(Freelance) In Your Eyes (Chapter 3)

in-your-eyes

IN YOUR EYES

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol, EXO’s Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered [3/12] ||Rating: G || Note: Already posted at EXOShiDae Fanfiction and our personal blog.

.

.

Ketika seseorang jatuh cinta, tidak akan ada yang tahu selain Tuhan, dan dirinya sendiri..

.

Chanyeol tidak pernah merasa sekesal ini. Tadi ketika Minhwa mengucapkan hal-hal konyol di dalam bus, lelaki itu ingin sekali menendang adiknya keluar dari bus pada saat itu juga. Chanyeol benar-benar malu, dan ia tidak tahu apa dirinya masih punya nyali untuk berbicara dengan Yoona setelah kejadian tadi.

Setengah kesal, Chanyeol melirik ke arah adiknya yang kini terdiam sembari menundukkan kepala. Minhwa mungkin tengah merenungkan kesalahannya setelah ia marahi tadi—begitu pikir Chanyeol. Namun, ketika adiknya itu tak kunjung mengangkat kepala, Chanyeol malah panik sendiri. Apa mungkin kata-kata yang ia ucapkan tadi terlalu kasar?

Bodoh! Kau pikir apa yang kau lakukan Minhwa? kau ingin membuatku malu? Jaga mulutmu! Tidakkah kau sadar apa yang telah kau katakan tadi? Kau ini benar-benar menyebalkan. Jika aku punya satu permintaan, aku berharap kau tidak pernah dilahirkan Park Minhwa! Kau tahu kau itu misteri! Menyebalkan sekali!

Chanyeol menelan ludahnya setelah menyadari apa yang telah dia katakan pada adiknya itu. Semenyebalkannya Minhwa, Chanyeol tahu yang tadi itu cukup kelewatan. Bagaimanapun, Minhwa itu adiknya, kan?

Perasaan bersalah semakin memenuhi hati dan pikirannya ketika Minhwa terisak di sampingnya. Chanyeol panik bukan main.Apa yang akan dipikirkan orang-orang tentangnya nanti?

“Minhwa-yaa?” Panggil Chanyeol sembari menepuk bahu Minhwa yang sedikit begetar. Merasa tak di beri respon, Chanyeol mulai menggoyangkan bahunya dengan sedikit lebih keras sembari terus memanggil nama gadis itu. Minhwa mengangkat wajahnya lalu menatap Chanyeol tajam.

“Tutup mulutmu! Bukankah kau yang memintaku diam! Dan jangan sentuh aku!” Minhwa berteriak dengan suara yang sedikit keras. Tangan Chanyeol yang menempel di bahunya baru saja dia tepis dengan keras.

Chanyeol semakin merasa bersalah, adiknya itu benar-benar marah padanya.

.

“Tutup mulutmu! Bukankah kau yang memintaku diam! Dan jangan sentuh aku!”

Yoona menoleh lagi kearah kursi yang diduduki kakak-beradik itu untuk kesekian kalinya. Sementara ia menerka-nerka apa yang sedang terjadi diantara mereka, Jongin yang duduk disampingnya terus menggerutu kesal karena suasana di dalam bus mulai tidak nyaman. Lihat dari bagaimana penumpang lain menatap mereka dengan aneh.

Bus itu sudah tiba di halte berikutnya. Butuh waktu sekitar lima belas menit lagi untuk tiba di halte dekat Hanyoung High School—sekolah Yoona. Beberapa penumpang turun di halte ini, membuat udara yang ada tidak sesesak sebelumnya. Diam-diam,Yoona menangkap pergerakan Minhwa yang juga sepertinya akan turun disini, sang kakak juga ikut berdiri menyusul Minhwa. Yoona tidak tahu apa yang terjadi padanya ketika dirinya malah ikut-ikutan melangkah ke arah pintu bus. Nyaris melupakan Jongin yang kini keheranan menatapnya, Yoona berkata, “Aku ada urusan sebentar, kau pergi duluan saja.”

Meski samar-samar suara Jongin memanggilnya, tapi dengan sengaja Yoona tidak menghiraukan semua itu.

.

Yoona tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain hanya berdiri membeku di pinggir jalan seperti itu. Tidak jauh darinya, Park Chanyeol dan Park Minhwa menatapnya heran. Yoona sempat melihat mata Minhwa yang agak sembab, sepertinya dia baru saja menangis.

“Yang aku tahu Hanyoung ada di dekat halte berikutnya Eonni.” Minhwa berujar pelan.

Dengan sedikit ragu, Yoona melangkah mendekati mereka berdua. Yoona menyadari satu hal bahwa sejak ia ada disana, Chanyeol tidak sekalipun menatap kearahnya.

“A-aku hanya ingin me-meluruskan saja,” katanya sedikit gugup.

Chanyeol mengangkat dagunya. Matanya menatap Yoona sekilas, lantas sebuah senyuman kecil terlukis di bibirnya. Yoona tidak tahu kenapa, tapi dirinya merasa lega sekarang.

“Memangnya apa yang ingin Eonni luruskan?” Minhwa mengangkat alisnya bingung. Sementara Yoona kini baru sadar, ah benar juga, memangnya apa yang sudah kubuat kusut sehingga aku harus meluruskannya?—pikirnya dalam hati.

“Aku mengerti Eonni, jika yang ingin kau bicarakan adalah tentang kejadian tadi sebaiknya kau tanyakan langsung pada kakaku. Dan aku minta maaf karena tadi sudah membuat keributan. Dan sepertinya banyak sekali yang ingin kakakku jelaskan padamu karena perbuatanku tadi. Aku benar-benar minta maaf.” Minhwa bicara lagi dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya. Detik selanjutnya, tubuhnya membungkuk membuat lengkungan nyaris sembilan puluh derajat dan berlari menjauhi Yoona dan Chanyeol yang kini hanya menatap punggung Minhwa yang kian menjauh.

