(Freelance) In Your Eyes (Chapter 6)

in-your-eyes

IN YOUR EYES

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol &Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered ||Rating: G || Note: Already posted at EXOShiDae Fanfiction and our personal blog || Disclaimer: We own this fic’s plot and idea only. Cast belongs to God. So please respect with your comment. Don’t copy-paste or plagiarism! Thanks, enjoy reading guys🙂

.

.

Bahkan jika dunia terbelah menjadi dua dan kau adalah penghuni dari salah satu bagiannya, aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu.

.

.

Dengan berat hati Chanyeol melepaskan genggamannya pada tangan Yoona. Gadis itu tersenyum mendapati raut kecewa diwajah Chanyeol. Langit telah senja, matahari bersiap kembali ke peraduannya. Dua burung kecil melintas begitu saja sebanyak beberapa kaki diatas kepala kedua insan sejoli itu, seolah berlomba mengepakkan sayapnya lebih cepat untuk kembali ke dalam sarangnya.

“Hey, ada apa denganmu? Kita akan bertemu lagi besok di halte.” Yoona memiringkan kepalanya seraya menatap seorang Park Chanyeol dengan mata terbuka.

Chanyeol tersenyum, ia mengangkat tangannya untuk mengacak rambut Yoona yang sebenarnya sudah teracak angin sore. “Aku tahu. Hanya saja, kurasa waktu berjalan lebih cepat dari biasanya,”

Yoona tertawa kecil. “Itu karena kau hanya duduk dikafe menungguku hingga selesai bekerja.”

“Tidak apa, walaupun aku memperhatikanmu dari jarak seratus meter sekalipun asalkan bisa melihatmu, bukan masalah.” Bibir Chanyeol tertarik membentuk sebuah senyuman di akhir kalimatnya—bersamaan dengan pipi Yoona yang mulai bersemu merah karena ucapan pria itu.

“Baiklah, aku akan masuk.” Yoona mulai melangkah menuju pintu sembari melambaikan tangannya pada Chanyeol. Pria itu pun begitu—walaupun sejujurnya ia masih ingin berlama-lama dengan kekasihnya itu. Tapi mau bagaimana lagi? Toh hari juga sudah mulai gelap dan dirinya yakin Yoona pasti sangat lelah setelah bekerja seharian.

Detik selanjutnya, Yoona menghilang di balik pintu, Park Chanyeol menatap datar udara kosong dihadapannya. Pria itu baru saja akan berbalik ketika seseorang menyentuh bahunya dan membuat Chanyeol sedikit melompat kaget karena sosok yang tiba-tiba berada dibelakangnya.

“Ah, k-kau lagi?” Terbata, Chanyeol bergumam rendah ketika ia mengenali pria di hadapannya itu.

Kim Jongin tersenyum meremehkan. Ia menggerakkan dagunya ke kiri—gesture kecil—kepada Chanyeol untuk mengikutinya. Dan pria itu menurut, menghela napas terlebih dahulu sebelum akhirnya benar-benar melangkahkan kakinya mengekori Jongin.

“Kalian baru saja berkencan?” Jongin melemparkan pertanyaan sarkatis. Ia berbalik menatap Chanyeol sembari melepaskan earphone di telinganya.

Chanyeol berjengit bingung. Aura yang diberikan pria ini tidak sedingin dari pada beberapa waktu yang lalu. Tapi tetap saja, pria yang ia tahu bernama Kim Jongin itu selalu saja menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.

Hey memangnya salahku apa?

“Apa yang ingin kau katakan, Jongin-sshi? Aku harus segera pulang.” Chanyeol tidak begitu menghiraukan pertanyaan Jongin sebelumnya. Pria itu lebih tertarik untuk mengetuk-ngetukkan sepatunya pada aspal yang dingin.

Jongin tertawa, kakinya melangkah maju hingga jaraknya dengan Chanyeol hanya tinggal satu jengkal saja. Bahkan keduanya bisa merasakan napas satu sama lain—dan itu sangatlah tidak nyaman bagi keduanya—jika boleh jujur. “Sudah kubilang, jauhi Im Yoona!” Suara Jongin meninggi, dan sepertinya Chanyeol sudah siap siaga dengan itu. Pria itu hanya memejamkan matanya seraya berusaha untuk mengatur napasnya yang mulai memburu.

Pria dengan rambut cepak itu hanya tersenyum, menatap Jongin menantang. “Tidak, aku tidak mau. Lagipula, kenapa aku harus menjauhinya? Dia kekasihku—kalau boleh aku ingatkan.”

