Younger – 2

req-younger-pt-new-2

create by Pimthact 

starring Yoona Im – Sehun Oh

Chaptered  ( Trailer Younger – 1  

poster by flickerbeat @artfantasy [ thanks for the poster ]

enjoy read this fanfiction, sorry for the typo )

Richard Oh memiliki nama asli Richard Fernando Oh. Lahir di New York pada tanggal 12 April 1994. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia dulu diasuh oleh bibi dan paman nya. Kemudian, dia menjadi anak nakal karena pergaulan nya. Juga—“

“Cukup, apa rekor kecerdikan nya?” Tanya lelaki itu sambil memotong pembicaraan asisten nya.

“Menghindar dari pusat polisi international New York, Membuat 6 bom di 6 negara, menghapus pelacakan dan dokumentasi dari South International Sherlock America, juga meng-hack akun penting milik Universal of Human Right.”

“Cukup pintar, apakah kau tau sekarang dia dimana?”

“Dia kemarin tertangkap di Los Angeles saat sedang berusaha untuk menghapus semua dokumentasi milik Kementrian polisi Los Angeles yang berhasil mengambil video dan foto dirinya pada saat dinegara itu. Dia sudah dikirim ke New York.”

“Bantu dia bebaskan diri, bawa dia kehadapan ku, juga jangan lupa tolong panggilkan salah satu cleaning service disini untuk membersihkan pecahan ini.”

Asisten itu sedikit terkejut kemudian hanya bisa mengangguk patuh dan segera mundur beberapa langkah dan melesat pergi.

Lelaki itu masih setia tersenyum sinis kemudian menghela napas lega, seolah setengah beban nya terangkat, “Your little princess in danger, Nathan.”

( At the new page )

Ketukan pintu terdengar diseluruh penjuru kamar. Sang pemilik kamar-yang notabene nya sedang berada di dalam mimpi- hanya menutupi wajah nya dengan bantal agar suara ketukan itu tidak mengganggu acara tidurnya. Namun semakin lama dia menutupi wajahnya, semakin keras suara ketukan dipintunya.Lalu, pintu terbuka dengan Jessica, Taeyeon dan Tiffany sebagai tamunya.

“My beloved sistah, wake up wake up!” seru Tiffany sambil menarik bantal Calista. Calista mendesah pelan sambil mengerang. Jessica membuka gorden dan mempersilahkan cahaya matahari untuk masuk kekamar adik-nya. Sedangkan Yuri melihat isi lemari Calista untuk melihat baju-baju yang dibawa Calista selama gadis itu tinggal di Swiss.

Wake up, wake up, wake up!” seru Tiffany lagi sambil menggoyang-goyangkan badan Calista. Calista mengangguk sambil menepis pelan tangan Tiffany. Dia kemudian bangun dan menemukan Ketiga saudaranya sibuk sendiri dikamarnya.

Whoa, girls if wake up at the morning be like this, actually hahahaha” ujar Tiffany sambil melihat penampilan Calista. Jessica dan Yuri juga tertawa melihat penampilan Calista yeah-you know how girls wake up at th morning.

Did you mean, sleeping beauty is fake?” Tanya Yuri sambil memilihkan Calista sebuah gaun. Yuri benar-benar tau bahwa Calista belum pandai memilih gaun, maka dari itu sebagai kakak yang baik, dia harus bisa membantu Calista memilih gaun.

“Kau memilihkan Calista gaun berwarna cream  itu? Tidak-kah kau tau bahwa ini pagi yang cerah? Yuri Im sejak kapan kau tidak pandai memilih gaun?” Tanya Jessica dengan santai tanpa memperdulikan perkataan-nya yang sedikit membuat Yuri sakit hati.

Calm down sist, stop talking about sh*t because that’s make me hurt.” Ucap Yuri tajam sambil mengambil gaun Calista yang lain. Akhirnya Yuri mengambil gaun diatas selutut berwarna soft pink dengan pink tua yang unik.

