The Data II

the-data-by-cerfymour

The Data II

Cerfymour a.k.a Quorralicious

PG13+ || Romance, Action|| Xiumin, Yoona dan Tao

Great poster by Missfishyjazz

Plagiarist don’t belong here. WARNING NO PLAGIARISM, DON’T BASH, DON’T COPY without my permission. Typo bertebaran.

Nb: Semoga suka dengan series twoshoot ku kali ini, ini part terakhir yang ternyata lebih panjang dari apa yang aku pikirkan sebelumnya. Enjoy it!

 

Save THE DATA

 

Yoona terlihat begitu sibuk memijat nomor-nomor password untuk ruangan calon suaminya.

Cklek. Pintu berwarna kecokelatan dengan sisi-sisi nya yang minimalis pun segera terbuka. Manager Yoona yang bernama Kim dengan cepat memasuki ruangan tersebut bahkan sebelum aktrisnya masuk terlebih dahulu. Matanya mengedar menatapi ruangan yang kosong dan hanya dipenuhi oleh dokumen-dokumen yang berserakan di meja tempat biasanya Minseok bekerja untuk setiap proyek penelitiannya dan juga laptop canggih kesayangan Minseokkie yang terletak begitu tak berdaya. Dengusan pelan terdengar, lebih terasa seperti kehampaan yang mneyesakkan dada. Betapa tidak, seorang Kim Minseok yang memang direncanakan untuk menghabiskan liburan bersamanya bersamaan dengan kegiatan menangkap moment pre wedding nya tersebut berakhir dengan penuh tanda tanya.

“Oppa juga tidak ada disini,” cicitnya, suaranya terdengar lebih serak menahan rasa sedih sekaligus khawatir yang menggelegak di dalam dadanya. “Aku sendiri bingung dengan keadaan ini. Tidak seperti biasanya Minseokkie hilang dengan tiba-tiba. Selarut apapun dia dengan pekerjaannya, dia tidak mungkin menelantarkanmu begitu saja, Yoong.”

Ucapan Kim tidak bisa menghempas rasa khawatirnya, Yoona segera berbalik kearah dimana lemari-lemari buku Minseok berjajar dengan rapi dan dipenuhi oleh buku-buku favorit calon suaminya tersebut. “Apa kau tahu siapa lagi yang dekat dengan Oppa?” Kim hanya menggeleng menjawab pertanyaan Yoona tersebut setahunya selama dia mengenal seorang Minseok yang dia tahu Minsoek adalah orang yang introvert dan sangat jarang berbicara dan suatu hal yang ajaib bilamana ternyata selama ini Minseok mempunyai teman di suatu pemancingan, misalnya.

Pandangan Yoona menerawang, membayangkan detik-detik sebelum akhirnya Minsoek menghilang disaat pergi ke toilet. Dadanya perlahan terasa perih bilamana membayangkan bahwa lelaki yang dicintainya tiba-tiba menghilang seperti ini. Lelaki yang menurutnya hanya ada satu-satunya yang tersisa di bumi ini, lelaki yang benar-benar mencintainya dengan hati dan perasaan yang seutuhnya tanpa menjadikan nafsu birahinya sebagai landasan mendekati Yoona. Kepolosan yang tersirat di mata Minseok saat menatapnya, begitu melelehkan hatinya yang sempat ditutup. Yoona memejamkan matanya perlahan, menghirup sebanyak-banyaknya udara dan aroma ruangan yang sangat khas Minseok. Tanpa terasa, genangan airmata yang ada dikedua pelupuk matanya tak bisa lagi terhindar untuk tidak segera terjun bebas, mengaliri pipinya yang mulus.

‘dimana kau oppa,’ batinnya ditengah tangisan sendu.

Tangan hangat Kim segera merengkuh pundaknya pelan. “Menangislah. Setelah itu ayo kita lanjutkan pencarian kita.” Ucapnya disertai dengan kehangatan seorang kakak terhadap adiknya yang sedang dilanda kesedihan. Yoona tak bergeming, bahkan untuk sekedar menggerakkan bibirnya menjawab ucapan Kim pun tidak Yoona lakukan, hanya aliran airmatanya saja yang mengalir semakin deras meski berulang kali punggung tangannya mencoba mneghapusi jejak airmatanya tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara klik, pertanda bahwa sebuah email masuk dan Yoona yakin itu berasal dari laptop Minseok yang ternyata masih menyala. Yoona dengan segera mendekati laptop tersebut tanpa harus menunggu lebih lama lagi. Setelah dia mencoba membuka pesan masuk yang terdapat di dalam email tersebut akhrinya Yoona dan Kim bisa membaca isi pesan yang membuat keduanya semakin yakin Minseok sedang berada dalam bahaya. Semakin Yoona menggeser scroll laptop tersebut untuk melihat isi seluruh pesan dan perbincangan mencekam itu, Yoona sedikit demi sedikit mengerti mengarah kemana laju pembicaraan antara calon suaminya dan lelaki yang menyebut namanya sebagai Luhan.