Bermeter-meter di lain sisi, Youngran tengah berjalan dengan tas ransel dipunggungnya. Ia berjalan santai dengan earphone putih yang menggantung ditelinganya. Gadis itu bersenandung beberapa kali dan mulai mempercepat langkahnya ketika ia sadari hari sudah semakin larut.Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara lengkingan tawa familiar di telinganya. “Seperti suara Jongin”. Gadis itu bergumam rendahkepalanya mulai bergerak-gerak untuk mencari sumber suara. Matanya mengedar ke segala penjuru arah. Dan akhirnya ia menemukan sang kakak tengah berdiri di ambang persimpangan gang kecil beberapa meter dari rumahnya bersama dengan pria dengan sweater hitam yang membelakanginya.

Youngran berjalan mendekat—tak lupa ia melepaskan earphone putih dari telinganya lalu memasukkannya ke dalam saku segera.

“Dengan siapa Jongin bicara?” Youngran mempercepat langkahnya dengan rasa penasaran yang membuncah-buncah—selalu seperti biasanya.

Chanyeol menaikkan alisnya ketika Jongin tertawa—lagi. Dan detik selanjutnya pria itu dihujami tatapan tajam dari Jongin.“Tsk! Aku tahu kau sudah dijodohkan. Jadi, selagi aku masih berbaik hati. Jauhi Im Yoona!”

Chanyeol tertegun. Mulutnya terbuka dan matanya nyaris terbelalak sempurna. Pria itu mundur beberapa langkah. Lalu berbicara dengan terbata, “Kau .. Darimana kau—”

Jongin tersenyum puas. “Dengar Park Chanyeol! Aku tak peduli kau begitu mencintainya ataupun sebaliknya. Yang jelas, kau pasti tahu apa yang akan terjadi pada Yoona jika mengetahui hal ini kan?”

Untuk beberapa saat Chanyeol mematung, matanya menerawang pada dinding usang dengan lumut hijau di belakang punggung Jongin. Sedangkan pria dihadapannya semakin menyudutkannya, dan bodohnya ia tak bisa membalas ucapan Jongin sedikitpun.Skak!

“Kau tidak ingin Yoona terluka bukan?” Jongin menambahkan, mata obsidian pria itu melubangi wajah Chanyeol dengan tatapan tajamnya. Pria itu berjalan mendekati Chanyeol, kemudian berbisik. “Ini yang terakhir. Jauhi Im Yoona, Park Chanyeol-sshi”Bisik Jongin dengan nada ancaman yang terasa semakin kentara. Park Chanyeol menatapnya.

“Aku tidak—”

“Jongin?”

Jongin dan Chanyeol menoleh nyaris bersamaan ketika sebuah suara melengking meruak masuk kedalam kedua gendang telinga mereka kala itu.

Kim Youngran disana. Gadis itu berlari kecil menghampiri mereka lantas berdiri tepat disamping Chanyeol.“Oppa, apa yang kau lakukan?” Youngran menatap tajam sang kakak, ia melirik sekilas pada Chanyeol yang juga kini tengah menatapnya.

Jongin meringis—sang adik menatapnya seperti ia akan diterkam hidup-hidup. “Masuklah.” Titah Jongin seraya mengalihkan pandangannya pada tumpukan sampah beberapa meter di samping mereka.

Alih-alih menurut, Youngran malah bersidekap. Gadis itu mengibaskan poni rambut yang menghalangi mata kirinya. Setelah itu, kembali menatap Jongin tajam. “Tidak.” Tolaknya yang main membuat Jongin geram.

Youngran beralih menatap Chanyeol, dan ia tersenyum. Membuat Jongin berdecak ragu—apa benar gadis itu adalah adiknya?

Oppa, tadi Minhwa memberitahuku. Katanya kau harus segera pulang.” Ujar Youngran mengada-ngada.

Chanyeol menatap gadis itu ragu. Tapi setelahnya ia balas tersenyum lalu mengangguk. “Terimakasih, Youngran.”

Chanyeol membungkuk hormat pada Jongin. Pria itu baru saja akan merajut langkah pertama jika saja Jongin tidak menahan tangannya dan mengingatkannya tentang apa yang dibicarakan mereka sebelum Youngran datang. “Jauhi dia.”

Untuk beberapa saat Chanyeol kembali terdiam—membuat Youngran kembali memberikan tatapan tajam pada sang kakak.