“Cepat-cepat-cepat mandi Cale!, nanti kau akan berdandan dengan-ku, juga banyak yang harus kau lakukan hari ini.” Seru Tiffany-lagi, sambil mendorong Calista menuju kamar mandi. Calista mendengus pelan lalu kemudian menutup pintu kamar mandi, dan setelah nya tentu saja mandi.

Well, jujur saja aku kasihan sekali dengan Calista yang kau paksa untuk bangun dan mandi seperti itu.” Ujar Jessica sambil terkekeh pelan mengingat bagaimana wajah malas Calista menanggapi seruan semangat Tiffany.

“Hanya Calista yang tak memberi pukulan seperti kalian berdua. Di hari yang cerah ini, mommy pernah berkata, seorang putri harus bangun pagi dan melakukan aktifitas yang semestinya di pagi yang cerah ini. Dan sesama seorang putri apalagi saudara, harus saling mengingatkan. Remember?”  balas Tiffany sambil membenarkan rambut di kaca yang terletak di kamar Yoona.

“Tapi kau berlebihan tiff, maka dari itu aku dan Yuri selalu memukulmu atau menendangmu. Mungkin beberapa bulan lagi Calista akan melakukan hal yang sama,” Sahut Jessica cuek sambil menyalakan televisi.

Please forgive me,” ujar Tiffany sambil melihat isi lemari Calista. Tiffany kemudian terkejut melihat beberapa baju Calista yang menurutnya casual but classy seperti kaus, croptee, ataupun sweater. Dia kemudian mengambil jeans juga legging bermotif.

Waw, sedari dulu, aku belum pernah memakai celana,” gumam Tiffany sambil mengambil celana milik Calista yang lain.  Yuri dan Jessica hanya menggeleng melihat kelakuan Tiffany yang mengobrak-abrik isi lemari Calista.

“Bisakah kau tidak udah mengobrak-abrik isi lemari Calista? Princess not doing like that you know.” Nasehat Jessica sambil menatap malas Tiffany. Tiffany tidak menghiraukan perkataan Jessica, sekarang gadis itu malah berkaca didepan kaca sambil mencocokan(?) sweater Calista dengan tubuhnya.

“Cocok bukan?” Tanya Tiffany sambil menatap ketiga saudaranya.

Tiff!” Seru Yuri sambil memutarkan bola matanya. Tiffany hanya cuek sambil terus mengobrak-abrik isi lemari milik Calista.

Pintu kamar mandi terbuka dan munculah seorang gadis(?) dengan handuk baju berwarna pink yang membaluti tubuhnya. Rambut gadis itu dikucir dan menampilkan leher jenjangnya. Dan mulutnya separuh terbuka karena melihat kelakuan kakak nya yang mengobrak-abrik isi lemarinya.

Tiffany, what are you doing to my clothes?” Tiffany segera kaget saat mendengar seruan Calista. Tiffany hanya menggigit bawah bibirnya lalu meringis pelan-meruntuki kebodohan nya.

Sorry cale, but i like your clothes,” Ujar Tiffany sambil menyengir. Kemudian dia segera melipat beberapa baju dan celana milik Calista.

Calista mendengus pelan kemudian tertawa sedikit karena melihat wajah Jessica dan Yuri-yang menahan malu akibat kelakuakan Tiffany. Yuri mendekati Calista kemudian memberinya sebuah gaun yang tadi dia pilihkan, “Pakailah ini Calista, aku memilihkan-nya untukmu,”

“Terima kasih Yuri,” Ucap Calista sambil tersenyum manis. Calista kemudian masuk kedalam kamar mandi lagi dan memakai gaun pilihan Yuri.

Saat masuk didalam kamar mandi, Calista memperhatikan gaun itu. Dia sebelum-nya belum pernah memakai gaun seperti itu. Bahkan tadi malam hanyalah dress biasa yang seperti dipakai wendy saat terbang bersama peterpan.

