(Freelance) Twoshoot : In Melbourne(1 of 2)

inmelbourne-by-peniadts

In Melbourne (1 of 2)

 

Written by Nawafil

 

PG13

 

Romance, Sad, Action, Family

 

Twoshoot

Starring by EXO’s Sehun | GG’s Yoona

Support cast : A former member from EXO Lu Han | f(x) Krystal

 

Poster by Peniadts at cafeposterart.wordpress.com

 

Disclaimer : All cast belong to god, but the plot of the story is mine. This story is not true, just a fiction. DO NOT PLAGIARISM!

Just enjoy reading.

Seorang gadis manis sedang sibuk menyiapkan berbagai buku dan perlengkapannya, ia meletakannya di atas meja. Dengan sangat telaten, ia memasukkan buku itu ke dalam tasnya yang sudah lusuh.

Namanya Im Yoona. Ia kuliah jurusan seni semester ke 2 di University of Melbourne. Tak ada yang istimewa dari kesehariannya. Ia tidak pernah menghabiskan waktu bersenang – senang seperti gadis – gadis seusianya. Ia bekerja part time sebagai barista di salah satu cafe di Melbourne.

Eonni” Suara itu menghentikan pergerakanya. Ia menoleh, dan tersenyum manis.

“Ada apa, Yoon Mi sayang?” Yoona berjongkok, mensejajarkan posisinya dengan adiknya.

Gadis mungil itu tertawa, mengelap sisa susunya yang membekas dibibirnya. “Eonni” Ia memanggil Yoona sekali lagi. “Hm, ada apa?”

Yoon Mi terlihat berpikir, mengadukan kedua telunjuknya dan menunjukan ekspresi konyol. “Aku..” Yoona menunggu adiknya menyelesaikannya hingga akhir.

Namun adiknya menggeleng. “Tidak. Lupakan saja, eonni

Yoona berdiri seiring dengan adiknya yang berbalik meninggalkannya. Ia menghela nafas, lalu mengambil tasnya dan melenggang keluar losmen.

“Selamat pagi” Shin Ahjumma tersenyum manis sambil menjemur pakaiannya. Yoona hanya mengangguk dan tersenyum ketika melewatinya. Semua yang menempati kamar di lantai atas pasti warga Korea yang menetap di kota ini. Begitu pula dengan lantai – lantai bawah. Ada lantai tiongkok dan lantai untuk orang europe.

Eonni, kau mau kuliah?”

Yoona tersentak kaget ketika Hana tiba – tiba muncul di hadapannya. “Darimana kau datang?! Mengagetkanku saja.” Ia mendelik sebal. Masih pagi saja Hana sudah membuat jantungnya hampir lepas, bisa kau bayangkan bagaimana tingkah Hana sepanjang hari?

Hana terheran. Ia kemudian mengangguk dan tersenyum—memperagakan bagaimana Yoona saat bertemu Shin Ahjumma. “Kemana kau yang sesopan itu pada Shin Ahjumma?” Dasar anak ini, dia selalu bersikap seperti itu.

“Aku mau pergi bekerja” Yoona mulai berjalan, tak menggubris Hana yang kelihatannya ingin berdebat dengannya. Ia terlalu malas untuk itu.

Hana membuntutinya. “Kalau begitu aku ikut, eonni

—It’s the first time…—

Auction Rooms, 07.00 AM AST.

“Hari ini tidak ada kelas?” Luhan membuka pembicaraan. Dia tetangga Yoona, ia tinggal dilantai dasar—tempat orang tiongkok. Merupakan sebuah kebetulan bahwa orang tiongkok ini bisa bahasa ibu Yoona.

“Tidak ada” Karena sedang membuat pesanan pelanggan, Yoona hanya menjawab seadanya.

“Mau pulang bersama? Aku akan menunggumu” Namun kali ini, Yoona berhenti.

“Berhentilah membuat dirimu kelelahan. Aku bisa pulang sendiri” Yoona tersenyum. Setidaknya hanya senyum ini yang menjadi modal untuk meyakinkan Luhan. Meskipun wajahnya bisa dikatakan seperti anak kecil yang penurut, tapi wataknya ini bisa dibilang jauh berbeda dengan parasnya itu. Dia sangat keras kepala.

Excuse me?

Yes, sir?” Yoona langsung melihat sang pelanggan dan meninggalkan percakapannya dengan Luhan. “One Black Coffee and Two Cappucino” Dan pelanggan itu kembali ke tempat duduknya.

“Pelanggan itu seperti dari Asia.” Yoona mengedikkan bahunya. Entahlah, ia tidak begitu peduli. “Chinese atau Korean, ya?” Yoona tertawa pelan mendengar Luhan yang begitu penasaran akan orang itu.

“Atau mungkin Japanese?”

“Memangnya akan kau nikahi?” Sial, lelucon Yoona membuat Luhan benar – benar menekuk wajahnya. Apakah Luhan segila itu untuk menikahi sesama jenis? Hell, sangat mustahil.

Dan beberapa saat kemudian, pelanggan itu menghampiri Yoona. “I’m sorry, sir. May I ask you something?” Demi Luhan, Yoona menanyakannya. Tidak baik bukan jika Luhan penasaran akan hal itu selama hidupnya?

Pelanggan itu tidak sombong. “Sure, anything

“I just wanted to know about this. You’re Chinese, right?Tanyanya sambil memberikan pesanan orang itu.

Dia menggeleng. “No, I’m Korean

“Me too” Wajahnya tersenyum kala mendengar Yoona berkata seperti itu. Ia menunduk sedikit, kemudian pergi. “Thanks for the coffee

Pukul 7 malam di kota Melbourne tentu saja seperti masih siang. Rasanya semua orang belum berniat untuk kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga. Dunia luar masih sangat menarik, seperti biasanya.

“Kau bandel” Dua insan itu berjalan menembus dinginnya angin malam.

“Masih pukul tujuh. Lagipula aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian. Terlalu berbahaya.” Yoona menertawakan alasan klise Luhan. Ayolah, dia bahkan bisa berduel dengan Luhan jika Luhan menantangnya.

“Perlu aku ingatkan? Aku ini seorang petarung, Tuan Luhan.”

