(Freelance) Series : Don’t Call Me Idiot : It’s Me

qawaqawaqawaa@HSG

(Series) Don’t Call Me Idiot : It’s Me

Author : AlienGator02

Main Cast : Im Yoona, Oh Sehun,

Other Cast : Find it by Your self

Genre : School Life,

Length : Series

Poster : qawaqawaqawaa@HSG

Rating : PG-13

Quote : No one look me that i’m a human. No one care about me.

Disclaimer : This story is pure my idea. Only my idea😀

A/n : I wanna see your comment guys, but I don’t coerce you to leave the comment.

Basher? You can bash this story J I’m proud of typo.

Warning : ada beberapa italic yang artinya flashback, tapi ada juga yang nggak.

Happy Reading ^_^

_

_

_

_

_

 

 

Hari terus berganti dengan cepat, terhitung empat puluh tujuh hari lelaki tinggi itu menjalani kehidupan di SMA Coreland terbaik se-antero Korea Selatan. Lelaki itu berjalan dengan menundukkan kepala ke lantai. Ia tak berani menatap lingkungan sekitar, karena ia tahu jika semua siswa tengah menatap jijik padanya.

Senyuman tipis tercipta dari bibir mungilnya, ia menatap semua siswa dari ekor matanya, bahkan lelaki bernama Sehun itu tertawa dengan keras ketika beberapa murid memanggilnya ‘Monster Idiot’

 

Namun Sehun berteriak dalam hati, luka di hatinya menganga lebar. Tak ada yang mengerti, tak ada yang peduli, bahkan Sehun mendengar suara retakan hatinya. Ia menjerit terluka, tak ada satu orangpun menganggapnya sama seperti manusia lain.

 

“Lihat! Ia sangat mirip dengan monster kan? Aku tidak tau kenapa sekolah kita mau menampung anak idiot sepertinya.”

 

Suara hujatan itu terdengar ke telinga Sehun. Ia mulai mendongak dan melihat beberapa siswa yang menatapnya jijik. Sehun tau ia memiliki kekurangan, tapi bukankah ia juga manusia? Sama seperti yang lain bukan?

 

“Ayo pergi! Aku tidak mau tertular penyakit yang dimiliki si Idiot itu!” teriak seorang siswa yang ber-name tag ‘Lee Ah Ra’. Idiot tidak bisa menular bodoh!

 

Sehun menggigiti kuku jarinya, kepalanya juga tidak tegak, namun sedikit miring ke kanan. Rambutnya sangat acak-acakan, ia juga memakai kacamata kebesarannya. Lelaki itu terus berjalan pelan ke kelasnya, tak peduli jika semua manusia yang ada di sekitarnya menatap aneh pada dirinya.

 

“Sehun tak suka.. Sehun anak baik.. dan suka menabung.” Ujarnya pelan.

 

Bruk!

 

Tubuh Sehun terdorong ke depan, seseorang tengah mendorongnya dari belakang. “Hei anak idiot! Jika berjalan pakai matamu. Ah.. aku lupa jika kau tidak memiliki otak.” Suara ejekan itu mampu membuat Sehun terdiam,

 

Hati Sehun sakit mendengarnya, apa lagi ketika ia dipanggil tidak punya otak. Bukankah itu menyakitkan? Sehun hanya diam dan segera beranjak pergi. Namun, ketika ia hendak berdiri, lagi-lagi anak ber-name tag ‘Park Chanyeol’ itu mendorongnya kuat.

 

“Bukankah aku sudah bilang jika kau ingin berdiri gunakan kakimu! Bukan tubuhmu bodoh!” cercaan dari si mulut pedas itu lagi-lagi keluar. Sehun hanya bisa menunduk, ia sama sekali tidak takut. Namun, ia tidak mau membuat masalah.

 

“Tolong… Sehun… hargai Sehun…” ucapnya terbata-bata.

 

Lelaki disamping Park Chanyeol itu mendengus kasar, ia tersenyum mengejek. “Kau pikir kau siapa huh? Hanya anak idiot yang tidak punya otak. Aku tidak tau sihir apa yang kau gunakan ketika kau mengerjakan ulangan, Arastados yelemoxa? Expecto patronom? Atau Crucio maxima? Ah.. kau terlalu bodoh untuk mengetahui hal itu.” ejek si mulut pedas yakni Byun Baekhyun.