Calista memikirkan bagaimana caranya tubuh nya bisa masuk. Bahkan dia tidak yakin bahwa tubuh krempeng nya bisa muat untuk gaun super kurus(?) itu. Jadi dia membuka leretan panjang yang membuat gaun itu terpasang-yang berada dibelakang. Calista perlahan memakai  dan menaikan leretan itu walau sedikit sulit ( pikirkan bagaimana kau menaikan leretan yang panjang-yang berada di punggung-mu )

Calista kemudian menyisir rambut coklat mengkilap nya tanpa memberi sedikit aksesoris di rambutnya. Rambutnya pun dia biarkan digerai.

Saat membuka pintu kamar mandi, ketiga saudaranya menatap nya dengan eskpresi yang berbeda. Tiffany menatap nya dengan tampang bloon dengan mata yang fokus pada rambut Calista, sementara Yuri tersenyum sendiri karena gaun yang ia pilihkan cocok untuk Calista, dan yang terakhir Jessica yang tertawa kecil, entah mengapa?

“Leretan mu kurang keatas, Cale.” Koreksi Jessica sambil menahan tawa dan membenarkan gaun Calista. Sementara Calista hanya meringis pelan menahan malu saat melihat Yuri dan Tiffany menahan tawanya.

Setelah selesai, kemudian Tiffany segera menarik Calista menuju meja rias. Mengenai Calista yang bingung dengan sikap Tiffany, sementara gadis yang memiliki eye-smile itu tampak sedang sibuk berpikir. “Ada ap-“

Gotcha!” Tiffany berseru lalu segera menyisir rambut Calista. Saat Calista menatap bingung ke-arah Jessica dan Yuri lewat kaca, kedua saudaranya itu hanya tersenyum dan mengangguk. Calista hanya bingung tak mengerti, namun setelah lama kelamaan Tiffany sibuk dengan salah satu bagian tubuhnya, Calista jadi tau apa yang akan dilakukan Tiffany.

Tiffany menggulung rambut Calista menggunakan roll yang entah dia dapatkan darimana. Kemudian saat rambut Calista berhasil menggelombang, Tiffany langsung mengucir ala ariana grande ( jujur aja gue gatau itu nama nya dikucir apa-_- ) di rambut Calista. Kemudian dia menambahkan pita berwarna pink muda.

“Nah, sudah selesai. Kau hanya perlu memakai sepatu berwarna pink soft itu,” seru Tiffany sambil menunjuk sepasang sepatu yang berada dalam almari. Calista mengangguk mengerti kemudian memakai sepatu itu.

 

Dia pun berjalan kearah kaca-yang memiliki panjang beberapa meter lebih tinggi daripada tubuhnya-yang terletak di samping meja dekat kasurnya. Calista tersenyum memandangi dirinya yang terlihat anggun di kaca. Jika di swiss dia terlihat manis dengan terusan celana untuk bertenak, atau terlihat casual dengan hotpans ditambah croptee yang memperlihatkan perut kecilnya itu juga memakai sneakers-kali ini Calista harus mencoba untuk menjadi anggun untuk seumur hidupnya.

“Calista, ayo kita ke halaman belakang istana, ada banyak hal yang harus kami ajarkan padamu,” ajak Yuri sambil menarik tangan Calista. Sementara Jessica dan Tiffany sudah siap diambang pintu.

So, start the day.

……

Sebuah ruangan yang sempit juga sangat jauh dari kota menjadi salah satu incaran seorang lelaki baya itu, aku perjelas lagi, ruangan. Langkahnya sedikit terhenti karena melihat lorong nya yang sudah dilengkapi dengan banyak nya tembakan yang dilengkapi dengan kamera cctv. Dia kemudian berjalan santai melewati itu semua.

Dia tak perlu takut bahwa dia dianggap penjahat baru atau apapun.. Karena dia baru saja meminta bantuan asisten nya untuk meng-hack program yang tersedia disini, juga jangan lupakan kamera cctv yang pasti sekarang sudah mati dan tidak dapat melacak jejaknya.

Kemudian dia sampai tepat didepan pintu besi yang terletak diujung lorong. Dia melihat seorang lelaki muda dengan perawakan yang tidak terlalu buruk-menurutnya, sedang menatap jendela kecil yang berada dipintu-sama dengan-nya. Ternyata lelaki itu sadar bahwa dia datang.

