(Freelance) Married Without Love (Chapter 6)

poster ff

MARRIED WITHOUT LOVE

 

By : DeerBurning

Main Cast : GG Im Yoona & Wu Yi Fan a.k.a Kris Wu

Other cast : EXO Oh Sehun, EXO Zhang Yi Xing a.k.a Lay, EXO Park Chanyeol, GG Choi Soo Young.

Genre : Romance, Sad, Marriage life.

Sorry for typo(s), Hope you’ll enjoy it. . .

 

Chapter 6

***

“Author P.O.V”

Urat di lehernya masih tertarik kuat, menegang. Kedua mata nya masih menajam, memandang lurus kearah pintu yang beberapa detik lalu berhasil tertutup, menelan punggung kokoh seorang pria blesteran Korea-Cina, Wu Yi Fan. Meninggalan kekesalan yang begitu luar biasa pada seorang Im Yoona. Bagaimana tidak? Sudah dua hari ini Kris melarangnya pergi ke butik. Alasannya? Tentu karena peyakit asam lambung yang di deritanya kambuh, dan Kris mengatakan, ia tak ingin direpotkan untuk kedua kalinya.

Ia menatap sebal semangkuk bubur di atas nakas samping tempat tidur, penyakitnya tidaklah separah itu, sehingga mengharuskannya memakan bubur sebanyak tiga kali dalam dua puluh empat jam. Dan bubur adalah salah satu dari sekian banyak hal yang paling di benci oleh seorang Im Yoona.

Ayolah, asam lambungnya hanya meningkat, dan Yoona fikir hanya dengan mengkonsumsi antasida yang di berikan Chanyeol dua hari yang lalu sudahlah cukup, tidak perlu berlebihan seperti ini, bukan?

Tetapi ada hal yang begitu mengganggu fikirannya, dibandingkan dengan rasa kesal yang semakin membuncah, ia malah sedikit khawatir, apa yang sedang terjadi pada suaminya? Kenapa ia bersikap begitu baik pada Yoona, ia bahkan rela tidak pergi ke kantor selama dua hari hanya untuk menjaganya. Apakah ia baru saja terbentur sesuatu? Atau mungkin Kris sedang memiliki rencana licik, hingga menyebabkan nyawa Yoona terancam? Sangat berlebihan memang, tapi Kris sungguh mencurigakan. Fikir Yoona.

Yoona berjalan menuju dapur, mencari sesuatu yang mungkin bisa ia makan, selain bubur sialan itu. Ia membuka tudung saji, dan bingo! Isinya hanyalah satu mangkuk bubur dan sup. Sup? Hey! Bagaimana bisa ia membuat bubur dan sup? Makanan ini sudah menjijikkan karena kelembekannya, lalu… di tambah dengan sup? Ugh.. Yoona mendengus dan segera menutup tudung saji kembali.

“Apa oppa tidak memasak yang lain?” batin Yoona sambil terus berjalan mondar mandir, membuka setiap laci kitchen set, yang sialnya tidak ada hal lain lagi di dalamnya. Ia akhirnya menyerah, berjalan menuju kulkas lalu membukanya. Ada beberapa jenis buah, sepotong cheese cake, beberapa bungkus snack dan eskrim. Tidak buruk. Ia pun mengambil sepotong cheese cake dan snack, lalu membawanya ke depan televisi.

Yoona mengangkat kedua kakinya ke atas meja, lalu meraih sebotol air mineral dan memangkunya bersama potato chips, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memotong cheese cake yang ia bawa dengan tangan kiri.

Sungguh membosankan, dua hari yang terbuang sia-sia. Karena selama dua hari ini Kris tak membiarkannya menyentuh sketsa, ia bahkan meminta pegawainya untuk datang ke rumah jika ada hal yang benar-benar penting dan mendesak.

Yoona memandangi ponselnya yang bergetar, ada nama Sehun disana. Ia segera menurunkan kakinya dari atas meja, menjilati bumbu potato chips yang masih tersisa di jari-jarinya, lalu berdehem sebentar sebelum benar-benar menempelkan benda persegi itu di telinga.

yeobosseyo,” tiba-tiba saja jantung Yoona berdetak abnormal, hanya dengan mendapatkan panggilan dari seorang Oh Sehun, telah mampu membuat hatinya bergetar resah. “ne, Sehuna, waeyo?”

“Apakah kau sedang istirahat? Aku sedang dalam perjalanan kerumahmu.”

“Kerumahku? Benarkah?!” Yoona bangkit dari duduknya, hingga menjatuhkan botol air mineral dan snack yang sebelumnya berada di pangkuannya.

“Soo Young memintaku mengantarkan sampel pakaian.”

“Oh.. apakah sampelnya sudah selesai?”

“Sepertinya begitu, ada begitu banyak baju yang harus aku bawa, tunggulah sebentar, mungkin 15 menit lagi aku sampai.”

”Baiklah aku akan menunggumu.” Senyum cerah tak pernah lepas dari bibir pink Yoona, bahkan sesaat setelah ia selesai menutup ponselnya.

Yoona segera berlari keatas, memasuki kamarnya. mengganti pakaian dan menata sedikit penampilannya, agar terlihat cantik saat Sehun datang.

Setelah merasa penampilannya sempurna, Yoona segera kembali keruang tamu untuk membereskan ceceran snack yang ia jatuhkan tadi.

.

Yoona keluar kamar degan gaun panjang tanpa lengan berwarna biru tua, hiasan permata yang Sulli pasang di sepanjang rok bagian bawah, menambah kesan glamour pada gaun buatannya.

“Bagaimana?” Yoona mengikuti kedua kaki jenjangnya, berjalan lurus menuruni satu per satu anak tangga hingga mendekati Sehun yang berada di lantai bawah. Lengkungan indah masih setia menghiasi wajahnya yang tak sepucat kemarin. Ia begitu bangga dengan kinerja beberapa pegawainya. Gaun ini sungguh cantik, lebih cantik dari yang ia bayangkan. Ia bahkan sempat berfikir hal konyol, ‘benarkah gaun ini buatanku?’ Batinnya tak percaya.

