See You [3 Pre-Final]

See You_4

See You

apareecium | Kris, SNSD Yoona, and EXO Suho | Romance-Drama | All Rated

Ponsel Yoona berdering tanda panggilan masuk. Tangannya meraba-raba meja yang terletak di samping tempat tidur mencari ponslenya.

“Mana sih?” Gerutu Yoona. Ia pun menoleh sekilas ke meja tersebut lalu mengambil ponselnya. Tanpa melihat lagi siapa yang menelepon, ia langsung menerima panggilan tersebut.

“Halo?”

“Halo. Yoona?”

Yoona bisa mendengar suara pria dari seberang sana yang sangat familiar di pendengerannya walaupun samar-samar. Dahinya mengerut ketika ia berhasil mengingat suara tersebut.

“Joon Myun?” Tebak Yoona dengan penuh keraguannya.

“Iya. Apa kau tidak menyimpan nomorku lagi, hm?”

“Tidak. Aku masih menyimpannya.”

Syukurlah. Aku pikir kau marah.”

“Tidak kok.” Bohongnya. Bayangkan bagaimana menjadi Yoona. Pasti akan marah, ‘kan?

Hm.. Apa kau sibuk? Aku berencana mengajakmu jalan-jalan sebentar? Mencari udara segar saja.”

“Sekarang?”

“Yeah. Itupun jika kau berkenan, Yoong.”

“Baiklah. Aku mau.”

“Tunggu aku sepuluh menit lagi di apartemenmu, okay?”

Ne. Sampai nanti, Joon Myun.”

“Sampai nanti, Yoong.”

Dan sambungan itupun terputus. Yoona menghelakan napasnya pelan lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Ia bangkit berdiri lalu meraih mantelnya yang berwarna merah marun yang tergantung dekat pintu keluar apartemennya. Sembari ia memakainya, ia mencabut kunci yang masih berada di dalam lubang kunci, lalu menarik pintu apartemennya dan keluar dari sana.

.

.

.

Yoona tengah duduk di pos keamanan apartemennya sambil menunggu Joon Myun. Ia mengeratkan mantelnya lebih lagi untuk menghangatkan tubuhnya dari udara dingin di Seoul ini. Berhubung musim tengah berganti dari gugur ke dingin, suhu udara di Seoul semakin menurun. Lagi-lagi ia menghela napasnya hingga keluar embun hangat dari mulutnya.

“Eh, Im Yoona-ssi?” Suara berat milik seorang pria yang berasal dari punggung Yoona berhasil membuatnya terkejut.

Ia menoleh ke asal suara, “Paman Park?”

“Tentu saja. Siapa lagi?” Balas Paman Park—orang yang memanggil Yoona, salah satu petugas keamanan di apartemennya.

Yoona tertawa pelan, “Aku kira penculik. Hahahaha.”

“Kau bisa saja, Yoona-ssi.” Paman Park keluar dari pos keamanan lalu duduk di sebelah Yoona dengan kopi yang mulai menghangat karena udara yang dingin ini, “Kau sedang apa? Menunggu seseorang?”

Ne. Temanku.” Jawab Yoona singkat.

“Aku pikir kau sedang menunggu kekasihmu.” Balas Paman Park.

“Kekasihku tidak disini.”

“Hah? Padahal tadi aku berusaha mengejekmu lho. Rupanya kau mempunyai kekasih.”

“Tentu saja, Paman Park. Kekasihku berada di Sydney sekarang.”

Sinar dari kampu depan sebuah mobil sedan berwarna hitam membuat Yoona sedikit mengalihkan pandangannya karena silau. Mesin mobil yang berhenti tepat di hadapannya itu mati dan seseorang keluar dari kursi kemudi.

“Yoona, kau sudah menunggu lama?” Tanya Joon Myun—orang yang keluar dari kursi kemudi.

Yoona langsung bangkit berdiri, “Oh. Ternyata kau, Joon Myun.” Yoona menoleh kearah Paman Park lalu tersenyum, “Aku duluan ya, Paman.”

Ne. Hati-hati di jalan.” Balas Paman Park.

Dan Joon Myun menuntun Yoona ke pintu sebelah kanan, ia membukakan pintu mobil untuk Yoona dan memberinya ruang untuk masuk. Setelah itu, ia masuk ke dalam posisi kemudi namun sebelumnya, ia memberikan senyuman terbaiknya kepada Paman Park.