Pintu itu kemudian terbuka setelah asisten nya memberi password yang sudah dilacak. Lelaki muda itu terlihat lebih jelas dengan rantai yang terpasang ditembok-yang melilit tangan dan kakinya. Dari pengelihatan lelaki baya itu, lelaki muda itu sama sekali tidak terlihat berantakan atau kesakitan dengan hukuman-nya ini, tapi dia tau, bahwa lelaki muda itu berpikir keras bagaimana keluar dari ruangan yang dilapisi berton-ton baja ini. Oh, bahkan lelaki muda itu juga tak lupa harus berpikir keras bagaimana cara melepaskan rantai yang memiliki berkarat-karat besi.

Tapi dibalik itu semua, lelaki muda itu terlihat sangat santai dan wajahnya sangat datar memandangi lelaki baya itu juga asistenya.

“Apa kabar, Richard Oh?” tanya lelaki paruh baya itu sambil berkata dengan ketus. Hampir seperti bukan menanyai kabar, melainkan menanyai-apakah-sudah-siap-untuk-hukuman-yang-lebih-besar.

“Apakah kita pernah kenal sebelum nya?” tanya Richard sambil menatap sinis balik lelaki paruh baya itu. Lelaki paruh baya itu tersenyum sengit.

“Wow, santai saja, aku hanya ingin memberimu penawaran.” Ucap lelaki paruh baya itu tanpa membalas pertanyaan dari Richard. Sedangkan Richard masih menatapnya dengan ekspresi datar-super datar.

“Apa? Menghancurkan tembok besi ini kemudian pasukan mu menyerang-ku?” desis Richard sambil menatap laki paruh baya itu santai. Walau ada sedikit seringai dimatanya.

“Aku bukan-lah gabungan dari FBI itu,” sahut laki paruh baya itu sambil mendecak lidah. Dia pikir, Richard Oh sangat lah pintar hanya dengan melihat sebuah pin yang tertempel di bagian dadanya yang bergambar dua bola api dengan warna yang berbeda.

Memang ada anggota FBI repot-repot memasang pin penjahat seperti itu? Dia menatap kesal asisten-nya yang sekarang tampak meringis. Mungkin dia harus mengingat bahwa Richard Oh hanyalah cerdik bukan pint—

Forderation, apa tawaran-mu?” tanya Richard sambil menatap lelaki itu dengan tampang datar. Lelaki paruh baya itu segera mengumpat pelan bahwa dia sudah dikerjain oleh lelaki muda ini.

“Calista Im, anak dari kedua raja dan ratu New York, bawalah dia kehadapan-ku, tanpa melakukan sedikit kekasaran apapun terhadapnya,” pinta Ford sambil menatap santai ke arah Richard. Tentunya ini bukan tantangan berat, bahkan ini sangat mudah.

“Lalu apa yang aku dapatkan?” Tanya Richard masih dengan pandangan datarnya. Tampak tak tertarik dengan tantangan ini, menurutnya ini akan menjadi tantangan yang membosankan.

Sherlock Camera,” tawar Ford dengan senyum penuh kemenangan saat melihat badan Richard yang sedikit bereaksi karena ucapan-nya.

Sherlock Camera, sebuah kamera yang hanya dimiliki oleh badan yang benar-benar terjaga ketat keamanan-nya. Kamera itu hanya ada satu di dunia ini, dan sering berpindah tangan dari badan satu ke yang lain. Apa ke-istimewaan-nya? Kau bisa melacak seseorang yang kau cari walau orang itu berada di ujung dunia sekalipun, karena semua kamera yang berada diseluruh dunia ini terhubung pada Sherlock Camera. Mulai dari camera hp yang sedang tidak dipakai, sampai kamera SLR yang tidak menyala pun bisa menjadi bukti.

