(Freelance) In Your Eyes (Chapter 2)

in-your-eyes

IN YOUR EYES

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol, EXO’s Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered [2/12] ||Rating: G

= Chapter 2 =

Akan selalu ada yang sempurna di matamu, meskipun sebenarnya bagi mereka jauh dari kata sederhana. Dan jatuh cinta sesederhana itu.

 

Chanyeol menggaruk rambutnya yang tak gatal. Matanya masih terfokus pada deretan kalimat dalam sebuah novel yang entah apa judulnya. Sesekali matanya mencuri-curi pandang pada seorang gadis yang juga tengah sibuk membaca sebuah novel dihadapannya. Ah, Park Chanyeol bahkan belum mengucapkan kalimat apapun lagi padanya setelah mereka bertemu dan mengajaknya duduk dimeja panjang ini. Tidak bisa dipungkir, Park Chanyeol benar-benar gugup sekarang.

“Ekhem.” Dia berdehem kecil untuk menarik secuil perhatian dari Im Yoona. “Ekhem,” Ulangnya lagi, kali ini lebih keras.

Gadis itu menarik tatapannya dari novel lalu menatapnya bingung. Bodohnya, Park Chanyeol menundukkan kepalanya segera. Oh ya tuhan, tatapan itu.

Chanyeol mengangkat buku hingga menutupi wajah tampannya.

Ah sial, kenapa ia menatapku seperti itu? Sekarang apa yang harus ku katakan?.

“Maaf.” Suara lembut Yoona mengalun begitu saja. Walaupun berlebihan, tapi Park Chanyeol benar-benar dibuat merinding seketika. “Ekhem.” Kali ini gadis cantik itu berdehem, membuat Chanyeol menurunkan bukunya dengan malu-malu. Mata indah itu tengah menatap Chanyeol sedari tadi, ada kilatan geli disana.

“Ya?.”

“Mm, maaf tapi bukumu terbalik,” Ucap Yoona setengah berbisik, tangannya menunjuk buku yang Chanyeol pegang. Chanyeol mengikuti arah tangan Yoona, pelan-pelan berharap kali ini dia tidak terlihat bodoh di hadapan gadis itu. Tapi harapan itu menghilang begitu saja, saat mata kepalanya sendiri benar-benar melihat buku yang sedari tadi dia pegang itu tidak pada posisi yang seharusnya. Park Chanyeol kembali menggaruk rambutnya yang tidak gatal sebagai respon spontan.

Astaga, aku mempermalukan diriku sendiri. “Aaah, yaa terimakasih,” jawab Chanyeol malu, dia tidak sedang memegang cermin tapi bisa dia pastikan wajahnya tengah memerah saking malunya. Chanyeol merutuk dirinya sendiri. Dasar bodoh!

Gadis itu hanya terkekeh lalu kembali melanjutkan aktivitas membacanya. Bibirnya tertarik sedikit dan karenanya terlukis sudah sebuah seyuman kecil yang manis.

Apakah dia tersenyum karena aku?. Chanyeol ber-monolog lagi.

Dia menarik napas sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengajak gadis itu bicara. Tidak mungkin jika mereka nyaris selalu bertemu dan tidak pernah ada sepatah kata apapun yang mereka ucapkan. Jadi, Chanyeol mengetukkan jarinya ke meja sebanyak tiga kali. Gadis itu menoleh padanya lagi—seolah berkata “Apalagi sekarang ?”

“Mm, kau gadis yang di halteu itu kan?.” Tanyanya setengah berbisik. Gadis itu hanya mengerutkan keningnya bingung kemudian menganggukkan kepalanya ragu. Chanyeol tersenyum, “Sudah seminggu kita sering bertemu, tapi aku tidak tahu siapa namamu.” tambahnya setengah berbisik lagi. Dia tidak lupa untuk mengulurkan tangan kanannya yang sedikit gemetar.

“Namaku Park Chanyeol. Kau bisa memanggilku Chanyeol.”

Yoona tampak ragu, ia diam selama 10 detik lalu membalas uluran tangan pria yang tengah tersenyum kepadanya itu dengan bingung. “Yoona imnida.” Jawabnya pelan—masih malu-malu.

“K-kau murid Hanyoung High School kan?.” Tanya Chanyeol bersemangat—mulai mengakrabkan diri walapun dia sudah tahu jawabannya. Yoona segera memandang ke sekeliling, kemudian pandangannya kembali menatap Chanyeol.

“Chanyeol-sshi, tolong kecilkan suaramu.” Bisiknya. Chanyeol ikut mengalihkan pandangannya ke sekitar seperti apa yang tadi Yoona lakukan. Dan benar saja, beberapa orang tengah memperhatikan mereka. Park Chanyeol berdiri dan membungkukkan badannya beberapa kali sebagai permohonan maaf. Untuk sepersekian detik dia lupa bahwa mereka sedang berada diperpustakaan.

Tanpa pikir panjang, Chanyeol beralih tempat menuju kursi disamping Yoona dan mendaratkan dirinya disana. “Jadi, kau murid Hanyoung?.” Tanyanya lagi—tidak ingin berhenti berbicara dengan gadis cantik itu. Yoona mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang ia baca. “Mm, kau sering ke perpustakaan ini?.” Tanya Chanyeol sekenanya. Jujur saja, dia ingin mendengar suaran Yoona lagi dan lagi.

Yoona menggeleng. “Tidak.”

Chanyeol hanya mengangguk paham. Bohong jika dia bilang dia tidak gugup sekarang. Bagaimana tidak? Gadis yang selama ini dia perhatikan setiap hari, kini duduk disampingnya. Merasa tidak ingin kehilangan kesempatan, Park Chanyeol terus memutar otaknya untuk bisa berbincang dengan gadis itu.