Luhan mengeratkan jaket yang dikenakannya. “Ya, alasanku tidak masuk akal, ya?”

“Tentu saja. Kau mengkhawatirkan seorang perempuan yang menguasai Judo dan Karate? Aku sudah sabuk hitam dan—”

“Judo tingkat empat” Potong Luhan. “Kau tak perlu mengingatkanku lagi”

Yoona tertawa puas dengan pengakuan pria tampan ini. Bukan menyombongkan diri, ia hanya mengingatkan bahwa ia bukan tipikal wanita yang perlu dilindungi.

“Aku ini sekuat baja” Yoona mengukuhkan kembali bagaimana dirinya itu.

Luhan kehabisan kata – kata. Semua yang dikatakan Yoona itu benar, tapi..

“Kau tetaplah seorang perempuan” Sahut Luhan.

Yoona terhenyak. Jawaban Luhan selalu saja masuk diakal, perempuan memang dikodratkan untuk dilindungi. Ia mengerti itu. Keduanya terdiam, tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun untuk beberapa saat. Membiarkan bibir mereka memutih karena tak ada percakapan sedikit pun.

“AAAAA!” Langkah Luhan dan Yoona terhenti. Ada teriakan yang sangat jelas dari salah satu gang di sini. “Kau mendengarnya?”

Yoona mengangguk. “Tetaplah di sini, aku akan segera kembali”

Namun Luhan menahan Yoona, ia menggeleng. “Biarkan saja, jangan membahayakan dirimu sendiri.” Tak menghiraukan Luhan, Yoona terus berjalan dan mencari letak suara itu. Luhan hanya bisa membiarkan dan mengikuti Yoona dari belakang. Seperti biasa, gadis ini selalu mengikuti keinginannya dan tak mengenal rasa takut.

“Aku mendengarnya dengan sangat jelas, tapi dimana?”

“Sudahlah, kita pulang sa—” Yoona menempelkan telunjuknya pada bibir Luhan, mengisyaratkannya untuk tidak berbicara.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” Teriakan lantang Yoona mengalihkan perhatian sekumpulan orang di ujung gang. Tanpa basa – basi, Yoona dan Luhan segera berlari menuju gerombolan preman disudut gang sana. Yoona mengambil karet dan mengikat rambutnya.

Kakinya menendang dada salah satu dari mereka. Ia menghindari serangan preman yang lain dan melayangkan sebuah pukulan pada pipi preman yang paling kurus.

“Kau baik – baik saja, Yoong?” Punggungnya dan punggung Luhan saling menempel. Keduanya masih sigap dengan kuda – kuda mereka. Preman yang mengelilingi mereka tertawa.

“Jadi, hanya seorang wanita?” Cibir mereka.

“Kau cantik sekali, nona.” Sungguh, kedipan preman jelek itu membuat Yoona ingin menghajar wajahnya.

“Tutup mulutmu, brengsek.” Yoona mengambil langkah dan membanting preman bermulut ‘kotor’ tadi. Ia menginjak jarinya dengan sengat keras. “Masih berani kau menggodaku, hah?!”

Preman itu meludah. “Aku hanya mengalah darimu.” Yoona semakin mengeraskan injakannya. Dan tentu saja, erangan preman itu tak bisa terelakan. “Kau akan kehilangan jarimu jika kau masih terus menjaga harga dirimu.” Yoona mendekat dan memukul wajahnya.

Sedangkan Luhan, ia masih sibuk dengan dua preman yang menyerangnya sekaligus. Preman itu mendapatkan lehernya, namun dengan gampang Luhan mematahkan tangannya dan mengeluarkan smirknya. Mudah sekali.

Yang lainnya berhasil memukul wajah Luhan, dan Luhan langsung memukul hidungnya. Perut buncitnya menjadi sasaran yang sangat empuk bagi Luhan.

“Awas!” Teriakan Yoona membuat Luhan menoleh. Untung saja, Yoona lebih cepat menghajar punggung belakang preman kurus itu. Pasti rasanya sakit.

“Kau ceroboh sekali.” ejek Yoona. Luhan mengelap keringat didahinya. “Aku selamat karenamu.” Yoona tersenyum dan menghembuskan nafasnya panjang. Sudah lama ia tidak berkelahi seperti ini.

“Hanya lima preman.” Ucap Luhan.

Yoona mencari seseorang yang pasti menjadi korbannya.”Itu dia.” Ketika Luhan dan Yoona mendekat, oh tidak. Sangat tercium bau alkohol.

“Lu, Kau gendong dia.”

Penciumannya mencium sesuatu yang harum dan pastinya sangat lezat. Membuat kelopak matanya tertarik untuk terbuka dan melihat keadaan. Ia mendesah pelan karena kelelahan. Tubuhnya terasa seperti sudah remuk dan hancur berkeping – keping.

“Aw.” Pria itu meringis pelan merasakan sudut bibirnya sakit sekali.

“Kau sudah bangun?” Pandangannya yang masih buram melihat sosok seseorang yang tak lain adalah Yoona.

“Kau.. siapa?”

“Aku orang baik, tenang saja.” Yoona duduk disofa, ia mengambil sesendok sup dan memberikannya pada pria itu. “Buka mulutmu.”

“Aku Oh Sehun.” Pria itu memperkenalkan dirinya. Yoona tersenyum dan menyuapi pria bernama Oh Sehun itu lagi. “Kau baru mau memperkenalkan dirimu setelah aku memberimu makan?”

“Uhuk!” Im Yoona, kau membuatnya tersedak.

Sehun menutupi mulutnya dan melihat mata Yoona dengan sedikit canggung. Sedangkan Yoona, ia hanya tersenyum geli melihat tingkah pria ini. “Minumlah. Pasti tenggorokanmu sangat sakit.”

Sehun mengambil air putih yang diberikan Yoona. Ia meminumnya dengan pelan, dan arah matanya tidak pernah lepas dari wajah Yoona. “Kau mau makan lagi?”

“Tidak, terima kasih.” Yoona tetap mengambil sesuap sup dan menyodorkannya pada Sehun. “Makanlah. Kau baru makan sedikit, bahkan tidak lebih dari dua suap.”

