(Freelance) Oneshoot : 500 Days

Poster 500 Days

500 Days

 

By :DeerBurning

Main Cast : GG’s Im YoonA & EXO’s Park Chanyeol

Genre : Sad, Hurt.

PG : 15

 

Sorry for typo(s)..

Hope you’ll enjoy it….

 

500 Days, Im YoonA…

Pernahkah kau merasakan jantungmu berdetak ribuan kali lebih cepat dari biasanya, saat kau menatapnya?

Atau pernahkah darahmu terasa mengalir deras hanya dengan mendengar suaranya?

Merasakan desiran panas di dada ketika kulitmu saling bersentuhan?

Atau bahkan hatimu gelisah saat sosoknya tak tampak?

Apakah itu cinta?

Mungkin…

Apakah aku pernah merasakannya?

Penah! Dulu… dulu ketika hatiku masih terikat dengan hatinya.

Dulu ketika cinta nya, tatapannya, dan jiwanya hanya ia berikan padaku seorang.

Dan dulu… dulu ketika pelukan itu selalu mendekap tubuhku hangat.

Dialah Park Chanyeol, satu-satunya pria yang telah merebut hatiku.

Dialah Park Chanyeol, satu-satunya pria yang telah membuat otakku beku.

Dialah Park Chanyeol, satu-satunya pria yang bisa menebarkan bunga sekaligus duri di jiwaku.

Dan dialah Park Chanyeol, satu-satunya pria yang membuat hatiku terluka,dan menganga.

Dialah Park Chanyeol … lelaki ku.

***

 

Author P.O.V

 

Chanyeol mengangkat kepalanya, mengalihkan perhatian dari setumpuk dokumen yang sedang ia baca, saat mendengar pintu ruang kerjanya terbuka. Dalam sekejap, harum parfum mahal memenuhi ruangan.

“Oppa!”

Seorang gadis cantik bertubuh kurus, melangkah semakin dekat dengan nampan berisi cangkir di tangannya. Gadis itu melangkah dengan anggun, aura feminim begitu melekat di setiap jejak yang ia tinggalkan di lantai marmer ruang kerjanya, rambut ikalnya nampak begoyang seirama dengan langkah nya yang semakin mendekat, hingga berdiri tepat di depan meja kerja Chanyeol.

Chanyeol menurunkan kaca mata bacanya, lalu menghela nafasnya panjang. “Ada apa Yoon?” lalu menyandarkan punggungnya.

Yoon? Chanyeol memanggilnya Yoon? Kemana panggilan sayang itu? Dulu, dulu ia tak pernah memanggil gadis itu dengan Yoon atau Yoona, pria itu, Chanyeol selalu memanggilnya dengan Im atau YoongA, sebagai panggilan sayangnya. Awalnya terdengar aneh dan menyebalkan, tapi sekarang Yoona benar benar merindukan itu.

Yoona meletakkan secangkir teh hangat di hadapan Chanyeol, menghela nafasnya sekali lagi, dan tanpa rasa malu bersikap biasa seolah semua baik baik saja. “oppa istirahatlah, kau nampak lelah.” ucap Yoona penuh kelembutan.

Chanyeol memejamkan kedua matanya, terlalu malas untuk sekedar memberikan jawaban ‘iya’ kepada Yoona.

“Tiga hari lagi hari ke 500 hubungan kita, tunggulah sebentar lagi, oppa.” Kata Yoona lirih.

Menyakitkan memang, mengingat hanya tinggal tiga hari lagi mereka akan merayakan hari ke 500, tapi takdir berkata lain, mereka harus berpisah. Itulah kenyataan pahit yang harus mereka terima. Yoona menjatuhkan tubuhnya di kursi di seberang meja kerja Chanyeol. “Setidaknya, untuk tiga hari ini, berpura puralah kau masih mencintaiku.”

Chanyeol menatap gadis di hadapannya tanpa ekspresi. “Harus berapa kali lagi aku mengatakannya Yoon? Aku sudah tidak mencintamu lagi.”

“Aku tahu.” Sambar Yoona cepat. “Maka dari itu, berpura puralah kau masih mencintaiku. Apakah itu terlalu sulit untukmu?” Suara Yoona terdengar frustasi. Matanya yang besar mulai berkaca kaca.

Chanyeol terdiam. Berpisah dengan Yoona adalah pilihan terbaik yang sudah ia putuskan. Ia tidak boleh goyah.

“oppa, tiga hari lagi kita akan kencan kemana?”

Chanyeol masih sama, wajahnya datar dan dingin. Hubungannya dengan Yoona telah sampai pada titik dimana mereka akan sama sama saling melukai, dan perpisahan adalah cara terbaik untuk menyelamatkan hati mereka. Itulah yang di fikirkan oleh Chanyeol.