.

.

.

“Kita mau kemana?” Tanya Yoona memecahkan kesunyian.

Joon Myun tertawa pelan, “Maaf, akupun tidak tahu. Kau mau kemana?”

“Kau yang mengajakku, ‘kan? Aku pikir kau tahu ingin pergi kemana.” Jawab Yoona seadanya.

Joon Myun langsung diam sambil menoleh ke luar mobil. Yoong, kau kenapa, batin Joon Myun. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Yoona bisa seperti ini kepada teman dekatnya sendiri karena…

Tentu saja Yoona marah. Diri dia sendiri yang menjadi penghalang bagi Yoona untuk menemui kekasihnya yang berada di Sydney. Sebenarnya, Joon Myun mengajak Yoona untuk jalan-jalan mala mini agar ia bis amenyampaikan sesuatu.

“Yoong.”

Yoona menoleh sekilas.

“Ada hal penting yang harus kusampaikan.” Balas Joon Myun.

Okay. Katakanlah.”

“Pertama, tidak masalah ‘kan jika kita di mobil saja?” Tanya Joon Myun.

“Tentu saja. Dimanapun aku bisa saja.” Jawab Yoona.

Joon Myun langsung menepi di pinggir jalan. Ia membuka kaca mobilnya sedikit agar oksigen tetap bertukar. Ia langsung merubah posisinya serong kearah Yoona dengan kaki kanan yang sedikit ia tekuk.

“Tolong berikan aku satu alasan mengapa kau harus berangkat ke Sydney lusa ini.” Ucap Joon Myun.

Yoona menatap Joon Myun, “Aku sudah mengatakannya. Aku ke Sydney untuk bertemu dengan kekasihku.”

“Dan kau pikir hal tersebut penting?” Tanya Joon Myun yang mampu membuat Yoona menjadi bungkam. Yoona mengernyitkan dahinya dengan matanya yang tetap menatap Joon Myun. Menurut Yoona, penting. Tapi, apakah Joon Myun akan memikirkan hal demikian dengan pikiran yang sama?

Yoona rasa tidak.

“Menurutku, iya. Jika menemui kekasihku, Kris merupakan hal yang tidak penting. Aku tidak mungkin berani menaikkan surat cutiku kepadamu, itu yang pertama. Kedua, aku tidak mungkin mengeluarkan sebagian dari uang tabunganku di bank demi dia. Ketiga, jika dia tidak penting, mungkin aku tidak berada disini sekarang. Mungkin aku tengah frustasi dan stress karena tidak ada hal yang bisa kulakukan, tidak ada yang mendukungku mati-matian akan suatu hal. Joon Myun, asal kau tahu saja. Sebelum ada Kris, kekasihku, hidupku hampa.”

“Yoong, kau tahu aku ini teman baikmu, sahabatmu. Kenapa kau tidak datang kepadaku?”

Yoona mendecak kesal, “Joon Myun, jika benar bahwa kau teman yang baik untukku, kau pasti mengerti betapa frustasi dan tertekannya aku di awal tahun aku bekerja. Ayahku sakit parah pada saati itu dan ibuku bisu, aku bisa apa? Kau tidak tahu ‘kan?”

Kali ini, Joon Myun yang bungkam. Pantas saja saat wisuda, ia tidak melihat kedua orang tua Yoona.

“Beruntungnya, ayahku sudah pulih dari penyakitnya dan bisa bekerja lagi. Aku cukup bersyukur.” Lanjut Yoona.

Joon Myun diam. Sibuk dengan perkataan-perkataan Yoona yang berusaha ia cerna di otaknya. Ia mengetuk-ngetuk setir mobilnya, lalu memandang luar jendela. Bibir bawahnya yang nampak merah itu digigit pelan olehnya. Berusaha menahan sepatah kata yang hendak keluar, tapi ia tidak bisa.

“Baiklah.”

“Baiklah? Apa?”

“Aku memberikanmu cuti pada hari Jumat dan Sabtu.”

“Joon..Joon Myun? Kau serius?”

“Tentu. Kau harus berangkat ‘kan?” Tanya Joon Myun lalu tertawa pelan, “Lagi pula aku tidak mau mengganti tiketmu yang hangus nanti.” Candanya.

Joon Myun, kau berhasil membuat Yoona tersenyum hari ini, “Gomawo, Joon Myun-a.”