Tao

Subject: Bluetooth Project

Content:

Hyung, aku rasa mereka sudah menemukan inti dari project kita ini. Dan kurasa kau hanya harus memecahkan algoritma yang sudah ada. Hanya kau yang bisa, Hyung. Karena itu kau harus segera pergi ke luar negeri untuk sementara waktu. Hidupmu dalam bahaya, Hyung.

 

Replied:

Minseok

Subject: Bluetooth Project

Content:

Apa? Kenapa begitu cepat? Padahal aku dengan sengaja membuatt semua sistem menjadi kacau. Aku harus menyelesaikan semua yang sudah aku awali, dari sejak awal aku tidak menyadari semuanya akan menjadi lebih berbahaya dari sekarang, dan lari dari semua ini bukanlah jawaban dari semuanya Tao.

 

Replied:

Tao

Subject: Bluetooth Project

Content:

Aku kira kau menempatkanku disini untuk mengamankan posisimu dari mereka. Aku harus bagaimana Hyung? Aish jinjja! Andai otakku secepat dan sehandal milikmu. Aku ingin membalas utang budiku padamu, biarkan aku melindungimu Hyung. Untuk sementara kau harus menyembunyikan diri.

 

Replied:

Minseok

Subject: Bluetooth Project

Content:

How dare you!? Eoh! Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya juga, sekarang kau keluar dari sana karena saat ini aku sudah mempunyai cukup bukti untuk melaporkan aktivitas mereka yang seharusnya tidak boleh dilanjutkan, besok sebelum aku pergi bersembunyi aku akan mampir ke kantor federasi internasional yang mendanai kita semua untuk penelitian tersebut. Kau bersembunyilah.

 

Replied:

Tao

Subject: Bluetooth Project

Content:

I got it.

“Oppa, bukankah T-tao sudah meninggal dunia dua bulan kemarin? Kenapa federasi internasional masuk didalam pembicaraan mereka? Apa maksud semua ini,” tanya Yoona sedikit tergagap mengutarakan rasa ingin tahunya terhadap perbincangan yang menyangkut isu global dan terpotong-potong dengan tak berujung padahal orang yang dia ajak bicarapun sama sekali tidak paham sedikitpun mengenai apa yang dibicarakan Minseok. Hanya satu yang pasti menurut Yoona dan itu mempertaruhkan nyawa orang yang disayanginya. Kim mengendikkan bahunya pertanda dia pun tidak mengerti apa-apa.

“Pasti oppa menyembunyikan sesuatu di ruangan kerjanya ini selihai dia menyembunyikan fakta bahwa selama ini Tao masih hidup. Dan kurasa kita harus segera menemukannya secepat mungkin.”

.

.

.

Meski masih terhuyung-huyung Xiumin memaksakan dirinya untuk berdiri dan mencoba empat digit angka yang lebih mungkin untuk menjadi kode pintu yang tertutup rapat diruangan tersebut, Setelah sebelumnya dia berhasil mengakses komputer yang menampilkan cctv dan mengecoh para staff keamanan dengan menampilkan video bergerak dimana yang terlihat dirinya sedang berduduk-duduk kesakitan dikursinya. Sementara itu dia langsung mencari rak dimana dia biasa menyimpan obat tidur berdosis besar untuk segera disebar melalui ventilasi udara yang terletak dibawah meja. USB yang dia gunakan sudah tersimpan rapi di saku celananya, USB yang berisi data pengetahuannya yang selama ini dia kumpulkan melalui berbagai studi, seminar dan penelitian selama ini menjadi benda yang paling berbahaya yang pernah ada, bila setiap orang mengetahui keberadaan benda ini pasti akan lebih mempersulitnya. Berjalan terseok-seok dengan luka lebam yang kentara jelas di kedua pelipisnya, Xiumin mencoba bertahan hidup sembari menyelamatkan dunia.

Saat pintunya terbuka, dia dengan segera mengangkat kakinya untuk segera pergi dari tempat terkutuk ini. Lorong yang serba putih dan terlihat lebih bersih dari rumah sakit yang pernah ada, ruangan demi ruangan kosong yang dipenuhi oleh staff yang terlihat tak sadarkan diri akibat obat tidur yang dia sebar. Ruangan itupun dipenuhi oleh peralatan yang menyerupai benda yang biasa kita temui di sekolah kedokteran begitu rapi terjejer memenuhi setiap nakas kecil yang ditutupi oleh kaca dan memperjelas tampilannya.

Awalnya dia hanya berniat untuk keluar dari gedung ini dan mencari bantuan, tapi ekor matanya tak sengaja melirik ke ruangan yang tak jauh dari tempatnya berdiri, sosok baik yang dia begitu kenal terlihat sama tak berdayanya dengan dirinya saat masih diruangan percobaan. ‘Apa yang terjadi padamu Tao-ah,’ batinnya nyeri melihat adik angkat kesayangannya begitu mengenaskan. Harapannya yang hampir hilang karena melihat Tao tak jua bergerak, muncul tiba-tiba saat melihat Tao menggerakkan tangan kirinya mencoba meraih tali yang mengikat dirinya diruangan tersebut.

