Warm Embrace

warm_embrace

Warm Embrace

Xi Luhan and Im Yoona

with Kim Minseok

AU and Romance || PG 17 || Ficlet

Summary : Pelukan hangat untuk gadis berhati dingin

2015©cloverqua

 

“Apa yang sedang kau lihat, Lu?”

Xi Luhan, lelaki berdarah China yang baru saja dipanggil itu melirik sekilas pada temannya—Kim Minseok. Ia menurunkan tangan yang sempat menopang dagunya, kala dirinya tengah asyik mengamati sosok gadis yang berjalan dari kejauhan. Gadis bersurai cokelat itu berjalan dengan cuek melewati beberapa mahasiswa di kampus mereka, tanpa mengindahkan pandangannya sedikit pun dari jalanan yang ia lalui. Ia seakan tak peduli dengan cibiran yang diarahkan padanya karena sikap dingin yang selalu ia tujukan terhadap orang-orang di sekitar, hingga ia mendapat julukan—ice girl.

“Ah, kau memandangi si ice girl? Benar, ‘kan?”

Bibir Luhan beringsut dengan tatapan tajam dari mata rusa khasnya, “Berhenti memanggilnya ice girl. Dia punya nama. Yoona. Nama lengkapnya Im Yoona.”

Minseok mendesah, “Kau seharusnya tahu, semua mahasiswa di kampus ini memanggilnya ice girl.”

“Aku berbeda dengan mereka,” Luhan kembali mengalihkan pandang pada gadis yang menjadi topik pembicaraannya dengan Minseok.

“Aku tidak akan memanggilnya seperti itu. Aku lebih senang memanggil namanya. Mungkin dia juga akan merasa senang jika semua orang memanggil namanya,” lanjut Luhan.

Minseok mengernyitkan dahi, ia menatap heran sahabatnya yang terkesan membela gadis bernama Yoona itu. Sebuah pemikiran lazim seketika muncul dalam kepalanya.

“Kau—menyukainya?” tanya Minseok dengan bola mata sedikit membesar. Gesture yang diperlihatkan Luhan saat memandangi Yoona membuatnya didera rasa penasaran luar biasa. Sorot mata yang berbinar, senyum sumringah dan wajah yang terlihat ceria ketika memandangi Yoona, memperjelas jika Luhan memang menyukai gadis itu.

“Kau baru tahu?” Luhan justru bereaksi santai menanggapi pertanyaan Minseok. Ingin sekali ia tertawa melihat raut wajah bodoh Minseok yang begitu shock dengan pengakuannya.

“Benar kau menyukainya?” Minseok bertanya lagi dengan nada meninggi. “Kau menyukai gadis berhati dingin itu?”

Luhan mendesis dan tidak menyahut pertanyaan Minseok. Ia berusaha mencari keberadaan Yoona yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya.

“Memangnya tidak ada gadis selain Yoona yang membuatmu tertarik? Aku tahu dia memang sangat cantik, tapi hatinya yang begitu dingin membuat banyak laki-laki memilih mundur untuk mendekatinya,” jelas Minseok panjang lebar.

“Ck! Gara-gara kau terlalu banyak bicara, aku jadi kehilangan dia,” balas Luhan ketus yang sontak membuat Minseok terbelalak.

“Aku sedang memberimu nasehat!”

“Aku tidak butuh nasehatmu, Tuan Kim,” jawab Luhan singkat sembari bangkit dari kursi yang ia duduki, lalu berjalan meninggalkan Minseok yang masih terbengong di posisinya.

“Ya, Xi Luhan!” teriakan Minseok cukup keras hingga membuat seisi cafetaria menatap heran kepadanya.

Luhan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh sedikit pun pada Minseok. Ia berjalan menuju arah yang dilalui Yoona—gadis yang disukainya sejak awal perkuliahan, tepatnya 1 tahun silam.

//

Yoona berjalan memasuki kelas yang terlihat kosong. Ia bermaksud mengambil barang miliknya yang tertinggal saat mengikuti jam kuliah terakhir.

“Ini dia,” Yoona tersenyum setelah berhasil menemukan peralatan melukisnya yang tertinggal dalam laci salah satu meja. Ia segera memasukkan peralatan tersebut ke dalam tas dan bersiap meninggalkan kelas. Sayang, kemunculan tiga gadis lain berhasil menghentikan langkahnya. Yoona terdiam dengan tatapan tajam menusuk yang ia tujukan pada ketiga gadis tersebut, masing-masing bernama Lee Bora, Han Minji, dan Park Nami. Mereka terkenal dengan sikap centil yang selalu mereka umbar kepada mahasiswa lain, khususnya lawan jenis mereka.