Yoona menghapus air matanya yang berasil keluar dengan punggung tangan. “Ke Amusement Park?” tawar Yoona riang. Ia tak ingin merusak waktu terakhirnya bersama pria yang begitu ia cintai. “Ahh… tapi aku juga ingin ke pantai, sudah lama aku tidak melihat sun set. Atau Myeongdong? Bukankah kita sudah lama tidak kesana? Menurut oppa, kita harus kemana?”

Chanyeol memutar bola matanya malas. “Kau butuh pendapatku? Bukankah selama ini kau selalu berfikir dan bertindak sesuka hatimu? Pernahkah sekali saja kau meminta pendapatku atau sekedar bertanya ‘apakah aku suka, apakah aku mau’?” Kedua mata Chanyeol menajam. Nafasnya naik turun menahan amarah.

Yoona terdiam, selama ia menjalin hubungan dengan pria nya, ia tak pernah sekalipun melihat Chanyeol semarah ini. Chanyeol yang ia kenal adalah pria romantis nan hangat yang tak sungkan bertingkah bodoh, tapi sekarang lihatlah! Pria itu nampak mengerikan di mata Yoona.

“Kapan? Kapan kau pernah menanyakan hal itu, Im Yoona?”

Yoona masih terdiam. Ia tak ingat kapan ia menanyakan hal seperti itu kepada Chanyeol. Ia bahkan tidak yakin pernah melakukannya. “Kapan?” kejar Chanyeol saat tak segera mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

Sejenak ruangan ini terasa hening. Hanya suara helaan nafas yang mendominasi percakapan merka berdua. “Hem?” tuntut Chanyeol, yang sialnya tetap tak bisa Yoona jawab.

“Tidak, tidak pernah, sekalipun.”

Yoona meringis menyadari fakta yang selama ini tak di sadarinya. Ia tak bisa mengelak atau mengiyakan pernyataan Chanyeol. Ia baru menyadari hal itu sekarang. Seburuk dan se egois itu kah ia dulu? Begitu menyesakkan ketika ia baru menyadarinya sekarang.

 

***500 Days***

 

Yoona duduk terpaku menatap sendu keluar jendela. Ditatapnya jutaan air yang turun dari langit. Wajahnya memucat, matanya memerah dan membengkak dengan jejak air mata yang mulai mengering dikedua pipi tirusnya. Sebotol vodka yang masih tergenggam di jemarinya, sudah cukup menjelaskan betapa kacaunya ia saat ini.

Sejenak ia menatap siluet seorang wanita yang datang mendekat kearahnya. Yoona tersenyum tatkala melihat wanita yang begitu familiar menatapnya penuh kekhawatiran. “eonni, kau mabuk lagi?” wanita itu meletakkan nampan berisi menu makan malam di atas nakas, lalu menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Yoona.

Wanita itu-Im Seulgi- adik kandung dari Im Yoona, memeluk erat lengan kakaknya yang terasa dingin, entah sudah berapa lama kakaknya bertahan dalam posisi seperti ini. Duduk meringkuk di sudut kamar, di temani sebotol minuman, yang Yoona yakini sebagai obat penghilang nyeri di ulu hati. “Setidaknya eonni harus makan. Jangan membiarkan perut mu kosong. Eo?” tawar Seulgi.

Yoona menggeleng, ia kembali meneguk vodka di tangannya.

“eonni…” Seulgi tak dapat lagi membendung air matanya. Melihat kakaknya yang nampak semakin kacau setiap malamnya, mau tak mau membuat hatinya ikut perih. Andai saja membunuh orang bukan termasuk tindakan kriminal, mungkin gadis cantik itu telah membunuh kekasih kakaknya sejak seminggu yang lalu.

Seulgi merebut paksa botol vodka dari genggaman Yoona saat gadis itu hendak meneguknya kembali. Perutnya kosong, dan membiarkan kakaknya meneguk minuman dengan kadar alcohol tinggi, sama saja dengan mempersilahkannya untuk bunuh diri. “eonni hentikan!” pinta Seulgi, ia sedih, ia juga marah. Sama seperti Yoona rasakan.

Wae?”

“Eonni…” lirih Seulgi.

“Ahh… benar juga, besok aku akan kencan. Wajahku pasti akan bengkak jika terus minum seperti ini.” saat ini Yoona mungkin tertawa, tapi hatinya seperti teriris belati. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan jika hubungannya dengan Chanyeol kandas secepat ini.

Yoona bangkit, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “benar! Aku harus menggunakan masker sekarang.”

Seulgi meraih pergelangan tangan Yoona sesaat setelah ia berdiri. “EONNI!” teriaknya. Ia tak sanggup melihat tingkah kakaknya. Lihatlah! Saat ini ia begitu rapuh dan hancur, tapi ia tak ingin menunjukkan kesedihannya sama sekali. Jika ia bisa memilih, maka ia lebih senang melihat kakaknya menangis dan melempar seluruh barang di dalam kamarnya di bandingkan dengan sikap seolah olah ia sedang baik baik saja seperti saat ini.