“Aku harus mneyelamatkannya terlebih dahulu” cicitnya lemah mencoba mengumpulkan dan mengerahkan segala kekuatan yang tersisa di dirinya. Perlahan tetapi pasti, Xiumin mendekat pada pintu yang mengahalanginya bertemu dengan Tao.

“Zi Tao-ah,” panggilnya pelan sembari mengelus lembut bagian pipi adiknya yang tidak terlalu berubah keunguan.

“Rghhh… H-hyung?” jawab Tao terdengar lemah dan terbata-bata. Mendengar suara serak adiknya, Xiumin tak kuasa menahan tangisnya perasaan bersalah bergelanyut didadanya yang membuatnya semakin merasa berat beban yang harus dia ambil dipundaknya. Selama ini dia selalu gundah memikirkan adiknya ini, memikirkan betapa jahat dirinya yang membiarkan adiknya mencari bukti yang konkrit di dalan kandang musuh mereka sendiri bahkan memalsukan kematian adiknya yang nyatanya masih sehat beberapa hari yang lalu. Xiumin dengan segera mencari cara agar Tao terlepas dari kungkungannya dan bersama-sama mencari jalan keluar dari sana.

Berbekal besi yang sudah dia buat menjadi alat, Xiumin berhasil sedikit demi sedikit melerai serat-serat tali yang sangat sulit untuk dilepas. “Kajja,” ujarnya pelan pada Tao sembari mencoba menahan bobot tubuh Tao kearahnya dan baru saja dia akan melangkah keluar tiba-tiba terdengar suara derap kaki yang cepat. Sayup-sayup dia bisa sedikit mendengar pertengkaran antara Luhan dan Kris yang kerap menyalahkan kembali para staff nya yang ternyata tertidur akibat obat tidur yang digunakan untuk Xiumin tapi nyatanya Xiumin berhasil menyebarkannya tanpa dia harus menghirup obat tidur tersebut.

“Kalian payah, kenapa kalian bisa dengan mudah kehilangannya? Hah?!” Hardik kasar Kris pada salah satu staff nya yang terbilang tampan dengan name-tag Sehun didadanya. Staffnya hanya bisa menunduk kaku. Bukan salahnya jika dia menyangka tidak terjadi apa-apa disana diruangan Xiumin berada, kenapa? Karena Xiumin langsung mengarah dan mengakses komputer pusat penelitiannya dan berhasil membobol akses untuk menampilkan gambar palsu dimana terlihat dia hanya sedang berduduk-duduk kesakitan dikursi pesakitannya itu.

“Sudahlah, kau hanya membuang-buang waktu saja. Lebih baik kau segera mengarahkan staff yang sudah kembali kesadarannya untuk segera mencari Xiumin,” lerai Luhan ditengah-tengah luapan kekesalan Kris. Seakan tersadar akan kesalahannya yang malah membuang-buang waktu Kris segera mengarahkan staff keamanan dan membunyikan sirene kode objek penelitian mereka melarikan diri dan harus segera ditemukan. Kris semakin geram saat mengetahui, bahwa proses pengalihan data telah selesai dan dia tidak bisa menemukan isi dari data yang dia nantikan selama ini. USB yang sebenarnya alat pemindah datapun lenyap begitu saja, karena itu Xiumin harus segera ditemukan.

Sementara itu, Tao dengan kumpulan tenaganya mencoba menjelaskan pada Xiumin bahwa ada jalan keluar lainnya yang terletak disetiap ruangan dan Tao sangat tahu pasti dimana itu. Meski terlihat begitu lemah, Tao menunjuk bawah nakas besar yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Kris dan Luhan me-nyiapkan alat pelari-an diri bila-mana federasi inter-nasional me-ngerahkan pasukan-nya untuk menyer-gap mereka di gedung ini, dan itu ada di-disana,” ucapnya terbata-bata. Xiumin pun memapahnya pelan, dan sebisa mungkin tanpa suara.

Sret…

Sret…

Sebentar lagi mereka sampai pada lubang yang dikecohkan dengan hologram palsu dan sangat tidak terlihat,”Tempat pelarian yang sempurna,” ucapnya menilai hasil kerja partnernya.

BRAAK!

Sepasukan staff keamanan memasuki ruangan dimana Tao dan Xiumin berada hingga membuat keduanya menoleh terkaget-kaget dibuatnya.

“Hyung, p-pali!” ucap Tao. Dengan lihai Xiumin segera memasukkan Tao terlebih dahulu untuk memasuki lubang tersebut, gilirannya untuk menyusul dan setengah kakinya sudah memasuki lubang tersebut namun teriakan salah satu staff yang melihatnya membuatnya semkain terdesak untuk segera memasuki lubang pelarian tersebut. “Xiumin ada disebelah sini!” teriakan yang lebih mirip komando itu terdengar lantang sambil mengarahkan senjatanya kearah Xiumin yang mencoba bergerak memasuki lubang.

