(Freelance) Let Me Go

let me go

Author: Catur Anggraheni

Length: Onesho

Rating: G

Genre: Romance

Main Cast: Im Yoon Ah , Park Chanyeol

Disclaimer : All cast belong to God. Sudah pernah di post di wordpress pribadi sebelumnya ya J

.

.

.

Kalau ia tidak terlahir sebagai manusia. Park Chanyeol ingin sekali terlahir sebagai malam. Lalu Im Yoona –yang akan terus selalu bersamanya, akan berkata bahwa ia akan menjadi bintang. Tidak ada alasan khusus. Hanya ingin dekat dengan Park Chanyeol.

Kedua orang itu awalnya tak pernah menyangka mereka akan jadi sedekat ini.Apalagi semenjak kematian orang tua dari Yoona, karena satu satunya alasan Park Chanyeol masih mau bicara dengan Im Yoona adalah orang tuanya. Chanyeol hanya ingin bersikap sopan dan ramah, walau itu dimulai dari kepalsuan belaka. Tapi ia tak mengira setelah kepergian kedua orang tua bermarga Im itu pun ia masih berlaku baik –kadang kadang, pada gadis itu.

Tapi sekarang kalau dipikir pikir, Park Chanyeol tak pernah menyesal bisa jadi salah satu bagian hidup dari Yoona, atau bisa jadi malah satu satunya bagian hidup Yoona. Karena setau Chanyeol, semenjak kedua orang tuanya pergi, gadis bersurai coklat kemerahan itu semakin kiat saja mengikutinya. Yah, Chanyeol juga tidak terlalu risih sih, mengingat mereka sudah dipaksa untuk ‘berteman’ oleh kedua orang tua mereka, sedari dulu. Dan yang lebih ‘menyenangkan’ lagi adalah ia dipaksa untuk tinggal di apartemen yang sama dengan Yoona.

Sungguh, Chanyeol rasanya ingin menangis ketika mendengar kata kata itu terucap dari bibir kedua orang tuanya. Waktu itu, Chanyeol dan Yoona baru kelas 2 SMA ketika tiba tiba saja ada kabar kalau telah terjadi kecelakaan yang menyebabkan kedua orang tua Yoona meninggal. Mereka saat itu sedang dalam perjalanan menuju Busan untuk menjemput Yoona yang saat itu dititipkan di rumah Chanyeol. Ya, Park Chanyeol tinggal di Busan. Dan Im Yoona tinggal di Seoul. Kadang Chanyeol kagum dengan usaha orang tua nya untuk menjodohkannya dengan Yoona. Mereka menggunakan banyak hal yang di luar ekspektasi Chanyeol. Menyingkirkan Min Rin yang notabe-nya adalah orang yang disukai Chanyeol, memberikan Yoona dan Chanyeol jam bimbel yang sama, membuat keduanya jadi lebih sering bertemu karena khursus yang berbeda dari senin sampai sabtu.

Bayangkan saja, jarak bahkan seakan tak menghendaki. Tapi, keempat orang tersebut begitu tangguh. Dan, bisa dibayangkan bagaimana sedihnya orang tua Chanyeol saat mengetahui partner in crime-nya harus pergi. Bahkan mereka menagis lebih nyaring dari Yoona yang saat itu hanya bisa terdiam kaku tak bergerak. Seakan akan ia ikut mati.

Siapa yang mengurus Yoona setelah itu? Tentu saja. Orang tua dari Park Chanyeol.

Dari situlah semuanya berawal, orang tua Chanyeol mendapatkan ide untuk menguliahkan mereka di Seoul nanti. Dan menempatkan mereka di apartemen yang sama. Di kampus yang sama pula. Chanyeol tak pernah mengerti dengan jalan pikiran kedua orang tuanya. Maksudnya, ia laki laki normal. Bisa saja terjadi hal hal yang tak di inginkan. Tapi, hanya karena kepercayaan. Kepercayaan bahwa Park Chanyeol bisa menjaga Im Yoona dengan baik.

.

.

.

