Sepatu

large

Sepatu

elevenoliu | SNSD Yoona dan Lu Han | Romance

Jembatan kukuh yang tengah kulewati mengeluarkan suara ketukkan dari sepatu yang aku kenakan. Kemudian, aku mendengar suara ketukkan lainnya yang muncul dari langkah seorang lain. Aku mendongakkan kepalaku yang sedari tadi menunduk ke bawah ke asal suara yang muncul dari hadapanku. Seorang wanita yang berpakaian rapih sedang melangkahkan kakinya menuju kearahku. Aku tersenyum menyambutnya lalu, kukeluarkan tangan kananku dari saku celana dan melambaikan tanganku untuknya.

“Lu..” Panggilnya pelan. Ia mempercepat langkahnya kearahku sambil mengeratkan mantel maroon yang ia kenakan. Suhu udara sore ini memang dingin karena Beijing sedang berganti musim dari gugur ke dingin.

“Kupikir kau tidak akan datang.” Seruku pelan dan aku bisa melihat perubahan ekspresi wajahnya yang cukup drastis. Aku langsung mengendikkan kedua bahuku sekali, “Aku bercanda, Yoong.” Lanjutku.

“Aku tahu.” Ia menghentikan langkahnya tepat di depanku, “Maaf, aku telat. Drama China-ku baru saja selesai syuting dan aku meninggalkan pesta penutupan lebih dahulu demi kau, Lu.” Lanjutnya.

“Hei, aku tidak memaksa lho.” Responku cepat. Ia tidak membalas. Ia hanya mengangkat kedua alisnya lalu, mengedarkan pandangannya acuh tak acuh. Ya, aku mengerti. Seperti biasa, mungkin ia ngambek?

Aku menyentuh pipinya yang semakin hari semakin mencekung karena terlalu menjaga postur tubuhnya agar terus proposional—ya, ia berbohong kepada media bahwa ia tidak memerlukan perawatan atau diet khusus untuk tubuh rampingnya, tapi hei? Aku Luhan, teman baiknya. Aku seseorang yang selalu menjadi sandaran hatinya. Bagaimana aku tidak tahu tentang Yoona yang menahan napsu makannya?

“Kau makin kurus, Yoong. Makan yang banyak, ya?” Suruhku lalu mencubit pipinya pelan, “Bahkan aku tidak bisa merasakan dagingmu. Apa aku harus memasakanmu sesuatu, hm?”

Yoona menggeleng pelan, “Tidak usah, Lu. Manager oppa bisa memasakkanku makanan kok.”

Aku hanya mengangguk pelan lalu menyandarkan tubuhku ke pagar jembatan lalu, megenggam tangan kanan Yoona, menyelipkan jari-jariku diantara jari-jarinya itu. Tangannya yang dingin berhasil menusuk kulitku. Aku memasukkan tangannya ke dalam saku mantelku yang mirip dengannya. Ya, kita sedang memakai mantel pasangan kita. Anggap saja mantel tersebut sebagai tanda persahabatan.

“Lu, aku ingin tahu sesuatu.”

Suara lembut milik Yoona berhasil menyita seluruh perhatianku kepadanya. Aku tersenyum pelan, “Kenapa?”

“Kau menyayangiku ‘kan? Mencintaiku? Tapi, kenapa—“

“Aku mengerti maksudmu.” Potongku cepat. Aku menarik napasku pelan lalu, memperkecil jarak antara aku dengannya. “Kau tahu sepatu?” Tanyaku sambil mengetuk-ngetukkan kakiku ke jembatan ini hingga menimbulkan suara tuk. tuk. tuk.

“Tentu. Ada apa dengan sepatu?” Ia juga melakukan hal yang sama denganku, mengetuk-ngetukkan kakinya yang dilindungi oleh sepatu.

“Sepatu adalah satu pasang, selalu bersama, tapi mereka terpisah. Yang satu kanan. Yang satu kiri. Seperti kita; selalu bersama, tak bisa bersatu.” Balasku lalu, menatap wajahnya yang masih bingung.

“Kita terpisah. Kau masih berada dibawah naungan SM sedangkan aku tidak. Kau seorang Kristiani dan aku Buddha. Kau berasal dari Korea dan aku China. Yoong, kita sangat berbeda.” Lanjutku.

“Tapi, Lu, bukankah perbedaan yang membuat segala hal menjadi satu?”

“Ya, kau benar. Kita berdua tahu bahwa kita ingin bersama, tapi kita bisa apa? Yoong, aku memang mencintaimu. Cinta memang banyak bentuknya, tapi tak semua bisa bersatu, seperti kita. Jadi, jalani saja apa yang telah terjadi sekarang. Hatiku masih milikmu.” Tutur Luhan lembut.

“Lu..”

“Tatap aku.”

Yoona menoleh kearahku lalu, aku langsung menempelkan bibirku ke atas bibir tipisnya yang berwarna merah delima itu dan tersenyum. Ya, bibir kami saling menyentuh dalam senyuman. Satu. Dua. Tiga. Aku menjauhkan wajahku dari wajahnya sehingga aku bisa melihat wajahnya yang sudah bersemu merah, sangat merah. Aku menarik Yoona masuk ke dalam pelukanku. Aku bisa merasakan tangannya yang mulai melingkar di pinggangku semakin erat.

“Mungkin sekarang belum bisa, tapi tidak ada yang tahu nanti. Berharap tidak salah, Yoong. Aku juga berharap kok.” Ucapku.

Ne. Mungkin kita memang ditakdirkan menjadi teman.” Balas Yoona.

“Mu-Mungkin.”

“Iya, Lu. Teman hidup.” Balas Yoona dengan seringaian di wajahnya seperti ia menang dan aku hanya bisa tersenyum lalu, mencium puncak kepala Yoona. Aku tidak akan memperdulikan apa yang terjadi nanti karena yang terpenting adalah sekarang.

END

24 thoughts on “Sepatu

  1. Hueee sedih banget.,sedih kalo inget kenyataan Luhan bukan lagi member EXO. Mereka pasti udah gak pernah ketemu lagi.,sumpah ini cerita ngena banget! Bener-bener ngena! Semoga mereka bersatu wkwk. Ditunggu karya author yang lainnya,.

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s