(Freeance) Eyes to Eyes

Eyes to Eyes

Eyes to Eyes

by Nikkireed

Starring

Lu Han and SNSD Yoona

Genre

Romance

“Aku akan kesana lima belas menit lagi. Kau mau menungguku?”

Aku sedang merapihkan beberapa barangku dari lemari dan memasukkannya ke tas. Minggu siang yang kulewatkan di gedung yang membesarkan namaku ini, Gedung SM – dan setelah dua atau tiga jam, entahlah, aku dan Yuri berlatih untuk comeback stage kami yang sangat kami nantikan.

Aku juga sedang ditelpon oleh Chanyeol yang mengajakku untuk pergi hanya untuk sekedar melepas kebosanan.

Oke. Aku akan menunggu.

“Baik. Empat belas menit dari sekarang.” Aku menutup telpon sambil melihat jam tanganku. Kuletakkan ponselku ke dalam tas dan menutup pintu lemari.

Aku berbalik dan menemukan Yuri yang masih bergerak di ruang dance.

Kuputuskan untuk menghampirinya.

“Yul? Kau belum mau pulang?” Tanyaku begitu aku masuk ke ruang dance dan melihatnya telah menyelesaikan tariannya.

Yuri menoleh ke arahku sambil tersenyum, “Tidak.” Dilanjutkan dengan gelengan, “Aku akan berlatih disini.”

Aku membalas senyumnya, “Baik, aku pergi dulu. Daah, Yul.” Teriakku sambil menutup pintu ruang dance tersebut. Samar-samar terdengar balasan dari Yuri yang membuatku tersenyum.

Aku melangkahkan kakiku menuju lift dan turun ke lobby. Sesampainya di lobby yang sepi ini, aku terdiam. Memeriksa sekitarku. Lalu menutup mata sejenak.

Kembali mengingat masa itu. Beberapa tahun yang lalu ketika pertama kalinya aku menginjak gedung ini.

Kembali mengingat masa itu. Beberapa bulan yang lalu ketika sosok itu pergi meninggalkan gedung ini.

Kembali –

“Ah, tidak. Lupakan, lupakan.” Aku menggeleng cepat dan membuka mata. Kembali melanjutkan langkahku menuju pintu utama gedung.

Pintu ini hanya akan terbuka dengan kartu khusus SM staff. Seketika aku menggesekkan kartu tersebut, pintu otomatis itu terbuka. Dan dengan tiba-tiba saja angin berhembus. Ke arahku.

“Wahh.. sejuknya.” Seruku riang. Mataku terbuka menyambut udara siang ini. Walaupun ada terik matahari.

Aku mengeluarkan kacamata hitam dari tasku untuk menghalau sinar matahari yang menusuk. Tepat sebelum aku memakai kacamata itu, mataku menangkap sesuatu.

Sesosok manusia.

Dengan sepasang mata rusa, yang persis dengan milikku.

Matanya bertabrakan dengan mataku.

Bola mata berwarna coklat dengan bulu mata lentik yang membingkai mata indah tersebut.

Aku yang melepaskan kontak mata dengan sosok itu dengan memakaikan kacamata hitam di wajahku.

Yang membuatku terkejut adalah ketika sosok itu datang mendekatiku. Aku siap siap melangkah.

“Kau tidak suka memakai kacamata hitam, Yoong.”

Suara itu. Entah mengapa setelah tujuh bulan tidak mendengar suara itu, bisa membuat gendang telingaku menangkap dengan jelas bahwa itu suara yang kurindukan.

Ia berjalan mengarah padaku, lalu melepaskan kacamata hitam dimataku, “Nah, lebih baik seperti ini.” Ia tersenyum.

Oh Tuhan! Apa ini sungguhan? Apa aku sedang bermimpi?

Lengkungan sudut bibirnya tertarik begitu halus, dan secercah ketampanan terpancar diwajahnya. Wajah yang sudah lama tidak kusentuh, wajah yang sudah lama tidak kulihat.

Apa aku harus marah? Ia yang pergi meninggalkanku. Ia yang pergi meninggalkan semuanya. Ya, aku berhak untuk marah. Tidak peduli dengan mata tersebut, atau suaranya, atau senyumnya.

Aku berjalan tanpa menghiraukan sosok di depanku.

Tapi apa.

“Tunggu, Yoona. Kita bisa bicara sebentar?” Ia tidak menahanku, hanya bertanya. Jangan terlalu percaya diri, Yoong. Jangan buat kesalahan yang sama.

“Apa? Kau bicara denganku?” Aku membuat pertanyaan tersebut menjadi selucu mungkin dengan melemparkan tawa canggung. Membiarkan ia merasakan sakitnya.

Tapi ia malah berbalik tersenyum padaku, “Tentu.”

Mulutku terkatup, “Kau bahkan tidak menyapaku.” Protesku masam. Melipat tangan di dada. Menunggu.

Ia berjalan mendekatiku dan tersenyum sehingga matanya membentuk lalu berkata, “Hai, Yoona.”

Aku memutar mata kesal. Entah mengapa, mood-ku berubah setelah orang ini merusak semuanya. Merusak semua kerinduanku padanya.

Kulangkahkan kakiku menjauhinya.

“Aku merindukanmu.” Tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulutnya, “Sangat. Aku sangat merindukanmu, Yoong.” Suaranya parau saat memanggil namaku. Kumohon, kumohon. Jangan membuatku menangis kesal karena perasaan ini.