“Aku harus terlihat cantik besok. Apakah kau ingin membantuku?” Tawar Yoona di sertai senyum tulus.

“HENTIKAN EONNI!” Seulgi meraih kedua pundak Yoona, lalu mengguncangkannya. Mencoba menyadarkan kakaknya yang menurutnya mulai tidak waras. “kumohon hentikan eonni…” Suara Seulgi begitu parau, ia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyadarkan kakaknya.

Sesaat Yoona terdiam. Fikirannya kosong. Linglung.

“Lalu aku harus bagaimana, Seulgi-ah?” Tanya Yoona tak kalah parau. “Haruskah aku berlari keluar dan berteriak pada semua orang jika saat ini aku sedang patah hati? Atau haruskah aku berlari ke rumah Chanyeol lalu bersujud di kakinya, memohon untuk tak meninggalku?”

“Menangislah,” Lirih Seulgi penuh ketegasan.”Jangan berpura pura kuat lagi, menangislah eonni. Menangislah…” Pinta Seulgi tulus. Ia tak tahan melihat kakaknya. Kisah hidup tidaklah berhenti disitu. Ketika kita putus dengan seseorang, maka akan ada orang lain setelahnya, sama seperti satu kisah yang telah selesai, maka kisah lain pun akan menanti. Lalu hanya karena putus dengan seorang Park Chanyeol, kakaknya akan menyerah?

Tidak! Seulgi tak akan membiarkan hal itu terjadi. Kakaknya harus tetap hidup dan menemukan seseorang yang benar benar pantas, membangun bahtera rumah tangga, membesarkan anak anak mereka dan hidup dengan bahagia. Hanya itulah yang di harap kan Seulgi, tidak lebih.

“dan membiarkan orang lain tahu jika aku lemah?!”Yoona tertawa sinis. “tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” Tolak Yoona tegas. Membiarkan orang lain melihat nya lemah adalah hal ter fatal yang tak boleh ia lakukan. Harga diri yang selama ini ia agung agung kan tak boleh jatuh begitu saja hanya karena setetes air mata. Tidak, ia tak akan pernah melakukannya.

Seulgi melepaskan cengkeramannya di bahu Yoona. Sebenarnya apa yang di fikirkan kakaknya? Kenapa ia begitu keras kepala? “lalu… apakah aku orang lain bagimu? Aku adikmu, adik kandungmu, Im Yoona.” Lirih Seulgi pilu.

Dan kata kata terakhir adiknya berhasil merobohkan benteng pertahanan yang selama ini telah ia jaga sekuat tenaga. Perlahan tubuh kurus Yoona melorot, bersatu dengan dinginnya lantai kamar miliknya. Fikirannya menerawang pada kejadian tiga hari yang lalu, di mana menjadi hari terakhir ia berkunjung ke kediaman keluarga Park. “Chanyeol bilang aku egois, Chanyeol bilang aku tak pernah ada untuknya, Chanyeol bilang…” tenggorokan Yoona terasa tercekat.

“dalam hubungan ini, kenapa harus aku yang berperan sebagai orang jahat?” suara Yoona menjadi satu satunya penghias di ruang ini. “Aku terlalu sering menyakiti hatinya, aku terlalu jahat dan aku… terlalu egois.”

Seulgi menggeleng. Air mata yang sedari tadi sudah membasahi kedua pipinya kembali mengalir dengan deras. Ia menyangkal semua pernyataan kakaknya. Kakak nya tidak jahat, kakak nya juga tidak egois. Selama ia hidup dengan Yoona, gadis itu memanglah bukan gadis romantis yang penuh perhatian, gadis itu benar benar berbeda dengannya.

Tapi seulgi berani bertaruh, di balik dinginnya sikap Yoona, gadis itu tetap saja menyimpan perhatian yang luar biasa besar, hanya saja ia tak bisa mengekspresikannya seperti gadis lain pada umumnya.

Dan tunggu! Jangan lupakan satu hal, disini Chanyeol lah yang lebih dulu berpindah kelain hati, bukan kakaknya. Dan hal itu sudah cukup membuktikan siapa yang jahat. Bukankah begitu?

Seulgi meraih tubuh kakaknya, memeluknya erat. Hingga tak ada jarak sesentipun diantara mereka berdua. “menangislah eonni, jika dengan menangis bisa sedikit mengurangi luka di hatimu,” Suara Seulgi lamat lamat terdengar, beradu dengan suara hujan yang turun semakin deras. “Aku, Im Seulgi, adikmu. Akan selalu ada di sisimu.”

Yoona menyembunyikan wajahnya yang basah di bahu kurus Seulgi. Terisak tanpa ampun hingga tubuhnya melemah.

