Immortal Memory [5]

immortal-memory1

Immortal Memory

Oh Sehun and Im Yoona

with Im Siwan, Im Juhwan, Ji Chang-wook and others

AU, Family, Romance || PG 17 || Chaptered

Summary : Kenangan akan selalu abadi, sekalipun kenangan terburuk yang membuatmu melupakanku

2015©cloverqua

Introduce Cast | 1 | 2 | 3 | 4

Poster by elevenoliu

 

Dengusan pelan keluar dari sela-sela bibir Sehun setelah ia membaca pesan dari Sekertaris Han. Informasi dari sekertaris pribadinya itu cukup menyita pikirannya. Kingdom Group akan bekerja sama dengan Royal Group.

“Apa yang sebenarnya appa pikirkan?” gumam Sehun tidak mengerti dengan rencana ayahnya yang tiba-tiba berkeinginan menjalin kerjasama dengan Royal Group. Pemikiran Sehun bukan tanpa alasan, mengingat dirinya bersama pewaris dari Royal Group adalah rival, jelas jika dirinya menentang keras rencana ayahnya tersebut.

Sehun kali ini meringis usai membaca pesan lainnya dari Sekertaris Han bahwa sang ayah mencarinya hingga kesal lantaran dirinya tak kunjung kembali ke kantor, mengingat jam makan siang sudah lama selesai beberapa jam yang lalu. Kedua sudut bibir Sehun tertarik tiap kali membayangkan bagaimana wajah sekertaris pribadinya itu saat mendapat omelan dari ayahnya.

Jalanan kota Seoul yang masih terlihat ramai, tak mengurangi keinginan Sehun untuk sekedar mengamatinya. Sekilas ia tampak menikmati keasyikannya memandangi jalan yang ia lalui dengan mobil yang dikemudikan supir pribadinya. Faktanya, pikiran pria itu melayang ke mana-mana, tepatnya pada pembicaraan yang ia lakukan bersama Tn. Hyunsung dan Ny. Nayoung beberapa waktu yang lalu.

/

“Jujur saja kami senang jika akhirnya kau bersedia dijodohkan dengan Yoona,” ucap Tn. Hyunsung sembari melirik Ny. Nayoung. Wajah sang istri terlihat kaget bercampur senang.

“Tapi keputusan akhir tetap pada Yoona, bukan pada kami,” lanjut Tn. Hyunsung memperlihatkan senyum khasnya.

Sehun tertunduk mendengarnya, sedikit kecewa karena tidak segera mendapat jawaban yang ia inginkan. Setidaknya ia bisa bernapas lega karena dari raut wajah dua orang di depannya, mereka menyambut baik keputusan yang ia ambil terkait perjodohannya dengan Yoona.

“Bukankah hubungan kalian sudah membaik? Kurasa tidak ada salahnya jika kau sendiri yang bertanya pada Yoona,” sambung Ny. Nayoung yang mendapat anggukan dari Tn. Hyunsung.

“Benar, bicaralah baik-baik dengan Yoona,” ucap Tn. Hyunsung menyetujui saran istrinya.

Sehun mengangguk, ia memang tak punya pilihan selain mengikuti saran dua orang tersebut. “Baiklah, nanti akan kutanyakan sendiri pada Yoona,” jawabnya.

/

Bibir Sehun sedikit mengerucut tiap mengingat pesan Ny. Nayoung. Haruskah ia mengatakan langsung pada Yoona jika ia bersedia dijodohkan dengan wanita itu karena perasaan cinta?

“Tidak mungkin aku mengatakannya secepat itu,” ucap Sehun tertawa dengan ide gila yang tiba-tiba melintas dalam kepalanya.

“Ada apa, Tuan Muda?” ucapan Sehun berhasil didengar oleh Supir Kang. Pria itu terlihat melirik Sehun dari kaca yang berada di atasnya.

“Bukan apa-apa,” jawab Sehun cepat sembari mengusap tengkuknya. Supir Kang tidak bertanya lagi dan kembali fokus menyetir.

Sehun memilih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia teringat dengan ketiga temannya yang selalu membantu jika dirinya kesulitan dalam mengambil sebuah keputusan. Tunggu—membicarakan masalah Yoona dengan Jongin, Chanyeol, dan Baekhyun? Lupakan, mereka hanya akan menertawainya habis-habisan.

//

Mata Yoona mengerjap setelah aroma masakan tanpa sengaja merasuki indra penciumannya. Sedetik kemudian ia terbangun ketika menyadari hari sudah gelap. Yoona mengusap tengkuknya sembari mengingat-ingat kejadian sebelumnya hingga ia berakhir di kamar.

Ah, aku jatuh pingsan.

Kemudian ia melihat siluet seorang pria yang membopong tubuhnya ke kamar.

Sehun yang menggendongku ke sini?

Tiba-tiba saja rona merah menghiasi kedua pipi Yoona. Kedua tangannya menyentuh wajah yang kini terasa panas setelah ia mengingat kejadian yang melibatkannya bersama Sehun. Makan siang bersama, bermain piano bersama, hingga dirinya jatuh pingsan karena terlalu lemas dan Sehun yang membawanya kembali ke kamar.

Yoona memandangi telapak tangan kanannya, sesuatu yang aneh ia rasakan. Entah kenapa ia seperti merasakan sentuhan yang begitu hangat di tangan.

KLEK!

“Oh, kau sudah bangun?” seseorang bertanya bersamaan pintu kamar Yoona yang telah dibuka. Yoona menoleh pada Siwan yang kini sudah berjalan menghampirinya. Pria itu duduk di tepi ranjang Yoona, lalu menyentuh kening wanita itu. Ia tersenyum lega mengetahui suhu tubuh wanita itu sudah normal, tidak lagi panas seperti sebelumnya.

“Sudah merasa lebih baik?” tanya Siwan yang dibalas anggukan Yoona.

“Makan malam sudah siap. Kajja,” ajak Siwan sembari menggenggam tangan Yoona, lalu mengajak wanita itu berjalan keluar menuju ruang makan. Tn. Hyunsung dan Ny. Nayoung sudah menunggu kedatangan mereka. Keduanya langsung tersenyum senang menyambut Yoona yang kondisinya terlihat membaik. Tak ada lagi raut pucat di wajah Yoona. Ia jauh terlihat lebih tenang dan sepertinya ada sesuatu yang membuat wanita itu terus mengulum senyum.

Siwan terlihat menarik kursi untuk Yoona, kemudian mempersilakan adik sepupunya itu duduk lebih dulu. Yoona tersenyum senang dengan perhatian Siwan yang selalu diberikan padanya.

“Kau sudah merasa lebih baik?” Ny. Nayoung bertanya dengan sorot mata cemas. Yoona mengangguk pelan, kemudian melirik wajah Tn. Hyunsung yang memperlihatkan senyum penuh kelegaan.

“Setelah makan, kau harus tetap meminum suplement. Mengerti?” Ny. Nayoung kembali mengingatkan Yoona. Keponakannya itu hanya mengangguk pelan dan kembali menikmati makan malamnya.

Siwan menyuapkan makanan ke mulutnya, sembari memandangi orang tuanya yang tengah berbisik, seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Ia lalu mengalihkan pandang pada Yoona yang masih asyik menikmati hidangan makan malam.

“Yoona, ada sesuatu yang ingin kami sampaikan padamu,” Tn. Hyunsung tiba-tiba menyela kegiatan makan malam mereka, membuat arah pandangan Yoona dan Siwan tertuju keduanya.

“Selesai menjengukmu, Sehun mengatakan sesuatu pada kami,” lanjut Ny. Nayoung.

“Sehun datang ke sini?” Siwan bereaksi kaget dengan nada sedikit meninggi. Tak ada suara yang menyahut pertanyaannya, hanya anggukan pelan dari Yoona.

“Bagaimana dia tahu jika kau sedang sakit?” tanya Siwan penasaran.

“Jongin yang memberitahunya,” Ny. Nayoung menggelengkan kepala, gemas dengan kebiasaan putranya yang sangat protektif terhadap Yoona. “Kau pasti sudah tahu jika Sehun berteman dengan Jongin?”