Yoona tahu ada sesuatu yang tidak benar, gadis itu dengan sedikit malu lagi, menatap Chanyeol yang juga menatapnya. Kedua manik mereka bersirobok sesaat sebelum keduanya membuang muka di detik yang sama. Tangan Chanyeol memijat tengkuknya yang mendadak terasa nyeri. Karena gugup, Yoonamemutuskan untuk duduk di kursi halteu. Dan ternyata, Chanyeol mengikutinya di kemudian.

“Tentang itu—“

“Maaf jika aku lancang, tapi—sebenarnya apa yang telah kau katakan pada Minhwa?” Yoona memotong ucapan Chanyeol segera.

“A-aku hanya…”

“Kau tidak bisa berbuat seenaknya pada adikmu. Tidakkah kau lihat tadi matanya sembab? Dan jam berapa ini? Ini bahkan masih pagi, apa yang akan dikatakan teman-temannya jika melihat matanya sembab seperti itu?.”

Yoona berbicara panjang, dan bagi Chanyeol; gadis itu terdengar seperti sedang menyalahkannya sekarang—meski sebenarnya Yoona tidak bermaksud demikian.

Chanyeol tertunduk lemah. Tidak tahu harus berkata apa. Sebagian dari dirinya masih menyesali sikapnya tadi pada Minhwa dan sebagiannya lagi mulai cemas dengan apa yang akan Yoona pikirkan tentang dirinya setelah kejadian ini.

“Mengenai kejadian tadi, tenang saja. Aku sama sekali tidak akan mengingatnya. Akan aku anggap lelucon atau semacamnya. Tapi adikmu—“

Chanyeol jadi terpikir sesuatu, lelaki itu dengan hati-hati menghentikan ucapan Yoona. “Yoona-sshi?”

Yoona menatapnya, “Ya?”

“Maukah kau membantuku?”

.

Yoona duduk dikursi koridor sekolah ditemani kedua sahabatnya. Mereka hanya memandang kosong siswa-siswi yang berlalu lalang melewati mereka.

Tidak seperti biasanya, hari ini Hanyoung High School sangat ramai. Sekolahnya itu menjadi tuan rumah ajang dance battle yang diadakan setiap setahun sekali. Maka dari itu,setiap perwakilan dari berbagai sekolah di Seoul hadir disana.

Berbeda dengan murid lain, Yoona dan kedua sahabatnya ini lebih memilih duduk santai ketimbang berdandan yang kemudianmenggoda para murid tampan dari sekolah lain seperti yang dilakukan gadis-gadis dengan make-up tebal di sebelah sana.

“Kenapa ramai sekali?” Salah satu dari sahabat Yoona—namanya Yuri—mengeluh disampingnya. Gadis cantik itu menutup buku tebal yang sedari tadi dibacanya. Dilihat dari gelagatnya, sepertinya dia tidak dapat fokus membaca.

“Ah, aku tidak suka keramaian.” Tambah Sooyoung—teman Yoona yang satunya itu ikut mengeluh. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, yang secara otomatis diikuti Yoona dan Yuri.

“Hari ini ada kelas musik, dan aku harus melewatkannya hanya karena kompetisi ini?” Yuri bertanya tak percaya. Matanya yang tajam terlihat sedikit berkilat marah.Yoona hanya mengangguk setuju. Hari itu mereka harus terpaksa melewatkan kelas musik, kelas favorit mereka.

“Lihat, itu murid dari Daeyoung kan?” Sooyoung menyikut pinggang Yoona dengan sikunya yang tajam. Kepalanya mengarah pada sekumpulan gadis cantik dengan beberapa pria di belakangnya,mereka baru saja menginjakkan kakinya di area Hanyoung.

Yuri mengangguk sembari memperhatikan kerumunan siswa yang dimaksudkan oleh Sooyoung. “Ya, dan katanya gadis yang berjalan ditengah itu adalah Jung Sooyeon, flower-girl di Daeyoung.”

Yoona menautkan alisnya sedikit tertarik. Gadis itu bahkan baru pertama kali mendengar nama Jung Sooyeon. Apa dia begitu terkenal?

“Ya, dia sangat populer.” Sooyoung kembali menyahut, seolah tahu apa yang Yoona pikirkan. Rambutnya yang tergerai kini mulai sedikit berantakan karena pergerakan kepalanya yang selalu tiba- tiba.

“Itu! Bukankah dia sepupumu Yoona-ya?” Yuri kembali bersuara dengan suara khasnya. Yoona dan Sooyoung mengikuti arah pandangnya menuju sekelompok pria dengan blazerbiru tua di salah satu koridor sekolah itu.

Sooyoung menghela nafas panjang. “Yuri-ya, mereka sudah ada disini sejak tadi.” Gadis itu menyela ucapan Yuri dengan malas. Kendati demikian, Sooyoung tidak bisa menyembunyikan secercah rasa antusias dalam gerak-geriknya saat memperhatikan sekawanan pria itu.

Lagi, Yoona mengangguk mengiyakan.Jongin dan teman-temannya dari Seungri HighSchool memang sudah berdiri disana sedari tadi. Bahkan Jongin lebih dulu sampai disana dari pada dirinya.