Sesaat Sehun merasa terpana dengan penampilan Yoona, matanya tak bisa lepas dari tubuh Yoona, yang semakin mendekat. “Yeppo…” Gumam Sehun lirih, tapi masih bisa Yoona dengar dengan jelas.

Semburat merah nampak di kedua pipi Yoona, ketika mendengar pujian yang terlontar dari bibir sahabatnya. Entah Sehun memuji kecantikannya atau kecantikan gaun yang ia pakai, ia tak perduli.

“Kau sedang memujiku atau… Akh–!” teriak Yoona, ketika kakinya tanpa sengaja menginjak ujung gaun. Kedua mata Sehun terbelalak ngeri saat melihat tubuh Yoona oleng, dan hampir terjatuh dalam posisi tengkurap. Cepat, ia mengulurkan satu tangannya untuk menangkup tubuh Yoona dari depan, dan tangan lainnya ia gunakan untuk menahan tubuh Yoona dari belakang.

Yoona ingin menghela nafas lega karena terhindar dari kecelakaan. Namun, saat menyadari ada lengan kokoh yang menyangga punggung serta perutnya, jantungnya yang telah berdebar keras semakin menghentak liar dalam rongga dadanya. Merasakan lengan hangat menempel pada tubuhnya, menimbulkan gelegar panas yang menjalar hingga ke kepala. Ia kemudian berdehem pelan, berharap hal yang ia lakukan dapat menyadarkan Sehun, sehingga melepaskan pelukannya.

Namun semua itu sia-sia, hingga Yoona berhasil mendapatkan keseimbangannya kembali, kedua tangan Sehun tetap melingkari pinggannya. Yoona mengeluh dalam hati, sedari tadi jantungnya menghentak-hentak ingin keluar, dan pria ini belum juga menyadari? Yoona ingin Sehun melepaskan pelukannya dari tubuh Yoona.

Yoona memutar tubuhnya, lalu mendongak menatap Sehun. Ia ingin mengucapkan terimakasih sekaligus meminta lelaki itu melepaskannya. Namun ia terhenyak, cara Sehun menatapnya, membuatnya tertegun. Begitu lembut dan penuh kekhawatiran.

Otak Yoona seakan lumpuh, semua kata-kata yang telah ia susun rapi, lenyap dalam sekejap. Mata bulat bak boneka milik Yoona melebar, seakan menghipnotis Sehun. Harum lembut tubuh Yoona yang terhirup Sehun, seakan membuat otaknya beku. Membuat nafasnya tercekat di tenggorokan. Bibir ranum Yoona yang setengah terbuka, seakan mengundangnya, hingga membuat kendali dalam dirinya runtuh.

Seluruh tubuhnya seakan bergerak tanpa kendali. Yoona hanya mampu menatap kosong wajah Sehun yang semakin mendekat. Yoona merasakan letupan-letupan hebat dari dalam dadanya, ketika Sehun mengecup bibirnya lembut. Perasaan yang bertahun-tahun ia pendam, mendadak meluap ke permukaan tanpa bisa ia cegah. Di luar kehendakya, ia membalas ciuman Sehun tak kalah bergairah. Cara Yoona mencengkeram pundak nya, membuat sekujur tubuh Sehun seakan terbakar. Sehun mempererat pelukannya di pinggang Yoona, ciuman yang lembut berubah panas. Menuntut. Tangannya menjelajahi punggung terbuka Yoona dengan gerakan sensual, hingga membuat tubuh Yoona bergetar.

Suara benda jatuh dari arah depan, lengsung menyentak kesadaran mereka. Mengejutkan. Secepat kilat, keduanya menarik diri. Menjauh. Kemudian saling menatap salah tingkah.

“Maaf,” gumam Sehun canggung.

Yoona tak memperdulikan permintaan maaf Sehun. Matanya kini membulat sempurna, saat mendapati sosok pria bertubuh tegap berjalan mendekatinya. Pria itu-Kris-, memandangnya dengan tatapan datar. Garis rahangnya yang kokoh nampak mengeras, kedua tangannya pun ikut mengepal kuat.

“Op—Oppaa…” Kata Yoona terbata-bata.

Sehun mengikuti arah pandang Yoona. Kedua matanya berhasil membulat sempurna. Sama persis dengan milik Yoona. Ia tak kalah terkejutnya saat melihat Kris datang. Ia merasa bersalah melihat wajah Yoona yang ‘begitu’ terlihat ketakutan.

Kris tak menanggapi Yoona, wajahnya masih datar dan mengeras. Ia bahkan tak sudi memandang wajah ketakutan Yoona saat berhasil melewati kedua makhluk-yang menurut Kris- terkutuk sekaligus menjijikkan, ia malah melangkahkan kakinya semakin lebar, menaiki dua anak tangga sekaligus, hingga hilang di balik pintu kamar.

Yoona menundukkan wajahnya yang merah padam, menghindari tatapan bersalah pria di hadapannya. Berusaha menyembunyikan perasaannya yang kacau balau. Disatu sisi ia meruntuki kebodohannya. Bagaimana bisa ia semudah itu membalas ciuman Sehun? Dan dilain sisi, ia merasa takut sekaligus bersalah kepada Kris. Bagaimanapun juga, ia tetaplah istri sah dari Kris, walaupun pada kenyataannya mereka hanya terikat oleh kontrak.

Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dapat ia ingat dengan jelas reaksi Kris beberapa detik yang lalu. Dan hal itu mau tak mau membuat tengkuk Yoona meremang, ngeri.

“Yoong…” Yoona mengabaikan Sehun yang sedari tadi menatapnya khawatir.

“Aku taka apa-apa Sehun-ah, bukankah kau sedang sibuk? Kau bisa pulang sekarang.” Pinta Yoona, dengan nada yang ia buat setenang mungkin.