Sehun yang semula berbaring membenarkan posisinya menjadi duduk di samping Yoona. Ia lebih memilih mengambil alih piring dari tangan Yoona daripada Yoona harus menyuapinya lagi. Sehun terlalu malu. “Biarkan aku makan sendiri.”

Yoona tersenyum sembari melihat pria ini makan, lahap sekali. “Kenapa kau dikelilingi preman – preman itu semalam?”

“Apa kau baru tinggal di Melbourne? Hal itu adalah hal yang lazim terjadi.” Jawab Sehun singkat.

“Ya, aku baru tinggal empat bulan di sini. Bahkan baru menjalani satu semester kuliah” Sehun menoleh. “Jadi, kau lebih muda dariku?”

Yoona menggeleng. “Sepertinya kita seumuran. Aku hanya telat masuk kuliah beberapa waktu, kau tahu untuk kuliah di sini sulit sekali.” Sehun mengangguk mendengar penjelasan Yoona.

“Tapi, kau hebat”

“Tentang?”

“Semua orang Korea yang baru mengenalku selalu menggunakan bahasa Inggris. Wajahku terlihat seperti orang barat, ya? Luar biasa.”

Kekehan itu lolos dari bibir mungil Yoona. “Kau percaya diri sekali.” Timpalnya.

Sehun meletakkan piring yang sudah kosong. “Sepertinya aku sudah merasa lebih baik. Ku rasa aku harus pulang sekarang” Ketika Sehun hendak berdiri dan mengambil jasnya, pintu losmen terbuka.

“Apa pria itu sudah sadar?”

Ternyata Luhan. Sehun tahu pria yang disebut orang ini adalah dirinya. Dengan begitu sopannya ia memberi hormat dan tersenyum. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih untuk pertolongannya.”

Sehun berlalu pergi dan Luhan mendekat pada Yoona. “Hanya terima kasih saja?”

“Memangnya kau berharap lebih?” Luhan menggeleng dan duduk di samping Yoona. “Tidak, hanya saja tidak etis sekali jika ia langsung pergi setelah mendapat sarapan.” Luhan mendengus kesal. “Padahal, semalam kau biarkan saja dia berada di tempatku.”

“Sudahlah. Kita harus berangkat bekerja sekarang.” Yoona berdiri dan menyimpan piring tadi. Ia mengambil tas dan menghampiri Luhan. “Kita berangkat sekarang?”

“Luhan ge.” Akan tetapi, tiba – tiba saja gadis cilik itu menghampiri Luhan dan memeluknya. “Gege, apa kabar?” Luhan mencubit pipi gadis itu. “Aku baik – baik saja. Dan apa adikku ini juga dalam keadaan yang benar – benar baik?”

Yoon Mi mengangguk dengan semangat. “Bagus sekali. Kau harus dalam keadaan yang terus seperti ini, okay? Tahun depan kau harus masuk sekolah.”

“Kalau begitu aku dan kakakmu harus berangat sekarang. Cium pipiku” Yoon Mi mencium pipi kiri Luhan. “Yang kanan?” Dan sama seperti sebelumnya, Yoon Mi menciumnya. “Baiklah, jaga dirimu baik – baik, ya.”

Yoona mencium kening Yoon Mi dan akhirnya keluar dari losmen bersama Luhan.

Setelah pulang dari tempat gadis tadi, Sehun terus tersenyum tanpa henti bahkan hingga di tempat ia bekerja. “Kau seperti orang gila, Dokter Oh”

Sehun melirik Dokter Krystal yang biasa menjadi Dokter anestesinya di ruang operasi itu. “Bisakah kau berhenti memanggilku dengan margaku? Panggil aku sesuai nama inggrisku, Dokter Steve. Aku juga memanggilmu dengan panggilan yang sesuai.”

“Kau ini orang Korea. Seharusnya aku memanggilmu dengan marga keluargamu, benar ‘kan?”

Sehun menggelengkan kepalanya, terserah dia sajalah. “Jangan lupa dengan jadwal operasi kita siang ini.” Celetuknya.

Dan tentu saja Dokter Krystal melihat balik Oh Sehun. Ia malah menjewer Sehun dan menyeretnya sambil berjalan. “Apa kau sudah gila? Tim kita akan melakukan operasi ini sekarang, bukan siang nanti!”

Sifat pelupa tidak pernah menjauh darinya meski ia seorang dokter yang jenius. Dasar Oh Sehun.

Sehun keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju mobil yang terpakir tidak jauh dari tempatnya sekarang ini. Ia berjalan santai dan memainkan kuncinya beberapa kali. Sesaat setelah sampai, ia langsung masuk dan menyalakan mesin mobilnya.

“Apa aku harus ke rumah perempuan itu lagi?” Untuk beberapa detik, otaknya sempat memikirkan hal itu. Dia bukan tipe orang yang tidak tahu balas budi. “Aku akan ke rumah gadis itu, tapi setelah aku mampir ke cafe dan meminum kopiku”

Sehun tersenyum dan menancap gasnya. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai cafe langganannya ini, senandung – senandung kecil yang keluar dari bibirnya sempat menemani dirinya selama di perjalanan tadi.

Ketika Sehun keluar dari mobilnya, ia langsung masuk dan menuju tempat pemesanan. “Black Coffee, please.” Setelah mengucapkan itu, kakinya langsung bergerak.

Chogiyo.” Mendengar bahasa itu, ia langsung berhenti dan menoleh. “Kau Oh Sehun, bukan?” Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali dan deretan giginya itu langsung tampak.

“Aaaaaa kau ini..” Sehun terus memanjangkan akhir dari kata itu, sebenarnya otaknya berpikir keras untuk mengingat nama gadis ini. Melihat sikap Sehun, Yoona langsung tertawa. “Kau tidak akan tahu namaku karena aku tak pernah memberi tahumu.”

Sehun mendekat dan menjentikkan jarinya. “Benar. Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Kau tidak pernah bertanya.” Yoona mempersiapkan pesanan Sehun. “Baiklah, kalau begitu siapa namamu?”

“Namaku Im Yoona.” Yoona tersenyum sembari memberikan kopi yang Sehun inginkan. “Aku tunggu kau dimejaku.” Dan Yoona mengangguk untuk jawabannya.

“Apa yang kau lakukan, Sehun?” Sehun yang semula melamun menoleh dan menyimpan kertas yang ada digenggamannya ke dalam saku jas dokternya. “Aku tak melakukan apapun.”

