18 [Prolog]

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

By Cicil

Main cast: Yoona and Jongin. Genre: ini tentang siapakah pelakunya? Length: Chaptered.

*

Byun Baekhyun ditemukan meninggal dengan luka di area pelipis dalam posisi terduduk di kursi kelasnya sendiri. Dan, Im Yoona adalah orang pertama yang menyadari bahwa teman sekelasnya itu telah tiada.

*

Hari itu sama layaknya hari sebelumnya dan sebelumnya lagi. Yoona berjalan beriringan dengan teman-temannya, mengobrol soal berita terbaru dari siswa-siswi sekolah Seoul High School atau tentang lagu terbaru yang berhasil menduduki tangga Billboard akhir pekan.

Pagi itu, setelah sampai di kelas dan memastikan bel masuk sekolah masih 15 menit lagi. Yoona memutuskan untuk pergi ke toilet sembari menggandeng Hani untuk menemaninya. “Cepetan Yoong, nanti kita kena marah karena telat masuk kelas.” Desak Hani saat gadis itu melangkah panjang keluar dari kamar mandi perempuan seraya menarik tangan Yoona yang masih saja sibuk protes tentang-bel-sekolah-yang-masih-lama.

Hani menoleh ke belakang, menatap tajam Yoona yang dipungginya sedari tadi. Ia baru saja ingin mengeluarkan kalimat protes lainnya saat tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang, cukup keras hingga membuatnya terjatuh.

“Hani!” Terdengar teriakan Yoona. Namun Hani tidak mengubrisnya, pandangannya yang menunduk kini perlahan mendongak saat mendapati uluran tangan seseorang–mungkin yang menabraknya tadi, atau lebih tepatnya yang tidak sengaja ia tabrak.

“Apa kau baik-baik saja?” Yoona yang dianggap angin lalu begitu saja melihat sahabatnya–Hani–mengangguk menjawab pertanyaan orang tersebut, dan menerima tangan itu untuk membantunya berdiri. Ia menepuk-nepuk roknya yang agak kusut karena terjatuh, omong-omong saat itu hatinya juga terjatuh karena baru saja mengenyam fakta bahwa orang yang menolongnya adalah Kim Jongin.

Oh, tidak, itu KIM JONGIN! Laki-laki yang mengalahkan artis idola Hani, dan menggantikan posisi itu dengan dirinya. Mungkin, Kim Jongin juga telah mengisi hati banyak perempuan di sekolah ini. “Hani, ayo, kita kembali ke kelas.” Yoona kembali mengamit lengan sahabatnya dan bergegas melangkah, berusaha bersikap seolah eksistensi Jongin di matanya telah lama menghilang.

“Oh, tunggu, tunggu.” Ia mengumpat dalam hati ketika terpaksa berhenti karena Hani dengan segera berbalik dan menyodorkan ponselnya di hadapan Jongin. “Boleh minta nomor ponselmu?” Tanyanya lantang, bagi sebagian besar para siswi, berjuang meminta nomor ponsel Kim Jongin adalah aktifitas sehari-hari, dan diberi penolakan halus olehnya adalah makanan pokok mereka.

Jongin tersenyum kecil sambil menerima ponsel Hani dan mengetikan nomornya, jarang-jarang ia mau memberitahukan nomor ponselnya pada orang lain. Tapi kali ini ia dengan mudah memberikannya, dan Hani merasa ia adalah gadis paling beruntung di dunia hari ini. Mungkin saja kepala laki-laki itu agak terbentur hari ini sehingga dengan mudahnya menerima permintaan Hani, “Oh, terima kasih banyak. Aku janji tidak akan sering-sering mengganggumu.”

Hani membiarkan tangannya dicubit sekali oleh Yoona, dan matanya masih enggan berpaling dari sosok Jongin. Sambil mengambil ponselnya yang disodorkan, laki-laki itu pun bersuara, “Temanmu tidak menginginkan nomorku?” Tanya Jongin, iris cokelatnya melirik Im Yoona yang menggeram di balik punggung Hani. “Biarkan saja dia, ayo, kita pergi.” Tanpa menjawab pertanyaan Jongin, Yoona langsung menarik sahabatnya itu menjauh.

Yoona tidak suka dengan orang bernama Kim Jongin itu, tidak sama sekali.

