[Freelance] In Your Eyes (Chapter 1)

in-your-eyes

IN YOUR EYES

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol, EXO’s Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered [1/?] || Rating: G || Note: Already posted at EXOShiDae Fanfiction and our personal blog.

.

Ini pertama kalinya bagi Park Chanyeol merasa begitu aneh setelah bertemu dengan seorang gadis yang tatapan matanya membuatnya tak henti memikirkan gadis itu meski barang sejenak.

.

 

Argh.”

Chanyeol mengacak rambutnya lantaran frustasi sembari sekali lagi menendang ban motornya dengan kesal. Hanya tinggal lima belas menit tersisa sebelum gerbang sekolahnya tertutup dan ia begitu enggan jika harus mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh putaran. Oh, itu melelahkan.

Menghubungi supir ibunya pun rasanya percuma saja, ia akan tetap terlambat. Chanyeol mengedarkan pandangannya hingga berhenti ketika sebuah halte bus tertangkap oleh pupil matanya. Meski sedikit ragu, Chanyeol tetap membawa tungkainya—setengah berlari—menuju halte setelah ia yakin motornya akan baik-baik saja ditinggalkan disana.

Perasaan aneh menghinggapi Chanyeol lekas setelah ia sampai di halte. Jika dihitung-hitung, sudah hampir lima tahun berlalu sejak terakhir kali lelaki itu menaiki bus. Rasanya asing. Jadi wajar saja jika yang Chanyeol lakukan saat ini hanyalah berdiri mematung sembari menunggu bus biru berkode empat satu dengan tidak sabar.

Sementara menunggu bus yang entah kenapa belum datang juga, Chanyeol melirik ke sekitar; halte itu tak terlalu disesaki banyak orang, hanya beberapa pelajar dan beberapa orang paruh baya yang entah mau pergi kemana di pagi-pagi seperti ini. Chanyeol bisa melihat diujung halte seorang pria paruh baya tengah menelepon seseorang sembari sesekali melirik jam rolex hitam dipergelangan tangannya, tidak jauh darinya seorang anak sekolah tingkat junior tengah bersenandung kecil dengan earphone yang terpasang ditelinganya, kemudian ada juga seorang nenek tua yang tampak berusaha membaca sesuatu dikoran, dan ada gadis berambut panjang yang omong-omong kini juga tengah menatap Chanyeol dengan malu-malu dan segera mengalihkan pandangannya ketika Chanyeol balas menatapnya.

Chanyeol ikut-ikutan mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Tadi itu ketika dua pasang manik mereka bersirobok, Chanyeol tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah dengan degupan jantungnya ditambah lagi pipinya yang terasa panas padahal udara disekitarnya dalam kadar normal. Oh, apa yang terjadi padaku?

Sembari berusaha melenyapkan perasaan aneh dan kembali memfokuskan lagi pikirannya, nyaris per delapan bagian dari otaknya merasa penasaran. Entah kenapa. Dan akhirnya, Chanyeol tak bisa mengelak ketika ia kini diam-diam melirik ke arah gadis malu-malu tadi.

Tapi tunggu.

“Kemana gadis itu?” Chanyeol mencari ke sekeliling dan ternyata bus yang sedari tadi ia tunggu-tunggu telah datang. Setelah berspekulasi bahwa gadis itu mungkin telah masuk ke dalam bus, Chanyeol lekas menyusul masuk dan segera menempatkan diri di satu-satunya kursi kosong yang tersisa sebelum pria bertubuh gempal dibelakangnya mendahuluinya.

Detik selanjutnya, Chanyeol mengambil sebuah ponsel dari saku celananya. Mengetikkan pesan singkat pada Kang Ahjussi—supir ibunya—untuk menjemput motor kesayangannya yang mungkin sekarang tengah kesepian di ujung jalan tadi.

Chanyeol kembali memasukkan ponselnya ke saku celana; menyapukan pandangan ke seluruh penjuru bus dan bergeming ketika menyadari seseorang yang duduk disampingnya adalah gadis malu-malu tadi.

“Oh.”

Inginnya, Chanyeol bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan hanya menyandarkan punggungnya disandaran kursi hingga bus itu membawanya ke halte dekat sekolahnya. Namun, dengan gadis itu duduk di sampingnya, Chanyeol tak bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Jadi, jangan salahkan dirinya jika kini ia mencuri-curi pandang pada gadis itu yang baru Chanyeol sadari dia begitu cantik jika dilihat dari dekat. Rambut panjangnya yang berwarna coklat pekat terlihat berkilau karena pantulan sinar matahari pagi. Kulit wajahnya seputih susu dan terlihat begitu lembut jika disentuh. Kelopak matanya juga indah. Dia gadis yang sempurna, batin Chanyeol takjub.

