(Freelancer) In Your Eyes (Chapter 5)

in-your-eyes

IN YOUR EYES

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol &Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered ||Rating: G || Note: Already posted at EXOShiDae Fanfiction and our personal blog || Disclaimer: We own this fic’s plot and idea only. Cast belongs to God. So please respect with your comment. Don’t copy-paste or plagiarism! Thanks, enjoy reading guys🙂

.

.

Bahkan saat dunia hanya menatapmu dengan tampilan yang kecil,aku sepenuhnya percaya diri untuk berkata..

Kaulah satu-satunya.

.

Park Chanyeol duduk sendiri di dalam kamarnya yang berantakan. Lelaki itu menatap kosong sebuah pigura foto berwarna silver yang kini menggantung di dinding kamarnya.

Park Chanyeol memejamkan matanya kemudian, tatapannya beralih pada jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Lalu dia meraih smartphone dari saku celananya, dalam keheningan menatap sebuah nomor dengan penuh keraguan.

Chanyeol mengetikkan sesuatu pada ponsel-nya, lalu menghapusnya lagi, dan kemudian mengetiknya lagi, dan terus seperti itu hingga berkali-kali.

Menyerah pada kegelisahannya, Chanyeol mengacak rambutnya lalu melemparkan smartphone-nya ke ranjang. Tatapannya kembali melekat pada pigura dengan foto keluarganya. Ia terdiam, Ayahnya bukanlah tipikal orang yang mudah dibujuk. Keputusannya selalu dapat terealisasi dan kemungkinan untuk membatalkan keputusannya nyaris 0%. Dan lagi, Chanyeol merasakan sesuatu mengganggu pikirannya, rencana perjodohan itu—sepenuhnya adalah rencana Ayah.Dan ia jelas tahu bahwa Ayah tidak pernah bermain-main pada apapun yang diucapkannya. Lagi pula siapa gadis yang dijodohkan dengannya? Apa yang dilihat Ayah dan Ibu hingga mereka memilihnya? Mengapa mereka tidak membiarkan Chanyeol menentukan sendiri pilihannya? Dan kini apa yang harus dilakukannya pada seorang Yoona—gadis yang telah merebut hatinya, menguasai pikirannya, dan membuatnya jatuh dalam gejolak cinta yang terus membesar setiap harinya.

Lagi, Chanyeol mendesah. Jika bisa, dia ingin sekali melarikan diri dari kenyataan seperti ini. Dia tahu jelas hal ini bukanlah seperti dalam drama, dimana orang tua dapat menerima pilihannya seiring dengan berjalannya waktu. Tapi ini juga bukan dalam drama, dimana Chanyeol dan Yoona akan melarikan diri berdua saja untuk menyelamatkan cinta mereka. Itu sepenuhnya pemikiran yang sangat konyol.

Chanyeol membuka matanya setelah detik sebelumnya berpikir singkat. Lelaki itu bangkit dari kursi yang sudah dua puluh delapan menit lalu didudukinya tanpa bergerak, lalu berjalan keluar kamarnya.

Rumahnya memang besar, apapun yang diinginkannya ada disana. Tapi ada satu yang kurang—kehangatan. Tidak ada kehangatan dirumah ini. Rumah mereka terlalu besar hingga hanya angin yang berhembus mengisi kekosongannya. Hanya ada kesibukan dan senyuman kepura-puraan. Ayahnya nyaris selalu pulang larut malam karena urusan perusahaan, Ibunya juga terlampau sibuk mengurusi cabang-cabang butik barunya di berbagai daerah. Dan selama ini, yang hampir selalu menemaninya hanya Park Minhwa. Ya, walaupun yang dimaksud menemani dalam hal ini sedikit berbeda dengan pemikiran biasanya, Minhwa lewat dalam pandangan Chanyeol pun itu sudah termasuk menemani baginya. Masalahnya, gadis itu juga memiliki urusannya sendiri. Tentu saja urusan tentang berkutat berjam-jam di depan layar laptop atau bergumul diatas kasur merah muda dengan earphone dan buku-buku tentang idolanya. Untuk hal itu—Chanyeol sepenuhnya mengerti.

Lelaki itu mengedarkan pandangannya, Minhwa tidak tertangkap dalam penglihatannya dan kini ia mulai menjelajahi setiap sudut ruangan untuk mencari adiknya. Chanyeol mengetuk pintu kamar adiknya, lalu kemudian membukanya saat tidak juga ada jawaban. Dia mendesah lagi—Minhwa tidak ada disana.

Kemudian Chanyeol berjalan menuju balkon kamar Minhwa, dari atas sini nyaris seluruh halaman depan rumahnya dapat terpantau sepenuhnya. Ia mengeratkan jaket tipis yang digunakannya, angin malam terus menggelitik tubuh kurusnya hingga ke tulang dan Chanyeol mulai meringgis memikirkan dimana Minhwa pada jam malam seperti ini.