 

“Maaf.. Sehun bodoh.. maaf. Tapi, Sehun masih punya otak. Maaf,” Sehun segera bangkit dan membungkuk beberapa kali untuk meminta maaf pada Big Gangster didepannya itu,

 

Bugh~

 

Teman Chanyeol yakni Do Kyung Soo memukul Sehun dengan keras, ia mulai mengeluarkan suara nyaringnya. “Kau pikir kau siapa hah? Kau memang tidak punya otak!” bentaknya.

 

Sementara itu Chanyeol hanya tersenyum sinis ketika melihat darah yang mengalir di sudut bibir Sehun, “Kupikir kita harus memberinya sedikit pelajaran, tidak apa kan Sehun.?”

Chanyeol kau sungguh kejam!

 

Sehun menggeleng tidak mau, ia tidak mau dihajar dengan Big Gangster itu, naasnya semua orang bersorak gembira ketika mendengar jika Sehun akan dihajar habis-habisan oleh Big Gangster itu. Kerah baju milik Sehun ditarik oleh Chanyeol, Sehun hanya bisa menunduk takut. “Oh, pangeran kecil kita sedang ketakutan. Apakah kau membawa popokmu anak kecil?”

 

Bugh~

 

Chanyeol memukul Sehun dengan kepalan tangannya, ia tertawa sinis ketika mendengar jeritan kesakitan dari Sehun. Sementara itu Kyung Soo sangat suka menendang Sehun. Kini giliran Baekhyun yang melakukan jurus taekwondonya.

 

“Ini karena kau tidak punya otak.”

 

Bugh~

 

“Ini karena kau anak Idiot.”

 

“Stop! Let’s Go and leave him alone! Student who help him will get some greek gift from Big Gangster. Got it?” Ujar Chanyeol mengancam.

 

“Yes! I got it.” Teriak seluruh siswa di Coreland High School,

 

Kini hanya Sehun yang terkapar tak berdaya, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia menggigiti kukunya, “Sehun anak baik.. tidak pernah berbohong.. Sehun bukan anak Idiot. Sungguh” batin namja berkulit putih pucat itu.

 

Sehun segera mengambil tas yang tergeletak di tanah. Ia memilih pergi ke atap gedung, dan tidak mengikuti pelajaran Cho Seonsaengnim. Ia tidak mau ditanyai oleh Cho seonsaengnim kenapa wajahnya babak belur, Sehun tidak mau Big Gangster dimarahi oleh guru galak itu. biar Sehun saja yang menerima perlakuan kejahatan mereka.

Kau benar-benar anak polos Sehun-ah.

 

Sehun mulai menaiki tangga satu demi satu, ia cukup senang karena keadaan sekolah sangat sepi. Karena semua siswa sedang mengikuti pelajaran. Dalam hatinya Sehun sangat bahagia. Namun ekspresi wajahnya justru menampilkan sebaliknya. Sehun tidak peduli dengan luka yang dialaminya.

 

“Sehun sakit… ini perih… hahaha!”

 

Sehun merasa kesakitan denga luka yang ada di wajahnya juga di perutnya. Mungkin kalian sudah menyangka jika Sehun adalah orang yang tidak waras. Karena ia bicara pada diri sendiri, dan mengeluarkan ekspresi yang seharusnya tidak dilakukan.

 

Dalam hatinya Sehun tengah menangis, ia meratapi nasibnya yang sangat buruk. Bagaimana mungkin? Semua orang membencinya, tidak peduli itu Ayahnya, kakaknya, teman-temannya. Apakah salah seseorang yang mempunyai keterbatasan mental?

 

Namun raut wajahnya justru tidak menampakkan jika ia sedang sedih. Sehun tengah tertawa sekarang, mungkin jika kau bisa melihatnya. Ia tengah tertawa kebahagiaan.

Benar kan Sehun?

 

“Hei! Kenapa kau tertawa sendiri? Apa kau gila?” tanya seorang gadis berambut hitam legam itu.