“Benarkah? Aku baru melihatnya sekarang.” Ucap Yuri sembari mengusap tengkuknya yang tak gatal. Yuri memang sangat suka membaca, dan mungkin itulah salah satu faktor utama dia tidak pernah memperhatikan dunia sekitarnya. Dia, terlalu larut dalam buaian kehidupan di dalam buku—begitu yang orang-orang katakan.

“Yoona, kurasa dia tengah memperhatikanmu.” Sooyoung menyikut pinggang Yoona lagi. Membuatnya memusatkan pandangan pada Sooyoung. Berbeda dengan Yuri, Sooyoung jauh lebih banyak bicara, meskipun itu hal yang tidak penting, Sooyoung akan membicarakannya. Yoona bahkan ingat dia pernah membicarakan tentang kisah cinta dua ekor semut di dinding kamarnya. Sooyoung memang agak sedikit konyol—menurutnya

“Siapa yang kau maksud Soo?” Yuri mendahului Yoona bertanya.

“Siapa lagi? Lihatlah!” Sooyoung menunjuk sesuatu dengan kepalanya. Yoona dan Yuri mengekori nya bersamaan. Sooyoung benar, seseorang yang sedari tadi menjadi bahan obrolan mereka tengah menatap kearah Yoona. Ya, siapa lagi kalau bukan Jongin.

Bibir Jongin melengkung memperlihatkan sebuah senyuman khas. Orang-orang biasa menyebutnya dengan ‘Senyuman Maut Kim Jongin’. Tangannya terangkat untuk melambaikan tangannya pada Yoona.

“Aaaah aku bisa pingsan karena senyumannya.” Sooyoung menangkupkan kedua tangannya menjadi satu dibawah dagunya.

“Bagaimana menurutmu Yoong?” Yuri membuat kornea mata Yoona kembali beralih padanya. Yoona kembali menautkan alisnya tak mengerti atas pertanyaannya.“Jongin.” Yuri menjawab setengah berbisik, matanya sedikit berbinar karena antusias. “Apa kau tertarik padanya seperti gadis shikshin disebelahmu?” Yuri melanjutkan, ia menatap Sooyoung yang masih bertahan memperhatikan Jongin walaupun lelaki itu sudah tak melihat ke arah mereka. Yoona terperanjat. Apa katanya?

“Hey! Kau bercanda? Mana mungkin, dia sepupuku, Yuri.” Yoonatertawa renyahsetelah mengucapkannya. Dia tidak mungkin menyukai Jongin. Mereka kan saudara. Begitupun Jongin, dia juga tidak mungkin menyukai Yoona. Hubungan mereka selama ini tidak pernah lebih dari hubungan seorang kakak dan adik. Ya, hanya kakak dan adik.

Sooyoung dan Yuri menghela nafas bergantian lalu menyandarkan tubuh mereka pada tembok. Yoonahanya mengikuti mereka di detik kemudian. Setelahnya mereka diselimuti keheningan yang panjang; Sooyoung sibuk dengan ponselnya, Yuri dengan novel tebalnya, dan Yoona? Jangan tanya, dia hanya diam sembari menengadahkan kepala menerawang langit biru dengan awan putih bak kapas yang menghiasinya.

Awan-awan memperlihatkan pergerakannya yang tersapu angin, bentuknya berubah-rubah setiap detik. Dan itu sangat mengundang imajinasinya untuk berpetualang. Pertama,Yoona melihat sebuah siluet berbentuk kelinci, itu binatang kesukaannya. Disebelah kelinci itu,Yoona mendapati sebuah siluet berbentuk kue ikan. Beberapa detik kemudian, kedua siluet itu menghilang bergantian, kembali berubah layaknya hamparan awan biasa. Selanjutnya,Yoona mendapati sebuah siluet yang takasing lagi baginya. Bentuknya tak menyerupai sebuah binatang, pun seperti makanan. Tapi, sebuah siluet wajah seseorang. Seperti wajah Park Chanyeol.

“Eh a-apa?” Yoona memekik kaget. Matanya mengerjap berulang kali dan kembali menatap langit. Tak ada siluet wajah sedikitpun.

“Hey kau kenapa?” Sooyoung tiba-tiba memegang bahunya dan meremasnya lembut.

Yoona terdiam sesaat.Sepertinya aku kurang tidur dan mulai memikirkan hal yang tidak-tidak—begitu pikirnya.

“A-aku? Tidak apa-apa.” Jawabnyapelan lalu tersenyum kikuk. Untuk sesaat, Sooyoung dan Yuri saling membagi pandangan herankemudian mengendikkan bahu mereka tak peduli.

“Itu! Bukankah itu murid Seoul High School?” Sooyoung sepertinya telah menemukan bahan baru untuk dibicarakan, jari telunjuknya mengarah ke gerbang sekolah.Yoona dan Yuri mengikuti arah telunjuknya, segerombolan siswa lelaki dengan blazerhitam berjalan beriringan memasuki gerbang. Pandangan beberapa gadis disepanjang jalan langsung mengarah pada mereka, seolah mereka adalah segerombolan pangeran yang berjalan di red carpet dengan iringan suara blitz kamera di setiap detik nya. Dan Yoona belum berhenti untuk terpaku pada segerombolan siswa dengan blazerhitam dan celana panjang berwarna abu disana. Dia terlihat tampan dengan setiap potongan rambutnya, tas ransel hitam dan sepatu sneakers itu tampak begitu cocok untuknya. Sesuatu yang berwarna hitam terlihat melingkar di pergelangan tangannya, Yoona tahu itu adalah jam tangannya. Dan ya, masih banyak lagi yang membuat dia begitu terlihat sempurna bagi Yoona.