Chanyeol hendak berbalik untuk meninggalkan balkon, tapi kemudian tatapannya terseret oleh sebuah pergerakan kecil dari gerbang rumahnya. Oh ya, gadis itu disana. Mengendap-endap masuk dengan jaket putih tebal dan topi rajut berwarna peach di kepalanya. Chanyeol menatap lekat adiknya, dari atas terlihat jelas Minhwa baru saja pulang dari suatu tempat.

Lelakiitu berdehem, “Hey! Park Minhwa!” Langkah perlahan Minhwa berhenti seketika saat Chanyeol berteriak dari atas. Gadis itu dengan ngeri menengadah dan mendapati kakaknya tengah berdiri di balkon kamarnya.

“Hey! Apa yang kau lakukan di balkon kamarku huh?” Gadis itu balas berteriak dan Chanyeol hanya mengendikkan bahunya. “Berhenti menggangguku.” Minhwa berujar kemudian seraya melepas kecanggungannya dengan melangkah lagi, tapi Chanyeol berujar lagi dan itu sepenuhnya membuat Minhwa merengek.

“Aku akan melaporkanmu pada Ayah dan Ibu,”

Bagai terserang ulat bulu, gadis itu menggeliat-geliat kesal di tempatnya, merengek tidak jelas dan menggerutu saat kakaknya hanya menertawakannya dari atas. “Kumohon jangan lakukan itu, kumohon dengarkan dulu penjelasanku.”

“Baiklah, aku akan mendengarkan penjelasanmu. Tapi jika penjelasanmu tidak masuk akal, aku akan langsung menekan ponselku dan menghubungi Ayah dan Ibu. Lalu setelah itu kau akan—”

“Ya, ya, ya terserah kau saja! Yang jelas biarkan dulu aku masuk dan dengarkan penjelasanku!” Potong Minhwa kesal, gadis itu menghentak-hentakan kakinya ke tanah lalu berjalan masuk kedalam rumah.

Park Chanyeol nyaris tersedak saat menyeruput coklat panas di cangkir birunya, menatap Minhwa dengan mata yang membulat sempurna. “Apa? Dari rumah Youngran katamu?” Minhwa hanya menganggukkan kepalanya dan Chanyeol berujar kesal. “Mengapa kau tidak mengajakku? Jika kau mengajakku setidaknya aku—”

“Aku apa? Aku bisa bertemu Yoona, maksudmu?” Potong Minhwa segera, Chanyeol hanya diam di kursinya kemudian kembali menatap Minhwa dengan tajam.

“Apa yang kau lakukan disana?”

Minhwa menggendikkan bahunya, “Kurasa itu bukan urusanmu,” Chanyeol kemudian memutar bola matanya seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

“Apa Yoona ada disana?”

“Tidak ada,” Minhwa menggelengkan kepalanya, gadis itu melanjutkan. “Youngran bilang dia bekerja.”

“Bekerja?” Chanyeol menarik tubuhnya dari sandaran, kali ini dia benar-benar terkejut. “Dimana Yoona bekerja?”

“Sebuah café, hanya pekerjaan paruh waktu.”

.

“Kau dimana? Cepatlah sedikit, wanita itu disini sekarang.” Minhwa berbisik dengan ponsel di telinganya, gadis itu berdiri gelisah di depan gerbang rumahnya seraya menyapu setiap partikel yang bergerak di hadapannya.

“Aku dalam perjalanan, tunggulah sebentar. Oh tunggu, berapa nomor rumahmu? Aku sedikit lupa.” Youngran berucap dari ujung telepon dengan suara terengah-engah—dia sudah berlari, tapi Minhwa terus menyuruhnya untuk bergegas.

“Hh, nomor dua puluh tiga. Berapa kali aku harus mengatakannya?” Minhwa kemudian menjauhkan ponselnya dari telinga saat matanya menemukan Youngran tengah berlari kearahnya. Minhwa menghampiri Youngran dengan bersemangat.

“Oh kau tidak perlu berlari seperti itu, apa kau dikejar oleh anjing?” Minhwa bertanya saat tangannya menepuk pundak Youngran. Youngran hanya menatap Minhwa kesal dengan napas yang terengah.

“Hey kau ingin mati, ya? Bukankah kau yang menyuruhku cepat?”

Minhwa hanya tersenyum lebar seraya merangkul Youngran bersahabat. “Hehehe mian, ayo masuk—oh iya, wanita itu sudah ada di dalam. Kau tahu betapa leganya aku mengetahui Oppa sedang bersama YoonaEonni hari ini, jadikan gadis itu tidak bisa berkenalan dengan Oppa,”

Youngran hanya mendesis seraya melepas rangkulan Minhwa. Gadis itu menggeleng, “Tidak bisa, kita tidak bisa terus seperti ini. Cepat atau lambat—mereka pasti akan bertemu, Park Minhwa.”