Siwan tidak menjawab, hanya diam membisu sebelum akhirnya menganggukan kepala. Ia tidak bertanya lagi dan memilih mendengarkan pembicaraan yang dilakukan orang tuanya.

“Sehun mengatakan sesuatu pada kami. Dia—” Ny. Nayoung menghentikan kalimatnya, melirik pada Tn. Hyunsung yang menatapnya dengan kerutan di dahi. Ny. Nayoung memberi isyarat pada sang suami untuk melanjutkan kalimatnya. Sementara Siwan dan Yoona saling memandang dengan ekspresi kebingungan di wajah masing-masing.

“Dia menerima perjodohan kalian,” sambung Tn. Hyunsung yang seketika membuat Siwan tersedak saat meneguk minumannya. Reaksi Yoona? Sudah pasti wanita itu hanya mematung di posisinya dengan raut wajah kaget luar biasa. Matanya mengerjap berulang kali, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

//

Tn. Taekyung dan Ny. Hyejin saling berbisik di sela kegiatan makan malam bersama dengan keluarga mereka. Keduanya melirik heran putra mereka yang sedang menyantap makanan dengan wajah tertekuk. Sikap pasangan suami istri tersebut tidak luput dari pandangan Chaeri yang segera menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan senyum.

“Katakan sesuatu pada orang tuamu. Mereka seperti penggosip yang membuatku geli,” ujar Chaeri setengah berbisik pada Sehun. Ia hanya meringis setelah mendapat tatapan tajam dari Tn. Taekyung dan Ny. Hyejin, sementara tokoh utama yang mereka bicarakan justru terdiam dan tidak mengatakan apapun. Pria itu hanya mengerutkan dahi sembari memandangi wajah orang tua dan bibinya.

“Ada apa?” Sehun bertanya dengan wajah datar dan tatapan kosong.

“Seharusnya kami yang bertanya seperti itu,” Ny. Hyejin gemas dengan kebiasaan Sehun yang selalu bersikap acuh dengan perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Kau terlihat murung. Apa ada sesuatu yang mengusik pikiranmu, hm?” kali ini giliran Tn. Taekyung yang bertanya. Ia melirik istri dan adiknya yang ikut menganggukkan kepala. Ya, putra tunggal di keluarga Oh itu tampaknya sudah berhasil membuat ketiganya khawatir sekaligus penasaran.

Sehun menyantap hidangan makan malam miliknya, sebelum mengiyakan pertanyaan sang ayah dengan anggukan kepala. “Tadi siang aku ke rumah Yoona. Dia jatuh sakit,” lanjutnya.

Hening. Belum ada reaksi yang terdengar dari orang tua dan bibi Sehun. Ketiganya tidak bisa menahan tawa saat mengetahui penyebab Sehun murung malam ini adalah seorang wanita, terlebih lagi wanita yang pernah dijodohkan dengannya.

“Itu sebabnya kau terlambat kembali ke kantor setelah jam makan siang?” Tn. Taekyung tidak percaya. Baginya, ini kali pertama Sehun menunjukkan perhatian pada seseorang, khususnya wanita.

“Ya,” jawab Sehun singkat, masih fokus menikmati hidangan makan malam. Ny. Hyejin dan Chaeri terkekeh mendengar jawaban Sehun.

“Aku juga bertemu dengan Hyunsung-ahjussi dan Nayoung-ahjumma,” lanjut Sehun yang membuat ketiga orang di depannya menghentikan sejenak kegiatan makan mereka.

“Lalu?”

Sehun hanya mengerjapkan mata berulang kali, sebelum akhirnya menghela napas. “Aku katakan pada mereka jika aku bersedia dijodohkan dengan Yoona,” jawabnya.

Uhuk!” Tn. Taekyung tersedak makanan yang belum sepenuhnya tertelan, sementara Ny. Hyejin terbengong dengan tangan yang masih memegangi sendok. Reaksi santai justru terlihat dari Chaeri. Ia sudah bisa menebak jika Sehun akan menerima perjodohannya dengan Yoona.

“Benarkah? Kau menerima perjodohanmu dengan Yoona?” tanya Hyejin antusias. “Lalu apa jawaban mereka?”

“Tidak tahu. Kata mereka akan lebih baik jika aku menanyakan sendiri pada Yoona. Bagaimanapun keputusan akhir berada di tangan wanita itu,” jawab Sehun lagi.

Ny. Hyejin memeluk erat sang suami untuk meluapkan kegembiraannya dengan keputusan Sehun.

Appa tidak menyangka jika kau berubah pikiran secepat ini. Kami senang mendengarnya. Kau mengambil keputusan yang tepat,” sambung Tn. Taekyung dengan senyuman lebar yang terlukis di wajahnya.

“Jadi, akhirnya kau memang jatuh cinta pada Yoona? Aku sudah menduganya,” celetuk Chaeri lalu menyuapkan makanan penutup ke dalam mulutnya.

Sehun melirik datar pada Chaeri yang kini tersenyum. “Anggap saja begitu,” jawabnya singkat.

“Dasar, kau tetap tidak berubah. Apa sulitnya mengatakan ‘ya, aku jatuh cinta padanya’. Kalimat sesederhana itu pun tidak bisa kau ucapkan,” Chaeri mencibir sembari mengibaskan rambutnya, sementara Sehun hanya mengerucutkan bibir dan meletakkan peralatan makannya. Pria itu bersiap meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya.

“Oh iya, jangan lupa besok ada pertemuan dengan wakil presdir Royal Group,” ujar Tn. Taekyung yang sukses membuat Sehun menoleh kaget.

“Benar kita akan melakukan kerjasama dengan Royal Group?” Sehun masih berharap jika apa yang dikatakan ayahnya hanyalah bualan dan omong kosong, meskipun ia sudah mengetahui rencana tersebut dari Sekertaris Han.

“Tentu saja,” jawab Tn. Taekyung sembari melirik Sehun yang terlihat tidak setuju dengan rencananya.

“Kenapa harus Royal Group? Kenapa tidak perusahaan lain saja?”

Tn. Taekyung hanya menghela napas melihat reaksi Sehun yang sudah ia duga sebelumnya. Ia sadar hubungan putranya dengan wakil presdir Royal Group—Kim Woobin, memang tidak baik. Seharusnya itu bukan masalah yang harus dibesarkan. Bukankah dalam hal pekerjaan, masalah pribadi sebaiknya dikesampingkan demi mendapatkan apa yang mereka mau? Apalagi jika ada kaitannya dengan kepentingan bisnis yang nantinya bisa memperoleh keuntangan bagi kedua belah pihak yang bekerja sama.

“Jangan hanya karena kau memiliki hubungan buruk dengan wakil presdir Royal Group, perusahaan harus rela melepaskan kesempatan untuk menjalin kerja sama dengan mereka,” tegas Tn. Taekyung. “Kerja sama tetap dilakukan sesuai rencana awal. Appa tidak mau mendengar kata penolakan darimu.”

Ingin rasanya Sehun berteriak meluapkan emosinya yang memuncak. Ia enggan mengakui jika ucapan ayahnya tersebut memang benar. Tidak seharusnya ia mementingkan ego daripada kemajuan perusahaan. Dengan berat hati, Sehun mengangguk tanpa berkomentar apapun, sebelum berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.

//

Yoona duduk bersandar pada headboards ranjangnya dengan selimut yang menutupi bagian kaki. Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, tapi ia belum bisa tidur karena memikirkan ucapan paman dan bibinya tentang keputusan Sehun yang menerima perjodohan mereka. Berulang kali ia mencubit pipi, merasa jika apa yang didengarnya adalah mimpi

Jadi ini bukan mimpi? Sehun bersedia dijodohkan denganku?

Yoona mengusap pipi kanannya yang terasa nyeri setelah ia mencubitnya. Sedetik kemudian wajahnya merah padam tiap kali mengingat cerita yang disampaikan Tn. Taekyung dan Ny. Nayoung tentang Sehun.

Apakah aku pantas bersanding dengan Sehun?

Wanita itu menundukkan kepala sambil menghembuskan napas panjang. Ia memeluk kedua lututnya yang kini tertekuk.

“Kau belum tidur?”

Yoona terkesiap ketika mendengar suara Siwan dari arah pintu kamar. Bola matanya melebar setelah ia melihat Siwan ternyata sudah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi bingung. Pria itu bermaksud memeriksa kondisi Yoona, namun justru mendapati wanita itu masih terjaga di atas ranjang.

