Cinderella – Chapter 1

c1
.

a fiction by chiharu @chiharuu98

Cinderella

starring by Im Yoona and a former member of EXO, Xi Luhan

Genre and Rating
Marriage-life, Romance, Angst | PG15

mine, don’t claim this as yours (the plot and story)

.

SET BELT FIRST

.

Sudut ruangan itu tetap terisi oleh seorang gadis yang terlihat cemas. Yoona kembali mengingat-ngingat kalau kakeknya sama sekali tidak berbohong dan tidak main-main. Wajah Yoona memang terlihat cemas, tapi lebih tepatnya ia khawatir—lelaki mana yang akan dipertemukan dengannya nanti malam?

Sebelumnya, ia memang tidak pernah menjalani hubungan yang serius. Ia hanya pernah sekali memiliki cinta monyet semasa SMP dulu, itu juga dengan teman semasa kecilnya—Park Chanyeol. Yoona tidak ingat apakah itu perasaan sungguhan atau bukan.

Ia membuka kacamatanya frustasi—ia belum siap, umurnya masih 23 tahun. Kembali lagi, ia mengangkat cermin tepat di depan wajahnya dan kembali melihat pantulan wajahnya.

///

Melangkah dengan pasti adalah hal yang harus dilakukan sekarang. Yoona terlihat berbeda malam ini. Ia jadi lebih sering mengedipkan matanya karena ia tidak memakai kacamata—ia hanya memakai softlens. Dari atas, rambutnya digulung memperlihatkan lehernya yang sebenarnya indah—tidak lupa juga dengan poni yang dibuat menjadi lebih fresh. Ia menggunakan dress tanpa lengan berwarna navy dan wedges warna hitam yang terlihat anggun, wajahnya terlihat lebih bersih dan berseri—bibirnya dipoles sedikit lipgloss warna pink.

Yoona tidak sadar dirinya bisa secantik ini. Ia begitu terkejut dengan perubahan yang ia alami, maka jangan heran jika ia terlihat lebih sering tersenyum. Tapi di sisi lain, ia juga tetap merasa cemas dan gugup, apakah pria seperti Chanyeol 14 tahun yang akan ia temui? Entahlah.

Dengan menggandeng tangan sang kakek, Yoona masuk ke dalam hotel ini lebih jauh, dan sekarang ia tengah berada di area restoran hotel tersebut. Ia berjalan kikuk mengikuti langkah kaki sang kakek, sesekali ia hampir terjatuh karena tidak terbiasa menggunakan sepatu semacam wedges atau sejenisnya.

“Kalian sudah datang?”

Beberapa orang yang terlihat seperti sekeluarga berdiri dan menyambut Yoona dengan kakeknya. Mereka tersenyum berseri. Disana ada seorang wanita setengah baya berserta suaminya dan… Mana lelaki yang akan dipertemukan dengan Yoona?

Yoona tidak perlu waktu lama untuk mencari, disana hanya ada tiga orang, ya tiga orang. Lelaki yang berwajah agak chineese juga tersenyum, terlihat penuh hormat dan tentunya Yoona membalasnya.

“Silahkan duduk,” wanita setengah baya yang disinyalir adalah ibu dari lelaki chineese itu mempersilahkan Yoona dan kakeknya duduk.

“Maaf sudah lama menunggu.” ucap kakek diikuti dengan tawa canggungnya.

“Tidak juga, tapi aku memang tidak sabar melihat Im Yoona calon menantuku.”

Perkataan tersebut langsung membuat Yoona agak kaget dan berbeda dengan yang lain, mereka malah terlihat tertawa ringan, kecuali pangeran tampan dari China itu.

Yoona sudah tahu bahwa mereka berasal dari China.

“Kalian mengobrol saja dulu, kami akan kembali sebentar lagi.”

“Ka..kalian mau kemana?” ucap lelaki China itu, terlihat agak terkejut. Dan jangan lupa juga dengan Yoona, ia menunjukkan respon yang sama.

“Ka..kakek?”

