Immortal Memory [6]

immortal-memory1

Immortal Memory

Oh Sehun and Im Yoona

with Im Siwan, Im Juhwan, Ji Chang-wook and others

AU, Family, Romance || PG 17 || Chaptered

Summary : Kenangan akan selalu abadi, sekalipun kenangan terburuk yang membuatmu melupakanku

2015©cloverqua

Introduce Cast | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

Poster by elevenoliu

 

Keheningan yang memenuhi kamar membuat dua orang di dalamnya—Sehun dan Yoona, terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing. Canggung, itulah gambaran yang tepat untuk memperlihatkan interaksi keduanya. Sehun duduk di tepi ranjang sembari mengusap tengkuknya. Beberapa kali ia menghela napas dan hanya melemparkan pandangan ke sekeliling kamar. Sementara Yoona duduk bersandar pada headboards ranjang dengan posisi kedua lutut yang tertekuk.

Ini benar-benar memalukan, Yoona membatin sambil menundukkan kepala. Ia baru menyadari tindakan spontannya yang menginginkan kedatangan Sehun, setelah mengalami mimpi buruk tentang kejadian pembunuhan orang tuanya. Ia bahkan tanpa ragu memeluk pria itu begitu muncul dari balik pintu kamarnya.

“Kau baik-baik saja?” Sehun tampaknya mulai tak tahan jika harus berdiam saja tanpa ada obrolan di antara mereka. Kini matanya menatap Yoona yang masih menundukkan kepala.

“Yoona?” panggil Sehun lagi karena Yoona tak kunjung memberikan tanggapan.

Ne?” Yoona secara spontan berbalik tanya dengan sorot mata terkejut. Ketakutan yang sempat tergambar jelas di wajahnya seolah menghilang. Kini cucu ketiga dari pemilik Empire Group tersebut terlihat jauh lebih tenang.

Sehun tersenyum kecil, yang membuat Yoona kebingungan dan hanya memandanginya dengan raut datar. Sadar atau tidak, sekarang wanita itu sudah bisa berbicara lagi seperti semula.

“Ada apa?” tanya Yoona dengan kerutan di dahi yang semakin kentara.

“Kau tidak sadar jika kau baru saja berbicara denganku?” Sehun bertanya santai dengan ulasan senyum di wajah.

Bola mata Yoona melebar, seiring gerakan tangannya yang kini menyentuh bibirnya. Wajah Yoona memperlihatkan raut tidak percaya dengan keajaiban yang baru saja ia peroleh.

“Aku bisa bicara lagi …,” ujar Yoona tidak percaya, bersamaan dengan cairan kristal bening yang nyaris turun membasahi wajahnya, karena Sehun lebih dulu menyeka air mata Yoona. Pria itu mengulum senyum dan menatap Yoona dengan sorot mata hangat.

“Ya, kau sudah bisa berbicara lagi. Syukurlah,” ucap Sehun diimbangi helaan napas yang keluar dari sela-sela bibirnya.

“Ini … benar-benar keajaiban,” Yoona tak henti-hentinya mengungkapkan keharuan yang tengah ia rasakan. Ia kembali menyeka air matanya lalu mengulum senyum ke arah Sehun. Bagaimanapun Sehun adalah orang yang telah membuatnya memiliki rasa aman dan nyaman, sehingga ia begitu leluasa untuk mengeluarkan suaranya.

“Ternyata suaramu jauh lebih bagus dari yang aku kira,” puji Sehun spontan dan sontak membuat wajah Yoona memerah. Sadar dengan apa yang baru saja dilakukan, Sehun sendiri merasa malu hingga ia berdeham pelan.

“Oh iya, soal perjodohan kita, kau sudah mendengarnya dari pamanmu?” tanya Sehun tiba-tiba mengganti topik pembicaraan. Masa bodoh dengan situasi sekarang yang sebenarnya kurang tepat untuk membicarakan hal tersebut. Ia terlalu penasaran dengan keputusan yang diambil Yoona. Apakah wanita itu menerimanya atau tidak?

“Ya, aku sudah mendengarnya,” jawab Yoona singkat.

“Lalu—” Sehun menggigit bagian bawah bibir, “—apa keputusanmu?”

Yoona mendongak, ia memperhatikan Sehun yang terlihat gugup di depannya. Sorot mata pria itu tampak cemas, tapi tetap dipenuhi rasa penasaran.

“Kau sungguh-sungguh ingin melanjutkan perjodohan kita?” tanya Yoona memastikan.

Sehun mengangguk, kali ini menghadiahi sorot mata meyakinkan kepada Yoona, “Bahkan sebelum kau bisa berbicara lagi seperti sekarang, aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kembali perjodohan kita.”

“Katakan apa alasanmu menerimanya,” pinta Yoona membuat Sehun sedikit kaget. Ia tak bermaksud meragukan kesungguhan Sehun, karena Yoona bisa melihat dari sorot mata pria itu ketika menatapnya. Setidaknya, ia hanya ingin tahu alasan dibalik keinginan Sehun untuk melanjutkan perjodohan mereka kembali.

“Karena—” Sehun memejamkan matanya sejenak sembari mengatur napas, “—kurasa aku mulai menyukaimu.”

Mata Yoona melebar, sedikit kaget dengan pengakuan Sehun yang begitu tiba-tiba. Ia hanya terdiam saat mendapati Sehun kini terlihat kikuk dengan kepala yang tertunduk di depannya. Sadar jika diperhatikan, pewaris Kingdom Group itu merasa malu hingga mendesah pelan lalu melirik sekilas pada Yoona.

“Hei, jangan diam saja! Paling tidak katakan sesuatu,” Sehun berdecak kesal yang justru disambut tawa kecil oleh Yoona. Sehun yang melihat perkembangan pesat dari Yoona tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

“Cih, sekarang kau bahkan sudah bisa tertawa seperti itu,” cibir Sehun berpura-pura merajuk karena merasa dijadikan bahan tawa oleh wanita bermarga Im itu.

Yoona segera menghentikan tawanya yang berganti senyuman lebar. Di hadapannya kini, Sehun tampak seperti anak kecil yang sedang merajuk, sangat menggemaskan. “Kau banyak berubah, sangat berbeda dengan saat pertama kali kita bertemu,” ujarnya.

Sehun menoleh, lalu mengeluarkan seringaiannya, “Tapi wajahku tidak berubah, tetap terlihat tampan. Benar ‘kan?”

Yoona terlihat shock dengan tingkat kepercayaan diri Sehun yang begitu tinggi. Ia hanya tertawa geli dan tak berkomentar banyak. Sedetik kemudian tawanya seketika menghilang karena Sehun tiba-tiba menatapnya dari jarak yang sangat dekat.

“Se—Sehun?”

“Wajahmu juga tidak berubah, kau tetap terlihat cantik,” Sehun tersenyum hangat dan sadar atau tidak, semakin menambah kadar ketampanan Sehun yang membuat Yoona harus bersusah payah mengatur debaran jantungnya.

“Jadi, apa jawabanmu?” tanya Sehun kemudian tanpa berpindah posisi dan membiarkan dirinya begitu dekat dengan Yoona.

Yoona terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk pelan, “Baiklah, kita lanjutkan kembali perjodohan kita.”

“Benarkah?” Sehun ingin sekali berteriak atas kesenangan yang meluap dalam dirinya, usai mendengar jawaban dari Yoona.

“Kau adalah alasan kenapa aku ingin sekali bisa berbicara lagi. Aku juga merasa nyaman saat bersamamu,” lanjut Yoona sembari tersenyum. “Terima kasih, Oh Sehun.”

Yoona nyaris terkena serangan jantung ketika Sehun tiba-tiba menarik tubuhnya ke dalam dekapan pria itu. Yoona tidak percaya ketika ia merasakan debaran jantung Sehun yang begitu kuat, tak jauh berbeda dengan dirinya. Ia hanya terdiam sebelum akhirnya mengulum senyum karena kenyamanan itu memang selalu ia dapatkan tiap kali bersama Sehun. Walau Yoona belum mengakui bagaimana perasaannya terhadap Sehun, harus ia akui jika dirinya sangat membutuhkan pria itu.

KLEK!

“Yoona?” suara Tn. Hyunsung tiba-tiba terdengar bersamaan pintu kamar Yoona yang kini terbuka lebar. Kedatangannya bersama Ny. Nayoung dan Siwan, sontak membuat Sehun dan Yoona terlihat kikuk, terlebih saat posisi keduanya masih berpelukan satu sama lain. Secepat kilat Sehun dan Yoona melepas pelukan mereka lalu berdiri menghadap tiga orang yang sudah berdiri di dekat pintu. Sehun lagi-lagi hanya berdeham pelan, sementara Yoona menunduk malu di hadapan keluarganya sendiri.