Siwan berjalan lalu duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Yoona. “Ada apa, hm? Kau tidak bisa tidur?” tanya Siwan dengan tatapan heran.

Yoona mengangguk lalu membenarkan posisi selimutnya. Siwan mendongak dan menatap langit-langit kamar Yoona. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Yoona yang tengah tertunduk sembari memeluk kedua lututnya.

“Apa karena keputusan Sehun yang tiba-tiba bersedia dijodohkan denganmu?” tanya Siwan tepat sasaran, membuat wajah Yoona semakin memerah.

Siwan tercengang dengan perubahan raut wajah Yoona. Ia tidak menduga jika adik sepupunya itu begitu terpengaruh dengan obrolan yang berkaitan dengan Sehun.

“Kau menyukainya?” kali ini Siwan bertanya secara spontan tanpa basa-basi. Pandangannya tidak lepas sedetik pun dari Yoona yang semakin menunduk di depannya.

Siwan terkekeh pelan, sebelumnya ia tidak pernah melihat adik sepupunya itu tampak kikuk seperti sekarang.

“Jika kau memang menyukainya, terima saja keputusan Sehun. Lanjutkan perjodohan kalian,” Siwan berujar dengan senyuman, membuat garis wajahnya semakin terlihat tampan.

Yoona menatap datar pada kakak sepupunya yang masih mengulum senyum. Ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas, mengetikkan sesuatu lalu menyodorkannya pada Siwan.

Siwan sedikit terkejut melihat Yoona memilih berkomunikasi lewat ponsel, tidak dengan notes yang biasa ia gunakan.

Apakah aku pantas bersanding dengan Sehun?

“Kau ragu melanjutkan perjodohan kalian karena kondisimu?” tanya Siwan dengan bola mata sedikit melebar, terlebih saat wanita itu menganggukan kepala, membenarkan apa yang baru saja ia tanyakan.

“Kalau kau bersedia menjalani terapi lagi, aku yakin kau bisa berbicara seperti sebelumnya,” jawab Siwan sembari mengusap bahu Yoona, meyakinkannya jika kesempatan itu masih ada.

Yoona menggenggam erat ponselnya dan kembali menunduk. Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang begitu kuat dalam dirinya, sebuah keinginan yang selama ini tidak pernah muncul. Keinginan untuk bisa berbicara lagi. Ya, kali ini Yoona benar-benar ingin bisa berbicara lagi, tidak ragu seperti sebelumnya yang selalu menghindar hingga terapi yang dilakukannya tidak pernah menunjukkan perkembangan yang berarti. Ia sendiri masih tidak percaya keinginan yang kuat itu muncul karena Sehun.

Siwan mengerutkan dahinya ketika Yoona menggerakkan jemari dengan cepat sampai akhirnya menyodorkan ponsel kembali di hadapannya.

Bisakah oppa membuatkan janji dengan Changwook-oppa? Aku sudah siap untuk menjalani terapi.

Kedua sudut bibir Siwan tertarik, membentuk lengkungan senyum yang sangat sempurna. Sorot mata Yoona yang meyakinkan membuatnya merasa lega.

Malam ini, Siwan bisa melihat betapa besar kekuatan cinta yang mampu mengubah seseorang untuk arah yang lebih baik. Jujur saja ia memang belum bisa melupakan sikap Sehun saat awal pertemuan mereka. Namun setelah mendengar semua dari Kepala Pelayan Baek soal kedatangan Sehun yang menjenguk Yoona, ia bisa melihat perubahan sikap Sehun. Bahkan keputusan pewaris Kingdom Group yang akhirnya bersedia dijodohkan dengan Yoona, membuktikan bahwa pria itu menerima kondisi Yoona apa adanya.

.

.

.

.

.

“Selamat pagi, Tuan Muda.”

Juhwan mengangguk sembari tersenyum pada salah satu pelayan yang menyapanya. Ia baru saja keluar dari kamar dan terlihat sudah berpenampilan rapi. Pagi ini ada meeting dengan karyawan dalam divisi di bawah kepemimpinannya. Tentu menjadi keharusan baginya untuk berangkat bekerja lebih awal dibanding biasanya.

Langkah kaki Juhwan terhenti ketika ia tidak sengaja melihat seorang pria yang tengah berdiri di ruang tengah. Dahi Juhwan sedikit berkerut ketika ia melihat bekas sayatan pisau di bagian punggung tangan kanan dan pipi bagian kiri.

“Kau siapa?”

Suara Juhwan berhasil mengejutkan pria itu. Juhwan semakin penasaran hingga berjalan mendekatinya. Kini ia berdiri hanya beberapa jengkal dari pria itu. Juhwan bisa melihat dengan jelas wajah pria itu dan beberapa helai rambutnya yang tampak memutih. Juhwan berpikir keras, mencoba mengingat-ingat sosok pria itu karena merasa tidak asing dengannya.

Tiba-tiba bayangan seseorang dengan wajah serupa muncul dalam kepala Juhwan. Pertemuannya dengan pria itu membawa Juhwan menggali memorinya di mana ia melihat pria itu saat pemakaman mendiang ibunya dan mendiang orang tua Yoona.

“Ah, aku ingat sekarang. Kau pernah datang di acara pemakaman ibuku dan orang tua adik sepupuku. Benar, ‘kan?” tanya Juhwan sembari tersenyum lebar.

Hening. Tidak ada jawaban yang terdengar dari pria itu, melainkan hanya kepalanya yang semakin menunduk dalam. Juhwan menatap heran pada pria itu yang tampaknya seperti bersikap was-was terhadapnya.

“Kau—”

“Jangan mengganggu tamuku, Im Juhwan,” suara Tn. Hyunsik menginterupsi kalimat Juhwan.

“Oh, selamat pagi, appa,” sapa Juhwan dengan raut wajah bersalah. Ia tidak tahu jika pria itu adalah tamu ayahnya.

“Bukankah kau ada meeting pagi ini? Kenapa tidak segera berangkat?” tanya Tn. Hyunsik.

Lagi, Juhwan menatap heran karena suara ayahnya terdengar seperti usiran. Hal itu membuatnya kian penasaran dengan tujuan kedatangan pria di sebelahnya tersebut. Mendadak ia kesal dengan jadwal meeting yang harus dilakukannya pagi ini. Kalau saja meeting itu dilakukan siang nanti, ia masih ada kesempatan untuk mencari tahu pembicaraan yang akan dilakukan ayahnya bersama pria itu.

“Baik, appa. Aku pergi dulu,” pamit Juhwan tak punya pilihan selain mengikuti ucapan Tn. Hyunsik. Ia berjalan mendekati pintu utama rumahnya yang sudah dibukakan oleh pengawal di rumah mereka.

“Ikut aku,” Juhwan masih bisa mendengar nada perintah dari Tn. Hyunsik kepada pria tersebut. Ia menengok ke belakang dan mendapati pria itu sudah berjalan mengekori ayahnya. Sungguh ia benar-benar penasaran dengan maksud kedatangan pria itu.

“Kira-kira apa yang mereka bicarakan? Aku benar-benar penasaran,” gumam Juhwan bingung sebelum berjalan mendekati mobil yang sudah menunggunya di depan rumah.

//

“Kau sudah siap?”

Yoona mengangguk pelan sembari menghembuskan napas panjang. Sekarang ia sudah berada di tempat Changwook untuk menjalani terapi. Siwan sudah menghubungi Changwook jika hari ini Yoona ingin secepatnya melakukan terapi. Ia datang bersama Yuri, sesuai permintaan Siwan. Yuri dengan senang hati menyanggupi permintaan Siwan untuk menemani Yoona. Ia bahkan rela meninggalkan sejenak kesibukannya demi adik sepupu Siwan tersebut.

“Untuk hari ini, kita hanya akan melakukan terapi agar kau bisa bicara lagi,” ucap Changwook. “Setelah itu, kita coba menggali memorimu saat peristiwa pembunuhan orang tuamu.”

Yoona terlihat ragu mendengar kalimat terakhir yang disampaikan Changwook. Ia bisa merasakan dadanya bergemuruh karena rasa takut itu kembali muncul menghampirinya.