“Kami akan kembali sebentar lagi.” ucap kakek dan dengan cepat berbalik dan berjalan bersamaan dengan orang tua lelaki itu, meninggalkan mereka—hanya berdua disana.

Lelaki itu meminum sedikit wine yang tertuang di gelas kemudian mengedarkan pandangannya ke arah lain. Sementara Yoona hanya berkutat dengan ponselnya yang sebenarnya tidak ada hal penting di dalamnya. Yoona kemudian mendongkak dan tidak disangka-sangka kalau lelaki itu sedang melihatnya.

Sadar dengan suasana canggung yang aneh ini, lelaki itu berdehem pelan. “Aku Xi Luhan.”

“A..aku Im Yoona.” jawab Yoona dengan cepat.

Setelah itu, keduanya tidak tahu harus bicara apa lagi. Tapi Luhan yang memang pribadi yang spontan, tidak tahan terkurung dalam suasana canggung terlalu lama.

“Apa kau masih kuliah?”

Yoona terlihat terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan oleh Luhan. “Ya, aku masih kuliah, semester akhir. Kau sama, kan? Ku dengar umur kita sama.”

“Tidak, aku sudah jadi dokter.” jawab Luhan dengan senyumnya, itu membuat Yoona bingung.

“Secepat itu?”

“Aku bekerja di rumah sakit milik keluarga.”

Yoona mengangguk tanda ia mengerti. Kagum juga.

“Kalau kau?”

“Aku?” Yoona menunjuk dirinya sendiri, kemudian Luhan mengangguk tanda mengiyakan.

“A..aku membantu keluargaku di kedai ayam goreng keluarga, di rumah.”

“Apa?” Luhan spontan melontarkan pertanyaan itu, pasalnya ia tahu kalau kakek dari gadis bernama Im Yoona ini adalah pemilik perusahaan periklanan, kenapa cucunya malah kerja di kedai ayam goreng?

“Ma..maafkan aku.” Luhan menyambung untuk meminta maaf.

“Tidak apa-apa.” balas Yoona sambil tersenyum tipis. Ia menggaruk tengkuknya karena ia masih dalam suasana canggung bersama pria yang bernama Luhan itu. Yoona meraih gelas yang berisi air putih dan meminumnya hingga habis.

“Kau hanya minum air putih?” pria itu bersuara lagi membuat Yoona kaget. Melihat kening Yoona yang berkerut, dia melanjutkan, “Aku hanya aneh saja kau memilih air putih, padahal disini ada wine, dan minuman bersoda.”

“Aku tidak suka itu, aku sakit perut jika meminum soda. Masalah wine, aku tidak meminumnya.”

“Sa..sakit perut? Kau tidak pernah pergi ke club malam?” Luhan sepertinya mulai gila karena ia tidak bisa mengontrol pikirannya, pasalnya ia terlihat sedang bingung. Beda lagi dengan Yoona, ia merasa kalau pria yang ada dihadapannya sekarang adalah pria yang ingin tahu segala hal, bahkan ia merasa sedang diinterogasi. “Aku tidak pergi ke club malam.” Yoona menjawab seadanya.

“Apa kau menginginkan perjodohan ini?” Luhan tiba-tiba membuat Yoona tersentak dengan pertanyaannya. Pria itu berubah menjadi duduk tegap, menunggu jawaban yang akan dilontarkan lawan bicaranya.

“A… Bisa kau ulang?” Yoona menggaruk tengkuknya, lagi.

“Sebetulnya tidak ada perjodohan yang disetejui oleh yang menjalaninya, kan?”

Sebenarnya Yoona sudah bisa membaca kemana arah pembicaraan dari pria itu. Pria itu terlihat berbeda dengan latar belakangnya yang notabene adalah seorang dokter. Yoona tidak keberatan dengan orang yang spontan, tapi pria ini terlalu berlebihan.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggungmu.” ucap Luhan setelah ia berdehem pelan. Ia agak ragu untuk menyampaikan poin penting yang ia punya setelah ia melihat wajah Yoona agak berubah, mungkin gadis itu tersinggung.

