(Freelance) Run Away

Run Away

Run Away

Artposter and Story by Nawafil

PG13

Romance, Angst

Honestly, i’ts too long for oneshoot

Starring by EXO’s Kim Jongin | GG’s Im Yoona

Disclaimer : All cast belong to god, but the plot of the story is mine. This story is not true, just a fiction. DO NOT PLAGIARISM!

Just enjoy reading.

[I just wanted to run away. Run from reality that hurts me every seconds.]

Namaku Im Yoona.

Aku seorang gadis pecinta bunga yang kebetulan bertemu dengan seorang Jendral dari militer Korea Selatan. Merajut sebuah hubungan dan mencintai satu sama lain. Mengingat bagaimana pertemuan pertama kami, oh tidak, rasanya aku ingin melupakan memori yang satu itu. Sungguh memalukan.

Tapi Kim Jongin, pria itu selalu berkata bahwa pertemuan kami bukanlah hal buruk. Dan dia bersyukur karenanya.

Mengingat semua yang telah kami jalani selama 19 bulan terakhir, aku mulai mengerti apa yang berusaha dia jelaskan. Sederhana saja, karena jika tidak ada pertemuan itu, tidak akan pernah ada awal untuk kami berdua.

Tidak akan pernah ada 19 bulan berarti dalam hidupku.

“Apa yang kau lakukan?” Yoona mengangkat kepalanya dan meninggalkan bunga yang sedang dirangkainya. Ternyata Jongin datang ke toko bunganya, dia tidak pernah memberitahu Yoona bahwa dia akan datang. Selalu mendadak.

“Apa lagi? Aku pasti merangkai bunga – bunga ini.” Jongin mengulum senyum, ia langsung mengacak rambut Yoona ketika sampai di hadapan perempuan itu. Mungkin hanya kebersamaan – kebersamaan kecil yang bisa mereka lakukan. Tidak pernah pergi berkencan, atau pun Jongin yang menyiapkan candle light dinner untuk Yoona. Karena Jongin terlalu sibuk untuk melakukan sesuatu seperti itu.

“Kau selalu datang mengagetkanku.” Pendaran teduh dari iris matanya menjelaskan bahwa Yoona bahagia akan hal itu. Udara di sekeliling mereka seakan ikut menghangat, membuat keduanya semakin nyaman untuk berbicara.

Jongin melihat jam dipergelangan tangannya, desahan beratnya terdengar jelas ditelinga Yoona. Raut kecewa Jongin sempat membuat Yoona kebingungan, prianya ini baru sampai sekitar lima menit lalu dan kenapa ia malah menunjukan ekspresi itu?

“Waktuku 5 menit lagi.” Kalimat itu membuat Yoona cukup mengerti. Kekasihnya harus pergi lagi untuk pekerjaannya. Dan kali ini, Yoona yang mendesah. Resonansi udara di sekeliling mereka memperjelas desahan dari mulut Yoona.

“Kau baru sampai. Bahkan belum sampai 10 menit. Kenapa cepat sekali? Tetaplah di sini setidaknya untuk satu jam. Maka aku akan mengizinkanmu pergi setelah itu.” Permohonan panjang lebar Yoona bukanlah hal luar biasa, sudah puluhan kali ia dan Jongin menghadapi situasi seperti ini. Dan bisa dibayangkan, berapa kali pula Yoona meminta hal seperti ini pada Jongin.

Jongin menunduk, sungguh ia tidak ingin meninggalkan perempuannya. Tapi apa boleh buat? Ia harus menjalankan tugasnya sebagai Jendral bintang 3 di negaranya. Pekerjaan ini berbeda dengan pekerjaan lainnya.

Mianhae.”

Yoona menyerah. Seberapa kuat pun ia meminta, Jongin tidak akan pernah mengabulkannya.

Tiba – tiba, sepasang tangan menangkup wajah Yoona. Deretan gigi Jongin ditampakkan, ia tersenyum lebar. “Tapi tenang saja, aku akan menjemputmu untuk menemui orang tuaku. Jam 7 malam nanti. Okay?”

Yoona mengangguk semangat. Tangan Jongin bergeser, ia menyodorkan sebuah bingkisan untuk Yoona. Pikiran Yoona membaik, setidaknya ia akan bertemu dengan Jongin lagi nanti. Dan calon mertuanya juga, tentu saja. “Baiklah. Aku akan menunggumu.”

Tepat pukul 7 malam, Yoona telah siap dengan dandanan sederhana khas dirinya. Dengan polesan make up tipis dan dress pale pastel pemberian Jongin tadi sungguh membuat dirinya sangat cantik. Pintu kamar itu terbuka, menampilkan sosok Jongin yang entah sejak kapan memasuki rumah kecil Yoona.

Yoona menoleh. “Aku tidak tahu kau datang.”

Jongin duduk dipinggir ranjang, di sebelah Yoona. “Aku terkejut melihatmu berpenampilan seperti ini. Sangat cantik.”

Yoona mencubit perut Jongin dengan keras. Ia mendengus sebagai jawaban atas pujian Jongin. Raut wajahnya seperti mengatakan kau sebenarnya mengejekku, Kim Jongin.

Jongin terbiasa dengan hal itu, semua orang dilingkungan kerjanya menganggap bahwa cubitan – cubitan kecil seperti ini bukanlah apa – apa. Wajahnya datar dan tidak ada gerakan yang menunjukan bahwa ia tersakiti dengan cubitan Yoona.

Yoona kembali mendengus. “Kau terlalu serius. Tidak punya sisi humor sama sekali.” Jongin tidak tampak akan membalas perkataan Yoona, ia malah berdiri dari posisi duduknya dan mengulurkan tangannya.

“Aku tidak membawa bunga karena kau telah mempunyai koleksi yang cukup. Tapi aku membawa cintaku untukmu, dan malam ini, aku ingin menyempurnakannya. Dengan restu dari orang tuaku.”

Butuh waktu yang lama bagi Jongin untuk menyiapkan kata – kata itu, namun cukup satu detik bagi Yoona menganggukan kepalanya. Kedua tangan itu saling berpegangan, mereka berjalan keluar kamar dan menghilang di balik pintu.

Tepat dimeja makan yang sangat luas. Orang tua Jongin telah menunggu kedatangan puteranya bersama kekasihnya. Jongin berwatak keras, itu sebabnya ini kali pertama Jongin mencintai seseorang dan memperkenalkannya pada kedua orang tuanya.

“Akan seperti apa calon menantu kita?” Suara Ibu Jongin memecah keheningan yang ada. Tuan Kim memandang isterinya. “Tentu saja dia berasal dari keluarga terpandang. Jongin pasti tidak salah memilih wanita.”

Cklek.

Pintu ruang makan terbuka, membuat perhatian semua pelayan dan orang tua Jongin teralih. Jongin dan Yoona muncul dari sana, mereka membungkuk dan memberi salam sebelum akhirnya duduk bersama dengan ayah dan ibu Jongin.

“Jadi, ini kekasih puteraku?” Ibu Jongin membuka percakapan terlebih dahulu.

Yoona bukan aktris dan tentu saja aktingnya untuk bersikap tenang tidak berpengaruh sama sekali. Ia tetap terlihat gugup. Berulang kali menghembuskan nafas kasar disetiap akhir kalimatnya. Jawaban – jawabannya pun sangat singkat untuk setiap pertanyaan dari calon mertuanya.

“Kau cantik sekali.” Puji ayah Jongin.

Abeoji, dia ini kekasihku.” Tawa menggema ke setiap penjuru ruangan. Candaan kecil dari seorang Kim Jongin.

“Baiklah. Kau berasal dari keluarga mana? Dan apa perusahaan keluargamu?” Yoona kebingungan dengan pertanyaan ibu Jongin kali ini. Ia gelagapan dan benar – benar tidak bisa menjawab apapun.

“Keluarganya memiliki perusahaan senjata internasional.” Yoona memalingkan wajahnya pada Jongin. Apa yang sedang dibicarakannya?

Aniyo. Aku—”

Genggaman Jongin pada tangannya membuat Yoona terdiam. “Ia berasal dari keluarga terpandang, eomma. Tenang saja.”