“Jangan khawatir, ada kami di sini. Kau akan baik-baik saja,” sahut Yuri berusaha menenangkan. Sorot mata Yoona yang menyiratkan ketakutan, perlahan berubah dan tampak lebih tenang. Wanita itu kembali mengangguk dan menghembuskan napas panjang.

Changwook mulai melakukan terapi hipnotis kepada Yoona yang disebut hypnoterapi. Wanita itu tampak tertidur di bawah pengaruh hipnotis yang ia berikan. Yuri menatap takjub pada kemampuan yang baru saja diperlihatkan Changwook.

“Dari mana kau mempelajarinya?” tanya Yuri setengah berbisik.

Changwook tersenyum, “Aku sedikit belajar saat berada di New York. Memang belum setara dengan para terapis yang biasa melakukannya, tapi aku yakin bisa melakukannya dengan baik.”

Usai menjawab pertanyaan Yuri, Changwook kembali fokus pada Yoona. Ia memberikan sugesti agar Yoona membayangkan berada dalam situasi keramaian, di mana semua orang tengah menjadikannya sebagai pusat perhatian. Alam sadar Yoona akhirnya dibawa menuju kejadian saat ia mendapat cemooh dari teman-temannya karena tidak mau bicara.

“Perhatikan wajah mereka baik-baik. Tatap mereka dengan penuh keberanian,” bisik Changwook.

Yoona tampak mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Changwook menggenggam erat tangan kiri Yoona yang terlihat gemetar.

“Anggaplah ucapan mereka hanyalah angin lalu. Kau tidak bisu, kau bisa bicara,” lanjut Changwook. Ia kemudian memberikan arahan agar Yoona merilekskan diri. Wanita itu tampak lebih tenang dari sebelumnya.

Selanjutnya Changwook memberikan arahan agar Yoona membayangkan sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang membuatnya merasa nyaman untuk berbicara dengan siapapun. Sedetik kemudian, ia melihat senyuman terukir di wajah Yoona.

“Sekarang … bayangkan ada seseorang yang sangat ingin kau ajak bicara,” ucap Changwook. Ia menunggu wanita itu sampai memperlihatkan reaksi.

“Apakah orang itu sudah muncul di hadapanmu?” tanya Changwook yang langsung dibalas anggukan Yoona.

“Cobalah untuk memanggil namanya,” lanjut Changwook.

“…” belum ada suara yang terdengar dari Yoona, tapi bibir wanita itu perlahan terbuka. Yuri tampak gugup menunggu reaksi selanjutnya dari Yoona. Apakah wanita itu akan mengeluarkan suaranya atau tidak?

“Jangan menahannya. Keluarkan saja apa yang ingin kau katakan,” bisikan Changwook terdengar sangat lembut. Ia menggenggam erat tangan Yoona, mencoba memberikan ketenangan pada wanita itu.

“…”

Yuri menatap cemas pada Changwook karena Yoona tak kunjung memberikan reaksi. Changwook memberi isyarat untuk bersabar karena Yoona membutuhkan waktu dan juga keberanian, meski dalam pengaruh hipnotis sekali pun.

“Kau bisa berbicara,” Changwook memberikan sugesti terakhir dengan suara yang begitu lembut dan meyakinkan.

“Se—” tiba-tiba terdengar suara yang membuat pandangan Changwook dan Yuri tertuju pada Yoona. Yuri ingin sekali menjerit ketika ia melihat Yoona mulai bersiap mengatakan sesuatu, sementara Changwook kembali menyuruhnya untuk tetap tenang, meski ia sendiri juga kaget dengan reaksi cepat dari Yoona.

“Se—Sehun.”

Hening. Changwook dan Yuri saling memandang dengan raut kaget mereka. Sejujurnya mereka sangat senang karena pertama kalinya mendengar suara Yoona, namun rasa bingung itu tetap tidak bisa dihilangkan mengingat sebuah nama yang baru saja meluncur bebas dari wanita bermarga Im itu.

“Siapa yang baru saja dipanggil Yoona?” tanya Changwook penasaran.

Yuri menggigit bagian bawah bibirnya, “Dia—pria yang dijodohkan dengan Yoona.”

DEG!

Tubuh Changwook menegang setelah mengetahui fakta bahwa adik sepupu Siwan tersebut sudah dijodohkan dengan pria lain.

//

Chanyeol melangkahkan kakinya memasuki gedung perusahaan Kingdom Group. Di tangannya sudah ada sebuah amplop yang berisi undangan pameran galeri fotonya yang akan diadakan akhir minggu ini. Sebenarnya ia bisa menyuruh orang lain untuk mengirimkan undangan tersebut. Namun karena ini untuk Sehun, ia lebih senang mengantarnya sendiri pada pewaris Kingdom Group tersebut.

Sebuah lift yang baru saja terbuka membuat Chanyeol mempercepat langkah kakinya. Ia bernapas lega karena berhasil menaiki lift tepat waktu, sebelum pintu lift tertutup. Jari tangan Chanyeol menekan tombol lantai tempat ruangan Sehun berada. Tidak sampai 10 menit, lift akhirnya berhenti tepat pada lantai yang dikehendaki Chanyeol. Ia pun berjalan menuju ruangan Sehun yang lokasinya tidak terlalu jauh dari posisi lift.

“Sekertaris Han?” Chanyeol tanpa sengaja justru berpapasan dengan sekertaris pribadi Sehun. Senyuman yang sempat terlihat di wajah Chanyeol seketika memudar karena melihat gerak-gerik pria itu yang tampak terburu-buru.

“Oh, Tuan Muda Chanyeol,” Sekertaris Han membungkuk ke arah Chanyeol, “Anda ingin bertemu dengan Tuan Muda Sehun?”

“Ya, apa dia ada di ruangannya?” tanya Chanyeol lagi.

Sekertaris Han menggeleng pelan, “Saat ini Tuan Muda Sehun sedang melakukan pertemuan dengan wakil presdir dari Royal Group. Perusahaan sudah memutuskan untuk menjalani kerja sama dengan mereka.”

Chanyeol nyaris berteriak mendengar informasi yang disampaikan Sekertaris Han. “Jadi sekarang dia sedang melakukan pertemuan dengan Woobin-hyung?

Sekertaris Han mengangguk. Matanya melirik pada sebuah amplop yang dipegang oleh Chanyeol.

“Kalian yakin tidak akan terjadi sesuatu jika mereka hanya berdua saja?” tanya Chanyeol cemas. Ia masih ingat kapan terakhir kali dua pria hebat itu terlibat perkelahian sengit yang membuat wajah keduanya babak belur, tepatnya saat mereka masih mengenyam bangku kuliah.

“Anda tidak perlu khawatir. Tuan Muda Sehun orang yang sangat profesional. Beliau tidak akan mencampurkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan,” jawab Sekertaris Han sembari tersenyum.

“Kuharap juga begitu,” Chanyeol bernapas lega setelah mendengar ucapan pria di hadapannya tersebut. Ia lalu menyodorkan sebuah amplop yang sedari tadi dipegangnya pada Sekertaris Han.

“Tolong berikan ini padanya. Ini undangan pameran galeri fotoku yang akan diadakan akhir minggu ini.”

“Baik, akan saya berikan pada beliau,” sahut Sekertaris Han kemudian membungkuk hormat pada Chanyeol yang berjalan kembali menuju lift.

Sesampainya di bagian lobi, pandangan Chanyeol tertuju pada televisi yang menyiarkan sebuah berita. Seorang wanita yang tengah diwawancari oleh beberapa wartawan di lokasi sebuah bandara, membuat bola mata Chanyeol melebar.

“Soojung?” Chanyeol mengerjap berulang kali melihat sosok wanita yang berparas cantik dan berpakaian modis dengan kacamata hitam khas yang selalu digunakan oleh seorang model. Ya, wanita itu adalah Jung Soojung, seorang model asal Korea yang baru saja kembali setelah hampir 4 tahun menetap di Perancis karena ingin melebarkan karir modelling-nya.