“Diam ditempat!” titah staff yang bername-tag Lay tersebut dengan tegas.

“Mana?!” teriak yang lainnya saat tiba membuat Lay memalingkan wajahnya dan saat-saat itu Xiumin gunakan untuk meluncurkan tubuhnya pada lubang tersebut, tak peduli apa yang akan dia temukan diujung lubang tersebut nantinya.

DOR!

DOR!

DOR!

Lay melayangkan tembakannya tepat pada lubang tersebut berharap salah satu pelurunya akan bersarang ditubuh Xiumin. Tapi tetap saja, tubuh Xiumin meluncur cepat diatas lempengan besi yang berbentuk silinder itu.

“Bodoh.” Ucap Lay yang baru sadar dirinya begitu bodoh sehingga merutuki dirinya sendiri yang membiarkan objek tersebut bisa melarikan diri dengan mudah.

“Ayo pergi keruangan dimana lubang tersebut akan berakhir. Cepat” ucapnya lagi menyadari masih ada kesempatan untuknya menangkap Xiumin dan menyenangkan hati boss nya Kris.

.

.

.

Kim dan Yoona segera mencari ke segala penjuru, Yoona yang biasanya tidak berani memegang laptop atau bahkan menggunakan laptop Xiumin terus mencari clue yang dia cari agar bisa menemukan calon suaminya itu dengan cepat. Tak sengaja dirinya menekan tombol play pada laptop yang benar-benar tidak cocok untuk orang biasa, laptop tersebut tiba-tiba memancarkan cahaya kearah dimana dinding kosong dan lapag terdapat diruangan tersebut, bagaikan proyektor laptop tersebut mulai menampilkan video yang awalnya tak sengaja Yoona putar.

“Oppa,” ujanya sembari menahan tangisnya kembali smebari menutupi mulutnya dengan kedua tangan berharap tangisannya tak kembali meledak.

Xiumin terlihat didalamnya,semacam video self dimana Xiumin sendiri yang mengatur pemutaran video ini.

“hmm. Test, test, test,” ucap Xiumin didalam video tersebut, dia terlihat tampan dengan t-shirt simple bermotifkan dua garis kecil.

“Ini semacam video pengakuan. Betapa jahatnya aku,” lanjutnya, raut mukanya berubah menjadi lebih dalam dan lebih sedih memahami apa yang akan dia ucapkan selanjutnya. Yoona mendesah pelan, membiarkan kegelisahan yang menyelimutinya perlahan pergi tapi dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari video yang dibuat oleh Minseok hingga tetap saja dirinya gelisah.

“Beberapa bulan terakhir, aku menandatangani kontrak penelitian yang tidak seharusnya aku lakukan. Berkat keserakahanku yang ingin mewujudkan ide gila di dalam otakku ini, aku rasa aku sudah membuat alat mematikan yang tidak terlihat mematikan. Bersama dengan partnerku Kris dan Luhan serta adanya federasi internasional yang sangat rahasia dengan sukarela mendanai penelitianku ini aku mencoba membuat alat yang diluar nalar manusia saat ini yakni bluetooth pemindah data pengetahuan melalui sistem kerja otak. Awalnya kurasa ini akan berjalan baik-baik saja, namun nyatanya aku salah setelah berbulan-bulan aku mengerjakannya aku menemukan fakta yang tidak bisa diterima para partnerku yakni resiko dibalik pemindahan yang berlebih yakni adanya kelainan otak yang bisa merusak sistem kerja otak tak lebih dari 12 jam pada manusia yang mencoba memindahkan data yang tidak sesuai kapasitas otak yang bisa dia gunakan.”

“Karena itulah, aku mencoba berhenti,” Xiumin terlihat menghela nafas panjang dan mencoba melanjutkan penjelasannya di video tersebut.

“Oppa…” racau Yoona pelan ditengah-tengah penjelasan Xiumin selanjutnya, Kim hanya bisa menatapnya iba sambil mengelus rambut indah Yoona dengan perlahan membiarkan energinya tersalurkan pada gadis yang sudah dianggapnya adik itu.

“Tapi mereka tidak bisa dihentikan. Karena itulah aku meminta adik angkatku Tao utuk memata-matai mereka dan berpura-pura berada dipihak mereka selama ini, selama Tao mengumpulkan bukti yang cukup untuk aku serahkan pada federasi internasional dan berharap mereka akan menghentikan pengucuran dana pada penelitian ini.”

“Dan baru beberapa jam yang lalu sebelum aku membuat video ini, aku menemukan fakta bahwa mereka berhasil membuatnya dan membutuhkan aku untuk menyelesaikan dan bahkan akan menjadikanku percobaan mereka.” Dia terlihat mengumbar seulas senyum manisnya.

