(Freelance) Still You (Chapter 3)

still you

Still You Chap 3

 

 

Author                  : Chobi
Tittle                     : Still You
Cast                       : Kim Jongin,
Im Yoon Ah

Support cast       : JB,Tao, Sehun

Genre                   : Romance
Rating                   : PG
17
Length                  : Chapter

Disclaimer          : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini cuma karangan aku aja, GAK NYATA. Typo bertebaran bak daun-daun yang berguguran di musim gugur. Jadilah pembaca yang baik.

 

Sebelumnya aku mau minta maaf dulu yah karena mungkin banyak yang menyayangkan kenapa Yoona atau Kai nya malah jarang nongol.. Iyah, niatnya aku emang mau ngebikin ff ini fokusnya ke Jongin, jadi semua problem yang terjadi berkaitan sama Jongin, nah problem itu nanti yang berpengaruh ke Yoona-nya, etapi jadinya malah begini,, maaf yaaah.. Terimakasih banget udah mau ngebaca sama ninggalin komentarnya.. Banyak ilmu yang di dapet dri komen kalian.. Hehehehe. Fighting!! Fighting!!

 

 

Happy Reading…

 

Kau bilang kau tidak mau memakainya??” Jiwon mengarahkan tangannya ke celana JB untuk melepaskannya juga, namun JB menahan kedua tangan Jiwon kencang, dan mendekatkan Jiwon kearahnya sehingga tubuh Jiwon menempel dengan JB.

Oh..” Jiwon pun kaget, ia memalingkan wajahnya yang sangat dekat dengan JB dan berusaha menjauh darinya.

 

JB mendekatkan mulutnya ke telinga Jiwon dan berbisik disana “Apa kau begitu menyukai tubuhku Jiwon-ssi??

 

YAK!! Apa yang kalian lakukan??” Teriak Yoona yang sudah tegak berdiri di depan pintu kamar Jiwon.

 

Eonni.. Tolong aku!!” Teriak Jiwon meminta tolong, dan di saat yang bersamaan JB melapaskan Jiwon dan membiarkan Jiwon menjauh darinya, ia tersenyum melihat wajah merah Jiwon.

 

Kurasa Mark menjagamu dengan baik kekek…” JB mendekatkan wajahnya ke Jiwon lagi.

 

Apa bibirmu pernah disentuh oleh Mark??” Tanya usil JB.

 

Minggir kau!!” Jiwon mendorong wajah JB menjauh dengan kedua tangannya.

 

JB mengambil kaos yang terletak dilantai dan memakainya kembali.

 

Park Jae Bum!! Apa yang mau kau lakukan terhadap Jiwon? Eoh?” Yoona mendekat kearah JB dengan pakain tidur yang masih melekat ditubuhnya, pakaian yang dipakai berbeda dengan Jiwon, pakaian tidur Yoona serba tertutup dari leher sampai kaki.

 

Dia yang memulainya duluan.. Kau tahu? Dia melepas pakaianku.. Ckckck. Kau saja belum pernah melakukan itu padaku” lapor JB pada Yoona.

 

Kau pikir siapa yang menggantikan pakaianmu semalam??” Yoona berjalan kearah kulkas dan meminum air putih.

 

Apa itu kau? Apa kau melihat semuanya? SEMUANYA?? Woahh..” Seru JB.

 

Dasar cabul!!” Ucap Jiwon pelan.

 

Bagaimana keadaanmu?” Yoona kembali mendekat ke arah JB dan memegang kening JB.

 

Ya Tuhan!! Kim Jiwon!!” Yoona baru menyadari pakaian yang Jiwon kenakan sangat minim, bisa saja jika ia telat bangun mungkin Jiwon sudah tidak perawan lagi karena JB.

 

Jiwon menatap bingung Yoona, “Ada apa?

 

Tidak seharusnya kau berpakaian seperti ini dihadapan lelaki… Masuklah ke kamarmu!!” Pinta Yoona.

 

Memangnya kenapa?? Oppaku juga laki-laki dan ia sering melihatku berpakaian seperti ini” jawab Jiwon.

 

Sudah jangan membantah..” Yoona menarik tangan Jiwon dan memasukannya kedalam kamar.

 

Oppa!! Jangan lupa kotak bekal itu!!” Teriak Jiwon.

 

Cih.. Sikapnya berubah lagi” decak JB.

 

Astaga!! Aku harus mencari Jackson” buru-buru ia mengambil kotak bekal, tanpa pamit JB meninggalkan apartemen itu.

 

 

 

 

Gunung Jiri, Jeolla Utara

10.20

 

Gunung Jiri sangatlah besar dan indah. Gunung itu terletak di atas wilayah 3 Propinsi, luasnya mencapai 484 ㎡. Salah satu puncak gunung Jiri yang bernama Cheonwangbong merupakan puncak gunung tertinggi ke-2 di Korea Selatan, yang tingginya mencapai 1.915 m diatas permukaan laut. Di atas gunung yang sangat besar itu terdapat satu jalan setapak yang panjangnya kira-kira 40 km. Jalan itu menghubungkan puncak Cheonwangbong dengan puncak Nogodan yang tingginya 1.507 m di atas permukaan laut. Selain itu ada banyak puncak yang lain, diantaranya puncak Banyabong dan Teokkibong (diberi nama teokki atau kelinci karena bentuk puncaknya seperti kelinci). Dari puncak gunung Jiri kita dapat melihat kota Namwon, Jinju, Gokseong, Gurye dan Hamyang.

 

Jongin terlihat sedang menyusuri jalan setapak di gunung Jiri, ia berangkat dari Seoul sekitar 3-4 jam yang lalu setelah mendapatkan kabar bahwa Jihyun ada di tempat yang sekarang ia sedang telusuri. Jongin berpakaian sangat tebal, dilihat dari wajahnya yang pucat bisa dipastikan ia sedang sakit, mengingat semalam ia habis pergi keluar dan cuaca sedang hujan, setelah itu ia juga kurang tidur, wajar saja jika fisiknya melemah. Namun hal itu tidak dijadikannya sebagai alasan untuk berhenti mencari Jihyun, walaupun Jongin selalu bersikap dingin pada Jihyun, Jongin tetap memperhatikan keadaan Jihyun sama halnya dengan adiknya.

 

Jongin melihat seorang wanita yang sedang duduk di sebuah batu besar memandangi keindahan yang amat luar biasa dari gunung Jiri, Jongin sangat mengenal siapa wanita itu. Jongin berdiri tepat di sebelah Jihyun dan tak mau menganggu Jihyun yang sedang menikmati pemandangan.

 

Jihyun sadar akan kehadiran seseorang disebelahnya. “Aku baik-baik saja.. Kau bisa kembali ke Seoul sekarang” ucap Jihyun tanpa menoleh ke arah Jongin.

 

Jongin menghirup udara segar dan memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya, ia berbalik dan hendak pergi. Namun tiba-tiba Jihyun menahan pergelangan tangannya.

Hanya sebatas itukah?” Ucap Jihyun menatap punggung Jongin.

 

Tiba-tiba Jongin merasakan kepalanya berdenyut sangat kencang, sakit yang di rasakan ia coba sembunyikan dari Jihyun.

 

Mwo?” Tanya Jongin tanpa berbalik.

 

Hanya sebatas itukah rasa pedulimu padaku?” Tanya Jihyun sambil menunduk, rambut panjangnya bertebaran tertiup angin.

 

Kau pergi jauh ketempat ini pasti punya tujuan,, kau membutuhkan waktu untuk menyendiri bukan? Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.. Cepat kembali…” Jongin mulai merasakan sakit diperutnya disertai mual, mungkin karena dari kemarin sore sampai sekarang ia tidak makan apapun.

 

“Jangan pergi!” Jihyun semakin mengeratkan genggaman tangannya dipergelangan tangan Jongin.

 

Aku menyukaimu Kim Jongin.. Tak tahu kah kau akan hal itu?” Akhirnya Jihyun mengungkapkan apa yang dirasakannya, suaranya terdengar sendu.

 

Jongin menarik nafasnya panjang dan membuangnya perlahan. “Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin merusak persahabatan yang telah kita jalani selama ini

 

Jihyun berdiri dan memeluk Jongin dari belakang “Biarkan seperti ini.. Sebentar saja..” Pintanya.

 

Jongin membiarkan Jihyun memeluk dirinya… Jongin tahu selama ini Jihyun mencintainya, itulah alasan mengapa Jongin selalu bersikap dingin dan cuek kepada Jihyun, karena jika Jongin merubah sikapnya maka sama halnya ia memberikan Jihyun sebuah harapan kosong, karena Jongin tak pernah mencintai Jihyun.

 

Maafkan aku” Ucap Jongin.

 

Aku tahu… Sampai kapanpun kau tidak akan membalas perasaanku.. Tidak perlu khawatir aku baik-baik saja, perasaan ini milikku” Jihyun melepaskan pelukannya.

 

Setelah hari ini berakhir.. Aku akan kembali seperti diriku yang dulu..” Jihyun berbalik, ia meyakinkan dirinya untuk bisa melupakan perasaannya terhadap Jongin untuk selamanya.

 

Kini Jongin dan Jihyun saling berpunggungan.

 

Aku sudah menemukannya..” Ungkap Jongin. Jongin ingin mengungkapkan semuanya pada Jihyun tanpa ada satupun yang disembunyikannya.

 

Im Yoona?” Tanya Jihyun.

 

He’em” Jongin berdeham mengiyakan.

Dan dugaan Jihyun ternyata benar.

 

Syukurlah..” Perlahan Jihyun melangkah pergi meninggalkan Jongin.

 

Selang beberapa lama, Jongin pun berbalik dan ia melihat jihyun sudah berada jauh didepannya “Maafkan aku Hyung..” Ucap Jongin pelan.

 

Jongin memegang kepalanya yang terasa sakit dan seperti berputar-putar, ia pun duduk di sebuah batu yang sempat diduduki oleh Jihyun untuk beristirahat sebentar dan kembali ke Seoul.

 

 

 

 

EXO’s Basecamp

16.30

 

Tao membawa semangkuk bubur ayam untuk Sehun yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur, sebenarnya Sehun tidak diizinkan pulang namun ia memaksanya.

 

Waktunya makan” Tao berbicara girang, ia ingin membangkitkan rasa semangat di diri Sehun. Tao sudah mengetahui apa yang terjadi pada Sehun, walaupun dengan cara mengancam akhirnya Sehun menceritakan semuanya.

 

Apa belum ada kabar?” Sehun tak berniat bangun dari tidurnya.

 

Aku baru dapat kabar dari Jongin Hyung.. Sehun-ahh kau tahu Nunna dimana?” Tao mengeluarkan ekspresi seolah-olah dia akan memberitahukan informasi pada Sehun.

 

Dimana?” Tanya Sehun antusias.

 

Aaaaaa~” Tao mengarahkan sesendok bubur ke mulut Sehun.

 

Aish!!” Sehun berbalik memunggungi Tao.

 

Sayang sekali… Aku baru ingin memberitahumu setelah kau memakan 3 suap bubur ayam ini” Tao menaruh sendok bubur itu ketempatnya.

 

Jangan memperlakukanku seperti itu!! Kau tidak tahu aku sedang sakit??!!” Tiba-tiba Sehun bangun dari tidurnya dan menyemburkan kekesalannya pada Tao.

 

Tao mengabaikan Sehun, ia asyik memainkan game yang ada di smartphonenya.

 

Kau!! Baiklah!!” Sehun mengambil mangkuk yang ada di atas meja, ia langsung memasukan 3 suap sendok bubur kedalam mulutnya, mulut Sehun pun penuh dan ia langsung menelannya.

 

Sehun mengambil segelas air lalu meminumnya “Dimana dia?

 

Gunung Jiri.. Besok Nunna akan kembali.. Kau tidak perlu khawatir.. Habiskan makananmu” Tao pergi keluar kamar meninggalkan Sehun.

 

 

 

 

Mark’s Apartemen

17.00

 

Agnes baru saja pulang dari sekolahnya, ia masuk kedalam lift dan memencet tombol angka 6 dimana apartemennya berada, ia berjalan dikoridor dan tiba di depan apartemennya, setelah ia memasukkan kode tiba-tiba ada seseorang yang mendorongnya masuk.

 

Yak!!” Teriak Agnes tanpa bisa melihat siapa orang itu.

 

Jackson menyudutkan Agnes pada tembok dan membekap mulut Agnes. “Emmmpp!! Eemmpp!!” Agnes berteriak sembari memberontak.

 

DIAM!!!!” Teriak Jackson.

 

Sontak Agnes pun terdiam, ia takut Jackson akan berbuat lebih kasar lagi padanya. Jackson tidak bersekolah hari ini, ia menghabiskan malamnya di sebuah bar dan akhirnya sampai di apartemen Mark dalam keadaan mabuk berat.

 

Mengapa kau lakukan ini padaku??? Apa karena orang itu kau tega membuangku? Hah? Jawab aku!!!” Tanya Jackson marah, ia masih membekap mulut Agnes dan membawa Agnes kesebuah sofa yang ada di ruang tamu. Air mata Agnes turun membasahi pipi merahnya, kini yang ia rasakan hanya takut, takut dan takut.

 

Oppa tolong aku… Kumohon.

 

JAWAB AKU!!!!” Teriak Jackson.

 

Eemmmmpppp” Agnes semakin merasa takut.

 

Jackson baru menyadari, mulut Agnes masih dibekap olehnya, lalu ia membukanya. “Jawab aku?” Pinta Jackson lagi.

 

Jackson-ahh… Sadarlah” ucap Agnes pelan diiringi tangisan.