Detik setelah itu, gadis itu berbalik menatap Chanyeol. Pandangan mereka bertemu dan sekali lagi Chanyeol tidak bisa untuk mengalihkan pandangannya begitu saja. Mata gadis itu entah kenapa membuat dirinya seperti tertarik kedalamnya.

Chanyeol mengerjap ketika gadis disampingnya itu menundukkan kepala padanya, dan dengan sedikit salah tingkah Chanyeol juga melakukan hal yang sama lantas langsung mengalihkan pandangan ke sudut lain.

Ada apa denganku? katanya lagi dalam hati ketika jantungnya terasa berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia tidak pernah merasa segugup itu sebelumnya hanya karena duduk disamping gadis cantik. Jadi, kenapa?

Chanyeol melirik gadis itu dengan ekor matanya, beruntungnya ia karena gadis itu sudah tidak menatapnya lagi. Gadis itu menerawang ke jendela kaca bus, tatapannya terlihat begitu damai. Dan sekarang, Chanyeol dengan terang-terangan memandangi gadis itu seperti orang idiot.

Suara operator bus menyadarkan Chanyeol dari memandangi paras damai gadis itu dan membuatnya beringsut. Di depan seharusnya adalah halte dimana Chanyeol turun. Oh shit, kenapa cepat sekali? Chanyeol mendesah, meski dengan berat hati ia berdiri lalu segera bersiap turun dari bus. Sebelumnya Chanyeol sempat merasakan tatapan gadis itu di punggungnya. Setelah kakinya menginjak trotoar jalan dan bus mulai menjauh pergi. Chanyeol amat berharap.

Gadis itu, aku harap dia akan melihatku lagi. Ah, kurasa bukan begitu! Aku harap aku akan melihatnya lagi.

Chanyeol tidak tahu, hari yang lima belas menit lalu menurutnya adalah hari sial baginya itu telah berubah menjadi hari yang tak akan bisa Chanyeol lupakan begitu saja.

.

Yeah! Apakah Park Chanyeol menjadi seorang penguntit sekarang?

Gadis yang Chanyeol temui beberapa hari lalu di halte bus itu telah membuatnya candu, candu untuk selalu melihat tatapannya. Bagaimana tidak? Sejak hari pertama mereka bertemu saat itu, Chanyeol jadi naik bus setiap hari. Meski begitu, mereka tidak pernah terlibat dalam suatu pembicaraan dan hanya saling menatap diam-diam.

Hey, siapa namamu? Rasanya lidah Chanyeol selalu gatal—ingin sekali melontarkan pertanyaan itu padanya. Tapi kenyataannya, lelaki itu selalu saja bungkam saat ia telah berada didekatnya. Park Chanyeol, terlalu gugup—bahkan hanya untuk sekedar mengatakan hai.

Ini sudah terhitung satu minggu Chanyeol berangkat dan pulang sekolah dengan menaiki bus. Anehnya, ia tidak pernah bertemu dengan gadis pujaannya itu saat jam pulang sekolah. Pertanyaan-pertanyaan seperti: apa sekolahku dan sekolahnya tidak memiliki jam pulang yang sama? Apa dia tidak pulang naik bus? adalah salah satu dari rentetan pertanyaan Chanyeol tentang gadis itu yang hanya bisa bersemayam di pikirannya tanpa tahu kapan akan terlontar dari mulutnya.

Sekarang hari sabtu; seperti biasanya, Chanyeol terlampau bersemangat berjalan menuju halte. Lelaki itu berhenti saat sebuah tangan menepuk bahunya dan mendapati sosok Baekhyun tahu-tahu sudah berdiri dibelakangnya. Alisnya berjinjit cukup tinggi, untuk apa kawannya itu ada disana?

“Apa yang kau lakukan disini, Baek?”

Baekhyun mengulum senyum, lelaki itu terkekeh ringan sebelum berkata, “Aku mengikutimu.” Lantas mensejajarkan langkahnya dengan Chanyeol dan mereka mulai merajut langkah santai menuju halte bus yang hanya tinggal berjarak beberapa meter lagi.

Kerutan didahi Chanyeol bertambah. “Mengikutiku?”

