(Freelance) It’s Hurt

By8OonTCYAAUKY3

It’s Hurt

By. FLYers

Sequel “Just a Word”

Main Cast : Xi Luhan | Im YoonA

Genre : Romance

Rating : 15+

Warning!!!

HarapPERHATIKAN TANGGAL yang tertera

agar tidak bingung di tengah jalan

Terimah Kasih

 

Happy Reading^^ dan jangan lupa memberi komentar

 

****

23-Februari-2015

Hari ini adalah hari kelulusan, disaat yang lain tengah berada dalam kegembiraan mereka –merayakan dengan cara mereka sendiri- aku lebih memilih berada di sini. Duduk menyendiri di sudut perpustakaan yang hanya di huni olehku dan seorang penjaga yang terlihat culun dengan kacamata tebalnya.

Sunyi. Aku bahkan dapat mendengar dengan jelas detak jarum jam yang berada di tengah ruangan.

“Hei kau! Aku akan segera mengunci ruangan ini? Tak berniat pergi?” aku menoleh ketika si kacamata tebal itu berbicara. Menatapnya yang nampak kesal –kutebak sedari tadi ia ingin pergi dari sini, namun menungguku?

Tanpa banyak protes lagi aku segera menyambar tas yang kuletakkan di atas meja lantas membungkuk sebagai salam dan segera pergi dari tempat ini. Tempat yang akan sangat kurindukan. Bagian sekolah favoritku. Dulu kami sering ke tempat ini, saat ia masih ada. Dan sekarang, setelah ia menghilang meski aku meyakinkan diri untuk tetap menunggunya namun pada kenyataan aku tetaplah harus meninggalkan semuanya. Mungkin itu terdengar lebih baik untukku –Ya, meninggalkan segalanya di sini.Biarlah ruangan paling sepi di sekolah ini menanggung bebanku yang terus bercermin pada sesuatu yang telah pergi.

“Im Yoona?” aku berbalik ketika seseorang menginterupsiku, suaranya terdengar ragu-ragu –siapa?

“Kau Im Yoona? Benar?” ia maju selangkah –kedua tangannya berada didalam saku mantel tebalnya. Matanya menatapku kurang ramah namun terdapat rasa lega yang terpancar –aku masih diam di tempat.

“Akhirnya aku menemukanmu juga, Yoona-ssi” ada jeda sebelum ia mengucapkan namaku. Tapi tunggu –siapa dia?Aku bersumpah dalam hidupku aku tak pernah bertemu dengannya.

“Kau siapa?” aku menyadari nada bingung dalam suaraku. Dan ia tersenyum –senyum yang menurutku kaku namun tak asing, aku seperti mengenal senyumnya. Siapa dia?

“Kita butuh bicara”ia berbalik dan mulai melangkah, namun hingga langkah ketiga ia kembali berbalik dan menatapku. Menghembuskan nafasnya pelan “Kau ikutlah”

Namun aku masih diam, tak mengerti apa yang diinginkan lelaki dengan tinggi semampai ini. Ia bukanlah seseorang yang akan kuturuti hanya karena ia mengetahui namaku. Lagipula aku tidak mengenalnya.

“Kau siapa?” lagi –aku mengulangi pertanyaan yang sama. “dan kau tahu namaku? Darimana?”

“Kau ikutlah dulu” itu bukanlah jawaban.Semua orang tahu.

“Apa aku harus mengajarimu bagaimana menjawab pertanyaan sederhana ini?”Ia terdiam –menatapku agak kesal. Aku sungguh tak bermaksud untuk berargumen dengannya.Ia hanya orang asing yang tak kuketahui –dan ia terlalu berbelit-belit. Jangan lupakan aku sedang dalam moodyang kurang baik –ahh maksudku tidak baik.

“ckk, kau sunguh tak berubah rupanya” ia berjalan mendekatiku, tangannya bergerak memainkan beberapa helai rambutku. Namun hanya sekilas sebelum aku menghempaskan tangannya.Ia tersenyum miring dengan tindakanku. Aku sungguh ingin menampar lelaki ini.Tanganku telah terkepal kuat di sisi tubuhku, menatapnya tajam berusaha mengontrol emosi. Namun kalimat yang ia ucapkan selanjutnya membuat pikiranku seakan kosong.

“Kau telah melupakan Xi Luhan?”