“Karena itulah aku tahu aku berada didalam bahaya yang sebenarnya, begitupun dengan Tao. Seseorang terlintas dipikiran saat aku mengetahui hal ini, Im Yoona. Maafkan aku sayang.” Ucapnya lirih.

“Dengan video ini aku hanya berharap aku bisa menjelaskan padamu dengan mudahnya jika kita bertemu nanti di dunia lain saat kita bertemu kembali, karena aku tidak yakin… tidak yakin aku bisa kembali lagi.” Setitik airmata menetes dipipinya begitu juga dengan pemilik mata rusa yang indah, Yoona pun kembali menangis mendengarnya.

“Semua ini begitu tiba-tiba, aku belum menyiapkan mentalku untuk hasil seperti ini karena aku sendiri belum bisa percaya mereka bisa memecahkan kode yang aku buat untuk menghentikan mereka melanjutkan proyek bejat ini. Yoona-ya, apa kau melihat video ini? Aku harap kau melihatnya, meski kurasa aku sangat egois aku membuat video yang membuatmu akan selalu terkenang olehku nantinya bukan? Aku begitu mencintaimu, bahkan hingga tak sanggup membuatmu membenciku agar kau lebih mudah melupakanku seperti yang terjadi pada drama-drama yang kita tonton bersama. Yakinlah semua ini karena aku mencintaimu, entah karena perasaan ku yang sensitif akan perpisahan ini namun semua bayangan sejak kita petama kali bertemu hingga saat ini begitu sesak memenuhi setiap rongga di dadaku bahkan membayangkan dirimu hilang dari hidupku saja aku tidak mampu.” Sesekali Xiumin menyeka airmatanya.

“Awalnya aku berencana untuk tetap mengikuti jadwal, melakukan prewedding dan bahkan melaksanakan pernikahan kita. Percayalah, seegois apapun diriku tapi aku takkan sanggup melihatmu juga berada dalam bahaya karena aku. Aku yakin kau akan mencariku jika aku menghilang tiba-tiba nantinya, karena itulah aku saat ini akan memasang GPS pada tubuhku sendiri-“ Xiumin terlihat membungkuk mengambil alat pelacak yang mirip jarum suntik yang ukurannya lebih besar.

“Kau bisa menemukan pelacak yang langsung tersalur pada gps yang ada di dalam tubuhku di laci kedua meja kerjaku. Tapi aku mohon, jangan kau libatkan dirimu sendiri cukup kau berikan ini pada pihak federasi internasional dan merekapun akan mengerti.”

“Aku yakin padamu.”

PLIP

“Oppa! Bantu aku mencari alat gps tersebut!” perintah Yoona tanpa basa basi, langsung mengerubungi laci yang Xiumin maksud pada videonya barusan.

.

.

.

“Ppali oppa!” seru Yoona untuk kesekian kalinya, meski sedikit mengingat alamat federasi internasional yang Xiumin berikan. Kim hanya menatapnya sebentar sambil berkata, “Bersabarlah,”

Setibanya di kantor federasi internasional. Yoona langsung meminta resepsionis segera menghubungkannya dengan atasan mereka. Namun, penjagaan dari keamanan kantor tersebut sangatlah ketat. Dengan penampilan Yoona yang sudah semrawut dan acak-acakan membuat petugas keamanan semakin gencar menahannya.

“Ada apa ini?” seru seseorang dibalik mereka yang masih berselisih.

Petugas tersebut langsung memberikan hormat dan mulai menjelaskannya pada seseorang yang saja tiba tersebut. Setelah mengerti, Yoona langsung diperbolehkan untuk berbicara dan menemuinya secara langsung. Yoona menjelaskan kronologis kejadian mulai dari saat mereka berdua tengah berada di airport menunggu keberangkatan pesawat mereka, hingga akhirnya Xiumin menghilang dan Yoona menemukan sebuah petujunjuk melalui laptop yang berada diruang kerjanya. James terlihat mendengarkannya begitu seksama, ditengah ceritanya Yoona terlihat tegar menahan tangisnya kembali mengingat video calon suaminya yang seakan-akan dia takkan pernah bisa kembali. Tangisan tertahan Yoona membuat James yang merupakan seorang balsteran Amerika-Korea dan China segera menenangkannya dengan elusan lembut dipunggung wanita yang tinggi semampai ini, sebuah senyuman licik perlahan terlihat diwajahnya. Atasan federasi internasional yang bernama James Dashner ini langsung memberikan aba-aba pada bawahannya untuk segera mengikuti gps yang Yoona berikan.

“Ayo, ikut kami!” ajak James lembut, sambil membukakan pintu mobil yang sudah disediakan para anak buahnya yang juga sudah bersiap melaju dengan mobil mereka masing-masing yang mengapit mobil James.

Yoona langsung mengikuti lelaki yang bernama James tersebut tanpa rasa curiga sedikitpun dia langsung memasuki mobil tersebut dengan secercah harapan yang tersembul dibalik kesedihannya, meninggalkan Kim yang kebingungan dan terlihat curiga akan sikap James yang justru terlihat senang dan tenang.