“Baiklah aku pergi. Tapi Youngran-aa,“ Chanyeol kembali menunda langkahnya, ia berbalik kemudian tersenyum pada Youngran setelah sebelumnya menatap Jongin lama.

“Tolong sampaikan pada Yoona. Aku, mencintainya.”

.

Minhwa menelan saliva untuk ke sekian kalinya. Gadis itu menatap jengah pada Sooyeon yang tengah memegang kendali remote tv di kamarnya. Tiga puluh menit sudah mereka berselimutkan keheningan—suara samar-samar dari tv menjadi satu-satu nya sumber suara di kamar Minhwa itu. Dan Minhwa benci itu—benci sekali.

Gadis itu beringsut, jika saja ini bukan tentang rencananya menggagalkan pertunangan sang kakak atau tentang mempertahankan hubungan Chanyeol dan Yoona, mungkin sudah ia tendang wanita di sampingnya itu dari semenjak langkah pertamanya memasuki kamar.

“Pertama-tama, kau harus mendekatkan dirimu padanya Minhwa.”

Gadis itu berdehem beberapa kali, mencoba mengambil perhatian Sooyeon yang tengah sibuk dengan acara fashion dihadapannya. Dan beberapa detik berikutnya, gadis itu mengerang, ia menggigiti guling di pelukannya ketika mengetahui bagaimana cara wanita di hadapannya mengacuhkannya. Sooyeon menoleh pada Minhwa, wanita itu mengangkat jari telunjuknya di depan bibir cheri merona yang sepertinya sudah diolesi oleh lipbalm atau apapun namanya itu. “Psssttt.”

Oh shit! Aku bisa gila.

“Emm—” Minhwa mengeluarkan suaranya untuk yang pertama kali—itupun jika erangan, dengusan, dan sejenisnya tidak dihitung sebagai suara ‘yang sebenarnya’.

Apakah aku harus memanggilnya Eonni? Oh, ini buruk.

“Apa ada yang ingin kau katakan padaku?” Sooyeon dengan tiba-tiba berkata. Sebenarnya sedari tadi ia menyadari gerak-gerik Minhwa yang seperti nya tak nyaman berada bersamanya.Hanya saja gadis itu tidak begitu tertarik untuk mengetahui alasannya.

“Emm, Eon—ni bagaimana kalau kita pergi keluar?,”

Alis Sooyeon meliuk, ia memposisikan diri duduk sejajar dengan Minhwa. “Ini sudah malam, kau ingin pergi kemana?”

Kemana saja yang penting kau tidak bertemu Chanyeol Oppa! Minhwa menggerutu dalam hati. Sesekali gadis itu melirik ponselnya, berharap Park Chanyeol—sang kakak—menghubunginya.

Tok. Tok. Tok.

Pintu diketuk, membuat Minhwa yang baru saja akan membuka mulutnya lagi kini terperangah dalam beberapa detik. Sooyeon ikut mengalihkan perhatian nya kearah pintu.

“Minhwa-ya, apa kau ada didalam?”

Minhwa mendengar baru saja air dingin membasahi tubuhnya dan gadis itu merinding seketika. Oh tuhan, itu Park Chanyeol.Belum selesai dari kekagetannya, Minhwa terlonjak ketika priadi belakang pintu itu kembali berbicara. “Aku akan masuk.”

Oh tidak!

.

Oppa, kumohon. Lupakan Yoona Eonni.” Youngran menatap Jongin dengan tangan yang terkatup. Sedikit memelas—hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya pada sang kakak.

Alih-alih mendengarkan, pria dihadapannya itu malah menatap lampu gang yang temaram dengan malas. Dengan tegas, pria itu berkata, “Tidak!”

“Oh ayolah Oppa, apa kau tidak ingin Yoona Eonni bahagia? Dia mencintai Chanyeol Oppa, begitupun sebaliknya.” Youngran meraih sikut kanan sang kakak. Lantas menarik-narik nya perlahan mencoba membujuk pria kepala batu itu. Jongin hanya terdiam. Bibirnya terkatup rapat setelah kalimat Youngran dengan jelas masuk kedalam indera pendengarannya.“Oppa, kalian itu bersaudara. Ibu pasti akan marah jika tahu kau menyukai Yoona Eonni.” Youngran menguatkan tarikannya pada sikut Jongin. Pria itu, menoleh lamat-lamat. Menatap Youngran sendu.