Baekhyun mengangguk dan kembali tersenyum. “Tadi aku mampir kerumahmu. Dan Ibumu bilang kau sudah berangkat ke halte. Jadi, aku menyusulmu.” Jelasnya yang cukup untuk menghilangkan satu pertanyaan kecil yang mengganggu pikiran Chanyeol. Lelaki itu menganggukan kepala saja lantaran tak tahu harus berkata apa lagi. Mereka berbincang ringan sembari menunggu bus datang—meski begitu, Chanyeol tak pernah berhenti untuk mencuri pandang kearah seorang gadis, siapa lagi kalau bukan gadis malu-malu itu.

Gadis itu baru saja sampai dihalte, rambut indahnya yang panjang diikat kuda hari ini. Seragamnya tetap rapi seperti biasa. Tapi, Chanyeol merasa ada yang aneh. Gadis itu terlihat sedih, tatapan matanya sendu.

Ada apa? Apa yang terjadi padanya?, batinnya bertanya khawatir.

“Hey bung!”

Chanyeol berjingkat kaget ketika Baekhyun sekali lagi menepuk bahunya. “Apa yang kau lihat?” Tanyanya penasaran lalu mengikuti arah pandangan Chanyeol kearah gadis itu. Sementara Chanyeol tertawa dibuat-buat berusaha mengalihkan pandangan Baekhyun. “Ah tidak, tidak ada.” Jawabnya sedikit salah tingkah lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Siapa gadis itu? Kekasihmu?” Tanya Baekhyun tanpa berpikir dengan cengiran bodohnya yang khas. Dan tentu saja membuat Chanyeol terlonjak, takut gadis itu mendengarnya.

“A-apa maksudmu Baek, dia bukan siapa-siapa.” Chanyeol menjawab sekenanya, sembari berusaha membuang muka dari Baekhyun.

Baru saja Baekhyun akan membuka mulutnya, bus yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Seperti biasanya Chanyeol akan menunggu gadis itu masuk ke dalam bus terlebih dahulu, kemudian menyusul dengan Baekhyun yang mengekori di belakangnya.

Gadis itu duduk di jajaran kursi nomor dua dibelakang kemudi, disebelahnya duduk seorang wanita paruh baya yang terlihat baik hati. Baekhyun terlihat santai, lalu menyeret Chanyeol duduk di belakang kursi gadis itu.

“Itu seragam Hanyoung High School kan?” Baekhyun berbisik sembari menyikut pinggang Chanyeol sepersekian detik setelah bus yang mereka tumpangi mulai berjalan. Chanyeol menatap Baekhyun tak mengerti. “Apa?”

“Gadis itu, gadis yang tadi kau perhatikan! Astaga benar, itu seragam Hanyoung!” Ujar Baekhyun, masih setengah berbisik. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga seperti orang tolol.

“H-Hanyoung?” Chanyeol ikut-ikutan terbelalak lantaran kaget.

“Iya, aku yakin sekali! Itu seragam Hanyoung High School.”

“Jadi dia murid Hanyoung?”

“Sepertinya begitu, astaga bukankah sangat sulit masuk kesana.” Baekhyun menggeleng tanda tidak percaya. Chanyeol juga sama—bahkan ia lebih terkejut dibandingkan Baekhyun.

Whoa, keren!” Seru Baekhyun bersemangat.

Entah memang suara mereka yang telalu keras, atau pendengaran gadis itu yang terlampau tajam. Yang jelas, kini gadis itu menoleh dan menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian. Yang membuat kedua lelaki itu sontak diam seribu bahasa seakan terperangkap oleh tatapannya. Gadis itu menatap mereka selama beberapa detik, lalu kembali menatap ke depan. Chanyeol yang semula di tatapnya hanya terdiam seperti patung. Ia merasa jadi seperti orang bodoh.

Ugh, ini memalukan. Chanyeol menutup matanya—memikirkan apa yang mungkin dipikirkan gadis itu tentang dirinya karena terang-terangan membicarakannya.

.

Yoona sebenarnya sangat malas pergi ke sekolah hari itu. Selain karena hari itu adalah tepat hari kematian ayahnya, Yoona juga merasa sangat lelah karena kemarin kafe tempatnya bekerja begitu ramai pengunjung. Ia merasa tidak bertenaga dan hanya menyeret kakinya menuju halte dengan perlahan.

“Oh!” Yoona menghentikan langkahnya ketika kedua maniknya bersirobok dengan lelaki yang belakangan selalu ia lihat di halte itu. Lelaki yang selalu kedapatan tengah memperhatikannya dan sedikit banyak membuat Yoona canggung—sedikit malu jika boleh dikata.