Baiklah baiklah ia mengaku. Sejujurnya Yoona tidak memperhatikan segerombolan lelaki disana. Jangkauan iris matanya terlalu penuh jika harusmemperhatikan mereka semua. Mulai dari lelaki yang tidak terlalu tinggi tapi berwajah imut di paling depan, lelaki tinggi dan kurus disamping kirinya, lelaki dengan topi hitam yang tengah mengunyah permen karet, disampingnya lagi lelaki yang paling pendek diantara mereka semua, selanjutnya lelaki yang terlihat begitu sempurna dimata Yoona, serta beberapa lelaki lain dibelakangnya. Benarkan? Mereka terlalu banyak untuk iaperhatikan bersamaan.

Jadi, kini matanya hanya terfokus pada seorang lelaki yang telah mencuri perhatiannya akhir-akhir ini, membuatnya selalu memikirkannya setiap saat, membuat setiap sudut memori otaknya hanya terpenuhi bayang-bayangnya, dia—Park Chanyeol.

“Yoona, Yoona-ya, kau melamun?” Kedua pupil mata Yoona tiba-tiba menangkap dua buah telapak tangan yang sekarang menghalanginya untuk melihat gerombolan lelaki disana. Yoona mengerjap.

Ey, kau melamun lagi Yoong?” Suara Yuri kini telah sempurna membuyarkan lamunannya. Yoona tergugup, lagi-lagi tertangkap basah tengah melamun dihadapan mereka.

“Ya ampun, kau sering melamun akhir-akhir ini Yoong. Apa yang sedang kau pikirkan?” Kini Sooyoung angkat bicara. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Yoona menarik napas panjang.

“Sepertinya sesuatu yang menyenangkan bersarang di pikirannya Soo.” Yuri menimpali dengan nada jahilnya. Yoona kembali terdiam, sesuatu yang panas terasa menggejolak dikedua pipinya sekarang. Kedua gadis disampingnyaitu perlahan menatapnya dengan tatapan menggoda mereka.

“Hey, ada apa dengan wajahmu Yoong?” Sooyoung dengan tiba-tiba tersenyum penuh arti. Yoona merasa ia tertangkap basah lagi sekarang. Yuri dan Sooyoung meledak dalam tawa sedetik setelah Yoona menutup wajahnyayang bersemu malu.

“Oh ayolah, siapa lelaki yang beruntung itu? Beritahu kami.” Tubuh Yoona terguncang ketika kedua tangan dua gadis dengan rasa ‘ingin tahu’ disampingnya itu mendesaknyauntuk memberitahu mereka. Yoona berpikir keras, apa yang harus ia katakan?

.

Kepala Chanyeol tak henti berputar, matanya menelusuk kesetiap sudut gedung dengan tinggi lumayan menjulang itu. Disinilah dia; Hanyoung High School, berjalan menapaki setiap ubin dilorong-lorong yang tidak terlalu ramai. Lima puluh menit sudah Chanyeol habiskan untuk berkeliling mencari seorang gadis dengan seribu pesona yang membuatnya tak henti untuk memikirkannya.

“Chanyeol-sshi?.”

Sebuah suara selembut beludu yang belakangan selalu terngiang di kepalanya kini kembali terdengar. Chanyeol menolehkan kepala ke sumber suara. Demi apapun, dia ingin sekali menjerit senang. Im Yoona sekarang dihadapannya. Gadis yang dia cari selama lima puluh menit kebelakang. Tanpa aba-aba, kedua sudut bibir Chanyeol ikut tertarik. Lelaki itu menunjukkan senyum terbaiknyahanya untuk Yoona. Dan Chanyeol bersumpah rasanya dia ingin pingsan ketika Yoona balas tersenyum padanya.

“Hai,” Chanyeol mengangkat tangan kanannya untuk melambai pada Yoona. Tungkainya membawa Chanyeol mendekati gadis itu perlahan.

“Kau juga kemari?.” Yoona bertanya—sekedar basa basi karena kenyataannya ia tahu Chanyeol datang saat di koridor tadi.

Chanyeol mengangguk mantap. Lagi-lagi, tersenyum. Sepertinya bibirnya itu tak akan bisa berhenti tersenyum jika Yoona ada di hadapannya. “Temanku, Oh Sehun, mewakili sekolah kami hari ini. Jadi, aku datang untuk memberinya semangat.”

Chanyeol memang sudah tak bisa berhenti menatap gadis jelita itu. Dirinya menanti dan menanti akan respon dan ekspresi selanjutnya dari wajah sempurna Yoona.

Yoona mengangguk kecil, tangannya yang menggenggam sebuah tas kecil kini terangkat keudara.“Bisa bantu aku?”

.

Acara dance battle diselenggarakan di aula utama Hanyoung High School. Dan karena itulah salah satu alasan yang membuat tamanitu menjadi sangat sepi. Setiap siswa tentu saja terseret kedalam Aula. Entah memang untuk melihat acara atau mungkin hanya untuk mencari perhatian anak sekolah lain.

Tapi mereka tidak seperti yang lainnya. Kedua insan itu kini hanya duduk diam di salah satu bangku taman sekolah yang sedikit berkarat. Samar-samar terdengar debuman stereo dari dalam ruangan dan beberapa teriakan histeris para gadis yang entah dari mana asalnya. Samar-samar juga terdengar suara mikrofon yang meminta para siswa untuk tenang. Chanyeol mendesah, hal itu membuat dirinya lupa tentang apa yang akan dikatakannya.

Yoona menoleh, alisnya saling bertaut karena bingung.“Ada apa? Apakah disini terlalu berisik?”