Minhwa terlihat berpikir sejenak. Kemudian ujung bibirnya tertarik menyeringai, “Kalau begitu aku akan membuat mereka bertemu dengan cara yang tidak menyenangkan.”

“Apa maksudmu?”

“Kita akan lihat nanti,” Minhwa tersenyum senang, nyaris berteriak kegirangan. Kemudian tangannya menarik tangan Youngran bersemangat, membuat gadis itu terkejut saking kuatnya Minhwa menarik tangannya. “Ayo masuk.”

.

Im Yoona tersenyum senang saat Chanyeol bergaya dengan percaya diri. Mereka berdua kini ada dalam sebuah photobox dan kini nampaknya Chanyeol mulai merangkak menjadi lelaki yang gila kamera. Yoona sangat cantik dalam foto, walaupun gadis itu hanya menampilkan sebuah senyuman manis yang tulus. Begitupun Chanyeol, walaupun kini lelaki itu berpose dengan beberapa gaya aneh, dirinya sama sekali tidak kekurangan ketampanannya.

“Kau bisa menggunakan tanganmu seperti ini, atau memajukan bibirmu seperti ini.” Chanyeol berkata seraya menunjukkan pose dengan kedua jari berbentuk V atau sebuah pose dengan bibir yang mengerucut. Yoona hanya tertawa pelan.

“Seperti ini? Atau ini?” Kali ini Yoona mengulangi pose yang ditunjukkan Chanyeol, dan untuk sesaat lelaki itu tertegun karena bahkan Yoona tetap terlihat sangat cantik.

Chanyeol tersenyum. “Ya seperti itu, ayo lakukan bersama. Satu, dua, tiga,” Yoona tampaknya patuh, gadis itu mengerucutkan bibirnya seraya menaruh tangan kiri berbentuk V di sebelah pipinya.

Keduanya tersenyum kemudian, dalam diam menunggu hasil foto mereka tercetak sepenuhnnya. Seorang pegawai wanita dengan kaca mata burung hantu yangmenggantung di pelupuk matanya kini menyerahkan beberapa lembar foto pada keduanya. Yoona dan Chanyeol menggumamkan terimakasih seraya berjalan pergi.

Yoona tersenyum malu, “Ah, ada apa denganku?” Tangannya menggenggam selembar foto yang menampakkan dirinya tengah mengerucutkan bibirnya.

Chanyeol hanya tertawa, “Kenapa? Itu bagus menurutku, kau sangat—cantik.”

Lagi, Yoona terdiam karena kini pipinya mulai memanas. Chanyeol sadar untuk sesaat dirinya sudah merubah suasana, seharusnya dia tidak mengucapkan hal-hal yang membuat Yoona kembali diam. Chanyeol hanya tersenyum kikuk, “Kita akan kemana sekarang?”

Yoona kini menatap Chanyeol dengan berbinar, “Aku ingin melihat lukisan dinding di dekat Universitas Hongik,”

Chanyeol membuka mulutnya kemudian, lelaki itu mengangguk pelan. “Mmm –baiklah. Ayo,”

.

Youngran mematung di tempatnya, matanya menatap sosok gadis dengan rambut blonde yang kini juga menatapnya tanpa ekspresi. Untuk sesaat Youngran dapat melihat kilatan angkuh dari mata itu, tapi kemudian Minhwa menyikut perutnya.

“A–apa yang kau lakukan? Cepat perkenalkan dirimu.” Bisik Minhwa dari sela-sela giginya. Youngran mengerjap lalu tersenyum kikuk seraya berkali-kali membungkukkan badannya.

“Halo, namaku Kim Youngran.”

Beberapa pasang mata yang kini duduk di sofa menatap Youngran dengan tatapan yang berbeda-beda, lalu Ibu Minhwa tersenyum.

“Ah, Youngran. Kalian pasti sangat dekat, sebelumnya Minhwa tidak pernah mengajak temannya kerumah. Dan kau adalah orang pertama yang—”

“Ibu, aku dan Youngran akan ke kamarku saja,” Potong Minhwa segera, sepertinya gadis itu memiliki bakat alami untuk memotong ucapan seseorang, Youngran hanya membungkuk berkali-kali saat Minhwa mulai menyeretnya untuk pergi.

Youngran menyentuh setiap benda yang dilalui tangannya. Matanya terus mengelilingi setiap pelosok kamar Minhwa yang berapa kali jauh lebih besar dari kamarnya. Gadis itu bergumam kagum saat dilihatnya beberapa koleksi album milik Minhwa yang selama ini diinginkannya.