Aku enggan berbalik. Gengsi. Ia laki-laki. Ia yang harus menghampiri –

“Apa kau tidak merindukanku?” Ia bahkan sudah berada di hadapanku sekarang. Didepan Gedung SM. Ia bertanya dengan serius. Menatap mataku dalam.

“Buat apa? Kau yang meninggalkanku, ingat?”

“Tidak. Bukan itu maksudku.”

“Kau yang memintaku untuk tidak merindukanmu selama kau pergi.”

“Tidak, ak –“

“Lalu apa?”

Ia terdiam. Menunduk sedikit. Lalu kembali menatap mataku. “Aku minta maaf karena meninggalkanmu. Aku minta maaf dan menjadi seorang yang pengecut dan bodoh. Aku terpaksa.”

Aku menghela nafas. Semoga ia serius.

“Lalu mengapa kau tidak mengabariku? Kau tidak membalas emailku. Kau tidak menjawab panggilanku. Kau pergi. Hilang. Dan aku –“ aku terdiam, menahan emosiku.

Tapi ia hanya terdiam. Apa ia pantas hanya diam seperti ini?

Tiba-tiba ia tersenyum. Ia menepuk pundaknya, “Menangislah padaku, Yoona. Pukul aku jika kau merasa perlu.”

Ia mendekapku. Air mataku sudah lari dari mataku, mengalir sepanjang pipi. Emosi dan kesal yang tumpah berakhir pada air mata dan pelukan kerinduan. Aku memukul dadanya. Sekencang mungkin supaya ia bisa merasakan bagaimana sakitnya merindukkan dirinya itu.

Ia malah semakin memelukku. Ia bahkan membelai lembut rambutku.

Aku masih menangis dan memukul dadanya. “Kau jahat, Lu. Kau.. jahat..” Aku terisak, kehilangan kata-kata.

“Maafkan aku, Yoona.” Suaranya tulus. Ia melepaskan pelukannya. Dengan telunjuknya ia menopang daguku agar aku menatapnya.

“Sungguh, aku minta maaf. Kau mau memaafkanku?” Ia bertanya dengan serius. Sambil menunggu jawabanku ia mendekatkan wajahnya padaku.

Belum aku menjawab, aku menutup mata menantikan saat bibirnya yang akan menyentuh bibirku, tapi ponselku berdering.

Aku terkejut dan langsung menjauhkan diri. Mencari sumber kebisingan dari tasku.

“Halo? Chanyeol-ah?” Begitu aku melihat siapa yang menelepon.

Yoona! Kenapa kau lama sekali? Jadi berapa lama empat belas menitmu itu?” Suara Chanyeol terdengar dekat. Aneh.

“Oh, mian. Aku baru – aku baru saja bertemu dengan seseorang. Maaf membuatmu menunggu.”

Apa kau baru saja bertemu Luhan hyung? Karena aku baru saja melihatnya dengan seorang perempuan.” Mataku hampir terkejut mendengar jawaban Chanyeol. Aku memutar badan mencari sosoknya. Ternyata Chanyeol berdiri tidak jauh dari kami.

“Ya! Park Chanyeol!” Teriakku dengan keras saat aku menangkap sosoknya di sebrang jalan depan gedung SM sedang melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum girang pada kami.

Luhan di hadapanku mengikuti arah pandangku dan tersenyum. “Kau masih sama seperti yang dulu, Yoona.” Ia membelai pipiku dengan punggun tangannya dan jempolnya. Terasa hangat, walaupun disiang hari seperti ini. Aku membalas sentuhannya, mengelus tangannya di pipiku. Melupakan Chanyeol yang bergerak aneh dari sebrang jalan.

“Yak! Kalian berdua! Cepat traktir aku makan es krim. Aku tidak menunggu selamanya.” Protes Chanyeol sambil berjalan dengan girang.

“Kenapa harus?” Balasku berteriak. Tidak peduli dengan orang-orang yang melihat pada kami.

“Karena.. Luhan hyung bilang.. ia meriiinduukaanmuu.. jadiii.. ia ingin menemuimuuu.. secara langsung..” Park Chanyeol menekan setiap kata-katanya dengan jelas. Membuat wajahku menjadi panas. Malu.

Aku berbalik menghadap Luhan, “Apa kau..”

Luhan mengangguk, “Ya, aku meminta bantuannya. Karena hanya Chanyeol yang bisa kuhubungi. Dan ia bersedia.” Nada suaranya sekarang agak sedih.

Aku meraih tangannya, “Baik. Ayo kita makan es krim.” Ajakku tiba-tiba. Agar ia tidak membahas topik ini.

Kami berjalan bergandengan tangan di siang yang terik ini menuju tempat makan sundae paling favorit di Korea. Dengan Park Chanyeol di sebrang jalan yang tersenyum girang.

Halo fawns yang kangen LUYOON, aku coba bawain romance oneshoot dengan alur singkat nih, karena dibuat juga ditengah sibuk-sibuknya urusan kampus. jangan nagih sequel ya karena belum kepikiran. tapi nanti kalo kepikiran baru deh buat lagi. thanks for reading ^^

27 thoughts on “(Freeance) Eyes to Eyes

  1. Ahhhh luyoon!! Aku jadi kangen luhan): manis banget ceritanya hehe coba aja kejadian di dunia nyata.-. Keep writing ya author

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s