Dan Sherlock Camera itu terus saja melacak keberadaan Richard, dan tentu saja itu membuatnya terganggu. Usaha Richard untuk mendapatkan Sherlock Camera itu selalu gagal, selalu.

“Sebenarnya Sherlock Camera mudah saja untuk diambil, bahkan tak penting untuk-ku, tapi Calista Im lah yang kupenting-kan,” ucap Ford sambil tersenyum sinis dan mendekati Richard.

“Kenapa harus aku?” Tanya Richard ingin berbasa-basi sebentar. Sudah lama ia tak melakukan ini terhadap—teman, mungkin?

“Well karena kita sama-sama membutuhkan dalam waktu yang cepat,” Singkat Ford sambil mengangkat bahunya. Richard menatap lelaki itu seolah-olah sedang menilainya dari fisiknya.

Badan tinggi dan tegap, memiliki garis rahang yang lurus dan tegas-sama sepertinya, rambutnya ke-abu-abuan dan alisnya yang lurus dan sedikit tinggi menggambarkan pria yang dingin dan sinis. Dan dia mencari kebohongan dalam iris berwarna biru kelam itu, namun yang dia temukan hanyalah kepastian.

Akhirnya dia mengangguk sambil menatap Ford dengan senyum menyeringai. Belum ada lima detik, rantai yang melilit tangan dan kakinya terlepas. Dan juga, dia cukup terkejut atas kecepatan lepasnya rantai itu hanya dengan persetujuan permintaan-nya.

“Waktumu, dua minggu Richard. Ingat, kau tak bisa mencoba kabur dari perjanjianmu, karena anak buahku akan selalu mengintaimu,” Peringat Ford sambil menaikan satu alisnya yang sudah berwarna ke-abuan.

Richard kemudian tersenyum sambil melemaskan tangan dan kakinya. “aku bukan pengingkar janji,”

“Jangan kaku seperti itu, hanya berjalan saja masa tidak bisa lemas?” sungut Tiffany sambil memperhatikan jalan Calista yang membawa tiga buku masing-masing di tangan kanan dan kirinya.

Calista berdecak sebentar—

“Kau boleh saja berdecak tapi jangan sampai ketahuan oleh publik, karena bisa merusak image mu dan image kita,” koreksi sekaligus ingatan dari Jessica untuk Calista.

Calista menelan pahit-pahit dengusannya kemudian mengangguk.  Dia kemudian mengikuti arahan Tiffany untuk mengulang jalan dengan membawa tiga buku di masing-masing tangan kanan dan kirinya.

Dan kemudian, terdengar desahan lega dari Jessica dan Yuri karena Calista berhasil melakukan membawa-tiga-buku-di-masing-masing-tangan-kanan-dan-kirinya. Tiffany pun tersenyum sumringah sambil berujar, “Kau cepat sekali belajar, cara berjalan sudah, membawa banyak barang sudah, berarti yang belum…”

“Cara makan, cara memilih baju dan sikap yang ‘seharus’nya dilakukan pada saat apapun, dimanapun, oh dan kupikir masih banyak yang lain,” Cerocos Yuri sambil memotong ucapan Tiffany. Tiffany kemudian mendelik sebal ke-arah Yuri, sedangkan yang menjadi bahan tatapan-Tiffany hanya terkekeh.

excusme?” sindir Tiffany yang kemudian membuat Jessica tergelak. Jessica yakin sehabis ini, jika tak ada Calista, pasti argumentasi terjadi antara dua saudaranya itu. Namun karena sekarang Tiffany harus mengajar Calista, maka dia tidak ingin membuang waktu basi-basinya dengan berdebat dengan Yuri.

“Apakah cara makan juga?” Tanya Calista sambil mengeluarkan desahan panjang. Menurutnya, jika makan tak ada yang merekam atau mem-foto mereka bukan? Lalu kenapa harus ada tata caranya juga?