“Youngran-aa, kau tidak mengerti.” Jongin bergumam rendah, menciptakan keheningan panjang di detik setelahnya.

“Tapi aku mengerti—aku sangat mengerti bagaimana—”

Pria itu menghempaskan pelan lengan Youngran. “Tidak, kau tidak pernah mengerti.”

.

“Halo, aku Jung Sooyeon,” Sooyeon mengulurkan tangannya pada pria yang kini membatu dihadapannya. Gadis itu memberikan senyuman terbaiknya.Kendati seperti itu, siapapun akan tahu—tidak pernah ada senyuman palsu yang terlihat sejelas itu.

Park Chanyeol tetap bungkam—sama sekali tidak tertarik untuk menjabat tangan-tangan kurus itu. Dan Sooyeoon hanya menelan senyumannya sembari menurunkan tangannya lagi. “Baiklah, mungkin kau masih terkejut.” Sooyeon melangkah kecil ke arah balkon dan Chanyeol hanya mengekori nya malas. “Senang bertemu denganmu Chanyeol-sshi.” Sooyeon berbalik dan terus saja tersenyum manis.

“Kau tahu namaku?”Pria itu bertanya sinis—seolah cukup terkejut tentang antusias gadis itu pada pertunangan sialan ini.

“Tentu saja, tidak mungkin aku tidak mencari tahu tentang calon tunanganku, kan?” Sooyeon terkekeh sendiri di akhir kalimatnya—tapi untuk kesekian kalinya, Chanyeol hanya diam tanpa kata.

Chanyeol menelan liurnya sekali, lalu kembali menatap gadis di hadapannya. “Jadi, apa yang kau lakukan di rumahku?” Pria itu berkata datar dan dibalas dengan senyuman manis Jung Sooyeon.

Abeonim dan Eomonim menyuruhku menginap.”

Park Chanyeol tidak bisa menutupi keterkejutannya, “Apa katamu?”

.

“Ah Jongin, kau sudah pulang?” Jongin menaruh asal sepatu nya ketika suara Yoona menyambutnya. Pria itu menengadah dan mendapati Yoona tengah tersenyum padanya dengan handuk di atas rambutnya yang basah.

“Ya,” Jawab Jongin sembari mengangguk lantas membalas senyuman Yoona. “Sepertinya kau juga baru pulang.” Pria itu sedikit berbasa-basi, ia berjalan ke dapur—mengambil sebotol air minum lalu kembali ke ruang tengah.

Gadis itu tersenyum sendiri sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk yang semula berada diatas kepalanya.

“Hey!” Jongin berteriak kecil di hadapan Yoona, membangunkan gadis itu dari lamunan singkatnya. Dan yang Yoona lakukan selanjutnya hanyalah tersenyum salah tingkah.Jongin tersenyum setelah melihat Yoona tersenyum. “Sepertinya, kau tampak bahagia?”

“Eh, a—apa?”

Jongin baru saja akan berbicara ketika Youngran membuka pintu dan membuat perhatian mereka berdua teralihkan sementara. “Aku pulang.” Youngran menaruh sepatu nya asal—tepat seperti apayang dilakukan kakaknya sebelumnya. Kemudian gadis itu melangkah lunglai menuju kamar.

“Youngran-aa, kenapa kau baru pulang?” Yoona pura-pura berdecak sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Membuat langkah Youngran terhenti, dan segera gadis itu menatap Yoona lewat bulu matanya.

“Tadi aku ikut kelas tambahan, eonni.” Youngran berbohong, tentu saja kelas tambahan yang dimaksudnya adalah untuk pergi membeli pernak-pernik baru atau menghabiskan waktu di depan laptop bersama teman-temannya.

“Baiklah, cepat ganti bajumu dan lekas makan. Aku membelikan makanan kesukaanmu tadi.” Yoona hanya tersenyum ketika Youngran menatapnya dengan mata yang lelah.

“Ah terimakasih Eonni. Aku akan makan setelah mandi,” Youngran mengacungkan kedua jempolnya dihadapan Yoona dengan lemas, gadis itu berjalan lagi menuju kamarnya—lalu menutup pintunya pelan.

Yoona termangu, “Kau apakan adikmu?”

Jongin nyaris tersedak saat tatapan Yoona kini terarah padanya. Pria itu menaikkan kedua bahunya seraya menutup botol air mineral yang sudah habis setengahnya. “Mana ku tahu.”

Yoona hanya mencibir setelah mendengar jawaban pria itu, gadis itu beralih menatap cermin kecil di sampingnya.