Sehun ingin memastikan kondisi Yoona sekali lagi, tapi hal itu ia urungkan. Melihat Yoona yang kini nampak kacau. Meninggalkannya sendiri adalah solusi terbaik. Batin Sehun.

Yoona segera menutup pintu, sesaat setelah Sehun keluar dari rumahnya. Ia berjalan gontai menuju sofa. Tapi sesuatu di lantai telah mengganggu langkahnya, dengan lemas ia menatap ke bawah. Papper bag?

Ia berjongkok, melihat isi di dalamnya. Sup tulang sapi? Seperti tersengat lebah, rasa bersalah itu semakin menggelayuti hatinya. Ia ingat, pagi tadi sebelum Kris berangkat, Yoona merengek untuk dibelikan sup tulang sapi sebagai menu makan siangnya. Yoona fikir Kris tak akan membelikannya, mengingat pria itu mati-matian menolak, dengan alasan ia sibuk dan tak akan membiarkan jam makan siangnya yang berharga terbuang sia-sia hanya demi membelikannya sup tulang sapi.

Tangannya bergetar, tak sanggup mengambil paper bag yang dijatuhkan Kris, bahkan kini tubuhnya telah melorot, bersatu dengan dinginnya lantai rumahnya. Ia menangis, rasa bersalah itu semakin membakarnya.

Yoona menundukkan wajahnya dalam tepat saat Kris berjalan melewatinya, pria itu tetap berjalan lurus, wajah dinginnya masih memancarkan ketenangan. Seakan tak terjadi apapun dalam beberapa menit yang lalu.

Ia marah, pria itu marah. Tentu. Suami mana yang tak akan marah melihat istrinya sendiri tengah berciuman panas dengan pria lain. Terlebih di dalam rumahnya sendiri, dan Yoona tidak sebodoh itu untuk tak menyadarinya.

 

.

.

 

“Yoona P.O.V”

Lagi…

Ini sudah hari ke tiga semenjak kejadian-ciuman- dengan Sehun, aku tak menemukan Kris oppa. dan lagi-lagi, setiap pagi aku selalu menemukan berbagai menu sarapan yang telah tersusun rapi di atas meja makan, tanpa adanya pria itu di sana.

Pria itu menghindariku. Itu lah hal yang bisa aku simpulkan. Aku tak pernah melihatnya pulang, walau aku selalu menunggunya hingga larut malam, tapi tak sekalipun aku melihatnya. Dan selalu, selalu dapat aku pastikan, keesokan paginya aku tak akan pernah menemukan tubuhnya berbaring di sampingku.

Sebenarnya kemana pria itu? Kenapa dia menghindariku? Seharusnya ia marah dan memakiku, tapi kenapa ia masih bisa bersikap sebaik ini? Dengan setiap pagi membuatkanku sarapan. Apakah ia ingin membuatku mati karena merasa bersalah? Jika memang itu tujuannya, dia benar-benar berhasil.

kau harus makan nasi Im Yoona…”

Kata-kata itu masih terngiang di otakku. Menghabiskan waktu sarapan dengan perdebatan yang menurutku begitu kekanak-kanakan , berdebat hanya demi menentukan menu sarapan. Aku yang telah terbiasa dengan pancake sebagai menu sarapan, begitu bertolak belakang dengan si ice prince yang selalu merengek meminta nasi sebagai menu di setiap makannya.

Aku memandang nanar semangkuk sup kacang merah dihadapanku. Aku tahu, dia benci memasak, walau pada kenyataannya ia sangat pandai. Tapi kenapa ia masih mau melakukannya?

Ya tuhan… Kenapa dia bersikap seperti ini? Aku sudah melukai harga dirinya, tapi kenapa ia masih begitu baik padaku?

“Haahh..” aku mendesah gusar. Haruskah aku menemuinya di kantor? Atau aku harus menunggunya di rumah ‘lagi’ hingga larut malam?

Ku dorong kursi meja makan kebelakang, lalu melangkah meninggalkan sederet menu yang menggugah selera tanpa nafsu sedikitpun.

.

“eonni.. apakah aku jahat?” Tanyaku pada Soo Yeong eonni. Kami menghabiskan waktu makan siang di ruanganku.

ne, apakah kau baru menyadarinya? Kau begitu jahat, jahil dan menyebalkan!” Jawab Soo Young eonni, masih fokus pada makanan dihadapannya.

Aku memutar tubuhku, menatapnya dengan perasaan bersalah. “eonni, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?”

Soo Young eonni tak memandangku, ia malah lebih asyik dengan tteokbokkii dan yangyeom tongdak di tangannya. Meskipun ia terlihat mengabaikanku, tapi aku yakin Soo Young eonni mendengarkanku, dia tak sejahat itu.

Sebenarnya aku sedikit ragu untuk bertanya hal semacam ini pada wanita ini, mengingat mulutnya yang sedikit ‘ember’, aku yakin setelah aku bercerita, pastilah Chanyeol oppa akan mengetahuinya. Lalu, sudah dapat aku pastikan Yuri eonni pun pasti akan cepat mendengarnya, karena mereka berdua adalah sepasang penggosip ulung. “eonni, seandanya kau menjadi seorang pria, dan kau sudah menikah. Lalu…” aku menggigit bibir bawahku ragu, haruskah aku melanjutkannya? “lalu… eonni melihat istrimu sedang berciuman dengan pria lain dengan mata kepala eonni sendiri, apa kah eonni akan marah?”

Aku memandang wajahnya lamat-lamat, tapi hingga saat ini tak ada reaksi apapun darinya. Ya! Apakah dia tidak mendengarku? Lihatlah… dia menduakanku dengan benda bersaus itu. “Tentu aku akan marah. Wae?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku, ia bahkan lebih asik dengan makanan di tangannya, dan tanpa rasa malu ia juga menjilat saus yang jatuh mengenai lengannya. Sungguh menjijikkan. Aish, kenapa dia begitu menyebalkan!

Wait!” serunya. Aku yang semula ingin berdiri meninggalkannya, mendadak terhenti karena teriakannya yang tiba-tiba.