“Bagaimana menurutmu?” Minhwa bertanya di ranjangnya. Gadis itu sibuk mengutak-atik layar ipad yang kini dimainkannya. Youngran hanya mengangkat sebelah alisnya.

Well, menurutku mengagumkan,” Ucap Youngran kemudian, tubuhnya berjalan untuk duduk di ranjang Minhwa. “Koleksi mu sangat banyak, dan aku sepenuhnya iri. Kau puas?”

Kali ini Minhwa memutar bola matanya dan menatap Youngran kesal. “Bukan tentang albumku. Maksudku—bagaimana menurutmu tentang wanita itu?”

Youngran hanya diam, menengadah untuk menyaksikan warna langit-langit kamar Minhwa yang berwarna-warni. “Cantik, dan tubuhnya terlihat seperti seakan dia tidak makan berhari-hari. Menurutku pantas saja orang tuamu memilih—”

“Tidak!” Untuk yang kesekian kalinya Minhwa memotong pembicaraan Youngran, gadis itu kini melipat tangannya di depan dada. “Apa kau tidak sadar betapa sombongnya dia? Rambutnya saja seperti bulu jagung yang berjalan dan tubuhnya? Seperti tusuk gigi. aku tidak suka gadis itu,” Minhwa berujar sengit, membuat Youngran kini menatapnya tidak percaya.

“Hey, apa kau pikir aku menyukainya? Tentu saja aku lebih berpikir Yoona Eonni lebih cantik.”

Kali ini Minhwa mendesah, tubuhnya dia jatuhkan pada bantal dan kini telentang menatap langit-langit kamarnya yang bisu, “Tapi bagaimana jika Oppa menyukai gadis itu?” Gadis itu menggeleng kuat kemudian, lalu bangkit kembali dengan rambut yang berantakan. “Tidak! Oppa ku tidak akan menyukai gadis itu kan? Katakan padaku bahwa itu tidak akan terjadi Youngran!”

Youngran hanya menatap Minhwa seraya berdecak. Telunjuknya terangkat untuk menoyor kepala gadis dihadapannya itu. “Ya ampun Minhwa, tentu saja tidak! Eonni-ku, tidak akan ada yang bisa menggantikan tempatnya.”

.

Yoona memotret lukisan-lukisan dinding itu dengan ponselnya, Chanyeol hanya berjalan diam mengikuti segala gerak yang dilakukan gadis itu. Yoona menolehkan kepalanya, menatap Chanyeol dengan berbinar.

“Kau berdirilah disana, aku akan mengambil gambarmu.”

Chanyeol menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya, kemudian berjalan ragu kearah sebuah gambar berbentuk pohon yang besar, “Tapi nanti aku juga akan mengambil gambarmu,” Chanyeol berkata dengan kikuk. Yoona hanya menggumamkan kata ‘ya’ sembari mulai mengarahkan ponselnya pada Chanyeol. Lelaki itu tersenyum dalam fotonya, Yoona kali ini memuji hasil fotonya dengan senang. “Ini sangat bagus, aku akan menyimpannya.”

Chanyeol mengeluarkan ponselnya juga—lalu menarik Yoona pada bagian dinding lain dengan gambar bunga-bunga yang beragam warna. “Sekarang giliranmu.”

Yoona mendelik pada Chanyeol sebelum akhirnya tersenyum tulus dalam posisinya. Chanyeol mengambil gambar Yoona dengan hati yang berbunga. Lelaki itu bertepuk tangan setelahnya, “Ini hebat, aku akan menyimpannya di ponselku. Jadi, jika aku merindukanmu aku bias—”

Kali ini Chanyeol mengutuk bibirnya sendiri yang telah berucap gegabah. Kali ini Yoona terdiam dan menundukkan kepalanya, Chanyeol tahu jelas—gadis itu sedang menyembunyikan warna pipinya yang memerah. Lelaki itu tersenyum, perlahan berjalan kearah Yoona. Gadis itu menyadari Chanyeol yang kini berdiri dihadapannya, dalam diam berharap pipinya berhenti merona agar dirinya bisa mengangkat kepala. Chanyeol mengangkat tangannya, kini keduanya sudah menyentuh pundak Yoona dan meremasnya lembut. Lelaki itu tersenyum kecil, “Tidak apa, angkat kepalamu.” Yoona tidak merespon dan hanya memelintir ujung kardigan yang dikenakannya. Chanyeol hanya terkekeh, “Yoona, angkat kepalamu.”

Kali ini Yoona menurut, perlahan dengan pasti mengangkat kepalanya. Walaupun seperti itu, gadis itu hanya menatap kearah lain. Tidak ingin menatap Chanyeol.

