Dandelion

 

poster dandelion

As always Chanyeol and Yoona.

by Cicil

*

“Kalau disuruh memilih, tentu saja aku lebih sayang pada bunga dandelion.”

*

Ini sudah seminggu sejak gadis yang bernama Im Yoona, yang berhasil mencuri hatinya, dan yang akan berhasil membuatnya mati sebentar lagi karena gadis itu sedang marah padanya. DAN, DIA BERSIKAP SEOLAH CHAYEOL TIDAK PERNAH ADA. Oke, perhatikan kalimat itu, setiap Chanyeol datang ke depan pintu apartemennya, Yoona tidak pernah membukakan. Lalu setiap Chanyeol berpapasan dengannya di universitas, Yoona bersikap seolah dirinya hanya sekadar hantu belaka. Oh, katakan pada Chanyeol apa yang lebih membuatnya menderita dibanding ini semua?

Chanyeol frustrasi sekali. Semuanya hanya karena seminggu yang lalu ia melupakan janji makan malam bersama dengan kekasihnya itu, makan malam dalam rangka merayakan hari ke-100 mereka pacaran. Tidak, ini masalah serius sekali. Tidak tahukah Yoona, bahwa ia begitu tersiksa karena tidak bisa bercanda lagi dengannya? Chanyeol merasa hidupnya hampa, seperti kertas yang tadinya berisi banyak coretan, kini sudah terhapus semua dan yang tampak hanyalah seonggok warna putih.  Hidupnya kosong, kalau mau tahu, Yoona membuatnya gila setengah mati.

Hari ini hari Minggu pagi. Yoona biasanya jogging di area taman apartemennya setelah sarapan. Chanyeol tahu sekali hal itu, makanya ia datang sambil membawa bertangkai-tangkai bunga dandelion warna putih sesuai kesukaan Yoona. Ia menunggu gadis itu di pinggir salah satu tempat duduk yang tersedia di taman tersebut.

Chanyeol sudah menyiapkan ribuan kata-kata maaf yang akan ia ucapkan sejak kemarin sore. Bahkan, beberapa di antaranya ia catat di secarik kertas kecil yang ia jejalkan di saku celananya. Jaga-jaga, kalau suatu ketika ia lupa apa yang akan ia katakan, kadang menatap mata Yoona saja memang bisa menghipnotis dirinya. Jadi, Chanyeol sudah melewatkan sarapannya hanya dengan sebuah pisang dan segelas susu lalu ia langsung bergegas kemari setelah membeli bunga terlebih dahulu, dan dari 15 menit yang lalu ia hanya termanggu menunggu Yoona jogging di sekitar sini dan melewatinya. Ternyata menunggu rasanya semenderita begini, Chanyeol lebih memilih bernyanyi di atas meja kantin daripada harus menunggu dengan keadaan risau.

“Yoong!” Teriaknya saat Yoona memasang tampang terkejut karena mendapati Chanyeol di sana. Langsung saja, gadis itu hendak berbalik dan memutar arah larinya. Tapi Chanyeol keburu menyusul dan menarik tangannya, menarik Yoona agar berbalik dan menghadapnya. Chanyeol memperhatikan wajah kekasihnya itu, kendati yang ditatap hanya sibuk membuang muka dan enggan sekali menatap balik.

“Lihatlah aku, tolong, aku tersiksa karena dirimu yang tidak ingin melihatku.” Oh, tidak, itu bukan rayuan, itu jujur sekali, Chanyeol dengan suara super beratnya itu memang frustrasi karena setengah dari jiwanya sedang marah padanya.

Akhirnya setelah menunggu beberapa detik, iris kecokelatan Yoona berada dalam satu garis lurus dengan iris legam milikmya. “Apakah kau masih mencintaiku?” suar sang laki-laki pelan, bahkan bunga dandelion masih tersemat di balik salah satu jemarinya yang bersembunyi di belakang punggung.

No, I’m not.” Chanyeol tahu itu kebohongan. Yoona selalu memakai bahasa asing jika ia sedang berbohong. Tapi rasanya tetap saja menyentil hati kecilnya, meski itu kebohongan. Sebenci itukah sampai Yoona rela berdusta padanya? “Tapi aku masih menyayangimu.” Tukas Chanyeol, dengan sedikit senyum kecut, ia menarik tangannya yang menggenggam bunga dan memperlihatkannya pada Yoona.

“Aku minta maaf, aku tahu aku tidak bisa mengatur waktu dengan baik hari itu, aku kelelahan dan tertidur sampai pagi. Lalu sejak itu kau hanya diam dan menganggap eksistensiku menghilang, seminggu ini rasanya aku seperti mau mati saja.”