Chanyeol masih berdiri mematung dengan tatapan yang tertuju pada layar televisi itu. Siapapun yang melihatnya, mereka pasti beranggapan jika Chanyeol adalah fans dari Soojung. Sebenarnya dia bukan fans dari Soojung, melainkan orang yang sudah lama mengenal wanita itu. Bahkan Sehun, Jongin, dan Baekhyun juga mengenal Soojung, karena mereka berteman sejak awal perkuliahan mereka.

“Dia sudah kembali,” ucap Chanyeol dengan ulasan senyum di wajah, sebelum ia berjalan keluar dari gedung perusahaan Kingdom Group.

//

Dua orang yang berstatus sebagai wakil presdir dari Kingdom Group dan Royal Group itu baru saja mengakhiri pembicaraan mereka terkait kontrak kerja sama perusahaan. Usai berdiskusi selama hampir 2 jam, keduanya sepakat untuk menandatangani kontrak kerja sama perusahaan mereka.

Tiba-tiba saja ketegangan memenuhi ruang pertemuan yang mereka gunakan, setelah Woobin dengan santainya menanyakan masalah pribadi Sehun.

“Apa kau sedang berkencan dengan seseorang?” tanya Woobin dengan seringaian khasnya.

Sehun bisa saja mengacuhkan pertanyaan dari senior di kampusnya tersebut. Sayangnya ia sedang tidak ingin melakukan perdebatan dengan Woobin.

“Tidak, tapi aku sudah dijodohkan dengan seseorang,” jawab Sehun seadanya.

Woobin menaikkan salah satu alisnya, “Bukankah kau sudah menolak wanita itu? Kalau tidak salah—namanya Im Yoona. Benar, ‘kan?”

Ada raut bingung yang tersirat dari wajah Sehun. Bagaimana bisa Woobin mengetahui sosok wanita yang dijodohkan dengannya?

“Ah, aku hampir lupa. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh pewaris dari Royal Group. Kau pasti sudah menyelidikinya,” ucap Sehun dengan nada sarkastik. “Aku memang sempat menolaknya, tapi sekarang berubah pikiran. Aku menerima perjodohan ini.”

“Karena kau menyukainya?” tanya Woobin menyelidiki.

“Haruskah aku menjawab pertanyaanmu?” Sehun menghadiahi sorot mata tajam yang dibalas reaksi santai oleh Woobin. Kini keduanya sama-sama berdiri dan saling berhadapan satu sama lain. Woobin berdiri hanya berjarak beberapa jengkal dari Sehun.

“Bagaimana jika aku tertarik dengan wanita itu?”

“APA?” Sehun berteriak cukup keras hingga membuat wajah serius Woobin memudar dan berganti dengan tawa.

“Aku hanya bercanda,” Woobin menepuk bahu Sehun dengan tawanya yang masih terdengar.

Hyung, ini tidak lucu,” ucap Sehun kesal. Dalam hati ia merutuk sikapnya yang tampak bodoh di hadapan Woobin.

“Benarkah? Tapi, bagiku ini sangat lucu. Belum pernah aku melihat reaksimu seperti ini,” Woobin menyunggingkan bibirnya lalu menyodorkan map pada Sekertaris Ahn. Keduanya lalu berjalan meninggalkan ruang pertemuan, di mana hanya tertinggal Sehun yang masih berdiri dengan raut bingung di wajahnya.

Sehun tentu tidak percaya begitu saja dengan candaan Woobin. Entah kenapa ia merasa was-was dengan ucapan dari wakil presdir Royal Group tersebut. Mereka adalah rival, tapi dalam urusan bisnis dan unjuk diri kemampuan masing-masing. Mereka bukanlah rival dalam hal percintaan yang saling berebut wanita yang mereka sukai. Ucapan yang terlontar dari Woobin tentang ketertarikannya pada Yoona, jelas mengusik pikiran Sehun. Ini pertama kalinya Woobin memperlihatkan ketertarikan pada wanita yang dekat dengannya.

//

Di bawah pengaruh hipnotis yang dilakukan Changwook, Yoona mulai membayangkan peristiwa di mana orang tuanya tewas terbunuh. Jika sebelumnya Yoona terlihat tenang, kini tubuh wanita itu tampak gemetar hebat. Changwook bisa melihat butir-butir keringat yang mulai muncul di bagian pelipisnya. Semakin lama Yoona menunjukkan ketakutan yang luar biasa hingga tubuhnya meringkuk dengan kedua tangan yang menutupi telinga.

“Cobalah untuk tetap bersikap tenang. Biarkan kejadian itu muncul di depanmu dan yakinlah kau bisa menghadapinya,” lanjut Changwook memberikan sugesti. Ia sadar jika sugesti yang diberikannya tidak akan semudah itu menghilangkan rasa ketakutan Yoona pada masa lalu yang telah melekat cukup lama dalam diri wanita itu.

“Changwook?” Yuri merasa tidak tega melihat Yoona tampak begitu tersiksa. Changwook berusaha meyakinkan Yuri untuk bertahan karena bagaimana pun ini harus dilalui Yoona.

“Sebentar lagi,” jawab Changwook dengan wajah serius. Sejujurnya ia sendiri juga tidak tega melihat kondisi Yoona, tapi ia tak punya pilihan lain. Yoona harus menghadapi masa lalunya itu.

Changwook melirik jam tangannya. Sudah hampir 30 menit sejak ia memberikan sugesti kedua pada wanita itu.

“Yoona, buka matamu.”

Suara Changwook sukses menyadarkan Yoona yang sebelumnya berada di bawah pengaruh hipnotis untuk menjalani terapi. Yoona terbangun dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran dari bagian pelipis. Yuri segera menggenggam erat tangan wanita itu yang terasa begitu dingin. Ia melirik cemas ke arah Changwook, lalu menggelengkan kepalanya, memberi isyarat bahwa terapi hari ini tidak bisa dilanjutkan karena kondisi Yoona yang kembali terguncang.

Changwook mengangguk, mengerti isyarat Yuri yang ditujukan padanya. “Sebelumnya, aku mau tanya. Apakah kau berhasil mengingat ciri-ciri orang yang sudah membunuh orang tuamu? Maksudku, bagaimana wajah atau fisik mereka dan juga perlakuan mereka kepadamu?”

Yoona belum merespon, sampai akhirnya mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam tas.

Ya, aku mengingat semuanya. Tapi, aku belum bisa menceritakannya sekarang.

Changwook merasa bersalah dengan kondisi Yoona yang masih terlihat ketakutan di depannya, sampai kembali harus berbicara melalui ponsel. Mau bagaimana lagi, terapi ini harus tetap dilakukan meski memaksa Yoona untuk mengingat kembali kejadian kelam di masa lalunya.

“Aku mengerti, sebaiknya kami mengantarmu pulang ke rumah. Kau harus beristirahat,” jawab Changwook. “Terapi untuk mengembalikan keberanianmu dalam berbicara, kurasa tidak akan menemui hambatan apapun. Aku bisa melihatnya dari keinginanmu yang sangat besar untuk berbicara lagi. Kau bahkan tadi sudah memanggil nama seseorang.”

Benarkah? Siapa?

Yuri melirik Changwook yang terlihat enggan menyebutkan nama yang dipanggil Yoona. Reaksi diam dari dua orang di depannya itu membuat kerutan di dahi Yoona semakin kentara. Ia menyentuh lengan Yuri, meminta wanita itu untuk menjawab pertanyaannya.

“Sehun. Kau tadi memanggil namanya,” jawab Yuri akhirnya bersuara.

Wajah Yoona yang pucat segera terganti oleh rona memerah di kedua pipinya. Kini wanita itu tertunduk sembari menelan saliva-nya. Changwook yang melihat reaksi wanita itu, hanya terdiam karena ia bisa merasakan sesak di dada. Entahlah, ia masih terlalu shock mengetahui Yoona sudah dijodohkan dengan pria lain, bahkan Yoona tampaknya memang memiliki perasaan khusus pada pria yang diketahui bernama Sehun tersebut.

“Aku yakin tak lama lagi kau bisa berbicara. Tadi aku sudah memberikan beberapa sugesti dan menurutku itu sangat bermanfaat bagimu dalam mengatasi ketakutanmu untuk berbicara,” lanjut Changwook sembari tersenyum. “Kami akan mengantarmu pulang, setelah itu kau harus beristirahat. Untuk terapi selanjutnya, kurasa hanya akan difokuskan bagaimana mengatasi trauma masa lalumu itu.”