Yoona menggeleng pelan; berusaha menghilangkan pemikiran tentang lelaki itu. Sejak ia tahu lelaki itu sering kali kedapatan tengah memperhatikannya, Yoona juga tak bisa pungkiri jika dirinya juga selalu memperhatikannya diam-diam.

Dan sepertinya dia tidak sendirian kali ini; terlihat dari bagaimana ia dan seorang lelaki di sampingnya mengobrol dengan akrab dan juga seragam yang mereka kenakan itu sama. Yang Yoona tahu, itu adalah seragam Seoul High School. Bicara tentang sekolah itu, pada awalnya Yoona berniat akan masuk kesana. Namun karena Hanyoung High School menerima pengajuan beasiswanya, Yoona jadi bersekolah disana.

Bus sudah datang, Yoona berjalan melewati lelaki itu lalu masuk kedalam bus. Ia langsung mendudukkan diri di satu kursi kosong di sebelah seorang Ahjumma. Dan ia tidak akan menyangka jika lelaki itu dan temannya akan duduk dibelakangnya.

Susah payah, Yoona menahan lehernya untuk tidak menoleh.

Astaga, dan ada apa denganku? Im Yoona! Kau tidak mengenalnya, dan dia bukan siapa- siapa, jadi berhenti memikirkannya!

“Itu seragam Hanyoung High School kan?.” Sebuah suara pelan terdengar berasal dari kursi belakang. Setelah seminggu bertemu dengannya, Yoona sedikit banyak tahu jika itu tadi bukan suara si lelaki itu, mungkin suara temannya.

“Apa?.” Nah, untuk yang satu ini Yoona yakin adalah suara pria itu.

“Gadis itu, gadis yang tadi kau perhatikan! Astaga benar, itu seragam Hanyoung.” Jawab suara yang Yoona yakini adalah suara temannya itu.

Tunggu. Yoona tertegun sejenak. Apa tadi katanya?

Gadis itu, gadis yang tadi kau perhatikan!

Harusnya Yoona bersikap biasa saja—toh ia sudah tahu jika belakangan lelaki itu selalu memperhatikannya. Tapi, entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Seolah sekarang kepalanya hanya dipenuhi dengan kalimat lelaki itu tadi.

Yoona menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan suara teman lelaki itu dari kepalanya.

“H-Hanyoung?” Suara bass lelaki itu kembali terdengar. Ah, Yoona tahu perbedaannya sekarang. Suara lelaki itu bass, dan suara teman lelaki itu lebih terdengar seperti tenor.

“Iya, aku yakin sekali! Itu seragam Hanyoung High School!”

“Jadi dia murid Hanyoung?.”

“Sepertinya begitu, astaga bukankah sangat sulit masuk kesana.” Suara tenor teman lelaki itu kini lebih keras. “Whoa, keren!” Tambah suara teman pria itu lagi.

Yoona tidak tahan untuk tidak menoleh. Dan tanpa fikir panjang ia menoleh ke belakang. Lelaki itu, dan temannya yang baru Yoona sadari memakai eyeliner itu kini terdiam. Yoona bingung akan bereaksi seperti apa. Apa dia harus marah? Tapi mereka tidak bersalah. Atau dia harus tersenyum? Tapi kenapa dia harus tersenyum?

Dan akhirnya, Yoona hanya menatap mereka beberapa detik, lalu kembali berbalik sebelum mereka menyadari wajahya yang mulai memerah.

.

Yoona baru saja tiba di rumah. Seperti biasanya, ia akan tiba pukul tujuh malam. Itu karena setelah pulang sekolah Yoona akan bekerja di Breeks Cafe hingga pukul setengah tujuh malam. Yoona bekerja sebagai pelayan, gaji nya memang tidak besar. Tapi cukup untuk membantu Ahjumma membiayai hidup mereka.

Yoona tinggal di rumah sederhana bersama Ahjumma—adik mendiang ibunya—dan juga kedua anaknya. Anak pertamanya seumuran dengan Yoona, namanya Kim Jongin. Dan adik perempuannya namanya Kim Youngran, ia masih duduk di tingkat junior sekarang.

Yoona membuka sepatunya, lalu menaruhnya di dekat pintu masuk. Ahjumma sedang menyaksikan acara televisi sembari menulis sesuatu di buku kecilnya. Disebelahnya, Youngran hanya diam merenung. Tinggal dengan mereka cukup lama, Yoona tahu; pasti ada yang tidak beres dengan gadis itu.