Senyuman puas terpancar dari wajah ibu Jongin. Ia terlihat bahagia dengan pilihan anaknya. Perusahaan yang menjual senjata kepada negara – negara besar? Ayolah, bahkan ibu Jongin tidak bisa membayangkan betapa besar perusahaan itu.

“Tapi kau sangat rendah hati. Penampilanmu sangat jauh dari kata mewah.”

“Itu stylenya.” Jongin melakukannya lagi. Ia menjawab segala pertanyaan ibunya yang ditujukan untuk Yoona.

1 jam berlalu. Waktu yang singkat tapi cukup panjang untuk perkenalan pertama. Dan tibalah waktunya bagi Yoona meninggalkan rumah besar kekasihnya. Ia berdiri, dan Jongin pun ikut berdiri.

“Kalau begitu, saya pulang dulu, eommonim.”

Jongin segera menggenggam tangan Yoona dan menariknya keluar dari ruangan ini.

“Aku mempunyai waktu satu hari penuh untuk bersamamu.” Jongin tersenyum dan tetap memandang jalanan di depannya. Jari jemarinya tetap memegang stir mobil.

“Benarkah? Aku senang mendengarnya.” Tatapan kosong, nada suara yang datar dan tidak berekspresi. Dengan keadaan seperti itu, siapapun bisa menyadari dengan cepat ada sesuatu yang salah.

“Ada apa, Yoong?”

Yoona menghela nafasnya dan mengikuti arah pandang Jongin. Melihat jalanan dan kendaraan yang ramai. Bibirnya bergerak pelan. “Ini tidak akan berjalan lancar.”

Sebelum melanjutkan kembali perkataannya, Yoona memegang tangan Jongin. “Orang tuamu tidak akan menyukaiku. Aku tidak sejajar dengan keluargamu. Kau konglomerat, Jongin.”

“Kau Im Yoona. Nama internasionalmu adalah Clara Im. Orang tuamu pemilik perusahaan senjata internasional yang sangat rahasia. Kau dikirim ke Korea untuk menetap dan memiliki kehidupan yang normal.” Jongin menghadapkan wajahnya pada Yoona untuk beberapa detik.

“Mulai sekarang, itulah identitasmu.”

Roda mobil itu berhenti di depan gedung tinggi yang mewah. Penyambutan dari pihak gedung sangat hangat, mereka membukakan pintu mobil Jongin dan Yoona.

Keduanya melangkahkan kaki masuk menuju gedung itu dan menaiki lift menuju lantai 10. Sikap Jongin berubah drastis semenjak Yoona mengutarakan hal tadi. Ia dingin dan tidak menghiraukan Yoona hingga pintu lift terbuka.

“Kamar 223, Tuan Kim.” Pelayan yang mengantar mereka memberitahu nomor kamarnya. Dan dengan tenangnya Jongin melenggang menuju kamar yang disebut tadi. Tidak ada percakapan atau sentuhan kecil dari Jongin, begitu juga dengan Yoona.

“Ini tempat tinggalmu. Semua barang – barangmu akan dipindahkan sore nanti.”

Jongin membalikkan tubuhnya dan menatap Yoona. Pada akhirnya, Jongin tetap tersenyum cerah dan menghampiri Yoona. Ia tidak bisa mendiamkan Yoona lebih dari 10 menit. Oh, 10 menit saja terasa bagaikan berjam – jam untuknya.

“Tersenyumlah. Kau harusnya bahagia dan memelukku sekarang, kemudian berkata ‘Terima kasih, aku menyukainya.’

“Aku takut, Jongin.” Yoona membenamkan wajahnya dipelukan Jongin. Ia tidak bisa menyembunyikan kecemasan hatinya. Berapa kalipun ia berusaha, rasanya sangat sulit. Ini bukan perjalanan cinta yang ia perkirakan sebelumnya.

“Aku tidak ingin berpisah denganmu.” Tangan Jongin mengelus punggung Yoona dan menenangkannya, gerakan pelan itu membuat Yoona merasa lebih bisa mengontrol dirinya, selalu.

“Maka dari itu, percayalah padaku.” Ucapan Jongin sehangat sinar matahari, tapi terkadang Yoona merasakan kehangatan itu tidaklah bisa menyelimuti hatinya. Ada sesuatu dari lubuk hati terdalamnya yang tetap ketakutan. Sesuatu yang benar – benar takut jika rencana Jongin tidak berhasil, takut jika ternyata mereka harus melepas tangan satu sama lain suatu hari nanti.

“Dengarkan aku.” Tangan kekar Jongin memegang bahu Yoona. Keduanya terkunci di dalam tatapan hangat yang selalu mereka bagi bersama. “Kau hanya perlu menggenggam tanganku dan berjanjilah jangan pernah melarikan diri. Aku berjanji akan membawamu ke altar dan mengucapkan janji suci yang selalu kita inginkan.” Sudut bibirnya tertarik ke atas, ia mengelus jari manis Yoona.

“Dan di sini, aku akan menyematkan cincin pernikahan kita. Itu janjiku padamu.”

“Permisi Tuan Kim.” Kim Dong Un—ayah Jongin—mendongak. Sekretaris pribadinya telah datang. Ia menurunkan korannya dan mempersilahkan sekretarisnya itu untuk duduk.

“Apa kau mendapatkan informasi tentang perusahaan senjata itu, Joon myeon-ssi?” Joon myeon mengangguk dan mengambil map tipis dari tas kerjanya. Ia membuka map itu dan menggesernya mendekat pada Tuan Dong Un.

“Seperti yang Anda perintahkan, tuan. Ada beberapa perusahaan persenjataan yang menyalurkan senjata – senjata kepada beberapa negara. Sebenarnya, sifatnya sungguh rahasia dan hanya ini informasi yang bisa saya dapat sejauh ini.”

Tuan Dong Un membenarkan kacamatanya, iris matanya fokus memperhatikan setiap huruf dari dalam map itu. Setelah beberapa menit, ia meletakan map itu di atas meja. “Jadi, hanya informasi ini saja?”

Joon myeon mengangguk sebagai jawabannya.

Tuan Dong Un menumpangkan kaki kirinya, ia merogoh pemantik api dan menyalakan rokok yang berada di antara bibirnya. Kepulan asap keluar dari mulutnya setelah ia menghisap rokok itu.

“Aku pikir terlalu awal jika mencari tahu tentang kehidupan kekasih puteraku itu.” Ia tersenyum simpul. “Baru beberapa hari semenjak pertemuan kami, tapi aku sudah mencari tahu asal usulnya seperti ini. Bukankah aku sedikit keterlaluan?”

Joon myeon hanya bisa mengangguk dan mengangguk sebagai jawaban atau mengiyakan setiap pertanyaan dari atasannya.

“Baiklah. Bagaimana perusahaan sekarang? Sepertinya Jongup mengurus perusahaan dengan baik. Dialah penerusku.” Tuan Dong Un tertawa agak keras, mendekati kata terbahak – bahak.

Abeoji.” Satu orang lagi yang datang. Kim Jongup, kakak dari Jongin. Direktur sekaligus pemegang saham tertinggi kedua setelah ayahnya di C&C Group.

“Jelaskan saja langsung padaku. Mataku sudah terlalu lelah untuk membaca deretan huruf yang membosankan itu.” Jongup mengurungkan niatnya untuk memberikan sebuah map kepada ayahnya. Ia telah membaca dokumen itu semalam, dan sudah cukup mampu untuk menjelaskan isi dokumen itu kepada ayahnya.

“Im Yoona adalah anak yatim piatu yang dirawat di panti asuhan semenjak ia kecil. Ia memiliki toko bunga sederhana dari jerih payahnya sendiri. Menurut penyelidikanku, ia dan Jongin sudah menjalin hubungan selama hampir 2 tahun.”

Jangan percaya bahwa ayah Jongin ini adalah seorang ayah yang sangat mengerti anaknya. Oh, tidak. Bahkan Jongin bisa masuk kemiliteran saja harus melewati berbagai lika – liku perdebatan yang panjang dengan ayahnya.

Ayahnya ini ambisius. Ia harus mendapatkan segala yang ia inginkan, dan pikirannya hanya dipenuhi dengan uang dan bisnis.

