(Freelance) Love You

Love you (2)

Title : Love You

Author : Indah

Cast : Kim Jongin, Im Yoona

Rating : PG-13

Genre : Fluff, School Life, Friendship

Karena aku mencintaimu,

Dengan caraku.

­­___

Jongin itu keren.

Setidaknya itu yang dikatakan oleh seantoro sekolah untuk mendeskripsikan tentang dirinya.

Tentu saja, dia adalah ketua club dance di sekolahnya. Dia juga cukup pintar, terbukti ia selalu masuk dalam jajaran 10 besar di kelasnya. Tidak seperti Tao, yang mengaku keren tapi hobby antri remedial matematika pada guru Jung. Dan tidak ketinggalan juga, modal tampang rupawan yang membuatnya makin digilai para gadis di sekolahnya.

Jadi kurang apalagi dia?

Iya dia keren, Jongin tahu itu. dia pintar, dia juga mengakuinya. Dia tampan, itu fansnya yang mengakui, jadi dia juga mengakuinya. Tapi untuk urusan gentle tidaknya dia, sepertinya dia harus berpikir ulang.

“Kau itu bilang cinta kepada Yoona saja harus berpikir 100 kali, dasar tidak gentle.” Itu kata-kata sok pintar Tao yang diucapkannya ketika bermain game di rumah Jongin sore tadi.

Jongin kesal, bagaimana mungkin sahabatnya yang tidak lebih pintar dari dirinya itu bisa bicara seperti itu. Jadi apakah seburuk itu dirinya untuk masalah gentle atau tidak? Dan kenapa juga dia yang suka sekali tidur membiarkan dirinya masih terlelap di jam 11 malam hanya untuk memikirkan kata-kata tidak bermutu Tao?

Haruskah ia mengakui secara diam-diam bahwa apa yang dikatakan Tao itu benar?

“Tidak. Buat apa aku harus melakukannya.” Ujarnya membantah apa yang baru saja ia pikirkan.

Jadi ketimbang terlalu muluk-muluk memikirkan perkataan Tao, ia lebih memilih menarik selimutnya. Mencari posisi senyaman mungkin dan melaksanakan niatnya yang sempat tertunda akibat pikiran gilanya tadi.

___

“Kau mau apa?”

Perkataan ketus tadi itu keluar dari bibir manis Yoona___kekasihnya. Jadi, jika kalian berpikir bahwa Jongin adalah siswa SMA yang tengah jatuh cinta secara diam-diam kepada teman sekolahnya dan malu untuk mengutarakan perasaannya, maka kalian salah.

“A-aku…”

Dan Jongin rasanya ingin mengiris tangannya saja.

Bagaimana bisa ia jadi gugup hanya karena bingung harus bilang apa gadisnya. Memang, lima hari terakhir ini hubungan mereka sedang tidak baik.

Hari Sabtu lalu, mereka terlibat pertengkaran yang cukup hebat. Hanya karena hal yang menurut Jongin cuma kesalahpahaman, tapi sukses membuat Yoona memakinya brengsek dan meninggalkannya sambil menangis.

Sabtu itu benar-benar hari terkutuk bagi Jongin. Ia yang terpilih mewakili sekolah untuk ikut kompetisi dance nasional___bersama salah seorang adik kelasnya yang perempuan___ harus berlatih dari siang sampai jam sembilan malam.

Dan karena memang itu sudah malam, tentu dia yang mengaku sebagai lelaki sejati, tidak tega membiarkan seorang gadis pulang malam-malam sendirian.

Jadi dengan terpaksa ia mengantar gadis itu setidaknya sampai ke halte bus. Tapi siapa yang menyangka, ketika dalam perjalanan ia justru bertemu dengan Yoona yang langsung salah paham padanya.

Tidak aneh memang, karena Yoona datang di saat yang tidak tepat.

Waktu itu gadis yang Jongin temani hampir saja tersandung batu di jalan. Dan dengan cepat Jongin membantunya. Namun sayangnya, hal itu justru membuat mereka seperti seseorang yang berpelukan. Dan itulah yang membuat Yoona marah besar hingga saat ini.

