[Freelance] In Melbourne (Chapter 2/2)

inmelbourne-by-peniadts

In Melbourne (2 of 2)

 

Written by Nawafil

 

PG-13

 

Romance, Sad, Action, Family

 

Twoshoot

Starring by EXO’s Sehun | GG’s Yoona

Support cast : A former member from EXO (Lu Han) | f(x) Krystal | Han Seung Min (OC)

 

Poster by Peniadts at cafeposterart.wordpress.com

 

Disclaimer : All cast belong to god, but the plot of the story is mine. This story is not true, just a fiction. DO NOT PLAGIARISM!

Just enjoy reading.

“Aku.. membencimu, Oh Sehun.”

.

.

.

.

2 Days after Yoon Mi’s Death.

Yoona berjalan lunglai dan tanpa arah. Kakinya berpijak pada aspal jalan ini, tapi tidak dengan pikirannya. Pandangannya kosong, mulutnya terkatup dan tangannya sangat lemah. Di dalam genggaman tangannya, terdapat sebuah kertas yang telah diremas Yoona. Selembar kertas kecil, kertas kecil yang di dalamnya terdapat coretan terakhir tangan adiknya.

Yoona menghela nafasnya. Memasok paru – parunya dengan oksigen yang bahkan rasanya sudah seperti tidak tersedia lagi untuknya. Dunianya hancur, mimpinya musnah, dan semua kehancuran itu membawa jiwa Yoona ikut pergi bersamanya. Meninggakan raganya yang masih berada di dunia ini. Lengan itu bergerak pelan, arahnya menuju leher Yoona.

“Pegal.” Gumamnya pelan. Kakinya berhenti untuk melangkah. “Tubuhku rasanya mau remuk saja.” Dan akhirnya, Yoona berhenti di depan minimarket untuk sekedar mengistirahatkan tubuh lemahnya. Ia tidak makan dengan baik belakangan ini, bahkan nasi yang masuk ke dalam tubuhnya bisa dihitung jari.

Sama seperti sebelumnya, pandangan itu kosong dan tak berarti—Ia melamun. Untuk kesekian kalinya, ingatan Yoona memutar kembali kejadian – kejadian buruk malam itu. Malam dimana Oh Sehun—menurutnya—telah merenggut nyawa adik yang ia sayangi.

Bibirnya yang memutih perlahan terbuka, lidahnya bergerak dan Yoona hendak mengucapkan, “Pukul 11 malam, 30 April 2015. Pasien meninggal karena kondisi organ vital mendadak tidak stabil saat operasi.

Yoona menyunggingkan senyumnya, ia tersenyum tipis. “Adikku meninggal karena organ vital yang tidak stabil?”

“Omong kosong.”

Yoona berdiri dari tempat duduknya dan kembali berjalan. Tidak, ia tidak pernah mempercayai apapun yang dikatakan pihak rumah sakit terlebih Sehun padanya. Semuanya hanya omong kosong belaka. Karena apa?

Malpraktik.

Yoona meyakini bahwa Sehun melakukan malpraktik kepada adiknya. Bahkan, dia yang awam dibidang kedokteran saja menyadari ada sesuatu yang salah. Adiknya masih baik – baik saja sebulan terakhir, sungguh. Tidak ada gejala apapun dan sesuatu serius yang berlangsung lama. Yoona selalu memperhatikan adiknya, tentu saja.

Dan apa alasan mereka? Yoon Mi sudah parah sejak dibawa ke rumah sakit? Mereka bukan tuhan, dan mereka tidak tahu semuanya. Yoon Mi dalam keadaan yang benar – benar baik, ia sangat sehat. Yoona sangat yakin itu.

Keundae, eottohke?” Desahan pelan lolos dari bibir mungilnya. Kelopak matanya tertutup perlahan. “Maafkan aku, Yoon Mi-ya. Aku bahkan tidak bisa memberikan keadilan padamu dan menuntutnya. Aku tidak sanggup.”

YOONA POV.

[Reality continue to ruin my life.]

—Bill Watterson, The Complete Calvin and Hobbes.

Aku duduk termenung menghadap sebuah lilin kecil yang memendarkan cahaya redup. Iris mataku terus tertitik pada cahaya itu. Di tengah – tengah gelapnya ruangan ini, hanya lilin itu satu – satunya sumber pencahayaanku.

“Makanlah. Dari kemarin kau tidak makan sama sekali.” Suara Luhan memasuki gendang telingaku. Aku tidak tahu sejak kapan dia di sini.

Aku menggeleng. “Aku tidak lapar, Lu.”

Luhan menghembuskan nafasnya dan menyimpan sepiring makanan yang ia bawa. Ia beranjak berdiri dan menyalakan lampunya. “Kau harus menyalakan lampunya, Yoong. Ini sudah malam.”

“Matikan lampunya. Aku tidak suka.” Aku memperingatinya dengan tajam. Dan kembali terdengar ia yang mendesah. Setelah mematikan lampunya, Luhan duduk di sampingku.

“Apa kau tahu siapa lilin ini?” Aku mengulurkan tanganku untuk memegang cahayanya, tak terasa panas sedikit pun. “Ini Yoon Mi. Adikku yang sangat cantik.”