 

19-Juni-2011

Jam baru saja menunjukkan pukul 6.10 pagi, sesungguhnya itu terlalu pagi untuk menjadi jam bangun gadis yang tengah berkutat di dapur. Sibuk menghias cake yang di buatnya semalam. “Shit” berulang kali ia mengumpat atas kebodohannya –tertidur dengan posisi duduk ketika menyiapkan cake ini semalam. Seharusnya pagi ini ia hanya butuh mempersiapkan diri untuk kejutannya, bukan sibuk dengan apa yang seharusnya telah selesai.

“Kau belum menyelesaikan itu?” ia melirik dengan ekor matanya, mendapati adik lelakinya yang tengah berjalan kearah lemari es. Rambutnya berantakan menandakan ia baru saja mendarat dari alam mimpi.

“Kau diamlah.Mengganggu!”

“Aku hanya bertanya.Lagipula kau terlalu bekerja keras untuk hari jadi kalian. Aku bahkan tidak yakin Hyung mengingatnya”

“Yakkk!!!! Diam kau!!” gadis itu melempar sendok yang ada di hadapannya, membuat sang adik tertawa terbahak-bahak dengan tingkah kakaknya.

“Hahhahaha, semangat Yoona Noona. Pastikan kau tidak terluka dengan pisau ditanganmu”

“Ku bilang diam Im Jaebum!!”

“Aku hanya mengkhawatirkanmu.Tak ada yang tahu jika tiba-tiba kau mengira jarimu adalah Strawberry bukan?”Jaebum tertawa keras dengan leluconnya sendiri, memilih melangkah pergi dengan mata tajam kakaknya yang masih mengawasinya.

“Noona!”

“Apa lagi!”

“Aku tahu kau takkan segila itu, jadi berhenti menatapku horror dan segera jawab telfonmu. Kupikir itu dari calon masa depanmu”

“Dan kupikir aku sungguh muak dengan adik kecilku satu ini!”

“Aku bukan –“ Jaebum belum menyelesaikan kalimatnya namun sang kakak telah memilih untuk menjawab panggilan yang sedari tadi menggetarkan ponselnya. Dengan menghentakkan kaki ia mulai menaiki tangga dengan umpatan yang tidak jelas.

“Aku ini remaja, bukan anak kecil. Lagipula kami hanya selisih empat tahun! Dasar, apa yang diharapkan Luhan hyung dari gadis macam dia”

.

.

.

Yoona berulangkali menatap jam tangan yang bertengger di pergelangan kirinya. Serasa menghitung setiap detik yang berlalu membuatnya merasa bosan, menunggu memang tak akan pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ini akhir pekan, dan mereka telah menyepakati untuk kencan sore harinya sekaligus merayakan anniversary pertama mereka.

Gadis dalam balutan dress berwarna Peach itu menoleh ketika mendengar suara lonceng yang berada di pintu café –tanda ketika seseorang memasuki tempat bernuansa Eropa ini. Ya, mereka berjanji untuk bertemu di café yang berada di persimpangan dekat taman kota. Namun lihatlah yang terjadi, Yoona harus kembali menghela napas kesal ketika mendapati bukan Luhan yang berada di sana. Kemana lelaki itu?ia telah membuatnya menunggu selama hampir sejam.

Merasa kesal dan tak tahu harus apa, ia segera mendeal kontak lelaki China itu.

“Lu! Kau di mana?” ia rasanya ingin meledak, haruskah anniv mereka berbuah pertengkaran yang tak seharusnya terjadi?

“Aku masih di jalan, maafkan aku.Aku lupa tempat kita bertemu. Maaf”

“Astaga Lu! Berhenti mengigau dan segera kemari.Aku telah muak menunggumu!”

“Maaf Yoong! Aku janji tiba dalam 15 menit”

“Tidak! 5 menit”

“Aku tak tahu Yoona, 10 menit oke?”

“Luhan, aku tak ingin kita bertengkar.Apa kau sedang mengerjaiku? Memberi kejutan atau semacamnya?Sudahlah, aku tak mengharapkan itu. Hari ini bersamamu sudah cukup Lu”

“Aku akan segera tiba, aku berjanji” tak ada respon dari Yoona membuat Luhan menghela nafas pelan “Yoong, maafkan aku oke?”