“Apa kami mengganggu?” tanya Siwan dengan sengaja dan membuat wajah Sehun dan Yoona merah padam.

Oppa!” Yoona spontan saja merengek dan membuat Siwan terkejut. Reaksi serupa juga terlihat di wajah Tn. Hyunsung dan Ny. Nayoung. Ketiganya bergegas menghampiri Yoona yang seolah sadar dengan hal yang membuat keluarganya itu tampak kaget.

“Yoong, kau sudah bisa—”

“Kau sudah bisa berbicara lagi?” tanya Ny. Nayoung memotong ucapan Siwan yang kini masih berdiri mematung di belakangnya.

Yoona mengangguk, “Ne, ahjumma.”

Tak banyak kata yang keluar dari Ny. Nayoung, selain keharuan atas penantian panjang selama ini. Sang keponakan akhirnya bisa berbicara lagi seperti semula. Ny. Nayoung lantas memeluk Yoona seerat mungkin, tak kuasa menahan tangisnya yang terus terdengar bersamaan rasa syukur yang ia panjatkan pada Tuhan.

“Syukurlah, kau sudah—” bahkan Tn. Hyunsung sampai tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena terlalu bahagia, “Orang tuamu pasti sangat senang melihatmu kembali seperti semula.”

Ahjussi,” kali ini giliran Yoona yang menangis lalu berganti memeluk Tn. Hyunsung. Ia lalu menumpahkan air matanya dalam pelukan paman dan bibirnya yang sudah merawatnya sejak orang tuanya meninggal tersebut.

Siwan tersenyum melihat pemandangan mengharukan di depannya, kemudian melirik Sehun yang juga bereaksi sama. Ia mengusap bahu Sehun hingga membuat pria itu menoleh kepadanya.

“Terima kasih,” ucap Siwan tulus dengan senyum bahagia. Ya, harus ia akui Sehun memang telah berjasa besar dalam kemajuan kondisi Yoona.

Sehun mengangguk, kemudian kembali memandangi suasana haru yang tengah dirasakan keluarga di hadapannya tersebut. Dalam hati ia sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan kebahagiaan yang begitu luar biasa kepada mereka.

//

Selesai jam makan malam, Juhwan tak langsung kembali ke kamarnya, melainkan menemui ayahnya yang ia tahu selalu menghabiskan waktu di ruang kerja rumah mereka. Sejak pulang dari bekerja, Juhwan memang berniat menanyakan langsung kepada sang ayah, terkait kedatangan seorang pria yang dilihatnya pagi tadi. Juhwan begitu penasaran, ada hubungan apa antara pria itu dengan ayahnya?

KLEK!

Juhwan membuka pintu ruang kerja Tn. Hyunsik secara perlahan, takut mengganggu kesibukan pria paruh baya tersebut. Sepasang matanya berhasil menangkap sosok Tn. Hyunsik yang sedang sibuk memeriksa beberapa berkas dengan wajah sedikit tertekuk.

“Ada perlu apa kau datang ke sini?” agaknya Tn. Hyunsik memiliki kepekaan yang begitu tinggi. Hanya mendengar langkah kaki saja, ia sudah bisa menebak jika seseorang yang baru saja datang adalah putranya. Juhwan masih berdiri di dekat pintu karena terlalu kaget dengan reaksi sang ayah, sebelum akhirnya Tn. Hyunsik menoleh ke arahnya.

“Juhwan?”

Merasa namanya dipanggil, Juhwan terkesiap dan tersadar dari lamunannya. Ia lantas berjalan mendekati Tn. Hyunsik lalu menundukkan kepalanya. “Maaf, appa,” ucapnya merasa bersalah.

“Tidak apa-apa. Ada yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Tn. Hyunsik seperti sudah tahu maksud kedatangan Juhwan menemuinya.

Juhwan mengangguk, “Ini soal tamu yang menemui appa tadi pagi.”

Raut wajah Tn. Hyunsik seketika berubah setelah mendengar ucapan Juhwan, terlihat enggan untuk membahas topik pembicaraan mereka.

“Sebenarnya siapa pria itu?” tanya Juhwan dengan sorot mata serius.

“Kenapa kau begitu ingin tahu?” Tn. Hyunsik kembali fokus pada berkas yang tengah ia periksa.

“Aku ingat dia pernah datang saat pemakaman eomma dan juga orang tua Yoona,” jawab Juhwan. “Ada hubungan apa antara pria itu dengan keluarga kita?”

Tn. Hyunsik menghela napas, sebelum meletakkan sejenak pulpen yang dipegangnya lalu menatap Juhwan dengan wajah datar. “Dia hanya teman lamaku,” jawabnya santai.

“Teman lama?” Juhwan tidak percaya begitu saja dengan pengakuan Tn. Hyunsik yang terlihat mencurigakan. Menurutnya, hubungan sang ayah dengan pria itu tidak hanya sekedar teman, tampaknya seperti rekan bisnis atau semacamnya.

“Sudahlah, untuk apa kau bertanya tentang teman lama appa? Sebaiknya kau pergi tidur. Besok kau harus kembali bekerja,” potong Tn. Hyunsik sebelum Juhwan kembali memberikan pertanyaan padanya.

Juhwan terdiam untuk beberapa detik, sebelum akhirnya hanya mengangguki ucapan Tn. Hyunsik. Ia bisa melihat raut ketegasan dari ayahnya yang seolah tak ingin melanjutkan pembicaraan mereka. “Ne, appa. Selamat malam.”

Tn. Hyunsik mengawasi gerak-gerik Juhwan yang berjalan keluar dari ruang kerjanya. Ia menghela napas, lalu memijat pelipisnya untuk menghilangkan tekanan yang sempat ia rasakan selesai pembicaraan mereka. Ya, pembicaraannya dengan Juhwan berhasil membuat pikirannya kembali kacau. Tn. Hyunsik kembali teringat dengan obrolannya bersama pria yang membuat Juhwan penasaran, yang diakuinya sebagai teman lama—Jang Kiha.

/

“Mereka sudah mengganti pengacara dalam kasus ini?”

Tn. Hyunsik mengangguk, kemudian melemparkan pandangan memperingatkan kepada pria yang duduk di depannya—Jang Kiha. Pria itu adalah anak buahnya yang ia perintahkan untuk memimpin aksi pembunuhan terhadap orang tua Yoona.

“Kau harus lebih berhati-hati. Kim Jaeha dan putranya adalah orang yang sangat cerdas. Aku yakin mereka dengan mudah akan menemukan beberapa bukti yang telah kita sembunyikan,” ujar Tn. Hyunsik.

“Anda tidak perlu khawatir. Kami pasti akan lebih berhati-hati,” jawab Kiha yakin. Sebagai pimpinan dari kelompok aksi kejahatan itu, Kiha memang tidak bergerak seorang diri. Ia dibantu beberapa rekan untuk memuluskan rencana yang diperintahkan oleh pimpinan Empire Group tersebut.

“Sebenarnya bukan hanya mereka yang harus kita waspadai,” Tn. Hyunsik mengambil jeda beberapa detik, sebelum akhirnya memasang wajah serius bercampur cemas. “Sekarang aku jauh lebih khawatir terhadap keponakanku. Bagaimana jika seandainya dia bisa berbicara lagi dan mengingat semuanya?”

“Maksud Anda—Nona Yoona?”

Tn. Hyunsik mengangguk, “Kau masih ingat, teman Yoona yang juga terlibat dalam kecelakaan yang kau buat saat mereka masih kecil?”

“Seingat saya, nama temannya adalah Oh Sehun,” jawab Kiha.

“Bagus jika kau masih mengingatnya,” ucap Tn. Hyunsik sedikit tenang. “Apa kau tahu, adikku sekarang mengatur perjodohan antara Yoona dengan Sehun?”

Kiha terbelalak mendengar penjelasan dari Tn. Hyunsik, “Benarkah? Tapi—bukankah ingatan mereka hilang akibat kecelakaan itu?”

“Ya, ingatan mereka memang hilang. Tapi, seiring berjalannya waktu apalagi mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama, aku yakin ingatan mereka akan kembali. Jadi—” Tn. Hyunsik kini menatap serius kepada Kiha yang tampak gugup. Saat kecelakaan itu terjadi, Kiha lupa mengenakan penutup wajah. Setelah Yoona dan Sehun tertabrak oleh mobil yang dikemudikannya, mereka sama-sama sempat melihat wajahnya, meski akhirnya tidak sadarkan diri dan berakhir dengan ingatan mereka yang hilang.

“Kuharap kau jangan ceroboh dan selalu waspada dengan gerak-gerik mereka. Apa kau mengerti?” tanya Tn. Hyunsik dengan penakan nada yang membuat Kiha merinding.