Malam sudah menunjukan pukul 11 malam waktu Seoul, ketika laki laki bermarga Park itu masuk ke dalam apartemen mereka yang agak berantakan. Segera dinyalakan lampu yang berada tepat disampingnya untuk memberikan sedikit penerangan. Aneh. Kenapa lampunya tidak dinyalakan? Apa perempuan itu lupa? Batin Chanyeol. Diliriknya pintu kulkas yang terletak tak jauh dengannya. Tidak. Tidak ada apa apa. Tidak ada catatan yang mengatakan bahwa ia akan pulang terlambat atau semacamnya. Itu artinya ia sudah pulang.

Apa perempuan itu sudah tidur? Baiklah, sepertinya Chanyeol harus mengeceknya.

Cklek. Suara pintu terbuka. Secara otomatis lampu kamar tersebut juga menyala. Tapi tak ada siapa siapa di dalam.

“Im…?” bisik Chanyeol pelan. Matanya masih menggeledah ke sekeliling kamar.

Dan secara tiba tiba lemari baju yang berada tepat di depannya terbuka. Chanyeol sedikit kaget, teringat akan film horror yang baru baru saja ia tonton. Ia sudah mengira itu sosok hantu atau sejenisnya, tetapi yang keluar malah Yoona dengan rambut basah dan baju agak acak-acakan.

Keheningan selama beberapa detik mengiringi mereka.

Yoona lalu tersenyum, menampilkan dertan giginya yang putih. Ia cocok menjadi bintang iklan pasta gigi, batin Chanyeol asal.

“Yak! Park Chanyeol, kau harus belajar untuk tidak membuka pintu kamar orang lain secara sembarangan” ucap Yoona masih sambil tersenyum. Chanyeol tua beberapa bulan dari Yoona. Tapi gadis itu menolak memanggil Chanyeol dengan sebutan ‘oppa’. Chanyeol mengeryitkan dahinya tanda tak mengerti.

Dengan santai ia lalu melewati Chanyeol dan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam –benar benar malam-.

“Aku baru saja mandi, dan mau berganti baju ketika kau masuk ke apartemen, sialnya ada sesuatu yang salah dengan pintu bodoh itu. Ia tidak mau mengunci ketika aku ingin menguncinya -kau harus memperbaikinya nanti, dan lemari tadi sepertinya bukan pilihan yang buruk untuk berganti baju”

“Dari mana kau tahu aku akan membuka pintu kamarmu?” Pertanyaan bodoh Park Chanyeol.

Yoona lalu menghentikan kegiatan mengiris bawangnya.

“Yang benar saja, kau kan selalu melakukannya ketika membangunkanku di pagi hari …. di Busan”

Sudah disebutkan kan kalau yang merawat Im Yoona setelah orang tuanya pergi adalah orang tua Park Chanyeol? Bukan hanya sekedar ‘merawat’, semua keperluan Yoona, Tuan dan Nyonya Park yang menanggung, mulai dari masalah tempat tinggal sampai pakaian dalam pun mereka yang mengurus. Untungnya, Im Yoona mempunyai otak yang lumayan cemerlang –ralat, sangat cemerlang. Sehingga ia tak lagi merepotkan kedua orangtua Chanyeol yang tak pernah merasa direpotkan. Tentu saja. Beasiswa.

Park Chanyeol hanya berdehem pasrah menerima kekalahan.

“Aku sudah makan.” Lalu laki laki itu berucap, lalu melangkah pergi berniat meninggalkan Yoona.

“Yak! tidak usah ngambek hanya karena kalah berdebat. Duduk dan habiskan makan malamnya. Aku tahu kau belum makan”

Sekali lagi Yoona benar.

Chanyeol belum makan sedari siang.

Ah, gadis itu terlalu mengenalnya.

.

.

.

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat. Semakin cepat ketika ia menyadari orang itu juga mempercepat langkahnya. Keringat dingin tak henti hentinya menetes. Ia tak kepanasan di udara sedingin ini. Ia gugup dan ketakutan.

Sedari tadi, ia menyadari bahwa ada orang yang menguntitnya. Sialnya, kakinya saat ini sedang tak bisa diajak kompromi. Ia terpeleset kemarin dan dengan terpaksa harus menerima akbatnya. Seketika bulu kuduk Yoona berdiri, bayangan film horror yang sering ia tonton bersama Chanyeol berkelebat dengan hebat. Bagaimana kalau ternyata orang itu adalah seorang pembunuh bayaran? Atau pengambil organ tubuh bagian dalam? Yang kali ini targetnya Yoona?