Seolah bisa membaca pikiran Calista, Jessica pun terkekeh, “Cale, kita sering bertemu dengan banyak keluarga kerajaan dari berbagai negara, jadi cara makan-mu nanti akan memperlihatkan image keluarga kita,”

Calista hanya mengangguk kaku seperti robot. Mendadak, dia ingin cepat-cepat kembali ke rumah nya yang berada di Swiss. Melepas gaun ini, melepas bando ini dan juga high heels. Cepat-cepat menggantinya dengan kaus dan celana jeans kemudian men-cepol rambutnya. Oh, how nice.

Namun, kenyataan berkata lain. Dan Calista harus menerima itu, yah walau dalam hatinya dia pastinya tidak terlalu terima. Sambil menyemangati dirinya sendiri, Calista berharap dalam hati bahwa setelah ini, tidak ada masalah dengan latihan-nya.

“Calista, ayo sekarang kita belajar cara memilih gaun dengan baik, “ Ajak Tiffany yang langsung menggandeng Calista. Calista hanya menurut sambil menyamakan langkah nya dengan Tiffany-juga jangan lupa dengan Jessica dan Yuri yang setia mengikuti mereka.

Calista belum terlalu hafal seluk beluk istana ini, atau bisa dibilang rumah nya sendiri. Namun dia tau saudaranya ini membawanya ke pojok istana dan membuka pintu berbentuk persegi panjang yang menjulang tinggi berwarna emas. Saat pintu itu dibuka, Calista bisa melihat ruangan ini benar-benar ramai.

Bukan ramai karena banyak orang berisik, tapi isi dari ruangan ini. Kain dengan warna-warna yang jarang ditemui Calista tertumpuk di pojok ruangan. Renda-renda atau hiasan apalah itu-Calista tak tau, tertata di meja yang terletak disebelah tumpukan kain. Dan banyak mesin jahit, lemari-lemari besar disana-sini juga lain-nya yang Calista tak ingin sebutkan karena itu hanya akan membuatnya pening.Kini, Calista melihat para penjahit kerajaan sekarang berdiri dan memberi hormat atas kedatangan-nya.

Calista membungkuk sedikit dan tersenyum kaku. Dia kemudian menyusul saudaranya yang sudah melangkah masuk keruang jahitan itu. Tiffany memimpin dengan membawa mereka ke arah lemari besar yang berada di ujung kanan ruangan. Dekat situ, banyak hanger yang tertata dengan ratusan setelan gaun. Calista membulatkan matanya saat melihat pemandangan itu.

“Gaun-gaun itu….. untuk siapa?” tanya Calista kepada para saudaranya.

“Tentu saja untuk kita, dan juga para penghuni istana yang lain,” jawab Tiffany sambil mencari sesuatu disebuah rak yang terletak dibawah lemari. Yuri dan Jessica mengangguk menyetujui jawaban Tiffany.

“Semua penghuni istana memakai pakaian yang dijahit sendiri oleh para penjahit istana, dan terkadang para penjahit istana membuatkan gaun untuk kerajaan lain,” jelas Yuri sambil mengelus satu gaun simple berwarna silver ( yang Calista yakini itu adalah gaun untuk tidur ).

“Tapi kenapa para penjahit istana membuatkan gaun untuk kerajaan lain? Apa kerajaan lain tak memiliki penjahit istana?” Tanya Calista refleks.

“Tentu saja setiap kerajaan pasti punya Cale, tapi Designer Agung pernah mengatakan di public bahwa kerajaan kita mendapatkan gelar, ‘Gold Design Kingdom’ yang berarti memiliki design baju terbagus diantara semua kerajaan di dunia ini, jadi banyak kerajaan lain memesan gaun disini mungkin sebagai gaun mereka untuk pesta atau acara resmi-aku tidak terlalu tau,” jawab Jessica yang membuat Calista menganga parah.

Masih banyak sekali pertanyaan yang Calista simpan, seperti : siapa itu Designer Agung? Seorang perempuan-kah? Lalu apa pentingnya Designer Agung itu? Namun Calista hanya memijat kening nya untuk menghilangkan rasa pening yang menjalar tanpa bertanya lebih jauh pada saudaranya.