“Katakan saja apa yang ingin kau katakan.” Yoona berkata sambil tersenyum, agak kaku.

“Saat menikah nanti, bisakah kita tidak saling jatuh hati?”

///

Luhan mengendurkan dasinya dan lekas mencuci muka. Ia melihat wajahnya di cermin. Yang sekarang tengah ia rasakan adalah perasaan serba salah, serba salah karena keadaan yang membuatnya semakin pusing.

Ia berbalik untuk menyandar di tembok wastafel dan melihat ponselnya. Saat ia melihat sebuah kontak seorang wanita, ia terlihat mendesah dan raut wajahnya jadi semakin bingung dan frustasi. Pasalnya wanita itu tengah menjalani proses pemotretan di Paris—sebagai salah-satu tuntutan pekerjaan.

Luhan menggigit bibir bawahnya, ia ragu antara harus memencet tombol call atau tidak. Kalau ia menelpon, pasti nada suaranya akan aneh karena ia sedang dalam keadaan yang tidak baik. Ia secemas ini karena wanita itu adalah pacarnya, pacarnya bernama Park Jiyeon dan berprofesi sebagai seorang model.

Kalian tahu apa yang membuatnya tambah bingung?

Ia terpaksa harus menjalin hubungan dengan gadis yang baru pertama kali ia temui. Walau ia akui, ia begitu kaget saat melihat fotonya beberapa hari yang lalu. Tanpa ia duga-duga juga kalau gadis itu terlihat berbeda saat ia temui tadi. Tapi tetap saja itu bukanlah hal yang penting, yang penting adalah bagaimana nasib hubungannya dengan kekasihnya yang sedang ada di luar negeri. Luhan tidak gila, dan dia tidak mungkin memberi tahu pacanya itu kalau ia sudah dijodohkan, itu sama saja membunuh dirinya sendiri dan yang pasti akan membuat semuanya semakin rumit. Dan yang paling parah adalah, dia harus menikahi gadis pilihan ayahnya dalam waktu kurang lebih satu minggu lagi.

///

Dua minggu kemudian,

Kurang lebih sudah seminggu Yoona dan Luhan menjadi sepasang suami istri. Hari-hari yang mereka jalani datar-datar saja, tentunya membuat keduanya teramat bosan, walaupun diselingi dengan acara kecil yang dibuat keluarga Xi untuk merayakan pernikahan mereka.

Yoona tinggal di kediaman keluarga Xi. Rumah ini terlalu besar baginya, sebelumnya ia hanya tinggal di rumah sederhana milik orang tuanya, rumah kakeknya juga tidak sebesar rumah ini. Keluarga ini sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, Tuan Xi dengan profesi dokternya, Nyonya Xi dengan usaha butik kecil-kecilannya, dan anak semata wayang mereka—Xi Luhan dengan profesi sama seperti sang ayah, dokter.

Yoona menggulung rambutnya keatas dan segera memakai kacamatanya. Ia tetap berpenampilan seperti dulu, walaupun ada sedikit yang berubah, wajahnya tidak terlalu dekil, kawat behelnya juga sudah diganti, dia tidak terlihat seperti seorang istri. Untung Keluarga Xi tidak keberatan dengan penampilannya yang seperti ini. Ia merapikan poninya dan segera turun ke bawah, ini adalah hari pertama Luhan bekerja lagi di rumah sakit setelah sebelumnya cuti pernikahan.

Setelah ia menuruni beberapa anak tangga, Yoona sudah berada di area meja makan. Disana sudah ada Luhan yang sedang sarapan, lelaki itu terlihat tidak menghiraukannya—Yoona sudah tahu bagaimana karakternya, lelaki itu lebih buruk daripada yang ia bayangkan.

Luhan tidak jahat dan keras seperti dalam kasus-kasus KDRT, pria itu hanya suka mengaturnya ini itu, Yoona baru tahu kalau Luhan lebih cerewet daripada yang ia bayangkan. Yoona juga tidak membencinya, dia memiliki perasaan biasa-biasa saja pada pria itu.

