(Freelance) Y (Chapter 1)

y

Title : Y (Chapter 1)

Author : Indah

Main cast :

– Im Yoona

– Wu Yifan

– Zang Yixing

Genre : Romance, Family

Rating : PG-15

 

Suara pintu bergesekan dengan lantai langsung terdengar begitu pintu bercat putih itu mulai terbuka. Di balik sana, terlihat seorang gadis kecil sekitar 6 tahun berdiri dengan wajah kesalnya. Ia menghentakkan kakinya lalu berjalan memasuki kamar itu. Senyum jahil terlihat di wajahnya ketika melihat pria yang tengah berbaring di atas tempat tidur belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan terbangun. Ia menaiki tempat tidur lalu mendekatkan bibirnya pada telinga pria itu.

Appa!”

Suara yang cukup keras keluar dari bibir mungil gadis itu, membuat sang pria yang sejak tadi tertidur nyenyak sontak terbangun.

“Astaga, Yumi. Kau membuat Appa kaget. Lagipula untuk apa membangunkan Appa sepagi ini. Ini kan hari libur.”

Pria itu mulai mengubah posisinya. Memegang kepalanya yang terasa sakit, entah karena faktor pekerjaan, pikiran, atau karena gadis kecilnya yang mengejutkannya pagi-pagi sekali. Tapi tetap ia berusaha memberikan senyum kecilnya pada gadis itu.

Appa, hari ini bukan hari libur. Hari ini senin dan aku harus sekolah. Apa Appa lupa?

“Apa!”

Pria itu sontak membulatkan mata dan bergegas menuju kamar mandi. Yumi yang melihat tingkah sang ayah hanya menggelengkan kepala. Ia sudah sangat sering melihat kejadian seperti ini, jadi bukan hal yang mengherankan lagi untuknya. Ia menghela napas pelan, baru saja ia akan turun dari atas tempat tidur, ayahnya sudah kembali dan langsung mengangkat tubuhnya.

“Kau juga belum mandi. Ayo, Appa akan memandikanmu.” Katanya sebelum hilang di balik pintu kamar mandi.

Suara tawa Yumi terdengar dari arah kamar mandi kamar itu. Ini juga hal yang biasa untuknya. Tapi untuk satu ini, dia benar-benar menyukainya.

Itu semua adalah kebiasaan seorang Wu Yifan. Seorang pria yang tampak dingin dari luar, namun percayalah, ketika kau mulai mengenalnya lebih dekat lagi, maka kau akan tahu bahwa dia adalah seseorang yang begitu menyayangi orang-orang di sekitarnya. Dan saat ini, orang yang menjadi prioritas utamanya adalah Yumi, anak satu-satunya. Setelah kehilangan orang yang begitu dicintainya 6 tahun yang lalu, ia bersumpah, akan membahagiakan anaknya, bagaimanapun caranya.

___

 

“Yumi, jangan nakal di sekolah. Appa akan menjemputmu nanti. Kau mengerti?”

“Iya Appa. Aku mengerti.”

Yifan tersenyum lalu mengecup kening anaknya. “Kalau begitu ayo masuk ke kelas.”

“Iya, sampai jumpa Appa.”

Yifan menatap Yumi yang berlari menuju ke kelasnya. Ia tersenyum tipis lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke mobilnya. Semuanya memang tidak mudah. Hidup sebagai seorang duda dengan satu anak memang tidak pernah terbayang olehnya. Tapi memang inilah takdirnya, dan dia tetap mensyukurinya. Setidaknya, ada Yumi yang memberikan warna dalam hidupnya. Dan itu sudah cukup untuknya, mungkin?

___

 

“Aku ingin mengantarmu.”

“Tidak perlu, Yixing.”

Yixing kembali menghela napas. Ini sudah menit ke-5 namun gadis di yang duduk di sampingnya masih saja kekeuh pada pendiriannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga tetap akan pada pendiriannya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Yoona.”