“Sama-sama, Yoong.”

Bagaikan keajaiban, Joon Myun seperti melihat mata Yoona yang telah redup langsung kembali bersinar seperti bintang di malam ini.

.

.

.

Pagi Yoona terasa berbeda hari ini. Entah mengapa ia lebih bersemangat. Baru saja ia usai dari acara mandinya dan kini tubuhnya maish terbalut dengan handuk, tapi layar ponselnya yang menyala itu sangat menarik perhatiannya. Ia langsung meraih ponselnya dan membuka pesan masuk dari seseorang.

Kris.

Paginya makin sempurna. Ia langsung membuka pesan masuk tersebut.

From: Kris

Hi, my lady! Maafkan aku untuk soal yang kemarin. Aku tahu, aku sangat seperti anak kecil kemarin. Entah mengapa, aku merasa….ah..sudahlah. Kau tidak butuh penjelasan ‘kan? Btw, bagaimana pagimu, sweetheart?

Dengan cepat Yoona membalas pesan tersebut.

To: Kris

Tidak apa-apa. Aku juga sudah melupakannya. Pagiku? Sempruna ketika menerima pesan dari kau ;p Btw, aku boleh meminta alamatmu? Aku baru saja membelikanmu baju dan aku ingin mengirimkannya hari ini.

Terkirim.

Yoona meletakkan ponselnya di atas meja lalu membuka lemari. Mengambil pakaian yang ia perlukan lalu meletakkannya ke atas tempat tidur. Namun, layar ponselnya menyala lagi tanda pesan masuk. Dengan cepat ia memakai pakaiannya lalu duduk di atas kursi dengan rambut yang masih acak-acakkan.

From: Kris

Lho? Baju? Untuk apa? Memangnya kau tahu ukuran bajuku, hm?

Ini alamatku.

St. xxx xxx xxx

xx xx xxx

xxxxx

Ponsel tersebut diletakkan oleh Yoona ke atas meja. ia meraih sisir lalu menata rambutnya. Hari ini, ia ingin mengikat rambutnya. Pertama kalinya hari Kamis menjadi hari terakhir dia bekerja dalam satu minggu. Ia ingin tampil berbeda agar terlihat lebih fresh tentunya.

Usai dengan rambutnya, ia mengambil ponselnya lagi lalu membalas pesan Kris.

To: Kris

Terima kasih, dear ^^ Hari ini aku akan mengirimkan paketnya. Aku kerja dulu ya, love you❤

.

.

.

Yoona membuka kotak bekalnya. Menu makanan ia hari ini adalah Onigiri buatannya sendiri. Tiba-tiba seorang wanita yang tak lain adalah Yuri menarik kursi kosong milik salah satu karyawan lalu meletakkannya tepat di hadapan Yoona. Ia meletakkan juga kotak bekalnya diatas meja kerja Yoona lalu tersenyum lebar, “Selamat makan.”

Ya, Yuri memang selalu melakukan hal aneh tersebut hampir setiap hari setiap jam makan siang. Yoona hanya tersenyum lalu menggeleng-geleng melihat tingkah teman sekantornya itu.

“Hari ini aku bawa kari. Mau coba?” Tawar Yuri.

“Tidak.” Balas Yoona, tapi ia meletakkan satu onigiri ke atas tutup kotak bekal milik Yuri, “Aku tahu kau mau. Lain kali langsung minta saja, okay?”

Yuri langsung tertawa terbahak-bahak, “Kau mengertiku sekali, Yoong!”

“Tentu. By the way, aku cuti untuk besok dan lusa lho.”

Onigiri yang baru saja dipotong oleh Yuri itu langsung diletakkannya lagi. Ia menatap Yoona dengan intens. “Bagaimana bisa?”

“Kemarin Joon Myun sajangnim yang mengatakannya secara langsung.”

“Tunggu. Kemarin?!”

“Iya. Kemarin malam.”

“Pantas saja.”

Yoona langsung meletakkan sumpitnya lalu menopang dagunya, “Maksudnya?”

“Pantas saja kalian selalu menjadi bahan omongan. Ternyata kalian sering bertemu di luar jam kerja, hm?”

“Yul. Kita teman dari masa kuliah. Bohong jika kita tidak pernah bertemu di luar jam kerja.”

“Oh. Baiklah. Terserah padamu saja. Aku mau makan dulu, okay?