Aku menautkan kedua alisku bingung. “Apa?” tanyaku.

“Tunggu! Jangan bilang…” Soo Young eonni memicingkan kedua matanya curiga. “Apakah Kris melihatmu berciuman dengan pria lain?”

Kedua mataku terbelalak tak percaya. Demi apapun di dunia ini, aku tidak mengatakan jika itu aku. Tapi… ya tuhan, bagaimana orang ini bisa tahu? Apakah begitu terlihat?

Aku tidak bisa menutupi kegugupanku. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa memberitahukan kebenaraannya pada wanita ini. “tid.. tidak… kenapa aku?”

“YA! IM YOONA!!” teriaknya, jika saja aku tidak menutup kedua telingaku, dapat di pastikan sore ini aku harus memeriksakan telingaku ke THT. “Kau berselingkuh dari Kris? dan, dan apakah Kris melihatmu berciuman secara langsung?” Kini suaranya lirih. Hampir tidak terdengar.

“an.. anieyo eonni.. mana mungkin aku berselingkuh.” Elakku, menutupi kegugupan yang aku rasakan.

“Ya! Kau gadis jahat!” Soo Young eonni langsung berdiri dan memukuliku dengan keras, hingga membuatku meringis kesakitan.

.

.

Hari ini aku pulang lebih malam dari biasanya. Siang tadi eomma menghubungiku, eomma bilang membuatkanku kimchi, dan memintaku untuk mampir kerumah mengambilnya untuk Kris oppa. Sedikit jengkel, sebenarnya siapa anak eomma? Kenapa hanya Kris oppa yang ada di fikirannya.

Aku melihat mobil Kris oppa sudah berada di garasi, segera aku memarkirkan mobilku disebelahnya. Aku melirik arloji di tangan kananku. “Jam 8? Benarkah dia sudah pulang? Bukankah dia sedang menghindariku?” Tak mau fikir panjang, aku segera keluar dari mobil dan melangkahkan kedua kakiku kedalam rumah.

Seulas senyum tersungging dbibirku, menyadari pria itu sudah pulang lebih awal dan tidak menghilang seperti tiga hari yang lalu. ”Tunggu! apa yang harus aku katakan nanti? Bagaimana jika ia marah dan mengusirku? Apakah aku harus memohon padanya untuk memaafkanku? Atau aku harus menjelaskannya terlebih dahulu? Tapi… apa yang harus aku jelaskan? Bukankah semua sudah jelas?”

Tidak! Aku harus memelas dan meminta maaf padanya, aku ingat dulu Baekhyun oppa pernah mengatakan padaku jika pria akan luluh ketika melihat air mata seorang wanita. Haruskah aku menggunakan trik kotor seperti itu? Oh ayolah…

“Oppa… Kau sudah pul…” Segera kututup mulutku dengan sebelah tangan ketika mendapati Kris oppa tengah duduk dengan seorang wanita. Wanita? Ya! Berani-berani nya pria ini membawa wanita ke rumah.

Kris oppa menatapku datar. Tak ada ekspresi sedikitpun di wajahnya. Sepertinya dia benar-benar marah padaku. “Oh Yoong, kau sudah pulang.”

Aku tersentak saat Kris menyebut namaku. Wanita disebelahnya juga ikut menoleh, ia juga nampak terkejut.

Aku berjalan mendekat kearah Kris oppa, hatiku langsung menciut saat melihat betapa cantiknya wanita yang berada di dekatnya. Dan melihat bibirnya yang tak henti-hentinya mengeluarkan senyum tulus kepada wanita itu, mau tak mau membuat hatiku terasa terbakar.

Wanita itu mengulurkan tangannya. Tubuhnya begitu berisi, kaki jenjang yang berbalut dress mini membuatnya nampak begitu seksi, dan jari-jari lentiknya nampak begitu sempurna menyatu dengan putihnya kulit yang menyelimuti seluruh inci tubuhnya. “Annyeonghasseyo.” Sapanya sambil memamerkan eyes smile yang menawan. “Steffany Hwang-imnida. Kau bisa memanggilku Steffy atau Tiffany.”

Bebarapa saat aku tertegun dengan kecantikannya. Dengan melihat penampilannya, sudah dapat aku simpulkan jika wanita ini adalah wanita baik-baik, tidak seperti gadis murahan yang di bawa oleh pria kaya dari bar. Aku segera menundukkan tubuhku dan membalas salamnya saat kesadaranku muncul kembali. “Oh, annyeonghasseyo. Im Yoona-imnida, kau bisa memanggilku Yoona.”

Hening.

Seketika suasana menjadi canggung. Aku menggaruk tengkukku kikuk, dan memutuskan untuk pergi ke dapur memanaskan sup kimchi dari eomma. “Apakah kalian sudah makan? Aku akan memanaskan sup untuk makan malam.”

Aku memandang Kris sekilas, lalu segera melangkahkan kakiku pergi meninggalkan mereka berdua, yang kembali fokus pada laptop di atas meja.

.

“Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, dia tidak terlihat asing.” Gumamku. Mengingat nama yang terdengar tak begitu asing di telingaku.

Aku terus melirik kearah ruang tamu melalui balik bahu. Merasa penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Mereka berdua nampak begitu akrab, bahkan Kris oppa bisa tertawa lepas bersamanya. Apakah dia cinta pertamanya? Sejujurnya ada perasaan tak suka ketika fikiran itu muncul.

“Apakah makan malamnya sudah siap?” Suara Kris oppa mengejutkanku, hingga tanpa sengaja aku menjatuhkan sendok sup yang berisi kuah ke tanganku.

Aku sedikit meruntuki kebodohanku. Bagaimana bisa aku melamun dalam keadaan seperti ini? Segera aku berjalan kearah wastafel dan membasuh tanganku dengan air mengalir. “Sebentar lagi oppa. Aku hanya perlu menyiapkan mangkuk dan piring. Lima menit lagi aku akan memanggilmu.” Jawabku, masih fokus dengan tanganku yang terasa seperti terbakar.

