See You [2]

See You_3

See You

apareecium | Kris, SNSD Yoona and EXO Suho | Romance-Drama | All Rated

Sosok yang ditunggu oleh Yuri sedari tadi akhirnya muncul dari balik pintu yang terpaku dengan papan yang terukir kata Ruang Pemimpin. Yuri langsung bangkit dari bangku milik wanita itu—Yoona.

“Bagaimana?” Tanya Yuri.

Yoona hanya mengendikkan bahunya, “Sepertinya aku tidak dapat ijin dari Joon Myun.”

“Sayang sekali..” Balas Yuri.

“Entahlah.” Yoona mengambil tas kerjanya, “Semoga saja dia bisa berubah pikiran. Yuk, pulang.”

.

.

.

Ponselnya Yoona berdering tanda panggilan masuk. Yoona langsung merogoh tas kerjanya lalu mengeluarkan ponsel miliknya dengan logo apel yang digigit seperapat. Dia tersenyum sekilas lalu berdeham pelan sebelum mengangkat panggilan tersebut.

Yuri yang duduk disebelahnya di dalam bus itu menoleh lalu mengangkat kedua alisnya. Dengan cepat, Yoona menjawab dengan suara pelan nyari berbisik, “Kris.”

Akhirnya Yoona mengangkat panggilan tersebut, “Halo?”

“Hei, sweetheart.

Yasss. Ada apa menghubungiku? Kangen?”

“Kau terlalu mengenalku sepertinya.”

“Tolong ulang perkataanmu tapi, hilangkan satu kata terakhirnya.”

“Kau terlalu mengenalku?”

“Iya. Exactly!

“Baru pulang kerja? Aku ingin melihat wajah wanitaku yang cantik ini.”

Yoona bisa merasakan darahnya berdesir sehingga wajahnya memanas. Dia hanya bisa tersenyum pelan lalu menutup senyuman cantiknya itu dengan tangannya, “Kau bisa saja.”

“Baiklah. Aku tunggu jam 8, okay? Makan malam dulu baru online. Aku menunggumu. Hati-hati di jalan, okay? Love you.”

“Love you too.”

Yoona memutuskan sambungan tersebut dan sedetik kemudian dia bisa mendengar suara decakkan dari sebelah kirinya. Dia langsung menoleh kearah Yuri lalu bertanya, “Kenapa?”

“Aku sebenarnya bingung. Kalian kenal dari internet. Pacaran lewat internet. Pertanyaanku, bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau percaya dengan orang yang bahkan belum pernah kau sentuh kulitnya itu?”

Yoona mengendikkan bahunya, “Akupun tidak tahu. Tapi, ada satu hal yang aku tahu.”

“Apa?”

“Dia berhasil membuatku tersenyum dan jatuh lebih dalam lagi,” Yoona menoleh kearah Yuri lagi dan menatap manik matanya, “tanpa harus melihat kedua matanya.” Sambung Yoona.

.

.

.

“Kekasihku.” Jawab Yoona dengan yakin.

Tatapan Joon Myun yang tadinya memandangi wanita yang berpengaruh besar dihidupnya itu berubah menjadi tatapan yang kosong. Kekasih? Jadi, Yoona sudah mempunyai kekasih. Tapi, sejak kapan? Joon Myun menghelakan napasnya pelan lalu memasukkan selembar kertas yang tertulis dengan Surat Cuti tersebut ke dalam map coklatnya lagi. Dia menyingkirkan map coklat itu dari pandangannya ke tepi meja.

“Maaf, Yoona. Tapi, kita ada rapat penting pada hari Sabtu pagi. Kumohon padamu untuk memprioritaskan hal yang penting lebih dahulu. Selamat sore.”

Bagaikan terpaku diatas lantai yang mengilap ini, Yoona tidak bergerak. Dia masih berdiri di hadapan Joon Myun dan menatap Joon Myun dengan dahi yang mengerut dan suara yang penuh keraguan, dia melemparkan sebuah pertanyaan, “Bukankah sabtu ini tidak ada rapat? Aku masih ingat apa yang tertulis di jadwal minggu ini, Joon Myun.”

