatuh dipelukan Sehun. “Tapi aku salut dengan semua usahamu. Bahkan kau membuat perusahaanku hampir jatuh. Dan kau tahu? Sebenarnya aku bersyukur karena kau menemukan cara agar kita selalu bersama”

Kelopak mata Yoona berulang kali tertutup namun ia masih sedikit terjaga. “Apa kau tahu alasanku melakukan ini semua?” Yoona berkedip.

“Karena aku mencintaimu melebihi apapun dan siapapun di dunia ini” Setiap katanya hampir terdengar tidak jelas.

Sehun tersenyum. “Ya, kau melakukan semua ini karena itu. Dan kau harus paham juga, bahwa aku juga mencintaimu melebihi apapun dan siapapun di dunia ini, Choco-ya

Cinta itu aneh, bukan? Seperti yang keduanya rasakan. Mereka bisa melakukan apapun untuk bisa berada di dekat orang yang dicintainya. Kenapa?

Karena Sehun mencintai Yoona. Dan..

Yoona mencintai Sehun.

END

Apa ceritanya nyambung? Apa readers puas? Wkwk. Karena aku ga pernah nyambung kalo bikin sequel soalnya._. Inti ceritanya aku buat sama seperti yang readers harapkan, kok. Okay, kalau ada kritik atau saran silahkan isi dikolom komentar (?) Panggil aku nawafil atau nida atau wafa aja terserah tapi jangan Author atau thor. Biar lebih akrab aja gitu, aku 99liners kok. Hehe

Dan masalah janji suci di altar, okay aku tidak tahu menahu tentang hal itu(?) susah kali ya searching begituan eh yang keluar malah apa._. Jadi, maafkan bila ada kata kata yang salah.

Kalau begitu, selamat bertemu di FF ku yang selanjutnya Readers tercintaaaaa *throwing a kiss*

 

63 thoughts on “(Freelance) Oneshot : Because I Love You (Sequel of Betrayal Of Love)

  1. Ini bukan gak bagus hanya saja kurang panjang thor.. Hihi..sedikit kasian sih liat yoona kayak gitu tapi setidaknya dapat kebahagiaan yg setimpal.. Perbanyak ff yoonhun nya ya thor.. Fighting!

  2. Damn! Perfect ending 😂😂 kereeeen thor. Terimakasih sekali lagi. Diperbanyak ya bikin ff begini castnya yoona sehun, alurnya sedih sedu bahagia romantis manis dan akhirnya selesai dengan cantik. semangat authoor! Ditunggu karya selanjutnya😊

  3. Bagusss tapiii kurang puasss
    Hihihi butuh sequel donk
    Aku kira sehun bakalan sama eun hee ternyata balik sama yoona
    Akhir nyaaa yoonhun kembali lagii
    Memng pasti kembali soalx mereka cocok hehehe

  4. Awalnya patah hati bngt sehun sdh punya tunangan baru dan sehun yg dingin bngt ke yoona. Jujur aja.. Aq masih butuh sequel~ pengen baca kelanjutan hidupx yoonhun sih. Ini sequel bener” daebbak!!! ngenak bngt feelnya~

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s