Hingga akhirnya sudah dua jam berlalu, suasana kembali hening seperti pertama kali. Yoona kembali terpaku pada novel dihadapannya yang hanya tinggal beberapa halaman akhir. Sedangkan Chanyeol? dia hanya memandangi wajah Yoona dari samping, sesekali novel ditangannya menjadi sasaran ketika Yoona menyadari dirinya yang sedang mencuri-curi pandang kepada gadis itu.

Ponsel Yoona bergetar, membuat kebisuan diantara mereka mulai mencair. Dengan tatapan yang masih malu-malu dia melirik Chanyeol sekilas, lalu mengangkat teleponnya yang terus mengguncang. “Yeoboseyo? … Ah ne, tunggulah, aku akan segera kesana.”

Chanyeol segera menoleh saat tubuh ramping gadis itu berdiri. Dia mendongakan kepalanya untuk bertanya, “Kau mau kemana?.”

“Aku harus menjemput adikku ketempat konser, konsernya sudah selesai.” Jawabnya pelan. Chanyeol terdiam beberapa saat, jika konsernya selesai bukankah itu berarti Minhwa juga sudah selesai?

“Baiklah, ayo.” Chanyeol ikut berdiri, mungkin terlalu bersemangat hingga kursi yang dia duduki berdecit nyaring. Dia segera menutup matanya setelah menyadari bahwa kini dia sedang di perpustakaan. Tempat paling sunyi sedunia. Dan ini kedua kalinya dia menyadari kebodohannya. Sepertinya orang-orang disini akan mengadakan pesta besar-besaran jika Park Chanyeol pergi dari tempat ini dan berhenti membuat keributan seperti itu.

Untuk kedua kalinya, Park Chanyeol membungkukkan badannya berkali-kali tanda permohonan maaf. Setelah suasana kembali normal dia segera menarik tangan Yoona untuk segera pergi.

“Eh?.” Yoona terdiam, dan Chanyeol juga terdiam untuk beberapa detik kemudian berbalik. Detik itu juga dia mendapati wajah cantik gadis itu tampak ragu dan bingung. Apa ada yang salah?

Matanya melirik kearah tangan Chanyeol yang kini menggenggam tangannya.

A-apa? Aku menggenggam tangannya? Ah.

Dengan sedikit salah tingkah pria itu melepaskan genggaman tangannya dan kembali tersenyum lebar seolah tak terjadi apa-apa. “Ayo.” Ajaknya lagi.

Alis Yoona kembali menukik. “Kau akan pergi ke tempat konser juga, Chanyeol-sshi?.” Tanyanya berbisik.

Chanyeol menyadari sesuatu. Yoona tidak tahu kalau dia juga mengantar Minhwa ke tempat konser. “Aaaah, aku belum memberitahumu ya? Adikku juga ikut menonton konser.” Jawabnya sepelan mungkin. Mulut Yoona membulat tapi tidak terlalu lebar.

Dia berkata ragu, “Baiklah, ayo.”

 

***

 

Park Chanyeol terus berpikir bahwa ini adalah mimpi, tapi itu tidak benar karena kini Yoona benar-benar ada di boncengannya. Dia bisa saja benar-benar mati karena senang. Awalnya dia ragu saat Chanyeol menawarinya tumpangan, tapi pada akhirnya dia mau juga pergi ke tempat konser bersama pria itu. Oh dan sepertinya moment ini bisa masuk ke dalam daftar 10 moment paling bersejarah dalam hidup seorang Park Chanyeol.

Dia melepas helm ku sesaat setelah mereka tiba, membuat rambutnya yang hitam sedikit berantakan—dan itu tidak mengurangi ketampanannya.

Tempat ini memang lebih ramai dari sebelumnya. Wajah lelah begitu terlihat dimana-mana. Ayolah, memangnya apa yang baru mereka lakukan di dalam sana?

Diam-diam Chanyeol melirik Yoona. Memperhatikkan gerak-gerik Yoona yang selalu terlihat hato-hati.

“Chanyeol-ssi, gomapseumnida.” dia membungkuk lalu menyodorkan helm.Chanyeol semakin kikuk dan hanya diam sembari menerima helm yang dikembalikannya. Ah Park Chanyeol! Lakukan sesuatu yang lebih keren. Tapi apa? Mana mungkin dia harus berkata ‘Im Yoona, ayo kita bertukar nomor ponsel.’ Bukankah itu konyol? Tidak, tidak, Chanyeol tidak bisa langsung sejauh itu.

“Ne, Cheonmaneyo.”

“Kalau begitu aku-.”

“OPPA!.” Suara lembut Yoona terputus oleh teriakan nyaring yang sudah sangat familiar ditelinga Park Chanyeol. Siapa lagi jika bukan Park Minhwa? Dia menoleh kesal kearah sumber suara. Dua meter jauhnya, Minhwa berdiri membeku sembari menatap mereka bergantian—Chanyeol tahu, Minhwa sedikit memiliki gangguan dalam hal sopan santun. “EONNI!” Sebuah suara lain yang tak kalah kerasnya juga baru saja terdengar. Dan sekarang apa? Dua gadis dengan ekspresi sama, tengah menatap mereka dengan pandangan yang sama pula.

Seingat Chanyeol, gadis yang satu lagi itu adalah gadis yang datang bersama Yoona tadi. Ya, gadis yang dia yakini adalah adiknya.

Yoona menatapnya, dan Chanyeol hanya tersenyum garing sembari memikirkan reaksi apa yang harus dia tunjukkan dalam situasi seperti ini.

“Oppa, kau sedang apa? Dan siapa dia?.” Seketika Chanyeol terhenyak saat menyadari kini Minhwa sudah berdiri disampingnya. Gadis yang satu lagi juga kini sudah ada di sebelah Yoona.