Dan pada akhirnya, Yoona menyerah. Malam ini ia mengalah, membiarkan adik kecilnya melihat betapa hampa dan terluka hatinya.

 

***500 Days***

 

Yoona merapatkan mantelnya, tak membiarkan ada celah sedikitpun untuk dinginnya udara musim gugur merambah ketubuhnya. Meskipun hujan tak lagi turun dan matahari mulai bersinar, tapi sisa-sisa hujan yang bercampur embun masih terasa begitu dingin. Yoona menggosok kan kedua telapak tangannya, mencoba mengusir dingin yang mulai menusuk permukaan kulit. Ini sudah menit ke dua puluh sejak kedatangannya di Amusement Park, tempat pertama yang ia gunakan sebagai tempat kencan nya bersama Chanyeol.

Hari ini merupakan hari ke 500 nya bersama Chanyeol, seperti pasangan lain pada umumnya, Yoona ingin merayakan hari spesial ini bersama orang yang ia cintai. Tapi hingga lebih dari dua puluh menit ia menunggu, pria itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.

“Sudah menunggu lama?” Suara berat khas lelaki nya berhasil masuk ke dalam gendang telinga Yoona. Dengan cepat ia mendongakkan kepalanya. Ia memaksakan seulas senyum. Bagaimanapun juga, ia tak boleh merusak hari spesialnya saat ini dengan merajuk.

Yoona menggeleng. “Aku juga baru saja sampai.” Bohong Yoona, lalu menatap Chanyeol sekilas sebelum menarik lengan pria itu masuk ke dalam.

“Oppa, menurutmu aku lebih cocok memakai warna putih atau pink?” Yoona mengangkat bando berbentuk telinga kelinci berwarna putih dan pink dengan kedua tangannya.

“Yoon, sudah ku bilang__”

“Ah! Sepertinya putih lebih bagus!” potong Yoona cepat. “dan oppaa…” Yoona bergumam, sementara mata dan tangannya sibuk memilih bando yang cocok untuk Chanyeol. “Ini!” Yoona mengambil bando kelinci berwarna biru, lalu memasangnnya di kepala Chanyeol. “Aku rasa biru sangat cocok denganmu oppa, eotte?”

Chanyeol memutar bola matanya malas. “Yoon, sudah__”

“Oppa kita harus berfoto,” Yoona mengambil ponselnya, lalu merangkul lengan kanan Chanyeol, menarikknya untuk lebih dekat. “Oppa, tersenyumlah…” Pinta Yoona lembut.

“Waa, lihatlah! Bukankah aku terlihat cantik?” Yoona menunjukkan hasil jepretannya pada Chanyeol. “Oppa, seharusnya kau tersenyum, lihatlah wajahmu datar sekali.” Yoona cekikikan melihat ekspresi Chanyeol.

.

Berbeda dengan wajah Yoona yang berbinar, air muka Chanyeol nampak pucat. Mereka telah menyelesaikan hampir semua wahana yang tersedia di Amusement Park. “Setelah ini, kita akan kemana oppa?”

“Yoona, bukankah sudah ku bilang__”

“Bioskop!” Potong Yoona lagi. “Aku ingin menonton film first love, Jessica bilang film itu benar benar bagus,” Dengan cepat Yoona menarik lengan pria itu, mengabaikan rasa sesak yang masih menguasai hatinya. “ oppa, ayo cepat. Kita tidak boleh membuang-buang waktu hari ini.”

Jika memang hari ini hari terakhir, maka ia akan membuatnya seindah mungkin. Tanpa rasa sakit, tanpa ada air mata, tanpa ada penyesalan pada akhirnya.

***

 

Yoona menatap kosong kelayar besar didepannya. Ia sama sekali tak terpengaruh maupun terganggu dengan suara jeritan para penonton di teater. Ia melirik kearah Chanyeol. Ia baru menyadari jika pria ini terlihat lebih tampan dari biasanya. Bulu halus yang dulu menghiasi sebagian besar rahangnya telah ia cukur tanpa sisa. Bibir yang entah, sejak kapan tak ia rasa kan terkatup rapat tanpa ada niat untuk terbuka sedikitpun. Dan mata teduh yang selalu menatapnya penuh cinta, kini telah berubah dingin. Entah sejak kapan hal itu terjadi, ia tak tahu.

Ia baru menyadari, jika selama ini ia tak pernah memperhatikan kekasihnya itu seperti pria itu memperhatikannya. Ia tak pernah tahu apa yang di lakukan kekasihnya, ia tak pernah tahu apa keinginan kekasihnya, bahkan makanan kesukaan atau hobi pria itu pun Yoona tak tahu.