Gadis itu menggeleng pelan. Sebenarnya bukan karena ia terlalu keras kepala hingga ia terus menolak. Tapi ia mengerti, bahwa pemuda itu punya urusan lain yang lebih penting ketimbang mengantarnya pulang. Toh, ia bisa naik taksi. Tapi kenapa justru pemuda itu yang bersikeras ingin mengantarnya?

“Kau kan harus ke kantor Appa-mu dulu.”

“Tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu pulang, baru setelah itu aku ke rumah mengambil berkasnya yang ketinggalan dan pergi ke kantornya.” Yixing kembali memberikan penjelasan yang semakin membuat kepala Yoona pusing. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar pemuda itu mau mengalah kali ini.

“Yixing, kali ini dengarkan aku. Pergilah.”

Yixing tersenyum memperlihatkan lesung pipinya membuat Yoona semakin kesal. Oh… Bagaimana mungkin pemuda itu bisa begitu menyebalkan dan manis di saat yang bersamaan?

“Aku tidak pergi jika kau tidak pergi.”

Yoona menghela napas. Memberikan alasan kepada seorang Zang Yixing memang bukan hal mudah. Ia harus memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat agar pemuda itu mau mendengarkannya. Yoona tidak tahu apakah Yixing bisa dikategorikan sebagai pemuda yang keras kepala, tapi sepertinya tidak. Ah entahlah, Yoona saat ini benar-benar bingung. Yoona menolehkan wajahnya, tidak lagi menatap senyum pemuda itu.

“Aku masih ada tugas, aku akan ke perpustakaan. Mungkin agak lama, aku lupa bahwa tugas itu harus dikumpul besok. Kau duluan saja.”

Yixing menatap Yoona dengan alis bertaut. Ada keraguan di wajahnya mendengar penuturan gadis itu. Dan dia yakin, kalau itu hanyalah alasan gadis itu saja. Tapi baiklah, kali ini ia mengalah. Ia menghela napas lalu kembali memperlihatkan lesung pipinya.

“Baik, aku akan pergi. Kau tidak harus berbohong seperti itu, sayang.”

Yixing mengacak rambut gadis itu yang kini tampak lega lalu tersenyum manis mendengar ucapannya. Tidak rugi memang ia mengalah kali ini, karena dengan itu ia bisa melihat senyum yang selalu dirindukan milik gadisnya. Dia memakai ranselnya lalu bangkit berdiri.

“Langsung pulang setelah ini, telpon aku jika ada masalah.”

Yoona mengangguk senang. Ia menatap Yixing yang berbalik dan mulai melangkah pergi meninggalkan area taman kampus. Tidak sampai sepuluh meter pemuda itu berbalik ke arahnya, melambaikan tangan masih dengan lesung pipi ___yang akan selalu menjadi favorit Yoona___ lalu mempercepat langkahnya pergi.

Yoona kembali menghela napas. Yixing memang terkadang tidak bisa ditebak. Di saat Yoona sedang mencari-cari alasan untuknya, pasti pemuda itu juga tidak mau kalah darinya. Tapi saat Yoona sudah mulai lelah, pemuda itu yang akan mengakui kekalahan. Lelaki ternyata ribet juga.

Tapi tetap saja, menengal Zang Yixing adalah salah satu hal terindah untuknya. Pemuda yang sudah menemani hidupnya selama 3 tahun itu, atau lebih tepatnya pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya sejak semester pertama ia memasuki bangkuh kuliah.

Yixing adalah pemuda yang baik, dan orang-orang tahu itu. Pemuda itu seolah mengerti diri Yoona seolah ia mengenal gadis itu lebih dari Yoona mengenal dirinya sendiri. Itulah mengapa Yoona merasa begitu nyaman dengannya, walau terkadang menyebalkan juga, sih. Tapi semua itu bukanlah alasan mengapa Yoona menerima pemuda itu menjadi kekasihnya. Baginya, perasaannya kepada pemuda itu tidak bisa digambarkan hanya dengan kata-kata. Dia mencintai pemuda itu, sama seperti pemuda itu mencintainya. Walau pemuda itu selalu mengatakan bahwa cintanya jauh lebih besar dari gadis itu. Tapi Yoona tidak akan mengambil pusing dan membuang-buang waktu untuk memperdebatkan hal itu, toh dia juga tidak dirugikan.