“A-a-annyeonghaseyo. Choneun, Im Yoona Imnida.” Dia menoleh saat mendengar suara indah itu lagi. Yoona tersenyum ramah kepada Minhwa, tapi sepertinya Minhwa tidak mengindahkan hal itu. Ia malah menarik-narik ujung kemeja yang Chanyeol pakai layaknya anak kecil yang meminta balon.

“Oppa, malhaebwa. Siapa gadis itu?.” Chanyeol mengumpat kesal mendengar pertanyaan konyol Minhwa, bukankah Yoona sudah memperkenalkan dirinya tadi?

“Kau tidak dengar? Namanya Im Yoona, sejak kapan kau mengalami gangguan telinga huh?.”

Minhwa mendengus. “Maksudku dia siapamu? Yeojachingu?.”

Kali ini Park Chanyeol tertegun, ingin sekali dia menyumpal mulut Minhwa dengan helm. Jadi dia hanya menatap Yoona yang kini tampak kikuk.

“A-a-apa maksudmu, dia temanku.” Jawab Chanyeol tak kalah kikuknya. Minhwa terus menatap Yoona dan itu membuat Yoona salah tingkah. Kakaknya menyikut perutnya, berusaha menghentikkan tatapannya yang menusuk itu. Dasar gadis tengil.

“Eonni, siapa dia? Aku tidak tahu kau punya teman pria?.” Sebuah suara lain mulai terdengar. Chanyeol menoleh dan tersenyum kecil kepada gadis di sebelah Yoona.

Ayolah, gadis itu menatap ku dengan tatapan tidak ramah. Apa yang harus kulakukan?

“Ah, Park Chanyeol imnida. Dan ini adikku, Park Minhwa.” Jelasnya sebelum membungkuk. Tapi Minhwa hanya diam menatap kedua gadis dihadapannya dengan tatapan menyebalkannya. “Heh, cepat beri salam.” Bisiknya lewat sela-sela gigi.

Minhwa mengerutkan keningnya terkejut. “Apa harus? Aku bahkan tidak mengenal mereka.” Jawabnya dengan begitu saja, Park Chanyeol terkejut bukan main. Park Minhwa! Kau akan mati!.

Park Chanyeol melirik adiknya dengan kesal. “Dia temanku, kau harus memperkenalkan dirimu!.”

“Chanyeol-sshi, tidak apa-apa. Minhwa-sshi, perkenalkan ini keponakanku, namanya Kim Youngran.” Sahut Yoona tanpa ada nada kesal sedikitpun. Astaga, gadis ini benar-benar ramah. Chanyeol melirik sekilas gadis yang bernama Youngran itu. Jadi, dia keponakannya?

“Tadi kami bertemu di perpusatakaan, dan kami segera kemari saat Youngran bilang konsernya sudah selesai.” Tambah Yoona lagi.

“Perpustakaan? Sejak kapan Opp-.”

“Apa kalian menikmati konsernya?.” Tanya Chanyeol sengaja memotong pernyataan Minhwa. Ah, dia tahu kemana arah pembicaraan Minhwa, gadis itu jelas tahu kalau Chanyeol sangat tidak suka membaca buku.

“Konsernya menyenangkan, aku juga bisa melihat mereka dengan jelas.” Jawab Youngran sembari mengangguk tetapi masih dengan wajah datarnya. Chanyeol tersenyum, sedikit lega karena setidaknya dia merespon.

“Bagaimana jika kita pergi makan? Bukankah kalian teman?.” Minhwa berujar sembari menatap kami bertiga bergantian. Tangannya terlipat di dadanya, menambah kesan angkuh pada dirinya. Chanyeol tahu betul seperti apa kelakuan adiknya, jadi dia memejamkan matanya—berusaha sebaik mungkin menyembunyikan kekesalannya.

“Aku juga lapar eonni, ayo kita cari sesuatu untuk dimakan.” Sahut Youngran tanpa beralih menatap Minhwa yang juga menatapnya.

***

 

“Ne eonni, maaf aku tidak bisa datang, sepertinya hari ini aku ijin saja .. Ya, terimakasih banyak.” Yoona segera menutup sambungannya. Entah kenapa ketika Youngran menyadarkan bahwa ia harus bekerja, ia lebih memilih menyetujui ajakan Minhwa yang mengajaknya makan bersama.

Kaki jenjang Yoona segera terayun menghampiri meja yang berisikan dua gadis yang tengah duduk berhadapan dan seorang pria dengan rambut pirang yang sedari tadi tak henti menatapnya.

“Bagaimana?.” Tanya Youngran ketika Yoona telah duduk disampingnya.

“Jinhyo eonni sudah mengijinkanku.” Jawab Yoona lalu tersenyum. Youngran mengangguk lalu menyibukkan diri dengan banner kecil bertuliskan –Kyuhyun- ditangannya.

Yoona mengalihkan pandangannya ke sembarang dan bertemu dengan mata Chanyeol yang tengah menatapnya. Keduanya tersenyum salah tingkah lalu mengalihkan pandangan masing-masing.

Setelahnya mereka berempat hanya diam menunggu pesanan datang. Chanyeol hanya tertunduk dan kali lainnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal—kebiasaannya jika tidak tahu harus berbuat apa. Yoona nyaris sama seperti Chanyeol. Dia hanya diam membisu dan sesekali mengetuk-ngetukan jari-jarinya ke meja. Berbeda dengan Minhwa dan Youngran, masing-masing dari mereka sibuk dengan kegiatan mengutak-atik ponsel. Dan terkadang saling memandang dengan pandangan tidak ramah.

Chanyeol terlihat gusar, ia tidak suka suasana hening seperti ini.

“Kau menyukai Kyuhyun?.” Tanya Chanyeol setelah melihat banner diatas meja milik Youngran. Ketiga gadis itu menatap Chanyeol, Youngran menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Chanyeol tadi.

“Ah, aku bahkan tidak tahu yang mana itu Kyuhyun.” Chanyeol berujar sembari mengusap-usap tangannya seolah antusias. Yoona terkekeh melihat tingkah Chanyeol.