“Jongin berbohong.”

Mata tajamnya langsung terlihat. “Kita lihat saja apa yang akan terjadi.”

‘Aku memberimu waktu satu minggu untuk menjauhi anakku.’

Bagaimana kata itu terucap, dengan tatapan tajam dan suara tegas. Dan ayah Jonginlah yang mengucapkannya, dengan sangat jelas dan penuh penekanan.

Sigh. Sudah Yoona perkirakan, orang tua Jongin pasti akan tahu yang sebenarnya. Bahkan lebih cepat dari yang ia perhitungkan.

Suara pintu yang terbuka membuat Yoona berhenti melamun, ia melihat ke arah pintu dan menyadari Jonginlah yang membukanya. Tidak ada yang tahu password apartemen ini selain mereka berdua.

“Hai.” Mulut Yoona terbuka.

“Kau ingin keluar?” Tanya Jongin sembari merangkul perempuannya.

Yoona tersenyum manis menanggapinya, ia membaringkan tubuh Jongin di atas pahanya. Dan memainkan helai demi helai rambut tipis itu. “Kau mengajakku berkencan? Setelah 19 bulan 10 hari?”

Tawa Jongin menggema ke setiap penjuru apartemen ini, ia tiba – tiba tertawa. Yoona tetap tenang, ia tetap memainkan rambut Jongin seperti sebelumnya, meski suara lelaki itu dengan jelas masuk ke telinganya.

“Apa kau menyindirku, nona?”

Kali ini, Yoona yang tertawa—pelan, tidak keras. “Tidak. Kau yang terlalu sensitif dan.. tidak humoris, sama sekali tidak.”

Tubuh Jongin yang semula miring menghadap televisi, kini telah telentang dan melihat wajah Yoona dari bawah. Tangannya menangkap tangan Yoona, menghentikan perempuan itu untuk memainkan rambutnya. Riuh suara bising kendaraan, semilir angin yang memasuki ruangan dan deru nafas keduanya mengisi keheningan yang tercipta.

“Jongin.”

“Yoong.”

Ucap keduanya di saat yang bersamaan. Tawa kecil terselip di antara kebersamaan hangat mereka. “Kau duluan, Yoong.”

Yoona tidak langsung berbicara, ia masih menatap Jongin. Keraguan itu masih ada, apakah ia harus mengatakan pada Jongin atau tidak. Apakah Jongin harus tahu mengenai ayahnya atau tidak. Ataukah, semuanya akan berjalan tetap lancar, tanpa Jongin harus mengetahui apa yang terjadi.

“Apa yang ingin kau katakan padaku?” Jongin memegang pipi Yoona.

“Aku.. Tadi aku..” Jongin menunggu dengan sabar apa yang akan diucapkan perempuannya, tatapan hangatnya terpancar terang. Dan itu nyata adanya.

“Tadi aku menonton televisi dan ada berita tentang Korea Utara.” Hembusan nafas kasar terdapat pada ujung kalimat Yoona. Dan pada akhirnya, ia tetap memilih untuk merahasiakannya.

“Sekarang giliranmu, Jongin.”

Jongin bangkit dan duduk menghadap Yoona. Tangan Jongin dan tangan Yoona. Kedua pasang tangan itu saling bertaut dan berpegangan. “Aku harus pergi bekerja.”

Yoona hendak menertawakan ucapan konyol Jongin, sungguh. Pergi bekerja? Sejak kapan hal itu menjadi hal yang perlu dibicarakan seserius dan seintens ini? Percayalah, itu hal yang sangat biasa bagi Yoona. Dan Yoona akan benar – benar tertawa, jika saja Jongin tidak melanjutkan perkataannya.

“Ke Korea Utara. Menjadi mata – mata untuk negara kita.”

Tangan Yoona terjatuh, lepas dari genggaman Jongin. Kemana katanya? Korea Utara? Setetes air mata Yoona meluncur bebas dipipi kanannya. Jongin segera menghapusnya.

“Hei, jangan menangis. Dengar, aku akan kembali. Ini bukan seperti yang kau pikirkan, aku tidak akan bertarung di medan perang. Aku hanya akan tinggal dan menetap di sana untuk beberapa waktu.”

“Negara kita dan Korea Utara berdamai. Aku menyaksikan itu tadi ditelevisi. Kau tidak mengucapkan hal yang sama, Kim Jongin.” Dingin, dan tersirat goresan luka dalam nada suaranya yang dingin itu.

“Ini hanya untuk kepentingan negara. Tidak akan ada perang, berita itu memang benar.” Yoona beringsut ke dalam selimut, menutupi tubuhnya dengan kain tebal itu. Menghadap ke jendela, ingin sekali ia berteriak. Untuk kali ini saja, ia ingin bertindak egois. Ah, bukan. Selama ini, ia bahkan selalu membiarkan Jongin mementingkan pekerjaannya. Keegoisan itu tidak pernah sekalipun berhasil merasuki jiwa dan pikirannya.

Jongin ikut berbaring di samping Yoona, melingkarkan tangannya dipinggang Yoona dan menusuk perut Yoona dengan jarinya—menghitung berapa banyak tulang rusuk perempuannya. “Aku selalu suka saat merasakan tulang rusukmu. Rasanya seperti memegang diriku juga.”

Ya, kau benar. Kaulah tulang rusukku, Jongin.

“Kau tahu bagaimana sensasinya? Kau akan merasa seperti memegang dirimu juga di dalam diriku. Rasanya menyenangkan. Ingin mencoba?” Oceh Jongin terus menerus.

Suasana mencair, rasa tak nyaman segera menghilang, pergi ketika lenguhan muncul saat nafas Jongin menerpa bagian sensitif tubuh Yoona, lehernya. “Kau tertawa.” Bisik Jongin.

Yoona membalikan tubuhnya dan berbalik menghadap Jongin. Ia tersenyum. “Baiklah. Hubungi aku setiap satu bulan. Dan jangan tertarik pada gadis Korea Utara. Itu dua syarat mudah dariku.”

Kelingking Jongin teracung, disusul dengan kelingking Yoona yang akhirnya menyatukannya. “Aku setuju.”

Pagi sekali, Yoona mengantarkan kepergian Jongin. Mereka mengucapkan salam perpisahan dan saling melambaikan tangan. Yoona kembali ke apartemennya sepeninggal Jongin. Kekagetan memenuhi wajahnya kala melihat isi apartemennya kosong. Tidak ada satupun barangnya yang tersisa.

“Baru mengantar Jongin?”

Seorang pria berdiri menyandar dipintu masuk, dengan kaki yang bersilangan dan sebatang rokok dijepit diantara bibirnya. Yoona menoleh, bola matanya bergerak ke atas ke bawah, mencoba mengingat dimana ia pernah melihat orang ini.

“Kemarin aku ke sini bersama ayahku. Namaku Kim Jongup, kakak dari calon mantan kekasihmu.”

Ya, Yoona ingat. Ia bertemu pria ini kemarin, di apartemen ini. “Apa yang kau lakukan di apartemenku?” Yoona berusaha agar ucapannya setegas mungkin.

Pria yang mengaku sebagai kakak Jongin itu berjalan mendekat dan mengitari Yoona. Kepulan asap rokok dari mulutnya membuat Yoona terbatuk. Seringaian tipis ia tampakan. “Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di apartemenku?”

Mata Yoona membulat. Jadi..

“Aku membeli apartemen ini. Jadi silahkan kau angkat kaki dari sini.”

Sudah satu bulan lamanya sejak kepergian Jongin, dan keadaan telah berubah 90 derajat. Ia kini kembali tinggal di rumah kecilnya, kehidupannya sama seperti saat ia belum bertemu dengan Jongin.

Yoona merangkai bunga ditoko bunganya, arah matanya melihat jalanan diluar sana. Panggilan dari Park Yura mengalihkan perhatiannya.

“Jongin sudah menghubungimu? Ini sudah satu bulan.”

Yoona menggeleng. “Belum.”

Yura menggerakan tangannya, mengikuti Yoona merangkai bunga. Pekerjaan sederhana, namun sangat menyenangkan bagi para pencinta bunga. Bagi mereka, bunga tidaklah hanya sekedar bunga. Bunga adalah simbol perasaan dan memiliki arti yang sangat indah. Tidak semua orang mengerti arti bunga yang sebenarnya.