Ketika ku sebut nama itu, hatiku tertusuk. Rasa rindu bercampur dengan marah dan penyesalan mengaduk hatiku. “Biasanya, ketika malam seperti ini dia akan tidur dipahaku. Aku akan menyanyikan berbagai lagu atau hanya menceritakan dongeng untuk mengantar tidurnya.”

Napasku tercekat, aku menggigit bibirku hingga terasa cairan keluar dari sana. “Satu minggu lalu, aku masih menemani tidurnya. Bersenandung dan menceritakan sebuah kisah seperti biasanya. Dan membelai surainya yang selembut sutera.”

Aku mulai terisak, ya, tepatnya satu minggu lalu. Dan aku tak pernah menyangka, malam ini, di tempat ini, suara manisnya saja sudah tidak dapat ku dengar. Lenguhannya ketika ia tertidur, tawanya dan bahkan tangisnya masih menemaniku minggu lalu.

“Hingga malam itu, saat Oh Sehun membunuhnya.” Aku mengepalkan tanganku, mataku membulat dan emosiku meningkat. Luhan menggenggam tanganku, ia menarikku ke dalam pelukannya.

“Jangan seperti ini, Yoong. Kau harus melanjutkan hidupmu.” Aku melepas rangkulannya secara kasar. Ku tarik ia hingga berdiri dan ku dorong tubuhnya menuju ke pintu keluar.

“Keluar kau! Kau sama saja seperti yang lainnya, hanya merasa iba dengan apa yang ku alami. Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya! Kau tidak tahu!”

BRAK!

Pintu itu ku tutup dengan keras. Punggungku menempel dengan pintu, aku menutup wajahku dengan tangan ini, jatuh terduduk dan terus saja menangis. “Tuhan, Aku ingin Yoon Mi kembali.”

“Aku hanya ingin dia kembali. Aku rela mengorbankan apapun, tapi ku mohon, aku menginginkan dirinya. Hanya dia.”

YOONA POV END.

Luhan dan Krystal duduk dibangku taman. Keduanya bertemu ketika terjadi masalah antara Yoona dan Sehun. “Bagaimana keadaan Yoona?” Krystal bertanya terlebih dahulu.

Luhan memegang cappucino yang ia bawa dari tempat kerjanya. “Buruk.” Kata ‘buruk’ cukup untuk mendeskripsikan keadaan Yoona secara menyeluruh. Sebelum melanjutkan ucapannya, Luhan membuka tutup kopi itu. Ia meniup asap kecil yang mengepul dari sana.

“Bagaimana dengan Sehun?”

“Ia mengambil cuti setelah kejadian itu.” Jari jemari Krystal saling berkaitan, meskipun cuacanya cerah, tapi hawa dingin menyelimuti tubuhnya. “Kau ingin kopi?” Luhan menawarkan.

“Tidak.”

Luhan berdecak dan mengambil kedua tangan Krystal untuk memegang kopinya. “Kau percaya diri sekali. Aku hanya meminjamkan kehangatan kopi itu agar kau merasa lebih baik, tidak untuk kau minum.”

Krystal berdehem dan menyembunyikan semburat merah muda dikedua pipinya. Bibirnya terus tersenyum tanpa henti. Sesekali matanya mengekori gerakan – gerakan kecil yang dilakukan oleh Luhan.

“Sepertinya Yoona menyukai Sehun. Apa kau pikir Sehun juga menyukainya?”

Ne?” Pendengarannya hampir saja tidak bekerja. Semua inderanya tidak berfungsi karena matanya yang terlalu fokus memperhatikan ciptaan tuhan yang terlampau sangat indah ini. “A-aku tidak tahu.”

“Aku rasa selain Yoon Mi satu – satunya yang Yoona punya, dia juga marah karena Yoon Mi meninggal ketika Sehun yang mengoperasinya. Tidakkah itu terdengar masuk akal?”

“Sebenarnya keadaan Yoon Mi memang sudah parah. Tapi, aku rasa ada yang janggal.” Dahi Krystal mengkerut, hati kecilnya terus saja berkata seperti itu. “Sehun jarang sekali gagal dalam operasi yang bisa terbilang mudah baginya.”

Luhan yang semula menatap lurus ke depan, kini iris matanya ia alihkan pada Krystal. “Yoon Mi mengalami MI dan Ceptal rupture. Sehun telah mengoperasi sedikitnya lima belas orang dengan kasus yang sama persis. Namun, baru kali ini ia gagal.”

Krystal spontan memegang tangan Luhan dan menatap iris matanya. “Bukankah itu aneh?”

Luhan melayangkan tatapan sinis dan mengumpat untuk pemikiran Krystal yang justru terbilang aneh. Dokter ‘kan tidak selalu bisa menyelamatkan nyawa seseorang meski ia telah melakukan operasi yang sama berulang kali. Terlebih lagi, keadaan Yoon Mi sudah parah. Krystal juga yang mengatakan hal itu.

“Aish, kau ini. Sudahlah, aku tidak ingin membahas hal ini lagi.”

Yoona terlalu mencintainya.

Ya, Yoona hanya terlalu mencintai pria bernama Oh Sehun itu.