Yoona akui ia memang tak mampu marah dengan lelaki ini, mendengarnya memohon benar-benar menggetarkan hatinya. Tanpa sadar ia tersenyum, membiarkan Luhan terus mengoceh tentang kesalahnnya dan meminta Yoona untuk memaafkannya. Itu terdengar biasa untuk sepasang kekasih namun bagi Yoona cara Luhan meminta maaf berbada. Ia terdengar lucu dengan bahasa malu-malunya.

“Yoong..kau disana?”

“Aku mencintaimu Lu” ada jeda beberapa detik sebelum Yoona membuka suara. Meski lelaki itu tak sedang berada di hadapannya namun Yoona yakin ia tengah tersenyum. Terbukti dengan nada bicaranya.

“Aku juga mencintaimu sayang”

“. . .”

“Aku tak ingin melupakan hari ini, jadi mari buat sesuatu yang menyenangkan!”

 

23-Februari-2015

“Kau sungguh berbeda, maaf tak mengenalimu” Yoona menggigit bibir bawahnya.Menatap tak percaya lelaki yang ada dihadapannya –mereka tengah berada di café depan sekolah. Bohong jika ia tak merasa canggung dengan suasana ini. Lama tak bertemu membuatnya merasa aneh? Ia seperti tak mampu mengekspresikan diri. Ia bahagia namun ada rasa lain yang mengganggu. Lelaki yang kini tengah duduk santai di hadapannya benar-benar nampak berbeda, jauh berbeda dari terkhir kali mereka bertemu setahun yang lalu.

Nampak lebih dewasa dan berkarisma, padahal mereka lahir di tahun yang sama –ya, meski ia adalah seniornya di sekolah dulu.

“Well aku tahu. Nampak jelas dari bagaimana kau mengabaikanku” lelaki itu menyeruput kopi miliknya, mempersilahkan Yoona untuk melakukan hal yang sama menggunakan bola matanya membuat gadis itu tertawa kecil dengan tingkahnya.

“Kau tertawa?” pertanyaan bodoh!

“Apa kau berfikir dirimu keren dengan gerakan mata seperti itu?terlihat tak cocok untukmu”

“Benarkah?Banyak yang mengatakan itu adalah daya tarikku. Mereka berkata itu menggoda” ia mengedipkan matanya, tersenyum menatap gadis yang nampak terbahak di hadapannya. Tawa yang membuatnya kembali bernostalgia di masa SMA-nya dulu.Tawa yang selalu disukainya dan juga menyajikan realita yang harus diterimanya.

“Yoong aku merindukanmu.Sangat” hatinya tersenyum dengan perkataannya.

 

07-Agustus-2011

“Goodmorning baby. Apa kita bertemu di mimpimu?” sejujurnya Yoona sempat mengumpat ketika ponselnya bergetar pagi itu –berfikir mengganggu waktu tidurnya –namun ketika mendapati suara Luhan senyum terukir dibibirnya.

“Morning. Aku tahu kau mengharapkan itu, tapi sayang sekali aku bermimpi kencan dengan lelaki lain” dengan mata masih terpejam Yoona tersenyum bodoh dengan respon Luhan. Lelaki itu kembali mengomel dengan candaannya.

“Aku hanya bercanda, aku bermimpi kau menjemputku ke sekolah dan seluruh gadis yang mengidolakanmu menatapku sinis”

“Benarkah? Hahahah lucu sekali”

“Noona!Aku lapar, sarapannya belum kau siapkan?Aku harus ke sekolah, tersisa 20 menit lagi sebelum gerbang di tutup” Jaebum membuka pintu kamar secara tiba-tiba, menyembulkan kepalanya dan mendapati Yoona yang terkejut dengan tingkahnya.

“Tahukan ini kamar seorang gadis, kau harusnya mengetuk dulu meski aku ini kakakmu. Bagaimana jika—“

“Memangnya apa yang bisa kulihat darimu. Tak ada yang sesuatu yang membuatku harus mengetuk pintu dulu, bagaimanapun aku tetap mendapatimu di dalam selimut, tertidur dengan mulut menganga”

“Yaaa! Im Jaebum!”

“Cepatlah siapkan sarapan” Yoona mendengus kesal ketika Jaebum menutup pintu kamarnya, dasar anak itu!

“Apa itu tadi?” suara Luhan kembali terdengar.Aaah Yoona hampir lupa dengan ponselnya.