.

.

.

“Hallo, Kris!” sapa James yang malah tersenyum saat bertemu dengan Kris. Dengan sambutan pelukan dari Kris dan Luhan yang sedang kewalahan mencari jejak kaburnya Xiumin. “Long time no see.” Ucap James kembali. Yoona tersentak mendengar keramahtamahan James pada orang-orang yang dia ceritakan sebelumnya.

“Kami berhasil menemukan kode tersebut.” Timpal Luhan dengan wajah gembiranya.

“Aku tahu itu, karena gadis ini menemuiku.” Ucapan James membuat Kris dan Luhan menoleh bersamaan. Sialan, umpat Yoona dalam hati. Akhirnya dia bisa mengerti bahwa sebenarnya James juga bekerjasama dengan Kris dan Luhan.

“Ikat wanita tersebut!” pekik James tiba-tiba menyuruh anak buahnya yang dengan cekatan mengikatkan tali yang sudah disiapkan pada tubuh Yoona. Belum sempat Yoona menekan tombol call yang kehijauan pada layar smartphone miliknya untuk menghubungi Kim dan menyalakan gps miliknya, tali-tali tersebut dengan erat mengikat kedua tangannya.

“Setidaknya, setelah proyek ini berhasil kita harus berterimakasih pada mereka berdua dan memberikan kesempatan pada keduanya untuk bisa mati bersama, bukan? Celoteh James ini membuat Yoona geram, dia sama sekali tidak menyangka jadi selama ini Xiumin telah dibodohi oleh kerjasama yang sebenarnya hanya menjerat dirinya. Rekan kerjanya mengkhianati dirinya, untuk yang kesekian kalinya. Yoona merespon celotehan James dengan rontaan yang tidak ada maknanya, justru semakin dia meronta-ronta dilepaskan semakin erat tali tersebut mengikat dirinya.

“Lepaskan aku.. mmm le mmm pwaskannn,” ucap Yoona dengan selotip besar yang menutupi bibirnya yang seksi. “Dasar gadis bodoh,” ucap James dengan cengiran lebar dengan tatapan menghina miliknya.

“Aku tahu hal yang bisa membuat Xiumin kembali dengan kedua tangan dan kakinya sendiri,” ucap Kris yang langusng memencet tombol audioland yang akan bergema pada seluruh ruangan dan taman dari gedung yang dia ciptakan ini.

“Annyeong professor Xiumin. Aku hanya ingin mengucapkan beberapa kata untukmu kembali dengan sendirinya. Jika kau masih ingin tunanganmu hidup, kembalilah dan bawa kembali benda yang merupakan milikku.” Ucap Kris dengan simpelnya, mengundangan senyuman dari rekan kerjanya yang lain. Gema suaranya bisa terdengan jelas diseluruh penjuru ruangan.

“Tidak! Jangan termakan jebakannya,” seru Yoona dibalik lakban yang masih menutupi bibirnya tersebut yang terdengar hanya suara yang tidak cukup jelas.

.

.

.

Lorong tanpa batas dan gelap yang kini dilalui oleh Xiumin dan Tao mulai mencapai ujungnya yang gelap.

Gubrak.

Keduanya langsung mendarat tak sempurna diatas tanah yang tidak landai dan lebih berbatu. “Ouch.” Ringis Tao disaat bersamaan pantatnya bertegur sapa dengan batu yang cukup runcing dan lancip. “Gwenchana?” tanya Xiumin saat mendengar ringisan adiknya, Tao hanya menjawabnya dengan gelengan kepala secara pelan. Kedua pasang mata mereka menatap menyapu pada halaman depan yang mereka temui. Pada lorong tadi ada jalan yang bercabang ke kiri, ke kanan dan lurus. Mereka memilih lurus dan tiba-tiba keduanya sudah berada dihalaman depan seperti sekarang ini. Tao dan Xiumin beranjak dari duduk mereka dan mencoba untuk berdiri dengan pelan, papahan Xiumin membuat tao bisa sedikit melupakan rasa sakit yang dia rasakan.

“Ayo kita cari jalan keluar tanpa harus diketahui mereka.” Ajak Xiumin setelah lima langkah mereka berjalan. Namun sayup-sayup terdengar suara-suara yang terdengar dilakukan berulang kali dengan penasaran Xiumin mendekatkan telinganya dan menyuruh Tao untuk diam sebentar sehingga suaranya tidak terganggu oleh suara kakinya yang terseok-seok. “Wae-yo hyung?” tanya Tao tak mengerti dan langsung dihentikan oleh Xiumin yang mengisyaratkan untuk diam melalui jari telunjuknya yang disipan dekat bibirnya.