“Kau tidak duduk?” Luhan mendongkak pada Yoona dan kembali lagi menyantap sarapannya. Itu membuat Yoona mendecik kesal dalam diam, ia sadar kalau Nyonya Xi sedang menghampiri mereka.

“Kau sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak?” tanya Nyonya Xi dengan nada yang ramah.

“Aku tidur sangat nyenyak.” jawab Yoona seadanya, kemudian dia duduk setelah dipersilahkan oleh Nyonya Xi.

“Aku sudah selesai, mmm… Aku pergi sekarang, Bu.”

Baru saja mereka duduk, Luhan sudah mengakhiri sarapannya. Yoona tidak tahu itu disebabkan oleh apa, mungkin oleh dirinya, atau entahlah.

“Kau tidak pamit pada istrimu?” tanya Nyonya Xi yang membuat keduanya langsung saling mendongkak dan berpandangan.

Yoona segera bangkit dan mendesah pelan, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia mendekat ke arah Luhan layaknya seorang istri yang akan melepas suaminya pergi. Dia membenarkan jas putih khas dokter milik Luhan dengan perasaan yang aneh. Jelas saja itu membuat Nyonya Xi terlihat senang, bibirnya tersenyum dan wajahnya berbinar. Luhan mendongkak dan mata mereka saling bertemu. Yoona bisa melihat kalau Luhan mendengusinya dengan pelan, sebelum akhirnya dia kaget karena Luhan mendaratkan kecupan singkat di keningnya.

“Aku pergi dulu.” Luhan langsung melesat ke luar rumah.

Itu memang terpaksa, tapi tetap saja Yoona merasakan sensasi aneh, karena sebelumnya ia tidak pernah dicium seperti itu oleh lelaki lain selain oleh teman masa kecilnya, Park Chanyeol yang tentunya saat itu belum tahu apa-apa.

Yoona kembali duduk dan menyantap sarapannya. Selama seminggu terakhir, makanannya memang berbeda karena keluarga ini benar-benar keluarga kaya—lebih tepatnya kakeknya. Ngomong-ngomong soal itu, sebenarnya keluarga Yoona juga keluarga yang kaya, hanya saja tidak banyak orang yang mengetahuinya.

Ibunya menikah dengan pemuda biasa yang sekarang ia panggil ayah. Sang ayah berasal dari keluarga sederhana. Mereka hidup secara mandiri dan tidak mau terlalu dibantu oleh ayah sang ibu (kakek Yoona). Padahal kakek Yoona adalah pemilik perusahaan periklanan yang cukup besar, B-House Advertising Management. Orang tua Yoona memilih membuka usaha sendiri, yakni dengan membuka kedai ayam goreng cepat saji yang bisa dipesan secara delivery.

Faktor yang semakin menjauhkan Yoona dari titel cucu orang kaya adalah penampilannya. Usaha orang tua mereka padahal tidak terlalu kecil juga, mereka adalah pengusaha yang cukup sukses untuk kalangan menengah ke bawah. Entah Yoona yang terlalu cuek dan berbaik hati, dia tidak memiliki penampilan layaknya seorang cucu orang kaya. Ditambah dengan kebaikan dan kepolosannya, Yoona memang suka menjadi ‘kurir’ sukarela untuk kedai ayam goreng keluarganya, sehingga tak jarang mereka menyangka kalau Yoona hanyalah si kurir pesan antar, bukan anak pemilik kedai yang cukup besar itu.

Yoona tidak terlalu mempermasalahkan itu, dia memang orang yang cuek dan agak aneh.

“Yoona-ya, apa kau tidak memakai cincin pernikahanmu?”

Yoona teralih dari kegiatan sarapannya. Ia tersenyum tipis dan menjawab pertanyaan Nyonya Xi yang agak khawatir itu, “Aku menyimpannya di dompetku, aku takut cincin itu hilang.”

“Dompet? Kau menyimpannya di dompetmu?” tanya Nyonya Xi lagi.

“Ya, di dompetku? Apa itu terdengar aneh, Eommonim?” tanya Yoona dengan dahi yang berkerut.