“Apakah kau baik-baik saja?”

Aku tersenyum menghadapnya. “Gwenchana,” Meskipun tanganku terasa panas dan perih, tapi aku harus bersikap seolah tak terjadi apa-apa. “Sepertinya Tiffany eonni menunggumu.”

Kris oppa menatapku dengan satu alis terangkat. “Baiklah.” Lalu pergi meninggalkan dapur, meninggalkanku seorang diri dengan perasaan yang aku sendiri tak dapat mengartikannya.

 

Yoona POV end.

***

 

Author POV

“Tiffany eonni sangat cantik. Apakah dia kekasihmu?” Tanya Yoona, berhasil menghentikan langkah Kris tepat di anak tangga ke dua. Ia lalu memutar tubuhnya menghadap Yoona. Melayangkan tatapan seolah ia tak mengerti dengan maksud gadis itu.

Yoona menyusul Kris, lalu meraih lengan kokoh pria itu, mengajaknya kembali ke ruang tamu. Bagiamanapun juga, ia harus meluruskan kesalah pahaman ini, dan lebih penting dari pada itu, Yoona ingin meminta maaf pada Kris atas kejadian beberapa hari yang lalu.

“Kita harus bicara oppa.” Kata Yoona seraya mencoba menarik lengan Kris.

Kris menolak, ia bahkan menepis tangan Yoona yang berada di lengannya. “Bicara? Untuk?” kedua alis Kris saling bertautan. “Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku sangat lelah, aku ingin istirahat.” Kris kembali melangkah, menapakkan kakinya pada anak tangga ke tiga. Tapi suara Yoona yang parau kembali terdengar di telinganya, sehingga otaknya memberikan perintah kepada seluruh tubuhnya untuk berhenti.

Yoona menatap Kris. Tatapannya nanar, syarat akan luka. Guratan merah sudah nampak jelas di kedua matanya. “Apakah oppa marah padaku?”

Kris memutar kedua bola matanya malas. Saat ini hatinya tengah kalut, ia sedang berusaha melupakan kejadian tiga hari yang lalu dengan menghindari Yoona. Tapi kenapa gadis ini malah mengingatkannya kembali? “Aku tidak marah. lagi pula untuk apa aku marah?”

Yoona terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Pertanyaan yang Kris ajukan memang benar, untuk apa Kris marah? Bukankah mereka tidak saling mencintai? Tapi, ada perasaan aneh yang menelusup masuk ke dalam hati Yoona. Ia tidak rela saat pernyataan itu melintas di kepalanya. Seharusnya Kris marah, seharusnya Kris cemburu dan seharusnya… ah entahlah, Yoona tidak mengerti dengan hatinya.

Ia menatap kedua mata Kris dalam. “Oppa menghindariku.”

“Menghindarimu? Untuk apa aku menghindarimu?” Kris kembali mengelak pernyataan yang di lontarkan oleh Yoona, dengan cara mengajukan kembali pertanyaan yang Yoona berikan padanya.

“Benarkah? Apakah benar seperti itu?” Yoona menatap kedua mata Kris, mencari kebohongan di balik iris hazel milik pria bermarga Wu itu.

Kris menatap tajam kearah Yoona. Mengunci tatapan wanita itu padanya. “Apakah ada alasan untuk menghindarimu, Im Yoona?”

Yoona terdiam. Benar, untuk apa Kris menghindarinya? Disini, Yoona lah yang berbuat kesalahan, lalu kenapa harus Kris yang menghindar? Bukankah itu pertanyaan yang konyol? “lalu… selama tiga hari ini, kemana oppa pergi?”

Kris mendengus, ia terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan yang Kris fikir tidak ada gunanya. Ia juga jengah dengan sikap Yoona yang terus menginterogasinya seperti ini. “Aku bekerja, apakah jawaban itu belum cukup untuk membuatmu menghentikan pertanyaan bodoh ini?”

Yoona menundukkan kepalanya. “Tiga hari lalu,” Tenggorokan Yoona tercekat, kejadian tiga hari yang lalu kembali melintasi otaknya begitu saja. “Aku.. aku tidak sengaja melakukannya. Aku…”

“Cukup!” Wajah Kris memerah. Ia sudah cukup lelah mendengar pertanyaan dari Yoona, dan kini gadis itu malah mengingatkan nya pada kejadian menyakitkan yang mati-matian coba ia lupakan.

mianhae… aku benar benar menyesal oppa.”

“Hentikan Im Yoona.”

“Oppa, aku benar-benar menyesal. Maafkan aku, aku—“

“AKU BILANG HENTIKAN IM YOONA!” Kris menggenggam pergelangan tangan Yoona dengan kuat, kedua matanya menghitam. Kini dirinya telah dikuasai amarah yang sedari tadi coba ia redam.

Yoona hanya bisa meringis, merasakan cengkeraman tangan Kris yang semakin menguat. “Apa kau tidak dengar? Aku bilang HENTIKAN!.” Suara Kris kembali meninggi.

“Aku mohon, hentikan Im Yoona.” Kini suaranya terdengar begitu frustasi, ia tak tahan dengan kenyataan yang coba Yoona ungkit kembali.

Yoona mengangkat kepalanya takut. “Lalu… kenapa tiga hari ini oppa menghilang? Apakah oppa sudah tidak menganggapku ada?” Suaranya tak kalah parau dari Kris, ia merasakan sakit sekaligus takut. Ia tak pernah melihat Kris semarah ini, bahkan saat mereka bertengkar pun Kris tak akan terlihat semenakutkan saat ini.

Kris memejamkan kedua matanya, dan tepat saat kedua mata itu terbuka, Yoona dapat melihat kilatan hitam dari dalam kedua mata Kris. “Apakah aku perlu menjawabnya, Im Yoona? Bukankah kau sudah tahu apa jawabanku?” Kris melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Yoona.