Lagi-lagi tingkah temannya itu berhasil membuat Yoona tersenyum lebar.

.

.

.

Tak terasa hari ni begitu cepat hingga jam pulang kerja pun sudah ditemui oleh Yoona. Ia membereskan barang-barangnya dan hendak berdiri dari posisi duduknya dengan tas yang tergantung di lengannya. Baru saja ia melangkah meninggalkan mejanya tersebut, tapi suara dari pintu yang baru terbuka mengundang perhatiannya.

“Hei, Joon Myun!” Sapa Yoona.

Joon Myun yang baru saja menutup pintu langsung menyambut Yoona dengan senyumannya, “Hei, Yoong! Mau pulang?”

“Iya. Baru saja. Baiklah. Aku duluan, ya?” Pamit Yoona.

“Hei, Yoong!” Joon Myun melangkah kebar lalu memegang lengan Yoona, “Pulang bareng, yuk?” Ajak Joon Myun.

“A-Apa?”

“Hari ini kau tidak pulang bersama Yuri ‘kan?”

“Iya, tapi—“

“Kali ini saja. Bagaimana?”

“Ba-Baiklah.” Ketika mendengar jawaban dari Yoona. Joon Myun langsung melepas genggamannya lalu menempuk pundak Yoona sekali, “Ikut denganku dan jangan kabur, okay?”

Yoona hanya mengangguk sekilas sambil mengikuti langkah Joon Myun dari belakang. Entah, Joon Myun terlihat berbeda. Ia sedikit lebih..perduli? Apa mungkin karena kejadian kemarin di mobil? Entahlah, Yoona tidak memikirkannya. Ia sedang sibuk dan terlalu bersemangat untuk besok subuh nanti.

.

.

.

“Joon Myun-a, terima kasih atas tumpangannya.” Yoona tersenyum sambil menatap Joon Myun.

“Sama-sama, Yoona. Hm. Besok kau ke bandara jam berapa?” Tanya Joon Myun.

“Bandara? Besok jam 3 subuh aku sudah berangkat karena jam 5 pesawatnya sudah berangkat. Kenapa? Jangan bilang kalau kau ingin—“

“Kau tahu saja, Yoong. Boleh?” Potong Joon Myun.

“Tapi, Joon Myun, bukannya menolak. Aku sudah memesan taksi bandara. Jadi, tenang saja, okay?”

Joon Myun mengernyitkan alisnya lalu menatap Yoona seakan memohon, tapi Yoona menggeleng dengan cepat.

“Maaf, Joon Myun. Baiklah. Aku turun dulu, ya?” Yoona sudah memegang knop pintu mobil Joon Myun, tapi Joon Myun menahannya.

“Tunggu.” Joon Myun menarik pintu mobil tersebut sehingga ia sangat dekat dengan Yoona hingga ia bisa merasakan napas Yoona yang berderu mengenai kulit wajahnya. Ia bisa melihat wajah Yoona yang memerah. Begitupun dirinya. Ia bisa merasakan darahnya mengalir lebih kencang, jantung berdebar dengan sangat, dan wajahnya terasa sangat panas seperti terbakar.

Joon Myun langsung memeluk Yoona detik itu juga lalu berbisik pelan, “Hati-hati, ya? Kau sendirian disana dan kau tahu, aku sangat khawatir.”

Yoona tersentak. Ia tahu bahwa Joon Myun khawatir, tapi sekarang ia jauh lebih khawatir. Ia khawatir jika perasaan Joon Myun berbeda dengan perasaannya ke Joon Myun yang hanya menganggapnya sebagai teman dekat. Apalagi Yoona bisa merasakan debaran jatuh Joon Myun.

Yoona hanya bisa memohon agar pertemanannya akan baik-baik saja.

.

.

.

Sweater turtleneck yang berwarna putih sudah melindungi tubuh Yoona, jeans panjang berwarna hitam, flat shoes berwarna putih berbahan glossy membuat Yoona cukup yakin dengan penampilannya. Ia melilhat arloji yang mengalung di lengan kirinya.

“Jam tiga pas.” Yoona menarik kopernya lalu mengambil tas ransel MCM miliknya lalu keluar dari apartemen. Ia mengunci apartemennya lalu menyimpannya di saku jeans-nya—untuk sementara.