“Yoona!” Untuk yang kesekian kalinya, gadis itu mengumpat dalam hati. Ia dan Hani terpaksa membalikan badan dan mendapati Byun Baekhyun sedang tersenyum jahil ke arahnya sambil lengannya merangkul pundak Jongin. Tentu saja, Baekhyun dan Jongin, dua orang yang saling berteman yang sama-sama Yoona benci.

“Yoong, apa kau masih menginginkan nilaiku?” Yoona menatap sinis laki-laki menjengkelkan itu, Baekhyun selalu saja menggodanya sejak kejadian semester yang lalu. Ketika nilai akhir praktek biologinya hanya berbeda 3 point dengan Baekhyun, dan Yoona jadi gagal mendapatkan traktir makan sepuasnya di restoran favoritnya seperti yang dijanjikan teman-temannya.

Waktu itu ia kesal sekali, jadi ia marah-marah pada Baekhyun di tengah kelas yang sedang bebas karena guru biologi mereka pergi ke toilet. Tapi yang dimarahi justru hanya tertawa dan mulai meledeknya. Yoona juga mulai menyadari bahwa nilai-nilainya yang lain memang saling menyusul dengan Baekhyun, dan laki-laki itu terus saja mengganggunya seperti tidak ada kerjaan yang lebih penting saja.

“Kalian berdua seperti nyamuk menyebalkan bagiku, jadi tolong jangan dekat-dekat denganku lagi dan teman-temanku.” Ujar Yoona dengan nada rendah, berusaha mengontrol dirinya agar tidak membuat keributan dengan teriakannya di sepanjang koridor kelas yang agak ramai. Sambil dengan kesal ia berbalik dan meninggalkan kedua orang itu dengan cepat. Samar-samar Yoona mendengar Hani memprotesnya karena ia–tentu saja–ingin dekat-dekat dengan Jongin.

*

Terdengar suara tawa dari sekumpulan gadis yang duduk melingkar di pojok ruang auditorium yang berkarpet. Yoona sukses memanyunkan bibirnya karena ia baru saja kalah setelah memainkan permainan domino yang dibawa oleh Hani. Dan yang lebih pahitnya lagi adalah ia akan kena hukuman. Oh, rasanya hari ini adalah hari tersial untuknya, sudah ketemu si Jongin, diledek Baekhyun, sekarang ia kalah dalam permainan saat jam pelajaran sehabis istirahat mereka ternyata kosong.

“Tolong ambilkan sweaterku di kelas,” Suruh salah satu temannya.

“Bawakan botol minumku,”

“Ponselku tertinggal di kolong meja,”

“Kacamataku sepertinya ada di atas meja, aku memerlukannya sekarang.”

“Ambilkan buku pr matematikaku dan kotak pensilnya, aku ingin menyalin dulu sebelum pelajaran Pak Kim.”

“Dasiku–“

“Oke, oke, cukup. Beri aku kesempatan untuk mencatatnya,” Yoona mulai meminjam pen dan kertas untuk menulis barang-barang yang perlu ia ambil. Jarak ruang auditorium dan kelas mereka agak jauh, dan sebagai hukuman, Yoona diharuskan mengambil apa yang teman-temannya inginkan sendirian saja. Singkat kata, ia menjadi pembantu mendadak pagi ini.

Butuh waktu 3 menit untuk sampai di kelasnya. Yoona membuka pintu kelas tersebut, yang tidak terkunci, mungkin ada beberapa murid kelasnya yang memilih tinggal di kelas saat guru piket menawarkan mereka untuk menghabiskan jam pelajaran olahraga–berhubung Pak Jang, guru olahraganya ijin tidak masuk–di ruang auditorium dan menonton film saja di sana atau sekadar bermain. Yoona pikir tidak ada satu pun murid yang ingin tetap tinggal di kelas yang membosankan, tapi kalau pintu kelasnya tidak terkunci berarti masih ada orang di dalam.

Ia mendorong pintunya dan masuk, lalu bergegas membaca daftar barang pertama. Ah, sweater milik Taeyeon. Warnanya abu-abu dan untung saja segera ditemukan di mejanya yang ada di barisan paling belakang. Yoona melangkah ke sana dan meraih sweater Taeyeon itu.