 

Kau yang seharusnya sadar!! Kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja Agnes!!” Jackson mendekatkan wajahnya pada Agnes, Agnes langsung memalingkan wajahnya.

 

Apa aku harus berbuat sejauh ini dulu agar kau tetap berada disisiku?” Jackson berbisik ditelinga Agnes, air matanya juga keluar, ia sangat amat merasakan sakit yang luar biasa setelah Agnes memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Jackson sudah sangat mencintai Agnes, setelah kesalahan pertama yang ia lakukan pada Agnes dulu ia telah menyadari betapa berharganya Agnes dimatanya.

 

Aaaakkkkhhhh!!!” Teriak Agnes ketika Jackson berusaha mencium bibirnya.

 

Sssssstttt!!” Jackson kembali membekap mulut Agnes.

Aku tidak akan menyakitimu Agnes…” Dengan cepat Jackson menjauhkan tangannya dari mulut Agnes dan menciumi bibir Agnes dengan sangat kasar dan penuh nafsu, Agnes berusaha dengan sekuat tenaga memberontak.

 

BUG!!

“Akkkkhhhh!!!”

Agnes mendorong tubuh Jackson dengan kekuatan yang ia punya dan ia pun berhasil menjauhkan Jackson, punggung Jackson pun terbentur sebuah meja yang ada di belakangnya. Kesempatan itu digunakan Agnes untuk melarikan diri, ia masuk kedalam kamarnya lalu menguncinya, lalu ia masuk lagi kedalam kamar mandi dan menguncinya lagi. Dengan tangan yang sangat gemetar ia mengambil ponsel yang ada di saku jasnya, buru-buru ia menekan panggilan cepat nomor 1 yang menuju ke ponsel Mark.

 

Tak lama panggilan pun diangkat.

 

O..O..ppa…” Panggil Agnes terbata sembari menangis.

 

To…to.. Tolong aku

 

DUG!! DUG!! DUG!!

 

Buka pintunya!! Agnes!! Agnes!!” Suara gedoran pintu kamar Agnes dari arah luar diiringi dengan teriakan Jackson.

 

Akkkkhhhh Oppa!!!” Jerit Agnes semakin kencang.

 

Aku di apartemen” lanjut Agnes.

 

Agnes mematikan panggilan telponnya dan membekap ponselnya didadanya sembari terus menangis, tiba-tiba ia terpikir untuk menghubungi seseorang lagi, dengan cepat Agnes mencari kontak dan menelponnya.

 

T-t-tao-ya.. A-aku di apartemen.. Tolong aku…” Tiba-tiba panggilan terputus.

 

 

30 menit kemudian

 

 

Tao tiba lebih dulu dibandingkan dengan Mark karena ia mengendarai motornya dengan sangat cepat, berbeda dengan Mark yang harus menggunakan taksi karena motornya masih dalam perbaikan pasca kecelakaan. Tao menggedor-gedor pintu apartemen Agnes, sesekali ia mendengar teriakan seorang laki-laki yang meneriaki nama Agnes di dalam, Tao pun semakin merasa tak karuan, ia mengambil sebuah tabung berwarna merah yang biasa digunakan untuk memadamkan api dan Tao mendobrak pintu apartemen menggunakan tabung itu, pintu berhasil didobrak dan Tao langsung berlari masuk kedalam, matanya langsung melihat Jackson yang sedang berusaha mendobrak pintu kamar menggunakan kakinya, ketika Tao berlari untuk menghentikan Jackson, Jackson lebih dulu berhasil mendobrak pintu kamar dan langsung memasuki kamar tersebut.

 

Agnes!! Kau dimana??” Teriak Jackson, ia berjalan ke arah kamar mandi dan ketika ingin membukanya ternyata terkunci.

 

 

DUG!! DUG!!

Buka pintunya!!! Agnes!!” Teriak Jackson.

 

BUG!!!

Jackson tersungkur kelantai karena tendangan Tao yang sangat kencang. Tao mengetuk pintu kamar mandi dan memastikan Agnes berada didalam.

 

Agnes… Kau didalam?” Tak ada jawaban, namun Tao mendengar isakan tangis Agnes.

 

Agnes.. Aku Tao, tenanglah. Kau aman sekarang…

 

BUG!!

Akkkhhh!!” Tao memegangi kepala bagian depan yang terasa sangat sakit dan ia terperosok jatuh ke lantai setelah Jackson menarik kepala Tao kebelakang dan membenturkan lagi ke arah pintu.

 

Kau!! Semua gara-gara kau!!” Jackson mengangkat kepala Tao agar menghadapnya ke atas dan Jackson memukul wajah Tao bertubi-tubi. Tao berusaha melawan Jackson namun rasa sakit dikepalanya bukan main.

 

Tiba-tiba Agnes keluar dari kamar mandi dan langsung menyaksikan Tao yang dipukuli oleh Jackson, Agnes bergegas menarik tubuh Jackson agar menjauh dari Tao.

 

Hentikan!! Jackson hentikan!! KUMOHON!!” Jerit Agnes dengan air mata yang terus membasahi seluruh wajahnya.

 

Minggir!!” Jackson mendorong Agnes menjauh.

 

BUG!!

Dengan tenaga yang tersisa, Tao menendang perut Jackson dan tersungkurlah Jackson, buru-buru Tao berlari ke arah Agnes dan membantunya berdiri.

 

Kau baik-baik saja?” Tanya Tao pada Agnes.

 

Rupanya kau sudah lama berhubungan dengannya?” Tanya Jackson yang masih duduk dilantai memegangi perutnya yang sakit.

 

Tao melindungi Agnes dibelakang tubuhnya dan ia menghadap Jackson “Kau sudah gila!! Baginikah caramu memeperlakukan gadis yang kau sukai?” Wajah Tao sudah tak terlihat tampan lagi, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.

 

Tahu apa kau??!! Sadarlah!! Semua ini karena ulahmu!!” Jackson berdiri dan mengambil sebuah kursi yang ada didepen meja rias, ia mengangkat kursi itu di atas kepalanya dan berniat melemparkan kursi itu ke arah Tao.

 

Jangan!!” Teriak Agnes, tak sadar ia memeluk tubuh Tao erat berniat untuk melindungi Tao.

 

Yak!! Jack..son!!” Mark terkejut bukan main melihat keadaan kamar adiknya yang berantakan dan sikap Jackson yang terlihat brutal. Dengan cepat ia mengambil kursi yang dipegang Jackson.

 

Apa yang kau lakukan?

Mark melihat ke arah lain dan mendapati Tao sedang menatapnya dan Agnes sedang memeluk Tao sembari menangis terisak.

 

Hyung!! Dia merebutnya dariku” Jackson terjatuh kelantai dan menundukan kepalanya, kesadaran diri dari mabuknya sedikit-demi sedikit kembali.

 

Op..pa~” Agnes melihat kehadiran Mark, ia pun terjatuh kelantai dan berteriak memanggil Kakaknya, Mark pun menghampiri Agnes lalu memeluknya untuk menenangkannya.

 

Tao sedikit bergeser agar Mark bisa leluasa menenangkan Agnes. Agnes memeluk Mark erat, ia menumpahkan semua rasa takutnya pada Mark, bahkan ia meremas bahu Mark dengan sangat kencang.

 

Ssstt.. Tenanglah.. Aku disini Agnes” Mark mengelus kepala Agnes.

 

Maafkan aku…” Terdengar suara lirih Jackson.

 

Mark dan Tao pun menoleh kearah Jackson.

 

Aku yang membuatnya seperti ini” ungkap Jackson.

 

Kau menakutkan!!” Tiba-tiba Agnes berjerit kearah Jackson.

 

Pergi!!” Agnes terus menangis.

 

Maafkan aku.. Kumohon maafkan aku” Jackson mendekat ketempat dimana Mark dan Agnes berada.

 

AARRRGGGHHHKKK!! MENJAUH DARIKU!!” Teriak Agnes. Mark sangat bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.

 

Tao terlihat geram melihat perlakuan Jackson, ia pun bergegas menarik Jackson keluar kamar.

 

Mark mengeluarkan ponselnya dan ia menghubungi seseorang. “JB-aa… Ke apartemenku sekarang!!” Mark memasukan ponselnya kedalam sakunya lagi dan ia mengangkat Agnes ke atas tempat tidur.

 

Ada apa sebenarnya?” Tanya Mark pada adiknya. Agnes hanya terdiam dan terus terisak.

 

 

40 menit kemudian

 

 

Agnes akhirnya tertidur, di saat Mark menemani Agnes pikirannya dipenuhi oleh suatu hal yang mengganjal, ia menyelimuti Agnes lalu bergegas meninggalkan kamar dan hendak menutup pintu kamar Agnes namun ternyata pintunya rusak.

 

Mark.. Ada…” Ucapan JB terpotong.

Jangan biarkan mereka meninggalkan tempat ini!!” Mark melirik kearah Tao dan Jackson yang sedang duduk di sofa. Mark mengambil bangku dan menaiki bangku itu, ia mengambil sebuah memori dari CCTV yang sengaja ia pasangkan, setelah di dapat memorinya ia masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya rapat. JB baru saja datang dan mendapati keadaan apartemen milik temannya sudah berantakan seperti kapal pecah. Ia lebih terkejut lagi melihat Tao.

 

Kalian berkelahi?” Tanya JB pada kedua orang yang sedang menunduk itu namun tak ada jawaban.

 

Tao bangkit dari duduknya ia berniat meninggalkan apartemen itu, namun JB menghalangi jalan Tao “Kau tidak dengar apa yang temanku ucapkan?

 

Aish..” Keluh Tao pelan, ia kembali duduk.

 

Selang beberapa menit Mark keluar dari kamarnya dan menghampiri Jackson lalu memukul pipi Jackson sangat kencang.

 

BUG!!

Tao dan JB dibuat kaget oleh perbuatan Mark.

 

Mark!!” JB mendekati Mark dan di saat itu juga JB mencium bau alkohol dari Jackson.

 

Mark hendak melayangkan pukulan keduanya namun tangannya lebih dulu ditahan oleh JB.

 

YAK!!” Bentak JB, dan mendorong Mark menjauh.

 

Jelaskan semuanya!!” JB meminta penjelasan pada Mark.

 

Apa yang kau lakukan pada adikku? Eoh?” Mark menekankan kalimatnya.

 

Maafkan aku…” Jackson pun menutup matanya dan tubuhnya terkualai di atas sofa.

 

YAK!! Kau minum berapa botol??” Kesal JB melihat keadaan si bungsu.

 

Apa aku sudah bisa pergi?” Tanya Tao pada Mark, ia tidak ingin terlibat lebih dalam lagi dengan masalah yang terjadi di dalam geng itu.

 

Mark mengiyakan dengan menganggukan kepalanya, Tao langsung meninggalkan tempat kejadian.

 

 

 

 

Kim’s Apartemen

20.30

 

Yoona berlari kearah lift yang akan tertutup, ia memencet tombol buka sehingga lift itu kembali terbuka dan masuklah ia kedalam, didalam lift ia melihat sosok lelaki yang berpakaian serba hitam dan topi hitam yang menutupi wajahnya sedang membungkuk dipojokan kiri, karena Yoona merasakan sedikit takut ia berdiri di depan pintu lift dan ia pun mengarahkan telunjuknya untuk memencet angka 9 namun angka itu sudah terlebih dahulu dipencet oleh seseorang.

 

Sampai di lantai 9, pintu lift pun terbuka buru-buru Yoona berlari meninggalkan lift dan segera masuk keapartemen, namun saking paniknya, ia salah pencet angka passwordnya dan lelaki itu berjalan tergontai semakin dekat kearahnya.

 

DEG!!!

Akkkkkhhhhh!!!” Teriak Yoona karena tiba-tiba pundaknya dipegang.

 

Minggir!!” Seseorang itu menggeser tubuh Yoona, dan ia langsung memasukan passwordnya dan masuk kedalam apartemen.

 

Yoona mengenal suara lelaki itu, rasa takutnya dalam sekejap pun hilang dan ia ikut masuk kedalam.

 

Yak!! Kenapa kau bertingkah seperti penjahat?” Teriak Yoona pada Jongin.

 

BRUG!!

Jongin terjatuh tak sadarkan diri di lantai.

 

Yak!!” Yoona berlari kearah Jongin.

 

Ada apa denganmu!! Bangunlah!!” Yoona membalikan tubuh Jongin dan ia semakin tercengang ketika ia memegang tubuh Jongin yang amat sangat panas.

 

Aku harus bagaimana?? Ahh Jiwon” Yoona meninggalkan Jongin yang terkulai di lantai dan berlari kearah kamar Jiwon, ketika pintu kamar dibuka Yoona melihat Jiwon sudah tertidur pulas dengan ponsel yang menempel di telinganya, Yoona tidak tega untuk membangunkan Jiwon, ia pun pergi dan menutup pintu kamar Jiwon dengan sangat pelan.

 

Dengan tenaga yang ia punya, ia melingkarkan tangannya di pinggang Jongin dan berusaha mengangkatnya. Sampai di kamar milik Jongin, Yoona merebahkan Jongin diatas tempat tidur dan ia pun terengah-engah karena tubuh Jongin yang sangat berat menurutnya.

 

Yoona pergi keluar, tak lama ia kembali dengan baskom yang berisi air dan sapu tangan untuk mengompres Jongin agar panasnya turun.

 

Lihatlah… Wajahmu memang sangat menyebalkan!!” Yoona memperhatikan wajah Jongin dari dekat, menurutnya wajah Jongin ketika sedang sakit ataupun sehat tetap sama dinginnya.

 

Maaf soal kemarin… Maafkan aku” Yoona teringat kejadian semalam, ia sadar tak seharusnya ia melakukan hal itu pada Jongin. Terlebih Jongin sudah sangat baik padanya.