Terima kasih, oppa.

Changwook mengulas senyum ketika membaca pesan pada ponsel Yoona. Kini kedua tangan pria itu mengusap lembut bahu Yoona, ia menghadiahi sorot mata meyakinkan pada wanita itu.

“Yakinlah pada dirimu sendiri bahwa kau bisa bicara. Trauma itu mungkin memang menyakitkan, tapi tidak seharusnya membuatmu menjadi seperti ini. Percayalah, kau bisa bicara, Yoong. Tak ada yang perlu kau takuti karena kau tidak sendirian. Banyak orang di sekeliling yang sangat menyayangimu,” sahut Changwook menguatkan wanita itu.

Dari balik wajah pucat Yoona, ia tersenyum mendengar ucapan Changwook yang mampu menenangkan suasana hatinya. Ya, seperti yang diucapkan Changwook, perlahan keberanian Yoona memang mulai kembali dan ia percaya bahwa tak lama lagi, ia bisa bicara lagi seperti semula.

//

Ny. Nayoung merapikan kamar tidur Yoona, begitu keponakannya itu tiba di rumah bersama Changwook dan Yuri. Sesuai saran Changwook, Yoona diharuskan beristirahat usai menjalani terapi. Wajah cucu ketiga dari pemilik Empire Group itu terlihat sangat pucat. Yoona langsung tertidur setelah tubuhnya terbaring di ranjang berukuran king size tersebut.

“Terima kasih sudah mengantarnya pulang,” ucap Ny. Nayoung setelah ketiganya keluar dari kamar Yoona.

Changwook dan Yuri hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari bibi Yoona tersebut.

“Lalu—bagaimana hasilnya? Apakah Yoona sudah bisa mengatakan sesuatu?” tanya Ny. Nayoung penasaran.

Changwook tidak menjawab, hanya melirik pada Yuri yang berdiri di sebelahnya.

“Ya, tadi Yoona memang sempat mengatakan sesuatu,” jawab Yuri mengambil alih pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh Changwook. “Dia memanggil nama Sehun.”

“Benarkah?” mata Ny. Nayoung berbinar. Ia sangat senang mendengar informasi yang disampaikan Yuri.

Yuri hanya meringis, sementara Changwook tersenyum tipis menanggapi reaksi senang dari Ny. Nayoung.

“Jadi—sebentar lagi Yoona bisa berbicara lagi seperti semula, ‘kan?”

“Soal itu—” Changwook akhirnya bersuara setelah hanya menjadi pendengar di antara mereka, “—kita tunggu saja. Aku sudah memberikan beberapa sugesti yang menurutku bisa membuat Yoona melawan rasa takutnya untuk berbicara lagi. Selama ada kemauan yang kuat dari Yoona, dia bisa berbicara lagi.”

“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Sekali lagi terima kasih, Changwook-ssi. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi kami benar-benar tertolong dengan bantuanmu,” ucap Ny. Nayoung sembari menjabat tangan Changwook.

Changwook tersenyum, lalu bersama Yuri keduanya berpamitan keluar meninggalkan rumah tersebut. Yuri tidak banyak bicara dan hanya melirik Changwook yang berjalan di depannya. Ia menatap heran pada Changwook. Sejak mengetahui Yoona sudah dijodohkan dengan pria lain, Changwook sesekali tampak murung.

“Kuantar kau kembali ke restoranmu, kajja,” ucap Changwook membuyarkan lamunan Yuri.

Yuri hanya tersenyum kecil menanggapi ajakan Changwook. Tanpa bertanya lagi, ia masuk ke dalam mobil Changwook dan membiarkan pria itu mengantarnya kembali ke restoran.

//

Selesai melakukan pertemuan dengan Woobin, Sehun sengaja mendatangi rumah Yoona meski jam makan siang sudah lewat. Persetan dengan omelan yang akan ia terima dari ayahnya. Ia tidak tahu kenapa, tapi rasanya saat ini ia ingin sekali bertemu dengan Yoona.

DRRT!

Sehun terkesiap karena getaran ponsel yang ia simpan dari balik jasnya. Nama kontak Chanyeol yang tertera di layar membuat pria itu tersenyum.

“Ada apa?” tanya Sehun ketus.

Ya! Kenapa nada bicaramu sangat ketus padaku?” terdengar suara umpatan kesal dari Chanyeol yang hanya dibalas tawa oleh Sehun.

“Maaf, aku hanya bercanda,” jawab Sehun kemudian. “Ada apa meneleponku?”

Jangan lupa datang di acara pameran galeri fotoku akhir minggu ini. Aku sudah menitipkan undangannya pada Sekertaris Han,” jawab Chanyeol.

“Kau tadi datang ke kantorku?” tanya Sehun kaget.

Ya, tapi kata Sekertaris Han kau sedang melakukan pertemuan dengan Woobin-hyung. Jadi, benar perusahaan kalian menjalin bekerja sama?

“Begitulah, aku tidak bisa menolak kemauan ayahku,” jawab Sehun seadanya. “Maaf, yeol. Kita bicara lain waktu. Saat ini aku sedang ada urusan.”

Setelah memutus obrolan singkat mereka, Sehun tersenyum sumringah ketika mobil yang dinaikinya sudah sampai di tempat tujuannya. Supir Kang segera membukakan pintu mobil untuknya.

“Terima kasih,” ucap Sehun pada Supir Kang, lalu melangkah memasuki area rumah keluarga Im Hyunsung. Kepala Pelayan Baek yang baru saja keluar dari rumah, tampak berlari menghampiri Sehun hingga posisi keduanya hanya berjarak beberapa langkah.

“Tuan Muda Sehun,” sapa Kepala Pelayan Baek dengan ramah. “Apa Anda ingin bertemu dengan Nona Yoona?”

“Ya, apa dia sedang di kamarnya?” tanya Sehun menebak sendiri dengan mengingat kejadian sebelumnya di mana Yoona jatuh sakit.

Kepala Pelayan Baek mengangguk, “Tapi Tuan Muda, saat ini Nona Yoona butuh waktu untuk beristirahat. Saya sarankan kepada Anda untuk menemuinya lain waktu.”

“Apa maksudmu?” Sehun mengerutkan dahinya dengan tatapan bingung pada Kepala Pelayan Baek.

“Nona baru saja selesai menjalani terapi dan saat ini kondisinya belum stabil,” jawab Kepala Pelayan Baek.

“Terapi? Maksudmu terapi untuk mengatasi trauma masa lalunya agar dia bisa bicara lagi?”

Kepala Pelayan Baek mengangguk, lalu melirik Sehun yang dilihatnya tampak cemas.

“Bagaimana kondisinya?”

“Tidak terlalu baik. Wajahnya sangat pucat selesai menjalani terapi dengan teman Tuan Muda Siwan,” jawab Kepala Pelayan Baek seadanya.

“Benarkah?” jawaban Kepala Pelayan Baek membuat kekhawatiran Sehun tak kunjung hilang.

“Anda jangan khawatir. Nyonya Nayoung sedang menemaninya sekarang dan sebentar lagi Tuan Muda Siwan akan tiba di rumah. Kondisi Nona Yoona pasti akan segera pulih,” Kepala Pelayan Baek berusaha menenangkan suasana hati Sehun yang terlanjur khawatir dengan kondisi majikannya.

Sehun menghela napas sembari mengusap tengkuknya. Ia lalu menyuruh Kepala Pelayan Baek mengeluarkan ponselnya. Sehun mengambil ponsel tersebut dari tangan pria berkacamata itu. Jemarinya bergerak lincah menekan tombol-tombol pada layar ponsel.

“Itu nomor ponselku. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku. Mengerti?” pesan Sehun sebelum masuk kembali ke dalam mobilnya.

“Baik, saya mengerti,” jawab Kepala Pelayan Baek lalu mengantarkan Sehun kembali menemui Supir Kang yang sudah menunggu di dekat mobilnya. Pandangan Sehun tertuju pada bangunan rumah keluarga Im Hyunsung.

“Semoga kau baik-baik saja,” ujar Sehun lalu masuk ke dalam mobil yang membawanya kembali ke perusahaan Kingdom Group.