“Aku baru saja membuat rapat penting Sabtu ini. Jadi, jangan pergi dan hadir di rapat. Kau termasuk orang penting, Yoona.”

Yoona menggigit bibir bawahnya tak sabaran lalu membuang napasnya kasar. Masa bodoh dengan itu. Dengan tangan yang terkepal, dia pamit pada orang yang ada dihadapannya, “Baiklah. Aku pulang dulu. Terima kasih.”

Joon Myun tetap melihat layar komputernya tanpa memberi respon pada Yoona. Dia memerhatikan layar komputernya yang memampangkan dua insan yang begitu nampak serasi baginya. Ya, tentu saja dirinya dan Yoona ketika mereka berpesta pada malam wisuda.

“Kau memang penting, Im Yoona.”

.

.

.

Yoona mengelap kedua tangannya yang basah ke lap tangan yang tergantung sebelah tempat cuci piring tersebut. Dia baru saja selesai mencuci piring sehabis makan malam. Seperti apa yang dikatakan oleh kekasihnya, Kris, untuk makan malam terlebih dahulu sebelum bertemu dengannya. Dia menoleh ke jam dinding yang tergantung tepat diatas komputernya, jam delapan lewat sepuluh. Decakkan kesal keluar dari mulutnya, kapan kebiasaan makan yang lama itu bisa hilang dari dirinya?

Seperti biasa, Yoona menyalakan komputernya dan log in MSN-nya. Menunggu saja belum tapi, dia sudah menerima video call dari Kris. Dengan cepat, dia menerima panggilan itu.

Ketika wajah tampan Kris muncul di layar komputernya, Yoona melambaikan tangannya, “Hai, Kris.”

“Oh. Hehe.. Hai, sweetheart.”

Suara berat yang tertawa itu mampu membuat wajah Yoona bersemu merah. But, hei? Itu hanya sebuah tawa, Yoona. Kenapa sangat berlebihan? Tapi, siapa peduli? By the way, Yoona sangat menyukai panggilan sweetheart dari Kris.

“Bagaimana kabarmu hari ini?”

“Luar biasa. Tadi penerbit bukuku mengatakan bahwa Senin depan bukuku akan segera terbit. Aku tidak sabar. Bagaimana denganmu?”

“Tsk. Mood-ku sedikit jelek hari ini.”

Yoona dapat melihat alis tebal Kris menyatu, “Jelek? Why?”

“Hhh. Biasa. Kantor.”

“Baiklah. Jangan bahas lagi. Aku tidak ingin membuat mood-mu semakin jelek hari ini.”

Yoona tersenyum pelan lalu menopang dagunya, “Kau benar-benar mengertiku, Kris.”

“Hei, aku senang lho mendengarnya.”

“Kau…bisa saja. By the way, ada yang ingin aku bicarakan.”

“Apa itu?”

“Kau…Apakah kau serius denganku?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya ingin tahu ‘kok. Tapi, tak apa jika kau tidak ingin menjawab.”

Yoona bisa melihat Kris menganguk kecil sambil meneguk minuman dari gelas berwarna putih pekat itu lalu menatap dirinya lagi dan tersenyum, “Tentu, aku serius. Tapi, Yoong, kau tidak tahu siapa aku sebenarnya.”

“Kau yang sebenarnya? Bukankah tadi sore kau sendiri yang bilang bahwa aku terlalu mengenalmu? Oh, Kris, pertama kali kau seperti ini. Plin-plan.”

Sosok yang dia perhatikan itu menggeleng pelan, “Maksudku, diriku yang sebenarnya. Kau tidak akan mengerti, Yoona.”

“Kalau begitu, jelaskan agar aku mengerti.”

“Kau akan sulit untuk menerimanya.”

“Tapi—“

“Jika waktunya akan tiba. Akan kuberi tahu. Jadi, tenang saja. Kau tetap memliki hatiku, sepenuhnya.”

