(Freelance) Twist (Chapter 1)

cover twist

Title : Twist

NanZhu Storyline ( Prev. Akuro )

Cast : Im Yoon Ah GG and Oh Sehun EXO

Other Cast : Im Jin Ah After School | Joo Kwang Min Boyfriend | Kim Hyun Joo ( OC ) | Irene Bae Red Velvet | Park Myung Eun ( Jin ) Lovelyz | Ahn So Hee Wonder Girls | All EXO member

Genre : School Life | Comedy | Fluff

A/N : Terinspirasi dari tayangan EXO’s ‘Guerilla Date’ dan Girls Generation goes to school

Sorry for typo and bad story

 

Hope you like it

 

Don’t be Silent Readers

All Of Im Yoon Ah POV
 

 

 

HAPPY READING

 

 

 

 

***

“BANGUN… DASAR GADIS PEMALAS”

Aku menggeliat pelan kala suara melengking nan cempreng yang menghancurkan mimpi indahku memenuhi gendang telingaku. Astaga, aku bahkan hampir berciuman dengan Oh Sehun. Hampir. Setelah kurang lebih 1 tahun mengaguminya, baru pertama kali ini si pangeran tampan itu nyasar ke mimpiku. Dasar Jin Ah pengacau segalanya. Aku ingin sekali mengutuknya menjadi batu seperti di legenda-legenda zaman dahulu. Tapi kali ini kasusnya tak sama seperti sang anak yang durhaka pada ibunya. Melainkan sang kakak yang begitu durhaka pada adiknya. Mungkin terdengar konyol. Namun itulah kenyataannya.

Bisa kalian bayangkan betapa tersiksanya telingaku setiap pagi karena suara merdunya itu. Merusak dunia maksudnya. Tak hanya itu, Jin Ah kerap kali menindasku. Sebagai contoh, saat itu aku sedang melakukan kegiatan rutin membersihkan kamar setiap seminggu sekali. Jin Ah dengan santainya tiba-tiba masuk dengan segelas jus tomat ditangannya. Wanita itu duduk di ranjang dan mulai melancarkan aksinya menggangguku. Jin Ah meraih beberapa majalah EXO yang telah ku susun rapi di rak. Aku masih terus bersabar dan kembali meneruskan mengelap kaca yang berdebu. Namun tiba-tiba terdengar suara “PRANG” yang serta merta membuatku menoleh. Kepulan asap langsung keluar dari kepalaku. Karpet kesayangaku dan yang paling penting majalah idolaku telah basah oleh Jus Tomat sialan itu. Ah Tidak. Jin Ah lah yang sialan. Wanita itu berlagak sok prihatin padahal aku tau dia tertawa bahagia dalam hati.

Sejak saat itu aku tak pernah memanggilnya dengan embel-embel “Eonni”. Cukup Jin Ah atau nenek-nenek pirang dan juga kutu. Karena kurasa kutu itu parasit, sama seperti Jin Ah yang begitu merugikan dan tak seharusnya ada di dalam kamus hidupku. Namun itu hanyalah angan-angan belaka. Buktinya ia terlebih dahulu lahir di dunia kemudian Tuhan mengirimkanku dengan menjadikanku adiknya. Takdir yang menyebalkan bukan?

“YAKK… KECILKAN SUARAMU DASAR NENEK PIRANG”pekikku tak kalah kencang sambil melotot.

Jin Ah balik memelototiku lalu menarik paksa selimut yang membungkus sebagian tubuhku. “KECILKAN SUARAMU JUGA ANAK INGUSAN. LIHATLAH, SUDAH JAM BERAPA SEKARANG? APA KAU TAK AKAN PERGI KE SEKOLAH HUH?”

“Apa? Anak ingusan katamu? DASAR KAU PERUSAK MIMPI TAK TAU DIRI”

Aku turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi yang memang telah disediakan di dalam kamarku masih dengan emosi yang meletup-letup. Pertengkaran yang tak kalah hebat dari hari-hari sebelumnya membuat darahku mendidih. Sungguh, lama-lama aku bisa terserang darah tinggi karena ulahnya.

“Padahal itu tadi hampir. Ya ampun, bibir Sehun benar-benar menggoda iman. Gara-gara Jin Ah semuanya jadi kacau. Awas ya kau Jin Ah nenek pirang kutuan…. Hahh, Ku harap mimpi tadi masih bersambung seperti drama. Semoga part kedua akan tayang di mimpiku malam nanti”gumamku asal sambil memandang pantulan diriku di kaca wastafel sesaat setelah masuk ke kamar mandi dan bersiap melakukan ritual mandi kilat mengingat setengah jam lagi bel sekolah akan berbunyi.