“Kau berjalan, bodoh.” Perempuan itu memukul bahu Sehun keras.

“Kau tahu aku sedang berjalan, lalu kenapa kau bertanya, bodoh.” Dasar, tidak ada yang mau mengalah untuk ini. Sangat kekanak – kanakkan sekali. Dua dokter hebat sedang bertengkar karena hal konyol. Lucu, bukan?

“Apa gaya rambutku bagus?” Dia bertanya pada Sehun lagi. Sedangkan Sehun, ia hanya mengedikkan bahunya dengan sangat ringan. “Aku tak tahu, Krys.”

Krystal mengumpat dan rasanya tangannya sudah gatal ingin menjitak bocah kurang ajar ini. “Lalu kau akan kemana? Tumben sekali keluar dari ruanganmu. Tim kita ada operasi besok, pasiennya mengalami—”

“Aku tahu, Krys.” Sehun memotongnya. “Kau harus bersiap – siap untuk operasi besok.” Ayolah, apa Sehun merendahkan perempuan yang telah menjadi sahabatnya sejak ia kecil? Oh Sehun, kau tahu benar perempuan di sampingmu ini sangat jenius.

“Tidak ada dokter anestesi jantung sehebat diriku di rumah sakit ini.”

Sehun tersenyum meremehkan. “Dan aku adalah dokter bedah toraks terjenius di seluruh dunia.”

“Haruskah aku mempercayaimu?”

Sehun menghembuskan napasnya. “Terserah padamu, dokter Krystal yang cerewet” Ia sampai di depan mobilnya dan langsung masuk. Sedangkan Krystal, bahkan ia langsung duduk di samping kursi kemudi tanpa meminta izin pada sang pemilik.

“Kau mau kemana? Jas doktermu belum kau lepas.” Sehun masih fokus pada jalan dan hanya memberikan 30 persen dari konsentrasinya untuk Krystal.

“Kau bahkan tidak tahu aku akan kemana, tapi masih saja mengikutiku.” Krystal mengerucutkan bibirnya. Ia hendak mengucapkan sesuatu jika saja Sehun tidak menyelanya. “Aku akan menemui seseorang.”

“Siapa? Ini masih jam istirahat makan siang.”

“Aku berhutang budi pada seseorang. Lagipula tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah sakit.” Krystal tidak menanyakan sesuatu apapun lagi pada Sehun. Sehun memang harus fokus dan tidak banyak berbicara.

Roda mobil itu berhenti, Sehun mengedarkan pandangannya dan menelisik keadaan setempat, ia mencoba mengingat sesuatu. “Aku pikir ini memang tempatnya. Ayo keluar.”

Sehun dan Krystal melepas seatbelt mereka dan berjalan masuk ke losmen sederhana itu. Keduanya menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai tempat yang Sehun tuju. Namun, ditengah perjalanan Sehun bertemu dengan orang yang ia maksud.

“Hai, rupanya kau jadi datang ke sini.” Sehun tersenyum dan ketiganya berhenti untuk mengobrol di tangga. “Tentu saja, aku berhutang padamu, Im Yoona-ssi.

Yoona yang awalnya berniat turun ke bawah malah berjalan berbalik arah diikuti Sehun dan Krystal. “Kau tidak bekerja?” Sehun bertanya sambil melihat – lihat sekeliling tempat ini.

“Tidak. Tapi aku ada kuliah sebentar lagi.”

Sehun menggaruk tengkuknya. “Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat.” Yoona membuka pintu tempat tinggalnya dan mempersilahkan Sehun beserta temannya masuk. “Tidak, tenang saja. Kuliahku dimulai pukul 3 sore nanti.”

Mereka sudah duduk dan Yoona mengambil air putih. “Maaf, aku tidak punya apa – apa untuk dihidangkan.”

“Tidak apa – apa.” Kali ini Krystal akhirnya bersuara. “Perkenalkan, Aku Jung Krystal, teman Sehun.” Karena untuk mengenal seseorang lebih jauh, kau harus lebih dulu mengetahui namanya.

“Aku Im Yoona. Senang bertemu denganmu, Krystal-ssi.

“Baiklah, kau pasti tahu apa tujuanku datang ke sini. Sebenarnya, aku sangat ingin membalas jasamu waktu itu. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku membalasnya.”

Yoona mengetukkan jari telunjuknya di atas meja, wajahnya seperti terlihat berpikir. Namun, ia langsung terkekeh. “Kau tidak perlu membalas apa – apa. Kita ini makhluk sosial, Sehun-ssi.

Di tengah – tengah percakapan mereka, Yoon Mi datang dan duduk dipangkuan Yoona. Wajar saja, ia masih sangat kecil. “Berikan salammu pada kakak – kakak ini.”

Ia pun membungkuk dan mengucapkan salam. “Annyeong hasimnika. Im Yoon Mi imnida.

Krystal mengusap rambut panjang adik Yoona ini. Akan tetapi, ponselnya bergetar. Ia mengambilnya dan melihat pesan dari siapa itu.

“Sehun-ah, sepertinya kita harus kembali.” Sebenarnya, Sehun berat jika harus meninggalkan tempat Yoona secepat ini. Terlebih dia tidak membawa apapun saat datang ke sini. Tapi profesinya memaksanya untuk kembali ke rumah sakit, ia dan Krystal berdiri.

“Maafkan aku.” Yoona mengangguk dan mengiyakan. “Tak apa, aku tahu kau sibuk.”

“Aku akan kembali lagi nanti malam, kalau begitu aku pergi dulu, Im Yoona-ssi.

Semenjak saat itu, Yoona dan Sehun menjadi lebih dekat. Luhan dan Krystal terkadang juga bergabung ikut menikmati kebersamaan yang tercipta. Namun kali ini, mungkin hanya akan ada Sehun dan Yoona dibalkon depan losmen Yoona itu.

“Kenapa Krystal tidak ikut? Aku ingin melihat tingkah bodohnya.” Sehun meletakkan minuman kaleng soda ke atas meja. “Entahlah, sepertinya dia sibuk. Bagaimana dengan Luhan?”