Dan pada detik itu juga, Yoona bingung. Dia hanya perlu percaya atau mencari tahu?

.

.

.

Rutinitas yang seperti biasa. Yoona berangkat ke kantor pagi ini tapi, ada yang berbeda, yaitu semangatnya. Mungkin karena kejadian kemarin, ketika Joon Myun tidak memberi dia ijin untuk berangkat ke Sydney minggu ini. Yoona kecewa. Sangat kecewa. Dia selalu bekerja dengan baik. Telat saja tidak pernah. Teledor? Oh, pasti ada. Tapi, tidak fatal. Jujur, dia tidak mengerti apa yang dibenak Joon Myun sampai-sampai dia membuat rapat penting yang mendadak pada Sabtu pagi.

“Hei, Yoona!”

Yoona menoleh kearah sumber suara. Dia bersyukur itu bukan Joon Myun tapi, Yuri. Yoona tersenyum lalu mengangkat kedua alisnya, “Pagi, Yul.”

“Pagi, Yoona. Biasanya kau datang lebih pagi dari ini.”

Yoona mengendikkan bahunya, “Entahlah. Aku jadi malas.”

“Malas, kenapa? Oh, pasti yang kemarin.” Balas Yuri.

“Iya. Aku bingung kenapa Joon Myun seperti itu. Bukankah itu terlihat egois?”

“Aku mengerti perasaanmu. Tapi, Yoong, apakah kau sebodoh itu?” Tanya Yuri.

Yoona mengerutkan dahinya, “Bukan bermaksud sombong. Tapi, Yul, aku lulus dari kampus hanya dengan satu kali sidang dan itu hanya terjadi satu dari ratuasan mahasiswa.”

“Tsk. Baiklah. Biar kuralat, kenapa kau tidak peka?” Tanya Yuri lalu mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Yoona, “Joon Myun menyukaimu.” Sambungnya.

“HAH?!”

“Iya dan itu jelas sekali. Tidak jarang aku mendengar karyawan lain membicarakan kalian.”

Yoona memutar bola matanya kesal, “Padahal aku sudah sangat hati-hati untuk menghindari omongan seperti itu. Kenapa sih orang-orang suka ikut campur urusan orang lain? Diri mereka sendiri saja belum benar. Ish. Menyebalkan.”

“Itulah manusia, Yoong.”

.

.

.

Layar ponsel Yoona menyala tanda ada pesan masuk karena dia selalu mengaktifkan mode diam ketika di kantor untuk konsentrasi pada pekerjaannya. Tapi, nama yang tertera di layar ponselnya itu bagaikan sihir yang mampu meruntuhkan konsentrasinya itu. Yoona menjauhkan jemarinya dari keyboard komputer kerjanya dan membuka pesan tersebut.

From: Kris

Siang, sweetheart. Sudah makan siang?

Dengan wajah yang penuh dengan senyuman, dia membalas pesan tersebut.

To: Kris

Tentu saja belum, dear. Masih satu jam lagi menuju makan siang.

Tanpa meletakkan ponselnya ke atas meja, Yoona menunggu balasan dari Kris. Tunggu, makan siang? APA? MAKAN SIANG?!

Yoona terbelalak dan langsung meletakkan ponselnya ke atas meja. Dia menepuk dahinya pelan, “Sial! Aku lupa.” Tapi, mengingat kejadian kemarin membuat Yoona acuh tak acuh dengan janjinya untuk membawakan bekal untuk Joon Myun. Dia tersenyum kecut, “Siapa suruh dia seperti itu? Huh.”

Baru saja dia ingin melanjutkan pekerjaannya lagi tapi, layar ponselnya kembali menyala karena pesan balasan dari Kris.

From: Kris

Ah, iya. Maafkan aku. Aku lupa. Hahaha, bagaimana dengan pekerjaanmu? Lancar-lancar saja ‘kan?