“Kau tahulah, Jaebum seperti biasa” Yoona menyingkap selimutnya dan berjalan keluar kamar.

“Menyiapkan makan?”Luhan menebak.

“Emmm aku mulai berfikir kapan Jaebum kembali tinggal di Jepang bersama ibu dan ayah, jadi tak perlu merepotkanku” Yoona mendengus, ia kembali mendapati Jaebum yang telah duduk manis di meja makan –menatapnya tersenyum meminta makan.

“Jadi maksudmu jika kelak kita tinggal bersama aku juga akan merepotkanmu?” mata Yoona membulat lebar –entahlah jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan.

“NO!! bukan itu maksudku. Lagipula kenapa kau tiba-tiba membicarakan itu?”Yoona menggaruk tengkuknya, pembahasan pagi ini sepertinya berat.

“Kenapa? Itu akan terjadi bukan? Atau jangan bilang kau tak akan menikah denganku”

“Luhan, aku ingin. Kau tahu itu”

“Emmm kau yang mengatakan, maka jangan sampai kau mengingkarinya”

“Lu, kau harus bersiap. Jangan sampai terlambat dan mendapat omelan guru Ahn”

“Kau ingin mimpimu semalam terkabul?”

“Hah?” Yoona mengedipkan matanya bingung.

“Mulai hari ini aku akan menjemputmu ke sekolah”

.

.

.

Dan benar saja, Luhan membuktikan perkataannya pagi itu.ia benar-benar menjemput gadisnya. Mengejutkan Yoona ketika ia telah berdiri di depan pintu ketika gadis itumembukanya.

“Ku pikir kau hanya bercanda tentang ini” Luhan tersenyum menunjukkan giginya, tangannya bergegas memasangkan helm untuk Yoona.Menggenggam tangannya menuju motor sport hitam miliknya.

Yoona tersenyum namun hanya sesaat sebelum ia mengubah ekspresinya bingung.

“Ada apa?” ia menatap Luhan yang sibuk merogoh saku celananya.

“Kuncinya hilang, beberapa detik lalu aku memegangnya” Luhan benar-benar panik –ia menatap jam tangan miliknya dan seketika terbayang guru Ahn yang super galak. Bagaimana jika ia terlambat?

“Apa kau sengaja mengerjaiku lagi?”Yoona melipat tangannya, menatap Luhan menahan tawa.

“Kenapa wajahmu seperti itu?apa ini lucu?”

“Tentu saja, kuncinya ada di saku bajumu bukan celana bodoh” Luhan tertawa aneh ketika mendapati kuncinya di sana.

“Kau tahu dari mana?”

“Kau menyimpan itu di sana ketika memasangkan ini” Yoona menunjuk benda yang ada di kepala dan mereka tertawa bersama.

“Kau cantik saat tertawa, aku tak ingin melupakan tawamu” Yoona memukul pundak Luhan –ia malu jika di puji seperti ini.

 

 

23-Februari-2015

Yoona menatap tak percaya lelaki yang ada di hadapannya.Bola matanya secara berangsur memanas hingga cairan bening itu lolos.Berulang kali menggelengkan kepala –mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya hanya candaan yang takkan berarti apa-apa.Namun ekspresi lelaki itu meruntuhkan segalanya.Ia tak berbohong –Yoona cukup mengenalnya untuk mengetahui itu.

“Jadi inikah alasannya?”Yoona meremas kaki seragam sekolah yang belum sempat digantinya.Lelaki itu menunduk, nampak menyesal dengan perkataannya.

“Maaf, tak memberi tahumu dari awal. Aku hanya takut ini akan menyakitimu”

“Aku sudah tersakiti, kau tahu itu.Ditinggal tanpa tahu apa yang terjadi kau pikir itu lebih baik?”

“Maaf, saat itu aku berfikir semua akan baik-baik saja”

“Namun semua tak baik-baik saja, seperti itu?” Yoona menundukkan kepalanya, menangis dalam diam –tak ingin menarik perhatian pengunjung lain yang tengah menikmati waktu luang di café ini.