Ia berjalan menelusuri koridor yang masing remang-remang karena tidak semua lampu dinyalakan. Maklum saja, Yoona menyewa di apartemen yang cukup murah. Jadi, fasilitasnya kurang mendukung.

Yoona mengangkat kopernya ketika menuruni tangga. Ia tidak tahu betapa beruntung dirinya ketika ia tinggal di lantai 2 disaat apartemen ini belum membangun lift. Tentunya, ia harus bersyukur. Ketika ia sudah keluar dari gedung, ia sudah bisa melihat ada taksi yang menunggu.

“Paman Park!” Teriak Yoona ketika ia melihat Paman Park yang berada di pos keamanan. Paman Park menoleh lalu menghampiri Yoona dengan senyuman lebar di wajahnya.

“Sini paman bantu.” Ucap Paman Park. Yoona memberikan kopernya kepada paman Park yang ingin membantunya untuk membawa koper tersebut ke dalam bagasi taksi.

Yoona mengeluarkan beberapa lembar won dan kunci apartemennya. Ketika paman Park berbalik tanda ia telah usai meletakkan koper tersebut di tempat semestinya, Yoona langsung memberikan beberapa lembar uang won beserta kuncinya kepada paman Park.

“Tolong jaga apartemenku ya, Paman.”

Paman Park menerima uang dan kunci tersebut. “Terima kasih, Yoona-ssi. Hati-hati di jalan dan semoga beruntung.”

“Ne. Terima kasih, paman.”

Yoona pun masuk ke dalam taksi dan meninggalkan tempat tinggalnya untuk sementara untuk menemui seseorang yang telah mencuri hatinya selama ini.

.

.

.

Sydney, Australia

Suara bel di sekolah kanak-kanak yang baru saja berdentang tanda aktivitas di sekolah telah usai. Sekelompok anak-anak kecil yang berkisar umur enam sampai delapan tahun berlari dari pintu sekolah melewati lapangan yang kosong dibawah terik matahari.

Seorang pria yang memakai kemeja putih dan celana panjang yang berwarna hitam itu berdiri tepat di sebelah kiri gerbang sekolah. Tangannya sesekali merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angin. Matanya mulai membentuk dua buah bulan sabit, kedua pipinya mulai naik, dan bibirnya menyungging. Kedua tangannya terbuka memberi pelukan yang besar kepada seorang anak kecil berambut panjang berwarna coklat tua dengan bando warna putih yang tertata rapi di rambutnya.

Daddy!!

Seruan anak kecil itu terdengar nyaring hingga beberapa orang yang menunggu anaknya di depan gerbang menoleh kearah anak kecil tersebut.

“Sophia!” Balas pria yang diseru oleh anak kecil tadi—Sophia. Dan Sophia masuk ke dalam pelukan hangat ayahnya itu. Sang pria langsung menggendong anak semata wayangnya itu lalu mengusap kepala belakangnya.

“Lama tak bertemu. Do you miss me?” Tanya sang pria tersebut.

A LOT!” Balas Sophia dengan teriakannya.

“Ayo, kita pulang.” Ajak sang pria itu sambil melangkahkan kakinya meninggalkan sekolah tersebut lalu menghampiri mobil sedan silver miliknya. Baru saja ia memegang knop pintu mobilnya, tapi Sophia sudah terbelalak dan teriak, “MOMMY!”

Pria tersebut langsung menoleh kearah Sophia berteriak dan kini ia pun ikut terbelalak dan terkejut. Ia bisa melihat seorang wanita dengan sunglasses yang melindungi kedua matanya tengah berjalan kearah mereka.

“Sophia!” Panggil wanita itu penuh dengan semangat.

Mommy! Dad, turunkan aku!” Pinta Sophia. Sebenarnya, pria tersebut enggan membiarkan anaknya itu turun dan lari dari pelukannya, tapi mau bagaimana lagi? Ia menurunkan Sophia lalu melihat anak kecil yang lucu dan imut itu berlari menghampiri wanita tersebut.

“Tiff mommy! Aku kangen!” Ucap Sophia.

Wanita yang disebut dengan Tiff—Tiffany oleh Sophia langsung merekahkan senyumannya kepada anak kecil itu lalu menunduk dan menepuk-nepuk puncak kepala anaknya itu. “Apa kabar, anakku?” Tanya Tiffany.

I’m fine. By the way, daddy kangen sama mommy.” Ucap Sophia dengan asal.