Baru saja Youngran akan membuka suaranya tiba-tiba Minhwa masuk kedalam obrolan itu. “Oppa, kau tidak tahu Kyuhyun? Itu loh si penunggu telur ungu menetas.” Jawab Minhwa polos. Ia tersenyum ketika disadarinya Youngran menatapnya kesal.

“Telur ungu?.” Chanyeol dan Yoona berpandangan tak mengerti.

Youngran meniup poni rambutnya lalu menatap Chanyeol. “Oppa, apa kau penyuka warna pink?.” Youngran dengan tiba-tiba melemparkan pertanyaan pada Chanyeol.

“Apa? Pink? Kau bercanda? Hahaha. Tentu saja tidak. Mana ada laki-laki menyukai warna pink?.” Chanyeol tertawa garing mendengar pertanyaan konyol Youngran.

“Kau tidak tahu oppa? Bukan hanya wanita yang menyukai warna pink, bukan begitu Minhwa-sshi?.” Kali ini Youngran bertanya sarkartis pada Minhwa. Sedangkan Minhwa hanya menatap geram Youngran. Chanyeol menghentikkan tawanya lalu beralih menatap Minhwa. Ia menyadari perubahan wajah masam Minhwa. Tidak—Minhwa tidak boleh meledak disini. Terakhir kali seorang pelayan menangis saat Minhwa meledak, jadi Chanyeol tidak ingin hal itu terjadi lagi—disini, dengan Yoona bersamanya.

Suasana kembali hening. Chanyeol dan Yoona berpandangan ketika merasakan suasana mulai tidak beres.

“Sampai kapan koki-koki itu selesai memasak? Ini hampir tiga puluh menit.” Minhwa menggerutu mencoba melarikan obrolan. Matanya berkilat kesal, Ketiga orang yang lain hanya diam tidak menyahut. Mereka terlalu canggung untuk memulai pembicaraan. “Jika mereka tidak datang dalam lima menit, aku akan pulang.” Kali ini Minhwa menaruh ponselnya lalu berpangku tangan. Chanyeol mengangkat kepalanya lalu memarahi Minhwa lewat ekspresi kesalnya. Sedangkan Yoona hanya tersenyum kecil dan Youngran tetap tidak peduli pada apapun selain ponselnya. Dalam hati Youngran ia menggerutu “Ck, dasar anak manja!.”

Suara hentakan sepatu hak terdengar mendekat, mengalihkan keempat pasang mata kearah sumber suara tersebut.

“Maaf membuat kalian menunggu, tadi ada sedikit masalah di dapur.” Seorang pelayan cantik dengan rambut tergelung datang menghampiri meja mereka sembari membawa nampan berisi pesanan. Yoona hanya mengangguk sembari tersenyum kecil.

Lima belas menit mereka kembali habiskan dengan kebisuan. Yang terdengar hanya dentingan sendok atau suara beberapa orang di meja lain.

Youngran menghentikan makannya, lalu menyandarkan tubuhnya kekursi. “Eonni, ayo kita pulang.” Ajaknya dengan nada datar.

Ketiga pasang mata terseret menatap Youngran yang kini sedang melipat tangan di dada. Yoona menaruh sendoknya lalu menatap Chanyeol yang juga sedang menatapnya. Mereka berpandangan selama beberapa saat, seolah saling tertarik oleh mata mereka masing-masing. Hingga akhirnya suara deheman disengaja menyeret tirai pandangan mereka dan membuat mereka mengerjap kikuk.

“Apa kalian sedang merekam iklan? Ayo cepat pulang Oppa,” Minhwa yang diketahui baru saja berdeham berujar sembari berdiri tidak sabaran. Chanyeol ikut berdiri lalu tergagap karena bingung harus mengatakan apa.

“B-b-biar aku yang bayar, selamat malam, kami pulang dulu.”

Minhwa berjalan keluar kedai tanpa memberi salam ataupun sekedar senyuman, Chanyeol kembali mengumpat kesal lalu tersenyum garing sebelum berjalan menyusul Minhwa.

“Kau lihat Eonni? Gadis bernama Park Minhwa itu benar-benar tidak punya sopan-santun.” Umpat Youngran sembari bangun dari duduknya. Yoona menoleh lalu tersenyum kecil.

“Itu hanya karena kita belum mengenalnya.” Jawab Yoona sembari mengalungkan tangannya ke leher Youngran. Youngran memutar bola matanya dan terus mengerutu sepanjang jalan.

 

***

 

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Yoona dan Youngran baru saja tiba di depan rumah mereka. Di langkah selanjutnya, mereka berhenti saat sebuah suara familiar baru saja melewati telinga mereka.

“Dari mana saja kalian?.” Tanya suara itu dari arah timur. Yoona dan Youngran menoleh lalu menampakan dua ekspresi yang berbeda. Yoona menampilkan sebuah senyuman dan Youngran menunjukkan wajah datarnya seperti biasa.

“Maaf tuan. Apa kami mengenalmu?.” Tanya Youngran ketus lalu berjalan masuk sembari menghentak-hentakkan kakinya. Dua pasang mata lainnya mengekori langkah Youngran yang hilang di balik pintu. Orang yang dilemparkan pertanyaan sinis dari Youngran itu hanya berdecak. “Kenapa dia?.” Tanyanya bingung.

“Dia marah padamu Kim Jongin.” Jawab Yoona lalu tersenyum kecil.

Pria yang bernama Kim Jongin itu mengernyit. “Marah? Apa salahku?.”

“Katanya kau tak menjawab teleponnya tadi siang.”

“Hanya karena itu?.” Jongin kembali berdecak.

Yoona terkekeh. “Kim Jongin, kau masih ingat jalan pulang?.” Tanyanya mengabaikan pertanyaan dari Jongin tadi.