“Aku pulang.” Ahjumma menoleh lalu tersenyum seperti biasanya. “Oh, kau sudah pulang? Ahjumma sudah menyiapkan makan malam untukmu. Bersihkan tubuhmu dan segera makan.” Katanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku kecilnya.

Yoona mengangguk dan segera masuk ke kamarnya. Baru saja ia menaruh tasnya di meja, pintu kamar terbuka, Youngran berdiri di ambang pintu tanpa sepatah katapun. Yoona menatapnya keheranan, ia tersenyum sembari melambaikan tangan dan menyuruh Youngran masuk. Gadis itu berjalan sangat pelan lalu duduk di tepi ranjang.

“Kenapa kau menekuk wajahmu seperti itu?”

Eonni,”

“Ada apa?”

“Kau tahu kan besok hari apa?” Youngran balik bertanya. Yoona yang ditanya, mengerutkan dahinya. “Hari ini? Sabtu, lima belas Februari.”

“Dan kau tahu berapa lama aku menunggu hari itu tiba?”

Yoona hanya menggeleng, bukan tidak tahu—tapi lebih karena tidak mengerti kemana arah pembicaraan gadis itu.

“Satu tahun! Aku menunggunya selama satu tahun Eonni,” Youngran memasang wajah memelas. Dan Yoona disampingnya masih belum mengerti.

“Ada apa? Kau akan menikah?” Yoona melempar tanya asal, dan setelahnya ia menyesal melempar pertanyaan konyol itu ketika wajah Youngran malah semakin kusut.

Eonni, aku serius.”

“Habisnya aku tidak mengerti apa yang kau maksud, memangnya besok ada apa?”

“Besok, seharusnya, besok aku pergi ke konser Super Junior.”

“Oh lalu? Apa itu yang membuatmu murung?

“Bukan!” Youngran membantah dengan suara melengkingnya. Meski pertanyaan Yoona itu tidak sepenuhya salah. “Aku bahkan sudah menabung uangku dari jauh-jauh hari untuk membeli tiketnya.” Katanya menambahkan, suaranya melemah kembali.

“Kau sudah punya tiketnya?” Tanya Yoona pada Youngran yang kini telah duduk di lantai bersamanya. Youngran hanya mengangguk mengiyakan. “Lalu apa lagi? Kau tinggal pergi.”

Youngran menundukkan kepalanya, ia meremas pelan ujung sweter yang ia kenakan. “Eomma tidak mengizinkanku.”

“Eh?”

“Dia bilang aku tidak boleh pergi jika tidak ada teman yang menemaniku.” Lanjutnya lagi, Youngran merebahkan badannya di lantai lalu menerawang pada langit-langit kamar.

“Lalu kemana teman mu yang lain?”

“Mereka tidak pergi.” Jawabnya tak bersemangat.

“Jadi kau berencana pergi sendirian?” Youngran hanya mengangguk mengiyakan.

Yoona menepuk jidatnya pelan. “Ya ampun, jelas saja kau tidak diberi izin.” Ia mulai menyibukkan diri dengan barang-barang di dalam tasnya. Meski begitu, Yoona bisa mendengar Youngran berdecak lalu bergumam pelan, “Oh ayolah aku bukan anak kecil lagi.”

Yoona tidak tahu apa yang harus ia katakan jadi yang ia hanya diam saja.

Eonni?

“Kenapa?”

“Bantu aku ya?” Rayunya manja. Yoona menaruh buku-buku yang sebelumnya ia pegang. Lalu menoleh melihat Youngran yang berbinar.

“Caranya?”

“Bujuk Eomma, dia pasti akan mendengarkanmu.” Kata Youngran optimis. Sedangkan Yoona, menghela napas tak yakin.

“Ayolah Eonni, tabunganku akan sia-sia jika seperti ini.” Rengek Youngran, ia menendang-nendang kakinya pada angin sembari menggoyangkan tubuhnya.

Yoona menatapnya kasihan. Ia ragu sejenak. Namun ketika tangan Youngran mulai bergelayutan ditangannya, Yoona hanya bisa membuang napas panjang, sekuat apapun ia menolak, Youngran juga tidak akan menyerah. Alhasil, Yoona hanya mengangguk lalu berjalan keluar kamar, menghampiri Ahjumma yang masih sibuk menulis.

Ahjummeoni.” Panggil Yoona lalu duduk disampingnya. Ahjumma menoleh lalu tersenyum padanya. Dan setiap ia melihat senyuman itu, Yoona jadi teringat ibunya.