Chanyeol menatap garis rahang Yoona yang tajam, untuk sesaat menelan air liurnya sendiri. “Walaupun pipimu merona, tidak apa.” Gumam Chanyeol, Yoona tersentak dan kini menatap Chanyeol dengan mata yang membelalak. “Walaupun pipimu memerah seperti udang rebus sekalipun, jangan menundukkan kepalamu. Bukankah sudah kubilang tidak apa hm?” Kali ini rona merah yang sebelumnya mulai menghilang kembali lagi terlihat. Yoona hendak menunduk lagi tapi Chanyeol menahannya segera. “Karena aku menyukaimu, jangan tundukkan kepalamu lagi.”

Yoona menatap manik mata Chanyeol dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya berdegup kencang dan bagaikan khayalan kini gadis itu merasa jutaan kupu-kupu terbang memenuhi perutnya. Dia masih belum bisa berkata, dan Chanyeol hanya tersenyum melihatnya.

“Sejak pertama kali aku melihatmu, mata inilah yang sepenuhnya mencuri perhatianku. Tatapanmu yang selalu tak terbaca, menarikku lebih dekat untuk mengenalmu. Dan, aku sangat menyukainya.” Chanyeol mengangkat tangan kanannya untuk mengusap ujung kelopak mata Yoona, membuat gadis itu merasakan sengatan-sengatan aneh karenanya. “Lalu kemudian aku bertemu lagi denganmu di pertemuan yang kedua, selain matamu—suaramu juga mulai menyeret akal sehatku, aku tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Tapi sepertinya—aku jatuh cinta padamu, Park Chanyeol jatuh cinta padamu, Im Yoona.”

Yoona mulai merasakan sesuatu bergerak keluar dari matanya, dan gadis itu hanya menatap Chanyeol melalui matanya yang berlinang. Gadis itu tersenyum kemudian, untuk pertama kalinya—Yoona mendengar pernyataan setulus itu. Yoona sudah tidak asing saat seorang lelaki menyatakan cintanya, tapi kali ini—sangat berbeda. Seolah Chanyeol mengatakan itu dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Seolah Chanyeol mengatakan itu tanpa keraguan sama sekali. Yoona menitikkan air matanya, kemudian tersenyum lagi.

“Terimakasih Park Chanyeol.”

Chanyeol menatap Yoona bingung, “Untuk apa?”

“Terimakasih karena sudah menyukaiku, terimakasih karena sudah mencintaiku.” Gadis itu menghapus air matanya dengan perlahan, kemudian tersenyum kecil pada lelaki yang kini menatapnya dalam.

“Aku juga, terimakasih karena sudah membuatku merasakan apa yang dinamakan cinta, mungkin ini terdengar melankolis. Tapi, aku tidak bisa menyimpan perasaan ini lebih lama.”

Lelaki itu menjauhkan tangannya dari bahu Yoona. Lantas berjongkok dan dengan penuh kelembutan menggenggam kedua tangan gadis dihadapannya. “Im Yoona, apakah k–kau mau menjadi kekasihku? Menjadi kekasih seorang Park Chanyeol. Park Chanyeol yang mencintaimu?”

Yoona menciptakan sebuah keheningan untuk beberapa saat, walaupun tangan gadis itu bergetar—Yoona hanya tersenyum kemudian. “Baiklah, aku mau menjadi kekasih seorang Park Chanyeol yang mencintai Im Yoona.”

Detik-detik selanjutnya, Chanyeol merasakan jantungnya bertalu-talu dan lelaki itu merasa beban di pundaknya hilang begitu saja. Chanyeol tersenyum lebar dan memeluk Yoona dalam sekali gerakan. Dunia terasa berputar lebih cepat, dan mereka tidak melewatkan apapun selain merasakan degup jantung satu sama lain. Yoona mengeratkan pelukannya pada Chanyeol. Dalam hatinya berucap,

Aku tidak akan takut pada dunia lagi, karena kini aku memiliki seseorang yang akan melindungiku.

.

Kali ini untuk kedua kalinya Youngran membeku ditempatnya. Matanya sepenuhnya membelalak dan kini pegangan tangannya pada sebuah buku terlepas begitu saja. Berbeda dengan Youngran, Minhwa nyaris meledak ditempatnya. Gadis itu mendengus kesal dan berkali-kali menggerutu saat seorang wanita dengan rambut blonde yang berdiri angkuh diambang pintu. Wanita itu menatap kedua gadis dihadapannya dengan matanya yang kecoklatan, bibir tipisnya tertarik sedikit membentuk lengkungan senyuman kecil yang terkesan dibuat-buat.

Minhwa memutar bola matanya, menatap gadis itu dengan malas. “Ada apa? Kau tidak seharusnya langsung masuk begitu saja. Ini bukan istana-mu, Nona.”