Menyadari hal itu, hati Yoona terasa tertusuk ribuan belati. Jujur, saat ini hatinya merasa takut. Jika mereka harus berpisah, maka Yoona lah orang yang paling bertanggung jawab atas semuanya. Karena memang dirinyalah sumber permasalahan. Dirinya yang terlalu egois, yang terlalu arogan dan terlalu dingin. Hingga menanyakan ‘ sedang apa?’ atau ‘ kau sudah makan’ pun tidak pernah ia lakukan. Dan kini, saat ia hampir kehilangan semua itu, ia baru menyadari kesalahannya.

Yoona menarik nafasnya dalam-dalam, nafasnya terasa sesak. Pelan-pelan garis merah mulai Nampak di urat matanya, membuat cairan bening jatuh meleleh dari kantung mata. Ia sungguh bodoh. Membiarkan perlahan-lahan dirinya dan pria itu menjauh. Membuat jarak yang mungkin saat ini terlihat semakin lebar. Seharusnya ia sadar, jika kekasihnya itu sangat membutuhkannya disaat ia lelah, disaat ia jatuh, dan kesepian. Seharusnya ia ada kapanpun pria itu membutuhkan kehangatannya. Dan mungkin, ketika ia merasa sendiri dan hampa, saat itulah ada seseorang yang berhasil menempati celah kosong dihatinya.

Yoona mengusap cepat air mata yang telah berhasil lolos dari pelupuk matanya. Ia menggigit kuat-kuat bibir bawahnya agar suara isakannya tidak terdengar.

Bodoh, ia memang bodoh. menyadari hal itu tepat saat ia akan kehilangan semua nya. Seharusnya ia lebih peka, seharusnya ia lebih perasa, dan seharusnya… ini semua tak terjadi. Tapi semua telah berlalu, lalu apa gunanya penyesalan?

***

 

Yoona meniup lilin yang bertuliskan angka 500 diatas kue berhiaskan aneka buah dan butter cream di hadapannya. Ia tak bisa merayakan hari spesial tanpa sebuah kue, benar kan? Ia melirik Chanyeol yang masih duduk bersandar di sofa tanpa mau menatap kue yang kini telah beralih di tangan Yoona.

“Oppa, nyanyikanlah sebuah lagu untukku.” Pinta Yoona manja.

Chanyeol membuang nafasnya sebelum mengambil microphone di atas meja. Tak berselang lama setelah Chanyeol selesai memilih lagu, ia tersentak. Pria itu memilih Emergency Room yang di nyanyikan oleh Izi. Tiba tiba saja dada Yoona terasa sesak, padahal ia sudah memesan ruangan Deluxe, tapi ia tetap merasa ruangan ini begitu sempit hingga oksigen yang hanya ia bagi berdua dengan Chanyeol terasa kurang.

Lagu ini, lagu yang sering Chanyeol nyanyikan untuknya dulu. Dulu, entah kapan terakhir Chanyeol menyanyikan lagu ini untuknya, ia tak ingat. Dan kenyataan itu membuat hati Yoona mencelos, Chanyeol benar, Yoona, ia tak pernah mengerti Chanyeol. Hingga hubungan ini berjalan sampai lebih dari satu tahun, Yoona tak pernah tahu apa yang Chanyeol lakukan, apa yang Chanyeol suka dan apa yang pria itu tak suka. Ia bahkan lupa, kapan terakhir kali ia meluangkan waktunya untuk kekasihnya. Ia hanya terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Yoona berusaha mati matian menahan cairan yang sudah berhasil menumpuk di pelupuk matanya dengan cara menggigit kuat-kuat bibir bawahnya. Kemudian ia bangkit dari tempat duduk dan berhasil mengundang tatapan bingung dari pria disampingnya. “ A-Aku ke toilet dulu.” tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Yoona segera berjalan keluar ruangan.

.

Lama Yoona menghabiskan waktunya di toilet, ia menangis sejadi jadinya di sana. Yoona, memang Yoona lah yang patut di salahkan saat ini. Andai saja dulu ia sedikit lebih peka, anda saja dulu ia tak menjadi seegois saat ini, andai saja dulu ia lebih meluangkan sedikit waktunya untuk Chanyeol, andai saja…

Setelah mencuci wajahnya yang sembab, Yoona kembali menyapukan sedikit bedak, ia harus terlihat cantik hari ini. ‘Yoona, Fighting!’ Yoona mengepalkan tangannya, sembari menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia tak boleh menyerah, hari ini merupakan hari terakhir ia bisa mengabiskan waktu bersama Chanyeol. Ia tak boleh merusak hari bahagia ini.

“Oppa!” teriak Yoona tertahan, saat mendapati Chanyeol sudah berdiri tegak di ambang pintu toilet.

“Kenapa kau tidak kembali?” pria itu balik bertanya. Mata hazelnya kini menatap tajam ke manik mata Yoona, membuat Yoona tiba-tiba membeku di tempat.