Tubuhnya pun berbalik dan menyapukan pandangannya ke meja-meja lain setelah membaca daftar barang kedua; botol minum warna biru laut kepunyaan Sunny. Namun justru matanya menangkap seseorang yang sedang duduk dua bangku berselang dari tempatnya berada. Yoona memastikan bahwa teman sekelasnya yang terdiam itu adalah laki-laki, tapi pikirannya pun melayangkan pertanyaan singkat.

Sejak ia masuk sedari tadi tidak ada suara apa pun, bahkan Yoona baru saja menyadari keberadaan teman sekelasnya itu saat mengedarkan pandangannya. Kepalanya menunduk hingga Yoona tidak mampu mengenalinya, maka ia pun melangkah mendekat, mungkin saja dia tertidur dalam posisi duduk.

“Hei,” Dengan agak gemetar, Yoona menyentuh bahu teman sekelasnya itu untuk membangunkannya. “H-hei,” Panggilnya lagi, kemudian menoel bahu itu lebih keras. Akibat guncangan tersebut, kepala laki-laki itu bergerak namun tidak kunjung mendongak.

Yoona berdoa dalam hatinya, semoga saja tidak ada kejadian buruk–

“AAAA!” Dirinya terdapati berteriak kencang sambil melangkah mundur. Teman sekelasnya itu adalah Byun Baekhyun, namun bukannya justru terbangun dari tidur, kepalanya malah terkulai ke samping. Dan yang membuat jantung Yoona serasa berhenti adalah karena ada noda darah di sekitar pilipis Baekhyun. Bahkan, Yoona baru menyadari warna kemerahan yang membasahi seragam kemeja putih milik Baekhyun.

Truk!

Kepalanya dengan cepat menoleh ke arah pintu karena suara itu pasti adalah bunyi pintu yang tertutup. Matanya menangkap seorang Kim Jongin berdiri di sana dengan tampang polos. Di saat jantungnya yang masih berdebar keras, Yoona berniat membuka mulutnya dan menjelaskan apa  yang terjadi pada Jongin.

“A-aku ti-ti-tidak melakukan apapun–“

Lalu disusul bunyi sebuah benda jatuh tepat di sebelah kaki Yoona berdiri. Gadis itu pun melompat dan memekik kaget. Sebuah kunci inggris ukuran sedang dengan bercak darah di ujungnya lah yang baru saja terjatuh dari pangkuan Baekyun. Gadis itu berjongkok dan menyentuh kunci tersebut, menggenggamnya dengan sebelah tangannya.

Yoona dengan cepat menatap kembali Jongin dengan gentar. Laki-laki itu berjalan mendekatinya, dan melihat apa yang terjadi dengan lebih dekat. “Aku percaya kau tidak melakukan apapun.” Tukas Jongin dengan tenang.

“Kalau begitu, ayo, kita panggil yang lainnya.” Yoona mengeratkan cengkramannya pada sweater Taeyeon dan bergegas pergi keluar kelas, namun tangannya malah ditarik oleh Jongin dan ia terpaksa berbalik.

“Lalu bagaimana orang lain percaya kalau kau tidak melukainya, sedangkan yang ada ditanganmu sekarang adalah kunci inggris bernoda darah?”

Oh God,” Yoona melempar kunci tersebut ke meja terdekat, tanpa sadar ia bahkan membawa kunci itu sambil berkeinginan memberitahu teman-temannya yang lain. “A-aku sama se-sekali tidak tahu. A-aku datang ke sini untuk mengambil barang-barang temanku, dan Baekhyun su-sudah terluka begitu saja.”

Dengan wajah berpikir, Jongin menatap Yoona serius lalu berkata, “Aku percaya, tapi bagaimana caranya kita membuat yang lain percaya? Sidik jarimu sudah tercetak di kunci itu,”

Yoona mendesis frustrasi, apakah ini ambang kehancuran hidupnya? Setelah ini ia pasti masuk penjara karena kasus yang sama sekali tidak ia perbuat dan masa depannya akan menjadi kelabu. “Tamatlah riwayatku,” gadis itu menatap nanar tangannya yang gemetar hebat, hendak menangisi nasibnya yang amat buruk sekaligus bagian dari bentuk keterkejutannya yang melebihi tegangan tinggi mana pun.

“Mungkin masih ada satu cara…. kita cari pelaku sebenarnya.”

*

Jadi menurutmu siapakah pelakunya?

p.s: terinspirasi dari film berjudul 4th Period of Mystery dan veriety show berjudul Crime Scene.

45 thoughts on “18 [Prolog]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s