 

05-September-2011

“Pakaian ganti sudah, snack sebayak ini kurasa cukup. Peralatan mandi sudah, tak ada yang terlupakan?” pagi itu Yoona di sibukkan dengan acara pengecekan ulang barang yang akan dibawanya. Ia akan berada di Busan dalam dua hari terakhir ini. Ekskul yang diikutinya akan berlibur di sana –Dance, ya klub dance yang diketuai Luhan. Sebenarnya ini adalah bentuk perpisahan untuk para senior yang bisa dibilang akan lepas tangan. Mereka harus mempersiapkan diri untuk ujian akhir yang sebentar lagi akan menentukan kelulusan mereka. Singkatnya pensiun dan segera memilih ketua baru untuk ekskul yang paling banyak diminati.

“Noona, Luhan hyungsudah datang” Yoona hampir saja terjatuh dari kursi ketika kepala Jaebum kembali menyembul di pintu.Ia menatap adik lelakinya itu menahan kesal, kapan Jaebum akan menghentikan kebiasaan buruknya satu ini?

“Suruh masuk saja” sejujurnya Yoona ingin sekali menceramahi Jaebum, namun ia berfikir itu hanya akan percuma –buang waktu dan tenaganya untuk mengoceh. Toh Jaebum tak pernah mendengar apa yang dikatakannya.

“Baiklah!” Jaebum menghilang setelah ia menarik badan dan menutup pintu. Meninggalkan Yoona yang menghela nafas kesal.

Gadis itu segera beranjak, mengambil handuk yang tadi diletakkannya di atas tempat tidur dan segera melangkah menuju ke kamar mandi.Ia tak seharusnya membuat Luhan menunggu lama bukan?

.

.

.

Yoona keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit tubuhnya –terkejut mendapati Luhan yang mentapnya tersenyum, duduk di atas tempat tidurnya dengan santai.

“Yaaa, apa yang kau lakukan?”Yoona menyilangkan kedua tangannya di dada –memandangi Luhan horror.

“Jaebum bilang kau menyuruhku masuk” Luhan terkikik dengan perkataannya.

“Apa Jaebum? Kapan aku mengata –ahh Jaebum bodoh!” gadis itu sedikit menghentakkan kaki kesal.Jaebum, bocah itu.

“Maksudku itu kau masuk kedalam rumah, menungguku di ruang tengah bukan di kamarku”

“Hahaha, sudahlah lagipula aku sudah terlanjur masuk. Dan sepertinya menyenangkan berada disini”

“Mesum!!!”

“Terserah, kaukan kekasihku” Luhan mengedipkan matanya, tersenyum menatap Yoona yang nampak kesal.

“Aku ingin berpakaian jadi keluarlah.Apa kau ingin kita terlamabat?”Yoona melangkah menuju lemari, mengeluarkan pakaian yang telah dipilihnya semalam.

“Haruskah kita sengaja terlambat?”Luhan berdiri, membiarkan kakinya melangkah mendekati Yoona.

“Kurasa itu ide terburuk!” Yoona tahu ia gugup sekarang, berada dalam satu ruangan dengan Luhan dan keadaannya seperti ini. Ia mulai berfikiran yang tidak-tidak.

“Kau juga memikirkannya bukan? Wajahmu menggambarkannya dengan jelas”

“Berhenti menggodaku” Yoona berbalik –terkejut ketika Luhan berada di belakangnya dengan jarak yang tak bisa dibilang jauh.

“Lagipula kita akan menikah”

“Kita terlalu muda untuk hal itu Luhan”

“Emm aku tahu, tapi-“ Luhan mengusap rambut Yoona yang masih basah, tersenyum dan mendekatkan wajahnya.

“Aku suka wangi sabun yang kau kenakan.Tercium seperti Yoona milik Luhan, aku takkan melupakan wangi ini” Yoona tertawa geli dengan perkataan Luhan. Sejujurnya ia merasa udara di sekitarnya memanas, Luhan benar-benar!

Cukup lama mereka menjaga posisi yang sama, tangan Luhan masih berada di kepala Yoona.

“Boleh aku menciummu?”Luhan memainkan jemarinya di pipi kanan Yoona.Ini adalah bagian yang tak Yoona sukai dari Luhan.Ia benci ketika katika lelaki itu mengatakanya. Kenapa? Karena jantungnya akan berdetak kencang, ia menjadi kikuk untuk menjawab –ia merasa malu? Luhan memang selalu berhasil untuk membuatnya tak karuan.