Entah sejak kapan, di mana dan bagaimana ia bisa jatuh hati pada Sehun. Mungkin karena waktu yang mereka lalui bersama, canda tawa dan kebahagiaan yang mereka bagi, dan semua yang Sehun miliki tapi tidak dimiliki pria lain. Jika Yoona bertanya, apa salah jika aku mencintainya?

Jawabannya, tentu saja tidak. Cinta adalah anugerah, semua orang tahu itu. Tapi, dia yang telah membunuh Yoon Mi, adikku. Yoona berusaha melampiaskan kesedihannya dengan mencari kambing hitam. Dalam hal ini, Oh Sehun. Saking besar rasa sayangnya, ia tidak rela adiknya pergi meninggalkannya. Mungkin itu bisa dijadikan jawaban untuk setiap keraguan dan bimbang yang sering kali menghampiri Yoona.

Tidak. Dia memang telah membunuh adikku. Dia pembunuhnya.

Hati Yoona menolak berkata seperti itu, tapi pikirannya tidak. Dan sialnya, bisikan pelan dari hati kecilnya tidak mampu merobohkan pertahanan jalan pikirannya yang sekuat baja.

Aku tidak peduli dengan perasaanku. Aku akan menuntut Oh Sehun, secepatnya.

SEHUN POV.

[I wanted a perfect ending. Now I’ve learned, the hard way, that some poems don’t rhyme, and some stories don’t have a clear beginning, middle, and end. Life is about not knowing, having to change, taking the moment and making the best of it, without knowing what’s going to happen next. Delicious Ambiguity.]

—Gilda Radner.

Eomma, apa yang harus aku lakukan?” Seorang anak yang rapuh kini tengah mengadu tentang semua keluh kesahnya di hadapan ibu kandungnya sendiri. Namanya Oh Sehun. Ya, itu diriku. Aku yakin wajahku penuh dengan keputus asaan, pikiranku bahkan tidak pernah tenang bahkan untuk satu detik saja.

Adeul, ada apa denganmu?” Ibuku—Han Seung Min—mengelus rambutku pelan. Mengangkat wajahku dan memberikan senyuman terbaiknya. Ibuku sudah hampir sembuh, 90 persen ia sudah hidup normal dan bisa keluar dari sini jika benar – benar sudah diizinkan.

“Aku gagal dalam operasi.” Intonasi ucapanku pasrah.

Dan untuk kedua kalinya, ibuku kembali tersenyum. “Ada apa? Bukankah dokter juga manusia? Dia bukan penentu hidup atau matinya seseorang.”

Aku memijat kepalaku yang rasanya sudah ingin pecah saja. “Apa ibu ingat perempuan yang pernah aku bawa ke sini? Aku tidak bisa menyelamatkan adiknya.”

“Jadi, kau patah hati?”

Dahiku langsung mengkerut. “Patah hati? Apa hubungannya dengan hal itu?”

Ibuku berdecak dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Setahuku, kau pernah sekali mengalami table death. Dan baru kali ini ibu melihatmu benar – benar kecewa. Dan seingat ibumu ini, hanya perempuan bernama Yoona itu yang pernah kau bawa menemui ibu.”

Wajahku aku tundukan kembali, kenapa ibu tiba – tiba berkata seperti itu? Moodku sedang hilang untuk hal – hal seperti itu. “Ibu, aku tidak berniat membahas tentang hal itu. Tapi yang pasti, perlahan Yoona mulai menjauh.”

“Temui dia.”

Mataku terbelalak, sontak saja ekspresi keterkejutanku langsung muncul. “Apa maksud ibu?”

“Kau pasti belum menemui dia sejak kejadian itu ‘kan? Ibu tahu kau tidak berani, anakku. Ayolah, kau harus jantan sebagai seorang pria. Pergilah dan jelaskan semuanya padanya. Meski awalnya tidak akan berjalan lancar, tapi ibu yakin perlahan ia akan mengerti.”

“Haruskah aku menemuinya?”

“Tentu saja. Kau harus, anakku.”

SEHUN POV END.

Pintu rumahnya terbuka, Sung ahjussi yang notabene adalah supir pribadinya membukakan pintu rumah itu untuknya. Sehun melepas jas dan meletakkan itu di atas tangan pelayan. Tangan porselennya melonggarkan dasi yang lumayan mencekiknya dari tadi. Nafasnya tertahan di dada sebelum akhirnya ia menghembuskannya.

Mandi, makan malam dan tidur.

Hanya ada tiga hal itu dalam otaknya.

Seperti rencananya, ia mandi dan kini dirinya sudah duduk sempurna di depan meja makan besar. Berbagai menu makanan terpampang jelas di hadapannya. Namun, piring itu bahkan tidak terisi makanan apapun.

“Tuan.” Jung ahjumma—istri Sung ahjussi—membuat pandangan Sehun dan pikirannya teralih. “Ada apa, ahjumma?” Sikapnya sangat lembut. Jung ahjumma adalah ibu kedua baginya, beliau yang merawat dan mengasihi Sehun, apalagi setelah ibu kandungnya mengalami gangguan jiwa semenjak kejadian itu.