___

 

Sinar matahari tampaknya begitu bersahabat hari ini. Yoona tidak perlu menggerutu kesal dan menyesali pilihannya untuk berjalan kaki pulang ke rumahnya. Ia tersenyum, membayangkan wajah Yixing yang akan mengomelinya jika tahu ia berjalan kaki seperti ini ketimbang memilih ajakannya untuk pulang bersama. Pasti wajahnya akan sangat lucu, tapi tetap dia tidak ingin kalau pemuda itu sampai tahu. Ia terlalu malas untuk mencari alasan agar pemuda itu mau menghentikan omelannya.

Eomma?”

Yoona sontak menghentikan langkahnya ketika dirasakan sebuah tangan menarik tangannya. Ia menoleh ke belakang. Kerutan di dahinya langsung terlihat begitu melihat seorang gadis kecil dengan seragam TK tengah memegang tangannya.

Eomma…”

Yoona semakin dibuat pusing ketika anak itu kembali memanggilnya ‘Eomma‘, namun ia mencoba tersenyum dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak itu.

“Kau memanggil Eonni dengan sebutan Eomma?”

Anak itu mengangguk kecil. “Kau Eomma-ku, kan?”

Yoona kembali tersenyum, tangannya terangkat dan mengelus puncak kepala anak itu. “Tapi aku bukan Eomma-mu sayang. Namaku Im Yoona, kau?”

“Wu Yumi.”

“Yumi, kau salah orang. Aku bukan Eomma-mu.”

Yumi menggeleng polos. “Tapi wajah kalian mirip.”

“Benarkah? Memangnya Eomma-mu kemana?”

Yumi menundukkan kepalanya. Dari wajahnya Yoona bisa menebak kalau anak itu sedang bersedih. Sepertinya ia salah bicara.

“Dia meninggal saat melahirkanku.”

Yoona merasa prihatin melihatnya. Umurnya masih kecil tapi sudah tidak memiliki ibu. Pasti sangat sulit untuknya.

“Lalu dimana Appa-mu?”

“Dia sedang bekerja. Tadi dia bilang akan menjemputku. Tapi sudah lama aku menunggunya dia belum datang juga.”

Yoona tersenyum lalu mengangkat dagu anak itu agar melihatnya. “Kalau begitu mau Eonni yang mengantarmu pulang?”

Senyum langsung merekah di wajah Yumi. “Benarkah?”

“Tentu, ayo.” Balas Yoona tersenyum. Ia mengulurkan tangannya yang langsung dibalas oleh Yumi. Mereka memilih untuk menaiki taksi. Kali ini Yoona tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan anak itu berjalan kaki. Bisa-bisa anak itu sakit karena kelelahan.

___

 

Yoona memandang isi rumah bergaya Eropa itu. Pikirnya, apakah tidak terlalu luas jika rumah seperti ini hanya ditempati oleh tiga orang saja? Itu pun juga karena ada pembantu. Mungkin jika ia yang tinggal di rumah itu, pasti akan mati kebosanan. Untung di rumahnya tidak terlalu sepi. Setidaknya dia masih memiliki kedua orangtua, satu pembantu, supir orangtuanya, dan ada Baekhyun __adiknya yang bisa dikatakan bisa menghidupkan suasana. Karakter cerewet dan menyebalkan yang mungkin langka dimiliki untuk seorang lelaki berwajah manis yang bersekolah di tingkat SMA. Tapi Yoona tidak bisa memungkiri bahwa terkadang ia menyukai karakter adiknya itu. Jarang kan, ada lelaki seperti itu?

Eonni.”