“Tidak, hanya saja jangan sampai cincin itu hilang. Selama kau menyimpannya dengan baik, itu bukan masalah.” tutur Nyonya Xi dengan senyum pengertiannya.

Yoona hanya mengangguk dan melanjutkan sarapannya. Tapi tunggu dulu, ia merasa ada yang aneh. Tiba-tiba saja pikirannya berpikir bahwa ada sesuatu yang ketinggalan. Ketinggalan? Oleh siapa?

Yoona mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di sisi keningnya, mencoba menemukan sesuatu yang janggal. Ia terlihat sedang berpikir, dan itu membuat Nyonya Xi menghentikan sejenak acara sarapannya karena heran akan tingkah menantunya itu.

“Kau kenapa, Yoona-ya?”

“Tidak.. Hanya saja aku… Aku merasa…” jawab Yoona terputus-putus. “Dompet… LUHAN OPPA KETINGGALAN DOMPETNYA! YA! DI KAMAR!”

Yoona berteriak tanpa sadar kalau ia berada di rumah yang berbeda—ini bukan rumahnya, tapi ia terlalu kaget. Dengan segera ia melesat ke atas menuju kamarnya dan Luhan untuk mengambil dompet suaminya yang ketinggalan itu.

Nyonya Xi tak kalah heboh dengan bangkit dari kursinya, dan beliau baru ingat sesuatu. “Yang benar saja? Dia bahkan naik taksi karena mobilnya sedang ada di bengkel?!”

///

Yoona keluar dari taksi dan segera menutup pintu taksi tersebut dengan keras, tepatnya membanting. Ia berlari agak cepat dan masuk ke dalam rumah sakit, ia begitu panik—entah kenapa, ia memang begitu. Tiba-tiba ia berhenti sejenak saat sudah menginjak lobi rumah sakit, menemukan kalau dirinya kebingungan. Ia baru saja melewati meja resepsionis, belum lagi dengan kepanikannya—ia merasa bodoh, bagaimana bisa ia menemuka dimana Luhan kalau ia tidak bertanya pada resepsionis disini?

Dengan nafas yang agak teratur dan tenang dari sebelumnya, ia berbalik dan berjalan ke arah meja resepsionis. “Permisi, aku ingin bertemu dengan Luhan dan, kau tahu dimana dia sekarang?” ucapnya dengan nada dan senyum yang ramah.

Seorang suster resepsionis bermata agak belo itu terlihat kebingungan, bahkan aneh dengan Yoona. “Siapa yang anda maksud?”

Yoona mengerutkan keninginya sejenak, tapi ia menghembuskan nafasnya—menyadari kalau ada sesuatu yang salah, lagi dan lagi. “Maksudku dokter Xi Luhan dari spesialis bedah, kau tahu dimana dia?”

“Apa anda sudah membuat janji?” tanya suster itu kemudian membuat Yoona mendesah pelan.

“Aku istrinya dan aku ingin bertemu dengannya.” jawab Yoona seadanya dan membuat suster itu menutup mulutnya tanda ia tidak percaya. Mungkin karena penampilannya, suster itu tahu pasti kalau istri dokter Lu sangat cantik seperti saat malam resepsi seminggu yang lalu.

Yoona terdiam sejenak dan terlihat dalam masa yang awkward, dia menggigit bibir bawahnya, kemudian ia bertanya lagi. “Dimana dia?”

“Do…dokter Lu sedang ada di ruang UGD.” jawab suster itu agak terbata-bata.

Tanpa pikir panjang lagi, Yoona langsung melesat dari meja resepsionis itu. Ia sengaja tidak menanyakan dimana letak ruang UGD karena ia tidak mau melihat ekspresi kaget nan aneh milik para suster itu. Ia berjalan dengan santai karena ia tahu kalau dirinya sudah terlambat, Luhan sudah sampai di rumah sakit dan itu artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin pria itu menghutang dulu pada rekannya untuk membayar ongkos taksi.