“Tuan Park Chanyeol datang untuk menemui Anda.” Dan ta-da! Tubuh Chanyeol yang luar biasa tinggi itu muncul dari belakang ahjumma. Sehun sedikit tertawa, bagaimana Chanyeol menyembunyikan tubuhnya yang setinggi tiang itu? Mengagumkan.

Annyeong.” Chanyeol melambaikan tangannya.

“Kalian boleh pergi.” Sahut Sehun. Dan semua pelayan yang berada di sana langsung mengikuti instruksi Sehun dan meninggalkan keduanya.

“Apa – apaan ini? Kau baru mengunjungiku sekarang, huh? Sudah 5 bulan, tahu.” Sehun berdiri dan memukul lengan Chanyeol. “Kau sudah selesai makan?” Pertama – tama, Chanyeol menanyakan hal itu. Tidak baik bukan jika mengganggu kegiatan makan seseorang.

Sehun merengut. “Kau lapar?” Tanyanya polos.

Dan Chanyeol memutar bola matanya kesal atas pertanyaan-tidak-masuk-akal Sehun. “Aku tidak datang untuk meminta makanan, Oh Sehun.”

Untuk kedua kalinya, deretan gigi itu muncul meski Sehun tidak tertawa lepas. “Aku tahu, pengacara Park. Baiklah, ada gerangan apa kau datang ke sini? Apa perusahaan ayahku memburuk?” Semenjak ayahnya meninggal, ayah Chanyeol menjadi walinya dan menggantikan posisinya untuk sementara hingga ia berumur 28 tahun. Tentu saja melalui proses kesepakatan yang panjang, karena Sehun tidak pernah mau terjun ke bidang yang ayahnya lakoni.

Chanyeol dan Sehun berjalan keluar dari rumah dan menghirup udara yang lebih segar. Mereka berjalan santai mengelilingi taman bunga dibelakang rumah Sehun, taman yang sejak kecil sudah Sehun rawat sendiri. Tentu saja karena ia mencintai semua makhluk hidup di dunia ini.

“Aku datang ke sini untuk dua hal.” Sehun semakin mengintenskan pandangan matanya pada Chanyeol. “Pertama, umurmu sudah 28 tahun. Sesuai—” Mulut Chanyeol terbuka dan berhenti bergerak. Tatapan Sehun memotong ucapannya.

“Tolonglah, apa tidak ada cara agar aku tidak menjadi bagian dari semua itu? Aku malas menjadi pimpinan perusahaan dengan setumpuk berkas dan berbagai urusan yang pasti akan menantiku setiap hari. Membayangkannya saja membuatku ingin muntah. Aku cukup menjadi pemegang saham saja, Chanyeol.” Bagaimana bisa masalah datang bertubi – tubi? Masalahnya dengan Yoona saja belum selesai. Ditambah lagi masalah perusahaan.

“Kita bisa bahas hal itu nanti. Dan yang kedua..” Chanyeol mengambil sesuatu dari tas yang ia tenteng sejak awal masuk ke sini. “Surat tuntutan.”

Sehun hanya heran, ia tidak kaget sebenarnya. Sama sekali tidak. Mentalnya itu patut dipuji.

“Dari wali yang adiknya meninggal saat kau operasi. Namanya—”

“Im Yoona.”

Chanyeol terperanjat ketika Sehun mengetahui nama sang wali bahkan sebelum Chanyeol memberi tahunya. Akan tetapi, setelah beberapa detik ia kembali rileks dan melanjutkan penjelasannya. “Ternyata kau sudah tahu namanya. Baiklah, nona Im Yoona ini menuntut dirimu atas dugaan malpraktik.”

Tersenyum miris adalah yang Sehun tunjukkan. “Jadi, malpraktik?”

“Ya.” Chanyeol berhenti dan menyentuh bunga tulip, ia tersenyum cerah sembari memandangi bunga itu. “Tenanglah, kita akan segera membereskannya. Apalagi pihak rumah sakit akan membantu.”

“Biarkan saja.” Kalimat yang Sehun lontarkan langsung membuat Chanyeol kaget dan ia membalikan tubuhnya secara spontan. “Apa maksudmu?”

“Jika aku bersalah, maka aku harus mendapat ganjaran yang setimpal. Dan jika tidak, aku pasti akan lolos dari jeratan hukum. Wali bernama Im Yoona itu harus tahu kejadiannya yang sebenarnya. Kita tidak boleh berbuat tidak adil. Dan apa kau tahu Park Chanyeol?” Sehun memegang dadanya dan tersenyum lebar.

“Namaku Oh Sehun. Aku seorang dokter.”

Seminggu berselang dan tibalah waktunya untuk Sehun memenuhi panggilan pengadilan. Selama satu minggu ini telah dilakukan berbagai penyelidikan atas kasus ini. Tidak banyak hal yang terjadi pada Sehun maupun Yoona. Keduanya menjalani kehidupan seperti biasanya—meski ada bagian yang hilang dari diri mereka.

Yoona duduk dikursi belakang dan menunggu pengadilan ini dimulai. Jika kau bertanya tentang perasaannya, tentu saja gelisah. Ada sesuatu dalam dirinya yang menginginkan hal ini terjadi, tapi ada bagian lain yang bersikeras menolak semuanya.