“maaf, tiba tiba saja aku ingin keluar, mood ku untuk bernyanyi hilang.” Balas Yoona sekenanya.

Pria itu menghela nafas panjang. Tatapannya kini melunak, namun masih menyisakan jarak yang Yoona yakin tidak bisa lagi ia gapai. “kau memang selalu bertindak sesuka hatimu.” Gumamnya pelan. Kemudian ia berjalan lebih dulu tanpa menunggu Yoona yang masih berdiri mematung di tempatnya.

Yoona hanya tersenyum getir. Pria itu memang sudah sering sekali mengeluh tentang sikapnya yang cuek, egois dan semaunya sendiri, tanpa memikirnya perasaan Chanyeol. Dan kali ini ia tidak akan protes. Tidak akan mencoba mengelak ataupun membela diri. Tidak. Dia tidak ingin menghabiskan waktu yang sangat berharga hanya untuk pertengkaran panjang dengan prianya. Ia hanya ingin melewati hari ini dengan baik, agar tidak ada penyesalan nantinya. Karena Yoona sadar betul, hari ini adalah hari terakhir ia bisa bersama pria yang begitu dicintainya.

 

***500 Days***

 

Mereka kembali melanjutkan kencan mereka. Walaupun langit gelap, dan angin berhembus makin kencang, tapi Yoona masih mencoba dengan sekuat tenaga untuk menjadikan hari ini hari kencan terindah dalam hidupnya. Ia tak ingin menyesalinya nanti. “Oppa, kau mau tteokpokki?”

Pria itu masih diam.

Datar.

Tanpa ekspresi.

Ia hanya mengikuti Yoona saat wanita itu menarik lengannya hingga memasuki kedai tteokpokki pinggir jalan. “Ahjumonim, kami pesan dua. Super pedas.” Teriak Yoona pada bibi penjual.

Setelah menyebutkan pesanannya, Yoona kembali menarik lengan Chanyeol dan memilih tempat duduk paling ujung. Ia ingin menikmati tiap detik waktunya bersama Chanyeol yang semakin cepat berlalu.

“Ahh… dinginnya.”

Yoona menggosok gosokkan kedua telapak tangannya. Meskipun hujan telah reda sejak dua jam yang lalu, tapi hal itu tak mengurangi dinginnya udara saat ini.

Yoona mengangkat wajahnya, menatap pria yang duduk satu meter didepannya dengan tatapan sayu. Dulu, saat udara dingin seperti ini, pria ini selalu menggenggam kedua tangan nya erat, tak perduli sedingin apapun udara kala itu, ia akan selalu merasa hangat jika berada di dekatnya.

Namun kali ini tidak, pria itu masih diam. Wajahnya pun masih sama. Datar. Yoona hanya bisa memandang tangan kanan pria itu yang tergeletak di atas meja. Dan tanpa rasa malu, Yoona meraih tangan itu dengan kedua tangannya. Menautkan jarinya di sela sela jari Chanyeol, mencoba mencari kehangatan, yang sialnya hingga lama ia menggenggamnya tak dapat ia temukan sedikitpun. “Ahh.. seperti ini lebih baik,”Yoona tersenyum tulus. “Tanganmu masih terasa hangat, oppa.”

Ia bohong! Tangan pria itu dingin, begitu pula dengan hati nya. Walaupun tangan mereka saling bertautan, namun tak terasa percikan kehangatan sedikitpun. Apakah letupan api cinta itu benar benar telah padam? Yoona meringis menyadari hal itu. Hubungan ini benar benar tidak bisa ia selamatkan.

Yoona terus menjejalkan potongan tteokpokki kedalam mulutnya. Rasa pedas bercampur panas dari benda bersaus ini seakan tak dapat ia rasakan. Semua terasa mati. Dulu, saat hati pria itu masih mencintainya, ia akan memarahi Yoona ketika melihat wanita itu memakan makanan pedas.

Yoona memiliki masalah pada lambungnya, jadi Chanyeol tak akan pernah sekalipun membiarkan wanita nya itu memakan makanan pedas atau asam.

Namun semuanya telah berakhir. Saat ini, Chanyeol tidak melarang ataupun memarahinya. Pria itu hanya diam menatap Yoona yang sedang melahap tteokpokki di hadapannya tanpa omelan apapun. Dan itu membuat Yoona sadar, jika semua telah berubah, pria itu sudah melupakannya, melupakan semua kenangan bersamanya.

Yoona menggigit bibir bawahnya, mencoba membendung cairan bening yang siap meluncur kapan saja. Ia mencoba menahan air matanya agar tidak keluar dengan terus menjejalkan tteokpokki pedas kedalam mulutnya hingga penuh. Ia mengangkat wajahnya saat dirasa air matanya ingin keluar

Dan ‘ Tes’ … Akhirnya cairan itu keluar, ia tak sanggup membendungnya lebih lama lagi. Janji yang ia buat sedari tadi pagi telah ia langgar sendiri. “ah aku rasa tteokpokki ini terlalu pedas hingga air mataku keluar. Haha” Yoona mencoba tertawa, ia tak ingin Chanyeol mengetahui jika dirinya tengah menangis saat ini. walaupun ia tak yakin jika Chanyeol percaya aktingya.