Helaan napas keluar dari diri Yoona. Sebenarnya, dia benar-benar kesal karena kejadian kemarin dan yang dia lakukan sekarang bukan kerja melainkan mencari lowongan pekerjaan. Ya, dia berencana untuk keluar dari Kim Corp. jika dia menemukan lowongan yang cocok untuknya. Lagi pula pengalaman kerja dengan perusahaan yang hampir mencapai puncak kesuksesannya itu bisa menjadi pengalaman yang terbilang terpercaya dan meyakinkan bahkan akan mempermudah dirinya untuk melamar pekerjaan nanti.

To: Kris

Tidak. Aku sedang mencari pekerjaan yang baru.

Pesan terkirim. Baru saja dia ingin melanjutkan aktivitasnya, yaitu mencari pekerjaan yang baru tapi, sebuah pesan balasan dari Kris sudah masuk.

From: Kris

Ke toilet sekarang. Dua menit lagi aku akan meneleponmu.

.

.

.

Seorang pria yang berambut hitam pekat yang tak lain adalah Kris langsung menempelkan ponselnya ke telinga kanannya ketika sambungan telepon sudah terhubung. Beberapa detik kemudian, panggilan tersebut terangkat.

“Ada apa, Kris? Aku sudah di toilet.” Terdengar suara dari wanita kesukaannya, Yoona.

“Coba jelaskan kenapa kau sedang mencari pekerjaan baru.” Tutur Kris. Terdengar suara helaan napas dari lawan bicaranya itu dan Kris hanya diam menunggu balasan dari Yoona.

“Kris. Aku tidak bisa menjelaskannya disini.”

“Kau harus bisa. Tolong jelaskan.”

“Please??” Kris bisa mendengar nada suara Yoona yang semakin memelas. Tapi, dia butuh penjelasan sekarang juga. Sebagai kekasihnya, bagaimana bisa dia tidak mengetahui kalau kekasihnya ingin keluar dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan yang baru?

Hal tersebut akan membuat Kris merasa tidak penting, seperti bukan prioritas bagi Yoona.

“Tidak. Kau tidak ingin memberi tahuku atau apa?! Yoona, aku ini kekasihmu. Bagaimana bisa kau tidak memberi tahuku bahwa kau ingin keluar dari pekerjaanmu? Kau tidak menganggapku, hm?”

Tidak ada balasan dari Yoona. Yang terdengar hanyalah suara angin-angin yang mungkin keluar dari pendingin ruangan yang berada di toilet itu. Kris tetap menunggu. 1 detik. 3 detik. 5 detik.

“Kris, aku bisa menjelaskan semuanya. Tapi, ada waktunya. Kumohon mengertilah.”

“Tsk. Tidak logis! Bagaimana bisa aku berusaha mengerti pada sesuatu yang bahkan tidak aku ketahui?”

“Kris…”

“Sudahlah, Yoona. Sampai nanti.” Dan sambungan tersebut terputus secara paksa dari Kris.

.

.

.

Please??” Mohon Yoona pada seseorang di sebrang sana.

“Tidak. Kau tidak ingin memberi tahuku atau apa?! Yoona, aku ini kekasihmu. Bagaimana bisa kau tidak memberi tahuku bahwa kau ingin keluar dari pekerjaanmu? Kau tidak menganggapku, hm?”

Bagaikan tertusuk anak panah tepat pada dadanya hingga rasanya sesak bahkan untuk membuka bibirnya yang terkatup rapat itupun menjadi sulit. Matanya mulai memanas bahkan penglihatannya mulai buram karena air matanya sudah membendung.

“Kris, aku bisa menjelaskan semuanya. Tapi, ada waktunya. Kumohon mengertilah.” Baru saja dia menutup mulutnya. Tapi, sudah terdengar balasan dari sana.

“Tsk. Tidak logis! Bagaimana bisa aku berusaha mengerti pada sesuatu yang bahkan tidak aku ketahui?”