Yoona tersadar dari lamunannya ketika hakim memasuki ruangan, dan semua orang yang ada di sana berdiri untuk menghormati kedatangannya, termasuk Yoona. “Silahkan duduk kembali.” Kata hakim itu.

“Apakah semuanya sudah siap?” Hakim bertanya pada pengacara dan jaksa penuntut, disusul dari jawaban kedua belah pihak yang menyatakan kesiapannya.

Semuanya masih baik – baik saja, awalnya. Tapi tidak sekarang. Tidak saat hakim itu mempersilahkan terdakwa masuk. Saat dia memanggil Oh Sehun untuk masuk dan menduduki kursi itu. Jantung Yoona berdetak kencang, darahnya berdesir sangat cepat dan rasanya ia bisa mati kapan saja karena organnya yang mendadak tidak normal.

Ia menatap sisi kiri dari wajah seorang Oh Sehun. Rahang tegasnya, bibirnya yang membentuk garis lurus, hidungnya dan iris mata indah itu. Jika saja hakim tidak bersuara, Yoona akan larut lebih dalam lagi.

“Saya jaksa yang menangani kasus ini. Seo Joo Hyun imnida. Pertama – tama, saya akan memperlihatkan data yang telah saya kumpulkan untuk kasus ini.” Mata semua orang tertuju pada LCD proyektor dan tulisan – tulisan yang tertulis di sana.

“Sebenarnya kasus ini sederhana.” Jaksa itu mengulum senyum dan menghela nafasnya sejenak. “Kakak korban dan terdakwa Oh Sehun adalah teman. Pada tanggal 30 April 2015, kakak korban dan terdakwa berangkat ke rumah sakit jiwa dimana ibu terdakwa dirawat.”

Jaksa itu memandang wajah Sehun dengan intens. “Dan pada hari yang sama, korban—Im Yoon Mi—diperiksa oleh terdakwa Oh Sehun.” Dengan percaya dirinya jaksa Seo menghadap semua orang. “Dan terdakwa melalaikan tugasnya sebagai seorang dokter. Ia tidak bisa menentukan penyakit apa yang menyerang korban dan membuat keadaan korban semakin parah.”

Jaksa Seo menghadap hakim. “Dari situlah semuanya dimulai. Terdakwa mengoperasi korban dan menyalahi prosedur pada saat operasi. Akibat kelalaiannya, korban sempat mengalami pendarahan yang hebat dan berakhir dengan korban yang tidak dapat diselamatkan. Terdakwa dituntut atas dugaan malpraktik.”

Hakim mengalihkan pandangannya pada Sehun seiring dengan jaksa yang kembali duduk ditempatnya. “Terdakwa, apa kau menerima tuntutan jaksa padamu?”

Dengan wajah poker facenya, Sehun membenarkan posisi duduknya yang semula bersandar. Tatapan Yoona juga tertuju pada Sehun, ingin tahu apa yang akan diucapkannya. “Tidak, saya menolak tuntutan jaksa. Saya mengaku tidak bersalah.”

Rahang Yoona mengeras dan kepalannya menguat. Jujur saja, ia merasa kesal dengan sikap Sehun yang seolah tidak peduli dan sangat santai. Menyebalkan.

“Baiklah. Pengacara terdakwa, silahkan ajukan pembelaan Anda.” Park Chanyeol pun berdiri dari tempat duduknya dan berdiri ditengah ruang sidang. Berbagai pembelaan dan bukti – bukti ia tunjukkan kepada hakim.

Selama hampir 2 jam, jaksa dan pengacara terus beradu argumen. Mereka memiliki saksi dan bukti yang akurat. Semua orang yang ada di ruang sidang keluar ketika hakim memutuskan untuk mendiskusikan terlebih dahulu dengan rekannya keputusan apa yang akan dibuat.

“Berdasarkan fakta dan bukti yang telah jaksa dan pembela utarakan tadi, majelis hakim memutuskan bahwa terdakwa tidak bersalah.”

1.

2.

3.

4.

5.

Seseorang, tolong hentikan waktu yang berjalan. Berikan Yoona oksigen agar ia bisa kembali bernafas. Rasanya sesak sekali. “Tidak bersalah?” Lirihnya.

Yoona menutup kelopak matanya dan tersenyum tipis, senyum misterius yang tak bisa diartikan. Dan di depan sana, Sehun tersenyum bahagia dengan keputusan majelis hakim. Yang Sehun yakini, Yoona sudah mengerti dengan keadaannya. Tapi ia salah, Yoona bahkan jauh lebih membenci dirinya sekarang.

“Sudah ku duga. Lagipula aku tidak melakukan malpraktik, sungguh.” Sehun berbicara pada dirinya sendiri. Ketika semua orang berdiri dan meninggalkan persidangan ini, kepalanya menoleh mencari seseorang.

“Apa Yoona sudah pergi?”

Sigh. Andai ia beberapa detik lebih cepat, pasti iris matanya kini bisa melihat paras Yoona. Namun, senyum Sehun mengembang. “Gwaenchana. Aku yakin Yoona sudah percaya padaku sekarang.”