Apartemen nya sudah kelihatan dari balik pohon eek yang rindangnya bukan main. Yoona mempercepat langkahnya sebisa mungkin, tapi kemudian melambatkannya ketika merasa bahwa tak ada lagi orang yang mengikutinya. Ia melihat ke sekelilingnya. Selain penjual hot dog, tak ada lagi orang di sekitarnya.

Menghembuskan nafas lega, gadis itu kemudian memilih untuk duduk sebentar di bangku yang ada di depan toko yang sudah tutup. Dalam diam ia memandang jalan raya yang lenggang. Hampir tak ada yang melintasinya. Ia lelah. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Banyak yang tejadi minggu ini…..

Dosen Kang meminta agar skripsinya sedikit di revisi.Oke, ia tidak tahu bahwa memulai skripsi lebih awal akan menuai akibat seperti ini. Harusnya ia memulai skripsinya saat teman temannya sudah memenuhi syarat, dengan begitu ia bisa bercerita pada mereka. Menguragi beban di punggung yang rasanya semakin berat. Ais, tapi harus Yoona akui, teman temannya itu lambat sekali. Entahlah sebenarnya mereka niat lulus atau tidak.

Sooyoung yang sebentar lagi akan menikah, meminta Yoona untuk menemaninya mencari ini dan itu karena calon suaminya sedang tidak ada di Korea.

Appa dan Eomma Chanyeol yang meminta Yoona agar segera berkunjung –tentu saja dengan Chanyeol.

Semua orang sepertinya membutuhkannya. Memang melelahkan, tapi itu jelas lebih baik daripada berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apa apa. Seperti Chanyeol.

Ah, laki laki itu…

Yoona baru sadar bahwa mereka agak sedikit ‘jauh’ belakangan ini. Yoona yang terlalu sibuk sehingga jarang bertemu dengannya. Mereka memang satu apartemen, tapi ia bahkan hanya bertemu Chanyeol di pagi hari ketika mereka sarapan dan kadang kadang waktu malam saat mereka makan malam.

Di Kampus mereka jarang bertemu. Mereke memang berbeda fakultas. Yoona di Psikologi dan Chanyeol di Manajemen.

Tapi itu bukan alasan.

Faktanya adalah Im Yoona –yang selalu mengikuti Chanyeol kemanapun ia pergi, mulai merasa lelah. Gadis berbibir tipis itu sedang mencoba untuk ‘menjauhi’ Park Chanyeol. Ia tak pernah menduga sebelumnya ia akan melakukan hal ini. Ia sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan laki laki itu. Tapi karena hal itulah, ia menjauhi Chanyeol. Ia tahu ia tak bisa seperti ini terus. Bagaimana pun juga Chanyeol tak akan pernah memandangnya sebagai seorang ‘wanita’ . Dan biar bagaimanapun juga ia harus membiasakan diri hidup tanpa Park Chanyeol.

Ah, membayangkannya saja sudah bisa membuatnya sedih.

Dengan hati hati ia mencoba untuk berdiri. Tapi sial, kakinya ngilu sekali. Ia tak bisa berjalan dengan kondisi seperti ini. Aish, ini pasti karena memaksakan berlari tadi, batinnya.

Dengan putus asa ia kembali duduk. Otaknya sedang berpikir keras apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Memaksakan jalan? Itu ide terbodoh. Menghubungi Sooyoung yang rumahnya jauh sekali dari sini? Ah, ia tidak ingin merepotkan.

Satu satunya orang yang bisa diandalkannya saat ini adalah Chanyeol.

Tapi..apa tidak apa apa?

Selama ini Yoona selalu saja merepotkan Chanyeol. Mulai sekarang ia harus belajar untuk tidak merepotkan laki laki itu. Jadi, dengan langkah terseok seok gadis itu mencoba berjalan. Langkah pertama dan kedua masih baik baik saja. Tapi di langkah ketiga, langkah itu terhenti. Tubuhnya jatuh ke bawah. Ia tak kuat lagi.

Ia masih mencoba untuk bangkit ketika tiba tiba ada sesosok badan tegap yang berjongkok di depannya. Lalu dengan cekatan ia melepas syal yang tadi melilit di lehernya dan memindahkannya ke Yoona. Wajahnya terlihat tegang.Kentara sekali. Laki laki itu menahan marah.