//

“Kau sudah menemukan surat itu?”

Jongin melirik bingung pada ayahnya yang kini menggeleng setelah mendapat pertanyaan dari Tn. Hyunsung. Sekarang mereka tengah melakukan diskusi tertutup di kantor milik mendiang kakek Jongin yang kini dipimpin oleh ayah Jongin.

“Kau jangan khawatir, sebentar lagi pasti kami akan menemukan surat itu,” jawab Tn. Jaeha dengan seulas senyum untuk menenangkan suasana hati Tn. Hyunsung.

“Surat?” Jongin tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya dengan pembicaraan dua orang di depannya tersebut.

“Surat peninggalan mendiang Presdir Im Haryong yang dititipkan pada mendiang kakekmu,” jawab Tn. Jaeha.

Jongin terdiam, sebelum sorot matanya berbinar setelah mendengar jawaban dari ayahnya. “Mungkinkah isi surat itu menjelaskan siapa dalang dari pembunuhan orang tua Yoona?”

“Ternyata kau berpendapat sama denganku, Jongin-ssi,” sambung Tn. Hyunsung sembari tersenyum. Ia kagum dengan cara berpikir Jongin yang begitu cepat tanggap.

“Kita lupakan sejenak soal surat itu. Sekarang, kurasa kalian harus mengetahui sesuatu yang selama ini aku tutupi dari siapapun,” lanjut Tn. Hyunsung yang membuat dua orang di depannya saling memandang dengan raut wajah bingung.

“Baiklah, katakan saja pada kami,” ucap Tn. Jaeha.

Tn. Hyunsung terlihat menunduk dalam sembari menghela napas, sebelum ia mendongak dan mensejajarkan pandangannya dengan Tn. Jaeha dan Jongin.

“Sebenarnya, pewaris utama dari Empire Group bukan kakakku, tapi mendiang adikku—Im Hyunjae,” kini wajah Tn. Hyunsung tampak serius. Jongin sempat ingin menyela namun ditahan oleh ayahnya supaya mendengarkan semua cerita dari Tn. Hyunsung secara lengkap dan jelas.

“Sejak awal, ayah kami sudah menunjuk Hyunjae sebagai pewaris utama dari Empire Group. Ayah beralasan jika penunjukkan tersebut karena Hyunjae adalah orang yang paling berpotensi memimpin perusahaan dibandingkan kami, kakak-kakaknya. Hyunjae memang sangat pintar dan berbakat dalam bidang manajemen bisnis. Dia juga memiliki jiwa leadership yang sangat tinggi. Aku tidak heran jika ayah menunjuknya sebagai pewaris utama dari Empire Group,” lanjut Tn. Hyunsung panjang lebar.

“Maaf—” Jongin meringis lebar saat mendapat tatapan tajam dari ayahnya karena menyela pembicaraan, “Aku masih tidak mengerti kenapa mendiang Tuan Hyunjae jauh lebih berpotensi, selain karena bakat dan kecerdasan yang dimilikinya tersebut.”

Tn. Hyunsung tersenyum tipis, “Karena kakak tertuaku adalah orang yang sangat ambisius, sementara aku saat itu mengidap penyakit hati, akhirnya ayah kami menunjuk Hyunjae sebagai pewaris Empire Group karena memenuhi kriteria yang diinginkan ayah kami.”

Jongin mengangguk-angguk kecil setelah mengetahui alasan penunjukkan pewaris Empire Group yang tidak bergantung dengan urutan silsilah keluarga. Sedetik kemudian, wajahnya tampak menegang dengan bola mata sedikit melebar. Ia melirik sang ayah yang juga bereaksi sama.

“Apa mungkin—” kalimat Jongin terhenti saat keraguan itu muncul dalam benaknya. Meski demikian, wajah serius Tn. Jaeha membuat Jongin semakin yakin jika sang ayah berpikiran hal sama dengannya.

“Kurasa kalian berdua sudah bisa menebak siapa pelaku pembunuhan Hyunjae dan Yunhi,” sahut Tn. Hyunsung sembari meneguk teh yang sudah disajikan untuknya.

Tn. Jaeha dan Jongin beradu tatapan dengan kerutan di dahi masing-masing.

“Kau yakin apa yang ada di pikiran kami adalah orang yang selama ini kau curigai?” tanya Tn. Jaeha memastikan.

“Entahlah,” Tn. Hyunsung meletakkan cangkir teh, lalu mengulas senyum tipis. “Sebenarnya aku ingin menyangkalnya, tapi semua kejadian di masa lalu membuatku yakin jika orang itu adalah pelakunya. Sekali pun orang itu adalah kakak kandungku sendiri.”

//

“Gadis kecil, kami tahu kau bersembunyi di dalam lemari. Lebih baik kau diam saja jika ingin tetap hidup. Kalau kami mendengar suaramu sedikit saja, kami pastikan kau akan bernasib sama seperti orang tuamu.”

Yoona bisa merasakan seluruh oksigen di sekitarnya seperti habis hingga membuatnya sulit untuk bernapas. Ia masih terbaring dalam tidurnya setelah kelelahan usai menjalani terapi bersama Changwook dan Yuri. Ia tahu resikonya menjalani terapi dengan mengingat-ingat kejadian saat peristiwa perampokan di rumahnya 15 tahun silam yang menewaskan kedua orang tuanya. Yoona akan selalu dihantui bayang-bayang kejadian masa lalu yang akan muncul dalam mimpinya.

Butir-butir keringat mulai muncul di bagian pelipisnya. Wanita itu tampak gelisah dengan berulang kali menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Napasnya tidak beraturan, sementara kedua tangannya meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Bibir wanita itu mengatup rapat-rapat ketika ia merasakan ada sesuatu yang ingin sekali ia keluarkan, yaitu suara.

“Jangan menahannya. Keluarkan saja apa yang ingin kau katakan.

Tiba-tiba saja Yoona seperti mendengar lagi suara bisikan Changwook ketika ia melakukan terapi. Suara Changwook begitu lembut dan merasuk ke dalam tubuhnya, membuat keinginan wanita itu untuk berbicara semakin kuat, bersamaan dengan bayangan masa lalunya yang menghadapkan gadis itu dengan pembunuh orang tuanya.

Dalam alam sadarnya, Yoona melihat sosok pria dengan penutup wajah sedang berjalan mendekatinya yang tengah bersembunyi di dalam lemari. Ketakutan Yoona semakin menjadi ketika ia melihat kucuran darah dari bagian punggung tangan kanan dan pipi kiri pria itu. Yoona bisa mendengar tawa mengerikan dari pria itu saat ia semakin mendekatinya yang sedang meringkuk ketakutan di dalam lemari.

“TIDAAAK!!”

Yoona terbangun setelah tanpa sadar berteriak sangat keras. Kini wanita itu terduduk dengan keringat bercucuran dan napas yang tersengal. Tubuhnya gemetar hebat, ia menutupi kedua telinganya saat kembali mendengarkan suara dari pembunuh orang tuanya. Ia masih ingat bagaimana sorot mata dengan hawa membunuh yang ditunjukkan pria itu. Meski mengenakan penutup wajah, Yoona bisa melihat sayatan pisau di bagian pipi pria itu dan tangan kanan yang sempat diberikan oleh ayahnya saat melawan mereka.

BRAK!

Pintu kamar Yoona terbuka lebar hingga menampilkan Siwan, Ny. Nayoung dan Kepala Pelayan Baek yang datang dengan wajah cemas. Wajah ketiganya masih terlihat kaget karena tidak sengaja mendengar teriakan Yoona yang merupakan pertama kalinya wanita itu mengeluarkan suara.

“Yoona? Apa yang terjadi?” tanya Siwan panik karena mendapati Yoona hanya tertunduk dan menutupi kedua telinganya. Kondisi Yoona benar-benar terlihat kacau. Keringat yang semakin mengucur deras dan sorot mata yang ketakutan bersamaan tubuhnya yang gemetaran.

“Tadi itu suaramu, ‘kan?” Ny. Nayoung masih tidak percaya karena untuk pertama kalinya mendengar suara Yoona. “Apa kau bermimpi buruk? Katakan pada kami, jangan menahannya lagi. Kau bisa mengatakannya.”