Yoona terdiam. Tubuhnya bergidik ngeri saat melihat tatapan mematikan yang Kris layangkan, ia menggigit bibir bawahnya. Benar, semua kata kata Kris memang benar, seharusnya Yoona tidak perlu menanyakan hal yang jelas jelas ia sudah tahu jawabannya.

“Ah… matta! Aku ingat,” Kris menjentikkan jarinya, seakan teringat sesuatu yang hampir ia lupakan. “Apakah kau tahu? Sepertinya aku mempunyai alasan untuk marah. Haruskah aku memberitahumu, nona Im?” Kris tertawa sinis. Seolah mengejek dirinya sendiri yang begitu pengecut untuk tak mengungkapkan kekecewaan serta kemarahannya pada Yoona. “Aku melihat adegan menjijikkan yang di lakukan oleh istriku sendiri. Di rumahku. Ya benar, di rumahku. Awalnya aku sangat ragu jika wanita itu adalah istriku. Tapi sepertinya kedua mataku benar, dia istriku. Gadis yang nampak begitu polos, tapi ternyata… menjijikkan!”

Jantung Yoona serasa diperas hingga kempis. Seiring dengan kata pedas yang keluar dari bibir Kris yang terus menghujam jantungnya, air mata Yoona telah jatuh, menyatu dengan udara yang sialnya, secara tiba-tiba terasa begitu dingin mencekam.

“Sepertinya kau benar. Hubungan ini tidak pernah ada, dan seperti katamu. Jangan bersikap seolah-olah ini nyata. Aku juga muak mendengarnya.”

Bagai tertohok belati. Nafas Yoona berhenti tepat di tenggorokan. Apakah Yoona tak berarti apa-apa di mata Kris? Memang benar jika mereka hanya menikah kontrak, tapi membuat hubungan ini seolah benar benar tidak ada, membuat hati Yoona perih.

Kris menghentikan langkahnya, lalu kembali menjentikkan jarinya. Ia membalikkan tubuhnya, lalu berjalan menuruni anak tangga, hingga berhenti satu tangga di atas Yoona. “Aku jadi ragu, apakah hanya hal itu yang pernah kau lakukan dengannya? Mengingat kau berciuman dirumah suamimu sendiri,” Kris mendekatkan bibirnya di telinga Yoona.” Sudah berapa kali kau tidur dengan__”

PLAK!!

Satu tamparan mendarat mulus di pipi kiri Kris. Yoona menatapnya tajam, air mata yang keluar dari sudut matanyanya semakin deras. Ia tak menyangka jika kata-kata yang keluar dari bibir Kris begitu merobek harga dirinya.

Segera ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, dan berlalu dari Kris.

Kris terpaku. Nafasnya naik turun menahan gejolak amarah. Ia sedikit tak percaya dengan apa yang terjadi. Yoona menamparnya? Im Yoona menamparnya? Apakah ia tak bermimpi. Sesaat setelah Kris berhasil mengumpulkan kesadarannya, ia segera berlari mendekat kearah Yoona, lalu meraih lengan gadis itu yang hanya beberapa meter dari pintu.

Yoona menampik lengan Kris kasar, lalu berbalik menatapnya penuh amarah. “APA YANG KAU LAKUKAN!!”

Kris menarik tubuh Yoona mendekat, menenggelamkan tubuh Yoona kedalam pelukannya. Ia tak mengindahkan pemberontakan yang dilakukan oleh Yoona. Ia malah semakin erat mendekap tubuh kurus Yoona.

Kini amarahnya benar-benar telah terbakar, dengan kasar ia melepaskan pelukannya, lalu meletakkan satu tangannya di tengkuk Yoona, mendorongnya kedepan, memaksa bibir mungil itu menerima bibir Kris dengan kasar. Kris masih mencoba meraih bibir Yoona, meskipun Yoona terus berontak. “Oppa apa yang mmmphh…”

Yoona terus menghindari ciuman yang Kris lakukan dengan menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, tapi Kris tak kunjung melepaskan tangannya pada rahang Yoona maupun di tengkuknya. “Oppa lepask mmpph…”

Nampaknya kesadaran Kris telah benar-benar menghilang, Kris seperti kesetanan, ia terus mencium bibir mungil Yoona dengan kasar tanpa memperdulikan penolakan yang gadis itu lakukan. Memaksa gadis itu menikmati ciumannya, ia bahkan tak segan menggigit bibir Yoona, saat gadis itu mencoba melawan.

Kris mulai mendapati kesadarannya kembali ketika merasakan pukulan tangan Yoona pada dadanya melemah. Ia melepas cengkeraman tangannya pada wajah Yoona, lalu mulai menjauhkan tubuhnya. Ia baru menyadari wajah gadis itu telah basah karena air mata, tubuhnya bahkan bergetar hebat. Apakah ia telah bertindak terlalu jauh?

“Maafkan aku, ak–…”

Yoona mengangkat tangan kanannya ke atas, menginteruksi Kris untuk menghentikan ucapannya.

Kris nampak kelimpungan, melihat reaksi Yoona. Kenapa wanita ini diam saja? Seharusnya ia marah atau menamparnya lagi, tapi yang dilakukan Yoona berbeda dari yang Kris bayangkan, Yoona masih diam, menggigit bibir bawahnya menahan isakan. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu Yoon…”

“Sudah puas?” Yoona menatap Kris sarkatis. Ia mengusap air matanya cepat sebelum berjalan cepat kearah tangga.

Rasa sesal menggelayuti hati Kris, seharusnya semarah apapun dia pada Yoona ia harus bisa mengontrol emosinya. Tapi semua sia-sia, kini gadis itu-Yoona- telah menganggapnya sebagai pria brengsek yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa di maafkan.

Kris menatap Yoona yang melangkah semakin dekat, tangan kanannya sibuk menyeret koper besar. Tunggu! Koper? Kedua mata Kris melebar, apakah Yoona berniat meninggalkan rumah?

“Apakah hanya pria itu yang boleh menciummu?” lirih Kris penuh luka.