“Dia ada perlu dengan temannya.” Sehun mengangguk. “Baiklah, kalau begitu cepat panggil Yoon Mi ke sini.” Sehun menggoyangkan gitar ditangan kirinya. “Aku membawa gitar.”

“Yoon Mi! Ayo ke sini, Sehun oppa datang!” Yoon Mi langsung keluar dan berlari menuju Sehun. “Apa kita akan bermain gitar lagi?!” Yoon Mi bertanya antusias dan dijawab dengan anggukan Sehun beserta senyum manisnya.

“Ekhm.” Sehun berdehem, sedikit pemanasan untuk pita suaranya.

Jari jemarinya mulai memetik senar gitar itu. “Aha! Listen girl. My first love story.

Yoona langsung tertawa lebar begitu mendengar lagu apa yang akan dibawakan Sehun. Apakah seorang dokter juga bisa menyukai musik yang dibawakan Seo nyeo shi dae itu? Aish, luar biasa.

My angel and my girls, my sunshine. Oh! Oh! Let’s go.Yoon Mi mengacungkan jarinya ke atas, sebuah pertunjukan akan dimulai. Dan dengan sigapnya, Yoona langsung berdiri dan memeragakan tarian dari lagu itu.

Yoon Mi terus tertawa terbahak – bahak melihat kakaknya dengan antusiasnya menggerakkan setiap senti badannya, padahal kan lagu ini dibawakan secara acoustic.

Neomu banjjak banjjak nooni booshuh no no no oh oh.

Yoona mengajak Sehun berdiri sehingga ia tidak bermain gitar lagi, diikuti Yoon Mi yang terus mengikuti gerakan keduanya.

Neomu kkamjjak kkamjjak nolla naneun oh oh oh oh oh.”

“Neomu jjarit jjarit momi ddeulyeoh gee gee gee gee gee Oh juhjeun nunbit oh yeah~ oh jeoeun hyanggee oh yeah yeah yeah~”

Yoona, Sehun dan Yoon Mi terduduk dibawah lantai. Semuanya tertawa bahagia, bahkan suara mereka itu sampai mengganggu Shin ahjumma dan yang lainnya. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur.

“Apa kau senang, Yoon Mi­-ah?” Yoon Mi mengangguk dengan semangat. Sedangkan kakaknya, ia masih berusaha mengatur nafasnya agar normal kembali.

“Sepertinya kau sering menari seperti itu. Gerakanmu luar biasa.” Puji Sehun.

“Tidak juga. Lagu itu populer saat aku SMA.”

Setelah tawa itu berhenti, Sehun mengambil minuman kaleng yang dibawanya dan meneguknya perlahan. “Ah ya, sebenarnya aku penasaran dengan hal ini. Apa kedua orang tuamu berada di Korea?”

Yoona mengalihkan pandangannya, ia mengambil minuman kaleng yang sama sebelum menjawab pertanyaan Sehun. “Ibuku meninggal saat melahirkan Yoon Mi. Dan ayahku entah kemana, kami ditinggalkan saat Yoon Mi lahir” Kemudian, Yoona meneguk minumannya dengan kasar.

Sehun sedikit merasa bersalah menanyakan hal itu pada Yoona, ia hanya bisa meng-oh-kan apa yang Yoona jelaskan. “Apa kau tidak penasaran dengan keluargaku?”

Yoona menggeleng dengan cepat. “Kau pasti berasal dari kalangan atas, dan biasanya orang tua mereka sedang berada diluar negeri untuk mengurus pekerjaannya. Apa tebakanku salah?”

“Salah.” Yoona langsung memalingkan kepalanya pada Sehun. “Kenapa bisa salah?” Tanyanya tak percaya.

“Hidupku tidak sesempurna itu, nona.” Sehun menjulurkan lidahnya. “Ayahku meninggal karena kecelakaan pesawat, dan semenjak saat itu juga ibuku masuk rumah sakit jiwa. Ia frustasi dengan apa yang telah terjadi ketika itu.”

Yoona memegang tengkuknya, ternyata terbakannya melenceng sangat jauh. “Tapi setidaknya, kau lebih beruntung dari pada aku. Ibumu masih bisa disembuhkan dan kau bisa menjalani hidup yang serba kecukupan.”

“Ya, sepertinya memang begitu.”

Untuk beberapa saat, atmosfernya menjadi berbeda. Lebih hening dan lebih terkendali. Untuk pertama kalinya, Sehun dan Yoona membuka lebar pikirannya masing – masing. Apalagi menceritakan masa lalu yang bisa dianggap kelam.

Eonni.

“Kenapa, sayang?”

Yoon Mi memegang pinggangnya. “Pinggangku sakit.” Yoona melihat pinggang Yoon Mi dan mengusapnya. “Sehun-ah, gejala apa ini?”

Sehun berpikir, sebenarnya tidak ada kesimpulan pasti jika hanya ada gejala seperti ini. “Mungkin dia hanya kelelahan. Yoon Mi pasti kurang tidur.”

Yoona membenarkan perkataan Sehun. “Yoon Mi memang tidak bisa tidur beberapa malam terakhir. Mungkin karena flu yang menyerangnya.”

“Besok aku akan membawa obat tidur dan obat influenza. Tenanglah, sistem imunnya pasti sedang melemah.” Yoona lega mendengar penjelasan Sehun. Karena dia seorang dokter, setidaknya Yoona tahu tidak terjadi sesuatu pada adiknya.

“Kalau begitu, aku pulang dulu. Besok aku akan mengantarmu ke universitasmu.” Yoona mengangguk dan berdiri mengantarkan Sehun.

“Luhan!” Krystal berteriak dan melambaikan tangannya pada pria yang mengenakan kemeja dan jeans hitam itu. Krystal menghampirinya. “Kau sedang apa di sini?”

“Aku baru saja meminjam buku untuk tugas kuliahku.” Luhan menepuk tasnya yang tentu saja ada beberapa buku di sana. “Lalu, apa yang kau lakukan? Tidak biasanya aku melihat seorang dokter berjalan tengah malam dipinggir jalan.”

Krystal tersenyum. “Mobilku mogok. Jadi, aku tinggalkan bersama montir di sana.” Krystal menunjuk mobilnya yang terparkir beberapa meter darinya.