***

Suasana sarapan kali ini terasa begitu damai tanpa kehadiran si ‘Kutu’ menyebalkan itu. Aku merasa bersyukur ketika eomma berkata bahwa Jin Ah telah berangkat kuliah lebih awal dari biasanya dan di jemput oleh temannya. Jujur, sebenarnya aku penasaran akan sosok teman yang dengan sukarela menjemput kakak ‘kesayanganku’ itu. Dalam hati aku berdoa semoga temannya itu laki-laki agar dapat ku jadikan bahan ledekan baru padanya. Aku bisa saja langsung bertanya pada eomma. Tapi jika menyangkut tentang Jin Ah, ego-lah yang menguasaiku. Aku hanya perlu bersabar menunggunya pulang nanti.

“Kau bertengkar lagi dengan kakakmu?” Tanya Appa memecah keheningan. Beliau melirikku sembari menyeruput teh hangat dari hadapannya. Bukankah hal itu sudah menjadi agenda wajib tiap pagi? Tak ada yang bisa ku lakukan selain mengangguk. Pasalnya, mulutku saat ini penuh dengan sandwich yang baru saja ku jejalkan besar-besar agar tak mengulur waktu.

“Appa pusing melihat kalian yang tak pernah akur. Kalian ini sudah besar. Mau sampai kapan lagi kalian akan bertengkar?”

“Entahlah Appa. Jin Ah selalu membuatku kesal setiap hari. Aku sudah belajar untuk bersikap dewasa. Tapi dia-nya yang kekanakan” jawabku setelah berhasil menelan sandwich dan meneguk segelas penuh susu sapi. Ku perhatikan eomma dan appa menghela nafas lelah. Dan hal itu entah kenapa membuatku merasa bersalah. Aku yakin, selama ini mereka sedih melihat kelakuan kedua putrinya yang bagaikan tom and jarry-yang tak pernah surut mengibarkan bendera peperangan.

“Tak sopan memanggil kakak kandungmu sendiri seperti itu.” Hardik eomma menatapku tajam. Tunggu. Aku melupakan sesuatu. Aku memang memanggil Jin Ah seperti kodratnya sebagai seorang kakak ketika berada di hadapan Appa dan Eomma.

Aku tertawa paksa. Mungkin karena terlalu sering memanggilnya seperti itu hingga membuatku terbiasa dan melupakan suatu hal yang tak seharusnya ku lupakan. Aku tau, Appa dan Eomma begitu menjunjung tinggi norma kesopanan.

“Maaf. Hehe… Baiklah. Aku berangkat dulu Eomma, Appa” Segera ku sambar tas dari kursi kosong disampingku. Aku mulai beranjak setelah sebelumnya menyempatkan diri mencium kedua pipi kedua orang yang begitu aku sayangi didunia ini.

Udara segar di pagi hari yang menyelimuti bumi Seoul langsung menyambutku ketika telah sampai di luar. Aku menghirupnya dalam-dalam dan tersenyum. Aku sangat menyukai pemandangan seperti ini, dimana embun-embun masih asyik bertengger di dedaunan.

Dengan langkah riang, aku berjalan menyusuri jalanan menuju halte terdekat. Aku sendiri merasa bingung akan suasana hatiku yang cerah secerah matahari yang perlahan mulai menampakkan sinarnya. Padahal hampir setiap pagi aku selalu memperlihatkan raut wajah murung. Sungguh, absennya Jin Ah pada sarapan pagi ini sepertinya membuat dampak yang cukup signifikan bagiku.

TINN TIIIINNNNN

Sebuah motor sport berwarna putih mengkilap berhenti tepat disampingku. Aku menelan saliva gugup. Dan disaat genting seperti ini kenapa kakiku rasanya sulit untuk di gerakkan? Pikiranku kemudian melayang pada film yang ku tonton kemarin lusa bersama So Hee-sepupuku. Yang terjadi padaku saat ini sama persis dengan adegan pada film itu-yang sayangnya aku lupa judulnya-dimana ada seorang gadis yang berjalan dalam kesunyian di sore hari. Tiba-tiba seseorang menghadangnya kemudian menodongnya dengan sebilah pisau tipis namun berkilat tajam. Dan untuk adegan seterusnya aku tak tau. Tiba-tiba ada pemadaman listrik waktu itu. So Hee telah kembali ke Mokpo dan aku tak mungkin menontonnya sendirian. Eomma dan Appa selalu sibuk, Irene dan Myung Eun-kedua sahabatku-sama penakutnya denganku, sedangkan Jin Ah… sudahlah, aku malas membahasnya. Hanya saja, aku dapat menangkap sedikit perbedaannya. Sekarang bukan sore hari dan style penjahat dalam film itu terlalu norak dan lusuh. Hei, mana ada penjahat yang berpakaian rapi nan menawan bak artis yang melenggang di red carpet? Lama-lama aku jadi ngawur. Singkirkan pikiran negative-mu, Im Yoona.