“Kau yakin dia tidak selingkuh?”

Yoona melirik Yura dengan bola matanya, kemudian keduanya tertawa keras. Jenis tawa yang bisa membuat siapa saja terheran dan bertanya apa benar mereka seorang wanita?

“Kau tahu bagaimana kekasihku itu.” Belum sampai dua menit sejak Yoona mengatakannya, ponselnya berdering dan membuat Yoona harus mengambilnya. Ketika melihat nama yang tertera dilayarnya, dengan bangganya Yoona memperlihatkan itu pada Yura. “Lihat? Dia menghubungiku.”

“Sombong sekali.” Cibir Yura.

Yoboseyo?”

“Kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu.” Suara berat nan indah yang Yoona tunggu terdengar dari seberang sana.

“Tentu aku juga merindukanmu.”

Kekehan kecil dapat Yoona dengar dari telepon genggamnya. Yoona juga ikut terkekeh, ia tidak tahu harus berkata apa, rasanya kaku. Mungkin karena mereka tidak berkomunikasi selama hampir satu bulan penuh.

“Baiklah. Aku akan menghubungimu satu bulan lagi, okay?”

Yoona mendecak, ia kembali menunjukan ekspresi kecewa. Jongin menyadari Yoona yang berdecak, ia kembali memanggil nama Yoona. “Yoong, kau ingat aku akan kembali?”

“Ya. Aku ingat.”

“Dan kau percaya?”

Yoona menunduk dan menghela nafasnya. “Ya.”

“Kalau begitu, kau harus menungguku.”

Yoona mengangkat kepalanya dan menyisipkan poni ke telinganya. “Baiklah. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

Sambungan telepon terputus antara Yoona dan Jongin. Yoona kembali merangkai bunga dengan wajah muramnya. Jongin tidak mengerti, ini bukan masalah kembali atau tidak. Ini tidak sesederhana kelihatannya, detik – detik waktu berlalu tanpa ada Jongin di sampingnya. Akan tetapi, waktu keduanya terbatas. Ada hambatan besar menunggu mereka di depan sana.

113 hari semenjak kesendiriannya di rumah ini. Biasanya rumahnya tidak sedingin ini, selalu ada Jongin yang berdiri di sudut kamar dan tersenyum padanya. Lalu, kemana dia pergi?

Yoona menyunggingkan senyumnya. Korea Utara?

Tidak. Bukan ke sana.

Ia pergi ke tempat dimana Yoona tidak bisa mengejarnya.

Dalam kurun waktu 4 bulan, mereka hanya berbicara sekitar 15 menit. Dan Jonginnya terlihat sangat sibuk, terlihat dari bagaimana dia berbicara kepada Yoona. Tentu saja ia sibuk, dia adalah mata – mata di sana.

Dan di sini, ia memperjuangkan cinta mereka. Keluarga Jongin bertindak lebih dari keterlaluan, mereka bahkan menghancurkan toko bunga Yoona. Tempat dimana Yoona bisa hidup selain di samping Kim Jongin.

“Aku di sini, Jongin. Memperjuangkan cinta yang seharusnya juga kau perjuangkan.”

Entah kenapa, hati Yoona menjerit setiap Jongin mengakhiri percakapan singkat mereka ditelepon. Untuk mendengar keluh kesahnya saja Jongin tidak punya cukup waktu. Menyedihkan.

“Tapi seperti yang kau katakan, aku tidak akan pernah melarikan diri. Tidak akan.”

North Korea, 09.12 AM Korea Standard Time.

Seorang pria dengan celemek putih yang dipakainya terlihat mondar – mandir di salah satu kedai makan di Korea Utara. Pria yang tidak lain adalah Jongin itu bukan chef, yang benar saja. Bahkan menyentuh peralatan masak saja ia tidak pernah.

Ia bertugas tepat di ibu kota Korea Utara, Pyeongyang. Pekerjaannya tidak mudah, ia harus menjadi seorang pelayan dan menyembunyikan jati dirinya dengan tinggal di salah satu losmen di sini. Ah, hidup yang tidak pernah ia bayangkan. Menjadi mata – mata tidak sekeren itu, oh ayolah. Mengamati gaya hidup orang Korea Utara, membaur diantaranya dan berpura – pura menjadi orang Korea Utara juga? Itu hal paling menyebalkan, sungguh.

“Sudah berapa lama aku di sini?”

Ia mengambil catatan kecil dari sakunya dan menandainya. “Ternyata hari ke-234.” Kemudian pandangannya ia alihkan pada ponsel ditangannya. “Dan tidak ada kabar sama sekali dari pimpinan.”

Jongin sama sekali tidak pernah betah tinggal di sini. Tidak pernah.

“Lee Sung Bin?” Jongin menoleh saat namanya dipanggil. Tentu saja ia tidak memperkenalkan diri sebagai Kim Jongin di sini.

“Antarkan pesanan ini ke meja nomor lima.” Dengan sigap Jongin memasukan ponsel dan catatannya, kemudian mengantarkan makanan itu menuju meja yang dimaksud.

“Ini pesanan anda, nyonya.”

Seorang perempuan yang sedang membaca itu menurunkan bukunya dan tersenyum manis. “Kau tidak usah memanggilku nyonya, aku yakin kita seumuran.”

Jongin terpaku memandangnya, perempuan ini.. Jongin akui ia sangat cantik.

Perempuan itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Namaku Bae Soo Ji. Sebenarnya aku orang Korea Selatan. Senang bisa bertemu denganmu.”

Jongin juga tersenyum, dan membalas uluran tangan perempuan itu.

Sebelumnya waktu berjalan lambat, tapi frekuensinya semakin bergerak lebih cepat akhir – akhir ini. Jongin berada dibalkon losmennya, ia berbaring dibangku dan memandang langit bertabur bintang.

Sudah 40 hari sejak ia mengenal Soo Ji. Jongin menghitungnya.

“Apa aku bisa memperkenalkannya pada orang tuaku saat kembali nanti?” Jongin tersenyum pada dirinya sendiri. Dia dan Soo Ji semakin dekat, dekat dan lebih dekat. Yah, cukup dekat untuk memasuki tahap ‘diperkenalkan’ kepada orang tuanya.

“Berbeda dengan Yoona, aku akan memperkenalkannya sebagai teman.” Ujarnya. Dan, apakah itu benar? Apa Jongin yakin bahwa Soo Ji hanyalah teman?

Ketika nama Yoona disebut, sudut bibir itu menurun dan membentuk garis lurus. Jongin segera bangkit dan mengambil ponselnya dengan terburu – buru. “Sudah lewat satu bulan, aku lupa menghubunginya.”

Ponsel itu menempel ditelinganya. “Yoboseyo?”

“Hai, sudah 274 hari. Aku merindukanmu.” Sebelum Jongin membalas ucapan Yoona, ia terdiam. Suara Yoona tidak pernah separau dan seserak ini sebelumnya, tidak pernah.

“Kau baik – baik saja?” Ada deheman kecil dari ujung sana.

“Aku akan baik – baik saja hingga kau kembali.”

Setelah selama ini, percakapan hangat mereka perlahan menjadi dingin dan hampa—bagi Jongin. Tapi bagi Yoona, tidak ada yang berubah. Suara Jongin tetap menjadi hal terindah yang ingin selalu didengarnya. Selalu.

“Tapi, kau tidak sakit, bukan?” Secercah kepanikan tetap menyerang hati Jongin, karena Yoona tetaplah perempuannya, kekasih hatinya dan belahan jiwanya.

“Aku hanya demam.”

“Periksakan ke dokter.” Jongin dapat merasakan tawa Yoona yang menggema—masih sama seperti dulu. Meski sedang dalam keadaan sakit, perempuan itu tetap ceria seperti biasa.

Kau tidak perlu khawatir, sayang. Lalu, kapan kau akan pulang?”

Setelah menunggu sekian lama dan Jongin tidak memberikan jawaban apapun, Yoona mengerti. “Aku hanya menanyakannya, Jongin. Kau tidak usah terbebani seperti itu.”