“Ah tidak. Setidaknya tempat ini tidak sebising di dalam. Aku suka tempat ini.”

Gadis cantik itu tersenyum lagi. Surainya yang kecoklatan sedikit teracak oleh hembusan angin yang menggoda.

“Oh iya, ini bekal ku. Kau mau membantuku kan?.” Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Kepalanya sedikit miring ke kiri, berusaha memahami maksud dari pertanyaan Yoona sedetik yang lalu. “Mm. maksudku, bantu aku menghabiskannya. Aku tidak mungkin menghabiskan ini sendirian.”

Lelaki itu terdiam sejenak. Matanya menatap Yoona dengan lekat. Degup jantungnya terus berpacu dan itu membuatnya khawatir karena mungkin saja Yoona akan mendengarnya.

“Kau tidak mau? Y–yasudah.”

“Tidak! Kebetulan aku belum sarapan tadi.” Sergah Chanyeol dengan seulas senyuman garing yang kikuk. Yoona tersenyum juga, lebih tulus dari sebelumnya.

“Ini buatan Youngran, dia juga menitipkan salam untukmu.”

“Ah benarkah? Tolong sampaikan juga salamku padanya.”Yoona mengangguk sembari mulai membuka kotak makanan berwarna pink di tangannya.

“Tentuakan kusampaikan.”

Detik-detik selanjutnya. Kedua insan itu menghabiskan waktu mereka dengan berbincang hangat. Tentu saja, ditemani dengan sebuah kotak makan yang sudah tak bersisa.

Di sudut lain, sepasang matahitam menatap pemandangan itu dengan risih. Kedua alis yang menggantung di atas mata elang itu kini bertaut bingung. Detik selanjutnya, bibir lelaki itu tertarik sedikit. Bukan sebuah senyuman, tetapi lebih berkesan sebagai sebuah seringaian. Ya, sebuah seringaian.

.

Kim Jongin membuka pintu rumah dengan malas. Suara debaman pintu yang kembali ditutup langsung membuat sepasang mata mungil melotot padanya. Jongin mendelik dingin pada si empunya mata mungil tersebut sedetik setelah pandangan mata mereka bersirobok. Sedangkan si empunya mata yang tidak lain adalah Kim Youngran hanya mendesis sebagai balasan dan kembali memfokuskan diri pada layar persegi yang menampilkan beribu macam warna. Sesekali gadis itu ikut bernyanyi ditemani remote yang berubah menjadi mikrofon mendadak ketika sebuah klip terputar dan musik bergenre pop mengalun disana.

Jongin meneruskan langkahnya ke kamar. Rumah mereka memang sepi, sang ibu masih berada ditoko dan Yoona sepertinya belum pulang. Bicara soal Yoona, seberkas ingatan tiba-tiba mendarat di pikiran Jongin. Sesuatu yang membuat mood nya hari ini buruk total. Ya, to-tal.

Ia masih ingat bagaimana seorang gadis tiba-tiba berteriak di dalam bus bahwa kakaknya cemburu padanya. Lalu, setelahnya Yoona meninggalkannya di bus. Dan, kejadian dimana ia memergoki Yoona tengah berbicara di taman belakang bersama seorang lelaki yang sebelumnya ada di bus tadi pagi—lelaki yang secara tidak langsung membuat Yoona meninggalkannya di bus.

Jongin melempar asal tas ranselnya ke ranjang. Rentetan pertanyaan tentang siapa lelaki itu dan apa hubungannya dengan Yoona terlalu mengusik kepalanya. Jongin berjalan cepat kembali ke ruang tengah dimana adiknya kini tengah menari-nari dan bernyanyi yang menurut Jongin suaranya bahkan tidak lebih baik dari radio-tape nya yang rusak, remote televisi bahkan masih tergenggam erat dalam tangan kirinya.

“Youngran?” Jongin sedikit berteriak ditengah musik pop dengan volume keras dari layar persegi itu. Jongin melongo ketika adiknya itu menggerakkan tubuhnya seperti cacing kekurangan nutrisi di musim panas, begitu membuat perutnya tergelitik ingin tertawa. Ia bahkan bersumpah, tariannya ketika ia masih pemula tak akan sejelek itu. Ck.

“Apa?.” Youngran merespon tanpa berhenti dari aktifitas mengasyikkannya. Ia kembali bergerak lincah mengikuti alunan dan gerakan asli yang ditampilkan layar persegi itu.

“Tadi pagi kau mengatakan sesuatu tentang teman pria tampan pada Yoona kan?”

Youngran menoleh—masih dengan gerakan lincahnya, gadis itu menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti tapi di detik berikutnya ia kembali menatap layar. “Ya.” Jawabnya singkat dan kembali bernyanyi.

Jongin mendengus. “Siapa pria itu?.” Untuk beberapa saat Youngran tak menunjukkan responnya, Ia tengah bersiap kembali bernyanyi ketika remote televise itu hanya berjarak beberapa senti dari mulutnya. “Sorry sorry sorry—” Youngran tiba-tiba berhenti. Ia beralih menatap Jongin aneh. “A-apa?”

Jongin mengendikkan bahunya. “Apanya yang apa?”

Youngran mendengus, dengan setengah hati ia mematikkan televisi lalu berjalan menghampiri Jongin, ia berkacak pinggang seraya memasang raut wajah yang menurut Jongin sangat aneh. Oh ayolah, dari berjuta-juta ekspresi wajah kenapa adiknya selalu memasang wajah bodoh seperti itu? Sangat merusak citra dirinya yang dikenal sebagai pemilik gen terbaik disekolahnya.

“Apa yang tadi kau tanyakan? Pria itu? Pria siapa yang kau maksud?”