“Kris…”

“Sudahlah, Yoona. Sampai nanti.” Dan sambungan tersebut terputus. Tangan Yoona yang menggenggam ponselnya turun perlahan dari telinganya lalu menarik tisu yang tersedia di toilet ini dan menghapus air mata yang ternyata sudah mengalir dari tadi.

Kris, tahukah aku melakukan ini semua hanya untukmu?

Tahukah kau kalau aku menghabiskan setengah dari uang tabunganku demi bertemu denganmu?

Kris, bisakah kau mendengar penjelasanku? Maksudku, tunggu saja. Mungkin saja aku memberi tahumu malam ini?

Yoona membuang tisu yang telah dia gunakan itu ke tong sampah lalu berjalan keluar dari toilet sambil menyimpan ponselnya ke dalam saku blazernya. Tapi, langkahnya terhenti ketika dia menabrak seseorang sampai ponsel yang dipegang oleh orang tersebut jatuh tepat diatas lantai. Refleks, Yoona mengambil ponsel tersebut lalu memberikannya kepada orang yang dia tabrak tersebut.

“Maaf, ini ponselnya.” Ya, Yoona memang tenang dan tidak mudah panik seperti orang pada biasanya. Ketika dia mengangkat kepalanya dan menatap orang yang berada di hadapannya itu, dia terkejut.

“Joon Myun?!”

“Oh. Yoo..” Perkataan Joon Myun menggantung ketika melihat mata dan hidung Yoona yang memerah. Apa dia menangis?

“Maafkan aku. Aku tidak sengaja membuat ponselmu terjatuh.” Ucap Yoona.

“Tidak. Tidak apa-apa. Tenang saja.” Balas Joon Myun dan Yoona hanya melemparkan senyuman lalu menunduk sekilas sebelum meninggalkan Joon Myun dan kembali ke meja kerjanya.

Hei, Yoona. Tahukah kau sudah membuat hati Joon Myun berdebar lebih kencang lagi?

.

.

.

Untuk pertama kalinya rutinitas Yoona berbeda untuk beberapa bulan belakangan ini. Biasanya setiap malam jam delapan setelah pulang kerja, Yoona dan Kris akan chatting di MSN sampai larut atau video call bersama dan menukar canda tawa serta kesedihan mereka. Malam ini terasa kosong.

Bisa saja Yoona mengirim pesan ke Kris dan menjelaskan semuanya. Tapi, hei? Kris duluan yang marah-marah untuk pertama kalinya ketika mereka menjalin hubungan. Yoona menghela napasnya lalu menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya. Dia memejamkan matanya lalu memutar otaknya kembali. Apa salahnya?

“Yoona, aku ini kekasihmu. Bagaimana bisa kau tidak memberi tahuku bahwa kau ingin keluar dari pekerjaanmu?”

Seperti mendengar suara berat, serak, dan basah khas Kris. Jujur saja, dia kangen dengan suaranya. Yoona membuka laci kecil yang terletak di samping tempat tidurnya dan mengeluarkan sebuah tiket pesawat terbang ke Sydney untuk lusa nanti. Dia menghela napasnya lagi. Haruskah dia berangkat dengan resiko meninggalkan pekerjaannya atau menjual tiket ini kembali atau bahkan membiarkan tiket ini hangus?

Entahlah.

.

.

.

Buku adalah objek utama yang ada di dalam ruangan itu. Setelah itu ada meja, bangku, laptop, beberapa bingkai foto, dan tak lupa dengan selembar foto yang mirip dengan layar komputer kerjanya yang berada di ruangan kerja kantornya. Foto tersebut tersimpan di dalam map kecil yang transparan dibawah agenda penting yang terletak di dalam laci meja tersebut.

Kim Joon Myun sangat mencintai Yoona yang telah menjadi teman dekatnya sejak mereka kuliah bersama dan ketika mendengar jawaban dari Yoona kemarin sore di kantor membuatnya terkejut dan kecewa. Tapi, kecewa? Apakah pantas ketika Yoona bahkan tidak mengetahui jika Joon Myun menyukai dirinya?