Yoona tersentak kaget ketika menyadari Yumi memegang tangannya. Ia tersenyum lantas menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu.

Eonni, maukah kau bertemu dengan Appa-ku?”

Yoona menautkan alisnya. Bertemu dengan ayah Yumi, boleh saja. Tapi jika harus menunggu lama sepertinya ia harus berpikir ulang untuk itu.

Eonni-”

“Yumi!”

Belum sempat Yoona menyelesaikan ucapannya, suara pintu yang dibuka cukup keras mengalihkan perhatiannya dan Yumi. Mereka menoleh ke arah pintu yang menampakkan seorang pria berperawakan tinggi. Dapat dilihat dengan jelas keringat yang mengucur di dahinya, bisa dipastikan betapa khawatirnya pria itu. Dengan tergesa-gesa pria itu berjalan memasuki rumahnya ketika melihat orang yang memenuhi pikirannya tengah memandangnya heran. Ia semakin melebarkan langkahnya lalu menarik Yumi ke dalam pelukannya.

“Kau kenapa tidak menunggu Appa? Appa mencarimu tapi kau tidak ada. Kau tahu seberapa khawatirnya Appa?”

Yoona yang melihatnya menjadi sedikit cemas. Jika dipikir, ini adalah salahnya. Dia yang mengajak Yumi untuk pulang bersama. Tapi kan dia hanya merasa kasihan dengan anak itu karena terlalu lama menunggu ayahnya. Jadi ini juga salah pria itu, kan?

Appa tidak perlu cemas. Ada Eonni cantik yang menolongku dan mengantarku pulang.”

Yifan melepaskan pelukannya, menatap sekilas anaknya lalu mengedarkan pandangannya. Atensinya terhenti pada Yoona saat ini. Gadis dengan kaos lengan panjang pink dipadukan dengan jeans hitam, rambut panjang yang ia biarkan tergerai, dan wajah itu…

“Maaf jika saya lancang mengantar Yumi pulang. Tadi saya hanya merasa kasihan melihatnya karena terlalu lama menunggu Anda untuk menjemputnya.”

Susah payah Yoona mengatur suaranya agar tidak terdengar gugup di hadapan Yifan. Bagaimana tidak, pria yang baru pertama kali ditemuinya itu memandangnya dengan tatapan yang err… Sulit untuk diartikan.

Yumi memandang ayahnya yang tampak terdiam menatap ke arah Yoona. Walaupun masih kecil, tapi ia tahu bahwa ayahnya juga pasti berpikiran sama dengannya ketika pertama kali melihat gadis itu.

Appa.”

Yifan tersadar, melirik Yumi sekilas lalu kembali menatap Yoona. Ia menegakkan tubuhnya lalu memberikan sedikit senyumannya.

“Terima kasih, saya mengerti maksud Anda.”

Yoona akhirnya bisa bernapas lega mendengar penuturan Yifan. Dia pikir Yifan akan memarahinya dan menuduhnya macam-macam, untunglah pria itu tidak sampai melakukannya. Justru pria itu berterima kasih padanya.

“Iya, sama-sama Tuan…”

“Wu Yifan, Yifan.” Sela Yifan mengulurkan tangannya.

Yoona menautkan alisnya menatap uluran tangan Yifan. Tapi tidak butuh waktu 1 menit ia mulai tersenyum ke arah pria itu dan membalas uluran tangannya. “Ah, Yifan-ssi. Perkenalkan saya Im Yoona.”

Yumi tersenyum memandang ayahnya dan Yoona yang masih berjabat tangan. Ia menatap ekspresi Yoona yang terlihat sedikit risih, lalu melihat ayahnya yang tampak terpaku menatap wajah gadis itu seolah enggan untuk melepaskan tangannya. Entah kenapa segala hal yang tidak ia sangka muncul begitu saja dalam pikirannya. Tapi sungguh ia benar-benar senang sekarang, terlihat ia mulai tersenyum jahil.

Appa!”