Gadis berambut blonde itu melangkahkan kakinya, tangan kirinya menutup pintu dengan perlahan. Lalu kemudian gadis itu menganggukan kepalanya sedikit. “Halo, namaku Jung Sooyeon, kalian sedang apa?”

Minhwa melirik Youngran yang tetap membeku seperti orang idiot. Dengan ujung kakinya, gadis itu sedikit menyadarkan Youngran dari kebekuannya. “Apa ada yang perlu kami bantu?.” Tanya Minhwa kemudian, masih menatap Sooyeon dengan tatapan tidak bersahabat.

Sooyeon hanya tertawa kecil. “Bagaimanapun, aku dua tahun lebih tua dari kalian dan sebenarnya Nyonya Park yang menyuruhku untuk bergabung dengan kalian,” Kali ini Sooyeon mulai berjalan mengitari kamar Minhwa dengan perlahan.

Minhwa meniup poninya geram, lalu bangkit dari ranjang yang didudukinya, “Lalu jika kau dua tahun lebih tua dari kami, kami harus memanggilmu Eonni, begitu?.”

Sooyeon tersenyum palsu, menatap Youngran dan Minhwa bergantian. “Seharusnya seperti itu.”

Minhwa nyaris menimbulkan asap dari ubun-ubunnya, jantungnya bertalu-talu di dada dan kali ini Youngran menahan tangannya sebelum akhirnya dirinya melakukan sesuatu yang bodoh. “Sayangnya, aku tidak tertarik memanggilmu Eonni, karena sampai kapanpun—aku hanya akan memanggil sebutan itu pada Yoona Eonni, hanya Yoona Eonni! Kau mengerti?” Minhwa berteriak di tempatnya, matanya berapi-api dan Youngran terus berusaha menenangkannya. “Ayo kita pergi keluar,” ujar Minhwa kemudian, menarik tangan Youngran untuk meninggalkan ruangan.

Sooyeon memandang kedua gadis itu yang berjalan pergi, dalam diam gadis itu merubah ekspresi pura-puranya menjadi sebuah seringaian. “Yoona lagi? Memangnya siapa Yoona?”

.

Youngran melepaskan tangan Minhwa yang menariknya. Ia menggeleng ketika Minhwa membagi tatapan bingung sekaligus kesal padanya. “Kau terlalu emosi, Park Minhwa!”

Minhwa mendesah. Bunyi debaman kecil tercipta ketika gadis itu menyerahkan punggungnya pada dinding. “Aku tidak menyukai wanita itu! Sungguh.”

Youngran mengangguk mengerti. Ia melemparkan pandangan ke sekitar, takut-takut jika ada orang lain selain mereka disana. “Aku tahu, aku juga sama sepertimu. Tapi bukan seperti ini,” Youngran menghela napas, “Apa kau sadar? Kau menyebutkan nama Yoona Eonni tadi.” Youngran melanjutkan. Ia menatap getir Minhwa yang kini mengacak rambutnya kasar,tubuh gadis itu merosot ke lantai begitu saja. Minhwa merutuki kebodohannya, gadis itu tidak sengaja. Ia bersumpah.

“Apa dia akan bertanya-tanya tentang siapa Yoona Eonni?.”

Youngran menghempaskan tubuhnya disamping Minhwa. Lalu menepuk pundak gadis itu sebelum akhirnya mendapatkan mata Minhwa yang terbelalak atas ucapannya. “Itu lebih baik daripada wanita itu mencari tahu tentang siapa Yoona Eonni.”

Argh, kenapa aku ceroboh sekali?” Minhwa memukul geram kepalanya beberapa kali. Meratapi kebodohannya karena terlalu terbawa emosi.

“Sudahlah, lagipula ini sudah terlanjur terjadi, Minhwa. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menyambutnya hangat ketika ia ingin bergabung dengan kita dan sedikit bermain-main, mungkin.”

Minhwa menatap bingung gadis dihadapannya yang kini tengah merapikan rambutnya yang sedikit teracak. “Maksudmu?”

Youngran tersenyum lebar, kemudian mengulurkan tangannya pada Minhwa. “Oh ayolah, rapikan rambutmu! Ini akan menyenangkan.”

.

Keduanya berjalan berdampingan, masih menikmati coretan-coretan artistik pada dinding-dinding yang mereka lewati. Kendati seperti itu, pikiran keduanya tidak begitu terfokus pada gambar-gambar disana. Mereka terlalu larut dalam sebuah kenyataan bahwa kini keduanya adalah sepasang kekasih. Ya, sepasang kekasih.

Yoona menghentikkan langkahnya, otomatis membuat Chanyeol menghentikkan langkahnya juga. Lelaki itu mengikuti arah pandang Yoona pada sebuah dinding dengan gambar beberapa animasi yang biasa dia lihat dalam televisi.

