(Freelance) Fiction

Fiction

 FICTION

 

Author                  : Chobi
Tittle                     : Fiction
Cast                       : Kim Jongin, Im Yoona

Support cast       : Kim Jiwon
Genre                   : Romance
Rating                   : PG 15
Length                  : Oneshoot

Disclaimer          : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini cuma karangan aku aja, GAK NYATA. Typo bertebaran bak daun-daun yang berguguran di musim gugur. Jadilah pembaca yang baik.

 

 

Sinar matahari pagi mulai mengusik tidurku. Namun aku tak berniat beranjak dari tempat tidur yang lembut ini, dinginnya udara pagi membuat kedua tanganku menarik selimut berwarna putih untuk menutupi seluruh tubuhku.

 

PRANG!!

Suara benda yang jatuh ke lantai membuat kesadaranku pulih. Sontak aku terbangun dan mataku segera melihat ke arah lantai, disana ada sebuah bingkai foto berukuran sedang yang terbalik dan dikelilingi pecahan kaca.

 

Aku membuka selimutku, beranjak bangun dari tempat tidur, ku arahkan kakiku mendekati pecahan bingkai dan ku gerakkan tanganku untuk mengambilnya. Dengan hati-hati aku mengambil bingkai foto itu dan melihatnya.

 

DEG!

Mataku terpaku melihat sesosok pria yang sangat ku kenal terpampang disana, dan di bingkai itu terlilit pita putih bercampur hitam. Di kelilingi puluhan bahkan ratusan bunga berwarna putih yang menandakan bahwa seseorang yang ada di dalam foto tersebut sudah meninggal.

 

Tanpa ku sadari, setetes air mata membasahi pipiku. Ada apa denganku? Bukankah ini hanya sebuah lelucon? Mengapa aku menangis? Mengapa hatiku terasa sangat sakit melihat foto itu? Siapa yang tega berbuat seperti itu pada kekasihku, jika memang hanya gurauan, kurasa itu sudah sangat keterlaluan.

 

Aku hendak berbalik pergi mencari siapa yang tega melakukan hal itu. Namun ketika aku ingin berbalik, ada sepasang tangan yang melingkari pinggangku. Aku pun menolehkan kepalaku sedikit ke belakang.

 

Jongin-ah..” Ucapku melihat kekasihku tengah tersenyum hangat padaku. Ia memakai pakaian serba putih dan wajahnya sedikit pucat.

 

Selamat pagi Im Yoon-ah..” Sapanya padaku.

 

Aku menaruh bingkai foto yang sempat kupegang di atas meja yang berada tak jauh dariku, setelah itu aku berbalik menghadap ke arahnya dan memeluknya. Aku sangat merindukannya..

 

Tak lama, ia menjauhkan tubuhnya dariku, dan senyum indah yang selalu menghangatkanku menghilang dari bibirnya, ia menatapku dengan serius sembari mengarahkan kedua tangannya ke arah wajahku dan mengusap air mata yang membasahi pipiku.

 

Mengapa kau menangis?” Tanyanya padaku.

 

Ada apa denganku? Mengapa aku ingin semakin menangis lagi meliwat wajahnya?

 

Aku merasa Bahwa Yoona pagi ini bukanlah Yoona yang sebenarnya, karena tidak biasanya aku seperti ini.

 

Ada apa denganmu? Mengapa kau terus menangis?” Tanyanya lagi.

 

Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku juga tidak tahu mengapa aku seperti ini. Aku bahkan bingung melihat sikapku yang seperti ini.

 

Aku melirik kembali bingkai foto yang ku letakkan di atas meja, mengapa benda itu sepenuhnya mencuri perhatianku?

 

Ohh.. Kakimu terluka” ucapnya dengan raut wajah yang panik.

 

Aku menoleh ke arah bawah untuk melihat keadaan kakiku, benar saja, Ibu jariku tengah mengeluarkan darah segar karena goresan kaca yang tidak sengaja ku injak. Tapi kenapa tidak terasa sakit sama sekali?

 

Tiba-tiba Jongin menggendong ku dan membawaku ke ruang tamu, aku di dudukan di sebuah sofa berwarna coklat yang bertekstur lembut.