I’m not loving you, anymore.” Ujar Yoona, tapi ia tetap menerima bunga pemberian Chanyeol dan tersenyum ketika mendekatkan bunga favoritnya itu dan menciumnya. Apa saja selain bunga dandelion, oke? Yoona tidak bisa menolak jika diberi yang satu itu. Yoona bahkan kurang mempedulikan penjelasan Chanyeol ketika matanya menangkap kumpulan bunga itu di hadapannya.

“Kau menggunakan bahasa asing ketika berbohong, Yoong.” Tangan Chanyeol meman masih menggenggam tangannya, dan rasa hangat itu–yang tanpa sadar selama ini ia rindukan–kembali memenuhi dirinya. Ia hanya bisa termanggu menyadari bahwa ia ketahuan berbohong. Lalu rasanya amarah yang membara selama seminggu ini lenyap dari muka bumi. Ia melayangkan cengiran pada Chanyeol.

“Kalau begitu dari kemarin saja aku membawakanmu bunga, ya.” Karena berkata begitu, Chanyeol langsung saja mendapat cubitan kecil yang pedas dan menyakitkan di pinggangnya oleh Yoona. Namun tidak apa-apa, asal Yoona kembali padanya, ia rela dicubit seribu kali seperti itu.

Yoona memang tidak diberi kemampuan untuk marah lebih lama lagi pada Chanyeol. Laki-laki itu melepaskan genggamannya, dan beralih merangkul pinggangnya seperti kebiasaan-kebiasaan kecil yang sedari dulu mereka lakukan. Yoona diam saja sambil sibuk mengamati bunganya saat mereka kembali berjalan mengikuti arah apartemen Yoona berada. “Are you still in love with me?” Tanya Chanyeol.

“Tentu saja, bagaimana bisa aku tidak mencintaimu?”

Mnedengar hal itu terucap dari bibir Yoona, rasanya Chanyeol mau pingsan saja karena terlalu bahagia. Lalu langit pagi terasa indah sekali, mentari yang menyorot terasa sangat hangat, dan udara di sekitar terasa lebih menyegarkan. Sebegini besarkah efek Im Yoona terhadap Park Chanyeol? Kalau ditanya, Chanyeol akan menjawabnya dengan anggukan keras.

Kemudian, karena semua sepertinya akan berjalan lancar-lancar saja hari ini, otak Chanyeol menerbangkan sebuah pemikiran yang agak ambigu tapi patut ditanyakan untuk mengetahui eksistensi Chanyeol dalam hati Yoona. Lantas meluncurlah pertanyaan tersebut dari bibir Chanyeol.

“Yoong, coba pilih, antara aku dan bunga dandelion.”

Ia melihat Yoona yang sedang berpikir dalam konteks ringan. Dalam hitungan 3 detik–menurut perhitungan Chanyeol–gadis itu langsung saja melontarkan jawabannya. Dan jawabannya dengan berhasil membuat laki-laki tinggi yang biasa dipanggil Dobi itu bisa cemburu pada bunga.

“Kalau disuruh memilih, tentu saja aku lebih sayang pada bunga dandelion.

Oke, Chanyeol fix cemburu pada bunga itu. Padahal kenyataannya Chanyeol adalah manusia dan ia tidak menyangka akan mempunyai rival seonggok kumpulan bunga dandelion.

Mungkin lain kali Chanyeol bisa memenangkan hati Yoona, tentu saja, lebih daripada si Dandelion itu.

 

END?

note: kayaknya saking lama nggak nulis aku nulis END? aja jadi NED? serius-_- untung aku benerin dan liat lagi wkwkwk. Maaf karena udah lama nggak bawa si couple chanyoong ini, itu karena yah si status anak kelas sembilan yang nyebelin wkwkw. tapi sekarang dah bebassss. Dan aku mau ngomong kalo kangen banget sama yoongexo (love youuuu). Thanks for reading yaa, and comment are really wellcome^^

44 thoughts on “Dandelion

  1. Hehehe.. Yeol oppa cemburu sama bunga Dandelion krn yoona eonni lbh memilh it bunga ktimbng yeol oppa😀
    chanyeol oppa ud menangin hatinya yoona eonni kok..
    Critanya bgus, aku suka genrenya pas bnget..
    Ini simple bnget, tp acungin jempol deh buat nih ff🙂

    Keep writting thor~

  2. Akh! Jangan end Thor, chanyeol so sweet banget, lucu pas adegan yoona lbih milih dandelion, itu kan cuma bunga -,- buat sequel ya Thor
    Keep writing!

  3. suka ma jln ceritan nya keren…
    lucu pas di akhir,bayangin expresi chenyeol yg cemburu ma bunga😀
    di tunggu jg ff lain nya…🙂

  4. aiguuu ternyata aku seumuran sama cicil:3 kok nulisnya bisa bagus banget gitu:’3 mau dong punya pacar kayak chanyeol (EH)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s