“Kau tampak berbeda hari ini, Yoong.” Jongin menyenggol sikut Yoona. Gadis itu hanya terkekeh kecil.

“Apakah sangat terlihat?” Yoona menolehkan kepalanya, lalu kembali menatap wajahnya di cermin.

“Ya, jadi apa yang membuatmu bahagia hm?” Jongin bertanya lagi sembari mulai memaksakan wajahnya untuk ikut bercermin, Yoona hanya mengembungkan kedua pipinya seraya menatap bayangan Jongin di cermin.

“Haruskah aku bercerita?” Yoona menutup wajahnya malu. Jongin hanya tersenyum getir saat gadis itu menatapnya lagi.

Tidak perlu, aku sudah tahubatin Jongin miris.

.

“Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?” Youngran menyerbu Minhwa dengan tanya penasaran dari ujung telepon sana.

Minhwa mendesah.“Apalagi? Aku meninggalkan mereka berdua tentu saja!”

“Hey santai saja. Kupikir memang seharusnya mereka berdua bertemu.”

Alis Minhwa meliuk bersamaan dengan mata nya yang sedikit membulat tak percaya. “Apa maksudmu? Jangan bilang kau mulai menyukai wanita i—”

“Hey! Hey! Sudah kubilang, dia itu orang yang mungkin akan menghancurkan kebahagiaan Yoona Eonni, bagaimana mungkin aku menyukainya?” Youngran dengan cepat menyergah, gadis itu sepertinya mulai tertular penyakit Minhwa—penyakit memotong pembicaraan orang lain.

“Baiklah baiklah aku mengerti, jadi apa yang kau maksudkan dengan ‘memang seharusnya mereka berdua bertemu’?”

“Kupikir lambat laun mereka akan bertemu. Jadi apa bedanya bertemu nanti dengan sekarang? Siapa tahu setelah bertemu dengan Chanyeol Oppa, dia tidak menyukainya dan ingin membatalkan perjodohannya secara sepihak,” Youngran berekspetasi singkat sembari menaikkan kedua bahunya asal.

Minhwa mengambil napas panjang, bersiap membalas ucapan Youngran yang menurutnya itu adalah opini bodoh. “Dengar Kim Youngran! Apa kau lupa dengan julukan Park Chanyeol dengan seribu kharisma? Dan lagi, kau pasti tidak tahu bahwa keluarga kami ini pemilik gen keturunan yang hampir mendekati sempurna. Kau lihat saja aku sebagai contoh,”

Youngran mendengus malas di seberang telepon sana. “Oh, kau mulai lagi Park Minhwa.”

“Jadi, mana mungkin ada wanita yang tidak tertarik dengan Oppa-ku yang begitu mempesona. Dan jika dilihat dari cara menatap wanita itu, sepertinya dia menyukai Chanyeol Oppa. Positif!” Minhwa menduga-duga. Gadis itu mengangkat tangannya mengusap dagu.

“Benarkah? Ah, kurasa ini akan sulit Minhwa-ya.” Minhwa hanya mengangguk mengiyakan, walau ia yakin Youngran tak akan mengetahuinya.

“Kurasa kita harus segera menyusun rencana untuk membatalkan perjodohan ini.” Minhwa berkata lesu.

“Emm, Minhwa-ya. Apa aku sudah memberitahukan mu sesuatu?” Youngran tiba-tiba bertanya dengan nada yang aneh.

Minhwa mungkin sedikit tertarik, dilihat dari bagaimana kedua alisnya berpaut penasaran. “Sesuatu apa?”Tidak terdengar lagi jawaban. Youngran sepertinya tengah berpikir disana. “Tentang apa? Kau membuatku penasaran.” Minhwa mulai tak sabaran.

“Emm, bagaimana mengatakannya ya?”

“Apa? Jangan bertele-tele Youngran-aa.” Minhwa berdecak setelahnya.

Youngran menghela napas panjang sebelum akhirnya berucap, “Tentang Jongin—kakakku yang juga menyukai Yoona Eonni.”

Detik itu juga, untuk kedua kalinya. Park Minhwa merasakan air dingin baru saja membasahi tubuhnya dan gadis itu merinding seketika.

.

Minhwa mengetuk-ngetukkan kepalan tangannya pada pintu kamar Chanyeol yang terkunci. Gadis itu seperti kebakaran rambut saja, menggelepar-gelepar seolah akan memotong Park Chanyeol hidup-hidup jika pria itu tak kunjung membuka pintunya.