 

Yoona melihat keseluruhan kamar Jongin, ia beranjak dari tempat tidur Jongin dan hendak mengambil sebuah foto yang menarik perhatiannya. Ketika ia mengambil foto itu, matanya membuka lebar melihat seseorang yang berada di sebelah Jongin.

 

Op…pa” ucapnya terbata.

 

Hyung~ Aku menemukannya” tiba-tiba Jongin mengigau. Yoona pun segara melihat kearah Jongin yang terlihat resah dan gelisah, wajahnya dipenuhi dengan banyak keringat.

 

Yoona kembali memperhatikan foto yang ia pegang, tak lama ia menaruhnya dan dengan keberanian yang ia punya ia membuka seluruh laci untuk mencari apakah masih ada suatu benda yang berkaitan dengan Oppanya agar ia bisa menghubunginya. Yoona menemukan sebuah foto yang terbalik di ujung laci, ia mengambilnya dan ia terkaget bukan main karena itu adalah foto masa kecilnya bersama Changmin yang tak lain adalah Kakaknya yang telah menghilang sampai sekarang. Yoona berjalan ke arah Jongin dan ia menatap Jongin sangat dalam “Siapa kau sebenarnya Kim Jongin?” Ucapnya pelan.

 

 

Pukul 3 dini hari, Jongin terbangun dari tidurnya, ia meraba keningnya dan mengambil sapu tangan yang menempel di sana, ia menoleh kearah samping dan mendapati Yoona sedang tertidur pulas di atas kursi dengan menyandarkan kepalanya ketembok, Jongin menghela nafas barat, rasa pusing dikepalanya masih terasa, ia ingin melanjutkan tidur tapi ia tidak mungkin membiarkan Yoona tidur seperti itu, ia turun dari tempat tidurnya, mengangkat dan merebahkan tubuh Yoona ke atas tempat tidur miliknya, lalu Jongin juga merebahkan dirinya disebelah Yoona dan kembali melanjutkan tidurnya.

 

 

 

 

Kim’s Apartemen

07.00 Pagi

 

Jiwon sudah berseragam rapih untuk keberangkatannya ke sekolah, ia mengambil tas gembloknya dan berjalan keluar ke arah kamar Jongin untuk berpamitan, Jiwon memegang gagang pintu dan membukanya perlahan.

 

Op…pa” mata Jiwon membelalak dan mulutnya membuka lebar melihat kakaknya sedang mencium kening Yoona yang tengah terlelap tidur, buru-buru ia menutup pintu kamar Jongin kembali dan berjalan keluar apartemen dengan banyak dugaan-dugaan yang terngiang dikepalanya.

 

Apa mereka berkencan??

Astaga!! Kenapa aku tidak berfikir ke arah sana??

Mereka sangat handal dalam menyembunyikan suatu hubungan!!

 

Jiwon-ah!!” Panggil Jongin ketika Jiwon sudah memegang gagang pintu apartemen.

 

Ne?” Jiwon menoleh kearah Jongin dengan ragu-ragu, ia takut kakaknya tau kalau ia baru saja memergokinya.

 

Aku akan mengantarmu..

 

Tidak perlu!! Aku berangkat sendiri saja!! Annyeong” Jiwon berlari meninggalkan apartemen, ia sangat bersyukur.

 

 

 

 

Halte Bus

07.20

 

Jiwon menunggu kehadiran seseorang yang akan datang untuk mengantarnya ke sekolah, tak lama ada sebuah taksi yang berhenti di depan halte dan keluarlah seseorang dari sana dan berjalan ke arah Jiwon yang tidak mengetahui kedatangannya.

 

Jangan memandangi pria lain!!?” Ucap Mark yang sudah ada disamping Jiwon.

 

Jiwon pun menoleh dan mendapati Mark tengah tersenyum dengannya dan ia pun balas tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Mark menarik Jiwon kedalam pelukannya. “Apa kau baik-baik saja selama tidak bertemu denganku?

 

Sepertinya tanganmu sudah sembuh Oppa.. Kau begitu erat memelukku.. Kekek” canda Jiwon yang mengabaikan pertanyaan Mark. Mark langsung melepaskan pelukannya.

 

Kapan aku bisa naik motormu lagi? Aahh aku tidak sabar untuk mengelilingi Kota Seoul bersamamu lagi Oppa!!” Jiwon terlihat sangat girang.

 

Mark merangkul Jiwon dan berjalan ke arah taksi yang sudah menunggunya. “Kau tidak takut? Apa kau tidak berfikir kejadian seperti kemarin bisa terulang lagi?

 

Jiwon pun berhenti “Apa kau berfikir untuk tidak mengendarai motor lagi?

 

Mark mengangguk “Jika aku sedang bersamamu!!” Mark menarik tangan Jiwon dan membukakan pintu belakang taksi.

 

Ahhh Shireo!!” Jiwon menolak pikiran Mark untuk tidak memboncenginya lagi di motor.

 

Mark mendorong Jiwon masuk kedalam dan menutup pintu taksi itu.

 

OPPAAA!!” Teriak Jiwon kesal karena tidak mau mendengarkannya sembari menggedor-gedor jendela taksi.

 

Mark duduk dikursi depan disebelah supir taksi. Jiwon akhirnya mengalah menyandarkan punggungnya di bangku mobil, dan saat itu juga dia baru menyadari ada penghuni lain di taksi tersebut. “Oh, An-nyeong Agnes” sapa Jiwon sedikit membungkuk.

 

Agnes hanya menyunggingkan bibirnya sedikit lalu kembali memandangi pemandangan melalui jendela. Jiwon merasakan ada keanehan pada Agnes, dilihat dari matanya sepertinya dia habis menangis. Jiwon mengambil ponsel yang ada disaku jasnya dan ia mengetikan sesuatu disana. Tak lama nada pesan masuk dari ponsel Mark berbunyi, dengan cepat ia membukanya.

 

Akan kujelaskan nanti.. Hari ini kalian harus bermain bersama! Mengerti!” Mark menengok kebelakang dan melirik kearah adiknya.

 

Jiwon mengangguk ragu.. “Ahh sepertinya tidak… Selalu ada bodyguard didekatnya

 

Jika orang yang kau maksud adalah Jackson, kau harus menjauhkannya darinya?

Eoh?? Apa yang kau maksud Oppa??

 

Lakukan saja” Mark mengacak rambut Jiwon.

 

 

 

 

Hannyoung High School

07.55

 

Jiwon dan Agnes berbarengan memasuki kelas mereka, Jiwon menggandeng tangan Agnes ketempaat biasanya ia duduk.

 

Sehun-ah, kau bisa pindah tempat ke sebelah Tao!” Pinta Jiwon. Biasanya teman sebangku Sehun adalah Jiwon dan teman sebangku Tao adalah Jinan, dan mereka duduk dikursi paling akhir. Tao memperhatikan Agnes, tak lama ia berdiri dan menghampiri Agnes.

 

Kau mau duduk bersamaku?” Tanya Tao pada Agnes.

 

Yak!! Apa kerjamu hanya berkelahi saja? Lihat wajahmu!! Akan kulaporkan pada Oppaku!!” Kaget Jiwon melihat keadaan wajah Tao yang babak belur.

 

Tanpa menjawab apapun, Agnes berjalan ke arah bangku yang bersebelahan dengan Tao, Tao pun kembali ke tempat duduknya.

 

Jangan dipikirkan.. Luka di wajahku tidak sakit sama sekali” ucap Tao sembari memamerkan deretan gigi putihnya.

 

Tiba-tiba dari arah pintu Jackson datang kearah Agnes dengan membawa sebuah cokelat, dengan sigap Tao berdiri di samping Agnes untuk menghalangi Jackson berbuat yang tidak-tidak.

 

Jackson berdiri tepat disamping meja Agnes, ia menaruh sebuah cokelat yang diatasnya bertuliskan AKU BERSALAH… MAAFKAN AKU, lalu pergi meninggalkan tempat itu dan duduk di kursi biasanya yakni di sudut pojok kursi paling akhir yang sejajar dengan meja Tao.

 

Sehun dan Jiwon langsung menoleh kearah belakang dan memperhatikan coklat itu dan sesekali menatap wajah Agnes.

 

Kau mau menerimanya?” Tanya Tao pada Agnes, lalu Agnes menggelengkan kepalanya.

 

Tak berselang lama datanglah Jinan, teman sebangku Tao, ia terlihat bingung karena kursinya sudah ada penghuni baru.

 

Jinan-ah.. Ini untukmu. Mulai sekarang kursimu disana!” Tao memberikan coklat pemberian Jackson pada Jinan dan menunjuk kursi baru untuk Jinan.

 

Baiklah..” Jinan menerima coklat itu dan berjalan kekursi barunya, tidak ada tindak penolakan dari Jackson. Jinan adalah orang yang sangat nurut pada Tao, karena Tao lah penyelamat Jinan ketika dulu ia masih sering di buly oleh teman-teman sekelasnya.

 

Kurasa jika kau menyuruhnya terjun dari gedung lantai 100 dia akan melakukannya” ceplos Sehun.

 

Kau mau melakukannya?” Tantang Tao pada Sehun.

 

Kau saja duluan!!” Balas ketus Sehun dan kembali menghadap kearah depan.

 

Sepertinya aku mengerti apa yang terjadi sebenarnya pada kalian” pikir Jiwon, ia pun kembali menghadap kearah depan.

 

 

 

 

Kim’s Apartemen

07.15

 

 

Yoona mengucek kedua matanya, ia memegang lehernya yang terasa sakit karena semalam ia sempat tidur di kursi sehingga leher dan kepalanya tidak berada di posisi yang benar. Ia bangun dan menyadari ini bukanlah kamar yang biasanya ia tempati, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan buru-buru ia mengambil sebuah foto yang ia letakan semalam di saku celananya dan berjalan keluar kamar untuk mencari Jongin. Yoona mendapati Jongin sedang duduk di meja makan sembari menatap layar ponselnya. Yoona pun menghampiri Jongin.

 

Jelaskan padaku!” Yoona memberikan Jongin sebuah foto.

 

Jongin melihat foto itu dan ia langsung mengambil foto dan memasukannya kedalam saku celana pendeknya. “Apa yang kau lakukan dikamarku?!

Jelaskan padaku!! Kau mengenal lelaki yang ada di foto itu kan? Dimana dia sekarang?” Tanya Yoona sangat antusias.

 

Aku tidak mengenalnya!” Jongin pergi meninggalkan Yoona.

 

Dia Kakaku yang hilang 5 tahun yang lalu” ungkap Yoona dan membuat langkah kaki Jongin berhenti. Jongin menutup kedua matanya, Aku belum siap memberitahumu.

 

 

 

Jalan raya menuju stasiun subway

08.00

 

 

 

Jongin mengendarai motornya dengan sangat kencang sehingga Yoona yang ada dibelakangnya memegang pinggang Jongin erat dan menyandarkan tubuhnya pada Jongin.

 

Kau mau membawaku kemana?” Bisik Yoona tepat ditelinga Jongin yang tertutup helm. Jongin mengabaikan Yoona dan tetap fokus mengendarai motornya.

 

Jongin dan Yoona tiba di stasiun kereta bawah tanah, Jongin memarkirkan motornya pada tempat penitipan motor, mereka bejalan beriringan dan terlihat sebagai pasangan serasi karena pakaian yang mereka pakai entah disengaja atau tidak terlihat mirip, dengan celana jeans hitam dan sepatu all star berwarna abu-abu sama persis, pakaian bagian atas mereka yang terlihat sedikit berbeda, Jongin memakai kaos oblong putih dilengkapi dengan jaket kulit warna hitam dan aksesoris tambahan topi snapback berwarna putih dikepalanya, sedangkan Yoona menggunakan kaos putih dipadukan dengan kemeja berwarna hitam campur merah dan membiarkan rambut panjangnya menjutai kebawah.

 

Jongin dan Yoona berdiri didepan pintu masuk penumpang kereta. “Kau mau membawaku kemana?” Lagi-lagi Yoona bertanya hal yang sama.

 

Bagaimana Yoona tidak bingung, pagi tadi setelah ia memberi tahu bahwa seseorang yang ada di dalam foto milik Jongin adalah kakaknya yang sudah lima tahun menghilang, tiba-tiba saja Jongin menyuruhnya untuk bersiap-siap pergi ke suatu tempat dan mau tidak mau Yoona harus mengalami potong gaji karena ia harus izin bekerja hari ini.

 

Ikuti saja!!” Jongin menatap dalam mata Yoona.

 

Aak!! Jangan menatapku, Yoona segera memalingkan matanya kearah lain.

 

Ya Tuhan tolong aku.. Jangan buat aku jatuh cinta padanya,,, Yoona megaitkan kedua tangannya dan mengepalkannya di dada sembari terus berdoa di dalam hati.

 

Aaak~” tiba-tiba Yoona berada di pelukan Jongin.

 

Jongin menarik Yoona yang menghalangi jalan keluar masuknya penumpang kereta.

 

Karena Yoona sibuk berdoa di dalam hati, ia sampai tidak menyadari bahwa kereta yang ditunggu sudah datang.

 

DEG!! DEG!! DEG!!

Jantung Yoona berdetak sangat cepat ketika ia berada dipelukan Jongin dan tiba-tiba saja ia menjadi gugup dan bingung harus berbuat apa, ia hanya bisa diam dipelukan Jongin sembari menggigit bibirnya.

 

Jongin menarik tangan Yoona dan membawanya masuk kedalam kereta, mencari tempat duduk dan akhirnya dapat di kursi bagian depan perbatasan gerbong, Jongin membiarkan Yoona duduk dipojok. Detak jantung Yoona sudah stabil kembali lalu ia menoleh kearah Jongin.