Tapi bagi Jongin si lelaki yang rasional, itu sedikit berlebihan. Apalagi sebelumnya dia sudah minta maaf.

“Kau itu kenapa? Kenapa kau selalu marah-marah. Aku kan sudah minta maaf padamu.” Nada frustasi dari Jongin keluar saat Yoona berniat ingin masuk ke kelasnya. Mungkin gadis itu tidak tahu berapa tebal muka yang ia buang ketika Tao bertanya dia mau kemana.

“Buat apa kau minta maaf. Memangnya hanya maafmu yang kubutuhkan. Kenapa kau itu tidak bisa peka? Kalau memang kau tidak bisa mengertiku maka silakan kau cari sejenismu untuk kau pacari. Sana kau cari lelaki saja.”

Oh astaga… Jongin benar-benar tidak bisa berkutik kalau sudah begini. Rasanya ia baru saja melihat seorang malaikat kesurupan. Ternyata sangat menakutkan.

“Memangnya apa hal lain yang kau inginkan?” Jongin memelas. Di depannya Yoona menyilangkan tangan di depan dada. Aist. Pemandangan yang sangat tidak indah. Jongin berharap Tao tidak melihatnya.

“Jangan pura-pura tidak tahu Jongin.”

Ok. Harus Jongin akui. Mungkin ia memang sedang pura-pura tidak tahu. Karena sebenarnya ia tahu apa yang saat ini kekasihnya itu inginkan.

Aku mencintaimu, Yoona. Itu. Kata yang setiap malam Jongin hapalkan meski ia sudah hapal. Kata yang sangat sulit hingga tidak pernah ia sampaikan kepada Yoona. Itulah penyebab Yoona jadi makin kalang kabut.

Jongin yang waktu menembaknya hanya bilang aku menyukaimu, dan sekali pun tidak pernah bilang bahwa ia mencintai Yoona. Makanya, saat Yoona memergokinya bersama gadis lain semakin membuatnya berpikir bahwa Jongin memang tidak mencintainya. Dan Jongin tahu pasti, bahwa itu yang dipikirkan kekasihnya.

Tapi apa Yoona harus mendengarkannya langsung? Bukankah ia bisa mengetahuinya hanya dengan melihat bagaimana Jongin memberikannya perhatian?

Seperti waktu itu. Saat masih kelas sepuluh, Jongin pernah membawa kantong plastik besar ke sekolah dan menjadi pusat perhatian waktu itu karena isi kantong plastik itu adalah semangka. Iya semangka. Semangka yang Jongin curi dari dapur rumahnya___yang sebenarnya akan dibawa ke rumah kakeknya___ namun karena ia tahu bahwa Yoona sangat suka makan semangka, maka ia tidak malu membawanya ke sekolah. Meskipun hari itu Tao kembali tertawa terbahak-bahak karena tingkahnya, dan sampai di rumah ia juga mendapat omelan ibunya.

Jongin si anak rajin bahkan pernah bolos sekolah demi Yoona ­___sebenarnya tidak disengaja. Waktu itu Yoona masuk rumah sakit karena terjatuh di kamar mandi. Dan tentu saja Jongin khawatir. Jadi dia menemaninya di rumah sakit hingga larut malam. Dan kagetnya dia saat bangun ternyata dia masih duduk di samping ranjang Yoona. Dan karena sudah tidak memungkinkan dia untuk ke sekolah, maka ia memilih membolos.

Dan terakhir sebulan yang lalu. Waktu Yoona datang ke rumahnya untuk diajari mengerjakan tugas matematika. Waktu itu benar-benar hal yang tidak pernah Jongin bayangkan. Bagaimana tidak, ketika Yoona yang baru saja kembali dari kamar mandi rumahnya langsung membisikkan sesuatu yang membuat telinganya terasa geli.

“Jongin. Aku kedatangan tamu bulananku. Bisakah kau membelikan aku ‘itu’ di mini market? Aku takut bocor.”

Dan demi Yoona ia kembali menghilangkan sedikit kekerenannya di depan penjaga mini market.