Semuanya akan kembali seperti semula, pikirnya.

Sehun memegang sebuket bunga mawar putih, mobilnya sudah terpakir di depan losmen tempat tinggal Yoona. Pagi ini, tepat pukul 7 pagi ia bahkan sudah berada di sini. Perasaannya menggebu – gebu sejak tadi malam, mungkin ia hanya bisa tertidur satu jam. Yoona benar – benar memenuhi pikirannya.

Tangan itu membuka pintu mobil, perawakan tegak nan tingginya itu seketika muncul dan menyita perhatian beberapa gadis yang tidak sengaja melihatnya. Dengan percaya dirinya, kaki itu menuntunnya masuk menuju losmen.

“Sepi sekali.” Sudah pukul 7 pagi dan losmen ini terasa begitu sepi. Seperti tidak ada penghuninya.

Kakinya terus berjalan bergantian, menaiki satu demi satu anak tangga menuju tempat Yoona. Ketika sampai di lantai teratas, dahinya mengkerut. Banyak sekali orang yang berkumpul di depan pintu kamar Yoona. Beberapa ada di sebelahnya dan terlihat seperti kebingungan.

“Ada apa ini?” Sehun berjalan menerobos kerumunan itu dan mendapati pintu itu terbuka.

“Yoong!” Suaranya naik satu oktaf. Di hadapannya, Yoona dengan keadaannya yang sangat buruk tengah memegang pistol. Saat mendengar suara itu, Yoona langsung mengarahkan pistolnya kepada Sehun. “Baguslah. Jadi, kau datang?” smirk Yoona yang sangat menyeramkan.

Luhan yang juga berada di dalam memutar kepalanya. “Sehun, pergilah!”

Bukannya menjauh dan pergi, Sehun malah mendekati Yoona. Langkahnya pelan dan wajahnya sangat tenang, ia berusaha membuat Yoona terbawa pergerakannya dan menurunkan senapan itu.

“Tenanglah, ayo bicara denganku.” Tinggal beberapa langkah lagi dan Sehun akan sampai di depan Yoona.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Kau ingin mengakui bahwa kaulah yang telah membunuh adikku?” Desis Yoona. Oh tuhan, sorot mata tenang dan teduh itu kini berubah kasar dan penuh dendam. Pikirannya sedang kalap, dan ia bisa membunuh siapapun dalam keadaan seperti ini.

“Ya, aku mengakuinya.” Tentu saja kalimat ini hanya trik Sehun.

Dan benar, Yoona menurunkan pistolnya perlahan.

1 detik.

2 detik.

3 det—

DOR!

“Ah!” Ringisan Sehun langsung terdengar dan teriakan semua orang menyusul erangan Sehun. Timah panas itu telah bersarang dibetis kirinya, darah keluar membasahi celana Sehun.

“Sakit?” Yoona tertawa puas dengan apa yang telah dilakukannya. “Itu tidak lebih sakit dari apa yang ku rasakan saat ini.”

“Yoong, hentikan!” Wajah Yoona langsung menghadap Luhan. Ia menatap Luhan dengan dingin dan sangat tajam. “Aku tidak ingin melukaimu, Lu. Jadi, diamlah.”

“Kau boleh membunuhku.”

Yoona memutar bola matanya. Ia menatap bola mata milik Oh Sehun. Demi apa pun, ia tidak akan pernah berani melihat kaki Sehun yang telah ia lukai. Yoona masih sangat mencintai Sehun, ia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri.

“Tentu saja aku akan membunuhmu.”

Dan aku akan bunuh diri setelah itu.

Apa kau pikir Yoona bisa hidup dengan tenang setelah Sehun terbunuh? Yang benar saja. Pasti akal dan jiwanya akan sakit jika ia juga tidak membunuh dirinya sekarang.

Sehun menutup kelopak matanya. Nafasnya sedikit terengah karena menahan sakit dari luka dikakinya. Demi tuhan, ia benar – benar sudah pasrah. Fakta bahwa Yoonalah yang akan membunuhnya membuat hatinya sedikit lebih lega. Setidaknya, rasa benci itu akan hilang setelah ia mati.

“Yoong, jangan, ku mohon.” Luhan tidak bisa melakukan apapun untuk meperbaiki kondisi ini, tidak ada satu halpun yang dapat ia lakukan.

Sehun menggigit bibir bawahnya seiring dengan Yoona yang menarik pelatuk pistol itu.

“Aku mencintaimu, Sehun.”

DOR!

Sehun langsung membuka matanya dan berlari mendekati Yoona. Sehun menyadari dengan baik, peluru itu tidak menembus tubuhnya sama sekali, ia tidak merasakannya. Lengannya menangkap tubuh Yoona dan keduanya terjatuh. Bukan dirinya, melainkan Yoona yang kini tengah sekarat.

Air matanya langsung keluar, tubuhnya bergetar menatap Yoona. Deru nafas Yoona yang masih bisa ia dengar, dan matanya yang masih terbuka, serta detak jantung Yoona yang masih bisa Sehun rasakan. Aniya, Sehun tidak bisa kehilangan semua itu.