***

 

Yoona mendudukkan dirinya di hamparan pasir pantai berwarna kehitaman. Ia lalu meraih lengan Chanyeol untuk duduk mengikutinya. Pandangannya lurus, menatap matahari yang telah tenggelam. “Oppa…” Yoona memecah keheningan. “apakah kau ingat saat itu?”

Chanyeol masih diam, tak ingin menanggapi sedikitpun kalimat yang meluncur indah dari bibir Yoona. “lima ratus hari yang lalu…” Yoona menarik nafasnya dalam dalam. Nafasnya terasa sesak, semua kalimat yang telah ia susun rapi, telah lenyap bersama angin yang berhembus semakin kencang. “Kau mengancamku akan masuk ke dalam laut jika aku tak menerima cintamu,” Yoona tersenyum getir, begitu menyesakkan kala mengingat hal itu. “padahal kau tidak bisa berenang, jika saja saat itu aku tidak menerimamu, apakah oppa benar benar akan melakukannya?”

Yoona benar benar menyesalinya sekarang. Dulu, saat rasa cinta di hati pria itu begitu besar, ia menyia nyiakannya. Tapi lihatlah, saat ini Yoona begitu merindukannya. ”aku rasa oppa benar benar kekanak kanakan.”

Chanyeol mengikuti arah pandang Yoona, memandang jauh hamparan laut di hadapannya. Hujan sudah mulai turun, tapi tak juga membuat Yoona bangkit untuk berteduh. Ia membiarkan tubuhnya basah, begitu pula dengan Chanyeol.

Mereka terdiam. Tidak ada yang bersuara lagi. Yoona menghembuskan nafasnya berat. Hawa dingin sudah mulai menyeruak masuk kedalam pori-porinya dan mulai menggerogoti jantungnya. Bibirnya sudah mulai membiru. Namun ia tidak menghiraukannya. Ia hanya ingin duduk lebih lama ditempat ini, di tempat yang penuh kenangan manis bersama prianya, Park Chanyeol.

“terimakasih.” pada akhirnya kalimat itulah yang meluncur dari bibir Yoona. Semua terasa menyakitkan kala memori itu secara perlahan mulai berputar kembali di ingatannya.

Pada akhirnya semua ini hancur. Ia harus menyerah pada hubungan yang tak bisa ia pertahankan. Walau Chanyeol tak menjelaskan alasannya, tapi Yoona yakin, jika hati pria itu bukan lagi miliknya.

Nama Yoona yang dulu terpatri kuat di hatinya, perlahan mulai terkikis dan habis, tergantikan dengan orang baru, nama baru yang berhasil menghidupkan api cinta yang mulai terpadamkan oleh sikap dinginnya. Sikap dingin Yoona.

Yoona membuka tas nya, lalu mengambil sesuatu dari dalam. Ia mengulurkan benda itu di hadapan Chanyeol. Boneka Rilakkuma? Kedua alis Chanyeol saling bertautan.

“Oppa tidak ingat?” Tanya Yoona setengah tak percaya. Dulu mereka pernah bertengkar hanya karena benda ini. Yoona dan Chanyeol sama sama menyukai rilakkuma, dan saat itu hanya ada satu boneka di sana, dan pada akhirnya dengan berat hati Chanyeol memberikan boneka itu pada Yoona, karena Yoona mengancam tak akan mau menemuinya lagi jika ia tak memberikan boneka itu padanya. “Ahh.. ingatanmu benar-benar payah. Dulu oppa pernah marah padaku hanya karena ini?”

Chanyeol tersenyum, teringat hal kekanakan yang pernah ia lakukan, dan ini merupakan senyum pertamanya selama sehari ia menghabiskan waktu bersama Yoona.

Yoona berdiri dan di ikuti oleh Chanyeol, perlahan ia mulai melepas cincin yang sudah 500 hari terpasang di jari manisnya, lalu meraih tangan Chnayeol dan meletakkan benda itu di sana. “Aku sudah selesai,”

Yoona masih tersenyum, tak menghiraukan hidungnya yang mulai memerah. “happy 500’s days. Terimakasih atas 500 hari yang telah oppa berikan padaku, aku benar benar bahagia.”

Chanyeol menatap cincin di tangannya, ia tak bisa berkata apa apa. Ia sudah membulatkan keputusannya. Tak boleh ada penyesalan. Kalimat itulah yang terus ia teriakkan dalam hati.