Kiha mengangguk, “Ya, saya mengerti, Presdir.”

/

Tn. Hyunsik memandangi sebuah pigura foto yang diletakkan di atas meja. Sosok wanita cantik yang tengah tersenyum, membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.

“Ji Min, aku tahu kau pasti marah padaku,” kesedihan memenuhi raut wajah Tn. Hyunsik, kala ia memperhatikan foto mendiang istrinya—Han Ji Min. Namun detik berikutnya, wajah Tn. Hyunsik memperlihatkan aura kemarahan yang begitu besar, seolah mampu mengalahkan kesedihan yang sempat tergembar di wajahnya.

“Tapi aku tak bisa membiarkan mereka hidup bahagia, setelah apa yang mereka lakukan padaku. Membuatku kehilangan dirimu dan juga gagal mendapatkan hakku sebagai pewaris Empire Group, aku tak bisa membiarkan mereka begitu saja. Mereka harus merasakan kesedihan yang juga kurasakan saat itu,” ujarnya dengan kedua tangannya yang mengepal. Ia kemudian menatap tajam pada foto keluarga yang menampilkan dirinya bersama orang tua dan juga kedua adiknya. Saat pandangan Tn. Hyunsik tertuju pada foto mendiang sang adik—Tn. Hyunjae, hanya ada sorot mata kegelapan di sana.

//

Tn. Taekyung dan Ny. Hyejin bingung dengan kepulangan Sehun yang tampak begitu senang ketika sampai di rumah. Senyum lebar terus terpatri di wajah putra tunggal mereka itu. Entah terlalu senang atau memang tak menyadari keberadaan orang tuanya, Sehun berjalan melewati pasangan suami istri yang sedari tadi menunggunya di ruang tengah.

“Kau dari mana?”

Sehun terus bersenandung tanpa henti dan berjalan menuju kamarnya. Sepertinya ia tak mendengar pertanyaan yang diberikan Ny. Hyejin kepadanya. Tak pelak sikap Sehun itu membuat orang tuanya saling memandang dengan kerutan di dahi masing-masing.

“Oh Sehun!”

Merasa namanya dipanggil, barulah Sehun menoleh hingga ia kembali memperlihatkan senyum lebar pada orang tuanya.

“Oh, selamat malam, appa, eomma …,” sapa Sehun di luar kebiasaan. Ny. Hyejin bergidik melihat sikap putranya yang begitu ramah, mempertegas jika malam ini Sehun terlihat berbeda. Bahkan rasanya baik Tn. Taekyung mau pun Ny. Hyejin seperti tak mengenali sosok putra mereka.

“Kau baik-baik saja, ‘kan?” tanya Ny. Hyejin khawatir, setelah ia berjalan mendekati Sehun. Pria itu berhenti di anak tangga yang menghubungkan lantai 1 dengan lantai 2.

“Aish, apa maksud eomma bertanya seperti itu? Tentu aku baik-baik saja,” jawab Sehun sedikit tersinggung. “Sudahlah, aku mau pergi tidur sekarang. Selamat malam.”

“Kau sudah makan malam?” tanya Ny. Hyejin lagi mengingat Sehun keluar dari rumah sebelum jam makan malam.

Sehun berbalik dan kembali mengulum senyum, “Sudah, aku makan malam di rumah Yoona.”

Ny. Hyejin memandangi Sehun yang berjalan begitu ringan menaiki setiap anak tangga. Ia terbengong dengan kelakuan putranya yang menurutnya—aneh. Ny. Hyejin segera berjalan menghampiri suaminya yang justru memperlihatkan reaksi berbeda dengannya—jauh lebih tenang dan hanya tersenyum memandangi arah yang baru saja dilalui Sehun.

“Kau lihat? Apa menurutmu terjadi sesuatu antara Sehun dan Yoona?” tanya Ny. Hyejin penasaran.

Tn. Taekyung tertawa geli melihat reaksi istrinya yang begitu penasaran dengan kondisi Sehun. “Mana aku tahu. Sebaiknya kau tanya sendiri pada Sehun,” jawabnya santai.

Ny. Hyejin mendesis sembari mengibaskan tangannya, “Kau ini jangan terlalu cuek dengan anakmu.”

“Aku hanya tidak mau terlalu ikut campur urusan Sehun. Apalagi jika ada kaitannya dengan wanita,” sahut Tn. Taekyung membela diri. “Lagipula, dari wajahnya yang terlihat bahagia, artinya ada kemajuan antara mereka.”

Mendengar jawaban Tn. Taekyung, mata Ny. Hyejin berbinar, “Apa menurutmu Yoona bersedia melanjutkan perjodohan mereka kembali?”

“Mungkin saja,” jawab Tn. Taekyung. Keduanya lalu tertawa bersama tiap kali mengingat ekspresi wajah Sehun saat tiba di rumah beberapa menit yang lalu.

Sementara itu, Sehun yang sudah berada di kamar, tampak merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya malam ini Sehun tak bisa tidur cepat, karena terlalu bahagia dengan apa yang terjadi hari ini. Yoona yang sudah bisa bicara dan perjodohan mereka yang dilanjutkan kembali, membuat Sehun ingin cepat-cepat memberitahukan kabar menggembirakan itu kepada Jongin, Chanyeol, dan Baekhyun. Ia merubah posisinya—duduk di atas ranjang, lalu merogoh ponselnya dari saku celana. Sehun kemudian membuka sebuah fitur group chat yang ada pada akun SNS miliknya. Baru saja ia ingin mengetikkan sebuah pesan, Sehun justru mendapati pesan lain bermunculan di dalam group chat. Sepertinya tiga sahabatnya itu sudah saling mengobrol lebih dulu.

Chanyeol

Berita besar, Soojung sudah kembali ke Korea.

Baekhyun

Benarkah?😯

Jongin

Kau tahu dari mana?

Jangan asal menyebarkan berita yang belum jelas, Tuan Park😛

Chanyeol

Ya! Aku berkata yang sebenarnya!😐

Aku melihat berita itu tadi siang di TV.

Baekhyun

Kukira kau tidak pernah tertarik mengikuti berita yang ada TV.

Kerjaanmu kan hanya berkencan dengan kameramu itu😛

Chanyeol

Apa maksudmu, Tuan Baek?

Kau cemburu dengan kameraku, eoh?😉

Jongin

Hentikan -____-

Jangan menodai obrolan di sini dengan percintaan kalian

Baekhyun

Ya, Kim Jongin!

Chanyeol

Aish, kurasa Jongin hanya iri karena pasangannya belum muncul -__-

Di mana Sehun? Kenapa dia belum muncul?O_o

Jongin

Enak saja, aku masih pria normal

Sehun terlalu sibuk dengan Yoona👿

Baekhyun

Benar, karena Yoona sudah mengalihkan pandangan Sehun dari Soojung😀

Sehun meletakkan ponselnya ke atas nakas, enggan membaca lanjutan dari obrolan yang dilakukan ketiga sahabatnya dalam group chat. Ia bingung—tepatnya shock, mengetahui kabar kembalinya wanita bernama Soojung. Sebenarnya kabar tersebut tidak lah terlalu bagus—menurut Sehun. Hal itu justru membuat pria bermarga Oh itu kembali menggali memori lamanya, tentang wanita itu yang bernama lengkap Jung Soojung. Selain berstatus sebagai teman semasa kuliah, Soojung sebenarnya adalah cinta pertama Sehun. Sayang, Soojung menolak cinta Sehun, karena ia ingin fokus mengejar karir di bidang modelling.

“Jadi, Soojung sudah kembali?” gumam Sehun mendadak hilang konsentrasi. Ia kembali berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Sesaat ia merutuki kebodohannya yang terpengaruh dengan obrolan ketiga sahabatnya.

“Untuk apa aku memikirkannya? Bukankah sekarang sudah ada Yoona?” gumam Sehun secara tidak langsung membenarkan pendapat Baekhyun. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kembalinya Soojung ke Korea. Toh, sekarang ia sudah sepakat melanjutkan kembali perjodohannya dengan Yoona.

“Tapi, aku masih belum tahu bagaimana perasaan Yoona terhadapku? Dia hanya berkata merasa nyaman saat bersamaku,” lagi-lagi Sehun terlalu disibukkan dengan berbagai pemikiran yang muncul di kepalanya.

“Sudahlah, aku percaya pada Yoona,” ucap Sehun tak mau ambil pusing.

.

.

.

.

.