What?!” Pekik Tiffany diluar kesadarannya. Ia langsung melihat pria yang baru saja melangkahkan kakinya menghampiri mereka.

“Kau tahu dia berbohong.” Akhirnya pria tersebut membuka mulutnya yang sedari tadi terkatup rapat sembari memerhatikan mereka.

“Aku tahu, tapi kau tidak harus mengatakannya di depan Sophia, Kris.”

Pria yang dipanggil Kris oleh Tiffany itu langsung mengedarkan pandangannya. Ia menghela napasnya kasar lalu memegang lengan mungil milik Sophia.

“Sophia, let’s go home.” Ajak Kris.

Yeah, dad! Tapi, aku mau mom ikut bersama kita.”

“Sophia..” Tiffany memelas.

Kris menatap Sophia. Ia bisa melihat mata Sophia yang seakan-akan memohon dengan sangat. Sedetik kemudian, ia mengendikkan bahunya sekali, “Itu terserah mom mau ikut atau tidak.”

Senyuman milik Sophia langsung merekah lebih cerah dari matahari yang tengah bersinar. Ia langsung menukar tatapannya dengan Tiffany lalu mengangguk-angguk kecil, “Mom, please?

But..”

“Mom, I’m begging you.”

“Baiklah. Mom ikut.”

.

.

.

Udara di Sydney sepertinya memang berbeda dengan udara di Korea yang selalu dingin. Disini terasa lebih hangat. Yoona menarik kopernya lalu berjalan keluar dari terminal dan masuk ke salah satu taksi yang tepat berada di depannya. Sang supir keluar dari posisi kemudi lalu membantu Yoona memasuki kopernya ke dalam bagasi. Setelah itu, Yoona masuk ke dalam taksi lalu mengeluarkan secark kertas yang tertulis alamat diatasnya.

Sang supir pun masuk ke posisi kemudi lalu menoleh sekilas ke kursi penumpang, “Where can I take you, miss?

This address, please?” Balas Yoona sambil memberikan kertas tersebut.

Sang supir membaca alamat tersebut lalu mengangguk sekilas, “Okay, enjoy the ride!

Yoona hanya tersenyum sekilas tanpa memikirkan apakah supir tersebut akan melihatnya atau tidak. Ia melihat layar ponselnya yang memang screenshot salah satu chat-nya dengan Kris. Ia tersenyum lagi, tapi senyuman kali ini terlihat berbeda, “Tunggu aku, Kris.”

.

.

.

Taksi yang ditumpangi oleh Yoona berhenti di depan rumah yang terlihat sederhana seperti rumah-rumah pada umumnya. Rumah dengan satu lantai, memiliki garasi di sebelah kirinya, ada pagar kecil yang bahkan tidak sama tinggi dengan perutnya, namun halamannya cukup luas, tapi terlilhat berantakan.

Yoona keluar dari taksi sedangkan supir tersebut mengeluarkan koper dari bagasi. Ia berdiri dengan senyuman yang lebar terpampang di wajahnya. Sungguh, ia tidak sabar untuk menemui Kris, pria yang sangat ia cintai.

Miss, you luggage.” Ucapan supir taksi itu mengganggu pikiran Yoona.

Thank you, sir.” Balas Yoona lalu memegang kopernya. Ia melangkahkan kakinya lalu membuka pagar, ia melangkahkan kakinya melewati halaman yang cukup besar itu lalu berhenti tepat di depan pintu utama rumah tersebut. Ia mengetuk pintu tersebut dua kali. Ia bisa mendengar langkah kaki-kaki kecil yang berlari menuju pintu tersebut dan..

CKLEK!

Pintu tersebut terbuka. Yoona bisa melihat ada anak kecil yang bersurai coklat tua tengah tersenyum kepadanya. “Who are you?” Tanya anak kecil itu sambil memeluk pintu tersebut.

Gemas, tapi anak kecil itu siapa?

“Sophia, who’s there?” Yoona bisa mendengar suara berat milik pria yang sangat familiar di pendengarannya. Dahinya mengerut, jantungnya berdebar lebih kencang, bahkan tangannya bergetar dengan sangat tidak sanggup melihat sosok yang akan muncul dari balik pintu itu.

“Soph—Yoona?!” Pekik pria itu, kekasihnya, Kris Wu.

Daddy, who’s this?