 

Sehun segera bangkit dan melihat sosok gadis yang tengah menatapnya sinis. ‘Kenapa semua orang membenciku?’ batinnya. Sehun hanya diam dan menunduk, ia tidak berani menjawab atau menatap gadis bermata bulat rusa itu.

 

“Apa kau tuli?” bentak gadis bername-tag Yoona.

 

“Mohon maaf.. ini salah Sehun.. Sehun nakal… tapi Sehun tidak gila.. Mohon maaf”

 

Gadis bernama Yoona menautkan kedua alisnya, ia menatap Sehun aneh. Ia bingung kenapa ada makhluk astral sama seperti Sehun. Beberapa kali Yoona mengumpat betapa anehnya kelakuan Sehun itu.

 

“Sebenarnya kau ini siapa? Apakah kau anak baru?” tanya Yoona.

 

Sehun hanya mengangguk dan mengucap “Sehun.. Oh Sehun.. Lulusan Indie Junior High School, Amerika. Satu bulan di Korea.” Sehun mulai menyodorkan tangannya ke gadis bermata rusa itu.

 

Yoona mendengus nafas kasar, ia mengunyah permen karet yang ada di mulutnya. Ia mengibaskan rambutnya dan mengucap “Simpan tanganmu! Aku tak butuh. Aku akan pergi.” Ujar Yoona tanpa menoleh sedikitpun kearah Sehun.

 

Sehun tertawa keras, “Kenapa semua orang tidak mau berkenalan denganku? Hahaha!” tawanya, Lagi-lagi ekspresi yang tidak di inginkan Sehun justru keluar dari raut wajahnya.

 

*****

 

Sehun membawa sebuah kertas putih yang berisikan kejeniusannya, ia hanya terus berdo’a agar ayahnya mau melihat nilainya itu. Sehun mulai melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, ia melihat Hyungnya yang sedang membaca sebuah koran.

 

“Hyung, pulang… Sehun senang…” terang Sehun.

 

Bukannya mendapat senyuman atau gurauan dari sang kakak, Sehun justru mendapat sebuah bentakan keras yang membuat semua orang menutup telinga mereka. bukan karena kenyaringan suara, namun kalimat yang terlontar dari Hyung-nya itu membuatnya sakit hati.

 

“Cih.. kenapa kau mempedulikanku? Jangan sok baik Idiot! Fakta yang paling kubenci adalah fakta jika kau adik kandungku! Aku tidak mau mempunyai adik aneh sepertimu bodoh! Aku benar-benar membencimu! Karena kau yang idiot, banyak teman-temanku menjauhiku! Karena kau, aku harus pindah ke Korea! Pergi dari sini bodoh!” bentak seorang lelaki berusia empat tahun diatas Sehun, siapa lagi jika bukan Luhan.

 

“Sehun mohon… hargai Sehun.. Sehun bodoh.. tapi Sehun anak yang baik, Sehun dongsaengmu.” Ucap Sehun langsung melenggang pergi begitu saja.

 

“Siapa yang mau mempunyai adik idiot sepertimu.” Gumam Luhan yang masih bisa di dengar oleh Sehun,

 

Sehun hanya menunduk ketika Hyung-nya mengejeknya, Kadang ia bingung kenapa semua orang tidak bisa menerima kekurangannya. Padahal Sehun selalu bersikap baik pada siapapun, Sehun selalu berusaha yang terbaik agar ia diterima oleh semua orang. Namun, karena kekurangan itu, Sehun terus dihina.

 

Lelaki berkulit putih pucat itu berdiri di depan pintu ruang kerja sang ayah, Sehun mencoba mengetuknya pelan. Sehun ingin menunjukkan suatu hal pada ayahnya.

 

“Kau bisa masuk, pintunya tidak dikunci.”

 

Sehun segera memasuki ruang kerja ayahnya, ia bisa melihat ayahnya yang sedang berkutat pada laptopnya, pria paruh baya itu seolah tak bergeming ketika melihat siapa yang masuk.

 

“Appa.. Sehun.. mendapat piagam… Sehun memenangkan lomba Matematika… Appa senang?” tanya Sehun sambil menggertakkan giginya gugup.