Yifan dan Yoona sontak melepaskan tangan mereka. Yifan sendiri entah kenapa merasa jadi salah tingkah atas apa yang baru saja dilakukannya. Sedangkan Yoona, ia hanya memasang senyum kikuk. Ia jelas merasa heran dengan cara Yifan menatapnya tadi, seolah-olah pria itu baru saja melihat mayat yang hidup kembali.

“Eum.. Sepertinya saya harus pulang sekarang. Mungkin orangtua saya sedang menunggu.”

Yifan tidak berkata apa-apa, ia hanya menatap Yoona yang kini membungkukkan badannya lalu mengelus rambut Yumi.

“Yumi-ya, Eonni pergi dulu, ya? Sampai jumpa lagi.”

Yumi mengangguk dengan wajah polos. “Eonni, semoga kita bisa bertemu lagi.”

Yoona tersenyum lalu menganggukkan kepala. “Iya.” kembali ia menatap Yifan. “Saya permisi.” Setelah itu ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Meninggalkan dua orang yang masih saja terus menatap kepergiannya hingga hilang di balik pintu.

Yumi menghela napas panjang lalu melirik ayahnya yang masih menatap ke arah pintu besar itu. “Appa. Kenapa kau begitu bodoh?”

Yifan sontak menolehkan kepalanya. Alisnya bertaut mendengar apa yang baru saja diucapkan gadis kecilnya. Astaga… Bagaimana mungkin gadis kecil sepertinya bisa berbicara seperti itu kepada ayahnya? Perasaan dia tidak pernah mengajarinya.

“Yumi-ya, apa maksudmu? Bo-doh?”

Yumi mengangguk lalu mengerucutkan bibirnya __pertanda ia sedang kesal. “Appa tidak lihat, gadis itu sangat cantik. Dan juga… Dia mirip dengan Eomma.”

Yifan menatap anaknya untuk beberapa saat. Sebenarnya ia merasa kasihan melihat Yumi yang seperti itu. Ada kesedihan yang tertutupi oleh wajah polosnya. Tapi, memangnya apa yang harus dia lakukan? Meminta nomor gadis yang baru dikenalnya itu? Mengantarnya pulang? Oh, tentu saja itu tidak mungkin. Itu benar-benar bukan gayanya.

Ia mencoba tersenyum lalu membawa Yumi ke gendongannya. “Lalu kenapa jika dia mirip dengan Eomma-mu? Dia kan bukan Eomma-mu?”

Yumi berdecak sebal. “Tapi kan dia mirip. Dan aku menyukainya.”

Okay. Yifan semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan gadis kecil itu. Dan juga ia terlalu malas untuk mau mengertinya.

“Ayo ganti baju. Setelah itu kita makan siang bersama, ok?”

Yumi hanya mengangguk pelan lalu turun dari gendongan ayahnya. Berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya dengan gerutuan tidak jelas tentang betapa menyebalkannya ayahnya itu.

Yifan menghela napas lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Ingatannya kembali pada wajah gadis yang beberapa saat lalu ada di hadapannya. Memandang wajah gadis itu, seperti kembali membawanya ke masa lalu. Saat dimana ia menjadi lelaki yang begitu beruntung bisa memiliki perempuan cantik dan ceria itu. Tapi sayang, ternyata takdir tidak menghendaki dirinya untuk bersamanya lebih lama.

“Yuri…” Ia bergumam lirih.

Yifan tidak bisa berbohong, bahwa jauh di lubuk hatinya ia begitu merindukan perempuan yang telah menemaninya selama 4 tahun itu. Dan melihat wajah gadis yang bernama Im Yoona, itu menyakitinya tapi sedikit mengobati kerinduannya. Mereka memang tidak kembar, tapi bisa dikatakan lumayan mirip. Bahkan Yumi yang masih anak kecil tahu itu. Tapi, kenapa Yumi harus mengatakan bahwa ia menyukai Yoona? Apakah itu penting? Dia juga tidak yakin jika Yumi atau dirinya akan bertemu lagi dengan gadis itu. Kecuali… Jika memang sudah takdir mereka untuk bertemu kembali.