Luhan memegang tangan Krystal. “Aku antar kau pulang.” Belum tepat satu langkah keduanya berjalan, Krystal menahannya. “Kau akan pulang larut malam jika mengantarku pulang terlebih dulu.”

Namun Luhan tetap bersikeras, ia mengerahkan sedikit tenaganya untuk menarik Krystal, tapi tidak meninggalkan kesan yang kasar. “Apa kau tahu? Aku dan Yoona menemukan Sehun pertama kali sedang dihajar oleh preman – preman jalanan.”

“Aku tahu. Tapi kan dia sedang mabuk saat itu.”

Luhan menghentikan langkahnya. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?”

Krystal mengerutkan keningnya. “Sesuatu? Apa maksudmu? Apa kau ingin mengatakan bahwa bisa saja aku kehilangan barang – barangku? Atau kehilangan kehormatanku? Atau yang paling buruk adalah kehilangan nyawaku?” Krystal meremehkan.

“Kita berada diabad 21, banyak sekali gadget dan kau bisa menghubungi siapa pun dengan mudah. Lagipula suasananya masih sangat ramai.”

Luhan menyipitkan matanya, perempuan ini tidak punya rasa takut sama sekali. Mirip dengan Yoona. “Apa kau tidak takut dengan hantu?”

Begitu kata ‘hantu’ disebut, raut wajah Krystal langsung berubah dan Luhan sadar akan hal itu. Keringat dingin meluncur bebas melalu pelipisnya, ia meneguk salivanya. Sebenarnya Luhan ingin sekali tertawa.

Luhan mengisyaratkan Krystal agar mendekatkan telinganya pada Luhan. “Kau bisa bertemu yeoja yaragi.” Bisiknya, dari suaranya saja sangat tampak bahwa Luhan menambah kesan mistis.

“AAAAA!” Krystal langsung berteriak seketika.

“Ayo cepat pergi. Aku tidak suka tempat gelap.” Kali ini, Krystal yang menarik Luhan bahkan menyeretnya dengan langkah yang terbilang begitu cepat. Bagaimana bisa seorang dokter takut akan keberadaan makhluk yang tidak benar adanya? Aneh.

Sehun dan Yoona keluar dari gedung yang cukup besar dan di kelilingi berbagai macam orang yang terganggu jiwanya. Ya, mereka berdua mengunjungi Ibu Sehun. Sehun merasa Yoona harus diperkenalkan pada ibunya.

“Kelihatannya ibuku menyukaimu.” Yoona memamerkan rentetan giginya. “Semoga saja.” Sehun membukakan pintu mobil untuk Yoona. Lalu ia berlari dan ikut memasuki mobil juga.

“Kita harus cepat menuju lapang dekat sini.” Luhan bersuara, ia duduk dikursi belakang. “Ya, aku ingin diajari bela diri supaya bisa berjalan sendirian apabila malam tiba.” Lanjut Krystal.

“Keinginan yang aneh.” Celetuk Luhan. Krystal mencubit perut Luhan keras, dan tentu saja ringisan sakit dari yang dicubit terdengar begitu menggema.

Yoona menoleh pada kedua sahabatnya, sedangkan Sehun sudah menyalakan dan menjalankan mobilnya. “Sepertinya aku tidak bisa. Yoon Mi semakin parah sakitnya.”

“Apa dia tidak kunjung membaik?” Tanya Sehun.

Yoona menggeleng, tersirat sorot mata khawatir yang jelas dari bola matanya. “Kau bawa saja dia ke tempat kerjaku” Ucap Krystal. “Dia akan diperiksa dengan baik di sana.”

Luhan memegang tangan Yoona, mata Krystal langsung mengekori tangan Luhan yang bersentuhan dengan Yoona. “Aku akan mengantarmu dan Yoon Mi ke rumah sakit besok. Tenanglah, dokter Oh dan dokter Jung ini pasti bisa memeriksanya.”

Yoona mengangguk, tangannya masih dipegang dan bahkan digenggam oleh Luhan. Sehun tidak menyadari hal itu karena ia terlalu fokus menyetir, tapi Krystal mengetahuinya. Ia melepas genggaman Luhan dan sebaliknya, ia yang menggenggam tangan Yoona.

“Benar kata Luhan. Aku dan Sehun sendiri yang akan memeriksanya.”

“Baiklah. Aku mempercayakannya pada kalian.”

Setelah mengantarkan Yoona, ketiganya menunggu diluar. Sehun sempat memeriksa Yoon Mi lewat pernapasannya, tapi sepertinya itu bukan pneumotoraks seperti yang ia duga. Bagaimana menjelaskannya, ya? Seperti ada masalah dengan jantungnya.

“Luhan-ah.” Krystal memanggil Luhan. “Kau mau mengajariku bagaimana menepis serangan lawan dan menjatuhkannya?”

Luhan menatap kosong ke depan, sepertinya suara Krystal tidak berhasil memasuki pikirannya. Yoon Mi telah menghabiskan semua tempat diotak Luhan. “Luhan?” Dan Luhan tetap tak merespon.

“Luhan-ah!” Krystal menaikkan nada suaranya dan menggoncang tubuh Luhan. “Ah, maaf. Ada apa Krystal?”

“Tadi aku bertanya cara bela diri. Kau malah melamun.” Luhan menganggukkan kepalanya dan berdiri diikuti Krystal. “Kita akan mempelajari hal dasar dulu.”

Krystal mengangguk. “Pertama, kau harus menjaga keseimbangan dan stabilitas setiap bagian tubuhmu. Karena saat kau menyerang, kau harus melakukannya dengan cepat. Kau juga harus mengantisipasi lawan yang bisa menyerang kapan saja. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat.”

Luhan mengambil tangan Krystal. “Sebagai contoh, kau menonjokku seperti ini. Kau harus segera menahannya dan membalikkan serangan. Bertumpulah pada kuda – kuda dan kekuatan kakimu. Pernapasanmu juga harus kau atur.”

Luhan mengangkat kakinya dan mengait kaki Krystal. “Kau bisa membantingnya.” Pada saat Luhan ingin menjatuhkan Krystal, pintu itu terbuka. Membuat dirinya kehilangan fokus dan tak sengaja membuat Krystal jatuh ke pelukannya.