Langkah Yoona terhenti. Hatinya tertohok begitu kuat. Memang benar, pada kenyataannya memang Yoona lah yang lebih dulu melakukan kesalahan, ia telah menghianati suaminya sendiri, tapi apakah dengan cara ini Kris membalas? Walau bagaimanapun juga, Yoona di besarkan dalam keluarga baik-baik, ia tumbuh bersama dengan tata krama dan sopan santun yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil.

Dan baru beberapa menit yang lalu, Kris mengucapkan kata-kata yang begitu menusuk hatinya, Yoona bukanlah gadis murahan seperti yang Kris fikirkan.

“Apakah dimatamu aku terlihat begitu mudah?” Ucap Yoona lirih, tapi penuh penekanan di setiap kata-katanya.

“Aku adalah sua–…”

Kata-kata Kris hilang bersama deritan pintu yang baru saja Yoona tutup. Yoona, gadis itu telah pergi. Meninggalkan Kris sendiri dalam pesakitan dan penyesalan. Kris marah, tapi ia juga kecewa. Begitu kecewa dengan sikap nya sendiri. Begitu kecewa ketika ia tak memiliki keberanian untuk mencegah gadis itu pergi, begitu murka ketika hatinya begitu mudah melontarkan cacian pedas, dan begitu menyesal karena tak bisa menahannya lebih lama berada di sisinya.

.

.

.

Yoona masih membiarkan dinginnya udara musim gugur menampar wajahnya dengan sembarang. Mengeringkan goresan air mata yang sedari tadi menghiasi pipi pucatnya. Matanya masih fokus menatap aliran Sungai Han yang nampak tenang, gemercik lirih aliran sungai menyatu dengan suara ranting pepohonan yang saling bergesekan, memenuhi gendang telinganya.

Sebenarnya ia tidak tahu harus pergi kemana. Ia melirik arlojinya, ini bahkan hampir tengah malam, tapi ia belum bisa menemukan tempat yang sekiranya bisa ia tempati untuk bermalam beberapa hari kedepan.

Ia tak mungkin pulang kerumah, kedua orang tua serta kakaknya pastilah khawatir melihat keadaannya, lebih parahnya lagi, eommanya bisa saja menelepon Kris untuk menjemputnya pulang. Atau haruskah ia pergi ke apartemen Chanyeol? Ah.. tidak mungkin, pria itu pasti curiga dan meminta penjelasan dari Yoona. Bertengkar dengan Kris beberapa saat yang lalu, sudah berhasil menguras habis tenaganya, dan bercerita secara detil kepada Chanyeol bukanlah pilihan yang bagus.

“Hhh…”

Yoona mendesah, lalu mengelus wajahnya kasar. Otaknya sudah terasa sangat lelah, ia tak bisa berfikir sekarang. Soo Young? Haruskah Yoona pergi ke rumah Soo Young? Ah.. tapi bukankah itu sama saja dengan bunuh diri? Soo Young pasti akan memberitahu Chanyeol, dan lebih buruknya kedua orang tua Soo Young pasti akan menelepon orang tuanya.

Yoona membenturkan kepalanya pada kemudi. Merasa menyerah untuk berfikir. Tapi tak lama kemudian, satu nama melintas di otaknya. ‘Kyungsoo oppa… haruskah?’

Yoona menyeringai, benar! Kenapa ia bisa melupakannya. Satu-satunya orang yang bisa ia percaya adalah Kyungsoo. Selain pandai menjaga rahasia, pria itu tidak akan menanyakan banyak hal jika Yoona yang meminta.

Yoona menginjak pedal gasnya, tak butuh waktu lama. Setelah hampir 20 menit berkendara menyusuri daerah Gangnam, akhirnya mobilnya telah berhasil terparkir rapi di basement. Ia segera keluar dari mobil, dan menyeret kopernya yang terasa begitu berat.

.

Yoona menunggu dengan gelisah, akhirnya ia membulatkan tekatnya untuk benar-benar menginap di apartemen Kyungsoo. Setelah meyakinkah hatinya, akhirnya ia memutuskan untuk menekan bel.

Tak lama kemudian pintu sudah terbuka, menampilkan sosok mungil dengan kedua mata bulat besar bak boneka.

“Oppa…” Yoona tersenyum lebar. Sedikit terpaksa memang, menangis dalam kurun waktu yang cukup lama membuat kedua matanya sembab.

Kyungsoo nampak terkejut saat mendapati Yoona sudah berdiri tegak di depan pintu apartemen nya. Tidak biasanya Yoona datang kemari, biasanya dia akan kemari jika ada sesuatu yang sangat penting, atau jika ada acara bersama teman-temannya. “Oh Yoong. Ada apa?”

Yoona menunduk dalam, memandang sepatunya lamat-lamat. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum memberikan alasan yang di rasa tepat. “Oppa… apakah aku boleh… Bolehkah aku menginap di apartemen mu?” Tanya Yoona memelas.

Kyungsoo nampak terkejut. Apa dia bilang? Menginap? Yoona ingin menginap di apartemen nya? Tapi, tapi kenapa? kyungsoo ingin bersuara, tapi ia urungkan saat tiba-tiba Yoona menerobos masuk ke dalam.

Yoona menjatuhkan kopernya. Matanya membulat, mulutnya terbuka lebar. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Oh ya tuhan…

Ada Chanyeol, Baekhyun, Suho, Jongdae, dan kakak iparnya-Jong In, yang juga nampak terkejut menatapnya. Sejenak tak ada satu orang pun yang bersuara. Semua mata terpaku pada gadis yang kini tengah berdiri mematung dengan koper di lantai.

“Yoong, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Chanyeol memecah keheningan.

Kyungsoo menyusul Yoona dari belakang. “Yoong… maaf, tadi aku ingin mengatakannya. Tapi kau terlanjur masuk kedalam.”

.

Tidak ada seorang pun di dalam ruangan yang bertanya kepada Yoona. Meskipun suasana sempat canggung karena kedatangan Yoona yang tiba-tiba, dengan mata sembab dan sebuah koper di tangannya. Tapi mereka semua bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, mereka hanya terlalu tau. Lebih baik tidak bertanya sampai Yoona yang bersedia menceritakannya sendiri.