“Kau.. Kenapa bodoh sekali sih?! Sudah tahu cuaca sedang dingin dan malah tidak membawa syal? Dan.. Apa ini?! Mengapa kau masih memaksakan kakimu? Apa kau tidak punya ponsel ? Tidak tahu cara menghubungi orang ya?! Aish.. Kau benar benar”

Gadis itu hanya diam. Mencoba mencerna dengan baik kata kata yang tadi baru saja keluar dari mulut laki laki di depannya ini. Dan, tak lama kemudian, senyum tipis tercipta di wajahnya.

“Kau sedang mengkhawatirkanku ya?” ucap gadis itu sambil tersenyum. Yang ditanyai hanya terdiam. Semburat warna merah menghiasi pipinya.

“Hei, pipimu memerah” goda gadis itu lagi.

Laki laki yang di depannya tambah salah tingkah.

“Kau..kau ini bi-bicara apa sih? Cepat naik ke punggungku” Mengalihkan pembicaraan laki laki itu segera berbaik, menyembunyikan wahjahnya yang semakin merah. Kemudian dengan patuh Im Yoona segera menurut.

Perasaan canggung menghinggapi keduanya ketika Park Chanyeol mulai berjalan dengan Yoona di belakangnya. Mereka memang tak pernah melakukan skinship sedekat ini. Walalupun mereka sudah lama tinggal satu atap. Chanyeol selalu menghormati Yoona, begitupun sebaliknya.

“Berhenti.” Ucap gadis itu tiba tiba, kemudian dengan cekatan gadis itu membuka ikatan syal yang melilit di lehernya dengan satu tangan. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan, karena satu tangannya masih bertengger di pundak Chanyeol agar tidak jatuh. Setelah berhasil terlepas. Ia kemudian memanjangkan syalnya untuk dililitkan juga di leher PChanyeol.

“Syal ini cukup panjang, jadi seharusnya cukup.Dengan begini, tak ada dari kita yang kedinginan.” Gadis itu berkata, setelah kemudian menaruh tanganya kembali di pundak Chanyeol. Chanyeol yang ada dipannya hanya tersenyum, ia suka perhatian perhatian kecil yang diberikan gadis ini. Meskipun seringkali ia bersikap acuh tak acuh.

Kaki itu kembali malangkah, hembusan angin yang dingin kembali tercipta. Untungnya kedua leher tersebut sudah terbungkus oleh jahitan wol yang hangat. Suasana kembali canggung. Mereka bukanlah tipe orang yang membenci keheningan, terkadang keheningan itu diperlukan. Tapi ntahlah, salah satu dari mereka mulai mengeluarkan suara dalam bentuk kata kata.

“Park Chanyeol..” paggil gadis itu pelan. Laki laki yang menggendongnya tak menjawab karna tahu wanita itu belum selesai bebicara.

“Bagaimana kalau nanti secara tiba tiba aku menghilang?” ucap gadis itu asal. Ia juga sebenarnya tak begitu yakin dengan ucapan nya barusan.

“Hidupku pasti akan jauh lebih baik. Tapi, yang benar saja? Im Yoona menjauhi Park Chanyeol? Kau pasti bercanda” jawab laki laki itu percaya diri. Im Yoona yang berada di pundaknya hanya diam.

“Kau harusnya tersenyum” ucap laki laki itu kemudian,

“Aku tersenyum”

“Tidak, kau tidak.”

“Bagaimana kau tahu aku barusan tidak tersenyum? Memangnya kau punya mata apa di kepala bagian balakangmu?” Tanya gadis tu sarkastik.

“Ehm..kau tahu, terlalu lama bersamamu membuatku bisa merasakan desiran aneh saat kau bahagia”

“Yang benar saja..”

Kembali hening sampai akhirnya mereka tepat berada di pintu apartemen. Chanyeol kemudian membawa Yoona ke ruang tengah. Membuatkannya makan malam, kemudian menggendongnya lagi untuk tidur.

Yoona suka sekaligus benci dengan keadaan seperti ini.

Ia suka perhatian yang Chanyeol berikan.

Tapi, ia juga benci ketika ia tahu bahwa ia tak bisa memiliki perhatian itu selamanya.

.

.

.