Sebelum cahaya matahari masuk ke kamarnya, Yoona sudah lebih dulu bangun dengan wajah ceria. Hari ini ia begitu semangat menyambut hari baru, di mana dirinya sudah bisa berbicara lagi seperti semula. Yoona tak perlu lagi berkomunikasi melalui notes yang menemaninya selama belasan tahun. Kini ia bisa berkomunikasi dengan kemampuannya sendiri, tanpa harus meminta bantuan orang lain.

“Terima kasih, Tuhan. Aku bersyukur atas apa yang Engkau berikan padaku,” ucap Yoona memanjatkan doa. Pandangannya beralih sejenak pada pigura foto yang memperlihatkan potret dirinya bersama kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Untuk kesekian kali, Yoona kembali meneteskan air mata haru.

Appa, eomma, apa kalian melihatku dari sana?” Yoona tersenyum haru sembari mengusap pigura foto tersebut. “Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Aku baik-baik saja.”

Mendadak raut wajah Yoona berubah serius, ketika ia tanpa sengaja mengingat kembali peristiwa kelam yang menewaskan kedua orang tuanya. Ketakutan itu masih ada dalam benak Yoona tiap ia mengingat peristiwa tersebut, tapi kali ini ia tak bisa menghindarinya lagi. Seperti yang pernah Changwook katakan, Yoona harus berani melawannya. Selain itu, sudah menjadi kewajibannya untuk menceritakan apa yang dilihatnya pada hari itu, di mana orang tuanya tewas dibunuh di hadapannya sendiri.

“Sebaiknya aku memberitahu Jongin. Aku juga masih membutuhkan bantuan Changwook-oppa,” gumam Yoona. Entah mendapat keberanian dari mana, yang pasti Yoona ingin sekali kasus pembunuhan orang tuanya segera selesai dan terungkap siapa pelakunya.

Saat Yoona melirik ranjang tidurnya, semburat rona merah menghiasi wajahnya. Kali ini wanita itu mengingat kejadian semalam ketika Sehun menenangkannya setelah mengalami mimpi buruk. Yoona bersumpah, sampai detik ini jantungnya berdebar tidak karuan setiap kali mengingat moment tersebut.

“Kurasa aku mulai menyukaimu.

Tangan Yoona memegangi kedua sisi pipinya yang terasa panas. Ia tidak tahu seperti apa tampang wajahnya semalam kala Sehun mengakui perasaannya.

“Oh, kurasa aku sudah mulai gila,” Yoona menggelengkan kepalanya, mencoba menetralisir debar jantungnya yang tidak beraturan. Ia pun bergegas keluar dari kamar untuk mengikuti sarapan bersama dengan yang lain.

“Selamat pagi, Nona.”

Yoona baru saja menuruni tangga dari kamarnya. Ia mengulum senyum kepada Kepala Pelayan Baek yang menyambutnya dengan senyum hangat.

“Selamat pagi, Kepala Pelayan Baek,” balas Yoona. “Kau tahu, sudah lama sekali aku ingin mengatakan hal ini. Akhirnya aku bisa juga melakukannya.”

Kepala Pelayan Baek mengangguk, lalu tersenyum haru. “Saya senang, sekarang Nona sudah bisa berbicara lagi,” ucapnya penuh rasa haru.

Bibir Yoona terus tertarik membentuk lengkungan senyum. Tangannya kini menepuk-nepuk bahu Kepala Pelayan Baek. “Terima kasih atas bantuanmu selama ini. Kurasa aku sudah banyak menyulitkanmu,” ujarnya lalu melirik kepada beberapa pelayan yang turut bahagia dengan kemajuan kondisinya.

“Tidak, Nona. Ini memang sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani Anda,” sahut Kepala Pelayan Baek rendah hati.

“Yoona?” suara pelan Siwan berhasil mengalihkan pandangan Yoona. Wanita itu langsung berlari menghampiri Siwan yang baru saja turun mendekatinya.

Oppa!” Yoona bergelayut manja di lengan Siwan, sembari menyunggingkan bibirnya. Sementara Siwan tak banyak berkomentar karena terlalu senang dengan kemajuan Yoona.

“Aku rindu bisa berbicara denganmu seperti ini. Sudah lama sekali,” bisik Siwan sembari membelai kepala Yoona.

Ne¸ aku pun juga merindukannya,” balas Yoona terkekeh geli.

“Kurasa orang tuaku juga ingin berbicara banyak denganmu. Ayo kita ke ruang makan,” ajak Siwan yang dibalas anggukan semangat dari Yoona.

//

“Kau baik-baik saja?”

Changwook melirik sekilas ke arah Yuri yang tengah duduk di depannya. Perlu diketahui, pagi ini secara mengejutkan Yuri datang ke kantor Changwook untuk sekedar menanyakan kondisinya. Alasan lain yang membuat Yuri melakukannya, ia begitu penasaran dengan perasaan Changwook terhadap Yoona. Pasalnya, setelah mengetahui Yoona sudah dijodohkan dengan pria lain, Changwook tampak terpukul dan tak bersemangat seperti sebelumnya.

“Kau datang pagi-pagi sekali hanya untuk menanyakan hal itu? Aigo, kau sungguh perhatian,” Changwook memandangi Yuri dari jarak dekat, membuat wanita itu mendesah pelan.

“Jangan mengalihkan topik pembicaraan!” Yuri sedikit menegaskan nada bicaranya, tanda bahwa ia sedang tak ingin bercanda dengan siapapun.

Kali ini Changwook terkekeh pelan melihat ekspresi wajah Yuri yang begitu serius. “Memangnya apa yang membuatku tidak baik-baik saja?” tanyanya santai.

“Jadi kau belum tahu?” Yuri sedikit menyipitkan matanya, “Tentu saja soal Yoona yang sudah dijodohkan dengan pria lain.”

Changwook menghentikan gerakan tangannya yang sedang membalik halaman buku yang ia baca. Sementara Yuri, wanita itu terkekeh pelan mengetahui dugaannya memang tidak meleset—Changwook menyukai Yoona. Walau tak mendengarnya langsung dari pria itu, Yuri bisa melihatnya dari sorot mata Changwook saat membicarakan Yoona atau pun menatap wanita itu.

“Kau—begitu shock mengetahui Yoona sudah dijodohkan dengan pria lain. Itu karena kau menyukainya, benar ‘kan?” Yuri mengeluarkan seringaiannya, bersiap menggoda Changwook yang tampaknya akan memberikan bantahan soal pendapatnya.

“Tidak. Aku hanya—”

Yuri melambaikan tangannya di wajah Changwook, “Sudahlah, tak perlu mengelak. Aku sudah tahu.”

Changwook mendesis kesal, “Dari mana kau tahu? Aku bahkan tidak pernah mengatakan apapun padamu.”

“Yeah, sudah kuduga reaksimu seperti ini,” Yuri berdecak sembari menggelengkan kepala, “Aku bisa melihatnya dari bahasa tubuhmu tiap kali berinteraksi dengan Yoona. Sorot matamu itu—ketika menatap Yoona terlihat sangat hangat dan meneduhkan. Aku bisa merasakannya. Bahkan genggaman tanganmu waktu Yoona menjalani terapi, kau seperti tak ingin melepaskannya begitu saja.”

“Cih, kau ini—” belum sempat Changwook membalas, tiba-tiba saja ia mendengar ponselnya berdering keras. Dahinya sedikit berkerut ketika ia melihat nama Siwan terpampang di layar ponsel.

Yeoboseyo,” sapa Changwook, sesekali ia melirik sekilas pada Yuri. Bibirnya kemudian bergerak memberi isyarat jika Siwan yang meneleponnya.

“Tidak, aku sedang bersama Yuri sekarang. Ada apa?” tanya Changwook dengan kerutan di dahi. Yuri yang duduk di depan Changwook, akhirnya ikut penasaran dan semakin mendekatkan posisinya agar bisa mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Benarkah?” Changwook tiba-tiba saja berteriak dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Reaksinya itu membuat Yuri semakin penasaran, berharap agar dirinya segera mengetahui informasi yang disampaikan Siwan.

“Tentu, jika dia memang sudah berbicara lagi, semakin mudah bagi Yoona untuk menceritakan apa yang dia lihat pada waktu kejadian itu,” sahut Changwook tetap fokus mengobrol dengan Siwan, ia abaikan ekspresi wajah Yuri yang seperti haus akan informasi yang lebih dulu ia peroleh.

“Baiklah, kabari aku jika Yoona ingin melakukan terapi selanjutnya,” ucap Changwook lalu kembali fokus mendengarkan kelanjutan dari Siwan.

“Ah, tidak masalah jika dia belum bisa menemuiku sekarang. Aku sangat senang mendengar kabar bahagia ini. Sampaikan salamku pada Yoona. Selamat atas kemajuannya,” kata Changwook sebelum ia mengakhiri obrolan mereka.