 

Tuan Oh tersenyum sinis, ia segera menutup laptopnya kasar dan menatap sang putra bungsunya, Tangannya segera merampas kertas itu dan merobeknya.

 

“Apa ini yang bisa membuat Appa bahagia? Bodoh kau! Untuk apa piala dan piagam jika kau adalah anak yang idiot! Kau itu sampah Sehun-ah! Andaikan aku tidak berjanji pada Ibumu untuk merawatmu, aku pasti sudah membunuhmu atau mengusirmu dari rumah ini.” Sinis Tuan Oh.

 

“Sekarang… kau cepat pergi dari sini!” suruh Tuan Oh,

 

Tanpa berkata apapun, Sehun segera pegi meninggallkan Ruang kerja ayahnya. Kedua iris hazelnya memerah siap mengeluarkan bulir-bulir air mata, masa bodoh dengan fakta jika Sehun adalah anak lelaki, yang jelas Sehun hanya ingin menangis.

 

Sehun segera membawa kakinya menuju kamarnya, ia segera mengambil sebuah bingkai dibalik bantalnya. Lalu bingkai itu dipeluknya dengan erat, “Eomma… Sehun sedih.. Sehun bukan Idiot… eomma… jemput Sehun.. Sehun ingin ikut..” kedua tangannya memeluk erat foto sang Ibu,

Sehun, Kasihan sekali nasibmu.

 

Lelaki berpostur tinggi itu mulai membaringkan dirinya ke ranjangnya, ia hanya terus berdo’a pada tuhan agar ada orang yang mau menghargainya, menganggapnya sama seperti orang lain. Hanya itu saja, Sehun ingin dihargai. Ia tidak ingin dihukum untuk kesekian kalinya.

 

******

 

Sebuah deringan alarm terdengar ke telinga milik Sehun, lelaki itu melenguh pelan ketika sebuah cahaya masuk ke indra penglihatannya, Sehun mulai bangkit dari tidurnya dan melihat jam yang terpasang di mejanya.

 

‘Pukul 16.00’ itu artinya Sehun harus pergi menuju tempat kerjanya. Walaupun Sehun terlahir dari keluarga yang kaya dan memiliki saham terbesar se-antero Korea tidak membuat Sehun hanya meminta belas kasihan pada ayahnya.

 

Selama hidup Sehun, ia tidak pernah meminta sedikitpun uang pada ayahnya, semua orang di sekolahnya tidak tau jika Sehun adalah anak dari pengusaha Oh Corp, bukankah ayahnya terlalu malu untuk mempunyai anak sebaik dan setampan Sehun?

 

Sejak kecil Sehun bekerja menjadi paruh waktu di sebuah restaurant, ketika ia berada di Amerika ia bekerja di sebuah restaurant ternama di LA, dan kini Sehun bekerja di sebuah restaurant di dekat Apgeujong.

 

Sehun tidak pernah ingin mencari pekerjaan lain karena hanya di tempat itu Sehun bisa diterima bekerja walaupun hanya sebagai ‘Dry Cleaning’. Namun Sehun tetap bangga dengan hal itu, setidaknya ia melakukan hal yang terpuji.

 

Langkah kakinya membawanya menuju sebuah restaurant besar dan ternama di Seoul, Sehun segera memasuki restaurant itu lewat pintu belakang. Bukan karena apa-apa tapi itu memang peraturan yang ada di Restaurant Young Xin.

 

Sehun segera menempatkan dirinya di depan tempat pencucian piring, tanpa berkata apapun ia segera mencuci piring itu dengan bersih, ia senang telah bekerja di Restaurant ini selama tiga bulan, apalagi sang boss juga sangat baik kepadanya, selain itu ia memang digaji cukup besar disini.

 

“Wah.. Sehun-ah, kau sudah datang kesini! Padahal restaurant baru dibuka dua jam lagi.” Ujar seorang wanita paruh baya yakni juru masak yang ada di restaurant ini.