Jongin berjalan dua langkah hingga dirinya kini berdiri di samping Yoona sembari mengangkat kedua pundaknya. Tangannya terangkat dan menggantung di leher Yoona. Yoona menepisnya sembari menutup hidungnya sendiri. “Jangan seperti itu, kau tahu? Kau sangat lengket dan bau.” Canda Yoona sembari berjalan masuk. Jongin hanya terkekeh lalu mengikuti Yoona kedalam.

Kim Jongin adalah kakak laki-laki Youngran. Dia nyaris pulang malam setiap hari, atau bahkan terkadang tidak pulang sama sekali. Sepulang sekolah, dia akan langsung menuju studio dance untuk berlatih bersama club nya. Kim ahjumma sudah melarangnya untuk mengikuti hal-hal tidak penting seperti itu, tapi bukan Kim Jongin bila dia tidak membantah. Sejak ayahnya meninggal seminggu yang lalu sikap Jongin mejadi berubah, ia menjadi anak yang badung, tak jarang ia pulang ke rumah dengan wajah babak belur sehabis berkelahi.

 

***

 

Di lain tempat, Park Minhwa berjalan cepat menaiki tangga. Kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa tidak diliriknya sama sekali. Chanyeol yang berjalan dibelakangnya terus mengumpat memarahinya.

“Berhenti mengoceh!.” Minhwa berhenti lalu membalikkan badannya, mata bulatnya menatap Chanyeol yang berdiri di dua anak tangga dibawah anak tangga yang di tempatinya.

“Kau harus menjaga sikapmu! Bagaimana bisa kau bersikap seperti itu?.” Omel Chanyeol sembari menggenggam keras helm nya. Minhwa kembali melipat tangannya di dada lalu memutar bola matanya kesal.

“Memangnya aku kenapa ? Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan kepada orang asing seperti mereka. Apalagi gadis itu menghina idolaku secara tidak langsung.”

“Mereka bukan orang asing! Yoona temanku! Lagipula siapa yang menghina idolamu?” Chanyeol menaikkan lagi suaranya ke oktaf selanjutnya. Membuat kedua orang tua mereka yang duduk di sofa tidak jauh dari tangga berjengit.

“Aissh, bahkan secara tak langsung kau juga menghina idolaku! Kau menghina pria penyuka warna pink! Yasudah, mereka kan temanmu. Bukan temanku. Jadi itu bukan urusanku!” Minhwa berbalik lalu mulai menapaki anak-anak tangga lainnya.

“Astaga Park Minhwa! Bagaimana bisa ada manusia semenyebalkan dirimu?.” Teriak Chanyeol lagi dengan suara menggelegar. Minhwa berhenti lalu menoleh.

“Karena aku adikmu, berarti kau lebih menyebalkan dariku.” Ia kembali melanjutkan langkahnya.

Chanyeol mendesah frustasi sembari menatap punggung Minhwa yang menjauh. Dia masih belum menyadari keberadaan kedua orang tuanya di bawah. Matanya tidak sengaja menatap ekspresi terkejut dari orang tuanya. Matanya membulat dan tangannya terangkat untuk menggaruk tengkuk.

“Aaaa, abboji, eommoni. Selamat malam. Mimpi indah.” Ucapnya kikuk lalu berlari menapaki anak tangga dengan waswas karena baru saja tertangkap basah memarahi Minhwa—anak kesayangan ibunya.

 

***

 

Ruang televisi yang sempit itu sama sekali tidak membuat mereka merasa sesak. Yang ada hanya kehangatan dan garis kebersamaan yang sangat nyaman. Walaupun rumah ini tidak besar, walaupun juga rumah ini dihuni oleh orang yang tidak sedikit. Selalu ada kenyamanan disana. Tawa, canda, dan kekonyolan selalu ada setiap harinya. Seperti malam ini, Kim ahjumma dan Youngran sedang fokus dihadapan televisi. Sesekali Youngran berteriak histeris karena ada idolanya di layar kotak itu, sesekali pula Kim ahjumma menggerutu karena Youngran terus membesarkan volume televisinya.

Sedangkan Yoona dan Jongin duduk di sofa sembari sibuk dengan kegiatannya masing masing. Yoona membaca dan Jongin mendengarkan musik dari earphone putih yang terpasang ditelinganya.

“Youngran-aa, ambilkan aku air.” Titah Jongin dengan mata tertutup dan kaki yang menghentak-hentak karena terbawa lagu. Youngran menoleh sembari memasang wajah kesal.

“Kau bicara padaku tuan? Apa kita saling mengenal?.” Tanya Youngran dingin yang kemudian kembali fokus pada tayangan televisi. Yang bersangkutan hanya diam karena memang kini telinganya tersumbat oleh earphone.

“Youngran-aa cepatlah!.” Ulangnya lagi masih dengan gaya yang sama. Youngran berdecak, lalu menyeringai jahil.

“1..2..” Gadis itu bergumam.

Duk! Sedetik kemudian sebuah remote televisi menikam perut Jongin. Pria itu menjerit kesakitan hingga semua pasang mata menatapnya. Sedangkan Youngran, ia tengah berguling-guling dilantai sembari tertawa puas. “AHAHAHAHAHA, sasaran yang tepat.” Girang Youngran disela-sela tawanya. Yoona yang melihatnya hanya menggeleng sembari menatap miris Jongin yang tengah mengaduh kesakitan. “Ya~!!.” Teriak Jongin kesal, ia melemparkan bantal yang menjadi sandarannya duduk kearah wajah Youngran membuat gadis itu menghentikan tawanya.

“Ya~!!.” Kesal Youngran tak kalah keras. Yoona dan Kim ahjumma langsung menutup telinga ketika merasakan telinga mereka berdenging.

“Aissh, berhentilah bertengkar.” Omel Kim ahjumma, ia menepuk keras kepala Jongin dan Youngran bergantian.