Aku menelisik penampilan pria itu yang masih betah duduk di motor sportnya dengan helm yang membungkus kepalanya. Dan aku baru menyadari ia memakai seragam yang sama dengan yang ku kenakan. Postur tubuhnya yang tinggi kemudian mengingatkanku pada…

“JOO KWANG MIN???

Dan seperti dugaanku, feelingku selalu tepat sasaran. Astaga, sejak kapan bocah ceking itu jadi keren begini? Dia membuka helmnya dan memamerkan senyum idiotnya yang seketika membuatku mual. Aku mengerutkan kening, ketika kulihat tangannya mengelus-elus motor barunya-kurasa. Setauku selama ini ia selalu menaiki vespa merah bututnya yang sekarang entah dimana keberadaannya. Apa maksudnya mau pamer? Kalau memang iya, maaf saja aku tak tertarik.

“Noona… berangkat bersamaku yuk?” Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Aku bergidik ngeri “Maaf saja. Aku masih punya cukup uang untuk membayar ongkos bus menuju sekolah.”

***

Aku dapat bernafas lega ketika melihat gerbang sekolah masih terbuka lebar. Dengan langkah tergesa aku melewati halaman utama sekolah yang saat ini sedang ramai oleh banyaknya siswa-siswi yang tergabung dalam pasukan Marching Band Sekolah. Aku sengaja tak mampir mengingat posisiku sebagai mayoret telah pensiun sejak beberapa minggu lalu. Memang, para pelajar di tingkat akhir tak lagi di perbolehkan mengikuti berbagai kegiatan ekstra kulikuler. Yang perlu dilakukan hanyalah fokus belajar serta mempersiapkan diri untuk menghadapi tes masuk Universitas. Membayangkan posisiku yang di gantikan oleh Hyun Joo-si junior genit menyebalkan-membuatku mendengus tak suka. Sebenarnya aku tak masalah ketika pelatih Baek memberhentikanku. Tapi setidaknya cari penerusku yang tepat!

Langkahku tiba-tiba terhenti saat mendapati papan mading terlihat penuh oleh lautan manusia. Rasa penasaranku yang tinggi mengharuskanku untuk ikut mengintipnya. Dengan bersusah payah aku menerobos kerumunan itu. Ku usap peluh yang menetes dari keningku. Aku merasa bersyukur ketika dapat berdiri tegak di depan mading setelah melalui perjuangan yang terasa begitu melelahkan. Teriakan-teriakan nyaring terdengar terus bersahutan. Lagi dan lagi telingaku menjadi korbannya pagi ini.

Selembar kertas berukuran jumbo dengan berbagai tulisan yang berjejer rapi tertempel di sana. Belum sempat aku membaca isinya, kedua mataku terlebih dahulu membulat tak percaya.

“APA?? EXO GOES TO SCHOOL???”

TBC

 

 

 

Maaf……….. EXO-nya belum muncul kan ya?😦 Next Chapter pasti udah muncul kok🙂

 

Pasti udah pada ngerti lah ya cerita ini bakal di bawa kemana?😀 yups, kisah cinta antara pelajar dengan sang idol *bocoran dikit

 

 

 

sampai jumpa di next chapter🙂

 

paii paiiiiii

37 thoughts on “(Freelance) Twist (Chapter 1)

  1. kyaaa aku bru sempat bnya nihh ff … ff nya bgus *apa aja pokoknya YoonHun :v*
    tpi bneran ff nya bgus….lanjuuutt jgn lama” ya😀

  2. Akh! Suka banget sama ff kayak Gini, Tp kayaknya Im Jin Ah (itu Nana after school kan?) Berperan besar deh #sok tau Thor.. Jebal cepet2 chap 2 #puppy eyes
    Keep writing

  3. bagus thor, tapi kata2nya terlalu berbelit dan akan lebih bagus jika to the point aja. Oke lanjut thor. next chapter lebih panjang lagi

  4. update soooonn yaaa authorrr kayaknya seruuu alurnya…pingin liat reaksi yoona ketemu exo. ..semoga ada cinta segi banyaaakkkk. keep writing..

  5. Seru thor!Gila aku jadi penasaran banget!Next,bagaimana ya jadinya kisah percintaan antara idol dengan pelajar?Pokoknya penasaran banget deh thor!Keep writting.

  6. Makin penasaran sama kelanjutannya thor, jangan lama lama yah, pingin cepet-cepet ada moment yoona sehun
    Keep writing

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s