 

Sehun tersenyum mendengarnya, hanya di tempat inilah Sehun bisa mengontrol ekspresinya dengan baik. “Ya, Ahjumma. Sehun.. harus rajin.. agar Appa sayang Sehun…”

 

Jung Ahjumma mengusap rambut Sehun penuh sayang, ia sangat prihatin dengan nasib yang dialami oleh Sehun, ia tau seberapa banyak orang yang membenci Sehun karena kekurangannya itu, namun satu hal yang ada di pikiran Jung Ahjumma. Suatu hari nanti Sehun akan menjadi orang yang sukses dan mengalahkan orang normal lainnya,

 

“Sehun-ah, Ahjumma punya Permen cokelat, ini untukmu.” Ucap Jung ahjumma sambil menyodorkan permen itu,

 

Sehun berbinar ketika melihat permen lollipop kesukaannya, walaupun ia telah berusia tujuh belas tahun dan menginjak dewasa, kelakuannya masih sama seperti anak-anak.

 

“Gamsahabnida Ahjumma, Gamsahabnida.” Ujar Sehun sambil membungkuk beberapa kali untuk mengucapkan terima kasih, ia sangat suka dengan Lollipop. Tapi Sehun tidak pernah membeli permen itu karena ia tidak mau uangnya habis. Bukankah Sehun rajin menabung dan suka berhemat?

 

Seorang gadis mendobrak pintu dapur dengan kasar, ia benar-benar kesal ketika ibunya menyuruhnya menjadi pembantu dan pelayan di restaurantnya sendiri, gadis itu mengumpat beberapa kali. Jika ibunya tak mengancam akan mengambil gitar kesayangannya mana mungkin gadis berpipi tirus itu mau menjadi ‘Waitress’ disini.

 

“Jung Ahjumma! Ada pelanggan yang memesan Puding coklat dan Bulgogi dua,” ucap seorang gadis tomboy.

 

Sehun terkejut mendengar ucapan kasar gadis itu, ia segera mendekati sang gadis dan berkata, “Maaf, Tidak boleh kasar dengan orang tua… Sopan.. bicara yang sopan.” Ujar Sehun menasehati, ia mulai mendongak dan melihat wajah gadis itu dengan seksama.

 

Deg!

 

Sehun kenal gadis tomboy berambut panjang itu, gadis yang pernah ia temui di atap sekolah barunya. Gadis didepannya itu terlihat sangat dingin dan jutek. Gadis yang Sehun yakini bernama Yoona itu menatap sinis dirinya.

 

“Cih! Jangan sok seperti itu! Kau pikir kau siapa? Kau hanya anak idiot! Lagi pula kau tidak punya otak! Untuk apa kau bekerja disini? Sejak kapan kau bekerja?” cerca Yoona.

 

Sehun menunduk, ia menghela nafas perih. Ia benar-benar membenci ketika semua orang memanggilnya idiot, tidak punya otak dan lainnya. Tanpa berkata apapun, Sehun segera membungkuk dan pergi sambil membawa sebuah kantung plastik hitam yang jelas berisi sampah.

 

“Tolong jangan hina Sehun, Nona.. dia anak yang baik. Anda bisa memarahi saya atau memecat saya, tapi jangan hina dia. Dia adalah anak yang menderita sejak kecil.” Tutur Jung Ahjumma, ia bisa merasakan jika Sehun yang sudah ia anggap seperti anaknya itu sedang menangis tersedu-sedu. ‘Mungkin Sehun perlu waktu sendiri’ batinnya.

 

Yoona terdiam mendengarnya, apakah ia memang sekasar itu? apakah mulutnya memang tajam? Haruskah Yoona meminta maaf pada Sehun? Yoona menggeleng keras, ia segera mengembalikan ekspresi acuhnya.

 

“Masa bodoh Ahjumma!” ucapnya kasar lalu segera meninggalkan dapur itu,

 

Yoona memang lahir dari anak orang kaya, ibunya pemilik restaurant ternama se-antero Korea, sekitar empat puluh tujuh cabang yang dimiliki oleh ibunya. Sedangkan ayah yoona mempunyai perusahaan ‘Artfik Triangle’ perusahaan yang bekerja sama dengan negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang.