Koper yang tengah digenggam oleh Yoona langsung terlepas dari genggamannya ketika mendengar kata Daddy dari mulut anak yang mungil itu. Ia terguncang. Sangat terguncang.

“Kris, tolong jelaskan ini semua.”

TBC

 Udah mau tamat aja hihi aku sih udah siapin sequel-nya siccccccch. Maaf ya FF ini enteng banget. Konflik nya gak se wow FF author-author yang lain. Kalo konfliknya kebanyakan jadi aku kepikiran banget dan ngutang FF kan malesin.

Setelah ini gak langsung sequel sih kayaknya, aku ada selingan FF 3 Chapter gituuuw. heheheheh makasiy gaes dah baca!😀

40 thoughts on “See You [3 Pre-Final]

  1. Oohhh jadi ini masa lalunya Kris oppa.. Diaa udh nikah sma tiffany eon.. Jdii apaa alasannya brcerai ? Gimana sma yoong eonnie.. Thorr jngn lama” yaa.. Smangat okkee !!

  2. Jadi rahasianya kris dia udah punya anak?😮
    Terungkap juga hehehehe
    Bagus bgt thor ffnya
    Malah suka konflik yg gak terlalu banyak hahaha
    Suka sama ide ffnya😀

  3. yeah, akhirnya terungkap juga rahasia kris yang selama ini selalu ia tutupi dari yoona
    tapi nyesek baca bagian endingnya, aku berharap kalau kris sama tiffany itu udah cerai, meskipun mereka udah punya anak
    eh tapi tapi, ini udah mau final aja, endingnya nanti gimana ya? berharap banget yoonkris bersatu, tapi keputusan akhir tetap sama kamu via😉

  4. Bener kaaan dugaanku klo kris gag punya tunangan sdh menikah dy gag mgkin ragu ketika yoona ngajak ketemuan dn keliatan bgt klo kris gag seantusias yoona.. Udaah sm joonmyun ajah tp sbnernya gag rela dan masih tanda tanya apa hub kris sm tiff?? Gag mslh klo kris uda punya anak.. Poor yoona…
    D tunggu kelanjutannya saengi… Sumpaaah penasaraan bangeet daan kecewa sm kris.. Huwaaaaa

  5. OMG!!! jadi kris udah punya anak!?
    kayanya yoona ama suho deh -_- aku penginnya yoonkris
    gak mau Suyoon.. tapi keputusan ada di tangan author. Jadi terserah tapi aku masih berharap yoonkris
    makasih🙂😀

  6. wow! menuju klimaks.. kira2 penjelasannya kris gimana yaaa, masalahnya dia apaa, yoona nantinya gimana, hubungannya mereka jadi gimana.. wahh pertanyaanku banyak sekali, ditunggu next chapternya yaaa.. semoga bisa cepat yaa

  7. Wah seru banget tapi yoona kaget banget pas shopia manggil kris dgn sebutan daddy tapi semoga yoona bisa menerima shopia dan shopia bisa menerima yoona sebagai kekasih daddy nya ya semoga yoona bisa menjadi mommy nya shopia,tapi tiffany itu siap nya kris thor next thor jangan lama-lama

  8. OMG ternyata kris udh punya anak?? trus tiffany siapa? mntan istrinya kriss??
    ahh smoga yoong gk slah paham deh:)
    ditunggu nextnya thor^^

  9. wah..wahh….kris dah punya anak,,,
    huhh…gmana ini apa yoona eonni bisa menerima kris pasty yoona eonni shokc bgt tuhh….
    next …thor jgn lm y…😀

  10. Kyaaaa ternyta kris udah punya anak?? Keinget nonton somewehere only we know.. padahal byangan ku kris itu cacat nggk taunya duda.. keke
    Suho sama yuri unnie aja deh yah.. nah loh yoong unnie kaget ngeliat anaknya kris..
    Please next jan lama2 ya thor.. lagi seru2 nya nih faighting

  11. Oh me Ternyata kris bilang gak siap karna status nya sebagai duda atau masih sama tiffany, ini bikin pasaran banget gmna dengan yoona. Di tunggu ya lanjutannya semuga gak lama. FIGHTING

  12. Astgaa
    Ternyta kris udh pnyaa ank
    Wajar aj ngga mau ktmu yoona eoni
    Pasti shock bnget eoni
    Pnsran sma klnjtannyaa
    Keren
    Daaebak author

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s