 

Aku tersadar akan sesuatu. Ini bukanlah rumahku. Aku memandangi sekelilingku, banyak foto keluarga Jongin yang terpajang rapih di dinding, benar ini adalah rumah kekasihku, Kim Jongin. Mengapa aku bisa disini?

 

Jongin datang membawa kotak P3K. Ia duduk di lantai, mengangkat kakiku dan menarunya di lututnya. Dengan hati-hati ia membersihkan luka di kakiku.

 

Jongin-ah..” Panggilku.

 

Hemm?” Jawabnya tanpa memalingkan wajahnya ke arahku. Ia sangat serius mengobati kakiku.

 

Mengapa aku bisa disini? Dimana Ibumu?” Tanyaku padanya. Aneh rasanya bahwa rumah ini terasa sangat sepi, karena biasanya setiap kali aku pergi ke rumah ini, suasana ramai selalu ku rasakan, Ibu dan Adik Jongin kerap kali berbincang denganku, namun kini sunyi, sangat sunyi.

 

Ia tak menjawab satu pun pertanyaanku, ia sibuk melilitkan perban putih pada Ibu jariku. Setelah selesai ia menaruh kotak P3K di atas meja dan duduk di sebelahku.

 

Aku ingin menghabiskan waktuku hari ini hanya berdua denganmu.. Karena besok aku harus pergi” ucapnya dengan lesu sembari merangkul pundakku.

 

Pergi? Kemana? Kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya..

 

Jongin menoleh ke arahku. “Aku baru saja memberitahumu!” Ia mengapit hidungku dengan kedua jarinya.

 

Aakk..” Ringisku. Ia suka sekali melakukan hal itu, walaupun sebenarnya aku tidak menyukainya.

 

Kemana? Kemana kau akan pergi?” Tanyaku sembari merengek. Namun pertanyaanku tak kunjung mendapat jawaban.

 

Jongin kembali berdiri, ia mengulurkan tangannya padaku. “Ayo! Aku sudah membuatkanmu sarapan

 

Aku menggenggam tangannya dan hendak berdiri. Namun sebelum itu semua terlaksana, dengan cepat ia melepaskan genggaman tanganku dan kembali menggedongku.

 

Aku lupa, kakimu sedang terluka..” Ucapnya dengan tersenyum sembari berjalan ke arah dapur.

 

Tidak!! Turunkan aku!! Aku baik-baik saja” Aku menolak diperlakukan layaknya seperti orang sakit.

 

Aku terus memberontak minta diturunkan. “Kim Jongin!! Cepat turunkan aku!! Jangan memperlakukan aku seperti ini!! Cepat turunkan!!” Ocehku tanpa henti tepat di telinganya.

 

Akhirnya ia memenuhi permintaanku. Aku tersenyum padanya. “Lihat ini!!” Aku berlompat-lompat tinggi di tempat, menunjukan padanya bahwa aku tidak merasa sakit sama sekali.

 

Yak!! Hentikan!!” Jongin memegang pundakku untuk menghentikanku.

 

Aku tertawa melihat kepanikannya. “Lihat wajahmu! Kau lucu sekali Jongin-ah..” Ucapku sekaligus menarik tangannya ke arah dapur.

 

Sampainya di dapur, mataku tertuju pada sebuah mangkuk yang cukup besar berisikan ramyeon dan terlihat sangat menarik di atas meja.

 

Ohh.. Kau yang memasaknya?” Aku mendekati makanan itu, rasanya ingin sekali aku mencobanya.

 

Jongin berdeham mengiakan sembari mengangguk. Ia berjalan mendekatiku lalu menyendokan kuah ramyeon dan menyuapiku. “Bagaimana rasanya?” Tanyanya penuh harap.

 

Ketika lidahku merasakannya, tak ada perbedaan rasa dengan ramyeon yang lainnya. “Tidak ada yang special dari rasanya, memang apa istimewanya dari ramyeon ini? Bukankah semua bumbunya sudah disediakan?

 

Kulihat ia mendengus pasrah karena jawabanku pasti tak sesuai dengan keinginannya. Ia pun menyendokan ramyeon tersebut ke dalam mulutnya. “Yak!! Jelas ini rasanya berbeda! Karena aku membuatnya sendiri!” Ucapnya menilai masakannya sendiri.