 

Namun sifatnya benar-benar keras kepala sama seperti kedua orang tuanya, Yoona tidak bisa diatur, ia suka keluar malam dan bermain musik dengan teman-teman seperjuangannya. Ia benar-benar tidak peduli dengan apapun, yang jelas ia hanya ingin merasakan bahagia.

 

******

 

Sehun duduk diam di sebuah kursi dibelakang restaurantnya, ia menghela nafas beberapa kali. Ia merasakan jantungnya yang bergetar hebat, bukan karena menyukai seseorang. Tapi karena hatinya terlalu merasakan kepedihan yang menyakitkan.

 

Ia mengeluarkan sebuah benda yang terbuat dari kayu, benda itu berbentuk kupu-kupu. Sehun ingat ketika almarhum ibunya yang memberikan benda kesayangannya itu. ia juga masih ingat dengan jelas ketika sang ibu menahan sakitnya hanya untuk tersenyum didepan Sehun.

 

“Sehun-ah, jika eomma pergi. Bisakah kau menjadi anak yang pemberani?” tanya sang ibu pada anaknya.

 

Sehun menggeleng keras, ia tidak mau ditinggal ibunya sendiri, terlebih lagi Hyung dan appanya tidak mau menolehkan sedikit perhatian pada Sehun.

 

“Aniyo, Sehun tidak mau ditinggal eomma, Takut…. sehun takut.. tidak mau…” ucapnya,

 

Sang ibu semakin sedih ketika melihat raut ketakutan di wajah putra bungsunya, ingin sekali ia memilih untuk mati dan meninggalkan penyakit yang terus menggerogotinya itu, tapi anaknya masih butuh perhatiannya, terlebih lagi suami dan anak sulungnya tidak mau mengakui Sehun.

 

“Baiklah, eomma tidak akan meninggalkan Sehun untuk saat ini, tapi ketika eomma harus pergi, Sehun tidak boleh takut dengan siapa-pun, jika Sehun bersalah harus minta maaf, tetapi jika Sehun benar, Sehun harus membela diri.”

 

Anak yang masih berusia kurang dari 15 tahun itu mengangguk, ia harus memenuhi permintaan ibunya. Sebenarnya Sehun tau kenapa ibunya berbicara seperti itu, Sehun bukanlah orang bodoh yang tidak mengetahui penyakit yang diderita ibunya. –Kanker hati- penyakit yang sedang di derita sang Ibu, Sehun berjanji ketika ia sudah besar. Ia akan menjadi seorang dokter yang akan menyembuhkan semua pasien.

 

“Janji.. Sehun berjanji..” tutur Sehun

 

Sehun tersadar dari lamunannya ketika seorang Jung Ahjumma duduk disampingnya. Ia bisa melihat raut khawatir dari seorang Jung ahjumma, wanita paruh baya itu mengusap rambut Sehun pelan, ia bukanlah orang yang tidak peka jika Jung Ahjumma sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.

 

“Sehun-ah, gwaenchanayo?” tanya Jung ahjumma khawatir.

 

Sehun tersenyum tipis, “Ne, ahjumma. Gwaenchanasseumnida.” Jawab Sehun,

 

“Sehun tau, ahjumma tidak pernah menyalahkan seorang Yoona Nona, sebenarnya ia anak yang baik. Hanya saja ia menutupinya dengan wajah dinginnya.”

 

Sehun menggeleng keras menandakan ia sangat tidak setuju dengan ucapan sang ahjumma, ketika melihat wajah wanita tomboy itu, Sehun pikir Yoona adalah wanita yang kasar, dingin, tidak sopan dan keras kepala.

 

“Ia adalah orang yang sangat lembut, ia memang terlihat kasar dari luar. Dulu ketika kecil Nona Yoona adalah anak yang sangat baik, tapi semenjak kakak yang selalu ada disampingnya meninggal. Nona Yoona menjadi wanita yang tangguh dan pemberani.” Tutur sang ahjumma.

 

“Jinjjayo?” tanya Sehun memastikan.

 

“Ne, ah ya. Sehun tolong belikan ahjumma tepung tapioka dan garam. Persediaan di restaurant tinggal sedikit. Bisakan? Ini uangnya.” Suruhnya.