Akhirnya Tiffany mengeluarkan beberapa lembar kain yang kemudiaan diperlihatkan kepada Calista disebuah meja yang tak jauh dengan mereka. Calista bisa melihat banyak warna dari yang biasa sampai warna yang terlihat mewah.

“Calista pilih lah warna untuk gaun-mu jika kau ingin bersantai dengan berjalan-jalan disekitar istana menggunakan kuda,” perintah Tiffany saat dia sudah selesai menata kain-kain kecil itu. Calista dengan ragu mengambil kain kecil berwarna putih dipadukan dengan merah pekat.

“Jelaskan kenapa memilih warna kain itu,” titah Tiffany sekali lagi.

Dengan kaku, Calista kemudian mengangkat kain putih dan mengatakan, “Warna putih adalah warna yang cerah, warna putih bisa dipadukan dengan warna apa saja, dan kemudian warna merah,” Calista mengangkat kain warna merah dan melanjutkan, “Merah jika dipadukan dengan warna putih memberikan kesan seksi dan sedikit mewah juga glamour-mungkin?, well sebenernya bisa saja mengganti merah dengan orange atau kuning agar terlihat lebih segar, tetapi aku tetap memilih warna merah karena..”

Image mewah menggambarkan istana ini, jadi aku hanya ingin mencocok-kan saja,” jelas Calista-yang-akhirnya-dilanjut-dengan-penjelasan-asal-asalan.

“Waw, aku tidak akan berpikir kau sampai memperhatikan image kerajaan ini,” ucap Yuri sambil tersenyum manis, begitupun juga dengan Jessica yang mengangguk menyetujui ucapan Yuri.

Good Yoona, and the next…

Apa lagi ini, huh?

….

“Adakah alasan kenapa Calista dirawat oleh kakek neneknya di Swiss?” tanya seorang lelaki paruh baya yang memakai topi besar berwarna putih. Di mejanya, terdapat sebuah name tag besar yang bertuliskan “Crude Anton”

“Belum ada alasan yang jelas sampai saat ini, tapi ada yang berkata bahwa dia sempat tinggal disitu sementara—-“

“Jika informasi itu belum terkonfirmasi, jangan membuang waktuku hanya untuk mendengar celotehan darimu,” ucap Anton sambil mendengus. Kemudian lelaki itu membaca sekali lagi biodata milik Calista.

“Umur Calista sekarang dua puluh satu, apakah dia sudah mempunyai pasangan?” Tanya Anton serius kepada asisten nya. Asisten nya kemudian menggeleng dan mengecek data lain tentang Calista yang dipegang nya.

“Kau serius?” tanya Anton sekali lagi.

“Benar tuan, belum ada konfirmasi siapa pasangan Calista, bahkan Calista sepertinya belum dekat dengan berbagai pangeran dari beberapa kerajaan seberang,” jelas asisten nya sambil melihat data Calista lagi takut salah menjelaskan.

“Ingat undang-undang kerajaan nomor 29 bagian 3?” tanya Anton lagi dan lagi-lagi-juga dibalas anggukan dari asisten nya.

Setiap pangeran / putri mahkota diharuskan memiliki pasangan sebelum menginjak umur 20 tahun, karena mereka harus menikah pada umur 22 tahun. Dan menjadi pewaris tahta selanjutnya,”

“Jadi kau tau apa artinya?” Asisten mengangguk untuk ke-sekian kalinya ke Anton. Anton berpikir sebentar,

“Hubungi asisten istana segera, dan undang-lah mereka ke acara makan malam, malam ini juga,” ucap Anton sambil mengambil berkas-berkas yang lain.

“Lalu bagaimana jika tidak bisa? Tuan tau kan, Raja tidak bisa diminta ke acara makan malam di hari itu juga sebelum ada perjanjian di hari-hari sebelumnya?” Tanya asisten nya sambil mengerutkan dahi.

“Maka dari itu, minta perjanjian makan malam yang diadakan tiga hari lagi, di Licoln Square Steak-Street-208 W 70th Street- New York City,” pinta Anton sambil memijat kening nya sendiri.