“Kalian ada perlu denganku?” tanya Yoona dingin. Tidak ada ketakutan sedikit pun dari sorot mata Yoona. Ia sama sekali tidak gentar meski ketiga gadis itu memperlihatkan raut kemarahan di wajah masing-masing.

“Cih, kau benar-benar gadis yang sangat menyebalkan,” sahut Minji dengan kedua tangan yang menyilang di depan.

“Benar, dia memang sangat menyebalkan,” ucap Bora, “Kau pikir kau siapa? Bersikap dingin pada semua orang, sampai-sampai menolak beberapa laki-laki yang secara terang-terangan menyukaimu. Sombong sekali.”

“Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka sukai dari gadis berhati dingin sepertimu. Menyebalkan,” cibir Nami tak kalah keras.

Yoona mengernyitkan dahi, “Kalian iri karena mereka menyukaiku?”

“Siapa bilang kami iri?!” seru Bora cs bersamaan. Wajah ketiganya tampak memerah dengan mata yang berkilat. Hal itu tak lantas menyurutkan keberanian Yoona, namun justru membuatnya tersenyum remeh pada mereka.

“Jika kalian mau, ambil saja. Aku sama sekali tidak tertarik dengan mereka,” ucap Yoona cuek lalu berjalan melewati Bora dan dengan sengaja menyenggolkan bahunya pada bahu gadis itu. Tak pelak sikapnya tersebut memancing kemarahan Bora dan kedua temannya. Minji dan Nami terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantung plastik yang dibawanya, yakni beberapa butir telur. Keduanya bersiap melemparkan telur tersebut ke arah Yoona yang terus melangkah keluar dari kelas.

“Awas!” tiba-tiba saja ada seseorang yang langsung menarik Yoona sebelum terkena lemparan telur dari Minji dan Nami.

PRAT!

Yoona terbelalak setelah melihat lemparan telur tersebut mengenai laki-laki yang memeluknya secara tiba-tiba.

“KYAA!! LUHAN!!” Bora berteriak kaget saat menyadari lemparan telur yang diarahkan Minji dan Nami justru mengenai Luhan yang notabene merupakan salah satu mahasiswa populer di kampus mereka. Ketiganya sontak menciut setelah laki-laki itu menghadiahi sorot mata tajam kepada mereka. Tanpa berkata lagi, Bora, Minji, dan Nami langsung berlari keluar meninggalkan Luhan dan Yoona.

“Yoona, kau tidak apa-apa?” tanya Luhan dengan nada cemas.

Yoona terkesiap mendengar suara Luhan yang begitu lembut, bahkan saat laki-laki itu menyebutkan namanya.

Ne, aku baik-baik saja,” jawab Yoona cepat sembari menunduk. “Terima kasih.”

Luhan tersenyum melihat wajah tersipu dari Yoona. Ini pertama kalinya Yoona memperlihatkan sisi lain dari sikapnya yang selama ini terkenal dingin. Menurut Luhan, ternyata gadis itu bisa memperlihatkan ekspresi menggemaskan ketika tersipu malu seperti sekarang.

“Aish, mereka benar-benar keterlaluan. Pakaianku jadi kotor dan bau amis karena ulah mereka,” runtuk Luhan sembari mengendus bagian pakaiannya yang terkena lemparan telur. Ia melirik Yoona yang masih menunduk, seolah enggan memperlihatkan wajahnya.

“Kau mau menemaniku ke ruang ganti klub sepak bola?”

“APA?” Yoona berteriak kaget saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Luhan. Wajahnya semakin memerah akibat pertanyaan ambigu yang terlontar dari laki-laki itu.

“Ah, maksudku—aku butuh bantuanmu membawakan tasku selagi aku berganti pakaian,” jawab Luhan meluruskan kesalahpahaman yang sempat bersarang di kepala Yoona. Ia terkekeh pelan sembari menggaruk tengkuknya.

Yoona menelan saliva-nya, dalam hati ia mengutuk dirinya yang sadar atau tidak tampak bodoh di depan Luhan.

//

Beberapa mahasiswa tersenyum melihat Yoona duduk seorang diri di ruang istirahat yang biasa digunakan mahasiswa yang mengikuti klub olahraga sepak bola. Mereka saling berbisik dengan pandangan yang terus tertuju pada Yoona. Gadis itu mulai merasa jengah dan tidak nyaman dengan sikap mereka. Hampir saja ia melarikan diri keluar dari ruangan, sebelum Luhan akhirnya kembali usai membasuh tubuh dan berganti pakaian.