“Eommaa, kenapa kau memukulku? Pria itu yang memulainya.” Youngran mempoutkan bibirnya kesal, tangan kanannya mengelus kepalanya yang terkena pukulan sedangkan tangan kirinya menunjuk Jongin yang masih mengelus-elus perutnya yang terasa sakit.

“Mwo? Aku?.” Jongin bertanya tak terima. “Jelas-jelas kau sendiri yang memulainya.”

Youngran mendesis sebal. “Kalau kau menjawab teleponku tadi siang dan tidak seenak jidatmu menyuruh-nyuruh orang, tentu aku akan berbaik hati padamu.” Jelas Youngran dengan penuh penekanan disetiap perkataannya.

Jongin menghela nafas panjang. “Apa kau tidak tahu aku tengah belajar huh? Lagipula apa yang ingin kau katakan padaku?.” Balas Jongin tak mau kalah.

Youngran menatap tajam Jongin.

“Ah lupakan, aku lelah.” Youngran beralih kembali menatap layar televisi.

“Ambilkan aku air!.” Titah Jongin lagi, ia kembali memakaikan earphone ditelinganya setelah sebelumnya ia lepas.

Youngran kembali melemparkan tatapan tajamnya pada Jongin. “Shireo! Ambil saja sendiri. Siapa kau seenaknya menyuruhku?.”

Jongin kembali melepaskan earphone nya. “Tentu saja aku kakakmu!.”

Youngran tertawa meremehkan. “Benarkah kau kakakku? Lalu apa kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan ‘oppa’ huh?.”

Yoona dan Kim ahjumma yang mendengarnya memutar bola mata mereka bosan, mereka tak perlu menebak lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Sedetik kemudian mereka saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Perlahan mereka berjalan mengendap-endap masuk ke kamar masing-masing. Membiarkan dua orang adik kakak itu bertukar argument sepuas mereka.

Youngran memamerkan senyum yang dibuat-buat, lalu ia berdiri dari duduknya. “Oppa, kau haus? Kau ingin aku ambilkan air? Baiklah tunggu sebentar ne?.” Youngran berujar dengan manis, ia mulai melangkahkan kakinya ke dapur diiringi dengan dua pintu kamar yang menutup.

“Baiklah, cepat sana!.” Jawab Jongin tidak sabar, ia meraih remote televisi lalu memindahkan channel sesuka hatinya.

Sepuluh detik kemudian Youngran datang dan menyiramkan air ke wajah Jongin. Membuat Jongin terlonjak kaget dan refleks berdiri dari posisi duduknya.

“Ya~!! Kau pikir apa yang kau lakukan?.” Teriak Jongin marah. Tangannya sibuk mengusap buliran air dingin di wajahnya.

“Oppa, bukankah kau meminta air? Sudah aku berikan.” Jawab Youngran tanpa dosa sembari berjalan ke kamar, Jongin hanya mengumpat kesal lalu menarik kerah kaos yang dipakai Youngran, hingga gadis itu tertarik ke belakang seperti anak kucing.

“YA~!! Kim Youngran! Kau gila!.” Teriak Jongin frustasi.

Youngran tersenyum sinis. “Kim Jongin! Kau lebih gila!.” Sahut Youngran dengan nada yang menyebalkan. Jongin membulatkan matanya lalu menoyor kepala Youngran membuat Youngran hampir kehilangan keseimbangannya, tapi dengan cepat Youngran menarik tangan Jongin lalu menggigitnya. “Aaaaaaa. Ya~! Ya~!.” Jongin kembali meringis, tangannya memerah karena gigitan Youngran. Sedangkan adiknya itu hanya tersenyum penuh kemenangan.

Jongin mengepal tangannya geram. “Awaaaas kau.”

Dalam sekali hitungan, Jongin menarik rambut Youngran dan menjambaknya. “Aaaaa. Eommaaaaaa, Jongin menarik rambutku lagiiii.” Rengek Youngran, ia mengaduh kesakitan sembari mencoba melepaskan tangan Jongin dari rambutnya. “Ya~! Lepaskan! Ini sakiiiiiiiittt.” Jongin tertawa sembari terus menarik rambut Youngran. Kini posisinya sudah berjongkok diatas Youngran yang terbaring menelungkup sembari merengek meminta ampun.

“Minta maaflah!.” Perintah Jongin lagi.

Youngran menggelengkan kepalanya. “Shireo! Aku tidak mau.” Tolaknya sembari terus merengek.

“Baiklah, apapun maumu.” Jongin melepaskan tarikannya dirambut Youngran lalu beralih mencubit gemas kedua pipi Youngran.

“Aaaaa, eommaaaaaaa. Jongin terus menyiksakuuuu.” Teriak Youngran keras.

Sedangkan dikedua kamar yang berbeda.

“Ah, kepalaku sakit.” Gumam Kim ahjumma seraya menutupi tubuhnya dengan selimut hangat.

Yoona menghela nafasnya. “Ini akan menjadi malam yang panjang.” Gumamnya lalu menutup buku yang ia baca dan berjalan mematikan lampu.

Diruang tengah itu Jongin masih tertawa puas sedangkan dihadapannya Youngran masih merengek dengan wajah yang memerah. “Oppaaaaa, lepaaaaaskan tangaaanmu!”

“Shireo!.”

 

***

Yoona memoleskan sedikit bedak diwajahnya yang cantik, tipis tapi membuat wajahnya terlihat lebih baik. Dai meneepukkan telapak tangannya ke pipi beberapa kali, lalu merapikan rambutnya lagi. Dia beranjak dari cermin kemudian berjalan kearah pintu, mengambil blazzer sekolahnya yang tergantung.

Dia meraih tas ranselnya diatas meja belajar dan mengaitkannya dipunggung kemudian segera keluar dari kamar.