Jadi kurang cinta apa lagi dia pada Yoona?

“Baiklah, jika memang kau masih sulit memaafkanku.”

Dengan terpaksa Jongin melangkahkan kakinya pergi. Ia tidak tahu Yoona bahkan menatap tak percaya punggungnya yang mulai menjauh.

___

“Kau itu belum pernah pacaran sebelumnya, ya?

Jongin mengalihkan pandangannya dari layar telivisi. Melihat Tao yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya. Memandangnya dengan tatapan yang, ugh. Super menyebalkan.

“Apa maksudmu, minggirlah. Kau menghalangi pandanganku.” Jongin membalasnya dengan bersungut-bersungut. Merasa kesal dengan apa yang Tao tanyakan barusan. Bukankah Tao itu sahabatnya sejak SD. Jadi buat apa lagi bertanya kalau sudah tahu jawabannya?

Tawa mengejek Tao melayang di udara. Menyamarkan suara televisi yang tengah menayangkan acara TV kesukaan Jongin.

“Kau pasti belum pernah pacaran sebelumnya, kan? Lucu sekali. Berarti Yoona itu cinta pertamamu, kan? Makanya kau tidak bisa bilang cinta padanya. Memalukan.”

Jongin berdiri, menarik paksa Tao lalu menghempaskannya di sofa. Dia tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Bukannya membantu, justru makin menyulitkannya. Dasar tidak setia kawan.

“Ampun Jongin, ampun.” Sekuat tenaga Tao menahan Jongin yang kini memukulnya kesetenan menggunakan bantal.

“Berhenti mengejekku hitam.” Jongin melempar bantal itu sebagai pukulan terakhirnya, yang hebatnya tepat mengenai wajah Tao.

Tao mendengus kesal sesaat setelah bantal itu mencium wajahnya. “Seperti kau putih saja.”

“Tapi aku keren. Dan kulitku bagus, tidak pucat.” Bela Jongin tidak terima.

“Baiklah, terserah katamu saja.” Tao memperbaiki duduknya. Sedikit merapikan bajunya yang kusut karena ulah Jongin yang baru saja kesurupan.

Di sampingnya Jongin duduk dengan lemas, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa sambil memeluk bantal. Ingatannya kembali pada kejadian di depan kelas Yoona siang tadi. Dimana ia menjadi orang yang begitu menyedihkan di hadapan sang kekasih.

“Kenapa semua gadis itu aneh. Kenapa mereka itu sangat suka membesar-besarkan hal sepele yang menurutku sangat tidak penting.” Nada putus asa Jongin terdengar. Tapi bagi Tao, Jongin itu hanya keras kepala. Jadi dalam kasus ini, bukan Jongin yang kasihan, tapi Yoona. Kenapa si Yoona yang cantik itu harus memiliki pacar seperti Jongin yang… childish?

“Apa kau mencintai Yoona?” Tao bertanya pada Jongin yang serta merta langsung melotot padanya.

“Kalau aku tidak mencintainya buat apa aku berpacaran dengannya selama dua tahun bodoh.”

Tao mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau pernah mencoba untuk bilang kalau kau mencintainya?”

Kini Jongin tidak lagi melotot pada Tao. Justru pandangannya mulai kosong. Dalam hatinya ia mulai menjawab pertanyaan Tao. Bahwa hampir setiap malam ia habiskan untuk berlatih bilang cinta pada Yoona.

“Pernah.” Jawabnya pelan. Entah mengapa rasanya Jongin jadi rindu berat pada senyum cantik milik Yoona. Kalau begini terus benteng pertahanannya bisa runtuh.

“Berarti kau yang egois. Kau terlalu kekanakan dan lebih memilih mempertahankan egomu. Harusnya kau juga melihat dari sisi Yoona. Bagaimana perasaannya yang melihatmu acuh tak acuh. Bahkan jika kau memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang, perempuan tetaplah perempuan. Dia juga ingin mendengar penuturan langsung darimu bahwa kau mencintainya. Kau harusnya bisa mengerti kaum perempuan yang suka sekali mendengar kata-kata manis dari orang yang dicintainya.”