Yoona tak berkutik saat melihat Luhan tampil sporty dengan kaos seragam sepak bola dengan bawahan celana training, serta rambut yang sangat khas bagi mereka yang baru saja keramas. Luhan benar-benar terlihat tampan.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” jawab Luhan setelah menghampiri Yoona.

Yoona segera menyadarkan diri lamunannya dan fokus pada Luhan. Ia hanya mengangguk pelan sembari menyodorkan tas milik Luhan.

“Kau tidak keberatan jika aku mengantarmu pulang?” tawar Luhan dan lagi-lagi membuat Yoona kebingungan. Awalnya, Yoona sempat ingin menolak tawaran Luhan. Namun setelah mengingat apa yang dilakukan laki-laki itu, akhirnya Yoona menyanggupi dan menuruti ucapan Luhan. Ia pun membiarkan Luhan mengantarnya pulang.

Sikap Yoona yang tidak memberikan penolakan, jelas membuat Luhan senang bukan kepalang. Sedari tadi ia tersenyum tanpa henti, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Yoona yang memilih fokus dengan jalanan yang mereka lalui. Ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan beberapa mahasiswa yang melihat kebersamaannya dengan Yoona, termasuk Minseok yang tanpa sengaja bertemu dengan mereka.

Reaksi Minseok? Sudah pasti kaget melihat temannya bisa berjalan bersandingan dengan Yoona yang dikenal sebagai ice girl di kampus mereka.

“Bagaimana kau—” baru saja Minseok ingin bertanya, Luhan sudah memberi isyarat agar laki-laki itu menutup mulut dan tidak mengatakan apapun. Sampai akhirnya Minseok benar-benar terdiam dan membiarkan Luhan pergi bersama Yoona.

Luhan dan Yoona menyisiri area taman kampus yang terlihat sepi. Meski pulang bersama, tidak ada obrolan yang mereka lakukan. Luhan mulai merasa bosan dan tidak tahan jika hanya diam saja saat dirinya ada kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan gadis yang disukainya itu.

“Ng—bolehkah aku bertanya sesuatu?” Luhan memberanikan diri untuk membuka obrolan dengan Yoona. Ia berharap gadis itu tidak menghadiahinya sorot mata tajam yang selalu dilakukannya pada orang lain.

“Katakan saja,” jawab Yoona di luar dugaan dan membuat Luhan tersenyum lebar. Tiba-tiba saja ia berubah kikuk, pertanyaan yang sempat terlintas dalam kepalanya hilang begitu saja.

“Kenapa—kau bersikap dingin pada semua orang?”

DEG!

Luhan langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat melihat ekspresi tidak suka yang sempat muncul di wajah Yoona.

“Ah, maaf. Aku hanya—”

“Apa kau pernah dikhianati oleh seseorang yang begitu kau percayai?” suara Yoona terdengar serak dan membuat Luhan kembali terdiam.

“Apa?”

Yoona menghentikan langkahnya yang segera diikuti oleh Luhan. Kini keduanya berdiri saling berhadapan satu sama lain.

“Saat kau mempercayai seseorang, sangat percaya, bagaimana perasaanmu ketika orang itu justru mengkhianatimu?” tanya Yoona dengan raut wajah serius.

“Ngg—” Luhan menautkan kedua alisnya, “Sudah pasti aku merasa kecewa dengan sikap orang itu.”

“Bukan hanya kecewa, tapi sangat terluka,” lanjut Yoona diimbangi raut kesal yang kini terlihat di wajahnya.

Luhan terdiam, ia mengamati perubahan raut wajah Yoona. Pengakuan gadis itu secara tidak langsung telah menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.

“Itukah sebabnya kau bersikap dingin pada semua orang? Karena sebelumnya—kau pernah dikhianati oleh orang yang kau percayai itu?”

Yoona mengangguk, “Saat aku SMA, aku dikhianati oleh kekasihku yang berselingkuh dengan temanku sendiri.”

Seketika mulut Luhan terbuka lebar hingga membentuk huruf ‘O’. Ia mengangguk-anggukan kepala, seolah bisa memahami bagaimana perasaan Yoona saat itu. Namun sedetik kemudian, wajahnya berubah kaget ketika mendapati Yoona menatapnya dengan tatapan tajam.

“Kenapa aku menceritakannya padamu? Kita bahkan tidak saling mengenal secara dekat,” tanya Yoona spontan yang membuat Luhan terkekeh.

“Mungkin—karena kau mempercayaiku, makanya kau menceritakan masa lalumu itu padaku,” jawab Luhan polos.