“Aku akan memberitahumu jika pimpinan mengabariku.”

“Kau mengatakan hal yang sama.. satu bulan lalu.”

Jongin mendesah dan menggigit bibir bawahnya. Ada penyesalan dalam hatinya karena meninggalkan Yoona selama ini. Bisikan pelan Jongin memecah kesenyapan diantara mereka. “Maaf.”

“Tidak apa – apa. Akan ku tunggu kepulanganmu. Ingat, aku tidak akan pernah melarikan diri karena kau memintaku seperti itu. Benarkan? Kau tidak melupakan itu ‘kan?”

Jongin mendongakan kepalanya, memandang langit hitam kelabu di atas sana. Ya tuhan, aku melupakan hal itu. Batin Jongin.

“Tidak. Mana mungkin aku lupa itu.” Jongin berbohong.

“Baiklah. Aku mencintaimu.”

Bibir Jongin bergerak pelan. “Aku juga.. mencintaimu.”

Yoona tertunduk disebuah ruangan luas dengan sofa empuk dan hiasan serba mewah mengelilinginya. Tiga orang di hadapannya memandangnya dengan tatapan ketidaksukaan, sedangkan Yoona masih belum berani mengangkat wajahnya.

“Ini tiketmu.” Tuan Dong Un menyodorkan sebuah tiket pada Yoona. “Pergilah ke Inggris. Hidupmu akan aku jamin jika kau bersedia memutuskan hubunganmu dengan Jongin.”

Yoona mengangkat kepalanya dengan pelan. “Maaf, tuan. Saya tidak bisa menerimanya.”

Jongup menggeser amplop tebal yang terdapat uang di dalamnya. “Kalau begitu, pergilah kemana pun kau mau. Jongin pasti telah bertemu Soo Ji dan jatuh hati padanya. Kau harusnya bersyukur karena kami kasihan padamu.”

Aniyo. Jongin tidak akan jatuh hati padanya. Aku percaya pada Jongin.”

Ibu Jongin tersenyum meremehkan dan mempertajam tatapannya. “Dengar, Soo Ji sendiri yang memberitahukannya. Lagipula dia adalah perempuan dari kalangan konglomerat, dia juga cantik dan berbakat. Kau seharusnya melepaskan Jongin demi kebahagiaannya. Itu baru namanya cinta.”

Yoona mengeratkan genggamannya pada bajunya hingga kukunya terasa sangat menekan telapak tangannya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan mata yang berkaca – kaca. “Maaf—”

Ibu Jongin menggebrak meja dan berdiri. “Pergilah ke tempat manapun yang kau tuju! Tinggalkan Jongin!” Suaranya meninggi dan membuat tubuh Yoona bergetar. Yoona sangat takut dibentak.

Aku tidak bisa pergi kemanapun. Karena Jongin adalah tempat tujuanku. Dia adalah tempatku untuk pulang.

Yoona segera berdiri dari tempatnya dan membungkukkan tubuhnya. “Permisi, saya harus pulang.” Dan langkahnya semakin ia percepat, ia ingin segera keluar dari rumah yang menyiksanya.

Jongin selalu bekerja setiap hari, tidak ada hari libur meskipun akhir pekan. Seperti hari ini, tepat dihari minggu dan ia tetap saja berada dikedai kecil ini.

Daftar menu yang ada ditangannya adalah alat sederhana yang selalu ia pegang di sini. Oh tuhan, betapa memegangnya saja membuat Jongin merasa aneh dan asing. Jongin terdiam dan duduk di salah satu kursi pelanggan. Ini masih jam 6 pagi dan belum ada satu pun pelanggan yang masuk.

Sepertinya pimpinannya salah menempatkannya di desa kecil ini. Seharusnya ia ditempatkan di dekat lingkungan pemerintah Korea Utara—seperti teman-temannya. Selama ini tidak ada hal penting yang bisa ia laporkan kepada pimpinan. Tempat ini bukan posisi kunci.

Pandangan Jongin menangkap seseorang duduk tepat dikursi di depannya. Kala Jongin mengangkat kepalanya, ternyata sosok itu adalah Soo Ji. Senyum Jongin mengembang saat melihat wajah perempuan itu. “Kau di sini.”

Dengan senyum manis dan surai coklatnya itu Soo Ji semakin terlihat cantik dan sempurna. Tatapan hangatnya pada Jongin seakan berbicara juga. “Aku rajin, bukan?” Puji Soo Ji pada dirinya sendiri.

Jongin menyandarkan tubuhnya. “Jadi, kenapa kau datang sepagi ini?” Biasanya Soo Ji datang saat jam makan siang.

Dalam sekejap Soo Ji menyangga dagunya, membuatnya terlihat imut. “Jawab pertanyaanku lebih dulu. Apa kau sekarang sudah siap?”

Kening Jongin mengerut, siap?

“Kau memang selalu bodoh, tuan tampan.”

Tanpa isyarat apapun, Soo Ji menarik tangan Jongin dan berjalan keluar kedai.

“YAK! Kenapa kau membawaku ke sini?! Ya tuhan, bahkan aku belum meminta izin kepada Dal Po ahjussi. Aish, kau ini. Sekarang bagaimana?!” Jongin mengoceh panjang dan berbagai gestur ia keluarkan. Sedangkan Soo Ji, ia malah menatap Jongin dan menunggunya hingga berhenti berbicara.

“Sudah selesai?” Tanya Soo Ji.

Soo Ji mendudukan Jongin dikursi dan melepaskan celemek yang Jongin pakai. “Tunggu di sini. Aku akan segera kembali.”

Jongin melihat punggung Soo Ji yang menjauh. Ia menghela nafas sejenak dan mengambil ponselnya. Foto homescreennya masih foto dirinya dengan Yoona.

“Hei, apa kabarmu?” Tanya Jongin pada foto itu—pada Yoona, sebenarnya.

Ia mendesah pelan dan menutup matanya. “Aku baik – baik saja di sini, ada Soo ji yang selalu menemaniku.” Jongin memijat keningnya pelan. “Aku rasa hubungan kita berubah, Yoong. Tidak lagi seperti dulu. Sebagian rasaku untukmu lenyap. Poof, Menghilang bagaikan asap.”

Dalam waktu yang terlampau sangat singkat, Soo Ji mampu menggeser posisi Yoona dihatinya. Ada sesuatu pada diri Soo Ji yang membuatnya sangat merasa nyaman. Sangat.

“Dan rasamu untuk perempuan itu akan segera hilang seluruhnya.” Jongin mengangkat kepalanya. Ia segera menurunkan ponselnya dan hendak memasukannya, namun Soo ji menahannya. Ia mengambil ponsel itu dengan agak kasar.

“Soo ji-ya, kau tidak perlu marah.” Jongin memegang bahu Soo ji dan membuatnya duduk di samping dirinya.

“Diamlah. Aku ingin mengubah foto homescreen ponselmu dengan foto kita. Bukan fotomu dengan perempuan itu.” Jongin menyerah dan membiarkan Soo ji melakukan keinginannya. Dalam ponsel itu, cukup banyak foto Soo Ji dengannya—bahkan mungkin melebihi fotonya dengan Yoona.

“Ini.” Soo Ji menyodorkan ponsel Jongin. Setelah itu, ia membagi eskrim yang dibawanya menjadi dua bagian dan memberikannya pada Jongin. Bahu Jongin menjadi tempat kepalanya berlabuh.

“Kita mau kemana sekarang?”

Jongin menggerakan lengannya untuk merangkul Soo ji. “Kemanapun kau mau, sa..yang.”

Aku tidak pernah lagi menghitung berapa banyak hari yang ku habiskan di Korea Utara. Hari – hariku menjadi lebih hidup dan berwarna dari sebelumnya, karena ada seseorang di dalamnya—Pengganti Yoona.

Sebelumnya, aku hanya membawa ponsel untuk menunggu kabar dari pimpinan dan untuk menghubungi Yoona. Tapi aku baru menyadarinya, sekarang banyak ungkapan ‘cinta’ dan pesan – pesan singkatku dengan Soo Ji. Bukan dengan Yoona.