Wae? Kenapa kau melakukannya?” Tanya Sehun parau.

Yoona berusaha tersenyum kecil, ia bersusah payah untuk tetap menjaga nafasnya tetap ada. “Aku akan sangat menyesal jika membunuhmu, kau tahu.”

“Kau menyakitiku dengan menembakan peluru itu ke dadamu.” Sehun terus menangis dan merutuki dirinya karena tidak sempat menyelamatkan Yoona. Tolong katakan bahwa dirinya hanyalah bermimpi. SIAPAPUN KATAKAN BAHWA INI HANYA MIMPI!

Mulut Yoona terbuka, ia hendak mengucapkan sesuatu. “Aku..”

“Jangan katakan apapun. Tetaplah diam.” Telunjuk Sehun menempel dibibir Yoona. Fokusnya ia curahkan pada Yoona. Bahkan semua orang yang kini tengah mengerumuni dirinya dan Yoona tidak bisa ia rasakan keberadaannya. Iris matanya tertitik pada kelopak mata Yoona, ia takut kalau kelopak mata itu akan tertutup, sungguh.

“Terima kasih, Se..hun.”

Sehun menyaksikannya, Sehun melihat sendiri bagaimana kelopak mata itu tertutup perlahan. Bagaimana Yoona kehilangan kesadarannya dan mulutnya terkatup.

Sehun menggelengkan kepalanya dan mengangkat tubuh Yoona, pipinya sudah seperti sungai air mata. Ia berlari terseok – seok dan menggusur kaki kirinya. “Kau harus bertahan, Yoong. Kau tidak boleh pergi, tidak boleh.”

Isakan – isakan terus keluar dari mulutnya, darah dari kakinya yang terus keluar yang bahkan Sehun tidak dapat merasakannya. “Jebal, kajima.”

Royal Melbourne Hospital, 08.00 AM AST.

“Anda tidak bisa melakukan operasi, dokter. Kaki anda tertembak!” Asisten utama Sehun memperingati Sehun. Sejak daritadi, Sehun bahkan tidak menggubrisnya sama sekali.

Sehun mengeluarkan air matanya di saat ia akan memulai operasi. “Wanita ini perempuanku. Bagaimana bisa aku diobati sedangakan nyawanya tidak tertolong!”

“Setidaknya jahit dulu lukamu. Kau tidak bisa melakukan operasi dalam keadaan seperti ini, Sehun-ah. Kau bisa membahayakan Yoona juga.” Krystal juga ikut memberikan saran untuk Sehun, dan Sehun kembali tidak mendengar siapa pun.

“Diamlah. Kau tidak merasakannya, Krys? Jantungnya masih berdetak dan aku harus menyelamatkannya. Aku akan memulai operasinya sekarang.” Sehun menghela dan menghembuskan nafasnya agak kasar. Ia tetap keras kepala. “Pisau.”

Sehun membelah dada itu, sempat keluar darah karena tangan Sehun yang agak bergetar. Jantung Yoona terendam dengan darah, Sehun berusaha tetap tenang melihat keadaan Yoona yang berada diambang batas kematian.

Suction.” Yang Sehun harapkan adalah Yoona bisa selamat dan ia bisa melihat parasnya lagi. Terlepas dari Yoona yang pasti membencinya, ia tidak peduli akan hal itu. Selama Yoona masih menghirup udara yang sama dan berada dibawah naungan yang sama. Ia tidak akan memusingkan hal – hal lain lagi.

Kemudian ia memasukan tangannya ke dalam jantung Yoona, berusaha mencari di mana peluru itu bersarang dijantung yang menjadi sumber kehidupan gadis yang dicintainya. “Bagaimana organ vitalnya?”

“Tekanan darahnya tidak stabil, aku sudah coba mengendalikannya dan menyuntikan epinefrin.”

Sehun terus berkutat dengan segala alat dan jantung Yoona.

“Kau harus selamat, Im Yoona.”

2 years later.

Yoona berjalan memasuki gerbang rumah yang sangat mewah, pagi ini ia datang menemui seseorang. Yoona melihat sekeliling, ia sudah sering menginjakkan kaki di rumah ini. Dan sungguh, rumah ini benar-benar luas berapa kali pun Yoona melihatnya, bahkan tempat tinggalnya mungkin hanya sebesar satu kamar mandi di rumah yang akan ia masuki ini. Ditangannya, sekotak ddeokbeokki hangat siap untuk disantap.

Annyeong Hasaeyo.”

Yoona tersenyum dan membalas sapaan semua orang di halaman itu. Yeah, mungkin ada 10 orang atau bahkan lebih di halaman ini. Entah apa yang mereka lakukan, berdiam diri di sini? Yoona juga tidak tahu pasti.

“Kau datang?”

Suara itu mengalihkan perhatian Yoona. Seketika bibirnya tersenyum membentuk lengkungan yang indah. “Aku membawa ddeokbeokki untukmu. Kau ingin makan sekarang?”

“Apa kau tidak apa – apa?”

“Aku hanya kurang tidur semalam, Sehun.”

Tangan itu mengelus kantung mata hitam di bawah mata Yoona. “Kau merindukan Yoon Mi?” Tanyanya lembut dan disambut dengan anggukan pelan dari Im Yoona.