3 weeks later

Dengan badan menggigil gadis itu menyeret kakinya lemah. Hari ini hujan dan ia tak bawa payung. Ia bukan tipe orang yang nekat menerobos hujan, tapi lagi lagi ia merasa ada yang mengikutinya. Dan rasa takutnya menang. Harusnya ia tak perlu terlalu khwatir tadi, banyak orang di stasiun, dan hal itu bukan alasannya untuk lari menerobos hujan.

Ia menerobos hujan, karena Chanyeol.

Yah. Ia merindukan laki laki itu.

Yoona akhirnya pulang dengan keadaan basah kuyup. Sampai di apartemen, seperti dugaannya sudah ada Chanyeol dan dia. Oke, mungkin kalian bertanya tanya siapa dia yang Yoona maksud. Dia disini adalah gadis yang sedang Chanyeol dekati akhir akhir ini. Dan mereka terlihat akrab. Ini sering terjadi sebelumnya. Chanyeol menyukai seorang gadis dan mengajaknya ke apartemen mereka yang mungil, uh rasanya apartemen mereka jadi berlipat lipat lebih sesak dari biasanya saat Chanyeol membawa seorang gadis. Tidak, jangan berpikir macam macam, Chanyeol hanya mengajak mereka –gadis yang pernah disukainya, untuk mengerjakan tugas atau sekedar menonton film.

Tapi, kali ini ada yang berbeda. Biasanya, laki laki itu tak pernah mengajak seorang perempuan ke apartemen selama seminggu berturut turut. Sekarang, hampir tak ada malam yang terlewatkan tanpa gadis itu. Yoona kesal, marah, dan tentu saja cemburu. Tapi sekali lagi ia merendam egonya. Tidak, ia tak melarang Chanyeol untuk menyukai seorang anita. Hanya saja, dengan hadirnya orang lain, waktu mereka jadi semakin sedikit. Yoona harusnya senang, dengan adanya wanita itu, usahnya untuk menjauhi Chanyeol akan semakin lancar.

Tapi ia juga tidak bisa membuhongi dirinya sendiri bahwa ia rindu. Banyak sekali cerita yang ingin ia ceritakan, tentang Sooyoung, tentang Dosen Kang yang menjengkelkan, tentang orang tua Chanyeol yang terus terusan meminta mereka utuk pulang, dan tentang seseorang yang Yoona rasa selalu mengikutinya belakangan ini.

Dan setelah wanita itu pergi, ia mencoba untuk berbicara dengan Chanyeol. Dengan pelan ia mengetuk pintu kamar laki laki itu. Tak berapa lama, laki laki itu membuka pintu. Yoona terdiam, lalu mengukir senyum di wajahnya. Chanyeol mengeryit. Mempertanyakan apa yang sebenarnya tujuan wanita ini mengetuk pintu kamarnya.

“Kau sudah makan malam?” tnaya Yoona lembut.

Laki laki itu tak menjawab. Tapi Yoona sudah tahu jawabannya.

“Jadi kau sudah makan malam dengannya” gumam gadis itu, kemudian melipatkan kedua tangannya.

Sejenak keheningan menyelimuti mereka.

“Sebentar lagi How I Met Your Mother akan tayang. Bagaimana kalau ngobrol sambil menonton?” ajak Chanyeol setelah melihat ke arah jam dinding yang terletak tepat di depannya. Gadis itu megangguk.

Serial Amerika yang selalu membuat Yoona tertawa kali ini terasa hambar. Kelakuan si tokoh utama yang biasanya membuat Yoona terpingkal kali ini seperti terlihat seperti pelawak yang memaksa untuk melucu. Di tengah tengah suara tv yang menyala, airmata itu keluar. Chanyeol tidak menyadarinya, sampai ia dengan tidak sengaja menoleh ke arah gadis disampingnya.

“Yoong.. kau.. menangis? Mengapa?” Laki laki itu bertanya, tapi gadis itu tak menjawab dan malah terisak semakin keras.

.

.

.

2 week later

Chanyeol tak pernah menyangka sekarang ia tak bisa melihat gadis itu lagi, tak bisa mendengar tawanya lagi, tak bisa mendengar ocehannya lagi, tak bisa memandang iris matanya yang mengikat, tak bisa membelai rambut nya yang halus.

Ia tak bisa…

Airmata itu jatuh, bukan hanya sekali, berkali kali.