Homescreen yang tertera dilayar ponselku tidak lagi fotoku dengan Yoona, tapi fotoku dengan Soo Ji.

Waktu yang seharusnya Yoona bisa mengisinya, sekarang diisi oleh Soo Ji. Dan mungkin, dengan sangat perlahan, ruang dihatiku untuk Yoona juga semakin kecil dan menyempit—Dan suatu hari nanti mungkin berubah menjadi tidak ada lagi ruang untuk Yoona.

Karena Soo Ji hampir memenuhi seluruhnya.

Aku tidak menyalahkan Yoona. Tentu saja ia tidak bersalah, aku tahu aku yang bersalah. Karena tidak bisa menjaga hatiku dan pergi meninggalkannya.

Sudah tiga kali aku mencoba memberitahu Yoona dan memutuskan hubungan kami. Dan selalu gagal, aku tak bisa mengatakannya. Ada sesuatu dalam diriku yang membuatku tidak ingin melepaskan Yoona.

Dan Im Yoona, aku minta maaf untuk itu.

Yura berbaring diranjang Yoona, memperhatikan tirai yang melambai – lambai terkena angin seolah menemani dirinya di sini. Ranjangnya tiba – tiba bergerak, Yoona pasti duduk di atasnya. Dan saat Yura membalikan badan, benar saja itu Yoona.

“Kau tidak membawa camilan apapun tapi pergi lama sekali.”

Yoona memandang kalender ditangannya, ia tidak menjawab pertanyaan Yura dan malah menaikan kakinya ke atas kasur. “Hari ini hari ke-365. Sudah satu tahun. Dan ia tidak menghubungiku 2 bulan terakhir, apa mungkin ini pertanda bahwa ia akan lebih lama di Korea Utara?”

Yura duduk mengikuti posisi Yoona. “Entahlah. Kau berkata bahwa Jongin tidak seperti dulu.”

“Ya, percakapan kami tidak seperti dulu. Tidak ada nyawa di dalamnya.” Ada saat dimana Yoona juga benar – benar merasa kesepian, tapi demi apapun, rasa cintanya tidak pernah berkurang sama sekali.

“Ah, ya. Apa kau menceritakan pada Jongin kalau keluarganya menyuruhmu pergi ke luar negeri?” Yoona mengambil ponselnya dan menyalakannya. Ia tersenyum melihat foto dirinya dengan Jongin diponsel itu. Selama 12 bulan ini, ia tidak pernah mengganti foto untuk homescreennya.

“Tidak. Kau tahu dia tidak menghubungiku 2 bulan ini, dan jika ia menghubungiku pun aku tidak akan memberitahunya. Aku sudah cukup memberikan beban berat kepadanya.”

Yura mendekat dan memegang bahu Yoona. “Tapi Yoong, mungkin saja jika ia tahu ia akan pulang.”

“Lupakan saja. Aku tidak ingin membahasnya lebih jauh.” Yoona turun dari kasurnya dan menyalakan televisinya. Yoona mengeluh saat melihat gambarnya runyam dan tidak jelas. Beberapa kali tangan itu memukul televisi rusaknya dengan keras.

Daebak. Gambarnya terlihat jelas sekarang.” Yura bertepuk tangan untuk Yoona, dan Yoona hanya tersenyum sembari duduk di sebelah Yura.

Pembawa acara ditelevisi itu mengatakan, “Putera kedua dari C&C Group yang bernama Kim Jongin kini muncul setelah satu tahun lamanya tidak tampak. Kemunculannya kali ini mengagetkan banyak pihak, ia mengadakan press conference dengan Bae Soo Ji, seorang pewaris tunggal dari SWS Group dan mengumumkan pernikahan mereka. Tidak tanggung – tanggung, mereka akan mengadakan pesta pernikahan minggu depan. Pernikahan ini menjadi simbol bersatunya dua perusahaan besar dan akan menciptakan relasi baru.”

“Jadi, benar?” Lirih Yoona.

“Kau.. mengkhianatiku.”

Waktu berlalu, dan hidup Yoona hancur.

Yoona mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk Kim Jongin. Dan apa yang ia dapatkan sekarang? Pengkhianatan.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia ingin berlari sekencang mungkin. Lari dari kenyataan pahit yang mencekik dan membunuhnya perlahan. Cintanya tidak pernah semenyakitkan ini. Setiap menit dan setiap detik, rasa itu menyakitinya.

Yeah, as much as I love you. Each minute and each seconds it hurts so much, Jongin.

Cinta itu mencacahnya dan membaginya menjadi kepingan tak berharga. Jongin bahkan belum memutuskan hubungan mereka, tapi ia sudah menggandeng wanita lain. Persetan dengan segala janjinya waktu itu, pria itu bahkan tidak mengingatnya sama sekali. Janjinya untuk kembali, janjinya untuk menikah dan cincin yang akan ia sematkan dijari Yoona. Semuanya palsu!

“Aku ingin mati.” Gumam Yoona.

Ia menatap makanan dihadapannya dengan datar. Kemudian tertawa, layaknya orang yang kehilangan akal. Surai halusnya berantakan, ia tidak menyisirnya sama sekali. Tidak pernah berniat untuk melakukan hal kecil seperti itu.

Akhirnya, ia berdiri. Kakinya yang jenjang seakan tidak mampu menyangga tubuhnya lagi, seakan tiupan kecil saja dapat membuatnya tumbang dan terjatuh. Pakaian putihnya sudah sangat usang—dan kotor.

Tangannya mengambil piring itu dan menjatuhkannya, lalu tertawa. Untuk yang kedua kalinya, gelasnya juga ia jatuhkan. Ia bergeser, oh bukan, ia hampir terjatuh.

Tangannya mencari sangaan, namun akhirnya Yoona tetap terjatuh di atas dinginnya lantai. Ia menempelkan kedua telapak tangannya dan mulai menangis. “Ah, rasanya sangat dingin.” Yoona terus menggosokan kedua telapak tangannya dan tetap merasa kedinginan. Biasanya, ada Jongin di sana untuk menghangatkannya.

Yoona terisak dan suara tangisnya sedikit lebih kencang, tangan itu akhirnya turun ke bawah dan Yoona meraung tak karuan. Ia berteriak frustasi dan terus saja menangis.

Bagi Yoona, Jongin selalu ada dalam setiap hembusan nafasnya. Dan saat Jongin pergi, saat nafasnya pergi, maka tidak ada lagi seorang Im Yoona. Karena tanpa nafas, tidak ada kehidupan. Tanpa Jongin, Yoona tak bernyawa.

Tok Tok.

Yura memutar kepalanya menuju pintu rumah Yoona, piring yang sedang dipegangnya adalah makanan untuk mengisi perut Yoona. Atau lebih tepatnya, ia sedang memaksa Yoona untuk makan.

“Tunggu sebentar.” Yura melangkah keluar dari kamar Yoona, ketika sampai di depan pintu rumah, tangannya memegang kenop pintu dan membukanya.

Annyeong Hasaeyo.”

“Kim Jongin?” Mata Yura membulat, suaranya lebih keras dan tentu saja ia terkejut. Untuk apa ia datang ke sini?

“Apa boleh aku masuk?” Yura mengerjapkan matanya dan kembali memfokuskan dirinya pada Jongin. “Ya, silahkan.”

Jongin berjalan memasuki rumah itu diikuti Yura di belakangnya. “Yoona tidak mau makan.”

Jongin tidak menjawab ucapan Yura, ia terus berjalan menuju kamar Yoona. Dan Yura pun tidak tahu, kenapa ia membiarkan Jongin masuk? Tapi setidaknya, mereka bisa bertemu dan saling berbicara. Yura berharap pilihannya tidak salah.

Saat memasuki kamar Yoona, Jongin tidak bersuara sama sekali dan langsung mengambil piring yang tadi Yura letakkan. “Aku tidak mau makan, Yura-ya.”

“Kau harus makan, Yoong.”

Yoona yang sebelumnya menatap kosong ke luar jendela, segera menghadapkan wajahnya pada sumber suara dan memandang Jongin. Ia meneguk salivanya pelan, sungguh, dia tidak merasakan detak jantungnya lagi. “J-jongin?”