Dan siang tadi, Joon Myun melihat Yoona yang menangis di toilet. Ya, sebenarnya Joon Myun sudah memerhatikan Yoona ketika dia berjalan ke toilet bahkan mendengar percakapan dia dengan Kris. Karena Joon Myun panik ketika melihat Yoona keluar, dia langsung berjalan ke toilet lalu tertabrak seakan-akan dia tidak sengaja.

Kejadian tadi berhasil membuat Joon Myun berpikir, haruskah dia memberi Yoona ijin untuk ke Sydney? Memberikan ijin kepada orang yang dia cintai agar orang yang dia cintai bisa bertemu dengan orang yang dia cintai?

TBC

Hai, makasiy lho udah baca chap 1 nya! xD aku seneng banget liat respon kalian dan maaf ya, aku gak bakat buat FF panjang2 gitu makanya per chapter dikit words nya mentok2 2000 words lebih hehehe

Btw, kalian mau pair-nya siapa nih?

 Dan aku lagi kena WB untuk chapter 4😦 Semoga cepet ilang ya WB-nya hehehehehehhe

39 thoughts on “See You [2]

  1. akhirnya dilanjt juga, aku seneng ff ini dilanjut dngn cepat🙂
    tp aku rada aneh ama kris, masa kepo banget sih tntng pekerjaan?
    yoona aja harus ngertiin kris yg ga mau buka jati dirinya. masa kris nggak? nggak adil kris nggak adil -,- tp suka sama karakter suho d sini,malu2 gtu #sosweetdah cepet2 dilanjut chap 3 thor, keep writing~

  2. Kris itu sbenernya siapa siih ? Adeeuh pnasaran thor.. Kris sdikit egois dsini,.. Ksian yoona.. Thor lanjutkeun.. Jngn lama”..

  3. Kris sebenernya nya siapa sih???
    Bikin penasaran banget hahaha
    Misterius gitu hehehe
    Bagus ff nya, ga pendek bgt juga gak panjang bgt
    Pas lah :3
    Pairing nya yoona sama kris aja thor😀

  4. Aishh, kris itu sebnarnya sipa sih. buat pnasaran aja.
    trus knpa marah2 sama yoona.? huhuu. pcrannya lucu. Kyak backstreet gitu..
    next ditunggu. ya.

  5. Yeah, chap 2 ud ad🙂
    mwo? Yah, Kris kok gtu ja mrah sih😦
    aku jd penasarn dgn Kris:/
    humm, trnyata Suho sngat menyukai yoona yah😐
    pdhl wktu taw, klu yoona mau mencri pkerjaan lain it aku snang bnget bcanya, tp pas tahu n nyadar perasaan Suho oppa sesungguhnya, aku jd gak tega klu yoona brhenti dri kantor Suho n cuekin Suho.
    Aku sih, maux pairingx KrisYoon❤
    critanya makin seru n yoona ngegalau nih😦
    buat author yg ud ganti nama penah krn wkt chap 1 it aku gak tw😀 hehe, smoga virus WB Cepat ilang n smangat lg buat menulis ff n ngelanjtin dri ff See You ini🙂
    mau pnjang or pendek gak msalah, tetap n pasti d'bca kok.
    next chap d.tnggu~
    fighting!
    Keep writting thor

  6. Pingin cepet cepet yoona bisa ketemu kris thor,dipercepat dong biae bisa ketemu.
    Next chapter jangan lama-lama dan lebih panjang dong thor hehehe.
    keep writing

  7. Kris sama joon myeon sama2 egois ,,,berharap yoona mendapatkan yg terbaik ,,, next part ditunggu🙂

  8. Iiiihhh…. Psti Kris nggak sempurna *Ceileh bhsnya* :3

    Kris itu bentar2 ngambek, padahal dia sndiri klo ditanyain Yoona ttg kerjaanny, *Chap. kemaren* Ngehindar mulu… Apaan sih Kris?!

    Ditunggu next chap. ya eon, smoga WB-nya ilang terus diganti ama WF?😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s