Sehun langsung berdiri. Yoona melihat Krystal dan Luhan dalam keadaan yang seperti itu, sedikit membuatnya merasa canggung. Dengan segera Luhan membuat Krystal berdiri.

“Bagaimana keadaan Yoon Mi?” Luhan bertanya sangat sarkastik.

“Aku akan menjaganya untuk sekarang. Seperti apa yang kau ucapkan tadi, Lu. Aku akan membawanya ke rumah sakit besok bersamamu.”

“Ya, aku akan mengantarmu.”

Yoona tersenyum dan memeluk satu persatu sahabatnya. “Kalau begitu, kalian pulanglah. Sepertinya malam akan tiba sebentar lagi.” Sehun, Luhan dan Krystal mengangguk. “Jaga Yoon Mi, ya.”

21.33 PM, Australia standard time.

Yoona mendobrak pintu losmennya. Dipangkuannya, Yoon Mi menutup matanya dan wajahnya pucat pasi. Ia berlari menuruni tangga, tubuh Yoon Mi dingin sekali.

“LUHAN!” Yoona berulang kali berteriak di depan pintu kamar Luhan. “LUHAN! BUKA PINTUNYA!” Luhan keluar dengan wajahnya yang sepertinya sudah berada di alam mimpi.

“Lu, tolong aku. Yoon Mi tidak bisa aku bangunkan.” Yoona menangis dan keadaannya sangat berantakan. “Apa yang harus ku lakukan?”

Luhan masuk dan mengambil jaket untuk Yoona. “Kau pakailah itu.” Luhan mengambil alih Yoon Mi dari tangan Yoona. Keduanya berlari sekuat yang mereka bisa. Rumah sakit yang terdekat dari sini hanyalah tempat dimana Sehun dan Krystal bekerja.

10 menit mereka berlari dan akhirnya sampai. Di sana, banyak sekali ambulance. Sepertinya baru saja terjadi kecelakaan. Keadaan ini membuat Yoona dan Luhan semakin bingung, sampai mereka melihat keberadaan Sehun.

“Itu Sehun!” Ucap Yoona setengah berteriak.

Dan tentu saja mereka menghampirinya. “Sehun-ah! Tolong aku.” Sehun yang tengah disibukkan dengan pasien kecelakaan melihat Yoona. “Apa yang kalian berdua lakukan di sini?”

“Yoon Mi.” Ucapnya, tenggorokannya tercekat. Sehun mengisyaratkan Luhan untuk tetap menunggu, namun pada saat ia pergi, Yoona menahannya.

“Ku mohon, tolong aku. Aku tidak bisa kehilangan Yoon Mi.” Dengan tatapan nanar dan air mata yang bahkan telah membanjiri hampir seluruh wajahnya, Yoona memohon pada Sehun. Ia mengeratkan cengkaramannya pada lengan Sehun. “Selamatkan dia, dokter Oh.”

Yoona meniup tangannya yang tampaknya sudah sangat memutih. Rambutnya benar – benar tak rapi dan terdapat banyak luka ditelapak kakinya akibat berlari tadi. Luhan dan Yoona kini tengah menyaksikan Yoon Mi yang sedang dioperasi oleh tim bedah Sehun.

“Kakimu terluka.” Ujar Luhan.

“Aku tidak apa – apa.” Bahkan rasa sakit itu tidak bisa ia rasakan sama sekali. Tetesan liquid bening itu begitu derasnya mengalir. Yoona sudah seperti mayat hidup.

Di sisi lain, Sehun berusaha menyelamatkan Yoon Mi. Ia tak menyangka jika keadaan Yoon Mi bisa separah ini. Yoon Mi mengalami infark miokardia dan ceptal rupture. Sehun harus melakukan transplantasi bypass koroner dan memperbaiki ventrikel yang pecah dalam waktu kurang dari satu jam. Jika tidak, Yoon Mi mungkin saja akan..

“Luhan-ah, bagaimana jika Yoon Mi tidak selamat?” Yoona menggigit kukunya. Ia memperkirakan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada satu – satunya saudaranya. Luhan mengangkat tangannya dan mengusap bahu Yoona. “Ia akan selamat, kau harus percaya itu.”

“Dia sempat kehilangan napas dan detak jantungnya tadi. Bagaimana bisa aku tenang?”

Kecemasan Yoona semakin meningkat saat darah yang berasal dari daerah jantung Yoon Mi menyembur ke atas. “Apa yang terjadi?” Yoona mengatakannya dengan napas yang tidak beraturan. “Apa yang kau lakukan, Sehun?!” Teriakan Yoona membuat konsentrasi Sehun semakin menurun.

Ia sempat melirik ke atas, melihat Yoona yang benar – benar sangat cemas membuat Sehun segera mengambil tindakan. “Suction.” Sehun berusaha menyedot darah yang terus keluar lewat alat ini.

“Needle holder. Forceps.” Dan perawat Eun mengambil apa yang Sehun minta. Ketenangan kembali menyelimuti hati Yoona. Sehun berhasil menjahit luka tadi dan menghentikan pendarahan yang hampir saja merendam seluruh jantung Yoon Mi.

Untuk beberapa saat, Yoona hanya mengamati Sehun memperbaiki segala kerusakan yang ada. Syukurlah, sepertinya Yoon Mi akan selamat.

Cut.” Sehun berhasil memperbaikinya.

“Tolong, pump off.

Ketika itu, tiba – tiba vitalnya langsung tidak stabil. “Krystal Jung! Ada apa?!” Bahkan Sehun membentak Krystal.

“Vitalnya benar – benar tidak stabil. Berulang kali naik turun dengan cepat.” Krystal meneteskan air matanya. Sehun semakin kesal akan hal itu. “Ini bukan saatnya menangis!”

“Berikan epinefrin, cepat! Krystal, tahan tekanan darahnya. Bagaimana saturasi oksigennya?” Sehun berusaha mengembalikan detak jantung Yoon Mi. Ia berusaha sangat keras.

“Kurang dari 50”

Sehun menggigit bibir bawahnya meski terhalang oleh masker. “Aish. Ambilkan Defibrilator.” Sehun mengambil dan memasang defibrilator di kedua sisi jantung Yoon Mi.

“Isi 30 joule, shock.” Jantung Yoon Mi masih diam. Yoona semakin panik, tubuhnya semakin gemetar.