Semburat rona merah tiba-tiba muncul menghiasi kedua pipi Yoona. Gadis itu terdiam cukup lama saat merasakan debaran jantungnya yang tidak beraturan. Sementara Luhan masih menatapnya dengan tatapan hangat yang membuat Yoona semakin tidak berkutik dari posisinya.

“Yoona?”

Perasaan apa ini? Kenapa aku begitu nyaman saat bersama dengannya? Bahkan suaranya terdengar sangat lembut saat memanggil namaku, batin Yoona bingung.

Luhan justru merasa bersalah ketika mendapati Yoona masih berdiri mematung dengan tatapan kosongnya. Ia berpikir jika ucapannya telah menyinggung perasaan gadis itu.

“Maaf, aku tidak bermaksud—” kalimat Luhan langsung terhenti ketika Yoona tiba-tiba saja berjalan cepat meninggalkannya. Tidak siap dengan perubahan sikap Yoona, Luhan masih bertahan di posisinya.

“Yoona, aku—” Luhan menghela nafas pelan sembari memejamkan matanya. Ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengakui perasaannya.

“Aku menyukaimu!”

Suara Luhan yang terdengar lantang membuat Yoona terbelalak dan menghentikan langkahnya. Ia enggan menoleh pada Luhan, menganggap bahwa yang diucapkan laki-laki itu adalah sebuah lelucon. Mereka bahkan tidak saling mengenal secara dekat, bagaimana bisa Luhan menyukainya? Yoona pun kembali melangkah meninggalkan Luhan.

“Aku sungguh-sungguh menyukaimu!”

Lagi, suara Luhan kali ini terdengar sangat lantang dan meyakinkan. Yoona bisa merasakan kesungguhan dari laki-laki itu walau hanya melalui suara. Hanya saja, Yoona terlalu takut untuk menerima cinta seseorang untuk kedua kalinya, karena masa lalunya yang membuatnya berhati dingin seperti sekarang.

Abaikan saja, Im Yoona. Abaikan saja, batin Yoona sembari menghembuskan nafas panjang dan kembali berjalan menjauh dari Luhan.

Tiba-tiba saja Yoona mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya hingga ia merasakan sentuhan kedua tangan yang memeluk tubuhnya. Tanpa melihat wajah pemilik tangan tersebut, Yoona sudah tahu jika orang yang memeluknya adalah Luhan.

“Luhan?” Yoona bingung dengan sikap Luhan yang tiba-tiba saja melakukan back hug terhadapnya. Ia bisa merasakan desahan nafas Luhan yang begitu dekat di wajahnya, juga debaran jantung laki-laki itu dalam kondisi sama dengan debaran jantungnya sekarang.

“Aku sungguh-sungguh,” Luhan semakin mengeratkan pelukannya pada Yoona. “Sejak awal melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu, Im Yoona.”

Yoona bisa merasakan hawa panas yang mengitari wajahnya. Ucapan Luhan begitu ajaib, seperti mantra sihir yang membuatnya tersipu seperti sekarang.

Pelukan Luhan benar-benar hangat, batin Yoona dengan wajah yang tertunduk.

“Dengan cinta yang kumiliki ini, izinkan aku memberimu kehangatan, agar bisa mencairkan hatimu yang dingin itu,” lanjut Luhan sembari memejamkan mata. “Aku berjanji tidak akan mengkhianatimu dan akan selalu berada di sisimu selamanya.”

Yoona tidak bisa membendung air mata haru yang tiba-tiba mengaliri pipinya. Ia sontak memutar tubuhnya dan berbalik memeluk Luhan dengan sangat erat. Ia sendiri tidak tahu, ada perasaan kuat yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut.

“Yoona?” Luhan terkejut dengan sikap Yoona yang berbalik memeluknya.

Yoona membenamkan wajahnya dalam pelukan Luhan, “Sudah lama aku tidak merasakannya. Pelukanmu benar-benar terasa hangat. Hangat sekali.”

Kedua sudut bibir Luhan tertarik, membentuk lengkungan senyum yang sangat sempurna. Ia membalas pelukan Yoona dengan mengeratkan kedua tangannya pada tubuh gadis itu. Walau tidak mengatakannya secara langsung, reaksi yang diperlihatkan Yoona cukup memberikan jawaban jika ia menerima cinta Luhan. Siapa sangka, hanya berbekal sebuah pelukan hangat, Luhan berhasil mencairkan hati seorang ice girl seperti Yoona.

THE END-

A/N : Maaf lagi-lagi posting FF yang ceritanya absurd begini.😀

46 thoughts on “Warm Embrace

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s