___

 

Yoona melangkah malas memasuki kamarnya. Tatapan heran dari ibunya di ruang keluarga tadi ia hiraukan. Rasanya hari ini seperti baru saja mengelilingi Korea Selatan. Apakah ia berlebihan? Tapi ia benar-benar lelah. Salahnya terlalu banyak pikiran hingga untuk membiarkan otaknya berpikir naik taksi pulang ke rumahnya saja tidak muncul di otaknya. Dan yang memenuhi pikirannya? Tentu saja karena dua orang asing yang baru ditemuinya hari ini.

Sebenarnya Yoona memikirkan mereka bukan karena mereka mencurigakan dan terlihat seperti teroris. Oh tentu itu sangat tidak mungkin. Ia hanya merasa heran dengan tingkah dua orang itu. Apalagi ketika mengingat Yumi memanggilnya ‘Eomma‘. Apakah ia benar-benar mirip dengan ibunya? Apakah sebegitu pasarannya wajahnya itu? Apakah Yifan juga berpikir seperti Yumi? Akh, Yoona pusing memikirkannya.

Ia meletakkan tas selempangnya di atas nakas lalu menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Rasanya begitu nyaman. Seolah sudah satu bulan ia tidak tidur di kamarnya.

Matanya perlahan mulai tertutup, bersiap-siap terbang ke alam indah buatannya jika saja pintu bercat putih itu tidak dibuka oleh seseorang.

Ia menoleh, menatap garang pemuda yang kini tengah menatapnya dengan senyum yang bisa diartikan dengan ‘Oops, aku lupa mengetuk pintu. Maaf’.

“Ada apa Baekhyun?” Tanyanya. Ia mulai mendudukkan dirinya sambil memeluk boneka rilakkuma kesayangannya __pemberian Yixing di anniversary mereka yang kedua.

“Kau pemarah sekali. Kutebak, kau pasti menyantet Yixing Hyung hingga mau pacaran denganmu, kan?”

Yoona benar-benar ingin melemparkan boneka dalam pelukannya ke wajah pemuda itu jika saja ia tidak ingat dengan benar sejarah boneka itu. Ia sangat tidak sudi jika boneka itu harus mendarat di wajah Baekhyun.

“Jaga mulutmu. Yixing yang lebih dulu mengejarku, jangan lupakan itu.”

Baekhyun terkekeh lalu berjalan memasuki kamarnya. Sejenak ia memandang Yoona dengan heran lalu mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.

“Kau dari pemakaman siapa?”

Dahi Yoona kembali berkerut. Memperbaiki posisi duduknya lalu mengambil novel di sampingnya untuk menjadi bahan bacaannya.

“Memangnya siapa yang meninggal?” Tanyanya acuh.

“Kau terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan suaminya, Noona sayang.”

Yoona menutup novel itu lalu menatap Baekhyun bingung. Memangnya ia terlihat seperti itu. Dia hanya kelelahan, dan kedatangan Baekhyun tidak pada waktu yang tepat. Jadi bukan ia yang berlebihan memikirkan dua orang itu, tapi asumsi Baekhyun yang berlebihan.

“Aku hanya kelelahan.”

Nada suara Yoona sepertinya mendukung apa yang dia katakan. Baekhyun tidak lagi tersenyum menyebalkan melainkan hanya mengangguk-angguk.

“Kau tidak pulang bersama Yixing Hyung?”

“Tidak. Jika aku pulang dengannya aku tidak akan seperti ini.”

Baekhyun kembali tersenyum. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur lalu menyilangkannya, menatap Yoona dengan penuh minat.

“Wah, jangan-jangan Yixing Hyung mulai bosan denganmu.”