“Kau belum makan?” Tanyanya tanpa menatapku. Aku menggeleng. “Aku masih kenyang. Youngran bilang dia—”

“Jika itu yang ingin kau bicarakan, lebih baik kau masuk kembali ke kamarmu. Aku tidak mau membahas itu.” Potong Ahjumma tanpa beralih dari bukunya.

Yoona menarik napas panjang, “Tapi Ahjummeoni, dia sudah menunggu hari besok. Dia bahkan sudah menabung uangnya untuk membeli tiket.” Jelas Yoona, tapi Ahjumma hanya menggeleng. Yoona menelan ludah, ini akan sedikit sulit. Yoona jelas tahu watak Ahjumma-nya itu sangat keras kepala, begitu juga dengan Youngran.

“Dia sudah membeli tiketnya Ahjummeoni.” Yoona mencoba membujuknya lagi.

Ahjumma mendengus, “Salahnya sendiri membeli tiket tanpa bertanya padaku.”

Yoona berpikir sejenak. Masih ragu dengan apa yang ia akan ucapkan. Yoona melirik ke arah pintu kamar, ia juga merasa kasihan pada Youngran; Yoona jelas tahu bagaimana gadis itu bersusah payah mengumpulkan uang tabungannya.

Ahjummeoni, bagaimana jika aku yang menemaninya pergi ke konser itu. Jadi kau tidak perlu cemas sesuatu akan terjadi.” Katanya sembari menatap Ahjumma dengan penuh harap.

Ahjumma menoleh dan menatap Yoona dengan kening berkerut kaget. “Apa?”

“Youngran bilang kau tidak mengizinkannya karena dia pergi sendiri kan? Nah, aku akan menemaninya besok, bagaimana?.” Yoona menjelaskan. Wanita paruh baya dihadapannya itu tampak berpikir.

“Kau punya tiketnya?”

“Tidak, aku tidak akan menonton konsernya. Aku hanya mengantarnya dan menunggunya selesai.” Yoona mencoba meyakinkannya lagi.

Ahjumma menarik napas panjang. “Jangan konyol Yoona-ya, bagaimana bisa kau diperbudak oleh anak kecil seperti itu?”

“Tidak Ahjummeoni, aku akan menunggunya di perpustakaan. Tempat konsernya kan tidak jauh dari perpustakaan Seoul.” Jawab Yoona kembali mencoba meyakinkannya.

Ahjumma terlihat berpikir lagi, dan Yoona hanya diam menunggu jawabannya. Sementara Youngran, gadis itu diam-diam menguping di celah pintu.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Besok kau harus ke café kan?.”

Yoona berpikir sejenak, ia hampir melupakan pekerjaannya. “Hm,. aku bisa mengambil shift malam.”

Ahjumma berdecak, kembali memusatkan diri pada buku kecilnya. Katanya, “Baiklah, lakukan sesuka kalian. Toh aku juga yakin gadis keras kepala itu akan nekat pergi walaupun aku melarangnya.”

.

Chanyeol benar-benar benci hari minggu. Lelaki itu memang sedikit aneh; ketika orang-orang menantikan hari libur dimana mereka bisa menepi sesaat dari kegiatan mereka sehari-hari. Chanyeol lebih memilih hari sibuk seperti biasanya. Bukan karena apa-apa, tapi karena di hari libur Chanyeol tak akan bisa melihat gadis itu. Gadis yang tak sedikitpun lenyap dari pikirannya.

Chanyeol duduk malas disofa ruang keluarga. Sungguh, baginya tidak ada satupun acara televisi yang menarik, ia bisa mati lantaran bosan—pikirnya.

Chanyeol menoleh ketika terdengar suara ricuh dari arah tangga yang ia yakini ditimbulkan oleh adiknya, Minhwa. Yang sekarang tengah berjalan cepat menuruni tangga. Chanyeol menatapnya heran, tidakkah dia pikir bahwa dia hanya punya satu nyawa? Dan sekarang apa? Dia jelas-jelas berdandan hari ini, memangnya dia mau kemana?

Eomma?” Seru gadis itu yang begitu berisik bagi Chanyeol. Chanyeol mengalihkan pandangannya pada remote ditangannya dan mulai menekan-nekannya asal.

Eomma baru ingat, Kim Seohoon sedang mengambil cuti untuk pulang ke Mokpo. Jadi dia tidak bisa mengantarmu ke konser itu.” Suara ibunya samar-samar terdengar dari ruang makan.