“Kau sudah siap?.” Suara Jongin menyambutnya ketika dia membuka pintu.

Yoona tersenyum lalu mengangguk “Ne.”

“Baiklah, ayo berangkat bersama.” Ajaknya, sedetik kemudian ia berjalan menghampiri tas ranselnya di sofa.

“Eh? Bukankah sekolah kita berbeda arah?.” Tanya Yoona bingung.

Jongin telah kembali kehadapannya dengan tas ransel hitam dipunggunggnya, ia terkekeh seraya menjitak kepala Yoona pelan. “Apa kau lupa? Bukankah hari ini ada event dance battle di Hanyoung?.”

Yoona masih bingung. “Bukankah acaranya besok?.” Jongin mengernyit dan kembali menjitak kepalanya pelan.

“Aigoo, seharusnya kau tidak mengantar Youngran semalam. Lihatlah, sepertinya kau kurang tidur.”

Gadis itu melirik kalendar kecil yang terpasang didinding. Selasa, 16 April.

“Ah ya, sekarang tanggal 16. Aku salah perhitungan.” Gumamnya dan kembali menatap Jongin.

“Baiklah ayo.”

“Dimana Youngran?.” Yoona bertanya kepada Jongin, ia berpikir sejenak lalu telunjuknya mengarah kearah dapur. Gadis itu mengangguk lalu mengisyaratkan Jongin untuk menunggu diluar.

Seorang gadis berambut panjang sebahu tengah sibuk dengan beberapa kotak makan dihadapannya. Yoona menghampirinya.

“Kau sedang apa?.” Kalau Yoona tidak salah lihat, ia tengah menyiapkan dua kotak bekal.

Youngran mengalihkan pandangannya lalu tersenyum. “Menyiapkan bekal.” Jawabnya singkat lalu memasukkan telur kedalam dua kotak itu.

“Tumben sekali?.” Youngran kembali tersenyum tapi tidak menatap yang berbicara. Ia meraih tutup kotak dan memasangnya.

“Ini untukmu eonni.” Ucapnya seraya menyodorkan satu kotak bekal itu pada Yoona. “Benarkah?.” Youngran mengangguk dan kembali tersenyum. Yoona meraih kotak itu. “Terimakasih.”

“Hey kau tidak memberiku bekal? Sebenarnya siapa yang kakakmu?.” Jongin tiba-tiba masuk keruangan ini. Ia berucap dengan nada menyindir. Youngran hanya mendelik sebal. Mereka berdua memiliki gangguan dalam berkomunikasi—jadi sudah dipastikan mereka akan cekcok setiap saat.

“Eonni, itu sebagai tanda terimakasihku karena semalam mengantarku.” Youngran tidak menghiraukan ucapan Jongin. Lalu meraih satu kotak bekal dan bersiap pergi.

“Adik macam apa dia?.” Jongin menggerutu dibelakang Yoona. Adik-kakak ini, kapan mereka akan bersikap selayaknya saudara?.

“Baiklah aku pergi. Oya eonni, ucapkan salamku pada teman lelaki mu yang tampan itu. Annyeong.” Yoona terdiam, siapa yang dia maksud? Park Chanyeol? Tapi Youngran memang benar. Pria itu, Park Chanyeol memang tampan. Tampan sekali.

“Teman lelaki mu? Siapa?.” Jongin menyadarkan Yoona dari lamunan sepintas. Dia penasaran.

“Ah tidak, lagipula kau tidak mengenalnya, ayo pergi.”

 

***

Park Chanyeol sedang menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal, dia menyesal telah mengajak Minhwa untuk berangkat naik bis bersamanya. Dia bahkan merutuk dalam hati pada Kim ahjussi yang mengambil cuti.

Kenapa dia harus cuti? Membiarkanku terlalu sering mendengar ocehan Minhwa yang membuat nyeri gendang telinga. Memangnya dia pikir sekarang gendang telinga bisa dijual bebas? Dimana aku bisa membelinya jika gendang telingaku pecah? Huh. Menyebalkan! Menyebalkan sekali!

Minhwa menghentikkan ocehannya, untuk sesaat membuat Chanyeol bersyukur.

“Oppa, oppa..” Minhwa merajuk lagi, dia menarik-narik ujung blazer Chanyeol seperti biasa.

“Ada apa?.” Tanyanya geram, tidak bisakah Minhwa diam barang sejenak ?

“Aku hanya ingin memberitahumu! Dan hey! Kenapa kau selalu marah padaku?.” Tanya adiknya dengan nada tinggi.

“Baiklah, ada apa?.” Chanyeol mengalah.

Minhwa mengarahkan telunjuk kanannya “Itu, bukankah gadis itu temanmu yang kemarin?.”

Chanyeol terdiam. Itu pasti Yoona. Dengan sekali gerakan dia membalikkan badannya. Sejauh lima meter dihadapannya kini, Yoona tengah melangkah santai. Rambutnya digerai seperti biasa, ditangan kanannya tersimpai sebuah bungkusan, seperti nya sebuah bekal makanan. Seorang lelaki dengan rambut yang sedikit teracak angin berlari kecil mengejar Yoona. Lalu merangkul pundak Yoona mesra. Dari jaraknya dengan mereka sekarang, Park Chanyeol bisa melihat lelaki itu mengucapkan beberapa kata dan setelah itu Yoona tersenyum, bahkan sesekali ia terkekeh kecil.

Sesuatu yang aneh menggerayapi Park Chanyeol, entah apa. Tapi dia merasa seolah dadanya tidak baik-baik saja. Senyuman berbinar yang tadi terukir dibibirnya berubah menjadi senyuman sayu. Siapa lelaki itu? Mungkinkah?

“Oppa, apa lelaki disampingnya itu kekasihnya? Mereka tampak akrab?.” Minhwa kembali mengeluarkan suaranya. Chanyeol bahkan tak bertenaga hanya untuk sekedar menjawab pertanyaanya. Tapi suara kecilnya berontak. ‘Kurasa, ya.’