 

Setidaknya beritahu aku kita akan kemana? Apa kau mau menculikku lalu melemparku ke laut ketika kereta ini sedang berjalan? Aaaakkk” tiba-tiba Yoona berteriak membayangkan hal-hal yang baru saja dibicarakannya sendiri.

 

YAK!!” Jongin membekap mulut Yoona.

 

Aku benar-benar akan melakukannya jika kau tidak bisa diam!!” Yoona berhenti berteriak, Jongin pun melepaskan tangannya dari mulut Yoona.

 

 

Satu jam kemudian

 

 

Yoona akhirnya tertidur pulas dengan menyandarkan kepalanya ke jendela kereta dan Jongin pun terlihat tertidur dengan kesuluruhan wajah yang ditutupi dengan topinya.

 

Jongin berniat membawa Yoona ke Pantai Haeundae yang teletak di Busan, dimana pantai itu adalah pusat semua kenangannya bersama Changmin dan Yoona semasa kecil, tempat itu juga merupakan kampung halaman Yoona. Mereka pergi dari Seoul ke Busan menggunakan KTX dengan menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan.

 

Yoona terbangun dari tidurnya karena sakit dilehernya makin menjadi.

 

Akk..” Keluh Yoona pelan sembari memegangi lehernya, lalu ia menyandarkan kepalanya ke kursi dan kembali menutup matanya. Ketika Yoona melanjutkan tidurnya Jongin terbangun karena mendengar suara Yoona kesakitan, Jongin memperhatikan Yoona yang tertidur sembari memegangi lehernya, Jongin sedikit menggeser rambut Yoona yang menghalangi penglihatannya untuk melihat leher Yoona, tak lama ia bangun dari kursi dan pergi ke suatu tempat.

 

Jongin kembali dengan membawa sebuah bantal leher, ia memasangkannya dileher Yoona tanpa membuatnya bangun.

 

Setengah jam berlalu.

 

KRINGGG!!

Ponsel Yoona berbunyi, dengan malas ia mengangkatnya.

 

Oh.. JB, ada apa?” Ucapnya.

Ahh.. Aku tidak masuk kerja hari ini..

Maaf.. Lain kali aku yang akan menemuimu

Ne..

 

Yoona menyudahi panggilan telponnya. Ia baru ingat, bahwa ia punya janji dengan JB akan makan siang bersama.

 

Bagaimana bisa kau mengenalnya?” Tanya Jongin dengan mata tertutup.

 

Yoona menoleh ke arah Jongin. Apa dia mengigau lagi? Pikirnya.

 

Apa dia pacarmu?” Tanya Jongin lagi.

 

Ck!” Yoona berdecak kesal. Ternyata Jongin bukan sedang mengigau.

 

Jongin mendengus kasar, ia membuka matanya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Yoona. “Apa kau tuli? Siapa dia? Kekasihmu?

 

Yak!!” Kaget Yoona.

Mengagetkan saja!!” Keluhnya.

Dia kekasihku atau bukan itu bukan urusanmu!!” Jawab Yoona dengan kesal.

 

Tentu saja itu urusanku!!” Jawab Jongin tak kalah kesal.

 

Ahh!! Menyingkirlah!!” Yoona mendorong kepala Jongin agar menjauh darinya.

 

 

 

Busan

11.00 Siang

 

Jongin dan Yoona menunggu seseorang yang ditunggu di depan sebuah toko ramyeon sembari memakan ramyeon dengan sangat lahab.

 

Kapan kau membeli ini?” Tanya Yoona sembari menunjuk bantal berwarna merah yang masih melingkar dilehernya.

 

Bukan urusanmu!!” jawab singkat Jongin dengan ketus.

 

Ne.. Terimakasih,, ini sangat membantu” Yoona mulai menyabarkan dirinya.

 

Kenapa kau membawaku ke Busan? Kau tahu ini adalah kampung halamanku” Yoona menghabiskan kuah ramyeon dalam sekali teguk.

 

Aku tahu. Yak!! Kau benar tidak mengingatku?” Jongin mengarahkan sumpitnya kewajah Yoona.

 

Apa maksudmu?? Tentu saja aku tahu, kau Kim Jongin, si pria dingin” jawab Yoona asal.

 

Wajah Jongin terlihat stres menghadapi perempuan yang ada di depannya, Ku kira setelah sampai disini kau akan mengingatku.

 

Hyung!! Aku merindukanmu!!” Tiba-tiba ada seorang wanita datang dan memeluk leher Jongin. Mata Yoona membuka lebar, Hyung? Apa dia mempunyai dua kepribadian? Kepribadian gadis dan pria? Pikir ngaco Yoona dalam hati.

 

Jongin menjauhkan tangan Hyena dari lehernya. Hyena adalah teman akrab Jongin, Sehun dan Tao waktu di Seoul sebelum akhirnya Hyena memutuskan untuk pindah ke Busan. Hyena sosok perempuan yang berdandan layaknya laki-laki, rambut pendek, sepatu boots, hanya suaranya saja yang terdengar wanita habis.

 

Bagaimana kabarmu?” Jongin menarik tangan Hyena untuk duduk di kursi di sampinya.

 

Hyena menyadari keberadaan Yoona. “Hyung!! Dia kekasihmu?” Hyena menatap keseluruhan tubuh Yoona dari ujung kaki sampai rambut.

 

Tentu saja bukan. A-annyeong haseyo,, aku Yoona.. Im Yoona” Yoona tersenyum kaku memperkenalkan dirinya pada Hyena.

 

Kau cantik sekali.. Kekekek. Kau bisa memanggilku Oppa jika kau mau..” Hyena mengulurkan tangannya pada Yoona.

 

NE??” Kaget Yoona.

 

YAK!!” Jongin mendaratkan sumpitnya ke kepala Hyena.

 

Akkk!!” Ringis Hyena.

 

Jongin mengambil kunci motor yang ada di tangan Hyena lalu menarik tangan Yoona dan menghampiri sebuah motor sport berwarna hitam dan menaikinya.

 

Ku hubungi kau lagi nanti!!” Jongin memakai helmnya, memastikan tangan Yoona melingkar diperutnya dan melesat pergi ketempat tujuan awalnya.

 

 

 

 

Hannyoung High School

11.20

 

Tao, Sehun, Agnes dan Jiwon sedang berada di ruang olahraga, karena guru yang mengajar tidak masuk maka para murid dibebaskan untuk berolahraga apa saja. Tao dan Sehun sedang berebut bola basket untuk dimasukan kedalam ring basket, mereka terlihat saling menggocek.

 

Aaaakk perutku..” Tiba-tiba Tao berjongkok sembari memegangi perutnya dan menggelindingi bola basket kedepannya.

 

Sehun yang panik pun ikut berjongkok “Ada apa? Yak!!

 

Tiba-tiba Tao mendorong Sehun kesamping sehingga membuat Sehun jatuh tersungkur, kesempatan itu diambil Tao untuk mengambil bola basket dan memasukannya ke dalam ring. “Yay!! Aku menang darimu Sehun-ah!!” Tao berloncat-loncat riang.

 

Aish!!” Sehun mengacak rambutnya kesal, untuk yang kesekian kalinya ia ditipu oleh Tao.

 

Kerja bagus Tao-ya!! HAHAHAHA” teriak Jiwon sembari mengacungkan kedua jempolnya. Dan di saat itu juga Agnes tersenyum.

 

Ayo kita ikut bermain!!” Jiwon menarik tangan Agnes dan sampailah mereka di tengah lapangan.

 

Jiwon, Agnes, Tao dan Sehun berdiri saling berhadapan. “Aku satu regu dengannya” Tao menarik Agnes kesampingnya.

 

E-e-e aku tidak bisa bermain basket” ucap Agnes. kalimat itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Agnes sejak pagi tadi.

 

Eeii~ aku tahu Oppa-mu jago dalam permainan ini,, pasti kau juga mempunyai bakat seperti itu. Kita pasti menang!!” ucap Tao penuh bangga.

 

Yang kalah harus mentraktir makan siang! Bagaimana?” Tawar Sehun sembari mendrible bola basket.

 

Setuju!!” Jawab Jiwon penuh semangat.

 

Sehun-ah!! Ayo kita bekerja keras!!” Jiwon mengulurkan tangannya mengajak Sehun untuk high five.

 

Kau bisa duduk diam di sana tuan putri? Kau hanya akan membuat tim kita kalah!!” Sehun membalikan tubuh Jiwon dan mendorongnya ke pinggir lapangan.

 

Ahhh shireo!! Yak!!” Tolak Jiwon dengan terus meronta.

 

Lagi-lagi Agnes tersenyum, “Tertawalah yang lebar!!” Ucap Sehun.

 

HAHAHAHHAHAHA Seperti itu!” Tao mencontohkan bagaimana seharusnya tertawa yang sesungguhnya.

 

Sehun kembali ke tengah lapangan “2 lawan 1!! Tidak ada permainan curang seperti tadi!!” Sehun memperingatkan Tao.

 

Bagaimana aku bisa menang jika tidak berbuat curang… ucap Tao dalam hati.

 

Aku mengerti!! 1 2 3!!” Tiba-tiba Tao merebut bola dari Sehun dan memberikannya ke Agnes, lalu ia memeluk tubuh Sehun erat.

 

Cepat masukan bolanya kedalam ring!!” Pinta Tao pada Agnes yang sendang memegang bola.

 

YAK!! Lepas!! Yak!!” Sehun terus memberontak.

 

Agnes!! Cepat!! Kau pasti bisa!!” Lagi-lagi Tao meminta pada Agnes yang masih mematung ditempat.

 

Tak lama Agnes berlari membawa bola tanpa mendrible dan langsung melempar bola ke arah ring namun bola basket itu meleset jauh.

 

HAHAHAHHAHAHA” tiba-tiba Sehun tertawa puas.

 

Tao melepas Sehun dan berlari kearah Agnes.

 

Maafkan aku..” Ucap Agnes pelan.

 

Tidak apa-apa,,, tembakanmu bagus!!” Puji Tao dengan mengacungkan satu jempol tangannya.

 

Oh Sehun!! Cepat ambil bolanya!!” Teriak Jiwon dari pinggir lapangan. Namun Sehun masih tidak bisa berhenti tertawa dan ia tak mendengar teriakan Jiwon.

 

Tao mengambil bola basket yang menggelinding jauh dan memberikannya pada Agnes “Ayo lakukan!!

 

Kau saja..” Agnes menolak bola pemberian Tao.

 

Cepat.. Sebelum Sehun merebut bola ini. Kau tahu? Aku tidak akan pernah menang darinya jika tidak berbuat curang. Ayo lakukan!” Tao memberikan Agnes bola lagi.

 

Agnes menerima bola itu dan mulai mengambil ancang-ancang, bola dilemparkan kearah ring dan akhirnya bola basket itu masuk kedalam ring.

 

Yay!!” Agnes berteriak sengat kencang dan loncat kegirangan sembari memeluk Tao.

 

Aku bisa!! Kita tidak perlu mentraktir mereka Tao-ya!!” Agnes terus berlompat di dalam pelukan Tao.

 

Tao terdiam mematung Ya Tuhan!! kumohon ini bukan mimpi di siang bolong.

 

YAK!! Sehun-ah kau bodoh!!” Jiwon berlari menghapiri Sehun dan memukul bahu Sehun.

 

Akk!!” Sehun mengusap bahunya yang sakit.

 

 

Sehun dan Jiwon pergi ke kantin untuk membawakan beberapa makanan. Tinggalah Tao dan Agnes di kursi penonton menunggu makanan gratis datang. Agnes mengambil plester dari saku celananya, menghadapkan wajah Tao ke arahnya lalu memasangkan plester itu ke bibir Tao yang terluka karena pukulan Jackson kemarin.

 

Maaf..” Ucap Agnes sembari memegangi wajah Tao yang terdapat banyak luka memar.

 

Dan terimakasih” lanjut Agnes diiringi dengan senyuman, lalu kembali menghadap ke arah depan.

 

Aku senang bisa melihatmu kembali seperti dirimu yang biasanya” Tao masih setia memandangi Agnes.

 

Berkat dirimu dan teman-temanmu. Sangat menyenangkan berada di dekat kalian” Agnes kembali menolah ke arah Tao dan lagi-lagi ia tersenyum hangat.

 

Syukurlah” Tao balas tersenyum.

 

 

 

Pantai Haeundae, Busan

12.00 Siang

 

Jongin dan Yoona terlihat sedang duduk di bibir pantai menikmati pemandangan pantai di siang hari dengan cuaca yang mendung.

 

Tempat ini mengingatkanmu akan sesuatu?” Tanya Jongin menoleh kearah Yoona yang ada disebelahnya.

 

Yoona menghirup udara pantai sepanjang mungkin sebelum ia menjawab. “Pantai ini adalah pantai pertama dan terakhir yang aku datangi bersama Oppaku, saat itu umurku masih 5-6 tahun

 

Jongin tersenyum penuh arti sembari meluruskan kedua kakinya di pasir. “Apa saat itu hanya kalian berdua saja yang datang?

 

Yoona menghebuskan nafasnya kasar.

Tidak.. Aku dan Oppa membawa bocah laki-laki yang sampai sekarang aku masih berusaha untuk melupakannya

 

Tiba-tiba Yoona menoleh ke arah Jongin. “YAK!! Bukankah kau yang seharusnya bercerita tentang keberadaan Oppaku??

 

Mengapa kau ingin melupakan bocah laki-laki itu?” Tanya Jongin penasaran dan tampak aura kekecewaan di wajah tampannya.