Terdengar erangan singkat sebelum akhirnya pintu terbuka, Chanyeol berdiri dengan celana boxer biru tua dan dada yang telanjang. Rintik-rintik air berjatuhan melalui rambutnya yang basah dan Minhwa mengerti betul pria itu baru saja selesai mandi—atau bahkan sedang mandi?

“Ada apa?” Chanyeol mengernyitkan dahinya seraya menatap Minhwa kesal. Minhwa hanya diam dan menerobos masuk dengan sekali gerakan—Chanyeol mengikutinya.

“Ini gila, ini adalah saat-saat dimana aku membenci ibuku sendiri!” Gadis itu menggerutu seraya berguling-guling tidak jelas diatas ranjang milik Park Chanyeol yang sebelumnya rapi tanpa kerutan sedikitpun.

“Hey! Kau kenapa? Apa kau kerasukan?” Chanyeol menatap pemandangan didepannya dengan enggan. Dan Minhwa hanya menjawabnya dengan sebuah teriakan keras yang memekakan telinga. “Hey! Kau gila! Keluar dari kamarku orang gila!” Chanyeol balas memekik dan Minhwa mulai menghentikkan aktifitas gilanya.

“Tolong aku, kumohon tolong aku—” Gadis itu memelas dengan rambut yang berantakan, benar-benar mendukung suasana.

“Apa?”

“Sampai matipun aku tidak akan mau tidur satu kamar dengan gadis itu! Bahkan jika aku akan dimasukkan kedalam kandang buaya, aku tidak akan pernah melakukannya!”

Park Chanyeol terdiam untuk sesaat, berusaha sekuat mungkin mengerti tentang perkataan Minhwa yang sangat cepat. “Lalu? Suruh saja dia tidur di kamar tamu.”

“Gadis tengik itu bilang dia alergi debu—dan kau tahu? Baru saja dia berakting bersin-bersin dan mengeluhkan kamar tamu kita yang berdebu.”

“Bagaimana lagi, tidak mungkin kan dia tidur dikamarku,” Chanyeol mulai melangkahkan kakinya pada lemari putih di dekat cermin besar. Mencari-cari sebuah baju yang akan dipakainya.

“Dia tidak boleh tidur disini, tapi aku tentu saja boleh.” Minhwa berujar seraya mulai merapikan bantal-bantal milik Chanyeol.

Chanyeol membelalakan matanya dan mendesah panjang saat gadis itu kini sudah dengan nyamannya berpura-pura tertidur lelap di ranjangnya.

“Kau juga sama tengiknya! Tidur di kamar tamu saja!”

Tidak ada jawaban, bahkan kini Minhwa mulai menaikkan level aktingnya dengan mengeluarkansuara-suara dengkuran yang aneh. Park Chanyeol mengerang lagi seraya berjalan keluar kamarnya.

.

Yoona menaiki kasur dengan pelan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil pun. Khawatir jika dirinya mengganggu Youngran yang tengah tidur membelakanginya di sisi kasur yang lain.

“Jangan khawatir Eonni. Aku belum tidur.” Youngran membalikan tubuhnya, memperlihatkan mata bulatnya yang masih terbuka pada Yoona.

“Ah aku kira kau sudah tidur.” Yoona meraih buku diary miliknya di atas nakas. Gadis itu tersenyum ketika menarik pulpen yang terselip dalam buku itu.

“Menulis tentang hari mu bersama nya lagi, ya?” Youngran berujar pelan. Gadis itu bangkit lalu mensejajarkan dirinya dengan Yoona yang tengah bersandar pada dinding. DanYoona tersenyum malu-malu karena pertanyaan ringan gadis itu.

“Biar ku tebak. Kalian berkencan. Apa benar?” Youngran terkekeh ketika dilihatnya pipi Yoona yang merona. Im Yoona mengangkat buku yang ia pegang hingga menutupi wajahnya. “Kami tidak berkencan.” Yoona menyangkal.

Youngran mengangguk-angguk. “Kalian berjalan-jalan dengan tangan yang berpaut, apa namanya jika bukan berkencan?”

Yoona menurunkan bukunya lalu menatap Youngran kaget. “Darimana kau tahu?”

Youngran kembali terkekeh. “Hanya menebak saja. Dalam drama-drama para pasangan baru selalu melakukan hal itu. Dan sepertinya kalian tidak jauh berbeda.” Katanya sambil mengangkat tangannya sebatas dagu. Gadis itu membayangkan adegan-adegan manis dalam drama-drama yang pernah ia tonton.