“Diammu kuanggap iya” Luhan mengusap bibirnya pelan –secara naluri Yoona menutup matanya.Membiarkan Luhan mengambil alih bibirnya ketika keduanya bersentuhan. Luhan melumatnya pelan, menangkup pipi gadisnya dengan hati-hati –nampak seperti menjaga sesuatu yang akan retak jika ia salah gerakan.

“Aku akan menunggu hingga kita berdua dewasa” Luhan mengatakan itu ketika menarik bibirnya.Tangannya kini berada di pundak Yoona yang terbuka.Tersenyum menatap mata jernih gadis yang begitu indah baginya.Gadis yang memerah karena perlakuannya.

“Segera berpakaian.Aku ada dibawah” Luhan mengacak rambut Yoona sebelum meninggalkan tempat itu.Tak lupa membawa koper milik Yoona bersamanya.

.

.

.

“Baiklah, apa semua sudah datang?”Luhan menatap anggotanya. Mereka tengah berada di ruang latihan untuk klub dance sekolah. Sebagai ketua ia harus mengkoordinir hal ini –ya,terakhir kalinya sebelum ia harus fokus untuk ujian.

“Sooyoung, Jongin, dan Yuri kurasa belum disini” Hyoyeon mengedarkan pandangannya.

“Mereka sudah di sini Hyo” Luhan mengarahkan matanya kesudut kiri ruangan –dimana dua gadis tengah tertidur bersandar pada dinding.Sedetik kemudian tawa memenuhi ruangan itu dan mengejutkan mereka yang tengah tertidur.

“Apa aku melewatkan sesuatu?” itu Kris.Ia berdiri di depan pintu, menatap heran dengan tawa orang-orang. Dibelakangnya Jongin muncul dengan rambut berantakannya.

“Kutebak kau terlambat karena menunggu Jongin terbangun, benar?”

“Kalian tahu persis jawabannya” Kris melangkah masuk dan mengambil posisi di samping Luhan –well, dia salah satu senior yang jabatannya cukup penting.

“Wahh benar-benar junior yang hebat.Membiarkan senior menunggumu terdengar kurang ajar” Luhan melirik jenaka ke arah Jongin yang telah duduk di samping Taemin.

“Oke, siapkan diri kalian.Kita berangkat dalam 10 menit” Luhan berdiri dari duduknya –tersenyum simpul ketika matanya bertemu dengan Yoona yang diapit oleh Sulli dan Key.

“Luhan!”Kris bergumam di belakangnya.Berdiri mengikuti Luhan yang berjalan mengambil minum di sisi ruangan.

“Apa?”

“Mereka menelfonku semalam” Luhan baru saja akan meneguk airnya ketika Kris berkata itu. Ia meletakkan gelas di atas meja –berbalik menatap Kris.

“Apa yang dikatakannya” cukup lama sebelum Luhan menjawab.Matanya menatap kosong dinding di belakang Kris.Ia benci perasaan ini –perasaan yang membuatnya harus kembali ke dunianya.

“Kau tahu persis jawabannya.Belakangan ini semuanya semakin parah –kau tak bisa menyembunyikan ini semua hingga akhir Luhan” Kris mengambil alih gelas yang tadi diletakkan Luhan di meja –meneguk air di dalamnya dan menepuk pundak Luhan sebelum melangkah pergi.

“Aku tahu kau lelaki, namun setiap orang punya sisi kelemahannya bukan?”Luhan terdiam. Sejujurnya Kris adalah saudara sepupunya –ibu mereka berasal dari keluarga yang sama. Kris beberapa bulan lebih muda darinya namun anak itu nampak lebih dewasa darinya.Ya, Luhan tahu pasti bagaimana Kris –mereka telah bersama sejak balita dan memilih melanjutkan pendidikan di Korea bersama.

“Ahhh Kris?”

“Ya?”

“Apa Jongin sudah datang?Ia akan menjadi salah satu calon ketua nanti” Kris membulatkan matanya.Ia merasa kesal untuk setiap alasan, kenapa Luhan harus menjadi seperti ini?

“Luhan!Kau tak kenapa-napa.Kau baik-baik saja.Kau akan baik” itu lebih seperti menyakinkan dirinya sendiri daripada Luhan.

 

23-Februari-2015

“Yoong?”Yoona mengusap air matanya –menatap lelaki di hadapannya yang nampak bersalah.