 

Entahlah apa aku bisa menganggapnya cinta pertamaku atau tidak karena saat itu usiaku masih sangat kecil. Tapi yang pasti aku sangat kehilangannya ketika ia dan keluarganya memutuskan untuk pindah rumah” Yoona memainkan pasir-pasir halus dan menuliskan nama seseorang disana.

 

Cinta pertamamu.. Aku? Jongin tampak sedikit terkejut dengan pengakuan Yoona, dan moodnya kembali membaik pasca Yoona mengatakan ingin melupakannya.

 

Dimana Oppaku?” Tanya Yoona yang ingin cepat-cepat mengganti topik.

 

Mata Jongin tertarik akan guratan jari telunjuk Yoona yang menuliskan sebuah nama di atas pasir itu.

 

Jerapah?

Ahhh benar.. Dia memanggiku Jerapah.

 

Yoona tiba-tiba tertawa, sesekali terdiam lalu tertawa lagi. “Aku tidak tahu siapa nama asli bocah itu. Aku dan Oppaku memanggil dia jerapah karena diusianya yang masih kecil tinggi badannya hampir setara dengan Oppaku yang berumur 17 tahun

 

Aku tidak ingin membahasnya.. Aku bisa menceritakan padamu lain kali. Sekarang aku benar-benar ingin tahu dimana keberadaan Oppaku?” Raut wajah Yoona tampak berubah menjadi sangat serius.

 

Baiklah. Sebelumnya aku minta maaf.. Kau harus percaya padaku bahwa aku sudah berusaha mencari keluargamu untuk memberitahukan sesuatu hal, namun aku benar-benar tidak menemukan keberadaanmu” Jongin mengambil posisi nyaman dengan duduk bersilah.

 

Yoona pun sama mengambil posisi nyaman dengan menekukan kedua kakinya lalu kepalanya disandarkan di kedua pahanya dan menghadap kearah Jongin, sakit dilehernya sudah lebih baik dibandingkan ketika tadi ia berada di dalam kereta.

 

Angin bertiup semakin kencang, cuaca pun semakin gelap yang menandakan hujan akan turun sebentar lagi.

 

Ketika umurku 5 tahun, aku dan keluargaku pindah ke Busan namun aku hanya tinggal sebulan dan harus kembali pindah ke Seoul karena pekerjaan Ayahku.. Waktu sebulan itu sangat berharga bagiku karena di waktu itu aku bisa bertemu denganmu dan Changmin Hyung” Jongin menatap Yoona.

 

Yoona mengerutkan keningnya.

Aku?

 

Akulah Si Jerapah, yang kau bilang sebagai cinta pertamamu” Jongin tersenyum mengingat perkataan Yoona yang menganggapnya cinta pertamanya.

 

Apa??!!” Yoona sontak mengangkat kepalanya dan berteriak, mata dan mulutnya terbuka lebar.

 

Jongin kembali menghadap ke arah laut. “Sehari sebelum kepergianku, kalian mengajakku kepantai ini. Dan saat itu kau hanya diam dan mengabaikanku, sampai pada saat Changmin Hyung datang dan menanyakan ‘apa kita bertengkar?’, aku hanya diam karena aku pikir kita memang bertengkar, namun kau menjawab dengan menggelengkan kepalamu” Jongin melanjutkan ceritanya.

 

Itu benar-benar dirimu?” Yoona masih tidak percaya bahwa teman kecilnya dulu adalah Jongin.

 

Dengarkan dulu ceritaku.. Baru kau bisa menyimpulkan apakah aku cinta pertamamu atau bukan?” Usil Jongin.

 

YAK!!” Kesal Yoona.

 

Auhhh!! Sikapmu sangat berubah Kim Jongin!! Kau semakin menyebalkan!!” Ejek Yoona.

 

Jongin mengangkat bahunya. “Tak lama Changmin Hyung memberitahuku kenapa kau bersikap seperti itu.. Haha kau tidak menginginkan aku pergi kan?” Jongin memasang wajah lucunya dihadapan Yoona, membuat Yoona malu mengingat kejadian itu.

 

K-k-kapan aku berkata seperti itu? Aahhhh aku tidak tahu” Yoona menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

 

Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat itu, belum lagi aku cinta pertamu juga ckck” Jongin terus mengusili Yoona.

 

Hentikan!! Jangan dilanjutkan!! Aaakkkkk!!” Ucap Yoona sembari terus menutupi wajahnya.

 

Aahhhh aku baru ingat!! Kau pencuri!!” Jongin menarik tangan Yoona yang menutupi wajahnya, namun Yoona tidak mengizinkannya.

 

Aakkk!! Menjauhlah!! Jangan dilanjutkan!! Kumohon!!” Yoona menggeser tangan Jongin dengan bahunya.

 

Kau mencuri first kiss-ku.. Kau ingat?” Jongin tak berhenti mengerjai Yoona.

YAK!! Kapan aku melakukannya?” Yoona memperlihatkan wajahnya yang bersemu merah dan ia segara berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu.

 

Dia gila!! Ya, Tuhan… Mau taruh dimana wajahku ini.

 

Kau tidak ingin mendengar cerita Oppamu?” Teriak Jongin membuat langkah kaki Yoona terhenti. Dengan cepat Yoona melangkah mundur dan kembali terduduk disebelah Jongin.

 

Cepat ceritakan!! Aku harus memastikan suatu hal” suara Yoona masih terdengar kesal.

 

Jongin menghela nafasnya panjang, inilah pembicaraan inti yang harus dikatakan kepada Yoona sekalipun itu menyakitkan.

 

Di sebuah Rumah Sakit yang terkenal di Seoul aku kembali bertemu dengan Changmin Hyung, saat itu usiaku 17 tahun dan aku sedang memeriksakan Jiwon yang sedang demam. Awalnya aku tak mengenali dia, kalau saja dia tidak meneriakiku ‘HEI!! JERAPAH!!’ lebih dulu

 

Yoona tampak menjadi pendengar yang sangat baik.

 

Persahabatanku dengannya berawal dari hari itu, kami sering pergi bermain bersama, melakukan hal-hal yang bodoh bersama, apapun itu dilakukan bersama-sama sampai pada Oppamu menyukai Jihyun yang saat itu adalah teman dekat kami” Sesekali Jongin tertawa mengingat masa lalu yang menyenangkan itu.

 

Jihyun? Wanita yang kemarin tinggal dirumahmu itu?” Tanya Yoona untuk memastikan. Jongin mengangguk.

 

Aku berusaha mati-matian untuk mendekatkan mereka namun Jihyun sangat keras kepala, ia sangat menolak dijodohkan oleh Changmin Hyung. Walaupun seperti itu, Changmin Hyung tetap menjadi orang yang menyenangkan dimasa-masa patah hatinya” Jongin membuang nafasnya kasar.

 

Persahabatan kami berlangsung selama lima tahun… Dan di akhir tahun ke lima aku menemukan sesuatu yang sangat disembunyikan rapat olehnya. Awalnya aku bingung kenapa dia tidak pernah muncul dihadapanku lagi, setiap kali aku pergi kerumahnya ia selalu tidak ada, dan ternyata bukan tidak ada melainkan dia mengunci dirinya di dalam rumahnya” Jongin tampak sangat berat untuk menceritakan kembali masa-masa kesedihannya.

 

Yoona menitikan air matanya “Ketika Changmin Oppa menjalin persahabatan denganmu, di saat itulah keterpurukan keluargaku yang mencari-cari keberadaan Oppaku. Bahkan ketika usiaku 17 tahun, aku harus pergi ke Seoul seorang diri untuk menemukannya

 

Jongin menolehkan wajahnya kearah Yoona. “Kau tahu apa alasannya dia melakukan itu?” Tak ada jawaban apapun dari Yoona.

 

Changmin Hyung mengidap penyakit kangker darah stadium akhir.. Ia berusaha menyembunyikannya dari orang-orang terdekatnya.. Ia hanya ingin menghilang begitu saja tanpa membuat orang-orang yang disekililingnya sedih” ungkap Jongin.

 

Pasti sangat sakit yang ia rasakan kala itu. Seharusnya aku ada disisinya!!” Yoona mengusap air mata dipipinya yang tiada henti keluar dari matanya.

 

Suatu hari dia memintaku untuk mengajaknya ketempat ini, tempat yang sangat disukainnya. Ia bahkan sudah tak bisa lagi berdiri dengan kokoh melainkan harus memakai bantuan kursi roda, tidak ada raut kesedihan maupun ketakutan disana. Ia hanya tersenyun, sesekali tertawa mengingat kekonyolan yang pernah dilakukan. Di saat itu juga, aku menyuruh beberapa orang untuk mendatangi tempat tinggalmu untuk memberitahu keberadaan Changmin Hyung, namun mereka memberiku kabar bahwa orang yang tinggal dirumah itu sudah pindah” Jongin berhenti sejenak untuk menguatkan hatinya agar bisa melanjutkan ceritanya.

 

Changmin Hyung memberikanku sebuah foto dan alamat rumah seseorang yang harus aku jaga, dia berkata ‘Gadis ini menyukaimu, gadis ini cantik dan baik, gadis ini sangat cerewet, gadis ini sangat bekerja keras, gadis ini ceroboh dan gadis ini harus kau bahagiakan. Dia adikku Im Yoona, kau harus menjaganya untukku’ itu kalimat yang ia ucapkan padaku tentangmu

 

Yoona sudah tak bisa menahan kesedihannya lagi, ia benar-benar menangis sekarang, menangis sejadi-jadinya. Jongin pun tak sanggup melanjutkan ceritanya melihat keadaan Yoona yang seperti itu, ia membawa Yoona kedalam pelukannya.

 

Selang beberapa menit Yoona terdiam, namun ia masih sesenggukan “Lalu apa yang dia lakukan di tempat ini?” Tanya Yoona terbata.

 

Jongin sangat tidak ingin melanjutkan ceritanya, namun ia harus karena bagaimanapun juga Yoona harus tahu bagaimana kakaknya meninggal dengan tenang di tempat yang sejuk itu.

 

Disini.. Dengan pakaian tebalnya, dengan senyuman diwajahnya, dengan sebuah topi kupluk yang menutupi kepalanya yang sudah tak berambut, dengan meninggalkan banyak kenangan untukku, dengan kasih sayang tak pernah putus untukmu, dengan iringin tangisku dan suara ombak pantai ini, Changmin Hyung menghembuskan nafas terakhirnya” tanpa disadari Jongin menitikan setetes air mata di pelupuk matanya, sebelum benar-benar jatuh membasahi pipinya ia terlebih dahulu mengusapnya.

 

Yoona tidak menangis seperti sebelumnya, ia sudah menduga apa akhir dari ceritanya, walaupun ia tidak meraung-raung, namun air matanya tidak berhenti mengalir, ia menyembunyikan wajahnya dari Jongin.

 

Selang 10 menit, Yoona sudah berhenti menangis, ia memandangi lautan yang sangat luas nan indah itu. “Oppa.. Kau melihatku dari sana?

Aku baik-baik saja.. Tak perlu mengkhawatirkanku lagi” Yoona tersenyum.

 

Bagaimana aku menyampaikan berita ini kepada Ibu dan Ayah…. Tanya Yoona dalam hati.

 

Dia pasti melihatmu dan mendengarkanmu…

 

Tiba-tiba suara petir terdengar sedikit kencang, selang beberapa detik hujan pun turun dengan sangat derasnya.

 

Ayo!!” Jongin sudah lebih dulu berdiri dan hendak menarik tangan Yoona, dengan sedikit pakasaan Yoona pun akhirnya berlari bersama Jongin mencari tempat berteduh.

 

 

 

 

Hannyoung High School

15.00 Sore

 

Jiwon, Tao, Sehun dan Agnes sedang berjalan menuju parkiran motor, disaat itu juga mereka melihat Jackson bersama motornya baru saja melintasi jalan tersebut, mata mereka pun sempat mengikuti arah perginya Jackson sampai hilang disebuah tikungan.

 

Tao-ya,, Oppaku ada didepan, aku menunggumu disana” ucap Agnes pada Tao, lalu ia berjalan kedepan sekolah bersama Jiwon.

 

Mark baru saja keluar dari taxi dan matanya langsung mengenali Jackson yang melintas didepannya dengan kecepatan yang sangat tinggi, ia menghela nafas lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelfon seseorang. “JB-aa!! Kau di basecamp?

 

Ya!!” Jawab JB yang suaranya terdengar dari dalam telpon.

 

Kurasa Jackson butuh seseorang untuk berada di dekatnya, pastikan kau selalu disampingnya!” Pinta Mark pada JB.

 

Baiklah..

 

Mark mematikan panggilan telponnya.

 

Mark melihat Jiwon dan Agnes datang menghampirinya, ia sedikit terkejut ketika Agnes tersenyum dengannya. “Oppa!! Kau sudah lama?” Tanya Agnes.

 

Mark melihat jamnya, lalu ia menarik Agnes kedalam pelukannya. “Kakiku sudah berlumut menunggumu” canda Mark.

 

Syukurlah.. Ucap Mark dalam hati, ia tidak mengira Agnes akan kembali kedirinya yang dulu dengan cepat.

 

Apa yang kau lakukan! Lepas! Orang bisa salah paham nanti!” Agnes menjauh dari Mark. Jiwon tersenyum bahagia melihat keakraban Mark dan Agnes.

 

Tao dan Sehun datang dan berhenti di depan Mark, mereka membuka kaca helmya.

 

Jiwon-ah.. Kurasa Jongin Hyung tidak akan suka melihat pemandangan ini” Sehun memperingati Jiwon bahwa tak seharusnya ia berdekatan dengan Mark.