Yuri memandangi ponsel Changwook yang baru saja diletakkan di atas meja. “Apa yang dikatakan Siwan hingga membuat wajahmu berseri seperti sekarang?” tanyanya penasaran.

“Ini benar-benar kabar bagus, Yuri. Kau pasti tidak akan percaya mendengarnya,” jawab Changwook membuat Yuri semakin penasaran.

“Hei, cepat beritahu aku. Memangnya kabar bahagia apa?” desak Yuri tak sabar.

“Yoona—” Changwook mengambil jeda sebentar, sementara Yuri masih menatapnya dengan antusias.

“Dia sudah bisa berbicara lagi,” lanjut Changwook yang segera disambut teriakan histeris dari Yuri.

“Benarkah? Dia sudah bisa berbicara lagi?” tanya Yuri memastikan, dan anggukan Changwook kembali membuatnya larut dalam euforia kegembiraan atas berita tersebut.

“Tapi, bagaimana bisa? Ini kemajuan yang sangat pesat dan menurutku sangat cepat,” mendadak Yuri ingin tahu penyebab Yoona bisa berbicara lagi.

Pemikiran Yuri sontak membuat Changwook terdiam, sebelum akhirnya hanya tersenyum tipis. “Itu karena kekuatan cinta,” jawabnya.

Yuri memandangi Changwook dengan tatapan yang sulit diartikan, agaknya ia bingung dengan jawaban yang diberikan pria itu.

“Kurasa karena pria itu—” Changwook berusaha mengingat nama pria yang dijodohkan dengan Yoona. “—ah, kalau tidak salah namanya Sehun. Ya, kurasa karena pria itu, motivasi Yoona untuk bisa berbicara lagi sangatlah kuat dibandingkan sebelumnya. Kekuatan cinta benar-benar hebat.”

Yuri menarik kursi yang semula ia duduki, lalu mengulum senyum ke arah Changwook yang kini memandangi arah lantai. “Kau kecewa karena bukan dirimu yang membuat Yoona bisa berbicara lagi?”

Changwook sedikit tersentak dengan pertanyaan yang terlontar dari Yuri. Ia hanya menanggapinya dengan santai, “Tidak, Kwon Yuri. Aku sama sekali tidak kecewa. Sebaliknya, aku justru sangat senang karena pada akhirnya Yoona bisa berbicara lagi. Aku juga senang karena aku membantunya dalam terapi itu, meskipun pengaruh besar yang ia peroleh berasal dari pria itu. Sama sekali tidak masalah bagiku. Asalkan Yoona bahagia, aku juga merasa bahagia.”

//

Siwan memandangi layar ponselnya yang kini sudah kembali dalam keadaan normal. Bibirnya melengkung sempurna setelah ia baru saja memberitahu Changwook tentang kondisi Yoona yang kini sudah bisa berbicara. Saat ia hendak memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, mata Siwan justru lebih dulu menangkap sosok Juhwan yang berjalan dari arah yang berlawanan. Hal itu lantas mendorong Siwan mengejar kakak sepupunya tersebut yang kini menatapnya dengan heran.

“Ada apa? Kau terlihat sangat senang,” tanya Juhwan heran melihat senyum mengembang yang terus terpatri di wajah Siwan.

Siwan mengangguk, lalu terkekeh pelan, “Ini soal Yoona, hyung. Dia … sudah bisa berbicara lagi.”

“Benarkah? Dia sudah bisa berbicara lagi?” Juhwan terbelalak dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Siwan berulang kali menganggukan kepala, meyakinkan pada kakak sepupunya jika apa yang ia katakan adalah kebenaran.

“Kemarin Yoona menjalani terapi bersama Changwook, yang aku tahu memang difokuskan mengatasi ketakutannya untuk berbicara. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri Yoona hingga ia mengalami kemajuan yang sangat pesat, dan akhirnya bisa berbicara lagi,” jelas Siwan panjang lebar, sedetik kemudian mengulas senyum di wajahnya. “Tapi, kurasa ini semua karena kekuatan cinta.”

“Kekuatan cinta?” Juhwan mengerutkan dahinya dengan ekspresi wajah yang tampak bingung.

“Ini karena Sehun,” jawab Siwan kemudian. “Sehun, kurasa dia sudah memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan kondisi Yoona. Kau tahu, kata pertama yang keluar dari Yoona saat terapi adalah nama Sehun. Lalu, saat dia terbangun karena mimpi buruk semalam, dia terus memanggil-manggil nama Sehun, bahkan meminta untuk bertemu dengannya. Selanjutnya kondisi Yoona kembali stabil dan … dia bisa berbicara lagi.”

Decak kagum terus keluar dari Juhwan, usai mendengar penjelasan yang diberikan Siwan kepadanya. “Sekarang aku mengerti, ini alasan ayahmu sengaja menjodohkan Yoona dengan Sehun,” tiba-tiba saja Juhwan mengeluarkan kalimat yang sukses membuat kerutan di dahi Siwan.

“Apa maksudmu, hyung?” tanya Siwan tidak mengerti—tepatnya belum memahami arti pendapat yang keluar dari kakak sepupunya tersebut.

Juhwan hanya mengulas senyum, sementara dalam kepalanya kembali teringat obrolan yang pernah ia lakukan bersama Tn. Hyunsung beberapa waktu lalu—kalau tidak salah satu hari setelah Yoona tenggelam di kolam renang Hotel Royal.

/

“Juhwan?” Tn. Hyunsung terkejut, melihat keponakannya tiba-tiba saja datang menemuinya di ruang kerja. Ia langsung mempersilakan Juhwan untuk duduk di sofa yang tersedia.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu, ahjussi,” ucap Juhwan dengan nada serius. “Maaf, jika kedatanganku mengganggumu.”

Tn. Hyunsung tertawa kecil melihat sikap Juhwan yang selalu merasa sungkan terhadapnya, “Sama sekali tidak. Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan.”

“Kenapa—ahjussi menjodohkan Yoona dengan Sehun?” tanya Juhwan kemudian yang disambut reaksi kaget Tn. Hyunsung. Juhwan mengamati gelagat pamannya yang terlihat mengambil jeda untuk berpikir, sebelum akhirnya hanya tawa yang didengarnya.

“Kenapa kau sangat ingin tahu? Siwan saja tak pernah menanyakannya padaku,” Tn. Hyunsung berbalik tanya dan membuat Juhwan tersenyum simpul.

“Aku sendiri juga tidak tahu, hanya saja—” Juhwan berdeham pelan, “—Yoona terlihat berbeda sejak mereka bertemu. Dan malam itu setelah Sehun menolongnya, aku bisa melihat raut bahagia dari wajah Yoona untuk pertama kali, sejak Hyunjae-ahjussi dan Yunhi-ahjumma meninggal.”

“Jadi kau juga merasakannya?” pertanyaan Tn. Hyunsung membuat Juhwan mengerutkan dahinya. “Ah, sepertinya kau dan Siwan memang sudah melupakan kejadian di masa lalu.”

“Ahjussi—aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan,” sela Juhwan.

Tn. Hyunsung mengulum senyum, “Kalian benar-benar lupa? Yoona dan Sehun, saat kecil mereka adalah teman. Tapi karena sebuah kecelakaan yang melibatkan keduanya, ingatan mereka sama-sama hilang sampai sekarang.”

/

Siwan nyaris tak bisa berkomentar usai mendengar cerita yang disampaikan. Matanya tak berkedip, tidak menyangka jika Juhwan ternyata lebih dulu mengetahui alasan ayahnya menjodohkan Yoona dengan Sehun. Satu hal lainnya yang membuat Siwan merasa bodoh bahwa dirinya juga melupakan sosok pewaris Kingdom Group tersebut. Sejatinya di masa lalu, mereka juga pernah berinteraksi satu sama lain.

“Astaga, kenapa aku bisa lupa dengan kejadian itu?” runtuk Siwan dengan tampang polos, membuat Juhwan terkikik geli menatapnya.

“Bukan hanya kau, aku pun juga lupa. Kurasa karena sejak kecelakaan itu, kita tak pernah berkomunikasi lagi dengan keluarga Oh. Kau ingat, luka yang paling parah didapat oleh Sehun, sehingga ia harus dibawa ke luar negeri untuk menjalani perawatan. Selain itu, Yoona dan Sehun sama-sama kehilangan ingatan mereka. Praktis, Yoona tak pernah membicarakan sosok Sehun lagi hingga akhirnya kita sama-sama melupakannya,” tutur Juhwan mendetail.

Siwan menpuk pelan keningnya, sembari mengggelengkan kepala, “Dunia ini benar-benar sempit. Pantas saja, setiap kali melihat mereka berinteraksi, aku merasa ada sesuatu yang dengan mudah mendekatkan mereka. Ternyata ini alasannya.”