Ey!” Jongin menoyor kepala Youngran lalu kembali mendengus. “Benar benar. Kau ini lamban sekali! Pria yang tadi pagi kau bilang tampan, bodoh!.” Youngran tampak berpikirsejenak, menggaruk dagunya seperti kebanyakan orang lakukan dalam drama ketika tengah berpikir serius.

“Itu, apakah pria dengan rambut hitam, tubuh tinggi, mata seperti kucing dan juga kulit y—”

“Kulit yang lebih putih darimu, begitu?” Youngran terkekeh ringan setelah berhasil memotong ucapan Jongin.

Jongin melotot. “Kau benar-benar menyebalkan ya!” katanya yang kemudian tanpa segan menjitak kepala adiknya itu.

“Hei!”

“Baiklah, ayo hentikan! Berdebat denganmu hanya membuang sia-sia tenagaku, tahu!”

Youngran mengedikkan bahunya tak peduli, bermaksud kembali berjalan menuju televisi sebelum akhirnya Jongin berbicara lagi. “Sekarang, kumohon dengan sangat jawab pertanyaanku dengan benar?”

“Ini ujian ya? Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu dengan benar?”

Jongin kembali melotot, mulai tidak sabar. Jongin hendak menjitak kepala Youngran lagi namun gadis itu sekarang sudah lebih waspada. “Baiklah baik, kau ingin bertanya apa? Cepat ya.”

Bibir Jongin tertarik melengkung, sebuah senyuman lebar disana. “Siapa teman pria Yoona itu hm?” tanyanya manis.

Kening Youngran mengerut, ia tampak berpikir sejenak lalu sebuah seringaian tiba-tiba terpampang di wajahnya. “Bagaimana kalau kau traktir aku eskrim? Lalu aku akan menjawab pertanyaanmu.” Alis Youngran naik turun mencoba membuat kesepakatan.

“Kau berusaha menipuku ya? Bagaimana jika setelah aku membelikanmu eskrim, tapi kau tidak tahu jawabannya? Aku sudah tahu semua akal busukmu itu!” Lagi, Jongin menoyor kepala Youngran hingga gadis itu berdecak kesal.

“Hei Jongin! Singkirkan pikiran kotormu itu.” Youngran hendak menoyor balik kepala Jongin jika saja pria itu tidak melotot padanya. “Kenapa kau selalu berpikiran buruk pada adikmu, aku bahkan tahu banyak tentang teman Yoona Eonni. Bahkan aku ber—” Gadis itu tiba-tiba berhenti mengoceh.

“Apa?”

“Emm, aku ber-bersahabat ba-ik dengan adiknya teman pria Yoona Eonni.” Jawab Youngran ragu. Ia berpikir benarkah kalimat itu keluar dari mulutnya? Bersahabat dengan gadis angkuh itu? Yang benar saja!

Jongin mengangkat alisnya ragu. “Kau tidak berbohong kan?.”

“Yasudah kalau kau tidak percaya.” Youngran segera berbalik dan hendak berjalan kembali ke arah layar persegi itu, tapi sebelumnya tanpa pikir panjang Jongin menarik kerah kaos Youngran hingga ia tertarik ke belakang seperti anak kucing.

“Baiklah kita sepakat.”

.

“Rasa coklat.” Ini kesekian kalinya Jongin berdecak ketika Youngran mengingatkan pria itu tentang pesanan eskrim nya di sepanjang jalan tadi. Oh ayolah, ingatannya tidak buruk! Jongin akan mengingatnya walau gadis itu hanya mengatakannya sekali.

Setengah hati, Jongin hanya mengangguk malas dan segera angkat kaki dari meja yang diduduki adiknya itu.

Jika bukan karena berhubungan tentang Yoona, ia bersumpah tak akan mau membelikan Youngran eskrim. Ya, Jongin menyukai Yoona. Entah sejak kapan dan darimana rasa suka itu muncul. Yang ia tahu, ia menyukai gadis cantik itu. Gadis yang notabennya adalah sepupu nya. Bahkan dari berpuluh-puluh gadis cantik disekolah yang mengajaknya berkencan, ia hanya ingin berkencan dengan Yoona.

Tak banyak yang mengetahui Jongin menyukai Yoona, hanya dua teman terdekatnya, juga si menyebalkan Kim Youngran. Bodohnya, saat diperjalanan tadi tanpa sadar Jongin telah mengakui dirinya menyukai Yoona pada Youngran. Jika saja adiknya yang menyebalkan itu tidak terus menggoda nya ia mungkin tak akan keceplosan seperti tadi.

Jongin kembali berjalan kearah meja yang diduduki Youngran setelah ia mendapatkan satu mangkuk kecil eskrim.

“Hanya pesan satu?.” Youngran menatap heran mangkuk eskrim yang tengah Jongin pegang.

“Aku sedang tidak ingin makan eskrim.”

Youngran mendesis, ia segera melahap eskrim coklatnya itu. “Aku tidak menanyakan eskrim untukmu, maksudku kurasa jika hanya satu mangkuk kecil ini perutku tidak akan kenyang.”

Jongin mencelos. Adiknya ini benar-benar bisa membuatnya darah tinggi.“Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku.”

“Apa?”

“Teman pria Yoona itu, siapa dia?” Jongin menatap Youngran dengan serius.

“Oh itu, namanya Park Chanyeol.”

“Apa mereka sangat dekat?.”

“…”

“Sejak kapan Yoona punya teman pria?.”

“…”

“Apakah mereka sering bertemu?.”

“…”

“Kim Youngran! Jawab pertanyaanku!”