Okay. Tidak ada lagi toleran untuk kali ini. Yoona mendaratkan bonekanya ke wajah Baekhyun. Ia tidak peduli jika wajah Baekhyun yang baru saja berciuman dengan bonekanya itu akan menatapnya kesal.

“Apa yang kau lakukan?”

Yoona mencibir mendengar pertanyaan Baekhyun yang tidak bermutu itu. Baekhyun mungkin kesal, tapi dia jauh lebih kesal.

“Dengar. Yixing tidak mengantarku pulang bukan karena ia bosan denganku. Aku hanya tidak ingin merepotkannya karena ada urusan yang harus ia selesaikan. Makanya aku menyuruhnya pulang lebih dulu. Kau itu masih kecil, jangan sok tahu.”

“Oh. Pura-pura pengertian.”

Hampir Yoona kembali melayangkan bonekanya ke wajah Baekhyun jika saja ponselnya tidak berbunyi. Ia melirik sekilas Baekhyun lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia melirik nama yang tertera di layar itu. Dan Baekhyun benar-benar ingin muntah ketika melihat senyum Yoona yang manis tapi aneh di matanya. Pasalnya baru beberapa detik yang lalu gadis itu marah-marah, tapi sekarang ekspresinya langsung berubah 180 derajat. Dan bisa ditebak dengan pasti siapa penelpon itu. Siapa lagi kalau bukan si pemuda lesung pipi.

“Halo, Yixing”

Tuh, kan. Baekhyun sepertinya ada bakat jadi peramal. Hanya melihat wajah Yoona dan ia sudah menebaknya. Seakan-akan di dahi gadis itu terpampang nyata tulisan ‘Dari pacarku’.

Noona, aku kembali ke kamar dulu ya. Sepertinya mood-mu sudah membaik.”

Yoona tidak terlalu memperhatikan wajah Baekhyun. Ia hanya mengangguk sekilas membuat Baekhyun hanya menggeleng-geleng lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar kamar.

Selepas pintu itu ditutup, Yoona masih fokus dengan pembicaraanya dan Yixing. Mood-nya benar-benar sudah baik sekarang.

“Kau sudah sampai di rumah?”

Yoona mengangguk sambil tersenyum seolah Yixing bisa melihatnya. “Iya, aku baru sampai.”

“Tidak terjadi sesuatu denganmu saat kau pulang tadi, kan? Aku khawatir.”       

Yoona berpikir, sebenarnya ada sesuatu yang terjadi dengannya. Tapi tidak sampai melukai dirinya juga, sih. Hanya membuatnya sedikit lelah dan pusing.

“Tidak. Aku baik-baik saja.”

“Baguslah. Kalau begitu sudah dulu, ya. Aku hanya ingin menanyakan hal itu. Besok aku akan menjemputmu. Sampai jumpa.”

“Iya.”

Yoona mengakhiri teleponnya lalu menyimpan ponsel itu di sampingnya. Ia mengeratkan pelukannya pada boneka rilakkuma kesayangannya. Untung saja Yixing meneleponnya, kalau tidak mungkin ia akan menjadikan Baekhyun perkedel karena terus mengganggunya. Tapi jika mengingat ucapan Baekhyun sebelum keluar kamar, sepertinya anak itu hanya ingin mengembalikan mood-nya seperti yang dia lakukan sebelum-sebelumnya. Tapi kali ini sungguh tidak lucu, tapi benar-benar menyebalkan.

“Akh sudahlah. Aku lelah.”

Kembali ia membaringkan tubuhnya dan mencari posisi senyaman mungkin. Biarkan dia istirahat sebentar saja setidaknya sampai jam makan malam.

Kembali niatnya hampir terlaksana, tapi tidak sebelum ponselnya kembali berdering menandakan pesan baru.

Ia mengambil ponselnya malas, melihat nama yang tertera di layar. Dan ia jamin, ia akan mimpi indah setelah ini.

From : Yixingie

Aku lupa sesuatu tadi. Aku mencintaimu❤

TBC

43 thoughts on “(Freelance) Y (Chapter 1)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s