 

Sehun mengangguk dan menerima beberapa lembar won yang diberikan ahjumma padanya, ia segera membungkuk dan pergi menuju toko panganan terdekat, ia mulai melangkah dan melewati sebuah taman yang cukup besar di korea.

 

“Astaga! Amit-amit, semoga aku tidak mempunyai anak seperti itu.” ucap seorang ibu-ibu ketika melihat seorang Sehun,

 

Dalam hati Sehun bertanya, “Apakah aku seburuk itu?” batinnya. Ia segera berlalu dan melangkakan kakinya menuju perempatan jalan di jalan raya Kyeon dae ju,

 

Sehun melihat seorang manusia yang sangat ia kenali, orang itu tengah berjalan dan ingin menyebrang. Namun, terlihat sebuah mobil yang berkecepatan tinggi melaju kencang, kedua mata sipitnya membelalak ketika mobil itu semakin mendekat kearah orang itu. Ia segera berlari menyelamatkan wanita itu, ia mendorong wanita itu dengan kuat dan ia melemparkan dirinya kearah samping, agar mobil itu tak sampai menabraknya.

 

******

 

Helaan nafas tercipta dari bibir gadis cantik bernama Im Yoona, ia benar-benar tidak tau jika sebuah mobil hampir menabraknya. Itu tadi karena ia memutar lagu yang sangat kencang, hingga ia tidak bisa mendengar apapun.

 

Semua orang berkumpul mengelilinginya, ia segera bangun dan menatap semua orang acuh, tapi ada satu hal yang harus ia lakukan yakni, berterima kasih kepada san penyelamatnya.

Yoona bisa melihat jika lelaki yang telah menolongnya sedang di kerubungi orang, ia takut jika lelaki itu yang harus menerima sentuhan dari sang mobil.

 

“Oh, jadi wanita ini yang menyebrang sembarangan! Kau tau, lelaki ini hampir mati karenamu.” Ucap seorang ahjumma-ahjumma,

 

Yoona hanya menatap ahjumma itu sekilas, ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ia mencoba untuk masuk ke kerumunan itu. dan kedua matanya membelalak ketika melihat jika orang yang telah menyelamatkannya itu adalah lelaki yang sering ia panggil –Idiot- itu.

 

Ia segera menghampiri Sehun dan melihat kondisi Sehun, “Hya! Kenapa kau mencelakakan dirimu sendiri! Lihat bibirmu berdarah! Bagaimana bisa bodoh? Kau ini!” bentak Yoona.

 

“Hya! Anak muda! Kau ini benar-benar tidak tau cara berterima kasih? Kenapa kau justru membentak anak lelaki ini?” cerocos sang Ahjumma tadi.

 

Yoona hanya diam dan menatap sang ahjumma yang tidak dikenalnya dengan sinis, ia malas berurusan dengan ahjumma-ahjumma yang bawel itu. “Sekarang, kau cepat ikut aku.” Ucap Yoona sambil menarik tangan Sehun.

 

Sementara lelaki berkulit putih pucat itu hanya diam ketika Yoona menarik tangannya keras, ia bahkan tidak mengamuk ketika tangannya dicengkram kuat dengan tangan kekar milik Yoona, tapi karena cengkraman dan tarikan Yoona sangat kasar. Sehun hanya meringis pelan.

 

Sehun dibawa ke sebuah gang kosong di dekat lokasi perempatan jalan tadi. Tiba-tiba kedua iris hazelnya membelalak ketika Yoona menatapnya dengan tajam.

 

“Kenapa? Kenapa kau menolongku? Kenapa kau tidak membiarkan aku ditabrak truk tadi? Apa kau mau mencari perhatianku? Apa kau berharap jika aku akan berterima kasih dan memohon-mohon agar aku bisa membalas pertolonganmu?” bentak Yoona kasar.

 

Mungkin Yoona benar-benar sudah gila, ketika ada seseorang yang menolongnya dengan tulus. Dia justru membentak dan memarah-marahi sang penolong itu.

 

Sehun menggeleng keras, “Mian. Tidak… Sehun bukan itu..”

 

BRAK!