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku, hyung?” tanya Siwan lagi.

Juhwan sedikit kaget melihat sikap protes Siwan yang ditujukan padanya.

“Bahkan ayahku juga tidak mengatakan apapun padaku,” lanjut Siwan kesal karena merasa ketinggalan informasi yang begitu penting.

“Salahmu sendiri tidak pernah bertanya,” ledek Juhwan yang segera berjalan meninggalkan Siwan.

Hyung!” Siwan tak terima dengan sikap Juhwan. Ia berlari mengejarnya dan membalas ejekan kakak sepupunya tersebut, tentunya tidak lepas dengan perasaan bahagia mereka terkait kondisi Yoona.

Tanpa Juhwan dan Siwan sadari, Tn. Hyunsik yang berdiri tak jauh dari posisi mereka, tidak sengaja telah mendengar pembicaraan keduanya. Raut wajah pimpinan Empire Group tersebut terlihat memerah dengan tangannya yang kini mengepal kuat, menyiratkan bahwa dirinya tak senang dengan kabar bahagia tersebut.

//

“Nona, kita sudah sampai.”

Yoona melirik sekilas pada toko alat musik yang kini berada di depannya. Toko alat musik yang berada di lingkungan Apgujeong itu tampak sudah didatangi oleh beberapa pengunjung. Yoona memang kerap mengunjungi toko tersebut, hanya sekedar melihat beberapa alat musik yang ia sukai, selain piano. Terkadang Yoona juga memainkannya, meski tak semahir saat ia memainkan piano.

Tak jauh dari posisi Yoona, sebuah mobil terlihat melintas di depan toko alat musik yang baru saja dimasukinya. Sosok pria yang berada di dalam mobil tersebut memandangi Yoona tanpa henti.

“Tuan Muda Woobin,” suara sekertaris pribadinya—Sekertaris Ahn, tak berhasil mengalihkan pandangan Woobin yang berada dalam mobil tersebut. Matanya terus mengawasi Yoona yang kini berada di dalam toko alat musik yang baru saja dilaluinya.

“Berhenti!” tiba-tiba saja Woobin menyuruh supir untuk memberhentikan mobil yang ia naiki. Sekertaris Ahn yang duduk di sebelahnya nyaris terpental ketika mobil tiba-tiba saja berhenti secara mendadak. Sedetik kemudian ia dikejutkan dengan keluarnya Woobin dari mobil tanpa mengatakan apapun padanya.

“Tuan Muda!” Sekertaris Ahn berusaha memanggil Woobin namun tak didengar karena pria itu nyatanya sudah berada di seberang jalan.

Woobin tak peduli dengan panggilan Sekertaris Ahn yang cukup mampu mengalahkan suara bisingnya kendaraan yang berlalu lalang di sekitarnya. Saat ini ia hanya peduli dengan sosok wanita yang baru saja dilihatnya.

Langkah kaki Woobin membawanya pada toko musik yang dimasuki Yoona beberapa waktu lalu.

“Apa yang sedang dilakukannya?” gumam Woobin penasaran ketika melihat Yoona tampak berinteraksi dengan pemilik toko alat musik tersebut. Ia sedikit heran, selama ini yang ia tahu Yoona dalam kondisi bisu, artinya tidak bisa berbicara. Tapi apa yang baru saja dilihatnya, jelas memperlihatkan bahwa Yoona tampak normal, bisa berbicara seperti kebanyakan orang.

“Aneh,” Woobin terus menggumam hingga tanpa sadar Yoona sudah keluar dari toko tersebut. Ia segera mencari tempat bersembunyi agar tak ketahuan oleh wanita itu. Dilihatnya Yoona sedang berjalan ke arah yang lain, untung saja menjauhi posisinya. Rasa penasaran yang begitu besar, akhirnya mendorong Woobin mengikuti langkah wanita itu. Masa bodoh jika ia dianggap seperti penguntit, ia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Yoona.

Woobin sedikit menjaga jarak ketika Yoona beberapa kali berhenti sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling, hingga berikutnya wanita itu tampak bersiap menyeberang jalan. Sepertinya Yoona bermaksud mendatangi toko kue yang berada di seberang jalan.

Baru beberapa langkah Woobin hendak mendekati Yoona, tiba-tiba saja ia justru melihat sebuah mobil melaju kencang dari sisi kanan. Pandangan Woobin langsung beralih pada Yoona yang diketahuinya masih sibuk menatap lurus ke depan, tanpa mengetahui ada mobil yang bersiap menabraknya jika ia tak segera menghindar.

“AWAS!” secepat kilat Woobin berusaha berlari untuk menyelamatkan Yoona. Teriakannya itu berhasil membuat Yoona menoleh ke arah mobil yang baru diketahuinya sudah sangat dekat dengan posisinya sekarang. Tiba-tiba saja tubuhnya menegang hingga sulit untuk digerakkan. Yoona seperti melihat sebuah bayangan masa lalu yang membuat justru tetap berdiri mematung.

Sedetik kemudian, mata Yoona terpejam ketika ia merasakan seseorang menarik tubuhnya. Hal yang diketahui Yoona selanjutnya adalah ia sudah berada di sisi jalan semula. Yoona merintih ketika merasakan kepalanya sedikit berdenyut, namun kemudian ia terbelalak begitu menyadari sosok pria yang berada di sebelahnya.

“Kau baik-baik saja?”

Yoona menganggukkan kepalanya berulang kali, persis seperti robot. Sementara pria itu—Woobin, tampak merintih kesakitan sembari memegangi lengannya. Sedetik kemudian Yoona tenganga begitu menyadari lengan kanan Woobin terluka karena membentur bibir jalan. Ia bisa melihat warna merah yang tampak keluar menembus pakaian Woobin.

Oppa, lenganmu terluka,” ucap Yoona yang kemudian membuat Woobin menoleh kaget.

“Kau—” Woobin tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Ikutlah denganku. Akan kuobati lukamu itu,” saran Yoona tetap bersikap panik, tak menghiraukan ekspresi wajah Woobin yang terlihat bingung.

//

Sehun terus-menerus memberikan senyum lebarnya pada Jongin, Chanyeol, dan Baekhyun. Mereka kini tengah menghabiskan waktu makan siang bersama di restoran favorit mereka. Sehun baru saja menceritakan pada tiga sahabatnya jika Yoona sudah bisa berbicara lagi dan—jangan lewatkan soal perjodohan mereka yang kembali dilanjutkan seperti rencana awal.

“Hentikan, Oh Sehun! Kau membuatku jijik jika terus tersenyum seperti itu,” Chanyeol bergidik sembari menggeser posisinya menjauh dari Sehun. Hal serupa juga dilakukan Baekhyun dan Jongin. Tampaknya ketiga pria itu mulai tak betah dengan sikap berlebihan Sehun yang kelewat terlalu senang.

Tak ingin melepas kesempatan untuk membalas kejahilan ketiga sahabatnya yang lebih dulu membicarakannya dalam group chat semalam, Sehun terlihat mengeluarkan seringaiannya.

“Kalian tega menjauhiku seperti ini?” kini Sehun memasang wajah memelas yang membuat Baekhyun nyaris tersedak minuman yang baru saja diteguknya. Terlebih ketika tangan Sehun dengan mudahnya merangkul Jongin, kemudian berjalan-jalan nakal di sekitar dada bidangnya.

“Ya, Oh Sehun!” Jongin ingin sekali menghadiahi pukulan di wajah Sehun ketika pria itu justru tersenyum menyeringai kepadanya. “Aku masih normal!” amuk Jongin.

“Kenapa? Kau tidak iri dengan Chanyeol dan Baekhyun? Semalam saja mereka begitu mesra, meskipun hanya dalam group chat,” Sehun tampak memasang aegyo dan membuat nafsu makan Jongin hilang seketika.

“Ya, ya, ya!” Chanyeol akhirnya menyadari tingkah Sehun yang begitu aneh kali ini. “Kau sudah membaca obrolan kami di group chat.”

“Benar, aku sudah membacanya!” tiba-tiba saja Sehun kembali normal seperti semula. Ketiga sahabatnya langsung menjaga jarak dengan Sehun ketika mereka mendapati tatapan tajam menusuk dari pria bermarga Oh itu. Mereka hanya meringis lebar lalu bersikap manis layaknya anak kecil yang penurut.

“Kalian seenaknya saja membicarakan diriku. Dasar curang!”

Chanyeol tertawa kikuk saat Sehun paling lama menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi. Ya, kali ini ia sadar betul jika Sehun sedang marah kepadanya.