“Annyeong professor Xiumin. Aku hanya ingin mengucapkan beberapa kata untukmu kembali dengan sendirinya. Jika kau masih ingin tunanganmu hidup, kembalilah dan bawa kembali benda yang merupakan milikku.” Kali ini pengumuman dari Kris bisa terdengar lebih jelas, dan jelas membuat Xiumin mengurungkan niatnya untuk segera kabur bersama Tao. Yoona-ya, ucapnya sendu di dalam hati.

Ah Tao, dia tidak bisa kembali begitu saja bersama adiknya tersebut. “Kau pergilah sendiri. Tahan sakitmu saat berjalan dan pastikan kau mendapatkan bantuan dari seseorang yang kemungkinan akan melewati jalanan sekitar sini. Arraseo?” ucap Xiumin, “Aku harus menyelamatkan Yoona terlebih dahulu.” Lanjutnya yang disertai dengan anggukan mengerti dari Tao, bagaimanapun juga Tao sangat mengerti betapa Xiumin mencintai Yoona. Dengan segenap jiwa dan raganya dna rasanya mustahil untuk Xiumin meninggalkan Yoona begitu saja.

“Kau rupanya menemukan videoku Yoona-ya.” Ucap Xiumin disela-sela jalan cepatnya yang seperti berlari, meninggalkan Tao yang kembali terseok-seok berjalan melawan arah berjalan menjauh. Lalu, apakah Yoona melacak gpsku sendiri atau dia memberikannya pada federasi internasional? Kurasa James hyung pasti akan menungguku, pikir Xiumin dalam isi kepalanya.

Tapi tidak mungkin Yoona bisa melacaknya sendiri. Alat tersebut sudah disertai pengaman, kalau begitu apakah James? Ah tidak mungkin.

Xiumin berjalan cepat dan sudah hampir berada pada koridor awal yang ingin dia tinggalkan sejak tadi. Di ujung koridor akhirnya Xiumin pun bisa melihat dengan jelas betapa James menyeringai dengan puasnya akan hasil dari pengkhianatan yang dia berikan pada Xiumin.

Sialan kau James! Rutuk Xiumin seketika saat menyadarinya. James telah mengkhianatinya dan memancing Yoona untuk pergi bersamanya dan menjadikan Yoona sebagai umpan. Sialan.

“Lay! Cepat ikat dia. Kau menunggu apalagi?! Hah!!” hardik Kris kembali yang gemas akan sikap kepala anak buahnya yang lambat.

.

.

.

“Dimana bluetooth yang kau bawa itu?!” pertanyaan ini sudah sekian kali Kris dan Luhan lontarkan secara bergantian namun Xiumin sama sekali tidak bergeming, dia tetap mampu menerima siksaan yang bertubi-tubi setelah pertanyaan itu tidak dijawabnya. Kedua kaki dan dan tangannya kembali terikat dengan sempurna, sementara itu Yoona sudah dilepas oleh Kris sesuai dengan permintaan Xiumin untuk melepaskannya sebagai gantinya Xiumin akan kembali melewati siksaan transfer data seperti sebelumnya.

Yoona melotot ngeri menatap kearah Xiumin, dia sama sekali tidak menyangka Xiumin akan berbuat seperti ini. Belum juga ikatannya terlepas, Yoona bisa mendengar bisikan kecil Xiumin.

“Kau pergilah mencari Tao. Dan ingatlah, aku sangat mencintaimu Yoona-ya,” bisiknya pelan. Yoona pun dengan terpaksa meninggalkannya dengan tergesa-gesa dia berlari sebelum Kris dan Luhan berubah pikiran bila mengetahui fakta bahwa alat tersebut sudah hancur sama sekali.

Proses pemindahan data akan segera dilakukan.

0%

“Argghhhhhhhh….!! Tidak!!” raungan ini kembali terdengar. Xiumin sudah berada kembali disebuah ruangan yang cukup luas dengan peredam berwarna putih disetiap dindingnya. Terlihat ditengahnya Xiumin tengah berjuang melawan derasnya jutaan volt yang dengan sengaja dibiarkan mengalir melewati otaknya. Selang-selang transparan begitu jelas terlihat dengan ujungnya yang menempel di pelipis kiri dan kanan. Cairan pekat kebiru-biruan yang berada didalam tabung obat berlapis kaca begitu menarik perhatian ketiga orang yang memerhatikan Xiumin dengan gembira. Mereka, Kris, Luhan dan James memutuskan untuk tetap melakukan proses pemindahan data kembali meski alat tersebut belum ditemukan kembali. Rasanya hal ini bagaikan sebuah dejavu yang baru beberapa jam lalu Xiumin rasakan.

“Kris, Luhan, James! Sialan kalian!” geram Xiumin yang meronta-ronta ingin melepaskan diri dari alat-alat yang menahannya untuk bisa berdiri. “AAARRRRRGHHHH!!!!!” erangnya kembali ketika denyutan kedua menghantam cukup keras kepalanya dan rasanya seakan kepalanya akan segera pecah.

Proses pemindahan data telah dilakukan.