 

Sehun didorong oleh Yoona hingga punggungnya mendarat di tembok gang. Kedua iris hazelnya membeku ketika wajah Yoona semakin dekat dengannya, Sehun sedikit meringis ketika Yoona mencengkram lengannya. Tak salah jika gadis itu mendapat gelar sabuk hitam.

 

“Kau.. apa yang akan…lakukan?” ucap Sehun gugup. Jarak mereka tinggal tiga centimeter! Sehun tutup matamu!

 

Yoona segera sadar apa yang ia lakukan, ia segera menjauh dari Sehun. kini jarak mereka terpaut satu meter. “Apa yang kau pikirkan?” tanya Yoona sarkastik.

 

“Tidak… Sehun memikirkan.. ciuman.” Sehun segera menutup mulutnya, lagi-lagi ia tidak bisa mengontrol mulutnya. Potong lidahmu itu Sehun!

 

Kedua mata Yoona membelalak ketika mendengar penuturan Sehun, ia segera meninju perut Sehun, dan membuat lelaki ‘lembek’ didepannya itu meringis kesakitan. “Dasar gila! Otak mesum! Pergi sana!” bentak Yoona seraya mendorong Sehun keras.

 

END for this Series

 

a/n : Well author tau betapa jeleknya ni ff.. ini author buat setelah lihat pembullyingan di salah satu program TTV, apalagi waktu cowok blasteran yang guantennggg di bully sama satu sekolahan gegara dia anak yang ekhem culun! Aneh kan? Jadi author mulai terimajinasi buat ini ff.

 

Just Wait for the next series

70 thoughts on “(Freelance) Series : Don’t Call Me Idiot : It’s Me

  1. Jarang bgt sehun idiot, biasanya kan cool gitu.. Salah satu ff yg pling keren yg pernah aku baca.. Kesel bgt ngeliat luhan ma ayahnya dsni. Masa ga ada rasa sayang sdikit pun ke sehun.. Pengen nangis aja bwaannya, udh dibully dsklh drmh pun jg dibully
    Daebak bgt deh ni ff

  2. ehehe jadi ini series pertamanya kan ya? Semoga iyaa. Malangnya hidup sehun. Kenapa hyung dan bapanya setega itu sama sehun padahal kan mereka keluarganya. Hiks hiks, eh tapi Di akhir dikasih scene lucu juga aduh yaampun sehun sempetnya pikirin cium

  3. suka sama karakternya sehun disini , tapi kasihan jga sih sama sehunnya . pas scene di gang lucu ,sehun polos bgt bgt bilng mikirin ciuman haha

  4. kasihan sehun.. gak ada yang menghargai…..
    ff nya keren kak jdi ikut ngerasain jadi sehun.. sakit banget.. pokoknya bagus ff nya

  5. Kereeen bgt crtanya kshn sehun smpai ayahnya jg gk nggap dy…
    knpa luhan jg jhat sh dtmbh sehun slalu dbully gang chanyeol deeehh

  6. Hahaha cerita nya lucu.. nggak aneh kok.. klo org yg sedikit kekurangan kan emang sering jadi bahan ejekan org.
    Yg buat lucu yg jadi idiotnya sehun.. emang sih kadang2 muka derp sehun buat dia keliatan jadi kayak org idiot.. jadi mudah ngebayanginnya.. hahaha

    suka sama ff nyaaa 😊👌.

  7. Hahaha cerita nya lucu.. nggak aneh kok.. klo org yg sedikit kekurangan kan emang sering jadi bahan ejekan org.
    Yg buat lucu yg jadi idiotnya sehun.. emang sih kadang2 muka derp sehun buat dia keliatan jadi kayak org idiot.. jadi mudah ngebayanginnya.. hahaha

    suka sama ff nyaaa 😊👌

  8. barukali ini baca ff yg karakternya sehun jenius tp idiot dan sering dibully….
    ya ampun pada tega dan jahat banget sih ama abang Sehun kan kasian…
    thor buat mb yoona jd perhatian ke abang Sehun ne…
    kan kasian abang sehun yg perhatian.ama dia cuma Jung ahjuma…

    ini series kan? next palli… keep writing and FIGHTING😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s