“Hei, aku hanya memberitahu apa yang kuketahui soal Soojung. Sama sekali tidak bermaksud apa-apa, sungguh,” Chanyeol mengangkat tangannya, berusaha meyakinkan Sehun jika dirinya sama sekali tidak berkeinginan untuk mempengaruhi suasana hati Sehun.

“Tapi berita yang kau sampaikan membuat suasana hati Sehun menjadi kacau,” bukannya membantu, Baekhyun justru berbalik menyudutkan Chanyeol yang segera dibalas tatapan tajam dari Chanyeol, seolah berkata pada Baekhyun ‘dasar, tidak setia kawan!’

“Bukankah kau sudah ada Yoona?” Jongin mencoba menghentikan perang dingin di depannya. “Seharusnya tidak perlu marah jika Chanyeol memberitahukan berita kepulangan Soojung. Dia hanya masa lalumu.”

“Aku tahu,” Sehun menyandarkan punggungnya sembari menghela napas. Dalam hati ia tersenyum puas setelah berhasil membalas Chanyeol, terlebih ketika ia masih mendapati wajah Chanyeol yang begitu memelas di depannya. “Aku hanya bercanda, Park Chanyeol.”

“Ya! Kupikir kau benar-benar marah padaku!” amuk Chanyeol merasa bodoh karena berhasil dikerjai Sehun. Sementara Sehun hanya menjulurkan lidah kepadanya, lalu tertawa keras hingga disusul Baekhyun dan Jongin.

“Jadi, tidak masalah jika nantinya kau bertemu lagi dengan Soojung?” tanya Jongin tiba-tiba, membuat suasana tawa di sekitar mereka berubah serius.

Sehun mengangguk, “Sama sekali tidak. Dia hanya masa laluku, dan masa depanku sekarang adalah Yoona.”

Chanyeol tersenyum simpul mendengar jawaban tegas dari Sehun. “Ya sudah, secepatnya kau harus mengenalkan calon istrimu itu kepada kami.”

“Tentu saja. Akan kuajak Yoona di pameran galeri fotomu akhir minggu ini,” jawab Sehun santai lalu tersenyum lebar. Mendadak pandangannya beralih sejenak pada ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Sebuah panggilan masuk dari Kepala Pelayan Baek.

“Ya, ada apa?” tanya Sehun setelah menjawab telepon dari kepala pelayan di rumah Yoona tersebut. Detik berikutnya mata Sehun membulat sempurna ketika ia mendengarkan informasi yang disampaikan Kepala Pelayan Baek. Reaksinya itu membuat ketiga sahabatnya hanya saling memandang dengan raut bingung di wajah masing-masing.

//

“Tahan sebentar …”

Woobin sedikit meringis ketika Yoona mengobati luka di bagian lengan kanannya usai menyelematkan wanita itu yang nyaris tertabrak oleh mobil Untung saja luka yang didapatnya tidak terlalu parah, sehingga tak butuh waktu lama bagi Woobin untuk menyembuhkan luka tersebut.

“Selesai,” Yoona tersenyum senang lalu secara hati-hati menggulung lengan pakaian Woobin.

“Terima kasih,” Woobin masih merasa tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Apa aku baru saja berbicara dengan Yoona? Bukankah wanita itu bisu?—batin Woobin.

“Kau—bisa bicara?” entah kenapa Woobin merasa bodoh dengan pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibirnya. Ia hanya berdeham pelan sembari memalingkan wajahnya, ke mana saja asalkan tidak menghadap Yoona.

“Ceritanya sangat panjang,” Yoona tak mempermasalahkan reaksi Woobin. Pastinya banyak orang yang belum mengetahui kemajuan dari kondisinya sekarang, bahwa ia sudah bisa berbicara. “Terima kasih karena oppa sudah menolongku.”

Sedetik kemudian, wajah kikuk Woobin berubah menjadi senyuman lebar, “Kau masih berhutang satu ucapan terima kasih padaku,” lanjutnya.

Yoona terdiam sejenak, sebelum bibirnya sedikit terbuka setelah ia mengingat sesuatu. Kejadian di mana Woobin menyelamatkan dirinya yang nyaris terjatuh saat acara ulang tahun pewaris Royal Group tersebut.

“Ah, tentu saja. Aku masih mengingatnya,” sahut Yoona tersenyum malu. “Terima kasih, waktu itu oppa juga sudah menolongku.”

Mendadak Woobin seperti hilang kesadaran saat melihat wajah Yoona yang tampak begitu cantik saat tersenyum. Semburat rona merah sempat menghiasi wajahnya, namun berhasil ia kendalikan diri sehingga ia tampak biasa di hadapan Yoona.

Woobin mengulurkan tangannya ke arah Yoona, “Kita belum berkenalan secara resmi. Kim Woobin.”

Yoona menyambut uluran tangan Woobin, “Im Yoona.”

Saat Yoona hendak melepas jabatan tangan mereka, entah kenapa ia merasakan tangan Woobin seolah sengaja menahannya. Yoona mendongak, ia heran dengan raut wajah Woobin yang kini menatapnya dengan tatapan kosong.

“Yoona!”

Sebuah teriakan menginterupsi keheningan yang sempat melanda Yoona dan Woobin. Keduanya terkesiap dan refleks melepas jabatan tangan mereka. Yoona melirik ke arah sumber suara, ia terkejut ketika mendapati Sehun sudah berdiri di belakangnya dengan wajah memerah dan napas yang terengah-engah.

“Sehun?” Yoona berdiri dari posisinya dan menatap Sehun dengan heran. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“I—itu,” Sehun menggigit bagian bawah bibirnya, bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengaku jika kedatangannya karena sedang cemburu mengetahui wanita itu bersama pria lain. “Kudengar kau hampir tertabrak mobil, makanya aku langsung datang ke sini.”

“Kau tahu dari mana?” tanya Yoona lagi.

Ugh! Entah kenapa Sehun merasa Yoona terlihat mirip seperti detektif, membuatnya tampak seperti pelaku kejahatan yang sedang tertangkap basah. Sehun lagi-lagi tampak gugup dan berusaha mencari jawaban yang terdengar logis. Tidak mungkin dia mengaku jika ia mendapat kabar dari Kepala Pelayan Baek. Bisa-bisa ia dianggap sebagai pria yang terlalu over-protective.

“Ah, Woobin-hyung yang memberitahuku,” jawab Sehun kemudian yang disambut kerutan di dahi Woobin. “Terima kasih sudah menolongnya dan juga memberitahuku tentang kabar ini, hyung.”

Yoona terlihat belum percaya dengan jawaban Sehun. Sementara Sehun tetap menjaga ekspresi wajahnya sedemikian rupa, meski bibirnya berkedut saat apa yang ia lakukan sekarang bertentangan dengan suara hatinya. Berbeda dengan Woobin, ia tahu persis apa yang tengah disembunyikan dari Sehun. Seingatnya ia hanya mengirim pesan pada Sekertaris Ahn. Jelas apa yang baru saja dilakukan Sehun membuatnya mati-matian menahan tawa.

“Ya, aku yang memberitahu Sehun. Kurasa dia harus tahu apa yang terjadi denganmu. Bukankah dia calon suamimu?”

“Eh?” wajah Yoona memerah ketika Woobin menyebut kata ‘calon suami’ di depannya. Kini ia menundukkan wajah karena tak ingin ketahuan oleh Sehun. Sementara Woobin hanya tersenyum menyeringai, bersyukur karena Yoona tanpanya tidak mengetahui bagaimana hubungannya dengan Sehun yang sebenarnya adalah rival. Biarlah wanita itu menganggapnya berhubungan baik dengan Sehun.

Woobin terlihat berdiri dari posisinya, lalu mengulum senyum kepada Yoona yang sekarang beralih menatapnya.

“Terima kasih sudah mengobati lukaku,” ucap Woobin lalu tersenyum menyeringai ke arah Sehun yang terlihat cemburu.

“Seharusnya aku yang berterima kasih, karena oppa sudah menolongku,” balas Yoona dengan ramah.

Woobin hanya mengangguk kemudian berjalan menghampiri Sehun yang tampak memalingkan wajahnya, menghindari Woobin.

“Kau berhutang padaku, Oh Sehun,” bisik Woobin tersenyum puas, secara tidak langsung mengingatkan jika ia telah membantu Sehun ketika ditanyai Yoona sebelumnya.

Sial! Sehun mengumpat dalam hatinya, menyesali sikapnya yang tanpa pikir panjang menggunakan Woobin sebagai alasannya ia datang menemui Yoona. Setelah itu ia hanya menghembuskan napas panjang, membiarkan Woobin berjalan meninggalkannya.

Yoona menyadari perubahan raut wajah Sehun. Hal itu lantas mendorongnya untuk melihat Sehun dari dekat.