“Coklat panas?” Tawar Kyungsoo sambil mengulurkan se cangkir coklat panas kepada Yoona. Ia lalu duduk tepat di sebelah kanan Yoona, dan kembali fokus pada pertandingan sepak bola yang ia tonton bersama sahabat-sahabatnya.

Gomawo.” Jawab yoona, lalu menyeruput coklat panas di tangannya.

Yoona begitu menikmati waktu nya kali ini. Melihat tingkah kekanakan dari para oppa nya membuat ia sedikit melupakan masalah nya dengan Kris. Ia hanya bisa tertawa saat Chanyeol berteriak lalu menari nari di depan para sahabatnya ketika tim favoritnya berhasil memasukkan satu gol ke gawang lawan, tapi hal itu membuat Jongdae kesal, ia tak terima ketika Chanyeol berteriak keras tepat di telinganya, ia membalas dengan cara melempar bantal ke arah Chanyeol. Ada satu hal yang membuat Yoona heran, Jongdae terlihat tidak lelah sama sekali, ia terus mengomel di sepanjang pertandingan, ia bahkan lebih terlihat seperti komentator di pertandingan antara Manchester United melawan Chelsea saat ini.

Yoona menghela nafasnya, ia sedikit memikirkan Kris. ia kesal dengan perilaku suaminya, ia juga merasa sakit hati dengan kata-kata pedasnya. Tapi dengan menampar nya, apakah hal itu dapat di benarkan? Seharusnya ia bisa menghadapi Kris dengan kepala dingin, tapi mau bagaimana lagi, emosi sudah terlanjur merasuki tubuhnya.

Ia kembali menyesap coklat panasnya sebelum meletakkan cangir itu di atas coffee table, lalu menyandarkan kepalanya pada sofa. Mencoba mengabaikan kekacauan hati yang ia rasakan sekarang, dan teriakan Baekhyun adalah hal terakhir yang bisa ia dengar sebelum mimpi menjemputnya kembali.

Chanyeol mengangkat tubuh Yoona dengan hati-hati, sebelum merebahkannya di atas tempat tidur milik Kyungsoo. Ia tahu, ia tahu Yoona sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, ia tahu Yoona tengah bersedih, ia bahkan masih bisa melihat jejak air mata yang telah mengering di kedua pipinya. Chanyeol mengelus pipi yoona lembut sebelum merogoh ponselnya dari saku celana, menekan beberapa tombol lalu meletakkannya di telinga.

Yeobosseyo, Yul… Apakah besok kita bisa bertemu?”

 

 

Kkeut!!

 

 

Halloo…

Kembali lagi dengan FF Gaje buatanku ini… Gimana-gimana? Apakah kurang memuaskan? Ceritanya gak asik? Ngebosenin?

Ah.. jujur, sebenernya hampir satu bulan ini aku kehilangan feel buat nulis ff aneh ini, gatau kenapa aku negrasa ga mood untuk ngelanjutinnya. Dan sampai akhirnya, ada fikiran gila yang muncul di otakku ini, yaitu untuk mem protect beberapa seri kedepan. Itu pun belum aku putusin bener apa engga, tapi emang sempat ada fikiran+rencana seperti itu. Awalnya memang karena ada beberapa seri yang memang tidak diperuntukkan untuk anak di bawah umur, tapi ada hal yang lebih penting dari itu, karena aku pengen ngehargai mereka yang uda mau ninggalin jejak di setiap part nya.

Jujur, sebenernya aku agak jengah aja sama siders, dan aku rasa bukan Cuma aku aja kok yang ngerasain hal kaya gitu, aku yakin semua author juga ngerasain hal yang sama jika uda berhadapan sama siders. Kalian tau engga? Setiap comment yang kalian tinggalin itu bisa buat author tambah semangat ngelanjutin ke part part berikutnya, dan itulah yang terjadi sama aku sekarang, melihat semakin sedikitnya respon yang di berikan, tidak menutup kemungkinan aku ngeprotect atau bahkan menghentikan ff ini…

Terakhir aku mau ngucapin terimakasih buat kalian yang uda setia baca, apa lagi komen di ff ku ini.. * Bow

 

100 thoughts on “(Freelance) Married Without Love (Chapter 6)

  1. Nyesek banget baca chapter ini huhuhu
    Yoonkris masih sama2 emosi n keras kepala nya . .
    Please next chapter nya kalau bisa jangan d pw unn

  2. Jd ini cerita sebelumnya.. Ternyata dulu aku sempet baca trs baru nyampe setengah trs q tinggalin karna aada kerjaan. Akhirnya kelupaan deh. Kkkk sorry yaorang sok sibuk jd tdak setiap saat bisa luangin waktu baca ff. *curcol.
    Ditunggu kelanjutannya. Kayakx aku btuh baca part2 sebelumnya deh. Wkwkw

  3. Lanjut !! Lanjut !! Ma’ap thorr komennya di chap ini soalnya baru nemu ni ep-ep , jeball lanjutt , aku penasaran , keep writing ^^

  4. Satu kata bwat atur daebaaak.aku sk bngt karya2 ff km., kerrenn2 bizz.tp maaf ych thor aq ru bsa komen coz’a ru bisa

  5. Sedih😦
    sumpah ini ff ngfeel banget walaupun moment krisyoong jarang didunia real, tapi bener-bener nguras emosi baca ni ff
    lanjutin thor

  6. Keren bgt thor ffnya
    Bagus bgt hehehe
    Konfliknya juga udah mulai muncul…
    Tqpi maaf ya thor baru komen skrg
    Soalnya hpku abis disita😦
    Ditunggu deh klanjutannya hehe

  7. Lanjut chingu. Semakin penasaran. Buat momen tiffkris lg biar yoona makin cemburu, pgn liat. Ditggu lanjutannya. Hwaiting

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s