“Sejak kapan?”Yoona meneguk air liurnya ketika mengatakan itu.ia tak ingin tahu lebih karena itu akan menyakitinya –namun disisi lain ia merasa punya hak untuk mengetahui segalanya. Ia tak seharusnya menjadi pihak yang tak tahu apa-apa disini.

“Sejak kelas 1 SMA” Yoona kembali menangis.

“Dan selama ini aku tak tahu apa-apa?”

 

20-November-2011

Yoona mengusap layar ponselnya –sedikit mendesah kesal karena tak menemukan apapun di sana selain fotonya bersama Luhan yang menjadi background. Jam telah menunjukkan pukul 11 malam lewat, matanya sungguh berat sedari tadi. Bahkan Yoona yakin Jaebum telah meringkuk dalam selimut tebalnya. Namun ia masih berusaha terjaga, berfikir jika bagaiman Luhan tiba-tiba menelfonnya. Beberapa minggu terakhir ini mereka jarang bertemu dan bahkan seringkali ia harus merasa kecewa karena kencan yang telah mereka janjikan batal secara tiba-tiba.

Sejujurnya Yoona merasa kesal –namun berfikir tentang bagaimana lelaki itu tengah berupaya keras untuk kelulusannya membuatnya harus melenyapkan amarah itu. Tapi Yoona merindukannya, Luhan tak lagi pernah menampakkan diri di lapangan bola ataupun basket –ia bahkan tak pernah mengunjungi klub dance setelah Taemin ditunjuk sebagai penggantinya. Bagian terburuknya Luhan tak lagi bisa menjemputnya setiap pagi. Singkatnya intensitas pertemuan mereka menurun drastic –apa Luhan terlalu bersusah payah untuk ujian akhr ini?

Matanya sungguh berat, namun ponselnya masih diam sebagaimana ia berfungsi sebagai benda mati. Tanpa sadar ia tertidur –tertidur dengan ponsel di tangannya dan dengan harapan untuk bertemu lelaki itu di mimpi.

.

.

.

“Kris! Kau melihat Luhan?” pagi itu Yoona mendapati Kris di koridor kelas.

“Ahhh..aku tidak” Yoona mengangguk dengan jawaban seniornya, sesungguh kurang sopan memanggil dengan nama, namun mengingat mereka lahir ditahun yang sama dan fakta bahwa ia adalah sepupu Luhan tak salah bukan ia memanggilnya seperti itu. toh Kris tak pernah protes –mungkin tak ingin buang tenaga untuk mengoceh hal kecil seperti ini.

“Ahhh, belakangan ini kami jarang bertemu.Aku merindukannya, sesibuk itukah dia?”Yoona memanyunkan bibrnya.Membiarkan Kris melihat kelakuannya yang seperti anak kecil.

“Haruskah kau cemburu dengan benda mati semacam buku?”

“Mungkin terdengar gila, tapi jika karena itu ia jarang menemuiku kupikir aku benar-benar cemburu” Yoona tertawa sesudahnya, menyadari perkataan bodohnya.Tak begitu menyadari tatapan Kris yang nampak prihatin padanya.

“Kau mungkin terlalu periang untuk bersedih”

“Apa?” Yoona menghentikan tawanya “Kurasa kau mengatakan sesuatu”

“Mmmm, kelas akan di mulai. Tak berniat pergi?”Kris tak setega itu untuk mengatakan semuanya.

 

 

23-Februari-2015

“Kau hanya tak menyadarinya Yoong” lelaki itu berjalan berusaha menyeimbangkan langkah dengan Yoona.Gadis itu baru saja berlari keluar café.

“Bukankah kau tahu sendiri ia seringkali melupakan sesuatu, bahkan tempat janjian kalian.Kau hanya tak menyadari segalanya Im Yoona” Yoona menghentikan langkahnya, berbalik menatap lelaki yang tak lain adalah Kris –lelaki yang menemuinya di sekolah, orang dari masa lalunya.

“Ia tak ingin kau mengetahui sisi terburuk dari dirinya.Ia selalu meyakinkan diri untukmu, ia selalu berusaha untuk tak menghapusmu dari ingatannya. Namun ia tak mampu, sekeras apapun ia mencoba ia takkan mampu. Penyakit ini menghapus segalanya, tentang keluarga, kau bahkan dirinya sendiri”

Mata Yoona masih memerah, cairan hangat itu masih setia mengaliri pipinya.Alzheimer*) –ya, itu yang di katakan Kris di café tadi. Luhan difonis penyakit itu yang merupakan gen dari kakeknya.