Tiba-tiba ia berhenti saat dari kejauhan, ia menemukan pintu bertuliskan ruang UGD yang terbuka, disana terlihat pria itu sedang berbincang dengan salah-satu rekan dokternya. “Ah! Itu dia.” gumamnya pelan dan langsung bergegas kesana dengan santai.

Di lain sisi, terdengar ada sebuah kegaduhan dan tempat tidur yang di dorong. Yoona menoleh ke belakang dan tenyata ada pasien korban kecelakaan. Korban itu satu jalur dengannya, mungkin menuju ruang UGD juga. Terlihat Luhan dan rekan dokternya agak panik dan segera menghampiri tempat tidur dorong itu dan membantu agar segera masuk ke ruang UGD.

“Luhan-ya! Kau meninggalkan dompetmu!” ujar Yoona tanpa ia tahu sesuatu, atau mungkin karena memang ia polos. Ia ikut berjalan bersamaan dengan didorongnya tempat tidur itu.

“Ya! Kenapa kau bisa kemari?” dengan spontan, Luhan menjawab pertanyaan itu.

“Kau membuatku kelelahan!” umpat Yoona kemudian.

“Yak! Kau tidak bisa membaca situasi? Aku akan menangani pasien!” ucap Luhan keras sedikit agak membentak, ia berhenti mendorong tempat tidur itu dan berdiri di hadapan Yoona.

“Huh, ma..maafkan aku.” ucap Yoona sedikit agak merengut.

Luhan menghembuskan nafasnya dan langsung bergegas menuju ruang UGD, ia meninggalkan Yoona yang berdiri disana. Yoona meringis saat melihat pintu itu ditutup.

///

Entah memang Yoona orang yang baik, dia rela menunggu di kafetaria rumah sakit. Ini bahkan hampir menunjukkan jam makan siang. Sepertinya penanganan pasien itu cukup berat juga.

Yoona memainkan ponselnya dengan perasaan bosan, bersamaan dengan sebuah jus dan tak lupa dengan dompet berwarna coklat tua yang tergeletak di mejanya. Beberapa pegawai rumah sakit atau bahkan keluarga pasien yang berada disana pasti menjatuhkan fokus mereka pada Yoona. Yoona mengenakan kaos oblong biasa ditutupi dengan long coat rajut berwarna merah muda yang agak pudar, celana jeans warna navy dan dengan gulungan rambutnya yang menyisakan sebagian rambut yang acak-acakan dipinggirnya, belum lagi dengan wajahnya yang agak dekil—walaupun sudah agak mendingan daripada yang dulu. Sebagian orang terlihat menatapnya dengan tatapan menyedihkan. Hebatnya Yoona tidak mempermasalahkannya, dia masih sibuk dengan ponselnya.

Saking sibuknya ia, sampai-sampai ia tidak sadar kalau seseorang sudah duduk di hadapannya, di meja yang sama. “Kenapa kau belum pulang?”

“O…oh.” ucap Yoona kaget.

“Gara-gara kau aku jadi menghutang pada Baekhyun, untung dia itu baik.” celetuk Luhan sambil meraih dompetnya.

“Kenapa jadi menyalahkanku?” tanya Yoona tidak terima.

“Lupakan saja. Mari kita lihat, apakah isinya masih utuh?” lagi-lagi Luhan membuat Yoona geram dengan celetukannya yang tanpa disaring itu.

“Yak! Kau pikir aku ini orang seperti apa tuan Xi?! Aku sama sekali tidak memiliki image sebagai seorang pencuri!” Yoona menggigit bibir bawahnya tanda ia kesal dengan sosok dihadapannya.

“Kenapa kau tunggu disini? Kenapa tidak dititipkan saja di resepsionis?” tanya Luhan dengan penasaran.

Yoona menghembuskan nafasnya, kenapa banyak sekali kesalahan yang merugikannya kali ini? “Benar, aku lupa. Ya, aku lupa kenapa itu tidak terpikir dari tadi.” ucapnya gusar.

“Kau ini kelewat baik atau apa?” tanya Luhan dengan senyum candaanya yang memanipulasi belum lagi dengan kedua alisnya yang ia kerutkan ke atas—manipulasi atas sikap aslinya konyol dan menyebalkan, bagi Yoona.