“Akan segera saya lakukan, tuan.”

….

“Tuan, kita mendapat undangan makan malam di Licoln Square Steak dari Crude Anton, akan kah anda bisa datang 3 hari lagi pada pukul delapan malam?” tanya asisten istana sambil tergopoh berjalan ke arah Raja.

Elizabeth yang berada disebelah nya pun tersenyum saat membalas tatapan Nathan yang memang sudah menatapnya dengan tatapan tanya. “Sepertinya penting, jadwal pada jam delapan juga kosong, terima pertemuan itu dan beritaukan kepada anak-anak ku,”

Sang asisten pun langsung mengangguk dan segera membungkuk. Beberapa detik kemudian, asisten itu pun pergi dan meninggalkan Elizabeth dan Nathan berdua diruangan besar itu.

“Kau tau, honey? Firasatku buruk mengenai ini, aku tidak tau mengapa, tapi, kau tau sendiri kan terkadang firasatku itu benar-benar terjadi?” sahut Elizabeth sambil menunduk dan menghembuskan nafasnya.

Tangan mungil nan halus milik Elizabeth pun digenggam oleh tangan kekar milik Nathan, “Believe me, everything is okay,”

To Be Continued 

A/N: Kembali lagi dengan saya yang telah lama hibernasi karena sibuk dengan sekolah saya. ( btw ini kok jadi ngomong-nya saya ) maaf banget ini ff nya udah dari lama banget gak ke-post entah karena lupa atau mager hehe. Padahal ini udah jadi juga dua bulan lalu sebenarnya tapi karena cuma masalah sekolah sama les aja yang jadi hambatan nya. Jadi aku bener-bener minta maaf ke readers yang kecewa sama aku karena ff ini gak muasin terus lama banget bikin/ngepostnya. Everybody get a busy in everytime, right? Jadi aku minta kemakluman dari kalian semua.

Regard, Pimthact.

39 thoughts on “Younger – 2

  1. Lanjut Thor, ceritanya keren banget
    Ahhhhh yoona oenni disini jadi Putri, daebak
    Pokoknya keen thor~
    Next chap, penasaran banget

  2. Akh! Daebak! YoonA jd putri! Aku sih sebenarnya berharap sehun jd pangeran😀 aku pengen cepet2 liat YoonHun ketemu
    Lanjutkan chap berikutnya Thor! Keep writing! ~

  3. Hmm penasarn nih..
    Blm ad moment YoonHun nya, pdhl aku ngarep bnget.
    Next chap update soon.
    Fighting!
    Keep writting thor!

  4. Wah Sehun jd penjahat disini, walaupun dia gak boleh nyakitin Yoona tp dengan membawa Yoona ke tangan Ford itu kan sama aja secara gak langsung membahayakan Yoona. Tapi, klo nanti Sehun beneran jatuh cinta sama sosok Yoona dalam waktu singkat apa Sehun akan rela berkorban demi Yoona? Tapi pertanyaan yg paling pengen aku tanyain sebenernya : Ini bukan angst kan? Please jangan dong yaa… hehe

    Next chap fighting!

  5. Bagus bangettt
    Itu yoona apa mau dijodohin?😮
    Kalo harus nikah pas umur 22, jessica, yuri, tiffany udah nikah dong brti thor?😮
    Heheheh
    Ditunggu klanjutannya, sama penasaran kapan sehun ketemu sama yoona :3

  6. Akhirnya thor ini ff dilanjut
    Udah nunggu banget
    Ini bikin moodku naik
    Aku lagi kesel belajar terus buat ukk eheh
    Belum ada moment yoonhun nya ya
    Lanjut thor kutunggu

  7. Eonn.. Pngen liat deehh dipost selanjutnya adaa pict yoong eon pake gaun ala” krjaan, buat gambarannya.. Ceritanya suka eon, bkin bnyk konflik yaa eon biar greget, :v

  8. knpa harus yoona yg di inginin ford??
    Aishh, akankan sehun berubah pikiran stlah bertemu dgn yoona?
    next ditunggu ya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s