Yoona mendongak dan perlahan menurunkan tangannya yang menutupi telinga. Ia baru menyadari kedatangan Siwan, Ny. Nayoung, dan Kepala Pelayan Baek di kamarnya. Tiba-tiba saja Yoona mengingat seseorang yang sangat ingin ia temui. Yoona sangat membutuhkan kehadiran orang itu.

“Jangan takut, katakan sesuatu pada kami,” ucap Siwan meyakinkan ketika melihat bibir Yoona perlahan terbuka. “Kau bisa mengatakannya, Yoong.”

“…”

Ny. Nayoung mengangguk lalu menggenggam erat tangan Yoona. Siwan juga melakukan hal serupa untuk memberikan kekuatan pada wanita itu.

“Se—Se—Sehun.”

Siwan dan Ny. Nayoung terbelalak usai mendengar kata pertama yang keluar dari mulut Yoona. Percaya atau tidak, Yoona kini tampak berusaha keras untuk berbicara kepada mereka.

“A—aku ingin bertemu—Sehun,” meski masih tergagap, Yoona berusaha mengeluarkan apa yang sangat ingin ia katakan sekarang.

“Baiklah, kami akan segera menghubunginya agar dia datang ke sini,” jawab Siwan lalu melirik pada Kepala Pelayan Baek, memberi isyarat pada pria itu untuk menghubungi Sehun. Kepala Pelayan Baek mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar Yoona.

Ny. Nayoung tersenyum haru melihat kemajuan drastis Yoona. Ia berulang kali mengucap syukur atas mukjizat yang diberikan Tuhan hingga keponakannya bisa berbicara lagi seperti semula. Reaksi yang tak jauh berbeda juga tampak dari Siwan. Pria itu masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia tidak percaya jika dirinya baru saja mendengar suara Yoona yang selama ini ia rindukan. Tentu ini sangat mengejutkan, mengingat Yoona baru menjalani terapi hari ini untuk kali pertama. Tapi mendengar nama yang keluar dari wanita itu, Siwan yakin jika kekuatan cinta yang sudah memberikan Yoona keberanian untuk bisa berbicara lagi.

//

Sehun memacu mobil sport-nya dengan kecepatan penuh. Kepanikan tampak jelas dari sorot matanya yang kini hanya menatap lurus pada jalanan yang ia lalui. Kabar yang diperolehnya dari Kepala Pelayan Baek membuat hati Sehun dirundung kekhawatiran yang begitu besar terhadap kondisi Yoona. Ia masih tidak menyangka jika mereka mendengar Yoona berbicara dan memanggil namanya, bahkan ingin sekali bertemu dengan dirinya.

“Benarkah dia sudah bisa bicara lagi?” gumam Sehun yang membuatnya sedikit bernapas lega, meski rasa khawatir masih menggelayuti hatinya.

Kurang dari setengah jam, mobil Sehun berhenti di depan rumah keluarga Im Hyunsung. Pria itu lekas keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah. Ia berlari menghampiri Kepala Pelayan Baek yang sedari tadi memang menunggu kedatangannya.

“Apa yang terjadi? Kau bilang dia memanggil namaku dan ingin bertemu denganku?”

Kepala Pelayan Baek hanya menganggukan kepala menanggapi dua pertanyaan sekaligus yang terlontar dari Sehun.

“Silakan masuk, Nona menunggu Anda di kamarnya,” ucap Kepala Pelayan Baek.

Sehun menggiring langkahnya menuju kamar Yoona yang berada di lantai 2. Ia langsung membuka pintu kamar wanita itu yang dalam kondisi tidak dikunci. Sehun sedikit kaget begitu melihat ada Ny. Nayoung dan Siwan yang mendampingi Yoona. Namun raut kagetnya seketika memudar, setelah ia melihat kondisi Yoona yang tampak memprihatinkan. Wajah Yoona sangat pucat disertai keringat dan juga mata yang memerah.

“Yoona?” Sehun memanggil lembut wanita itu yang masih berada dalam dekapan Ny. Nayoung.

Semua orang mengalihkan pandangan mereka pada Sehun, tak terkecuali Yoona. Wanita itu langsung tersenyum senang dan secepat kilat berlari menghampiri Sehun. Tanpa ragu ia memeluk Sehun dengan sangat erat.

“Yoona?” Sehun masih terkejut dengan sikap tiba-tiba Yoona. Ia memandangi Ny. Nayoung dan Siwan yang juga mulai berjalan menghampirinya.

“Dia sangat membutuhkanmu. Tolong temani dia,” pinta Ny. Nayoung dengan sorot mata memohon.

“Kami mengandalkanmu, Oh Sehun,” sambung Siwan sebelum Sehun bermaksud meminta kejelasan dengan situasi yang terjadi sebenarnya. Sepeninggalan ibu dan anak tersebut, Sehun kembali fokus pada Yoona yang masih memeluknya. Hati Sehun mencelos ketika ia mengetahui tubuh Yoona gemetar dan terdengar isak tangis dari wanita itu.

“Yoona?”

“Ta—takut …,” suara Yoona terdengar sangat lirih dan membuat mata Sehun melebar.

“Aku takut … Sehun,” lanjut Yoona yang lagi-lagi membuat Sehun terbelalak. Ini pertama kalinya pria itu mendengar suara Yoona yang menurutnya sangat lembut.

Tangan Sehun bergerak mengusap punggung Yoona. Sentuhan lembut dari pria itu membuat Yoona merasa nyaman dan tenang.

“Tenanglah, ada aku di sini. Semua akan baik-baik saja,” sahut Sehun. Tanpa sadar ia meneteskan air mata haru, melihat keajaiban Tuhan dengan mata kepalanya sendiri bahwa sekarang Yoona bisa berbicara. Selanjutnya hanya terdengar tangis Yoona yang semakin keras, membuat suasana di sekitar keduanya dipenuhi kesedihan, namun terselip kebahagiaan karena akhirnya Yoona bisa kembali berbicara seperti semula.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Maaf baru bisa publish sekarang. Chapter ini menjadi titik awal bagi Yoona yang bisa bicara lagi. Sejak awal memang niat saya hanya membuat Yoona bisu dalam 4 chapter awal, karena selanjutnya akan lebih difokuskan bagaimana cara Yoona menceritakan masa lalunya untuk mengungkap ciri-ciri pelaku pembunuhan orang tuanya (selama ini dia belum pernah menceritakannya pada siapapun yang membuatnya berakhir menjadi bisu).

Untuk moment Woobin sama Yoona belum ada (rencana baru akan saya munculkan pada chapter 6). Di sini ada karakter baru yaitu Soojung. Tenang saja, saya tidak bermaksud membuat karakternya menjadi antagonis kok🙂

Belakangan ini mood saya untuk menulis FF kategori long fiction memang bermasalah, jadi maaf kalau hasilnya kurang memuaskan😦

Terima kasih sudah bersabar menunggu dan membaca FF ini❤

135 thoughts on “Immortal Memory [5]

  1. Ah seneng liat yoona bicara lagi, aku terharu😥
    Sojoong ya? Jangn2 dia ada hubungannya sma sehun?
    Ah ternyata memang bner hyunsik pelakunya, tega bgt dia

  2. Akhirnya Yoona bisa bicara jga ^^ fellny dpt bngt,, jdi ikut terharu bcanya..
    Yoona udh mulai suka Sehun tuh,,itu part terakhir moment YoonHun sweet Walaupun cuma pelukan >,<
    gx sabar bca chapt slnjutny😀
    Keep writing thor ^^

  3. Huaaa
    terharu bgt,gak tega ma kondisi yo0ngNie,untng ada hunPpa
    dr awal chap udah curiga ma hyunsik
    next chap unN

  4. sungguh sangat sangat menunggu yoonhun moment thor. ah sehun so sweet bgt, aku mbayangin sehun netesin airmata demi yoona yg sudah bs bicara. waiting for the next chap thor. keep writing thor

  5. yeyy mb yoona bisa ngmong egenn…
    kekuatan cinta emang gede banget…
    ciye yang diucapin mb yoona pertama kali abang hunhun…
    tp terharu juga dr semua usaha yg mereka semua lakukan…
    daebakk…
    cpet dilanjut ne eon….

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s