Yoona tersenyum, “Oh, yang satu itu sangat bagus—”

Chanyeol menganggukan kepalanya, untuk sesaat berpikir dan kemudian tersenyum riang. “Aku punya ide,”

Yoona menggigit bibirnya, menatap Chanyeol dengan ragu. Chanyeol membalas tatapan itu dengan sebuah cengiran garing yang menawan. Yoona beralih menatap sekaleng cat dinding yang kini dibawa oleh Chanyeol. Kemudian pada sebuah kuas kecil yang dipegangnya sendiri. Untuk sesaat keduanya memperhatikan sekitarnya—merasa lega karena tempat ini sedang lumayan sepi.

Chanyeol memutar kepalanya, “Ayo kita lakukan dengan cepat,”

“Apa tidak apa-apa?” Tanya Yoona ragu, lagi—Chanyeol hanya membalasnya dengan sebuah cengiran.

“Tidak apa-apa selagi kita bergegas, ayo.”

Keduanya berjalan cepat sebelum akhirnya berjongkok di hadapan sebuah dinding yang semulanya dikagumi oleh Yoona. Dalam diam Chanyeol mulai membuka cat dinding yang tadi dibelinya di toko dekat persimpangan jalan. Yoona masih dalam keraguannya, sedikit takut seseorang akan menemukan mereka.

“Kau tidak perlu takut, aku pernah sekali melakukan ini dengan teman-teman sekelasku.” Ucap Chanyeol saat tangan panjangnya behasil membuka penutup cat. Lalu kemudian lelaki itu mengambil kuas yang dipegang Yoona—mencelupkannya kedalam kaleng cat berwarna biru. “Aku akan menulis nama kau dan aku, bagaimana menurutmu?”

Yoona tampak berpikir sejenak, kemudian menatap ujung kuas yang sudah berwarna biru dengan menyelidik. “Chanyeol Yoona, bagaimana jika ChanYoon?”

Chanyeol mendapati dirinya tersenyum dan kali ini mengangguk mengiyakan, dengan hati-hati mulai menorehkan cat pada dinding. Detik-detik yang sunyi itu berakhir saat Chanyeol akhirnya sedikit bersenandung karena kini dinding itu sudah menampilkan nama keduanya—CHANYOON.

Detik-detik yang menggembirakan itu terus berlanjut saat Yoona tersenyum damai, menatap coretan tangan Chanyeol dengan kagum. “ChanYoon. Aku suka nama itu.”

Chanyeol menyimpan kuasnya, beralih pada kegiatan menatap Yoona yang sempurna. Lelaki itu tersenyum. “Tulisan ini tidak akan pernah terhapus, walaupun suatu hari nanti cat lain akan menutupinya, atau bahkan sesuatu merobohkan dinding ini, Chanyoon tidak akan pernah terhapus. Karena nama itu, sudah terukir sepenuhnya disini—dihatiku.” Chanyeol menyentuh dadanya dengan penuh percaya diri. Dan Yoona menyaksikan itu dengan seulas senyum kecil yang manis. Mendengar ucapan lelaki itu membuatnya ingin menangis lagi—tapi Yoona cukup jengah jika Chanyeol menyebutnya cengeng atau semacamnya.

“Aku juga—”

Keduanya mematung saat seorang petugas keamanan berlari kearah mereka dengan peluit yang terus berbunyi. Dalam sekali gerakan Chanyeol menarik tangan gadis itu untuk berlari. Keduanya terus berlari dan sayangnya petugas keamanan itu tidak bisa menandingi stamina anak remaja itu.

Yoona dan Chanyeol terus berlari, mereka tertawa lepas merutuki kekonyolan mereka yang terlus berlari walaupun sang penjaga kemanan sudah tidak mengejar mereka lagi.

.

Jung Sooyeon berjalan angkuh kedalam sebuah café yang dengan sengaja dimasukinya. Hari ini gadis itu menggunakan sebuah t-shirt merah ketat dan sebuah rok pendek hitam yang mencolok. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan tingkat kepercayaan diri yang sudah melebihi batas. Kemudian gadis itu duduk pada sebuah kursi di ujung café—dengan tenang mengamati beberapa pelayan yang berlalu lalang didekatnya. Sooyeon menghela napasnya saat seorang pelayan lelaki mendekati mejanya. Pelayan itu membungkuk hormat dengan tatapan yang tidak juga bisa beralih dari rok pendek Sooyeon.

Sooyeon hanya tersenyum, “Aku ingin secangkit caramel machiatto, tapi—bisakah pelayan bernama Yoona yang mengantarkannya padaku? Aku temannya, dan aku ingin memberinya kejutan.” Bohong Sooyeon dengan lidah manisnya. Pelayan lelaki yang sepenuhnya mulai mabuk karena senyuman Sooyeon itu kini hanya mengangguk mengerti sebelum akhirnya berbalik pergi menjauhi meja gadis itu.