Youngran menaruh sendok kecil itu ke mangkuk. Eskrim dihadapannya sudah lenyap tak bersisa. Jongin melongo, jika tidak salah belum sampai dua menit ia menaruh mangkuk itu dimeja. Astaga.

“Eskrimmu sudah habis, sekarang jawablah.” Jongin melipat tangannya didada, memasang telinganya dengan baik dan menuggu Youngran bicara dengan sabar.

Kening Youngran berkerut. “Apa? Jawab apa?”

“Tentu saja jawab pertanyaanku bodoh.” Wajah Jongin kembali memerah lantaran kesal. Namun adiknya itu menatapnya biasa saja, seolah tak akan terkejut jika Jongin meledak sekarang.

“Tidak mau.” Kata Youngran dengan santai.

“Apa? Kenapa?”

“Aku sudah menjawab pertanyaanmu tadi. Lagipula kau hanya membelikanku satu mangkuk kecil eskrim. Jadi sudah ku putuskan, satu pertanyaan untuk satu mangkuk eskrim.” Youngran tersenyum lebar. Baginya, ini adalah waktu yang tepat untuk balas dendam pada Jongin setelah malam kemarin pipinya ini menjadi sasaran keganasan Jongin semalamam. Bahkan perlu waktu beberapa jam untuk membuat kedua pipinya itu tak terlihat memerah karena cubitan lelaki dihadapannya.

“Apa? Mana bisa begitu? Kau gila ya! Kau harus menjawab semua pertanyaanku seperti kesepakatan kita tadi.”

“Yasudah kalau kau tidak mau, aku tidak memaksa.” Youngran bangkit dari duduknya, ia berjalan santai melewati Jongin dengan sebuah senyuman kemenangan.

“Hei Kim Youngran!”

.

Minhwa mengangguk dan tersenyum sebelum akhirnya mengakhiri panggilan. Setidaknya, perasaannya kini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Matanya yang bulat menatap riang layar smartphone berwarna pink baby yang kini di genggamnya. Detik selanjutnya, gadis itu beralih menatap sang kakak yang diam bersandar di dinding. Garis wajah Park Chanyeol terlihat tenang. Rambutnya sedikit acak-acakan entah disengaja ataupun tidak. Minhwa berjalan mendekati kakaknya.

“Kau licik Park Chanyeol!” Sindir Minhwa sembari mengangkat dagunya. Chanyeol membetulkan posisinya, mengubahnya menjadi berdiri tegak dengan kedua tangan melesak di dalam saku jeans. Pria itu tersenyum.

“Jadi, kau memaafkanku?” Tanya Chanyeol riang. Ya, sudah beberapa hari ini Minhwa mogok bicara padanya. Dan untungnya, baru saja Yoona meneleponnya dan membujuk Minhwa untuk memaafkan Chanyeol.

Minhwa berdecak. “Cih, siapa bilang? Kau belum meminta maaf padaku, omong-omong.”

“Baiklah, aku minta maaf.” Ucap Chanyeol sembari menyodorkan jari kelingkingnya. Minhwa menatap sejenak jari kelingking sang kakak yang memang terbilang panjang itu. Jari kelingkingnya yang memang lebih kecil, dengan riang menyambut jari kelingking itu dengan menautkannya.

“Baiklah. Aku memaafkanmu.”

“Nah, begini lebih baik.” Chanyeol mengacak rambut sang adik dengan lembut sebelum berlalu. Kakinya melangkah hendak meninggalkan kamar Minhwa yang di dominasi oleh beberapa warna cerah itu.

Oppa,” Chanyeol menoleh, menatap Minhwa yang kini berdiri tidak jauh darinya.

“Ada apa?”

“Yoona Eonni, apa kau—apa kau menyukainya?”

Chanyeol terhenyak, tubuhnya secara otomatis berbalik menghadap Minhwa. Matanya menatap Minhwa gelisah, apa dirinya terlalu mudah ditebak? Bagaimana bisa Minhwa mengetahui itu? Seharunsnya hanya dirinya yang tahu.

Chanyeol tersenyum “Bagaimana jika iya?”

Minhwa tertegun. Matanya yang bulat menatap lantai dengan gusar. Tangannya terangkat untuk memijat pelipis kirinya yang mungkin berdenyut. “Aku mengerti, tapi sepertinya—akan lebih baik jika,” Minhwa mengangkat kepalanya untuk menatap Chanyeol. “Akan lebih baik jika kau tidak menyukainya.”

Chanyeol berjengit bingung. Matanya menatap Minhwa gelisah. “K-kenapa?”

“Ini akan sulit. Kau tahu ini akan sangat sulit.”

“Minhwa, katakan padaku apa maksudmu sebenarnya? Kau terlalu berbelit-belit, aku tidak mengerti.” Terdengar secercah nada gelisah dalam suara bass pria itu. Minhwa menggeleng lemah.

“Kau tentu sudah tahu, Eomma juga Appa sudah mengatur segala sesusatu tentang kau dan aku.”

Chanyeol mengerutkan dahinya tidak mengerti. Minhwa menghembuskan nafasnya kesal. Kakaknya tidak juga mengerti. Benar-benar pria bodoh. “Mereka sudah menempatkan kau dalam lingkaran perjodohan. Begitupun aku, mereka juga akan menempatkan aku dalam perjodohan. Kau tahu, kemarin mereka mengatakan tentang calon istrimu nanti.”

Saat itu juga ruangan terasa menyempit. Chanyeol sedikit terhuyung kebelakang karena terkejut. Kepalanya mendadak pening dan nafasnya tercekat.