“Bolehkah…” Tenggorokan Yoona terasa tercekat, air matanya hampir tumpah. Ia hampir tak sanggup membendungnya lagi.

Yoona berjinjit, lalu meraih bibir pria itu. Bibir yang dulu terasa begitu manis, kini tak dapat ia rasakan lagi. Lama mereka bertahan dalam posisi itu, tanpa lumatan. Tanpa nafsu.

Yoona segera melepaskan paggutannya. Hatinya sudah begitu sesak, menyadari pria itu tak membalas ciumannya, membuat luka di hatinya kian menganga.

Yoona segera berbalik, melangkahkan kakinya cepat. Tapi cengkeraman tangan Chanyeol di lengannya berhasil menghentikannya. “Im…”

Mendengar Canyeol memanggilnya dengan sebutan itu membuat hati Yoona semakin sesak. Ia tak sanggup lagi, sungguh demi apapun di dunia ini, ia ingin segera berbalik mendekap tubuh tegap Chanyeol dan menangis sejadi jadinya di sana. Tapi ia tidak bisa. Tidak sampai hati nya benar benar bisa menerima semua.

“Jangan meminta maaf!” potong Yoona cepat. “Jika kau berani mengucapkannya, maka aku akan membunuhmu!” Yoona berteriak pilu. Saat ini hatinya telah hancur, akankah Chanyeol menghancurkannya lagi? Seharusnya Chanyeol tahu, Yoona sangat membenci kata maaf, ia tak pernah mau dan tak pernah suka mendengar kata itu. Karena bagi Yoona, ‘maaf’ berarti penyesalan dan luka, Yoona benar benar tak menginginkan kalimat itu keluar dari bibir Chanyeol.

Yoona melepaskan genggaman Chanyeol dilengannya tanpa mau menoleh sedikitpun. Ia berjalan lurus. Tangannya mengepal kuat hingga buku buku jarinya memutih, ia menggigit bibir bawahnya hingga perih. Bahunya terguncang hebat, air mata yang sedari tadi setengah mati ditahannya, kini meleleh membanjiri pipinya yang mulai membeku.

***

 

Jika perpisahan adalah hal terbaik untuk kita, maka lakukanlah…

Jika melepaskanku adalah hal terbaik untuk bahagia, maka lakukanlah…

Jika cinta tak dapat menyetukan kita, maka lepaskanlah…

Selamat tinggal cintaku…

Selamat tinggal Park Chanyeol…

 

Kkeut!!

 

Uwaaaa!!!!

Ini adalah FF oneshoot pertama ku, aku gatau hasilnya gimana. Tapi aku udah nyoba sekuat tenaga buat dapetin feel antara Chanyeol dan Yoona, semoga hasilnya memuaskan ya.. Keke~

Oya, aku nulis ff ini dari hati lhoo… karena cerita ini memang terinspirasi dari kisah nyata aku sendiri.. Haha *malah curhat.

Cinta itu memang indah, tapi belum tentu yang indah itu membuat kita bahagia. Jika itu terasa sulit untukmu atau untuknya, maka lepaskanlah…

Dulu, kata kata itu yang sering aku gunakan untuk meyakinkan keputusanku.

Jadi, jika ada readers ada yang senasib sama aku, ingat ini ‘jangan takut jatuh cinta, dan jangan takut melepaskan cinta, karena TUHAN pasti sudah menyiapkan sesuatu yang lebih spesial untuk hambanya yang bersabar’.

 

Terakhir…

Leave Your Comment Please….

49 thoughts on “(Freelance) Oneshoot : 500 Days

  1. Sumvah aku nangiiiiss woyy. Gile nih author. Pantes aja feelnya terkesan nyata banget. Eh ternyata hasil pengalaman pribadi. Sabar eak thor.
    Tapi bener deh, ini fic bagus banget. Nyentuh. Lebih bagus lagi kalau ada Chanyeol’s side nya. Atau sequel juga kayanya asik tuh. Kalau ntar emang ada sequelnya, aku bakal jadi yg pertama comment, deh!
    Bikin yoongexo yg rajin ya thor! Keep writing^ ^

  2. Sumpah… feelnya dapat banget. aku beneran nangis loh. FF nya keren.. thanks banget untuk authornya.
    Klo boleh di bikin sequel dunk.. klo boleh. Hehehe #fighting

  3. Oke fix, aku terbawa suasana. Ah kampay lu, thor bikin aku nangis. feel nya dapet banget, yah walaupun aku sedikit nggak ngerti sama Chanyeol nya disini, tp ini feel nya dapet banget, didukung bahasa yang bagus juga. Daebak deh buat authornya..

  4. Hwaaa keren bgt :’)))
    Astagaaa :’))))
    Sampe nangis loh thor bacanya
    Hiks hiks T,T
    Bagus bgt lah thor
    Feels nya dpt, crita nya juga jelas bgt
    Top lah!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s