Untuk beberapa saat Sooyeon menghabiskan waktunya dengan bercermin pada dinding kaca disebelahnya—mengagumi dirinya sendiri dengan sedikit berlebihan. Kemudian gadis itu memfokuskan pikirannya pada seorang gadis berkaki jenjang yang kini melangkah kearahnya. Senyuman gadis itu tidak pernah pudar dan Sooyeon merasa dirinya sedikit iri pada aura cantik gadis berpakaian pelayan itu.

“Ini pesanan anda, selamat menikmati dan—”

“Kau Im Yoona?” Potong Sooyeon tanpa sedetikpun mengalihkan pandangannya pada Yoona. Yoona menatap manik mata Sooyeon dengan sedikit bingung—kemudian gadis itu mengangguk mengiyakan.

“Aku Jung Sooyeon. Suatu hari nanti, kau akan mengingat namaku,” Sooyeon menampilkan sebuah senyuman licik di bibirnya. Yoona hanya diam menatap gadis itu dan kemudian Sooyeon hanya menikmati ekspresi bingung itu sembari mulai menyeruput minumannnya.

Yoona masih dalam kebisuannya sebelum akhirnya sebuah suara mengalihkan pikirannya. Suara berat itu sudah sangat dikenal Yoona, dan Yoona menyukainya.

Park Chanyeol berdiri dekat kasir seraya melambaikan tangannya, Yoona sedikit terkejut mengetahui Chanyeol kini tahu tempat dirinya bekerja. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sooyeon, gadis itu membungkuk singkat dan berjalan mendekati Chanyeol. Sooyeon tidak bisa menutupi ekspresi terkejutnya saat dirinya menyaksikan kedua insan itu kini saling menyapa ramah. Dari cara gadis itu menatap pun Sooyeon sudah tahu. “Jadi itu Park Chanyeol? Astaga!”Gumam Sooyeon tidak percaya. Tatapannya tidak juga beralih pada Chanyeol dan Yoona yang kini bahkan saling tertawa satu sama lain. Gadis itu mengepalkan tangannya, sesuatu dalam jiwanya berbisik. “Park Chanyeol adalah milikku,”

.

.

TBC

18 thoughts on “(Freelancer) In Your Eyes (Chapter 5)

  1. ahirnya mereka jadian horeeeeeee… ya ampun sooyeon cepet banget nemuin yoona nya , ah aku ga suka seringai jahat nya. semiga moment chanyoon selalu ada

  2. Waduh, yoona bakalan susah nih bersatu sama chanyeol😮
    Sooyeon udah muncul
    Sama yg di part 4 kalo ga salah, yg ngomong ke chanyeol buat njauhin yoona blm muncul ya thor?
    Penasaran itu siapa, mungkin kai?
    Hehehhe
    Ditunggu klanjutannya🙂

  3. akhirnya mereka jadian jugaa….
    semoga youngran sama minhwa bergasil ya ngegagalin perjodohannya
    terus kai ceritanya gimana? dia kan udah tau kalo chanyeol dijodohin

  4. Astagaaaa chanyeol sweet bgt.. Sumpaah aku senyum2 sendiri berasa jd yoona yg d goda sm chany…
    Bner kaan sooyeon yg d jodohin sm chany,,tp kok dy tau ttg yoona drimn?? Kayaknya gag ad penjelasan deh part sebelum2nya.. D tunggu kelanjutannya saengi..

  5. yeyyy…yoona eonni ma chanyeol jadian jg seneng dehh…
    tuh kan sooyeon yg mo d jdohin ma chanyeol sebel deh:/
    yeongran man minhwa cepat sikirkan sooyeon biar ga gangu yoona eonni.
    nextt…chap6 jgn lm…😀

  6. Udah SooYeon kamu pergi aja sana,gk usah ganggu kehidupan orang lain,hushh!!
    Author,pokoknya jgn sampai Chanyeol suka sm SooYeon itu,gk banget,nanti kasihan Yoona..

  7. keren thor feel nya dpt, Sica eonni bkalan nindas Yoong eonni yaa ? ku harap tidak.
    Oke lah dtunggu aja klnjutannya !
    FIGHTING !!!

  8. aaaa keren bnget thoor😀
    bikin geregetan!!
    tp sebelumnya aku minta maaf ya ngk bisa coment di part3 nya..😦
    tp janji deh bakl coment selalu dipart selanjutnya😀
    plis ya thor..
    dipercepat kelanjutannya…
    plis plis plis… :*

    btw, keep writing thoor..
    fighting…

  9. wow…sumph sweet bnget chanyeol nembak yoona nya..ah pasti semua cwe pada suka kalo ditembak kyk gtu..
    sooyeon tuh bener” kelihatan angkuhnya..ditnggu part 6nya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s