Jongin melongo. Menatap tak percaya Tao yang baru saja menyelesaikan pidatonya dalam satu tarikan napas. Sangat berbeda dari Tao yang biasanya ia kenal.

“Jadi menurutmu aku harus bilang padanya ya?” Tampang polos Jongin saat bertanya membuat Tao memandangnya aneh. Iya, Jongin jadi terlihat aneh sekarang. Rasanya kesan keren sudah lenyap dari wajahnya.

“Iya. Harus. Kau harus bilang.”

___

Dan esoknya Jongin kembali memasang muka tembok. Kali ini ia akan mencoba membuang sifat egonya. Ia sudah tidak tahan dengan sikap Yoona seminggu terakhir ini. Jadi untuk kali ini, ia akan mencoba mengerti gadisnya.

Hari ini hari minggu. Jongin berencana meminta maaf padanya, bilang bahwa ia mencintai gadis itu, lalu mengajaknya jalan-jalan. Semua rencana sudah ia siapkan. Semoga prakteknya nanti bisa semudah teorinya. Iya, semoga.

Jongin kini sudah berdiri di depan pintu rumah Yoona. Bermodalkan keberanian yang ternyata hanya rata-rata, ia mulai mengangkat tangannya perlahan untuk mengetuk pintu. Tapi belum sempat ia mencobanya, pintu cokelat itu sudah lebih dulu terbuka.

Jongin sedikit terpukau, gadis yang ia rindukan kini berdiri di hadapannya. Tampil cantik seperti biasanya. Tapi entah mengapa hari ini jauh lebih cantik. Bahkan lebih cantik dari host acara TV kesukaan Jongin yang ia tonton semalam bersama Tao. Ternyata orang kalau rindu benar-benar berefek banyak.

“Selamat pagi, Yoong.” Suara berat Jongin terdengar lembut. Membuat Yoona yang tadi berusaha tidak melihat wajahnya kini malah mengamatinya lamat-lamat.

“Ada apa?” suara Yoona ketus. Dan Jongin harus menelan ludahnya susah payah.

Jongin menarik napas pelan-pelan. Mengingat kembali hapalannya semalam yang telah ditulis Tao untuknya. Semoga tidak ada yang terlupa. Ia harus terlihat perfect hari ini, tidak boleh kurang satu pun.

“Aku minta maaf. Seminggu terakhir ini aku terlalu egois. Aku memang berpikir, bahwa semua ini bukan sepenuhnya salahku. Karena kita hanyalah terlibat kesalahpahaman. Tapi aku mengerti, bahwa bukan itu yang mengganggu pikiranmu. Kau mengira bahwa selama ini aku selalu mempertahankan egoku hingga akhirnya untuk bilang cinta padamu saja tidak pernah. Tapi sungguh, meskipun aku tidak bilang, aku sudah selalu menunjukkan perasaanku lewat perlakuanku padamu. Aku selalu berharap bahwa kau bisa memahaminya karena aku bukanlah lelaki yang hanya ingin mengumbar janji padamu. Tapi aku sadar bahwa kau tersiksa dengan sikapku seperti ini. Jadi kau harus tahu, bahwa aku mencin-”

Hampir semua hapalannya selesai ia ucapkan. Tapi sesuatu yang lembut tiba-tiba ia rasakan di bibirnya. Hanya dua detik, tapi mampu menghentikan waktu di sekitar Jongin.

“Aku juga mencintaimu Jongin, sangat. Aku juga minta maaf karena terlalu egois. Sikapku terlalu memaksamu. Tapi sekarang jika aku disuruh memilih, aku akan memilihmu yang menunjukkan perasaanmu padaku lewat perlakuanmu. Ketimbang kau harus menjadi orang lain seperti lelaki brengsek di luar sana yang bisanya hanya mengumbar janji tanpa pernah membuktikannya. Maafkan aku.”

Jongin bahagia. Kalimat yang baru saja diucapkan Yoona terasa sangat manis dan menyentuh hatinya. Ibarat makan ice cream di tengah musim panas. Tapi melihat wajah Yoona yang terlihat merasa bersalah membuatnya menjadi tidak enak. Ia ingin melihat senyumnya, bukan wajah yang membuatnya jadi ikut merasa bersalah.