10%

“Kalian begitu jahat! Arghhhhhhh…!” raungnya kembali ditengah pembicaraan yang dia coba bangun diantara mereka berempat. “Tidak ada untungnya sama sekali kalian melakukan ini. Takkan ada yang diuntungkan yang ada hanya pemusnahan otak setiap manusia yang ada didunia ini. Kalian tidak akan tahu seberapa besar efeknya jika ini dilakukan meski dalam jumlah data yang kecil. Semuanya tetap akan menyebabkan ketergantungan.” Ceramah panjang lebar Xiumin.

Sementara itu.

Yoona berlari tergopoh-gopoh sambil sibuk melihat layar smartphonenya yang sedari tadi dia sembunyikan.

From : Manager Kim

Yoona kau dimana? Kini kau yang membuatku khawatir. Kalau begini terpaksa aku mengaktifkan pelacak gps yang sudah kusimpan dihandphone mu ini.

From: Manager Kim

Dimana ini? Kenapa kau mau saja mengikuti lelaki yang tak kau kenal itu? Argh, aku begitu frustasi saat ini. Kenapa kau berada dilingkungan yang menyeramkan ini.

 

Bip.. bipp

Rupanya selain mengirimkan SMS manager Kim menyimpan rekaman telepon untuknya.

“Yoona-ya, aku tak habis pikir kau pergi begitu saja. Dasar bocah kecil, awas saja kalau kau sudah kutemukan nantinya. Aigoo… Siapa itu? Braaak!!’ suara sekitar menjadi gaduh dan sambungan telpon terputus begitu saja.

Para penjaga gedung yang sudah sadarkan diri hanya berdiam diri saja, membiarkan Yoona melewati mereka begitu saja. Karena itulah yang diperintahkan Kris pada mereka.

Setelah berhasil melewati panjangnya koridor yang serba putih dengan hawanya yang dingin menakutkan, Yoona akhirnya bisa menemukan sebuah pintu yang bisa diperkirakan pintu keluar dari gedung yang besar ini. Sebuah pintu yang tak jauh menyeramkannya dibanding koridor sebelumnya, karena pintu ini lebih mirip seperti pintu brangkas yang didominasi oleh besi-besi.

Cklek….

Bahkan sebelum Yoona mencoba membukakannya pun, dengan remote kejauhan yang berada di tangan Kris pintu tersebut terbuka dengan mudah.

.

.

.

“Yoona, kau tidak apa-apa?!” teriak manager Kim dari arah taman yang semakin gelap. Yoona melangkah dengan enggan, dia sangat tahu langkah yang dia ambil saat ini semacam langkah perpisahannya dengan Xiumin. Baru saja beberapa langkah dia ambil sehingga bisa berdiri cukup jauh dari gedung tersebut.

DUAAAR!

DUAAAR!

DUAAARRRR!!!

Beberapa ledakan bertubi-tubi terdengar dari arah dalam gedung. Asap mengepul menjadi satu menjadi bongkahan asap hitam yang membungbung tinggi menuju langit. Seketika itu juga Yoona menyadari kehilangannya yang cukup besar. Xiumin telah tiada.

“Oppa,” lirihnya sebelum kesadaran hilang sepenuhnya.

“Yoona-ya!” pekik Manager Kim, antara cemas dan kebingungan dengan apa yang terjadi.

.

.

.

.

Seluruh gedung terbakar habis tanpa sisa. Semua peralatan yang sensitif akan saluran listrik dan panas menjadikan ledakan itu bisa melahap semua gedung dengan cepatnya. Tak terkecuali dengan tubuh yang masih terikat pada kursi besi yang meleleh dengan tengkorak wajahnya yang terlihat senyum, seolah menanti ledakan ini terjadi. Karena dialah yang memicu ledakan ini. Dia yang mengawali semuanya, karena itulah dia pula yang harus mengakhirinya. Hembusan nafasnya yang terakhir berada diantara asap panas yang mnegitari lokasi kebakaran begitupun dengan tubuh kawannya yang menjadi lawannya kini. Dia membawa segalanya pergi, termasuk rasa cintanya serta rasa bencinya pada orang-orang yang telah mengkhianatai kepercayaan yang dia beri.

Save the data.

ššTHE END››

Nb: Pasti ngerti semua kan? Kalau misal masih bingung bisa dibaca kembali part sebelumnya. Oke? Thanks a lot buat yang masih baca tulisan ku yang kayaknya semakin ngaco ini. Oke deh, byebye.

11 thoughts on “The Data II

  1. Kok endingnya kyk gini???? Msa Xiumin mati😥😥 gantung thor. Minta sequel dong. Tp ffnya keren bgt (y)(y) very nice ff

  2. Mwo? Ap Xiumin tewas dlm gedung itu yg meledak?
    Aish, bnyk skali partner Xiumin oppa yg khianati dia😐
    next chap d.tnggu thor!
    Fighting~

  3. pg 17 nya dari segi mana ya thor? -_-
    aku kira bakal jadi 3 shots. atau aku lupa ya? kok gantung gini sih thor endingnya -_-

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s