 

Aaahhh Molla!! Terserah kalian saja.. aku duluan” ucap Sehun pada semua orang yang ada disana. Sehun memandang Mark, ia hanya membungkuk sopan lalu pergi begitu saja.

 

Oppa.. Aku harus pergi ke perpustakaan dengan Tao untuk menyelasikan tugas kelompok kami” lapor Agnes pada Mark.

 

Mark menoleh kearah Tao. “Terimaksih untuk yang kemarin.. Pergilah dan bawa ia kembali dibawah jam 9 malam

 

Tao tersenyum “Percayakan dia padaku!

 

Oppa, Jiwon-ah, aku duluan” Agnes bergegas menaiki motor Tao.

 

Tunggu!! Dimana helm untuk adikku?” Tanya Mark melihat hanya ada satu helm dan itu dipakai Tao.

 

Ckck..” Jiwon berdecak lalu menghampiri Tao, melepas helm yang dipakai Tao lalu memberikannya pada Agnes.

 

Pakai ini.. Sebelum Oppamu menceramahi temanku” Agnes tertawa, lalu memakainya. Mereka pun segera pergi dari sana, tinggalah Mark dan Jiwon.

 

Aku lapar..” Jiwon menarik tangan Mark dan pergi darisana.

 

 

 

 

 

Tempat makan di depan sekolah

15.15 Sore

 

Mark dan Jiwon duduk saling berhadapan menunggu makanan yang dipesan datang, tiba-tiba ia teringat akan kotak bekal yang dititipkan untuk Mark kepada JB. “Oppa.. Masakan buatanku kemarin apa kau menyukainya?

 

Mark mengkerutkan keningnya, seingatnya tidak ada yang memberikannya makanan. “Masakan buatanmu?

 

Ahh!! Dia benar melakukannya!! Oppa.. Pinjam ponselmu!!” Jiwon menjulurkan kedua tangannya didepan Mark.

 

Dengan cuma-cuma Mark memberikan ponselnya pada Jiwon, Jiwon mengambil ponsel itu dan segara mengetikan password yang sudah diketahuinya lalu menghubungi seseorang, ketika panggilannya di jawab Jiwon langsung berbicara sebelum orang yang ditelpon berbicara.

 

YAK!! JB Oppa!! Kau kemanakan kotak bekal yang kubuatkan untuk kekasihku?? Eoh?? Aish!! Seharusnya aku tidak mempercayaimu dari awal!! Aahhh!! Kau menyebalkan!! Aku sudah berbuat baik padamu!! Tapi ini balasanmu eoh?? YAAAK!!!” Kesal Jiwon.

 

Jiwon-ah..” Mark sedikit terkejut pada perbutan Jiwon yang menurutnya unik.

 

HAHAHAHAHAHAHA~ Jiwon-ssi.. Kau sangat lucu.. Kau menggemaskan sekali” terdengar suara terbahak dari dalam telepon.

 

Aish!! YAK!!” Kesal Jiwon dan langsung mematikan panggilan telponnya.

 

Oppa!! Dia sangat menyebalkan!! Kau harus memberinya pelajaran!!” Jiwon mengembalikan ponsel Mark.

 

Bagaimana bisa kau mengenalnya?” Setau Mark, JB dan Jiwon tidak saling mengenal satu sama lain, mungkin mengenal wajah tapi tidak untuk bertengkar seperti tadi.

 

Aku tidak mengenalnya!! Aahh!! Pasti dia yang menghabiskan makanan buatanku untukmu” Jiwon terlihat sangat kesal, ia mengepalkan kedua tangannya.

 

Hahaha~ kau menggemaskan jika sedang seperti ini” Mark mencubit kedua pipi Jiwon.

 

Tak lama makanan yang mereka pesan datang dan mereka segera menghabiskannya.

 

 

 

 

EXO’s Basecamp

15.40

 

Sehun memasuki halaman parkir motor, matanya tertuju pada sebuah motor putih yang sedang terpakir. Dengan langkah seribu Sehun masuk kedalam dan mendapati Jihyun sedang menyiapkan makanan di atas meja makan, Sehun tak berniat menghampiri Jihyun, ia hanya ingin memandangi Jihyun sepuasnya.

 

Jihyun menyadari kedatangan Sehun. “Cepat ganti bajumu!! Aku sudah menyiapkan makanan” ucap Jihyun sembari berjalan lagi kearah dapur untuk mengambil beberapa lauk yang tertinggal.

 

N-ne..” Sehun berjalan kekamarnya, dengan hitungan menit ia sudah kembali dan langsung duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan Jihyun.

 

Dimana Zi Tao??” Jihyun meletakan daging ikan di atas mangkuk nasi Sehun.

 

Dia pergi mengerjakan tugas kelompok” jawab Sehun sembari menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya.

 

Sungguh? Mengerjakan tugas kelompok?” Tanya Jihyun terheran, setaunya Tao dan Sehun tidak akan pernah membantu apapun itu tugas kelompok yang diberikan, namun nama mereka tetap dicantumkan dalam tugas tersebut.

 

Tentu saja dia bersemangat,,, dia pergi bersama gadis yang disukainya” cibir Sehun.

 

Kalau begitu kau juga harus seperti itu Sehun-ah!! Kau harus sekelompok dengan gadis yang kau sukai” saran Jihyun penuh semangat.

 

Kau harus mendaftar disekolah ku dan sekelas denganku Nunna… Agar aku bisa sekelompok denganmu” Sehun menoleh kearah Jihyun.

 

Haruskah? Baiklah aku akan mendaftar besok kekekeke” jawab Jihyun asal.

 

Sehun tersenyum menanggapi jawaban Jihyun, ia berpikir apakah Jihyun sengaja menjawab seperti itu untuk menjauhi pembicaraan beberapa waktu lalu, atau mungkin Jihyun memang sudah lupa kalau Sehun sudah pernah mengungkapkan ketertarikannya pada Jihyun.

 

 

 

 

Perpustakaan Nasional Korea, Seoul

18.00

 

Perpustakaan Nasional Korea menempati 1 gedung utama dan 2 gedung paviliun. Gedung utama berlantai 8 termasuk 1 lantai bawah tanah. Koleksi perpustakaan terdiri lebih dari 6,5 juta dokumen, termasuk 260 ribu naskah dan peta kuno. Sejumlah 3.171 dokumen dari 867 volume di antaranya merupakan terbitan dari sebelum abad ke-17. Perpustakaan itu juga menyimpan Sipchilsachangogeumtongyo (volume 17) yang telah ditetapkan sebagai Harta Nasional Korea Selatan. Walaupun banyak buku yang bisa dibaca disana, tidak sembarang orang boleh meminjammnya, kecuali mereka yang berusia 18 tahun ke atas.

 

Tao dan Agnes jalan berdampingan keluar dari gedung perpustakaan sembari berbincang-bincang. “Aku sangat yakin tugas kelompok kali ini akan menghasilkan nilai sempurna” ucap Tao dengan bangganya.

 

Sayang sekali kita tidak bisa meminjam buku itu” sesal Agnes, umur mereka belum mencapai 18 tahun sehingga mereka tidak bisa meminjamnya.

 

Bersabarlah satu tahun lagi kekekek” balas Tao dengan candaan.

 

PRANGGGGGG!!!!

AKH!!” Teriak Agnes.

Sebuah pot keramik besar baru saja jatuh dari atas tepat disamping Agnes, hanya berjarak beberapa cm dari kepala Agnes.

 

Agnes terkejut bukan main, ia terhentak ke arah belakang sehingga tubuhnya menabrak sudut tembok penyanggah gedung. Tao yang sama terkejutnya hanya berdiam ditempat sambari menutup matanya karena pot itu jatuh dengan sangat cepat dan tiba-tiba.

 

Tao segera menghampiri Agnes dan membantunya berdiri. “Kau baik-baik saja?

Agnes mengangguk, nafasnya masih terengah-engah.

 

Tao melangkah maju kedepan, matanya langsung mengarah keatas, ia menerawang karena sedikit gelap penglihatannya sedikit terhalangi. Namun beberapa saat matanya membuka lebar ketika melihat seseorang yang berpakaian serba hitam dilengkapi masker sedang menatap kearahnya, namun tak lama seseorang itu berbalik pergi.

 

Apa ini? Tanyanya bingung dalam hati.

 

KLING!!

Tao membuka pesan singkat yang baru sampai diponselnya.

 

FROM: xxxxxxxxxx

Warning!!

 

Mwoya??” Tao menatap layar ponselnya bingung.

 

Ada apa?” Tanya Agnes yang melihat ekspresi aneh pada wajah Tao.

 

Kita harus cepat pulang!!” Tao menarik tangan Agnes dan mereka berlari kencang kearah dimana parkir motornya berada.

 

Tao-ya!! Ada apa? Jelaskan padaku!!” Agnes terus meminta penjelasan pada Tao.

 

BUG!!

Akk!!” Sesaat tubuh Tao melemas dan terjatuhlah ia ke aspal.

 

Lagi-lagi Agnes dibuat terkejut. Seseorang yang berpakaian serba hitam dan memakai masker yang muncul dari arah samping Tao tiba-tiba memukul pundak Tao menggunakan kayu dengan sangat keras.

 

Tao-ya!!” Agnes berjongkok tepat di samping Agnes.

 

Pergilah” Ucap Tao sangat pelan dan terbata.

 

Tak lama sebuah mobil datang dan membuka pintu belakang mobil. “Eemmpp!! Emmmpp!!” Seseorang membekap mulut Agnes dan membawanya kedalam mobil.

 

Andwae” Tao mengulurkan tangannya untuk meraih Agnes, namun tubuhnya tidak menyetujui keinginan otaknya, Tao pun jatuh pingsan.

 

 

 

 

Di dalam Bus

19.00

 

Di dalam sebuah bus yang terlihat sangat sepi karena penumpang hanya berkisar 2-4 orang termasuk Jiwon dan Mark, mereka dalam perjalanan menuju aparteman Jiwon, mereka menghabiskan waktu dengan menonton film terbaru. Kini Jiwon sedang terlelap tidur di bahu Mark.

 

Drt!! Drt!!

Mark merasakan getaran ponsel di jacket Jiwon, karena ia tidak mau menganggu Jiwon yang sedang terlelap akhirnya ia mengambil ponsel itu dan mengangkat panggilan telpon.

 

Annyeong haseyo” Mark memulai pembicaraan di dalam telpon.

 

Siapa kau? Bukankah ini nomor ponsel Jiwon?

 

Benar ini ponsel Kim Jiwon” jawab Mark lagi.

 

M-mark?

 

Kau benar, aku Mark. Tidak perlu khawatir.. Adikmu aman bersamaku, aku sedang dalam perjalanan mengantarnya pulang” Mark berusaha menjawab dengan hati-hati semua pertanyaan Jongin.

 

Beraninya kau membawa Adikku pergi bersamamu?! Kau seharusnya tahu siapa dirimu!! Jiwon tidak aman berada didekatmu!!

 

Aku minta maaf untuk hal itu. Kurasa kita perlu bertemu

Tentukan waktunya. Pastikan Adikku masuk ke dalam apartemen.

 

Hee’emm.. Akan kubari lagi nanti” Mark mematikan panggilan telponnya.

 

Mark memasukan kembali ponsel Jiwon keasalnya, lalu ia menatapi dalam wajah Jiwon yang berada sangat dekat dengan wajahnya.

 

Benar… Kau tidak aman jika terus bersamaku, izinkan aku melakukan hal ini untuk menjadi kenangan terakhir ku bersamamu Jiwon-ah.

 

Mark mendekatkan wajahnya, ia menutup matanya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Jiwon cukup lama. Saranghae

 

Selang beberapa menit Jiwon terbangun. “Oppa..” Panggil Jiwon dengan lesu.

 

Heem?” Mark menyaut panggilan Jiwon.

 

Jiwon mengankat kepalanya dari bahu Mark lalu menatapnya.

 

Aku.. Aahh tidak” Jiwon tersenyum lalu menyandarkan lagi kepalanya dibahu Mark.

 

Cepat katakan!” Tangan Mark melingkari leher Jiwon lalu ia sedikit menariknya ke atas.

 

Shireo!!” Jiwon memegangi tangan Mark yang berada di lehernya. Mana mungkin ia menceritakan bahwa ia bermimpi Mark menciumnya.

 

Bus berhenti di sebuah halte, Jiwon dan Mark pun turun di halte tersebut. Mereka berjalan menuyusuri malam, bulan bintang, dan lampu-lampu taman menjadi penerang jalan mereka.

 

Jiwon mengambil ponsel di saku jacketnya lalu ia menelpon Jongin. “Oppa kau masih di Busan?

 

Aahh.. Arraseo!!” Jiwon mematikan panggilan telponnya.

 

Jiwon merasa sedikit kecewa karena Jongin tidak ada di apartemen, siang tadi Jongin mengabari Jiwon bahwa ia akan pergi ke Busan bersama Yoona dan mungkin malam hari sudah kembali, namun nyatanya Jiwon harus melalui malam dengan kesendiriannya.

 

Ada apa?” Mark menggandeng tangan Jiwon setelah Jiwon memasukkan ponselnya kedalam sakunya.

 

Jongin Oppa.. Sepertinya tidak akan pulang malam ini. Ia masih di Busan bersama Yoona Eonni” keluh Jiwon.

 

Yoona? Busan? Mereka menjalin hubungan?” Tiba-tiba ia memirkirkan JB.

 

Molla. Oppa.. Jika seorang pria mencium kening seorang wanita di atas tempat tidur apakah itu bisa disebut dengan berkencan?” Jiwon teringat akan peristiwa yang dilihatnya pagi tadi.

 

Apapun bisa menjadi kemungkinan, saudara kandung maupun berkencan, diantara keduanya. Memang kau melihat dimana?” Mark semakin penasaran.