 

Ahh, aku ingat bahwa Jongin adalah pria yang sama sekali tidak bisa memasak, bahkan ramyeon yang sangat mudah pun ia tidak bisa, tapi kali ini ia berhasil membuat ramyeon yang rasanya memang pas. “Kerja bagus Kim Jongin!! Ini enak sekali” pujiku untuknya.

 

Kau sudah mengatakan yang sejujurnya tadi.” Ia mengangkat mangkuk itu dan membawanya ke meja makan, aku pun mengikutinya.

 

Ia memakan sendiri ramyeon buatannya dengan lahap. “Bukankah kau memasak ramyeon itu untuk ku?

 

Bukankah kau tidak ingin memakannya?” Tanyanya tanpa menoleh ke arah ku.

 

Kapan aku berkata seperti itu? Kubilang ramyeon buatanmu enak. Kemarikan!” Aku langsung duduk di kursi tepat di sebelah Jongin dan menarik mangkuk itu ke meja makanku.

 

Aku melirik ke arahnya, ia tersenyum kecut dan tangannya mengusap puncak kepalaku. Hal yang sangat aku sukai darinya.

 

Jongin beranjak dari tempat duduknya, tak lama ia kembali dengan membawa sebuah kamera polaroid berwarna hitam. Ia memotretku yang tengah menikmati ramyeon buatannya berkali-kali.

 

Lalu ia berdiri tepat di sebelahku, melingkarkan tangan kirinya di leherku, mendaratkan bibirnya di pipiku lalu dengan tangan kanannya ia mengambil foto kami berdua.

 

Aku termasuk ke dalam kategori wanita yang menyukai selfie, kini aku mengambil alih kamera tersebut dan mulai memotret diriku sendiri bersama Jongin dengan beraneka macam gaya.

 

Setelah selesai melakukan selfie, Jongin kembali duduk di kursinya dan melihat semua foto. Aku melihat raut wajahnya yang sangat senang, tidak biasanya ia begitu antusias dengan kegiatan selfie.

 

Aku akan membawa semua foto ini.” Ucapnya tanpa memalingkan pandangannya dari lembaran foto yang tengah berada di tangannya.

 

Ahh, aku teringat kembali akan perkataannya yang menyatakan ia akan pergi, aku masih belum mendapatkan jawaban kemana dia akan pergi.

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku! Kemana kau akan pergi?” Tanyaku dengan menggerakkan lengannya.

 

Lagi, pertanyaanku di abaikan olehnya. Ia tetap sibuk dengan foto-foto tersebut. “Lihat! Kau cantik Yoona-ah..” Ia menunjukan fotoku yang tengah tersenyum.

 

Mendadak perasaanku menjadi gelisah tak menentu. “Kim Jongin!!” Panggilku sedikit tegas.

 

Hem?” Jawabnya sembari melihat ke arah ku.

 

Kemana kau akan pergi?” Tanyaku lagi.

 

Ia terdiam sembari menatap dalam mataku. “Kemanapun aku pergi, kau tidak bisa ikut bersamaku

 

Kenapa begitu?” Tanyaku lesu.

 

Tempat yang akan kutuju terlalu jauh.” Ucapnya, ia menempatkan tangannya ke pipiku, lalu dengan lembut ia mengelusnya.

 

Aku tidak bisa menutupi rasa kecewaku darinya. “Apa kau pergi sendiri?

 

Jongin mengangguk.

 

Berapa lama?” Aku terus bertanya seakan aku tidak mengizinkan rencana kepergiannya.

 

Ia tersenyum padaku. “Aku akan menunggumu” ucapnya.

 

Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya, apa aku harus pergi menyusulnya? Bagaimana aku bisa menyusulnya jika tempatnya saja aku tidak tahu.

 

Menungguku?” Aku mengulang ucapannya yang bermaksud untuk meminta penjelasan lebih darinya.

 

Tiba-tiba saja Jongin menarik tanganku dan kami kembali ke kamar, pecahan kaca yang sebelumnya berserakan sudah tidak ada. Ia membawaku mendekati jendela kamarnya, disana aku melihat beberapa tali yang membentang dari kedua sisi jendela.