Jadi Jongin menariknya ke dalam dekapannya. Melampiaskan segala kerinduannya akibat ketidakpekaannya terhadap kekasihnya. Kalau mereka bisa berdamai dengan manis seperti ini, kenapa tidak dari minggu lalu saja ia melakukannya. Kenapa ia harus mendapat pencerahan dulu dari Tao kalau ternyata ia bisa melakukannya sendiri seperti ini.

“Tidak apa-apa.” Bisik Jongin.

Dengan pelan Yoona menarik dirinya dari Jongin, menatap wajah Jongin sambil membalas senyum dari lelaki itu. “Tadi sebelum kau datang, Tao mengirim sms padaku. Dia bilang kau akan datang meminta maaf dan mengajakku jalan-jalan.”

Dasar ember. Rutuk Jongin dalam hati. Tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa sahabatnya itu berperan dalam memperbaiki hubungannya dengan Yoona. Jadi dari lubuk hatinya yang paling dalam dia memanjatkan doa yang baik-baik semoga sahabatnya itu bisa selalu bahagia dan mendapat segala yang terbaik.

Dan melihat penampilan Yoona saat ini, pasti ia sudah berdandan karena sebelumnya Tao sudah memberitahunya. Ternyata perempuan itu tidak terlalu ribet juga. Ia hanya mau dimengerti. Iya, hanya sebatas itu.

“Iya, dia benar. Dan sepertinya kau sudah siap. Jadi apa kita berangkat sekarang saja?”

Jongin menggenggam tangan kiri Yoona, membuat gadis itu membalas pertanyaannya dengan anggukan antusias. “Ehm, ayo.”

Dan Jongin lagi-lagi menyesal telah melewatkan waktu satu minggu tanpa melihat senyum cerah gadisnya. Dan untuk itu, Jongin berjanji. Dia tidak akan mau lagi melewatkan senyum itu.

Karena cukup saling mengerti dan menjaga, maka semuanya akan baik-baik saja.

Fin

Hai! Aku bawa FF selingan dari FF Y. Maaf ya kalau FF-nya absurd gitu. Aku harap kalian semua suka dan mau kasih masukan, terima kasihJ

41 thoughts on “(Freelance) Love You

  1. thoor,,,,,
    makasi uda bikin q tersenyum…
    padahal tadi q nangis gaje waktu baca ff run away…
    makasi ya thoor

  2. Aahhh suka-suka keren nih ff, apa lg kalau cast-nya Jong In :v *Ketahuan yg baca-nya suka Jong In😀 wkwk

  3. kereeennn (y) so sweet ada comedy nya juga wkwk gatahan sama si Tao *tarik tao* *karungin* :v hahaha
    Keep writting thor ditunggu ff yg lainnya😀

  4. sweet…
    cma bilang cinta aja susah tapi bagus sih cowo kya jongin bilang cintanya lewat perbuatan bukan kata kata manis yang omdo doank…

  5. bagus thor jalan ceritanya…jongin sosweet banget sih..pengen blg suka sama yoona aja malu”…thor bikin yang pairingnya yoonhun ya…

  6. Wow, neomu joha. Cpa sih yg gak suka nih ff, critanya ringan tp manis gtulah. Feelnya dapet n mendekatilah atau sering d’jumpai kisah sperti in pd kehdupn real org2, jd pasti suka smua klu tlah membcanya🙂
    it Jongin lucu bnget sih aplg klu ud d’bri pencerahan atau saran gtu dri Tao😀

    keep writting thor!

    • haha makasih banget udah suka. sebenarnya aku emang lebih suka nulis oneshot tuh yg emang dialami di kehidupan nyata. makanya nulis begini. sekali lagi makasih ya karna udah komen😀

  7. Omg ini manis banget. Simple, tapi banyak pesannya. Penempatan karakternya juga pas banget. Jadi naksir sm jongin(?) Bikin ff yang temanya manis kayak gini lagi dong author-chan hehe

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s