 

Diapartemenku, Jongin Oppa..” Jawab Jiwon yakin.

 

APA? Bersama Yoona?” Kaget Mark, ia semakin memikirkan perasaan JB.

 

He’em” Jiwon mengangguk pasti.

 

 

 

 

Kim’s Apartemen

18.45

 

Jiwon dan Mark tiba di depan apartemen milik Jongin.

 

Oppa Masuklah sebentar.. Aku ingin menitipkan pakaian JB Oppa yang tertinggal disini” Jiwon membuka pintu masuk apartemennya sangat lebar. Mark pun akhirnya ikut masuk kedalam apartemen.

 

Jiwon sudah menceritakan bagaiman mulanya JB bisa menginap di apartemennya, dan Mark pun sama, ia sudah menceritakan masa lalu JB dan Yoona yang pernah saling menjalin hubungan.

 

 

 

 

 

Rumah Yoona

20.00

 

Yoona membawa Jongin ketempat tinggal barunya sekaligus ingin memberitahukan kabar yang baru saja ia dengar kepada orang tuanya, kini Yoona dan Ibunya sedang berada dikamar pasca memberitahukan kabar mengharukan sedangkan Ayah Yoona menemani Jongin di ruang tamu.

 

Terimakasih telah menjaga Changmin selama ini” ucap Ayah Yoona kepada Jongin.

 

Ahh,, tidak. Bersabarlah, kuyakin Changmin Hyung sudah berada di tempat terbaik” ucap Jongin yang dianggukan oleh Ayah Yoona.

 

Tidurlah dikamarku.. Aku harus pergi berlayar mencari ikan di laut” Ayah Yoona bergegas bangun dan Jongin mengantar Ayah Yoona ketempat dimana perahu nya berada. Rumah Yoona dan pantai sangatlah dekat.

 

 

 

 

Kim’s apartemen

20.00

 

Jiwon-ah.. Bisa kau hubungi ponsel Tao? Ponsel adikku tidak aktif” Mark yang sedang duduk di sofa sedari tadi sibuk dengan ponselnya.

 

Ne..” Jiwon mengambil ponselnya yang ada di meja lalu ia mencoba menghubungi Tao.

 

Tidak biasanya dia mematikan ponselnya” keluh Jiwon yang ternyata juga sama tidak bisa menghubungi Tao.

 

Jiwon-ah.. Maafkan aku, sepertinya aku harus segera pulang” Mark segera berdiri dan mengambil plastik yang berisikan pakaian JB disebelahnya.

 

Arraseo..” Jawab Jiwon.

 

Jiwon mengantar Mark sampai di depan pintu. “Kabari aku jika sudah sampai

 

Mark mengangguk lalu bergegas pergi.

 

Oppa!!” Jiwon menarik tangan Mark.

 

Hemm?” Mark pun berbalik menghadap Jiwon.

 

Dengan kecepatan maksimal Jiwon mendaratkan bibirnya di pipi Mark.

 

Mark pun terkejut akan perlakuan tiba-tiba Jiwon, namun tak lama ia tersenyum lalu mendekat kearah Jiwon dan mencium kening Jiwon lama.

 

Jaga dirimu.. Akan kutelfon nanti” Mark mengelus puncak kepala Jiwon lalu ia bergegas pergi.

 

Jiwon tersenyum senang sembari melihat Mark berlari menjauh, ia menutup pintu apartemen sembari memegangi keningnya yang baru saja di kecup oleh Mark.

 

Aaakkkkkkkk” teriak senang Jiwon sambil berlari ke arah dalam.

 

Namun tak lama ia mendengar bel apartemennya berbunyi, tanpa melihat layar interkom Jiwon berlari dan membuka pintunya. Wajah senangnya yang mengira tamunya adalah Mark berubah datar ketika seorang laki-laki berdiri di hadapannya.

 

Kau siapa? Mencari siapa?” Tanya Jiwon sembari memandangi keseluruhan tubuh lelaki itu dari ujung kaki sampai rambut.

 

Tiba-tiba lelaki itu mendorong Jiwon masuk kedalam dan membekap mulut dan hidungnya menggunakan saputangan.

 

Emmp!! Eemmp!!” Jiwon meronta-meronta, namun tak lama tubuhnya melemas dan ia terjatuh kelantai.

 

Lelaki itu mengeluarkan ponselnya lalu ia menghubungi seseorang. “Target 1, finish” lapornya lalu ia mematikan panggilan telponnya.

 

 

Mark berlari menuruni tangga karena ia tidak cukup sabar untuk menunggu lift. Kemudian ia berlari menuju halte bus untuk mencari taksi karena di sekitar apartemen Jiwon tidak akan ada taksi. Di sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya menghubungi ponsel Agnes. Sampai ia di pertengahan jalan dan mulai melambatkan larinya karena lelah, ia berhenti di dekat pohon rindang yang lampunya sangat terang menerangi jalan dimana ia berdiri, ia mengatur nafasnya, tak lama sebuah mobil datang yang berhenti menghalangi jalannya Mark. Seseorang keluar dari mobil itu.

 

Hai Mark..” Sapa lelaki yang berpakaian rapih dan berjalan pincang dibantu sebuah tongkat.

 

Mark mengenali siapa lelaki itu, dia adalah seseorang yang dibuatnya masuk rumah sakit ketika Mark menendang motornya selagi balapan beberapa waktu lalu di Daejeon.

 

Aku tidak ada urusan apapun denganmu!” Mark mencoba melewati jalan lain, namun ternyata sudah banyak orang yang mengelilingi dirinya.

 

Aku sangat merindukan Hyungku yang sekarang ada di dalam penjara karena ulahmu” seorang anggota yang dikenali sebagai ketua Daeboy’s itu mendekati Mark, namun Mark tak mundur sekalipun.

 

Kurasa itu tempat yang pantas untuknya” secara diam-diam Mark mencoba menghubungi JB dengan menekan tombol cepat nomor tiga diponselnya, ia sudah merasa tidak ada yang beres dengan semua ini.

 

Dengan sekali lirikan lelaki itu kepada salah satu orangnya yang berada disamping Mark, saat itu juga Mark mandapati tendangan di sekitar pahanya dan membuat ia tersungkur ke jalan dan plastik yang berisikan pakaian JB terlempar jauh. Mark bergegas bangun dan dengan segera mengirimkan pesan yang berisikan ‘3’ kepada JB, lalu ia memasukan ponselnya kedalam saku celananya karena tidak mendapat respon apapun dari JB, ia mengambil ancang-ancang untuk berkelahi.

 

Oww… Kau sedang apa? Haha” remeh lelaki itu kepada Mark.

 

Aku tidak ingin ada pertumpahan darah..” Lelaki itu melempar sebuah borgol ke arah Mark.

 

Pakai itu.. Jika kau ingin bertemu dengan adikmu yang cantik itu” ucapnya sembari masuk kedalam mobilnya dan bergegas pergi.

 

Mark terkejut mendengar peryataan itu. Di sana tersisa 2 buah mobil dan beberapa orang suruhan Daeboy’s.

 

Cepat pakai!! Atau adikmu akan..” Suara seseorang sembari menggerakan tangannya sendiri kearah lehernya, lalu mebuat gerakan seolah-olah jari-jarinya adalah sebuah pisau yang menggores leher.

 

Mark tidak mempercayainya begitu saja, ia menendang borgol itu menjauh darinya. “Bagaimana jika kau saja yang pakai.. Dengan begitu kau sudah membantu polisi untuk menangkapmu

 

Seseorang itu mengeluarkan sebuah ponsel dan melemparinya ke arah Mark. Mark menangkap ponsel itu dan matanya membuka lebar meliha layar ponsel itu yang memperlihatkan Agnes sedang duduk di sebuah kursi dangan mata tertutup dan kaki terikat.

 

Dimana dia?” Tanya Mark penuh penekanan.

 

Seseorang itu tersenyum licik lalu matanya melirik ke sebuah borgol yang berada di dekat kakinya.

 

Pakai itu dan aku akan membawamu kesana!! Jika sekali saja kau mencoba berbuat hal-hal yang membuatku marah jangan pernah berharap kau bisa melihat adikmu lagi” seseorang itu berjalan kearah mobil dan membukakan pintu belakang mobil.

 

Dengan ragu Mark berjalan mengambil borgol itu lalu memakainya sendiri. Ia berjalan kearah mobil dengan langkah yang sangat berat ia masuk kedalam mobil diikuti beberapa orang yang masuk kedalam mobil itu juga lalu pergi dengan kecepatan penuh.

 

 

 

 

Gudang besar, Daejeon

21.00

 

Mark ditempatkan di suatu ruang yang berbentuk persegi dan tak ada jendela satupun disana, hanya sebuah lampu kecil yang menjadi penerangnya. Ia duduk di lantai dengan tangan yang diborgol dan kaki terikat, wajahnya sudah babak belur.

 

Di lain tempat Tao juga disekap di tempat yang hampir sama seperti Mark yang membedakannya adalah tubuhnya berdiri lemas karena tangannya digantung di sebuah tiang yang membentang dari kanan ke kiri. Wajahnya dipenuhi dengan luka, bahkan matanya sudah tidak sanggup membuka karena mulai membekak akibat pukula-pukulan yang didapatinya.

 

Beberapa waktu lalu kau bisa menyingkirkan 10 orang dari kami dengan sangat cepat, lalu kenapa sekarang kau diam saja? Ayo lawan!!

 

BUG!!

Pukulan sangat kencang mendarat dipipinya, membuat darah yang sangat segar keluar dari mulut Tao. Tao masih tersadar namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk berdiri saja kakinya sudah tidak mampu menjadi tumpuan sehingga membuat tubuhnya tergelantung dan tangannya seperti mati rasa.

 

Lelaki yang baru saja memukul Tao adalah salah satu orang yang beberapa waktu lalu dikalahkan oleh Tao ketika Tao datang untuk membalas dendam pada apa yang terjadi dengan Mark dan Jiwon, ia bernama Jino. Jino memberi kode pada temannya untuk segera menurunkan Tao ke lantai. Ketika Tao terkulai lemah di lantai, jino menghampiri Tao dan memegang rahang Tao.

 

Kau tunggu disini.. Aku akan kembali setelah bersenang-senang dengan kekasihmu.. Annyeong” Jino dan teman-temannya meninggalkan tempat dimana Tao disekap.

 

Tao sangat marah mendengar ucapan Jino, ia berusaha untuk berdiri namun usahanya tidak membuahkan hasil, untuk menggerakan jari-jarinya saja ia benar-benar sudah tidak mampu.

 

 

 

 

Got’s 3 Basecamp

21.15

 

Jackson baru saja tiba di basecamp, ia melempar helmnya kesebuah sofa yang ternyata disana ada JB sedang tertidur. JB pun terbangun karena lemparan helm Jackson mengenai tulang keringnya.

 

Akk!! Yak!!

Jackson menoleh kearah JB, lalu ia membungkuk sopan dan pergi masuk kedalam kamarnya. JB hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia teringat akan ucapan Mark bahwa Jackson sedang dalam keadaan tidak baik.

 

JB mengambil ponsel yang ia letakan di atas meja dan ia melihat ada satu panggilan tak terjawab dari Mark dan sebuah pesan yang datang dari Mark juga.

 

‘From: Mark

3’

 

Tiga..??” Sontak JB langsung berdiri. Dengan cepat ia menghubungi Mark. Kode angka tiga di geng Got’s 3 adalah kode darurat, dimana seseorang yang mengirimi pesan itu ia sedang dalam bahaya.

 

Ponsel Mark tidak aktif, JB berlari kekamar Jackson dan melihat Jackson sedang memandangi foto dirinya bersama Agnes. “Jackson!! Mark dalam bahaya!!

Jackson menoleh kearah JB.

Sekarang kau pergi ke apartemennya dan pastikan Agnes baik-baik saja!! Telpon aku setelah itu

 

Jackson berlari keluar kamar dan mengambil helmnya lalu ia pergi dengan motornya.

 

JB berlari ke tempat motornya berada, ia sudah bersiap pergi namun sebelum ia menancapkan gasnya ia teringat sore tadi Mark masih bersama Jiwon, ia pun memutuskan pergi ke apartemen Jiwon berharap Mark sudah tidak dalam keadaan bahaya bersama Jiwon disana.

 

 

 

 

 

Yoona’ House, Busan

21.45

 

Yoona membuka pintu kamarnya, ia baru saja bangun dari tidurnya dan hendak melihat keadaan Jongin yang tadi sore kehujanan bersamanya. Namun didalam rumah ia tidak menemukannya, ia mengambil ponselnya di dalam kamar hendak menghubungi Jongin sembari berjalan keluar rumah, dan dari kejauhan ia melihat Jongin yang sedang duduk menyamping disebuah kapal nelayan, ia pun membatalkan untuk menghubungi Jongin dan berjalan menghampiri Jongin yang terlihat sedang menelpon seseorang.

 

Jihyun-ah,, bisa kau keapartemenku sekarang!! Dan kabari aku setelah kau melihat Jiwon

 

Biarkan Sehun yang mencari Tao, aku akan mengambil keberangkatan kereta terakhir, terus kabari aku!” Jongin berbalik dan ternyata sudah ada Yoona tepat dibelakangnya.

 

Kau mau kemana?” Tanya Yoona sembari memasukan kedua tangannya di saku jacketnya.

 

Aku harus kembali ke Seoul” jawab Jongin.

 

Sekarang?” Yoona duduk di pinggiran kapal nelayan dan menarik Jongin untuk ikut duduk disebelahnya.

 

Kau baik-baik saja?” Yoona memegang kening Jongin.