“Kau baik-baik saja?”

Sehun terbelalak begitu menyadari Yoona sudah berdiri di depannya. Namun kemudian pandangannya tertuju pada cairan merah yang keluar dari jari tangan kiri Yoona.

“Jarimu berdarah!” teriak Sehun panik lalu menarik Yoona duduk kembali ke atas sofa. Yoona yang baru menyadari hal itu, hanya memandangi Sehun yang kini tampak mengambil alih mengobati lukanya.

“Sehun, aku bisa—” kalimat Yoona terhenti karena Sehun sama sekali tak mendengar ucapannya. Pria itu hanya fokus mengobati luka di jari tangan kirinya dengan penuh perhatian. Yoona bisa merasakan darahnya berdesir ketika melihat raut cemas di wajah Sehun. Ia tak pernah tahu jika sikap Sehun yang tampak mencemaskan kondisinya, membuat jantung Yoona berdebar-debar.

//

Tn. Hyunsung baru saja keluar dari ruang meeting dan hendak pergi menemui tamu yang sudah menunggunya di ruang kerjanya. Ia terlihat berdiri di depan pintu lift ditemani sekertaris pribadinya. Saat pintu lift terbuka, ia sedikit kaget ketika mendapati kakaknya—Tn. Hyunsik, juga tengah berada dalam lift yang hendak dinaikinya. Tn. Hyunsung spontan membungkuk sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam lift tersebut.

“Kudengar Yoona sudah bisa berbicara lagi,” tiba-tiba saja Tn. Hyunsik membuka obrolan dengan bahasan yang terdengar menjurus, tak seperti biasanya yang terlebih dulu berbasa-basi.

“Kau tahu dari mana, hyung?” tanya Tn. Hyunsung penasaran. Ia sempat memperlihatkan senyum sinisnya, sebelum kembali menormalkan raut wajahnya seperti semula.

“Aku tidak sengaja mendengar obrolan Juhwan dan Siwan,” jawab Tn. Hyunsik seadanya.

“Hm, itu memang benar,” sahut Tn. Hyunsung membenarkan. “Yoona memang sudah bisa berbicara lagi.”

“Itu bagus,” Tn. Hyunsik hanya bereaksi datar dengan pandangan yang terus tertuju pintu lift. “Akhirnya penantian panjang kalian membuahkan hasil.”

“Ya, kami sangat senang dengan kemajuan kondisi Yoona,” balas Tn. Hyunsung lalu melirik sinis pada Tn. Hyunsik, “Bagaimana denganmu, hyung? Apa kau tidak senang jika keponakanmu sudah bisa berbicara lagi?”

Tn. Hyunsik sedikit tersinggung dengan ucapan sang adik, terlihat dari tangannya yang kini mengepal kuat. Ia lalu mengulum senyum dan mencoba bersikap setenang mungkin di hadapan adiknya tersebut.

“Kau ini bicara apa? Tentu saja aku bahagia mendengar keponakanku sudah bisa berbicara lagi,” Tn. Hyunsik menutupi kekacauannya dengan tawa yang hanya dibalas senyuman oleh Tn. Hyunsung.

“Ya, kau benar, hyung,” Tn. Hyunsung tertawa cukup keras sebelum akhirnya ia keluar dari lift begitu sampai di lantai yang ia tuju. Ia berbalik memandangi wajah sang kakak sebelum pintu lift tertutup. Tn. Hyunsung menyeringai, sementara Tn. Hyunsik hanya bereaksi datar, tapi tetap memperlihatkan urat ketegangan di wajahnya.

“Maaf, Tuan. Kita harus bergegas,” Tn. Hyunsung menoleh ke arah sekertaris pribadinya yang baru saja mengingatkannya.

“Ya, aku tahu. Kajja,” bersama sekertaris pribadinya, Tn. Hyunsung pun berjalan menuju ruang kerjanya.

//

“Terima kasih,” Yoona tidak tahu harus berkata apa selain mengucapkan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan Sehun. Sejak Sehun mengobati luka di jari tangan kirinya, Yoona terus menunduk karena berusaha keras mengendalikan debaran jantungnya.

Sehun terdiam memandangi jari tangan kiri Yoona. Wajahnya masih terlihat cemas, meskipun luka di tangan Yoona sudah diobati oleh dirinya sendiri.

“Sehun?” Yoona memanggil Sehun karena pria itu terus memandangi jari tangannya dengan beberapa plester yang melekat. Perlahan Yoona menarik tangannya lalu mengulum senyum ke arah Sehun.

“Sudah tidak apa-apa, terima kasih,” ucap Yoona bermaksud menenangkan Sehun.

“Mulai sekarang jika terjadi apa-apa, kau harus segera menghubungiku,” sahut Sehun tiba-tiba setelah cukup lama terdiam. “Bisakah kau berjanji padaku?”

Yoona tertegun melihat kesungguhan dari sorot mata Sehun. “Baiklah, aku berjanji. Jika terjadi apa-apa, aku akan menghubungimu.”

Sehun menghela napas yang akhirnya berganti dengan senyuman lega. Ia lalu tampak memeriksa beberapa anggota tubuh Yoona yang lain, seperti tangan atau pun kaki. Ia khawatir jika masih ada luka yang belum diobati.

“Aku baik-baik saja, Sehun. Sungguh,” ucap Yoona meyakinkan Sehun. Namun tampaknya tidak didengar karena Sehun terus fokus memeriksa jika masih ada anggota tubuh Yoona yang terluka.

Kini Sehun meraih kepala Yoona, menangkupnya dengan kedua tangan untuk sekedar memeriksa bagian kening. Tanpa sadar di sinilah mata mereka bertemu. Sehun bahkan baru menyadari jarak wajah mereka yang sangat dekat.

“Sehun?” Yoona terlihat bingung karena Sehun hanya memandanginya tanpa mengatakan apapun. Namun ia bisa merasakan debaran jantungnya yang semakin kuat kala Sehun semakin mendekatkan wajahnya.

Yoona sedikit memundurkan tubuhnya, namun terkunci di antara pinggiran sofa dan tubuh Sehun.

“Se—” Yoona membelalakkan matanya ketika bibir Sehun mendarat dengan mulus di bibirnya. Terlalu kaget dengan sikap Sehun, Yoona memberontak dan meminta untuk dilepaskan, namun Sehun justru menahannya, tak membiarkan wanita itu lepas darinya.

Yoona mulai merasa lelah, hingga akhirnya ia ikut larut dalam ciuman yang mereka lakukan.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Untuk kelanjutan FF yang lain, maaf saya belum bisa melanjutkannya^^’ Sementara baru ini yang bisa saya tulis kelanjutannya. Sempat bingung mau ditulis seperti apa kelanjutannya dan akhirnya seperti ini *maaf kalau kurang memuaskan* Dan, saya tidak tahu apakah moment YoonHun di sini sudah sesuai dengan apa yang kalian harapkan *setelah sebelumnya masih sedikit moment YoonHun*^^’

Btw, Soojung memang belum muncul di sini. Sepertinya nanti kemunculannya akan menjadi kejutan bagi semua orang. Oke, part-part selanjutnya konflik akan semakin memanas, mengingat kayaknya kakak-adik itu (lirik Tn. Hyunsik dan Tn. Hyunsung), serasa udah nabuh gendang perang (inget lagi kejadian mereka waktu di lift)😀

Terima kasih sudah membaca❤

112 thoughts on “Immortal Memory [6]

  1. Hallo kak, aku suka banget sama fanfict kakak. Boleh ga yah aku copas tapi dengan cast yang berbeda? Aku suka banget kak. Please kakk😭😭😭 neeee?

    • Eonnie ~~~ please boleh yah? Aku izin nih aku suka banget semua fanfict kakak bagus hue😭😭😭 tapi aku ga maksud copas tanpa izin kakak. Aku izin dulu nih kakk

  2. Senang yoona udah bisa bicara, tapi khawatir sma yoona, secara yoona udah bisa bicara trus bahaya pasti akan slalu ada karna yoona adalah kunci dr pembunuhan ortu’nya.

  3. Wow mereka berciuman
    kpan kebenaran tentang ortu yoona terungkap, ga nyangka ternyata paman yoona yg melakukan kecelakaan itu

  4. Haha sehum pasti teelihat konyol sekali,,pgn liat wajah sehun klau lgi senyum gaje gtu.. Moment YoonHunnya benar2 sweet,,smpai senyum sendiri bca momentny :v kan yg bunuh ortu yoona ayahny juhwan,,pasti yg mau nabrak tdi suruhanny.. Untung aj ada woobin.. Mau bca chapt slnjtny dulu😀
    keep writing thor ^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s