“Apa?” Teriak Minhwa yang berasal dari ruang makan juga. “Bagaimana ini? Konsernya akan dimulai beberapa jam lagi, aku masih harus mengantri untuk masuk ke dalamnya.” Kini Chanyeol mendengar Minhwa mengomel yang suaranya bahkan megalahkan volume televisi di hadapannya.

“Kau tidak usah pergi saja.”

“APA?”

Chanyeol mengernyit setelah mendengar teriakan Minhwa—ia sudah benar-benar mengacuhkan televisi dan dengan malas berjalan ke ruang makan.

“Mau bagaimana lagi?” Jawab Eomma saat Chanyeol berjalan mengambil air mineral.

“Aku tidak mau, aku ingin pergi. Eomma, aku sudah punya tiketnya. Juga light sticknya, dan yang lain-lainnya juga.” Rengek Minhwa dengan suara seperti biasanya jika dia menginginkan sesuatu.

“Sudahlah lupakan.” Eomma kini sepertinya mulai tak peduli.

“Aku bisa naik bus.” Minhwa berbagi pemikirannya.

“Kau gila? Ayahmu akan membunuhku jika dia tahu aku membiarkanmu naik bus! Cukup kakakmu saja yang membuatku migrain karena setiap hari naik bus!” Tolak Eomma sembari mendelik kearah Chanyeol. Lelaki itu hanya mengangkat bahu dan melanjutkan acara minumnya.

“Aku tidak mau tahu, aku ingin pergi ke konser itu. Titik.” Rengek Minhwa semakin kencang.

“Dasar keras kepala! Tidak ada yang bisa kulakukan ya kecuali—” Eomma menggantungkan ucapannya lalu menoleh kearah Chanyeol, Minhwa ikut-ikutan menatap kakanya itu.

Dan sekarang Chanyeol merasa langkah pertamanya ke dapur itu adalah kesalahan besar.

“Chanyeol, kau antar Minhwa. Lalu tunggu sampai konsernya selesai dan bawa gadis cerewet ini pulang tanpa goresan sedikitpun!” Perintah Eomma.

Mata Chanyeol terbelalak; ia tersedak dan menghentikan acara minum air mineralnya itu.

“Tidak. Tidak!” Chanyeol menolak sembari melambai-lambaikan tangannya di depan dada. Baginya sudah cukup hari minggu itu ia habiskan di dalam rumah daripada menunggu adiknya menonton konser.

“Ayo cepat kalian pergi, kepalaku mulai pening sekarang!” Eomma memegangi kepalanya lalu berjalan keluar dari dapur.

Oppa ayo.” Minhwa menyeretku keluar rumah. Chanyeol hanya pasrah karena memang tidak ada cara lain untuk menolak.

.

Oppa, kau yakin akan menunggu disini? Disebelah sana ada café. Kau bisa menunggu disana.” Minhwa turun dari motor Chanyeol lalu jarinya menunjuk ke sebuah café.

“Sudahlah kau masuk kesana! Kau tahu? Kau berisik sekali. Bagaimana bisa ada manusia seberisik dirimu?”

Minhwa hanya memeletkan lidahnya lalu berjalan mundur sembari melambaikan tangannya.

“Jika saja dia bukan adikku. Aku tidak akan pernah mau datang ke tempat ini.” Ujarnya sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar.

Banyak sekali orang disa, dan Chanyeol tidak begitu suka dengan keramaian. Dimana-mana warna biru. Dia memperhatikan sekeliling. Ada halte tidak jauh dari sana, dan Chanyeol jadi teringat saat ia bertemu gadis itu pertama kali.

Ketika sebuah bus berhenti di halte tersebut, entah mengapa Chanyeol jadi begitu berharap gadis itu akan keluar dari sana. Menyadari khayalannya kian menggila, Chanyeol hanya tersenyum miris sembari terus memandangi bus yang sudah siap akan pergi lagi.

“Tunggu.”

Chanyeol memandangi seorang gadis yang sepertinya baru saja turun dari bus itu. Ia berkedip beberapa kali untuk memastikan ini bukan halusinasi.

Ya, dia adalah gadis itu.

Gadis itu berjalan menuju kearah Chanyeol dan menggandeng seorang gadis yang sepertinya seumuran dengan Minhwa. Chanyeol terdiam, tanpa disadari mulutnya menganga. Gadis itu kini memakai celana jeans dan kardigan putih. Rambutnya tergerai indah seperti biasanya. Cantik, cantik sekali.

Chanyeol berpikir keras, Apa yang dilakukan gadis itu disini? Apa dia akan menonton konser juga?