“Dan, tadi aku berpapasan dengan Chanyeol Oppa di depan. Dia menitipkan sesuatu untukmu.” Youngran kembali menatap Yoona yang kini menatapnya bersemangat. Gadis itu membuat jeda yang lama untuk membuat Yoona semakin penasaran.

“Katanya, dia mencintaimu.”

Hati Yoona bergemuruh kala itu juga. Seolah ribuan kupu-kupu tengah berlomba di dalam perutnya. Dan tidak bisa dipungkiri lagi Yoona terpana—bersamaan dengan pipinya yang merona. Astaga! Kenapa dia mengatakannya pada Youngran?.

Yoona menatap malu Youngran yang tengah tersenyum jahil padanya. Gadis itu melirik ponsel nya yang tergeletak di atas nakas. Menatap benda itu lama, berpikir sebentar, sebelum akhirnya tangan mungilnya meraih benda itu.

.

Chanyeol mengutuk dirinya sendiri karena baru saja membuka pintu dan berjalan keluar kamar, gadis itu disana. Dua meter jauhnya dari tempatnya berdiri—gadis itu sudah melihatnya, dan itu membuat kemungkinan kembali membalikkan badan nyaris tidak mungkin ada.

Park Chanyeol berjalan pelan menuju lemari es, mengambil sebotol minuman soda dan membukanya segera. Gadis itu duduk di meja makan, tampaknya dia sedang memakan sesuatu. Ah bukan, itu bukan makanan bagi Chanyeol. Brokoli, selada, tomat, wortel, dan apapun itu.

Mungkin gadis itu sedang diet. Tunggu, memangnya apa yang perlu dia dietkan dengan tubuh sekering itu?

Well, kau sangat berbeda dari yang aku bayangkan.” Sooyeon berujar—matanya menatap mangkuk ‘makanannya’ dalam remang, gadis itu mengibaskan rambut coklat keemasannya dan kembali menatap Chanyeol.Sedangkan Chanyeol hanya diam, meneguk sodanya dengan tanpa menikmatinya sedikitpun. “Dan jika aku boleh jujur, sebenarnya kau adalah tipe ku.” Sooyeon kembali berbicara, gadis itu tersenyum kecil dan mulai memakan makanannya.

Chanyeol tersedak—tentu saja. Dan kemudian pria itu hanya menatap Sooyeon tidak percaya. Pria itu menghela napas panjang, melemparkan kaleng sodanya pada tempat sampah di dekat perapian.

“Kau—”

Oppa!” Minhwa berteriak diarahnya, menatap kedua manusia itu dengan ragu. Sebelah tangannya terangkat untuk memperlihatkan ponsel yang tidak lain adalah milik Park Chanyeol. Gadis itu berjalan cepat sebelum akhirnya tersenyum kecut. “Yoona Eonni menelepon,” Ujarnya seraya menatap Sooyeon yang kini menjatuhkan sendoknya ke lantai.

Chanyeol tidak menatapnya sama sekali, tersenyum kecil seolah berterimakasih pada adiknya yang menyebalkan itu. “Benarkah? Oh, aku menunggunya dari tadi—”

Pria itu melangkahkan kakinya yang panjang untuk beranjak, dan Minhwa hanya tersenyum menang pada Sooyeon yang kini tampak kehilangan fokus. “Selamat malam, aku tidur di kamar kakak ku, kau jangan merusak kamarku ya.”

Sooyeon mengepal tangannya, sekuat tenaga menahan amarahnya dengan menggigit bibirnya sendiri. Tapi kemudian gadis itu tersenyum sinis, “Im Yoona—lagi?”

.

Gerbang sekolah bagaikan pipa air yang bocor. Menyemburkan percikan-percikan kecil yang tidak lain adalah siswa-siswa Hanyang yang gembira. Berjalan diantara yang lainnya Im Yoona bersama kedua temannya—Yuri dan Sooyoung. Jika sejatinya Yuri sibuk membuka lembar demi lembar buku novelnya, Sooyoung justru sibuk melambaikan tangannya pada siapapun itu—bahkan yang tidak di kenalnya sekalipun.

Yoona berjalan pelan dengan seulas senyuman kecil, menatap spanduk besar di gerbang masuk sekolah tercintanya dalam damai. Kemudian gadis itu terhenti saat seorang gadis berdiri tepat dihadapannya.