Jongin tersenyum dan menghampiri Yoona. Ia mengambil sesuap nasi dari piring itu. “Makanlah.” Yoona yang seakan baru tersadar langsung memegang piring itu dan meletakannya.

“Duduklah.” Sahutnya.

Jongin duduk diranjang Yoona, karena tidak ada kursi di sana. “Yoong, aku—”

“Kau masih tetap tampan. Apa kau sehat? Kau bahagia di sana, bukan? Sepertinya kau bahagia, aku tahu itu. Ah ya, apa kau lapar? Aku akan membuatkan japchae untukmu. Kau mau? Aku bisa membuatkannya sek—”

Yura meneteskan air matanya saat melihat Yoona mengoceh seperti itu. Yura tahu, ada banyak hal yang ingin Yoona sampaikan pada Jongin. Ia sangat mengerti itu.

Jongin tidak menyangka melihat bagian rapuh dari diri Yoona yang seperti ini. Ia mengambil sisir dari meja kecil dan kembali menghampiri Yoona. “Rambutmu berantakan.” Yoona merasa seperti Jongin membelainya, seandainya saja begitu.

Jongin merapikan rambut Yoona, dan saat Jongin menatap wajah Yoona, ia kembali menggerakan tangannya untuk mengusap kantung mata hitam dibawah matanya. “Tidurlah lebih banyak. Kau akan sakit jika terus seperti ini.”

“Jongin. Katakan saja, apa tujuanmu datang ke sini?” Yura tidak bisa membiarkan Jongin menyakiti Yoona lebih dalam. Dan pria itu seharusnya tidak sekejam ini. Ia tahu bahwa Yoona hancur dan malah berlaku seperti ia masih memiliki rasa itu untuk Yoona.

“Baiklah. Kalian tahu aku akan menikah.”

“Ya.” Dua huruf yang baru Yoona ucapkan sepanjang hari ini.

Jongin mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya, mengeluarkan sebuah undangan. “Untukmu. Aku sengaja memberikannya secara langsung, kita sudah saling mengenal cukup lama, Yoong.”

Dan saling mencintai. Kau harus menambahkan itu. Batin Yoona.

Tangan rapuh Yoona mengambil undangan itu. Undangan pernikahan Kim Jongin dengan Bae Soo Ji. “Aku ingin kalian berdua datang.”

“Kami akan datang.” Jawab Yoona.

“Yoong.” Tangannya terangkat ketika Yura memotong kalimatnya. “Tenang saja. Aku menyambut hangat berita bahagia ini darimu.”

Jongin tersenyum lega dan memeluk Yoona, sontak membuat Yoona mematung. “Gomawo. Aku benar – benar berharap kau datang.” Jongin memeluk Yoona lebih dari 5 menit, sangat lama.

“Yoong, maafkan aku.” Bisikan pelan Jongin pada telinga Yoona benar – benar hangat. Ia melepaskan pelukannya dengan air mata yang keluar dari matanya. “Aku rasa hubungan kita telah berakhir semenjak kita tidak saling berhubungan. Maafkan aku karena tidak memberitahu apapun padamu. Aku menyesal.”

Jongin memeluk Yoona lagi, dan setelah itu ia segera keluar dan menenteng tasnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Meninggalkan Yoona yang masih belum percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi.

23 Mei 2015.

Yoona dan Yura kini berada di depan gedung mewah tempat pernikahan Jongin dan Soo Ji digelar. Kantung mata Yoona masih jelas terlihat, ia tidak mengoleskan sedikitpun make up ke wajahnya. “Yoong, kau yakin ingin hadir?” Yura bertanya cemas.

“Ya, aku diundang.” Yoona berjalan melangkahkan kakinya menaiki tangga. Ia masuk ke gedung itu, cukup telat sebenarnya. Karena seisi ruangan telah dipenuhi ribuan tamu penting. Saat Yoona masuk, ia tidak menuju siapapun kecuali Jongin, dan wanita yang pasti telah sah menjadi isterinya.

“Yoona?” Yoona menyukainya, tatapan Jongin hanya sedikit berbeda dari dulu.

Tangan Yoona terulur. “Selamat.. atas pernikahanmu.”

Dan Jongin meraihnya, meraih tangannya yang dingin, menyalurkan kehangatan pada Yoona. “Terima kasih.”

Tidak, bukan ucapan terima kasih yang Yoona inginkan. Ia ingin cintanya kembali.

Yoona tersenyum hambar sebelum berbalik meninggalkan Jongin, ia pun melangkah menjauh dari pasangan pengantin itu. “Im Yoona.” Langkahnya terhenti, karena Jongin memanggilnya. Memanggil namanya.

“Tinggalah lebih lama.”

Kau memintaku untuk tinggal di neraka ini lebih lama? Untuk melihatmu bersanding dengan perempuan lain? Dan bodohnya, aku masih berpikir bahwa akulah yang harusnya berada di sampingmu sekarang.

Yoona berbalik menghadap Jongin dan tersenyum, senyuman kosong. “Ya, tentu saja. Aku akan tinggal lebih lama.” Yoona kembali melangkah dan mengambil segelas minuman yang ada di sana. Yura bertanya padanya apakah Yoona baik – baik saja dan ia menjawab ‘ya’, meski kenyataannya ia dalam keadaan yang benar – benar hancur.

Tatapan Yoona tidak bisa lepas dari Jongin. Meskipun aku melihatmu dari jauh, kau selalu bisa membuatku tersenyum.

Yoona meneguk minumannya dan tetap memperhatikan Jongin. Sebenarnya, ia berharap bahwa bagian ‘ciuman pengantin’ telah terlewat, dan sialnya harapan itu berakhir. Pada akhirnya, harapan sekecil itupun tidak dapat terpenuhi. Jongin mencium Soo Ji, tepat di hadapan Yoona.

Yura berusaha menutup mata Yoona, namun Yoona lagi – lagi berkata bahwa itu tidak apa – apa. Karena sedikit demi sedikit, kau menyembuhkan luka dihatiku dengan kebahagiaanmu. Karena aku juga bahagia jika kau bahagia.

Jongin menghampiri semua kerabatnya, dan mengobrol dengan mereka—Yoona masih tetap memperhatikan Jongin. Hatiku terus menjerit memanggil namamu, andai kau tahu itu.

Senyum Jongin dan semua gesturnya, Yoona akan merekamnya dengan sangat jelas diotaknya. Untuk menjadi kenangan, karena ini terakhir kali baginya untuk melihat Jongin. Meskipun rasanya sakit, aku tetap mencintaimu.

Ya tuhan, bahkan saat Jongin tersenyum masih membuat Yoona terpesona dan kagum akan ketampanannya. Aku tidak peduli apakah kau masih mencintaiku atau tidak, tapi aku berani menjamin bahwa seluruh hari esok dalam hidupku, hanya akan ada kau dihatiku.

Soo Ji menghampiri Jongin dan menggandeng tangannya. Tangan yang dulu menjadi pegangan Yoona. Aku ingat saat pertemuan pertama kita, saat aku memecahkan kaca spion mobil mahalmu dan ingin menggantinya dengan setangkai bunga. Bodoh, bukan?

Oh, tidak. Jongin dan Soo ji melangkah mendekati Yoona dengan senyumnya itu. Bahkan Yoona masih tidak dapat mengendalikan degupan jantungnya, Jongin bisa saja mendengarnya. Apakah kau bisa melihat dan mendengarnya? Cinta yang memenuhi jiwaku ini, hanya untukmu.

Jongin semakin mendekat. Yoona menatap iris mata Jongin dan berusaha menelisiknya dalam – dalam. Dan sial, ia tidak bisa menemukan dirinya di dalamnya.

Rasanya lebih menyakitkan, menyadari bahwa kau tidak lagi mencintaiku.

Dan, ta-da! Kini Jongin berada tepat dihadapan Yoona. Yoona menatap Jongin dan tubuhnya bergetar hebat. Setelah kehilangan cintaku, apa arti nafas ini?

Yoona sempat berkhayal bahwa Jongin menghampirinya dan berkata bahwa semuanya hanyalah kebohongan belaka. Namun saat Yoona menggeserkan penglihatannya, ia sadar bahwa Jongin datang bersama orang lain. Bersama cintanya saat ini.