Alasan Luhan melupakan hari ulang tahunnya dulu.Melupakan tempat kencan mereka. Melupakan apa yang baru saja terjadi, hingga tak pernah menghubunginya karena tak lagi mampu menggunakan ponsel. Ya, Kris benar.Yoona hanya tak menyadarinya.Luhan terlalu sering melupakan sesuatu hingga bagian terburuknya melupakan orang-orang di sekitarnya secara perlahan-lahan. Seperti bagaimana ia tak mengenali benda-benda di sekitarnya. Seperti bagaimana ia kesulitan berbicara. Ia menjadi tak tahu apa-apa, seperti seseorang yang tak tahu arah di tengah keramaian.

Setelah hari kelulusan angkatannya mereka pergi –Kris dan Luhan kembali ke China, keputusan yang terdengar lebih baik untuk kembali pada orang tua.Seperti bagaimana ibu dan ayah Luhan yang terus menelfon Kris, meminta mereka kembali mengingat keadaan Luhan yang semakin parah.

Dan kau tahu bagian yang paling menyakitkan bagi Yoona? Hingga Kris datang menemuinya dan mengatkan segalanya ia tak tahu apa-apa. Ia tak pernah tahu luka yang harus di tanggung Luhan di balik senyumnya. Ia tak pernah tahu.

 

“Aku tak ingin melupakan hari ini, jadi mari buat sesuatu yang menyenangkan!”

“Kau cantik saat tertawa, aku tak ingin melupakan tawamu”

“Aku suka wangi sabun yang kau kenakan. Tercium seperti Yoona milik Luhan, aku takkan melupakan wangi ini”

“Aku tak ingin melupakan janji kita Yoong”

 

Kilas balik dari Luhan menggetarkan sarafnya.Kenapa?Ia bahkan tak sempat untuk berusaha membuat Luhan tetap mengingatnya. Ia hanya membuang waktu dengan terus mengharapkan keajaiban Luhan datang kepadanya, ia tak berusaha mencarinya. Ia hanya menghabiskan waktu dengan berfikir bahwa ialah orang paling terluka tanpa berfikir bagaimana Luhan di sana. Yoona merasa bodoh, apa yang di lakukannya selama ini?

“Luhan” Yoona menangis lagi –ia adalah sosok yang rapuh di balik senyumnya. Menangis tanpa perduli tatapan orang lain yang melihatnya. Ia tak peduli, tangannya meremas rok seragamnya. Membiarkan tangisnya pecah didada Kris yang entah sejak kapan mendekapnya.

 

Hari ini 25 Februari 2015, hari yang seharusnya diiringi oleh tawa.Hari yang seharusnya membuatnya bahagia. Hari iniia bukan lagi anak SMA yang menggunakan seragam hingga larut, seharusnya ia bahagia dengan kelulusannya. Namun fakta yang baru di jumpainya seakan merenggut segalanya.

Ini menyakitkan….

-FIN-

*)Alzheimer : Adalah suatu gangguan otak (dimensia) yang terus berlanjut dan tak dapat kembali seperti semula. Penyakit yang belum di temukan obatnya hingga kini.Penyakit ini biasa dijumpai pada lansia maupun muda. Dapat juga di sebabkan oleh gen keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama. Penyakit ini menyebabkan penderita seringkali lupa dengan hal-hal kecil hingga jalan pulang.Kesulitan mengenali orang bahkan melupakannya.Perubahan kepribadian dan kesulitan dalam melakukan aktivitas dan berkomunikasi.

***

Hahahaha… hai aku bawa sequel “Just a word” yang aku janjiin.

Aku tahu ff ini amburadul banget, maklumyah aku penulis amatir😄

Seburuk-buruknya karyaku jangan lupa comment yah.

Penilaian kalian itu sangat berari buat aku😀

Satu lagi, aku kayaknya bakal ngejadiin ini series. Tapi gk yau jadi apa ngkk *LOL

Oke, see ya!!!

23 thoughts on “(Freelance) It’s Hurt

  1. Akh daebak Tp sedih karna luhan kena Alzheimer, tp bacanya agak bingung karna aku ga merhatiin tanggalnya #plak! Kalau bsa d buat sequel ya Thor!
    Keep writing!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s