Gadis itu berseragam—tapi tidak sama dengan apa yang dipakai kebanyakan siswa disini. Gadis itu tersenyum—tapi tidak sama dengan apa yang orang lakukan ketika tersenyum. Surai kecoklatan yang nyaris menuju pirang itu kini bergerak kecil tersapu angin.

Yoona mengernyit, mengerti betul bahwa dirinya pernah bertemu gadis itu sebelumnya. Sooyoung menatap gadis itu bingung, Yuri lebih seperti melihatnya dengan cara penasaran.

“Halo.” Gadis itu mengangkat sebelah tangannya dengan malas, beberapa teman lainnya hanya diam dengan tatapan tak suka. “Im Yoona?”

Sooyoung menyenggol perut Yoona dan kini Yuri menutup bukunya. “Maaf. Kau siapa?” Yoona membuka suara dengan pelan. Gadis itu hanya tersenyum meremehkan.

“Aku Jung Sooyeon, bukankah sebelumnya aku pernah memberitahumu jika suatu hari nanti kau akan mengingat namaku?”

Yoona hanya diam untuk beberapa saat, menatap bingung subjek dihadapannya dengan jantung yang entah kenapa mulai bertalu-talu. “Kau yang di café kemarin?.”

Sooyeon menganggukkan kepalanya, kali ini senyuman pura-puranya sudah beralih menjadi sebuah tarikan bibir datar yang ketus. “Jadi, perlu kuberitahukan beberapa kebenaran padamu,” Sooyeon menatap Yoona dingin. Gadis itu hendak membuka mulutnya lagi, tapi suara lain memotongnya. Menyeret perhatian nyaris setiap pasang mata kearahnya. Pria itu disana, tas tersimpai asal. Baju yang kusut dan rambut yang berantakan oleh angin. Pria itu tersenyum dan ajaibnya itu adalah hal yang paling indah bagi siapapun yang pernah melihatnya.

“Im Yoona, ayo pulang.”

.

TBC

14 thoughts on “(Freelance) In Your Eyes (Chapter 6)

  1. ahirnya bisa baca juga setelah sekian lama ga punya waktu buat baca hahaha . ceritanya makin seru aja nih . aduh siapa ya yang jemput yoona ? ah semoga aja chanyeol

  2. Wah….makin seru,,ngreget bgt ma seoyoon
    hufll…chenyeol cepat bawa yoona pergi jauh” dari seoyoon.
    Next

  3. Aish,si soo yeon ganggu banget,rusuh…itu Jongin ya yg manggil yoona?wah,selamat..
    Pokoknya jgn sampai chanyeol jatuh hati sm soo yeon,jongin jg jgn sampai,ih amit2..
    Soo yeon d sini jessica kan?huh,makin ilfeel deh sm ni org,kemarin gara2 foto itu,sekarang…

  4. Sooyeon ngeselin banget..rasanya pengen aku tendang jauh – jauh dari kehidupan ChanYoon ..

    Itu yg manggil Yoona siapa ? Jongin ? Apa Chanyeol ?

    Next thor. . .

  5. Iiihhhhh…
    Gemes banget baca ff ini ^0^
    Suka banget sam ff ini..
    Soyeon pen gue jejelin kaos kaki gue yg blm gue cuci selama 2minggu *curhat

    Pokoknya yoona harus sama Chanyeol…
    Dan soyeon jan dipasangin sm sapa”..
    Apalagi sm jongin -,-
    Plis ya thor, soalnya gue benci sm couple”an exo (kecuali Yoona)
    Figting thor..
    Keep writing yaa..

  6. aigooo
    kpendekan thor!
    tp keren kok)

    tu soyeon apa2an lg!
    org lg berbunga-bunga coba
    trus yg ngajak yoona pulang cp? jgn bilang jongin?

  7. Arrgggghhh saeng,, tbc nyaaaa ituuu lhoooo….
    Yaaa ampuun soyeon bner2 sdh ad obsesi sm chany dn pede abiiis…
    Suka sm young-minhwa moment mreka bner2 bersatu…
    Yg dtg jemput yoona syapa itu?? Kai atw chany?? Kira2 soyeon bakal kesampaian gag nyampein sesuatu yg d maksud tdii ahhhh penasaraaan, d tunggu banggeet. Walo d part ini chanyoon dikit bgt momentnya tp msih senyum2 sndiri inget moment mreka d part sblmnya.. Next saengi

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s