“Setelah makan ddeokbeokki kita ke makam Yoon Mi, okay?” Sehun membawa Yoona masuk ke rumahnya dan duduk disofa ruang tengah. Ia pikir tidak perlu makan di meja makan jika hanya makan ini. Lagipula itu terlalu formal.

“Buka mulutmu. Aku tahu kau belum makan.” Yoona membuka mulutnya dan memakan kue beras yang Sehun masukan ke dalam mulutnya. “Setiap kali teringat Yoon Mi, aku selalu merasa bersalah padamu. Maafkan aku.”

Sehun tersenyum manis dan mengusap sudut bibir Yoona, ada makanan yang tertinggal di sana. “Aku tahu kau dalam keadaan yang benar – benar menyulitkan saat itu. Jangan merasa bersalah dan berhenti minta maaf. Aku tidak menyukainya.”

Sadar bahwa Yoona tidak menjawab ucapannya lagi, Sehun kembali membuka percakapan ringan. “Setelah mengunjungi makam Yoon Mi, apa yang akan kita lakukan hari ini?”

Yoona berpikir sejenak. “Aku rasa bersantai di rumahmu yang bagaikan istana ini tidak buruk.”

Mwoya, kau sebut itu tidak buruk? Bagaimana kalau naik tram keliling Melbourne?” Yoona mengedikan bahunya. “Terserah padamu.”

“Hanya itu saja?” Sehun mengerling nakal.

“Apa – apaan kau ini? Menyebalkan. Memangnya aku harus menjawab apa lagi?” Dengus Yoona, tangannya memukul perut Sehun pelan. Naik tram keliling kota? Tidak buruk, tentu saja. Ia selalu iri dengan Krystal dan Luhan. Mereka selalu berkencan seperti itu, sedangkan Sehun dan dirinya? Bahkan baru kali ini Sehun mengajaknya.

Sehun memandang lurus ke depan. Tangan kanannya mengelus rambut Yoona, ia tiba – tiba tersenyum dan membuat Yoona terheran karenanya. “Apa yang kau pikirkan?”

Sehun mengarahkan pandangannya pada Yoona. “Aku teringat saat aku mengoperasimu 2 tahun lalu.”

Yoona memukul perut Sehun pelan. “Sepertinya kau bahagia sekali jika aku sekarat.”

Sehun mencubit pipi Yoona agak keras. Bagaimana bisa Yoona berkata seperti itu? Aish, dia bahkan tidak tahu keadaan Sehun saat itu. “Aku seperti akan mati juga, tahu. Bahkan di tengah – tengah proses operasi aku pingsan. Tapi aku bersyukur, aku mengetahui bahwa kau selamat saat aku sadar.”

Yoona terheran, dahinya yang mengernyit memberitahu Sehun bahwa ia akan menanyakan berbagai macam kejadian pada hari itu. “Kenapa kau pingsan?”

Sehun mengerling nakal dan mendekatkan wajahnya pada Yoona. “Aku hampir kehabisan darah karena tembakanmu itu. Daebak. Aku heran kenapa kau masuk jurusan seni, seharusnya kau jadi polisi saja.”

“Kau masih berani menatapku setelah mengucapkan hal itu, huh?”

“Menciummu pun aku masih berani.” Sehun menjulurkan lidahnya. Hembusan nafasnya menerpa wajah Yoona yang terlampau sangat dekat dengannya. Yoona tersenyum geli dibuatnya. “Melbourne adalah latar yang sangat indah untuk kisah kita, bukan?”

Dan Sehun mengangguk mengiyakan. “Ya. Di kota ini, aku pertama kali bertemu denganmu. Aku menyukaimu, menyayangimu dan mencintaimu hingga ke titik dimana aku tak bisa melupakanmu. Dan kota ini menjadi saksi bisu tentang kau dan aku. Tentang semua kisah kita.”

Sehun memperkecil jarak diantara mereka, tinggal beberapa milimeter bibir mereka akan saling bertaut. “Aku mencintaimu.” Ucap keduanya sebelum akhirnya bibir Sehun dan Yoona bertemu.

END.

AAAAAA Aku gak tau cerita apa ini._. Udah berkali – kali ganti plot dan cerita tapi yah mandeg terus. Ketemu sama yang namanya ‘writer’s block’ sih. Okay, thank you banget udah baca dan no sequel yaaaaa /kaya bakal ada yang minta aja/ hehe. Buat jaga – jaga lah, meskipun ga gantung sih menurut aku. Pokoknya terima kasih sekali sudah bersedia membaca. Bye bye ^_^

28 thoughts on “[Freelance] In Melbourne (Chapter 2/2)

  1. Daebak, thor. Tak kira ini bakalan sad ending. Eh ternyata enggak, syukur deh mereka bisa bersatu.. ditunggu karyanya yg laen..

  2. Qw pikir bakalan Sad End.. qw blum baca part 1 sih, tp ffnya daebbak!!! bikin qw jedag jedug jedag jedug!!! Iiiiii kereeennnn!!!! ditunggu next ff ya🙂 Keep writing

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s