 

Jongin menjajarkan semua lembaran foto di meja yang ada di depan jendela, lalu ia memilih sebuah foto dan ia segera menggantungnya di tali menggunakan sebuah jepitan. Ia terus melakukan sampai semua foto tergantung indah disana.

 

Kau bilang, kau akan membawa semuanya?” Tanyaku sembari menoleh ke arahnya.

 

Ia balas menoleh ke arah ku dan tersenyum, tangannya menarik tubuhku mendekat, ia bergeser mundur dan berdiri tepat dibelakangku, tangannya melingkari leherku dan pundaku dijadikan tempat bertumpu kepalanya.

 

Nyaman sekali berada di dalam pelukannya. Aku menutup kedua mataku menikmati kehangatan yang berasal dari pelukan tubuhnya. Aku merasa ia semakin erat memeluk tubuhku.

 

Malam pun tiba, aku melihat jam dinding yang menunjukan pukul 11 malam. Hari ini begitu cepat berlalu.

 

Aku dan Jongin sedang merebahkan tubuh kami di tempat tidur, kami saling berhadapan, memandang satu sama lain.

 

Selamat tinggal..” Ucapnya.

 

Aku diam, mataku tak sekalipun berpaling darinya. Rasanya aku tak bisa mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Sampai saat ini ia belum mengatakan kemana dia akan pergi.

 

Air mataku kembali mengalir, bahkan sangat deras. Aku juga melihat air mata Jongin yang keluar dari mata indahnya.

 

Jangan ucapkan selamat tinggal! Kata itu sangat menakutkan untukku, kau boleh mengucapkannya jika kau memang tak akan kembali!” Ucapku lirih. Tatapan Jongin begitu dalam.

 

Tangannya membelai wajahku, ia mengusap air mataku yang bercucuran. Lalu ia menarik kepalaku semakin mendekat ke arahnya.

 

Perlahan ia mendekatkan bibirnya ke arah wajahku, aku pun menutup kedua mataku. Ia mengecup singkat keningku, lalu dengan halus ia mengecup bibirku. Setelah itu, ia membawaku kedalam pelukannya, ia memelukku dengan erat dan sangat membuatku nyaman.

 

Lupakan semua yang menakutkan dan ingatlah aku sebagai mimpi yang benar-benar indah” ucapnya tanpa melepaskan pelukannya.

 

 

 

 

Selamat tinggal adalah sesuatu yang harus kau ucapkan lebih awal. Karena jika saat itu benar-benar datang, kau tidak bisa lagi mengucapkan kata itu

 

-Kim Jongin-

 

 

 

 

Sinar matahari pagi mulai mengusik tidurku, aku mulai membuka mataku sedikit demi sedikit. Kenapa kepalaku terasa sangat pusing? Bahkan untuk membuka mata rasanya sulit.

 

Dengan mataku yang terbuka sedikit demi sedikt, aku melihat seseorang tengah duduk di kursi sedang memandangiku, ia memakai hanbok berwana hitam yang biasa digunakan seseorang ketika berduka dan dalam masa berkabung, di rambutnya ada sebuah pita berwarna putih, ku perjelas lagi pengelihatanku agar bisa melihat siapa dia.

 

Dengan masih berbaring aku melihat Jiwon, adik dari kekasihku di sana. Kulihat wajahnya sedikit pucat, dan matanya sembab seperti habis menangis. Aku beranjak bangun dari tidurku dan ia menghampiriku.

 

Eonni..” Panggilnya seraya memegang pundakku.

 

Aku memegangi kepalaku yang terasa sangat pusing, bahkan rasanya aku mual. Aku mengumpulkan kekuatanku agar bisa bertanya mengapa dia berpakaian seperti itu.

 

Kenapa kau berpakaian seperti ini? Wajahmu juga pucat, ada apa denganmu?” Tanyaku dengan suara yang rendah sembari memegangi wajahnya yang terasa hangat.

 

Jiwon tak menjawab, melainkan ia menangis sembari memelukku. Aku pun dibuat terkejut olehnya. Aku menyadari bahwa tidak ada Jongin di sekelilingku, kemana perginya dia? Semalaman ia memelukku dalam tidurnya.

 

Ada apa denganmu Jiwon-ah? Di mana Jongin?” Aku menarik Jiwon dari pelukanku, aku menatapnya sendu.