Jatuh jatuh jatuh

Usap usap usap

Ia seperti daun rapuh yang sudah siap untuk jatuh, tetapi tetap menggelantung di sisi dahan dan mencoba bertahan.

Kepergian gadis itu tak pernah diduganya. Seperti proses korosi yang terjadi pada logam. Begitu cepat dan merugikan. Ya. Yoona pergi dengan cara itu, di usia semuda itu.

7 hari lalu, Chanyeol dikejutkan dengan kabar bahwa mahasiswa Inha University bernama Im Yoona telah tiada. Yoona ditemukan tewas dengan keadaan menggenaskan, di sepanjang lehernya ditemukan memar memar berwarna biru tanda baru saja dicekik, Yoona-nya dicekik sampai wanita itu kehabisan nafas. Ia dibunuh.

Saat mendengar alasan mengapa Yoona yang dibunuh, rasanya Chanyeol ingin membunuh orang saat itu juga.

Alasannya simple. Yoona menyelesaikan skripsinya terlebih dahulu. Teman temannya iri, mereka menganggap Yoona tak setia kawan, dan dengan teganya menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Yoona.

Setelah itu, rasanya seperti mimpi. Ia pulang ke Busan membawa Yoona yang sudah terbungkus rapi di dalam peti. Ibunya pingsan, Ayahnya bahkan tak berhenti menjerit dan menangis. Ibunya mogok makan selama 3 hari. Chanyeol sempat menyesal menolak ajakan Yoona untuk mengunjungi orangtuanya waktu itu. Dan malah memilih pergi kencan dengan gadis lain.

Chanyeol tak pernah berpikir bahwa kematian itu akan indah sampai kejadian ini. Pertama kali dalam hidupnya, Chanyeol merasa bahwa seharusnya ia ikut mati saja bersama Yoona. Bagaimana bisa manusia hidup tanpa oksigennya? Bagaimana bisa langit tanpa matahari dipagi hari? Bagaimana bisa malam tanpa bintang? Dan bagaimana bisa ia baru sadar bahwa Yoona begitu penting di hidupnya?

Berkali kali ia mengatai dirinya sendiri bahwa ia bodoh, tolol, tak peka, tak berguna. Karena ketika ia kembali ke apartemen-nya untuk mengemasi barang barangnya (ia memilih pindah) ia melihat note note kecil itu.

Tertempel dengan rapi di pintu kulkas mereka.

Kau pulang terlambar akhir akhir ini.

Dari mana saja?

 

Aku menonton How I Meet You Mother sendirian lagi

Kau sibuk sekali ya?

 

Aku merasa ada yang mengikutiku.

Aku takut.

 

Jangan lupa makan malam.

Aku sedang sibuk.

 

PARK CHANYEOL

AKU AKAN SIDANG!^^

Tulisan tulisan itu semakin menyadarkan Chanyeol bahwa hubungan mereka waktu itu memang benar benar jauh. Ia bahkan terlalu sibuk untuk sekedar melihat ke pintu kulkas.

.

.

.

“Bagaimana kalau nanti secara tiba tiba aku menghilang?”

“Aku menangis karna aku begitu merindukanmu. Tolong, jangan tinggalkan aku sendiri”

.

.

.

82 thoughts on “(Freelance) Let Me Go

  1. Sediih bangeet,, jujur aku sampe (•̩̩̩̩͡_•̩̩̩̩͡)..apalgi pas tau chanyeol sllu pulang bw cew n yoona kebasahan krn huujan serta takut krn ada yg ngikutin dan bagian note2 yg tertempel d kulkas,, feelnya dpt bangeet, ampe sesenggukan…

  2. Akh! Daebak! Tp temen2nya YoonA aneh, masa menyelesaikan skripsi duluan dianggap ga setia kawan? #benar benar aneh -,- kalau bsa buat sequel ya thor!
    Keep writing!^^

  3. Sedih banget elah…. tega banget temen-temennya yoona….padahal pen liat yoona-chanyeol bersatu eh malah yoona meninggal duluan aaaaa

  4. jujur aku nangis baca ff ini..akhr yg tidak kuhrapkn SAD ENDING…sungguh disyngkn chanyeol gak peka ..pasti chanyeol nyesel bnget. gk bisa bles perasaannya yoona.
    yg pling kusuka part note yg ditempel di kulkas..
    ditnggu karya lainnya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s