 

Jongin mengangguk.

 

Pasti Ayah pergi berlayar lagi. Benar?

 

Jongin mengangguk.

 

Bagaimana dengan Ibumu?” Tanya Jongin mengingat kejadian sore tadi Ibu Yoona terlihat sangat sedih.

 

Sudah baikan, ia tertidur sekarang

 

Syukurlah

 

Apa yang sedang terjadi di Seoul? Kau terlihat sangat gelisah” Yoona menatap Jongin.

 

Aku tidak bisa menghubungi Jiwon, perasaanku mengatakan ada sesuatu terjadi padanya” jawab Jongin sembari menghela nafas berat.

 

Hanya perasaanmu saja,, mungkin kau terlalu lelah. Ayo masuk!! Kau harus beristirahat” Yoona menarik lengan Jongin namun Jongin menahannya.

 

Jongin menarik tubuh Yoona, lalu ia menyandarkan kepalanya di perut Yoona yang sedang berdiri. Yoona mengelus puncak kepala Jongin.

 

Sekarang aku mempunyaimu untuk tempat bersandarku” ungkap Jongin sembari terus menikmati dinginnya deru angin malam.

 

Setelah kepergian Changmin, Jongin merasa tidak punya lagi tempat bersandar untuk mencurahkan semua isi hatinya, apapun yang ia rasakan ia hanya akan memendamnya dan tidak membiarkan siapapun tau.

 

Yoona memeluk tubuh Jongin, memberinya kekuatan akan perasaan takut yang ia rasakan malam ini. Jika sikapmu dari awal seperti ini, mungkin aku akan langsung mengenalimu.

 

KRINGGGG!!

Jongin menjauhkan kepalanya dari Yoona dan mengangkat telponnya. “Heem??

 

Hyung!! Aku menemukan motor Tao di perpustakaan, namun Tao tak disana” lapor Sehun yang suaranya terengah-engah.

 

Kau sudah menghubunginya?

 

Ponselnya tidak aktif” jawab Sehun.

 

Disaat yang bersamaan Jihyun menelpon Jongin.

 

Sehun-ah.. Akan kuhubungi kau lagi nanti..

 

Jongin menjawab panggilan Jihyun. “Jongin-ah,, Jiwon menghilang.. Dan JB yang ada disini bilang bahwa Mark dan Agnes juga menghilang, Mark sempat mengirimkan kode darurat kepada JB” lapor Jihyun pada Jongin.

 

Beri ponselmu pada JB!

 

Ne..” Suara JB terdengar.

 

Kupikir ini masih ada kaitannya dengan balas dendam yang pernah kita lakukan kepada Daeboy’s?” Suara Jongin sangat cepat.

 

Ahh.. Benar. Aku dan Mark berhasil memenjarakan ketua Daeboy’s, mungkin karena itu mereka menculik

 

Sekarang! Kalian pergi ke Daejeon, jangan menghubungi polisi karena ini belum pasti. Aku akan akan menyusul

 

Arraseo!!

 

 

Jongin menutup kedua matanya setelah mematikan panggilan telponnya, ia butuh berpikir jernih dalam kondisi genting seperti ini. “Ada apa? Kenapa dengan polisi? Apa Jiwon dalam bahaya?” Tanya Yoona bertubi-tubi.

 

Untuk besok dan seterusnya jangan dulu ke Seoul! Kau mengerti?” Jongin berdiri dan memegang pundak Yoona.

 

Kenapa? Ada apa? Jelaskan padaku!!” Yoona terlihat ikut gelisah.

 

Aku harus pergi sekarang!! Masuklah.. Angin malam tidak baik untuk tubuhmu.. Jaga dirimu!!” Jongin berlari pergi.

 

KIM JONGIN!! YAK!! JERAPAH!!” Teriak Yoona.

 

Jongin mendengar teriakan Yoona yang seperti sedang menangis, mau tidak mau ia berhenti dan kembali menghampiri Yoona. “Berjanji padaku kau akan kembali

 

Yoona menjulurkan jari kelingkingnya di depan wajah Jongin. Yoona tidak ingin kejadian di masa kecilnya terulang, dimana ia benar-benar kehilangan sosok Jongin kecil.

 

Selalu seperti ini. Kau ingat janjiku waktu itu, kubilang aku akan kembali dan aku menepatinya bukan?” Jongin mengusap air mata yang ada di pipi Yoona.

 

Aku tidak ingin menunggu lama lagi” jelas Yoona.

 

Arraseo!” Jongin mengaitkan kelingkingnya dengan Yoona dan menarik tubuh Yoona mendekat. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Yoona lalu mengecupnya, lalu ia mengecup kening Yoona.

 

Jaga dirimu” ucap Yoona sembari mengenggam tangan Jongin.

 

Jongin-ah..” Panggil Yoona pelan.

 

Hemm?

 

Aku dan JB, kami hanya berteman..” Ucapnya sangat pelan.

 

Jongin tersenyum. Ia memeluk tubuh Yoona sekali lagi, dan ia pun pergi ke stasiun di Busan menuju Daejeon.

 

 

 

 

 

 

Gudang besar, Daejeon

00.30 Pagi

 

JB, Jackson, Jihyun dan Sehun beserta Jongin yang baru sampai berada tepat di samping gudang dimana teman-teman mereka disekap. Mereka berhasil menemukan tempat itu setelah mengikuti beberapa anak buah Jino yang sempat kembali ke basecamp Daeboy’s ketika JB dan kawan-kawan berada di sana.

 

Jihyun-ah.. Kau tunggu disini!! Aku akan mengabarimu jika memang benar mereka ada di dalam dan saat itu juga kau hubungi polisi” terang Jongin pada Jihyun yang direspon dengan anggukan.

 

Sisanya berpencar” terang jongin kepada yang lainnya.

 

Sehun dan JB mulai mengendap-endap masuk kedalam, Jongin yang melihat Jackson ada didepannya menarik jacket Jackson. “Jangan bertindak gegabah!!” Ucap Jongin.

 

Jackson menyingkirkan tangan Jongin dan ia bergegas masuk kedalam.

 

JB dan Sehun berhasil menyingkirkan beberapa penjaga yang menghalagi jalan mereka masuk. Jackson mengambil sebuah balok dari beberapa penjaga yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.

 

Di dalam gudang, Mark dihadapkan oleh dua orang terpenting di dalam hidupnya yakni Jiwon dan Agnes, mata Jiwon dan Agnes tertutup sehingga mereka tidak tahu akan kehadiran Mark, mulut pun masih dibekap oleh sebuah kain yang melilit di bagian mulutnya begitun kaki dan tangannya.

 

Mark berdiri di sebelah Jino, tangan maupun kakinya tak terdapat ikatan apapun, matanya fokus menatapi kedua orang dihadapannya.

 

Aahhh.. Kau tahu berapa kerugian yang kami tanggung setelah kau menghancurkan bisnis Hyungku?” Jino tersenyum licik, kakinya membawa ia berdiri di tengah-tengah Jiwon dan Agnes.

 

Bagaimana jika aku menjadikan kedua bocah ini lahan uangku?” Jino memegang bahu Jiwon dan Agnes yang langsung mendapat respon dari mereka berdua yakni dengan memberontak.

 

Eempp!! Emmp!!” Teriak mereka dalam bekapan.

 

Mark mengepalkan kedua tangannya, andai saja tak ada pistol yang mengarah ke kepala Jiwon maupun Agnes pasti ia sudah menghabisi Jino dan kawan-kawannya.

 

Tenang saja, aku tidak akan menyakiti mereka berkali-kali, apalagi menjual kedua bocah lugu ini kepada hidung belang. Yang aku butuhkan hanya organ-organ penting dalam tubuh mereka” ucap Jino dengan memicingkan salah satu matanya ke arah Mark, sehingga membuat Mark semakin muak.

 

Jangan sedikitpun kau menyentuh tubuh mereka!! Lakukan apapun yang kau mau padaku!!” Ucap Mark penuh penekanan menahan amarah.

 

Oppa.. ucap Jiwon dan Agnes berbarengan dalam hati.

 

“Kau.. Kau sudah pasti Mark. Tapi bersabarlah sebentar,, pembedahan tubuhmu mendapat nomor urut 3. Sekarang kau harus memilih siapa yang lebih dulu berbaring disana” Jino melirik tempat pembedahan yang berada di belakang Mark.

 

Agnes semakin memberontak ketika mendengar itu. “Emp!! Empp!!” Teriaknya sembari menangis.

 

Brengsek kau!!” Decak marah Mark.

 

Seorang datang menghampiri Jino dengan membawa dua buah suntikan yang diletakan di sebuah tempat berbahan alumunium.

 

Ayo pilih salah satu!!” Jino menyandarkan tubuhnya ke sebuah tembok sembari melihat jam ditangannya.

 

Bajingan kau!! Kubilang lakukan saja padaku!!” Teriak Mark kencang. Di saat yang bersamaan matanya melihat kearah lemari kaca yang ada di dekat Jino dan dia melihat bayangan seseorang yang postur badannya tinggi, Mark sudah mengira orang itu adalah Jongin walaupun belum 100%.

 

Seseorang datang dari pintu depan yang berada di sebelah Jino, dan membisikan sesuatu ditelinga Jino. “Tangani mereka..” Perintah Jino kepada orang tersebut.

 

Mark mendengar perintah Jino, ia semakin yakin akan dugaan awalnya bahwa Jongin ada disini dan mungkin membawa beberapa temannya.

 

BUM!! BUG!!

Pintu depan terbuka berbarengan dengan seorang anak buah Jino yang tersungkur ke lantai.

 

Dengan membawa sebuah balok ditangannya, Jackson memasuki ruangan, matanya menelusuri setiap ruangan, dan berhenti ketika melihat Agnes duduk di sebuah kursi dengan keadaan tubuh terikat.

 

Mark melihat kedatangan Jackson, matanya lalu beralih kearah cermin dan ternyata bayangan seseorang yang dikira Jongin sudah tidak ada.

Jauhkan pistol itu darinya!!” Jackson menatap tajam orang yang ada dibelakang Agnes dengan memegang pistol yang diarahkan ke Agnes, alih-alih menjauhkan pistol, orang itu malah menempelkan pistol itu ke kepala Agnes.

 

Eemmpp!!” Teriak Agnes takut karena merasakan ujung pistol itu di kepalanya.

 

Apa yang membawamu malam-malam pergi ketempat ini? Kau seharusnya belajar, mungkin saja besok gurumu mengadakan ujian dadakan” Jino berjalan mendekat ketempat Jackson dan memegang kedua pipi Jackson.

 

Aaarrrrrgggghhhh!!” Teriak seseorang yang terdengar dari arah belakang Mark berdiri, sontak beberapa penjaga yang berada di sekeliling Mark menoleh.

 

Jongin dan JB datang dengan menyeret masing-masing satu orang yang mereka kenali sebagai orang terdekat Jino. Melihat itu, beberapa penjaga memegang tangan Mark kencang dan menjatuhkannya tubuh Mark ke lantai agar Mark tidak bisa melakukan sesuatu.

 

Hyung!! Tolong aku” ucap seseorang yang diseret Jongin.

 

Mino-ya… Jongshin-na” ucap Jino miris melihat adiknya lemas tak berdaya.

 

Jongin dan JB memberlakukan kedua adik kandung Jino persis dengan apa yang dilakukan pada Mark.

 

Apa yang kalian lakukan pada adik-adikku!!” Bentak Jino dengan mengeluarkan sebuah pistol yang langsung diarahkan ke arah Jongin.

 

Lepaskan mereka!!” Perintah Jongin dengan menatap dalam mata Jino.

 

Jino berjalan mendekat kearah Jongin dengan terus mengarahkan pistolnya di arah wajah Jongin.

 

Jackson mengeratkan balok yang ada ditangannya, lalu dengan tenaga yang ia punya ia melemparkan balok itu kearah dua orang yang ada di belakang Agnes, dan balok itu tepat mengenai kepala seseorang itu sekaligus mengenai kepala seseorang yang ada dibelakang Jiwon.

 

Aakk!!” Darah segar keluar dari kepala salah seorang dan satunya lagi tak sadarkan diri karena ketika ia terjatuh kepalanya membentur tumpukan besi yang ada di sebelahnya.

 

Mendengar teriakan itu Jino berbalik.

 

DOR!!

 

 

TBC..

 

Sampai bertemu di chap terakhir..

Oh iya mengenai poster, itu tuh gadis yang ada di antara 2 lelaki idaman wkwkkw itu si Agnes ceritanya,, muehehehe

Sekali lagi terimakasih buat yang udah mau baca dan ninggalin komentarnya.. Sarangaheeeeeeeeeeeee

30 thoughts on “(Freelance) Still You (Chapter 3)

  1. Udah,sekalian aja d jadikan drama,bagus banget,penuh konflik,jd semangat baca,keren keren,terbaiklah Author, semangat menulis ya,jiya you!

  2. seru thor… tp momen yoonkai y bwt ak sh ftp kurang… emng dh mulai byk tp msi ttp tp momen agnes, jiwon, mark.. jg byk… pdhl cast utama y yoonkai… ak hrp sh chap berikut y lbh byk yoonkai y… tp seru ko thor… keren! kljtn y jgn lma2…

  3. Next chapter terakhir?😮
    Tapi kalau boleh jujur, YoonKai benar-benar terasa kurang jleb gitu. Serasa terlalu mencecarkan kisah cinta yang lain😦 sepertinya kurang menantang aja kisah cinta Yoonkai😦
    Mianhae ya thor tapi bener deh moment YoonKainya belum sepenuhnya berasa.🙂
    Overall bagus ceritanya..
    Fighting!❤❤

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s