 

Jiwon tak menjawab pertanyaanku, ia memandangiku tak kalah sedihnya, ia memegang erat pundakku seperti memberi kekuatan.

 

Aku melihat pakaian yang ku kenakan sama seperti yang Jiwon kenakan. Lalu mataku tertuju pada sebuah bingkai foto yang berada di atas meja. Foto yang sama seperti yang kemarin ku lihat, foto Jongin yang terlilit pita hitam bercampur putih dan dikelilingi bunga-bunga berwarna putih.

 

DEG!!

Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang melintas di pikiranku. Aku ingat, kemarin aku menangis sejadi-jadinya di sebuah tebing sembari menaburkan butiran abu dari genggaman tanganku, namun setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi.

 

Tidak!! Katakan itu bukan Jongin Jiwon-ah..” Ucapku sembari membuka lebar mataku. Tidak mungkin itu Jongin, karena semalam aku masih bersamanya.

 

Eonni! Kau jangan seperti ini!! Kau harus merelakan kepergiannya.. Ini pasti jalan terbaik untuknya.. Apa kau tega melihatnya terus kesakitan karena kanker darah yang dideritanya?” Ucapnya dengan terus menangis.

 

Tidak! Bukan itu! Lihat ini!” Aku terus mengelak perkataan Jiwon, aku menarik hanbok ku ke atas, aku ingin menunjukan bahwa kemarin Jongin membantuku membalut luka di Ibu jariku. Namun ketika aku menunjukannya kepada Jiwon, Ibu jariku dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada perban maupun goresan sedikit pun.

 

Aku menagis, tidak mungkin semua ini hanya khayalanku, kejadian kemarin begitu nyata. Aku beranjak turun dari tempat tidur Jongin mendekati jendela.

 

Dimana? Dimana foto yang Jongin gantungkan disini? Apa kau membuangnya?” Tanyaku padaku Jiwon dengan terus menangis deras. Malam kemarin, aku melihat sendiri bagaimana Jongin mengantungkan foto-foto kami berdua, lalu kemana semua foto itu?

 

Apa semua ini benar Jongin-ah? Kau bilang akan pergi jauh, apa ini yang kau maksud? Apa ini maksudmu mengapa aku tidak boleh ikut denganmu? Lalu apa maksudmu akan menungguku? Kau menungguku dimana? Apa ini maksud dari ucapan selamat tinggal mu?

 

Kakiku lemas, rasanya seperti tidak ada tulang yang menjadi tumpuan tubuhku, aku terjatuh, hatiku terasa sangat sakit, aku tidak bisa berhenti menangis. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dirimu Kim Jongin.. Aku seharusnya ikut bersamamu.

 

Aku menjerit kencang, aku berteriak memanggil namanya, berharap kau akan datang dan membawaku dalam pelukan hangatmu Kim Jongin.

 

 

 

“Apa benar kau hanya sebatas mimpi indahku Kim Jongin?”

 

-Im Yoona-

 

 

 

Setelah aku tinggal beberapa hari di rumah keluarga Jongin, aku memutuskan kembali ke rumahku, meskipun mereka memintaku untuk tetap tinggal di sana, aku menolaknya dengan halus. Aku tinggal seorang diri, kedua orang tuaku telah lama meninggal dunia. Kini aku benar-benar sendiri tanmpamu Jongin-ah.. Bagaimana bisa aku melanjutkan hidupku?

 

Sudah dua hari aku berdiam diri di kamarku, air mataku seperti tak ada habisnya keluar dari mataku. Walaupun aku tak makan, aku tidak merasa lapar, bahkan aku tak pernah beranjak dari tempat tidurku, kau tahu? Kini aku seperti mayat hidup tanpamu.

 

Kau bilang kau akan menungguku? Maka dari itu, aku tidak akan membuatmu menunggu terlalu lama. Aku akan menyusulmu Kim Jongin.. Tunggu aku…

 

 

 

-END-

39 thoughts on “(Freelance) Fiction

  1. akh,, sedih banget, omo yoona mau nyusul kai maksudnya bunuh diri gtu ya? kya ,,, andwe! btw, aku suka banget sma FF kayak gini🙂 tp rada sedih juga sih,, banyak2 bikin ff y thor!
    keep writing

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s