Tiba-tiba pandangan mereka bertemu. Yoona melihatnya, senyuman yang terukir dibibirnya tiba-tiba memudar. Tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum lagi, pada Chanyeol. Ia menunduk kecil tanda memberi hormat. Dan Chanyeol masih tetap pada posisinya memperhatikan mereka, Yoona dan .. pria itu.

“Oppa, ayo. Bisnya datang.” Minhwa menariknya kali ini, membuat sang kakak mengakhiri aktivitasnya memperhatikan Yoona dan Pria itu. Dengan refleks dia mengalihkan pandangannya pada bis. Beberapa orang sudah berantrian masuk. Dia mengangguk lemah pada Minhwa. “Ayo.”

Yoona sempat melihat ekor mata Park Chanyeol meliriknya sekilas sebelum dia benar- benar masuk ke dalam bis.

“Ayo.” Jongin menarik tangan Yoona pelan. “Yoona, apa yang kau lakukan? Cepat duduk!” Jongin menarik-narik lengan baju Yoona sembari berbisik. Gadis itu tampak bingung untuk sesaat, dia menyapu tatapannya ke seluruh penjuru bis lalu menemukan Chanyeol dan adiknya duduk di salah satu kursi dibelakang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

“Im Yoona! Kau kenapa? Cepat duduk, kau menghalangi jalan! Yang lain akan lewat!.” Suara Jongin kembali membuatnya terhenyak. Gadis itu limbung lagi, dia duduk dengan segera.

Jongin masih menatapnya dengan tatapan menyelidik. Pria itu sempat ikut menatapp pada kursi tempat Chanyeol dan Minhwa duduk tadi.

“Ada apa denganmu?.” Jongin menggerutu kesal sembari menatap lurus kedepan. Yoona menoleh lalu tersenyum kecil.

“Tidak. H-hanya sedikit pusing.”

“Apa perlu kembali ke rumah saja?.”

Dia menggeleng pelan. “Tidak perlu, aku baik- baik saja.”

Beberapa menit selanjutnya mereka hanya diam, Jongin sepertinya menyadari Yoona sedang tidak mau diajak bicara. Jadi dia hanya menerawang keluar jendela sembari sesekali bersenandung pelan.

Yoona lagi-lagi tertahan kearah kursi yang diduduki Chanyeol. Sungguh, dia sangat berharap hari ini mereka bisa menyisakan sebuah percakapan. Singkat pun tidak masalah. Yoona hanya berharap dia menyapaku, atau sekedar tersenyum padanya.

“Eonni, benar kau Yoona Eonni?.” Sebuah suara bisikan kecil menyadarkan Yoona dari lamunannya. Dia segera mencari sumber suara dan betapa leganya saat mendapati Minhwa sedang menatapnya hati-hati. Gadis itu menatap Yoona dari balik bulu matanya yang lentik, hendak berbicara lagi namun segera membulatkan matanya saat menyadari Jongin ikut menatapnya di samping Yoona.

“Kau Park Minhwa? Apa kabar?.” Yoona berusaha tersenyum sembari sedikit kikuk karena kini Jongin sedikit menyeretnya— dia terus berusaha melihat Minhwa lebih jelas.

Gadis berambut hitam pekat itu mengangguk pelan. “Aku baik- baik saja.”

“Baguslah kalau begitu, tapi kakakmu…”

“Ah oppa ku sepertinya sedang dalam keadaan mood yang sagat buruk..” Minhwa berbisik lagi sembari menaruh tangan kanannya di samping mulutnya. “Dia terus marah-marah padaku. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi sepertinya…” Minhwa menggantung ucapannya sembari beralih menatap Jongin yang juga sedang memperhatikannya. Mengerti apa maksudnya, Yoona dengan perlahan mendorong tubuh Jongin agar kembali ke posisinya. Jongin membagi pandangan bingung tapi Yoona tidak begitu peduli dan kembali menatap Minhwa.

“Sepertinya apa?.” Tanyanya setengah berbisik. Pelan-pelan dalam hati berharap Minhwa tidak menangkap rasa antusiasmenya.

“Pria disampingmu, dia jadi begitu semenjak kau datang dengan mmpp-..”

Yoona terlonjak saat ucapan Minhwa terhenti karena tangan Chanyeol menutupnya kasar. Chanyeol menatapnya beberapa detik lalu kembali menatap ke depan.

Ayolah, dia kenapa?

“YOONA EONNI! Kakakku cemburu pada pria disampingmu itu.”

Yoona tidak memiliki riwayat penyakit asma tapi kini dia susah payah menghirup udara di sekitarnya. Matanya membelalak saat Minhwa berteriak tadi. Dalam sekejap semua mata terseret kearah kursi yang di duduki Chanyeol dan Minhwa. Jongin terhenyak di sampingnya sembari berdiri, berusaha melihat asal suara lebih jelas.

“Apa? Siapa yang cemburu padaku?.” Tanya Jongin entah pada siapa dengan suara yang lebih keras, membuat semua mata beralih menatap Jongin dan Yoona. Astaga!

 

 

TBC.

 

 

Note*

Hi. Thanks for reading. FF ini pernah di post di EXOShiDae Fanfiction dan personal blog author. Tapi karena EXOShidae ditutup dan kita gatau kapan bakal dibuka lagi jadi kita post ulang disini dengan sedikit revisi dari pov nya. Jadi, jangan heran jika merasa pernah baca fic ini J

24 thoughts on “(Freelance) In Your Eyes (Chapter 2)

  1. Lucu bgt gk jongin atu chanyeol brtem mulu ma adik2 mreka..
    Aigoooo chanyeol pasti malu bgt tu pas minhwa ngmng dia cmbru ma jongin..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s