“Aku memang orang baik. Tapi.. Yak! Lupakan saja tentang hal itu.” sahut Yoona berusaha menutup topik pembicaraan kali ini.

“Hmm… Ngomong-ngomong ini sudah jam makan siang, kau mau makan?” tanya Luhan sambil memainkan daftar menu yang ia pegang.

Tidak bisa disangkal, Yoona sarapan sangat sedikit tadi pagi, dan itu membuatnya kembali kelaparan. Lagipula perutnya sudah berbunyi dan jangan sampai pria itu mendengarnya. “Baiklah, pesankan aku apa saja.”

“Tuan Kim! Aku minta Jajangmyeon dua porsi dan dua gelas jus lemon.” teriak Luhan pada seorang penjaga kafetaria, kelihatannya mereka nampak sudah akrab, tentu saja.

“Dokter Lu? Apa kabar?”

Tiba-tiba saja Luhan dikagetkan dengan sapaan seseorang yang menghampirinya dengan senyum khas yang sangat lebar. Ia ingat orang itu, suster Park Hyomin.

“Kabar baik, silahkan duduk.” jawab Luhan sambil mempersilahkan suster itu duduk bersama mereka. Sementara Yoona, dia hanya tersenyum pada suster itu.

“Terima kasih, selamat ya atas pernikahanmu, semoga kau hidup bahagia.” ujar suster Park dengan raut wajahnya yang bahagia, dan dibalas dengan senyuman dari Luhan dan Yoona.

“Terima kasih.” balas Luhan masih dengan senyumnya.

Melihat Yoona yang sama-sama tersenyum suster Park terlihat agak aneh dan menggaruk tengkuknya dan menatap Yoona dengan senyum canggung. Luhan buru-buru meluruskan, “Dia istriku.”

“A…ah, selamat untuk kalian berdua.” walaupun agak kaget, suster Park berusaha menyembunyikannya, itu akan terlihat tidak sopan.

“Ah, ya… Bagaimana kabar Jiyeon? Ku dengar dia sedang pemotretan di Paris?”

“Ji…jiyeon?”

.

-continued-

.

.

.

Haaaaaai! Kesel ya baru di post? Hahahaha pede ae:p maaf ya buat yg kelamaan nunggu, banyak tugas si (perasaan itu mulu deh alesannya-,-)

Maaf ya kalo ceritanya aneh banget, aku gak tahu istilah apa tuh disebutnya ‘tempat tidur dorong’ itu lhooo yg suka ada di rumah sakit… Apa si itu namanya???? Aku gak tau lols maaf banget. Ada yang tahu? Kasih tau ya… Hehe😀

maaf juga kalo disini LuYoon nya freak banget-,- apalagi yg pas pertemuan pertama mereka sumfeeeeh tuh maksaaaa hahaha. Trus pas di kafetaria itu maaf yaaaa, baru dikit juga sih momen mereka🙂

Pokoknya makasih ya buat yg nungguin ini, udah cape2 komen di teaser dan itu alhamdulillah banget, mengingat ff LuYoon yg semakin menipis(?) lafffyumor buat kaliaaan❤❤

Komen ya supaya tambah semangat juga nih nulisnya😀

.

53 thoughts on “Cinderella – Chapter 1

  1. kenapa perjodohan mereka pakek perjanjian tdk saling jatuh hati gitu sih….
    banyak spekulasi tentang hubungan mereka nanti, drpd gua penasaran lanjut aja ah…😛

  2. keren thor (y)
    thor, endingnya tetap luyoon kan? pls… ff luyoon kan sudah menipis dan makin menipis, hitung-hitung, kasih ‘vitamin’ untuk para fawns yg masih bertahan disini:)
    keep writing thor! next chapter ditunggu~

  3. jiyeon muncul pst bikin konflik… munculin jg chanyeol dong thor… tp jujur ak lbh suka chanyoon dr pd luyoon… keren thor… di tggu kljtn y

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s