Gadis itu berhenti tidak jauh dari tempat Chanyeol masih terduduk di motornya.

“Aku akan ke perpustakaan. Jika sudah selesai, hubungi aku saja oke?”

Telinga Chanyeol berdenging, ini pertama kalinya bagi Chanyeol mendengar suara gadis itu. Suaranya sangat lembut, seperti beludu yang menggelitik telinganya.

“Baik Eonni, terimakasih banyak. Aku menyayangimu.” Jawab Youngran kemudian memeluk Yoona. Sekarang Chanyeol sibuk menerka apa hubungan mereka? Apa mereka saudara? Tapi rasanya tidak mungkin karena tidak ada kemiripan diantara mereka sama sekali.

“Aku juga. Sekarang pergilah, selamat bersenang-senang!” ujar Yoona.

Youngran tersenyum sembari melambai kepada Yoona. Chanyeol jadi teringat cara Minhwa tadi. Namun ia langsung mematung ketika Youngran menyadari tatapannya, gadis itu berhenti melambai lalu menatap Chanyeol curiga.

Oh shit!” Chanyeol buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia tertangkap basah tengah memperhatikan mereka. Youngran menatap Chanyeol keheranan, lantas ia hanya mengendikkan bahu dan segera berjalan menuju gerbang.

Chanyeol segera mengalihkan pandangannya sembari menahan napas. Lama-lama ia tidak tahan dan akhirnya melirik ke tempat gadis itu lagi, tapi gadis itu kini sudah menghilang.

“Kemana dia pergi?”

Tanpa pikir panjang Chanyeol segera memakai helm-nya dan melajukan motornya ke perpustakaan Seoul. Chanyeol sangat yakin gadis itu pasti pergi kesana, karena hanya perpustakaan itu yang jaraknya dekat dari tempat ini.

.

Chanyeol mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat itu. Dimana gadis itu? Ia menyusuri tiap ruang baca yang ada di perpustakaan itu. Tapi nihil, gadis yang dicarinya tidak sedang duduk disalah satu kursi yang disediakan.

Kakinya mulai melangkah menapaki tiap ubin putih yang berlapis debu-debu dari setiap alas sepatu orang-orang yang berjalan. Matanya dengan jeli mengamati lorong-lorong dengan dinding lemari-lemari buku yang tingginya melebihi dari tinggi badannya tanpa ia lewatkan satu celah sedikitpun. Chanyeol berjalan melewati deretan buku-buku sejarah, lalu bersambung pada deretan buku-buku music. Ia mendesah tak bersemangat ketika tak kunjung menemukan gadis itu.

Benarkah gadis itu datang ke perpustakaan ini? Chanyeol mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Ia beranjak dari deretan buku-buku tentang musik, kemudian kini beragam judul buku tentang politik berderet rapi di samping kiri dan kanan Chanyeol. Lelaki itu hanya melirik malas buku-buku itu dan terus berjalan.

Chanyeol menghentikan langkahnya ketika dilihatnya siluet seorang gadis tengah berdiri dihadapan satu lemari buku tidak jauh dari tempatnya berdiri. Matanya bergerak mengikuti arah telunjuk tangannya mencari sebuah judul buku. Chanyeol tak tahu buku apa yang ia cari. Yang ia tahu, dia adalah gadis itu. Banyak gadis berambut panjang diperpustakaan ini, tapi Chanyeol yakin itu dia.

Tanpa Chanyeol sadari kakinya telah melangkah menuju sisi lain dari lemari buku itu. Ia berhenti tepat dihadapannya. Siluet gadis itu terlihat dari balik lemari dihadapannya. Chanyeol menyadari satu hal, gadis itu pasti tengah mencari sebuah novel—dilihat dari beragam judul kisah romansa dihadapannya.

Tangan gadis itu terulur meraih satu buku dihadapannya, disadari atau tidak tangan Chanyeol juga melakukan hal yang sama hingga kini dengan jelas Chanyeol bisa melihat wajahnya. Gadis itu nampak terkejut melihatnya.

“H-hai.”

.

To be continued.

31 thoughts on “[Freelance] In Your Eyes (Chapter 1)

  1. cerita romansa romansa para emaja hahaha . asalnya aku gakan baca ff ini dulu sebelum tamat tapi udah ga tahan , pas baca eh cerita nya lucu banget

  2. aaahhh eeellllaaahhh baru juga mau liat interaksi chanyoon..malah tbc..
    tpi seru nih ceritanya.suka penjabaran tentang kekaguman chanyeol ke yoona…ditunggu part 2nya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s