Aku lelah berlari dari semua ini.

Bunuh aku sekarang.

END.

A/N : Ini fanfiction pertamaku bercast Kai, hehe. Semoga readers suka yaaa dan no sequel. Beberapa fanfic masih terbengkalai soalnya^^ Terima kasih sudah membaca J Comments are very welcome~

57 thoughts on “(Freelance) Run Away

  1. IF I HAD TO MAKE A LIST OF MY FAV FIC THEN THIS WILL BE ON ITTTT yaampun ga nyangka perjuangan aku buat ngubek-ubek update-an fic yoongexo ga sia-sia, i finally found the gem!
    Pas aku baca 2 kalimat pertama yang Yoona dan Bunga terus Jongin jendral militer, aku langsung keinget film Obsessed/Obsession (ini baru lirik tahun 2014, tokoh utama cowoknya yg main di My Princess, anyway film ini banyak bed scenes-nya jadi ga aku saranin buat nonton deh ._.) tentang jendral militer yang selingkuh sama istri bawahannya, aku kira fic ini bakal kayak gitu dan ternyata engga xD
    oke karena ini salah satu fic paling bagus yang sekarang aku temuin, aku mau ngasih beberapa komentar xD
    pertama, aku gadapet bgt feel YoonKai-nya biarpun ini fic YoonKai. Engga, bukan karena gaya penulisannya atau gimana but Jongin is a total jerk. Awal-awalnya emang udah ke build-up banget chemistry-nya mereka but just like how jongin’s feeling towards yoona changes, so is mine. Dari adegan awal aja udah lebih keliatan kalau Yoona yang lebih sayang sama Jongin. There’s always one person who loves other’s more in a relationship, dan itu nyesek bgt. Awalnya aku ngerti sih sama kesibukan Jongin yang bikin mereka berdua jarang bisa ketemu, sekalinya ketemu pun cuma bentar. Tapi lama-lama muak juga yaampun kkamjong itu cewek kamu bukan jemuran jangan digantungin terus!!
    kedua, Jongin itu cheesy banget. Kalimat “Tapi aku membawa cintaku untukmu” ITU NO NO NO KIM JONGIN JUST SHUT THE F UP cinta cinta apaan sialan ujung2nya juga dilupain kan
    ketiga, pas bagian Jongin malsuin identitas Yoona (tentang ayahnya yang konglomerat, terus nama internasional, and stuffs) disitu yang bikin aku benci sama Jongin. Lah mikir ajalah, kalau dia beneran cinta harusnya dia ga kayak gitu, malah nyiksa Yoona kan? Apalagi keluarganya juga duh you chaebols emang bener2 strict ya kalau soal menantu. Pas Kim Jongup (atau siapa itu tadi) ngusir Yoona anjay nyes banget ini nyesss udahlah emang Yoonkai juga udah ga ditakdirin bareng.
    Keempat, Suzy is not the jerk one here. Iyalah dia PHO atau apa bahasanya tapi hubungan mereka gaakan hancur kalau jongin si dudul ini ga buka hatinya yaampun mas udah nyuruh yoona nunggu di korsel eh dia di korut malah gandeng gebetan baru AKU JUGA JADI IKUTAN KESEL yaampun sn komampai Yoonanya depresi gitu yaiyalah Jongin udah digantungin setahun gitu dikira itu hati kuat apa?

    Kalau aku dibiarin komen lagi kayaknya gaakan kelar. Intinya satu aja sih; Jongin is a jerk. I could put any bad words here and it wouldn’t be enough soalnya kesel bgt sama Jongin. Plis jangan bikin ff kayak gini lagi, it ruins me emotionally (in a good way). Aku teriak teriak gajelas padahal udah malem gini and i feel like punching my pc’s screen BECAUSE KIM F JONGIN HURTS MY CUTIE LITTLE PATOOTIE ga ga gabisa lagi aku bacanya :”D tolong lain kali kalau bikin fic romance jangan buat yang kayak gini, ini parah banget aku jadi emosian parah parah ini pertama kalinya aku sebenci ini sama tokoh di fanfiction :”D

    Anyway kamu freelancer kan? Kenapa ga coba jadi author tetap aja? Soalnya writing style kamu enak bgt dipandang, susah nemuin yang kayak gitu akhir2 ini huhuhu😦 keep writing yaaaa, ditunggu karya2 kamu selanjutnya! ; )

    • Awalnya cuma jail aja cari fanfic-ku eh taunya komennya kok nambah (?) Pas diliat oh my god author-nim yang komeeeeenn. Semenjak Numinous itu bneran aku ngefans bgt haha. Complicated tapi ga ngebosenin, thank you bgt untuk komennya yang bikin hati dag dig dug. Buat pertanyaan author yang terakhir, knp ga jadi author tetap? Dari dulu sih selalu pengen thor, tapi ga bisa ngelola wordpress._. Udah punya tapi yaampun cari tutorial sana sini tetep ga mudeng. Anw, gomawo yaaa🙂 Numinous jangan lama lama hehe

      • wahahaha xDD ehh aku ganyangka ternyata kamu reader numinous jugaaa xD wuehehe aku juga awalnya kudet bgt pokoknya nyusahin gitu tapi lama2 aku coba otak atik akhirnya bisa kok biarpun masih jatuh bangun gini :”D jadii, kamu coba aja dulu jadi author tetap, sekalian belajar gitu, kalau ga sekarang kapan lagi? :333 you’re welcome!❤

  2. Benci banget sama jongin
    Buaya deh !! Ngumbar2 janji trus PHP lagi
    Ga mau tau, pkok nya harus ada sequel thor
    Kan ga adil, si itam bahagia tapi yoong menderita
    Buat sequel yg yoona udah dpet psngan jga thor , kris kek , sehun kek , chanyeol kek
    Terus si jongin menderita, di tinggalin soo ji kek , pokok nya lebih menderita dari yoona

  3. pengen jong in mati thoor….
    sakit banget rasanya…
    kalo dari awal gag bisa terima apa adanya ngapa harus ngenalin ke ortu segala,,
    disaat yoona yakinsanggup kenapa dia berhianat,,,

  4. Hanjer! Jongin yang menjanjikan tpi dia juga yang melanggar 3:) nyessek bgt jdi Yoong eonni, baca ff ini sambil cry cry cry😥 feel.nya dpet banget nget nget nget nget #plakAbaikan pengen nyembelih si Jongin, mumpung mendkati bulan Ramadhan kan nanti bisa d.jadiin opor #asahGolok_EvilLaugh

  5. Nnjjjiiirrr bkin nyesek weehh😦
    kalau gw jadi yoona gw gk bklan bisa setegar dan sekuat itu, lbh baik gw menghilang dan menghindar dari-nya -,-

  6. Sumpah thor sedih bangett,aku nangis banget bacanyaa. Kai jahat banget,gak rela yoona di giniin,sumpah gak relaa bangett. Please thor ada sequel buat kai
    nyesel sama perbuatannya

  7. Thorrr minta sequel
    Gak bisa thor gak bisa
    Yoona tuh gak bisa diginiin seengaknya di sequel itu yoona daet pengganti kai terus nanti kai nyesel
    Kai juga perlu tahu kalo sooji pertama deketin kai disuruh orangtua nya kai

  8. Seddiiiih bgt..
    Kai tega bgt ngehianatin yoona pdhl yoona selalu nunggu kai plng..
    Pliisss chingu da squelnya

  9. aishh, nyesek bgt sumpahh..
    jongin knpa sprt itu..
    berharap ada sequelnya..
    please yoona jg harus bahagia, tp tdk bersama kai, Mgkin sdikit membuat kai patah hati. maybe..

  10. author… please bikinin sequellll. Sumpah aku nyesek -_- Munculin cowok laen dong dan buat jong In nyesel #readersbawel Bener2 nguras air mata. Ga bisa bayangin kalo aku ada di posisi Yoona #plakk

  11. AHHHRG THOR NANGIS NIH NANGIS HUAA:( CERITANYA KEREN SEDIH BGT:( SAQUEL BUTUHH SEGERA THORR:( SAQUELL HUHUHU

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s