“30 joule, shock.” Sama seperti sebelumnya, hasilnya tetap nihil.

Sehun melepas defibrilator itu dan memegang jantung Yoon Mi, ia memberikan sedikit tekanan pada jantung itu dan menggetarkannya. “Ayolah, jebal.”

“Defibrilator.” Sehun kembali menggunakan alat itu. “Isi 50 joule, shock.

“Sekali lagi!” Nada Sehun meninggi, fokusnya hampir mendekati kata buyar. Ia tidak berani melihat ke atas lagi. Ia tahu ekspresi Yoona akan mengganggunya. Perempuan itu, Sehun masih ingat wajah memelasnya saat memaksa untuk melihat sendiri proses operasi.

Nafas Sehun terengah engah, matanya tertuju pada bed side monitor. Grafiknya menunjukan hilangnya tanda – tanda kehidupan. Sehun mengendurkan pegangannya pada defibrilator.

Aku berjanji akan menyelamatkannya.

Kalimat itu terngiang dikepalanya. Kepalanya mendongak ke atas. “Mianhae.

Dari atas sana, sangat jelas terlihat Yoona yang begitu histeris. Sehun dapat melihat kehancuran dari pancaran matanya. Yoona menangis, ia meraung. “APA YANG KAU LAKUKAN, SEHUN?! YOON MI BELUM MATI!”

“Yoona, tenanglah.” Luhan berusaha menenangkan Yoona. Namun perempuan itu terus memberontak dan berlari keluar. Sehun melepas masker dan kacamata operasinya. Ia menghela nafas dalam.

“Semuanya, terima kasih.” Dan semua orang diruang operasi keluar dari sana.

Pintu operasi terbuka. Disaat semua orang keluar, Yoona memaksa masuk dan berhasil mendekati Sehun. Pandangan mereka saling bertemu dan terkunci. “Kenapa kau berhenti? Jantungnya belum kembali berdetak, Sehun.”

“Kau seorang dokter! Kembalikan detak jantungnya!” Yoona memukul dada Sehun dan terus menatap ke meja operasi. “Berikan sarung tanganmu.” Yoona mengambil paksa sarung tangan dari tangan Sehun lalu memakainya.

Tanpa pengetahuan apapun, Yoona mendekati Yoon Mi dan memasukan tangannya untuk membuat jantung itu berdetak. “Ayo, Yoon Mi sayang. Eonni tahu kau bisa.” Setetes air mata jatuh ke dalam dada Yoon Mi.

“Hentikan, Yoong.”

“Hanya kau yang ku punya. Jebal, jangan tinggalkan aku.” Tetes demi tetes air mata itu terus keluar. “Hentikan, Im Yoona!” Sehun mencoba menarik lengan Yoona, namun gadis itu menepisnya. “Minggir!”

Kelopak matanya tertutup. Yoona menghentikan pergerakannya. “Oh Sehun. Kenapa kau melakukannya? Mana janjimu padaku!”

Tubuh itu terjatuh ke lantai, Yoona terisak. Sehun menatapnya nanar, lengannya tergerak untuk memegang bahu Yoona, namun perkataan Yoona membuatnya berhenti. “Kenapa kau membiarkan dia mati?” Yoona membalikan badannya dan berdiri.

“KENAPA KAU MEMBIARKAN ADIKKU MATI?!”

Pandangan Yoona tajam dan menusuk. Air mata yang terus menerus mengaliri pipinya membuat Sehun semakin merasa bersalah. “Aku..”

“…Membencimu, Oh Sehun.”

-TO BE CONTINUED-

A/N : Sebelumnya aku minta maaf kalau ada kesalahan prosedur saat operasi dan segala yang berkaitan dengan bidang kedokteran. Sebenernya sih, agak ragu sama FF ini tapi gapapalah aku kirim aja hehe. Terima kasih sudah membacaaa❤ Tunggu part keduanya ya. leave a comment juseyo.

38 thoughts on “(Freelance) Twoshoot : In Melbourne(1 of 2)

  1. Pertama tama aku mau minta maaf dulu ya thor
    Karena baru komen skrg😦
    Bukannya sengaja, tapi ini gara2 hp ku disita hiks T.T
    Jadi ga sempet komen hiks😦
    Maaf yaaa
    Btw ffnya keren bgt😀
    Ceritanya bagus..
    Tapi masa yoona benci sama sehun gara2 ga bisa selametin yoon mi?
    Kok aneh gitu hehehe
    Tp overall bagus thor😀

  2. Waaaaaaaa
    Dr. Oh I love you
    Kasian banget ya yoona eonni, aku harap dia ga benci beneran sama sehunnie. Sehunnie cepet2 ungkapin perasaan deh
    Next soon~

  3. Mwo? Yahh, Yoona jgn benci dong ma Sehun😦
    pdhl Sehun ud bkrja kras thuc dlm operasi Yoon Min.
    Hufft.. Jd kshan jg ma sehun. Truz kyakx kristal ad prasaan suka thuc ma Luhan, n smoga jg Luhan tdk menyukai yoona tp suka ma kristal😀
    stidaknya YoonHun bsa brsatu.
    Neomu joha
    Chap 2 nya d.tnggu yah.
    Fighting~
    Keep writting thor!

  4. Astga
    Kasihan bnget yoona eoni
    Di tgl keluarga satu”nya
    Tpi knpa sehun d salhin
    Ksihan jg lht sehun
    Apa kristal suka dgn luhan
    Pnsaran
    D tnggu chap slnjtnya:D

  5. ksian bget yoona eonni tinggal sbatang kara.. sehun oppa jgan nyerah ya buat dktin yoona eonni.. dtggu ya chap slnjutnya..

  6. Tegang bacanya pas bagian operasi.
    Yoona knp jd nyalahin sehun gitu.. kesian sehunnya udah berusah..

    Next part ditungguuuuuuu

  7. Yoona jadi benci sama sehun, semakin penasaran thor
    Aku harap happy ending yah thor
    Keep writing jangan lama lama

  8. thor? keren sekaliiiiiiii<3
    cara nulis ceritanya aku suka bangettttt. teges trus bikin yg baca seneng mbacanya hihihi
    lanjutkan!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s