Minhwa mengamati ekspresi tak terbaca dari sang kakak. “Mereka sudah merencanakan perjodohan untukmu.” Ujar Minhwa hari-hati.

Chanyeol menarik nafas sekuat tenaga. Apa? Perjodohan?

 

TBC.

20 thoughts on “(Freelance) In Your Eyes (Chapter 3)

  1. oh tidak kenapa di dunia ini harus ada perjodohan ? orangtua nya chanyeol nampaknya tidak pengertian . dan kenapa jongin harus suka sama yoona ? padahal udah aja kaya ade dan kaka

  2. Sama yg mw dijodohkn ma chanyeol mkin pnsran niii..
    Aplgi keduanya udh mulai tertrik,, ditmbh jongin jg suka ma yoona mkin seru aja

  3. Apa? Perjodohan? Wow… Kyaknya akn sulit nih kisah cinta YoonYeol.
    Aigoo, it Kai mau ja d’manfaatin ma Youngran hanya utk tahu hub yoona dgn chanyeol, akhrnya ktahuankn klu Kai suka yoona.
    Makin seru n k0nfliknya kyaknya bkal muncul nih
    next chap d.tnggu!
    Fighting~
    keep writting thor!

  4. AAAaaaaaah… seneng bggt.. so sweet…. awalnya seneng, tpi trakhirnya ap ituh.. perjodohan… waduuuuuh.. aaaaaah.. gawat…. lnjut eon.. keep fighting ^^

  5. yahh…udah seneng” yoonyeol bisa deket
    ehh chenyeol mau di jodoh’n huff…
    kira” apa yg chenyeol lakukan?
    di tunggu bgt part sljut nya…

  6. Makin seru ceritanya..penasaran deh sama kelanjutannya…
    Siapa ya yg dijodohin sama Chanyeol ? Apa mungkin Jessica ?

    Cepet dilanjut ya thor..😉

  7. Wuhuu diupdatee,
    Chanyeol dijodohin, semoga kuat aja yah
    Dan kai juga pengennya sadar diri kalo sebenernya dia itu sepupu yoona, bukan temen yoona yang bisa ngecrush sesuka hati
    Pokoknya intinya itu, chanyeol cuma boleh sama yoona dan yoona cuma boleh sama chanyeol(di ff ini)
    Next chapternya jangan lama” ya thorr

  8. waahhh,,,in your eyes udah update,,,wah wah wah,,,sedikit mengejutkan mengingat yoona adalah sepupu KAI tapi,,,?/ aduhh semoga aja KAI gak berbuat jahat,, pas tadi baca part “seringai”.. ,,atau itu tadi orang lain, orang yang berada dilingkungan sekolah yoona teman sekolah yoona mungkin,,,suka banget apalagi kekocakan duet kakak adik KAI ama YOUNGRAN,,,hhh,,youngran ni tipe pemeras juga ya,,,hhh meras buat dibeliin ice cream..
    CHANYEOL ama MINHWA suka interaksi mereka.
    buat moment yang lbih banyak lagii dong untuk CHANYOON nya,,,aku masih kuraaaaanggg,,,hihihihi
    ditunggu part 4nya…fighting,,!!!!

  9. udah enak baca part atasnya eh… makin kebawah kok ada kata perjodohan itu kayak kena jantungan mendadak *oke lebay* lanjutkan thor daebak ceritanya

  10. Cacing kekurangan nutrisi di musim panas. Ngakak serius baca itu. Tapi kereen thoor, next yaaa, jangan lama2 ^^

  11. Bacaa chapter ini senyum2 sendiri sm kelakuan yoona and chany,,isshh malu2 kucing… Weeehh tytaa sii jongin suka sm yoona tooh,,daaann suka sm moment youngran and jongin lucu.. Gmn nnti kedepannnya hub chanyoon?? Lancarkaah?? Trs syapa yg bakal d jodohin sm chany,, jessi kaah?? Waaahhh d tunggu chapt selanjutnya yg sepErtinya masih panjang.. 3/12,,hwaitiing saengii..

  12. see! dugaanku bener! jongin suka sama yoona! tapi kenapa youngran biasa2 aja pas tahu kakaknya suka sama yoona yg notabene sepupunya sendiri -_-
    oh ya ampun -_- chanyeol mau dijodohin?!
    aku nunggu interaksi youngran sama minhwa, pasti bakal lucu wkwkwk

  13. Hah.. chanyeol mau dijodohin ??? Andwae ..chanyeol cuma untuk yoona .. tapi jongin kok suka sama yoona ya?? Padahal yoona kan sepupunya?? Next chapter ditunggu ya thor

  14. Ah Chanyeol mau djodohin, itu pasti Jongin bkan sppu asli Yoong eonni, klau sppu kan g bleh.
    Hmm, dtunggu klnjutannya thor !!
    FIGHTING !!!

  15. Padahal lagi rame2nya thor. Kalau chanyeol di jodohin nanti yoona gimana? Terus perasaan kai ke yoona gimana? Makin complicated. Di tunggu thor

  16. waaaahhhh akhirnya publish juga ff ini..
    aaa..seneng banget sama ff ini.bikin penasaran…
    lagi seru”nya baca malah ad tulisan TBC nya -_-
    part selanjutnya pliiisss dipercepat ya thooor…
    soalnya ff ini keren sumpah *lebay*

    kalo boleh riquest minta chanyeolnya ngk usah malu” lagi sama yoona ato ngajak kencan ato kenalin ke ortunya biar perjodohannya dibatalkan…
    tp terserah author sih mau milih jln ceritanya kaya apa..

    semangat ya thoor..
    fighting..
    ganbate😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s